Jurnal Syntax Transformation

Vol. 1 No. 7, Agustus 2020

p-ISSN : 2721-3854 e-ISSN : 2721-2769

Sosial Sains

 

PENGARUH INFRASTRUKTUR TERHADAP PDRB KABUPATEN/KOTA DI PROVINSI KALIMANTAN SELATAN TAHUN 2014-2018

 

Lianna Dewi Retno Dwitasari,, Muzdalifah dan Muhammad Anshar

Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Lambung Mangkurat Banjarmasin

Email: dewilianna@gmail.com, muzdalifah.feb@ulm.ac.id dan anshar_nur59@yahoo.co.id

INFO ARTIKEL

ABSTRAK

Diterima 2 September 2020

Diterima dalam bentuk revisi

15 September 2020

Diterima dalam bentuk revisi

20 September 2020

Peran pemerintah sebagai mobilisator pembangunan sangat strategis dalam mendukung peningkatan kesejahteraan masyarakat serta pertumbuhan ekonomi negaranya. Pertumbuhan ekonomi merupakan salah satu indikator untuk melihat hasil pembangunan yang telah dilakukan dan juga berguna untuk menentukan arah pembangunan di masa yang akan datang. Dalam meningkatkan perkembangan sosial dan kegiatan ekonomi wilayah, prasarana (infrastruktur) umum merupakan hal yang penting. Pembangunan tidak dapat berjalan dengan lancar jika prasarana tidak baik. Setiap aspek kehidupan sosial maupun ekonomi mempunyai prasarana sendiri, yang merupakan satuan terbesar dan alat utama dalam berbagai kegiatan. Oleh karena itu, dalam mengsukseskan pembangunan setiap lembaga sosial dan sektor kehidupan ekonomi harus memperhatikan infrastrukturnya. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan menggunakan analisis data panel. Data panel merupakan analisis gabungan dari data time series  dari tahun 2014-2018 dan data cross section yaitu seluruh kabapaten/kota yang ada di Provinsi Kalimantan Selatan yang terdiri dari 13 Kabupaten/Kota. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis seberapa besar pengaruh infrastruktur jalan, jaringan listrik dan air bersih terhadap PDRB Kabupaten/Kota di Provinsi Kalimantan Selatan. Dengan  menggunakan software Eviews 10 analisis regresi data panel  dalam penelitian ini menggunakan pendekatan Fixed Effect Model. Hasilnya menunjukan bahwa infrastruktur jalan berpengaruh negatif tidak signifikan terhadap PDRB, jaringan listrik dan air bersih berpengaruh positif dan signifikan terhadap PDRB Kabupaten/Kota di Provinsi Kalimantan Selatan.

Kata kunci:

PDRB; Infrastruktur Jalan; Infrastruktur Jaringan Listrik dan  Infrastruktur Air Bersih



Pendahuluan

Perkembangan arus globalisasi yang semakin pesat menjadi fenomena yang sulit untuk dihindari oleh setiap negara. Seperti halnya bangsa-bangsa lain, bangsa Indonesia pun tidak dapat menghindar dari pesatnya perkembangan teknologi informasi, teknologi transportasi, teknologi komunikasi, tingkat efisiensi, serta tatanan ekonomi dunia yang mengarah kepada pasar bebas. Terjadinya pasar bebas dan kompetesi yang semakin ketat di era global ini menuntut semua negara di dunia, terutama negara yang masih berkembang seperti Indonesia untuk semakin giat melakukan pembangunan ekonominya agar mampu bersaing dan tidak tertinggal dengan negara lainnya (Wibowo, 2016). PDRB berperan sebagai pengukur tingkat pendapatan bruto yang berada dalam suatu provinsi. PDRB berpengaruh pada perekonomian dengan cara mendistribusi pendapatan bruto dan kekayaan serta menambah tingkat output. PDRB yang selalu menurun menyebabkan ketidakpastian bagi pembangunan di daerah dan kesejahteraan masyarakat. Pembangunan di daerah akan menurun jika PDRB selalu menurun setiap tahunnya. Bukan hanya itu, kegiatan perekonomian juga akan menurun dan mengakibatkan pendapatan nasional mengalami kemunduran serta pengangguran yang semakin bertambah serta semakin meningkatnya angka kemiskinan. Tingginya tingkat kemiskinan tersebut akan berdampak pada naiknya tingkat kriminalitas dalam suatu daerah (Hapsari, 2011).

Pembangunan bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Peran pemerintah sebagai mobilisator pembangunan sangat strategis dalam mendukung peningkatan kesejahteraan masyarakat serta pertumbuhan ekonomi negaranya. Pertumbuhan ekonomi merupakan salah satu indikator untuk melihat hasil pembangunan yang telah dilakukan dan juga berguna untuk menentukan arah pembangunan di masa yang akan datang. Pertumbuhan ekonomi yang positif menunjukkan adanya peningkatan perekonomian sebaliknya pertumbuhan ekonomi yang negatif menunjukkan adanya penurunan.

Solow dalam teori pertumbuhan neo klasik beranggapan bahwa produktivitas ekonomi bersumber dari tiga faktor, yakni: peningkatan dalam kuantitas dan kualitas penduduk atau pekerja (labour), kenaikan dalam kapital atau modal (melalui tabungan dan investasi), dan peningkatan dalam teknologi. Setiap peningkatan jumlah tenaga kerja, kapital, dan teknologi akan mempengaruhi perubahan pada tingkat output yang dihasilkan. Modal yang dimaksud Solow salah satunya berasal dari sektor infrastruktur atau investasi fisik  (Sukirno, 2007).

Dalam meningkatkan perkembangan sosial dan kegiatan ekonomi wilayah, prasarana (infrastruktur) umum merupakan hal yang penting. Pembangunan tidak dapat berjalan dengan lancar jika prasarana tidak baik. Setiap aspek kehidupan sosial maupun ekonomi mempunyai prasarana sendiri, yang merupakan satuan terbesar dan alat utama dalam berbagai kegiatan. Oleh karena itu, dalam mengsukseskan pembangunan setiap lembaga sosial dan sektor kehidupan ekonomi harus memperhatikan infrastrukturnya.

Infrastruktur memberikan dampak terhadap perekonomian melalui dua cara yaitu dampak secara langsung dan dampak secara tidak langsung. Dampak langsung dari adanya infrastruktur terhadap perekonomian adalah meningkatnya output dengan bertambahnya infrastruktur, sedangkan dampak tidak lansgung adalah mampu mendorong kenaikan aktifitas perekonomian yang akan meningkatkan modal baik bagi pihak swasta maupun pihak pemerintah serta dapat menyerap tenaga kerja yang berakibat pada kenaikan output (Winanda, 2016).

Menurut (Winanda, 2016) Infrastruktur dapat dikonsumsi baik secara langsung maupun tidak langsung misalnya dengan adanya pengurangan waktu dan usaha yang dibutuhkan untuk mendapatkan air bersih, berangkat bekerja, menjual barang ke pasar dan sebagainya. Infrastruktur yang baik juga dapat meningkatkan produktivitas dan  mengurangi biaya produksi. Pembangunan infrastruktur baik berupa transportasi seperti jalan, rel kereta api, pelabuhan laut, pelabuhan udara, jaringan listrik dan komunikasi (telepon) serta instalasi dan jaringan air minum sangatlah penting dalam rangka meningkatkan perekonomian masyarakat disuatu wilayah. Prasarana infrastruktur dibutuhkan tidak saja oleh rumah tangga namun juga oleh industri. Sehingga peningkatan prasarana infrastruktur diharapkan dapat membawa kesejahteraan dan mempercepat pertumbuhan ekonomi daerah dengan prasarana yang mencukupi dan mempunyai keuntungan yang lebih besar dalam usaha menarik investasi untuk masuk ke daerahnya serta akan lebih cepat berkembang dibandingkan dengan daerah yang memiliki prasarana yang minim.

Infrastruktur merupakan roda penggerak pembangunan ekonomi, baik secara nasional maupun regional/daerah. Dari alokasi pembiayaan publik dan swasta, infrastruktur dipandang sebagai lokomotif pembangunan nasional dan daerah. Secara ekonomi makro ketersediaan dari jasa pelayanan infrastruktur memengaruhi marginal productivity of private capital, sedangkan dalam konteks ekonomi mikro, ketersediaan jasa pelayanan infrastruktur berpengaruh terhadap pengurangan biaya produksi. Di samping itu, infrastruktur juga berpengaruh penting bagi peningkatan kualitas hidup dan kesejahteraan manusia, seperti adanya peningkatan produktivitas tenaga kerja, akses terhadap lapangan kerja, dan peningkatan stabilisasi makro ekonomi, yaitu keberlanjutan fiskal, berkembangnya pasar kredit, dan pengaruhnya terhadap pasar tenaga kerja .

 

Metode Penelitian

          Ruang lingkup dalam penelitian ini adalah menitikberatkan pada pengaruh infrastruktur jalan, infrastruktur jaringan listrik dan infrastruktur air bersih terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Kabupaten/Kota di Provinsi Kalimantan Selatan Tahun 2014-2018. Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah jenis penelitian Deskriptif dengan pendekatan kuantitatif.

          Dalam hal ini lokasi penelitian di Provinsi Kalimantan Selatan yang terdiri dari tiga belas Kabupaten/Kota yaitu Kabupaten Tanah Laut, Kotabaru, Kab. Banjar, Barito Kuala, Tapin, Hulu Sungai Selatan, Hulu Sungai Tengah, Hulu Sungai Utara, Tabalong, Tanah Bumbu, Balangan, Kota Banjarmasin dan Kota Banjarbaru. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder (panel data yang merupakan gabungan dari data cross section 13 kabupaten/kota dan time series dari tahun 2014 s/d 2018 yang diperoleh dari Badan Pusat Statistik Provinsi Kalimantan Selatan. Metode pengumpulan data dalam penelitian ilmiah ini dimaksudkan untuk memperoleh bahan pengumpulan data yang dilakukan dengan menggunakan metode dokumentasi atau metode kepustakaan. Dengan melihat kerangka pemikiran teoritis, maka teknis analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis kuantitatif dengan menggunakan alat regresi yaitu Fixed Effect Model.

 

          Variabel penelitian yang dugunakan dalam penelitian ini adalah Infrastruktur Jalan, Jaringan Listrik dan Air Bersih sebagai variabel bebas. Sedangkan variabel terikat adalah PDRB Kabupaten/Kota di Provinsi Kalimantan Selatan. Berikut definisi operasional dari masing-masing variabel yaitu sebagai berikut:

 

Hasil dan Pembahasan

Kalimantan Selatan (disingkat Kalsel) adalah salah satu provinsi di Indonesia yang terletak di pulau Kalimantan. Ibu kotanya adalah Banjarmasin. Provinsi Kalimantan Selatan memiliki luas 37.530,52 km2 dengan populasi 4.182 ribu jiwa pada tahun 2018. Provinsi ini mempunyai 11 kabupaten dan 2 kota.

            Secara geografis, Provinsi Kalimantan Selatan berada di bagian tenggara pulau Kalimantan, memiliki kawasan dataran rendah di bagian barat dan pantai timur, serta dataran tinggi yang dibentuk oleh pegunungan meratus di tengah. Kawasan dataran rendah kebanyakan berupa lahan gambut hingga rawa-rawa. Potensi wilayah antar Kabupaten/Kota di Provinsi Kalimantan Selatan memiliki ciri khas masing-masing yang berbeda antar satu dengan yang lainnya hal tersebut membuat struktur kegiatan ekonomi dan pendapatan yang dihasilkan dalam lapangan usaha didalam PDRB berbeda tergantung dari potensi dan permintaan daerah bersangkutan. PDRB menurut lapangan usaha disusun berdasarkan dua kategori yaitu PDRB atas Harga Berlaku dan PDRB atas Harga Konstan. PDRB menurut Harga Berlaku (Nominal) menunjukkan kemampuan sumber daya ekonomi yang dihasilkan oleh suatu wilayah, sedangkan PDRB atas Harga Konstan (riil) dapat digunakan untuk melihat pertumbuhan ekonomi di wilayah tersebut.

         Model pendekatan fixed effect menggunakan dummy variabel, estimasi dilakukan tanpa menggunakan pembobot atau Least Square Dummy Variable  (LSDV) dan dengan pembobot General Least Square (GLS). Pembobotan dilakukan agar mengurangi heterogenitas antar unit cross section sehingga penggunaan Fixed Effect Model ini lebih tepat untuk melihat perilak data dari masing-masing variabel sehingga lebih mudah untuk menginterpretasikan data.

Dibawah ini merupakan hasil analisis data panel menggunakan  Fixed Effect Model dengan jumlah observasi sebanyak 13 Kabupaten/Kota yang berada di Provinsi Kalimantan Selatan selama periode 2014-2018 (5 tahun).

 

Tabel 1. Hasil Fixed Effect Model

Description: Document1 - Microsoft Word

Sumber : Hasil Olah Data Panel menggunakan Eviews

          Berdasarkan hasil regresi pada tabel 1 di atas, maka dapat dibuat model analisis data panel terhadap variabel yang mempengaruhi PDRB Kabupaten/Kota di Provinsi Kalimantan Selatan dapat disimpulkan dalam persamaan sebagai berikut:

 

Y = βo + β1X1it + β2X2it + β3X3it + eit

 

Y = 8000538 -732.4918X1it + 0.012234X2it + 0.104010X3it + eit

 

          Dalam penelitian ini berdasarkan uji regresi menggunakan Eviews dengan Fixed Effect Model diketahui bahwa secara bersama-sama Variabel Infrastruktur Jalan, Infrastruktur Jaringan Listrik dan Infrastruktur Air Bersih secara signifikan mempengaruhi PDRB Kabupaten/kota di Provinsi Kalimantan Selatan.

          Secara parsial, ada 1 (satu) variabel yang tidak mempengaruhi PDRB Kabupaten/Kota yaitu Infrastruktur Jalan, sedangkan 2 (dua) variabel lainnya yaitu Infrastruktur Jaringan Listrik dan Infrastruktur Air Bersih memiliki hubungan yang positif dan pengaruh yang signifikan terhadap PDRB Kabupaten/Kota di Provinsi Kalimantan Selatan.

          Hasil R2 menunjukkan nilai sebesar 0,992748 yang artinya bahwa variabel infrastruktur jalan, infrastruktur jaringan listrik dan infrastruktur air bersih dalam menjelaskan varians variabel terikatnya sebesar 99,27% sedangkan sisanya 0,73% dijelaskan oleh variabel lain diluar penelitian ini.

          Pada persamaan model regresi diatas koefisien nilai konstanta adalah sebesar 8000538 artinya jika tidak terjadi perubahan nilai pada variabel jalan, variabel jaringan listrik dan variabel air bersih, maka variabel PDRB adalah sebesar 8000538.

          Dari ketiga variabel bebas yang telah diujikan variabel yang paling besar pengaruhnya terhadap PDRB adalah air bersih. Air bersih berpengaruh yang paling besar dimana nilai koefisiennya adalah sebesar 0.104010 dengan taraf signifikan 5%.

 

Pengaruh Infrastruktur Jalan Terhadap Pertumbuhan Ekonomi

          Dari hasil perhitungan dengan regresi menggunakan Fixed Effect diperoleh hasil koefisien variabel jalan (X1) adalah sebesar -732.4918 dengan probabilitas sebesar 0.1588. variabel jalan yang diproksi dari kondisi jalan sedang dan baik menunjukkan tanda negatif dan tidak berpengaruh secara signifikan terhadap PDRB Provinsi Kalimantan Selatan. Karena probabilitasnya lebih dari 0.05 maka variabel jalan tidak mempunyai pengaruh terhadap variabel dependent (PDRB) begitu pula dengan nilai koefisiennya sebesar -732.4918 yang artinya apabila panjang jalan naik 1 km akan menurunkan  jumlah PDRB sebesar -732.4918 juta rupiah.

          Hasil pengujian hipotesis dapat dilihat bahwa jalan tidak mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi. Hal ini dikarenakan permasalahan yang dihadapi dalam pengembangan jalan antara lain belum optimalnya pengendara jalan dalam mempergunakan jalan dengan sebaik-baiknya, jalan dalam kondisi rusak diakibatkan banyaknya mobil-mobil besar yang lalu lalang melewati jalan tanpa aturan. Dan perbaikan jalan setiap tahunnya, pemerintah mengeluarkan biaya yang tidak sedikit agar kondisi jalan selalu dalam keadaan baik.

          Permasalahan yang dihadapi dalam pengembangan jalan antara lain belum optimalnya pengendara jalan dalam mempergunakan jalan dengan sebaik-baiknya, jalan dalam kondisi rusak diakibatkan banyaknya mobil-mobil besar yang lalu lalang melewati jalan tanpa aturan. Dan perbaikan jalan setiap tahunnya, pemerintah mengeluarkan biaya yang tidak sedikit agar kondisi jalan selalu dalam keadaan baik.Bukan hanya Infrastruktur jalan saja yang dapat meningkatkan perekonomian di Kalimantan Selatan, tetapi jalur laut dan udara juga berpengaruh terhadap perekonomian  di Kalimantan Selatan. Kalimantan sebagai salah satu wilayah kepulauan di Indonesia, oleh karena itu peran infrastruktur pelabuhan sangat penting dalam ikut menggerakkan roda perekonomian. Pelabuhan berperan besar dalam menciptakan konektivitas di pelabuhan yang ada di Provinsi Kalimantan Selatan dan provinsi lain di Indonesia, dalam menunjang mobilitas perdagangan antar pulau dan antar negara. Dengan pemanfaatan pelabuhan yang baik maka akan tercipta yang namanya konektifitas secara nasional dan terintegrasi secara global.

          Hasil penelitian ini sesuai dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Sugiharto (2019) yang mana Infrastruktur Jalan tidak berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi di Kabupaten Lampung Utara. Namun hasil ini bertolak belakang dengan teori yang dikemukakan oleh Solow yang menyatakan bahwa jalan memiliki pengaruh yang signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi, karena teori Solow menyatakan bahwa hanya terdapat berbagai jenis kapital. Perusahaan privat melakukan investasi pada bentuk kapital biasa, sedangkan pemerintah juga melakukan investasi pada berbagai bentuk kapital publik yaitu infrastruktur seperti jalan, jembatan dan saluran pembuangan.

 

Pengaruh Infrastruktur Jaringan Listrik  Terhadap Pertumbuhan Ekonomi

          Dari hasil perhitungan dengan regresi menggunakan Fixed Effect diperoleh hasil estimasi menunjukkan bahwa nilai t-hitung variabel jaringan listrik sebesar -7.209991 dan probabilitasnya sebesar 0.0000. karena probabilitasnya kurang dari 0.05 maka variabel jaringan listrik mempunyai pengaruh terhadap variabel dependent (PDRB) begitu pula dengan nilai koefisiennya sebesar 0.012234 menunjukkan tanda positif dan berpengaruh secara signifikan terhadap PDRB Provinsi kalimantan Selatan. Maka apabila terjadi pemakaian listrik 1 kwh maka PDRB kalimantan selatan meningkat sebesar 7.209991 juta rupiah.

          Dari hasil pengujian tersebut dapat dilihat bahwa listrik berpengaruh terhadap PDRB Provinsi Kalimantan Selatan karena listrik merupakan sumber penerangan bagi kehidupan dan salah satu sumber utama dalam faktor produksi. Karena listrik mempunyai kaitan erat dengan produktivitas kerja.

          Pembangunan sarana penyediaan tenaga listrik memerlukan teknologi tinggi, dana yang besar dan waktu yang lama. Kelebihan maupun kekurangan penyediaan tenaga listrik akan menimbulkan kerugian yang  besar. Kelebihan penyediaan tenaga listrik berarti suatu investasi yang sia-sia padahal investasi tersebut jumlahnya cukup besar. Sebaliknya kekurangan penyediaan tenaga listrik dapat menyebabkan pemadaman yang akan sangat merugikan berbagai kegiatan ekonomi. selain itu memerlukan tingkat keamanan yang cukup tinggi karena resiko kecelakaan cukup besar.

          Hasil penelitian ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh (Wibowo, 2016) yang menyatakan bahwa infrastruktur yang memiliki pengaruh positif terbesar terhadap pertumbuhan ekonomi adalah infrastruktur listrik. Energi listrik yang dikonsumsi masyarakat menunjukkan seberapa besar penggunaan energi listrik yang dapat membantu dalam menggerakkan perekonomian daerah untuk peningkatan produktivitas ekonomi. Penggunaan listrik merupakan suatu hal yang sangat penting dalam peningkatan PDRB yang juga akan berdampak pada pertumbuhan ekonomi, karena listrik sangat dibutuhkan sebagai faktor utama dalam menunjang kegiatan proses produksi di sektor manufaktur. Tanpa adanya listrik kegiatan proses produksi dapat terhambat sehingga pada akhirnya jumlah produksi akan berkurang dan mengakibatkan menurunnya pendapatan.

 

Pengaruh Infrastruktur Air Bersih  Terhadap Pertumbuhan Ekonomi

          Dari hasil perhitungan dengan regresi menggunakan Fixed Effect diperoleh hasil estimasi menunjukkan bahwa nilai t-hitung variabel air bersih sebesar -2.622057 dan probabilitasnya sebesar 0.0120. karena probabilitasnya kurang dari 0.05 maka variabel air bersih mempunyai pengaruh terhadap variabel dependent (PDRB) begitu pula dengan nilai koefisiennya sebesar 0.104010 menunjukkan tanda positif dan berpengaruh secara signifikan terhadap PDRB Provinsi kalimantan Selatan. Maka apabila air naik 1 m3, maka PDRB meningkat sebesar -2.622057 juta rupiah.

          Ternyata akses masyarakat untuk memperoleh air minum masih menjadi catatan untuk memperoleh air minum harus di entaskan. Secara nasional belum ada satu provinsi pun yang memiliki akses air minum hingga 100% dalam BPS tahun 2018, dimana rata-rata nasional untuk akses air minum layak, tercatat di wilayah perkotaan sebesar 81,55%, wilayah pedesaan  64,18%, sedangkan persentase rumah tangga yang memiliki akses terhadap layanan sumber air minum layak dan berkelanjutan secara nasional tercatat baru 65,28%. Gubernur Kalimantan Selatan (Sahbirin Noor) mengakui data itu, termasuk kalimantan Selatan adalah salah satu Provinsi yang masih berada di bwah rata-rata nasional yaitu 50,46% rumah tangga yang memiliki akses air minum layak di tahun 2018.

          Hasil penelitian ini sesuai dengan penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh (Aji, 2018) yang menyatakan bahwa pertumbuhan tingkat air minum cukup signifikan mempengaruhi pertumbuhan produktivitas Kabupaten/Kota di Indonesia, Hasil perhitungan statistik menunjukkan bahwa pertumbuhan  tingkat air minum cukup signifikan mempengaruhi pertumbuhan produktivitas Kabupaten/Kota di Indonesia. Koefisien variabel pertumbuhan tingkat akses air minum yang positif menunjukkan bahwa semakin tinggi pertumbuhan tingkat akses air minum, akan semakin tinggi pula pertumbuhan produktivitas ekonomi Kabupaten/Kota tersebut. Hasil analisis ini juga menunjukkan bahwa pengaruh kondisi air minum terhadap pertumbuhan ekonomi tidak hanya berlaku untuk skala nasional, tetapi juga berlaku untuk skala yang lebih kecil, yaitu di tingkat Kabupaten/Kota. Dari sini menunjukkan bahwa pembangunan infrastruktur air minum bukan saja memenuhi hak masyarakat untuk memperoleh air minum dan pemenuhan kewajiban pemerintah daerah sesuai amanat perundangan, tetapi juga memberikan dampak luas ke seluruh masyarakat, dari peningkatan kondisi kesehatan masyarakat hingga peningkatan kondisi ekonomi.

 

Kesimpulan

          Berdasarkan hasil analisis data yang telah dilakukan pada bab sebelumnya maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut:

Secara parsial  dengan hasil regresi bahwa variabel Infrastruktur Jalan belum berpengaruh signifikan terhadap PDRB Kabupaten/Kota di Provinsi Kalimantan Selatan. Hasil pengujian hipotesis dapat dilihat bahwa jalan tidak mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi. Hal ini dikarenakan permasalahan yang dihadapi dalam pengembangan jalan antara lain belum optimalnya pengendara jalan dalam mempergunakan jalan dengan sebaik-baiknya, jalan dalam kondisi rusak diakibatkan banyaknya mobil-mobil besar yang lalu lalang melewati jalan tanpa aturan. Dan perbaikan jalan setiap tahunnya, pemerintah mengeluarkan biaya yang tidak sedikit agar kondisi jalan selalu dalam keadaan baik.

Sedangkan secara parsial  dengan hasil regresi bahwa variabel Infrastruktur Jaringan Listrik dan Infrastruktur Air Bersih berpengaruh signifikan terhadap PDRB Kabupaten/Kota di Provinsi Kalimantan Selatan.

Bibliografi

 

Aji, N. (2018). Pengaruh Infrastruktur Air Minum Terhadap Pertumbuhan Ekonomi Kota. Jurnal Ekonomi.

 

Hapsari, T. (2011). Pangaruh infrastruktur terhadap pertumbuhan ekonomi di Indonesia.

 

Sukirno, S. (2007). Makro Ekonomi Modern. PT Raja Grafindo Persada.

 

Wibowo, A. B. L. (2016). Pengaruh Infrastruktur Ekonomi dan Sosial Terhadap Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Tahun 2006-2013. Universitas Negeri Yogyakarta.

 

Winanda, A. A. (2016). Analisis Pengaruh Infrastruktur Terhadap Pertumbuhan Ekonomi di Kota Bandarlampung.