Jurnal Syntax Transformation������������������������

������������������������ Vol. 1 No. 8, Oktober 2020

p-ISSN : 2721-3854 e-ISSN : 2721-2769

������������������������������������������������ Sosial Sains

 

ANALISIS RESPRESENTASI MASKULINITAS PADA TOKOH JUNO FILM �KU CUMBU TUBUH INDAHKU�

 

Astono Teguh Prasetyo, Talitha salsabila, Tika ramadani Dan Feizal Bagoes Kusuma

Universitas Pembangunan Nasional �Veteran� Jawa Timur

Email: [email protected], [email protected], [email protected], [email protected]

INFO ARTIKEL

ABSTRAK

Diterima 2 September2020

Diterima dalam bentuk revisi

15 September 2020

Diterima dalam bentuk revisi

20 September 2020

Film selalu mempengaruhi masyarakat berdasarkan isi pesan yang disampaikan dalam film tersebut. Pesan yang terkandung dalam film akan membentuk pola pikir dan perilaku penonton. Film �Kucumbu Tubuh Indahku� merupakan film yang menceritakan tentang perjuangan seorang penari pria bernama Juno yang memiliki kisah traumatik di kehidupanya yang membuat dirinya menjadi pria yang feminim karena hidup di bawah tekanan. Di dalam fim tersebut Juno di gambarkan sebagai pria yang feminim dan tidak membawa pesan maskulinitas. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan paradigma konstruktivisme dan menggunakan pendekatan semiotika terkhusus semiotika John Fiske. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui bagaimana maskulinitas direpresentasikan oleh Juno dalam film �Kucumbu Tubuh Indahku� berdasarkan level realitas.� Ada beberapa teori yang digunakan penelitian ini yaitu teori komunikasi, komunikasi massa, film, representasi, semiotika, dan maskulinitas. Berdasarkan� hasil analisis yang didapatkan peneliti mengenai representasi maskulinitas Tokoh Juno dalam film �Ku Cumbu Tumbuh Indahku� di gambarkan sebagai pria yang sangat bertolak belakang dengan representasi Maskulin dimana karakter dan penggambaran tokoh Juno memiliki sifat ke wanita-an yang dikonstruksikan sebagai pria pendiam, lemah gemulai, pandai menari, pandai memasak,dan� pandai berdandan. Maka tokoh Juno dapat direpresentasikan sebagai karakter pria yang feminim atau pria yang kurang Maskulin.

Kata kunci:

Film,Maskulinitas, Semiotika

 


Pendahuluan

Film merupakan salah satu media komunikasi massa yang memberikan pesan, dan menyalurkannya melalui media. Dalam menyampaikan sebuah pesan komunikasi melalui media dalam bentuk audio visual hingga akhirnya menimbulkan efek tertentu. Namun selain media dalam penyampaian pesan film juga dapat menjadi sebuah potret atau gambaran dimana film itu dibuat. Karena film selalu menggambarkan �realitas yang tumbuh dalam masyarakat dan kemudian diproyeksikan ke dalam layar,sejarah, kebiasaan masyarakat ,mitos, kehidupan keluarga dan lain sebagainya. Setiap film memiliki cara sendiri dalam memperesentasikan isu maupun tema yang diangkat berdasarkan tujuan pembuatan film.

Seperti bentuk medianya, film adalah bentuk penyajian pesan yang dikemas dengan auditif visual artinya penyajian film dapat dinikmati dalam bentuk gambar (dapat dilihat) dan bentuk suara (dapat didengar).Sehingga pesan yang film yang ingin sampaikan dapat mudah dipahami oleh penonton atau penikmat film. Film pun mampu menjadi sebuah pernyataan budaya� yang ingin digambarkan oleh pembuat film. Namun film juga dapat digunakan untuk hiburan serta menyajikan cerita, peristiwa, lawak, drama, maupun sajian teknis lainnya kepada penonton maupun penikmat film.

Kemudian apa gender itu ? Secara umum gender berbeda dengan jenis kelamin, jenis kelamin dianggap sebagai kontruksi biologis yang di bawa setiap individu dengan kodratnya sejak lahir. Berbeda dengan gender, gender adalah bentuk kontruksi sosial dan budaya dimana kontruksi terbentuk melalui proses yang panjang. Oleh karena itu gender bersifat dinamis.

Gender adalah sebuah pembeda berdasarkan perspektif sosial dan budaya dalam membedakan perempuan dan laki-laki namun bukan dari sudut pandang perbedaan kodrat. Pembedaan antara jenis kelamin ini, berpengaruh kepada kedudukan, hak, dan kewajiban antara keduanya karena adanya nilai-nilai yang memang dikonstruksikan oleh masyarakat sendiri. Perbedaan tersebut selalu dikaitkan dengan konsep gender padahal keduanya memiliki makna yang berbeda.

Aspek gender merupakan aspek yang sering kali menjadi ide dalam sebuah film. Karena dewasa ini masih banyak persoalan-persoalan budaya yang masih belum memahami pemaknaan identitas dalam gender. Banyak permasalahan dilingkup masyarakat yang masih belum mampu menerima pemahaman mengenai nilai-nilai gender antara maskulinitas dan feminim. Keyakinan masyarakat bahwa gender harus dikonstruksikan untuk menanamkan nilai-nilai yang dianggap maskulin maupun feminim. Dimana maskulin dan feminim, menjadi sebuah nilai-nilai yang diyakini masyarakat melekat dalam diri pria dan wanita. Identitas gender dikonstruksikan untuk diemban dan ditanamkan berdasarkan pandangan sebagaimana gender itu harus ada disetiap diri manusia sesuai dengan jenis kelaminnya.

Dalam kajian ilmu sosiologi mengenai gender oleh Connel (Wajcman, 2001),terdapat dua bentuk maskulinitas, yakni maskulinitas yang terbentuk secara budaya (maskulinitas hegemonic) dan maskulinitas yang tersubordinari. Maskulinitas yang terpengaruh oleh keadaaaan sosial yang memenuhi proses budaya. Membahas tentang maskulin menggiring anggapan publik bahwa maskulin lekat dengan pria yang memiliki karakter dengan sifat khusus yaitu kuat,keras, beraroma keringat. Pria selalu di labeli sifat yang macho.

(Smiler, 2004) dalam (Tanjung, 2012) menjelaskan istilah maskulin berasal� dari� bahasa� inggris,yakni muscleyang dalam bahasa Indonesia berarti otot. Maksud maskulin� disini,yaitu� sifat� yang didasari pada kekuatan fisik atau otot yang diimplikasikan�� sebagai�� hal�� yang�� kuat. Istilah tersebut akhirnya dikaitkan kepada pria� karena� selama ini pria memiliki nilai identitas gender yang memiliki fisik maupun kekuatan lebih dibanding perempuan. Maka maskulinitas dapat disebut sebagai cara untuk seseorang berjenis kelamin laki-laki menunjukkan nilai identitas gendernya untuk dapat diterima atau dianggap sebagai laki-laki seutuhnya dimata masyarakat. Sebagai contoh, seorang pria dilarang berdandan karena merupakan sifat wanita.

 

Film yang dijadikan objek penelitian ini yaitu � Ku cumbu Tubuh Indahku� adalah sebuah kisah perjalanan hidup seorang penari lengger di sebuha desa kecil yang teletak di Jawa. Sejak kecil Juno harus terpaksa untuk hidup sendiri karena ayahnya menginggalkannya akibat kekerasan yang dialami. Dalam kesendiriannya Juno akhirnya bergabung dengan sanggar tari Lengger. Trauma pertama yang dialami Juno ketika ia melihat sendiri konflik antara guru tari seniornya. Sejak peristiwa itu Juno harus hidup berpindah-pindah dari desa ke desa lainnya. Ketika Juno tumbuh dewasa ia mendapatkan perhatian dan kasih sayang dari beberapa orang terdekatnya yaitu� dari guru tarinya, bibinya� yang seorang penjual ayam, pamannya seorang penjahit, seorang petinju, dan seorang Warok. Dan semua pengalaman yang dialami Juno dalam perjalanan hidupnya ini membawanya kedalam bagaiamana ia menemukan keindahan dalam hidupnya

Cerita pada film ini diangkat dari kisah nyata seorang penari dan koreografer yang bernama Rianto. Ia sendiri juga memerankan adegan dalam film ini sebgaia Juno dewasa. Selain itu karakter Juno ini juga diperankan oleh actor lain, yaitu Muhammad Khan sebagai juno saat remaja dan Raditya Evandra sebagai Juno yang masih kecil. Selain cerita hidup dari Rianto dalam film ini juga menceritakan kisah kelompok-kelompok penari dari jawa.

Adanya penyajian� tokoh Juno dalam film � Ku Cumbu Tubuh Indah ku � yang keluar dari kebiasaan pada umumnya sehingga hal tersebut melatarbelakangi peneliti untuk mengkaji isi pesan yang terdapat pada� film terutama tentang penggunaan tanda-tanda yang membentuk film tersebut. Dalam hal ini peneliti menyadari bahwa setiap sosok manusia yang hidup dimuka bumi memiliki hak untuk mengekspresikan dirinya.

Kebebasan berekspresi atau freedom of expression merupakan salah satu bagian dari hak asasi manusia. Kebebasan berekspresi dapat dimaknai sebagai suatu tindakan yang memuat unsur-unsur atau karakteristik dari sikap ekspresif yang meliputi komunikasi, informasi, dan pengaruh (O�Guinn & Muniz Jr, 2005) Adapun penelitian sebelumnya yang meangakat film � Ku Cumbu Tubuh Indah ku� dengan pemahaman untuk mengetahui apa saja jenis tindak tutur ilokusi dan bentuk tindak tutur ilokusi yang terdapat dalam film tersebut. (Madinah, 2020) Berdasarkan Hasil penelitiannya ditemukan adanya lima jenis tindak tutur ilokusi, yakni (1) tindak tutur ilokusi asertif menyatakan dan memberitahukan. (2) tindak tutur ilokusi direktif yang meliputi, memaksa, memerintah, meminta, mengajak. (3) tindak tutur ilokusi ekspresif meliputi, memuji, mengeluh, mengucapkan terima kasih dan menyalahkan. (4) tindak tutur ilokusi komisif yaitu mengancam. (5) tindak tutur ilokusi deklaratif sebanyak melarang.

Perbedaan dan pembaruan dari penelitian ini dengan sebelumnya adalah terlihat dari� sudut pandang yang berbeda, penelitian yang sebelumnya berfokus pada tindak tutur yang di gambarkan film �Ku Cumbu Tumbuh Indah Ku� dengan penggunaan konsep bahasa daerah tertentu yang menunjukan bahwa dalam penelitian tersebut di temukan berbagai jenis tindak tutur ilokusi. Sedangkan penelitian saat ini peneliti lebih terfokus pada pembahasan gender yaitu tentang� reperesentasi maskulinitas pada tokoh Juno di film tersebut.

Berdasarkan uraian di atas peneliti ingin mengetahui representasi� film �Ku cumbu Tubuh Indahku� menggunakan analisis semiotikan John Fiske dengan pemilihan paradigma kontruktivisme. Analisis kontruktivisme menekan pada pengamatan dan objektivitas dalam menemukan suatu realitas atau ilmu pengetahuan (Hidayat, 2003:3). Menurut peneliti semiotika John Fiske di rasa tepat untuk menganalisis mengenai maskulinitas yang di peran kan oleh Tokoh Juno di film � Ku Cumbu Tubuh Indah ku� karena, semiotika John Fiske mengemukakan teori tentang kode-kode televisi (the codes of televsion) yang memiliki tiga level, yaitu level realitas, level representasi, dan level ideologi (Vera, 2014). Kode -kode televisi yang di kemukakan John Fiske pada dasarnya sama dengan yang di gambarkan pada film. Maka peneliti ingin mengentahui representasi yang di kontruksikan pada film � Ku Cumbu Tubuh Indah Ku� yang di perankan oleh Tokoh Juno dengan menggunakan� level realitas.

 

Metode Penelitian

Jenis penelitian yang digunakan pada penelitian ini adalah penelitian deskriptif kualitatif. Penelitian kualitatif ditujukan untuk memahami fenomena tentang apa yang dialami oleh subyek penelitian, seperti perilaku, persepsi, motivasi, tindakan dan lain-lain, secara holistik dan dengan cara deskripsi dalam bentuk kata-kata dan bahasa, pada suatu kontek khusus yang alamiah dan dengan memanfaatkan metode alamiah. (Moleong, 2007).

Selain itu peneliti menggunakan paradigma konstruktivisme. Analisis kosntruktivisme Paradigma ini memandang ilmu sosial sebagai analisis sistematis terhadap socially meaningful action melalui pengamatan langsung dan terperinci terhadap pelaku sosial yang bersangkutan menciptakan dan memelihara/ mengelola dunia sosial mereka (Hidayat, 2003:3). Teori konstruktivisme menyatakan bahwa individu menginterpretasikan dan beraksi menurut kategori konseptual dari pikiran. Realitas tidak menggambarkan diri individu namun harus disaring melalui cara pandang orang terhadap realitas tersebut.

Peneliti memilih menggunakan paradigma konstruktivisme karena ingin mengetahui representasi maskulinitas yang di perankan Tokoh Juno di film � Ku Cumbu Tubuh Indah Ku� dalam sudut pandang konstruktivisme. Untuk membantu peneliti dalam penelitian metode yang di gunakan adalah semiotika John Fiske. Semiotika John Fiske mengemukakan teori tentang kode-kode televisi (the codes of televsion) yang memiliki tiga level, yaitu level realitas, level representasi, dan level ideologi (Vera, 2014). Maka dari itu peneliti ingin mengetahui representasi yang di kontruksikan dalam film � Ku Cumbu Tubuh Indah Ku� dengan menggunakan level realitas. Karena data yang peneliti gunakan yaitu analisis semiotika melalui cuplikan dan adegan-adegan yang divisualisasikan terutama pada pakaian, gesture, perilaku, percakapan, ekspresi, serta dialog yang ditampilkan oleh tokoh Juno dalam film �Ku Cumbu Tubuh Indahku�.

 

Semiotika John Fiske

Teori pendekatan semiotika John Fiske mengkategorisasikan kode-kode televisi kedalam tiga level, yaitu level realitas (reality), representasi (representation), dan ideologi (ideology) (Fiske, 1987, p.5). Realitas adalah peristiwa yang ditandakan (encoded) sebagai sebuah realitas tampilan yaitu pakaian, lingkungan sekitar, perilaku, percakapan gesture, ekspresi, suara dan dalam bahasa tulis berupa dokumen, transkrip wawancara. Level representasi adalah sebuah kode realitas dalam encoded electronically yang harus ditampilkan pada technical codes, yaitu berupa kamera, lighting, editing, music dan suara. Dalam bahasa penulisan yaitu kata, kalimat, foto,dan grafik sedangkan dalam bahasa pengambaran ada kamera, tata cahaya, editing music, dan lainya. Pada elemen ini kemudian ditransmisikan kedalam sebuah kode representasi yang dapat mengambarkan karakter, narasi, action, dialog, dan setting. Level ideologi adalah elemen yang diorganisasika dan dikategorikan pada kode-kode ideology. Seperti dalam patriarkhi, individualism, ras, kelas, materialism, kapitalisme, dan yang lainnya.

 

Hasil dan Pembahasan

Pada tahap ini peneliti akan menjelaskan hasil dari penelitian dari beberapa potongan scene yang menurut peneliti merujuk pada representasi maskulinitas yang di perankan tokoh Juno di dalam film � Ku Cumbu Tubuh Indah Ku�. Tak hanya menjelaskan hasil pembahasan namun, peneliti juga melakukan pembahasan berdasarkan dari hasil pengamatan. Dalam melakukan penjelasan peneliti di tunjang dengan studi literatur yang menurut peneliti relevan, seperti data sekunder yaitu studi kepustakaan,buku, artikel , dan jurnal ilmiah.

Film �Kucumbu Tubuh Indahku� adalah film Indonesia yang dirilis pada 18 April 2019 yang disutradarai oleh Garin Nugroho dan diproduseri oleh Ifa Isfansyah dengan dua durasi 107 menit (21+), 106 menit (17+) serta diproduksi oleh Fourclour Film dan Go-Studio.

Film yang menceritakan tentang perjalanan hidup seorang Juno, dari ia kecil hingga dewasa dengan penuh �pengalaman hidup yang traumatis. Juno lahir di desa terpencil daerah Jawa yang terkenal penduduknya banyak yang �berprofesi sebagai penari dengan nama sanggar Lengger Lanang, sebutan untuk penari laki-laki yang menarikan dengan sudut pandang tarian perempuan. Lingkungan tempat tinggalnya yang tidak membedakan antara sisi maskulin dan feminim dari seseorang yang membentuk jati diri Juno yang tergambar dari film ini.

Selain itu Juno selau� mengalami takdir yang selalu mempertemukan dirinya akan kekerasan, kasih sayang, dan kepergian dengan bentuk yang berbeda-beda. Sesuai dengan judulnya, Kucumbu Tubuh Indahku, perjalanan Juno adalah perjalanan yang membawanya menemukan keindahan tubuhnya lewat berbagai pengalaman yang melibatkan tubuhnya.

Level realitas

Kode Tampilan

Gambar 1 adegan dalam film � Ku Cumbu Tubuh Indahku �

 

Gambar tersebut menunjukan Juno mengenakan baju kebaya berwarna putih, Juno digambarkan pada scene tersebut sedang bersama seorang laki-laki yang berprofesi sebagai pentinju. Juno memiliki kepribadian lebih dominan penggambaran seorang perempuan, penggunakan baju kebaya yang seharusnya di gunakan oleh perempuan namun pada film tersebut Juno lebih sering menggunakan kebaya. Tampilan scene �tersebut Juno tanpa riasan apapun hanya menggunakan kebaya dengan postur tubuh yang lemah gemulai pada saat memakainya, kebaya yang di pakai oleh Juno cenderung lebih press body atau� ketat. Menunjukan bentuk lekuk tubuh merupakan kebiasaan perempuan yang ingin menunjukan keindahan pada tubuhnya. Tata rias secara umum memiliki dua fungsi, yakni untuk menujukan usia dan menggambarkan wajah non manusia. Tata rias digunakan bila adanya tidak kesesuaian dengan karakter yang diinginkan (Pratista, 2008) Tata rias tidak cenderung pada tampilan wajah saja yang menggunakan make up dengan penggunaan pakaian tata rias saja tata rias dapat menyampaikan pesan kepada penonton bahwa Juno memiliki kepribadian yang cenderung lebih keperempuan. Tampilan Juno tanpa riasan menggambarkan kesederhanaan kehidupan Juno tanpa melihat gaya penampilan namun dapat memberikan pesan tertentu.

 

Kode pakaian

Gambar 2 adegan dalam film � Ku Cumbu Tubuh Indahku �

Pakaian yang di kenakan oleh Tokoh Juno pada saat persiapan ia menari pada scene tersebut Juno menggunakan kain dominan berwarna biru. Biru menggambarkan ketenangan dan kedamaian,kesetiaan,kebijaksanaan, dengan perpaduan warna kuning yang menggambarkan,kebahagiaan,berimajianasi dan kepandaiaan. Penggambaran Juno pada gambar tersebut sesuai dengan kehidupan Juno yang pendiam dan ia lebih suka menyendiri, Juno merupakan anak yang pandai dalam segala hal seperti ia pandai memasak dan menari. Seperti pada gambar di atas menunjukan Juno sedang melakukan persiapan berdandan di belakang panggung. Penggambaran kode pakaian scene tersebut mewakili kenyataan sifat Juno di kehidupan yang di gambarkan pada saat Juno akan menari. Meskipun kegiatan menari lebih cenderung kepada perempuan namun penggambaran pakaian yang di gunakan Juno sesuai dengan keadaan dan sifat Juno Mulyana (2007) mengungkapkan bahwa penggunaan warna tertentu pada orang dan keadaan tertentu, biasanya warna dapat mewakilkan suasana hati seorang yang mengenakannya.

Kode Gesture

Gambar 3 adegan dalam film � Ku Cumbu Tubuh Indahku �

 

Ada salah satu adegan dimana Juno sedang menunjukan keahliannya menari dengan keluwesan tubuhnya Juno menari dengan lemah gemulai di depan rumah ketua sanggar tari lengger. Gesture yang di gambarkan scene �tersebut Juno terlihat sangat anggun Juno memperagakan tarian layaknya ia seperti perempuan yang lemah lembut dan gemulai. Dari penggambaran gesture tersebut pesan yang ingin di sampaikan sesuai dengan penggambaran Juno pada film � Ku Cumbu Tubuh Indah Ku� sebagai pria yang feminim. Gesture menurut (Kendon) adalah suatu bentuk komunikasi non verbal dengan aksi tubuh yang terlihat mengkomunikasikan pesan-pesan tertentu baik sebagai pengganti wicara atau bersamaan dengan paralel dengan kata-kata. Berdasarkan asumsi peneliti pernyataan tersebut sesuai dengan penggambaran Juno di scene tersebut melalui gesture khalayak dapat menyimpulkan karakteristik sesorang karena dengan penggambaran pada gesture suatu pesan dapat tersampaikan secara non-verbal

 

Kode ekspresi

Gambar 4 adegan dalam film � Ku Cumbu Tubuh Indahku �

 

Dalam scene Juno remaja di gambarkan menjadi sosok yang lemah gemulai (dalam tindakan maupun cara berbicara), lembut, dan pandai merias wajahnya menjadi sosok laki-laki yang cantik Ekpresi yang di hasilkan pada scene tersebut Juno menampilkan tatapan mata yang tajam pada cermin yang ada di depannya seolah-olah Juno percaya diri akan hasil riasannya sendiri. Tatapan tersebut juga menggambarkan tatapan kosong Juno yang memberi pesan begitu beratnya beban hidup Juno yang penuh dengan traumatik serta tekanan lingkungan sekitar sehingga ia harus memutuskan untuk bekerja menjadi seorang penari agar dapat bertahan hidup. (Widyatama, 2006) mengungkapkan bahwa seorang dengan karakter lembut, lemah gemulai, wajah penuh make-up, cantik rambut panjang, tidak gesit, memperlihatkan lekuk tubuh maka diindentfikasi sebagai seorang perempuan. Cerita yang sampaikan di film � Ku Cumbu Tubuh Indah Ku� merupakan film yang sudut pandangnya mengarah pada laki-laki yang memiliki sifat yang feminim. Karakter lemah lembut, kalem, dan pendiam biasanya direpresentasikan pada sosok wanita yang sejatinya membutuhkan perlindungan, mengekspresikan� kelemahan, lentik dan lemah gemulai. Namun karakter tokoh Juno sangat bertolak belakang dengan representasi Maskulinitas sesungguhnya. laki-laki dianggap kuat, rasional, jantan, perkasa (Fakih, 2013).

Kode Perilaku

Gambar 5 adegan dalam film � Ku Cumbu Tubuh Indahku �

 

Kode perilaku Juno pada film tersebut di gambarkan pria yang pandai berdandan pandai menari dan bertingkah laku layaknya perempuan. Sejak kecil Juno mencari dan memasak makanannya sendiri tanpa dibantu oleh siapapun. Perilaku Juno yang di gambarkan pada gambar di atas cenderng pada kebiasaan perempuan, hal tersebut bisa terjadi karena kebisaaan Juno sejak kecil telah di berikan kebiasaan untuk melakukan sesuatu yang sudut pandanganya lebih kepada kebiasaan perempuan.

Berdasarkan penjelasan di atas film � Ku Cumbu Tumbuh Indah Ku� merupakan film menggambarkan pria yang feminim representasi feminim yang seharusnya dilakukan oleh kaum perempuan. Dapat direpresentasikan bahwa pengekspresian tokoh Juno� pada adegan ini bertolak belakang pada representasi Maskulinitas.

Representasi Juno remaja� sangat menunjukkan ia sebagai pria yang feminim dimana dalam sudut pandang masyarakat karakter lemah lembut, kalem, dan pendiam biasanya direpresentasikan pada sosok wanita yang sejatinya membutuhkan perlindungan, mengekspresikan kelemahan, lentik dan lemah gemulai. Maka dapat� terlihat melalui film ini karakter pria yang di perankan oleah tokoh Juno sangat bertolak belakang dengan representasi Maskulinitas sesungguhnya.

(Darwin, 1999) mengungkapkan bahwa maskulinitas adalah suatu stereotype tentang laki-laki yang dapat dipertentangkan dengan feminimitas sebagai stereotype perempuan. Maskulin dan feminim adalah dua sifat pemahaman yang berlawanan dan membentuk suatu garis lurus yang menggambarkan derajat kelaki-lakian (maskulinitas) atau keperempuanan (feminimitas). Seorang laki-laki yang memiliki karakteristik dengan stereotype maskulin disebut laki-laki maskulin, jika karakteristik berlebihan disebut laki-laki super maskulin, jika kurang disebut laki-laki kurang maskulin atau laki-laki feminim.

Namun di sisi lain Juno juga di gambarkan sosok pria yang maskulin, yang mana sifat maskulin pria mengarah pada sektor publik. Seorang pria di wajibkan untuk bekerja keras untuk mencari nafkah dan menghidupi keluarganya. Film � Ku Cumbu Tubuh Indah Ku� menggambarkan Juno yang tidak pernah putus asa untuk selalu bekerja demi menghidupi dirinya. Ia juga tergolong sebagai anak yang rasa ingin tau banyak hal, maka dari itu sifat maskulin yang di miliki Juno masih tergambarkan dalam film tersebut. Hanya saja perilaku yang di tunjukan lebih dominan mengarah ke feminim.

Sesuai� yang di ungkapkan oleh Ann Oekley dalam (Elfira, 2008) yang menjelaskan dimana seks adalah kata yang mengartikan perbedaan biologis dari pria dan wanita, sedangkan gender adalah persoalan budaya yang menunjuk pada klasifikasi sosial dari maskulin dan feminim. Dimana� maskulin dan feminim, menjadi nilai-nilai yang melekat dalam diri wanita dan pria. Identitas gender dapat digambarkan untuk menanamkan dan mengembangkan nilai yang diangap maskulin dan feminim. Dimana maskulin dan feminim, menjadi sebuah nilai-nilai yang diyakini masyarakat melekat dalam diri pria dan wanita. Identitas gender dikonstruksikan untuk menanamkan dan mengembangkan nilai-nilai yang dianggap maskulin dan feminine

Sehingga Pada dasarnya jenis kelamin sifatnya tidak bisa di rubah,tidak dapat di pertukarkan, berlaku sepanjang masa dan dimana saja, dan ciptaan Tuhan. Begitu pun peran yang di gambarkan oleh Juno meskipun dia tergolong pria yang feminim namun dia tidak bisa menghilangkan sisi maskulinnya karena ia terlahir berjenis kelamin pria.

Berbeda dengan gender sifatnya dapat diubah, di pertukarkan, bergantung waktu dan budaya masing-masing, dan bentukan manusia berbudaya. Hal tersebut telah di gambarkan oleh tokoh Juno berdasarkan� kisah masa lalu Juno yang telah di ceritakan sebelumnya. Maka dari situlah terbentuk konstruksi budaya yang menjadikan dia sebagai pria yang feminim karena di dasari oleh kisah masa lalunya yang traumatik dan dramatik.

Maka hasil dari penelitian ini mengenai representasi toko Juno dalam film �Ku Cumbu Tubuh Indahku� memiliki representasi yang jauh dari kata Maskulin yang di sebabkan karena adanya konstrusksi budaya. Ada 5 faktor yang dapat digaris bawahi yaitu :

1.      Kebiasan Juno yang pandai memasak sejak kecil, kenyataannya seorang pria di kehidupan masyarakat bukanlah seorang yang melakukan kegiatan masak memasak di� dapur.� Seharusnya karakter maskulin menyukai olahraga sepakbola, menyukai otomotif, menyukai basket,dan lainnya. Sedangkan representasi untuk berada didapur, suka memasak, menyiapkan makanan dan sejenisnya adalah representasi yang ditunjukkan pada kaum perempuan yaitu Feminim.

2.      Karakter Juno yang pendiam dan lembut. Sejatinya memang setiap manusia dimuka bumi memiliki karakter dan watak yang berbeda-beda. Namun apabila dipandang dari sudut Maskulinitas, laki-laki harusnya memiliki karakter yang pemimpin, keras, bertanggung jawab, dan berkuasa. Sedangkan pendiam dan lembut lebih sering di representasikan pada sikap feminim dimana biasanya melekat pada representasi wanita jawa yang lembut, pendiam dan kalem.

3.      Karakter Juno yang lemah gemulai. Ini jelas menunjukan representasi yang bertolak belakang dengan Maskulinitas. Tidak mungkin priayang dianggap seperti pahlawan dalam sudut pandang masyarakat disebut sebagai pria yang lemah gemulai. Tentunya pria yang Maskulin haruslah dekat dengan karakter perkasa, kuat,dan tegas.

4.      Keahlian pandai menari pada Juno. Dalam sudut pandang masyarakat tentunya menari adalah suatu kebiasaan yang disukai perempuan. Melenggak lengok dengan gemulai merupakan representasi yang melekat pada pandangan Feminimitas. Tentunya sangat bertolak belakang juga pada representasi Maskulinitas yang dekat dengan kekerasan, tinju, kekuatan, dan kehebatan.

5.      Juno yang pandai berdandan. Merias diri atau berdandan sangat melekat pada Feminimitas dan jauh dari kata Maskulinitas. Bahkan hingga saat ini, pria yang suka berdadan masih menjadi stigma bahwa pria itu tidak memiliki sifat Maskulin. Tentunya ini menunjukkan bahwa Juno jauh dari karakter Maskulin.

Berdasarkan dari hasil analisis tersebut dapat diketahui bahwa tokoh Juno memiliki representasi yang bertolak belakang dengan karakter Maskulinitas yang sesungguhnya dengan sudut pandang� pria itu kuat, hebat, berkuasa, lebih suka olahraga berkeringat, dan� tidak suka mempercantik diri.

 

Kesimpulan

Berdasarkan analisis Dalam film �Ku Cumbu Tubuh Indahku� representasi kami ambil melalui teori semiotika John Fiske melalui level realitas, dalam kode tampilan, kode pakaian,kode ekspresi,kode perilaku. Setiap kode memiliki sudut pandang yang sama bahwa Juno di gambarkan seorang pria yang cenderung feminim atau keperempuan-an, hal itu dapat terjadi karena adanya konstruksi budaya yang faktor utamanya ada lingkungan. Kebiasaaan Juno yang mengharuskan ia untuk belajar menari, harus bisa memasak sendiri, pandai berdandan itu semua dipengaruhi oleh perubahan gender. Dimana gender dapat di berubah dengan adanya konstruksi budaya faktor mempengaruhi adalah keluarga. Sehingga representasi maskulinitas pada� Tokoh Juno Dalam film �Ku Cumbu Tubuh Indahku� tidak sesuai sudut pandang maskulinitas yang sewajarnya. Juno lebih di gambarkan menjadi laki-laki yang feminim.

 

BIBILIOGRAFI

Darwin, Muhadjir. (1999). Maskulinitas: Posisi laki-laki dalam masyarakat patriarkis. Center for Population and Policy Studies Gadjah Mada University, 4, 1�10.

Elfira, Mina. (2008). Vasilisa Maligina karya AM Kollontai: Sebuah rekonstruksi atas konsep maskulinitas Rusia. Wacana, 10(1), 40�49.

Fakih, Mansour. (1996). Analisis gender & transformasi sosial. Pustaka Pelajar.

Madinah, Maulidah. (2020). Analisis Tindak Tutur Ilokusi dalam Film Kucumbu Tubuh Indahku Karya Garin Nugroho. Universitas Diponegoro.

Moleong, Lexy J. (2007). Metode penelitian kualitatif. Bandung: Remaja Rosdakarya.

O�Guinn, Thomas C., & Muniz Jr, Albert M. (2005). 13 Communal consumption and the brand. Inside Consumption: Consumer Motives, Goals, and Desires, 252.

Pratista, Himawan. (2008). Memahami film. Homerian Pustaka.

Smiler, Andrew P. (2004). Thirty years after the discovery of gender: Psychological concepts and measures of masculinity. Sex Roles, 50(1�2), 15�26.

Tanjung, Sumekar. (2012). Pemaknaan Maskulinitas pada Majalah Cosmopolitan Indonesia. Jurnal Komunikasi, 6(2), 91�104.

Vera, Nawiroh. (2014). Semiotika dalam riset komunikasi. Bogor: Ghalia Indonesia, 27.

Wajcman, G�rard. (2001). El objeto del siglo. Amorrortu Buenos Aires.

Widyatama, Rendra. (2006). Bias gender dalam iklan televisi. Media Pressindo.