Eti Rohayati/Jurnal
Syntax Transformastion, Vol 1, No 2 April 2020
PENGARUH PEMOTIVASIAN TERHADAP KINERJA PEGAWAI DI DINAS KESEHATAN
KOTA TASIKMALAYA
Eti Rohayati
Sekolah Tinggi Ilmu Administrasi YPPT Priatim Tasikmalaya
Email: [email protected]
info artikel ������������������������abstrak
|
Diterima 2 April 2020 Diterima dalam bentuk revisi 15 April 2020 Diterima dalam bentuk revisi 23 April 2020 Kata kunci: Pengaruh, pemotivasian, kinerja |
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemotivasian terhadap kinerja pegawai di Dinas Kesehatan Kota
Tasikmalaya. Masalah pembangunan kesehatan yang komplek sangat dipengaruhi oleh kualitas sumber daya manusia
sebagai motor penggerak
(driving force) dan sebagai agen
perubahan (Agent Of
Change). Motivasi penting
agar setiap individu pegawai mau bekerja
keras dan antusias untuk mencapai produktifitas kerja yang tinggi. Berdasarkan hasil study pendahuluan kinerja pegawai di Dinas Kesehatan Kota Tasikmalaya
di nilai masih kurang. Hal ini dapat dilihat dari capaian Standar Pelayanan Minimum (SPM)
Dinas Kesehatan Kota Tasikmalaya
masih banyak yang belum mencapai target. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemotivasian terhadap kinerja pegawai di Dinas Kesehatan Kota Tasikmalaya.
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode
deskriptif dengan pendekatan kuantitatif. Teknik pengumpulan data menggunakan angket tertutup. Responden dalam penelitian ini berjumlah 84 orang yaitu Aparatur Sipil Negara Dinas Kesehatan Kota Tasikmalaya.
Skala pengukuran tiap variabel dihitung dengan skala likert dengan nilai minimum 84 dan panjang kelas 67,2. Alat Analisis yang digunakan adalah beberapa uji untuk statistik yakni: uji validitas, reliabilitas, analisis frekuensi dan
statistic tiap variabel penelitian, uji hipotesis dengan analisis regresi menggunakan SPSS (Statistical
Product and Service Solutions) version 23.0 for Windows. Hasil penelitian untuk pengukuran tiap variabel dengan skala likert nilai minimum 84 dan panjang kelas 67,2 menunjukan variabel pemotivasian sebesar 245.67 termasuk pada kriteria sedang, variabel kinerja pegawai sebesar 337 termasuk kriteria baik. Hasil uji statistik menunjukkan adanya pengaruh yang signifikan antara pemotivasian terhadap kinerja pegawai Dinas Kesehatan Kota Tasikmalaya yaitu sebesar 17,3%. Sisanya dipengaruhi oleh faktor lain
yang tidak terdefinisi dalam variabel pemotivasian. Dengan demikian, hipotesis konseptual mengenai pengaruh pemotivasian terhadap kinerja pegawai teruji. |
Pendahuluan
Pembangunan
kesehatan di Indonesia pada dasarnya
mengalami peningkatan. Namun masih belum
mencapai tujuan pembangunan kesehatan yang tertuang dalam Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan yaitu terwujud derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya
(D. K. R. Indonesia, 2013). Masih banyak
masalah kesehatan yang belum terselaesaikan, termasuk masalah-masalah indikator penting dalam mendukung derajat kesehatan.
Sumber daya manusia
memegang peranan penting dalam pembangunan,
termasuk pembangunan bidang kesehatan. Masalah pembangunan kesehatan yang komplek sangat dipengaruhi oleh kualitas sumber daya manusia sebagai
motor penggerak (driving force) dan sebagai agen perubahan
(Agent Of Change).
Kualitas sumber daya
manusia tidak terlepas dari kinerja
sumber daya manusia tersebut. Sebuah penelitian yang dilakukan oleh The Boston Consulting Group (BCG) melihat negara Indonesia memilki kinerja yang tergolong rendah dan kurangnya tenaga kerja yang berkualitas. Rendahnya kinerja membuat Indonesia tidak siap menghadapi
pertumbuhan ekonomi yang cukup tinggi.
Motivasi mempersoalkan bagaimana
caranya mendorong gairah kerja bawahan,
agar mereka mau bekerja keras dengan
memberikan semua kemampuan dan keterampilannya untuk mewujudkan tujuan oarganisasi. Motivasi penting agar setiap individu pegawai mau bekerja
keras dan antusias untuk mencapai produktifitas kerja yang tinggi.
Pemotivasian berasal dari kata dasar �motivasi�. Motivasi
berasal dari kata latin �Movere� yang berarti dorongan atau daya penggerak.
Motivasi merupakan semua kekuatan yang ada dalam diri seseorang yang memberi
daya, memberi arah dan memelihara tingkah laku (Hamid, 2014). Motivasi dalam Bahasa Inggris berasal dari kata motive yang berarti daya
gerak atau alasan. Motivasi dalam Bahasa Indonesia, berasal dari kata motif
yang berarti daya upaya yang mendorong seseorang melakukan sesuatu. Pemotivasian
(Motivating) merupakan salah satu fungsi manajemen berupa pemberian
intruksi, semangat dan dorongan kepada bawahan, agar bawahan melakukan kegiatan
secara suka rela apa yang dikehendaki oleh atasan, pemberian inspirasi,
semangat dan dorongan oleh atasan kepada bawahan ditujukan agar bawahan
bertambah kegiatannya, atau mereka lebih bersemangat melaksanakan tugas-tugas
sehingga mereka lebih berdaya guna dan berhasil guna.
Teori ini dikemukakan oleh A.H. Maslow tahun 1954 dalam (Siswanto, 2015). Maslow mengemukakan bahwa kebutuhan individu dapat disusun dalam suatu
hierarki. Dasar Maslow�s Need Hierarchy Theory :
Ada beberapa macam kebutuhan, antara lain :
1)
Physiological Needs (kebutuhan fisik = biologis) yaitu kebutuhan yang diperlukan untuk
mempertahankan kelangsungan hidup seseorang, seperti makan, minum, udara, perumahan,
kesehatan, kebutuhan istirahat dan lain-lainnya. Dalam ruang lingkup pekerjaan
hal ini termasuk kebutuhan-kebutuhan seperti kenyamanan suhu udara di tempat
kerja, dan gaji minimum yang mencukupi kebutuhan pokok.
2)
Safety and Security needs (keamanan dan keselamatan) adalah kebutuhan akan keamanan dari ancaman,
yakni merasa aman dari ancaman kecelakaan dan keselamatan. Dalam ruang lingkup
pekerjaan, kebutuhan ini meliputi keamanan kerja, bebas pungutan liar, dan
jenis pekerjaan yang aman.
3)
Affiliation or Acceptance Needs adalah kebutuhan sosial, teman, dicintai dan mencintai serta diterima
dalam pergaulan kelompok karyawan dan lingkungannya. Dalam organisasi,
kebutuhan-kebutuhan ini mempengaruhi hasrat untuk memiliki hubungan yang baik
dengan rekan kerja, berpartisipasi dalam kelompok kerja, dan memiliki hubungan
yang baik dengan atasan.
4)
Esteem or Status or Egoistic Needs adalah kebutuhan akan penghargaan diri, pengakuan serta penghargaan
prestise dari karyawan dan masyarakat lingkungannya. Dalam organisasi,
kebutuhan untuk dihargai menunjukkan motivasi untuk diakui, tanggung jawab yang
besar, status yang tinggi, dan pengakuan atas kontribusi pada organisasi.
5)
Self Actuallization adalah kebutuhan aktualisasi diri dengan menggunakan kecakapan, kemampuan,
ketrampilan, dan potensi optimal untuk mencapai prestasi kerja yang sangat
memuaskan atau luar biasa yang sulit dicapai orang lain. Kebutuhan ini di
antaranya adalah kebutuhan untuk mengembangkan potensi diri secara menyeluruh,
meningkatkan kemampuan diri, dan menjadi orang yang lebih baik. Kebutuhan
aktualisasi diri dapat dipenuhi di organisasi dengan cara memberikan kesempatan
bagi orang-orang untuk tumbuh, mengembangkan kreativitas, dan mendapatkan
pelatihan untuk dapat mengerjakan tugas yang menantang serta melakukan
pencapaian.
Kinerja berasal dari kata � Job Performance atau Actaul
Performance�� yang diartikan sebagai
prestasi kerja atau prestasi sesungguhnya yang dicapai oleh seseorang (Hamid, 2014) �Kinerja
dapat diartikan sebagai prestasi kerja, yakni hasil kerja secara kualitas dan
kuantitas yang dicapai oleh� seorang
tenaga kerja dalam melaksanakan tugasnya sesuai dengan tangggung jawab yang
dibebankan kepadanya.
Menurut Peraturan Pemerintah Republik Indonesia
Nomor 30 Tahun 20l9 Tentang Penilaian Kinerja Pegawai
Negeri Sipil, kinerja Pegawai Negeri Sipil adalah hasil kerja yang dicapai
oleh setiap Pegawai Negeri Sipil pada organisasi/unit sesuai dengan Sasaran
Kinerja Pegawai dan Perilaku Kerja (P.
R. Indonesia, n.d.).
Sasaran Kinerja Pegawai yang selanjutnya disingkat SKP adalah rencana kinerja
dan target yang akan dicapai oleh seorang Pegawai Negeri Sipil yang harus dicapai
setiap tahun. Sedangkan Perilaku Kerja adalah setiap tingkah laku, sikap atau
tindakan yang dilakukan oleh Pegawai Negeri Sipil atau tidak melakukan sesuatu
yang seharusnya dilakukan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
Metode Penelitian
Objek penelitian pada penelitian ini adalah pengaruh pemotivasian terhadap kinerja pegawai di lingkungan Dinas Kesehatan Kota Tasikmalaya.
Penelitian ini merupakan penelitian survey dengan
pendekatan metode kuantitatif. Data hasil penelitian akan dianalisis dengan
menggunakan analisis korelasi product moment, dan selanjutnya untuk dapat memprediksi
bagaimana pengaruh variabel bebas terhadap variabel terikat, maka dianalisis
dengan regresi linier sederhana.
Populasi dalam penelitian ini adalah pegawai Dinas
Kesehatan Kota Tasikmalaya tahun 2019 berjumlah 104 orang.
Pengambilan sampel menggunakan Teknik proportionate
stratified random sampling (Sugiyono, 2015) Penentuan jumlah sampel yang diambil menggunakan tabel penentuan jumlah
sampel dari populasi yang dikembangkan oleh Isaac dan Michael, untuk kesalahan
1%, 5% dan 10%. Dihitung jumlah sampel dari populasi, yaitu seluruh pegawai di
Dinas Kesehatan Kota Tasikmalaya yang berjumlah 104 orang untuk taraf kesalahan
5% adalah antara 78 sampai dengan 84. Agar mengurangi kesalahan, jumlah sample
diambil jumlah tertinggi, yaitu 84 orang.
Hasil dan Pembahasan
1.
Deskripsi
Variabel Penelitian
Pernyataan terdiri dari pemotivasian 16 butir dan kinerja 13 butir. Dari
analisis tersebut dapat diketahui berapa rata-rata keseluruhan.
Penentuan kelas atas pernyataan 84 orang responden terhadap variabel
penelitian adalah sebagai berikut: Nilai minimum : 1 x 1 x 84 = 84
Nilai maksimum����������� : 5 x 1 x 84 = 420
Interval������������� : 500 � 100�� = 336
Panjang Kelas��� : 336 = 67,2
����������������������������� ��� 5
Dengan nilai minimum 84 dan panjang
kelas 67,2, maka sebaran kelasnya menjadi:
Tabel 1
Kategori Sebaran Kelas pada Variabel
|
Kelas Interval |
Kriteria |
|
84 ≤ X < 151,2 |
Sangat Kurang |
|
151,3 ≤ X < 218,4 |
Kurang |
|
218,5 ≤ X < 285,6 |
Sedang |
|
285,7 ≤ X < 352,8 |
Baik |
|
352,9 ≤ X ≤ 420 |
Sangat Baik |
���������� ��Sumber: Hasil penelitian 2019
2. Pemotivasian
Nilai rata-rata total
skor tanggapan responden terhadap 16 pernyataan yang berhubungan dengan
Pemotivasian adalah 276.31 termasuk pada kriteria sedang.
Jadi berdasarkan hasil tersebut dapat disimpulkan Pemotivasian pada
Pegawai di Dinas Kesehatan Kota Tasikmalaya�
berada pada kriteria sedang, artinya pemenuhan kebutuhan fisiologis,
kebutuhan keamanan dan keselamatan, kebutuhan berkelompok, kebutuhan penghargaan
dan kebutuhan aktualisasi diri belum memenuhi standar terutama pemotivasian
pada kebutuhan pemenuhan kebutuhan fisiologis, kebutuhan keamanan dan
keselamatan dan kebutuhan penghargaan sehingga harus dilakukan upaya
peningkatan. Hal ini dimaksudkan untuk menunjang pencapaian kinerja yang
optimal dimasa mendatang.
3.
Kinerja Pegawai
Nilai total skor rata-rata tanggapan responden terhadap 13 pernyataan
yang berhubungan dengan Kinerja Pegawai adalah 332.06 termasuk pada kategori baik.
Jadi berdasarkan hasil tersebut dapat disimpulkan Kinerja Pegawai di
Dinas Kesehatan Kota Tasikmalaya� berada
pada kriteria baik. Artinya, kuantitas, kualitas, waktu, orientasi pelayanan,
komitmen, inisiatif kerja, kerja sama dan disiplin pegawai telah sesuai dengan
harapan pimpinan dan pimpinan telah menetapkan target kerja dengan penuh
pertimbangan.
4. Hasil Analisis Regresi
Berdasarkan hasil perhitungan
regresi linier sederhana dengan
menggunakan program SPSS ver.23 for windows, maka diperoleh hasil sebagai berikut:
Tabel 2
Hasil Analisis Regresi
|
Coefficientsa |
||||||
|
Model |
Unstandardized Coefficients |
Standardized Coefficients |
T |
Sig. |
||
|
B |
Std. Error |
Beta |
||||
|
1 |
(Constant) |
43.110 |
2.811 |
|
15.336 |
.000 |
|
Pemotivasian |
.232 |
.056 |
.415 |
4.135 |
.000 |
|
|
a. Dependent Variable: Kinerja |
||||||
Dari tabel 4.2 dapat diterjemahkan :
1.�� Kostanta sebesar 43,110 menyatakan bahwa jika tidak ada
nilai Pemotivasian
maka nilai Kinerja sebesar
43,110.
2.�� Koefisien regresi X sebesar 0,232 menyatakan bahwa setiap penambahan 1 nilai Pemotivasian, maka nilai Kinerja bertambah sebesar
0,232.
5.
Hasil Uji Hipotesis
Pada tabel 4.2 Berdasarkan uji t dengan kriteria uji pada taraf =
0,05 diperoleh nilai t hitung sebesar 4.135 dimana ttabel
= 1,989, jadi� t hitung> ttabel
dengan probabilitas (Sig.) sebesar 0,000. Nilai ini lebih kecil dari 0,05, H1 diterima dan Ho ditolak, yang berarti Ada pengaruh yang nyata
(signifikan) variabel Pemotivasian (X) terhadap variabel Kinerja (Y) pegawai di Dinas kesehatan Kota Tasikmalaya.
6. Uji Korelasi
Uji korelasi/ uji
hubungan yang dinyatakan dalam R, berdasarkan hasil
perhitungan regresi linier sederhana dengan menggunakan program SPSS
ver.23 for windows, diperoleh hasil
sebagai berikut:
Tabel 4.14
Hasil Uji
Korelasi
|
Model
Summaryb |
||||
|
Model |
R |
R
Square |
Adjusted
R Square |
Std.
Error of the Estimate |
|
1 |
.415a |
.173 |
.162 |
3.59656 |
|
a. Predictors: (Constant), Pemotivasian |
||||
|
b. Dependent Variable: Kinerja |
||||
Dari tabel diatas dapat dilihat koefisien
determinasi (R2) sebesar 0,173, yang mengandung pengertian bahwa pengaruh
variabel bebas (Pemotivasian) terhadap variabel terikat (Kinerja) adalah
sebesar 17,3%, sedangkan sisanya dipengaruhi oleh variabel yang lain.
B. Pembahasan
Hasil analisis
atas persepsi pegawai terhadap Pemotivasian pada Pegawai di Dinas Kesehatan
Kota Tasikmalaya� berada pada kriteria
sedang, artinya harus dilakukan upaya peningkatan pemotivasian terhadap pegawai
di Dinas Kesehatan Kota Tasikmalaya. Hal ini dimaksudkan untuk menunjang
pencapaian kinerja yang optimal dimasa mendatang.
Hasil analisis
atas persepsi pegawai terhadap kinerja pegawai di Dinas Kesehatan Kota
Tasikmalaya� berada pada kategori baik. Artinya,
kuantitas, kualitas, waktu, orientasi pelayanan, komitmen, inisiatif kerja,
kerja sama dan disiplin pegawai telah sesuai dengan harapan pimpinan dan
pimpinan telah menetapkan target kerja dengan penuh pertimbangan.
Hasil pengolahan
data dengan analisis regresi yang telah dilakukan dan dijelaskan sebelumnya
memperlihatkan bahwa variabel pemotivasian berpengaruh positif terhadap kinerja
pegawai di Dinas Kesehatan Kota Tasikmalaya sebesar 17,3%, sedangkan sisanya
dipengaruhi oleh variabel yang lain. Hal ini sejalan dengan penelitian
sebelumnya yaitu hasil penelitian Ekadesvitasari, Resmi (2014) terdapat pengaruh
motivasi terhadap kinerja pegawai, akan tetapi terdapat pengaruh yang kecil.
Sedangkan faktor lain yang tidak terdefinisi, cukup besar mempengaruhi variabel
kinerja pegawai, selain variabel motivasi.
Menurut Steers
dalam (Hamid, 2014) ada tiga yang mempengaruhi prestasi kerja/
kinerja, yaitu tingkat motivasi, minat kerja dan penerimaan atas tugas yang
dibebankan. Begitupun menurut Robbins kinerja merupakan fungsi dari kemampuan,
motivasi dan kesempatan.
Berdasarkan
penjelasan diatas, secara teori dan empirik dapat dibuktikan bahwa terdapat
pengaruh pemotivasian terhadap kinerja pegawai walaupun pengaruhnya rendah. Hal
ini mengindikasikan bahwa apabila pemotivasian terhadap pegawai di Dinas
Kesehatan Kota Tasikmalaya diberikan secara baik maka kinerja pegawainya juga
akan meningkat.
Kesimpulan
Pemotivasian pada Pegawai di Dinas Kesehatan Kota Tasikmalaya� berada
pada kriteria sedang, artinya pemenuhan kebutuhan fisiologis, kebutuhan keamanan dan keselamatan, kebutuhan berkelompok, kebutuhan penghargaan dan kebutuhan aktualisasi diri belum memenuhi standar terutama pemotivasian pada kebutuhan pemenuhan kebutuhan fisiologis, kebutuhan keamanan dan keselamatan dan kebutuhan penghargaan sehingga harus dilakukan upaya peningkatan. Hal ini dimaksudkan untuk menunjang pencapaian kinerja yang optimal dimasa mendatang.
Kinerja Pegawai di Dinas Kesehatan Kota Tasikmalaya� berada pada klasifikasi baik. Artinya, kuantitas, kualitas, waktu, orientasi pelayanan, komitmen, inisiatif kerja, kerja sama
dan disiplin pegawai telah sesuai dengan
harapan pimpinan dan pimpinan telah menetapkan target kerja dengan penuh pertimbangan.
Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan di Dinas Kesehatan Kota Tasikmalaya,
disiplin pegawai perlu ditingkatkan, ditandai dengan kehadiran pegawai saat apel masih
kurang yaitu sekitar 20-30% dari jumlah pegawai serta kelengkapan atribut pada pakaian dinas pun terlihat masih kurang.
Hasil pengolahan data dengan analisis regresi yang telah dilakukan dan dijelaskan sebelumnya memperlihatkan bahwa variabel pemotivasian berpengaruh positif terhadap kinerja pegawai di Dinas Kesehatan Kota Tasikmalaya yaitu sebesar 17,3%, sedangkan sisanya dipengaruhi oleh variabel yang lain. Jadi apabila pemotivasian meningkat maka kinerja pegawai
di Dinas Kesehatan Kota Tasikmalaya
juga akan meningkat, sebaliknya apabila pemotivasian menurun maka kinerja pegawai
di Dinas Kesehatan Kota Tasikmalaya
juga akan menurun.
Bibliografi
Hamid, S. (2014). Manajemen Sumber Daya
Manusia Lanjutan. Yogyakarta: Deepublish, 95�96.
Indonesia, D. K. R. (2013). Undang-Undang
Republik Indonesia Nomor 36 Tahun 2009 Tentang Kesehatan. Diakses Dari Bpkp.
Go. Id Pada Tanggal, 12.
Indonesia, P. R. (n.d.). Peraturan
Pemerintah Republik Indonesia Nomor 30 Tahun 20l9 Tentang Penilaian Kinerja Pegawai
Negeri Sipil.
Siswanto, H. B. (2015). Pengantar
Manajemen. Bumi Aksara.
Sugiyono. (2015). Metodologi Penelitian
Kuantitatif Kualitatif dan R&D. Alfabeta.