|
Jurnal
Syntax Transformation |
Vol. 1
No. 8, Oktober 2020 |
|
p-ISSN :
2721-3854 e-ISSN : 2721-2769 |
Sosial
Sains |
STUDI NETNOGRAFI BELAJAR
MEMBUAT PODCAST PADA KOMUNITAS THE PODCASTERS DI MEDIA SOCIAL DISCORD
Ibrahim Adnan Dan Dudi Iskandar
Universitas Budi Luhur Jakarat, Indonesia
Email: [email protected] dan [email protected]
|
INFO ARTIKEL |
ABSTRAK |
|
Diterima Diterima dalam bentuk revisi Diterima dalam bentuk revisi |
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana cara belajar membuat podcast yang terjadi
pada Grup The Podcasters di media sosial Discord ditinjau dengan studi netnografi. Metode yang digunakan adalah kualitatif dengan Pendekatan Etnografi Virtual dengan Teori CMC atau Computer Mediated Communication yang merupakan proses komunikasi menggunakan komputer dengan tujuan memengaruhi orang lain dalam konteks dan tujuan tertentu. Teori CMC hadir dalam berbagai
bentuk, terdiri dari berbagai rangkaian dan inisiasi, untuk membantu komunikasi interpersonal. CMC terlibat
dengan berbagai bentuk komunikasi. Contoh dari media CMC adalah E-mail, pesan instan, ruang chat, jejaring sosial. Kesimpulannya
Potensi para kreator atau podcaster untuk meraih penghasilan atau uang lewat podcasting
makin tinggi. Hal ini berkorelasi dengan jumlah pendengar yang terus meningkat. Maka The Podcaster hadir untuk menyiapkan
market podcast dan sebagai wadah
podcaster di Indonesia sehingga kedepannya
industry podcast bisa berkembang di
Indonesia seperti
youtube . |
|
Kata kunci: Pengendalian Internal; Penerimaan
Kas; Pengeluaran Kas Dan� Sistem Informasi |
Pendahuluan
Masyarakat kini mulai
menikmati layanan streaming
yang dinilai lebih fleksibel dan mudah diakses. Canggihnya perangkat digital di era modern ini
seakan menghadirkan �dunia dalam genggaman�. Sebagaimana dibahas (Nasrullah, 2015) dengan world without secrets bahwa
kehadiran media baru menjadikan sesuatu yang mudah dicari dan terbuka. Media baru ini memberikan cara yang berbeda dalam bertemu audiens.
Tidak seperti media konvensional yang bersifat satu arah, melalui
media baru, audiens tidak lagi menerima
pesan secara pasif dan memungkinkan mereka terhubung dengan jarigan yang lebih luas, dapat
berinteraksi satu sama lain serta mengambil peran aktif dalam pemaknaan
pesan.
Penelitian yang dilakukan (Bonini, 2015) mengatakan bahwa Kemunculan internet merupakan sebuah momentum untuk membangkitkan kembali konten audio yang� sempat tergeser. Kebangkitan ini kemudian ditandai dengan adanya berbagai
media alternatif, seperti
live streaming di situs radio online serta program
radio yang didistribusikan melalui
Youtube, media sosial, atau secara podcast (Febriana, 2018). Melihat kondisi tersebut, konten audio memiliki potensi yang besar untuk dikembangkan
di ranah internet. Bentuk distribusi konten audio yang akhir-akhir ini tengah diminati adalah Podcast. Podcast merupakan
akronim dari iPod Broadcasting
yang merujuk pada perangkat
Apple iPod sebagai platform distribusi
podcast pertama (Allifiansyah, 2018). Secara sederhana, podcast diartikan sebagai teknologi yang digunakan utuk mendistribusikan, menerima, dan mendengarkan konten secara on- demand yang diproduksi oleh profesional maupun radio amatir (Rane, 2018).
Berbeda dengan� radio konvensional yang melakukan siaran secara linear, podcast hadir dengan format siaran on-demand, artinya pendengar dapa menentukan sendiri waktu dan topik yang ingin didengarkan (Fadilah et al., 2017). Sebenarnya podcast telah muncul pada lebih dari satu dekade
silam. Akan tetapi, saat itu podcast belum cukup diminati
oleh masyarakat hingga akhirnya podcast kembali �meledak� di Indonesia pada tahun
2018 (Yusra, 2019).
Kini podcast hadir setelah mengalami
perkembangan dari berbagai aspek, seperti teknologi, konten, serta peluang
monetisasi. Meskipun baru genap setahun
podcast bermuara, pertumbuhan
peminatnya cukup signifikan. Hal ini dibuktikan dengan survei� Daily Social pada 2018 terhadap 2023 pengguna smartphone
yang menyatakan bahwa sebesar 68% responden cukup familiar dengan keberadaan podcast dan 80% di antaranya
pernah mendengarkan podcast
dalam 6 bulan terakhir. Hasil ini merupakan titik awal yang baik bagi podcast untuk terus berkembang sebagai audio berbasis digital.
Pada 2017, Spotify meminta perusahaan
riset Kantor TNS menyurvei pendengar radio dan podcast di Indonesia. Hasilnya mengejutkan. Hampir separuh pendengar audio, menghabiskan waktunya menyimak podcast lewat platform seperti Spotify. Saat itu, popularitas
podcast sudah menyamai siaran radio-radio konvensional.
Banyak data menunjukkan, podcast memang
makin akrab di telinga banyak orang di pelbagai negara, terutama di kalangan milenial. Menurut survei Reuters Institute bersama University of Oxford pada 2019, lebih
dari sepertiga orang segala umur di 38 negara mendengarkan podcast. Bahkan, di antara anak- anak
muda-mereka yang berusia kurang dari 35 tahun-kini lebih dari separuhnya �tak bisa hidup�
tanpa podcast.
Hasil wawancara Katadata
pada 4 Februari 2020 dengan
15 orang berusia antara 20 hingga 40 tahun juga menunjukkan antusiasme yang tinggi terhadap podcast. Sebanyak 93,3 persen narasumber merupakan pendengar podcast. 26,6 persen diantaranya mendengarkan podcast seminggu sekali dengan rata-rata durasi sekitar lima sampai 30 menit. Hiburan, pengetahuan dan self- improvement, serta
cerita misteri menjadi topik yang paling banyak disimak dengan persentase masing-masing sebesar 20 persen.
Berdasarkan Penelitian kata data yang menunjukan
antusiasme yang tinggi terhadap podcast maka membuat podcast yang merupakan hal baru di Indonesia ini menarik minat
sangat banyak sehingga hadirlah komunitas komunitas untuk� belajar membuat podcast . munculnya Komunitas-komunitas di media sosial
mengenai podcast didorong
oleh keinginan belajar dan mengerti cara membuat
podcast yang baik dan benar.
Komunitas ini biasanya muncul karena adanya fasilitas
ruang ekspresi itu sendiri dan kesamaan daya tarik.
kebanyakan orang akan membuat grup atau
komunitas di Facebook atau whatsapp namun komunitas The podcaster ini menggunakan discord dan whatsapp. Discord mungkin asing disebagian orang karena jarang sekali
digunakan oleh orang umum kebanyakan digunakan di oleh
gamers namun fitur discord
yang memudahkan untuk ngobrol online� dalam jumlah banyak serta
mudah untuk menshare file menjadi pilihan komunitas the podcasters
Penelitian yang dilakukan
(Toni, 2017) menghasilkan
Facebook mengubah tatanan sosial dari pertemanan
yang didasari oleh rasa kesetiaan
menjadi teman dalam konsepsi verbal dan
tulisan, tanpa melihat asal usul, ras,
golongan, negara dan lain-lain, mereka
saling terkoneksi menjadi �teman�. Facebook juga dianggap sebagai media jejaring sosial mempunyai keunggulan sebagai modal sosial yang membantu orang untuk saling berhubungan dengan orang lain dan berinteraksi
secara langsung melalui berbagai fitur yang ditawarkan, termasuk ruang komunitas yang mempunyai kesamaan tujuan.
Komunitas inilah
yang kemudian bisa banyak terbentuk di Facebook. Komunitas-komunitas di media sosial
biasanya muncul karena adanya fasilitas
ruang ekspresi itu sendiri dan kesamaan daya Tarik (Maulida, 2017). Maka
dari itu lahirlah� komunitas
Podcast yang bernama The podcaster di social media
lain yang bernama Discord.
Penelitian ini bertujuan
untuk mengetahui bagaimana cara belajar membuat podcast yang terjadi pada Grup The Podcasters di media sosial
Discord ditinjau dengan studi netnografi.
Metode Penelitian
Metode penelitian adalah cara ilmiah untuk
mendapatkan data dengan tujuan kegunaan tertentu data yang diperoleh melalui penelitian adalah data empiris yang mempunyai kriteria tertentu yaitu valid (Sugiyono, 2016). Setiap penelitian mempunyai tujuan dan kegunaan tertentu.
Dalam penelitian mengenai
�studi netnografi belajar membuat podcast pada komunitas
the podcasters di media social discord�. Metode netnografi merupakan pendekatan baru melalui riset
etnografik yang menggabungkan
arsip dan interkasi secara online, membutuhkan pengamatan dan observasi, dalam bentuk pengumpulan
data secara digital, analisis� dan representasi� riset� (Kozinets, 2010)
Sementara itu, (Laurensia, 2017) dan (Kozinets, 2010) bahwa ada� yang� disebut dengan netnografi murni dan netnografi campuran. Netnografi murni dapat dilakukan jika data yang dihasilkan didapatkan melalui komunikasi yang dimediasi oleh komputer atau intreraksi
lain dengan bantuan teknologi informasi atau komunikasi seperti wawancara, observasi, partisipasi, dan mengunduh data. Sedangkan, netnografi campuran dapat dilakukan ketika pengambilan data tidak hanya komunikasi
yang dimediasi oleh komputer.
Akan tetapi pengambilan
data diperlukan dengan cara melakukan interaksi tatap muka.
Hasil dan Pembahasan
Podcast ini adalah audio yang bisa didengarkan dimana saja dan kapan saja sangat
berbeda dengan radio.
Podcast ini telah banyak digunakan oleh masyarakat untuk mendengarkan berita, ilmu pengetahuan, dan sharing ilmu pengetahuan yang bersifat dapat diulang. Bisa diulang, karena memang sudah
diunduh diawal. Hal ini bisa menjadi
kelebihan tersendiri dari Podcast dibandingkan dengan radio.� Bahkan, Anda akan dapat mendengarkan Podcast sambil menunggu kereta, sambil menyantap sarapan, dan momen lainnya dan memasukkan ke dalam
gadget untuk lebih praktisnya.
Kemunculan podcast ternyata
mulai diminati audiens karena keunikan yang dimilikinya. Salah satunya dari segi
konten yang ternyata menarik minat banyak
orang untuk membuat podcast
sehingga hadir komunitas atau tempat kursus atau
private untuk membuat
podcast. Melihat perkembangan
podcast di Indonesia. Perkembangan podcast di
Indonesia dirasa mampu memberikan pengaruh pada pendengar podcast. Podcast juga dirasa
mampu membuat masyarakat sangat bergantung pada Podcast.
Perkembangan podcast di Indonesia melahirkan sebuah trend baru dimana podcast berperan sebagai media seperti hal youtube
sehingga banyak cara untuk melakukan
monetisasi�� Podcast
melihat trend perkembangan
podcast di Amerika penghasilan podcaster atau pembuat podcast hamper menyamai youtuber bahkan beberapa youtuber tertarik membuat podcast seperti halnya deddy corbuzier
dan raditya dika jika melihat di Indonesia (Yusra,
2019).
Perkembangan podcast melahirkan
komunitas podcast bernama The podcaster yang awal nya berbasis pada Whatsapp kemudian merambah ke Discord. The
podcaster terbentuk atau terlahir menjadi komunitas online karena anggotanya merupakan pembuat podcast atau pencinta podcast.
The
podcaster dalam mewujudkan ambisinya membuat podcast di
Indonesia berkembang. Bekerjasama
dengan Siberkreasi dan Kominfo membuat kelas podcast siberkreasi yang diikutin sekitar 1000 orang tiap minggunya yang ingin belajar podcast. Pengajar atau Pemateri
tiap hari sabtu dan minggu bergantian mengisi dan memberikan ilmu ilmu mengenai podcast dari cara membuat
hingga pemasaran podcast.
Kesimpulan
Podcast audio cukup populer di Amerika Serikat� �dan����� beberapa� �Negara di Eropa. Pengakses podcast audio disana memiliki pilihan konten yang semakin beragam, menarik, dan berkualitas. Perkembangan podcast audio di kedua
kawasan tersebut ditunjang promosi lintas media dan tidak kalah penting sejumlah
riset yang memberikan gambaran mengenai tren perkembangan podcast audio dari berbagai aspeknya.
Di Tanah Air, podcast audio�
belum begitu populer. Penelitian terkait mengenai podcast audio
juga masih sangat minim. Meski demikian, beberapa tahun belakangan, beragam produk podcast audio lokal mulai meramaikan jagat maya dan terbilang cukup sukses menarik
pendengar. Sebagian produk
podcast audio tersebut diproduksi
dan didistribusikan oleh beberapa
situs online radio dan para audio blogger (Rusdi,
2012). Podcast audio berpotensi dikembangkan di Tanah
Air mengingat kentalnya budaya tutur masyarakat
Indonesia. Selain itu, akses terhadap internet semakin mudah dan murah sehingga membuat produk podcast audio di
internet lebih terjangkau.
Potensi para kreator atau
podcaster untuk meraih penghasilan atau uang lewat podcasting makin
tinggi. Hal ini berkorelasi dengan jumlah pendengar yang terus meningkat (Bustari
et al., 2017). Maka
The Podcaster hadir untuk menyiapkan market podcast dan sebagai
wadah podcaster di Indonesia sehingga
kedepannya industry podcast bisa berkembang di Indonesia seperti youtube..��������
BIBLIOGRAFI
Allifiansyah,
S. (2018). Podcast dan Teori Uses & Gratifications. Academia. edu.
Diakses melalui: https://www. academia. edu/20040946 �.
Bonini,
T. (2015). The �second age�of podcasting: Reframing podcasting as a new digital
mass medium. Quaderns Del CAC, 41(18), 21�30.
Bustari,
A., Samad, I. A., & Achmad, D. (2017). The use of podcasts in improving students�
speaking skill. JELE (Journal of English Language and Education), 3(2),
97�111.
Fadilah,
E., Yudhapramesti, P., & Aristi, N. (2017). Podcast sebagai Alternatif
Distribusi Konten Audio. Jurnal Kajian Jurnalisme, 1(1), 10�17.
Febriana,
A. I. D. (2018). Determinasi Teknologi Komunikasi Dan Tutupnya Media Sosial
Path. LONTAR: Jurnal Ilmu Komunikasi, 6(2), 86�95.
Kozinets,
R. V. (2010). Netnography: Doing ethnographic research online. Sage
publications.
Laurensia,
S. (2017). Propaganda Anti Basuki Tjahaja Purnama Di Media Sosial: Studi
Netnografi Pada Grup Facebook Alumni Aksi Bela Islam 212. Universitas
Multimedia Nusantara.
Maulida,
R. (2017). Strategi Pemberitaan Melalui Media Sosial Instagram Mengenai
Citra Kepolisian (Studi Kasus Pada Tim Media Sosial Kepolisian Resor Bandung)
The News Strategy Through Social Media Instagram About Police Image.
Universitas Pasundan.
Nasrullah,
R. (2015). Media sosial: Perspektif komunikasi, budaya, dan sosioteknologi.
Simbiosa Rekatama Media.
Rane.
(2018). 5 Alasan Kenapa Podcast Adalah Masa Depan Konten. Suarane.Org.
https://suarane.org/5-alasan-kenapa-podcast-adalah-masa-depan-konten/
Rusdi,
F. (2012). Podcast sebagai Industri Kreatif. In Karya Ilmiah Dosen.
Fakultas Ilmu Komunikasi.
Sugiyono.
(2016). Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif Dan R&D. Alfabeta.
Toni,
A. (2017). Studi Netnografi �Komunitas Anti Islam�di Media Online Facebook. Prosiding
SNaPP: Sosial, Ekonomi Dan Humaniora, 7(1), 127�138.
Yusra,
Y. (2019). Inspigo Yakin Podcaster Indonesia Mampu Ciptakan konten Kreatif
dan Bisnis yang Berkesinambungan. Dailysocial.Id. https://dailysocial.id/post/inspigo-podcaster-indonesia