Heni
Ropiani /Jurnal Syntax Transformastion, Vol 1, No 2 April
2020
PENINGKATAN KEMAMPUAN GURU MENYUSUN TES HASIL BELAJAR MELALUI
KEGIATAN WORKSHOP DI SD NEGERI 1 KADIPATEN KABUPATEN TASIKMALAYA TAHUN
PELAJARAN 2017-2018
SD Negeri 1 Kadipaten� Kabupaten Tasikmalaya
Email: [email protected]
info artikel ������������������������abstrak
|
Diterima 2 April 2020 Diterima dalam bentuk revisi 15 April 2020 Diterima dalam bentuk revisi 23 April 2020 Kata kunci: Kemampuan guru, hasil belajar
workshop . |
Kenyataan yang terjadi di sekolah bahwa guru jarang menyusun tes .
Biasanya menggunakan tes yang sudah ada kemudian disesuaikan dengan materi
ajar. Keadaan ini juga terjadi di SD Negeri 1 Kadipaten Kecamatan Kadipaten
Kabupaten Tasikmalaya sehingga sering terjadi tidak tepat antara tes dengan
kompetensi dasar yang disyaratkan dalam Kurikulum 2013 (Kurtilas). Tujuan
penelitian ini adalah meningkatkan kemampuan dan keterampilan guru dalam
menyusun Tes Hasil Belajar yang benar melalui langkah-langkah yang
dipergunakan dengan pola satu dalam kebijakan dan beragam dalam pengembangan
kurikulum sesuai dengan konteks sekolah. Dengan menerapkan workshop dalam
menyusun tes hasil belajar aktivitas dapat berlangsung dengan baik dan
menyenangkan. Terdapat peningkatan kemampuan guru di mana pada Pra Tindakan
menunjukkan rata-rata : 49,73 (kurang); Siklus pertama ada peningkatan,
menunjukkan rata-rata: 62,43 (cukup); dan Siklus kedua ada peningkatan,
menunjukkan rata-rata: 88,83 (sangat baik). |
Pendahuluan
Kenyataan yang terjadi di sekolah bahwa guru jarang menyusun tes . Biasanya menggunakan tes yang sudah ada kemudian
disesuaikan dengan materi ajar. Keadaan ini juga terjadi di SD Negeri 1
Kadipaten Kecamatan Kadipaten Kabupaten Tasikmalaya sehingga sering terjadi
tidak tepat antara tes dengan kompetensi dasar yang disyaratkan dalam Kurikulum
2013 (Kurtilas). Di sisi lain guru sebagian besar belum bisa menyusun tes,
sehingga sering mencari dari beberapa kumpulan soal yang sudah ada. Setiap
penyelenggaraan ulangan akhir semester kadang-kadang tes tersebut secara utuh
dapat ditampilkan lagi pada semester berikutnya.
Atas dasar hal tersebut di atas maka di SD Negeri 1 Kadipaten Kecamatan
Kadipaten Kabupaten Tasikmalaya menyatakan sangat perlu mengadakan Workshop.
Dengan adanya kegiatan Workshop penyusunan Tes Hasil Belajar diharapkan semua
guru memiliki Tes Hasil Belajar yang lengkap dan mengaplikasikannya dalam
proses pembelajaran sehingga proses pembelajaran yang dilakukan akan lebih
terarah karena tujuan pembelajaran, materi akan diajarkan, metode dan penilaian
yang akan digunakan telah direncanakan dengan berbagai pertimbangan.
Workshop atau Lokakarya adalah suatu acara dimana
beberapa orang berkumpul untuk memecahkan suatu masalah tertentu dan mencari
solusinya. Pengertian atau definisi workshop yang lain yaitu, Workshop adalah suatu
kegiatan dimana kegitan tersebut terdapat orang-orang yang memiliki keahlian
tertentu, lalu berkumpul dan membahas permasalahan tertentu dan memberikan
pengajaran atau pelatihan kepada para pesertanya. Dengan kata lain, workshop
adalah memberikan pengajaran atau pelatihan kepada peserta mengenai teori dan
juga praktek pada suatu bidang. Atau bisa diartikan, Workshop adalah pelatihan
untuk peserta yang bekerja secara perseorangan atau secara kelompok untuk
menyelesaikan masalah yang berkaitan dengan pekerjaan atau tugas yang sebenarnya
bertujuan untuk mendapatkan pengalaman.
Adapun ciri-ciri workshop meliputi: Permasalahan yang dibahas yaitu
permasalahan yang muncul atau berasal dari peserta workshop, Metode yang
digunakan untuk menyelesaikan masalah yakni dengan cara musyawarah dan juga
penyelidikan, sehingga peserta worksop bisa mengambil bagian untuk
menyelesaikan masalah tersebut secara aktif, Setiap peserta harus aktif dan
berpartisipasi dalam memberikan bantuan dalam kegiatan tersebut untuk menyelesaikan
permasalahan, sehingga dapat diperoleh hasil yang baik dalam musyawarah
tersebut. Adapun
tahapan atau rangkaian tata pelaksanaan workshop yaitu: tujuan workshop
diadakan, masalah yang di bahas dalam workshop, prosedur
teknis workshop, pembahasan tentang permasalahan dengan beberapa orang, dan menentukan
cara memecahkan masalah.
Workshop atau Lokakarya adalah suatu acara dimana
beberapa orang berkumpul untuk memecahkan suatu masalah tertentu dan mencari
solusinya. Pengertian atau definisi workshop yang lain yaitu, Workshop adalah
suatu kegiatan dimana kegitan tersebut terdapat orang-orang yang memiliki
keahlian tertentu, lalu berkumpul dan membahas permasalahan tertentu dan
memberikan pengajaran atau pelatihan kepada para pesertanya. Dengan kata lain,
workshop adalah memberikan pengajaran atau pelatihan kepada peserta mengenai
teori dan juga praktek pada suatu bidang. Atau bisa diartikan, Workshop adalah
pelatihan untuk peserta yang bekerja secara perseorangan atau secara kelompok
untuk menyelesaikan masalah yang berkaitan dengan pekerjaan atau tugas yang
sebenarnya bertujuan untuk mendapatkan pengalaman.
Kemampuan berasal dari kata �mampu� yang berarti: dapat, kuasa, sanggup
melakukan. Kata �mampu� mendapat awalan �ke� dan akhiran �an� menjadi kemampuan
yang berarti kecakapan, kesanggupan, kekuatan. Dalam bahasa Inggris, kemampuan adalah �competence�
(Echols & Shadily, 1984:132). Kata �competence� dalam bahasa Indonesia sering disebut
kompetensi.
Undang-Undang Republik Indonesia No. 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen
menyebutkan bahwa �kompetensi adalah seperangkat pengetahuan, keterampilan dan
perilaku yang harus dimiliki, dihayati dan dikuasai oleh guru atau dosen dalam
melaksanakan tugas keprofesionalan�. Menurut Broker dan Stone dalam Wijaya
(1991:7-8) kemampuan guru adalah sebagai gambaran hakikat kualitatif dari
perilaku guru atau tenaga kependidikan yang tampak sangat berarti. Dengan
demikian, kemampuan guru adalah kecakapan yang harus dimiliki guru untuk
melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya sebagai pendidik.
Salah satu kemampuan yang harus dimiliki guru menurut UU RI Nomor 14
tahun 2005 tentang Guru dan Dosen pasal 10 ayat 1 adalah kompetensi pedagogik.
Dalam kompetensi pedagogik menuntut guru untuk mampu� mengkonstruksi soal, termasuk soal pilihan
ganda. Kemampuan mengkonstruksi soal pilihan ganda merupakan bagian dari
kemampuan melakukan penilaian pembelajaran.�
Soal pilihan ganda
merupakan soal yang paling populer dalam kelompok soal objektif. Sudijono (2009:118),
mengemukakan bahwa tes pilihan ganda adalah salah satu bentuk tes objektif yang terdiri atas pertanyaan atau
pernyataan yang sifatnya belum selesai, dan untuk menyelesaikannya harus
dipilih salah satu (atau lebih) dari beberapa kemungkinan jawaban yang telah
disediakan pada tiap-tiap butir soal yang bersangkutan. Dengan kata lain, soal
pilihan ganda adalah suatu soal yang setiap butirnya menyediakan pilihan
jawaban dan salah satu opsinya merupakan jawaban yang benar, sedangkan opsi
lain berfungsi sebagai distraktor atau pengecoh. Satu butir soal pilihan ganda
terdiri atas: pernyataan atau stem dan alternatif jawaban atau opsi.
Soal pilihan ganda
memiliki kelebihan sekaligus kekurangan. Khairuddin (2013), mengungkapkannya
sebagai berikut. Kelebihan: a) Butir soal tipe pilihan ganda dapat dikonstruksi dan digunakan untuk
mengukur segala level tujuan instruksional, mulai dari yang sederhana sampai
yang kompleks. b) Perangkat tes pilihan ganda dapat mencakup hampir seluruh cakupan
bidang studi. c) Penskoran hasil kerja peserta dapat dikerjakan secara objektif. d) Tipe butir
soal dapat dikonstruksi sehingga menuntut kemampuan peserta tes sehingga dapat
membedakan berbagai tingkatan kebenaran sekaligus. e) Jumlah option yang dapat
disediakan melebihi dua. Sehingga mengurangi keinginan peserta tes untuk
menebak. f) Tipe butir soal pilihan ganda memungkinkan dilakukan analisis butir
soal secara baik. g) Tingkat kesukaran butir soal dapat dikendalikan, dengan hanya mengubah
tingkat homogenitas alternatif jawaban. h) Informasi yang diberikan lebih kaya, bisa
memberikan banyak informasi tentang peserta tes kepada guru/dosen apabila butir
soal memiliki homogenitas yang tinggi.
Adapun kelemahan: a) Sukar dikonstruksi, terutama untuk menemukan
alternatif jawaban yang homogen; b) Ada kecenderungan bahwa guru/dosen mengkonstruksi
butir soal tipe ini dengan hanya menguji atau menngukur aspek ingatan atau
aspek yang paling rendah dalam ranah kognitif; d) Testwise, semakin
terbiasa seseorang dengan bentuk tes tipe pilihan ganda, semakin besar dia akan
memperoleh skor yang lebih.
Kualitas soal sangat bergantung pada kemampuan
seeorang dalam mengkonstruksi butir soal. Dalam mengkonstruksi butir soal,
penulis soal harus mampu menerapkan kaidah-kaidah penulisan soal. Menurut
Kemendikbud (2017:22), kaidah-kaidah pembuatan soal pilihan ganda dari segi
materi, konstruksi dan bahasa.
Metode Penelitian
Prosedur penelitian yang dilakukan menggunakan Model Spiral yang
dikembangkan oleh Kemmis & Taggart (Arikunto, 2006:97). Alur penelitian
terdiri atas empat kegiatan pokok, yaitu perencanaan, pelaksanaan, observasi,
dan refleksi.Subyek dalam penelitian ini
adalah seluruh guru SD Negeri 1 Kadipaten Kecamatan Kadipaten Kabupaten
Tasikmalaya yang berjumlah 9 guru.
Pelaksanaan penelitian
dilaksanakan sebanyak 2 siklus, setiap siklus terdiri dari 2 kali pertemuan,
sehinga keseluruhan selama 4 kali pertemuan.
Hasil dan Pembahasan
1.
Hasil
A.
Kompetensi Guru dalam Menyusun sebelum
Pra tindakan Gambaran hasil yang didapat berdasarkan rekaman fakta dan
observasi di lapangan pada hari Sabtu, 12 Agustus 2017, bahwa tingkat kemampuan
guru SD Negeri 1 Kadipaten Kecamatan Kadipaten Kabupaten Tasikmalaya dalam
menyusun THB� masih kurang sehingga hasil
belajar yang� diperoleh siswa masih
kurang maksimal. Dari gambaran dan rekaman tingkat kemampuan guru dalam
mengelola proses pembelajaran dapat dikemukakan pada tabel� berikut.
Tabel 3
Kompetensi Penilaian Soal Tes Hasil Belajar Pada Pra Tindakan
|
Kompetensi |
Indikator |
Σ% |
|
Penilaian prestasi
belajar peserta didik |
1.
Mampu memilih soal berdasarkan tingkat kesukaran. |
43,60 |
|
2.
Mampu memilih soal berdasarkan tingkat pembeda |
63,20 |
|
|
3.
Mampu memperbaiki soal yang tidak valid |
53,20 |
|
|
4.
Mampu memeriksa jawaban |
20,18 |
|
|
5.
Mampu mengklasifikasikan hasil � hasil penilaian |
40 |
|
|
6.
Mampu mengolah dan menganalisis hasil penilaian |
52,73 |
|
|
7.
Mampu menyusun laporan hasil penilaian |
53,60 |
|
|
8.
Mampu membuat interpretasi kecendrungan hasil penilaian |
40,50 |
|
|
9.
Mampu menentukan korelasi antar soal berdasarkan hasil
penilaian |
62,75 |
|
|
10.
Mengidentifikasi tingkat variasi hasil tes |
63,65 |
|
|
11.
Mampu menyimpulkan dari hasil penilaian secara jelas dan
logis |
53,65 |
|
|
Jumlah |
547,06 |
|
|
Rata-rata |
49,73 |
|
|
49,73 =
berarti kurang |
||
Dari data tersebut dapat diketahui bahwa, Tes Hasil Belajar
yang disusun oleh guru�
SD Negeri 1 Kadipaten Kecamatan Kadipaten Kabupaten Tasikmalaya
sebelum adanya tindakan sekolah manunjukkan�
kurang, artinya kemampuan tersebut masih kurang sehingga butir soal Tes
Hasil Belajar masih belum bisa/belum layak dipergunakan karena masih ada
beberapa indicator yang masih perlu diperbaiki.
Dengan
demikian untuk meningkatkan kemampuan guru dalam� menyusun Tes Hasil Belajar dilakukan
melalkukan kegiatan Workshop selama dua siklus.s
i.
Siklus 1 (pertama)
Pada bagian ini dikemukakan hasil penelitian pada siklus I
sesuai dengan proposal semua subyek penelitian terdiri dari guru-guru di SD
Negeri 1 Kadipaten Kecamatan Kadipaten Kabupaten Tasikmalaya yang berjumlah 9
orang. Semua guru tersebut sudah siap dengan perlengkapannya untuk mengikuti
kegiatan workshop untuk�
meningakatkan kemampuan guru nenyusun tes hasil belajar, secara
sistematis dapat dijelaskan sebagai berikut.
1.
Perencanaan
Perencanaan pelaksanaan tindakan pada siklus I (pertama),
peneliti mempersiapkan beberapa kelengkapan, seperti buku pedoman penyusunan
Tes Hasil Belajar , cek kelayakan tempat pelaksanaan
tindakan, serta instrument penelitian yang akan digunakan untuk mengumnpulkan
data.
Instrument penelitian yang dipersiapkan terdiri dari:
a)
Penetapan jadwal
pelaksanaan kegiatan penilitian siklus I.
b)
Angket untuk para
guru SD Negeri 1 Kadipaten Kecamatan Kadipaten Kabupaten Tasikmalaya tentang
kejelasan materi pembinaan yang dilakukan oleh peneliti (pengawas).
c)
Lembar observasi
(pengamatan) aktivitas para guru dalam diskusi kelompok.
d)
Lembar penilaian
produk Tes Hasil Belajar hasil revisi oleh setiap kelompok diskusi.
Dalam perencanaan, peneliti juga menginformasikan kepada
para guru dan kepala sekolah tentang rencana pelaksanaan tindakan, hal-hal yang
perlu mereka dipersiapkan dan menyepakati waktu pelaksanaannya. Disamping itu,
peneliti juga menyiapkan materi pembinaan teknis penggunaan metode, model atau
teknik pembelajaran yang akan diterapkan dalam penyusunan Tes Hasil Belajar
terutama difokuskan kepada temuan kasus kelemahan guru dalam menyusun Tes Hasil
Belajar hasil pra tindakan.
2.
Pelaksanaan
Pelaksanaan tindakan sekolah siklus I dilaksanakan 3 tahap
yaitu:
Tahap Pertama:�
Dilaksanakan pada hari Sabtu, 12 Agustus 2017, jam 08.00 s/d
selesai,� di SD
Negeri 1 Kadipaten Kecamatan Kadipaten Kabupaten Tasikmalaya, dengan
acara:��
a)
Pengarahan Kepala
Sekolah Kecamatan Kadipaten Kabupaten Tasikmalaya
b)
Pengarahan Pengawas
sekolah .
c)
Identifikasi
kelemahan Tes Hasil Belajar yang disusun pada pra tindakan utuk dicari solusi
perbaikannya.
d)
Penjelasan tentang
cara penyusunan Tes Hasil Belajar dan teknik/ metode/ model pembelajaran yang
hendak diterapkan dalam proses pembelajaran oleh Pengawas sekolah secara baik
dan benar.
e)
Diskusi kelompok
penyusunan Tes Hasil Belajar dengan dibimbing oleh pengawas dan kepala sekolah.
Komponen-komponen
yang didiskusikan terdiri dari:
1)
Kompetensi Dasar
2)
Indikator
Pencapaian Kompetensi
3)
Tujuan Pembelajaran
4)
Materi Pembelajaran
5)
Kegiatan
Pembelajaran
6)
Penilaian,
Pembelajaran Remedial, dan Pengayaan
7)
Media/alat, Bahan,
dan Sumber Belajar
8)
Evaluasi penyusunan
Tes Hasil Belajar sesuai kurikulum 2013
Tahap kedua:
Dilaksanakan pada hari Sabtu, 09 September 2017, jam 08.00
s/d selesai,� di
SD Negeri 1 Kadipaten Kecamatan Kadipaten Kabupaten Tasikmalaya, dengan acara:
a)
Pengarahan Kepala
Sekolah Kecamatan Kadipaten Kabupaten Tasikmalaya�
b)
Pengarahan Pengawas
sekolah.
c)
Identifikasi
kelemahan Tes Hasil Belajar yang disusun pada pra tindakan utuk dicari solusi
perbaikannya.
d)
Penjelasan tentang
cara penyusunan Tes Hasil Belajar dan teknik/ metode/ model pembelajaran yang
hendak diterapkan dalam proses pembelajaran oleh Pengawas� Sekolah secara baik dan benar.
e)
Diskusi kelompok
penyusunan Tes Hasil Belajar dengan dibimbing oleh pengawas dan kepala sekolah,
Komponen-komponen
yang didiskusikan terdiri dari:
1)
Kompetensi Dasar
2)
Indikator
Pencapaian Kompetensi
3)
Tujuan Pembelajaran
4)
Materi Pembelajaran
5)
Kegiatan
Pembelajaran
6)
Penilaian,
Pembelajaran Remedial, dan Pengayaan
f)Media/alat,
Bahan, dan Sumber Belajar
Evaluasi
penyusunan Tes Hasil Belajar sesuai kurikulum 2013.
3.
Obsevasi
a)
Observasi terhadap
aktivitas para guru di SD Negeri 1 Kadipaten Kecamatan Kadipaten Kabupaten
Tasikmalaya dalam mengikuti kegiatan Workshop.
b)
Observasi terhadap
hasil penyusunan Tes Hasil Belajar Akhir siklus I (pertama), data dapat dilihat
pada tabel berikut:
Tabel 6
Hasil Workshop
Tahap 1 Tentang Komponen Pengelolaan Pembelajaran
Khusus pada
Kompetensi Penilaian Prestasi Belajar Peserta Didik
|
Kompetensi |
Indikator |
Σ% |
|
Penilaian prestasi
belajar peserta didik |
1.
Mampu memilih soal berdasarkan tingkat kesukaran. |
63,67 |
|
2.
Mampu memilih soal berdasarkan tingkat pembeda |
83,25 |
|
|
3.
Mampu memperbaiki soal yang tidak valid |
83,25 |
|
|
4.
Mampu memeriksa jawaban |
20,18 |
|
|
5.
Mampu mengklasifikasikan hasil � hasil penilaian |
50 |
|
|
6.
Mampu mengolah dan menganalisis hasil penilaian |
72,73 |
|
|
7.
Mampu menyusun laporan hasil penilaian |
63,67 |
|
|
8.
Mampu membuat interpretasi kecendrungan hasil penilaian |
50 |
|
|
9.
Mampu menentukan korelasi antar soal berdasarkan hasil penilaian |
72,73 |
|
|
10.
Mengidentifikasi tingkat variasi hasil tes |
63,67 |
|
|
11.
Mampu menyimpulkan dari hasil penilaian secara jelas dan logis |
63,67 |
|
|
Jumlah |
686,82 |
|
|
Rata-rata |
62,43 |
|
|
62,43 =
berarti cukup |
||
Dari
data tersebut dapat diketahui bahwa, Tes Hasil Belajar yang disusun oleh guru� SD Negeri 1
Kadipaten Kecamatan Kadipaten Kabupaten Tasikmalaya setelah adanya tindakan
sekolah pada Siklus I adalah:
a)
Soal berdasarkan
tingkat kesukaran sebagian besar (63,67 %) guru sudah mampu memilih soal
berdasarkan tingkat kesukaran.
b)
Soal berdasarkan
tingkat pembeda sebagian besar (83,25 %) guru sudah mampu memilih soal
berdasarkan tingkat pembeda.
c)
Soal yang tidak
valid sebagian besar (83,25 %) guru sudah mampu memperbaiki soal yang tidak
valid.
d)
Memeriksa jawaban
sebagian kecil� (20,18
%) guru sudah mampu memeriksa jawaban.
e)
Hasil-hasil
penilaian setengahnya (50 %) guru sudah mampu mengklasifikasikan hasil � hasil
penilaian.
f)Mengolah
dan menganalisis hasil penilaian sebagien besar (72,73 %) guru sudah mampu
mengolah dan menganalisis hasil penilaian.
g)
Laporan hasil
penilaian sebagian besar (63,67 %) guru sudah mampu menyusun laporan hasil
penilaian.
h)
Interpretasi
kecendrungan hasil penilaian setengahnya (50) guru sudah mampu membuat
interpretasi kecendrungan hasil penilaian
i) ��Korelasi antar soal
berdasarkan hasil penilaian sebagian besar (72,73) guru sudah mampu menentukan
korelasi antar soal berdasarkan hasil penilaian.
j) ��Tingkat variasi
hasil tes sebagian besar (63,67) guru sudah mampu mengidentifikasi tingkat
variasi hasil tes.
k)
Kesimpulan hasil
penilaian secara jelas dan logis sebagian besar (63,67) guru sudah mampu
menyimpulkan dari hasil penilaian secara jelas dan logis.
Setelah
pengawas melakukan penilaian terhadap Tes Hasil Belajar Akhir Semeter yang
disusun oleh guru, secara individu dari guru� SD Negeri 1 Kadipaten Kecamatan
Kadipaten Kabupaten Tasikmalaya yaitu dapat dinilai cukup, artinya masih belum
sepenuhnya� sesuai dengan panduan/pedoman
sehingga masih perlu penyempurnaan.
Sedangkan,
nilai Butir Test Hasil Belajar yang disusun oleh guru SD Negeri 1 Kadipaten
Kecamatan Kadipaten Kabupaten Tasikmalaya pada siklus I menunjukkan cukup,
artinya masih belum layak dipergunakan.
Dengan
demikian, peneliti merasa perlu untuk dilakukan perbaikan cara menyusun Tes
Hasil Belajar bagi guru�
di SD Negeri 1 Kadipaten Kecamatan Kadipaten Kabupaten
Tasikmalaya sebagai binaan peneliti secara baik dan benar sesuai kriteria
kurikulum 2013, dengan melakukan pemeriksaan rencana pembelajaran setiap 3
minggu sekali yang dilakukan 6 bulan dalam dua siklus.
4.
Refleksi Siklus I
Setelah
dilakukan refleksi terhadap siklus 1 ternyata ada dua hal yang perlu mendapat
perhatian sebagai tindak lanjut yaitu:
a)
Prosentase Guru
yang menyelesaikan Tes Hasil Belajar belum mencapai 100%
b)
Tes Hasil Belajar
yang telah disusun oleh Guru ternyata masih belum sepenuhnya sesuai dengan
panduan/pedoman sehingga masih perlu penyempurnaan seperti termuat pada
lampiran (table refleksi siklus 1).
ii.
Siklus II (Kedua)
1.
Perencanaan :
Perencanaan
pelaksanaan tindakan pada siklus II (pertama), peneliti mempersiapkan beberapa
kelengkapan, seperti buku pedoman penyusunan Tes Hasil Belajar, cek kelayakan
tempat pelaksanaan tindakan, serta instrument penelitian yang akan digunakan
untuk mengumnpulkan data.
Dalam
perencanaan, peneliti juga menginformasikan kepada para guru dan kepala sekolah
tentang kelemahan dalam menyusun Tes Hasil Belajar yang ditemui pada siklus I dan
memberikan solusi pemecahannya, dan hal-hal yang perlu mereka persiapkan dan
menyepakati waktu pelaksanaannya. Disamping itu, peneliti juga menyiapkan
materi pembinaan teknis penggunaan metode, model atau teknik pembelajaran yang
akan diterapkan dalam penyusunan Tes Hasil Belajar terutama difokuskan kepada
temuan kasus kelemahan guru dalam menyusun Tes Hasil Belajar pada siklus I.
2.
Pelaksanaan
Pelaksanaan
tindakan sekolah siklus II dilaksanakan 2 tahap yaitu:
Tahap Pertama:
Dilaksanakan pada hari Sabtu, 14 Oktober 2017, jam 08.00 s/d
selesai,� di SD
Negeri 1 Kadipaten Kecamatan Kadipaten Kabupaten Tasikmalaya, dengan acara:
a)
Pengarahan Kepala
Sekolah Kecamatan Kadipaten Kabupaten Tasikmalaya�
b)
Pengarahan Pengawas
sekolah .
c)
Identifikasi
kelemahan Tes Hasil Belajar yang disusun pada siklus I untuk dicari solusi
perbaikannya.�
d)
Penjelasan tentang
cara penyusunan Tes Hasil Belajar secara baik dan benar dan teknik/ metode/
model pembelajaran yang hendak diterapkan dalam proses pembelajaran oleh
Pengawas sekolah.
e)
Diskusi kelompok
penyusunan Tes Hasil Belajar dengan dibimbing oleh pengawas dan kepala sekolah,
dengan materi diskusi tentang Komponen-komponen yang meliputi:
1)
Kompetensi Dasar
2)
Indikator
Pencapaian Kompetensi
3)
Tujuan Pembelajaran
4)
Materi Pembelajaran
5)
Kegiatan
Pembelajaran
6)
Penilaian, Pembelajaran
Remedial, dan Pengayaan
7)
Media/alat, Bahan,
dan Sumber Belajar
f)Evaluasi
penyusunan Tes Hasil Belajar dalam implementasi kurikulum 2013
Tahap kedua�
Dilaksanakan pada hari Sabtu, 11 November 2017, jam 08.00
s/d selesai,� di
SD Negeri 1 Kadipaten Kecamatan Kadipaten Kabupaten Tasikmalaya, dengan acara:
a)
Pengarahan Kepala
Sekolah Kecamatan Kadipaten Kabupaten Tasikmalaya
b)
Pengarahan Pengawas
sekolah .
c)
Identifikasi
kelemahan Tes Hasil Belajar yang disusun pada siklus I untuk dicari solusi
perbaikannya.
d)
Penjelasan tentang
cara penyusunan Tes Hasil Belajar secara baik dan benar dan teknik/ metode/
model pembelajaran yang hendak diterapkan dalam proses pembelajaran oleh
Pengawas sekolah.
e)
Diskusi kelompok
penyusunan Tes Hasil Belajar dengan dibimbing oleh pengawas dan kepala sekolah,
dengan materi diskusi tentang Komponen-komponen yang meliputi:
1)
Kompetensi Dasar
2)
Indikator
Pencapaian Kompetensi
3)
Tujuan Pembelajaran
4)
Materi Pembelajaran
5)
Kegiatan
Pembelajaran
6)
Penilaian, Pembelajaran
Remedial, dan Pengayaan
7)
Media/alat, Bahan,
dan Sumber Belajar
f)Evaluasi
penyusunan Tes Hasil Belajar dalam implementasi kurikulum 2013.
3.
Observasi
a)
Observasi terhadap
aktivitas para guru di SD Negeri 1 Kadipaten Kecamatan Kadipaten Kabupaten
Tasikmalaya dalam mengikuti kegiatan kegiatan Workshop.
b)
Observasi terhadap
hasil penyusunan Tes Hasil Belajar (Prota, Promes, dan RPP) siklus II (kedua),
data tersebut dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 6
Hasil Workshop Tahap 2 Tentang Komponen Pengelolaan Pembelajaran
Khusus pada Kompetensi Penilaian Prestasi Belajar Peserta
Didik
|
Kompetensi |
Indikator |
Σ% |
|
Penilaian prestasi
belajar peserta didik |
1.
Mampu memilih soal berdasarkan tingkat kesukaran. |
93,75 |
|
2.
Mampu memilih soal berdasarkan tingkat pembeda |
93,25 |
|
|
3.
Mampu memperbaiki soal yang tidak valid |
83,50 |
|
|
4.
Mampu memeriksa jawaban |
90,20 |
|
|
5.
Mampu mengklasifikasikan hasil � hasil penilaian |
80 |
|
|
6.
Mampu mengolah dan menganalisis hasil penilaian |
82,73 |
|
|
7.
Mampu menyusun laporan hasil penilaian |
93,67 |
|
|
8.
Mampu membuat interpretasi kecendrungan hasil penilaian |
90 |
|
|
9.
Mampu menentukan korelasi antar soal berdasarkan hasil penilaian |
82,75 |
|
|
10.
Mengidentifikasi tingkat variasi hasil tes |
93,65 |
|
|
11.
Mampu menyimpulkan dari hasil penilaian secara jelas dan
logis |
93,65 |
|
|
Jumlah |
977,15 |
|
|
Rata-rata |
88,83 |
|
|
88,83 = berarti sangat baik |
||
Dari
data tersebut dapat diketahui bahwa, Tes Hasil Belajar yang disusun oleh guru� SD Negeri 1
Kadipaten Kecamatan Kadipaten Kabupaten Tasikmalaya sebelum adanya tindakan
sekolah pada Siklus II adalah:
a)
Soal berdasarkan
tingkat kesukaran hampir seluruhnya (93,75 %) guru sudah mampu memilih soal
berdasarkan tingkat kesukaran.
b)
Soal berdasarkan
tingkat pembeda hampir seluruhnya (93,25 %) guru sudah mampu memilih soal
berdasarkan tingkat pembeda.
c)
Soal yang tidak
valid sebagian besar (83,50 %) guru sudah mampu memperbaiki soal yang tidak
valid.
d)
Memeriksa jawaban
hampir seluruhnya� (90,20
%) guru sudah mampu memeriksa jawaban.
e)
Hasil-hasil
penilaian sebagian besar (80 %) guru sudah mampu mengklasifikasikan hasil �
hasil penilaian.
f)
Mengolah dan
menganalisis hasil penilaian sebagien besar (82,73 %) guru sudah mampu mengolah
dan menganalisis hasil penilaian.
g)
Laporan hasil
penilaian hampir seluruhnya (93,67 %) guru sudah mampu menyusun laporan hasil
penilaian.�
h)
Interpretasi kecendrungan
hasil penilaian hampir seluruhnya (90 %) guru sudah mampu membuat interpretasi
kecendrungan hasil penilaian
i)
Korelasi antar soal
berdasarkan hasil penilaian sebagian besar (82,75 %) guru sudah mampu
menentukan korelasi antar soal berdasarkan hasil penilaian.
j)
Tingkat variasi
hasil tes hampir seluruhnya (93,65 %) guru sudah mampu mengidentifikasi tingkat
variasi hasil tes.
k)
Kesimpulan hasil
penilaian secara jelas dan logis hampir seluruhnya (93,65 %) guru sudah mampu
menyimpulkan dari hasil penilaian secara jelas dan logis
Setelah
pengawas melakukan penilaian terhadap Tes Hasil Belajar Akhir Semeter yang
disusun oleh guru, secara individu dari guru� SD Negeri 1 Kadipaten Kecamatan
Kadipaten Kabupaten Tasikmalaya yaitu dapat dinilai baik, artinya kemampuan
guru dalam menyusun Test Hasil Belajar sudah menunjukkan kategori baik.
Sedangkan,
nilai Butir Test Hasil Belajar yang disusun oleh guru SD Negeri 1 Kadipaten
Kecamatan Kadipaten Kabupaten Tasikmalaya pada siklus II menunjukkan baik,
artinya sudah layak dipergunakan.
4.
Refleksi Siklus II
Setelah dilakukan refleksi terhadap siklus 2 ternyata terjadi
peningkatan yang cukup signifikan yaitu:
a) Prosentase Guru yang sudah dan mamppu menyelesaikan Tes
Hasil Belajar sudah mencapai 88,83 %
b) Tes Hasil Belajar yang telah disusun oleh Guru ternyata
sudah dapat dikategorikan baik, sudah mencapai 88,83 % sebagian besar guru
sesuai dengan panduan/pedoman masih masih masih ada sebagian kecil hanya pada
guru mulok.
Dengan demikian, penelitian tindakan sekolah pada siklus II
sudah tuntas, karena hasil yang diperoleh sudah cukup maksimal. Sehingga pada
siklus II kompetensi guru dalam menyusun Tes Hasil Belajar dapat dikategorikan
sudah berhasil.
2.
Pembahasan
Dengan menerapkan workshop dalam menyusun tes hasil belajar
aktivitas dapat berlangsung dengan baik dan menyenangkan. Kerja sama dalam
bentuk diskusi dapat menumbuhkan minat , sikap dan
kemauan guru-guru untuk melaksanakan tugasnya seperti halnya menyusun Tes Hasil
Belajar genap. Pada awalnya guru guru merasa tidak siap untuk menyusun tes
hasil belajar dengan alasan terbatasnya waktu dan sulitnya menyusun tes sesuai
kriteria, karena selama ini guru menyusun tes hasil belajar� dikerjakan dengan mengkompilasi soal-soal
dari buku-buku atau dari kumpulan tes yang sudah ada tanpa mempertimbangkan KI/
KD dan indikator dari RPP yang sudah mereka siapkan, tetapi setelah penyampaian
materi oleh nara sumber yang berupa konstruksi tes, menambah wawasan bagi
guru-guru dalam hal menyusun tes hasil belajar dan guru merasa perlu menyusun tes
sesuai kriteria.
Untuk melihat nilai kemampuan guru-guru SD Negeri 1 Kadipaten
Kecamatan Kadipaten Kabupaten Tasikmalaya dalam menyusun Tes Hasil Belajar
melalui penerapan Workshop pada tiap siklusnya dapat dkklasifikasi hasilnya
sebagai berikut:
1.
Pra Tindakan
menunjukkan rata-rata : 49,73 (kurang)
2.
Siklus pertama ada
peningkatan, menunjukkan rata-rata: 62,43 (cukup).
3.
Siklus kedua ada
peningkatan, menunjukkan rata-rata: 88,83 (sangat baik).
Dengan demikian, pemahaman guru dalam menyusun Tes Hasil
Belajar tersebut menunjukkan adanya peningkatan yang cukup signifikan. Hal ini
dapat dilihat melalui gambar diagram grafik berikut.

Gambar 1
Grafik Peningkatan
Kompetensi Guru dalam Menyusun RPP pada tiap siklusnya
Dengan
demikian kemampuan guru�
SD Negeri 1 Kadipaten Kecamatan Kadipaten Kabupaten Tasikmalaya
dalam menyusun Tes Hasil Belajar pada setiap siklus menunjukkan kategori Baik,
karena hasil yang diperoleh sudah cukup maksimal dan seluruhnya sudah layak
dipakai.
Kesimpulan
Berdasarkan analisis data, dari penelitian
ini dapat ditarik kesimpulan bahwa penerapan workshop dalam menyusun tes hasil
Belajar genap sangat efektif. Sikap dan kemampuan guru di SD Negeri 1 Kadipaten
Kecamatan Kadipaten Kabupaten Tasikmalaya setelah workshop merasa puas karena
melalui workshop dapat mempergunakan waktu sehingga tidak tertunda�tunda.
Melalui workshop pula dapat meningkatkan kemampuan guru di dalam menyusun tes
profesional hal ini terlihat pada kegiatan: Pra Tindakan menunjukkan rata-rata : 49,73 (kurang); Siklus pertama ada peningkatan,
menunjukkan rata-rata: 62,43 (cukup); Siklus kedua ada peningkatan, menunjukkan
rata-rata: 88,83 (sangat baik).
Dengan demikian kemampuan guru� SD Negeri 1 Kadipaten Kecamatan
Kadipaten Kabupaten Tasikmalaya dalam menyusun Tes Hasil Belajar pada setiap
siklus menunjukkan kategori Baik, karena hasil yang diperoleh sudah cukup
maksimal dan seluruhnya sudah layak dipakai
Bibliografi
Arikunto, Suharsimi. (2006).
Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan
Praktik. Rineka Cipta.
Echols, John M. �& Shadily, Hassan. (1984).� Kamus
Inggris-Indonesia. Jakarta: Gramedia.
Kemendikbud. (2013). Panduan Penulisan Soal SMA/MA-SMK Tahun 2017.
Jakarta: Pusat Penilaian Pendidikan, Kemendikbud.
Kemmis, S & Taggart, R.
Mc (1988). The Action Research Planner.
Victoria: Deakin University.
�
Khairuddin, 2013. Mengkonstruksi
Butir Soal Pilihan Ganda di www.kompasiana.com. (diakses
19 Desember 2018).�
Sudijono, Anas. (2009). Pengantar Evaluasi Pendidikan. Jakarta:
PT. Raja Grafindo Persada.
Undang-undang
Republik Indonesia Nomor 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen.
|
Copyright holder : Heni Ropiani (2020). |
|
First publication right
: This article is licensed under: |