|
Jurnal Syntax Transformation |
Vol. 1 No. 10, Desember 2020 |
|
p-ISSN : 2721-3854 e-ISSN : 2721-2769 |
Sosial Sains |
ANALISIS
PENGGUNAAN KONJUNGSI DAN KORELASINYA TERHADAP KOHESI SERTA KOHERENSI TEKS EKSPLANASI
Elisa
Thomas, Kusuma Vincensius Galuh dan Ana Maria
SMA Kolese Loyola Semarang,
Indonesia
Email: [email protected],
[email protected], [email protected]
|
INFO ARTIKEL |
ABSTRAK |
|
Diterima dalam bentuk revisi 15 Desember
2020 Diterima dalam bentuk revisi 20 Oktober 2020 |
Penelitian ini bertujuan untuk menelaah peran konjungsi terhadap kohesi dan koherensi teks eksplanasi. Objek peneltian adalah teks ekspalanasi siswa kelas XI SMA Kolese
Loyola Semarang. Metode yang digunakan
adalah analisis dokumen. Sampel menggunakan teknik purposive
dan snowball sampling. Trianggulasi data
menggunakan trianggulasi teori. Hasil penelitian menunjukkan kesalahan pemakaian konjungsi mengakibatkan hilangnya kohesi dan koherensi kalimat karena lesapnya subjek, predikat, dan faktor ambiguitas. Hal ini berdampak terhadap keseluruhan isi teks eksplanasi. |
|
Kata kunci: konjungsi; teks eksplanasi; kohesi dan koherensi |
Pendahuluan
Pembelajaran bahasa indonesia memiliki asas dan tujuan untuk membentuk
empat keterampilan berbahasa terhadap peserta didik. Keempat keterampilan tersebut meliputi keterampilan menyimak, berbicara, membaca, dan menulis. Lebih lanjut dari keempat
keterampilan berbahasa,
salah satu keterampilan berbahasa yang cukup esensial adalah keterampilan menulis. Hal ini tidaklah berlebihan. Menulis menjadi tuntutan penting seiring perkembangan zaman. Hampir semua aspek
kehidupan seperti publikasi ilmiah, penyampaian gagasan, kritik, dan kualitas intelegensi seseorang seringkali dinilai dari keterampilan menulis.
Peserta didik
atau pelajar dibekali keterampilan menulis sebagai landasan dalam skill berbahasa (Dianastiti, 2015). Kemampuan menulis yang dimiliki diharapkan mampu digunakan untuk merefleksikan, menguraikan, menganalisis, fenomena yang ada dan menuangkan ide yang dimiliki. Hal ini sejalan dengan tuntutan kurikulum.� Seorang peserta didik dalam
kaitannya mewujudkan keterampilan menulis harus mempunyai dasar-dasar yang baik tentang menulis. Peserta didik harus
mempunyai kelengkapan informasi, teknik penyajian tulisan, teknik pengorganisasian teks, dan pemahaman tata bahasa yang baik. Unsur-unsur tersebut haruslah dimiliki sebagai landasan fundamental dalam keterampilan menulis.
Tata bahasa merupakan salah unsur elementer yang harus dimiliki setiap orang khususnya dalam hal ini
adalah peserta didik untuk menghasilkan
sebuah karya tulis yang ideal dan berkompeten (Suhono & Utama, 2017). Akan tetapi, pemahaman seputar tata bahasa kadangkala tidak ditanggapi dengan serius dalam
upaya penanaman dan pemantaban keterampilan serta budaya menulis.
Para pengajar seringkali hanya berkutat pada ranah pengorganisasian teks dan seringkali melupakan segi tata bahasa yang vital. Apabila ditinjau lebih spesifik, tata bahasa memiliki peranan untuk ikut membentuk
sebuah pengorganisasian
tulisan secara baik dan matang.
Penelitian-penelitian termuthakir yang dapat dijangkau menunjukkan� bahwa
ranah tata bahasa belum sepenuhnya dikelola dengan baik dalam proses pembelajaran bahasa khususnya keterampilan menulis. Hal ini terlihat dari penelitian
yang dilakukan oleh (Sako et al., 2017) menunjukkan bahwa tingkat kesalahan
berbahasa yang ditimbulkan
oleh struktur kalimat dan penguasaan ejaan masih mendominasi.
Studi ilmiah
yang dilakukan oleh (Nurwicaksono & Amelia, 2018)� juga menyatakan bahwa pemahaman ejaan mahasiswa masih belum baik
sehingga menghasilkan karya ilmiah yang kurang berkualitas. Adapun, riset yang dilakukan oleh� (Nurazizah, 2020) menunjukkan bahwa pemakian huruf kapital dan kata depan dalam tulisan narasi siswa sekolah
dasar juga masih banyak kekeliruan. Konklusi yang bisa diambil dari senarai
studi ilmiah tersebut adalah perlunya peningkatan pemahaman tentang tata bahasa untuk memperkukuh
kualitas karya tulis peserta didik.
Penelitian kali ini akan menganalisis
korelasi antara aspek tata bahasa dengan kualitas kohesi dan koherensi sebuah tulisan. Kohesi dimaknai sebagai hubungan antarstruktur dalam unsur-unsur tulisan. Koherensi dipahami sebagai hubungan aspek makna antar unsur dalam sebuah
tulisan. (Hanafiah, 2014).� Lebih lanjut, penelitian
kali ini menitik beratkan pada peranan konjungsi
atau kata hubung sebagai pembentuk kohesi dan koherensi sebuah karya tulis.
Konjungsi dimaknai sebagi kata hubung yang mempertautkan unsur-unsur dalam sebuah kalimat
dan antar kalimat. (Rahardi, 2010).� Dengan demikian, upaya riset ini
untuk mencari korelasi pemakaian konjungsi sebagai peranti tata bahasa dalam membentuk kohesi dan koherensi dalam sebuah tulisan. Selain itu, sebagai
eviden untuk menguatkan pemahaman ihwal peranan tata bahasa khususnya konjungsi amat vital dalam pengorganisasian yang baik sebuah karya
tulis.
Metode Penelitian
Objek penelitian yang digunakan adalah teks eksplanasi
siswa kelas XI IPA SMA Kolese Loyola. Sumber data penelitian meliputi 212 teks
eksplansi milik siswa. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif
kualitatif yang bertujuan untuk mengungkap masalah secara mendalam dan
menemukan penyelesaiannya. (Nirmalasari, 2014) Adapun, penentuan
sampel menggunakan metode purposive
sampling dan snowball sampling.
Sampel penelitian merupakan komparasi pemakaian konjungsi secara tepat dan
kurang tepat serta dampaknya terhadap telaah data menggunakan analisis dokumen
yaitu dengan menelaah dokumen khususnya teks ekplanasi siswa. Trianggulasi data
menggunakan trianggulasi teori untuk melihat keabsahan hasil penelitian.
Hasil
dan Pembahasan
Konjungsi
merupakan bagian dari tata bahasa yang cakupannya luas. Pakar bahasa seperti
(Kridalaksana, 1986),
(Sari et al., 2018),
(C3haer, 2010),
(Rahardi, 2010)
menyatakan peran konjungsi cukup beragam. Peranan konjungsi di antaranya untuk menyatakan hubungan sebab-akibat,
hubungan pertentangan, hubungan cara, hubungan tujuan, hubungan kelanjutan. Teks eksplanasi sebagai salah satu ragam teks
bahasa indonesia
memiliki hal kompleks dalam pemakaian konjungsi. Dikatakan kompleks sebab teks ekplanasi
menggunakan konjungsi yang cukup banyak, seperti
konjungsi sebab, akibat, kelanjutan, pertentangan (Salim et al., 2019).
Pemakaian konjungsi secara tepat dan efektif akan menghasilkan
teks eksplanasi yang terbaca dengan baik khususnya dari segi kohesi
dan koherensi.
Hasil penelitian yang dilakukan membuktikan secara implisit dan eksplisit menunjukkan kegagalan penggunaan konjungsi secara tepat dan akurat pada teks eksplanasi yang ditulis siswa menghasilkan aspek kohesi dan koherensi� yang tidak padu. Hal tersebut dapat dilihat dari
data yang dihimpun, dan telah
diseleksi pada tabel berikut ini.
|
No |
Kutipan |
Telaah kohesi dan kohereni |
|
|
E1 |
1. |
Karena masalah yang disampaikan sangat relevan |
Kohesi kalimat kurang padu subjek tidak hadir |
|
E 2 |
2. |
Untuk orang yang asal lewat jalan ini |
Kohesi dan koherensi kurang padu, subjek ambigu |
|
E 3 |
3. |
Menurut pengamatan saya kondisi ini tidak ideal |
Kohesi tidak terpenuhi karena hilangnya subjek |
|
E 4 |
4 |
Sedangkan antikritik adalah orang yang enggan menerima
kritikan |
Hilangnya subjek dan ambiguitas diakibatkan oleh tidak
adanya hal yang dipertentangakan dalam kalimat. |
|
E 5 |
5 |
Di zaman itu orang tidak berani mengkritik karena
kekuasaan pemerintah |
Konjungsi ganda mengakibatkan kohesi dan koherensi
terganggu. |
|
E 6 |
6 |
Yang terakhir pintar-pintarlah memilih teman |
Hilangnya unsur subjek dan predikat mengakibatkan
kohesi dan koherensi terganggu. |
|
E 7 |
7 |
Namun dengan catatan pemerintah harus menjamin
transportasi terpenuhi. |
Koherensi terganggu dengan hilangnya penanda batas
keterangan kalimat. |
|
E 8 |
8 |
Sehingga disarankan masyarakat ikut dalam pengembangan teknologi. |
Kohesi dan koherensi terganggu akibat hilangnya unsur
subjek dan predikat. |
|
E 9 |
9 |
Padahal mereka melakukan secara bersama |
Kohesi dan koherensi terganggu diakibatkan oleh faktor |
|
E 10 |
10 |
Tetapi masalah ini harus diperhatikan dengan seksama |
Kohesi dan koherensi tidak tercipta sebab unsur pokok
kalimat hilang. |
Kalimat dikatakan efektif apabila
di dalamnya memuat unsur kohesi dan koherensi meliputi unsur pokok kalimat,
unsur tanda baca yang tepat dan unsur kelogisan kalimat. (Mandia, 2017).
Tabel data di atas merupakan penujuk adanya kesalahan penggunaan konjungsi yang mengakibatkan hilangnya unsur kohesi dan koherensi kalimat. Hal ini tampak dari
data yang diuraikan. Kalimat
harus mempunyai unsur mutlak yaitu
subjek dan predikat. Subjek dalam komposisi
kalimat akan bias apabila subjek didahului oleh kata hubung. Kehadiran kata hubung sebelum subjek membuat subjek menjadi keterangan (Ramadana, 2011).
Mayoritas
data pada tabel
di atas menunjukkan lesapnya unsur subjek dan predikat. Ketidak hadiran subjek dan predikat menimbulkan adanya kerancuan unsur struktur. Kerancuan unsur struktur inilah yang mengakibatkan hilangnya kohesi dalam kalimat. Hilangnya kohesi dalam kalimat menyebabkan
hilangnya pula makna dalam kalimat, sebab kalimat menjadi
ambigu karena ketiadaan subjek dan predikat sebagai unsur pokok pembangun
kalimat.
Hasil pembahasan di atas menunjukkan adanya peranan krusial penggunaan konjungsi. Kekeliruan pemakaian tidak hanya mengakibatkan timbulnya kesalahan berbahasa semata. Sebaliknya juga berpengaruh terhadap struktur dan komposisi teks eksplanasi yang dibuat oleh siswa.� Hal berbeda bisa diamati
pada penggunaan konjungsi� secara
tepat dan efektif pada tabel data berikut ini.
|
Kode |
No |
Kutipan |
Kohesi dan
Koherensi |
|
F 1 |
1 |
Namun, saya rasa
teknologi tidak bisa mengalahkan interaksi secara langsung. |
Kohesi dan
koherensi terbaca dengan baik, subjek lengkap. |
|
F2 |
2 |
Dengan gadget,
interaksi tatap muka bisa diganti tanpa tatap muka |
Kohesi dan
koherensi terpenuhi secara struktur dan makna kalimat. |
|
F3 |
3 |
Bahkan, ada banyak yang
mengantre selama� empat jam |
Kohesi dan
koherensi kalimat invers terpenuhi. |
|
F4 |
4 |
Permasalahan ini
harus diatasi sehingga keamanan warga tidak terganggu |
Pemakaian kata
sehingga sangat tepat sehingga kohesi dan koherensi terpenuhi. |
|
F5 |
5 |
Sementara itu, kasus
respirasi mereka turun 32 % |
Penggunaan
konjungsi sudah tepat, sehingga dapat terbaca kohesi dan koherensinya dengan
baik. |
|
F 6 |
6 |
Jika kasus
cyberbullying terus terjadi, kita patut waspada |
Pemakaian konjungsi
tepat sehingga menghasilkan kohesi dan koherensi yang baik. |
|
F 7 |
7 |
Persoalan korupsi,
kolusi, dan nepotisme masih sering terjadi di negeri ini |
Pemakaian kata �dan
� sudah tepat. Kohesi dan koherensi terbaca dengan baik. |
|
F 8 |
8 |
Kemudian,
transparansi ini bisa dilakukan |
Pemakaian konjungsi
sudah tepat dan kohesi kalimat serta koherensinya terjaga dengan baik. |
|
F 9 |
9 |
Menurut Indeks Transparancy Korupsi, Denmark
menjadi negara dengan indeks persepsi korupsi yang rendah |
Pemakaian konjungsi
dan tanda baca sudah terbaca dengan baik. Kohesi dan koherensi terbaca dengan
baik. |
|
F 10 |
10 |
Disebabkan hal-hal
tersebut, masyarakat menjadi berpikir ulang |
Pemakaian
konjungsi, tanda baca, sudah tepat. Kohesi dan koherensi terbaca dengan baik.
|
Data pada tabel di atas merupakan komparasi dengan data sebelumnya ihwal pemakaian konjungsi secara tepat. Apabila
dicermati dengan baik, tampak kontradiksi
yang terjadi. Hal ini disebabkan oleh sejumlah faktor. Pertama, penggunaan konjungsi yang keliru mengakibatkan lesapnya subjek dan predikat dalam kalimat (Syarif et al., 2012).
Kasus-kasus yang terjadi, penggunaan konjungsi pada awal kalimat mengakibatkan
subjek berubah menjadi keterangan.
Perubahan
ini mengakibatkan kalimat yang tidak efektif atau hilangnya
kohesi dalam kalimat. Kedua, kesalahan penempatan tanda baca pada penulisan konjungsi mengakibatkan ambiguitas dalam kalimat sebab
unsur pokok kalimat seperti subjek dan predikat menjadi lesap. Ketiga, ketidakpaduan unsur kalimat dan makna kalimat mengakibatkan
kalimat tidak efektif dan berdampak pada kohesi dan koherensi kalimat. Bahkan, dampak kohesi dan koherensinya memengaruhi paragraf dan teks eksplanasi (Khaerunnisa & Azhari, 2018).
Kesimpulan
Sebagai penutup dapat disimpulkan
kesalahan pemakaian konjungsi tidak hanya berdampak pada kesalahan berbahasa sebuah teks eksplanasi.
Sebaliknya, kesalahan pemakaian konjungsi juga mengakibatkan kohesi dan koherensi dalam kalimat hingga teks eksplanasi dapat terganggu. Dengan demikian, pemahaman tentang tata bahasa khususnya konjungsi menjadi hal penting dalam
penulisan sebuah teks khususnya eksplanasi.���������
BIBLIOGRAFI
Chaer, A. (2010). Linguistik Umum. Bandung : Rineka
Cipta.
Dianastiti, F. E. (2015). Model Cinta sebagai Inovasi
Model Pembelajaran Bahasa Indonesia untuk Pengoptimalan Keterampilan Menulis
Siswa.
Hanafiah, W. (2014). Analisis kohesi dan koherensi pada
wacana buletin jumat. Epigram, 11(2).
Khaerunnisa, K., & Azhari, I. (2018). Pengaruh Model
Pembelajaran Kooperatif Tipe Picture And Picture Terhadap Keterampilan Menulis
Teks Eksplanasi Kompleks. Prosiding Seminar Nasional Pendidikan, 1(1).
Kridalaksana, H. (1986). Kelas kata dalam bahasa Indonesia.
Gramedia Pustaka Utama.
Mandia, I. N. (2017). Analisis Wacana Karya Tulis Praskripsi
Mahasiswa Jurusan Akuntansi Politeknik. Soshum: Jurnal Sosial Dan Humaniora,
5(3), 205.
Nirmalasari, N. (2014). Memahami Metodologi Penelitian
Kualitatif. Jurnal Wacana Ilmu Komunikasi.
Nurazizah, S. (2020). Analisis Kesalahan Berbahasa Pada
Teks Narasi Tulisan Siswa Kelas Iv Di Sekolah Dasar (Analisis Deskriptif Kualitatif
pada Siswa Kelas IV di SDN Pangulah Selatan II Kecamatan Kotabaru Kabupaten
Karawang Tahun Ajaran 2019-2020). Universitas Pendidikan Indonesia.
Nurwicaksono, B. D., & Amelia, D. (2018). Analisis
kesalahan berbahasa Indonesia pada teks ilmiah mahasiswa. AKSIS: Jurnal
Pendidikan Bahasa Dan Sastra Indonesia, 2(2), 138�153.
Rahardi, K. (2010). Bahasa Indonesia Untuk Perguruan
Tinggi Negeri. Jakarta : Erlangga.
Ramadana, E. S. A. (2011). Struktur Kalimat Pada
Keterangan Berdasarkan Prinsip 5W+ 1H.
Sako, Y., Roekhan, R., & Sunoto, S. (2017). Kesalahan
berbahasa tataran sintaksis pada penulisan pengalaman pribadi siswa kelas X
SMA. Jurnal Pendidikan: Teori, Penelitian, Dan Pengembangan, 2(11),
1527�1533.
Salim, A., Sumarwati, S., & St Y, S. (2019). Peningkatan
Motivasi dan Keterampilan Menulis Eksplanasi dengan Menggunakan Metode Peer
Teaching. MENDIDIK: Jurnal Kajian Pendidikan Dan Pengajaran, 5(1),
1�12.
Sari, D. P., Sumarti, S., & Samhati, S. (2018).
Penggunaan Konjungsi pada Makalah Mahasiswa Fakultas Kedokteran dan
Implikasinya pada Pembelajaran Bahasa. Jurnal Kata (Bahasa, Sastra, Dan
Pembelajarannya), 6(1, Apr).
Suhono, S., & Utama, F. (2017). Keteladanan Orang Tua dan
Guru dalam Pertumbuhan dan Perkembangan Anak Usia Dini. Elementary: Jurnal
Ilmiah Pendidikan Dasar, 3(2), 107�119.
Syarif, H., Rosa, R. N., & Irdh, C. V. (2012). Padanan
Dan Fungsi �And� Dalam Bahasa Indonesia.