Sri Prastiani/Jurnal Syntax Transformastion, Vol 1, No 2 April 2020

 

 

 

 

 
PENERAPAN PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE BANTUAN INDIVIDUAL DALAM KELOMPOK (TEAM ASSISTED INDIVIDUALIZATION) UNTUK MENINGKATKAN� HASIL� BELAJAR� GEOGRAFI� MATERI� PENGELOLAAN�� SUMBER DAYA� ALAM� INDONESIA

 

Sri Prastiani

SMA Negeri 9 Kota Cirebon

Email: [email protected]

info artikel ������������������������abstrak

Diterima 2 April 2020

Diterima dalam bentuk revisi 15 April 2020

Diterima dalam bentuk revisi 20 April 2020

 

Kata kunci:

Metode Bantuan Individual dalam Kelompok (Team Assisted Individualization), Hasil Belajar, Geografi.

 

Metode Bantuan Individual dalam Kelompok (BIDAK) atau (Team Assisted Individualization) adalah model pembelajaran yang mengkombinasikan keunggulan pembelajaran kooperatif dan pembelajaran individual yang memanfaatkan perbedaan kemampuan individu dengan belajar kelompok. Siswa yang diteliti sebanyak 22 siswa, sedangkan obyek penelitian kelas XI IPS-2� SMA Negeri 9 Kota Cirebon Tahun Pelajaran 2018/2019.� Metodologi Penelitian yang digunakan berupa Penelitian Tindakan Kelas (Classroom Action Research) yaitu penelitian yang dilakukan di kelas melalui suatu tindakan untuk meningkatkan hasil belajar. Dalam hal ini, hasil belajar mata pelajaran Geografi.� Hasil Penelitian: Hipotesis (H0) = Ditolak ; Hipotesis (H1) = diterima. �Terbukti, Penerapan Metode Bantuan Individual dalam Kelompok (Team Assisted Individualization) dapat meningkatkan Hasil Belajar Geografi materi Pengelolaan Sumber Daya Alam Indonesia di Kelas XI IPS-2 SMA Negeri 9 Kota Cirebon sebesar� 235 atau setara dengan Rasio = 85,80% dengan intepretasi sangat kuat dan sisanya 14,20% tidak diteliti�.

 



Pendahuluan

Peningkatan sumber daya manusia yang handal dapat diperoleh melalui pendidikan. Tenaga�� kerja�� yg�� berkualitas�� diperoleh�� dari�� pendidikan� �yang�� berkualitas.� Semakin�� tinggi�� kualitas�� pendidikan,�� semakin�� tinggi�� pula�� kualitas�� suatu�� bangsa (Artatie, 2018). Pendidikan memegang peranan strategis, sebagai salah satu wahana untuk menciptakan kualitas sumber daya manusia Indonesia yang handal. Oleh karena itu, pembangunan di sektor pendidikan menjadi prioritas utama untuk terus dikembangkan oleh pemerintah secara berkelanjutan.

Sejalan dari penjelasan di atas, salah satu indikator keberhasilan disektor pendidikan adalah pendidikan berkualitas. Pendidikan berkualitas dapat diukur dari perolehan nilai atau hasil belajar siswa yang tinggi. Dengan tolok ukur bahwa perolehan hasil belajar siswa lebih tinggi dari kriteria ketuntasan minimal. Dalam konteks ini, hasil belajar belajar yang dimaksud adalah hasil belajar mata pelajaran Geografi.

Perolehan hasil belajar Geografi dapat ditingkatkan menjadi lebih tinggi. Salah satu strategi yang dapat ditempuh adalah melalui sistem pembelajaran yang efektif dan efisien. Ditunjang dengan ketersediaan sarana dan prasarana pendukung yang memadai, kecakapan guru dalam pengelolaan kelas dan penguasaan materi. Termasuk dalam proses belajar mengajar, pembelajaran Geografi hendaknya lebih menarik agar siswa menjadi lebih mudah untuk memahami dan menguasai materi yang disampaikan guru.

Disisi lain, dalam proses belajar mengajar Geografi terkesan guru lebih dominan, sehingga siswa� berperan sebagai pendengar saja. Siswa belajarnya menjadi pasif dan tidak komunikatif atau tidak mau bertanya kepada guru. Dampaknya nilai yang diraih siswa kurang baik atau lebih kecil dari standar yang ditetapkan yaitu Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM). Inilah faktor pencetus muncul masalah dalam pembelajaran Geografi, sehingga perlu dicarikan solusinya melalui penelitian.

Diduga dengan model pembelajaran yang tepat, maka hasil belajar Geografi dapat meningkat. Upaya meningkatkan hasil belajar Geograf dengan cara: siswa belajar dengan membentuk kelompok yang beranggotakan terdiri dari 4 atau 5 siswa dalam satu kelompok.� Dengan tujuan untuk menggali

dan menemukan pokok masalah pada materi yang dipelajari. Dipecahkan atau dicarikan solusi secara bersama-sama dalam kelompok.

Dengan demikian, terjadi interaksi sesama siswa. Siswa akan merasa senang dalam belajar, sehingga� materi yang dipelajari akan cepat dikuasai, bahkan akan melekat dalam benak siswa, karena belajar dialami sendiri atau pengalamannya sendiri. Oleh sebab itu. Diduga dengan penerapan Metode Bantuan Individual dalam Kelompok (Team Assisted Individualization) dapat menjadi solusi untuk memecahkan masalah pembelajaran dalam kelompok sebagai salah satu upaya peningkatan hasil belajar.

Model pembelajaran kooperatif tipe Bantuan Individual dalam Kelompok (Team Assisted Individualization) merupakan pembelajaran kooperatif yang pada pelaksanaannya siswa dibagi ke dalam kelompok-kelompok kecil yang (Slavin, 2005) Salah satu point penting yang harus diperhatikan untuk membentuk kelompok yang heterogen di sini adalah kemampuan akademik siswa. Masing-masing kelompok dapat beranggotakan 4-5 orang siswa. Sesama anggota kelompok berbagi tanggung jawab (Lie, 2004).

Menurut� Mohamad Nur dan (Nur & Wikandari, 2000) model pembelajaran kooperatif tipe Bantuan Individual dalam Kelompok (Team Assisted Individualization atau Team Accele rated Instruction) merupakan strategi pembelajaran yang berpusat pada siswa (student centered). Pada model pembelajaran kooperatif ini, siswa biasanya belajar menggunakan Lembar Kerja Siswa (LKS)� secara berkelompok. Kemudian saling berdiskusi untuk menemukan atau memahami konsep-konsep. Setiap anggota kelompok dapat mengerjakan satu persoalan (soal) sebagai bentuk tanggungjawab bersama. Penerapan model pembelajaran kooperatif Team Assisted Individualization lebih menekankan pada penghargaan kelompok, pertanggungjawaban individu dan mem peroleh kesempatan yang sama untuk berbagi hasil bagi setiap anggota kelompok (Dimyati, 2006).

 

Metode Penelitian

Penelitian yang dilakukan berupa Penelitian Tindakan Kelas (Classroom Action Research) yaitu penelitian yang dilakukan di kelas melalui suatu tindakan untuk meningkatkan hasil belajar. Dalam hal ini, hasil belajar mata pelajaran Geografi.� Penelitian Tindakan Kelas dilakukan di Kelas XI IPS-2 SMA Negeri 9 Kota Cirebon, sedangkan jumlah siswa yang diteliti sebanyak 22 siswa.

Pendakatan penelitian yang digunakan dengan pendekatan kuantitatif, artinya penlitian ini dilakukan melalui pengumpulan data hasil penelitian berupa hasil tes dan nontes. Kemudian peneliti mengolah data dan memberi analisis deskriptif.

 

Hasil dan Pembahasan

A.  Penerapan Metode Bantuan Individual dalam Kelompok (Team Assisted Individualization) pada pembelajaran Geografi materi Pengelolaan Sumber Daya Alam Indonesia di Kelas XI IPS-2 SMA Negeri 9 Kota Cirebon

Pembelajaran Geografi Sebelum Perlakuan.� Pada saat guru mengajar, kecendrungan� guru menggunakan� metode konvensional yaitu metode ceramah. Kegiatan pembelajaran metode ceramah, pembelajaran lebih didominasi guru. Guru yang terlihat aktif, sedangkan siswa hanya sebagai pendengar. Bila guru tidak memberikan kesempatan bertanya kepada siswa, maka siswa diam saja. Dengan demikian, pembelajaran hanya satu arah, sehingga siswa terlihat pasif atau hanya sebagai pendengar saja. Siswa tidak dapat mengembangkan gagasan atau pemikiran berkaitan dengan pelajaran yang sedang dipelajari, sehingga kreatifitas siswa hilang begitu saja.

Secara klasikal, hasil belajar siswa rendah atau hasil belajar di bawah nilai kriteria ketuntasan minimal (KKM) = 65. Inilah salah satu permasalahan dalam kegiatan pembelajaran dan perlu adanya solusi. Salah satu solusinya adalah mengubah pola pembelajaran dengan menggunakan pendekatan metode pembelajaran yang diberi perlakuan (treatment).

Selanjutnya kegiatan pembelajaran dengan membagi siswa dalam 5 kelompok. Guru melakukan pembelajaran pada mata pelajaran Geografi materi� Pengelolaan� Sumber Daya� Alam Indonesia di kelas XI IPS-2� SMA Negeri 9 Kota Cirebon.

�����������

Pembelajaran Geografi dengan Perlakuan

Upaya guru untuk meningkatkan hasil belajar dengan cara yaitu metode pembelajaran diberi perlakuan. Selanjutnya metode pembelajaran yang digunakan adalah Penerapan Metode Bantuan Individual dalam Kelompok (Team Assisted Individualization).� Pembelajaran dengan diberi perlakuan, ternyata hasil belajarnya berbeda dengan pembelajaran konvensional/ceramah.

Terbukti pembelajaran dengan diberi perlakuan yaitu Penerapan Metode Bantuan Individual dalam Kelompok (Team Assisted Individualization) terjadi peningkatan hasil belajar Geografi materi Pengelolaan� Sumber Daya� Alam Indonesia sebagamana dijelaskan dalam tabel berikut:

Tabel 1

Rekapitulasi sebelum dan sesudah menggunakan perlakuan (treatment) dengan Penerapan Metode Bantuan Individual dalam Kelompok (Team Assisted Individualization).

Sumber: Hasil Pengolahan Data

 

Dari tabel di atas, sebelum adanya perlakuan (menggunakan metode ceramah): Pembelajaran Geografi materi Pengelolaan Sumber Daya Alam Indonesia memiliki nilai secara Klasikal (kelompok 1 sampai 5) berjumlah = 282 dengan rata-rata = 56,4.

Penerapan Metode Bantuan Individual dalam Kelompok (Team Assisted Individualization) yaitu pembelajaran setelah diberi perlakuan (treatment) sebagai berikut:

 

Siklus I.

Jumlah nilai secara Klasikal (kelompok 1 sampai 5) sebelum ada perlakuan = 282. Setelah diberi perlakuan nilai meningkat menjadi 312. Berarti terjadi peningkatan nilai = 30 dengan rata-rata = 62,4. Kemudian besar persentase� peningkatan atau rasio

= 282/312� x 100 = 90,38%� berada pada rentang 90% - 100% dengan intepretasi �sangat kuat�

 

Siklus II.

Jumlah nilai secara Klasikal (kelompok 1 sampai 5) pada siklus I =312. Setelah diberi perlakuan nilai meningkat menjadi 381. Berarti terjadi peningkatan sebesar 69 dengan rata-rata = 13,8. Kemudian besar persentase� peningkatan atau rasio = 312/381� x 100 = 81,89% berada pada rentang� 80%� -� 90%� dengan intepretasi �kuat�

 

B.  Hasil belajar Geografi materi Pengelolaan Sumber Daya Alam Indonesia dengan menerapkan Metode Bantuan Individual dalam Kelompok (Team Assisted Individualization) di Kelas XI IPS-2 SMA Negeri 9 Kota Cirebon.

Setelah dilakukan pengolahan data, dapat diketahui perolehan hasil belajar secara individual, nilai kelompok maupun nilai secara klasikal. Hasil belajar Geografi materi Pengelolaan Sumber Daya Alam Indonesia berasal dari hasil tes individual maupun kelompok.

Adapun hasil belajar dibuat rekapitulasi dan�� ditampilkan pada tabel di berikut ini:

Tabel 2

Perhitungan Hasil Belajar

Penjelasan tabel:

a.    Kelompok 1.

Hasil belajar :

Metode Ceramah (tanpa perlakuan).

Jumlah siswa dalam kelompok 1 = 4 orang. Nilai kelompok = 210 dan nilai rata-rata kelompok sebesar 53 dengan KKM = 65,

berarti� 53 < 65 berarti hasil belajar rendah,karena nilai rata-rata kelompok di bawah KKM.

Hasil belajar :

Penerapan Metode Bantuan Individual dalam Kelompok� (ada perlakuan).

Siklus I : ��� Perolehan nilai kelompok = 270, sedangkan rata-rata nilai kelompok = 68.

Siklus II:� Perolehan� nilai� kelompok� = 335, sedangkan rata-rata nilai kelompok = 84.

 

b.   Kelompok� 2

Hasil belajar :

Metode Ceramah (tanpa perlakuan).

Jumlah siswa dalam kelompok = 4 orang. Nilai kelompok = 240 dan nilai rata-rata kelompok sebesar� 60 dengan KKM = 65, berarti� 60 < 65 berarti hasil belajar rendah, karena nilai rata-rata kelompok di bawah KKM.

Hasil belajar :

Penerapan Metode Bantuan Individual dalam Kelompok� (ada perlakuan).

Siklus I� : Perolehan� nilai� kelompok� = 300,� sedangkan rata-rata nilai kelompok = 75

Siklus II : Perolehan� nilai� kelompok� = 340, sedangkan rata-rata nilai kelompok = 85

 

c.    Kelompok� 3.

Hasil belajar :

Metode Ceramah (tanpa perlakuan).

Jumlah siswa dalam kelompok = 4 orang. Nilai kelompok = 290 dan nilai rata-rata kelompok sebesar 58 dengan KKM = 65, berarti� 58 < 65 berarti hasil belajar rendah, karena nilai rata-rata kelompok di bawah KKM.

Hasil belajar :

Penerapan Metode Bantuan Individual dalam Kelompok� (ada perlakuan).

Siklus I� : Perolehan� nilai� kelompok� = 280, sedangkan rata-rata nilai kelompok = 70.

Siklus II : Perolehan� nilai k elompok� = 315, sedangkan rata-rata nilai kelompok = 79.

 

 

d.   Kelompok 4.

Hasil belajar :

Metode Ceramah (tanpa perlakuan).

Jumlah siswa dalam kelompok = 5 orang. Nilai kelompok = 290 dan Nilai rata-rata kelompok sebesar 58 dengan KKM = 65, berarti� 58 < 65 berarti hasil belajar rendah, karena nilai rata-rata kelompok di bawah KKM.

Hasil belajar : Penerapan Metode Bantuan Individual dalam Kelompok� (ada perlakuan).

Siklus I� : Perolehan� nilai� kelompok� = 280, sedangkan rata-rata nilai kelompok = 56.

Siklus II : Perolehan� nilai� kelompok� = 330, sedangkan rata-rata nilai kelompok = 66.

 

e.    Kelompok� 5.

Hasil belajar : Metode Ceramah (tanpa perlakuan).

Jumlah siswa dalam kelompok = 5 orang. Nilai kelompok = 280 dan nilai rata-rata kelompok sebesar 56 dengan KKM = 65, berarti 56 < 65 berarti hasil belajar rendah, karena nilai rata-rata kelompok di bawah KKM.

 

Hasil belajar : Penerapan Metode Bantuan Individual dalam Kelompok� (ada perlakuan).

Siklus I� : Perolehan� nilai� kelompok� = 290, sedangkan rata-rata nilai kelompok = 58.

Siklus II : Perolehan� nilai� kelompok� = 335, sedangkan rata-rata nilai kelompok = 67.

 

C.  Besarnya Metode Bantuan Individual dalam Kelompok (Team Assisted Individualization) dapat meningkatkan Hasil Belajar Geografi materi Pengelolaan Sumber Daya Alam Indonesia di Kelas XI IPS-2 SMA Negeri 9 Kota Cirebon.

Merujuk tabel perhitungan hasil belajar pada jawaban rumusan masalah 2, besarnya Metode Bantuan Individual dalam Kelompok (Team Assisted Individualization) dapat meningkatkan Hasil Belajar Geografi materi Pengelolaan Sumber Daya Alam Indonesia di Kelas XI IPS-2 SMA Negeri 9 Kota Cirebon sebagai berikut:

 

Perhitungan Hasil Belajar Klasikal (kelompok 1 sampai kelompok 5):

 

Hasil belajar :

Metode Ceramah (tanpa perlakuan).

Jumlah siswa (kelompok 1 sampai kelompok 5) = 22 orang. Nilai kelompok = 1.240 Nilai rata-rata kelompok sebesar 56,36� dengan KKM = 65, berarti 56,36 < 65 berarti hasil belajar rendah, karena nilai rata-rata kelompok di bawah KKM.

Hasil belajar :

Penerapan Metode Bantuan Individual dalam Kelompok� (ada perlakuan).

Siklus I� : Perolehan� nilai� kelompok� = 1.420, sedangkan rata-rata nilai kelompok = 64,55.

Siklus II : Perolehan� nilai� kelompok� = 1.655, sedangkan rata-rata nilai kelompok = 75,23.

Gambar 1

Peningkatan Hasil Belajar Klasikal

 

Besarnya peningkatan Hasil belajar yaitu:

Perolehan nilai kelompok =�� 235�

(Adanya Peningkatan dari 1.420 menjadi 1.655)

 

Rata-rata nilai kelompok = 10,68 (Adanya Peningkatan dari 64,55 menjadi 75,23)

 

Rasio (%) peningkatan Hasil belajar yaitu:

 

 

=� ���x� 100�� =

 

=�� ���x� 100

 

= 85,80%� Intepretasi = sangat kuat.

 

Kesimpulan

Setelah melakukan perhitungan dengan menjawab 3 rumusan masalah di atas, maka dapat disimpulkan bahwa: Hipotesis (H0) = Ditolak ; Hipotesis (H1) = diterima.

�Terbukti, Penerapan Metode Bantuan Individual dalam Kelompok (Team Assisted Individualization) dapat meningkatkan Hasil.

Belajar Geografi materi Pengelolaan Sumber Daya Alam Indonesia di Kelas XI IPS-2 SMA Negeri 9 Kota Cirebon secara klasikal sebesar 235 atau setara dengan Rasio = 85,80% dengan intepretasi sangat kuat dan sisanya 14,20% tidak diteliti�.

 

Bibliografi

 

Artatie, S. (2018). Pengaruh Sarana Pendidikan, Kompensasi Dan Motivasi Terhadap Kinerja Dosen. Syntax Literate; Jurnal Ilmiah Indonesia, 3(8), 82�95.

 

Dimyati, M. (2006). Belajar dan pembelajaran. Jakarta: Rineka Cipta.

 

Lie, A. (2004). Cooperative Learning, Mempraktekkan di Ruang Kelas. Jakarta: Penerbit PT. Grasindo.

 

Nur, M., & Wikandari, P. R. (2000). Pengajaran berpusat kepada siswa dan pendekatan konstruktivis dalam pengajaran. Surabaya: Pusat Studi Matematika Dan IPA Sekolah Universitas Negeri Surabaya.

 

Slavin, R. E. (2005). Cooperative learning teori, riset dan praktik. Bandung: Nusa Media, 236.


 

 

Copyright holder :

Sri Prastiani (2020).

 

First publication right :

Jurnal Syntax Transformation

 

This article is licensed under: