Sri
Suryana Dwi Atmaka /Jurnal Syntax Transformastion, Vol 1, No
2 April 2020
PENERAPAN PROJECT BASED LEARNING UNTUK MENINGKATKAN
KREATIVITAS DAN� PRESTASI BELAJAR SISWA
PADA MATERI PENGAPIAN ELEKTRONIK KELAS XI KETERAMPILAN DI MAN TEMANGGUNG
SEMESTER GENAP 2018/2019
Madrasah Aliyah Negeri Temanggung
Email: [email protected]
info artikel ������������������������abstrak
|
Diterima 2 April 2020 Diterima dalam bentuk revisi 15 April 2020 Diterima dalam bentuk revisi 20 April 2020 Kata kunci: Project Based Learning, kreativitas, prestasi belajar siswa. |
Penelitian tindakan kelas ini bertujuan untuk dapat meningkatkan prestasi
belajar siswa menggunakan model pembelajaran Project Based Learning di kelas
XI Program keterampilan pada materi pengapian elektronik, dan� membuat dua buah produk CDI yang dapat
diterapkan dalam pengapian� elektronik
pada sepeda motor, sehingga�
menumbuhkan kreativitas siswa.�
Penelitian ini dilakukan di MAN Temanggung, semester genap tahun 2018/2019
dengan 18 peserta didik. Ada 2�
siklus� tindakan dengan hasil
dapat meningkatkan kreativitas siswa pada siklus-1 sebesar 35.0 %, dan pada
siklus-2 sebesar 44.7 %. Peningkatam prestasi belajar pada siklus-1 sebesar
3.18 %, dan pada siklus-2 sebesar 5.25 %. |
Pendahuluan
Dalam
sistem pengapian elektronik tidak berdiri sendiri, tetapi didukung oleh banyak
perlengkapan yang lain seperti coil ignation, generator, spul pulser dan
charger, accumulator dan kunci kontak.�
Masing-masing peralatan memiliki fungsi yang berbeda-beda. Yang
kesemuanya harus dipahami oleh para siswa agar pemahaman tentang pengapian elektronik
ini menghasilkan sebuah pemahaman yang utuh.
Dari
jenis atau tipe CDI yang berkembang pada sepeda motor ada dua yaitu itu CDI
bermagnet spul dan CDI beraki. Sedangkan CDI yang bergenerator dibagi menjadi
CDI spul ganda dan spul tunggal. Sehingga di dalam menjelaskan� perbedaan konstruksi� dan juga perbedaan cara pemasangan� membutuhkan�
suatu strategi yang� bagus� dan penuh pertimbangan. Penjelasan ini tampak
bahwa untuk memahami CDI bukanlah suatu hal yang mudah.
Seperti
lazimnya cara�
pembelajaran yang lain pada sistem pengapian elektronik umumnya
masih terbatas pada pemberian yang bersifat teoritis.� Adapun skema atau gambar yang dipergunakan
untuk menjelaskan prinsip kerja dari pengapian CDI ini masih bersifat sketsa
atau bagan yang belum nyata. Sehingga sulit untuk memberikan penjelasan yang
lebih konkret terhadap konsep-konsep pengapian ini kepada para siswa.
Keterbatasan model skema atau gambar rangkaian belum begitu mencukupi untuk
membangun gambaran yang jelas pada pikiran siswa. Hal inilah yang menyebabkan
daya pikir kreatif siswa belum muncul atau terbilang masih rendah.
Ketika
sedang praktik paling-paling terbatas pada pemahaman warna kabel dan
jaringannya, ataupun sekedar menunjukkan wujud dari komponen yang sudah jadi.�� Cara pembelajaran yang seperti ini perlu
dilakukan inovasi pembelajaran dari yang sekedar belajar secara imajinasi
menuju ke pembelajaran yang nyata.
Project
Based Learning merupakan sebuah pilihan dari model pembelajaran yang dipandang
cukup inovatif guna merubah kreativitas� para siswa mewujudkan� suatu karya atau proyek� yang harus dibuat oleh para siswa sehingga
menjadi bentuk yang nyata dan berguna.
Dalam
model pembelajaran Project Based Learning ini meskipun menitikberatkan pada
hasil atau karya berupa proyek barang,� namun tentunya masih diperlukan
penanaman konsep dan prinsip-prinsip yang mendasar mengenai berbagai prinsip
kerja komponen logika berpikir dan lainnya. Hal ini agar mendukung karya atau
proyek yang dihasilkan benar-benar memenuhi klasifikasi standar. Dengan memberikan
variasi pembelajaran diharapkan Project Based Learning ini menambah kreativitas
dan� pemahaman
belajar siswa.
Penelitian
ini bertujuan untuk�
mendeskripsikan upaya meningkatkan prestasi belajar siswa
menggunakan model pembelajaran Project Based Learning di kelas XI Program
keterampilan pada materi pengapian elektronik. Tujuan yang kedua adalah
mendeskripsikan cara membuat dua buah produk CDI yang dapat diterapkan dalam� pengapian� elektronik pada sepeda motor, sehingga� menumbuhkan kreativitas siswa.
Menurut
(Muchta, 2017) dilihat dari cara sistem
kerja pengapian ini� dibedakan menjadi
beberapa jenis yaitu:
1. Sistem pengapian konvensional.
2. Sistem pengapian konvensional, bekerja secara mekanis dengan memanfaatkan kontak platina untujk memutuskan arus listrik.
3. Sistem pengapian transistor.
4. Sistem pengapian transistor, bekerja secara elektronika dengan menggunakan transistor untuk memutuskan arus primer.
5. Sistem pengapoan CDI.
6. Sistem pengapian CDI (Capasitor Discharger Ignation) , memanfaatkan capasitor untuk memutuskan arus primer. Sistem ini lebih popular pada sepeda motor.
7. Sistem pengapian DLI.
8.
Sistem pengapian DLI
(Distributor Less Ignation), hamper sama dengan pengapian transistor
, namun system ini tidak dilengkap distributor karena mengusung coil
pack. Sistem ini banyak diaplikasikan pada kendaraaan modern.
Dewasa ini pada sepeda motor selain masih ada yang
mempergunakan platina, dalam perkembangannya sudah banyak yang beralih ke
system CDI. Berdasarkan jenisnya, CDI dibagi menjadi 2 yaitu CDI AC dan CDI DC.
CDI AC digerakkan langsung oleh generator magnet.� Ada yang mempunyai 2 sepul yaitu sepul
charger dan sepul pulse, namun ada pula yang tanpa pulser. Sedangkan pada CDI
DC, tipe ini menggunakan accumulator dan pulser.
Prinsip kerja dari CDI adalah pengosongan muatan listrik
pada capasitor. Komponen� utama penyusun
CDI terdiri dari SCR, diode, dan capasitor. Terkadang didukung oleh komponen
tambahan seperti resistor dan IC.� Sepul
charger mengeluarkan tegangan AC dan disearahkan� oleh diode, selanjutnya akan mengisi muatan
listrik pada capasitor.� Pada saat kaki
gate pada SCR belum �mendapat tegangan
positip maka posisi Anoda dan katoda pada SCR bagaikan sakelar yang masih
membuka, sehingga muatan listrik masih tersimpan di capasitor. Tetapi jika
sepul pulset bekerja mengeluarkan denyut arus, maka denyut positip tersebut akan
menyulut atau mentriter kaki gate pada SCR. Akibatnya Anoda dan katoda ada SCR
akan menutup. Maka akan terjadilah proses pengosongan muatan listrik pada pada
capasitor. Bersaamaan dengan itu , terjadilah perubahan induksi magnet di coil,
akibatnyta munculah bunga api di busi.
Salah satu contoh model penyelesaian masalah adalah model
yang dikembangkan oleh (Stein, 1998) yaitu IDEAL problem solving. Model pemecahan masalah ini memiliki
langkah-langkah� tertentu yaitu
(mengidentifikasi masalah (Identify the problem), (2) mendefinisikan tujuan
(Define the Goal ), (3) menggali solusi (Explore solution), (4) melaksanakan
strategi (Act strategy), (5) mengkaji kembali dan mengevaluasi dampak dari
pengaruh (Look back and Evaluate the effect) (Stein, 1998)
Project Based Learning (PBL) adalah sebuah model atau
pendekatan pembelajaran yang inovatif, yang menekankan belajar kontekstual
melalui kegiatan-kegiatan yang kompleks. PBL merupakan bagian dari proses
pembelajaran yang memberikan penekanan kuat pada pemecahan masalah sebagai
suatu usaha kolaboratif (Richmond & Striley, 1996). Fokus pembelajaran terletak pada konsep-konsep dan prinsip-prinsip inti
dari suatu disiplin studi, melibatkan pebelajar dalam investigasi pemecahan
masalah dan kegiatan tugas-tugas bermakna yang lain, memberi kesempatan
pebelajar bekerja secara otonom mengkonstruk pengetahuan mereka sendiri, dan
mencapai puncaknya menghasilkan produk nyata (Thomas, 2000)
Menurut (Riadi, 2017)� Pengertian model pembelajaran
Project Based Learning (PBL) adalah model pembelajaran yang menggunakan proyek
sebagai inti pembelajaran. Model pembelajaran ini merupakan model pembelajaran
inovatif yang melibatkan kerja proyek dimana peserta didik bekerja secara
mandiri� dalam mengkonstruksi
pembelajarannya dan dan mengkulminasikannya dalam produk nyata (Subana, 2009).
Menurut (Mukhan, 2014) langkah-langkah model pembelajaran�
berbasis proyek adalah (1) menentukan pertanyaan dasar, (2) membuat
desain produk, (3) menyususn penjadwalan, (4) memonitor kemajuan proyek, (5)
penilaian hasil, (6) evaluasi pengalaman.
Guru bertugas sebagai pendidik (education) agar peserta
didiknya� benar-benar menjadi orang yang
bertaqwa kepada Allah Swt. Oleh sebab itu,�
guru harus menjhadi figure teladan bagi peseta didiknya.� Guru merupakan contohj (uswah)� figure yang baik yang patut untuk kita tiru
dan kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari (Zahroh, 2015) Dari sini tentunya dalam pembuatan proyek yang akan dikerjakan oleh para
siswa, guru terlebih dahulu telah menguasai dan memahami atau bahkan guru
pernah membuat. Hal ini untuk menekan kebingungan yang mungkin akan timbul
dalam proses pembelajaran tersebut.
Dalam bukunya, Sokidin dkk memberikan petikan bahwa ,
mutu pendidikan dapat terwujud , jika KBM dapat berjalan secara efektif yang
artinya proses belajar dapat berjalan lancar, terarah dan sesuai dengan tujuan
pembelajaran.
Jadi jelaslah, untuk�
memperoleh pembelajaran yang efektif dan bermutu,� perlulah para siswa diajak untuk terlibat
dalam sesutu yang nyata atau konkrit. Keterlibatan peran siswa dalam berkreasi
merupakan bentuk usaha guru dalam menampung gaya dan aksi belajar siswa.
Siswa� diberi kesempatan untuk menuangkan
daya pikir langsung dan gerak tangan sebagai wujud menuangkan gagasan dalam
karya yang lebih nyata.
Dalam kehidupan ini kreativitas sangat penting, karena
kreativitas merupakan suatu kemampuan yang sangat berarti dalam proses
kehidupan manusia (Paoji, 2017). Kreativitas merupakan suatu aktivitas kognitif yang menghasilkan suatu
pandangan yang baru mengenai suatu bentuk permasalahan dan tidak dibatasi pada
hasil yang selalu dipandang menurut kegunaannya. Proses kreatif bukan hanya
sebatas menghasilkan sesuatu yang bermanfaat saja (Rufaida, 2018).
Terdapat 6 aspek dalam kreativitas menurut Torrance.
Secara sederhana dan singkat dapat disampaikan sebagai berikut, (1) memiliki
rasa ingin tahu yang besar, (2) tidak mudah bosan, (3) percaya diri dan
mandiri, (4) tertantang oleh kemajemukan, (6) berani mengambil risiko, dan (6)
berpikir divergen.
Dari situ� nampak
bahwa dalam memberikan penilaian terhadap kreativitas siswa disajikan bukan
dalam bentuk tes, melainkan berupa� hasil
sikap yang mengindikasikan suatu proses yang mengarah pada suatu hasil atau
produk karya.� Siswa yang kreatif akan
memiliki rasa ingin tahu yang besar, penasaran, dan ingin mencoba.� Siswa yang kreatif selau menekuni
kegiatannya� secara asyik.� Ia tetap�
memiliki kemandirian, meski di lingkungan yang serba berbeda. Bahkan
tidak segan ia rela untuk mengembangkan ilmu yang didapatkannya untuk
mencobanya dan tidak takut resiko. Sehingga tentunya akan menambah wawasan
dalam pikirannya semakin terbuka.
Untuk melakukan penilaian kreativitas. memurut
Guilford� dalam (Dedi, 1994) terdapat 5 sifat atau aspek yang menjadi sifat dan spesifikasi berpikir
kreatif yaitu :
1. Kelancaran (fluency), adalah kemampuam untuk menghasilkan banyak gagasan� .
2. Keluwesan (flexibility), adalah kemampuan untuk� mengemukakan bermacam-macam pemecahan atau pendekatan terhadap masalah.
3. Orisinalitas (originality), adalah kemampuan untuk mencetuskan gagasan� dengan cara-cara yang asli tidak klise.
4. Elaborasi (elaboration), adalah kemampuam untuk� menguraikan sesuatu secara terinci.
5.
Redefinisi (redefinition), adalah kemampuan untuk
meninjau suatu persoalan berdasarkan perspektif yang berbeda dengan apa yang
sudah diketahui� oleh banyak orang.
Metode Penelitian
Sebagai
sebuah tindakan yang ilmiah dan harus dipertanggungjawabkan maka kegiatan
penelitian ini harus melalui tahap perencanaan, pelaksanaan, evaluasi dan
pelaporan.� Di dalam kegiatan perencanaan
terlebih dahulu peneliti membuat berbagai instrumen yang diperlukan,� diantaranya membuat rencana program
pembelajaran (RPP),� kisi-kisi soal, dan
lembar soal� ulangan harian.
Pembuatan
RPP tersebut dimaksud agar penelitian ini tetap mengacu pada materi atau
kompetensi dasar yang telah digariskan pada standar inti kurikulum.� dengan demikian dapat berjalan sinkron antara
pelaksanaan penelitian tindakan kelas ini dengan penyajian materi pembelajaran
di kelas pada semester ini.� RPP yang
dibuat beserta instrumennya adalah mencakup pratindakan siklus tindakan pertama
dan siklus tindakan kedua.
Selanjutnya
sesuai dengan waktu yang direncanakan,� maka dilakukanlah kegiatan penelitian
ini dengan menggunakan model pembelajaran Project Based Learning pada tindakan
pertama.� Adapun materi atau KD yang
disajikan pada siklus tindakan pertama ini adalah berfokus pada pembuatan proyek� berupa� CDI�
sepul tunggal.� yang kemudian
hasil dari rancangan dan proyek jadi tersebut diaplikasikan pada sepeda motor dengan
sistem pengapian CDI spul tunggal yang sesuai. Dalam kegiatan siklus pertama
tersebut kreativitas�
siswa dalam belajar dipantau dan dicatat dalam lembar observasi.
Apabila telah selesai kegiatan pembuatan proyek� tersebut maka diadakan ulangan harian
siklus.� Baik hasil observasi kreativitas
maupun hasil ulangan harian pada siklus pertama tersebut selanjutnya dianalisis
dan direfleksikan�
Apakah terdapat peningkatan atau penurunan baik kreativitas� maupun hasil belajarnya.
Penelitian
tindakan kelas ini�� mengambil lokasi
penelitian di Madrasah Aliyah Negeri Temanggung yang berlokasi di Jalan
Jenderal Sudirman nomor 184 , desa Kowangan, Kecamatan
Temanggung,� Kabupaten Temanggung,
provinsi Jawa Tengah. Adapun waktu penelitian tindakan kelas ini mengambil pada
semester genap tahun pelajaran 2018/2019, dengan mengambil jadwal yang berlaku
dan pada hari hari efektif pembelajaran.
Subjek
penelitian tindakan kelas kali ini adalah para peserta didik kelas XI Program
Keterampilan PPSM. Adapun PPSM� merupakan singkatan dari Perawatan dan
Perbaikan� Sepeda Motor.� Para peserta didik yang diteliti pada kelas
XI ini merupakan kelas keterampilan yang proses belajarnya ada di bengkel
khusus.
Data
dalam pada penelitian tindakan kelas ini terdiri dari dua� yaitu data kualitatif dan data
kuantitatif.� Data kualitatif merupakan
data penelitian mutu suatu kegiatan yang dipakai untuk mengukur tingkat kreativitas� belajar
para siswa.� Sedangkan data kuantitatif
merupakan data yang berupa angka-angka numerik� yang dipakai dalam� perhitungan dari pemerolehan hasil/prestasi
belajar siswa.
Data
kualitatif diambil dengan cara mengamati atau observasi semua kegiatan siswa
yang mencakup kreativitas�
belajarnya. Kegiatan para siswa dicatat dalam lembar
observasi.� Sedangkan data� yang diperoleh dari hasil ulangan
harian akan dijadikan sebagai data kuantitatif dan sifatnya dapat dianalisis
baik rata-ratanya� maupun analisa yang
lain.
Data
tersebut diambil dari tiga kegiatan pembelajaran yaitu data kondisi awal
sebelum tindakan, data tindakan siklus� pertama,� dan data siklus tindakan kedua. Tolok ukur
atau acuan dari analisis data adalah data kondisi� awal atau� sebelum tindakan.� Hasil dari tindakan pertama dibandingkan atau
direfleksikan terhadap data sebelum tindakan.�
Demikian pula data pada tindakan siklus kedua dibandingkan atau
direfleksikan terhadap data sebelum tindakan.��
Dengan cara seperti itu nantinya dapat diperoleh adanya peningkatan atau
penurunan atau pengaruh tindakan pembelajaran tersebut.
Selain
dihitung ataupun dikomparasikan hasil tindakan satu dengan tindakan sebelumnya
yang berupa angka-angka numerik,� selanjutnya untuk mempermudah di dalam
mengamati secara langsung akan disajikan juga dalam bentuk grafik, baik grafik
yang menjelaskan tentang kreativitas�
belajar siswa maupun grafik tentang hasil belajar siswa.
Untuk
menganalisa data ada perbedaan antara data prestsi belajar dan data kreativitas
belajar. Hal ini dikarenakan pada prestasi belajarnya� dapat diperoleh melalui hasil ulangan
harian yang secara jelas merupakan angka-abngka atau bersifat kuantitatif. Di
sini berupa nilai-nilai berordo puluhan. Siswa dikatakan tuntas dalam belajar
jika mendapat nilai sekurang-kurangnya 75. Data ini dapat dengan mudah dicari
rata-rata hasil nilainya.
Sedangkan
untuk mengolah data kreativitas belajar, peneliti harus
mengacu pada bebrapa aspek yang terkait dengan kreativitas berpikir siswa.� Mengacu pada yang telah� dimodifikasi bahwa pada aspek
penilaian kreativitas berpikir dapat diberikan 4 aspek skor, yaitu 0, 1, 2,
dan� 3. �Jadi kegiatan siswa harus diobservasi lebih
lanjut pada saat proses kegiatan belajar mengajar.� Terdapat 5 aspek kreativitas/berpikir
kreatif, yang selanjutnya dapat diolah lebih lanjut untuk mengengetahui derajat� kreativitas
termasuk rendah, cukup, tinggi atau sangat tinggi.
Kriteria kemampuan belajar kreatif adalah sebagai berikut; Interval 86-100 termasuk kreteria sangat tinggi; Interval 76-85 kretria tinggi; Interval 60-75 kreteria sedang; Interval 55-59 kreteria rendah; Interval 0-54 berkreteria sangat rendah.
Hasil dan Pembahasan
Pada kondisi awal ini, guru
dalam pembelajarannya masih menggunakan model yang sangat sederhana� atau terbilang masih konvensional. Seperti biasanya setelah
masuk dalam kelas guru mengucapkan salam, berdoa,� dan menyampaikan tujuan pembelajaran
serta menanyakan kabar, dan menyampaikan tujuan pembelajaran. Para siswa dalam
hal ini ketika pelajaran teori mereka duduk seperti pada kelas umumnya. Guru
membagikan modul pembelajaran serta membimbing siswa dalam mempelajari modul tersebut.� Dalam hal ini belum dibentuk kelompok
belajar.� Guru juga memberikan penjelasan
secara tertulis di papan tulis.� Setelah
itu para siswa diajak masuk ke dalam ruangan bengkel untuk melakukan pengamatan
seperlunya.� Adapun materi atau KD dalam
kondisi awal ini adalah pengertian prinsip dasar pengapian elektronik� dengan kelanjutan melihat perkabelan
dan bentuk fisik dari komponen pendukung pengapian elektronik atau CDI
tersebut.
Pada kondisi awal
dari 18 peserta didik�
yang mengikuti kegiatan belajar mengajar pada kondisi awal atau
sebelum ada tindakan. Tampak bahwa terdapat 4 aspek yang mencerminkan nilai/skor� kreativitas
yaitu kelancaran secara rata-rata memperoleh 42.59 % (kreteria sangat rendah),
aspek keluwesan 50.00 % (kreteria sangat rendah), aspek keaslian memperoleh
31.48 (kreteria sangat rendah ), dan aspek elaborasi 55.56 % (kreteria rendah).
Jika dirata-rata keempat aspek tersebut dapat dikatakan bahwa pada pembelajaran
kondisi awal aspek kreativitasnya masih sangat rendah.
Pada tahap awal
dari 18 peserta didik yang mengikuti ulangan harian perolehan nilai tersebut
didapat rata-rata sebesar 75.11. Memang sepintas lalu nilai ini cukup
memuaskan. Akan tetapi jika dicermati lebih jauh ternyata masih ada beberapa
siswa yang memperoleh nilai di bawah 75.00. yaitu sejumlah 7 anak (38.9%).
Dengan kata lain yang meperoleh nilai 75 atau lebih sejumlah 11 siswa (61.1%)
sehingga yang tuntas belum mencapai 80%.
Pada siklus I
berhubung keterbatasan kesediaan peralatan dan media praktik,� maka terlebih dahulu para siswa
dibentuk kelompok belajar yang terdiri atas empat sampai lima siswa.� masing-masing kelompok bertanggung jawab atas
proyek kerja. Selanjutnya dilakukan kegiatan pembelajaran sesuai dengan sintaks
dari model pembelajaran Project Based Learning yang meliputi� memberikan pertanyaan yang mendasar
atau esensial; mendesain rancangan proyek; penyusunan jadwal; dan memonitoring
atau mengawasi kerja kelompok siswa dalam pembuatan proyek.
Siklus-1 ini
terlihat bahwa skor dari aspek kreativitas mulai berubah. Pada aspek kelancaran
memperoleh persentase sebesar�
61.11% (dengan kreteria sedang), aspek keluwesan memperoleh
62.96% (kreteria sedang), aspek keaslian sebesar 55.56% (kreteria rendah), dan
aspek elaborasi� sebesar 66.67% (kreteria
sedang). Jika keempat skor tersebut dirata-rata, maka diperoleh 61.57%
(kreteria sedang). Dari 18 peserta didik yang mengikuti ulangan harian� siklus-1� memperoleh rata-rata sebesar 77.50.� Bila dicermati� ternyata semua siswa tuntas
belajarnya. Ini cukup memuaskan.
Pada tindakan siklus
kedua, model pembelajaran yang dipergunakan masih menerapkan� Project Based Learning.� sedangkan materi atau KD yang diterapkan
merupakan materi kelanjutan yang masih terkait dengan pengapian elektronik pada
sepeda motor.� Tetapi proyek� yang dibuat oleh kelompok siswa adalah
membuat CDI model spul ganda. Sintak atau langkah-langkah pembelajaran yang
dilakukan pada penelitian tindakan kelas siklus kedua ini serupa dengan sintaks
pada tindakan siklus pertama.
Pada tindakan
siklus ke-2� diikuti
oleh 18 peserta didik. Pada siklus ini nilai persentase dari aspek
kelancarannya sebesar 68.52% (kreteria sedang, aspek keluwesan 68.52% (kreteria
sedang), aspek keaslian 61.11% (kreteria sedang), dan aspek elaborasi 77.78%
Ikreteria tinggi). Jika keempat aspek tersebut dirata-rata ternyata memperoleh
68.98% yang masih berkreteria sedang dan semuanya� masuk katagori tuntas belajar.
Sedangkan rata-rata perolehan nilainya sebesar 79.00.� Rata-rata ini lebih tinggi jika dibandingkan
dengan kondisi awal maupun siklus ke-1.
Adapun kreativitas
antara pra siklus, siklus I, dan siklus II ditabulasikan sebagai berikut:
Tabel 1
Perbandingan Kreativitas Antar Siklus
|
Aspek |
Pra
Siklus |
Siklus 1 |
Siklus 2 |
|
Kelancaran |
42.59 |
59.26 |
66.11 |
|
Keluwesan |
50 |
62.96 |
62.96 |
|
Keaslian |
31.48 |
53.7 |
55.56 |
|
Elaborasi |
55.06 |
66.67 |
66.67 |
|
Rerata |
44.91 |
60.65 |
61.57 |
Untuk mengetahui kenaikam persentasenya, bisa dipergunakan persamaan
berikut ini :
Persentase
siklus-1 terhadap kondisi awal
Kre 1-0 = {(kre 1 � kre 0) / kre 0 ) * 100} %
Dimana� Kre 1-1 adalah perbandingan
kreativitas siklus-1 terhahap kondisi awal,�
kre 1 adalah skor kreativitas siklus 01, dan kre 0 adalah skor
krativitas kondisi awal. Misalnya, berapa persen kenaikan aspek kelancaran
siklus-1 dibanding kondisi awal?. Kita lihat, bahwa aspek kelancaran pada
siklus -1 = 59.26 dan pada kondisi awal =�
42.59.� Selanjutmya kita masukkan
angka-angka tersebut seperti persamaan di atas yaitu:
Kelancaran 1-0 = {(59.26-42.59)/42.59)* 100} %
= 39.1%
Jadi� dapat diketahui bahwa terjadi kenaikan
pada aspek keluwsan siklus-1 dibanding kondisi awal terjadi peningkatan
sebesar� 39.1%.
Dengan cara dan analogi serupa
maka�� dapat dikatakan kenanaikan aspek
kreativitas� siklus -1 dibanding kondisi
awal adalah sebagai berikut:
Untuk
mengetahui kenaikam persentase siklus-2 , bisa dipergunakan persamaan berikut
ini :
Persentase Siklus-2 terhadadap kondisi
awal
Kre 2-0 = {(kre 2 � kre 0) / kre 0 ) * 100} %
Misalnya, berapa persen kenaikan aspek nkelancaran siklus-2 dibanding
kondisi awal?. Kita lihat, bahwa aspek kelancaran pada siklus -2 = 66.11 dan
pada kondisi awal =� 42.59.� Selanjutmya kita masukkan angka-angka tersebut
seperti persamaan di� atas yaitu,
Kelancaran 2-0 = {(66.11-42.59)/42.59)* 100} %
= 55.2%
Jadi�
dapat diketahui bahwa terjadi kenaikan pada aspek keluwsan siklus-2
dibanding kondisi awal terjadi peningkatan sebesar� 55.2%.
Dengan cara dan analogi serupa maka�� dapat dikatakan kenanaikan aspek
kreativitas� siklus -2 dibanding kondisi
awal adalah sebagai berikut :
Gambar 1
Grafik kenaikan kreativitas

Gambar tersebut
merupakan grafik yang menyatakan� tinggi nrendahnya skor atau nilai
kreativitas belajar yang bisa dilihat dari masing masing tahapan pembelajaran.
Terlihat bahwa kreativitas belajar siswa sekin meningkat dari tindakan siklus-1
ke siklus-2.� Aspek kelancaran meningkat,
aspek keluwesan meningkat, aspek keaslian meningkat, demikian pula aspek
elaborasipun juga meningkat. Dengan demikian dapat diungkapkan bahwa, penerapan
model pembelajaran Project Based Learng pada
tindakan siklus-1 dan siklus-2 dapat memberikan peningkatan kreativitas belajar
dibanding sebelum ada tindakan.
Adapun data
prestasi belajar siswa dapat disajikan dalam tabel di bawah ini:
Tabel 2
Perbandingan Nilai Antar Siklus
|
Nilai |
Pra
Siklus |
Siklus 1 |
Siklus 2 |
|
Rata-rata |
75.11 |
77.5 |
79.06 |
|
Persentase |
0 |
3.18 |
5.25 |
Pada tabel
tersebut menyajikan rata-rata nilai ulangan harian yang mencerminkan hasil atau
prestasi belajar siswa. Nampak pada
kondisi awal diperoleh rata-rata sebesar 75.11, pada tiklus-2 memperoleh nilai
rata-rata sebesar 77.5, dan pada tindakan siklus-2 memperoleh rata-rata nilai
79.06.
Untuk mengetahui
persentase kenaikannya , bisa dibandingkan antara
nilai siklus-1� dengan kondisi awal. Ternyata
diperoleh kenaikan sebesar 3.18%.�
Sedangkan unntuk mengetahui kenaikan siklus-2, bisa kita bandingkan
nilai rata-rata di siklus-2 terhadap nilai rata-rata kondisi awal, dan ternyata
diperoleh kenaikan sebesar 5.25%.
Gambar 2
Grafik rata-rata nilai ulangan harian

.
Gambar di atas menunjukkan grafik pemerolehan nilai rata-rata ulangan semua tahap pembelajaran. Terlihat bahwa nilai
rata-rata ulangan siklus-2 semakin meningkat dibandingkan pada kondisi awal.
Demikian pula pada siklus tindakan ke-2 terjadi peningkatan nilai rata-rata
ulangan hariannya.� Sehingga dapat
dikatakan bahwa model pembelajaran �Project Based
Learning� pada siklus-1 dan siklus-2 dapat meningkatkan hasil atau prestasi belajar siswa pada
materi Pengapian Elektronik.
Kesimpulan
Penerapan
model pembelajaran�
Project Based Learning��
mampu meningkatkan kreativitas dan prestasi belajar siswa menjadi lebih
positip pada materi Pengapian Elektronik kelas XI Program Keterampilan. Dengan
model pembelajaran Project Based Learning, para siswa dapat membuat produk atau
karya yang lebih nyata. Pada aspek kreativitas, siklus-1 terjadi peningkatan
sebesat 35.0 % dibanding kondisi awal. Pada aspek kreativitas, siklus-2 terjadi
peningkatan sebesar 44.7 % disbanding kondisi awal. Pada prestasi belajar,� siklus-1 meningkat� sebesar 3.18 % disbanding kondisi awal. Pada
prestasi belajar, siklus-2 meningkat sebesar 5.25 % disbanding kondisi awal.
Bibliografi
Dedi, S. (1994). Kreativitas, kebudayaan,
dan Perkembangan Iptek. Bandung: Alfa Beta.
Muchta, A. (2017). Sistem Pengapian
Elektronik(Komponen + Diagram + Cara Kerja). https://www.autoexpose/com
Mukhan, S. (2014). Penelitian Tindakan
Kelas (PTK) dan Model Pembelajaran untuk Guru dan Mahasiswa Calon Guru.
penelitiantindakankelas.blogspot.com.
Paoji, A. M. (2017). Korelasi Keterampilan
Dasar Mengajar Guru Dengan Kreativitas Siswa Di Ma Maarif Putra Jawa Kecamatan
Selawi Kabupaten Garut. Syntax Literate; Jurnal Ilmiah Indonesia, 2(5),
1�8.
Riadi, M. (2017). Model Pembelajaran Berbasis
Proyek (Project Based Learning Model) pada Pembelajaran Fisika Disma.
http://www.eurekapendidikan.com.
Richmond, G., & Striley, J. (1996).
Making meaning in classrooms: Social processes in small‐group
discourse and scientific knowledge building. Journal of Research in Science
Teaching: The Official Journal of the National Association for Research in
Science Teaching, 33(8), 839�858.
Rufaida, A. (2018). Proses Kreatifitas.
www.kompasiana.com
Stein, B. S. (1998). The IDEAL problem
solver: A guide for improving thinking, learning, and creativity. WH
Freeman.
Subana, H. N. dan C. (2009). Konsep
Strategi Pembelajaran. PT Refika Adiutama.
Thomas, J. W. (2000). A review of
research on project-based learning.
Zahroh, A. (2015). Membangun Kualitas
Pembelajaran Melalui Dimensi Profesionalisme Guru. Bandung: Yrama Widya.
�
|
Copyright holder : Sri Suryana Dwi Atmaka (2020). |
|
First publication right
: This article is licensed under: |