|
Jurnal
Syntax Transformation |
Vol. 2
No. 2, Februari �2021 |
|
p-ISSN :
2721-3854 e-ISSN : 2721-2769 |
Sosial
Sains |
PENERAPAN METODE HYPNOTEACHING PADA PEMBELAJARAN
MATEMATIKA OLEH GURU KELAS VI
Universitas Terbuka Jakarta, Indonesia�
Email: [email protected]
|
INFO ARTIKEL |
ABSTRACT |
|
Diterima: 5 Februari
2021 Diterima dalam bentuk revisi: 15 Februari 2021 Diterima dalam bentuk revisi: 23 Februari |
The
teacher working group (kelompok kerja guru / KKG) and the principal working
group (kelompok kerja kepala sekolah / KKKS) agreed to improve the teaching
quality of grade VI teachers by holding training and implementing
hypnoteaching learning methods. This study aims to determine the
implementation of the hypnoteaching method in cluster VI muncar district.
This research method uses a qualitative descriptive approach so that it is
not connected with the circumstances or other variable conditions. The
research subjects were grade VI teachers in five elementary schools in
cluster VI, muncar district. The results of this study found that 1) the
implementation of learning from the opening, the content, and the closing had
been implemented well (78.9%); 2) students in participating in hypnoteaching
learning showed a) activities (cooperation, opinion, and answering questions)
got good results (79.86%), b) the response to the learning method of
hypnoteaching is very good (90.9%), c) the assessment of the teacher's
performance is very good (90.2%); 3) the learning quality of the hypnoteacing
method with eight aspects shows good results, three aspects (empathy,
sympathy and communication skills) show very good results (86.66%), while the
other five aspects (teacher appearance, language use, expression according to
subjects , motivating students, and controlling the hearts of students)
showed good results (71.6%). The eight aspects of hypnoteaching were carried
out very well by SDN 1 kumendung (82.8%) and SDN 2 kumendung (83.5%) and
carried out well by SDN 1 sumbersewu (75.0%), SDN 3 Sumbersewu (72.7% ), and
SDN 4 sumbersewu (72.2%). c) assessment of teacher performance is very good
(90.2%); 3) the learning quality of the hypnoteacing method with eight
aspects shows good results, three aspects (empathy, sympathy and
communication skills) show very good results (86.66%), while the other five
aspects (teacher appearance, language use, expression according to subjects,
motivating students, and controlling the hearts of students) showed good
results (71.6%). The eight aspects of hypnoteaching were carried out very
well by SDN 1 kumendung (82.8%) and SDN 2 kumendung (83.5%) and carried out
well by SDN 1 sumbersewu (75.0%), SDN 3 sumbersewu (72.7% ), and SDN 4 sumbersewu
(72.2%). ABSTRAK Kelompok kerja guru
(KKG) dan kelompok kerja kepala sekolah (KKKS) bersepakat untuk meningkatkan
kualitas pengajaran guru kelas VI dengan�
mengadakan pelatihan dan melaksnakan metode pembelajaran hypnoteaching.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pelaksanaan metode hypnoteaching
di gugus VI kecamatan muncar. Metode penelitian ini menggunakan pendekatan
deskriptif kualitatif sehingga tidak dihubungkan dengan keadaan atau kondisi
variabel lainnya. Subyek penelitian adalah guru kelas VI pada lima sekolah dasar
di gugus VI kecamatan muncar. Hasil penelitian ini menemukan bahwa 1)
pelaksanaan pembelajaran mulai pembukaan, isi, dan penutup telah dilaksanakan
dengan baik (78,9%); 2) siswa dalam mengikuti pembelajaran hypnoteaching menunjukkan a) aktivitas
(kerja sama, berpendapat, dan menjawab pertanyaan) mendapat hasil baik
(79,86%), b) respon terhadap pembelajaran metode hypnoteaching sangat baik
(90,9 %), c) penilaian terhadap penampilan guru sangat baik (90,2%); 3) kualitas
pembelajaran metode hypnoteacing dengan delapan aspek menunjukkan hasil baik,
tiga aspek ( sikap empati, simpati dan kemampuan komunikasi) menunjukkan
hasil sangat baik� (86,66%), sedangkan
lima aspek lainnya (penampilan guru, penggunaan bahasa, ekspresi sesuai mata
pelajaran, memotivasi siswa, dan menguasai hati siswa) menunjukkan hasil baik
(71,6%). Kedelapan aspek hypnoteaching
dilaksanakan dengan sangat baik oleh SDN 1 Kumendung (82,8%) dan SDN 2
kumendung (83,5%) serta dilakasanakan dengan baik oleh SDN 1 sumbersewu
(75,0%), SDN 3 sumbersewu (72,7%), dan SDN 4 sumbersewu (72,2 %) |
|
Keywords: learning; method; hypnoteaching Kata kunci: Pembelajaran; metode; hypnoteaching |
Pendahuluan
Siswa mengalami jenuh belajar dan
motivasi dalam mengikuti pembelajaran rendah, merupakan tantangan bagi guru
untuk dapat mengembali semangat siswa dalam belajar. Guru dituntut menciptakan
suasana kelas yang kondusif, nyaman dan mengasyikkan untuk belajar siswa.
Metode pembelajaran yang diterapkan guru harus bervariasi, unik, dan tidak
membosankan. (Hamalik, 2016) menyatakan
bahwa guru harus mengenal dan memahami murid dengan baik agar dapat membantu
pertumbuhan dan perkembanngan, serta dapat menggunakan prosedur mengajar yang
serasi dan mendiagnosis kesulitan murid.
Guru�guru kelas VI se-gugus VI kecamatan
muncar dalam kegiatan rutin di KKG (kelompok kerja guru) menemukan adanya
fenomena bahwa siswa kelas VI di sekolah masing � masing sudah banyak yang
mengalami kecenderungan menggunakan smartphone
untuk bermain permainan pada smartphone lebih dari 2 jam. Guru-guru kelas VI gugus
VI kecamatan muncar berupaya untuk membangkitkan semangat belajar siswa, dengan
menerapkan metode hypnoteaching hasil pelatihan yang telah diikuti. Menurut (Yustisia, 2012) menyatakan bahwa hypnoteaching merupakan
usaha menjadikan siswa lebih baik prestasinya melalui hipnosis atau mensugesti
anak didik.
Guru mempunyai peran yang sangat penting
dalam menembangkan bakat siswa serta membentuk akhlak dan pendewasaan siswa. Menurut
(Muhlison, 2014) menyatakan
bahwa guru merupakan faktor penting dan utama dalam proses pendidikan, karena
guru adalah orang yang bertanggungjawab terhadap perkembangan jasmani dan
rohani peserta didik terutama di sekolah, untuk mencapai kedewasaan peserta
didik sehingga ia menjadi manusia yang paripurna dan mengetahui tugas-tugasnya
sebagai manusia.
Metode pembelajaran yang tepat, yang
membimbing siswa memahami ilmu pengetahuan dengan senang dan penuh semangat
merupakan hal yang diharapkan guru dan siswa. Metode hypnoteaching
merupakan salah satu metode pembelajaran yang dapat memenuhi harapan tersebut. Menurut
(Wati & Kusuma, 2016) memberikan
definisi hypnoteaching berasal dari dari kata hipnosis yang
berarti mensugesti dan teaching yang berarti mengajar. Maksud pendapat
wati dan kusuma tersebut adalah bentuk sikap dari seorang guru untuk mensugesti
siswa dengan tujuan memberi pembelajaran yang baik sehingga dapat meningkatkan
prestasi siswa.
Pembelajaran menggunakan metode hypnoteaching
dinyatakan sebagai metode pembelajaran yang lengkap. Metode hypnoteaching
menggabungkan bagian penting unsur positif dari berbagai metode pembelajaran. Menurut
(Wati & Kusuma, 2016) menyatakan
bahwa hypnoteaching merupakan gabungan dari lima metode belajar, yaitu:
a). Quantum learning, b). Accelerate learning, c). Power teaching,
d). NLP (neuro-linguistic programing), e). Hypnosis.
Guru yang menerapkan metode pembelajaran
hypnoteaching adalah guru pembelajar, berinovasi, konsisten dalam kebaikan,
dapat menjadi teladan dan dibanggakan. Menurut (Noer, 2010), menyebutkan
unsur � unsur� yang harus dimiliki guru
dalam melaksanakan metode hypnoteaching, yaitu: 1) penampilan guru; 2).
sikap yang empatik; 3). rasa simpatik; 4). penggunaan bahasa yang baik;
5).� Peraga; 6). memotivasi siswa; 7).
menguasai hati siswa.
Komponen terpenting dalam metode
pembelajaran hypnoteaching adalah komunikasi yang efektif antara guru
dan siswa. Komunikasi yang efektif dapat dilakukan apabila guru menyampaikan
materi dengan baik dan siswa dalam kondisi siap menerima materi dengan senang
hati. Menurut (Zainurrahman, 2020) menyatakan
bahwa materi pelajaran dapat tersmpaikan dengan baik dan dapat dipahami siswa
karena efektivitas komunikasi antara guru dan siswa.
Guru agar mengajar di kelas dengan baik
perlu melakukan persiapan yang matang dan niat yang besar untuk mendidik siswa.
Niat terbangun dalam hati dan persiapan dilakukan dengan langkah-langkah yang
terstruktur. Hypnoteaching merupakan metode pembelajaran dengan langkah �
langkah yang cukup ringkas. Menurut (Mansur, 2015) dalam Hajar menyebutkan
angkah-langkah yang dimaksud penerapan Hypnoteaching� adalah sebagai beriku : 1). Niat dan motivasi
dalam diri sendiri; 2). Pacing berarti menyamakan posisi dengan orang lain atau
peserta didik; 3). Leading guru memimpin dan mengarahkan siswa agar bergembira
dalam menjalankan pembelajaran; 4). Gunakan hata-kata positif; 5). Berikan
pujian; 6). Modelling atau teladan bagi siswa.
Siswa merasa kesulitan memahami materi
pelajaran sehingga mengalami kendala dalam menyelesaikan tugas dalam
pembelajaran merupakan salah tanda siswa mengalami belenggu jiwa atau mental
blok. Hal ini banyak dialami pada pelajaran matematika, karena pada umumnya
beberapa guru kelas rendah meminta perhatian siswa ketika pelajaran matematika
sulit. Hal inilah yang justru membentuk pola pikir siswa yang membenarkan bahwa
matematika benar-benar sulit. (Taufiqi, 2017) memberikan
solusi untuk membangun kepercayaan diri anak, yaitu: menjalin komunikasi yang
baik kepada anak, mengistimewakan semua anak, tidak mengejek mereka.
Metode pembelajaran hypnoteaching
bukan metode pembelajaran yang sempurna, sebagaimana metode pembeljaran yang
lain. Metode hypnoteaching mempunyai kelebihan dan kekurangan. (Yustita, 2012) menguraikan kelebihan
metode hypnoteaching yaitu guru semakin kreatif, pembelajaran
menyenangkan, siswa semakin aktif, berkembang dan gembira. Sedangkan
kekurangannya adalah membutuhkan sarana pendukung, guru harus terus belajar dan
jumlah siswa dalam satu kelas tidak boleh banyak.
Penelitian terkait pelaksanaan
pembelajaran menggunakan metode hypnoteaching menunjukkan bahwa metode hypnoteaching
meningkatkan pemahaman dan hasil belajar siswa. Menurut (Puspitasari, 2018) menyatakan
bahwa metode hypnoteaching dapat meningkatkan hasil belajar siswa.
Penelitian lebih lanjut dilakukan oleh (Ma�as Shobirin, 2018) mengatakan
bahwa melalui metode hypnoteaching dapat membangun iklim belajar efektif
di madrasah ibtidayah. Sedangkan (Qomario, 2018) menyatakan
hasil penelitiannya bahwa kemampuan komunikasi matematika siswa kelas V
meningkat setelah mengikuti pembelajaran dengan metode hypnoteaching
dalam contextual teaching and learning (CTL). Penelitian ini bertujuan
menganalisis proses pelaksanaan pembelajaran matematika dengan metode hypnoteaching
yang dilaksanakan guru SD kelas 6 di gugus 6 kecamatan muncar dan respon siswa
selama mengikuti pembelajaran dengan metode hypnoteaching.
Metode Penelitian
Berdasarkan
latar belakang masalah yang telah diuraikan, penelitian ini menggunakan metode
penelitian deskriftif kualitatif. Penelitian deskiriftif berupa studi kasus
menurut (Masyhud,
2016) metode kualitatif merupakan metode yang
menggunakan analaisi mendalam yang mengkaji masalah kasus per kasus karena
sifat suatu malasalah berbeda dengan masalah yang lain. Jenis penelitian
deskriptif kualitatif yang digunakan pada penelitian ini dimaksudkan untuk
memperoleh informasi mengenai penerapan metode hypnoteaching pada
pembelajaran oleh guru kelas VI SD di gugus VI kecamatan muncar kabupaten
banyuwangi secara mendalam dan komprehensif. Selain itu, dengan pendekatan
kualitatif diharapkan dapat diungkapkan situasi dan permasalahan yang dihadapi
dalam kegiatan pembelajaran oleh guru kelas VI. Penelitian tentang penerapan
metode hypnoteaching dilaksanakan di gugus VI kecamatan muncar kabupaten
banyuwangi. gugus VI kecamatan muncar berada di desa sumbersewu dan desa kumendung.
Kegiatan penelitian ini dilaksanakan pada bulan november tahun ajaran
2017/2018.
Subyek
penelitian yangakan dikenai kesimpulan hasil penelitian adalah guru kelas VI di
gugus VI kecamatan muncar kabupaten banyuwangi. Paramater subyek penelitian
sehingga memungkinkan dapat diperoleh data adalah mengetahui kegiatan
pembelajaran dan terlibat langsung dalam pembelajaran di kelas VI. Parameter
subjek penelitian yang dianggap memenuhi karakteristik yaitu guru kelas VI,
siswa kelas VI dan kepala sekolah. 1) Guru kelas VI dianggap paling mengetahui
tentang penerapan metode hypnoteaching merupakan karena berperan
langsung dalam pelaksanaan pembelajaran dengan metode hypnoteaching. 2) Siswa
kelas VI dapat memberikan informasi karena dapat merasakan selama mengikuti
pembelajaran dengan guru dengan metode hypnoteaching. 3) Kepala sekolah
diharapkan dapat memberikan informasi berkaitan dengan kepemimpinannya dan
tanggungjawabnya dalam membina guru, sehingga yang dilakukan guru harus
mendapat rekomendasi dan diketahui oleh kepala sekolah.
Teknik
pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan melalui wawancara, angket,
observasi dan dokumentasi. Teknik wawancara dilakukan untuk mendapatkan data
yang mendalam tentang pelasanaan pembelajaran guru dalam menerapkan metode hypnoteaching
pada mata pelajaran matematika. Penggunaan angket dalam penelitian ini,
peneliti menggunakan angket tertutup, dengan tujuan agar mudah dalam mengolah
hasil (dalam penskoran, tabulasi dan analisis data). Adapun observasi peneliti
menggunakan observasi terstruktur yaitu�
menyusun daftar pertanyaan yang disusun secara terperinci, disediakan
dalam bentuk kolom untuk diberi tanda check sesuai dengan fakta atau fenomena
yang diobservasi. Teknik pengumpulan data dengan dokumen pada penelitian ini
digunakan dengan mengamati dan memeriksan dokumen yang berupa RPP (rencana
program pembelajaran), silabus, program semester, program tahunan dan jurnal
pembelajaran yang dibuat guru.
Hasil dan Pembahasan
Penelitian ini dilaksanakan di gugus VI kecamatan muncar
pada lima sekolah dasar yaitu SDN 1 kumendung, SDN 2 kumendung, SDN 1
sumbersewu, SDN 3 sumbersewu dan SDN 4 sumbersewu. Subyek utama dalam
penelitian ini adalah guru kelas VI dan siswa kelas VI pada masing � masing
sekolah tempat penelitian serta subyek pendukung dalam penilitian adalah
kepala sekolah. Masing � masing sekolah mempunyai karakteristik yang berbeda �
beda, antara lain posisi sekolah dengan pusat keramaian, kondisi halaman
sekolah, kondisi ruang kelas serta kondisi siswa peserta didik (status sosial,
ekonomi, kesehatan, kemampuan berfikir, sikap dan minat).
SDN 1 Kumendung berbatasan sebelah utara dan selatan
adalah rumah warga, sebelah timur jalan raya kecamatan dan sebelah barat
merupakan lahan persawahan, sehingga suara kesibukan warga dan kebisingan di
jalan raya terdengar ke sekolah. SDN 1 kumendung mempunyai halaman yang telah
dipavin dan cukup luas serta rindang dengan tanaman mangga sehingga udaranya
cukup segar. Ruang kelas bersih, ventilasi cukup, lantai keramik, dan sudah
terdapat beberapa peraga namun belum ada slogan motivasi belajar untuk siswa.
SDN 2 kumendung berada di dusun sumberjoyo agak jauh
dari pusat keramaian sehingga lingkungan sekolah relatif sepi. Rumah warga
sekitar sekolah masih agak berjauhan, sehingga tidak terdengan suara kesibukan
warga dan kebisingan jalan raya. Halaman sekolah SDN 2 kumendung cukup rindang
dengan tanaman mangga, tanah sebagian besar sudah dipavin. Ruang kelas bersih,
ventilasi cukup, terdapat bunga di dalam kelas, lantai keramik, terdapat peraga
pembelajaran dan terdapat pula slogan motivasi belajar siswa.
SDN 1 sumbersewu merupakan sekolah tertua di gugus
VI kecamatan muncar, berada di pusat desa sumbersewu. Berdekatan dengan balai
desa sumbersewu pada sebelah barat hanya berjarak dengan lapangan desa. Sebelah
selatan dan timur merupakan rumah warga desa yang cukup padat. Sebelah utara
berbatasan dengan jalan raya kecamatan yang cukup ramai lalu lintas. Halaman
SDN 1 sumbersewu sudah dipavin namun sangat rindang karena banyak tanaman pohon
mangga. Ruang kelas bersih, terdapat peraga pembelajaran, lantai keramik, tidak
ada slogan motivasi belajar siswa, ventilasi cukup namun ketika di dalam� kelas cukup panas karena jumlah siswa yang
banyak, ada 37 siswa.
SDN 3 sumbersewu berada di dusun palurejo desa sumbersewu.
Sebelah selatan berbatasan dengan jalan desa dan kebun warga, sebelah timur
sangat dekat dengan area persawahan hanya berjarak satu rumah warga dan jalan
desa. Sebelah utara berbatasan langsung dengan kebun warga dan sebelah barat
berbatasan dengan rumah warga. Suasana relatif sepi, karena lalu lintas jalan
sepi serta aktivitas warga berada di luar rumah. Halaman sekolah cukup luas
masih tanah dengan sedikit kerikil agar tidak becek saat musim hujan, sedikit
pohon sehingga agak panas. Ruang kelas bersih walaupun lantai masih berupa
semen, ventilasi cukup, cat pada dinding sebagian mengelupas, papan tulis
berwarna hitam mennggunakan kapur untuk menulis, terdapat sedikit peraga
pembelajaran dan tidak terpasang slogan motivasi belajar siswa.
SDN 4 sumbersewu berlokasi di dusun krajan desa sumbersewu,
namun terkenal berada di daerah palukuning terpisah dari pusat desa dengan area
persawahan. Batas-batas SDN 4 sumbersewu yaitu sebelah barat dan selatan sawah,
sebelah timur berbatasan dengan rumah warga, dan sebelah utara berbatasan
dengan jalan desa. Warga sekitar sekolah SDN 2 sumbersewu masih cukup jarang,
sehingga kelas VI hanya terdapat 11 siswa. Ruang kelas VI cukup bersih,
ventilasi cukup, cat pada dinding kelas�
masih baik, terdapat beberapa peraga pembelajaran dan gambar pahlawan,
lantai ruang kelas sudah berkeramik, papan tulis menggunakan white board,
namun belum ada slogan untuk memotivasi siswa belajar.
Hasil observasi terhadap guru�guru kelas VI di gugus
VI kecamatan muncar, secara rata-rata telah melaksanakan pembelajaran dengan
metode hypnoteaching selama proses pembelajaran, dimulai dengan kegiatan
pendahuluan, kegiatan inti, dan kegiatan penutup. Secara rata-rata telah
melaksanakan 78, 98% metode hypnoteaching. Prosentase tertinggi
penggunaan metode hypnoteaching dilakasanakan di SDN 2 kumendung
mencapai 90,77% sedangkan capaian terendah pelaksanaan metode hypnoteaching
di SDN 3 sumbersewu yaitu 68,06%.
Kegiatan siswa kelas VI ketika pelaksanaan
pembelajaran menggunakan metode hypnoteaching (dalam hal kerja sama,
mengungkapkan pemdapat, dan menjawab pertanyaan) di gugus VI kecamatan muncar,
selama pengamatan menunjukkan bahwa secara rata�rata dapat mengikuti
pembelajaran dengan baik dengan prosentase 79,86 %. Siswa kelas VI SDN 1 kumendung
menunjukkan aktivitas paling tinggi mencapai 83,81% sedangkan siswa kelas VI
SDN 1 sumbersewu menunjukkan aktivitas terendah mencapai 77,66%. Tanggapan
siswa dengan metode pembelajaran hypnoteaching menyatakan 90,9% senang
atau setuju, bahkan siswa kelas VI SDN 2 kumendung menyatakan 100% sebang atau
setuju dengan metode hypnoteaching. Penilaian siswa terhadap persiapan
dan penyampaian materi oleh guru dengan metode hypnoteaching, secara
rata�rata 44,34% menyatakan sangat baik, 45,88% menyatakan baik dan 9,78%
menyatakan kurang baik.
Pengamatan menyeluruh tentang pembelajaran dengan
metode hypnoteaching saling terkait. Kondisi sekolah, lingkungan
sekolah, kondisi siswa, persiapan guru mengajar merupakan pendukung yang tidak
bisa dipisahkan dari kegiatan inti pembelajaran dengan merode hypnoteaching.
Berikut ini disajikan tabel kualitas penerapan metode hypnoteaching oleh
guru kelas VI di gugus VI kecamatan muncar.
Tabel 1 Kualitas penerapan metode
hypnoteaching
|
No |
Aspek |
Scor
Aspek |
Sekolah |
||||||
|
SSDN 1 Kumen dung |
SSDN 2
Kumen dung |
SSDN 1 Sumber sewu |
SSDN 3 Sumber sewu |
SSDN 4 Sumber sewu |
Rata - rata |
Prosen tase |
|||
|
1 |
Penampilan Guru |
30 |
26 |
26 |
23 |
20 |
21 |
23,20 |
77% |
|
2 |
Sikap empati |
30 |
29 |
29 |
25 |
26 |
23 |
26,40 |
88% |
|
3 |
Simpati |
45 |
40 |
40 |
33 |
35 |
36 |
36,80 |
82% |
|
4 |
Penggunaan bahasa |
50 |
38 |
39 |
36 |
34 |
35 |
36,40 |
73% |
|
5 |
Ekspresi sesuai mata pelajaran |
45 |
36 |
34 |
31 |
29 |
30 |
32,00 |
71% |
|
6 |
Memotivasi siswa |
25 |
17 |
19 |
20 |
16 |
15 |
17,40 |
67% |
|
7 |
Menguasai hati siswa |
35 |
19 |
19 |
17 |
16 |
16 |
17,40 |
70% |
|
8 |
Kemampuan komunikasi dengan siswa |
10 |
9 |
9 |
9 |
9 |
9 |
9,00 |
90% |
|
|
Jumlah |
260 |
214 |
215 |
191 |
185 |
185 |
|
|
|
|
Prosentase |
|
82,8% |
83,5% |
75,0% |
72,7% |
72,2% |
||
Pengamatan terhadap aspek�aspek hypnoteaching,
yang terdiri dari delapan aspek, yaitu: penampilan guru, sikap empati, simpati,
penggunaan bahasa, ekspesi sesuai mata pelajaran, memotivasi siswa, menguasai
hati siswa, dan kemampuan komunikasi dengan siswa pada guru � guru kelas VI di
gugus VI kecamatan muncar secara rata-rata baik. Guru-guru kelas VI gugus VI
kecamatan muncar secara rata-rata telah memenuhi aspek penampilan 77%. Dalam
aspek ini, berarti guru-guru kelas VI telah berpakaian rapi dan menarik, berbau
harum, sntusias, bersemangat, ramah, ceria dan bersahaja. Sikap empati juga
telah menunjukkan prosentase yang tinggi, yaitu 88%, hal ini berarti guru-guru
kelas VI telah mengenali masalah siswa, peduli pada siswa, tidak mengamcam
siswa, tidak memukul siswa, tidak menjustifikasi negatif, dan mampu
mengungkapkan kebenaran dari suatu masalah. Pengamatan terhadap aspek simpati
guru telah mencapai 82%, sehingga dapat dikatakan bahwa guru-guru kelas VI
telah menyayangi siswa, memperlakukan siswa dengan baik, memuji siswa sesuai
dengan yang dilakukan siswa, mengerti perasaan siswa, mendukung cita-cita mulia
siswa, merespon positif, mengontrol emosi, pemaaf dan tidak merokok.
Aspek penggunaan bahasa merupakan bagian penting
dalam metode hypnoteaching karena bahasa merupakan refleksi hati yang
dikeluarkan melalui kata-kata yang dirasakan siswa sebagai sinyal kasih sayang
guru kepada siswa, yang digunakan guru agar dapat memasuki dunia alam bawah
siswa sehingga siswa senang dan mencintai pelajaran yang disampaikan. Tidak
mudah menggunakan bahasa yang benar�benar bisa memasuki alam bawah sadar siswa.
Aspek penggunaan bahasa dalam penelitian ini meliputi sepuluh bagian yaitu
bahasa jelas didengar, bahasa mudah dipahami, kalimat tidak berbelit�belit, tidak
merendahkan siswa, lancar dalam melafalkan kalimat (tidak terpotong�potong), menggunakan
bahasa yang sering digunakan anak, mempunyai variasi nada, volume dan kecepatan
suaran kalimat tanya jelas, distribusi pertanyaan merata� kepada seluruh siswa, dan banyak variasi
pertanyaan. Pengamatan terhadap aspek penggunaan bahasa, secara rata-rata
guru-guru kelas VI gugus VI kecamatan muncar telah mencapai 73%.
Aspek penggunaan bahasa tidak maksimal, demikian
pula dengan tiga aspek lainnya, yaitu ekspresi sesuai dengan mata pelajaran,
memotivasi siswa, dan menguasai hati siswa. Ketiga aspek tersebut mempunyai nilai
capaian yang hampir sama, yaitu ekspresi sesuai mata pelajaran mencapai 71%,
memotivasi siswa mencapai 67% dan menguasai hati siswa mencapai 70%. Aspek
ekspresi sesuai mata pelajaran merupakan bahasa gerak tubuh guru kepada siswa,
terdiri dari: ekspresi wajah, gerak tubuh, gerakan tangan, mendekati dan
menyentuh siswa, tatapan mata pada siswa, memberi contoh yang relevan dan
sesuai pengalaman siswa, agar ikatan siswa dengan guru semakin kuat. Memberikan
waktu sejenak untuk hening untuk memberikan rasa tenang pada otak agar siswa
dapat kembali berkonsentrasi dalam belajar. Melakukan ekspresi sesuai mata
pelajaran tidak mudah dilakukan, dengan indikator capaian yang diperoleh secara
rata -rata 71%.
Aspek memotivasi siswa dalam pengamatan ini terdiri
dari bercerita motivasi 5 menit sebelum pelajaran, bercerita motivasi saat
siswa ribut, mengaitkan tema pelajaran dengan tema anak, memupuk percaya diri,
yel-yel motivasi. Guru�guru kelas VI gugus VI telah melaksanakan kegiatan
pendahuluan dalam pembelajaran dan memberikan apersepsi sebelum pelajaran
dimulai, namun belum kontinyu memberikan cerita motivasi kepada siswa.
Mengelola kelas merupakan bagian seni mengendalikan siswa agar tetap nyaman
belajar di kelas. Bercerita motivasi pada saat siswa ribut masih belum
dilakukan secara konsisten oleh guru-guru kelas VI di gugus VI, artinya kadang�kadang
tidak bercerita motivasi pada saat siswa ribut namun langsung meminta siswa
diam dengan suara agak keras. Hal yang cukup konsisten dilakukan guru-guru
kelas VI gugus VI adalah mengaitkan tema pelajaran dengan tema anak dan memupuk
percaya diri siswa, sedangkan yel-yel motivasi juga masih jarang dilakukan.
Hanya satu guru yang memasang yel-yel motivasi di dinding kelas dan
mengingatkan siswa secara kontinyu.
Aspek menguasai hati siswa merupakan bagian dari
metode hypnoteaching dengan tujuan siswa memberi umpan balik memberikan
perhatian, menumbuhkan rasa hormat dan patuh terhadap guru. Pengamatan aspek
menguasai hati siswa pada lima bagian yaitu menyambut
siswa datang, masuk kelas dengan tersenyum, mendengar dan memberi solusi
problem siswa, menguasai emosi siswa, dan siswa senang menerima pelajaran. Hasil
pengamatan yang menunjukkan aspek menguasai hati siswa mencapai 70%, dapat
diinterpretasikan bahwa guru-guru kelas VI di gugus VI dalam menyambut siswa
terdapat beberapa kali tidak dilakukan, ketika masuk kelas beberapa kali tidak
tersenyum, masih terdapat beberapa problem siswa yang belum didengarkan dan
belum diselesaikan permasalahnannya, pada saat tertentu emsi siswa belum bisa
dikuasai, dan pada saat tertentu siswa tidak senang dalam menerima pelajaran.
Aspek kemampuan komunikasi dalam pengamatan ini
merupakan aspek pendukung untuk kelancaran dalam berkomunikasi dengan siswa.
Dalam aspek ini hanya terdapat dua bagian yaitu hafal nama siswa� dan menggunakan bahasa dengan baik. Aspek
penggunaan bahasa dan aspek ekspresi sesuai dengan mata pelajaran merupakan
penjabaran detail tentang komunikasi. Secara rata�rata aspek kemampuan
komunikasi telah mencapai 90%, hal ini berarti semua guru hafal dengan nama
siswa dan telah menggunakan bahasa dengan baik.
Pelaksanaan pembelajaran dengan metode hypnoteaching
di gugus VI kecamatan muncar oleh guru kelas VI dilaksanakan dengan hasil baik.
SDN 1 kumendung dan SDN 2 kumendung telah melaksanakan pembelajaran metode hypnoteaching
dengan hasil sangat baik masing�masing mencapai 82,8% dan 83, 5%. Tiga sekolah
lainnya mencapai hasil baik yaitu SDN 1 sumbersewu mencapai 75%, SDN 3 sumbersewu
mencapai 72,7% dan SDN 4 sumbersewu mencapai 72,2%.
��
Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian yang telah
dilakukan, dapat disimpulkan bahwa penerapan metode hypnoteaching pada
pembelajaran matematika oleh guru kelas VI SD di gugus VI kecamatan muncar
kabupaten banyuwangi dilaksanakan dengan baik. Aspek sikap empati, simpati dan
kemampuan komunikasi dilaksanakan dengan sangat baik atau telah mencapai lebih
dari 81%, sedangkan aspek penampilan guru, penggunaan bahasa, ekspresi sesuai
mata pelajaran, memotivasi siswa dan menguasai hati siswa sudah dilaksanakan
dengan baik atau telah mencapai lebih dari 61%.
Berdasarkan pelaksanaan masing-masing sekolah,
hasil pengamatan menunjukkan bahwa SDN 1 kumendung dan SDN 2 kumendung telah
melaksanakan pembelajaran dengan metode hypnoteaching
dengan sangat baik, kemudian SDN 1 sumbersewu, SDN 3 sumbersewu dan SDN 4 sumbersewu
telah melaksanakan dengan hasil baik.
BIBLIOGRAFI
Hamalik,
M. (2016). Proses Belajar Mengajar. Pt Bumi Aksara.
Ma�as
Shobirin, T. S. (2018). Membangun Iklim Belajar Efektif Melalui Metode Hypnoteaching
Di Madrasah Ibtidayah. Magistra: Media Pengembangan Ilmu Pendidikan Dasar
Dan Keislaman, 9(1), 1�19.
Mansur,
H. R. (2015). Menciptakan Pembelajaran Efektif Melalui Apersepsi. Retrieved
From Lpmp Sulsel: Http://Www. Lpmpsulsel. Net/V2/Index. Php.
Masyhud,
M. S. (2016). Analisis Data Statistik Metode Penelitian Pendidikan.
Jember. Lembaga Pengembangan Manajemen Dan Profesi Kependidikan.
Muhlison,
M. (2014). Guru Profesional (Sebuah Karakteristik Guru Ideal Dalam Pendidikan
Islam). Darul Ilmi: Jurnal Ilmu Kependidikan Dan Keislaman, 2(2).
Noer,
M. (2010). Hypnoteaching For Success Learning. Yogyakarta: Pedagogia.
Puspitasari,
W. D. (2018). Pengaruh Sarana Belajar Terhadap Prestasi Belajar Ilmu
Pengetahuan Sosial Di Sekolah Dasar. Jurnal Cakrawala Pendas, 2(2).
Qomario,
Q. (2018). Pengaruh Hypnoteaching Dalam Contextual Teaching And Learning
Terhadap Kemampuan Komunikasi Matematis. Refleksi Edukatika: Jurnal Ilmiah
Kependidikan, 9(1).
Taufiqi,
M. (2017). Religious Parenting, Hypnoteaching, And Hypnotherapy For Briliant
Kids. Malang. In Cv. Media Sutra Atiga.
Wati,
E. R., & Kusuma, S. (2016). Menjadi Guru Hebat Dengan Hypnoteaching. Yogyakarta:
Kata Pena.
Yustisia,
N. (2012). Hypnoteaching: Seni Ajar Mengeksplorasi Otak Peserta Didik. Yogyakarta:
Ar-Ruzz Media.
Yustita,
S. (2012). Keanekaragaman Dan Kelimpahan Kupu-Kupu Di Kebun Botani Upi
Bandung. Universitas Pendidikan Indonesia.
Zainurrahman.
(2020). Educational Hypnosis Pemanfaatan Hypnosis Dalam Konteks Pendidikan.
Https://Zonahypnosis.Wordpress.Com/2020/09/02/Buku-Educational-Hypnosis/
