|
Jurnal
Syntax Transformation |
Vol. 2
No. 2, Februari �2021 |
|
p-ISSN :
2721-3854 e-ISSN : 2721-2769 |
Sosial
Sains |
ANALISIS RESEPSI TERHADAP FEMINISME DALAM FILM BIRDS
OF PREY
Eryca Septiya Ningrum, Ineza Vedya Prishanti,
Anjani Syafitri Ditasyah dan
Ifda Faidah Amura
Universitas Pembangunan
Nasional Veteran Jawa Timur, Indonesia
Email: [email protected], [email protected], [email protected]
dan [email protected]
|
INFO ARTIKEL |
ABSTRACT |
|
Diterima: 5 Februari
2021 Diterima dalam bentuk revisi: 15 Februari 2021
Keyword: Feminism;
Film; Reception Analysis Kata
kunci: Feminisme;
Film; Analisis Resepsi |
Feminism
is a movement to fight for gender equality between men and women. Many
efforts have been made to support feminism, one of which is by using films.
Film is a mass media that is persuasive enough to sedate the audience. Apart
from being entertaining, films are also realistic media in depicting social,
political economy and other problems. This study aims to determine the
audience position from the three positions of readers stated by Stuart Hall
through the film "Birds Of Prey" which
shows feminism. This research uses qualitative research methods with
reception analysis methods. The conclusion of this study, there are two
informants who occupy a dominant hegemony position, 1 informant on the
opposition position, and 1 informant in the negotiation position. ABSTRAK Feminisme merupakan gerakan untuk memperjuangkan kesetaraan gender
antara laki-laki dan perempuan. Banyak upaya yang
dilakukan untuk mendukung
feminisme salah satunya dengan menggunakan film. Film
merupakan media massa yang cukup
persuasif untuk membius penontonnya. Selain karena menghibur, film juga media yang realistis
dalam menggambarkan masalah-masalah sosial, ekonomi poliik dan lain-lain. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui posisi khalayak dari tiga posisi pembaca
yang dikemukakan Stuart Hall melalui
film �Birds Of Prey� yang menunjukkan
feminisme. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan metode analisis resepsi. Kesimpulan dari penelitian ini, ada dua informan
yang menempati posisi hagemoni dominan, 1 informan posisi oposisi, dan 1 informan posisi negosiasi. |
Pendahuluan
�� Film
merupakan salah satu media massa yang digemari oleh semua kalangan, mulai dari
anak-anak hingga dewasa (McQuail,
2011). Setiap film
memiliki pesan yang disampaikan melalui gambar yang bergerak, warna dan suara.
Film merupakan media yang dapat mempersuasi penonton .Pesan yang disampaikan
dapat berupa pesan tersirat maupun tersurat. Film memiliki kekuatan dan
kemampuan untuk menjangkau semua kalangan sosial sehingga dapat menimbulkan
pengaruh yang besar(Marizal, 2017).
�Berbeda dengan media massa lainnya, film
merupakan institusi sosial penting. Isi film tidak saja mampu merefleksikan
tetapi juga menciptakan realitas menurut Jowett (Shi et al., 2017).
Dalam penelitian ini penulis membahas
realitas feminisme. Feminisme menurut Jenainati dan Groves merupakan perjuangan
untuk mengakhiri penindasan terhadap perempuan (Komang & Suwastini, 2013).
Dalam perspektif masyarakat Indonesia,
perempuan masih dianggap sebagai kaum yang lemah, tidak memiliki kekuasaan,
bahkan menjadi objek� seksualitas bagi
laki-laki. Hal itu menjadikan perempuan masih dipandang sebagai manusia dibawah
kekuasaan laki-laki (Sakina, 2017).
Perempuan juga dianggap tidak bisa
melindungi dirinya sendiri, sehingga laki-laki kerap melakukan kekerasan
terhadap kaum perempuan. Dengan adanya kejadian tersebut terbentuklah gerakan
feminisme yang memperjuangkan hak-hak perempuan dan kesetaraan gender antara
perempuan dan laki-laki. Banyak upaya yang dilakukan feminis untuk
memperjuangkan feminisme. Salah satu bentuk perjuangan gerakan feminisme adalah
dengan membuat film yang menyinggungg feminise.�
Selain itu Zoonen menyatakan bahwa kelahiran film feminis didorong oleh
satu kenyataan bahwa film cenderung mengkonstruksi realitas perempuan secara
bias dan menjadi kekuatan konservatif pendukung ideologi patriarki (Sutanto, 2017)
Ada banyak film feminis yang telah
dipublikasikan, salah satunya� adalah
Birds Of Prey. Film ini bergenre action- adventure- crime yang disutradarai
oleh Catyn Yan. Film yang dirilis 5 Februari 2020 ini menceritakan tentang
seorang perempuan bernama Harley Quinn (Margot Robbie) yang baru putus dengan
kekasihnya Joker. Quinn yang sebelumnya memiliki kekuasaan karena ada disamping
Joker, sekarang menjadi buronan banyak penjahat (Chornelia,
2013).
Pergolakan hati Quinn kemudian
membawanya pada perbuatan onar. Semakin berjalan ke depan dan perasaan yang dia
alami, Quinn merasa perlu untuk memperjuangkan emansipasi perempuan di kota
Gotham. Dia bertemu dengan para perempuan antihero lain seperti Helena
Bertinelli (Mary Elizabeth Winstead), Black Canary (Jurnee Smolett-Bell) dan
Renee Montoya (Rosie Perez). Mereka memiliki tujuan besar yang sama, emansipasi
di kota Gotham. Film yang berdurasi 109 menit ini meraup keuntungan sebesar
$33,010,017 untuk minggu pertama di Amerika Serikat dan meraup keuntungan
sebesar $201,858,461 selama penayangannya di seluruh dunia. Birds Of Prey
mendapat rating 6,1/10 dari 147.620 user imdb (internet movie database).
Metode Penelitian
�� Penelitian�� kualitatif
��ini����� bertujuan untuk�� menjelaskan�� suatu�� fenomena�� yang terjadi��� di��� masyarakat��� secara��� mendalam dengan mengumpulkan data-data� secara� lebih mendalam� dan� lengkap.� Hal� ini� menunjukkan bahwa� dalam� riset� ini� memiliki� kelengkapan
dan� kedalaman� data�
yang� diteliti� merupakan sesuatu�� yang��
sangat��
penting (Afifa et al., 2020).
Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan metode analisis resepsi. Analisis resepsi akan memfokuskan
pada pertemuan antara teks dan pembaca atau dengan kata lain media dan audiens.
Analisis resepsi memandang audiens sebagai
producer of meaning yang aktif menciptakan
makna, bukan hanya sebagai konsumen dari isi media (Fathurizki & Malau, 2018).
Hasil dan Pembahasan
Informan 1 memiliki asumsi bahwa feminisme adalah suatu
paham yang bertujuan untuk memperjuangkan kesetaraan gender di banyak lingkup.
Hal itu dikarenakan saat ini masih banyak yang memandang sebelah mata kaum
perempuan dan mengkhususkan sesuatu yang dianggap hanya untuk kaum perempuan
saja atau laki-laki saja. Seperti contoh : Make Up dianggap pantas digunakan
hanya untuk perempuan saja.� Padahal bisa
saja hal tersebut pantas dilakukan oleh keduanya. Informan menganggap bahwa
perempuan dan laki-laki sama saja, yang membedakan hanya identitas seksual
saja. Informan 1 setuju dengan pesan yang disampaikan oleh film Birds Of Prey,
yaitu perempuan dapat melindungi dirinya sendiri tanpa bantuan seorang
laki-laki. Menurutnya, perempuan bukanlah gender kedua, dan tidak bisa diremehkan.
Dengan begitu perempuan tidak terlihat sebagai makhluk yang lemah dan
bergantung kepada laki-laki. Informan berpendapat demikian karena dia pernah
mengalami pelecehan seksual namun informan dapat melindungi dirinya dan melawan
pelaku, sehingga pelaku tidak berani mengulanginya lagi. Namun sayangnya, di
Indonesia masih banyak yang belum mengerti arti feminisme. Informan 1
mengatakan bahwa pesan yang disampaikan oleh film Bird Of Prey sebenarnya
sangat bagus karena mendukung gerakan feminisme di dunia, walaupun dalam
kehidupan nyata masih belum diterapkan dengan sempurna.
�� Informan 2
menganggap jika perempuan saling mendukung satu sama lain maka dapat saling
menguatkan. Berbeda dengan informan 1, informan 2 berasumsi bahwa perempuan
bisa menjadi kuat apabila mendapat bantuan dari perempuan lainnya, karena
menurut pandangannya perempuan dianggap sebagai gender ke 2 setelah laki-laki.
Informan 2 memiliki pemahaman yang berbeda dengan pesan yang disampaikan oleh
film Birds Of Prey, yang dimana Harley berusaha untuk melawan musuh-musuhnya
dan membuktikan bahwa ia juga dapat melindungi dirinya sendiri tanpa bantuan
Joker. Sedangkan informan 2 menganggap perempuan harus dilindungi oleh
laki-laki karena kekuatan perempuan dan laki-laki berbeda. Informan 2 merasa
adegan-adegan yang ditayangkan di film tersebut tidak sesuai dengan kehidupan
nyatanya. Informan 2 berpendapat bahwa adegan-adegan yang ada di film Birds Of
Prey sama sekali tidak sesuai dengan kebudayaannya. Dilihat dari pengalaman
informan 2, dia lebih memilih diam ketika mengalami penindasan oleh laki-laki
daripada melawannya. Hal itu sangat berseberangan dengan pesan yang disampaikan
dari film Birds Of� Prey.����
�� Informan 3 adalah
sudut pandang dari seorang laki-laki yang menangkap unsur feminisme dalam film
Birds Of Prey. Informan 3 sudah menonton film Birds Of Prey ini sebanyak 2
kali. Menurut informan 3 ini, film Birds Of Prey menitikberatkan pada Harley
Quinn yang mencoba bertahan tanpa perlindungan dari nama besar Joker (Herawati, 2016).
�� Informan 3
menangkap bahwa Harley Quinn berusaha menunjukkan bahwa wanita bisa mandiri
tanpa bayang-bayang nama besar dari seorang laki-laki. Arti feminisme sendiri
bagi informan 3 adalah gerakan yang awalnya dibuat karena para wanita dianggap
tidak setara dengan pria, sehingga bagi informan 3 feminisme ini lebih merujuk
pada bentuk kemandirian seorang wanita untuk membuktikan bahwa mereka juga bisa
setara bahkan lebih dari pria. Berdasarkan scene yang ditangkap maknanya oleh
informan 3, scene film yang menunjukkan feminisme dalam film Birds Of Prey ini
adalah pertama ketika Herley tidak memiliki dana yang cukup untuk bertahan
hidup karena ditinggal oleh Joker. Namun Harley tidak putus asa, dia berusaha
bertahan hidup dengan caranya sendiri.
�� Dari scene ini
informan 3 dapat menangkap makna bahwa perempuan mampu untuk survive dan tidak
menyerah dengan keadaan dimana sudah tidak ada lagi laki-laki dalam hidupnya
yang bisa menghidupinya. Scene kedua adalah scene ketika Harley awalnya tidak
ingin mengakui putusnya hubungan dia dengan Joker ke publik karena dia masih
nyaman dengan status Harley sebagai pacar dari seorang Joker yang sangat
ditakuti oleh banyak orang. Namun akhirnya Harley memutuskan untuk menerima
semua kenyataan tersebut dan menerima bahwa dia memang harus hidup� tanpa Joker dan yakin bahwa dia mampu hidup
tanpa Joker hingga akhirnya Harley sampai mampu untuk membakar pabrik yang
bersejarah bagi pasangan Harley dan Joker. Dari scene tersebut informan 3
menangkap bahwa itu adalah bentuk dari seorang wanita yang mencintai diri
sendiri, dan bahwa mencintai diri sendiri merupakan hal yang sangat penting
bagi seorang wanita agar tidak mudah ditindas dan diremehkan orang lain. Kemudian
scene ketiga adalah ketika Harley berusaha mendapatkan berliannya dengan
caranya sendiri, tapi ternyata dia tetap membutuhkan bantuan dari orang lain
seperti Black Canary, The Huntress, Cassandra Cain dan Renee Montaya. Di akhir
scene mereka terjepit dan memutuskan untuk bekerja sama.
�� Bagi informan 3
scene ini sangat menunjukkan sisi feminisme karena baginya titik utama dari
feminisme disitu berupa para wanita yang menunjukkan bahwa mereka bisa melawan
dan layak diperhitungkan. Makna yang didapat oleh informan 3 dari scene
tersebut adalah feminisme itu mandiri tapi bukan berarti tidak membutuhkan
bantuan orang lain. Tetap butuh bantuan orang lain, namun lebih terlihat
feminisme sekali karena orang lain semua yang membantu adalah dari kalangan
para wanita itu sendiri sehingga menunjukkan kekompakan antar sesama wanita.
�� Bagi informan
3,ia tidak setuju apabila wanita dianggap lemah apabila tidak ada laki-laki di
hidupnya, karena menurutnya itu hanya sekilas saja terlihat seperti wanita
lemah tanpa pria, padahal sebenarnya semua itu kembali ke diri wanita itu
sendiri. Karena banyak juga wanita-wanita yang mampu menjalani hidupnya tanpa
memiliki lelaki dalam hidupnya, contohnya adalah seperti janda-janda yang tetap
mampu menghidupi anaknya walaupun sudah tidak mendapatkan nafkah dari
lelakinya.
�� Informan 4 adalah
sudut pandang dari seorang perempuan yang menangkap unsur feminisme dalam film
Birds Of Prey. Informan 4 sudah menonton film Birds Of Prey sebanyak 2 kali.
Menurut informan 4, film Birds Of Prey mengangkat topik seputar perempuan. Arti
feminisme menurut informan 4 itu merupakan gerakan yang membuat perempuan
berada dalam kedudukan yang sama dengan laki-laki.
�� Berdasarkan scene
yang ditangkap maknanya oleh informan 4, scene film yang menunjukkan feminisme
dalam film Birds Of Prey ini adalah scene ketika Harley Quinn dikejar oleh
banyaknya musuh-musuh dari masa lalunya bersama Joker dan dia tetap bisa kabur.
Kemudian scene ketika semua wanita berkumpul dan bersatu untuk melawan Black
Mask bersama-sama.
�� Menurut informan
3 semua hal itu menunjukkan bahwa wanita juga bisa menjadi kuat dan tidak mudah
ditindas karena perempuan dapat mempelajari ilmu bela diri yang sama halnya
seperti kaum laki-laki. Bagi informan 3, ia menganggap bahwa terkadang perempuan
itu memang lebih lemah daripada laki-laki dari segi fisik. Karena terkadang
wanita memang tidak bisa melakukan pekerjaan atau kegiatan yang keras dan berat
dikarenakan faktor fisik yang berbeda dengan kaum pria. Oleh karena itu yang
menarik dari film ini adalah perempuan disorot dari segi kekuatan fisiknya yang
ditunjukkan di film tersebut bahwa perempuan mampu membela diri mereka sendiri
dan mampu menjadi pribadi wanita yang tangguh akan segala macam bentuk musuh
mereka.
�� Encoding Dalam
Film Birds Of Prey. Film Birds Of Prey merupakan sebuah film produksi dari
Warner Bros Pictures bekerja sama dengan DC. Film ini bercerita mengenai
perjuangan seorang Harley Quinn untuk move on dari seorang Joker setelah putus
dengannya. Dalam film ini digambarkan bahwa seorang Harley Quinn sangat
menggantungkan hidupnya kepada Joker karena Joker mampu melindunginya dari
bahaya apapun yang mengancam selama mereka berpacaran. Namun ketika hubungan
mereka sudah berakhir, semua musuh-musuh Harley Quinn berdatangan untuk mengincar
nyawa Harley dikarenakan dendam yang selama ini mereka pendam selagi ditindas
oleh pasangan Joker-Harley. Tidak hanya itu, segala bentuk respect dan
penghormatan terhadap Harley Quinn juga hilang sejak putusnya hubungan Joker
dengan Harley.
�� Film ini tidak
hanya menjelaskan mengenai perjuangan seorang Harley untuk move on saja, tapi
juga menampilkan bentuk kekompakan dari sesama wanita untuk menolong sesama
gender yang berada dalam bahaya walaupun belum berteman dekat. Dari bentuk
kekompakan tersebut, ada beberapa pesan feminisme di dalamnya yang ditonjolkan
oleh sutradara film. Bahwa terhadap sesama perempuan, baik kenal ataupun tidak,
kita harus saling menolong apabila kita tahu bahwa mereka sedang atau akan
mengalami pelecehan seksual.
�� Terdapat pesan
bahwa wanita memang butuh perlindungan dari seorang pria, tapi apabila pria
tersebut meninggalkan wanita, maka wanita juga tetap mampu untuk hidup bahagia
tanpa seorang pria dalam hidupnya. Karena kebahagiaan itu hanya pribadi kita
sendiri yang membentuk dan kebahagiaan wanita tidak selalu harus terletak pada
pria dan berhasilnya sebuah hubungan. Dari hal tersebut juga menunjukkan bahwa
wanita adalah seseorang yang mampu untuk hidup mandiri. Menjalani hidupnya
sendiri dengan senang hati dan tidak bergantung pada laki-laki.
�� Terlepas dari
mencintai seorang laki-laki, di film ini Harley digambarkan mampu untuk bangkit
dari keterpurukannya atas putusnya hubungannya dengan Joker dan berubah menjadi
pribadi yang mencintai diri sendiri. Dalam film ini juga ditunjukkan bagaimana
wanita seharusnya mampu untuk menghargai bakat dalam dirinya sendiri dan tidak
menjadi seseorang yang hidupnya dikontrol oleh orang lain. Makna ini
ditunjukkan dari scene ketika Black Canary mampu melepaskan hidupnya dari
kekangan pekerjaannya yang menjadi supir andalan dari Black Mask, pembunuh yang
suka menguliti wajah korbannya dan sedang mengejar Harley. Dia mampu melepaskan
diri dari jerat majikannya dan menghianati Black Mask dengan membantu Harley
untuk kabur. Walaupun disitu posisinya Black Canary adalah orang yang paling
disayang dan dipercaya juga oleh Black Mask, namun Black Mask tidak menghargai
Black Canary sebagai wanita yang bebas. Ia memojokkan dan mengancam Black
Canary dengan hal-hal buruk untuk menjerat Black Canary.
Kesimpulan
Berdasarkan Teori Resepsi dari Stuart
Hall yakni tentang encoding dan decoding dari film Birds Of Prey ini, informan
1 lebih merujuk ke posisi hagemoni dominan karena informan 1 menerima pesan
yang disampaikan film Birds Of Prey. Menurut informan 1, feminisme yang
ditunjukkan dalam film Birds Of Prey sesuai dengan persepsinya. Kemudian informan
2 lebih merujuk posisi oposisi dikarenakan informan menolak seluruh pesan yang
disampaikan film. Informan berpendapat bahwa feminisme yang digambarkan dalam
film tersebut tidak sesuai dengan apa budayanya. Informan 2 memiliki pandangan
lain tentang feminisme. Selanjutnya informan 3 masuk ke dalam posisi hegemoni
dominan. Hal ini dikarenakan informan 3 menangkap makna yang sama dengan yang
disuguhkan oleh produser film Birds Of Prey. Informan 3 menyukai konsep
feminisme dalam film Birds Of Prey, karena benar-benar mengangkat derajat kaum
wanita dalam urusan hubungan percintaan dan kekompakan. Saat decoding dari
khalayak sama dengan encoding yang dibentuk, maka hal itu dapat masuk ke dalam
klasifikasi hegemony dominan. Kemudian informan 4 masuk ke dalam klasifikasi
negosiasi posisi. Hal ini dikarenakan informan 4 menerima ide pokok dari film
tersebut yakni salah satunya adalah unsur feminisme, namun tetap memberi
pengecualian karena memang disatu sisi informan 4 tetap menganggap bahwa dalam
realita yang ada wanita merupakan seseorang yang dari segi fisik masih tetap
lebih kalah kuat dibanding kaum pria. Ia tetap menerima ide utama sebagai
dasarnya, namun disisi lain ia tetap percaya bahwa perempuan itu juga bisa
melakukan bela diri ataupun membela diri mereka sendiri. Informan 4 tidak
menolak bahwa feminisme itu memang penting dan sangat diperlukan. Namun ia
tetap memiliki pandangan sendiri terhadap feminisme, namun berbeda dengan pesan
yang disampaikan oleh film Birds Of Prey.
BIBLIOGRAFI
Afifa,
A., Pramesta, D. D., & Savira, R. (2020). Persepsi Traveller Surabaya
Terhadap Iklan Tiket. com Versi �Jalan-Jalan Itu Gak Pake Tapi.� Jurnal
Syntax Transformation, 1(8), 439�444.
Chornelia,
Y. H. (2013). Representasi Feminisme dalam Film �Snow White and The Huntsman.� Jurnal
E-Komunikasi, 1(3).
Fathurizki,
A., & Malau, R. M. U. (2018). Pornografi dalam film: Analisis resepsi film �Men,
women & children.� ProTVF, 2(1), 19�35.
Herawati,
M. (2016). Pemaknaan gender perempuan pekerja media. Jurnal Kajian
Komunikasi, 4(1), 85�95.
Komang,
N., & Suwastini, A. (2013). Perkembangan Feminisme Barat Dari Abad
Kedelapan Belas Hingga Postfeminisme: Sebuah Tinjauan Teoretis. Jurnal Ilmu
Sosial Dan Humaniora, 2(1), 198�208.
Marizal,
N. A. (2017). Analisis Semiotika Makna Pesan Moral Pada Film �Filosofi Kopi.�
Perpustakaan.
McQuail,
D. (2011). Teori komunikasi massa. Salemba Humanika.
Sakina,
A. I. (2017). Menyoroti budaya patriarki di Indonesia. Share: Social Work
Journal, 7(1), 71�80.
Shi,
T., McAllister, D. A., O�Brien, K. L., Simoes, E. A. F., Madhi, S. A., Gessner,
B. D., Polack, F. P., Balsells, E., Acacio, S., & Aguayo, C. (2017).
Global, regional, and national disease burden estimates of acute lower
respiratory infections due to respiratory syncytial virus in young children in
2015: a systematic review and modelling study. The Lancet, 390(10098),
946�958.
Sutanto,
E. M. (2017). The influence of organizational learning capability and
organizational creativity on organizational innovation of Universities in East
Java, Indonesia. Asia Pacific Management Review, 22(3), 128�135.
