|
Jurnal
Syntax Transformation |
Vol. 2
No. 2, Februari �2021 |
|
p-ISSN :
2721-3854 e-ISSN : 2721-2769 |
Sosial
Sains |
PENGARUH JUMLAH KUNJUNGAN, LAMA TINGGAL DAN BELANJA
WISATAWAN TERHADAP PENDAPATAN ASLI DAERAH SEKTOR PARIWISATA
DI PROVINSI DAERAH KHUSUS IBUKOTA JAKARTA
Lanti Alyani
Institut Pemerintahan
Dalam Negeri Jakarta, Indonesia
Email: [email protected]
|
INFO ARTIKEL |
ABSTRACT |
|
Diterima Diterima dalam bentuk revisi Diterima dalam bentuk revisi |
Tourism
plays an important role as a driver of economic growth and prosperity in
terms of development in an area. In DKI Jakarta Province there are natural
tourism, cultural tourism and artificial tourism. North Jakarta and South
Jakarta have complete natural, cultural and man-made tourist attractions.
Whereas West Jakarta, Central Jakarta, and East Jakarta have cultural and
artificial tourism attractions. Specifically the Seribu Islands has natural attractions. This research
uses quantitative methods. Data sources used are primary data and secondary
data. Data collection techniques using literature study, interviews and
questionnaires with alternative answers contained in this questionnaire refer
to the Likert Scale. Analysis of the instrument used as a research data
collection tool is a questionnaire. The data obtained was analyzed using SPSS
16.0 software. Stages of data analysis are data quality testing (validity
test), data frequency testing (reliability test), classic assumption test,
Quantitative Analysis, Hypothesis Testing (F & t Test). The results
obtained in this study are (1) the number of visits has a positive and
significant effect on the original income of the tourism sector in DKI
Jakarta Province, this illustrates that the higher the number of tourist
visits to tourist destinations in DKI Jakarta Province, the higher the
original income of the Tourism sector in DKI Jakarta Province. (2) the length
of stay of tourists in tourist destinations in the Province of DKI Jakarta
has a negative and significant influence on the increase in the original
income of the Tourism sector in the Province of DKI Jakarta, this illustrates
that the longer the visit to a tourist attraction, the higher the original
income of the Tourism sector and the faster the visit to tourism objects , the lower the original income in the tourism
sector. (3)� tourist spending has a
positive and significant influence on the original income of the Tourism
sector in the Province of DKI Jakarta, this illustrates that the higher the
expenditure of tourists in tourist destinations in the Province of DKI
Jakarta, the higher the original income of the Tourism sector in the Province
of DKI Jakarta. (4) the number of visits, length of stay and tourist spending
have a significant influence on the original income of the tourism sector in
DKI Jakarta Province. This indicates that the higher number of tourists who
visit, stay long in tourist destinations and spend money on needs during the
tour will increase the PAD of the Tourism sector in DKI Jakarta Province. ABSTRAK Pariwisata berperan penting sebagai penggerak pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan dalam hal pembangunan
di suatu daerah. Di Provinsi DKI Jakarta terdapat wisata alam, wisata budaya dan wisata buatan. Jakarta Utara
dan Jakarta Selatan memiliki atraksi
wisata yang lengkap baik alam, budaya,
dan buatan. Sedangkan
Jakarta Barat, Jakarta Pusat, dan Jakarta Timur memiliki
atraksi wisata budaya dan buatan. Khusus Kepulauan Seribu memiliki atraksi wisata alam. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif. Sumber data yang digunakan data
primer dan data sekunder. Teknik pengumpulna data menggunakan studi pustaka, wawancara dan kuisioner dengan alternatif-alternatif jawaban yang ada didalam kuesioner ini merujuk pada Skala Likert. Analisis instrumen yang digunakan sebagai alat pengumpul
data penelitian adalah kuesioner. Dari data yang didapat
dilakukan analisis dengan
menggunakan software SPSS 16.0. Tahapan
analisa data yaitu pengujian kualitas data (uji validitas), pengujian frekuensi data (uji reliabilitas),
uji asumsi klasik, Analisis Kuantitatif, Pengujian hipotesis (Uji F
& Uji t). Hasil yang diperoleh dalam penelitian ini adalah (1) jumlah kunjungan memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap PAD sektor pariwisata di Provinsi DKI
Jakarta, hai ini menggambarkan bahwa semakin tinggi jumlah kunjungan wisatawan ke destinasi wisata di Provinsi DKI Jakarta maka akan semakin tinggi pula PAD sektor Pariwisata di Provinsi DKI
Jakarta. (2) lama tinggal wisatawan
di destinasi wisata Provinsi DKI Jakarta memiliki pengaruh negatif dan signifikan terhadap peningkatan PAD sektor Pariwisata di Provinsi DKI
Jakarta, hai ini menggambarkan bahwa semakin
lama kunjungan ke obyek wisata maka semakin tinggi PAD sektor Pariwisata dan semakin cepat kunjungan ke obyek wisata,
maka semakin rendah PAD sektor Pariwisata. (3) belanja wisatawan memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap PAD sektor Pariwisata di Provinsi DKI
Jakarta, hai ini menggambarkan bahwa semakin tinggi belanja wisatawan di destinasi wisata di Provinsi DKI Jakarta maka akan semakin tinggi pula PAD sektor Pariwisata di Provinsi DKI
Jakarta. (4) jumlah kunjungan,
lama tinggal dan belanja wisatawan memiliki pengaruh yang signifikasn terhadap PAD sektor Pariwisata di Provinsi DKI
Jakarta. Hal ini menandakan
bahwa semakin tinggi jumlah wisatawan yang berkunjung, menetap lama di destinasi wisata dan mengeluarkan uang untuk
kebutuhan selama berwisata
akan meningkatkan PAD sektor Pariwisata di Provinsi DKI Jakarta. |
Pendahuluan
Otonomi daerah merupakan kebijakan yang diambil
oleh pemerintah pusat agar pemerintah daerah mengelola pemerintahannya sendiri
untuk menyejahterakan rakyatnya melalui berbagai kegiatan susai sumber daya
alam dan sumberdaya manusia yang dimiliki. Dengan otonomi daerah, pemerintah
daerah diharapkan semakin mandiri, mengurangi ketergantungan terhadap
pemerintah pusat, baik dalam hal pembiayaan pembangunan maupun dalam hal
pengelolaan keuangan daerah.
Tanggal 1 Januari 2001, pemerintah
Indonesia merencanakan desentralisasi (otonomi daerah) sebagai perubahan dari
sistem sentralisasi dalam perencanaan dan implementasi pembangunan (Qoyyimah,
2010).
Terdapat dua undang- undang yang melandasi otonomi daerah yaitu UU No. 22 Tahun
1999 mengenai Pemerintah Daerah dan UU No. 25 Tahun 1999 mengenai Perimbangan
Keuangan antara Pusat dan Daerah (Dardiri et al., 2018)
Otonomi daerah
diberlakukan di Indonesia melalui
Undang-Undang� Nomor
22 Tahun
1999 tentang Pemerintahan
Daerah (Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 1999 Nomor
60, Tambahan Lembaran
Negara Republik Indonesia Nomor
3839). Pada tahun 2004, Undang-Undang
Nomor 22 Tahun 1999�� tentang�� Pemerintahan�� Daerah��
dianggap��
tidak�� sesuai�� lagi�� dengan perkembangan keadaan,
ketatanegaraan, dan tuntutan penyelenggaraan otonomi daerah sehingga digantikan
dengan Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran
Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 125, Tambahan Lembaran Negara Republik
Indonesia Nomor 4437) (Indonesia,
1999).
Undang-undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah dikeluarkan untuk menggantikan Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah yang sudah tidak sesuai lagi
dengan perkembangan keadaan, ketatanegaraan. dan tuntuuan pernyelenggaraan pemerintahan daerah.
Undang-undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah telah disempurnakan sebanyak dua kali. Penyempurnaan yang pertama dengan dikeluarkannya Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2014 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah. Adapun perubahan
kedua ialah dengan dikeluarkannya Undang-Undang Nomor 9 Tahun 2015 tentang Perubahan Kedua atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah. Ini merupakan kesempatan
yang sangat baik bagi pemerintah daerah untuk membuktikan
kemampuannya dalam melaksanakan kewenangan yang menjadi hak daerah.
Maju atau tidaknya suatu daerah sangat ditentukan
oleh kemampuan dan kemauan untuk melaksanakan yaitu pemerintah daerah. Pemerintah daerah bebas berkreasi
dan berekspresi dalam rangka membangun daerahnya, tentu saja dengan tidak
melanggar ketentuan perundang-undangan.
Serangkaian Undang-undang Nomor 23 Tahun 2014 beserta perubahan- perubahannya tersebut menyebutkan adanya perubahan susunan dan kewenangan pemerintahan daerah. Susunan pemerintahan daerah menurut undang-undang ini meliputi pemerintahan
daerah provinsi, pemerintahan daerah kebupaten, dan DPRD. Pemerintahan
daerah terdiri atas kepala daerah
dan DPRD dibantu oleh perangkat
daerah. Pemerintahan daerah provinsi terdiri atas pemerintah
daerah provinsi dan DPRD provinsi. Aadapun pemerintah daerah kabupaten/kota terdiri atas pemerintah
daerah kabupaten/kota dan DPRD kabupaten/kota.
Selain untuk mengurangi
ketimpangan pembangunan, otonomi daerah juga dapat meningkatkan penerimaan pemerintah daerah yang tentunya dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi di suatu daerah (Kusumawardhani, 2013). Namun,
tak jarang implementasi dari otonomi daerah yang tercermin dari tingkat kemandirian keuangan di beberapa daerah masih berada
dalam skala yang sangat rendah (Fajri et al., 2016).
Salah satu sumber penerimaan
pemerintah daerah yaitu pendapatan asli daerah. Adapun sumber dari pendapatan
asli daerah yaitu pajak daerah,
retribusi daerah, hasil pengelolaan kekayaan daerah yang dipisahkan, dan lain-lain pendapatan
asli daerah yang sah. Peningkatan pendapatan asli daerah yang dianggap sebagai modal, secara akumulasi akan menimbulkan efek positif dan membantu mempercepat pertumbuhan ekonomi (Santosa, 2013). Semakin
besar pendapatan asli daerah, maka
semakin mandiri suatu daerah dalam
mengambil keputusan dan kebijakan pembangunan. Oleh sebab itu, masing-masing pemerintah daerah saling berlomba untuk meningkatkan pendapatan asli daerahnya, begitupula dengan pemerintah daerah Provinsi DKI Jakarta.
Sektor pariwisata merupakan salah satu sektor strategis
dalam pengembangan perekonomian suatu daerah. Pariwisata dengan segala aspeknya
dapat memberikan kontribusi kepada berbagai aspek kehidupan, baik secara ekonomi maupun non ekonomi. Pengembangan sektor pariwisata di Provinsi DKI
Jakarta dirasakan semakin penting karena selain mampu meningkatkan
perkembangan ekonomi juga mampu memperluas kesempatan kerja dan pemerataan pendapatan. Dalam upaya membantu
menciptakan kesempatan kerja bagi penduduk
usia kerja, kegiatan pariwisata memiliki peran yang cukup strategis. Beroperasinya usaha-usaha dalam bentuk hotel-hotel berbintang ataupun penginapan-penginapan, restoran, obyek-obyek wisata, usaha-usaha jasa pariwisata, usaha transportasi dan komunikasi, serta usaha-usaha jasa hiburan dan rekreasi akan memberi
kontribusi dalam bentuk kesempatan bekerja bagi masyarakat
dan hal ini tentu akan berperan
dalam mengurangi angka pengangguran.
Dengan demikian, kedatangan wisatawan ke suatu daerah
dalam hal ini Provinsi DKI Jakarta akan membuka peluang
bagi masyarakat untuk menjadi pengusaha
atau pengelola hotel, restoran, usaha transportasi, pengelolaan obyek wisata dan jasa hiburan sehingga
peluang tersebut akan memberikan kesempatan kepada masyarakat lokal untuk bekerja dan nantinya masyarakat akan memperoleh pendapatan dari pekerjaan tersebut.
Provinsi DKI Jakarta memiliki slogan
yang menarik, yaitu �Enjoy
Jakarta�, memberikan pesan bahwa Jakarta pantas sebagai destinasi wisata dan budaya favorit bagi wisatawan
baik domestik maupun non domestik (mancanegara). Jakarta menawarkan lokasi hiburan serta rekreasi terbaik mulai dari
Taman Impian Jaya Ancol dengan
berbagai aktivitas menarik, Taman Mini Indonesia Indah yang menampilkan keragaman budaya Indonesia, serta Kebun Binatang Ragunan dengan kekayaan satwa didalamya.
Sebagaimana diketahui, Provinsi DKI Jakarta menawarkan lokasi hiburan serta rekreasi yang menampilkan keragaman dan keindahan budaya Indonesia. Objek wisata unggulan
yang paling banyak dikunjungi
wisatawan adalah Taman
Impian Jaya Ancol dengan
total pengunjung sebesar 58
persen dibandingkan objek wisata lain pada tahun 2016. Kepulauan Seribu merupakan salah satu wisata alam
yang dapat dikunjungi di
Jakarta. Cakupan Kepulauan Seribu sangat luas,
dimulai dari Pulau Bidadari, Pulau Harapan, Pulau Tidung, Pulau Pari, dan puluhan pulau lainnya.
Untuk wisata budaya, Kota Tua Jakarta memiliki pesona wisata sejarah yang dapat memberikan banyak pengetahuan. Terdapat sejumlah landmark historis di Kawasan Kota Tua seperti Museum Fatahillah,
Pelabuhan Sunda Kelapa,
Museum Seni Rupa, dan lain-lain.
Pesona keindahan alam serta keunikan
budaya yang dimiliki DKI
Jakarta memiliki potensi pariwisata yang diminati oleh wisatawan baik mancanegara maupun wisatawan nusantara. Sektor pariwisata telah berhasil menjadi sumber utama pendapatan devisa di Jakarta sekaligus menginspirasi kota-kota lain di Indonesia
untuk membenahi potensi pariwisata yang dimilikinya. Jumlah wisatawan yang berkunjung ke tempat wisata
di DKI Jakarta juga meningkat setiap
tahunnya yang dibarengi dengan kedatangan wisatawan manca negara yang cenderung meningkat.
DKI Jakarta sebagai ibukota dari Indonesia juga memiliki potensi pariwisata yang dapat bersaing dengan kawasan-kawasan lain yang ada di Indonesia, banyak sekali atraksi-atraksi yang dapat dinikmati oleh wisatawan yang berkunjung ke DKI Jakarta, mulai dari bangunan bangunan
tua bersejarah, dark
tourism yaitu wisata yang menawarkan tentang sejarah yang kelam atau menyeramkan, sampai dengan wisata
bahari yang terletak di
Jakarta Utara yang menawarkan atraksi-
atraksi yang tidak biasa, salah satunya adalah di Kota Tua dan Kepulauan Seribu.
Sektor pariwisata DKI Jakarta sangat potensial karena wisatawan domestik maupun mancanegara yang berkunjung ke Jakarta dengan moda transportasi udara, dapat melalui
tiga pintu masuk yaitu Soekarno-Hatta (sering disebut dengan Soeta); Tanjung Priok, dan Halim Perdanakusumah.
Berdasarkan matriks destinasi yang dibuat oleh (Rahmanita, 2017) terlihat
bahwa Jakarta Utara dan Jakarta Selatan memiliki atraksi wisata yang lengkap baik alam, budaya,
dan buatan. Sedangkan
Jakarta Barat, Jakarta Pusat, dan Jakarta Timur memiliki
atraksi wisata budaya dan buatan. Khusus Kepulauan Seribu memiliki atraksi wisata alam. Berikut disajikan
destinasi wisata di kota/kabupaten Provinsi DKI Jakarta.
Metode Penelitian
Dalam penelitian ini
penulis menggunakan pendekatan kuantitatif. menyatakan bahwa, �pendekatan kuantitatif (John, 2014) adalah pengukuran
data kuantitatif dan statistik
objektif melalui perhitungan ilmiah berasal dari sampel
orang-orang atau penduduk
yang diminta menjawab atas sejumlah pertanyaan
tentang survey untuk menentukan frekuensi dan prosentase tanggapan mereka�.
Menurut (Creswell & Creswell,
2017) dalam pendekatan
kuantitatif ini penelitian akan bersifat pre-determinded, analisis data statistik serta interpretasi data statistik. Peneliti yang menggunakan pendekatan kuantitatif akan menguji suatu teori
dengan cara merinci suatu hipotesis-hipotesis
yang spesifik, lalu mengumpulkan data untuk mendukung atau membantah hipotesis-hipotesis tersebut. Pendekatan yang akan dilakukan dalam penelitian ini adalah pendekatan
analisis kuantitatif berdasarkan informasi statistika. Pendekatan penelitian yang dalam menjawab permasalahan penelitian memerlukan pengukuran yang cermat terhadap variabel- variabel dari objek
yang diteliti untuk menghasilkan kesimpulan yang dapat digeneralisasikan terlepas dari konteks
waktu, tempat dan situasi.
Hasil dan Pembahasan
A.
Deskripsi Umum Lokasi Penelitian
Berdasarkan Surat Keputusan Gubernur
Provinsi DKI Jakarta Nomor 171 tahun 2007 tentang Penataan, Penetapan dan Luas
Wilayah Kelurahan di Provinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta, secara geografis
luas wilayah DKI Jakarta adalah sluas 7.660 km2 , dengan luas daratan sebesar
662 km2 (termasuk 110 pulau� yang
tersebar di Kepulauan Seribu) dan luas lautan sebesar 6.998 km2.
���� �� Batas sebelah utara Jakarta terbentang
pantai sepanjang 32 km yang� menjadi
tempat bermuaranya 13 sungai, 2 kanal, dan 2 flood way. Sebagian besar
karakteristik wilayah Provinsi DKI Jakarta berada di bawah permukaan air laut
pasang. Kondisi tersebut mengakibatkan sebagian wilayah di Provinsi DKI� Jakarta rawan genangan, baik karena curah
hujan yang tinggi maupun karena semakin tingginya air laut pasang (rob).
Selanjutnya dapat dilihat pada gambar di atas bahwa batas wilayah sebelah barat
Provinsi DKI Jakarta adalah Provinsi Banten, serta di sebelah selatan dan timur
berbatasan dengan wilayah Provinsi Jawa Barat. Secara rinci, batas administrasi
Provinsi DKI Jakarta dapat pada gambar 4.1 berikut:
�����������
����
Gambar 1
Peta Administrasi Provinsi DKI Jakarta
Sumber : Bappeda Provinsi DKI Jakarta, 2020
���
Provinsi DKI Jakarta merupakan dataran rendah yang terletak pada posisi 5019�12� Lintang Selatan - 6 0 23� 54� Lintang
Selatan dan 106022� 42� Bujur Timur - 106058� 18� Bujur Timur dengan ketinggian rata-rata �7 meter di atas
permukaan laut. Dalam hal administrasi
pemerintahan, Provinsi DKI
Jakarta dibagi menjadi 5
(lima) kota administrasi
dan 1 (satu) kabupaten administrasi.� Hal tersebut dimaksudkan guna meningkatkan pelayanan kepada masyarakat agar lebih efektif dan efisien. Wilayah kecamatan terbagi menjadi 44 kecamatan, dan kelurahan menjadi 267 kelurahan, dengan rincian sebagai berikut:
����������� ���������
Tabel 1
Pembagian Wilayah Provinsi DKI �Jakarta
|
No. |
Kota/Kabupaten
Administrasi |
Luas Area (Km2) |
Jumlah |
|||
|
Kelurahan |
Kecamatan |
RW |
RT |
|||
|
1 |
Jakarta Pusat |
48,13 |
8 |
44 |
389 |
4.572 |
|
2 |
Jakarta
Utara |
146,66 |
6 |
31 |
449 |
5.223 |
|
3 |
Jakarta
Barat |
129,54 |
8 |
56 |
586 |
6.481 |
|
4 |
Jakarta
Selatan |
141,27 |
10 |
65 |
576 |
6.088 |
|
5 |
Jakarta
Timur |
188,03 |
10 |
65 |
707 |
7.926 |
|
6 |
Kepulauan Seribu |
8,70 |
2 |
6 |
24 |
127 |
|
|
Jumlah |
662,33 |
44 |
267 |
2.731 |
30.417 |
���� Sumber: Biro Tata Pemerintahan Setda Provinsi DKI Jakarta � data diolah, 2018.
������
Wilayah Provinsi DKI Jakarta terluas adalah Kota Administrasi Jakarta Timur, yaitu
27,65 persen dari luas Provinsi DKI Jakarta, sedangkan wilayah terkecil adalah Kabupaten Administrasi Kepulauan Seribu dengan luas
1,28 persen, sebagaimana ditunjukkan pada Gambar� 2 berikut:

�������������� Gambar�
2
Komposisi Pembagian
Wilayah Kota dan Kabupaten Administrasi
Sumber : Keputusan Gubernur Provinsi DKI Jakarta Nomor 171 Tahun 2007 � data diolah, 2017��
Jakarta merupakan
wilayah yang sangat strategis
baik dalam lingkup nasional, regional, maupun internasional. Oleh karena itu, dalam
pengembangan wilayah mempgkungan
strategis sekitarnya. Dalam pengembangan wilayah, rencana struktur ruang DKI Jakarta merupakan perwujudan dan penjabaran dari struktur ruang
kawasan perkotaan Jabodetabekpunjur. Sejalan dengan hal tersebut,
maka perencanaan struktur ruang telah memperhatikan berbagai aspek lingkungan strategis yang diduga akan mempengaruhi
perkembangan kota Jakarta secara keseluruhan. Rencana struktur ruang yang dikembangkan di DKI
Jakarta meliputi empat struktur ruang, yaitu sistem pusat
kegiatan, sistem dan jaringan transportasi, sistem prasarana sumber daya air, dan sistem dan jaringan utilitas perkotaan.
������ Sistem pusat kegiatan
terdiri dari sistem pusat kegiatan
primer dan� sekunder. Sistem dan jaringan trasnportasi terdiri dari sistem
dan jaringan transportasi darat, transportasi laut dan transportasi udara. Selanjutnya sistem prasarana sumber daya air terdiri dari sistem
konservasi sumber daya air, sistem pendayagunaan sumber daya air, dan sistem pengendalian daya rusak air. Sedangkan sistem dan jaringan utilitas perkotaan terdiri atas sistem
dan jaringan air bersih, sistem prasarana dan sarana pengelolaan air limbah, sistem prasarana dan sarana pengelolaan sampah, sistem dan jaringan energi, serta sistem
dan jaringan telekomunikasi.
B.
Kondisi Demografis
������ �Pertumbuhan penduduk dapat dipengaruhi oleh kelahiran, kematian, dan migrasi. Pada tahun 2016 jumlah penduduk Provinsi DKI Jakarta mencapai 10.277.628 jiwa. Dilihat dari komposisi
penduduk menurut jenis kelamin, jumlah penduduk laki-laki Provinsi DKI Jakarta tahun 2015 sebanyak� 5.159.683 jiwa atau 50,20 persen dari jumlah
keseluruhan penduduk, sedikit lebih banyak
dibandingkan jumlah penduduk perempuan yaitu sebanyak 5.117.945 jiwa atau 49,80 persen. Oleh karenanya, Provinsi DKI Jakarta pada tahun
2016 memiliki sex ratio sebesar
100,8 penduduk laki-laki
per 100 penduduk perempuan.
Rincian perkembangan komposisi penduduk dari tahun 2012 sampai dengan tahun
2016 adalah sebagai berikut:
������������� Tabel 2
Perkembangan Jumlah
Penduduk Provinsi DKI
Jakarta Tahun 2012 � 2016
|
No. |
Uraian |
|
|
Tahun |
|
|
|
|
|
|
SP2000 |
2 |
2013 |
2014 |
2015 |
2016 |
|
1 |
Laki-laki |
4.223.125 |
4.976.048 |
5.023.545 |
5.059.925 |
5.115.357 |
5.159.583 |
|
2 |
Perempuan |
4.123.958 |
4.886.040 |
4.946.494 |
5.005.385 |
5.062.567 |
5.117.945 |
|
3 |
Jumlah |
8.347.083 |
9.862.088 |
9.969.948 |
10.075.310 |
10.177.924 |
10.277.628 |
|
4 |
Pertumbuhan |
0,78 |
1,13 |
1,09 |
1,06 |
1,09 |
0,98 |
|
5 |
Densitas (Ribu
jiwa/km2) |
12,60 |
14,89 |
15,05 |
15,23 |
15,37 |
15,51 |
|
6 |
Sex
Ratio |
102,00 |
101,80 |
101,60 |
101,70 |
101,04 |
100,80 |
Sumber : Badan Pusat Statistik Provinsi ���DKI Jakarta, 2018
Jumlah penduduk
Provinsi DKI Jakarta cenderung
terus meningkat dari tahun ke
tahun, dengan pertumbuhan pada tahun 2012 sebesar 1,13 persen, tahun 2013 sebesar 1,09 persen, tahun 2014 sebesar 1,06 persen, tahun 2015 sebesar 1,09 persen, dan tahun 2016 sebesar 0,98 persen. Provinsi DKI Jakarta memiliki kepadatan penduduk tertinggi dibandingkan dengan provinsi lainnya di Indonesia, dengan kepadatan penduduk 15,51 ribu jiwa/Km2.
Berdasarkan distribusi dan kepadatan penduduk, wilayah yang memiliki tingkat kepadatan penduduk terbanyak adalah Jakarta Barat dengan tingkat kepadatan sebesar 19.268,20 orang dan terendah
adalah kepulauan seribu dengan tingkat
kepadatan sebesar 2.714,48
orang. Sementara dilihat dari persentasenya, wilayah yang memiliki tingkat persentase tertinggi adalah Jakarta Timur sebesar
27,91 persen dan Jakarta Barat sebesar
24,29. Sementara yang paling rendah
adalah Kepualauan Seribu sebesar 0,23 dan Jakarta
Pusat sebesar 8,93 orang.
Tabel 3
Distribusi dan Kepadatan Penduduk menurut Kabupaten / Kota di Provinsi DKI
Jakarta Tahun 2016
|
No. |
Kabupaten / Kota |
Persentase Penduduk |
Kepadatan Penduduk per Km2 |
|
1 |
Kepulauan Seribu |
0,23 |
2.714,48 |
|
2 |
Jakarta Selatan |
21,47 |
15.620,67 |
|
3 |
Jakarta Timur |
27,91 |
15.257,72 |
|
4 |
Jakarta Pusat |
8,93 |
19.068,23 |
|
5 |
Jakarta Barat |
24,29 |
19.268,20 |
|
6 |
Jakarta Utara |
17,17 |
12.032,01 |
|
7 |
DKI Jakarta |
100,00 |
15.517,38 |
Sumber : Badan Pusat Statistik Provinsi DKI Jakarta, 2017.
Secara umum,
komposisi penduduk menurut jenis kelamin
memiliki tren yang hampir sama antar
wilayah Kota/Kabupaten Administrasi,
penduduk laki- laki cenderung berjumlah sama banyak dibandingkan penduduk perempuan. Jumlah penduduk tertinggi adalah Kota Administrasi Jakarta Timur yaitu sebanyak 2.892.783 jiwa, sedangkan jumlah penduduk terendah terdapat pada Kabupaten Administrasi Kepulauan Seribu yaitu sebanyak
23.987 jiwa. Rincian jumlah penduduk menurut Kota/Kabupaten Administrasi sebagaimana ditampilkan dalam Tabel 4 berikut:
Tabel 4
Jumlah Penduduk Menurut Jenis Kelamin
dan Rasio Jenis Kelamin di Kota /Kabupaten Administrasi Provinsi DKI Jakarta
Tahun 2017
|
No |
Kota / Kab. Administrasi |
Jumlah Penduduk |
Rasio
Jenis Kelamin |
||
|
L |
P |
Total |
|||
|
1 |
Jakarta
Pusat |
459.628 |
461.716 |
921.344 |
99,55 |
|
2 |
Jakarta
Utara |
882.590 |
898.726 |
1.781.316 |
98,20 |
|
3 |
Jakarta
Barat |
1.276.097 |
1.251.968 |
2.528.065 |
101,93 |
|
4 |
Jakarta
Selatan |
1.114.688 |
1.112.142 |
2.226.830 |
100,23 |
|
5 |
Jakarta
Timur |
1.457.910 |
1.434.873 |
2.892.783 |
101,61 |
|
6 |
Kep.
Seribu |
11.902 |
11.995 |
23.897 |
99,22 |
|
|
Jumlah |
5.202.815 |
5.171.420 |
10.374.235 |
100,61 |
Sumber : Badan Pusat Statisti Provinsi DKI Jakarta, 2017.
C.
Pertumbuhan Ekonomi
Perekonomian DKI Jakarta mempunyai pangsa terbesar terhadap PDB nasional begitu juga dengan pangsa konsumsi rumah tanggaya. Konsumsi RT� DKI Jakarta memiliki
pangsa sebesar 18 terhadap PDB nasional kemudian diikuti dengan Jawa Timur sebesar 17 persen, Jawa Barat sebesar 16 persen dan Jawa Tengah sebesar 10 persen. Secara umum perekonomian
terpusat di wilayah Jawa dengan pangsa sebesar
61 persen. Dilihat dari strukturnya, perekonomian DKI Jakarta masih ditopang oleh konsumsi rumah tangga yaitu
sebesar 60 persen.
Perekonomian DKI Jakarta mengalami peningkatan. Realisasi pertumbuhan ekonomi DKI Jakarta
pada triwulan III 2019 sebesar
6,07% (yoy), lebih tinggi dibandingkan dengan capaian triwulan sebelumnya sebesar 5,72% (yoy). Kinerja ekonomi DKI Jakarta juga mampu tumbuh lebih tinggi
dibandingkan dengan pertumbuhan ekonomi nasional yang tercatat sebesar 5,02% (yoy). Meningkatnya pertumbuhan ekonomi pada triwulan III 2019 ditopang oleh membaiknya kinerja ekspor dan masih kuatnya konsumsi
rumah tangga. Perbaikan kinerja ekspor didukung baik oleh komponen ekspor antardaerah maupun ekspor luar
negeri terutama untuk komoditas alat angkut. Sementara itu konsumsi masih
kuat meski mengalami perlambatan, baik yang berasal dari konsumsi rumah
tangga, lembaga nonprofit
yang melayani rumah tangga (LNPRT), maupun pemerintah. Inflasi Provinsi DKI Jakarta yang relatif
terkendali, cukup dapat menjaga daya
beli. Dari sisi lapangan usaha (LU), kenaikan pertumbuhan ekonomi terutama berasal dari LU Perdagangan Besar dan Eceran, Reparasi Mobil dan Sepeda Motor; LU Informasi dan Komunikasi; LU Jasa Keuangan dan Asuransi; dan LU Jasa Perusahaan. Sementara
itu, industri pengolahan, yang merupakan LU dengan pangsa terbesar
kedua, juga menunjukkan perbaikan meski masih terkontraksi. Dari sisi stabilitas harga, inflasi DKI Jakarta mengalami peningkatan. Kenaikan tekanan inflasi terjadi pada kelompok bahan makanan, makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau, serta sandang. Kenaikan harga emas global pada triwulan III
2019 memengaruhi dinamika harga emas perhiasan
di Jakarta. Meskipun demikian,
perkembangan realisasi inflasi DKI Jakarta hingga triwulan III 2019 masih mendukung pencapaian sasaran inflasi nasional tahun 2019 yang ditetapkan sebesar 3,5% � 1%.
Pertumbuhan ekonomi DKI Jakarta yang meningkat berdampak positif bagi kesejahteraan
masyarakat ibukota. Penyerapan tenaga kerja di DKI Jakarta mengalami perbaikan seiring masih tingginya pertumbuhan ekonomi pada triwulan III 2019. Tingkat Pengangguran
Terbuka (TPT) DKI Jakarta mengalami sedikit penurunan yaitu dari 6,24% pada Agustus 2018 menjadi 6,22% pada Agustus 2019.
Tabel dan Gambar diletakkan di dalam kelompok teks sesudah
tabel atau gambar tersebut dirujuk. Setiap gambar harus diberi judul gambar (Figure Caption) di sebelah bawah gambar
tersebut dan bernomor urut
angka diikuti dengan judul
gambar. Setiap tabel harus diberi judul tabel (Table Caption) dan bernomor urut angka
di sebelah atas tabel tersebut diikuti dengan judul tabel. Gambar-gambar harus dijamin
dapat tercetak dengan jelas (ukuran font, resolusi dan ukuran garis
harus yakin tercetak jelas). Gambar dan
tabel dan diagram/skema sebaiknya diletakkan sesuai kolom diantara kelompok teks atau
jika terlalu besar diletakkan di bagian tengah halaman. Tabel tidak boleh mengandung
garis-garis vertikal, sedangkan garis-garis horisontal diperbolehkan tetapi hanya
yang penting-penting saja.
Kondisi
stabilitas keuangan di DKI Jakarta masih terjaga di tingkat yang aman, meskipun
fungsi intermediasi perbankan menjadi perhatian. Stabilitas sistem keuangan
yang terjaga tercermin dari rasio kredit bermasalah (Non Performing Loan/NPL)
berdasarkan lokasi proyek yang tetap rendah yakni 1,83%. Pertumbuhan DPK
meningkat lebih tinggi sebesar 6,69% dibandingkan triwulan sebelumnya. Meskipun
demikian, kredit berdasarkan lokasi proyek hanya tumbuh sebesar 8,37% (yoy),
melambat dibandingkan dengan pertumbuhan pada triwulan sebelumnya. Begitupula
aset perbankan, tumbuh melambat dibandingkan dengan pertumbuhan pada triwulan
sebelumnya. Kinerja korporasi secara keseluruhan masih terjaga. Produktivitas,
profitabilitas, dan likuiditas mengalami kenaikan di tengah solvabilitas yang
sedikit menurun. Kinerja sektor rumah tangga (RT) masih terjaga, meski tumbuh
lebih rendah dari triwulan sebelumnya. Sementara itu,
pertumbuhan kredit UMKM pada triwulan laporan relatif membaik dibandingkan
dengan triwulan sebelumnya.
Seiring dengan menguatnya konsumsi masyarakat yang didorong oleh datangnya momen hari besar keagamaan,
aktivitas transaksi keuangan nontunai meningkat. Transaksi keuangan masyarakat DKI Jakarta secara tunai mengalami
penurunan, sementara nontunai menunjukan peningkatan. Turunnya transaksi tunai terlihat dari jumlah
penarikan (outflow) yang lebih
rendah dibandingkan dengan triwulan sebelumnya. Sementara itu, peningkatan transaksi nontunai terjadi baik dari
sistem kliring nasional (SKN-BI) maupun Bank
Indonesia Real Time Gross Settlement (BI-RTGS).
Pada triwulan IV 2019, membaiknya pertumbuhan ekonomi Provinsi DKI Jakarta diprakirakan
masih berlanjut yang menopang pertumbuhan ekonomi selama tahun 2019. Pertumbuhan ekonomi diprakirakan sedikit meningkat dalam kisaran 5,9%-6,3% yang bersumber dari berlanjutnya aktivitas ekspor serta kegiatan
investasi baik Pemerintah maupun swasta. Untuk keseluruhan
tahun, ekonomi Provinsi DKI Jakarta diprakirakan
tumbuh dalam kisaran 5,8%-6,2%, melambat dari tahun 2018 sebesar 6,17% (yoy), yang bersumber dari kontraksi ekspor dan investasi.
Dengan memerhatikan kondisi ekonomi terkini, serta prospek ekonomi global maupun nasional, ekonomi DKI Jakarta pada tahun
2020 diprakirakan masih dapat tumbuh meningkat.
Pada triwulan I 2020 ekonomi
di Jakarta diprakirakan sedikit
melambat dari triwulan sebelumnya namun untuk keseluruhan
tahun diprakirakan meningkat dari tahun 2019. Pertumbuhan ekonomi DKI Jakarta pada 2020 diprakirakan
berada di kisaran 5,9%-6,3%
(yoy). Kenaikan pertumbuhan ekonomi diprakirakan bersumber dari membaiknya kinerja investasi dan ekspor. Pertumbuhan ekonomi Jakarta pada tahun 2020 masih dibayangi risiko, khususnya yang bersumber dari dinamika ekonomi global, yang dapat mengganggu upaya peningkatan kinerja ekspor.
Tabel 5
Pendapatan Asli Daerah (PAD) Provinsi
DKI Jakarta Tahun 2015 � 2019
(dalam Juta)
|
URAIAN |
TAHUN |
||||||||||||||
|
2015 |
2016 |
2017 |
2018 |
2019 |
|||||||||||
|
Pendapatan Asli Daerah |
37.960.000,00 |
38.500.000,00 |
41.690.000,00 |
44.320.000,00 |
42.620.000,00 |
||||||||||
|
1.1 |
Pajak Daerah |
32.580.000,00 |
33.100.000,00 |
35.360.000,00 |
38.100.000,00 |
36.890.000,00 |
|||||||||
|
|
1 |
Pajak Kendaraan Bermotor |
6.823.923,83 |
6.932.838,51 |
7.406.198,48 |
7.980.095,09 |
7.726.658,99 |
||||||||
|
|
2 |
BBN Kendaraan Bermotor |
5.249.882,37 |
5.333.674,23 |
5.697.846,55 |
6.139.365,21 |
5.944.387,99 |
||||||||
|
|
3 |
Pajak Bahan Bakar Kendaraan
Bermotor |
1.381.364,26 |
1.403.411,82 |
1.499.233,89 |
1.615.407,56 |
1.564.104,59 |
||||||||
|
|
4
Pajak Hotel
dan Restoran 5
Pajak Hiburan |
3.996.223,88 682.145,46 |
4.060.006,46 693.032,99 |
4.337.215,36 740.351,86 |
4.673.300,48 797.720,75 |
4.524.883,33 772.386,32 |
|||||||||
|
|
|||||||||||||||
|
|
6 |
Pajak Reklame |
801.103,77 |
813.889,96 |
869.460,69 |
936.834,06 |
907.081,59 |
||||||||
|
|
7 |
Pajak Penerangan
Jalan |
817.818,21 |
830.871,17 |
887.601,34 |
956.380,41 |
926.007,17 |
||||||||
|
|
8 |
Pajak Lain-lain |
12.827.538,22 |
13.032.274,86 |
13.922.091,82 |
15.000.896,44 |
14.524.490,02 |
||||||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
||||||||
|
1.2 |
Retribusi Daerah |
610.000,00 |
650.000,00 |
680.000,00 |
670.000,00 |
540.000,00 |
|||||||||
|
|
1 |
Retribusi Jasa
Umum |
120.016,85 |
127.886,81 |
133.789,28 |
131.821,79 |
106.244,43 |
||||||||
|
|
2� Retribusi Jasa Usaha |
123.874,96 |
131.997,90 |
138.090,12 |
136.059,38 |
109.659,80 |
|||||||||
|
|
3 |
Retribusi Perijinan Tertentu |
366.108,19 |
390.115,28 |
408.120,61 |
402.118,83 |
324.095,77 |
||||||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
||||||||
|
1.3 |
Hasil Pengelolaan Kekayaan daerah yang dipisahkan |
640.000,00 |
320.000,00 |
470.000,00 |
590.000,00 |
590.000,00 |
|||||||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
||||||||
|
1.4 |
Penerimaan Lain-lain |
4.130.000,00 |
4.430.000,00 |
5.180.000,00 |
4.960.000,00 |
4.600.000,00 |
|||||||||
Sumber : Badan Pengelola Keuangan Daerah Provinsi DKI Jakarta, 2020.
Dari tabel 4.5 dapat dilihat bahwa
sumbangan industri pariwisata Provinsi DKI Jakarta terhadap Pendapatan Asli Daerah
(PAD) Provinsi DKI Jakarta dari
tahun 2015-2019. Kontribusi
industri pariwisata terhadap PAD pada tahun 2015 sebesar Rp. 5.215.657.330.000,- atau sebesar 12,78% dari penerimaan PAD secara keseluruhan pada tahun 2015, sedangkan tahun 2016 sebesar Rp.5.885.037.350.000, atau sebesar 12,68%, tahun 2017 sebesar Rp.5.215.657.330.000, atau sebesar 12,78%, tahun 2018 sebesar Rp. 5.607.080.620.000,- atau sebesar 12,88% dan tahun 2019 sebesar Rp. 5.406.929.440.000,- atau sebesar 12,81%. Dari data diat kontribusi industri pariwisata berkisar sebesar 12% lebih dari PAD yang diterima pada tahun itu.
D.
Perkembangan Sektor Pariwisata
Sektor pariwisata merupakan salah satu sektor strategis dalam pengembangan perekonomian suatu daerah. Pariwisata dengan segala aspeknya
dapat memberikan kontribusi kepada berbagai aspek kehidupan, baik secara ekonomi maupun non ekonomi. Pengembangan sektor pariwisata di Provinsi DKI
Jakarta dirasakan semakin penting karena selain mampu meningkatkan
perkembangan ekonomi juga mampu memperluas kesempatan kerja dan pemerataan pendapatan. Dalam upaya membantu
menciptakan kesempatan kerja bagi penduduk
usia kerja, kegiatan pariwisata memiliki peran yang cukup strategis. Beroperasinya usaha - usaha dalam bentuk
hotel-hotel berbintang ataupun
penginapan-penginapan, restoran,
obyek-obyek wisata, usaha-usaha jasa pariwisata, usaha transportasi dan komunikasi, serta usaha-usaha jasa hiburan dan rekreasi akan memberi
kontribusi dalam bentuk kesempatan bekerja bagi masyarakat
dan hal ini tentu akan berperan
dalam mengurangi angka pengangguran.
Dengan demikian, kedatangan wisatawan ke suatu daerah
dalam hal ini Provinsi DKI Jakarta akan membuka peluang
bagi masyarakat untuk menjadi pengusaha
atau pengelola hotel, restoran, usaha transportasi, pengelolaan obyek wisata dan jasa hiburan sehingga
peluang tersebut akan memberikan kesempatan kepada masyarakat lokal untuk bekerja dan nantinya masyarakat akan memperoleh pendapatan dari pekerjaan tersebut.
Terkait dengan slogan DKI Jakarta yaitu �Enjoy Jakarta�, memberikan
pesan bahwa Jakarta pantas sebagai destinasi wisata dan budaya favorit bagi wisatawan baik nusantara maupun mancanegara. Jakarta menawarkan lokasi hiburan serta rekreasi
terbaik mulai dari Taman Impian Jaya Ancol dengan berbagai aktivitas menarik, Taman Mini
Indonesia Indah yang menampilkan keragaman
budaya Indonesia, serta Kebun Binatang Ragunan dengan kekayaan satwa didalamya.
DKI Jakarta sebagai ibukota dari Indonesia juga memiliki potensi pariwisata yang dapat bersaing dengan kawasan-kawasan lain yang ada di Indonesia, banyak sekali atraksi-atraksi yang dapat dinikmati oleh wisatawan yang berkunjung ke DKI Jakarta, mulai dari bangunan bangunan
tua bersejarah, dark
tourism yaitu wisata yang menawarkan tentang sejarah yang kelam atau menyeramkan, sampai dengan wisata
bahari yang terletak di
Jakarta Utara yang menawarkan atraksi-atraksi
yang tidak biasa, salah satunya adalah di Kota Tua dan Kepulauan Seribu.
Sektor pariwisata DKI Jakarta sangat potensial karena wisatawan domestik maupun mancanegara yang berkunjung ke Jakarta dengan moda transportasi udara, dapat melalui
tiga pintu masuk yaitu Soekarno-Hatta (sering disebut dengan Soeta); Tanjung Priok, dan Halim Perdanakusumah.
Berdasarkan matriks destinasi
yang dibuat oleh (Rahmanita, 2017) terlihat
bahwa Jakarta Utara dan Jakarta Selatan memiliki atraksi wisata yang lengkap baik alam, budaya,
dan buatan. Sedangkan
Jakarta Barat, Jakarta Pusat, dan Jakarta Timur memiliki
atraksi wisata budaya dan buatan. Khusus Kepulauan Seribu memiliki atraksi wisata alam. Berikut disajikan
destinasi wisata di kota/kabupaten Provinsi DKI Jakarta.
Tabel 6
Destinasi Wisata di Kota / Kabupaten di Provinsi DKI Jakarta
|
Jakarta
Utara |
||
|
Wisata
Alam |
Wisata
Budaya |
Wisata
Buatan |
|
1.
Taman Suaka Marga
Satwa Muara Angke 2.
Taman Wisata Alam Mangrove Angke Kapuk 3.
Taman Impian Jaya
Ancol 4.
Pantai Marunda |
1.
Kampung Marunda 2. Kampung
Tugu 3.
Masjid Luar
Batang 4.
Makam Mbah
Priuk 5.
Rumah Si Pitung 6.
Museum Bahari 7.
Menara Syahbandar 8.
Galangan VOC 9.
Pelabuhan Sunda Kelapa |
1.Dunia Fantasi, Seaworld, Atlantis, Water Adventure, Ocean Dream Samudra,
Alive Museum, Pasar Seni 2.Waterbom Jakarta 3.Pantai Indah Kapuk 4.Pasar Ikan Muara Angke 5.Mall BayWalk, Mall Pluit Village.
Mall Arta Gading, Mall Kelapa
Gading, La Piazza, WTC Mangga Dua,
Mangga Dua Square, Mall Of
Indonesia (MOI), Emporium Pluit Mall, 6.AmpedTrampolin Park, 7.Damai Indah
Golf dan Country Club Kalijodo |
|
Jakarta
Barat |
||
|
Wisata
Alam |
Wisata
Budaya |
Wisata
Buatan |
|
|
1.
Kawasan Kota
Tua 2.
Museum: Museum Sejarah Jakarta, Museum
Bank Indonesia, Museum Bank Mandiri, Museum Wayang, Museum
Seni Rupa dan Keramik, Museum Tekstil 3.
Jembatan Kota Intan 4.
Toko Merah 5.
Caf� Batavia 6.
Stasiun Beos/Kota 7.
Masjid Langgar Tinggi (1829) 8.
Gereja Sion (Portugis) |
1.Mall: Taman Anggrek
Mall, Citraland Mall, Central Park Mall, Seasons
City Mall, Puri Indah Mall, 2.Pasar KembangRawabelong 3.Pasar Asemka 4.Pasar Petak
Sembilan, Pecinan Glodok 5.Taman Cattleya 6.Club, Bar
& Lounge: Colosseum, Golden Crown, Sun City, Illigal |
|
BB |
||
|
Wisata
Alam |
Wisata
Budaya |
Wisata
Buatan |
|
|
1.
Istana Negara &
Istana Merdeka 2.
Gereja Katedral &
Gereja Ayam 3.
Masjid Istiqlal 4.
Taman Ismail Marzuki 5.
Gedung Kesenian Jakarta (didirikan tahun 1884
oleh Sir T.S. Raffles) 6.
Gedung Pertunjukan Wayang Orang Bharata 7.
Monumen Nasional (Monas) Jakarta |
1.Mall: Taman Anggrek
Mall, Citraland Mall, Central Park Mall, Seasons
City Mall, Puri Indah Mall, 2.Pasar KembangRawabelong 3.Pasar Asemka 4.Pasar Petak
Sembilan, Pecinan Glodok 5.Taman Cattleya 6.Club, Bar
& Lounge: Colosseum, Golden Crown, Sun City, Illigal |
���������
Jumlah wisatawan yang berkunjung ke suatu daerah
sangat erat kaitannya terhadap pendapatan daerah itu sendiri. Semakin
lama wisatawan tinggal di suatu daerah tujuan
wisata, maka semakin banyak pula uang dibelanjakan di daerah tujuan wisata tersebut,
paling sedikit untuk keperluan makan, minum, dan penginapan selama tinggal di daerah tersebut (Nasrul, 2010).
Pariwisata Provinsi DKI Jakarta yang terus berkembang akan menarik minat
wisatawan untuk berkunjung ke pulau-pulau
resort dan pemukiman di Kepulauan
Seribu. Ketika wisatawan berkunjung ke suatu
obyek wisata, maka wisatawan tersebut dikenakan biaya paket wisata
di pulau resort tersebut.
Selain ketersediaan obyek wisata yang menjadi tujuan wisata, ketersediaan akan sarana berupa
hotel dan restoran merupakan
hal yang wajib tersedia di daerah tujuan wisata. Provinsi DKI Jakarta, dengan segala daya tarik
wisatanya dan fasilitas pendukung yang dimiliki, maka hotel dan restoran dapat dijadikan sebagai sumber pendapatan daerah melalui sektor pajak (Pertiwi & Ainsworth, 2020).
Kesimpulan
Berdasarkan
analisis data dari hasil penelitian yang ada, penulis menyampaikan kesimpulan bahwa hgasil analisis penelitian ini menunjukkan
bahwa Jumlah Kunjungan memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap PAD
sektor Pariwisata di Provinsi DKI Jakarta. Ini menggambarkan bahwa semakin
tinggi jumlah kunjungan wisatawan ke destinasi wisata di Provinsi DKI Jakarta
maka akan semakin tinggi pula PAD sektor Pariwisata di Provinsi DKI Jakarta, 2. Hasil analisis penelitian ini menunjukkan bahwa Lama Tinggal wisatawan di destinasi wisata Provinsi DKI Jakarta memiliki pengaruh negatif dan signifikan terhadap peningkatan PAD sektor Pariwisata di Provinsi DKI
Jakarta. Ini menggambarkan bahwa semakin lama kunjungan ke obyek
wisata maka semakin tinggi PAD sektor Pariwisata dan semakin cepat kunjungan
ke obyek wisata, maka semakin
rendah PAD sektor Pariwisata.
Hasil analisis
penelitian ini menunjukkan bahwa Belanja Wisatawan memiliki pengaruh positif
dan signifikan terhadap PAD sektor Pariwisata di Provinsi DKI Jakarta. Ini
menggambarkan bahwa semakin tinggi belanja wisatawan di destinasi wisata di
Provinsi DKI Jakarta maka akan semakin tinggi pula PAD sektor Pariwisata di
Provinsi DKI Jakarta. Secara bersama-sama Jumlah Kunjungan, Lama Tinggal dan
Belanja Wisatawan memiliki pengaruh yang signifikasn terhadap PAD sektor
Pariwisata di Provinsi DKI Jakarta. Hal ini menandakan bahwa semakin tinggi
jumlah wisatawan yang berkunjung, menetap lama di destinasi wisata dan
mengeluarkan uang untuk kebutuhan selama berwisata akan meningkatkan PAD sektor
Pariwisata di Provinsi DKI Jakarta.
BIBLIOGRAFI
Creswell,
J. W., & Creswell, J. D. (2017). Research Design: Qualitative,
Quantitative, And Mixed Methods Approaches. Sage Publications.
Dardiri,
A., Alfianto, I., Kuncoro, T., Sugandi, R. M., & Suswanto, H. (2018). Implementing
Entrepreneurial Leadership In Technology And Vocational Education (TVE) Organisations.
Fajri,
M., Delis, A., & Amzar, Y. V. (2016). Dampak Otonomi Fiskal, Pertumbuhan
Ekonomi, dan Keterbukaan Daerah terhadap Ketimpangan Wilayah di Sumatera. Jurnal
Ekonomi Kuantitatif Terapan.
Indonesia,
P. (1999). Undang-undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang pemerintahan daerah.
Bagian Proyek Peningkatan Publikasi Pemerintah, Direktorat Publikasi,
Ditjen �.
John,
W. C. (2014). Penelitian Kualitatif dan Desain Riset, Memilih diantara Lima
Pendekatan. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Kusumawardhani.
(2013). Game Edukasi Membatik Dan Rancang Busana Batik �Ayo Mbatik!". Jurnal
Ilmiah STMIK Amikom Yogyakarta, 50(5).
Nasrul,
B. (2010). Penyebaran Dan Potensi Lahan Gambut Di Kabupaten Bengkalis Untuk
Pengembangan Pertanian. Jurnal Agroteknologi, 1(1), 1�7.
Pertiwi,
K., & Ainsworth, S. (2020). �Democracy is the Cure?�: Evolving
Constructions of Corruption in Indonesia 1994�2014. Journal of Business
Ethics, 1�17.
Qoyyimah,
G. (2010). Analisis Perimbangan Keuangan Pusat-Daerah Dalam Konsep
Desentralisasi Fiskal Di Solo Raya Sebelum Dan Selama Otonomi Daerah 1997-2008.
Rahmanita,
M. (2017). Pengaruh Biaya Promosi Dan Biaya Produksi Terhadap Laba Bersih
Dengan Volume Penjualan Sebagai Variabel Intervening. Skripsi. Surakarta:
Program Sarjana IAIN Surakarta.
Santosa,
B. (2013). Pengaruh Pendapatan Asli Daeah Dan Dana Perimbangan Daerah Terhadap
Pertumbuhan, Pengangguran Dan Kemiskinan 33 Provinsi Di Indonesia. Jurnal
Keuangan & Bisnis Program Studi Magister Manajemen Sekolah Tinggi Ilmu
Ekonomi Harapan, 5(2), 130�143.
