|
Jurnal
Syntax Transformation |
Vol. 2
No. 2, Februari �2021 |
|
p-ISSN :
2721-3854 e-ISSN : 2721-2769 |
Sosial
Sains |
EKSPRESI INTERLEUKIN 1 DAN TUMOR NECROSIS FACTOR ALPHA
PADA PEMBERIAN ROPIVACAIN DI SEKITAR LUKA TERHADAP PROSES PENYEMBUHAN LUKA
Ardiansyah,
Arie Utariani, Christrijogo
Sumartono, Bambang Pujo Semedi dan Imam Susilo
Universitas Airlangga, Surabaya, Jawa Tengah, Indonesia
Email: [email protected], [email protected], [email protected], [email protected], dan [email protected]
|
INFO ARTIKEL |
ABSTRACT |
|
Diterima: 2 Februari
2021 Diterima dalam bentuk revisi: 05 Februari 2021 Diterima dalam bentuk revisi: 15 Februari 2021
Keywords: Ropivacaine;
IL-1; TNF-α Dan Wound healing. Kata
Kunci: Ropivacaine; IL-1; TNF-α Dan Wound healing. |
Background:
Wounds are a disruption of tissue integrity due to trauma. Inadequate
post-traumatic pain management, like surgery, will result in impaired wound
healing. One of the important factors in wound healing in the acute phase in
the first 3 days is the expression of Tumor Necrosis Factor (TNF)-a dan
Interleukin (IL)-1. TNF-a dan IL-1β are two main inflammatory cytokines
that work synergistically to amplify the inflammatory response and they have
the effect of accelerating wound healing. Pain can increase β endorphins
by the anterior pituitary gland and have the effect of suppressing
macrophages, so that their activity decreases. This decrease results in
decreased activity of cytokines released by macrophages such as TNF-α,
IL-1, IL-6, IL-8, TGF β; So that it can inhibit wound healing. The aim
of this study was to prove the effect of ropivacaine infiltration injection
in increasing IL-1 and TNF-a. expression in the wound healing process.Methods: 24 male Wistar
rats were divided into 2 groups (Treatment groups (P) and Control groups
(K)), then superficial-thickness incisional wound was made on the back of
each rat. The control group was not given ropivacaine infiltration injection,
while the treatment group was given. Each group was divided into 2
sub-groups, each consisting of 6 mice, terminated on the 3rd and 7th day.
Then a histopathological evaluation was performed to determine whether there
was an increase in IL-1 and TNF-a expression around the incision wound
tissue. The collected data were then analyzed using the SPSS program.Results: The
administration of ropivacaine infiltration in superficial-thickness
incisional wounds improved wound healing characterized by the increase number
of IL-1 and TNF-a expression in day 3 after incision. Conclusion: Injection
of ropivacaine infiltration around the incision wound has a beneficial effect
on the superficial wound healing process of Wistar rats at third day.. ABSTRAK Latar Belakang: Luka merupakan gangguan
integritas jaringan akibat trauma. Penanganan nyeri pasca trauma yang tidak memadai, seperti pembedahan, akan mengakibatkan gangguan penyembuhan luka. Salah satu faktor penting dalam penyembuhan luka fase akut
pada 3 hari pertama adalah ekspresi Tumor Necrosis
Factor (TNF) -a dan Interleukin (IL) -1. TNF-a dan IL-1β merupakan dua sitokin inflamasi
utama yang bekerja secara sinergis untuk memperkuat respon inflamasi dan memiliki efek mempercepat penyembuhan luka. Nyeri dapat meningkatkan
β endorfin oleh kelenjar
hipofisis anterior dan mempunyai
efek menekan makrofag, sehingga aktivitasnya menurun. Penurunan ini mengakibatkan penurunan aktivitas sitokin yang dilepaskan oleh makrofag seperti TNF-α, IL-1, IL-6, IL-8, TGF β; Sehingga bisa menghambat penyembuhan luka. Tujuan penelitian ini adalah untuk
membuktikan pengaruh injeksi infiltrasi ropivacaine dalam meningkatkan IL-1 dan
TNF-a. ekspresi dalam
proses penyembuhan luka. Metode: 24 ekor tikus Wistar jantan dibagi menjadi 2 kelompok (Kelompok Perlakuan (P) dan Kelompok Kontrol (K)), kemudian dibuat luka insisi
ketebalan superfisial
pada punggung masing-masing tikus.
Kelompok kontrol tidak diberikan suntikan infiltrasi
ropivacaine, sedangkan kelompok
perlakuan diberikan. Setiap kelompok dibagi menjadi 2 sub kelompok yang masing-masing terdiri
dari 6 ekor mencit, diterminasi pada hari ke-3 dan ke-7. Kemudian
dilakukan evaluasi histopatologi
untuk mengetahui apakah terdapat peningkatan ekspresi IL-1 dan
TNF-a di sekitar jaringan
luka sayatan. Data yang terkumpul kemudian dianalisis dengan menggunakan program SPSS. Hasil: Pemberian
infiltrasi ropivacaine pada luka
insisi dengan ketebalan superfisial meningkatkan penyembuhan luka yang ditandai dengan peningkatan jumlah ekspresi IL-1 dan TNF-a
pada hari ke 3 setelah insisi. Kesimpulan: Suntikan infiltrasi ropivacaine
disekitar luka sayatan memiliki efek menguntungkan pada proses penyembuhan luka superfisial tikus Wistar hari ketiga. |
Pendahuluan
Luka merupakan
suatu gangguan integritas jaringan yang disebabkan oleh trauma, salah satunya
ialah tindakan pembedahan dalam operasi, (Nagle et al., 2020). Proses
penyembuhan luka terjadi dalam 3 fase, yaitu (1) fase inflamasi, (2) fase
proliferative dan (3) fase remodelling, (Sunarso Sulistiawan et al., 2011). Proses
regenerasi dan perbaikan jaringan terdiri dari urutan peristiwa molekuler dan
seluler yang terjadi setelah permulaan lesi untuk mengembalikan jaringan yang
rusak, (Gonzales, 2016). Pada tahap
awal, terjadi ektravasasi komponen darah yang bersifat vasoaktif. Hal ini menyebabkan
meningkatnya permeabilitas vaskular agar neutrofil (Polimorfonuklear (PMN)),
platelet, dan protein plasma dapat menginfiltrasi luka, (Paul et al, 2015).
Tumor Necrosis Factor (TNF) -α dan Interleukin (IL) -1 adalah dua sitokin
inflamasi utama yang umumnya bekerja secara sinergis untuk memperkuat respon
inflamasi. Selama perbaikan luka, TNF-α dan IL-1 terutama diekspresikan
oleh neutrofil dan makrofag.
Salah satu
teknik yang saat ini banyak diteliti ialah infiltrasi sekitar area insisi.
Infiltrasi luka lokal anestesi (LA) dapat memiliki manfaat mempercepat
penyembuhan luka, (Abrao & da Fonseca, 2016), pemberian
secara subkutan menunjukkan efek bakteriostatik dan bakterisidal, (Bhaskar, 2015).
Infiltrasi
anestesi lokal menggunakan Ropivakain dapat mengurangi intensitas nyeri dengan
memblok Na Channel pada proses transmisi, hal ini menyebabkan penurunan sekresi
hormon kortisol (glukokrtikoid) dan menghilangkan salah satu faktor penghambat
penyembuhan luka. Pada human dan animal trial menunjukkan efek toksik yang
rendah, (Pramono et al., 2016). Nyeri dapat
meningkatkan kadar β endorfin oleh kelenjar pituitari anterior dan
menimbulkan efek untuk mensupresi makrofag sehingga aktifitasnya menurun.
Penurunan ini mengakibatkan penurunan aktivitas sitokin-sitokin yang dilepaskan
oleh makrofag seperti TNF-α, IL-1, IL-6, IL-8, TGF β; Sehingga hal
ini menghambat penyembuhan luka, (Pramono et al, 2016). Jika kualitas nyeri
pasien berkurang, maka secara tidak langsung akan memungkinkan penyembuhan luka
yang lebih cepat berdasarkan mekanisme diatas.
Data dari Rumah
Sakit Umum Daerah (RSUD) Dr. Soetomo Surabaya menunjukkan bahwa mayoritas
pasien dengan angka 59,2% mengalami nyeri pasca operasi kategori sedang-berat
dalam 24 jam pertama pasca operasi, (Pangki Suwiknyo, 2017). Sedangkan data
lain dari United State Institute of Medicine (USIM) menunjukkan bahwa 80%
pasien yang menjalani operasi, 88% melaporkan tingkat nyeri sedang, berat,
hingga ekstrim, (Gan et al., 2017).
Dari penjelasan
tersebut, peneliti termotivasi untuk melakukan penelitian tentang pengaruh
infiltrasi ropivakain sebagai obat anestesi lokal melalui proses hambatan
rangsang nyeri, terhadap ekspresi IL-1 dan TNF-α yang merupakan faktor
penting dalam proses penyembuhan luka.
Metode Penelitian
Sampel penelitian ini
adalah luka akut pada kulit tikus Wistar. Hewan coba merupakan tikus Wistar yang diperoleh dari Unit Pemeliharaan Hewan Percobaan (UPHP) Departemen Farmakologi Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga.
Pemilihan hewan coba dilakukan di Departemen Farmakologi Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga.
Kriteria inklusi
sampel pada penelitian ini adalah: (1) Keturunan murni; (2) Umur dua sampai
dua setengah bulan; (3) Berat badan 250-300
gram; dan (4) Tidak ada abnormalitas anatomis yang tampak. Hewan coba
yang didapati sakit selama masa adaptasi 7 hari, dan/atau hewan coba berperilaku
agresif, dalam pengamatan sering menyerang tikus lainnya, akan dieksklusi.
Kejadian infeksi selama perlakuan berlangsung, dan/atau hewan coba mati
selama perlakuan berlangsung, dikategorikan
sebagai drop-out Jumlah atau besar
sampel tikus wistar ditentukan menggunakan rumus Federer, dengan jumlah perlakuan
(kelompok dalam penelitian ini) adalah 4, maka ditemukan hasil bahwa n ≥ 6. Artinya, jumlah sampel tiap
kelompok penelitian adalah 6; sehingga jumlah tikus wistar
sebagai sampel adalah 24 ekor yang memenuhi kriteria inklusi.
Hasil dan Pembahasan
�� Pada hari ke-3, didapatkan hasil penghitungan rata-rata
jumlah ekspresi IL-1 pada kelompok perlakuan (P1) sebanyak 7.67 (SD�0,516),
lebih banyak dibandingkan kelompok kontrol (K1) sebanyak 6.83 (SD�0,408).
Sedangkan pada hari ke 7, didapatkan hasil penghitungan rata-rata jumlah
ekspresi IL-1 pada kelompok perlakuan sebanyak 6.00 (SD�0,632), lebih banyak
dibandingkan kelompok kontrol sebanyak 5.83 (SD�0,753).
Berdasarkan hasil penelitian yang telah diperoleh,
dilakukan uji analisis statistik antar kelompok kontrol dan perlakuan pada hari
ke-3 dan hari ke-7. Terlebih dahulu dilakukan uji normalitas pada masing-masing
kelompok dengan menggunakan uji Kolmogorov-Smirnov. Apabila hasil yang
didapatkan nilai p>α=0,05, maka distribusi data adalah normal. Pada
hari ke-3, kelompok kontrol didapatkan
p=0,000, dan kelompok perlakuan juga didapatkan p=0,002. Sedangkan pada hari
ke-7, kelompok kontrol didapatkan p=0,200 dan kelompok perlakuan didapatkan
p=0,036. Sehingga dapat disimpulkan bahwa tidak semua data pada masing-masing
kelompok berdistribusi normal.

Gambar 1
Diagram hasil rata-rata ekspresi IL-1
pada sekitar luka insisi tikus Wistar pada kelompok kontrol dan perlakuan pada hari ke-3 dan hari ke-7

Gambar 2
Ringkasan distribusi sampel dari ekspresi
IL-1.
Untuk mengetahui
perbandingan nilai jumlah rata-rata ekspresi IL-1 antar kelompok variabel yaitu kelompok kontrol dan kelompok perlakuan, maka dilakukan uji
Kruskal-Wallis. Apabila hasil
yang didapatkan nilai p
< α=0,05, maka dapat
diinterpretasikan bahwa terdapat perbedaan yang bermakna. Hasil uji Kruskal-Wallis didapatkan
perbedaan yang bermakna yaitu nilai p=0,002 (nilai p < 0,05), yang berarti terdapat pengaruh pemberian ropivakain terhadap perubahan ekspresi IL-1 pada jaringan luka kulit tikus.
Selanjutnya digunakan
uji Mann Whitney Test untuk menguji
apakah terdapat perbedaan signifikan antara masing-masing kelompok.
Dari hasil uji Mann Whitney jumlah
ekspresi IL-1 pada hari
ke-3 kelompok perlakuan dan
kelompok kontrol, didapatkan bahwa nilai p=0,018 (p<0,05), hal ini menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang bermakna antara kelompok perlakuan (P1) dan kelompok kontrol (K1). Sedangkan jumlah ekspresi IL-1 pada hari ke-7, antara kelompok perlakuan (P2) dan kelompok kontrol (K2) didapatkan bahwa nilai p=0,652 (p>0,05), hal ini menunjukkan bahwa kedua kelompok
tidak berbeda bermakna.

Gambar 3
Ekspresi IL-1 hari ke-3 pada jaringan luka insisi
kulit tikus Wista menggunakan pengecatan imunohistokimia perbesaran mikroskop 400x pada kelompok kontrol (K1) dan kelompok perlakuan (P1). Ekspresi IL-1 hari ke-7 pada kelompok kontrol (K2) dan kelompok perlakuan (P2).
1.
Ekspresi TNF-α
Pada hari ke-3, didapatkan hasil penghitungan rata-rata jumlah ekspresi TNF-α pada kelompok
perlakuan (P1) sebanyak 7,50 (SD�0,548), lebih banyak
dibandingkan kelompok kontrol (K1) sebanyak 6,67 (SD�0,516). Sedangkan pada hari ke 7, didapatkan
hasil penghitungan rata-rata jumlah
ekspresi TNF-α pada kelompok
perlakuan sebanyak 6,17 (SD�0,753), lebih banyak
dibandingkan kelompok kontrol sebanyak 5,67 (SD�0,516).
Berdasarkan hasil penelitian
yang telah diperoleh,
dilakukan uji analisis statistik
antar kelompok kontrol dan perlakuan pada hari ke-3 dan hari ke-7. Terlebih dahulu dilakukan uji normalitas pada masing-masing kelompok
dengan menggunakan uji Kolmogorov-Smirnov. Apabila
hasil yang didapatkan nilai
p>α=0,05, maka distribusi
data adalah normal. Pada hari� ke-3, kelompok
kontrol didapatkan p=0,002,
dan kelompok perlakuan didapatkan p=0,056. Sedangkan
pada hari ke-7, kelompok kontrol didapatkan p=0,002 dan kelompok perlakuan didapatkan p=0,200. Jadi tidak semua data pada setiap kelompok berdistribusi normal.

Gambar 1
Diagram hasil rata-rata ekspresi
TNF-α pada sekitar luka
insisi tikus Wistar pada kelompok kontrol dan perlakuan pada hari ke-3 dan hari ke-7

Gambar 2
Ringkasan distribusi sampel dari ekspresi TNF-α.
Untuk mengetahui perbandingan nilai jumlah rata-rata ekspresi TNF-α antar kelompok variabel yaitu kelompok kontrol dan kelompok perlakuan, maka dilakukan uji Kruskal-Wallis. Apabila
hasil yang didapatkan nilai p < α=0,05, maka dapat diinterpretasikan bahwa terdapat perbedaan yang bermakna. Hasil
uji Kruskal-Wallis didapatkan perbedaan
yang bermakna yaitu nilai p=0,002 (nilai p <
0,05), yang berarti terdapat
pengaruh pemberian ropivakain terhadap perubahan ekspresi TNF-α pada
jaringan luka kulit tikus.
Selanjutnya digunakan uji Mann Whitney Test untuk
menguji apakah terdapat perbedaan signifikan antara masing-masing kelompok. Dari hasil uji Mann
Whitney jumlah ekspresi
TNF-α pada hari ke-3 kelompok
perlakuan dan kelompok kontrol, didapatkan bahwa nilai p=0,03 (p<0,05), hal ini menunjukkan
bahwa terdapat perbedaan yang bermakna antara kelompok perlakuan (P1) dan kelompok kontrol (K1). Sedangkan jumlah ekspresi TNF-α pada hari ke-7, antara kelompok perlakuan (P2) dan kelompok kontrol (K2) didapatkan bahwa nilai p=0,206 (p>0,05), hal ini menunjukkan bahwa kedua kelompok
tidak berbeda bermakna.

Gambar
3
Ekspresi
TNF-α hari ke-3 pada jaringan
luka insisi kulit tikus Wistar Menggunakan pengecatan imunohistokimia perbesaran mikroskop 400x pada kelompok kontrol (K1) dan kelompok perlakuan (P1). Ekspresi TNF-α hari ke-7
pada kelompok kontrol (K2)
dan kelompok perlakuan
(P2).
Penyembuhan luka normal diawali dengan terbentuknya jaringan granulasi seperti jaringan fibrovaskuler yang terdiri dari fibroblast, kolagen dan pembuluh darah. Komponen vaskuler sangat bergantung pada
angiogenesis, di mana pembuluh darah
baru mulai muncul pada hari ketiga setelah terjadinya luka, akan memberi nutrisi
dan mediator untuk proses penyembuhan
luka. Peran makrofag sangat penting dalam proses selanjutnya. Makrofag akan menghasilkan
berbagai macam sitokin, salah satunya ialah IL-1 dan TNF-α. Kedua sitokin tersebut adalah sitokin penting dalam proses penyembuhan luka. Makrofag juga melepas faktor pertumbuhan dan substansi lain untuk mengawali dan mempercepat pembentukan formasi jaringan granulasi. Zat yang berfungsi sebagai transmiter interseluler ini secara keseluruhan disebut sitokin, (Pramono, 2016). Dalam beberapa penelitian menjelaskan bahwa penyembuhan luka pada proses proliferasi yaitu deposisi kolagen dan elastin serta angiogenesis ditingkatkan
oleh IL-1 dan TNF-α, (Tennant, 2013).
Hemostatis terjadi dalam waktu
beberapa menit setelah injuri kecuali ada gangguan
faktor pembekuan. Polimorfonuklear (PMN) adalah sel pertama yang menuju ke tempat
terjadinya luka. Jumlahnya meningkat cepat dan mencapai puncaknya pada 24 � 48 jam. Fungsi
utamanya adalah memfagositosis bakteri yang masuk. Adanya sel
ini menunjukkan bahwa luka terkontaminasi
bakteri. Bila tidak terjadi infeksi
sel-sel PMN berumur pendek dan jumlahnya menurun dengan cepat setelah hari
ketiga. Elemen imun seluler yang berikutnya adalah makrofag. Sel ini
turunan dari monosit yang bersirkulasi, terbentuk karena proses kemotaksis dan migrasi. Muncul pertama 48 � 96 jam setelah terjadi luka dan mencapai puncak pada hari ke 3. Makrofag dan limfosit T penting keberadaanya pada penyembuhan luka normal. (Pramono et al., 2016).
IL-1 merupakan salah satu jenis sitokin yang jalur persinyalannya dikaitkan dengan aktivasi alfa kaskade dan karakteristik kekebalan bawaan seperti Tol Like Reseptor (TLR). IL-1 diekspresikan
secara intens pada kerusakan kulit. Salah satu penelitian menunjukkan jika IL-1R1 dieleminasi maka akan menunda penyembuhan
jaringan lunak, tetapi tidak pada kulit. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa respons inflamasi
dipicu oleh IL-1 yang memainkan
peran patogenik dalam regenerasi kulit dan kornea pada keadaan normal. Ketiadaan atau minimnya ekspresi
IL-1 dapat menghambat regenerasi kulit, analog rekombinannya mempromosikan penyembuhan luka kornea pada diabetes. Selain itu, IL-1 terbukti berperan penting dalam adaptasi
sel batang kulit dengan respon
inflamasi, dengan demikian maka akan
mempercepat penyembuhan luka. (Pramono et al., 2016)
Semua
rujukan-rujukan yang diacu di dalam teks artikel harus didaftarkan di bagian bibliografi. Bibliografi harus
berisi pustaka-pustaka acuan yang berasal dari sumber primer (jurnal ilmiah dan
berjumlah minimum 80% dari keseluruhan bibliografi)
diterbitkan 5 (lima) tahun
terakhir. Setiap artikel paling tidak berisi 15 (sepuluh) bibliografi acuan.
Penulisan sistem rujukan di dalam teks artikel dan penulisan bibliografi
sebaiknya menggunakan program aplikasi manajemen referensi misalnya: Mendeley, EndNote, Reference
Manager atau Zotero. Penulisan referensi
menggunakan model sistem dari APA (American Psychological Association), edisi ke-6).
Beberapa sumber
membagi IL menjadi dua bentuk, IL-1α dan
IL-1β, dan sinyal melalui
reseptor kompleks IL-1R1
dan Interleukin Receptor Accecory Protein (IL-1RacP),
(IL-1R3), yang memiliki domain Toll Interleikin Receptor (TIR) yang mengakibatkan
aktivasi klasik Kaskade nuclear factor kappa-light-chain-enhancer of
activated B cells NF-κB dan kinase A-Mitogen
Activated Protein (MAP). Sebagai tambahannya jalur pensinyalan utama ini, ada
dua regulasi jalur, yang secara negatif mengatur IL-1-dimediasi transduksi sinyal, (Nosenko
et al., 2019).
Bersama dengan
sitokin proinflamasi lainnya, IL-1 diekspresikan secara intens pada kerusakan kulit. TNF-α
merupakan salah satu sitokin
proinflamasi yang berperan dalam singnaling pada proses inflamasi. TNF-α diproduksi
oleh makrofag dan diaktifkan
oleh sel T limfosit,
antigen, sel Narural Killer
(NK), dan sel Mast pada fase
akut. TNF-α bertindak untuk menginduksi dan mengendalikan peradangan.
TNF-α memainkan peran penting untuk melindungi
luka dari infeksi, menginduksi proliferasi fibroblast, keratinosit
dan regenerasi folikel rambut, (Nosenko
et al., 2019).
Pada penelitian
ini didapatkan jumlah ekspresi IL-1 lebih banyak pada kelompok perlakuan dan secara statistik menunjukkan perbedaan yang signifikan dibandingkan pada kelompok kontrol baik pada pengamatan hari ke-3, sedangkan pada hari ke-7 tidak didapatkan perbedaan bermakna antara kelompok control dan kelompok perlakuan. Hal ini dapat disebabkan karena pemberian ropivakain diduga mengurangi intensitas nyeri yang terjadi pada tikus setelah dilakukan sayatan di punggung tikus.
Dalam keadaan
nyeri, kadar β endorfin yang disekresi kelenjar pituitari meningkat dan mensupresi makrofag sehingga aktifitas makrofag yang dipengaruhi oleh IFN γ menurun.
Penurunan aktivitas makrofag ini akan
berakibat aktivitas sitokin yang dilepaskan oleh makrofag seperti TNF α,
IL-1, IL-6,IL-8, PDGF, VEGF dan TGF β menurun, (Pramono et al, 2016). Penurunan beberapa faktor pertumbuhan ini akan berakibat
hambatan penyembuhan luka. Pada keadaan nyeri juga terjadi peningkatan hormon kortisol dan menghambat faktor pertumbuhan lain yaitu IL-1 yang bekerja menstimuli sel untuk pembentukan prokolagenase guna proses kolagenase, (Hollmann
et al., 2013).
Nyeri merupakan stresor
yang memicu timbulnya gejala klinis patofisiologis,
memicu modulasi respon imun, sehingga
menyebabkan penurunan sistem imun yang berakibat pemanjangan proses penyembuhan luka. Nyeri bila tidak dikelola
dengan tepat akan berakibat memperpanjang fase katabolik berupa peningkatan glukagon, kortikosteroid dan resistensi
insulin. Peningkatan hormon
glukokortikoid menjadi
salah satu faktor sistemik yang menghambat proses penyembuhan luka. Pemberian ropivakain infiltrasi disekitar luka dapat mengurangi intensitas nyeri dan dapat mengurangi sekresi hormon glukokortikoid sehingga dapat mengurangi salah satu hambatan proses penyembuhan luka. Selain itu dengan
terhambatnya jalur transmisi nyeri oleh ropivakain, kadar β
endorphin yang dilepaskan oleh pituitari
kadarnya tidak terlalu tinggi. Selain itu, penyembuhan
luka sendiri juga dipengaruhi oleh agent anestesi
yang diberikan. Beberpaa penelitian menjelaskan tentang efek ropivacaine. Beberapa penelitian menjelaskan tentang peran peningkatan kinerja pada proses proliferasi penyembuhan luka yang berdampak baik pada kecepatan penyembuhan luka oleh ropivacaine, (Pramono
et al., 2016).
Makrofag mencapai
puncaknya pada hari ke 3 (yang menjadi dasar peneliti untuk melakukan pengujian hari ke -3), peningkatan tersebut berjalan lurus dengan peningkatan
IL-1. Sehingga secara tidak langsung terdapat kecurigaan peningkatan kadar IL-1 pada hari ke-3 apabila makrofag tidak diinhibisi oleh mekanisme yang telah dijelaskan diatas melalui mekanisme stress dalam hal ini nyeri.
Teori tersbut terbukti karena terdapat peningkatan bermakna ekspresi IL-1 pada hari ke 3 dibandingkan
dengan control dan mulai terjadi penurunan pada hari ke-7, (Tennant,
2013). Pemberian
nutrisi yang adekuat akan mendukung penyembuhan luka. Nutrisi yang adekuat menjadi sumber pembangun dalam pemulihan luka (Molnar
et al., 2014). Tidak
hanya itu, seseorang yang memiliki komorbid sepert DMtipe 2, gangguan pembuluh darah, autoimun, stress yang berlebihan
dan penyakit lainnya dapat menyebabkan perlambatan penyembuhan luka, namun hal tersebut
tidak diteliti dalam pembahasan kali ini (Thiele
et al., 2014).
Kesimpulan
��������� Pada akhirnya dapat diambil kesimpulan bahwa Pemberian infiltrasi ropivakain di sekitar luka dapat meningkatkan ekspresi IL-1
(p=0,018) dan TNF-α (p=0,03)� secara signifikan pada� hari ke-3, sehingga dapat menjadi salah satu faktor yang mempercepat penyembuhan luka namun pada hari ke -7 meskipun
mengalami peningkatan pada
proses penyembuhan luka insisi tapi secara
statistic tidak signifikan dimana IL-1 (p=0,652)�
dan� TNF-α (p=0,206) itu diakibatkan� karena hari ke-7 fase inflamasi secara normal mulai berakhir dan memasuki fase proliferasi.
Perlu dilakukan penelitian serupa dengan mengambil
periode yang lebih lama untuk mengetahui dinamika ekspresi IL-1 dan
TNF-α pada setiap fase
penyembuhan luka. Pemeriksaan ekspresi sel yang lebih spesifik dapat menjadi sarana memperdalam pemahaman mekanisme dalam intervensi ini.
BIBLIOGRAFI
Abrao,
E. P., & Da Fonseca, B. A. L. (2016). Infection Of Mosquito Cells (C6/36)
By Dengue-2 Virus Interferes With Subsequent Infection By Yellow Fever Virus. Vector-Borne
And Zoonotic Diseases, 16(2), 124�130.
Bhaskar,
R. (2015). From East To West: Odyssey Of A Soul. Routledge.
Gan,
V. J. L., Chan, C. M., Tse, K. T., Lo, I. M. C., & Cheng, J. C. P. (2017).
A Comparative Analysis Of Embodied Carbon In High-Rise Buildings Regarding
Different Design Parameters. Journal Of Cleaner Production, 161,
663�675.
Gonzales,
R. G. (2016). Lives In Limbo: Undocumented And Coming Of Age In America.
Univ Of California Press.
Hollmann,
R., Merchant, C. J., Saunders, R., Downy, C., Buchwitz, M., Cazenave, A.,
Chuvieco, E., Defourny, P., De Leeuw, G., & Forsberg, R. (2013). The Esa
Climate Change Initiative: Satellite Data Records For Essential Climate
Variables. Bulletin Of The American Meteorological Society, 94(10),
1541�1552.
Molnar,
M., Lallier, M., & Carreiras, M. (2014). The Amount Of Language Exposure
Determines Nonlinguistic Tone Grouping Biases In Infants From A Bilingual
Environment. Language Learning, 64(S2), 45�64.
Nagle,
A. J., Delaney, E. L., Bank, L. C., & Leahy, P. G. (2020). A Comparative
Life Cycle Assessment Between Landfilling And Co-Processing Of Waste From
Decommissioned Irish Wind Turbine Blades. Journal Of Cleaner Production,
277, 123321.
Nosenko,
Y. H., Popel, M. V, & Shyshkina, M. P. (2019). The State Of The Art And
Perspectives Of Using Adaptive Cloud-Based Learning Systems In Higher Education
Pedagogical Institutions (The Scope Of Ukraine).
Pangki
Suwiknyo, N. (2017). Hubungan Tingkat Kepatuhan Petugas Medis Dalam
Menjalankan Panduan Tatalaksana Nyeri Pasca Operasi Dengan Kepuasan Pasien Dan
Skor Nyeri Saat Keluar Rumah Sakit Di Rsud Dr. Soetomo Surabaya.
Universitas Airlangga.
Pramono,
E., Utomo, S. B., Wulandari, V., & Clegg, F. (2016). Ftir Studies On The
Effect Of Concentration Of Polyethylene Glycol On Polimerization Of Shellac. Journal
Of Physics: Conference Series, 776(1), 12053.
Sunarso
Sulistiawan, S., Utariani, A., & Margarita Rehatta, N. (2011). Hubungan
Antara Suhu Membran Timpani Dengan Asidosis Metabolik Pada Pasien Multipel
Trauma. Journal Of Emergency, 1(1), 19�22.
Tennant,
F. (2013). The Physiologic Effects Of Pain On The Endocrine System. Pain And
Therapy, 2(2), 75�86.
Thiele,
S., Balestro, F., Ballou, R., Klyatskaya, S., Ruben, M., & Wernsdorfer, W.
(2014). Electrically Driven Nuclear Spin Resonance In Single-Molecule Magnets. Science,
344(6188), 1135�1138.
