|
Jurnal
Syntax Transformation |
Vol. 2
No. 2, Februari �2021 |
|
p-ISSN :
2721-3854 e-ISSN : 2721-2769 |
Sosial
Sains |
ANALISIS KESALAHAN SISWA DALAM MENYELESAIKAN SOAL
SISTEM PERSAMAAN LINIER DUA VARIABEL DI TINJAU DARI GAYA BELAJAR
Sandi Ardiya
Rasitullah dan Kamirsyah
Wahyu
UIN Mataram,
Indonesia�����
Email: [email protected]
|
INFO ARTIKEL |
ABSTRACT |
|
Diterima: 2 Februari
2021 Diterima dalam bentuk revisi 05 Februari 2021 Diterima dalam bentuk revisi 15 Februari 2021 |
This
study aims to find out the types of mistakes made by students who have
different learning styles on the story of the linear equation system of two
variables in class VIII MTs Al - Mu' this Sesela.
This study uses qualitative method with descriptive research type i.e. case study. Data is collected with test instruments,
interviews, and questionnaires. The subjects in this study were 3 students.
Data analysis techniques for tests and interviews are data reduction, data
presentation, and conclusion drawing and verification, while questionnaires use
quantitative descriptive statistical analysis techniques. The results of the
study from the analysis of test results are students visual learning style
type errors at the stage of understanding, transformation, process skills,
and writing answers. Students learn auditory learning type of error at the
stage of transformation, process skills, and answer writing. And students
learn kinesthetic learning style types of errors at the stage of reading,
transformation, process skills, and writing answers. While the result of
interview analysis is the student's visual learning style type errors at the
stage of understanding, process skills, and writing answers. And students
learn kinesthetic learning style types of errors at the stage of reading,
transformation, process skills, and writing answers. While the result of
interview analysis is a student's visual learning style type of error at the
stage of understanding, process skills, and writing answers. Students learn
auditory learning type of error at the stage of understanding,
transformation, process skills, and writing answers. And students learn
kinesthetic learning style type of error at the stage of transformation,
process skills and writing answers ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis kesalahan yang dilakukan siswa yang memiliki gaya belajar berbeda pada soal cerita sistem persamaan linier dua variable
di kelas VIII MTs Al � Mu� ini
Sesela. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif yaitu studi kasus.
Data dikumpulkan dengan instrumen tes, wawancara, dan angket. Subyek dalam penelitian ini sebanyak 3 orang siswa. Tehnik analisis data untuk tes dan wawancara yaitu reduksi data, penyajian data,
dan penarikan kesimpulan
dan verifikasi, sedangkan
angket menggunakan tehnik analisis statistik deskriptif kuantitatif. Hasil penelitian dari analisis hasil tes adalah siswa
gaya belajar visual jenis kesalahannya pada tahap memahami, transformasi, keterampilan
proses, dan penulisan jawaban.
Siswa gaya belajar auditori jenis kesalahannya pada tahap transformasi, keterampilan proses, dan penulisan
jawaban. Dan siswa gaya belajar kinestetik jenis kesalahannya pada tahap membaca, transformasi, keterampilan proses, dan penulisan
jawaban. Sedangkan hasil dari analisis wawancara adalah siswa gaya belajar
visual jenis kesalahannya
pada tahap memahami, keterampilan proses, dan penulisan
jawaban. Siswa gaya belajar auditori jenis kesalahannya pada tahap memahami, transformasi, keterampilan proses, dan penulisan
jawaban. Dan siswa gaya belajar kinestetik jenis kesalahannya pada tahap transformasi, keterampilan
proses dan penulisan jawaban. |
|
Keywords: Students; Learning And
Education Style Kata kunci: Siswa; Gaya Belajar
Dan Pendidikan |
Pendahuluan
�� Pendidikan adalah suatu proses dalam rangka
mempengaruhi siswa agar dapat menyesuaikan diri sebaik mungkin terhadap
lingkungannya dan dengan demikian akan menimbulkan perubahan dalam dirinya yang
memungkinkannya untuk berfungsi secara mandiri dalam kehidupan masyarakat.
Pengajaran bertugas mengarahkan proses ini agar sasaran dari perubahan itu
dapat tercapai sebagaimana yang diinginkan.
Pembelajaran
matematika untuk tingkat SMP mengacu pada tujuan pembelajaran matematika, agar
siswa mempunyai kemampuan dalam memahami konsep matematika, menjelaskan
keterkaitan antar konsep dan mengaplikasikan konsep atau algoritma, secara
lues, akurat, efisien, dan tepat, dalam pemecahan masalah. Menggunakan
penalaran pada pola dan sifat, melakukan manipulasi matematika dalam membuat
generalisasi, menyusun bukti, atau menjelaskan gagasan dan pernyataan
matematika. Memecahkan masalah yang meliputi kemampuaan memahami masalah,
merancang model matematika, menyelesaikan model dan menafsirkan solusi yang
diperoleh. Mengomunikasikan gagasan dengan simbol, tabel, diagram, atau media
lain untuk memperjelas keadaan atau masalah. Memiliki sikap menghargai kegunaan
matematika dalam kehidupan, yaitu memiliki rasa ingin tahu, perhatian dan minat
dalam mempelajari matematika, serta sikap ulet dan percaya diri dalam pemecahan
masalah (Permendiknas
2006:346)
Salah satu
bentuk pemecahan masalah yang dapat siswa selesaikan yaitu bentuk pemecahan
masalah dalam soal-soal yang berbentuk cerita. Soal yang berbentuk cerita
sering dijumpai siswa dalam materi sistem persamaan linear dua variable.Soal
cerita merupakan soal matematika yang dinyatakan dalam bentuk cerita dan
berkaitan dengan penerapan dalam kehidupan sehari-hari. Dari sekian banyak soal
ujian yang meliputi Ulangan Harian, Ujian Tengah Semester (UTS), Ujian Akhir
Semester (UAS), Ujian Nasional (UN) terdapat soal dalam bentuk cerita, dengan
demikian kemampuan siswa dalam menyelesaikan soal cerita matematika akan
berpengaruh terhadap prestasi belajar yang diraihnya. Prestasi belajar siswa
terdapat dengan baik, jika siswa mampu menyelesaikan soal cerita matematika.
Disamping itu, soal cerita matematika mempunyai konstribusi dalam kehidupan
sehari-hari yaitu siswa akan mampu menyelesaikan persoalan yang ada di dalam
kehidupan sehari-hari.
Soal
cerita mempunyai peranan penting dalam pembelajaran matematika karena siswa
akan lebih mengetahui hakekat dari suatu permasalahan matematika ketika siswa
dihadapkan pada soal cerita. Selain itu, soal cerita sangat bermanfaat untuk
perkembangan proses berpikir siswa karena dalam menyelesaikan masalah yang
terkandung dalam soal cerita diperlukan langkah-langkah penyelesaian yang
membutuhkan pemahaman dan penalaran. Siswa harus dituntut untuk memahami,
menerjemahkan dan menafsirkan cerita tersebut sehingga dalam proses
pemecahannya diperlukan keterampilan, kecermatan, kejelian dan ketepatan.
Seringkali yang terjadi pada siswa adalah kurang memahami dari isi soal cerita
sehingga sangat fatal untuk bisa tepat menyelesaian soal cerita. Terkadang juga
siswa sudah bisa memahami isi soal cerita tapi ternyata melakukan kesalahan
dalam perhitungan sehingga kurang tepat juga dalam menyelesaikan soal
cerita.Ternyata banyak sekali jenis-jenis kesalahan yang dilakukan siswa dalam
menyelesaikan soal cerita dan salah satunya dalam memahami isi soal cerita.
�� Berdasarkan tujuan
pembelajaran matematika di atas, diketahui bahwa kemampuan pemecahan masalah matematis dan sikap ulet dan percaya diri dalam pemecahan
masalah merupakan kemampuan
yang sangat penting untuk dikuasai siswa. Pemecahan masalah di pandang sebagai suatu proses atau
cara yang dilakukan seseorang
untuk meneyelesaikan masalah matematis berdasarkan data dan informasi
yang diketahui dengan menggunakan konsep matematika yang telah dimilikinya. Siswa yang terlatih dengan pemecahan masalah akan terampil dalam
menyeleksi informasi yang relevan, menganalisis, dan mengevaluasi hasilnya. Sedangkan keuletan serta sikap percaya
diri merupakan faktor penting yang harus dimiliki siswa dalam menghadapi persoalan yang mereka hadapi, khususnya masalah matematika.
Salah satu upaya yang dapat dilakukan guru untuk
meningkatkan kemampuan menganalisis soal cerita yaitu dengan
menciptakan suasana belajar yang cocok dengan jenis gaya
belajar siswa (auditori, visual, ataupun kinstetik), sehingga diharapkan tujuan pembelajaran dapat dicapai secara efektif. Pada dasarnya setiap siswa mempunyai gaya belajar yang berbeda-beda. Dari hal tersebut, akan berdampak pada keragaman siswa dalam cara
belajarnya. Dalam hal inilah guru harus dapat memahami siswanya dalam penyampaian materi pelajaran. Dengan memperhatikan perbedaan gaya belajar, siswa
akan dimungkinkan akan mampu meningkatkan
konsentrasi, sehingga kecendrungan siswa akan mendapatkan materi yang lebih banyak dan lebih bermakna. (Azizah
& Bisri, 2018).
Berdasarkan hasil observasi
awal padat tanggal 25 september 2018. Peneliti di kelas VIII MTs Al-Mu�Ini Sesela di mana jumlah siswanya sebanyak 15 orang, dari pengamatan yang dilakukan dapat diketahui
siswa masih banyak mengalami kesalahan� dalam menyelesaikan soal cerita matematika. Siswa mengalami kesulitan dalam memahami isi cerita
yang diuraikan dari soal cerita. Sehingga
untuk memecahkan masalah dalam soal
tidak mampu. Tetapi ada juga siswa yang sudah mampu memahami isi cerita dalam
soal tetapi belum tepat dalam
menyelesaikan masalah dalam soal cerita
tersebut. Dengan begitu dapat disimpulkan bahwa siswa di MTs Al-Mu�Ini Sesela masih
banyak yang belum bisa memahami isi dari
soal cerita dan belum bisa menyelesaikan soal cerita dengan
tepat.
Hasil observasi
ini diperkuat oleh hasil wawancara dengan guru matematika MTs. Al-Mu�Ini Sesela pada tanggal 25 september 2018,s beliau mengatakan
bahwa matematika merupakan ilmu pasti dan wajib dipelajari, agar para peserta didik dapat berhitung, hasilnya tidak bisa dimanipulasi.
Pendidikan dewasa ini belum bisa dikatakan merata hal ini
dikarnakan baik dari infrastrukutur belum semuanya memadai, hal tersebut
perlu mendapatkan perhatian lebih. Terkait dengan materi sistem persamaan
linear dua variabel siswa masih cenderung
belum mampu untuk menguasai materi, hal ini
karena nilai rata-rata ulangan harian materi sistem persamaan
linier dua variabel tidak mencapai standar ketuntasan yang diharapkan. Sistem persamaan linier dua variabel merupakan salah satu materi yang sukar di kerjakan oleh siswa. Dalam mengerjakan
soal matematika siswa masih sering
melakukan kesalahan, baik dalam kesalahan
konsep, teknik (langkah-langkah) maupun kesalahan dalam mengubah soal cerita
ke dalam model matematika. Kesalahan-kesalahan tersebut yang tarjadi akan mengakibatkan rendahnya hasil belajar siswa yang dicapai. Oleh sebab itu, perlu adanya
analisis kesalahan siswa dalam mengerjakan
soal cerita agar kesalahan tersebut dapat diminimalisir dan dapat membantu guru meningkatkan mutu pelajaran serta meningkatkan prestasi belajar matematika.
��������� Peneliti menggunakan
gaya belajar sebagai tinjauan dikarenakan gaya belajar memiliki dampak yang sangat positif untuk meningkatkan
siswa dalam penyerapan informasi yang diberikan. Begitupun dengan guru, jika seorang guru mengetahui gaya belajar yang dimiliki oleh siswanya maka dapat dengan
mudah guru akan membuat suasana belajar dengan baik. Jadi tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui
apa saja jenis kesalahan yang dilakukan siswa dalam penyelesaian soal sistem persamaan
linier dua variabel dari siswa yang memiliki gaya belajar
berbeda. Adapun rumusan masalah pada penelitian ini, yaitu apa
jenis kesalahan yang dilakukan siswa yang memiliki gaya belajar
berbeda pada materi SPLDV
di kelas Vlll MTs Al-Muini Sesela.
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui
apa saja jenis kesalahan yang dilakukan siswa dalam penyelesaian soal sistem persamaan
linier dua variabel dari siswa yang memiliki gaya belajar
berbeda. Penelitian ini menggunakan tahapan analisis kesalahan menurut Newman, yang terdiri dari tahap
membaca, pemahaman, transformasi, ketrampilan proses,
dan dahap pengkodean/penulisan jawaban akhir. Melalui penelitian ini, peneliti berharap dapat memberikan kontribusi bagi pendidikan khususnya MTs Al-Mu�Ini Sesela, untuk mengatasi kesalahan siswa dalam menyelesaikan soal matematika (sistem persamaan linear dua variabel) guna
meningkatkan hasil belajar siswa. Sedangkan untuk gaya belajarnya digunakan teknik analisis statistik deskriptif. Data yang dikumpulkan
dianalisis dengan teknik analisis deskriptif kuantitatif bertujuan untuk memberikan gambaran realistis dan sistematis. Seperti yang dikemukakan oleh Sugiyono yaitu Statistik deskriptif adalah statistik yang digunakan untuk menganalisis data dengan cara mendeskripsikan atau menggambarkan data yang telah terkumpul sebagaimana adanya tanpa bermaksud membuat kesimpulan yang berlaku untuk umum
atau generalisasi. (Muadzin & Aryadi, 2019)
Kesalahan adalah bentuk penyimpangan
pada sesuatu hal yang telah dianggap benar atau bentuk
penyimpangan terhadap sesuatu yang telah disepakati/ ditetapkan sebelumnya. Berdasarkan pendapat tersebut, analisis kesalahan adalah penyelidikan terhadap suatu bentuk penyimpangan atau kekeliruan dari jawaban tertulis
siswa.� (Listia, 2016) Pada umumnya
kecerdasan seseorang tidak sama walaupun
semua usia sama, ada yang cepat daya tangkapnya
dan ada yang lambat dalam menangkap pelajaran . (Simanjuntak et al., 1993) Ada beberapa
klasifikasi kesalahan dalam menyelesaikan soal matematika secara umum yaitu
antara lain letak kesalahan dan jenis-jenis kesalahan yang sering dilakukan. Letak kesalahan itu antara
lain, memahami soal, pengerjaan soal, dan penarikan kesimpulan. (Irzani, 2018) sedangkan
jenis � jenis kesalahan yaitu, kesalahan konsep, kesalahan menggunakan data, interprestasi bahasa, kesalahan teknis, dan kesalahan penarikan kesimpulan.
Soal cerita matematika adalah soal yang disajikan dalam bentuk uraian atau
cerita baik secara lisan maupun
tulisan. Soal cerita wujudnya berupa kalimat verbal sehari-hari yang makna dari konsep
dan ungkapannya dapat dinyatakan dengan simbol dan relasi matematika. Memahami makna konsep dan ungkapan dalam soal cerita serta
mengubahnya dalam bentuk simbol dan relasi matematika sehingga menjadi model matematika bukanlah hal yang mudah bagi sebagian siswa.
Untuk itu dituntut untuk memahami masalah baik dari segi
bahasa maupun dari segi matematikanya,
termaksud dalam hal penalaran, komunikasi dan strategi pemecahan
masalah. Dalam penyelesaian soal-soal cerita banyak anak
yang mengalami kesulitan. Kesulitan tersebut tampaknya terkait dengan pengajaran yang menurut anak yang membuat matematika tanpa lebih dahulu
memberikan petunjuk tentang langkah-langkah yang harus ditempuh. Dalam menyelesaikan soal-soal cerita matematika, siswa diharapkan dapat memahami konsep dengan baik untuk
mempermudah proses penyelesaian
soal. Siswa harus cermat menganalisa
maksud soal serta mampu mengklasifikasikan
konsep-konesp yang relevan dengan kondisi yang ada, kemudian merumuskan
penyelesaian soal berdasarkan konsep yang sudah diperoleh sebelumnya.Banyak hal kemungkinan menyebabkan siswa mengalami kesulitan dalam menyelesaikan soal-soal matematika diantaranya, siswa tidak memahami maksud soal yang diberikan, atau karena siswa tidak
memahami konsep yang sudah diajarkan.
Menurut Nasution gaya belajar
adalah cara yang konsisten yang dilakukan oleh siswa dalam menangkap
stimulus atau informasi, cara mengingat, cara berfikir, dan memecahkan soal (Nasution, 2019) Dari pendapat
tersebut, maka peneliti berpendapat bahwa gaya belajar
merupakan suatu hal yang ada pada setiap siswa yang bersifat menarik. Karena, setiap siswa tidak
memiliki gaya belajar yang sama antara siswa yang satu dengan yang lainnya, sehingga hal tersebut perlu
untuk diketahui oleh setiap siswa, agar di dalam proses pembelajaran dan penyampaian informasi akan� dapat memudahkan siswa di dalam proses pembelajaran tersebut dan dapat mendukung tercapainya tujuan pembelajaran.
Menurut DePorter dan Hernacki gaya belajar dapat
digolongkan menjadi tiga macam gaya
belajar yaitu visual,
auditorial, kinestetik. Dari ketiga
gaya belajar ini ada individu
yang cenderung pada salah satu
gaya, dan ada juga yang cenderung semua gaya belajar. Berikut
ini beberapa ciri sebagai sebuah
petunjuk� kecendrungan
gaya belajar seseorang, baik ciri gaya belajar
visual, auditorial, maupun kinestetik.
Ciri-ciri gaya belajar visual( penglihatan),
yaitu: 1) Rapi dan Teratur. 2) Berbicara dengan cepat. 3) Perencana dan pengatur jangka panjamg yang baik. 4) Teliti terhadap detail. 5) Mementingkan penampilan. 6) Pengeja yang baik dan dapat melihat kata-kata yang sebenarnya
dalam pikiran mereka. 7) Mengingat apa yang dilihat, dari pada apa yang didengar. 8) Mengingat dengan asosiasi visual. 9) Biasanya tidak terganggu dengan keributan. 10) Mempunyai masalah untuk mengingat
instruksi verbal kecuali jika ditulis dan seringkali minta bantuan orang untuk mengulanginnya. 11) Pembaca cepat dan tekun, 12) Lebih suka membaca
daripada dibacakan.
13)� Membutuhkan
pandangan dan tujuan yang menyeluruh dan bersikap waspada sebelum secara mental merasa pasti tentang suatu
masalah atau proyek. 14) Mencorat- coret tanpa arti selama berbicara di telpon dan dalam rapat. 15) Lupa menyampaikan pesan verbal kepada orang laian. 16) Sering menjawab pertanyaan dengan jawaban yang singkat ya atau tidak.
17) Lebih suka melakukan demonstrasi daripada pidato. 18) Lebih suka seni
daripada musik. 19) Seingkali mengetahui apa yang harus dikatakan, tetapi tidak pandai memilih
kata-kata. 20) Kadang-kadang kehilangan
konsentrasi ketika mereka ingin memperhatikan.
Adapun ciri-ciri
gaya belajar auditorial (pendengaran), adalah: 1) Berbicara kepada diri sendiri saat
bekerja. 2) Mudah terganggu oleh keributan. 3) Menggerakkan bibir dan mengucapkan tulisan di buku ketika membaca. 4) Senang membaca keras dan mendengarkan. 5) Dapat mengulangi dan menirukan nada, birama, dan warna suara. 6) Merasa kesulitan untuk menulis,tetapi
lebih hebat bercerita. 7) Berbicara dalam irama yang terpola. 8) Biasanya pembicara yang fasih. 9) Lebih suka musik
daripada seni. 10) Belajar dengan mendengarkan dan mengingat apa yang didiskusikan daripada yang dilihat. 11) Suka berbicara, berdiskusi dan menjelaskan sesuatu dengan panjang lebar. 12) Mempunyai masalalah dengan pekerjaan-pekerjaan yang melibatkan visualisasi, seperti memotong bagian-bagian hingga sesuai dengan satu
sama lain.13) Lebiih pandai mengeja dengan keras daripada
menuliskannya. 14) Lebih suka gurauan lisan
daripada membaca komik.
��������� Selanjutnya,
ciri-ciri gaya belajar kinestetik (gerakan), adalah sebagai berikut: 1) Berbicara dengan perlahan. 2) Menanggapi perhatian fisik. 3) Menyentuh orang untuk mendapatkan perhatian mereka. 4) Berdiri dekat ketika berbicara
dengan orang. 5) Selalu berorientasi pada fisik dan banyak bergerak. 6) Mempunyai perkembangan otot-otot yang besar. 7) Belajar melalui memanipulasi dan praktik. 8) Menghafal dengan cara berjalan dan melihat. 9) Menggunakan jari sebagai petunjuk
ketika membaca. 10) Banyak menggunakan isyarat tubuh. 11) Tidak dapat duduk diam untuk waktu lama. 12) tidak dapat mengingat
geografi, kecuali jika mereka telah
pernah berada di tempat itu. 13) Menggunakan kata yang mengandung aksi. 14) Menyukai buku-buku yang berorientasi pada-
plot mereka mencerminkan aksi dengan gerakan
tubuh saat membaca. 15) Kemungkinnan tulisannya jelek. 16) Ingin melakukan segala sesuatu. 17) Menyukai permainnan yang menyibukkan (Sundayana, 2016).
Metode Penelitian
Penelitian ini menggunakan
pendekatan kualitatif, hal ini Karena data yang peneliti peroleh tidak berupa angka
melainkan data yang berupa informasi-informasi baik keterangan deskriptif, atau paparan dari
peristiwa, kegiatan atau fakta yang diteliti. Metode penelitian kualitatif digunakan untuk memperoleh data deskriptif tentang tingkah laku berdasarkan pengamatan (observasi) maupun pengakuan (Interview) atau tulisan dari subjek.
Menurut Sugiyono
metode penelitian kualitatif adalah: Metode penelitian yang digunakan untuk meneliti pada kondisi objek yang alamiah, dimana peneliti adalah sebagai instrumen kunci, teknik pengumpulan data dilakukan secara tringulasi (gabungan), analisis yang bersifat induktif, dan hasil penelitian kualitatif lebih menekankan makna dari pada generalisasi (Sugiyono, 2014).
Sedangkan pendekatan
kualitatif ini menggunakan jenis penelitian deskriptif dengan studi kasus,
hal ini karena
dalam bidang pendidikan� studi kasus dapat diartikan
sebagai metode penelitian deskriftif untuk menjawab permasalahan pendidikan yang mendalam dan komperhensif� dengan melibatkan subjek penelitian yang terbatas sesuai dengan jenis
kasus yang diselidiki. Subjek penelitian dalam studi kasus
biasa individu, kelompok, lembaga, atau golongan masyarakat
tertentu. Segala aspek yang berkaitan dengan kasus dianalisis
secara mendalam, sehingga diperoleh generalisasi yang utuh (Puspitasari, 2018).
Penelitian ini bertujuan untuk
mengetahui jenis kesalahan yang terjadi dalam menyelesaikan soal SPLDV dari siswa yang mempunyai gaya belajar berbeda
di MTs Al-Muini Sesela Kecamatan Gunungsari Tahun Pelajaran 2017/2018. Penelitian
ini mengambil tempat di Madrasah Tsanawiyah
(MTs) Al-Muini Sesela Kecamatan Gunungsari. Waktu penelitian dimulai sejak pengajuan proposal sampai selesai penyusunan laporan. Menurut prediksi peneliti waktu yang dibutuhkan sekitar enam bulan, untuk
menjaga keabsahan data dibutuhkan waktu yang relative panjang dalam penelitian.
Akan tetapi ada kemungkinan alokasi waktu penelitian kurang dari yang ditentukan, apabila data sudah dianggap memadai.
Subjek penelitian
ini adalah siswa MTs Al-Muini Sesela Kecamatan Gunungsari yang difokuskan pada kelas VIII dengan jumlah siswa sebanyak
15 siswa. Namun hanya akan diambil
3 siswa sebagai subyek penelitian dengan kreteria ke 3 siswa memiliki
gaya belajar berkategori tinggi baik untuk gaya
belajar visual, auditori,
dan kinestetik.
Instrumen dalam
penelitian kualitatif adalah peneliti sendiri. Maksudnya, data sangat tergantung pada validitas penelitian dalam melakukan pengamatan dan eksplorasi langsung ke lokasi
penelitian. Oleh karena itu penelitinya pun harus di �validasi�. (Afifuddin, 2009) Seberapa jauh
peneliti kualitatif siap melakukan penelitian yang selanjutnya, terjun kelapangan (Sugiyono, 2015) Dalam penelitian
kualitatif�
pada awalnya dimana permasalahan belum jelas dan pasti, maka yang menjadi instrumen adalah peneliti sendiri. Tetapi setelah masalahnya akan dipelajari jelas, maka dapat dikembangkan
suatu instrumen (Sugiyono, 2011).
Adapun
instrumen pengumpulan data
yang digunakan yaitu tes, wawancara, dan angket. Tes dan wawancara digunakan untuk mengetahui jenis kesalahan siswa, sedangkan angket digunakan untuk mengetahui gaya belajar siswa.
Tes�
adalah� instrumen� atau� alat� untuk� mengumpulkan� data tentang� kemampuan� subjek� penelitian� dengan� cara� pengukuran,� misalnya� untuk� mengukur� kemampuan� subjek� penelitian� dalam� menguasai� materi� pelajaran� tertentu.
Dalam�
penelitian� pendidikan,� tes� sering� digunakan� sebagai� alat� untuk� mengukur� kemampuan,� baik� kemampuan� dalam� bidang� kognitif,� afektif� maupun� psikomotor.� Sebagai� alat� ukur,� data�
yang� dihasilkan� melalui� tes� adalah� berupa� angka-angka,� oleh� sebab� itu,� tes� merupakan� instrumen� penelitian� yang� menggunakan� pendekataan �kuantitatif .�� (Puspitasari, 2018) Menurut� Wina� Sanjaya,�
kalaupun�
ada�
data� yang� bersifat kuantitatif,� maka� data� tersebut� digunakan� untuk� mendukung� kualitas sesuatu� yang� diteliti. (Puspitasari, 2018).
Bentuk tesnya
yakni diberikan soal uraian mengenai
SPLDV sebanyak 3 soal. Untuk soal pertama
dan kedua bernilai 30, dan untuk soal ketiga
bernilai 40. Sehingga, jika siswa mengerjakan
soal dengan benar tanpa adanya
kesalahan, maka siswa akan memperoleh
nilai 100.
Wawancara adalah
teknik penelitian yang dilaksanakan dengan cara dialog baik secara langsung (tatap muka) maupun
melalui saluran media tertentu antara pewawancara dan yang diwawancarai
sebagai sumber data. Dalam penelitian pendidikan wawancara, sering digunakan sebagai untuk mengumpulkan
data, karena dianggap sebagai teknik yang cukup ampuh untuk
mengumpulkan informasi baik mengenai pendapat,
sikap ataupun persepsi dan pendapat seseorang (Wina & Susana, 2013)
Pada penelitian ini peneliti menggunakan wawancara tidak terstrukur (terbuka) yang digunakan untuk menetukan jenis-jenis kesalahan yang dilakukan oleh siswa berdasarkan analisis Newman. Hal tersebut dikarenakan peneliti ingin memberikan kesempatan pada siswa untuk menjawab pertanyaan yang diberikan sesecara bebas atau terbuka. Sehingga
siswa tidak merasa tertekan dalam menjawab pertanyaan tersebut.
Dilihat dari
cara yang dilakukan penelitian ini, peneliti menggunakan jenis wawancara langsung. Wawancara langsung adalah wawancara yang dilaksanakan pewawancara mengungkap� data� atau keterangan� yang� ingin� diketahuinya� langsung� dari� sumber� data (Wina & Susana, 2013).
Angket�
adalah� instrumen� penelitian� berupa� daftar pertanyaan� atau� pernyataan� secara� tertulis� yang harus� dijawab� atau� di isi� oleh� responden� sesuai� dengan� petunjuk� pengisiannya.� Dibandingkan� dengan� instrumen� yang�
lain� angket� sering� digunakan oleh� peneliti� baik� dalam� penelitian� yang� membutuhkan�
data� kuantitatif
maupun�
data� kualitatif.
Hal� ini� disebabkan� kelebihan� angket �itu� sendiri� yang� bersifat� praktis (Wina & Susana, 2013) Penggunaan angket
sebagai teknik pengumpulan data bertujuan untuk mengetahui jenis gaya belajar
yang dimiliki oleh masing-masing siswa.
Jenis angket yang digunakan adalah angket tertutup.
�������� Instrumen tes, wawancara, dan angket divaliadsi menggunakan uji validitas konstrak (construct validity) yaitu
yaitu sebelum instrumen penelitian digunakan untuk menjaring data dikonsultasikan terlebih dahulu untuk mendapatkan pertimbangan (judgment)
dari dosen pembimbing (dosen ahli) dalam bidang
penelitian ini. (Mulyati, 2014) Adapun yang menjadi judgement pada
penelitian ini adalah tiga orang yaitu, satu dari
guru matematika dan dua dari dosen matematika.
Hasil dan Pembahasan
Pada penelitian ini digunakan validitas instrumen yaitu
untuk mengetahui� validnya suatu data
yang akan digunakan yaitu 2 dosen matematika dan 1 guru matematika yang
menyatakan instrumen valid untuk digunakan. Sedangkan reliabilitas digunakan
untuk menguji instrumen berupa angket agar bias digunakan sebagai instrumen
penelitian, adapaun hasil uji reliabilitas angket yaitu 0,897 dengan kategori
sangat tinggi sehingga angket bias digunakan dalam pengumpulan data. Siswa yang
menjadi objek kajian adalah 3 siswa dari 15 siswa yang sudah diketahui gaya
belajarnya yang masing �masing mempunyai gaya beljar berkategori tinggi. Data
yang dikumpulkan berupa hasil tes soal sistem persamaan linier dua variabel dan
hasil wawancara soal sistem persamaan linier dua variabel.
Angket digunakan untuk memperoleh data gaya belajar dari
siswa kelas VIII MTs Al - Mu�Ini Sesela tahun ajaran 2018/2019. Angket gaya belajar
yang digunakan pada penelitian ini memiliki tiga jenis� gaya belajar yaitu gaya belajar visual,
auditori, dan kinestetik
�������� Hasil tes sistem persamaan linier dua
variabel bertujuan untuk mengetatahui kesalahan yang dilakukan peserta didik
dalam menyelesaikan soal cerita pada materi sistem persamaan linier dua
variabel. Pada saat peneliti melakukan penelitian. Siswa� kelas VIII sedang melakukan kegiatan belajar
mengajar. Terlihat keadaan kelas dapat dikatakan tidak interaktif. Artinya
antusias belajar peserta didik kurang. Tidak jarang peneliti menemukan beberapa
peserta didik kerap kali bermain�-main saat proses belajar mengajar
berlangsung. Untuk memaksimalkan hasil penelitian maka peneliti melaksanakan
tes uraian, dimana untuk mengetahui kesalaahn-kesalahan
yang dilakukan siswa pada saat proses mengerjakan soal uraian tersebut.
Terlihat bahwa peserta didik masih kurang bisa mengerjakan soal cerita sistem
persamaan linier dua variabel. Siswa juga ada yang keliru karena kurang teliti
dalam mengerjakan soal. Ada juga siswa yang tidak mengerjakan soal yang
kemungkinan siswa tersebut tidak paham maksud dari soal sehingga jawabannya
dibiarkan kosong. Hasil tes wawancara bertujuan untuk mengetahui kesalahan yang
dilakukan peserta didik secara langsung agar bisa dibandingkan dengan soal tes
sistem persamaan linier dua variabel.
�� Berdasarkan deskripsi angket
gaya belajar visual sebanyak 9 butir soal dengan jumlah
responden 15 siswa diperoleh hasil bahwa bahwa mean 4,93; median 5; modus 6; standar
deviasi 1,9; range 7; nilai
maksimal 8; nilai minimal 1
dan kor total 74. Adapun hasil kategori
gaya belajar visual diketahui bahwa terdapat siswa yang memiliki gaya belajar
visual dengan kategori tinggi sebanyak 7 siswa atau (47%), kategori sedang sebanyak 5 siswa atau (33%), dan kategori rendah sebanyak 3 siswa atau (20%). Sehingga sebagian besar siswa siswa kelas
VIII MTs Al-Muini memiliki gaya belajar visual pada tingkatan tinggi (47%).
Deskripsi angket
gaya belajar auditori sebanyak 9 butir soal dengan
jumlah responden 15 siswa diperoleh hasil bahwa mean 5,53; median 5; modus 4; standar
deviasi 1,6; range 5; nilai
maksimal 8; nilai minimal 3
dan kor total 83. Adapun hasil kategori
gaya belajar auditori diketahui bahwa terdapat siswa yang memiliki gaya belajar auditori
dengan kategori tinggi sebanyak 4 siswa atau (27%), kategori sedang sebanyak 6 siswa atau (40%), dan kategori rendah sebanyak 5 siswa atau (33%). Sehingga sebagian besar siswa siswa kelas
VIII MTs Al-Muini memiliki gaya belajar auditori
pada tingkatan sedang
(40%).
Deskripsi angket
gaya belajar kinestetik sebanyak 9 butir soal dengan
jumlah responden 15 siswa diperoleh hasil bahwa mean 4,6; median 4; modus 4; standar
deviasi 1,5; range 6; nilai
maksimal 8; nilai minimal 2
dan kor total 69. Adapun hasil kategori
gaya belajar kinestetik diketahui bahwa terdapat siswa yang memiliki gaya belajar kinestetik
dengan kategori tinggi sebanyak 4 siswa atau (27%), kategori sedang sebanyak 8 siswa atau (53%), dan kategori rendah sebanyak 3 siswa atau (20%). Sehingga sebagian besar siswa siswa kelas
VIII MTs Al-Muini memiliki gaya belajar kinestetik
pada tingkatan sedang
(53%).
Berdasarkan hasil
angket keseluruhan peneliti menetapkan 3 siswa yang akan menjadi subyek penelitian, yang masing-masing kategori
gaya belajar lebih dominan dari
gaya belajar yang lain. Siswa gaya belajar
visual yang diambil sebagai subyek
penelitian memproleh skor 8 dibandingkan dengan gaya belajar
auditori dan kinestetik dengan skor 3 dan 2. Sedangkan gaya belajar auditori yang diambil sebagai subyek penelitian memperoleh 6 dengan kategori tinggi, auditori 8 dengan kategori tinggi dan kinestetik 5 dengan kategori sedang.� Dan siswa gaya belajar
kinestetik memperoleh gaya belajar visual 2 kategori rendah, auditori 5 kategori sedang, dan kinestetik 8 kategori tinggi.
�������� Kesalahan-kesalahan yang dilakukan
siswa dalam menyelesaikan soal sistem persamaan linier dua variabel berdasarkan
analisis Newman yang berdarakan
hasil tes dan wawancara (triangulasi) adalah:
1.
Siswa Gaya Belajar Visual
a.
Kesalahan Membaca
Siswa pada tingkatan ini sudah bisa
membaca kata � kata� dalam soal dan dapat mengartikan kata � kata yang dianggap
sulit yang diajukan baik pada hasil kerja siswa maupun
pada wawancara.
b.
Kesalahan Memahami
Pada hasil kerja siswa
menuliskan apa yang diketahui dalam bentuk model matematika yakni pada soal nomor 1 dan 3 untuk nomor 2 siswa tidak
menuliskan apa yang diketahui dan ditanyakan. Sedangkan pada hasil wawancara siswa menuliskan apa yang diketahui dan ditanyakan.
c.
Kesalahan Transformasi
Siswa dapat mengubah soal
ke dalam model matematika� pada nomor 1
dan 3 pada soal kemampuan matematika, serta pada soal wawancara, sedangkan nomor 2 pada soal kemampuan matematika siswa belum bisa.
d. ���Kesalahan Keterampilan Proses
Dari hasil kerja dan wawancara siswa gaya belajar visual belum bisa dalam
ketrampilan proses pada soal
nomor 1 dan 3. Siswa kecenderungan kurang teliti dalam proses perhitungan. Sedangkan pada soal kemampuan matematika nomor 2� dan pada soal wawancara siswa sudah bisa
dalam ketrampilan proses.
e. ��Kesalahan Penulisan Jawaban
Siswa pada hasil kerja untuk soal
kemampuan matematika tidak menulisakan satuan yakni pada nomor 1, 3 serta pada soal wawancara dan jawabannya kurang tepat pada soal nomor 1 dan 3. Sedangkan untuk nomor 2 serta
pada soal wawancara jawaban yang diberikan benar.
2.
Siswa Gaya Belajar Auditori
a.
Kesalahan Membaca
Siswa pada tingkatan ini sudah bisa
membaca kata-kata� dalam soal dan dapat mengartikan kata-kata yang dianggap
sulit yang diajukan baik pada hasil kerja siswa maupun
pada wawancara.
b.
Kesalahan Memahami
Pada hasil kerja siswa
dan wawancara siswa menuliskan apa yang diketahui dan ditanyakan pada soal nomor 1 dan pada soal wawancara. Sedangkan pada soal nomor 2 dan 3 untuk soal kemampuan matematika siswa tidak mengerjakannya.
c.
Kesalahan Transformasi
Siswa dapat mengubah soal ke
dalam model matematika� pada nomor 1 serta pada soal wawancara, sedangkan nomor 2 dan 3 pada soal kemampuan matematika siswa tidak mengerjakannya.
d.
Kesalahan Keterampilan Proses
Siswa tidak mengerjakan� keterampilan
proses pada soal kemampuan matematika pada nomor 1, 2 dan 3.
Sedangkan siswa pada soal wawancara siswa mengerjakan soal ketrampilan proses, walaupun masih salah.
e. Kesalahan Penulisan Jawaban
Siswa pada hasil kerja tidak menuliskan
jawaban untuk soal nomor 1, 2, dan 3. Sedangkan untuk soal wawancara siswa menuliskan jawaban namun masih
kurang tepat.
3.
Siswa Gaya Belajar Kinestetik
a.
Kesalahan Membaca
Siswa pada tingkatan ini sudah bisa
membaca kata-kata� dalam soal walaupun masih
kurang lancar dalam membaca dan dapat mengartikan kata-kata yang dianggap sulit yang diajukan baik pada hasil kerja siswa
maupun pada wawancara.
b.
Kesalahan Memahami
Pada hasil kerja siswa
kurang tepat menuliskan apa yang diketahui pada nomor 1, untuk soal wawancara
sudah tepat . Sedangkan pada soal nomor 2 dan 3 untuk soal kemampuan
matematika siswa tidak mengerjakannya.
c.
Kesalahan Transformasi
Siswa salah dalam membuat �model matematika
pada soal kemampuan matematika nomor 1 dan untuk nomor 2 dan 3 tidak dikerjakan. Sedangkan pada soal wawancara siswa benar dalam membuat
model matematika.
d.
Kesalahan Keterampilan
Proses
Siswa tidak mengerjakan� keterampilan
proses pada soal kemampuan matematika pada nomor , 2 dan 3. Untuk� nomor 1� serta pada soal wawancara siswa mengerjakan soal tidak sampai
selesai.
e.
Kesalahan Penulisan
Jawaban
�� Siswa pada hasil kerja tidak
menuliskan jawaban untuk soal nomor
1, 2, dan 3. Sedangkan untuk
soal wawancara siswa menuliskan jawaban .
Kesimpulan
Berdasarkan
hasil analisis data dan pembahasan
dalam penelitan ini, maka dapat diambil kesimpulan bahwa siswa dengan
gaya belajar visual,
auditorial dan kinestetik dengan
kategori tinggi mempunyai kecenderungan kesalahan sebagai berikut:
a.
Gaya
belajar visual kecenderungan
kesalahan sebagai berikut:
1)
Kesalahan dalam
perhitungan (tahap keterampilan Proses)
2)
�Tidak menyertakan satuan yang sesuai (tahap penulisan
jawaban)
3)
Menuliskan jawaban
tidak tepat (tahap penulisan jawaban)
b.
Gaya
belajar auditori kecenderungan kesalahan sebagai berikut:
1)
Tidak menuliskan
apa yang diketahui dan ditanyakan sesuai dengan soal
2)
Tidak melanjutkan
prosedur penelitian (tahap keterampilan proses) pada soal tes sistem
persamaan linier dua variabel
3)
�Kesalahan dalam proses perhitungan (tahap keterampilan proses)
4)
Tidak menuliskan
jawaban (tahap penulisan jawaban) pada soa tes sistem
persamaan linierr dua variabel.
5)
Menuliskan jawaban
tidak tepat (tahap penulisan jawaban)
6)
Tidak menyertakan
satuan yang sesuai (tahap penulisan jawaban)
c.
Gaya
belajar kinestetik kecendrungan kesalahan sebagai berikut:
1)
Menuliskan apa
yang diketahui dan ditanyakan
namun tidak sesuai dengan soal
(tahap memahami)
2)
Mengubah informasi
pada soal ke dalam kalimat matematika
tapi tidak tepat ( tahap
transformasi)
3)
Kesalahan dalam
perhitungan (tahap ketempilan proses)
4)
Tidak melanjutkan
prosedur penyelesaian (tahap keterampilan proses)
5)
Tidak menuliskan
jawaban (tahap penulisan jawaban).
BIBLIOGRAFI
Afifuddin,
N. (2009). Perbedaan Pengaruh Penggunaan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe
Jigsaw Dan Group Investigation (Gi) Terhadap Prestasi Belajar Biologi Ditinjau
Dari Motivasi Berprestasi Siswa. UNS (Sebelas Maret University).
Azizah,
A. N. U. R., & BISRI, M. O. H. (2018). Penggunaan Media Benda Konkret
Pada Pembelajaran Matematika Tingkat Dasar Materi Pecahan Kelas Iii Di Sd Islam
Al-Hilal Kartasura Sukoharjo Tahun Pelajaran 2017/2018. IAIN Surakarta.
Irzani,
N. (2018). Perubahan Pandangan Tentang Nilai Budaya Sumang Pada Kehidupan
Masyarakat Gayo Di Desa Bale Atu Kecamatan Bukit Kabupaten Bener Meriah.
Unimed.
Listia,
Q. F. (2016). Islam Nusantara: Upaya Pribumisasi Islam Menurut NU. UIN
Sunan Ampel Surabaya.
Muadzin,
A., & Aryadi, W. (2019). Analisis Distribusi Pengereman Terhadap Center of
Gravity Pada Integrated Braking System Berbasis Matlab Simulink. Sainteknol:
Jurnal Sains Dan Teknologi, 16(2), 113�124.
Mulyati,
M. (2014). Pengembangan Kemampuan Kognitif Melalui Bermain Sains Pada Anak
Kelompok B Semester I TK Guworejo Iv Karangmalang Sragen Tahun 2014/2015.
Universitas Muhammadiyah Surakarta.
Nasution,
H. (2019). Islam ditinjau dari Berbagai Aspeknya.
Puspitasari,
W. D. (2018). Pengaruh Sarana Belajar Terhadap Prestasi Belajar Ilmu
Pengetahuan Sosial Di Sekolah Dasar. Jurnal Cakrawala Pendas, 2(2).
Simanjuntak,
C. H., O�Hanley, P., Punjabi, N. H., Noriega, F., Pazzaglia, G., Dykstra, P.,
Kay, B., Budiarso, A., Rifai, A. R., & Wasserman, S. S. (1993). Safety,
Immunogenicity, And Transmissibility Of Single-Dose Live Oral Cholera Vaccine
Strain CVD l03-HgR in 24-to 59-Month-Old Indonesian Children. Journal Of
Infectious Diseases, 168(5), 1169�1176.
Sugiyono.
(2014). Metode Penelitian Pendidikan:(Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif Dan
R & D). Bandung: Alfabeta.
Sugiyono,
P. (2011). Metodologi Penelitian
Kuantitatif Kualitatif Dan R&D. Alpabeta,
Bandung.
Sugiyono,
P. (2015). Metode Penelitian Kombinasi
(Mixed Methods). Bandung: Bandung:
Alfabeta, 28.
Sundayana,
R. (2016). Kaitan Antara Gaya Belajar, Kemandirian Belajar, Dan Kemampuan
Pemecahan Masalah Siswa SMP Dalam Pelajaran Matematika. Mosharafa: Jurnal
Pendidikan Matematika, 5(2), 75�84.
Wina,
E., & Susana, I. W. R. (2013). Manfaat Lemak Terproteksi Untuk Meningkatkan
Produksi Dan Reproduksi Ternak Ruminansia. Wartazoa, 23(4),
176�184.
