|
Jurnal
Syntax Transformation |
Vol. 2
No. 2, Februari 2021 |
|
p-ISSN :
2721-3854 e-ISSN : 2721-2769 |
Sosial
Sains |
ANALISIS
KOMPARATIF FAKTOR-FAKTOR PROFITABILITAS EMITEN STARTUP DI INDONESIA
Yosa Nugraha
Firmana, Rony Joyo Negoro Octavinaus, Sahala Manalu, dan Catharina Aprillia Hellyani
Universitas Ma
Chung Malang Jawa Timur, Indonesia
Email: [email protected], [email protected],
[email protected],
dan [email protected]
|
INFO ARTIKEL |
ABSTRACT |
|
Diterima: 5 Januari
2021 Diterima dalam bentuk revisi: 10 Februari 2021 Diterima dalam bentuk revisi: 15 Februari 2021 |
Recently, startup companies
in Indonesia have been growing such as Tokopedia, Bukalapak,
Go-Jek dan OVO. Basically, startup need a huge fund and have to fast moving.There are 3 ways to get
fundraising for startup, there are bank debt, capital venture and Initial
Public Offering (IPO). This research will tell about
how the comparation of financial performance startup company after IPO using
profitability ratio, that are yaitu Return on
Assets (ROA), Return on Equity (ROE), Return on Capital Employed (ROCE),
Sales to Assets (SA), Net Profit Margin (NPM), Operating Net Margin (OPM).
Total of startup company is 8 that using sampling purposive technique which
any some criteria in choosing the sample. Data analys� technique are used is Paired Sample
T-Test who the ratio scale variabel test that have
a relate sample. This analysis in this research would analysed annualy. The
result of research expalain that is not different
financial performance after IPO on startup company during are 1 years, 2
years and 3 years. That result due IPO purposes startup companies for
business expansion as services improving and buying technology inventory. Startup
must have a good manajemen in order to manage the
fund as well and focus on owned technology. ABSTRAK Akhir-akhir ini perusahaan
startup di Indonesia semakin berkembang
seperti Tokopedia, Bukalapak,
Go-Jek dan OVO. Pada dasarnya startup membutuhkan dana yang besar dan
harus bergerak cepat. Terdapat 3 jenis pendanaan yang bisa diperoleh startup, yaitu hutang bank, modal ventura dan Initial
Public Offering (IPO). Penelitian ini akan membahas
mengenai bagaimana perbedaaan kinerja keuangan emiten startup setelah IPO dengan menggunakan rasio profitabilitas, yaitu Return on Assets (ROA), Return on Equity (ROE), Return on Capital Employed (ROCE), Sales to Assets (SA), Net Profit Margin (NPM), Operating Net Margin (OPM) sebagai variabel pebelitian .
Jumlah emiten startup
pada penelitian ini sebanyak 8 emiten dengan menggunakan teknik sampling
purposive sampling yang terdapat kriteria tertentu dalam menentukan sampel. Teknik analisis data
yang digunakan adalah
Paired Sample T-Test yang merupakan uji variabel berskala rasio yang memiliki sampel yang berhubungan. Analisis dalam penelitian ini dilakukan dengan analisis tahunan. Hasil penelitian ini menyatakan bahwa tidak ada perbedaan
kinerja keuangan setelah IPO pada emiten startup
selama 1 tahun, 2 tahun dan 3 tahun. Hal tersebut karena tujuan IPO emiten startup untuk ekspansi bisnis seperti meningkatkan layanan dan membeli barang teknologi. Startup harus memiliki manajemen yang baik agar dapat mengelolah dana dengan baik dan fokus pada teknologi yang dimiliki. |
|
Keywords: IPO; startup; financial
performance; fundamental Kata kunci: IPO; startup;
kinerja keuangan;
fundamental |
Pendahuluan
Akhir-akhir ini istilah startup atau biasanya disebut
perusahaan rintisan sering dibicarakan di Indonesia. Beberapa masyarakat mungkin mengetahui perusahaan rintisan seperti Tokopedia, Bukalapak,
Go-Jek dan OVO. Menurut Paul Graham, startup merupakan sebuah perusahaan yang didesain untuk berkembang dengan cepat. Baru
dirintis tidak serta merta membuat
sebuah perusahaan menjadi startup. Perlu diingat bila
startup tidak harus bergerak di bidang teknologi, memperoleh dana dari investor, dan melakukan exit. Hal yang paling penting adalah berkembang dengan cepat. Semua hal
yang berkaitan dengan startup akan mengikuti perkembangan perusahaan tersebut (Wijaya, 2016).�
Untuk
mendirikan sebuah startup, dibutuhkan dana yang besar. Ada berbagai cara untuk
memperoleh pendanaan. Pertama yaitu bisa
melalui pinjaman bank atau juga bisa disebut kredit. Undang -Undang Nomor 10 Tahun 1995 menyatakan bahwa kredit adalah penyediaan
uang atau tagihan yang dapat dipersamakan dengan itu, berdasarkan
persetujuan atau kesepakatan pinjam-meminjam antara bank dengan pihak lain yang mewajibkan pihak peminjam untuk melunasi utangnya setelah jangka waktu tertentu
dengan pemberian bunga.
Perusahaan startup juga dapat� memperoleh pendanaan dari modal ventura.� Menurut KEPPRES no. 61 tahun 1998� Bab 1 pasal 1 no. 12, Perusahaan Modal Ventura (Venture Capital Company) adalah badan usaha yang melakukan usaha pembiayaan dalam bentuk penyertaan modal ke dalam suatu
Perusahaan yang menerima bantuan
pembiayaan (Investee
Company) untuk jangka waktu tertentu. Modal ventura dikelola secara independen untuk mengumpulkan dana yang berfokus pada perusahaan yang memiliki pertumbuhan tinggi dan sudah mulai berkembang (Alamsyah, 2011). Contoh perusahaan yang mendapat pendanaan melalui modal ventura adalah Tokopedia yang mendapat suntikan dana US$ 1,1 Miliar dari Softbank Vision
Fund dan Alibaba Group Holding (Pertiwi, 2018).
Selain
memperoleh pendanaan dari hutang bank atau modal ventura, perusahaan startup bisa memperoleh dana dengan menjual beberapa persen sahamnya ke masyarakat atau
disebut dengan Initial Public Offering (IPO). Berdasarkan Undang-Undang no. 8 Tahun 1995 tentang pasar modal, penawaran umum adalah kegiatan penawaran efek yang dilakukan oleh emiten untuk menjual efek
kepada masyarakat berdasarkan tata cara yang diatur dalam Undang-undang
ini dan peraturan pelaksanaannya. Dengan IPO, perusahaan dapat meningkatkan modal kerja untuk pertumbuhan perusahaan, membayar utang, melakukan investasi serta melakukan akuisisi. Selain itu, perusahaan yang telah menjadi publik
dapat memperoleh pendanaan selanjutnya, yaitu penawaran umum terbatas yang khusus untuk investor yang telah memiliki saham perusahaan dan private
placement. Perusahaan publik yang sahamnya
diperdagangkan di Bursa akan
mendapat kepercayaan dan lebih dikenal dari
kalangan perbankan dan institusi keuangan sehingga apabila perusahaan butuh pinjaman, proses pemberian pinjaman akan dipermudah
(gopublic.idx.co.id).
Perusahaan di Tanzania mencari
pendanaan melalui Initial Public Offering (IPO) di Dares
Salaam Stock Exchange dan ada perubahan signifikan
pada kinerja keuangan berdasarkan Return on
Assets (ROA), Return on Equity
(ROE), Return on Capital Employed
(ROCE) dan Sales to Assets (SA). Adanya sedikit peningkatan pada ROA dan yang paling signifikan
adalah SA. Akan tetapi, terdapat penurunan terhadap ROCE dan paling dalam
pada ROE. Perusahaan yang memperoleh dana dari IPO belum tentu menghasilkan kinerja keuangan yang baik. Hal tersebut dipengaruhi oleh manajemen dalam menganalisis faktor internal dan eksternal kondisi perusahaan yang akan datang. Bursa efek memiliki banyak
peran kepada masyarakat untuk menyalurkan dananya walaupun jumlahnya kecil, tetapi memiliki
efek terhadap emiten. Sumber pendanaan perusahaan yang baik adalah berasal
dari bursa efek. Investor akan membeli saham
perusahaan yang terdaftar
di bursa efek dengan harapan memperoleh dividen dan capital gain. Akan tetapi,
investor akan memperoleh keuntungan tersebut apabila perusahaan yang terdaftar memiliki kinerja yang lebih baik setelah IPO (Munisi, 2017).
Penelitian
studi secara empiris perusahaan startup pada dasarnya mereka membutuhkan sumber pendanaan. Analisis startup pada
wilayah Ko�ice, Slovakia menunjukkan
bahwa adanya pengaruh signifikan pada pendanaan berdasarkan pengembangan awal perusahaan startup. Pinjaman bank
biasanya digunakan pada beberapa perusahaan startup ditahap awal. Setelah melewati tahap pengembangan, perusahaan harus mencari sumber
pendanaan seperti business
angle dan struktur modal. Akan tetapi,
akses pendanaan tersebut masih kurang karena jumlahnya
yang sedikit sehingga
startup di Slovakia terlihat kurang
menguntungkan jika dibandingkan dengan negara Eropa lainnya. Hal itu akan menyebabkan
dampak negatif pada ekonomi. Untuk itu, dibutuhkan dukungan pemerintah untuk perusahaan startup seperti bekerja sama dengan institusi
untuk mempercepat akses pendanaan serta kompetisi rancangan usaha (D�upka et al., 2016).
Ratusan
perusahaan startup di Korea Selatan sudah IPO di KOSDAQ (Korea
Securities Dealers Automated) dan memberikan kontribusi pada perkembangan ekonomi Korea Selatan. Startup memerlukan
dana yang besar untuk pengembangan teknologi dan branding.
Perusahaan memperoleh pendanaan
dari modal ventura untuk membangun infrastruktur teknologi sebelum IPO. Jika infrastruktur sudah terbangun, perusahaan startup akan melakukan IPO. Hasil penelitian menyatakan bahwa penentuan waktu IPO dan pendanaan yang diperoleh dari modal ventura dan IPO tidak mempengaruhi kinerja keuangan, yaitu ROE, sales dan profit. Perusahaan yang memiliki kinerja baik setelah IPO karena adanya pengaruh
signifikan terhadap teknologi yang dimiliki seperti hak paten dan diversifikasi produk sehingga menarik investor untuk membeli sahamnya.
Selain itu, pengalaman Chief
Executive Officer (CEO) dalam memimpin
perusahaan juga berpengaruh
terhadap kinerja perusahaan (Y. Kim & Heshmati, 2010).
Asosiasi
Penyelenggara Jasa Internet Indonesia menyatakan bahwa pengguna internet di Indonesia sudah
mencapai 102 Juta pengguna
yang menjadikan Indonesia sebagai
pengguna internet dengan pertumbuhan tercepat nomor 6 di dunia. Pertumbuhan tersebut terbagi dalam beberapa jenis, yaitu pengguna
internet sekitar 51% dari jumlah penduduk Indonesia yang mencapai 256 juta penduduk dan jumlah pengguna terbanyak berada di pulau Jawa sebesar 86 juta atau sekitar
60%. Perkembangan internet dipengaruhi
oleh infrastruktur teknologi
mendorong munculnya startup
yang memiliki peluang yang besar.
Untuk
mendorong perkembangan
startup, pemerintah Indonesia melalui
Kementrian Komunikasi dan Informatika meluncurkan program
Gerakan Nasional 1000 Starup Digital yang dimulai sejak Januari
2017. Program tersebut bertujuan
untuk menghasilkan 1.000 perusahaan� startup
yang berkualitas pada tahun
2020 (Putriadita, 2017). Ada 5 langkah pemerintah untuk mencapai gerakan tersebut. Pertama, mengembangkan Sumber Daya Manusia
(SDM) yang berfokus pada penddikan
vokasional. Kedua, menjaga iklim usaha
kondusif dengan meningkatkan pertumbuhan ekonomi. Ketiga, dukungan kebijakan fiskal. Keempat, pendanaan dan kelima, regulasi khusus untuk startup.
Badan Koordinasi Penanaman Modal (NKPM) menyatakan
bahwa jumlah pendanaan startup sampai dengan tahun 2018 adalah US$ 4,8 Miliar, atau separuh sektor
migas sehingga mengalami pertumbuhan 30% hingga 50%. Sektor yang mendapat pendanaan tersebut adalah e-commerce. Akan tetapi,
startup Indonesia masih mengalami
kesulitan pendanaan ketika mengalami pertumbuhan. Pendanaan yang sulit adalah tahap
menengah, yaitu seri B sekitar US$ 5 Juta hingga 20 US$ Juta dan seri C sekitar US$ 525 Juta hingga 100
US$ Juta. Hal tersebut terjadi
karena jumlah modal ventura di Indonesia masih kurang dan jumlah kelolaan modal yang relatuf kecil. Unuk mendanai
seri B dan C, modal ventura
Indonesia harus memiliki pengalaman 10 tahun. Selain itu, pendanaan
melalui� IPO juga terdapat
kendala. Menurut Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal Otoritas
Jasa Keuangan (OJK) menyatakan
bahwa beberapa startup masih belum IPO karena adanya persaingan
usaha. Jika startup sudah IPO,
perusahaan harus transparan mulai dari laporan keuangan
hingga prospek bisnis sehingga perusahaan tidak bisa merahasiakan dan kompetitor dapat mengetahuinya.
Selain
passion pendiri startup, terdapat
faktor lain, yaitu pendanaan. Pendanaan akan digunakan untuk mengembangkan produk (Alamsyah, 2011). Berdasarkan pemaparan mengenai startup dari Slovakia,
Korea Selatan dan Indonesia, dapat disimpulkan bahwa masalah utama pada startup adalah pendanaan, baik melalui hutang
bank, modal ventura dan IPO. Perusahaan startup yang ingin memperoleh dana IPO harus memahami terlebih dahulu manfaat yang diperoleh, salah satunya yaitu peningkatan
kinerja keuangan. Hasil penelitian pada perusahaan yang telah IPO berbagai sektor di Tanzania menyatakan bahwa terdapat peningkatan kinerja keuangan, tetapi juga terdapat penuruan. Untuk mengetahui kinerja keuangan sesudah IPO dengan menggunakan rasio profabilitas, penelitian ini ditulis dengan
judul Analisis Komparatif Faktor - Faktor Profitabilitas Emiten Startup Di Indonesia.
Metode Penelitian
A.
Jenis
Penelitian
Penelitian ini berdasarkan
pada paradigma post
positivism yang� bertujuan
untuk mengukur sesuatu hal secara
objektif melalui sebuah pembuktian untuk menemukan mana yang kemungkinan benar (Guba & Lincoln, 1994). Pendekatan pada penelitian ini adalah kuantitatif, yaitu suatu pandangan
bahwa studi yang kecil akan memberikan
manfaat yang lebih luas (Lor, 2019). Metode penelitian
yang digunakan adalah comparative research �yang dasarnya memahami perbedaan diantara unit berbeda dengan cara membandingkan
minimal 2 objek (Matthes, 2017). Hal ini objek
yang dibandingkan adalah kinerja keuangan, yaitu Return on
Assets (ROA), Return on Equity
(ROE), Return on Capital Employed
(ROCE), Sales to Assets (SA), Net Profit Margin (NPM) dan Operating Profit Margin (OPM). Variabel akan terbagi
dua, yaitu sebelum IPO yang terdiri dari Return on Assets
(ROA T-n), Return on Equity (ROE
T-n), Return on Capital Employed
(ROCE T-n), Sales to Assets (SA T-n),
Net Profit Margin (NPM T-n) dan Operating Profit Margin (OPM T-n), untuk sesudah IPO yang terdiri dari Return on Assets (ROA T+n), Return on Equity (ROE T+n), Return on
Capital Employed (ROCE T+n), Sales to Assets (SA T+n), Net Profit Margin (NPM T+n) dan Operating
Profit Margin (OPM T+n).
B.
Variabel dan Definisi
Operasional Variabel
1.
Variabel
Return on Asset (ROA)
merupakan tingkat pengembalian terhadap aset perusahaan. Return on Equity (ROE) adalah tingkat pengembalian modal. Return
on Capital Employed (ROCE) adalah perbandingan antara laba operasi dengan
seluruh aset dikurangi dengan kewajiban. Sales to
Assets (SA) merupakan perbandingan
pendapatan dengan aset. Net Profit
Margin (NPM) merupakan selisih
pendapatan dengan laba bersih perusahaan.dan
Operating Profit Margin (OPM) adalah selisih antara pendapatan dengan laba operasi.
Enam variabel tersebut termasuk dalam variabel manifest sehingga data diperoleh dari laporan keuangan
atau laporan tahunan perusahaan yang terdapat pada objek delapan perusahaan pada penelitian penelitian ini, yaitu PT. Kioson Komersial Indonesia Tbk., PT. M Cash Integrasi� Tbk., PT.
NFC Indonesia Tbk., PT. Yeloo
Integra Datanet Tbk., PT. Distribusi Voucher Nusantara Tbk.,
PT. Hensel Davest Indonesia Tbk.,
PT. Telefast Indonesia Tbk.
dan PT. Digital Mediatama Maxima Tbk.. Objek
perhitungan penelitian secara tahunan.
2.
Definisi Operasional
Variabel
Definisi operasional
untuk penelitian ini akan dijelaskan
dalam bentuk tabel, yaitu:
Tabel 2
Definisi Operasional Variabel
|
No |
Variabel |
Rumus |
Satuan |
Jenis
Data |
|
1 |
Return on Asset
(ROA) |
|
Persen
(%) |
Rasio |
|
2 |
Return on Equity
(ROE) |
Persen
(%) |
Rasio |
|
|
3 |
Net Profit Margin
(NPM) |
Persen
(%) |
Rasio |
|
|
4 |
Employed (ROCE) Sales to Assets
(SA) |
Persen
(%) |
Rasio |
|
|
5 |
Operating Profit Margin
(OPM) |
Persen
(%) |
Rasio |
|
|
6 |
Sales
to Assets (SA |
Persen
(%) |
Rasio |
Sumber : (Munisi,
2017)
C.
Populasi dan Sampel
Penelitian
Populasi dalam penelitian
ini adalah perusahaan publik yang telah terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI). Pada penelitian
ini sektor perusahaan yang dipilih adalah startup dan
jumlah perusahaan yang terdaftar di BEI untuk sektor tersebut adalah 8 perusahaan, yaitu PT. Kioson Komersial Indonesia Tbk., PT. M
Cash Integrasi� Tbk., PT. NFC Indonesia Tbk.,
PT. Yeloo Integra Datanet Tbk., PT. Distribusi Voucher
Nusantara Tbk., PT. Hensel Davest
Indonesia Tbk., PT. Telefast
Indonesia Tbk. dan PT. Digital Mediatama
Maxima Tbk.
Tabel 3
Sampel Penelitian
Sumber : Bursa Efek Indonesia
|
No |
Nama Perusahaan |
Kode Saham |
|
1 |
PT.
Kioson Komersial
Indonesia Tbk. |
KIOS |
|
2 |
PT.
M Cash Integrasi� Tbk. |
MCAS |
|
3 |
PT.
NFC Indonesia Tbk. |
NFCX |
|
4 |
PT.
Yeloo Integra Datanet Tbk. |
YELO |
|
5 |
PT.
Distribusi Voucher Nusantara Tbk. |
DIVA |
|
6 |
PT.
Hensel Davest Indonesia Tbk. |
HDIT |
|
7 |
PT.
Telefast Indonesia Tbk. |
TFAS |
|
8 |
PT.
Digital Mediatama Maxima Tbk. |
DMMX |
Teknik sampling yang digunakan adalah �non-probability sample dengan
menggunakan dengan pendekatan purposive
sampling, yaitu sampel
yang digunakan memiliki kriteria khusus (Priyono, 2016).
Terdapat beberapa kriteria
sampel dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :
1.
Emiten yang mempublikasikan laporan keuangan
selama 1 tahun.
2.
Emiten yang mempublikasikan laporan keuangan
selama 2 tahun.
3.
Emiten yang mempublikasikan laporan keuangan
selama 3 tahun.
Berdasarkan kriteria tersebut,
Ada beberapa sampel yang telah memenuhi yang terlampir dalam bentuk tabel di bawah ini:
Tabel 4
Sampel Penelitian yang Sesuai dengan Kriteria
|
No |
Kriteria |
Sampel |
|
|
1 |
Memiliki laporan keuangan
1 tahun sebelum IPO dan 1
tahun sesudah IPO |
KIOS |
|
|
|
|
MCAS |
|
|
|
|
NFCX |
|
|
|
|
YELO |
|
|
|
|
DIVA |
|
|
|
|
HDIT |
|
|
|
|
TFAS |
|
|
|
|
DMMX |
|
|
|
|
Total |
8 |
|
2 |
Memiliki laporan keuangan
2 tahun sebelum IPO dan 2
tahun sesudah IPO |
KIOS |
|
|
|
|
NFCX |
|
|
|
|
DIVA |
|
|
|
|
Total |
3 |
|
3 |
Memiliki laporan keuangan
3 tahun sebelum IPO dan 3
tahun sesudah IPO |
MCAS |
|
|
|
|
Total |
1 |
Sumber : Bursa Efek Indonesia
D.
Jenis dan Sumber
Data
Jenis data pada penelitian ini adalah kuantitatif
dengan skala rasio yang mengukur perbedaan antar titik pada skala dan proporsi dalam perbedaan. Sumber data yang digunakan adalah data sekunder, yaitu data yang sudah ada dan tidak
dimiliki oleh peneliti yang
bisa diakses melalui publikasi sebuah organisasi (Sekaran & Bougie, 2016). Data tersebut diperoleh
dari publikasi situs resmi perusahaan dan Bursa Efek Indonesia (https://idx.co.id/perusahaan-tercatat/laporan-keuangan-dan-tahunan).
Data yang diambil adalah prospektus dan laporan keuangan perusahaan.
Berdasarkan sumber data, teknik
yang digunakan adalah dokumentasi dengan mengumpulkan data yang berupa laporan, yaitu laporan keuangan dan prospektus. Pengumpulan data dilakukan dengan cara mengunduh data. Ada 2 yang akan diunduh, yaitu
prospektus dan laporan keuangan perusahaan. Prospektus perusahaan digunakan untuk mengumpulkan laporan keuangan perusahaan sebelum IPO yang dapat diakses melalui stus resmi perusahaan
atau Bursa Efek Indonesia. Laporan keuangan perusahaan digunakan untuk mengumpulkan laporan keuangan sesudah IPO, data diambil secara tahunan.
E.
Uji Asumsi
Klasik
Uji asumsi
klasik yang dilakukan pada penelitian ini adalah untuk menguji
data-data yang digunakan dalam
penelitian ini apakah data� terdistribusi�
normal,� tidak� terjadi� gejala� multikolineritas
dan� tidak� terjadi� gejala� heteroskedastistas� (Ghozali, 2011). Uji Asumsi Klasik
yang digunakan hanya Uji� Normalitas� digunakan� untuk� menguji� apakah variabel� dalam penelitian ini mempunyai� distribusi
yang� normal� atau� tidak. Uji normalitas dapat dilakukan dengan menggunakan Normality
P-Plot. Normal atau tidak
normal distrbusi data dapat
diketahui berdasarkan melihat penyebaran titik data pada sumbu diagonal dari grafik. Jika� titik� berada� di� sekitar� garis� diagonal�
dan� mengikuti
arah garis, maka dapat dikatakan normal. Namun, jika titik
menyebar tidak mengikuti garis diagonal atau jauh dari garis diagonal, data dikatakan tidak berdistribusi normal (Ghozali, 2011).
F.
Teknik Analisis
Data
Teknik analisis
pada penelitian ini adalah menggunakan Paired Sample T-Test untuk
menguji seluruh rumusan masalah. Paired Sample T-Test adalah
uji variabel berskala rasio yang memiliki sampel yang berhubungan (Priyono, 2016). Uji beda dilakukan
dengan membandingkan kinerja keuangan sebelum IPO dan sesudah IPO yang terbagi dalam 3 kriteria, yaitu 1 tahun sebelum dan 1 tahun sesudah, 2 tahun sebelum dan 2 tahun sesudah serta
3 tahun sebelum dan 3 tahun sesudah. Rasio keuangan yang dibandingkan adalah Return on Assets (ROA), Return on Equity (ROE), Net Profit Margin (NPM), Return on Capital Employed (ROCE), Operating Profit Margin (OPM), Sales to Assets (SA).
Hasil dan Pembahasan
A.
Hasil
1. Deskripsi Data
Analisis Deskriptif
terbagi dalam 2 analisis yang berdasarkan pada rasio keuangan, yaitu Return on
Assets (ROA), Return on Equity
(ROE), Return on Capital Employed
(ROCE), Sales to Assets (SA), Net Profit Margin (NPM), Operating Net Margin (OPM) serta tahun perbandingan,
yaitu 1 Tahun Sebelum dan 1 Tahun Sesudah, 2 Tahun Sebelum dan 2 Tahun Sesudah dan 3 Tahun Sebelum dan 3 Tahun Sesudah.
1)
Analisis Deskriptif Return on Assets (ROA)
Jumlah variabel yang digunakan pada penelitian ini adalah 2 variabel,
yaitu sebelum dan sesudah. Kedua variabel tersebut memiliki� jenis yang sama yang merupakan rasio keuangan Return on Assets (ROA), Return on Equity (ROE), Return on Capital Employed (ROCE), Sales to Assets (SA), Net Profit Margin (NPM), Operating Net Margin (OPM).
Tabel 5
Hasil Analisis Deskriptif
untuk Return on
Assets (ROA)
|
|
N |
Minimum |
Maximum |
Mean |
Std. Deviation |
|
ROA |
26 |
-.08143 |
.22359 |
.0544045 |
.07238844 |
|
Valid N (listwise) |
26 |
|
|
|
|
Sumber: Hasil Rancangan
Penelitian
Berdasarkan hasil analisis deskriptif, jumlah data untuk Return on Assets (ROA) adalah 26
data yang memiliki nilai
rata-rata 0.0544045
atau sebesar�
5,4% dengan sebaran data sebesar 0.07238844 (7,2%) dari seluruh data. Nilai terendah Return
on Assets (ROA) adalah -0.08143 (-8,5%) yang merupakan ROA emiten PT. Kioson Komersial Indonesia Tbk. (KIOS)
dan nilai tertinggi Return on Assets (ROA) adalah 0.22359� (22,4%) yang merupakan
ROA pada emiten PT. Digital Mediatama Maxima Tbk. (DMMX).
2)
Analisis Deskriptif Return on Equity (ROE)
Jumlah variabel yang digunakan pada penelitian ini adalah 2 variabel,
yaitu sebelum dan sesudah. Kedua variabel tersebut memiliki� jenis yang sama yang merupakan rasio keuangan Return on Assets (ROA), Return on Equity (ROE), Return on Capital Employed (ROCE), Sales to Assets (SA), Net Profit Margin (NPM), Operating Net Margin (OPM).
Tabel 7
Hasil Analisis Deskriptif
untuk Return on
Equity (ROE)
|
|
N |
Minimum |
Maximum |
Mean |
Std.
Deviation |
|
ROE |
26 |
-.05105 |
2.41743 |
.1963733 |
.47237540 |
|
Valid N (listwise) |
26 |
|
|
|
|
Sumber: Hasil Rancangan
Penelitian
Berdasarkan hasil analisis deskriptif, jumlah data Return on
Equity (ROE) adalah 26 data yang memiliki nilai rata-rata 0.1963733 atau sebesar�
19,6% dengan sebaran data sebesar 0.47237540 (47,2%) dari seluruh data. Nilai terendah Return
on Equity (ROE) adalah -0.05105 (-5,1%) �dan nilai Return on Equity (ROE) adalah 2.41743 ( 242%) yang merupakan ROE pada emiten PT. Kioson Komersial Indonesia Tbk. (KIOS).
3)
Analisis Deskriptif Return on Capital Employed (ROCE)
Jumlah variabel yang digunakan pada penelitian ini adalah 2 variabel,
yaitu sebelum dan sesudah. Kedua variabel tersebut memiliki� jenis yang sama yang merupakan rasio keuangan Return on Assets (ROA), Return on Equity (ROE), Return on Capital Employed (ROCE), Sales to Assets (SA), Net Profit Margin (NPM), Operating Net Margin (OPM).
Tabel 8
Hasil Analisis Deskriptif
untuk Return on
Capital Employed (ROCE)
|
|
N |
Minimum |
Maximum |
Mean |
Std. Deviation |
|
ROCE |
26 |
-.03977 |
4.61737 |
.4819110 |
1.05414672 |
|
Valid N (listwise) |
26 |
|
|
|
|
Sumber: Hasil Rancangan
Penelitian
Berdasarkan hasil analisis deskriptif, jumlah data untuk Return on Capital Employed (ROCE)adalah 26 data yang memiliki nilai rata-rata 0.4819110 atau sebesar� (48,2%) dengan sebaran data sebesar 1.05414672 (105%) dari seluruh data. Nilai terendah Return
on Capital Employed (ROCE) adalah -0.03977 (-3,9%) yang merupakan ROCE emiten PT. Kioson Komersial Indonesia Tbk. (KIOS)
dan nilai tertinggi Return on Capital Employed (ROCE) adalah 4.61737 (461%) yang merupakan ROCE pada emiten
PT. NFC Indonesia Tbk. (NFCX)
4)
Analisis Deskriptif Sales to Assets (SA)
Jumlah variabel yang digunakan pada penelitian ini adalah 2 variabel,
yaitu sebelum dan sesudah. Kedua variabel tersebut memiliki� jenis yang sama yang merupakan rasio keuangan Return on Assets (ROA), Return on Equity (ROE), Return on Capital Employed (ROCE), Sales to Assets (SA), Net Profit Margin (NPM), Operating Net Margin (OPM).
Tabel 9
Hasil Analisis Deskriptif
untuk Sales to Assets
(SA)
|
|
N |
Minimum |
Maximum |
Mean |
Std. Deviation |
|
SA |
26 |
.13307 |
74.89934 |
14.4162589 |
18.36144202 |
|
Valid N (listwise) |
26 |
|
|
|
|
Sumber: Hasil Rancangan
Penelitian
Berdasarkan hasil analisis deskriptif, jumlah data Sales to
Assets (SA) �adalah 26
data yang memiliki nilai
rata-rata 14.4162589 atau sebesar� 1441% dengan
sebaran data sebesar 18.36144202 (1836%) dari
seluruh data. Nilai terendah Sales
to Assets (SA) adalah 0.13307 (13%) yang merupakan SA emiten PT. Kioson Komersial Indonesia Tbk. (KIOS)
dan nilai tertinggi Sales to Assets (SA) adalah 74.89934 (7489%) yang merupakan SA pada emiten
PT. M Cash Integrasi� Tbk. (MCAS).
5)
Analisis Deskriptif Net Profit Margin (NPM)
Jumlah variabel yang digunakan pada penelitian ini adalah 2 variabel,
yaitu sebelum dan sesudah. Kedua variabel tersebut memiliki� jenis yang sama yang merupakan rasio keuangan Return on Assets (ROA), Return on Equity (ROE), Return on Capital Employed (ROCE), Sales to Assets (SA), Net Profit Margin (NPM), Operating Net Margin (OPM).
Tabel 10
Hasil Analisis Deskriptif
untuk Net
Profit Margin (NPM)
|
|
N |
Minimum |
Maximum |
Mean |
Std. Deviation |
|
NPM |
26 |
-.61198 |
.12796 |
-.0026310 |
.12879411 |
|
Valid N (listwise) |
26 |
|
|
|
|
Sumber: Hasil Rancangan
Penelitian
Berdasarkan hasil analisis deskriptif, jumlah data Net Profit
Margin (NPM) adalah 26 data yang memiliki nilai rata-rata -0.0026310 atau sebesar -0,26% dengan sebaran data sebesar 0.12879411 (12,9%) dari seluruh data. Nilai terendah Net
Profit Margin (NPM) adalah -0.61198 (-61%) yang merupakan NPM emiten PT. Kioson Komersial Indonesia Tbk. (KIOS)
dan nilai tertinggi Net Profit Margin (NPM) adalah 0.12796 (12,8%) yang merupakan NPM pada emiten PT. Digital Mediatama
Maxima Tbk. (DMMX).
6)
Analisis Deskriptif Operating Net Margin (OPM)
Jumlah variabel yang digunakan pada penelitian ini adalah 2 variabel,
yaitu sebelum dan sesudah. Kedua variabel tersebut memiliki� jenis yang sama yang merupakan rasio keuangan Return on Assets (ROA), Return on Equity (ROE), Return on Capital Employed (ROCE), Sales to Assets (SA), Net Profit Margin (NPM), Operating Net Margin (OPM).
Tabel 11
Hasil Analisis Deskriptif
untuk Operating
Net Margin (OPM)
|
|
N |
Minimum |
Maximum |
Mean |
Std. Deviation |
|
|
OPM |
26 |
-.81598 |
.96314 |
.0332909 |
.25565236 |
|
|
Valid N (listwise) |
26 |
|
|
|
|
|
Sumber: Hasil Rancangan
Penelitian
Berdasarkan hasil analisis deskriptif, jumlah data Operating
Net Margin (OPM) adalah 26 data yang memiliki nilai rata-rata 0.0332909 atau sebesar� 3,3% dengan sebaran data sebesar 0.25565236 (256%)� dari seluruh data. Nilai terendah Operating
Net Margin (OPM) adalah -0.81598 (-81%) yang merupakan OPM emiten PT. Kioson Komersial Indonesia Tbk. (KIOS)
dan nilai tertinggi Operating Net Margin (OPM) adalah 0.96314 (96%) yang merupakan OPM
pada emiten PT. NFC Indonesia Tbk.
(NFCX).
2.
Pembahasan
1.
Korelasi dengan Penelitian
Terdahulu
Penelitian terdahulu terdiri dari berbagai
negara dan sektor, yaitu Polandia, China khususnya Badan
Usaha Milik Negara (BUMN), Kenya, Indonesia khususnya
non-finansial, Korea Selatan khususnya
sektor penerbangan dan
Brazil. Hasil penelitian dari
berbagai negara terdapat kesamaan dan perbedaan dengan penelitian ini.
Penelitian ini terdapat kesamaan dengan hasil penelitian
pada emiten Polandia yang menyatakan bahwa tidak ada perbedaan
kinerja keuangan 1 tahun sebelum dan 1 tahun sesudah setelah
IPO. Penyebab perbedaan tersebut adalah terdapat manipulasi keuangan atau bisa
disebut dengan earning management dengan
tujuan untuk memperoleh modal yang lebih besar dari investor sehingga setelah IPO perusahaan akan menurunkan ROA dan ROE. Emiten mendapat dana besar setelah IPO, untuk itu manajemen harus
mempersiapkan startegi investasi dan ekspansi bisnis. Manajemen yang tidak siap akan
menunda pengembangan bisnis (Pastusiak
et al., 2016).
Penelitian ini terdapat kesamaan dengan penelitian yang dilakukan pada Badan Usaha Milik Negara (BUMN) China. Perbedaan tersebut terjadi karena kurangnya dukungan pemerintah seperti legalitas yang kurang baik dan intervensi dari pemerintah sehingga terdapat fenomena IPO
Underpricing (Chen
et al., 2015). Akan tetapi
berbeda dengan legalitas di Indonesia mengenai
IPO, Bursa Efek Indonesia (BEI) mendukung
baik perusahaan kecil hingga besar
untuk masuk ke bursa. Dukungan tersebut dengan membagi 3 papan kategori, yaitu Papan Utama, Papan Pengembangan dan Papan Akselerasi yang dibagi berdasarkan pendirian dan kinerja keuangan. Untuk Papan Utama perusahaan harus berdiri minimal 3 tahun dan menghasilkan laba lebih dari 1 tahun
serta harus memiliki laporan keuangan minimal 3 tahun, sedangkan Papan Pengembangan dan Papan Akselerasi perusahaan harus berdiri minimal 1 tahun dan boleh rugi dengan syarat
proyeksi akhir tahun ke 2 sejak
IPO harus laba bersih untuk Papan
Pengembangan dan syarat proyeksi akhir tahun ke 6 sejak
IPO harus laba usaha untuk Papan
Akselerasi.
Hasil penelitian ini sama dengan penelitian
pada emiten di Kenya yang menyatakan
bahwa tidak ada perbedaan kinerja
keuangan setelah 3 tahun IPO dan terdapat fenomena IPO
Underpricing (Mutai,
2020). Demikan
juga dengan penelitian yang
telah dilakukan pada emiten di Thailand juga tidak ada perbedaan kinerja
keuangan setelah IPO 3 tahun. Thailand adalah negara emerging market yang biasanya
terdapat asimetri informasi yang merupakan informasi internal perusahaan
yang tidak bisa diketahui oleh masyarakat selaku pemegang saham sehingga berpotensi manipulasi data keuangan (K. A.
Kim et al., 2004).
Penelitian di Indonesia untuk
emiten sektor non-finansial juga mengungkapkan bahwa tidak terdapat
perbedanaan kinerja keuangan 3 tahun sebelum dan 3 tahun sesudah IPO. Pada dasarnya kinerja keuangan tidak hanya pada faktor internal seperti earning management, pengalaman
manajemen dan teknologi
yang dimiliki emiten startup, tetapi
terdapat faktor eksternal yang berasal dari ekonomi makro
dan global (Khatami,
N., Hidayat, R. R., & Sulasmiyati, 2017).
Kinerja keuangan di Korea Selatan sektor penerbangan terdapat perbedaan dan tidak ada perbedaan.
Perbedaan tersebut karena emiten menggunakan
dana IPOnya untuk mengurangi hutang sehingga meningkatkan profitabilitas. Adanya agency cost dan manipulasi
data keuangan untuk menarik investor menyebabkan penurunan kinerja keuangan (Lee
et al., 2019). Berbeda
dengan kinerja keuangan pada emiten Saudi Arabia
yang mengalami perbedaan setelah IPO. Hal ini disebabkan karena dukungan pemerintah dalam privatiasasi perusahaan milik negara sehingga ketika IPO perusahaan di Saudi Arabia akan semakin kompetitif yang berpengaruh pada kinerja keuangan (Alanazi
et al., 2011).
Berbeda dengan hasil penelitian pada emiten Brazil yang terdapat perbedaan kinerja setelah IPO dan harga saham. Pada dasarnya tujuan perusahaan Brazil melakukan IPO adalah untuk menurunkan jumlah hutang jangka
pendek dan beban keuangan sehingga menyebakan peningkatan kinerja keuangan karena beban bunga
hutang berkurang yang dapat mempengaruhi profitabilitas emiten. Emiten Brazil pada umumnya seperti emiten pada negara Eropa dimana membutuhkan
dana untuk ekspansi dan mempertahankan pertumbuhannya (Cao
& Montezano, 2016).
Dari hasil penelitian
terdahulu dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat perbedaan kinerja keuangan terjadi pada negara Polandia, China, Kenya, Indonesia untuk
sektor non-finansial dan
Korea Selatan. Untuk hasil penelitian terdapat perbedaan kinerja keuangan terjadi pada negara
Saudi Arabia dan Brazil.
2.
Analisis Disagregasi Faktor
Fundamental
Berdasarkan deskriptif
data setiap rasio keuangan, terdapat beberapa perbedanaan kinerja keuangan. Return on Assets (ROA) memiliki kinerja rata-rata sebesar 5% dari seluruh data. Nilai terendah Return
on Assets (ROA) adalah (-8,5%) yang merupakan ROA emiten PT. Kioson Komersial Indonesia Tbk. (KIOS)
dan nilai tertinggi Return on Assets (ROA) adalah 22,4% yang merupakan ROA pada emiten
PT. Digital Mediatama Maxima Tbk.
(DMMX).
Return on Equity (ROE) memiliki
kinerja rata-rata sebesar
20% dari seluruh data. Nilai terendah Return on Equity (ROE) adalah (-5,1%)
�dan nilai Return on Equity (ROE) adalah 242% yang merupakan ROE pada emiten PT. Kioson Komersial Indonesia Tbk. (KIOS). Return on Capital Employed (ROCE) sebesar 48% dari seluruh data. Nilai terendah Return
on Capital Employed (ROCE) adalah (-3,9%) yang merupakan ROCE emiten PT. Kioson Komersial Indonesia Tbk. (KIOS)
dan nilai tertinggi Return on Capital Employed (ROCE) adalah 461% yang merupakan ROCE pada emiten
PT. NFC Indonesia Tbk. (NFCX).
Sales to Assets (SA) memiliki
kinerja rata-rata sebesar
1441% dari seluruh data. Nilai terendah Sales to Assets (SA) adalah 13% yang merupakan SA emiten PT. Kioson Komersial Indonesia Tbk. (KIOS) dan nilai tertinggi Sales to Assets (SA) adalah 7489% yang merupakan SA pada emiten
PT. M Cash Integrasi� Tbk. (MCAS). Net
Profit Margin (NPM) memiliki kinerja
rata-rata sebesar� -0,26% dari seluruh data. Nilai terendah Net Profit Margin (NPM) adalah -6,1% yang merupakan ROA emiten PT. Kioson Komersial Indonesia Tbk. (KIOS)
dan nilai tertinggi Net Profit Margin (NPM) adalah 12,8% yang merupakan NPM pada emiten PT. Digital Mediatama
Maxima Tbk. (DMMX). Operating Net Margin (OPM) memiliki kinerja rata-rata sebesar 3,3% dari seluruh data. Nilai terendah Operating Net Margin (OPM) adalah (-81%) yang merupakan OPM emiten PT. Kioson Komersial Indonesia Tbk. (KIOS)
dan nilai tertinggi Operating Net Margin (OPM) adalah 96% yang merupakan OPM
pada emiten PT. NFC Indonesia Tbk.
(NFCX).
Dari data tersebut, kinerja
paling rendah adalah NPM sebesar -0,26% dan yang paling tinggi
adalah SA sebesar 1441% dari seluruh data. NPM yang negatif disebabkan oleh beberapa emiten startup yang tidak
memperoleh laba bersih dan SA yang tinggi disebabkan disebabkan karena emiten startup mampu menghasilkan pendapatan yang besar melebihi aset yang dimiliki, akan tetapi laba
yang dihasilkan kecil.

Gambar 1 Perbandingan Rasio Keuangan Seluruh Emiten
Sumber: Data Pribadi yang Diolah (2020)
Berdasarkan deskriptif
data kinerja keuangan tahunan untuk 1 tahun sebelum dan 1 tahun sesudah. Kinerja keuangan 1 tahun sebelum memiliki nilai 139%, sedangkan
kinerja keuangan 1 tahun sesudah memiliki
nilai rata-rata 165% dari seluruh data emiten. Nilai terendah
kinerja keuangan 1 tahun sebelum adalah
0,07% yang merupakan rasio keuangan Net
Profit Margin (NPM) pada emiten PT. Kioson Komersial Indonesia Tbk. (KIOS) dan nilai tertinggi kinerja
keuangan 1 tahun sebelum adalah 3254% yang merupakan rasio keuangan Sales
to Assets (SA) pada emiten PT. Hensel Davest Indonesia Tbk. (HDIT), sedangkan Nilai terendah kinerja keuangan 1 tahun sesudah adalah (-5,1%) yang merupakan rasio keuangan Return
on Equity (ROE) pada emiten PT. Kioson Komersial Indonesia Tbk. (KIOS) dan nilai tertinggi kinerja
keuangan 1 tahun sesudah adalah 2695% yang merupakan rasio keuangan Sales
to Assets (SA) pada emiten PT. Telefast Indonesia Tbk. (TFAS).
Kinerja keuangan 2 tahun
sebelum memiliki nilai rata-rata 2615% dengan sebaran data sebesar 782% dari seluruh data emiten, sedangkan
kinerja keuangan 2 tahun sebelum memiliki
nilai rata-rata 98% dengan sebaran data sebesar 241%. Nilai terendah kinerja keuangan 2 tahun sebelum adalah (-82%) yang merupakan rasio keuangan Operating
Net Margin (OPM) pada emiten PT. Kioson Komersial Indonesia Tbk. (KIOS) dan nilai tertinggi kinerja
keuangan 2 tahun sebelum adalah 4492% yang merupakan rasio keuangan Sales
to Assets (SA) pada emiten PT. NFC Indonesia Tbk. (NFCX), sedangkan Nilai terendah kinerja keuangan 2 tahun sesudah adalah
(-5,1%) yang merupakan rasio
keuangan Return
on Equity (ROE) dan nilai tertinggi kinerja
keuangan 2 tahun sesudah adalah 1056% yang merupakan rasio keuangan Sales
to Assets (SA) pada emiten PT. Kioson Komersial Indonesia Tbk. (KIOS).
Kinerja keuangan 3 tahun
sebelum memiliki nilai rata-rata �sebesar 828% dengan sebaran data sebesar 206% dari seluruh data emiten, sedangkan
kinerja keuangan 3 tahun sesudah memiliki
nilai rata-rata �83% dengan sebaran data sebesar 171%.Nilai terendah kinerja keuangan 3 tahun sebelum adalah
0,2% yang merupakan rasio keuangan Net
Profit Margin (NPM) dan nilai tertinggi kinerja
keuangan 3 tahun sebelum adalah 749% yang merupakan rasio keuangan Sales
to Assets (SA), sedangkan Nilai terendah kinerja
keuangan 3 tahun sesudah adalah 0,38% yang merupakan rasio keuangan Net
Profit Margin (NPM) dan nilai tertinggi kinerja
keuangan 3 tahun sesudah adalah 495% yang merupakan rasio keuangan Sales
to Assets (SA) pada emiten PT. M Cash
Integrasi� Tbk.
(MCAS).

Gambar 2 Perbandingan Knerja Keuangan Seluruh Emiten
Sumber: Data Pribadi
yang Diolah (2020)
Berdasarkan penjelasan
di atas, ringkasan kinerja keuangan emiten startup akan disajikan dalam bentuk tabel
dibawah ini.
Tabel 12
Ringkasan Kinerja Keuangan Emiten Startup
|
Nama |
Rata-Rata |
Tertinggi |
Terendah |
|
Return on Assets (ROA) |
5% |
22,4% , PT. Digital Mediatama
Maxima Tbk. (DMMX) |
(-8,5%), PT. Kioson Komersial Indonesia Tbk. (KIOS)
|
|
Return on Equity (ROE) |
20% |
(-5,1%), PT. Kioson Komersial Indonesia Tbk. (KIOS) |
242%, PT. Kioson Komersial Indonesia Tbk. (KIOS) |
|
Nama |
Rata-Rata |
Tertinggi |
Terendah |
|
Return on Capital Employed (ROCE) |
48% |
461%, PT. NFC Indonesia Tbk.
(NFCX) |
(-3,9%), PT. Kioson Komersial Indonesia Tbk. (KIOS)
|
|
Sales to Assets (SA) |
1441% |
7489%, PT. Kioson Komersial Indonesia Tbk. (KIOS) |
13%, PT. Kioson Komersial Indonesia Tbk. (KIOS) |
|
Net Profit Margin (NPM) |
(-0,26%) |
12,8%, PT. Digital Mediatama
Maxima Tbk. (DMMX) |
(-6,1%), PT. Kioson Komersial Indonesia Tbk. (KIOS) |
|
Operating Net Margin (OPM) |
3,3% |
96% PT. NFC Indonesia Tbk.
(NFCX) |
�(-81%), PT. Kioson Komersial Indonesia Tbk. (KIOS) |
|
1 Tahun Sebelum |
139% |
Sales to Assets (SA) PT. Hensel Davest
Indonesia Tbk. (HDIT) sebesar
3254% |
Net Profit Margin (NPM) PT. Kioson
Komersial Indonesia Tbk.
(KIOS) sebesar 0,07% |
|
1 Tahun Sesudah |
165% |
Sales to Assets (SA) PT. Telefast
Indonesia Tbk. (TFAS) sebesar
2695% |
Return on Equity (ROE) Kioson Komersial Indonesia Tbk. sebesar (-5,1%) |
|
2 Tahun Sebelum |
2615% |
Sales to Assets (SA) PT. NFC Indonesia Tbk. (NFCX) sebesar 4492% |
Operating Net Margin (OPM) PT. Kioson
Komersial Indonesia Tbk.
(KIOS) sebesar� (-82%) |
|
2 Tahun Sesudah |
98% |
Sales to Assets (SA) PT. Kioson
Komersial Indonesia Tbk.
(KIOS) sebesar 1056% |
Return on Equity (ROE) PT. Kioson
Komersial Indonesia Tbk.
(KIOS) sebesar�� (-5,1%)� |
|
Nama |
Rata-Rata |
Tertinggi |
Terendah |
|
3 Tahun Sebelum |
828% |
Sales to Assets (SA) PT. M Cash Integrasi� Tbk.
(MCAS) sebesar 749% |
Net Profit Margin (NPM) PT. M Cash Integrasi� Tbk.
(MCAS) sebesar 0,2% |
|
3 Tahun Sesudah |
83% |
Sales to Assets (SA) PT. M Cash Integrasi� Tbk.
(MCAS) sebesar 495% |
Net Profit Margin (NPM) PT. M Cash Integrasi� Tbk.
(MCAS) sebesar 0,38% |
Sumber: Hasil Rancangan
Penelitian
Berdasarkan tabel diatas, rasio keuangan
yang tertinggi adalah Sales to Assets (SA) dan terendah adalah Net Profit Margin (NPM). SA yang tinggi disebabkan karena jumlah aset
yang dimiliki emiten startup sedikit,
tetapi mampu menghasilkan pendapatan yang besar. Return on
Equity (ROE) juga memiliki kinerja
yang rendah karena sejalan dengan NPM rendah karena ROE dan NPM mempunyai dasar perhitungan yang sama, yaitu terdapat unsur laba.
3.
Bisnis
Model
Dalam mendirikan startup dibutuhkan
jiwa kewirausahaan agar bisnis yang dijalankan berhasil. Salah satunya yaitu pengalaman jajaran manajemen yang dapat menangkap peluang pasar dan keputusan strategis yang menjadi ketertarikan perusahaan. Pengalaman manajemen dan kinerjanya menjadi bagian yang penting menjadi kontribusi perusahaan yang telah IPO. Startup akan membutuhkan dana yang lebih besar seiring berjalannya
waktu dan digunakan untuk merekrut karyawan berpotensi agar perusahaan mampu bertumbuh sehingga startup mencari
dana melalui IPO. Bagian yang terpenting
dalam startup adalah teknologi yang dimiliki perusahaan. Semakin kuat teknologi
yang dimiliki akan lebih cepat untuk
IPO (Y.
Kim & Heshmati, 2010).
8 emiten startup
memiliki sektor bisnis yang sama dan telah ditentukan oleh Bursa Efek Indonesia (BEI) adalah Trade, Service and Investment, akan tetapi memiliki
sub sektor yang berbeda.
PT. Kioson Komersial
Indonesia Tbk. (KIOS), PT. M Cash Integrasi� Tbk. (MCAS) dan� PT. NFC Indonesia
Tbk. (NFCX) termasuk dalam sub sektor Retail Trade. PT. Yeloo
Integra Datanet Tbk. (YELO)
dikategorikan sebagai sub sektor others.
PT. Hensel Davest Indonesia Tbk.
(HDIT) dan PT. Telefast Indonesia Tbk.
(TFAS) termasuk dalam sub sektor Wholesale
(Durable & Non-Durabel Goods). Hanya PT. Digital Mediatama Maxima
Tbk. (DMMX) yang dikategorikan
sebagai sub sektor Advertising, Printing and Media.
Bursa Efek Indonesia (BEI) masih
belum tersedia untuk kategori sektor teknologi sehingga emiten startup dikategorikan
berdasarkan pada bisnisnya.
Sektor yang ada di BEI, yaitu Agriculture,
Basic Industry and Chemicals, Consumer Goods Industry, Finance, Infrastructure, Utilities and
Transportation, Mining, Miscellaneous Industry, Property, Real Eastate and Building Construction dan Trade, Service and Investment.
Belum atau sudah tersedianya sektor teknologi di BEI, hal itu tetap tidak
mempengaruhi kinerja keuangan emiten startup karena
kinerja keuangan dipengaruhi oleh teknologi yang dimiliki dan kemampuan manajemen dalam mengelolah dana yang diperoleh.
Pada dasarnya bisnis
model startup sudah
dibahas pada pertengahan
1990. Terdapat 5 dimensi bisnis model pada perusahaan startup, yaitu value proposition, value creation, value
delivery, value appropriation dan
value networking. Value proposition adalah
sekilas produk dan jasa yang ditawarkan perusahaan kepada pelanggan. Value
creation merupakan karakteristik
unik yang dimiliki startup dalam menentukan pasar seperti sumber daya dan kemampuan. Value
delivery adalah bagaimana
mengatur sistem distribusi produknya kepada pelanggan. Value appropriation adalah
bagaimana perusahaan startup �memperoleh laba dan yang terlakhir adalah value
networking, yaitu bagaimana
perusahaan meningkatkan dan
menjaga hubungan dengan pelanggan. Selain itu, startup juga menggambarkan hubungan pengembagan teknologi dengan nilai ekonomi (Bortolini
et al., 2018).
Perusahaan startup
�memiliki
lifecycle yang terbagi
dalam 3 tahap, yaitu bootstrapping
stage, seed stage dan creation stage. Pada tahap
bootstrapping stage, startup telah menemukan ide dari sebuah masalah yang bisa menghasilkan laba dan pendanaan masih berasal dari
modal sendiri atau angel investor, masih
belum memperoleh pendanaan dari hutang atau modal ventura. Pendanaan Kemudian masuk ke dalam tahap
seed stage dimana
tahap ini telah membentuk tim kerja dan mengembangkan
produk yang siap diluncurkan ke pasar. Tahap ini juga masih belum memperoleh
pendanaan dari modal ventura dan menghasilkan profitabilitas yang rendah. Yang terakhir adalah creation stage dimana
tahap ini startup telah meluncurkan produknya dan mulai bisa memperoleh
pendanaan dari modal ventura (Salamzadeh
& Kawamorita Kesim, 2015). Emiten startup di Indonesia telah dikategorikan dalam creation stage karena
seluruh emiten memiliki produk yang sudah ada di pasar dan telah mendapat bimbingan dari Bursa Efek Indonesia (BEI) melalui
program IDX Incubator.
Dengan masuknya kategori creation stage untuk
emiten startup di
Indonesia, kinerja keuangan
setelah Initial
Public Offering (IPO) tidak terdapat
perbedaan adalah wajar karena pada tahap ini, startup masih menghasilkan
profitabilitas yang rendah.
Contoh startup yang
sudah menjadi perusahaan besar adalah Amazon yang merupakan emiten startup di
Amerika Serikat. Amazon didirikan
oleh Jeff Bezos pada 16 Juli 1995 yang awalnya adalah situl jual buku
online, kemudian
Amazon melakukan Initial
Public Offering (IPO) pada 15 Mei 1997 dengan harga $18 per saham dan memperoleh pendanaan sebesar $54 juta. Amazon terus berkembang dengan melakukan akuisisi Audible pada tahun 2008
yang bergerak pada bidang
media digital dan akuisisi Zappos.com yang merupakan perusahaan yang berfokus pada sepatu, baju dan aksesoris. Pada tahun 2010,
Amazon mengakuisisi Quidsi
yang merupakan aplikasi bergerak dibidang consumer good.
Selama 20 tahun IPO, pemegang saham Amazon memperoleh keuntungan sekitar 64.000%. Laba bersih kumulatif sejak IPO hanya sebesar $4,9 Milyar dan perolehan tersebut 60% berasal dari tahun
2015 dan 2016. Pada tahun 1997, Jeff Bezos menyatakan kepada pemegang saham bahwa keberhasilan faktor fundamental akan diperoleh dalam waktu jangka panjang
dan setelah 20 tahun kemudian, Jeff Bezos bahwa Amazon
masih berekspansi dengan meningkatkan penjualan barang dan jasa. Selain itu,
efesiensi biaya operasional juga diperlukan untuk strategi jangka panjang� (Cho,
2019). Salah satu startup di Indonesia,
yaitu Tokopedia
yang telah berdiri sejak tahun 2009. Sampai dengan tahun
2019, Tokopedia masih berfokus
pada pemerataan ekonomi
digital dan selama 10 tahun
belum memperoleh laba atau belum
break event point.
Demikian juga dengan
8 emiten startup
yang labanya masih kecil dibandingkan dengan pendapatannya karena emiten startup masih melakukan ekspansi dengan modal IPO yang diperoleh. Ekspansi tersebut dapat dilihat dari
bagian prospektus emiten yang terdapat alokasi penggunaan penawaran umum. PT. Kioson Komersial Indonesia Tbk. (KIOS) menggunakan dana IPO untuk mengakuisisi perusahaan sebesar 78,95% dan pembelian persediaan barang elektronik untuk operasional perusahaan sebesar 21,05%. PT. M
Cash Integrasi� Tbk. (MCAS) dan PT. NFC Indonesia Tbk. (NFCX) menggunakan dana IPO untuk persediaan barang dagang sebesar
60%, meningkatkan teknologi
komunikasi, hardwell dan software
sebesar 30% serta pengembangan sumber daya manusia sebesar
10%.
PT. Yeloo Integra Datanet
Tbk. (YELO) menggunakan
dana IPO untuk mengembangkan
billing management dan SIM bank untuk
bisnis penjualan paket data sebesar 71,48%, pengembangan aplikasi Passpod sebesar 3,87% dan pembelian modem dan power
bank sebesar 24,65%. PT. Distribusi
Voucher Nusantara Tbk. (DIVA) menggunakan
dana IPO untuk persediaan barang dagang sebesar
55%, meningkatkan teknologi
komunikasi, hardwell dan software
sebesar 40% serta pengembangan sumber daya manusia sebesar
5%. PT. Hensel Davest Indonesia Tbk.
(HDIT) menggunakan dana IPo
untuk pembelian barang dagang sebesar
65%, pengembangan aplikasi Davestpay sebesar 10% dan pembelian bangunan operasional perusahaan sebesar 25%.
PT. Telefast Indonesia Tbk.
(TFAS) menggunakan dana IPO untuk
modal kerja sebesar 70%, meningkatkan teknologi komunikasi, hardwell dan software
sebesar 25% dan pengembangan
sumber daya manusia sebesar 5%. PT. Digital Mediatama Maxima Tbk. (DMMX) menggunakan dana IPO untuk pembelian persediaan seperti perangkat jaringan kamunikasi sebear 75%, pengembangan teknologi sebesar 20% dan pengembangan sumber daya manusia sebesar
5%.
Dari penggunaan dana IPO untuk
8 emiten startup,
dapat disimpulkan bahwa tujuan alokasi
dana adalah ekspansi bisnis dan tidak ada untuk membayar
hutang sehingga dengan adanya ekspansi
laba emiten startup menjadi
berkurang. Berbeda dengan tujuan penggunaan
dana IPO untuk pembayaran hutang, beban bunga
akan berkurang sehingga meningkatkan kinerja keuangan. Kinerja keuangan emiten startup sampai
dengan 3 tahun setelah IPO tidak ada perbedaan, akan tetapi ada
peningkatan secara bertahap dari 1 tahun hingga 3 tahun yang dapat dilihat dari hasil
Uji Paired Sample T Test, yaitu 0, 560, 0,119 dan 0,116.
Kesimpulan
1.
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui perbedaan
kinerja keuangan sebelum dan sesudah Initial Public Offering (IPO). Dari hasil
penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa tidak ada perbedaan signifikan
kinerja keuangan emiten startup sampai dengan 3 tahun setelah Initial Public
Offering (IPO). Hal tersebut berdasarkan hasil penelitian untuk 1 tahun setelah
IPO sebesar 0, 560, untuk 2 tahun setelah IPO sebesar 0,119 dan untuk 3 tahun
setelah IPO sebesar 0,116.
2.
Perbedaan tersebut disebabkan karena manajemen emiten startup
menggunakan dana IPO untuk ekspansi bisnis seperti membeli peralatan teknologi
dan meningkatkan layanan sehingga menurunkan laba emiten sehingga tidak secara
langsung meningkatkan kinerja profitabilitas dalam 3 tahun kinerja setelah IPO.
BIBLIOGRAFI
Alamsyah,
P. (2011). Startup Indonesia 2010. Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia
(LIPI). Bandung.
Alanazi,
A., Liu, B., & Forster, J. (2011). Saudi Arabian IPOs and privatized firms
profitability. Review of Middle East Economics and Finance, 7(1),
67�90.
Bortolini,
R. F., Cortimiglia, M. N., Danilevicz, A. de M. F., & Ghezzi, A. (2018).
Lean Startup: a comprehensive historical review. Management Decision.
Cao,
T. R., & Montezano, R. M. da S. (2016). Initial Public Offering and
Performance of Brazilian Firms. Revista de Gest�o, Finan�as e Contabilidade,
6(2), 160�178.
Chen,
Y., Wang, S. S., Li, W., Sun, Q., & Tong, W. H. S. (2015). Institutional Environment,
Firm Ownership, And IPO First-Day Returns: Evidence From China. Journal Of Corporate
Finance, 32, 150�168.
Cho,
J. (2019). Amazon. com, Inc.
D�upka,
P., Klasov�, S., & Kov�č, V. (2016). Analysis of Innovative Start-Up
Companies�Case Of Ko�ice Region. Quality Innovation Prosperity, 20(1),
40�56.
Ghozali,
I. (2011). Aplikasi Analisis Multivariate Dengan Program SPSS. Semarang:
Universitas Diponogoro.
Guba,
E. G., & Lincoln, Y. S. (1994). Competing Paradigms In Qualitative Research.
Handbook of Qualitative Research, 2(163�194), 105.
Khatami,
N., Hidayat, R. R., & Sulasmiyati, S. (2017). Analisis Kinerja Keuangan
Perusahaan Sebelum Dan Sesudah Initial Public Offering (IPO) di Bursa Efek
Indonesia (Studi pada Perusahaan Non Finansial yang Listing di BEI Tahun 2011).
Jurnal Administrasi Bisnis, 1(47), 87�94.
Kim,
K. A., Kitsabunnarat, P., & Nofsinger, J. R. (2004). Ownership And
Operating Performance In An Emerging Market: Evidence From Thai IPO firms. Journal
of Corporate Finance, 10(3), 355�381.
Kim,
Y., & Heshmati, A. (2010). Analysis Of Korean IT Startups� Initial Public
Offering And Their Post-IPO Performance. Journal of Productivity Analysis,
34(2), 133�149.
Lee,
S., Kim, H., & Lee, N. (2019). A Comparative Analysis Of Financial And Operational
Performance Pre-And Post-Ipo: With A Focus On Airline Companies. Academy Of Accounting
And Financial Studies Journal, 23(3), 1�14.
Lor,
P. J. (2019). International And Comparative Librarianship: Concepts And
Methods For Global Studies. Walter de Gruyter GmbH & Co KG.
Matthes,
J. (2017). The International Encyclopedia Of Communication Research Methods.
United States Of America: John Wiley & Sons, Inc.
Munisi,
G. H. (2017). Financial Performance Of Initial Public Offerings: Companies Listed
On Dares Salaam Stock Exchange. Business And Economics Journal, 8(2),
1�5.
Mutai,
J. K. (2020). Can A Company�s Pre-IPO Return On Assets (ROA), Return On Equity (ROA)
And Initial Returns Predict Post-IPO Performance? Journal Of Finance And Economics,
8(3), 93�99.
Pastusiak,
R., Bolek, M., Malaczewski, M., & Kacprzyk, M. (2016). Company
Profitability Before And After IPO. Is It A Windows Dressing Or Equity Dilution
Effect? Prague Economic Papers, 25(1), 112�124.
Pertiwi,
D. . (2018). Tokopedia Kantongi Pendanaan Senilai US$ 1,1 Miliar Dari Alibaba
Dan Softbank.
Https://Insight.Kontan.Co.Id/News/Tokopedia-Kantongi-Pendanaan-Senilai-Us-11-Miliar-Dari-Alibaba-Dan-Softbank
Priyono.
(2016). Metode Penelitian Kuantitatif (Edisi 2016). Sidoarjo: Zifatama
Publishing.
Putriadita,
D. (2017). Gerakan Nasional 1.000 Startup Hadirkan 13 Perintis.
https://industri.kontan.co.id/news/gerakan-nasional-1000-startup-hadirkan-13-perintis
Salamzadeh,
A., & Kawamorita Kesim, H. (2015). Startup companies: Life cycle and
challenges. 4th International Conference on Employment, Education and
Entrepreneurship (EEE), Belgrade, Serbia.
Sekaran,
U., & Bougie, R. (2016). Research methods for business: A skill building
approach. John Wiley & Sons.
Wijaya,
K. . (2016). Kumpulan Istilah Startup Teknologi yang Perlu Kamu Ketahui.
https://id.techinasia.com/istilah-startup-yang-perlu-anda-ketahui