|
Jurnal
Syntax Transformation |
Vol. 2
No. 2, Februari 2021 |
|
p-ISSN :
2721-3854 e-ISSN : 2721-2769 |
Sosial
Sains |
HUBUNGAN ANTARA TINGKAT STRES
DAN KADAR KORTISOL SALIVA DAN FAKTOR PENYEBAB STRES RESIDEN ANESTESIOLOGI DAN �TERAPI INTENSIF PADA
ERA �PANDEMI COVID-19
Andre Kurniawan, �Arie Utariani,
Hamzah dan Nalini
Universitas Airlangga RSUD Dr Soetomo
Surabaya
Email: [email protected], [email protected], [email protected] dan [email protected]
|
INFO ARTIKEL |
ABSTRACT |
|
Diterima: 5 Februari
2021 Diterima dalam bentuk revisi: 13 Februari 2021 Diterima dalam bentuk revisi: 23 Februari 2021 |
The COVID-19 pandemic impacts
the education process for anesthesia residents, which is one of the vanguards
of medical services. Situations like this will add to stress and mental
burdens that can reduce immunity and quality of service. Salivary cortisol is
a reliable biomarker of stress in measuring stress levels due to acute
circulation in the body. This study analyses the relationship between salivary
cortisol levels with the stress level of anesthesiology residents and
intensive therapy in the COVID-19 pandemic era as measured using the
perceived stress scale (PSS-10). The research method was analytic
observational carried out on 40 anesthesiology residents aged 28-39 years and
in the special isolation room (RIK) and resuscitation room (RES) stages which
handled patients exposed to COVID-19 at the Dr Soetomo
General Hospital Surabaya in August-September 2020. The results of
statistical calculations using the Spearman test, the relationship between
PSS-10 and cortisol levels, mild stress levels (25% vs 67.5%) and moderate
stress (75% vs 37.5%) statistically significant (p = 0.005; r = 0.388)
Conclusion: Anesthesiology resident stress level based on PSS-10 has a linear
correlation with salivary cortisol levels in the COVID-19 pandemic era. The
most dominant stress factor is feeling annoyed because something happens
suddenly and nervous if things happen out of control. PSS-10 deserves to be
considered a measuring modality in assessing anesthesia residents' stress
level in the era of the COVID-19 pandemic. Abstrak Pandemi COVID-19 berdampak pada proses pendidikan
residen anestesi yang
merupakan salah satu garda depan
pelayanan medis. Situasi seperti ini akan menambah
stres dan beban mental
yang berpotensi menurunkan
imunitas tubuh dan kualitas pelayanan. Kortisol saliva merupakan biomarker stres
yang reliabel dalam mengukur tingkat stres karena bersirkulasi akut dalam tubuh. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan antara kadar kortisol saliva dengan tingkat stres residen anestesiologi dan terapi intensif di era pandemi
COVID-19 yang diukur menggunakan
perceived stress scale (PSS-10). Metode penelitian adalah observasional analitik
dilakukan pada 40 residen anestesiologi
usia 28-39 tahun dan dalam masa putaran stase ruang isolasi
khusus (RIK) dan ruang resusitasi (RES) yang menangani
pasien terpapar COVID-19
di RSUD Dr. Soetomo Surabaya pada bulan Agustus-September 2020.
Hasil perhitungan statistik
dengan Uji Spearman, hubungan
antara PSS-10 dan kadar kortisol, tingkat stres ringan (25% vs 67,5%) dan
stres sedang (75% vs
37,5%) secara statistik bermakna (p=0,005; r=0,388) Simpulan:
Tingkat stres residen anestesiologi berdasarkan
PSS-10 berkorelasi linear terhadap
kadar kortisol saliva di
era pandemi COVID-19. Faktor
stres paling dominan yakni perasaan kesal akibat sesuatu terjadi secara mendadak dan gugup jika terjadi
hal diluar kendali. PSS-10 layak dipertimbangkan sebagai modalitas
alat ukur dalam menilai tingkat stres residen anestesi di era pandemi
COVID-19. |
|
Keywords: COVID-19; salivary cortisol; PSS-10; anesthesia
resident; stress levels Kata kunci : COVID-19; kortisol saliva; PSS-10; residen
anestesi; tingkat stres |
Pada akhir tahun 2019, dunia dikejutkan dengan wabah virus corona
(COVID-19) yang menginfeksi hampir
seluruh negara. Pada januari
2020, WHO telah menyatakan bahwa dunia masuk kedalam darurat global terkait virus ini. Ini merupakan fenomena luar biasa yang terjadi di bumi pada abad ke-21, yang skalanya mungkin dapat disamakan dengan Perang Dunia II, karena kegiatan-kegiatan skala besar (pertandingan-pertandingan
olahraga internasional contohnya) hampir seluruhnya ditunda bahkan dibatalkan. Terhitung mulai tanggal 19 Maret 2020 sebanyak 214.894 orang terinfeksi
virus corona, 8.732 orang meninggal dunia dan pasien yang telah sembuh sebanyak 83.313 orang. Khusus di Indonesia sendiri Pemerintah telah mengeluarkan status darurat bencana terhitung mulai tanggal 29 Februari 2020 hingga 29 Mei 2020 terkait pandemi virus ini dengan jumlah
waktu 91 hari. Langkah-langkah telah dilakukan oleh pemerintah untuk dapat menyelesaikan kasus luar biasa ini,
salah satunya adalah dengan menyosialisasikan gerakan Social Distancing. Konsep
ini menjelaskan bahwa untuk dapat mengurangi bahkan memutus mata rantai
infeksi COVID-19 seseorang harus menjaga jarak
aman dengan manusia lainnya minimal 2 meter dan tidak melakukan kontak langsung dengan orang lain, menghindari pertemuan massal. Dalam studi
baru-baru ini, diterbitkan Indian Journal of Psychiatry pada April 2020, mengatakan bahwa sekitar 30% dokter di india mengalami depresi dan hampir 80% menghadapi risiko fatigue pada tahap awal mereka
bekerja. Pandemi COVID-19 menimbulkan jenis tingkat stres yang baru lagi. Bahkan
dalam keadaan normal, petugas kesehatan menunjukkan stres melebihi ambang batas. �Sekitar 25% dibandingkan dengan 15-18% pada populasi umum�, kata Radika Bapat (2020), seorang psikolog klinis. Kondisi ini tidak
hanya berlaku bagi dokter tetapi
juga bagi tim medis secara keseluruhan
� pegawai bangsal, perawat, pengemudi ambulans maupun pekerja sanitasi. Menangani pandemi covid-19 tidak hanya menguras
fisik tetapi juga emosi. Para profesional medis, tidak hanya
mengorbankan kesehatan fisik namun juga kesehatan mental. Menurut Vikram
Berri (2020), pendiri platform konseling
Online BetterLYF.com, dokter menjadi
satu-satunya caregiver tunggal-baik
secara medis maupun emosional-dalam situasi dimana keluarga tidak diperbolehkan mendampingi pasien. Pada era ini, mereka cenderung menderita dua beban
emosional tambahan : keletihan emosi
dan kesedihan akibat rasa kehilangan. Beban tanggung jawab yang sangat besar mulai muncul sehingga
berpotensi menyebabkan gangguan tidur dan makan serta penyalahgunaan
obat (Buana, 2020) (Bhuyan, 2021).
Tenaga medis
yang menangani pasien terpapar COVID-19 memiliki gejala depresi, kecemasan dan insomnia berjumlah signifikan. Dilansir dari hasil survei Medscape pada Maret 2020, terhadap lebih dari 1200 tenaga medis di Cina, sekitar 50% melaporkan setidaknya mengalami depresi ringan ;
14% dokter dan hampir 16% perawat melaporkan gejala depresi sedang atau berat dan sekitar 34% melaporkan insomnia. Mereka yang berisiko terbesar untuk gejala depresi dan kecemasan termasuk wanita, mereka yang memiliki peran sebagai senior madya (dibandingkan dengan mereka yang memiliki peran sebagai junior)
dan mereka yang berada di pusat epidemi di Wuhan. Tenaga medis garis depan memiliki risiko gejala depresi yang lebih tinggi, kecemasan,
insomnia, dan kesedihan .3 Residen
di negara berkembang mengalami kondisi
lebih berat dibanding negara maju karena infrastruktur serba terbatas, rasio pasien-dokter lebih tinggi, dan tidak ada batasan
ketentuan jumlah jam kerja. Tingkat stres tertentu dibutuhkan untuk kepentingan pendidikan dan peningkatan kinerja, tetapi stres yang berkepanjangan dapat menyebabkan sindrom burnout yang merugikan residen sendiri dan pasien yang mereka tangani. Pakar Promosi Kesehatan Fakultas Kedokteran, Kesehatan
Masyarakat, dan Keperawatan (FKKMK) UGM, dr. Fatwa
Sari Tetra Dewi, MPH., Ph.D., menyebutkan
rasa cemas, khawatir, serta stres sering
dialami banyak orang saat menghadapi situasi krisis, termasuk menghadapi COVID-19 yang
penyebarannya kian merebak di berbagai negara. Stres diketahui bisa menurunkan imunitas tubuh, sementara yang dibutuhkan untuk menangkal COVID-19 adalah kekebalan tubuh yang baik (Ika, 2020).
Awal abad
ke-20, sistem endokrin banyak menarik minat dalam penelitian
tentang stres, dengan menekankan pada HPA axis.
Sistem ini membentuk jalur yang secara teori memediasi hubungan antara stres psikososial dan gangguan selanjutnya. Sekresi kortisol memainkan peranan penting dalam pengaturan
fisiologis dan perilaku respon dalam situasi
penuh tekanan. Kortisol meningkat setelah latihan fisik berat dan setelah menerima tugas dengan beban
mental berat Peningkatan kortisol saliva ditemukan di para
sandera Iran setelah dibebaskan dari tahanan, mencerminkan kesusahan, kecemasan, dan kegembiraan. Kortisol saliva adalah satu-satunya parameter fisiologis yang menunjukkan korelasi signifikan atas tekanan psikologis.
Kadar kortisol saliva terus
meningkat setelah kondisi stres tetapi
menunjukkan penurunan tajam setelah stres
teratasi, hal ini mencerminkan kaitan antara tingkat
stres yang meningkat dengan HPA axis. HPA axis merupakan salah satu komponen utama
dari sistem adaptasi stres pada individu. Stresor yang berhubungan dengan banyaknya pekerjaan dikaitkan dengan respon peningkatan
kadar kortisol. Profil respon ekskresi
kortisol saliva di saat pagi hari, telah
digunakan dalam penilaian adaptasi seseorang terkait stres. Peningkatan respon kadar kortisol
dikaitkan dengan peningkatan tingkat stres. Pada penelitian ini, peneliti menganalisis
hubungan antara kadar kortisol saliva dengan tingkat stres dan faktor stres pada residen Anestesiologi danTerapi Intensif di era pandemi COVID-19
di RSUD Dr. Soetomo Surabaya. Evaluasi
tingkat stres diukur dengan menggunakan
kuesioner Perceived Stress Scale (PSS-10) dikorelasikan dengan peningkatan kadar kortisol saliva pagi hari (Nursing, 2021) (Lindholm et al., 2012).
Metode Penelitian
Penelitian ini menggunakan
metode deskriptif dengan pendekatan kuesioner untuk mengetahui tingkat stres pada peserta residen Anestesi FK Unair.
Penentuan besar sampel
dilakukan berdasar perhitungan
statistik dengan menetapkan taraf kepercayaan 95% dan kuasa uji (power
test) 80%. Berdasar perhitungan
untuk penelitian komparasi kategorik ordinal didapatkan jumlah sampel minimal 40 orang. Pengambilan sampel dilaksanakan secara consecutive
sampling.
Data yang diambil menggunakan kuesioner terdiri atas dua bagian:
bagian pertama mencakup data sosiodemografik, jenjang semester, status pernikahan,
status IMT, dan putaran stase.
Bagian kedua adalah kuesioner PSS-10, alat yang paling umum
digunakan untuk menilai risiko mengalami stres. kuesioner ini sudah
diterjemahkan, diadaptasi,
dan divalidasi terlebih dahulu oleh penerjemah Indonesia
yang terdiri atas 10 pertanyaan. Pertanyaan
1,2,3,6,7,9, dan 10 bila dijawab
tidak pernah akan dinilai dengan
angka nol, sedangkan jawaban �sangat sering� dinilai dengan angka 4. Pada pertanyaan 4,5,7, dan 8 bila dijawab dengan �tidak pernah� akan
dinilai dengan angka 4, sedangkan jawaban �sangat sering� dinilai dengan angka nol. Skor total 0-13 dinilai
stres ringan, 14-26 dinilai stres sedang,
dan 27-40 dinilai stres berat. CSS, alat yang digunakan untuk menunjukkan respon stres dalam
bentuk rasa takut dan cemas akibat pandemi
COVID-19. Kuesioner ini diterjemahkan, diadaptasi dan divalidasi terlebih dahulu sebelum digunakan kepada responden. CSS terdiri dari 36 pernyataan yang memiliki 6 sub skala, diantaranya: skala bahaya, skala kontaminasi,
skala konsekuensi sosioekonomi, xenophobia, perilaku
kompulsif, dan stres traumatis. Semua penyataan dinilai dengan 0 jika dijawab
dengan �tidak�, jawaban �amat sangat� dinilai dengan angka 4. Berikutnya adalah skala Holmes & Smith
yang merupakan skala penilaian
untuk menilai risiko stres, kuesioner
disajikan dalam 36 pernyataan untuk mengidentifikasi peristiwa besar yang penuh tekanan dalam 1 tahun terakhir, jawaban berupa �ya� dan �tidak�, skor < 150 risiko stres sebesar 30%, skor 150-299 risiko stres sebesar 50%, dan skor> 300 risiko stres sebesar 80%. Terakhir, skala Miller &
Smith, skala untuk mengukur kekebalan terhadap stres, terdiri dari 20 pernyataan dengan yang mampu mengidentifikasi faktor yang mempengaruhi kerentanan terhadap stres. Penilaian setiap pernyataan dinilai dari angka
1 untuk �selalu� hingga angka 5 untuk �tidak pernah�,
skor antara 50 dan 75 dikatakan rentan, dan skor diatas 75 sangat rentan terhadap stres. Penelitian dilakukan di
RSUD Dr Soetomo Surabaya pada bulan
Agustus sampai September
2020 setelah mendapatkan persetujuan Komite Etik Penelitian Kesehatan RSUD
Dr. Soetomo Nomor:
0020/KEPK/VI/2020. Subjek penelitian
yang memenuhi kriteria inklusi dan tidak termasuk kriteria eksklusi diberikan penjelasan tentang penelitian yang akan dilakukan serta menandatangani persetujuan (informed consent), tingkat
stres residen anestesi diukur menggunakan kuesioner PSS-10 dan korelasinya dengan kadar kortisol saliva di era pandemi COVID-19. Residen shift pagi pada pukul 7 sampai 8 pagi dibawa
ke ruang periksa untuk dilakukan pemeriksaan tanda vital dengan menggunakan monitor elektrokardiografi, denyut nadi, tekanan darah,
dan oksimeter. Kemudian residen mengisi lembar pengumpul data dengan kuesioner PSS-10 termasuk didalamnya dan diminta untuk mengeluarkan
salivanya sebanyak 1-3 ml kedalam pot tabung yang telah disiapkan peneliti.
Analisis statistik deskriptif
univariat untuk data karakteristik dan untuk data kategorik dengan uji chi-square.
Data hasil penelitian dicatat
dan diolah menggunakan
program statistical product and service solution (SPSS) versi
18.0 for Windows.
Hasil dan Pembahasan
A.
Hasil
Total 40 residen Anestesiologi dan
Terapi Intensif FK Unair yang menjadi sampel penelitian ini.
Subjek penelitian rerata berusia 32,22
� 2,9 tahun, status IMT normal lebih banyak dibanding overweight dan obesitas
(47,5%), jenjang semester 4 paling banyak (25%), status menikah lebih banyak
dibandingkan dengan belum menikah (67,5%), jenis kelamin pria lebih banyak
dibanding wanita (82,5%), dan putaran stase RIK dan RES (52,5% vs 47,5%; Tabel
2).
Tabel 1
Karakteristik demografi subjek penelitian (n=40)
|
�Karakteristik |
n (%) |
||
|
Kelompok Usia (tahun) Status IMT Jenjang semester |
≤ 30 > 30 Normal Overweight Obesitas 4 5 6 7 8 9 10 |
25 (62,5%) 15 (37,5%) 23 (47,5%) 13 (32,5%) 4 (10%) 10 (25%) 4 (10%) 7 (17,5%) 5 (12,5%) 4 (10%) 9 (22,5%) 1 (2,5%) |
|
|
Status pernikahan |
Menikah |
27 (67,5%) |
|
|
|
Belum Menikah |
13 (32,5%) |
|
|
Jenis kelamin |
Wanita Pria |
7 (17,5%) 33 (82,5%) |
|
|
Putaran stase |
RIK RES |
21 (52,5%) 19 (47,5%) |
|
Pada penelitian ini didapatkan rerata kadar kortisol dengan
kategori stres ringan sebanyak 62,5% residen sedangkan yang mengalami stres
sedang sebanyak 37,5% residen (Tabel 2).
Tabel 2
Kadar kortisol saliva residen
|
Kadar Kortisol
(Mean � Std) |
n (%) |
Kategori Stres |
|
0,42 � 0,2 |
25 (62,5%) |
Stres Ringan |
|
1,80 � 0,2 |
15 (37,5%) |
Stres Sedang |
Keterangan: Stres
ringan (0 - <1,5 �g/dl),
Stres sedang
(1,5 - < 2,5 �g/dl)
Persentase residen dengan status IMT normal lebih banyak
mengalami stres ringan (60,9%). Begitu juga, residen overweight lebih banyak
yang mengalami stres ringan (69,2%). Namun, residen obesitas memiliki
persentase stres ringan sama besar dengan yang mengalami stres sedang (50%).
Berdasarkan jenjang semester residen semester 4,6,7, dan 9 lebih banyak
mengalami stres ringan (80%; 57,1; 60%; 77,8%), sedangkan pada semester 5 lebih
banyak mengalami stres sedang (75%) dan semester 10 yang berjumlah 1 residen
mengalami stres sedang. Pada status residen yang menikah maupun belum menikah
lebih banyak mengalami stres ringan (57,7%; 71,4%). Berdasarkan jenis kelamin
baik pria atau wanita lebih banyak mengalami stres ringan dibandingkan stres
sedang (57,6%; 87,5%; Tabel 3)
Dengan menggunakan tabulasi silang dianalisis menggunakan uji
chi-square, tidak didapatkan kemaknaan statistik (p> 0,05) korelasi data
karakteristik terhadap kategori kadar kortisol (Tabel 3)
Tabel 3
Korelasi karakteristik dan kategori
kadar kortisol
|
|
Kategori kadar kortisol |
|
|
|||||
|
Karakteristik |
Stres Ringan |
Stres Sedang |
Total |
Nilai-p |
||||
|
n |
% |
n |
% |
n |
||||
|
Status
IMT |
Normal |
14 |
60,9 |
9 |
39,1 |
23 |
0,579 |
|
|
Overweight |
9 |
69,2 |
4 |
30,8 |
13 |
|||
|
Obesitas |
2 |
50 |
2 |
50 |
4 |
|||
|
Jenjang semester |
4 |
8 |
80 |
2 |
25 |
10 |
0,356 |
|
|
5 |
1 |
25 |
3 |
75 |
4 |
|||
|
6 |
4 |
57,1 |
3 |
42,9 |
7 |
|||
|
7 |
3 |
60 |
2 |
40 |
5 |
|||
|
8 |
2 |
50 |
2 |
50 |
4 |
|||
|
9 |
7 |
77,8 |
2 |
22,2 |
9 |
|||
|
10 |
0 |
0 |
1 |
100 |
1 |
|||
|
Status
pernikahan |
Menikah |
15 |
57,7 |
11 |
42,3 |
26 |
0,392 |
|
|
Belum
menikah |
10 |
71,4 |
4 |
28,6 |
14 |
|||
|
Jenis kelamin |
Pria |
19 |
57,6 |
14 |
43,8 |
32 |
0,162 |
|
|
Wanita |
6 |
87,5 |
1 |
12,5 |
8 |
|||
Keterangan tabel: tidak signifikan bila p > 0,05
Pada
kategori kekebalan terhadap stres dan risiko stres didapatkan hasil residen
kebal terhadap stres lebih banyak mengalami stres ringan (87,5%) dan residen
tidak kebal juga lebih banyak mengalami stres ringan (56,3%). Hasil uji
chi-square secara statistik tidak bermakna (p>0,05). Berdasarkan kategori
risiko stres Holmes & Rahe, residen dengan risiko stres 30% lebih banyak
mengalami stres ringan (72,4%), sebaliknya residen dengan risiko stres 50%
lebih banyak mengalami stres sedang (63,6%). Hasil uji statistik dengan
chi-square secara statistik bermakna (p<0,05) dan uji korelasi Spearman
menunjukkan kekuatan korelasi lemah (0,2<r<0,399; Tabel 4).
Tabel 4
Kategori kekebalan stres dan risiko stres
terhadap
|
|
Kategori kadar kortisol |
|
|
|||||
|
Karakteristik |
Stres Ringan |
Stres Sedang |
Total |
nilai-p |
r |
|||
|
n |
% |
n |
% |
n |
||||
|
Kategori kekebalan stres Miller & Smith |
Kebal |
7 |
87,5 |
1 |
12,5 |
8 |
0,219 |
- |
|
Tidak kebal |
18 |
56,3 |
14 |
43,8 |
32 |
|||
|
Kategori risiko stres Holmes & Rahe |
Risiko 30% |
14 |
72,4 |
3 |
27,6 |
17 |
0,014 |
0,386 |
|
Risiko 50% |
11 |
36,4 |
12 |
63,6 |
23 |
|||
Keterangan tabel: tidak signifikan bila p > 0,05
Berdasarkan kategori tingkat stres menurut CSS dikorelasikan
dengan kategori kadar kortisol residen yang tidak stres pada CSS mengalami
lebih banyak mengalami stres ringan (72,4%) sedangkan pada residen yang stres
ringan pada CSS lebih banyak mengalami stres sedang (63,6%). Hasil uji
chi-square secara statistik bermakna (p<0,005) dan uji korelasi Spearman
menunjukkan kekuatan korelasi lemah (0,2<r<0,399; Tabel 5).
Tabel 5
Hubungan tingkat stres CSS dengan kategori
kadar kortisol
|
Tingkat
Stres CSS |
Kategori Kadar Kortisol |
|
|||||
|
Stres Ringan |
Stres Sedang |
Total |
nilai-p |
r |
|||
|
n |
% |
n |
% |
n |
|||
|
Tidak Stres Stres Ringan |
21 4 |
72,4 36,4 |
8 7 |
27,6 63,6 |
29 11 |
0,022 |
0,361 |
|
Jumlah |
25 |
62,5 |
15 |
37,5 |
40 |
|
|
Berdasarkan kategori tingkat stres menurut PSS-10 dikorelasikan
dengan kategori kadar kortisol residen mengalami stres ringan pada PSS-10
semuanya mengalami stres ringan (100%) pada kategori kadar kortisol sedangkan
residen yang mengalami stres sedang pada PSS-10 sebanyak 50% yang mengalami
stres sedang pada kategori kadar kortisol. Hasil uji chi-square secara
statistik bermakna (p<0,005) dan uji korelasi Spearman menunjukkan kekuatan
korelasi lemah (0,2<r<0,399; Tabel 6).

Gambar
1
�Distribusi Faktor Stres Berdasarkan
CSS
Berdasarkan diagram batang diatas faktor stres yang diukur
menggunakan Covid Stress Scale,� terdapat
3 skala yang memiliki dampak terhadap residen anestesi pada era pandemi
COVID-19. Tingkat stres yang dirasakan meliputi, stres ringan (92.5%) pada
skala bahaya (terinfeksi COVID-19), stres ringan (90%) pada skala kontaminasi
(tertular dari lingkungan), stres ringan (80%) dan stres sedang (20%) pada
skala perilaku kompulsif.
Tabel 6
Hubungan tingkat
stres PSS-10 dan kategori kadar kortisol
|
Tingkat Stres
PSS-10 |
Kategori Kadar Kortisol |
|
|||||
|
Stres Ringan |
Stres Sedang |
Total |
nilai-p |
r |
|||
|
n |
% |
n |
% |
n |
|||
|
Stres Ringan |
10 |
100 |
0 |
0 |
10 |
0,013* |
0,388** |
|
Stres Sedang |
15 |
50 |
15 |
50 |
30 |
||
|
Jumlah |
10 |
25 |
30 |
75 |
40 |
||
Keterangan tabel : signifikan
bila p<0,05 ; terdapat hubungan bila r>0,2
Distribusi faktor stres residen Anestesi berdasarkan PSS-10
disajikan dalam bentuk mean � Std, terdapat 3 faktor penyebab stres paling
sering: perasaan kesal akibat sesuatu terjadi secara tidak sengaja (2,275 �
0,6), perasaan gugup dan stres (1,925 � 0,57), dan merasa tidak dapat
mengendalikan hal-hal penting dalam kehidupan sehari-hari (1,85 � 0,53;
Gambar1)

Gambar 2
Distribusi Faktor Stres Berdasarkan PSS-10
Distribusi faktor stres residen anestesi disajikan dalam mean
� std, diantara 10 item pertanyaan di dalam kuesioner PSS-10, terdapat 3 faktor
paling sering dirasakan residen yang mengakibatkan stres selama masa pendidikan
pada era pandemi COVID-19 meliputi : perasaan kesal akibat sesuatu terjadi
secara tidak terduga (2.275 � 0,6), perasaan gugup dan stres (1,925 � 0,57),
dan merasa tidak dapat mengendalikan hal-hal penting dalam kehidupan
sehari-hari (1,85 � 0,53).
B.
Pembahasan
Rerata usia subjek pada penelitian
ini usia 32,2 tahun, dengan rentang usia 28 � 39 tahun. Usia 30 tahun digunakan
sebagai batasan untuk memisahkan kelompok residen dengan riwayat pendidikan
kedokteran standar dengan mereka yang telah mengalami pengalaman lain dalam
hidupnya sebelum memulai residensi. Usia rerata residen pada penelitian Issa,
et al 33,09 (3,93) dengan rentang 26-46 tahun (Issa et al., 2009).
1.
Prevalensi Tingkat
Stres Residen Anestesi
Prevalensi stres berdasarkan PSS-10
dalam menilai stres, diperoleh 30 (75%) residen anestesi mengalami stres sedang
dan 10 (25%) mengalami stres ringan, tidak didapatkan residen yang mengalami
stres berat. Distribusi 3 faktor stres paling sering dirasakan residen anestesi
meliputi :perasaan kesal akibat sesuatu tak terduga terjadi, perasaan gugup dan
stres serta merasa tidak mampu mengendalikan hal-hal penting dalam hidup.
Penelitian stres residen anestesi yang dilakukan yang dilakukan Gandhi et al,
menyimpulkan terdapat 80% dari 100 residen anestesia mengalami stres berat
selama pendidikannya.9 Penelitian lain yang dilakukan terhadap 555 residen di
rumah sakit pendidikan di Yordania menggunakan kuesioner PSS, diperoleh 73%
residen mengalami stres sedang dan 18% stres berat (Maswadi et al., 2019)
2.
Hubungan
antara stres dengan karakteristik subjek
Pada penelitian ini tidak ada hubungan
bermakna antara usia, indeks massa tubuh, jenjang semester, status pernikahan,
jenis kelamin, kekebalan terhadap stres berdasarkan skala Miller & Smith,
dan putaran stase pelayanan COVID-19 (Ruang Isolasi Khusus dan Ruang
Resusitasi). Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian (Putri & Soedibyo, 2016), yang menyatakan tidak ada hubungan antara jenis kelamin,
usia, tahap pendidikan, lama studi, status pernikahan pada residen Ilmu
Kesehatan Anak FKUI-RSCM. Demikian juga, penelitian (Gonz�lez-Cabrera et al., 2014), yang dilakukan pada 35 residen medis di Spanyol, menyatakan
tidak ada hubungan signifikan antara kadar kortisol dengan usia, panjangnya jam
jaga perbulan atau kecukupan waktu tidur, juga tidak ada perbedaan jenis
kelamin antar residen.
Pada jenjang semester, tidak
didapatkan hubungan signifikan (p = 0,356), hal ini bisa dikaitkan dengan
tanggung jawab kerja pada residen paling junior (semester 4 ; stres ringan
80%), saat bertugas di RIK, hanya memiliki tanggung jawab administratif,
sedangkan semester yang lebih tinggi bertanggung jawab kontak langsung dengan
pasien. Pada stase RES, residen paling junior akan menangani pasien-pasien yang
tidak terlalu banyak membutuhkan tindakan invasif dan kontak terlalu lama dengan
pasien COVID-19 terkonfirmasi. Prevalensi stres sedang lebih tinggi (75%) pada
residen semester 5 yang sudah memiliki tanggung jawab dalam penanganan langsung
pasien COVID-19 baik di RES maupun RIK. Faktor lain yang mempengaruhi, tingkat
stres yang tidak berbeda bermakna karena terdapat perbedaan tanggung jawab
berdasarkan semester. Penelitian lain yang mendukung dari (Bhadania et al., 2011) menyatakan bahwa residen senior dalam pendidikannya mungkin
saja memiliki stresor yang sama menghawatirkannya dengan residen juniornya. (Bhadania et al., 2011) Hasil penelitian dari (Putri & Soedibyo, 2016),� juga menyatakan
bahwa tidak ada perbedaan bermakna tingkat stres residen tahun pertama
dibandingkan tahun-tahun berikutnya (Budhiasa, 2016).
Pada status pernikahan, tidak ada
hubungan signifikan yang ditemukan dalam penelitian mengenai status pernikahan
dan stres (p = 0,392), hasil penelitian ini didukung dengan laporan beberapa
penelitian bahwa residen yang menikah, memiliki kontak sosial yang kuat dikaitkan
dengan tingkat stres yang rendah. Penelitian lain menyatakan sebaliknya,
Residen belum menikah memiliki stres yang lebih tinggi (Kelner & Rosenthal, 1986). Faktor seperti dukungan keluarga, perekonomian individu,
serta lamanya usia pernikahan bisa menjadi faktor seseorang yang menikah lebih
mudah beradaptasi dalam menghadapi stresor baru. Menurut penelitian yang
dilakukan (Margiani, 2013) mengenai stres, menyatakan terdapat hubungan yang sangat
signifikan antara stres dan dukungan keluarga terhadap seseorang dengan status
sudah menikah (Margiani, 2013).
3.
Faktor
risiko yang menyebabkan stres residen anestesi
Pada penelitian ini, peneliti
mengidentifikasi dan menganalisis faktor penyebab stres melalui 4 jenis
kuesioner, kuesioner PSS-10 sebagai kuesioner utama dalam penelitian, sedangkan
skala Miller & Smith, skala Holmes Rahe dan Covid Stress Scale sebagai
kuesioner pendamping. Berdasarkan kemaknaan statistik dan hasil analisis
menggunakan teknik klasifikasi. Faktor penyebab stres berdasarkan skala Holmes
Rahe, menilai faktor risiko terkena penyakit akibat stres.� Faktor stres yang diidentifikasi berdasarkan
kuesioner PSS-10, untuk menilai berbagai stresor yang dialami residen anestesi
dalam 1 bulan terakhir.Berdasarkan kuesioner ini, didapatkan bahwa residen yang
mengalami tingkat stres ringan sebanyak 10 (25%) orang, sedangkan 30 (75%)
orang lainnya mengalami stres sedang. Hubungan PSS-10 dan kortisol saliva
memiliki kemaknaan statistik dan kekuatan hubungan (p = 0,013; r= 0,36).
Penelitian Van Eck et al (1994), pada pada 88 pegawai, menggunakan PSS-10 dan
kortisol saliva, menyimpulkan bahwa pegawai yang memiliki tingkat stres tinggi
yang diukur dengan PSS-10 relatif memiliki kadar kortisol saliva lebih tinggi
dibandingkan pegawai yang tingkat stresnya rendah.3 Penelitian lain, oleh (Setiyono et al., 2015), menggunakan PSS-10 dan kadar kortisol untuk menganalisis
pengaruh stres terhadap penderita infertilitas (Setiyono et al., 2015).
Kesimpulan
1. Terdapat hubungan
yang linear antara tingkat stres menggunakan PSS-10 dan kategori stres berdasarkan kadar kortisol saliva.
2. Faktor stres yang bisa diidentifikasi berdasarkan CSS-10
subskala bahaya, kontaminasi dan perilaku kompulsif dan pada PSS-10, perasaan
kesal akibat sesuatu yang tak terduga, frekuensi gugup dan stres, dan hal penting dalam
hidup yang tak dapat dikendalikan.
BIBLIOGRAFI
Bhadania,
S., Parikh, M., & Vankar, G. K. (2011). Stress and Coping among Resident
Doctors. Archives of Indian Psychiatry, 13(2), 45.
Bhuyan,
A. (2021). India begins COVID-19 vaccination amid trial allegations. The
Lancet, 397(10271), 264.
Buana,
D. R. (2020). Analisis Perilaku Masyarakat Indonesia dalam Menghadapi Pandemi Virus
Corona (Covid-19) dan Kiat Menjaga Kesejahteraan Jiwa. Salam: Jurnal Sosial
Dan Budaya Syar-I, 7(3), 217�226.
Budhiasa,
S. (2016). Analisis Statistik Multivariate Dengan Aplikasi SEM PLS SmartPLS
3.2. 6. Edited by Jiwa Atmaja. Edisi Pert. Denpasar: Udayana University
Press.
Gonz�lez-Cabrera,
J., Fern�ndez-Prada, M., Iribar-Ibabe, C., & Peinado, J. M. (2014). Acute
and chronic stress increase salivary cortisol: a study in the real-life setting
of a national examination undertaken by medical graduates. Stress, 17(2),
149�156.
Ika.
(2020). Cara Atasi Stres Selama Pandemi COVID-19. Universitas Gadjah Mada.
Issa,
B. A., Yussuf, A. D., Olanrewaju, G. T., & Oyewole, A. O. (2009). Stress in
residency training as perceived by resident doctors in a Nigerian university
teaching hospital. European Journal of Scientific Research, 30(2),
253�259.
Kelner,
M., & Rosenthal, C. (1986). Postgraduate medical training, stress, and
marriage. The Canadian Journal of Psychiatry, 31(1), 22�24.
Lindholm,
H., Ahlberg, J., Sinisalo, J., Hublin, C., Hirvonen, A., Partinen, M., Sarna,
S., & Savolainen, A. (2012). Morning cortisol levels and perceived stress
in irregular shift workers compared with regular daytime workers. Sleep
Disorders, 2012.
Margiani,
K. (2013). Stres, dukungan keluarga dan agresivitas pada istri yang menjalani
pernikahan jarak jauh. Persona: Jurnal Psikologi Indonesia, 2(3).
Maswadi,
N., Khader, Y. S., & Slaih, A. A. (2019). Perceived stress among resident
doctors in Jordanian teaching hospitals: Cross-sectional study. JMIR Public
Health and Surveillance, 5(4), e14238.
Nursing,
N. C. of S. B. of. (2021). NCSBN�s Environmental Scan COVID-19 and Its Impact
on Nursing and Regulation. Journal of Nursing Regulation, 11(4),
S1.
Putri,
I. A., & Soedibyo, S. (2016). Tingkat Depresi Peserta Program Pendidikan
Dokter Spesialis Ilmu Kesehatan Anak FKUI-RSCM dan Faktor-Faktor Terkait. Sari
Pediatri, 13(1), 70�78.
Setiyono,
A., Hendarto, H., Prasetyo, B., & Maramis, M. M. (2015). Pengaruh tingkat
stres dan kadar kortisol dengan jumlah folikel dominan pada penderita
infertilitas yang menjalani fertilisasi invitro. Majalah Obstetri Dan
Ginekologi, 23(3), 128�132.