|
Jurnal
Syntax Transformation |
Vol. 2
No. 3, Maret �2021 |
|
p-ISSN :
2721-3854 e-ISSN : 2721-2769 |
Sosial
Sains |
PENGARUH PENAMBAHAN INFRA MERAH PADA CONTRACT RELAX
STRETCHING TERHADAP FLEKSIBILITAS PEMAIN FUTSAL SMP 1 KLATEN
Rima Yunitasari
Universitas Widya
Dharma Klaten Jawa Tengah, Indonesia
Email: [email protected]
|
INFO ARTIKEL |
ABSTRACT |
|
Diterima 21 Februari 2021 Direvisi 2 Maret 2021 Disetujui 15 Maret 2021 |
This study aims to
determine the effect of infra red with the contract relax stretching on the
player futsal SMP 1 Klaten. Methods
this research uses experimental research with quantitative approach and the desain One� Group
Pretest-Posttest Design. the number of sample of this study amounted to 20
samples, the results of research using the test and Paired sample t-test
group 1 Contract Relax Stretching (p-value) 0.0139 Ha is accepted and Ho is
rejected and it was concluded there is the influence of Contract Relax
Stretching on flexibility, in group
2 infra red and Contract Relax Stretching (p-value) 0.0000 that Ha is
accepted and Ho is rejected, it can be concluded there is a significant
influence on the infra red and Contract Relax Stretching. Conclusion this
study is the addition of infra red on the provision of Contract Relax
Stretching can increase flexibility on the player futsal SMP 1 N Klaten to the fullest. ABSTRAK Penelitian ini
bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian infra merah dengan� contract relax stretching pada pemain futsal SMP 1 Klaten. Metode penelitian ini menggunakan penelitian quasi eksperimen dengan pendekatan kuantitatif dan desain One� Group
Pretest-Posttest Design Jumlah
sampel penelitian ini sebesar 20 sampel, hasil penelitian menggunakan uji Paired sample t-test kelompok 1 Contract
Relax Stretching (nilai p) 0.0139� Ha
diterima dan Ho ditolak maka disimpulkan ada pengaruh Contract Relax Stretching terhadap fleksibilitas, pada kelompok
2 infra merah dan Contract Relax Stretching� (nilai p) 0.0000 bahwa Ha diterima dan
Ho ditolak dapat disimpulkan ada pengaruh yang signifikan pada
infra merah dan Contract Relax Stretching. Kesimpulan penelitian
ini adalah penambahan infra merah pada pemberian Contract
Relax Stretching dapat meningkatkan
fleksibilitas pada pemain
futsal SMP 1 N Klaten secara
maksimal. |
|
Keywords: contract relax
stretching; fleksibilitas;infra
red Kata Kunci: contract relax stretching; fleksibilitas; infra merah |
|
|
Coresponden Author Email: [email protected] Artikel dengan akses terbuka dibawah lisensi
|
|
Pendahuluan
Permainan futsal adalah permaian yang sangat menarik dan diminati oleh seluruh dunia (Ribeiro & Costa, 2006). Futsal merupakan
olahraga seperti sepak bola namun lebih simpel karena
memilik lapangan yang lebih kecil dan pemain yang lebih sedikit. Futsal menjadi permainan yang semakin mengemuka ketika FIFA memberi pengakuan secara resmi pada tahun 1989 dimana kejuaraan dunia futsal mulai diselenggarakan. begitu juga di
Indonesia futsal menjadi primadona
karena bisa dilakukan didalam ruangan tapi tetap
membutuhkan gerakan yang cepat dan tepat sehingga mmebuuhkan tingkat kelenturan yang baik.
Futsal merupakan olahraga beregu dan komplek yang menggunakan taktik, teknik dan kecepatan yang tinggi dalam permainannya. Permainan� Futsal�
bertujuan untuk� mencetak� gol� sebanyak-banyaknya� ke gawang�� lawan�� dengan�� waktu�� yang�� telah ditetapkan, serta� meminimalkan� kemasukan gol. Karakteristik pada permainan futsal adalah cepat dan harus terus bergerak. kondisi ini dikarenakan
lapangan futsal ukuranya lebih kecil dibandingkan
lapan bola sehingga mengharuskan untuk terus bergerak (De Oliveira Bueno et al., 2014). Pada pemain
futsal otot tungkai bawah khususnya hamstring dalam olahraga futsal memiliki peran yang sangat besar (Aditomo, 2018).
Pemain futsal harus
memiliki beberapa komponen pendukung dalam mendukung kebugaran fisiknya seperti: Speed,
strength, fleksibility, accuration,
power, coordination, reaction, balance, aglity (Scheunemann, 2012). Komponen-komponen
tersebut dapat menunjang permainan futsal khususnya kemampuan dribbling. Kemampuan tersebut harus didasari dengan fleksibilitas yang baik (Curry et al., 2009).
Dalam permainan
futsal pemain harus memiliki kondisi fisik dan kondisi otot yang baik. Menurut (Komalasari & Ridha, 2013) kondisi otot
yang baik ditandai dengan adanya kekuatan
otot yang dapat meningkatkan performa dalam menerima beban pada waktu tertentu, menghasilkan gaya dalam suatu
kontraksi otot serta daya tahan
otot. Selain itu ditandai dengan
fleksibilitas otot yang baik bagi pemain
futsal untuk meningkatkan mobilitas sendi yang dibutuhkan dalam teknik permainan futsal yaitu kecepatan.
Fleksibilitas merupakan
salah satu komponen penting yang harus dimiliki dalam tubuh dalam melakukan
aktivitas sehari-hari. Fleksibilitas adalah kemampuan tubuh untuk melakukan gerakan melalui ruang gerak sendi
secara maksimal serta mobilitas dan elastisitas otot yang dapat menjangkau gerakan sendi maksimal.
Adapun fleksibilitas pada tubuh
yang baik dapat memudahkan seseorang dalam beraktivitas sehari-hari serta mengurangi kemungkinan terjadinya cedera atau sakit di area-area tubuh tertentu seperti anggota gerak atas, punggung
dan anggota gerak bawah.
Fleksibilitas dibutuhkan oleh olahragawan
maupun bukan olahragawan karena berpengaruh pada fleksibilitas otot. Semakin fleksibel
otot akan semakin menekan terjadinya cidera. Fleksibel otot sangat dibutuhkan pada tungkai kaki selain digunakan untuk aktivitas sehari-hari juga digunakan untuk olahragawan atau atlit. Apabila tungkai kaki mengalami pemendekan otot harus
menjaga fleksibilitas. Seorang atlit sangat
membutuhkan fleksibilitas karena digunakan untuk bergerak cepat, mengubah arah dengan cepat
dan lincah (Rahmiati et al., 2013).
Fleksibilitas yang baik
akan mendukung kualitas pemain, mencegah terjadinya cidera dan menambah mobilitas pemain. Untuk mengatasi permasalahan tersebut fisioterapi dapat berperan penting dalam meningkatkan fleksibilitas melalui peregangan otot. Ada beberapa teknik fisioterapi dalam meningkatkan fleksibilitas, pada penelitian ini dimaksudkan penambahan infra merah pada pemberian stretching dapat menambah fleksibilitas secara maksimal dan meregangkan otot tungkai (Ikhwani, 2018). Infra merah
merupakan terapi sinar panas yang dapat menimbulakan vasodilatasi jaringan superficial
sehingga memberikan efek rileksasi (Sujatno, 1993). Menurut (Prasetyo & Kristiyanto, 2016) pada
pemberian sinar infra merah
ini bertujuan untuk memberikan efek rileksasi pada otot yang mengalami ketegangan dan digunakan untuk mempermudah sebelum melakukan latihan pada otot. Stretching yang dapat diberikan Contract
Relax Stretching. Contract Relax Stretching merupakan
latihan yang melibatkan kontraksi isotonic�
yang optimal dari otot
antagonis kemudian� diikuti� dengan� pemberian fase� relaksasi yang biasa mengalami spasme dan pemendekan (Wiguna, 2015).
Pemberian teknik
stretching ini dapat memanjangkan� struktur soft tissue seperti otot, fasia, tendon dan ligamen sehingga akan dapat menimbulkan� peningkatan� LGS�
dan� penurunan
nyeri akibat pemendekan otot (Harjono, 2012) ketika otot mendapatkan penguluran, maka pemanjangan juga akan terjadi pada komponen yang
elastic lain (Kisner et al., 2017).
Contract Relax Stretching bertujuan
mengulur otot yang mengalami pemendekan dan spasme. Menurut (Alter & Habib, 1996) apabila otot
mengalami penguluran akan terjadi beberapa
reaksi, otot mengalami� stretch reflex
yang diikuti kontraksi otot yang bersangkutan ketika mendapat peregangan secara mendadak. otot akan segera mampu
beradaptasi bila mendapat intervensi yang dilakukan secara
benar. Maka penambahan pemberian Infra Merah akan membuat otot
lebih rileksasi karena ada efek
hangat sehingga bila diberikan bersamaan akan mengurangi terjadinya cidera otot dan mencapai fleksibilitas yang maksimal (Wiguna, 2015). Berdasarkan
uraian tersebut, penulis tertarik melakukan penambahan Infra Merah pada teknik
contract relax stretching terhadap peningkatan fleksibilitas secara maksimal.
Metode Penelitian
Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian eksperimen dengan rancangan penelitian pre test dan post test One� Group Pretest-Posttest Design (Notoatmodjo,
2012). Penelitian ini menggunakan 2 kelompok yang dipilih secara acak. Kelompok pertama menggunakan intervensi Contract
Relax Stretching saja, kelompok
kedua menggunakan Infra
Merah dan Contract Relax Stretching.
Pada kelompok
pertama diberikan Contract Relax Stretching saja. Aplikasi pemberian contract relax streatching
pertama memberi peregangan pasif selama batas limit fleksibilitas. Memberikan gerakan dorongan pereganngan atau kontraksi isotonic pada batas fleksibilitas terhadap peningkatan fleksibilitas. Mempertahankan dorongan selama 5 detik dilanjutkan rileksasi selama 15 detik. Kemudian mengulangi gerakan sebanyak 4 kali pengulangan.
Kelompok kedua penambahan
infra merah pada pemberian Contract Relax Stretching. Sebelum memberikan metode Contract Relax
Stretching diberikan infra merah
terlebih dahulu. Aplikasi langsung pemberian infra merah portable diarahkan pada otot yang akan diberikan Contract Relax Stretching, mengatur jarak infra merah kurang lebih
45 cm atau menyesuaikan dengan batas adaptasi
pemain futsal. Kemudian menyalakan infra merah selama 15-30 menit pemberian.
Penelitian ini dilakukan
pada bulan April di SMP 1 Klaten
dengan menggunakan protokol kesehatan pada pengambilan sampelnya. Frekuensi pemberian intervensi pada penelitian ini 2 kali seminggu selama 4 minggu. Sampel penelitian ini sebesar 20 orang siswa berusia 14-16 tahun. Sampel dalam
penelitian ini dibagi menjadi 2 kelompok dan dipilih secara acak.
Instrument penelitian ini menggunakan Sit and Reach Test yang digunakan untuk mengukur fleksibilitas. Fleksibilitas yang diukur adalah otot tungkai
khususnya otot hamstring, otot yang besar yang banyak digunakan misalnya untuk menopang tubuh. Sit and Reach Test dilakukan
dengan duduk dengan tungkai lurus kemudian
meletakkan meteran batang diantara kedua tungkai, badan digerakkan kedepan secara maksimal lengan dan tungkai lurus. lengan diluruskan
sampai ujung jari menyentuh meteran. Pengukuran dilaksanakan sebelum dan sesudah diberikan intervensi.
Hasil dan Pembahasan
A. Hasil
Tabel
1
Distribusi
Frekuensi Subyek Menurut Umur
|
Umur |
Kel 1 |
%. |
Kel 2 |
% |
|
14 |
2 |
20 |
1 |
10 |
|
15 |
4 |
40 |
5 |
50 |
|
16 |
3 |
30 |
3 |
20 |
|
17 |
1 |
10 |
1 |
10 |
|
Total |
10 |
100 |
10 |
100 |
|
mean |
15,3 |
|
15,4 |
|
|
sd |
0,948 |
|
0,843 |
|
�
Keterangan:
kelompok 1= Contract Relax Stretching
kelompok 2= Infra Merah dan Contract Relax Stretching
Berdasarkan tabel 1 kelompok umur terbanyak
pada kelompok 1 dan 2 adalah
umur 15-16 tahun sebanyak� 7 orang (70%)� kelompok 1 dan 8
orang (80%) untuk kelompok
2. Sedangkan untuk kelompok umur terendah pada kelompok 1 dan 2 adalah sama asing-sing sebesar 10 %.
Tabel 2
Distribusi frekuensi subyek
menurut IMT (Index Massa Tubuh)
|
IMT |
Kel 1 |
|
Kel 2 |
|
|
||||
|
|
Frekuensi |
% |
Frekuensi |
% |
|
||||
|
Kurus (<18,5) |
3 |
30 |
2 |
20 |
|
||||
|
Normal (18,5-24,9) |
5 |
50 |
7 |
70 |
|
||||
|
Gemuk (>25-27) |
2 |
20 |
1 |
10 |
|
||||
|
Total |
10 |
100 |
10 |
100 |
|
||||
|
mean |
21,75 |
|
|
21,9 |
|
||||
|
sd |
3,164 |
|
|
2,601 |
|
||||
Keterangan:
kelompok 1= Contract Relax Stretching
kelompok 2= Infra Merah dan Contract Relax
Stretching
Berdasarkan tabel
1. distribusi kelompok IMT tertinggi pada� kelompok 1
dan 2 yaitu pada klasifikasi
IMT normal (18,5-24,9). Kelompok 1 sebesar 50% dan kelompok 2 sebesar 70%. sedangkan IMT terendah pada klasifikasi IMT
normal untuk kelompok 1 sebesar 20% dan kelompok 2 sebesar 10%.
Tabel 3
uji normalitas dipemain futsal SMP 1 Klaten
|
Variable |
Nilai p |
|
||
|
|
Sebelum
|
Sesudah
|
|
|
|
Kelompok 1 |
0.738 |
0.889 |
||
|
Kelompok 2 |
0.841 |
0.970 |
||
�Keterangan:
�kelompok 1= Contract Relax Stretching
�kelompok 2= Infra Merah dan Contract Relax Stretching
Berdasarkan tabel
2. hasil uji normalitas pada
kelompok 1 pre
test (nilai p)
adalah 0.738 dan post test adalah
0.889 makadapat disimpulkan
data berdistribusi normal nilai
probabilitas (p>0.05). Sedangkan
hasil uji normalitas pada kelompok 2 pre test (nilai p) adalah
0.849 dan post test 0.930 maka disimpulkaan
data berdistribusi normal nilai
probabilitas (p>0.05).
Tabel 4
uji homogenitas di pemain futsal SMP 1 Klaten
|
Variable |
Levene test |
|||
|
|
Nilai p |
Ket
|
|
|
|
Kelompok 1 |
0.159 |
Homogen |
||
|
Kelompok 2 |
0.233 |
Homogen |
||
�Keterangan:
�kelompok 1= Contract Relax Stretching
�kelompok 2= Infra Merah dan Contract Relax Stretching
Berdasarkan tabel
4. hasil uji homogenitas diketahui bahwa nilai signifikasi kelompok 1 sebesar 0.159 dan kelompok 2 sebesar 0.233. maka dapat ditarik
simpulan bahwa p>0.05 populasi dari varian
sama atau homogeny.
Tabel 5
Uji Hipotesis Menggunakan Paired Sample
T-Test
|
Kelompok |
N |
Rerata�SD |
Paired sample t-test |
|
|
t |
p |
|||
|
Pre test |
|
|
|
|
|
Kelompok 1 |
10 |
9,4�1,5055 |
-2.3951 |
0.0139 |
|
Kelompok 2 |
10 |
9,7�1,4181 |
|
|
|
Post
test |
|
|
|
|
|
Kelompok 1 |
10 |
10.9�1,2866 |
-6.2991 |
0.0000��������� |
|
Kelompok 2 |
10 |
13,6�1,3498 |
|
|
Keterangan:
kelompok 1= Contract Relax Stretching
kelompok 2= Infra Merah dan Contract Relax Stretching
Berdasarkan tabel
5 hasil uji hipotesis menggunakan Paired
sample t-test pada kelompok 1 nilai
probabilitas (nilai p) sebesar
0.0139. hal ini menunjukkan nilai probabilitas lebih kecil dari 0.05 (p<0.05) maka Ha diterima dan Ho ditolak dari pernyataan
tersebut berarti bahwa ada pengaruh
contract relax stretching terhadap fleksibiliats pemain futsal di SMP 1 Klaten.
dan pada kelompok 2 hasil
uji hipotesisnya nilai probabilitas (nilai
p) sebesar
0.0000. maka hal ini menunjukkan nilai probabilitas lebih kecil dari 0.05
(p<0.05) maka Ha diterima
dan Ho ditolak dari pernyataan tersebut berarti ada pengaruh
penambahan infra red pada contract relax stretching terhadap fleksibiliats pemain futsal di
SMP 1 Klaten.
B.
Pembahasan
Fleksibilitas pemain
futsal pada penelitian ini diukur dengan menggunakan
Sit and Reach Test dan dibagi menjadi 2 kelompok 1 (contract
relax stretching) dan�
kelompok 2 (infra merah
dan contract relax stretching). pengukuran dilakukan sebelum dan sesudah diberikan intervensi. pada pengukuran sebelum diberikan intervensi terdapat fleksibilitas pemain yang masih kurang namun pada saat setelah diberikan
intervensi terdapat penambahan fleksibilitas secara maksimal. pemberian intervensi dilakukan secara rutin seminggu 2 kali selama 2 bulan dan sebelum dan sesudah pemberian intervensi selalu diukur menggunakan
Sit and Reach Test.
Pada pemberian
contract relax stretching dapat memberikan efek relaksasi dan mengulur otot menjada
lebih panjang. kontraksi otot secara maksismal yang menimbulkan efek vasodilatasi dan relaksasi dapat mempengaruhi proses metabolisme dalam tubuh dan sirkulasi lokal yang berlangsung dengan baik (Athawan
et,al.
2017). Sesuai dengan �penelitian (Megasari et al., 2016) adanya kontraksi
yang berlebih dapat melepaskan pada perlengketan myofascial
sehingga dapat meningkatkan fleksibilitas.
Infra merah
dapat mengurangi spasme, mengurangi nyeri dan meningkatkan lingkup gerak sendi
karena memberikan efek vasodilatasi dan panas yang dihasilkan dapat meningkatkan laju letupan tendon golgi organ yang berfungsi menghambat motorneuron (Prasetyo & Kristiyanto, 2016). Efek vasodilatasi pada jaringan kulit yang ditimbulkan infra red dengan penetrasi 3 mm menjadikan sirkulasi
lancar yang menyebabkan reabsorbsi dan relaksasi dapat mempengaruhi elastisitas serta kelenturan otot sehingga terjadi peningkatan fleksibilitas, lingkup gerak sendi
dan pengurangan nyeri (Nugraha et al., 2016).
Penambahan infra red pada contract� relax� stretching� dapat memberikan efek yang maksimal pada peningkatan fleksibilitas dan lingkup gerak sendi. Efek
panas pada jaringan dapat melancarkan sirkulasi otot da terpenuhinya vaskularisasi otot dengan baik
oleh pemberian infra merah.
Kombinasi infra merah dan contract relax stretching pada penelitian Mirawati dan (Rahmawati
et al., 2014) kontraksi isometric disertai inpirasi akan mengaktifkan motor unit� dan menurunkan nyeri myofascial trigger point. penelitian
lain juga menyebutkan bahwa
pemberian manual terapi berupa contract relax
stretching dapat meregangkan
otot sehingga terjadi penurunan nyeri myofascial trigger point.
Kesimpulan
Intervensi contract relax stretching dapat berpengaruh pada fleksibilitas pemain futsal SMP 1 Klaten. Hasil
uji analisis menunjukkn apabila ada penambahan
infra red pada pemberian contract relax stretching terjadi peningkatan fleksibilitas lebih maksimal dibandingkan dengan pemberian contract
relax stretching saja karena
terdapat efek hangat sehingga membantu otot lebih
rilek dan lentur.
BIBLIOGRAFI
Aditomo,
Y. M. (2018). Pengaruh Ballistic Stretching Terhadap Peningkatan
Fleksibilitas Otot Hamstring Pada Pemain Futsal Sma Negeri 1 Martapura.
University of Muhammadiyah Malang.
Alter, M.
J., & Habib, J. (1996). 300 teknik peregangan olahraga. PT
RajaGrafindo Persada.
Curry, B.
S., Chengkalath, D., Crouch, G. J., Romance, M., & Manns, P. J. (2009).
Acute effects of dynamic stretching, static stretching, and light aerobic
activity on muscular performance in women. The Journal of Strength &
Conditioning Research, 23(6), 1811�1819.
De Oliveira
Bueno, M. J., Caetano, F. G., Pereira, T. J. C., De Souza, N. M., Moreira, G.
D., Nakamura, F. Y., Cunha, S. A., & Moura, F. A. (2014). Analysis of the
distance covered by Brazilian professional futsal players during official matches.
Sports Biomechanics, 13(3), 230�240.
Harjono, I.
(2012). Implementasi praktik kerja industri (Prakerin) pada kompetensi keahlian
teknik instalasi tenaga listrik SMK Negeri 4 di kota Tangerang.
Ikhwani, S.
(2018). Perbedaan Pengaruh Ballistic Stretching Dan Active Isolated
Stretching Terhadap Peningkatan Fleksibilitas Otot Hamstring Pada Pemain Futsal.
Universitas� Aisyiyah Yogyakarta.
Kisner, C.,
Colby, L. A., & Borstad, J. (2017). Therapeutic exercise: foundations and
techniques. Fa Davis.
Komalasari,
D. R., & Ridha, A. A. (2013). Pengaruh Muscle Energy Technique Isometrik
Dan Static Stretching Terhadap Fleksibilitas Otot Hamstrings Pada Siswa Di
Sekolah Sepak Bola (Ssb) Angkasa Surakarta.
Megasari,
P. S. K., Andayani, N. L. N., Purnawati, S., & Wiryanthini, I. A. D.
(2016). The Intervention Contract Relax Hamstring And Hold Relax Quadriceps
Better Than Contract Relax Hamstring And Isotonic Exercise Quadriceps In
Improving Flexibility Of Hamstring On Women Of Pkk At Banjar Jambe Belodan,
Desa Dauh Peken, Tabanan. Majalah Ilmiah Fisioterapi Indonesia, 6(1),
46�49.
Nugraha, N.
H., Tianing, N. W., & Wahyuni, N. (2016). The Kombinasi Intervensi Infrared
Dan Contract Relax Stretching Lebih Efektif Daripada Infrared Dan Slow Reversal
Dalam Meningkatkan Lingkup Gerak Sendi Leher Pada Pemain Game Online Di Bmt Net
Bajera Tabanan. Majalah Ilmiah Fisioterapi Indonesia, 4(1).
Prasetyo,
E. B., & Kristiyanto, A. (2016). Perbedaan Pengaruh Terapi Sinar Infra
Merah Dan Back Exercise Terhadap Nyeri Punggung Bawah Dengan Fleksibilitas
Tulang Belakang Ditinjau Dari Jenis Kelamin. Pena Jurnal Ilmu Pengetahuan
Dan Teknologi, 30(1), 1�8.
Rahmawati, F.,
Sudarma, I. K., & Made Sulastri, M. P. (2014). Hubungan antara pola asuh
orang tua dan kebiasaan belajar terhadap prestasi belajar siswa SD kelas IV
semester genap di Kecamatan Melaya-Jembrana. MIMBAR PGSD Undiksha, 2(1).
Rahmiati,
F., Wijianto, S. S. T., Or, M., & Wahyuni, S. S. T. (2013). Pengaruh
active stretching dan hold relax stretching terhadap fleksibilitas otot
hamstring pada pemain futsal. Universitas Muhammadiyah Surakarta.
Ribeiro, R.
N., & Costa, L. O. P. (2006). Epidemiologic analysis of injuries occurred
during the 15th Brazilian indoor soccer (futsal) sub20 team selection championship.
Rev Bras Med Esporte, 12(1), 1�5.
Scheunemann,
T. (2012). Kurikulum dan pedoman dasar sepakbola Indonesia. Jakarta: Badan
Pembinaan Usia Muda PSSI.
Sujatno, I.
(1993). dkk. 1993. Sumber Fisis.
Wiguna, A.
(2015). Isu-isu kontemporer pendidikan Islam. Deepublish.
.
