|
Jurnal
Syntax Transformation |
Vol. 2
No. 3, Maret �2021 |
|
p-ISSN :
2721-3854 e-ISSN : 2721-2769 |
Sosial
Sains |
PEMBELAJARAN MATEMATIKA ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS
Maimunah Anabanu
Universitas Indraprasta PGRI Jakarta, Indonesia
Email: [email protected]
|
INFO ARTIKEL |
ABSTRACT |
|
Diterima 21 Februari 2021 Direvisi 2 Maret 2021 Disetujui 15 Maret 2021 |
This research was aimed to
analyze the mathematics learning for children with special needs (ABK) in
inclusive school X. It was to be able to find out the teacher's and children
with special needs problems experienced during the mathematics learning
process and the mathematics learning strategies used in the school.� The method used in this research is
descriptive qualitative method with a case study approach.� The information was colleted
relatimg with the mathematics learning process of
children with special needs. It was obtained by conducting in-depth
interviews and observations of the learning process in inclusive schools.� The results showed that learning mathematics
in inclusive schools X used a scientific approach with the same stages of the
learning process as regular schools in general.� This was raised various problems, including
those experienced by students with special needs including lack of
understanding of what is being conveyed, easily forgetting the materials
being taught, lazy to do practice questions, difficult to accept learning
well, difficult to focus, difficult to memorize formulas, difficult to work
on practice independently questions� , Often complained and ABK tended to
be passive when the learning process.�
Meanwhile, teacher was difficult to find and adjust the appropriate
learning strategies to be implemented in the inclusive class and it was
difficult to build the mood of children with special needs.� The mathematics learning strategy for
children with special needs in inclusive schools X was to maximize the role
of the Learning Support Program with the help of a Learning Support Assistant
and to work with teachers of mathematics to carry out several efforts such
as: Providing special learning;�
Provide guidance in stages;�
Build the mood for children with special needs;� direct the children with special needs to
frequently record mathematical formulas and summarize learning
materials;� provide flexible media for
studying at home and ask ABK to be disciplined students. ABSTRAK Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk menganalisis pembelajaran matematika Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) di sekolah inklusi X untuk dapat menemukan
permasalahan apa saja yang dialami guru maupun ABK saat proses pembelajaran matematika serta strategi pembelajaran matematika yang digunakan di sekolah tersebut. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode
kualitatif deskriptif dengan pendekatan studi kasus. Pengumpulan informasi yang berkaitan dengan proses pembelajaran matematika anak berkebutuhan khusus didapatkan dengan mengadakan wawancara mendalam dan observasi terhadap proses pembelajaran di sekolah inklusi. Hasil penelitian menunjukan bahwa pembelajaran matematika di sekolah inklusi X menggunakan pendekatan saintifik dengan tahapan proses pembelajaran
yang sama dengan sekolah reguler pada umumnya. Hal ini menimbulkan berbagai permasalahan, diantaranya yang dialami ABK meliputi kurang mengerti apa yang disampaikan, mudah lupa materi
yang diajarkan, malas mengerjakan
latihan soal, sulit menerima pembelajaran dengan baik, sulit untuk
fokus, sulit menghafalkan rumus, sulit untuk mengerjakan
soal latihan secara mandiri, Sering mengeluh dan ABK cenderung pasif saat proses pembelajaran berlangsung. Sedangkan guru sulit menemukan dan melalukan penyesuaiaan strategi
pembelajaran yang tepat untuk diterapkan di kelas inklusi serta sulit untuk
membangun suasana hati anak berkebutuhan
khusus. Strategi pembelajaran
matematika ABK pada sekolah
inklusi X adalah dengan memaksimalkan peran Learning Support Program dengan
dibantu Oleh Learning support Asisten
serta bekerja sama dengan guru mata pelajaran matematika untuk menjalankan beberapa upaya seperti: Memberikan pembelajaran khusus; Memberikan bimbingan secara bertahap; Membangun mood ABK; mengarahkan ABK agar sering mencatat rumus-rumus matematika dan merangkum materi pembelajaran; memberikan media yang fleksibel
untuk belajar dirumah serta meminta ABK menjadi siswa yang disiplin. |
|
Keywords: children with special needs; inclusive schools; mathematics
learning Kata Kunci: anak berkebutuhan khusus; sekolah inklusi; pembelajaran matematika |
|
|
Coresponden Author Email: [email protected] Artikel dengan akses terbuka dibawah lisensi
|
|
Pendahuluan
Dunia pendidikan
mempunyai andil besar dalam perkembangan peradaban umat manusia di muka bumi.
Pendidikan merupakan bentuk usaha dari manusia untuk menumbuh kembangkan� bakat yang melekat pada pembawaan jasmani
maupun rohani anak, sesuai dengan nilai yang membudaya dalam masyarakat (Ihsan, 2005). Setiap manusai
dimana pun dan kapan pun selalu membutuhkan pendidikan. Pendidika sangat dibutuhkan manusia sejak dilahirkan
hingga berakhirnya usia (Yusuf,
2012). Pendidikan
memiliki arti penting dalam kehidupan. Pendidikan mendorong manusia untuk terus
menumbuhkan bakat atau potensi dalam dirinya. Tidak adanya pendidikan maka
manusia akan terjebak dalam situasi sulit berkembang dan bahkan mengalami
ketertinggalan.
Dewasa ini,
pendidikan mengalami perkembangan pesat. Proses pendidikan tidak terbatas oleh
ruang dan waktu, sehingga pendidikan harus diarahkan untuk menciptakan manusia
yang memanusiakan dan berkualitas, mempunyai daya saing tinggi, dan siap dalam
menghadapi tantangan zaman. Pendidikan merupakan salah satu tolak ukur dalam
sebuah negara yang menentukan mampu atau tidaknya negara mensejahterakan warganya,
melindungi rakyatnya, serta memastikan bahwa kebutuhan warga negaranya
tercukupi (Sujatmoko, 2016). Kemajuan
pendidik kemudian patut diperhitungkan bagi suatu negara sehingga seluruh
lapisan masyarakat mempunyai hak untuk mendaptakn pendidikan tanpa membedakan
suku, ras,status sosial dan ekonomi maupun keadaan fisik seseorang.
Indonesia
sebagai negara hukum menjamin pendidikan atas warga negaranya, hal tersebut
termaktub dalam Undang-Undang Dasar 1945 Pasal 31 Ayat 1 Tentang Pendidikan
yang menyatakan bahwa setiap warga negara berhak mendapatkan pendidikan tanpa
membedakan asal-usul, status sosial ekonomi, mau pun keadaan fisik. Artinya
bahwa anak-anak yang memiliki kelainan pun berhak atas ketersediaan pendidikan
yang layak. Selain itu, dalam pasal 5 Undang-Undang No.4 Tahun 1997 Tentang
Penyandang Cacat menyatakan bahwa penyandang cacat atau berkebutuhan khusus memiliki
hak dalam aspek kehidupan dan penghidupan. Seperti yang telah tertulis dalam
undang-undang tersebut menjelaskan bahwa aspek dasar pendidikan juga dibutuhkan
oleh semua anak tidak terkecuali untuk anak berkebutuhan khusus.
Secara eksplisit
anak berkebutuhan khusus yang selanjutnya disebut ABK merupakan anak-anak yang
memiliki keterbatasan seperti sebutan untuk anak lambat atau mengalami gangguan
yang tidak pernah berhasil di sekolah, sebagaimana anak-anak pada umumnya (Desiningrum, 2017). Istilah ABK
dikhususkan kepada anak-anak yang dianggap memiliki gangguan atau kelainan atau
penyimpangan dari keadaan rata-rata normal pada umumnya baik dalam hal fisik
mdan mental mau pun karakteristik perilaku sosialnya (Efendi, 2006).
Menurut (Syaiful, 2014) Anak
berkebutuhan khusus dikategorikan dalam tiga aspek�� yaitu:
1)� Aspek fisik
meliputi kelainan dalam indra penglihatan (tunanetra), kelainan indra
pendengaran (tunarungu), kelainan kemampuan berbicara (tunawicara) dan kelainan
fungsi anggota tubuh (tunadaksa);�
2)� Aspek mental
meliputi anak yang memiliki kemampuan mental lebih (super normal) yang dikenal
sebagai anak berbakat atau anak unggul dan yang memiliki kemampuan mental
sangat rendah (abnormal) yang dikenal sebagai tuna grahita;dan
3)� Aspek sosial
yaitu anak yang memiliki kelainan dari segi sosial yang memiliki kesulitan
dalam menyesuaikan perilakunya terhadap lingkungan sekitarnya, kelompok ini
dikenal dengan sebutan tunalaras.
Pendapat lain yaitu
dari (Mangunsong,
2014) menyebutkan
bahwa anak yang tergolong berkebutuhan khusus merupakan anak yang menyimoang dari rata-rata normal pada umumnya.
Pendidikan ABK
di Indonesia diatur dalam Undang-undang terbaru yang berlaku hingga saat ini
yaitu Undang-undang No.20 tahun 2003 tentang sistem pendidikan Nasional.
Disebutkan dalam pasal 32 bahwa:
�Pendidikan
khusus (pendidikan luar biasa) merupakan pendidikan bagi peserta didik yang
memiliki tingkat kesulitan dalam mengikuti proses pembelajaran karena kelainan
fisik, emosional, mental, dan sosial dan/atau memiliki potensi kecerdasan dan
bakat istimewa.�
Hal ini,
memperjelas bahwa pendidikan untuk Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) telah diatur
dalam undang- undang dan hak mereka memperoleh pendidikan adalah setara dengan
orang non ABK. Anak-anak tersebut berhak mendapatkan pendidikan yang layak dan
tidak dibeda-bedakan dengan anak normal lainnya.
Pendidikan di
Indonesia tidak hanya berlaku untuk anak yang memiliki kondisi normal tetapi
juga berlaku untuk anak yang memiliki kebutuhan khusus. Anak-anak berkebutuhan
khusus saat ini tersebar di banyak sekolah umum atau mungkin tidak bersekolah.
Mereka tidak diterima oleh sekolah-sekolah umum yang beranggapan bahwa
anak-anak seperti ini tidak dapat mengikuti pelajaran sama dengan anak-anak lainnya.
Di lain sisi, banyak orang tua juga tidak mempunyai informasi yang cukup
tentang pendidikan untuk anak-anak berkebutuhan khusus.
Menurut data
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) memperkirakan bahwa hampir
70% anak berkebutuhan khusus tidak memperoleh pendidikan yang layak. Hal
tersebut sejalan dengan data terakhir dari Badan Pusat Statistik (BPS) 2017
yang menyebutkan bahwa jumlah anak berkebutuhan khusus (ABK) di Indonesia
adalah sebanyak 1,6 juta orang. Dari 30% ABK yang sudah memperoleh pendidikan,
hanya 18% di antaranya yang menerima pendidikan inklusi, baik dari sekolah luar
biasa (SLB), maupun sekolah biasa pelaksana pendidikan inklusi (. Berdasarkan
data kementrian dan kebudayaan� tahun
2019 menyatakan bahwa jumlah anak berkebutuhan khusus di sekolah inklusi yang
terdaftar dalam dapodik sebanyak 91 ribu anak. Namun, Pendataan kembali yang dilakukan
oleh kementerian pendidikan dan kebudayaan tercatat hanya 3.240 anak
berkebutuhan khusu yang mendaftar kembali dalam sekolah inklusi Per Desember
2019. Artinya, masih banyak anak berkebutuhan khusus yang terabaikan dan� belum memperoleh pendidikan yang penting bagi
kehidupannya.
Salah satu
penyebabnya ABK belum mendapatkan pelayanan pendidikan seperti yang seharusnya
antara lain dikarnakan faktor sosial, ekonomis dan geografis. Seperti kondisi
sosial ekonomi orangtua kurang menunjang, jarak antar rumah dan sekolah cukup
jauh dan sekolah reguler tidak mau menerima anak-anak berkelainan belajar
bersama-sama dengan anak-anak normal. Anak berkebutuhan khusus dianggap sebagai
sosok yang tidak berdaya dan perlu dikasihani. Hal tersebut menjadikan anak
berkebutuhan khusus sering dikucilkan atau termaginalkan dari lingkungan
sekitar.
Anak-anak
berkebutuhan khusus sering menerima perlakuan yang diskriminatif dari orang lain.
Bahkan untuk mendapatkan pendidikan bagi ABK sangatlah sulit. Beberapa sekolah
regular tidak mau menerima ABK sebagai siswa. Pasalnya, guru di sekolah
tersebut tidak memiliki kualifikasi atau kemampuan yang memadai untuk membimbing
anak berkebutuhan khusus. Sehingga banyak anak berkebutuhan khusus yang tidak
mengenyam pendidikan.
Solusi untuk
mengatasi permasalahan tersebut yaitu disediakannya berbagai layanan pendidikan
atau sekolah bagi anak berkebutuhan khusus oleh pemerintah yang terancang
sesuai dengan kebutuhan ABK. Hal tersebut�
dapat �mencankup sistem
pembelajaran, fasilitas yang mendukung, maupun peran guru yang sangat penting
untuk memberikan motivasi dan arahan yang membawa dampak positif bagi ABK.
Sekolah yang
dianggap tepat untuk anak berkebutuhan khusus adalah sekolah inklusi (Nuraeni,
2017).
Sekolah inklusi merupakan sekolah regular yang disesuaikan dengan kebutuhan
anak yang memiliki kelainan dan memiliki potensi kecerdasan dan bakat istimewa
pada satu kesatuan yang sistemik (Mohammad,2013). Konsep sekolah inklusi merupakan
paradigma baru bagi pendidikan untuk Anak Berkebutuhan khusus yang menempatkan
mereka setara dengan anak-anak normal lainnya. Pandangan baru tersebut
menjelaskan bahawa pendidikan berlaku�
untuk semua tanpa membeda-bedakan kaya, miskin, normal atau berkebutuhan
khusus.
Pendidikan
inklusi adalah perkembangan terbaru dari model pendidikan bagi anak
berkebutuhan khusus di kelas formal (Abdullah,
2013).
Pendidikan inklusi menjadi bagian dari program kerja Direktorat Pendidikan Luar
Biasa yang bertugas mengatur pelaksanaan pendidikan luar biasa bukan hanya di Sekolah
Luar Biasa (SLB) tetapi juga di semua sekolah regular, tugas lainnya adalah
mempersiapkan para guru dengan membekali semua guru di sekolah regular dengan
pengetahuan dan keterampilan pelayanan bagi anak berkebutuhan khusus . Beberapa
sekolah regular seperti Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP),
dan Sekolah Menengah Atas (SMA) atau
sederajat saat ini telah ditunjuk menjadi sekolah penyelenggara pendidikan
inklusi.
Pendidikan
inklusi merupakan rujukan selain Sekolah Luar Biasa bagi anak-anak berkebutuhan
khusus untuk menjejaki dunia pendidikan. Pendidikan inklusi adalah pendidikan
regular atau formal yang di dalamnya terdapat anaka berkebutuhan khusus.
Melalui pendidikan inklusi Anak Berkebutuhan Khusus dibiarkan besosialisasi dan
dididik bersama anak-anak normal lainnya untuk dapat mengoptimalkan potensi
yang dimilikinya. Pendidikan inklusi menutup adanya kemungkinan terjadinya
permasalahan diskriminasi terhadap anak berkebutuhan khusus dan dapat belajar
hidup di lingkungan masyarakat yang sebenarnya yaitu masyarakat yang terdiri
dari orang normal dan tidak normal yang menjadi satu kesatuan dan tidak dapat
dipisahkan sebagai suatu kelompok, yang dimulai dari masyarakat sekolah.
Sekolah inklusi
membuka ruang khusus untuk anak atau siswa yang mempunyai permasalahan untuk
mengadakan bimbingan secara intensif setelah jam pelajaran selesai atau
disediakan waktu khusus untuk mengulang kembali pembelajaran yang belum
terserap oleh siswa ABK. Jadi, anak berkebutuhan khusus (ABK) selain
mendapatkan layanan regular, mereka juga mendapatkan layanan tambahan diluar
jam pelajaran. Hal tersebut dapat menumbuhkan dan meningkatkan kepercayaan diri
anak saat bergaul dengan anak normal lainnya sesuai dengan kondisi lingkungan
ABK berada. Adapun dalam pelajaran di kelas, guru pendamping siswa ABK
menerapkan situasi kelas lebih komunikatif dan Gembira dengan tidak membedakan
antara anak normal dengan anak berkebutuhan khusus.
Sekoalah inklusi
merupakan layanan pendidikan yang mengikut sertakan anak-anak berkebutuhan khusus
bersama dengan anak- anak sebayanya disekolah regular. Stainback (Sunardi, 2003), berpendapat
bahwa sekolah inklusi adalah sekolah yang menampung semua murid di kelas yang
sama. Sekolah ini menyediakan program pendidikan layak, menantang, tetapi
sesuiai dengan kemampuan dan kebutuhan setiap murid maupun bantuan dan dukungan
yang dapat diberikan oleh para guru agar anak-anak berhasil. Pendidikan inklusi
adalah sistem layanan pendidikan yang mensyaratkan anak berkebutuhan khusus belajar
disekolah-sekolah terdekat dikelas biasa bersama-sama teman-teman seusianya.
Sekolah ini menampung semua murid dikelas yang sama, menyediakan program
pendidikan yang layak, menantang tetapi disesuaikan dengan kemampuan dan kebutuhan
setiap murid.
Pada hakikatnya
pendidikan inklusi adalah sebagai bentuk upaya memberikan peluang
sebesar-besarnya kepada setiap anak untuk memperoleh pelayanan pendidikan yang
terbaik dan memadai. Pendidikan inklusi yang diterapkan di sekolah regular
diharuskan telah mempunyai kesiapan dalam segala perangkat pendidikan yang
dimiliki sekolah tersebut baik dari segi kesiapan kepala sekolah, guru,
kurikulum, sarana prasarana, dan sebagainya yang menunjang terlaksananya
pendidikan inklusi dengan baik.
Salah satu
sekolah yang menerapkan pendidikan inklusi adalah SMP X di kota Bekasi.
Berlandaskan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 70 Tahun 2009 tentang
pendidikan inklusi bagi peserta didik yang memiliki kelainan dan memiliki
potensi kecerdasan dan/atau bakat istimewa, serta Peraturan Menteri Negara
Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Nomor 10 Tahun 2011 tentang
kebijakan penanganan anak berkebutuhan khusus, maka mulai tahun ajaran
2018/2019, Lembaga Pendidikan SMP X di kota Bekasi membuka program pendidikan
inklusi. Pada tahun ajaran 2018-2020 tercatat bahwa siswa inklusi di SMP X
sebanyak 6 orang siswa� berkebutuhan
khusus dengan beberapa kategori diantaranya lamban�� belajar karena� kapasitas�
kognitifnya terbatas, memori atau daya ingatnya rendah, mempunyai gangguan
dan kurangnya konsentrasi serta ketidak mampuan menyampaikan ide dengan baik
dan cepat.
Pelaksanaan
pembelajaran di kelas reguler yang secara keseluruhan siswanya normal berbeda
dengan pelaksanaan pembelajaran di kelas regular yang di dalamnya terdapat ABK.
Ini artinya bahwa guru harus menyesuaikan metode pembelajaran yang digunakannya
di kelas inklusi. Tidak hanya itu saja, baik siswa biasa mau pun siswa ABK juga
harus mempunyai kesiapan mental dalam belajar di sekolah inklusi baik di luar
kelas mau pun saat proses pembelajaran, baik dalam mengikuti pembelajaran ilmu
sosial mau pun ilmu eksak. Tidak terkecuali dalam pembelajaran yang berlangsung
di dalam khususnya pembelajarn matematika.
Pembelajaran
matematika merupakan salah satu disiplin ilmu pengetahuan yang mengambil
peranan penting dalam kehidupan manusia. Atas dasar tersebut, pelajaran
matematika dirasa sangat perlu diberikan
kepada semua
siswa sejak sekolah dasar (SD) yang artinya bahwa matematika perlu diberikan
kepada semua jenjang pendidikan tidak terkecuali pada sekolah-sekolah yang
menyelenggarakan pendidikan inklusi.
Pembelajaran
matematika dikelompokan dalam pembelajaran yang tidak disukai sebagian siswa.
Ketidaksukaan siswa pada pelajaran tersebut berpengaruh terhadap keberhasilan
belajar siswa. Keberhasilan siswa saat belajar tidak hanya dipengaruhi dari
faktor siswa saja, melainkan juga dari faktor dukungan guru khususnya di kelas
inklusi. Berdasarkan hal tersebut sudah semestinya guru sebagai pendidik
khususnya guru bidang studi pelajaran matematika dapat menghilangkan pandangan
siswa yang kurang baik terhadap materi pembelajaran matematika agar proses
pembelajaran dapat berjalan dengan baik. Adanya kesiapan sikap dan mental siswa
yang baik diperlukang dukungan yang baik pula dari semua anggota sekolah
lainnya. Hal tersebut dapat mendukung terjalinnya hubungan baik di lingkungan
sekolah khususnya saat pembelajaran matematika di kelas inklusi.
Pembelajaran
matematika untuk anak berkebutuhan khusus membutuhkan suatu pola tersendiri
sesuai dengan kebutuhannya masing-masing, yang berbeda antara satu dan yang
lainnya. Dalam penyusunan program pembelajaran matematika hendaknya guru sudah
memiliki mengetahui akan kondisi pribadi setiap peserta didiknya. Data pribadi
tersebut berkaitan dengan karakteristik spesifik, kemampuan dan kelemahannya,
kompetensi yang dimiliki, dan tingkat perkembangannya sehingga guru mampu
mengenali dan membimbing siswanya terutama yang berkebutuhan khusus.
Guru yang
mumpuni adalah guru yang mampu mengorganisir kegiatan belajar-mengajar di kelas
melalui program pembelajaran individual dengan memperhatikan kemampuan dan
kelemahan setiap individu siswa. Guru kelas ditantang untuk memberikan
penanganan khusus guna mengatasi bentuk kelainan-kelainan perilaku yang muncul
selama proses pembelajaran berlangsung agar pembelajaran dapat berjalan dengan
baik dan jauh dari masalah.
Keberlangsungan
pembelajaran di dalam kelas pada sekolah regular memungkinkan ABK dapat
mengalami berbagai macam kendala. Hal tersebut menuntut guru pengampu mata
pelajaran matematika mau pun guru pembimbing khusus untuk mampu menyelesaikan
kendala-kendala yang dialami ABK agar kendala tersebut tidak ditemukan kembali
saat proses pembelajaran selanjutnya.
Kendala yang
ditemukan harus diselesaikan dengan cepat agar anak berkebutuhan khusus yang bersekolah
di kelas inklusi dapat kembali mengikuti pembelajaran sebagai mana mestinya
bersama dengan siswa lainnya dan dapat mencapai hasil yang maksimal dalam
pembelajaran.
Berdasarkan uraian
diatas tersebutlah maka peneliti kemudian mengadakan penelitian dengan judul
�Pembelajaran Matematika Anak Berkebutuhan Khusus di sekolah (Study Kasus Pada
Sekolah Inklusi X, Bekasi)�.�
Permasalahan yang dirumuskan dalam penelitian ini adalah: (1) Bagaimana� pembelajaran matematika ABK di Sekolah
Inklusi?; (2) Apakah kendala-kendala yang dialami guru dan ABK saat proses
pembelajaran matematika di kelas inklusi?; dan (3) Bagaimana strategi
pembelajaran matematika ABK di kelas Inklusi?
Penelitian Terdahulu
����������� Penelitian
terdahulu yang pernah dilakukan sebelumnya adalah sebagai berikut:
1.
Fida Rahmantika Hadi1, Tri Atmojo Kusmayadi dan Budi Usodo (2015) dalam Jurnal Elektronik
Pembelajaran Matematika
Vol.3, No.10, hal 1066-1072 Desember
2015. Judul �Analisis Proses Pembelajaran
Matematika Pada
Anak Berkebutuhan Khusus (Abk) Slow Learners Di Kelas Inklusi
�
2.
Ariestha Widyastuty Bustan dan Rauman
Mahmud dalam
Jurnal AdMathEdu, Vol.9 No.2, Desember (2019) P-ISSN:
2088-687X / E-ISSN: 2656-7040. Judul� �Analisis Proses Pembelajaran
Matematika Pada Anak Berkebutuhan Khusus
(ABK) Di Kelas Inklusi Sma
Negeri 10 Kota Ternate�
Metode Penelitian
Menurut (Sugiyono,
2010) bahwa �metode penelitian diartikan
sebagai cara ilmiah untuk mendapatkan data dengan tujuan dan kegunaan
tertentu�. Metode yang digunakan dalam penelitian pembelajaran matematika ABK
disekolah inklusi SMP X� di kota Bekasi ini adalah metode kualitatif
deskriptif dengan pendekatan studi kasus. Penelitian kualitatif deskriptif
dengan metode studi kasus merupakan suatu metode
untuk memahami individu yang dilakukan secara integrative dan komprehensif
agar diperoleh pemahaman
yang mendalam tentang individu tersebut beserta masalah yang dihadapinya dengan tujuan masalahnya dapat terselesaikan dan memperoleh perkembangan diri yang baik� (Rahardjo,
2011).
Pengumpulan informasi yang berkaitan dengan proses pembelajaran
matematika ABK di sekolah inklusi SMP X di kota bekasi didapatkan dengan
melakukan wawancara mendalam (indepth interview) dan observasi pembelajaran di
kelas inklusi. Hal ini dilakukakn untuk mendapatkan informasi mengenai proses
pembelajaran matematika yang ada di sekolah tersebut guna mendapatkan jawaban
atas rumusan permasalahan� sebagai tujuan
akhir dari penelitian ini.
Pemilihan subjek dalam penelitian ini menggunakan teknik
pengambilan purposive sampling. teknik pengambilan sumber data dengan pertimbangan
maksud tertentu sesuai dengan tujuan penelitian ini dilaksanakan. Total
informan dalam penelitian ini adalah 7 orang dengan rincian, 2 orang guru wali
kelas inklusi, 2 orang guru pengampu bidang studi matematika, 2 orang guru
pwndamping atau Learning support Asisten dan 1 orang guru yang menjabat sebagai
koordinator program inklusi di sekolah SMP X di kota Bekasi
sebagai informan kunci. Selanjutnya, peneliti juga melakukan pengamatan
langsung pada proses pembelajaran matematika di kelas inklusi Sekolah SMP X di
kota Bekasi guna menilai sikap siswa ABK dalam mengikuti pembelajaran
matematika di dalam kelas.
Teknik analisa data yang digunakan dalam penelitian ini
dilakukan dengan 4� prosedur yang
digambarkan sebagai berikut:

Sumber : Miles dan Huberman (Sugiyono, 2010)
Penelitian ini diawali dengan pengumpulan data yang diperoleh dari lapangan dicatat
dan direkam lalu dituangkan dalam bentuk naratif. Selanjutnya,dilakukan dengan mereduksi data merujuk pada
proses pemilihan, pemfokusan,
�penyederhanaan,
abstraksi dan pentransformasian
data mentah dari catatan-catatan di lapangan (Emzir,
2012). kemudian
dianalisis untuk disajikan dan tahap akhirnya adalah penarikan kesimpulan
Peneliti juga melakukan
pengecekan data yang didapatkan
sebagai upaya menjaga keabsahan informasi yang disajikan dalam hasil penelitian.
Pengecekan data dilakikam dengan metode triangulasi
sumber dan metode (Sugiyono,
2010). ��Pengumpulan data diambil dari beberapa
sumber kemudian memverivikasi kembali informasi dari berbagai sumber tersebut.
Hasil dan Pembahasan
Penelitian ini
dilakukan dengan melibatkan beberapa narasumber yang terlibat langsung dalam
proses pembelajaran yaitu guru pengampu mata pelajaran matematika, LSA dan
didukung oleh narasumber lain yang tidak terlibat dalam proses pembelajaran
namun mempunyai peran penting sebagai koordinator dari program learning support untuk anak-anak
berkebutuhan khusus yang diajarkan dalam kelas inklusi SMP X. Berikut bentuk
penyajian lengkapnya
Tabel 1
Hasil pembeljaran Matematika
|
Informan |
Jenis
Kelamin |
Jabatan |
|
Informan I |
P |
Koordinator Learning support |
|
Informan II |
P |
LSA |
|
Informan III |
P |
LSA |
|
Informan IV |
P |
Guru Matematika |
|
Informan V |
P |
ABK |
|
Informan VI |
L |
ABK |
Sumber: Hasil olah data penelitian,
2020
Berdasarkan tabel di atas menunjukan bahwa semua Informann berjenis
kelamin wanita yaitu 6 Informan, jumlah tersebut merupakan key Informan dari SMP X.
Informan I : koordinator learning support merupakan kepala bagian pada progam pendukung
pembelajaran inklusi; Informan II & III: learning support asissten atau LSA merupakan guru pendamping ABK;
dan Informan IV: guru mata pelajaran matematika merupakan salah seorang guru
pengampu mata pelajaran matematika yang mengajar pada kelas inklusi.
Selain itu, terdapat dua ABK yang menjadi Informan dalam penelitian ini
adalah seperti yang dipaparkan dalam tabel yaitu ABK kelas VIII SMP X yang
menjadi Informan dalam penelitian ini dengan karakteristik Informan V yang
memiliki hambatan Attention Deficit with/
ADD atau gangguan pemusatan perhatian dan Informan VI yang memiliki hambatan
kesulitan belajar karena memiliki gangguan short
memori dan gangguan pada motorik halus.
1.
Proses Pembelajaran
Matematika Siswa Berkebutuhan� Khusus (ABK)
di Kelas Inklusi
Matematika merupakan
salah satu disiplin ilmu pengetahuan yang memegang peranan penting dalam kehidupan.
Atas dasar tersebut maka� pelajaran matematika perlu diberikan kepada semua siswa di semua jenjang pendidikan
tidak terkecuali pada sekolah-sekolah yang menyelenggarakan
pendidikan inklusi.
Pembelajaran matematika
merupakan kegiatan yang dilakukan guru terhadap siswa sehingga terjadinya proses belajar pada siswa yang meliputi� perencanaan,
pelaksanaan dan penilaian pembelajaran untuk mencapai tujuan pembelajaran pada ilmu pengetahuan penalaran yang mencakup berpikir sistematis, logis dan kritis dalam meng-komunikasikan gagasan atau pemecahan
masalah. Artinya bahwa mempelajari matematika sangatlah penting bagi siswa,
baik itu siswa reguler mau
pun siswa ABK.
Hasil penelitian
ini menunjukkan bahwa pelaksanaan pembelajaran di kelas inklusi SMP X mewajibkan semua murid untuk terlibat di dalamnya baik siswa reguler
mau pun ABK. Proses pembelajaran
matematika di kelas inklusi umumnya sama dengan pembelajaran
di kelas reguler pada. Hal tersebut sesuai dengan yang ada di sekolah Inklusi SMP X, dimana ABK di kelas inklusi juga mempelajari hal yang sama dengan
siswa normal� dalam lingkup proses pembelajaran.
Adapun terkait dengan
proses pelaksanaan pembelajaran
matematika pada siswa ABK
di Kelas Inklusi SMP X meliputi:
a.
Pendekatan pembelajaran dalam
pembelajaran matematika
Pendekatan pembelajaran
matematika di kelas inklusi SMP X berdasarkan hasil wawancara dengan Informan IV yaitu guru mata pelajaran matematika mengatakan bahwa:
�Siswa ABK dan siswa
reguler menggunakan RPP
yang sama yaitu� mengikuti
kurikulum 2013 dengan memakai pendekatan saintifik. Dalam penerapannya jika siswa ABK tidak dapat mengikuti pembelajaran sebagai mana mestinya maka akan
dibantu oleh LSA�
Artinya bahwa
pendekatan pembelajaran
yang digunakan guru untuk siswa ABK di kelas inklusi SMP X menggunakan pendekatan pembelajaran saintifik. Beberapa kegiatan dalam pendekatan saintifik, diantaranya yaitu; mengamati, menanya, mengumpulkan Informansi, mengasosiasi, dan mengkomunikasikan
hasil. Pendekatan saintifik ini digunakan� dalam setiap pembelajaran matematika untuk siswa ABK lamban belajar dan untuk siswa normal/reguler. Hal tersebut dibuktikan dengan hasil observasi
sederhana yang menunjukkan bahwa pendekatan pembelajaran yang digunakan pada materi bangun ruang
yaitu pendekatan saintifik. Guru mulai menjelaskan materi dengan memberikan pertanyaan kepada semua siswa terkait
bangun ruang. Dalam kegiatan tersebut, guru memberikan kesempatan kepada semua siswa tidak
terkecuali untuk siswa ABK. Guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengumpulkan
Informansi yang telah dipelajari pada pertemuan sebelumnya mengenai jenis-jenis bangun ruang. Dalam kegiatan
menanya, guru memberikan kesempatan kepada semua siswa untuk
bertanya tentang materi bangun ruang
kubus dan balok yang sebelumnya telah dijelaskan guru.
Berdasar hasil
temuan di atas, memperjelas bahwa pendekatan pembelajaran yang digunakan guru untuk siswa ABK dalam pembelajaran matematika di kelas inklusi adalah
menggunakan pendekatan saintifik. Namun ditemukan pernyataan lain berdasarkan hasil wawancara bersama learning support Asisten
yang menjelaskan bahwa:
Informan II
�Untuk pendidikan
inklusi masih mengikuti silabus dan kurikulum dari pemerintah pendidikan, namun inklusi memiliki
silabus yg efektif untuk anaknya
yaitu EIP. Dimana dalam EIP
semua bobot materi siswa dapat
kita atur sesuai dengan kemampuan
anak sendiri�
Informan III
�Untuk kurikulum
dan silabus sesuai dengan yg dibuat
oleh pemerintah dan guru kelas
masing-masing hanya bobot nya yg dikurangkan
saja�
Hal itu menunjukkan
bahwa tidak ada pendekatan pembelajaran khusus yang digunakan guru untuk siswa ABK dalam pelaksanaan pembelajaran matematika. Namun, dalam penerapannya jika siswa ABK tidak dapat mengikuti
pembelajaran sebagai mana mestinya maka akan
dibimbing langsung oleh LSA
dengan pengurangan bobot materi sesuai
dengan silabus khusus Inklusi yang disebut dengan EIP.
b.
Metode pembelajaran dalam
pembelajaran matematika
Hasil wawancara
dengan Informan IV yaitu guru pengampu mata pelajaran matematika terkait metode pembelajaran yang digunakan dalam pembelajaran matematika menjelaskan bahwa:
�Karena ABK memang hanya satu
persen dari sekian siswa yang banyak. Jadinya metode pembelajaran yang digunakan sudah seperti pada umumnya. misal metode ceramah,
diskusi, tanya jawab,diskusi dan latihan. kurang lebinya seperti itu�
Hasil wawancara
Informan V dan Informan VI menjelaskan hal yang sama bahwa ABK mendapatkan sajian materi dengan metode
yang sama dengan siswa reguler lainnya.
Hasil wawancara tersebut sebagai berikut:
Informan V
�Cara mengajar
guru sama saja, tapi biasanya kalau
latihan soal saya dapat soal
lebih sedikit dari teman-teman yang lain�
Informan VI
�belajarnya
sama dengan teman-teman yang lain, tapi kalau saya biasanya
dimudahin soal-soalnya pas latihan soal atau
kalo lagi quis dikasih soal
yang beda�
Berdasar pada hasil
wawancara tersebut menjelaskan bahwa, metode yang digunakan untuk siswa ABK di kelas inklusi yang sebagian besar siswanya merupakan siswa normal maka Guru cendrung menggunakan metode ceramah, tanya jawab, diskusi,
dan latihan.
c. Tahapan dalam pelaksanaan
pembelajaran matematika
Adapun langkah-langkah kegiatan
pembelajaran menurut (Depdiknas, 2008) adalah melalui tiga tahapan pokok yaitu: tahap pra instruksionalatau pendahuluan, tahap instruksional atau
inti,tahap penutup, serta evaluasi dan tindak lanjut.
Hasil wawancara penelitian
terhadap Informan IV menjelaskan bahwa:
�Sebelum memulai
pembelajaran biasanya saya melakukan persiapan seperti menyiapkan media dan sumber belajar. Proses pembelajaran diawali dengan salam sapa dan doa kemudian melakukan
absensi serta menanyakan alasan ketidak hadiran siswa. kemudian saya biasanya mengajukan
pertanyaan-pertanyaan sederhana
terkait materi yang disampaikan sebelumnya untuk memancing antusiasme siswa barulah menyajikan materi dan dilanjutkan dengan latihan soal yang dapat didiskusikan bersama atau dikerjakan secara individu. Diakhir pelajaran terkadang saya memberikan kuis untuk pengambilan nilai jika dirasa
waktu pelajaran masih cukup.�
Berdasarkan hasil wawancara tersebut maka dapat dijelaskan
bahwa sebelum mengajar, guru terlebih dahulu mempersiapkan media dan sumber belajar. Kemudian barulah memulai proses pembelajaran di kelas. Hasil wawancara Informan IV dengan pertanyaan lain juga menjelaskan bahwa pembelajaran selalu dilakukan sesuai dengan rencana
pembelajaran:
�Pembelajaran berlangsung
sesuai dengan perencanaan pembelajaran. Kegiatan pembelajaran mulai dari kegiatan
awal, inti pembelajaran dan
Penutup selalu dilakukan sesuai dengan rencana pembelajaran�
Berdasarkan hasil wawancara tersebut maka dijelaskan bahwa proses pembelajaran di kelas inklusi SMP Nasional I meliputi beberapa tahapan yang penjabarannya sebagai berikut:
1)
Pendahuluan
Pada tahap pendahuluan
ini, guru memberikan salam dan menyapa siswa kemudian doa bersama untuk
mengawali pembelajaran. Dilanjutkan dengan melakukan absensi serta menanyakan alasan ketidak hadiran siswa. Sebelum masuk ke
tahap pembelajaran inti maka guru biasanya mengajukan pertanyaan-pertanyaan sederhana terkait materi yang disampaikan pada pertemuan sebelumnya untuk memancing antusiasme siswa dalam mengikuti pembelajaran.
2)
Inti
Pada tahap ini, guru dituntut untuk mampu menggunakan metode pembelajaran yang sesuai dengan karakter
siswa sehingga siswa ABK juga dapat mengikuti pembelajaran dengan maksimal. Dalam penyampaian materi guru selalu menyesuakan dengan keadaan kelas agar siswa reguler mau
pun siswa ABK dapat belajar secara maksimal. Hal tersebut sesuai dengan hasil
wawancara Informan IV berikut:
�saya biasanya menyampaikan pembelajaran dengan memperhatikan ritme penyampaiaan agar tidak terlalu cepat
dan juga tidak terlalu lamban sehingga siswa reguler mau
pun siswa abk tidak tertinggal saat menyimak. Selain itu, pembelajaran
matematika yang disampaikan
selalu saya beri penekanan terhadap konsep dasar hal ini
saya lakukan dengan harapan agar baik siswa reguler
mau pun siswa ABK dapat mengingat inti dari materi yang diajarkan�
Selain itu, guna
menarik antusias dan keterlibatan siswa dalam proses pembelajaran maka guru selalu menekankan pada konsep dasar materi dan melontarkan pertanyaan-pertanyaan
sederhana kepada siswa saat menyampaikan
materi dan memberikan latihan-latihan soal untuk dikerjakan. Saat pengerjaan soal tersebut siswa
ABK ditunjuk untuk mengerjakan latihan tersebut terlebih dahulu. Hal tersebut sesuai dengan hasil
wawancara Informan IV sebagai berikut:
�Saya selalu melontarkan
pertanyaan-pertanyaan sederhana
kepada anak-anak saat menyampaikan materi dan memberikan latihan-latihan soal untuk dikerjakan, biasanya setelah dikerjakan saya akan memberikan kesempatan untuk mereka mengerjakan di papan tulis. Biasanya
saya utamakan ABK yang mengerjakan terlebih dahulu�
Berdasarkan penjabaran
hasil wawancara tersebut maka dapat
dijelaskan bahwa dalam tahapan inti pembelajaran, guru berusaha maksimal mungkin untuk memancing keterlibatan ABK dalam proses pembelajaran dan menyesuakin cara mengajar agar pembelajaran siswa reguler dan ABK dapat terlakasana secara maksimal.
3)
Penutup
Tahap penutup
adalah tahap dimana guru dan siswa bersama-sama dalam membuat kesimpulan pelajaran dari materi yang sudah dibahas. Jika dirasa waktu pelajaran masih cukup, guru akan memberikam memberikan kuis untuk pengambilan nilai harian.
a)
Evaluasi dan penilaian
Bentuk penilaiaan
saat proses pembelajaran matematika dikelas inklusi SMP Nasional I berlangsung
adalah� dengan melakukan penilaiaan pada keaktifan di kelas dan pengambilan nilai dari quis yang wajib diikuti oleh seluruh siswa baik
reguler mau pun ABK.
Alat evaluasi
yang digunakan dalam pembelajaran matematika berupa lembar soal
ujian yang perinciannya berupa 30 nomor soal pilihan ganda
dan 5 soal esai. Ketentuan tersebut� berlaku
saat ulangan harian, penilaiaan tengah semester dan akhir
semester. Pernyataan tersebut
sesuai dengan hasil wawancara Informan IV, sebagai berikut:
��Alat evaluasi yang digunakan dalam pembelajaran matematika berupa lembar soal
ujian yang perinciannya berupa 30 nomor soal Pilihan ganda
dan 5 soal esai. Hal ini berlaku saat
ulangan harian, penilaiaan tengah semester dan akhir semester�
Soal yang diberikan
kepada ABK dan siswa reguler biasanya berbeda. Hal tersebut sesuai dengan hasil
wawancara selanjutnya di Informan IV yang menyatakan bahwa:
�untuk
ABK biasanya akan ada modifikasi soal dari Learning support Assisten. Modifikasi yang dimaksud itu adalah pengurangan
dari segi konten misal pengurangan
jumlah soal dan penurunan tingkat kesukaran soal��
Hasil wawancara
Informan V & VI menjelaskan
bahwa ABK menerima penilaian yang berbeda dengan siswa reguler
pada umumnya
Informan V
�... tapi
biasanya kalau latihan soal saya
dapat soal lebih sedikit dari
teman-teman yang lain�
Informan VI
�..., tapi
kalau saya biasanya dimudahin soal-soalnya pas latihan soal atau kalo
lagi quis dikasih soal yang beda�
Selanjutnya, perbedaan penilaian
untuk siswa berkebutuhan khusus dan siswa reguler terletak
pada standar KKM. Hasil wawancara
dengan Informan IV menjelaskan bahwa:
�...Perbedaan
penilaiaan tentunya ada. Perbedaannya terletak pada KKMnya. Siswa ABK standar KKMnya berbeda dengan anak reguler.�
Kebijakan yang guru gunakan untuk memperbaiki
nilai siswa adalah perbaikan yang dilakukan dengan remidial atau pemberian tugas pengganti.
2.
Kendala yang dihadapi Guru dan ABK dalam Pembelajaran Matematika di Kelas Inklusi.
1)
Kendala yang dialami Guru
Pelaksanaan pembelajaran
di kelas inklusi menuntut kemampuan guru dalam menyesuaikan metode yang digunakan dalam proses pembelajaran karena di dalam kelas tersebut tidak hanya terdapat
siswa normal yang mampu memahami materi pelajaran dengan cepat atau bahkan
dengan satu kali penjelasan akan tetapi terdapat siswa ABK yang dalam proses pembelajarannya mengalami berbagai macam kesulitan dalam memahami materi pelajaran, sehingga guru harus dengan sabar
dan berulangkali menjelaskan
agar siswa ABK dengan beberapa karakteristiknya mampu memahami materi dan terlibat aktif dalam setiap
kegiatan pembelajaran. Hal ini membuat guru mata pelajaran mengalami beberapa kendala dalam kegiatan
pembelajaran untuk siswa Adapun kendala-kendalanya adalah: Guru Sulit menyesuaikan menentukan strategi
dan metode yang tepat untuk diterapkan di kelas inklusi. Hal tersebut dikarenakan dalam kelas inklusi
semua siswa dianggap sama sehingga
dengan metode yang biasa digunakan sulit untuk membuat
ABK� untuk sering aktif dalam kegiatan
pembelajaran. Kendala lain
yang dihadapi yaitu membangun mood ABK yang naik turun
dalam kegiatan pembelajaran.
2)
Kendala yang dialami ABK
Pembelajaran matematika
memiliki muatan pembahasan terkait angka dan perhitungan juga masalah-masalah numerik yang menuntut kemampuan siswa untuk memecahkan
masalah (Hamzah,
2014), sehingga
siswa sering mengalami berbagai kendala dalam mengikuti
pembelajaran matematika. Kendala yang dimaksudkan sering terjadi pada siswa normal maupun siswa ABK.
Berada di kelas inklusi membuat siswa ABK harus menyesuaikan diri dengan lingkungannya, dengan siswa normal lainnya, juga dengan kegiatan-kegiatan pembelajaran di
kelas. ABK di kelas inklusi SMP Nasinal I Bekasi merupakan siswa yang memiliki hambatan Attention Deficit with/ ADD atau gangguan pemusatan
perhatian dan kesulitan belajar karena gangguan short memori dan gangguan pada motorik halus. Adanya gangguan yang dimiliki ABK tentu membuatnya mengalami berbagai kendala dalam kegiatan pembelajaran matematika. Berdasarkan hasil wawancara dengan Informan II dan Informan III menjelaskan bahwa:
Informan II
�Kendala yg
dihadapi yaitu membangun mood ABK yang naik turun
dalam kegiatan pembelajaran. Susahnya ABK menghafal rumus dikarenakan memiliki short memori yang kurang baik. ABK masih belum tertarik dengan dunia pelajaran sehingga menyulitkan materi masuk kedalam
otak�
Informan III�����
�Kendala untuk
anak yaitu tentu saja sulit
menghafalkan rumus, sulit untuk fokus,
sulit untuk mengerjakan soal latihan secara mandiri, dan yang paling sulit yaitu kendala dalam
membangun mood sang anak
agar dapat semangt mengikuti pembelajaran�
Sedangkan berdasarkan
hasil wawancara Informan V dan VI yang merupakan
ABK tantang kesulitan yang dialami saat belajar
pembelajaran matematika menyatakan bahwa:
Informan V
��Matematika susah.
Waktu belajaranya lama jadi
suka ngak fokus terus jadi
harus belajar lagi sama LSA karna
ngak ngerti�
Informan VI
�Susah hafalin
rumusnya, Rumusnya banyak. Ada materi yang pake gambar juga, saya kan ngak
bisa gambar bu, suka minta
digambarin LSA kalo sudah tidak bisa�
Berdasarkan hasil
wawancara ABK dan LSA tersebut
ditemukan bahwa kendala yang dihadapi ABK dalam kegiatan pembelajaran matematika diantanya adalah:
1)
kurang mengerti apa yang disampaikan, terkadang tidak mengerti sama sekali.
2)
mudah lupa walau pun baru selesai diberi tahu dan terkadang malas mengerjakan latihan yang diberikan.
3)
ABK masih belum
dapat menerima pembelajaran dengan baik
4)
sulit untuk fokus,
5)
sulit menghafalkan
rumus
6)
sulit untuk mengerjakan soal latihan secara mandiri,
7)
sulit dalam menjawab latihan soal yg diberikan
oleh guru kelas
8)
Sering mengelu tidak mau belajar
matematika
9)
saat materi
yang disampaikan mulai terlihat sukar ABK akan sangan kesulitan
mengikuti pembeljaran hingga akhir
10)
untuk kegiatan pembelajaran di kelas reguler siswa ABK cenderung pasif, dan malas mendengarkan karena materi yg belum
tentu dipahaminya.
3. Strategi Pembelajaran Matematika ABK Di Kelas Inklusi
Pembelajaran matematika
di kelas inklusi SMP Xtidak dapat dikategorikan
dalam pekerjaan mudah. Hal tersebut dikarnakan banyaknya kendala yang dialami ABK yang kemudian menjadi catatan tersendiri baik untuk guru pengampu mata pelajaran
matematika dan juga dari pihak komponen pendukung lainnya. Berdasarkan hasil wawancara bersama Informan I yaitu koordinator Inklusi menjelaskan bahwa: �Perkembangan pembelajaran matematika ABK di kelas inklusi SMP Nasional I terbilang pasif dikarnakan siswa ABK dalam pembelajaran matematika masih mendapatkan arahan maksimal dari LSA�.
Untuk mengatasi kendala-kendala serta permasalahan tersebut maka strategi yang digunakan adalah dengan memaksimalkan
peran Learning
support program dengan dibantu
Oleh Learning support Asisten serta bekerja
sama dengan guru dalam menjalankan beberapa upaya berikut:
a.
Memberikan Pembelajaran
khusus. �Pembelajaran khusus yang dimaksudkan yaitu dengan memberikan pengulangan materi pelajaran di kelas namun telah dimodifikasi
dari segi konten sehingga sesuai dengan kebutuhan
siswa
b.
Memberikan bimbingan
secara bertahap. Cara mengajar sebenernya dapat� disamakan dengan siswa reguler
namun dengan diberikan bimbingan lebih maksimal dan bertahap.
c.
Membangun mood ABK. Membangun mood ABK teramat penting. Hal tersebut dilakukan agar anak dengan senang hati
menerima pembelajaran yang
di sampaikan oleh LSA mau
pun guru.
d.
Mengarahkan ABK agar sering mencatat rumus-rumus matematika yg sulit ataupun
yg mudah
e.
Mengarahkan ABK agar sering mencatat materi pembelajaran dan membuat rangkuman
f.
Memberikan latihan
soal. Ketika ada waktu luang atau
saat mengikuti program pembelajaran individual yaitu saat mendapatkan waktu belajar bersama
LSA maka ABK diharuskan untuk berlatih mengerjakan soal-soal
g.
Memberikan media yang fleksibel untuk belajar dirumah dengan menurunkan bobot materi sesuai
kemampuan siswa
h.
Meminta anak
menjadi siswa yg disiplin
i.
Selalu memberikan
bimbingan jika anak mengalami kendala dalam pembelajaran
matematika
Kesimpulan
Pembelajaran matematika ABK di Sekolah
Inklusi SMP X di kota Bekasi menggunakan pendekatan Saintifik dengan
tahapan proses pembelajaran
yang sama dengan sekolah reguler pada umumnya.
Permasalahan
yang dialami guru dan ABK dalam
proses pembelajaran matematika
pada sekolah inklusi X diantaranya yang dialami ABK meliputi kurang mengerti apa yang disampaikan, mudah lupa materi yang diajarkan, malas mengerjakan latihan soal, sulit
menerima pembelajaran dengan baik, sulit
untuk fokus, sulit menghafalkan rumus, sulit untuk
mengerjakan soal latihan secara mandiri, Sering mengeluh ABK cenderung pasif saat proses pembelajaran berlangsung. Sedangkan guru sulit menemukan dan melalukan penyesuaiaan strategi pembelajaran
yang tepat untuk diterapkan di kelas inklusi serta sulit
untuk membangun suasana hati anak
berkebutuhan khusus.
Strategi pembelajaran
matematika ABK pada sekolah
inklusi X adalah dengan memaksimalkan peran Learning Support Program dengan
dibantu Oleh Learning support Asisten
serta bekerja sama dengan guru mata pelajaran matematika untuk menjalankan beberapa upaya seperti: Memberikan pembelajaran khusus; Memberikan bimbingan secara bertahap; Membangun mood ABK; mengarahkan ABK agar sering mencatat rumus-rumus matematika dan merangkum materi pembelajaran; memberikan media yang fleksibel untuk belajar dirumah
serta meminta ABK menjadi siswa yang disiplin.
BIBLIOGRAFI
Abdullah,
N. (2013). Mengenal Anak Berebutuhan Khusus, Jurnal Psikologi UNWIDHA
Klaten, 86, Vol.XXV, 32.
Depdiknas.
(2008). Policy Brief,Sekolah Inklusif;Membangun Pendidikan Tanpa
Diskriminasi.Jakarta: Pusat Kurikulum, Balitbang Depdiknas.
Desiningrum,
D. R. (2017). Psikologi anak berkebutuhan khusus. psikosain.
Efendi, M.
(2006). Pengantar psikopedagogik anak berkelainan. Jakarta: Bumi Aksara.
Emzir.
(2012). Metodologi Penelitian Kualitatif Analisis Data. Jakarta: Rajawali
Pers.
Hamzah,� dkk. (2014). Variabel Penelitian dalam
pendidikan dan pembelajaran. Jakarta:PT.Ina Publikasi.
Ihsan, F.
(2005). Dasar-dasar Pendidikan.Jakarta: PT Rineka Cipta.
Mangunsong.
(2014). Psikologi dan Pendidikan Anak Berkebutuha Khusus. Depok:LPSP3.
Nuraeni.
(2017). Psikologi Anak Berkebutuhan Khusus.Purwokerto: Universitas
Muhammadiyah Purwokerto Press.
Rahardjo,
S. & G. (2011). Pemahaman Individu Teknik Non Tes.Kudus: Nora Media
Enterprise.
Sugiyono,
S. (2010). Metode penelitian kuantitatif dan kualitatif dan R&D.
Alfabeta Bandung.
Sujatmoko,
E. (2016). Hak warga negara dalam memperoleh pendidikan. Jurnal Konstitusi,
7(1), 181�212.
Sunardi.
(2003). Pendekatan inklusif implikasi managerial. Jurnal Rehabilitasi
Remidiasi, 13, 20.
Syaiful, B.
(2014). Guru dan anak didik dalam interaksi edukatif. Rineka Cipta.
Yusuf, A.
(2012). Long Live Education_Belajra Tanpa Batas.Jurnal Pendagogia Fakultas
Tarbiyah IAIN Sunan Ampel Surabaya,1-2.
