|
Jurnal
Syntax Transformation |
Vol. 2
No. 3, Maret
2021 |
|
p-ISSN :
2721-3854 e-ISSN : 2721-2769 |
Sosial
Sains |
EKSISTENSI MODAL SOSIAL DALAM PASAR BUKU
TRADISIONAL
Kirana Candrasari
Universitas Airlangga Surabaya Jawa Timur,
Indonesia�
Email: [email protected]
|
INFO ARTIKEL |
ABSTRACT |
|
Diterima 21 Februari 2021 Direvisi 2 Maret 2021 Disetujui 15 Maret 2021 |
Thepurpose of this study is to identify
a picture of social capital in the traditional book market. How interaction
patterns between traders are intertwined and how interactions with customers
are established. With a qualitative approach, this study will understand the
patterns of social interaction that occur in the traditional book market. The
data sources in this study are two, the first, primary data which is data
obtained from interviews and observations with 10 traders and 10 buyers in
the traditional book market. Second, secondary data, which is built on the
study of literature and online data tracing. From this research can be
explained that important aspects that indicate the existence of values-the value of social capital suchas trust, norms, also networks are known to be very influential in the
sustainability of the traditional book market and still show its existence.
Social capital can create a safe and comfortable environment in the market,
be an alternative to solve problems or conflicts, and can build a marketing
network to get loyal customers. ABSTRAK Tujuan
dari penelitian ini adalah mengidentifikasi gambaran modal sosial di pasar buku
tradisional. Bagaimana pola interaksi antar pedagang terjalin dan bagaimana
interaksi dengan pelanggan terbangun. Dengan pendekatan kualitatif,
penelitian ini akan memahami pola interaksi sosial yang terjadi di pasar buku
tradisonal. Sumber data dalam penelitian ini ada dua, yang pertama, data
primer yang merupakan data yang didapat dari wawancara dan observasi dengan
10 pedagang dan 10 pembeli di pasar buku tradisional. Kedua, data sekunder,
yang dibangun berdasarkan studi kepustakaan dan penelusuran data online. Dari
penelitian ini dapat dijelaskan bahwa aspek penting yang mengindikasikan
adanya nilai-nilai modal sosial seperti kepercayaan, norma,
juga jaringan diketahui sangat berpengaruh dalam keberlangsungan pasar buku
tradisional dan tetap menunjukkan eksistensinya. Modal sosial dapat
menciptakan lingkungan yang aman dan nyaman di pasar, menjadi alternatif
untuk meyelesaikan masalah atau konflik, dan dapat membangun jaringan
pemasaran untuk mendapatkan pelanggan yang loyal. |
|
Keywords: Social Capital; Traditional Book
Market; Network Marketing Kata Kunci: Modal Sosial; Pasar Buku Tradisional; Jaringan Pemasaran |
|
|
Coresponden Author Email: [email protected] Artikel dengan akses terbuka dibawah lisensi
|
|
Pendahuluan
Pasar sebagai
pusat kegiatan sosial ekonomi kerakyatan (Malano,
2013). Pasar buku
tradisional dapat digolongkan sebagai pasar homogen dengan menjual berbagai
jenis buku dari buku sekolah berbagai jenjang, buku untuk berbagai jurusan di
perguruan tinggi, kamus, novel, komik, majalah, dan buku bacaan lainnya. Mulai
buku baru ataupun buku yang sudah pernah terpakai dengan kondisi masih layak
untuk dibaca tersedia memenuhi lapak di setiap toko pasar buku tradisional.
Selain menjual buku, beberapa toko juga menerima atau mau membeli buku bekas
dengan kondisi masih layak dan biasanya buku - buku pelajaran yang sering
dicari. Sebagai pasar tradisional, pasar buku seperti ini dalam proses jual
beli dapat melalui proses tawar menawar harga, sehingga pembeli masih memiliki
kesempatan mendapatkan harga yang lebih murah. Menurut (Muslich,
2010) jual� beli menurut istilah� atau� etimologi� adalah� tukar menukar sesuatu dengan sesuatu yang lain.
Menurut (Kasali, 2018) era disrupsi merupakan
era pembaharuan yang membawa masa depan ke masa kini dengan berbagai macam teknologinya.
Hal tersebut menjadikan� segala� tindak�
perilaku� manusia yang� awalnya�
tradisional atau konvensional menjadi modern dan instan. Salah satu
pengaruh era disrupsi dapat �dilihat� pada pasar�
buku (Fauroni
et al., 2020). Seiring
perkembangan zaman, pasar buku tradisional selain menghadapi tantangan dengan
munculnya toko - toko buku modern yang lebih strategis dan memiliki jaringan pemasaran
luas, juga menghadapi tantangan dengan semakin maraknya penjualan buku online
melalui platform marketplace seperti Shopee, Tokopedia, Bukalapak, dan lain -
lain yang kerap memberi potongan harga, voucher cashback, dan promo gratis
ongkir yang menarik bagi pelajar atau mahasiswa sehingga pada akhirnya akan
memengaruhi pangsa pasar dan omset penjualan pedagang pasar buku tradisional. �Menurut�� (Sipahutar
et al., 2020) bahwa� media online dapat� dilihat berkali-kali� sebanyak� yang� diinginkan� oleh pembaca,� selain� itu� media online sangat
praktis��
dan�� selalu�� update��
informasinya. Dengan�� adanya�� hal�� tersebut�� salah��
satu dampak yang� akan� timbul ialah� pasar� buku tradisional atau konvensional menjadi menurun� eksistensinya,� akibat� beralih� ke penggunaan media online.
Selain itu,
temuan (Arimawa
& Leasiwal, 2018; Pamardi, n.d.) tentang upaya
yang dilakukan pasar tradisional
dalam menghadapi pasar
modern menyebutkan bahwa Upaya yang� dilakukan pasar tradisional untuk mempertahankan eksistensi usahanya� yaitu menerapkan sistem� grosir dan ecer belum ada
strategi pemasaran yang pasti,
hanya ada beberapa pedagang yang mau memasarkan produknya��� secara online,untuk tetap mempertahankan eksistensi usahanya.
Bagaimana pasar
buku tradisional menghadapi tantangan zaman tersebut? Sebaiknya, pasar
tradisional tak hanya fokus pada permodalan fisik atau finansial semata dalam
membentengi eksistensinya, melainkan juga ketersediaan modal sosial. Pasar
tradisional mampu membuktikan resistansinya dalam perkembangan zaman.
Berdasarkan studi (Syahyuti, 2015) perekonomian
pasar tradisional telah menbuktikan resistansinya dalam keadaan krisis
sekalipun. Itu tentu membuktikan bahwa masyarakat berhasil mendapatkan asal muasal
efektivitas modal sosial dari ekonomi pasar tradisional. Untuk itu, dengan
ketersediaan modal sosial yang tumbuh dan terawat akan menjadi salah satu bekal
penting keberlanjutan usaha pasar tradisional. Jadi, selain perbaikan
infrastruktur pasar atau modal fisik dan modal finansial, modal sosial tentu
perlu dipupuk dan dijaga karena ini merupakan bentuk investasi yang sebenarnya
dari ketahanan pasar tradisional. Untuk itu, tujuan dari penelitian ini ialah
untuk mengidentifikasi dan memahami gambaran modal sosial di pasar buku
tradisional. Bagaimana pola interaksi antar pedagang serta distributor terjalin
dan bagaimana interaksi dengan pelanggan terbangun agar pelanggan merasakan
customer experience yang baik dalam bertransaksi di pasar buku tradisional. Metode Penelitian
Penelitian yang digunakan ialah
jenis penelitian kualitatif. Penelitian kualitatif lebih
menekankan makna dari pada generalisasi (Sugiyono, 2011). Penelitian kualitatif
digunakan berdasarkan tujuan penelitian ini yakni untuk
memahami pola interaksi sosial yang terjadi di pasar buku tradisional. Bogdan dan Tylor menjelaskan
penelitian kualitatif ialah suatu prosedur
penelitian dengan hasil data deskriptif berupa kalimat tertulis ataupun lisan dari narasumber
dan perilaku yang diamati (Moleong, 2017). Terdapat dua
sumber data yang digunakan,
yang pertama, data primer yang merupakan
data yang didapat dari wawancara dan observasi. Kedua, data sekunder, dibangun berdasarkan studi kepustakaan dan penelusuran data online yang kredibel.
Unit analisis yang digunakan ialah peranan modal sosial dalam keberlangsungan
atau eksistensi pasar buku tradisional (Syahra, 2003). Metode interpretasi
data menggunakan empat tahapan seperti yang dikemukakan (Miles, M., & Huberman,
2016) yaitu: (1) pengumpulan
data yaitu dengan melakukan wawancara, observasi, maupun studi kepustakaan. (2) reduksi data, dalam penelitian ini dilakukan setelah diperoleh data, kemudian dipilih data - data pokok yang terkait sehingga data penelitian menjadi lebih jelas dan sistematis. (3) penyajian data,
data disajikan berupa teks naratif yang mendeskripsikan mengenai subjek penelitian, yakni menggambarkan bagaimana pola interaksi antar pedagang dan pedagang dengan pembeli yang membentuk jaringan pemasaran di pasar buku tradisional yang lebih menekankan pada tiga aspek penting yang mengindikasikan adanya nilai - nilai modal sosial yaitu kepercayaan
sosial (trust), norma - norma (norms), dan jaringan
(networks). (4) penarikan kesimpulan.
Untuk menguji keabsahan data, dilakukan uji dengan triangulasi baik sumber yaitu
dari informan yang berbeda atau teknik
yaitu dengan menggunakan teknik pengumpulan data yang berbeda.
Hasil dan Pembahasan
Di sebagian
besar kota, khususnya kota - kota dengan keberadaan institusi pendidikan tinggi
yang banyak akan tersedia berbagai sarana pendukung pendidikan, contohnya ialah
ketersediaan bahan belajar berupa buku bacaan. Pemerintah daerah sebagai
upayanya mendukung lingkungan pendidikan yang memadai, maka akan membangun
infrastruktur pendukung seperti perpustakaan umum dan pasar buku. Di antara
infrastruktur pendukung pendidikan ini, keberadaan toko buku tradisional merupakan
salah satu paling unik dan menarik di setiap kotanya apalagi untuk pelajar atau
mahasiswa.

Gambar
Pasar
Buku Tradisional
Sebagai pasar tradisional, proses jual beli di pasar ini juga masih
menerapkan proses tawar menawar harga. Disini pelanggan juga dapat menjual buku
- buku mereka yang sudah pernah dipakai dalam kondisi layak baca. Bahkan beberapa
pedagang juga menggunakan sistem barter dimana kita bisa menukarkan buku lama
kita dengan buku lain yang kita butuhkan, dan memang hal itulah yang menjadi
keunikan dan kelebihan pasar buku tradisional.��
Pasar buku tradisional umumnya dapat dikategorikan sebagai pasar homogen
berdasarkan barang yang diperjualbelikan. Sebagai pasar yang barang dagangannya
homogen pastinya akan terjadi persaingan antar pedagang yang pada akhirnya
rentan terhadap munculnya konflik, baik konflik individu maupun konflik sosial.
Namun, dalam kelompok masyarakat atau komunitas yang memiliki modal sosial yang
kuat, maka hal tersebut dapat menjadi alat untuk menyelesaikan konflik - konflik
yang muncul, sehingga keberlangsungan usaha dapat berjalan lancar. Setidaknya
terdapat tiga aspek penting yang mengindikasikan adanya nilai - nilai modal
sosial yaitu kepercayaan sosial (trust), norma - norma (norms), dan jaringan
(networks).
Dari aspek kepercayaan yang didefinisikan sebagai suatu bentuk kemauan
untuk mengambil risiko dalam hubungan sosialnya yang didasarkan pada rasa yakin
bahwa orang lain akan bersikap seperti yang diharapkan dan akan berperilaku
saling mendukung berdasarkan pola tindakannya, atau setidaknya tak akan
bertindak merugikan diri dan kelompoknya (Putnam, 1995). Berdasarkan
hasil wawancara juga observasi yang dilakukan dengan 10 pedagang di pasar buku
tradisional dapat dijelaskan bahwa mereka saling mengenal satu sama lain antar
pedagang, kecuali memang yang baru berdagang di pasar atau pedagang baru yang
menggantikan pedagang lama seperti anak yang menggantikan orang tuanya berdagang.
Para pedagang juga memiliki grup daring melalui aplikasi WhatsApp untuk
memudahkan mereka berinteraksi dan memberikan informasi. Rasa saling percaya
juga muncul ketika pedagang meminta tolong pedagang lain untuk menjaga tokonya
ketika mereka ada urusan sebentar, seperti menjemput anaknya ke sekolah dan sebagainya.
Mereka mengatakan bahwa tolong menolong seperti ini memang dilandaskan pada
rasa saling percaya satu sama lain (mutual trust). Tak jarang mereka juga
saling berbagi makanan dan bersedia mengasuh anak - anak pedagang lain di
tokonya. Ikatan sosial seperti ini memang dapat memengaruhi perilaku para agen
dan menjaga kenyamanan di dalam lingkungan usaha. Selain itu, rasa percaya juga
muncul diantara pelanggan dengan pedagang, pelanggan seperti para pelajar atau
mahasiswa umumnya memiliki toko buku langganan karena telah percaya dengan
kualitas barang yang dijual di suatu toko tersebut. Pemasaran dari mulut ke
mulut (word of mouth) juga sering terjadi di antara pelanggan yang puas dengan
suatu toko buku, sehingga menjadi strategi pemasaran yang kuat bagi toko buku
tersebut.
Dari aspek norma - norma (norms), norma sendiri dalam modal sosial dapat
diartikan sebagai sekumpulan aturan yang diharapkan dapat dipatuhi dan diikuti
oleh anggota masyarakat pada suatu entitas sosial tertentu. Menurut Fukuyama, sebagai
salah satu unsur modal sosial, norma yang sering berlaku bukan karena dibentuk
oleh pemerintah atau birokrat. Melainkan dibentuk melalui sejarah, tradisi,
tokoh kharismatik yang membangun sesuatu tata etika dan perilaku dalam suatu
masyarakat, yang selanjutnya akan muncul modal sosial untuk memengaruhi tata
aturan. Dari hasil wawancara dengan pedagang - pedagang di pasar buku
tradisional dapat dijelaskan bahwa mereka memiliki suatu ketentuan yang mengatur
tingkah laku pedagang seperti pedagang dilarang memanggil atau menawarkan
dagangannya ketika ada pembeli yang masih berada di depan toko pedagang lain
atau sedang melihat - lihat di toko pedagang lain dan untuk sanksi sosial bagi
pedagang yang melanggar adalah biasanya mereka ditegur oleh pedagang lain yang
lebih tua atau lebih dewasa untuk menghindari konflik. Kalaupun ada konflik,
mereka hanya diam - diam atau menjauh diri satu sama lain, tetapi biasanya
tidak sampai lama mereka akan baikan sendiri dan menyapa kembali, ini terkait
dengan rasa percaya yang telah terjalin sehingga modal sosial yang telah
terpupuk dapat menjadi alternatif dalam penyelesaian konflik.
Dari aspek jaringan (networks), jaringan sendiri adalah ikatan antar simpul
dalam orang atau kelompok yang dihubungkan dengan media (hubungan sosial) yang
diikat dengan kepercayaan. Dengan adanya jaringan sosial memungkinkan adanya
koordinasi dan komunikasi yang dapat menumbuhkan rasa saling percaya. Dimana
dalam pasar buku tradisional selain pedagang yang mengenal satu sama lain dan
memiliki grup daring melalui aplikasi WhatsApp untuk wadah interaksi dan
koordinasi, mereka juga rutin menggelar acara di hari - hari besar seperti
peringatan hari besar keagamaan sebagai bentuk ungkapan rasa syukur, berdoa
bersama, dan memperkuat solidaritas dan bantuan acara ini juga mereka lakukan
dengan iuran tiap toko. Mereka juga melakukan silahturahmi antar pedagang saat
- saat hari raya keagamaan untuk memperat hubungan. Selain menjalin hubungan
atau jaringan antar pedagang, para pedagang di toko buku tradisional tentu juga
berusaha membangun jaringan dengan pelanggan untuk mendapatkan pelanggan tetap
atau loyal seperti menawarkan potongan harga, memenuhi ekspektasi pelanggan
seperti jujur dengan isi buku misal kualitas kertasnya, selalu menyediakan buku
yang masih layak dibaca dan melayani dengan baik, bertukar nomor telepon agar
terkoneksi dengan pelanggan dan memudahkan pelanggan untuk bertanya langsung
tanpa harus datang dahulu ke pasar.
Kesimpulan
Berdasarkan tiga aspek penting yang
mengindikasikan adanya nilai - nilai modal sosial yaitu kepercayaan sosial
(trust), norma - norma (norms), dan jaringan (networks) dalam pembahasan ini
dapat diketahui bahwa modal sosial sangat berpengaruh dalam keberlangsungan
pasar buku tradisional dan tetap menunjukkan eksistensinya. Pertama,
kepercayaan dapat menumbuhkan rasa tolong menolong antar pedagang dan dapat
menciptakan lingkungan pasar yang aman dan nyaman. Selain itu, rasa percaya
juga muncul diantara pelanggan dengan pedagang, pelanggan seperti para pelajar
atau mahasiswa umumnya memiliki toko buku langganan karena telah percaya dengan
kualitas barang yang dijual di suatu toko tersebut. Pemasaran dari mulut ke
mulut (word of mouth) juga sering terjadi di antara pelanggan yang puas dengan
suatu toko buku, sehingga menjadi strategi pemasaran yang kuat bagi toko buku
tersebut. Kedua, norma dapat menjadi pengendali sosial antar pedagang dalam
berperilaku dan dapat menjadi solusi dalam menyelesaikan masalah atau konflik
yang muncul antar pedagang karena adanya nilai kebersamaan yang dapat menjadi
pedoman dan rasa saling percaya antar pedagang seperti, pedagang yang melanggar
aturan bersama dengan menawarkan barangnya kepada pembeli yang masih berada di
depan toko pedagang lain atau sedang melihat - lihat barang dagangan pedagang
lain akan mendapat teguran dari pedagang lain yang lebih tua atau lebih dewasa,
dan ketika terjadi konflik pun mereka akan saling diam - diam atau menjauhi
namun seiring berjalannya waktu akan saling baikan sendiri dan saling menyapa
kembali. Ketiga, adanya jaringan antar pedagang memungkinkan adanya koordinasi
dan komunikasi yang dapat menumbuhkan rasa saling percaya seperti pedagang yang
saling mengenal dan memiliki grup melalui aplikasi WhatsApp membuat pedagang
lebih mudah untuk berinteraksi. Selain itu, para pedagang juga rutin menggelar
acara di hari - hari besar seperti peringatan hari besar keagamaan dengan dibantu
biaya dari iuran tiap toko. Selain itu, pedagang juga berusaha membangun
jaringan dengan pelanggan untuk mendapatkan pelanggan tetap atau loyal dengan
menawarkan potongan harga, memenuhi ekspektasi atau keinginan pelanggan, dan
bertukar nomor telepon untuk terkoneksi dengan pelanggan dan memudahkan
pelanggan untuk bertanya langsung tanpa harus datang ke pasar terlebih dahulu.
BIBLIOGRAFI
Arimawa,
P. S., & Leasiwal, F. (2018). Dampak Keberadaan Pasar Modern Terhadap
Eksistensi Pasar Tradisional Di Kota Tobelo Kabupaten Halmahera Utara. Jurnal
Pundi, 2(3).
Fauroni,
M. R., Sukamto, S., & Idris, I. (2020). Eksistensi Pasar Buku Wilis Kota
Malang di Era Disrupsi. Indonesian Journal of Social Science Education
(IJSSE), 2(2), 180�190.
Kasali,
R. (2018). Self Disruption. Mizan.
Malano,
H. (2013). Selamatkan pasar tradisional. Gramedia Pustaka Utama.
Miles,
M., & Huberman, A. (2016). Analisis Data Kualitatif. Terjemahan oleh
Tjetjep Rohendi Rohidi. Jakarta: Universitas Indonesia.
Moleong,
L. J. (2017). Metodologi Penelitian Kualitatif (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2013).
Munawir, Ahmad Warson, Kamus Al-Munawir.
Muslich,
A. W. (2010). Fiqh Muamalat. Amzah.
Pamardi,
U. 2010 . Merencana Pasar Tradisional di Wilayah Yogyakarta. In 2015.
Gema Teknik UNS.
Putnam,
R. (1995). D.(1995): Bowling alone: America�s declining social capital. Journal
of Democracy, 6(1), 65�78.
Sipahutar,
C. M., Poerana, A. F., & Nurkinan, N. (2020). PENGALAMAN KOMUNIKASI CURHAT
ANONIM BAGI FOLLOWERS@ 18AUTOBASE DI TWITTER. JURNAL LENSA MUTIARA
KOMUNIKASI, 4(2), 56�74.
Sugiyono.
(2011). Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R&D. Alfabeta.
Syahra,
R. (2003). Modal sosial: Konsep dan aplikasi. Jurnal Masyarakat Dan Budaya,
5(1), 1�22.
Syahyuti.
(2015). Peran Modal Sosial (Social Capital) dalam Perdagangan Hasil
Pertanian. Bogor: Pusat Analisis Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian.
