|
Jurnal
Syntax Transformation |
Vol. 2
No. 3, Maret �2021 |
|
p-ISSN :
2721-3854 e-ISSN : 2721-2769 |
Sosial
Sains |
ANOMALI PENDERITAAN ORANG PERCAYA: SUATU ANALISIS
MAKNA PENDERITAAN BERDASARKAN FILIPI 1:27-29
Djone Georges Nicolas
STT
IKAT Jakarta, Indonesia
Email: [email protected]
|
INFO ARTIKEL |
ABSTRACT |
|
Diterima 21 Februari 2021 Direvisi 2 Maret 2021 Disetujui 15 Maret 2021 |
The suffering of those
who have believed in Jesus Christ as Lord and Savior, served God's work and
continued to try to live a godly life, is seen by some believers as an
anomaly.� The aim of this research is
to find out whether the suffering of believers is an anomaly or is it
natural.� How believers suffer should
be viewed based on Philippians 1: 27-29.�
This research uses descriptive qualitative research, with a literature
analysis method approach and narrative interpretation, by collecting data
through biblical sources, books, journals, digital articles, interviews and
other documents related to the issues being studied.� First, suffering for believers is not an
option but a necessity because suffering is package with faith.� Second, suffering for believers is part of
the struggle for faith.� Third,
suffering for believers is a gift from God to be grateful for and enjoy.� In conclusion, even though suffering is
unpleasant, every believer must accept it as part of God's calling.� Because Jesus Christ himself did not call
anyone by giving the sweet promise of life without problems, but has confirmed
that anyone who wants to follow Him is obliged to carry the cross which is
identical with suffering. ABSTRAK Penderitaan
orang-orang yang sudah percaya kepada Yesus Kristus sebagai Tuhan dan
Juruselamat, melayani pekerjaan Tuhan dan terus berusaha hidup saleh, dipandang
sebagian orang �percaya sebagai suatu
anomali. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui apakah penderitaan orang
percaya merupakan suatu anomali atau memang wajar. Bagaimana seharusnya
penderitaan orang percaya dipandang berdasarkan Filipi 1:27-29. Penelitian
ini menggunakan penelitian kualitatif deskriptif, dengan pendekatan metode
analisis pustaka dan tafsir narasi,
dengan pengumpulan data melalui sumber Alkitab, buku-buku,
jurnal-jurnal, artikel digital, wawancara dan dokumen lain yang berkaitan
dengan masalah yang dikaji. Pertama, penderitaan bagi orang percaya bukanlah
sebuah pilihan melainkan suatu keniscayaan dikarenakan penderitaan adalah
sepaket dengan iman. Kedua, penderitaan bagi orang percaya merupakan bagian
perjuangan iman. Ketiga, penderitaan bagi orang percaya merupakan kasih
karunia Allah yang harus disyukuri dan dinikmati. Kesimpulannya, penderitaan
walaupun tidak menyenangkan haruslah diterima oleh setiap orang percaya
sebagai bagian dari panggilan Allah. Sebab Yesus Kristus sendiri tidak
memanggil seorang pun dengan memberi janji manis kehidupan tanpa masalah,
melainkan telah menegaskan bahwa barangsiapa hendak mengikuti Dia, wajib memikul
salib yang identik dengan penderitaan. |
|
Keywords: anomalies; suffering; believers; philippians 1: 27-29 Kata Kunci: anomali; penderitaan; orang percaya; filipi
1:27-29 |
|
|
Coresponden Author Email: [email protected] Artikel dengan akses terbuka dibawah lisensi
|
|
Pendahuluan
Banyak orang
mempunyai harapan untuk bebas dari penderitaan dengan cara� mengusahakan hidup benar (Sardono et al., 2020). Tetapi bagi (Hidayat, 2016) penderitaan merupakan suatu hal yang bernilai dan
berharga� sehingga harus dijalani, sebab
penderitaan tidak dapat dihindari. Berbagai peristiwa yang terjadi selama
pandemi Covid-19 sungguh mungkin mengundang berbagai tanda tanya bagi hampir
semua orang, sebab banyak hal yang penyebabnya kadang kala tidak dimengerti
karena mungkin melampaui akal budi manusia, namun juga mungkin disebabkan oleh
karena manusia mempunyai pengertian yang sudah digiring oleh keinginan hatinya,
sehingga mencoba membangun suatu gambaran ideal menurut pandangannya sendiri.
Tidak terkecuali, terdapat orang percaya yang masih bergumul dengan penyebab
penderitaan seperti contoh seorang ibu bernama Iis, yang melalui konseling pada
hari Sabtu 6 Februari 2021 menyatakan bahwa janji penyertaan Allah kadang kala
bertolak belakang dengan penderitaan yang menimpa orang yang sudah memberi
seluruh hidupnya untuk melayani Tuhan dengan setia. (Rumbi, 2019) berpendapat bahwa apa bila orang yang baik dan
saleh menderita, kehendak Allah akan diperkarakan oleh karena dianggap bahwa
Allah tidak membela mereka yang menderita. Menjadi suatu kenyataan bahwa
penderitaan yang terus menerus ada� dapat
mengakibatkan� problem� konseptual, keberatan moral hingga pada
puncaknya pemberontakan oleh karena timbul tuntutan pertanggungan jawab dari
Allah yang dianggap bersalah, karena membiarkan adanya penderitaan (Manullang, 2020).
Pada bulan
November 2020, Bisnis.com melaporkan aksi pembunuhan empat jemaat
Gereja Bala Keselamatan yang lokasinya terdapat di Kabupaten Sigi Sulawesi
Tengah, sekaligus pembakaran pos pelayanan gereja di lokasi yang sama. Demikian juga, kematian Pendeta Yeremia pada bulan
September 2020 akibat penyiksaan dan penembakan dari jarak dekat di Kampung
Bomba di Papua, diungkapkan oleh Komisioner Komnas HAM Choirul Anam
(Berita Suara.com, Selasa 8 Desember 2020 jam 03:15 wib). Selanjutnya, pada awal Januari 2021 khususnya
pada tanggal 04, berita Republik Merdeka mencatat seorang pendeta meninggal
dunia di gereja setelah ditembak oleh seorang buronan di Texas AS.
Menurut (Saragih, 2019), tidak mengagetkan apa bila orang percaya sebagai
pengikut Yesus Kristus mengalami penderitaan seperti contoh di Indonesia,
dengan kurang lebih 1000 gereja� yang
dilaporkan dirusak dan dibakar oleh golongan radikal, serta kematian karena
pembunuhan orang-orang percaya, oleh karena Yesus sendiri telah mengalami
hinaan dan penderitaan. (Zaluchu, 2017) mengaitkan penderitaan dengan Allah dengan menyatakan
bahwa, salib yang berbicara tentang penderitaan merupakan suatu pengumuman dari
Allah tentang kasih-Nya yang murni. Penderitaan mendorong orang percaya semakin
mendekat kepada Allah dan semakin setia kepadaNya, serta memenuhi kewajibannya
terhadap ciptaan yang lain (Rantesalu, 2020).
Berdasarkan
uraian di atas dan dengan menyadari kehadiran penderitaan menjadi realita dalam
kehidupan manusia mungkin hampir setiap hari, penulis terdorong untuk menggali
lebih lanjut untuk mengetahui apakah penderitaan orang percaya merupakan
suatu anomali atau memang wajarnya demikian? Apakah status sebagai orang
percaya yang hidupnya saleh serta melayani Tuhan meniadakan penderitaan?
Bagaimana seharusnya penderitaan orang percaya dipandang berdasarkan Filipi
1:27-29? Serta mengapa penderitaan yang demikian banyak diizinkan menimpa
mereka yang sedang mengabdi kepada Tuhan sehingga menjelaskan fenomena semacam
itu secara rohani, sekaligus dapat memberi pencerahan atas berbagai pertanyaan
yang mungkin masih jadi misteri bagi banyak orang seperti yang diutarakan oleh
Sudianto Manullang.
Metode Penelitian
Penelitian ini menggunakan penelitian kualitatif deskriptif, dengan
pendekatan metode analisis pustaka dan tafsir narasi,
dengan pengumpulan data melalui sumber Alkitab, buku-buku, jurnal-jurnal,
artikel digital, wawancara dan dokumen lain yang berkaitan dengan masalah yang
dikaji. Tujuan
penelitian ini adalah mengetahui apakah status sebagai orang percaya yang
hidupnya saleh serta melayani meniadakan penderitaan? Bagaimana seharusnya
penderitaan orang percaya dipandang berdasarkan Filipi 1:27-29. Penelitian kualitatif menurut Bodgan dan Biklen
(Anggito & Setiawan, 2018) adalah suatu
prosedur penelitian yang menghasilkan tipe data deskriptif berupa ucapan atau
tulisan maupun perilaku orang-orang yang diamati di dalam suatu konteks dan
dikaji dari sudut pandang yang lengkap dan komprehensif, maupun menyeluruh atau
holistik. Deskriptif karena mempelajari masalah-masalah di tengah masyarakat
serta pengaruh-pengaruh dari suatu fenomena. Analisa data dilakukan penulis
dengan menggunakan metode hermeneutika untuk menggali makna yang benar
berdasarkan teks Kitab Filipi 1:27-29, kemudian berdasarkan analisis teks dan
historisnya, mencoba menghubungkannya dengan persoalan fenomena penderitaan
yang masih menjadi suatu tanda tanya di kalangan orang percaya agar menjadi
sebuah uraian yang mendalam.
Hasil dan Pembahasan
A.
Penderitaan
bagi Orang Percaya Bukanlah Sebuah Pilihan Melainkan suatu keniscayaan karena
penderitaan adalah sepaket dengan iman
Ibu Atilia Hia yang adalah salah satu korban terinfeksi Covid-19 melalui
wawancara pada 12 Januari 2021 menyatakan: �ternyata panggilan sebagai orang
percaya tidaklah semudah yang saya pikirkan, sebab justru melalui proses
penderitaan Covid-19, iman saya sungguh diuji dan saya sempat kehilangan
pengharapan�. Senada dengan istrinya, bapak Ricardo Simamora yang juga
mengalami nasib yang sama dan dirawat di rumah sakit karena sudah tahap kritis
mengalami sesak nafas menambahkan dengan berkata: �Saya di ruang isolasi dengan
oxigen 24 jam selama lebih dari seminggu, sudah membayangkan kematian karena
sudah mulai berhalusinasi. Bapak Togi Adi Budiman menyampaikan bahwa pribadinya
masih tetap bergumul dengan maksud Tuhan mengizinkan anak dan istrinya
meninggal dunia dalam kebakaran rumah mereka dua tahun silam (wawancara, 12
Juli 2020). (Heward-Mills, 2018) berkata bahwa tidak perlu percaya penyampaian orang
yang mengklaim bahwa ikut Yesus berbicara dalam keseluruhannya tentang menerima
berkat, menjadi sukses dan kaya, oleh karena itu bukanlah kekristenan. Oleh
karena kekristenan berbicara tentang mengalami penderitaan, berkorban,
kehilangan dan bahkan tentang kematian.
Surat Filipi ditulis oleh Rasul Paulus di dalam keadaan sedang dalam
penjara oleh karena pemberitaan Injil atau Kabar Baik. Itu menunjukkan bahwa
memberitakan Injil tidak membebaskan dari penderitaan, namun justru sebaliknya
karena Injil pasti penderitaan menanti. Dalam proses penderitaannya, Paulus
justru mengajak orang-orang percaya untuk hidup berpadanan dengan Injil Yesus
Kristus, atau dengan kata lain Paulus mendorong mereka untuk tekun dan menerima
penderitaan sebagai bagian dari proses iman itu sendiri. �Hanya, hendaklah
hidupmu berpadanan dengan Injil Kristus...�. Istilah kata �hanya� atau �Μόνοv�
dalam bahasa Yunani menunjukkan suatu tekanan dan urgensi dari pesan yang
hendak disampaikan Paulus pada saat itu, sekaligus kata penghubung dari perikop
sebelumnya.� �...hendaklah hidupmu...� di
artikan to behave as a citizen� yang diterjemahkan sebagai�
berperilaku sebagai warga negara, sehingga inti dari pesan Paulus adalah
agar hidup orang percaya tidak sebatas searah dan seirama dengan cara hidup
Yesus dalam perkara besar seperti mukjizat, kesalehan hidup dan
kesaksian-kesaksian ajaib yang lainnya, tetapi juga selaras dengan bagian
penderitaan yang dialami-Nya.� Sebab
bicara Injil memang bicara tentang Kabar Baik atau anugerah keselamatan yang
telah disediakan bagi orang yang percaya sebagai bagian dari warga
kerajaan-Nya, namun tidak boleh melupakan bahwa anugerah tersebut telah
dikerjakan melalui penderitaan dan korban Kristus di kayu salib.
Paulus sangat memahami bahwa penderitaan merupakan bagian yang tak
terpisahkan dari panggilan orang percaya. Terjemahan Alkitab BIS mencatat �Nah,
yang penting sekarang ialah bahwa kalian hidup sesuai dengan apa yang dituntut
oleh Kabar Baik tentang Kristus itu...� (Filipi 1:27). Apa yang dituntut?
Penerimaan Injil seutuhnya dan bukan sebagian, menerima hal yang menyenangkan
dari Injil, tetapi juga hal yang kurang menyenangkan tetapi dibutuhkan, yaitu
penderitaan karena Kristus. (Ismoyo, 2012) berkata bahwa iman Kristen bukan sekedar percaya
akan keselamatan yang tersedia di dalam Kristus Yesus, tetapi memaknai
penderitaan sebagai bagian terlibat dalam penyaliban dan penderitaan-Nya.
Menurt (Stevanus & Marbun, 2019), orang percaya sebagai umat Tuhan perlu memiliki
pemahaman yang benar terhadap penderitaan, sehingga dapat menerima secara
obyektif dan jujur bahwa penderitaan adalah bagian dari kehidupan semua manusia
termasuk orang percaya.
B.
Penderitaan
Bagi Orang Percaya Sebagai Bagian Perjuangan Iman
Pendeta Tomson L. Gaol mengibaratkan penderitaan sebagai kesempatan untuk
dimurnikan dan semakin kuat menghadapi tantangan dunia yang semakin tidak
terbendung (wawancara, Rabu 17 Februari 2021). Berhubungan dengan penderitaan
akhir zaman dan anti-Kristus yang menjadi topik yang banyak di bahas di
kalangan orang percaya, (Darmadi, 2019) berkata bahwa pengajaran dan pemberitaan firman
berkaitan akhir zaman sangat berkontribusi dalam membangkitkan iman para umat
Tuhan sehingga menghasilkan di dalam diri mereka semangat maupun gairah untuk
semakin berjuang melayani Tuhan. Maka Desahati sebagai seorang Penginjil
berkata: �Perjalanan iman bersama Yesus merupakan pertempuran sepanjang masih
hidup di dunia ini, sebab mempertahankan iman di tengah kesulitan-kesulitan
hidup bukanlah hal yang mudah� (wawancara, 26 April 2020).
Filipi 1:27 (TB) bagian akhir mencatat: �...� bahwa kamu teguh berdiri dalam satu roh, dan
sehati sejiwa berjuang untuk iman yang timbul dari Berita Injil�. Teguh berdiri
mempunyai makna tetap tidak berubah, tidak tergoncangkan dalam hal imannya, pendirian
maupun kesetiaannya kepada Kristus walaupun diterpa badai, dan haruslah
kesatuan umat percaya menjadi kekuatan dalam menghadapi penderitaan. Maka dalam
kesatuan itulah satu-satunya hal yang diperjuangankan (ζςναθλοῦνηερ)
adalah iman yang tidak boleh diombang-ambingkan
oleh� penderitaan yang dialami, tetapi
sebaliknya melalui penderitaan iman semakin berkobar-kobar sehingga orang
percaya keluar lebih dari pada orang-orang yang menang. Oleh karena itu, Paulus
juga mengajak Timotius untuk ambil bagian dalam penderitaan sebagai prajurit
Kristus yang setia dengan menyampaikan bahwa prajurit tidak memikirkan
kepentingannya sendiri, tetapi memperjuangkan kehendak komandannya (2 Timotius
2:3-4). Prajurit apa pun bahaya yang dihadapi di medan perang, tetap
menghadapinya sebagai bentuk tanggung jawab dan sumpah kesetiaan terhadap
negaranya. Demikian juga, di tengah penderitaan yang dihadapi orang-orang
percaya, perjuangan iman harus tetap menjadi prioritas sebagai bukti kesetiaan
kepada Kristus yang adalah Komandan dan Raja dari Kerajaan Sorgawi. (Kristanto & Panggua, 2018) berkata bahwa orang percaya seharusnya memusatkan
seluruh keberadaannya pada Kristus dan siap menghadapi rintangan apapun, oleh
karena rintangan yang diizinkan Tuhan adalah cara yang digunakan Tuhan untuk
mendewasakan umat-Nya, sehingga penderitaan perlu responi dengan cara
menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah yang lebih besar dari rintangan yang
dihadapi.
Iman yang teguh dan kokoh dibentuk melalui proses �penderitaan� (Purwanto, 2020). Penderitaan tidak pernah dicatat oleh Alkitab
sebagai suatu gagasan maupun konsep, tetapi dalam cerita pengalaman manusia
yang tidak lepas dari perjuangan (David Paul Trip, 2018). Oleh karenanya, orang-orang percaya dalam
mengalami penderitaan dipanggil untuk tetap memperjuangkan nilai-nilai
kebenaran yang diyakini sebagai perlengkapan senjata rohani untuk melawan semua
tipu daya Iblis yang berusaha sekuat tenaga melalui penderitaan untuk mencuri
damai sejahtera orang percaya, membunuh iman mereka dan dengan demikian
mengakibatkan mereka binasa (Yohanes 10:10). (Surif, 2016) berpendapat bahwa masyarakat di daerah Filipi
adalah politeistis dan terbiasa dengan penyembahan para dewa nenek moyang,
sehingga menimbulkan penolakan keras bukan saja dari kaum tradisionalis, namun
juga dari pemerintahan Romawi di kota Filipi oleh karena mengindikasikan bahwa
akhirnya divus Agustus akan menjadi penyembah Kristus. Sebab, mengadopsi iman
kepada Kristus artinya meninggalkan semua kepercayaan dan berhala yang
sebelumnya.
C.
Penderitaan
Bagi Orang Percaya Merupakan Kasih Karunia Allah
Filipi 1:29 menyampaikan bahwa bagi orang-orang percaya iman merupakan
suatu karunia yang dianugerahkan oleh Allah, tetapi penderitaan juga merupakan
karunia yang dari Allah. Dikaruniakan di ayat tersebut dalam bahasa Yunani
sebut ἐχαρίσθη yang dibaca
ekhariste, dan berasal dari akar kata χαρίζομαι
yang bermakna sebagai suatu hadiah atau pemberian yang tidak memerlukan
imbalan. Melihat penjelasan di atas, dapat dipahami bahwa penderitaan sebagai
karunia dan pemberian dari Allah yang perlu disyukuri dan bahkan dinikmati
selama itu dalam kehendak Allah. Sebab, tidak ada yang jahat yang berasal dari
Allah dan rancangan-Nya bukan untuk mencelakakan umat-Nya melainkan menyediakan
masa depan yang penuh dengan harapan (Yeremia 29:11). Hal ini dapat di lihat
dari ayat sebelumnya yang meneguhkan bahwa penderitaan karena iman dalam
pandangan dunia adalah tanda kebinasaan, tetapi bagi orang-orang percaya justru
itu merupakan tanda keselamatan yang dari Allah yang mengasihi umat-Nya (Filipi
1:28).
(David Paul Trip, 2018) berkata bahwa dia menyukai penderitaan bukan karena
sisi sakit maupun kehilangan, tetapi karena melalui dan di balik penderitaan
ada keajaiban tangan Tuhan yang mengerjakan segala sesuatu yang baik di dalam
dirinya, yang tidak dapat dicapai dengan cara lain. Menderita demi Kristus
tidak boleh dipandang sebagai kutukan, melainkan perlu diterima sebagai
kehormatan (Bangngu, 2020).
Perjalanan iman orang percaya tidaklah selalu mulus seperti yang
dirindukan, oleh karena mungkin sering kali manusia mempunyai keterbatasan
dalam menyelami dan memahami pikiran dan rencana Allah� yang begitu tinggi dan mulia. Namun, lepas
dari semuanya itu, satu hal yang pasti adalah bahwa semua yang berasal dari
Allah dan diberikan bagi umat-Nya, selalu untuk kebaikan, sehingga penderitaan
yang merupakan kasih karunia Allah harus mulai dipandang orang-orang percaya
sebagai berkat yang tidaklah berbeda dari berkat-berkat yang lain yang selalu
disyukuri. Allah tidak mungkin salah merancang sesuatu, dan kalau bapak-bapak
di bumi tidak mungkin memberi hadiah ular kepada anak-anak mereka, betapa lebih
lagi Allah yang Maha Kasih tidak mungkin akan mengizinkan suatu penderitaan apa
bila itu mendatangkan kerugian bagi orang-orang yang dikasihi-Nya. Melalui
penderitaan, Allah mendidik, membentuk dan mempersiapkan umat-Nya masuk dalam
kesempurnaan agenda yang kekal. Maka, penderitaan apa pun yang dihadapi di
dunia ini tidaklah sebanding dengan kemuliaan yang disiapkan-Nya dan yang
menanti orang-orang yang tetap setia mempertahankan iman kepada Yesus sampai
garis akhir. Oleh karenanya, Rasul Paulus dengan gamblang menyatakan tujuan
hidupnya hanya Kristus dan kematian sekalipun merupakan keuntungan bagi dirinya
(Filipi 1:21). Dia telah memahami dengan sedalam-dalamnya bahwa penderitaan
dalam bentuk apa pun, bahkan yang dianggap tertinggi seperti kematian,� apa bila dialami karena Kristus dan untuk kemuliaan-Nya,
tidak ada kerugian sama sekali tetapi sebaliknya itu merupakan suatu anugerah.
Jika Paulus dalam penjara tetap bersukacita dan justru penjara tidak membatasi
dirinya untuk menguatkan orang lain melalui pemberitaan Injil, roh perjuangan
yang sama yang hendak ditransfer kepada setiap orang percaya yang hari-hari ini
alami proses penderitaan.
Kesimpulan
Penderitaan
walaupun tidak menyenangkan haruslah diterima oleh setiap orang percaya sebagai
bagian dari panggilan Allah. Sebab Yesus Kristus sendiri tidak memanggil
seorang pun dengan memberi janji manis kehidupan tanpa masalah, melainkan telah
menegaskan bahwa barang siapa hendak mengikuti Dia, wajib memikul salib yang
identik dengan penderitaan. Memahami bahwa mengalami penderitaan adalah wajar
dan merupakan bagian hidup manusia pada umumnya, tetapi perjuangan iman dan
juga karunia dari Allah, seharusnya menjadi pijakan orang percaya untuk
bermegah di dalam kesengsaraan karena Kristus seperti yang diungkapkan oleh
rasul Paulus dalam, sebab di baliknya ada kemuliaan Allah yang menanti (Roma
5:2-3).
BIBLIOGRAFI
Anggito,
A., & Setiawan, J. (2018). Metodologi penelitian kualitatif. CV
Jejak (Jejak Publisher).
Bangngu, J.
(2020). Karunia Menderita, Suatu Analisa Eksegetikal Terhadap Filipi 1: 29. Aletheia:
Jurnal Teologi Dan Pendidikan Kristen, 1(1), 51�62.
Darmadi, D.
(2019). Memahami Teologi Yohanes tentang Akhir Zaman. KALUTEROS: Jurnal
Teologi Dan Pendidikan Kristen, 1(1), 21�33.
David Paul
Trip. (2018). Suffering, Crossway, a Publishing of Good News Publishers,
Wheaton Illinois 60187. USA, 22.
Heward-Mills,
D. (2018). Model Pernikahan. Dag Heward-Mills.
Hidayat, E.
A. (2016). Iman Di Tengah Penderitaan: Suatu Inspirasi Teologis-Biblis
Kristiani. MELINTAS, 32(3), 285�308.
Ismoyo, T.
U. (2012). Penderitaan Sebagai Penyelamatan Studi Komparasi Antara Penderitaan
Yesus Kristus Dengan Penderitaan Imam Husayn. Jurnal Teologi (Journal of
Theology), 1(1), 39�50.
Kristanto,
K., & Panggua, G. M. (2018). Hidup Dan Mati. Kinaa Jurnal Teologi, 4(1).
Manullang,
S. (2020). Providensi Allah Di Balik Penderitaan Dalam Pengalaman Ayub.
Purwanto,
A. T. (2020). Pengaruh Pengajaran Iman Dan Penderitaan Menurut Filipi 1: 29
Terhadap Pertumbuhan Iman Jemaat Bethany Kristus Sabda Benjeng. Jurnal
Teologi & Pelayanan KERUSSO, 5(1), 14�19.
Rantesalu,
M. B. (2020). Penderitaan dari Sudut Pandang Teologi Injili. Jurnal Ilmiah
Religiosity Entity Humanity (JIREH), 2(2), 126�135.
Rumbi, F.
P. (2019). Babak Akhir Penderitaan, Dosa Dan Teodice Dalam Epilog Kitab Ayub
42: 7-17. Veritas Lux Mea (Jurnal Teologi Dan Pendidikan Kristen), 1(2),
53�64.
Saragih, E.
M. (2019). Sikap Etis Kristen Terhadap Penderitaan Menurut 1petrus 4: 12-16 Dan
Relevansinya Bagi Orang Percaya. Missio Ecclesiae, 8(1), 58�80.
Sardono, E.
E., Hermiawan, N., & Wekin, O. K. (2020). Makna Fenomena Kematian Massal Di
Tengah Pandemi Covid-19 Berdasarkan Refleksi Dari Ayub 1: 1-22. VISIO DEI:
JURNAL TEOLOGI KRISTEN, 2(2), 265�283.
Stevanus,
K., & Marbun, S. M. (2019). Memaknai Kisah Ayub Sebagai Refleksi Iman Dalam
Menghadapi Penderitaan. LOGIA: Jurnal Teologi Pentakosta, 1(1),
23�41.
Surif.
(2016). Agustus Versus Kristus Dalam Kitab Filipi (bagian 1): Kultus Agustus di
Filipi. Jurnal Amanat Agung, 12(1), 79�112.
Zaluchu, S.
(2017). Penderitaan Kristus sebagai wujud solidaritas Allah kepada manusia. DUNAMIS:
Jurnal Teologi Dan Pendidikan Kristiani, 2(1), 61�74.
