|
Jurnal
Syntax Transformation |
Vol. 2
No. 3, Maret �2021 |
|
p-ISSN :
2721-3854 e-ISSN : 2721-2769 |
Sosial
Sains |
Kuswoyo, Nurul Hidayah
dan Ahmad Muhammad Diponegoro
Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta, Indonesia��������
Email: [email protected],
[email protected]
��dan [email protected]
|
INFO ARTIKEL |
ABSTRACT |
|
Diterima 21 Februari 2021 Direvisi 2 Maret 2021 Disetujui 15 Maret 2021 |
This
study aims to 1) test the influence between teacher interpersonal
communication, student engagement and self-efficacy on school well-being. 2)
test the influence of teacher interpersonal communication on school
well-being. 3) test the influence of student engagement on school well-being.
4) test the effect of self-efficacy on well-being schools. The population is
students of SMP Negeri 1 Semanu Gunungkidul
Regency. The research sample was grade VI A, VIII C and IX A students who
numbered 95 students. Sampling techniques use cluster random sampling. The
data collection method uses a research instrument consisting of four research
scales, namely the school well-being scale, the teacher interpersonal
communication scale, the student engagement scale and the self-efficacy
scale. The data analysis technique used is multiple regression analysis with
the help of SPSS 25.0. The results of this study are 1) there is a very
significant influence between teacher interpersonal communication, student
engagement and self-efficacy towards school well-being, with a value of
significance = 0.000 < (0.01), a value of F of 35,880 and a value of R =
0.542. 2) there is a positive and very significant influence between teacher
interpersonal communication towards school well-being with significance value
= 0.000 < 0.01 and value t = 3.777. 3) there is a positive and significant
influence between student engagement towards school well-being with significance
value = 0.027 < 0.05 and value t = 2.246. 4) there is a positive and very
significant influence between students' self-efficacy towards well-being
school with significance value = 0.000 < 0.01 and t value = 4.973. ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk 1) menguji pengaruh antara komunikasi interpersonal guru, student engagement dan efikasi diri terhadap school well-being. 2) menguji
pengaruh komunikasi
interpersonal guru terhadap school well-being. 3) menguji pengaruh student
engagement terhadap school well-being. 4) menguji pengaruh efikasi diri terhadap school well-being. Populasi
adalah siswa-siswi SMP
Negeri 1 Semanu Kabupaten
Gunungkidul. Sampel penelitian adalah siswa kelas VI A, VIII C dan IX
A yang berjumlah 95 siswa.
Teknik sampling menggunakan cluster random
sampling. Metode pengumpulan
data menggunakan istrumen
penelitian yang terdiri dari empat skala
penelitian, yaitu skala school well-being, skala komunikasi interpersonal guru, skala
student engagement dan skala efikasi
diri. Tehnik analisis data yang digunakan adalah analisis regresi berganda dengan bantuan SPSS 25.0. Hasil
penelitian ini adalah 1) ada pengaruh yang sangat signifikan antara komunikasi interpersonal guru, student engagement dan efikasi diri terhadap school well-being, dengan
nilai signifikansi =
0,000 < (0,01), nilai F sebesar
35,880 dan nilai R = 0,542. 2) ada
pengaruh positif dan sangat signifikan antara komunikasi interpersonal
guru terhadap school well-being dengan
nilai signifikansi =
0,000 < 0,01 dan nilai t = 3,777. 3) ada pengaruh positif dan signifikan antara student engagement terhadap
school well-being dengan nilai
signifikansi = 0,027 < 0,05 dan nilai t = 2,246. 4) ada pengaruh positif dan sangat signifikan antara efikasi diri siswa terhadap
school well-being dengan nilai
signifikansi = 0,000 < 0,01 dan nilai t = 4,973. |
|
Keywords self-efficacy; teacher
interpersonal communication; school well-being; students; student-engagement Kata Kunci: efikasi diri; komunikasi
interpersonal guru; school well-being; siswa; student-engagement |
|
|
Coresponden Author Email: [email protected] Artikel dengan akses terbuka dibawah lisensi
|
|
Pendahuluan
Sekolah dengan
seluruh perangkat di dalamnya merupakan institusi yang memiliki peran penting
dalam upaya mencapai tujuan pendidikan nasional. Undang-undang Nomor 20 Tahun
2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional mengisyaratkan bahwa tujuan pendidikan
nasional adalah berkembangnya potensi peserta didik. (Karyani, U., Prihartanti, N., Dinar, W., Lestari, R.,
Hertinjung, W. S., Prasetyaningrum, J., Partini, 2015) menyatakan
sekolah diharapkan mampu mengemban tujuan pendidikan tersebut sehingga berhasil
memberikan pengalaman terbaik bagi siswa yang pada akhirnya membuat
siswa-siswanya merasa sejahtera. Pemerintah terus memfokuskan agenda pendidikan
nasional pada peningkatan mutu sekolah sebagai lembaga pendidikan formal pada
berbagai sektor, baik infrastruktur bangunan, sarana prasarana sekolah,
kualitas guru, maupun pegembangan pada metode pembelajaran (Setyawan & Dewi, 2015).
Sekolah
merupakan institusi pendidikan formal yang disediakan oleh pemerintah yang saat
ini tidak hanya memiliki fungsi sebagai tempat menuntut ilmu saja, melainkan
juga sebagai tempat pembentukan moral, karakter, pengembangan minat dan bakat
siswa Santrock, 2007. Sekolah� tidak saja
sebagai wadah olah pikir terhadap penyerapan pengetahuan melainkan juga tempat
menempa diri pada pengetahuan non akademis terutama pada penajaman soft skill
peserta didik, sebagai usaha pencapaian cita-cita (Setyawan & Dewi, 2015).
Remaja dalam
posisinya sebagai pelajar sekolah menengah pertama memiliki keunikan tersendiri
terkait pandangan terhadap kesejahteraan sekolah. Remaja SMP merupakan remaja
awal dalam rentang usia rata-rata 11-14 tahun yang dalam perkembangan fisik dan
psikologisnya sedang mengalami masa transisi. Perkembangan pesat pada sisi
fisik dan hormonnya berdampak pada perkembangan kejiwaannya sehingga remaja SMP
sering mengalami gejolak. (Hurlock et al., 2002) mengatakan
bahwa usia remaja merupakan sebuah masa yang penting. Hal ini disebabkan karena
masa tersebut merupakan periode peralihan, masa perubahan, usia penuh masalah,
masa mencari identitas, dan usia yang menimbulkan ketakutan. Menurut (Sarwono, 2012) usia remaja
merupakan masa di mana terjadi topan dan badai dalam kehidupannya. Perkembangan
pesat sosio-emosionalnya harus dibenturkan dengan kenyataan terhadap adanya
nilai-nilai yang menyebabkan remaja emosinya meledak-ledak dan sering terjadi
konflik baik dalam internal pribadinya maupun konflik dalam relasi sosialnya.
Konflik di ranah relasi sosial harus dihadapi remaja tidak terkecuali di
lingkungan sekolahnya. Remaja harus berusaha keras menyesuaikan diri untuk
mendapatkan lingkungan sekolah nyaman dan sejahtera.
Keberhasilan
sekolah dalam usaha pencapaian tujuan pendidikan tersebut bergantung pada
bagaimana sekolah dengan peran strategisnya mampu menciptakan lingkungan yang
positif bagi perkembangan emosi dan sosial siswa-siswanya, di samping kontribusinya
pada keunggulan akademis. Sekolah harus mampu membuat siswa sejahtera dalam
proses kegiatan belajar mengajar di dalamnya. Kondisi sekolah yang tidak
menyenangkan, menekan, dan membosankan akan berakibat pada pola siswa yang
bereaksi negatif, seperti stres, bosan, terasingkan, kesepian dan depresi.
Kondisi tersebut akan berdampak pada penilaian individu terhadap sekolahnya (Khatimah, 2015). Hal ini sesuai
dengan penelitian (Huebner & McCullough, 2000) yang menyatakan
sumber stres yang signifikan dan berkurangnya kualitas hidup peserta didik
dapat disebabkan oleh pengalaman sekolah yang kurang menyenangkan.
Sekolah yang
sejahtera dapat dilihat dari bagaimana siswa menilai keadaan sekolah mereka
sendiri dan bagaimana peran sekolah dalam proses belajar mereka. Siswa yang
menunjukkan kecintaan terhadap sekolah mereka, cenderung lebih baik dan juga
lebih sehat (Papalia et al., 2008). Sekolah
merupakan lembaga sosial yang kuat dan potensial sebagai sarana atau tempat
perkembangan sosial remaja. Sekolah juga merupakan sarana yang potensial dalam
membentuk kepribadian individu serta konsep sosial yang baik yang akhirnya akan
memberikan kesejahteraan itu sendiri terhadap siswa (Tian et al., 2016).
(Duckett et al., 2010) dalam
penelitiannya menjelaskan bahwa konsep kesejahteraan siswa berawal dari asumsi bahwa
jika anggota sekolah merasa senang dan aman di sekolah, siswa akan
mengaktualisasikan potensinya. Kesejahteraan sekolah merupakan kondisi sekolah
di mana terdapat hubungan timbal balik rasa hormat antara anggota sekolah.
Hubungan tersebut bertujuan meminimalisir konflik di antara mereka sehingga
dapat mempertahankan kondisi seimbang, berkeadilan, dan menonjolkan kerja keras
untuk mencapai prestasi pribadi dan sosial (Duckett et al., 2010).
Keberhasilan
sekolah dalam usaha menyejahterakan siswanya dapat dilihat dari konsep yang
dinamakan school well-being (kesejahteraan sekolah). Menurut (Kraag et al., 2006) School
well-being adalah kepuasan siswa untuk memenuhi kebutuhan dasar di sekolah yang
meliputi having (kondisi sekolah), loving (hubungan sosial), being (pemenuhan
diri), dan health (status kesehatan). (Kraag et al., 2006) mengembangkan
model kesejahteraan sekolah dengan mengadopsi teori sosiologi mengenai
kesejahteraan (welfare) dipadukan dengan konsep sejahtera (well-being) dalam
entitas sekolah, sehingga kesejahteraan dikaitkan dengan pengajaran (teaching),
pendidikan (education), belajar (learning) dan prestasi (achievement).
(Kraag et al., 2006) menyebutkan
terdapat empat dimensi terkait dengan kesejahteraan siswa di sekolah yaitu:
Having yaitu kondisi sekolah baik pada aspek fisik, organisasi, layanan maupun
keamanan. Loving yaitu relasi sosial terhadap sesama peserta didik, guru,
maupun staf sekolah. Being yaitu pemenuhan diri berupa kesempatan belajar
sesuai dengan kapabilitas, mendapatkan umpan balik, dan semangat dan Health
yaitu status kesehatan.
Observasi awal
dan wawancara peneliti terhadap lima belas siswa SMPN 1 Semanu pada tanggal 11
sampai dengan 13 November 2019 mendapatkan fakta bahwa kenyamanan dan
kesejahteraan belum maksimal dirasakan oleh siswa. Kebersihan lingkungan masih
banyak dikeluhkan termasuk kebersihan toilet sekolah di samping sampah masih menjadi
masalah yang cukup meresahkan baik di dalam kelas maupun sekitar kelas.
Tampungan air tidak tersedia sehingga jika air PDAM mati dampaknya sangat
dirasakan oleh siswa. LCD sarana pembelajaran yang sudah tidak terpasang lagi
di tempatnya menjadi pertanyaan banyak siswa. Dimensi Having lain yang
ditemukan peneliti adalah debu yang menempel pada sebagian besar kaca di
seluruh bangunan sekolah dan sebagian besar pintu tidak lagi berfungsi sehingga
jika selesai pembelajaran pintu-pintu tidak dikunci.
Relasi sosial
sebagai representasi dimensi loving pada school well-being siswa menunjukkan
fakta tidak terlalu bagus. Hasil wawancara dan observasi daftar kasus yang
ditangani guru BK menunjukkan ketidak harmonisan siswa dan guru dalam hal
pemberian hukuman terhadap pelanggar tata tertib. Pertikaian sesama siswa juga
sering terjadi. Masalah pada dimensi being ditunjukkan oleh keluhan siswa atas
tidak berjalannya ekstrakurikuler sebagaimana jadwal yang ditetapkan. Kasus
terakhir terkait proses pembelajaran justru datang dari kritikan orangtua siswa
terhadap aktivitas pembelajaran yang tidak maksimal sehingga self fulfilment
siswa tidak tersalurkan dengan baik. Keluhan sakit dan banyaknya daftar siswa
yang masuk ke UKS menunjukkan dimensi health dari school well-being siswa belum
maksimal.
Konsep school well-being
sangat bermanfaat dan menjadi konsepsi yang penting diaplikasikan di sekolah.
(Kraag et al., 2006) menjelaskan
bahwa siswa dapat belajar secara efektif dan memberi sumbangan positif pada
sekolah jika dalam proses tersebut siswa sehat secara fisik, merasa bahagia dan
sejahtera dalam mengikuti proses kegiatan belajar mengajar di kelas. School
well-being bermanfaat untuk menciptakan lingkungan pembelajaran yang kondusif,
yang pada akhirnya mampu mencapai tujuan pembelajaran tersebut.
Sekolah dapat
menjadikan school well-being sebagai acuan dalam rangka memahami dan
menyediakan fasilitas-fasilitas yang membuat siswa merasa nyaman dan sejahtera
berada di dalam keseluruhan aktivitas pembelajaran di sekolah. Pandangan
subjektif siswa mengenai sekolahnya dapat dijadikan terobosan evaluasi dan
pengembangan sekolah (Kraag et al., 2006).
Relasi sosial
siswa terhadap guru merupakan faktor penting bagi terciptanya kesejahteraan dan
kepuasan siswa dalam aktivitas belajar-mengajar di sekolah. Relasi sosial ini
tercermin dari komunikasi interpersonal yang terjalin antara siswa dan guru.
Interaksi guru dan siswa merupakan proses komunikasi timbal balik dan membentuk
hubungan yang sangat erat. Keberlangsungan proses belajar-mengajar yang efektif
banyak ditentukan oleh faktor komunikasi.
(Sabo, 1995) dalam penelitiannya
mengungkapkan bahwa ketika murid ditanya bagaimana mereka menyukai sekolah,
maka jawabannya bahwa kesukaan mereka terhadap sekolah sebagaimana mereka menyukai
guru mereka. Penelitian Lohre 2010 mendukung hasil
penelitian ini bahwa nilai tertinggi kepuasan sekolah siswa ada pada kesukaan
mereka terhadap guru-gurunya. Oleh karena pentingnya komunikasi interpersonal
guru ini, peneliti menjadikannya sebagai prediktor utama dalam perannya
terhadap school well-being.
(Rakhmat, 2009) mendefinisikan
komunikasi interpersonal sebagai proses pertukaran makna antara individu dengan
individu lain yang dilakukan secara timbal balik serta mempengaruhi perubahan
sikap maupun perilaku dalam pencapaian tujuan yang diinginkan. (Rakhmat,
2009) juga
mengatakan bahwa terjalinnya komunikasi interpersonal apabila menunjukkan
adanya pemahaman yang sama atas pesan yang disampaikan oleh guru dengan siswa.
Kejelasan guru dalam menyampaikan informasi akan bepengaruh terhadap pemahaman
siswa ketika tidak mengerti mencapai tujuan belajar dan membantu memberikan
informasi tentang sasaran tujuan belajar, penguatan-penguatan, evaluasi dan
keberhasilan belajar, menyebabkan siswa semakin sadar akan kemampuan dirinya.
Menurut (Devito, 2016) komunikasi
interpersonal merupakan proses penyampaian pesan antara dua orang yang memiliki
hubungan interpersonal, misalnya antara orangtua-anak, antar teman, antar
saudara, guru-siswa, atasan-bawahan,dokter-pasien, atau hubungan profesional
atau non-profesional lain. (Devito,
2016) juga
menjelaskan komunikasi interpersonal sebagai komunikasi verbal dan non verbal
yang terjadi ketika individu melakukan interaksi dengan orang lain. Interaksi
tersebut mengajarkan individu untuk memahami dirinya sendiri dan lawan
komunikasinya, serta mengungkapkan dirinya terhadap orang lain. Individu dapat
memulai, memelihara, atau memperbaiki hubungan interpersonalnya dengan orang
lain untuk mencapai komunikasi interpersonal yang efektif.
Komunikasi
interpersonal guru yang efektif mampu meningkatkan berbagai hal berkenaan
dengan aktivitas belajar-mengajar di sekolah yang bermuara terhadap terciptanya
kesejahteraan siswa di sekolah tersebut. Penelitan kualitatif (Alang, 2018) menghasilkan
fakta bahwa komunikasi interpersonal guru mampu meningkatkan keaktifan belajar.
Penelitian (Rianatha & Sawitri, 2015) menyatakan
adanya hubungan positif yang signifikan antara komunikasi interpersonal
guru-siswa dan Self Regulated Learning (SRL). Hal ini berarti bahwa semakin
baik komunikasi interpersonal guru-siswa maka semakin tinggi Self Regulated
Learning-nya. Kesejahteraan sekolah secara umum bisa dilihat dari hubungan dan
komunikasi antara guru dan siswa. Kesejahteraan guru menentukan kesejahteraan
siswa (Roffey, 2012).
Kegiatan belajar
mengajar adalah proses menuntut interaksi yang fleksibel antara siswa dan guru.
Peran guru dan cara guru berinteraksi dengan siswa sangat penting diperhatikan
untuk efektifitas belajar mengajar. Efektifnya keberfungsian lingkungan belajar
sangat dipengaruhi oleh interaksi antara guru dan siswa. Kerja sama dan saling
ketergantungan menjadi penting dilakukan oleh karena dampak dari interaksi
tersebut. Hubungan interpersonal dan saling percaya antara guru dan siswa
sangat signifikan menciptakan school well-being (Hongwidjojo et al., 2018). Suasana
relasional yang positif dianggap penting dalam memfasilitasi keharmonisan
pengembangan dan motivasi siswa. Dengan demikian peningkatan hasil kognitif dan
afektif siswa untuk pencapaian tujuan pendidikan dapat ditingkatkan dengan
aspek komunikasi interpersonal guru dan siswa�
di lingkungan kelas (Van Petegem et al., 2005).
Student
engagement merupakan Faktor lain yang berkorelasi terhadap school well-being. (O�Brien, 2008) memasukkan student
engagement sebagai faktor eksternal pembentuk school well-being. Alsa, Haq,
Siregar, Kusumaningrum, (Alsa
et al., 2015)
menjelaskan student engagement sebagai salah satu faktor pembentuk school
well-being dari dimensi being. (Fredricks
et al., 2004) mendefinisikan
student engagement sebagai suatu keterlibatan siswa dalam aktivitas akademik
maupun non akademik (sosial dan ekstrakurikuler) di sekolah maupun kelas.
Penelitian (Aisah, 2018) mengenai
hubungan school well-being dengan student engagement mengasilkan kesimpulan
adanya hubungan yang signifikan antara school well-being dengan student
engagement. Semakin tinggi school well-being semakin tinggi pula student
engagement, hal ini juga menunjukkan bahwa semakin rendah school well-being
semakin rendah pula student engagement. Keterlibatan siswa yang mencakup
seluruh domain baik, kognitif, emosi dan perilaku memiliki hubungan yang kuat
dengan prestasi akademik, terlebih terhadap keterlibatan kognitif dan perilaku (Gunuc, 2014).
Student
engagement memiliki konstruksi multidimensional yang� dibagi ke dalam tiga dimensi yaitu;
behavioral engagement, emotional engagement, dan cognitive engagement (Fredricks et al., 2004). Behavioral
engagement merupakan sebuah partisipasi siswa yang meliputi keterlibatan dalam
kegiatan dibidang akademik, sosial maupun ekstrakurikuler. Hal ini dapat
menunjang siswa untuk mencapai keberhasilan dalam akademik. Emotional
engagement merujuk kepada reaksi afektif siswa di dalam kelas, termasuk
ketertarikan, kebosanan, kesenangan, kesedihan, dan emotional engagement
merupakan reaksi positif dan negatif terhadap guru, teman sekelas, akademik,
dan sekolah. Emotional engagement sendiri dapat memunculkan ikatan siswa dengan
sekolah dan akan memengaruhi siswa untuk melakukan tugas sekolah tanpa adanya
suatu keterpaksaan. Cognitive engagement yaitu penggabungan perhatian dengan
kemauan siswa dalam menghadapi tugas sekolah yang dirasa sulit (Fredricks et al., 2004).
(Reeve, 2005) menjelaskan
student engagement memiliki empat peran dalam proses belajar. Pertama, student
engagement membuat proses belajar mungkin dilakukan danmerupakan syarat dari
pengalaman pembelajaran yang produktif. Kedua, Student engagement dapat
memprediksi seberapa baik peserta didik menempuh proses belajarnya, terutama
dari pencapaian mereka (ranking dan nilai ujian) dan kelulusan mereka (apakah
dikeluarkan dari institusi tempat mereka belajar atau tidak). Ketiga, student
engagement dapat memberikan pertimbangan kepada institusi pendidikan mengenai
intervensi yang dapat dilakukan kepada para pembelajar agar proses belajar
mereka semakin baik. Keempat, student engagement memberikan feedback terhadap
pengajar untuk menentukan telah seberapa baik usaha mereka dalam memotivasi
para siswa dalam proses belajar mereka. Keempat peran student engagement di
atas merupakan hal yang positif bagi terciptanya school well-being siswa yang
akhirnya dapat menentukan keberhasilan proses pembelajaran.
Faktor penting
lain untuk mengungkapkan pentingnya school well-being adalah efikasi diri
siswa. Keyes dan Waterman (Khatimah, 2015) mengemukakan
salah satu faktor yang dapat memengaruhi school well-being adalah karakteristik
pribadi. Efikasi diri merupakan salah satu unsur kepribadian (A Bandura, 1997). (Albert Bandura, 1995) mengatakan
bahwa efikasi diri adalah kepercayaan diri dalam kemampuan seseorang untuk
mengatur dan melaksanakan tindakan yang diperlukan untuk mengelola situasi tertentu.
(A Bandura, 1997) mengungkapkan
bahwa perbedaan efikasi diri dalam setiap individu terletak pada tiga aspek,
yaitu level, strength, dan generality. Bandura menjelaskan empat sumber efikasi
diri antara lain: (1). Mastery experience, yaitu pengalaman-pengalaman tentang
penguasaan, (2). Vicarious Experience yaitu pengalaman-pengalaman yang dialami
orang lain, (3). Social Persuation, yaitu persuasi sosial, dan (4) Physical and
Emotional States, yaitu kondisi fisiologis dan emosi (Feist, & Feist,
2008).
Efikasi diri
siswa memiliki pengaruh terhadap terciptanya well-being di sekolah. Penelitian (Firmanila & Sawitri, 2015) tentang
hubungan antara efikasi diri akademik dan school well-being menghasilkan
kesimpulan adanya hubungan yang positif antara efikasi diri� dan school well-being. Penelitian lain (Nanda & Widodo, 2015) menghasilkan
kesimpulan adanya hubungan positif yang signifikan antara school well-being
dengan efikasi diri siswa. Semakin tinggi school well-being, maka semakin
tinggi pula efikasi diri siswanya, dan sebaliknya, semakin rendah school
well-being, maka semakin rendah efikasi diri siswanya.
Analisis
peneliti berdasarkan paparan tentang school well-being di atas dan fakta yang
terjadi di lapangan, maka penulis mengidentifikasi bahwa faktor penting yang
akan diangkat dalam penelitian mengenai school well-being ini adalah komunikasi
interpersonal guru, student engagement dan efikasi diri siswa. Oleh karena itu
penulis ingin mengetahui apakah ada pengaruh komunikasi interpersonal guru,
student engagement dan efikasi diri terhadap school well-being siswa SMP Negeri
1 Semanu.Tujuan dalam penelitian ini yaitu untuk menguji� pengaruh komunikasi interpersonal guru,
student engagement, dan� efikasi diri
terhadap school well-being. Hipotesis dalam penelitian ini adalah: 1) terdapat
pengaruh komunikasi interpersonal guru, student engagement, dan� efikasi diri terhadap school well-being. 2)
terdapat pengaruh komunikasi interpersonal guru terhadap school well-being. 3)
terdapat pengaruh student engagement terhadap school well-being.4) terdapat
pengaruh efikasi diri terhadap school well-being.
Metode Penelitian
�������� Metode untuk
menganalisis data penelitian
menggunakan metode statistik parametrik. Analisis data dilakukan dengan menggunakan SPSS 25 melalui teknik uji regresi berganda linier (multiple
regression) yaitu suatu teknik analisis statistik untuk mengetahui peran antara dua variabel
bebas (komunikasi
interpersonal guru, student engagement dan efikasi diri) dengan satu
variabel tergantung (school
well-being). Uji asumsi yang dilakukan
sebelum uji hipotesis adalah uji normalitas, uji linieritas dan uji multikolinearitas.
�������� Populasi adalah siswa-siswi
SMP Negeri 1 Semanu Kabupaten
Gunungkidul tahun pelajaran 2019/2020. Sampel penelitian adalah siswa kelas VI A, VIII C dan IX A
yang berjumlah 95 siswa.
Teknik pengambilan sampel penelitian dengan menggunakan teknik cluster random
sampling.
Hasil dan Pembahasan
A.
Uji Prasyarat�
1.
Uji Normalitas
Uji normalitas bertujuan untuk melihat normal atau
tidaknya distribusi sebaran skor subjek pada variabel school well-being,
komunikasi interpersonal guru, student engagement dan efikasi diri. Uji
normalitas dilakukan dengan menggunakan one sample-kolmogorov-smirnov Test.
Hasil analisis menunjukkan bahwa ketiga variabel memiliki sebaran yang normal
yang dapat dilihat� tabel 1 dibawah ini.
Tabel 1
Hasil Uji Normalitas Data
|
Variabel |
Kolmogrov-Smimov Z |
Sig (p) |
Keterangan |
|
School Well-Being |
0,979 |
0,203 |
Normal |
|
Komunikasi
Interpersonal guru |
0,804 |
0,538 |
Normal |
|
Student-Engagement Efikasi Diri |
1,049 0,841 |
0,221 0,478 |
Normal Normal |
2.
Uji Linieritas�
Hasil uji linearitas di peroleh dilihat nilai p-linierity
masing-masing sebesar 0,000 (p<0,05) dan p-deviation masing-masing sebesar
0,134, 0,109 dan 0,0,122 (p>0,05), maka dapat disimpulkan bahwa antar
masing-masing variabel bebas dengan variabel tergantung memiliki hubungan yang
linier. Hasil uji linearitas yang dapat dilihat pada tabel 2 dibawah ini.
Tabel 2
Uji
linieritas
|
Variabel
|
Linierity |
Dev.
From linierity |
Ket.
|
||
|
F |
Sig
(p) |
F |
Sig
(p) |
|
|
|
School
well-being terhadap komunikasi
interpersonal guru |
49,162 |
0.000 |
1,413 |
0,134 |
Linier |
|
School
well-being terhadap student engagement |
39,145 |
0,000 |
1,465 |
0,109 |
Linier |
|
School
well-being terhadap efikasi
diri |
70,213 |
0,000 |
1,489 |
0,122 |
Linier |
3.
Uji multikolinearitas
Uji multikolinearitas bertujuan untuk memastikan bahwa
tidak ada tejadinya hubungan multikolinear antara ketiga variabel bebas.
Berdasarkan tabel 3 di bawah ini menunjukkan kedua variabel masing-masing
memiliki nilai tolerance = 0,752, 0,709 dan 0,713 (>0,1) dan nilai VIF =
1,330, 1,410 dan 1,403 (<10), sehingga dapat disimpulkan bahwa antar kedua
variabel bebas tidak terjadi multikolinieritas.
Tabel 3
Hasil Uji Multikolinieritas
|
Model |
Collinearity Statistics |
Keterangan |
|
|
Tolerance |
VIF |
|
|
|
Komunikasi Interpersonal Guru |
0,752 |
1,330 |
Tidak terjadi multikolineritas |
|
Student Engagement |
0,709 |
1,410 |
Tidak terjadi multikolineritas |
|
Efikasi Diri |
0,713 |
1,403 |
Tidak terjadi multikolineritas |
Tabel 4
Hasil analisis regresi secara
bersama-sama
|
Variabel |
F |
Sig |
|
School well-being |
35,880 |
0,000 |
|
Komunikasi
Interpersonal Guru |
|
|
|
Student
engagement Efikasi Diri |
|
|
Berdasarkan tabel 4 dapat dilihat
bahwa nilai F=35,880dan taraf signifikan sebesar p = 0,000 (p <0,01) yang
berarti bahwa terdapat pengaruh�
yang� sangat signifikan komunikasi
interpersonal guru, student engagement dan efikasi diri terhadap school
well-being. Hasil analisis secara umum hipotesis mayor yang diajukan teruji
kebenarannya, bahwa terdapat pengaruh yang sangat signifikan antara komunikasi
interpersonal guru, student engagement dan efikasi diriterhadap school
well-being. Besar sumbangan variabel independen terhadap variabel dependen
dapat diketahui dari hasil determinasi regresi pada tabel� berikut:
Tabel� 5
Hasil
uji analisis koefisien determinasi
|
Model |
R |
R square |
Adjusted r square |
Std. Eror of the estimate |
|
Analisis koefisien
determinasi |
0,736 |
0,527 |
4,1076 |
Berdasarkan tabel 5 diketahui R
square sebesar 0,542 dipersentasekan�
(0,542 x 100 %= 54,2 %) artinya komunikasi interpersonal guru, student
engagement dan efikasi diri secara bersama-sama berpengaruh terhadap school
well-being sebesar 54,2 % sedangkan sisanya 45,8% dipengaruhi faktor� lain yang tidak diteliti dalam penelitian
ini.
Tabel 6
Hasil uji hipotesis variabel
komunikasi interpersonal guru dengan school well-being
|
Variabel |
Sig |
Beta |
Zero Order |
|
Komunikasi interpersonal guru |
0,000 |
0,309 |
0,569 |
Berdasarkan hasil analisis yang menguji pengaruh
komunikasi interpersonal guru terhadap school well-being diperoleh nilai beta
sebesar 0,309 dengan nilai signifikan 0,000. Hal ini berarti p < 0,01
(sangat signifikan), sehingga dapat disimpulkan terdapat pengaruh komunikasi
interpersonal guru yang sangat signifikan terhadap school well-being siswa.
Sumbangan efektif (SE) komunikasi interpersonal guru terhadap school well
-being siswa sebesar 17,6%, diperoleh dari:SE(X1) % =BETAx RXY x 100% =0.309 x
0.569 x 100%� =17.6%. Berdasarkan hal
tersebut komunikasi interpersonal guru merupakan variabel yang berpengaruh
secara sangat signifikan terhadap school well-being pada siswa SMP Negeri 1
Semanu.
Tabel 7
Hasil
uji hipotesis variabel student engagementdengan school well-being
|
Variabel |
Sig |
Beta |
Zero Order |
|
Student engagement |
0,027 |
0,189 |
0,522 |
Berdasarkan hasil analisis yang menguji pengaruh student
engagement terhadap school well-being diperoleh nilai beta sebesar 0, 189 dengan
nilai signifikan 0,027. Oleh karena p < 0,05 (signifikan), sehingga dapat
disimpulkan terdapat pengaruh student engagement terhadap school well-being
siswa. Sumbangan efektif student engagement terhadap school well-being adalah
sebesar 9,9% diperoleh dari: SE(X2) % =BETA x RXYx100%=0.189 x 0.522 x 100% = 9.9%. Berdasarkan hal tersebut student
engagement merupakan variabel yang berpengaruh secara signifikan terhadap
school well-being pada siswa SMP Negeri 1 Semanu.
Tabel 8
Hasil
uji hipotesis variabel efikasi diridengan school well-being
|
Variabel |
Sig |
Beta |
Zero Order |
|
Efikasi diri |
0,000 |
0,418 |
0,640 |
Berdasarkan hasil analisis yang menguji pengaruh efikasi
diri terhadap school well-being diperoleh nilai beta sebesar 0,418 dengan nilai
signifikan 0,000. Hal ini berarti p < 0,01 (sangat signifikan), sehingga
dapat disimpulkan terdapat pengaruh efikasi diri yang sangat signifikan
terhadap school well-being siswa. Sumbangan efektif (SE) efikasi diri terhadap
school well-being adalah sebesar 26,8% diperoleh dari:SE(X3) % = BETA x RXY x
100% �= 0.418 x 0.640x 100%= 26.8%.
Berdasarkan hal tersebut efikasi diri merupakan variabel yang berpengaruh
secara sangat signifikan terhadap school well-being pada siswa SMP Negeri 1
Semanu.
Hasil analisis regresi terhadap kedua variabel bebas yaitu efikasi diri dan
optimisme terhadap stres akademik mahasiswa didapatkan bahwa efikasi diri dan
optimisme secara simultan berperan terhadap stress akademik mahasiswa.
Berdasarkan hasil tersebut menunjukkan bahwa hipotesis pertama diterima
sehingga variabel school well-being dapat diprediksi berdasarkan komunikasi
interpersonal guru, student engagement dan efikasi diri. Secara bersama-sama
ketiga variabel bebas memiliki nilai R square sebesar 0,542dengan sumbangan
sebesar 54,2% terhadap school well-being�
dan 45,8 % sisanya dapat dipengaruhi oleh variabel lain.Pada hipotesis
kedua yang diajukan Berdasarkan hasil uji analisis regresi diperoleh pengaruh
komunikasi interpersonal guru terhadap school well-being siswa adalah sebesar
0,176 atau 17,6% dengan nilai signifikan 0,000. Oleh karena itu p < 0,01
(sangat signifikan). Hasil ini menunjukkan bahwa terdapat pengaruh komunikasi
interpersonal guru yang sangat signifikan terhadap school well-being. Hal ini berarti
semakin tinggi komunikasi interpersonal guru maka akan semakin tinggi pula
school well-being siswa SMPN 1 Semanu Gunungkidul.� Hal ini sesuai dengan hasil
penelitian-penelitian sebelumnya[29]. Pada hipotesis ketiga yang diajukan
berdasarkan hasil uji analisis regresi diperoleh pengaruh student engagement
terhadap school well-being adalah sebesar 0, 09865 atau 9,9% dengan nilai
signifikan 0,027. Oleh karena itu p< 0,05 (signifikan). Hasil ini
menunjukkan bahwa terdapat pengaruh student engagement terhadap school
well-being. Artinya penelitian ini membuktikan bahwa ada pengaruh signifikan
student engagement terhadap school well-being siswa SMP Negeri 1 Semanu
Gunungkidul. Pada hipotesis keempat yang diajukan berdasarkan hasil uji
analisis regresi diperoleh pengaruh efikasi diri terhadap school well-being
adalah sebesar 0,268 atau 26,8% dengan nilai signifikan 0,000. Oleh karena itu
p < 0,01 (sangat signifikan). Hasil ini menunjukkan bahwa terdapat pengaruh
efikasi diri yang sangat signifikan terhadap school well-being. Artinya, penelitian
ini membuktikan bahwa ada pengaruh yang sangat signifikan efikasi diri terhadap
school well-being siswa SMP Negeri 1 Semanu Gunungkidul. Semakin tinggi efikasi
diri siswa maka akan semakin tinggi pula school well-being siswa tersebut.
Kesimpulan
Berdasarkan hasil analisis data penelitian
maka kesimpulan yang dapat diambil dalam penelitian ini antara lain yaitu: 1)
Ada pengaruhyang sangat signifikan antara komunikasi interpersonal guru,
student engagement dan efikasi diri secara bersama-sama terhadap school
well-being pada siswa SMP Negeri 1 Semanu. 2) Ada pengaruhkomunikasi
interpersonal guru yang sangat signifikan terhadap school well-being pada siswa
SMP Negeri 1 Semanu. 3). ada pengaruh student engagement yang signifikan� terhadap school well-beingpada siswa SMP
Negeri 1 Semanu. 4). Ada pengaruh efikasi diri yang sangat signifikan terhadap
school well-being pada siswa SMP Negeri 1 Semanu,
BIBLIOGRAFI
Aisah, D.
N. (2018). Hubungan antara pemenuhan Basic Psychological Needs dengan keterlibatan
siswa dalam belajar pada sistem pembelajaran Full Day School. UIN Sunan
Ampel Surabaya.
Alang, S.
(2018). Komunikasi interpersonal guru dalam meningkatkan keaktifan belajar
siswa kelas X jurusan teknik sepeda motor di smk negeri 1 Parigi. Kinesik, 5(1),
1�11.
Alsa, A.,
Haq, A. H. B., Siregar, A. J., Kusumaningrum, F. A., Utami, H. D., &
Bachria, R. D. (2015). Menyusun Model yang Efisien dan Efektif dari
Dimensi-Dimensi School Wellbeing untuk Memprediksi Prestasi Belajar Matematika.
Jurnal Psikologi, 42(1), 15�33.
Bandura, A.
(1997). Self-efficacy: The exercise of control. New York: W. H. Freeman and
Company.
Bandura,
Albert. (1995). Self-efficacy in changing societies. Cambridge university
press.
Devito, J.
A. (2016). The Interpersonal communication book- 14th Edition. New York:
Pearson Education Inc.
Duckett,
P., Kagan, C., & Sixsmith, J. (2010). Consultation and participation with
children in healthy schools: Choice, conflict and context. American Journal
of Community Psychology, 46(1�2), 167�178.
Firmanila,
F., & Sawitri, D. R. (2015). Hubungan Antara Efikasi Diri Akademik Dengan
School Well-being Pada Siswa SMP Hang Tuah 1 Jakarta. Jurnal Empati, 4(2),
214�218.
Fredricks,
J. A., Blumenfeld, P. C., & Paris, A. H. (2004). School engagement:
Potential of the concept, state of the evidence. Review of Educational
Research, 74(1), 59�109.
Gunuc, S.
(2014). The relationships between student engagement and their academic
achievement. International Journal on New Trends in Education and Their
Implications, 5(4), 216�231.
Hongwidjojo,
M. P., Monika, M., & Wijaya, E. (2018). Relation of student-teacher trust
with school well-being to high school students. Psikodimensia, 17(2),
162�167.
Huebner, E.
S., & McCullough, G. (2000). Correlates of school satisfaction among
adolescents. The Journal of Educational Research, 93(5), 331�335.
Hurlock, E.
B., Istiwidayanti, Sijabat, R. M., & Soedjarwo. (2002). Psikologi
perkembangan: Suatu pendekatan sepanjang rentang kehidupan. Erlangga, Jakarta.
Karyani,
U., Prihartanti, N., Dinar, W., Lestari, R., Hertinjung, W. S.,
Prasetyaningrum, J., Partini, D. (2015). The dimensions of student
well-being. Seminar PSikologi & Kemanusiaan, 413�419.
Khatimah,
H. (2015). Gambaran school well-being pada peserta didik program kelas
akselerasi di SMA Negeri 8 Yogyakarta. Psikopedagogia, 4(1), 20�30.
Kraag, G.,
Zeegers, M. P., Kok, G., Hosman, C., & Abu-Saad, H. H. (2006). School
programs targeting stress management in children and adolescents: A
meta-analysis. Journal of School Psychology, 44(6), 449�472.
Nanda, A.,
& Widodo, P. B. (2015). Efikasi diri ditinjau dari school well-being pada
siswa sekolah menengah kejuruan di Semarang. Empati, 4(4), 90�95.
O�Brien, M.
(2008). Well-being and post-primary schooling. Dublin: NCCA.
Papalia, D.
E., Old, S. W., & Feldman, R. D. (2008). Human development (psikologi
perkembangan). Jakarta: Kencana.
Rakhmat, J.
(2009). Psikologi komunikasi. Bandung: Remaja Rosda Karya.
Reeve, J.
(2005). How teachers can promote students� autonomy during instruction: Lessons
from a decade of research. Iowa Educational Research and Evaluation
Association.
Rianatha,
L., & Sawitri, D. R. (2015). Hubungan antara komunikasi interpersonal
guru-siswa dengan self-regulated learning pada siswa SMAN 9 Semarang. Jurnal
Empati, 4(2), 209�213.
Roffey, S.
(2012). Pupil wellbeing�Teacher wellbeing: Two sides of the same coin? Educational
and Child Psychology, 29(4), 8.
Sabo, D. J.
(1995). Organizational climate of middle schools and the quality of student life.
Journal of Research & Development in Education.
Sarwono, S.
W. (2012). Psikologi remaja. Jakarta: P.T. Raja Grafindo Persada.
Setyawan,
I., & Dewi, K. S. (2015). Kesejahteraan sekolah ditinjau dari orientasi
belajar mencari makna dan kemampuan empati siswa sekolah menengah atas. Jurnal
Psikologi Undip, 14(1), 9�20.
Tian, L.,
Tian, Q., & Huebner, E. S. (2016). School-related social support and
adolescents� school-related subjective well-being: The mediating role of basic
psychological needs satisfaction at school. Social Indicators Research, 128(1),
105�129.
Van
Petegem, K., Creemers, B. P. M., Rossel, Y., & Aelterman, A. (2005). Relationships
between teacher characteristics, interpersonal teacher behaviour and teacher
wellbeing. The Journal of Classroom Interaction, 34�43.
