|
Jurnal
Syntax Transformation |
Vol. 1
No. 3 Mei 2020 |
|
p-ISSN :
2721-3854 e-ISSN : 2721-2769 |
Sosial
Sains |
STRATEGI
PT. GOJEK DALAM MENGEMBANGKAN TRANSPORTASI PUBLIK BERBASIS ONLINE DI INDONESIA
Iman Abdurrasyid Husain, Paijatul Rohmah dan Tukiman
Universitas
Pembangunan Nasional Veteran Jawa Timur
Email:� [email protected],
[email protected]
dan [email protected] �
|
INFO ARTIKEL |
ABSTRAK |
|
Diterima 21 April 2020 Diterima dalam bentuk revisi 15 Mei 2020 Diterima dalam bentuk revisi 20 Mei 2020 |
Kemajuan teknologi
yang sangatlah cepat hingga menyentuh pada ranah industri transportasi di
Indonesia. Salah satu transpotasi publik yang sudah memanfaatkan dengan
kemajuan teknologi adalah PT. Gojek Indonesia yaitu transportasi publik
berbasis online beroda dua. Transpotasi ini menyediakan jasa antar-jemput dan
juga pesan-antar. Dengan� kemunculan
transportasi publik berbasisi online banyak penolakan yang dilakukan oleh
transportasi konvensional, selain itu juga adanya pro dan kontro dengan
kemunculan transportasi berbasisi online ini. Penelitian ini bertujuan untuk
mengetahui cara-cara yang dilakukan oleh PT. Gojek Indonesia dalam
mengembangkan transportasi publik berbasis online di Indonesia. Penelitian
ini berjenis penelitian pustaka dan kajian literatur (Library Research Or
Literatur Riview) yaitu serangkaian penelitian yang berkenaan dengan
metode pengumpulan data pustaka yang digali melalui jurnal ilmiah, buku, web,
dll. Fokus penelitian ini ditekankan pada kepustakaan (Library Research Or
Literatur Riview). Metode yang digunakan dalam penelitian adalah analisis
SWOT dengan menganalisis lingkungan internal
(IFAS) meliputi kekuatan
dan kelemahan sedangkan,� lingkungan eksternal (EFAS) meliputi peluang dan ancaman� yang kemudian di implementasikan ke dalam bentuk matrik SWOT. |
|
Kata kunci: Transpotasi
Publik Berbasis Online, Strategi Pengembangan, Analisis SWOT. |
Pendahuluan
Pada masa saat
ini semua pelayanan publik serba memanfaatkan teknologi. Dengan adanya perkembangan teknologi dan informasi yang sudah berkembang sangat pesat hingga menyentuh
pada industri transportasi
di Indonesia. Transportasi merupakan
alat yang membantu manusia dalam hal
yang terkait dengan mobilisasi barang maupun orang dalam kehidupan (Pramyastiwi, 2013). Angkutan publik
di Indonesia yang dahulunya adalah
offline, kemudian berganti menjadi online itu semua di karenakan perkembangan teknologi yang sudah masuk pada ranah transpotasi di Indonesia.
Salah satu perusahaan yang bergerak dengan memanfaatkan perkembangan teknologi dan informasi adalah PT. Gojek Indonesia.
PT. Gojek
bergerak pada bidang jasa transportasi publik berbasis online dengan kendaraan beroda 2 (dua) atau sepeda motor. Ojek online pertama kali dicetuskan oleh Nadiem Makarim pada tahun 2011, saat itu ojek online sudah dirintis hanya saja dapat dilakukan
melalui telfon (call)
yang kemudian layanan itu melesat sejak
peluncuran aplikasinya di ponsel Android dan iOS pada awal tahun 2015 (Kristo, 2017). Melalui telfon
pusat, gojek dapat menghubungkan pelanggan dengan pengemudi gojek baik untuk pengiriman
barang maupun untuk jasa transportasi.
Strategi ini cukup berhasil dalam menggaet pelanggan ojek di
Indonesia, dimana gojek menawarkan layanan dalam pengiriman barang baik itu
berupa dokumen atau jasa transportasi
hanya dalam waktu yang sebentar saja, sedangkan saat itu dalam
proses pengiriman barang
paling cepat adalah satu (1) hari.
Kemunculan transportasi publik
berbasis online atau ojek
online bertujuan untuk menghubungkan karena melihat para pengemudi ojek yang berada di pangkalan� hanya
menghabiskan waktu mereka seharian dan belum tentu mendapatkan
pelanggan atau penumpang ojek dalam setiap harinya. Namun dengan kemunculan
transportasi publik berbasis online di Indonesia juga menimbulkan
pro dan kontra.
Bagi yang kontra, dengan
kemunculan transportasi publik berbasis online mengakibatkan para supir angkutan umum resah,
karena masyarakat akan lebih memilih
transportasi online yang cepat
dan praktis dari pada transportasi konvensional, hal ini mengakibatkan
penghasilan para supir angkutan umum atau
transportasi konvensional menjadi berkurang dikarenakan peminat atau penumpangnya menjadi lebih sedikit.
Dari penolakan adanya transportasi online yang berujung
dengan adanya aksi protes, penolakan,
penghadangan dan puncaknya adalah demo besar-besaran yang menolak kehadiran Gojek, Uber dan Grab yang dilakukan
oleh para pengemudi transportasi
konvensional (Azizah & Adawia, 2018). Selain itu
juga ada pertentangan dari Menteri Perhubungan pada Desember 2015, Ignatius Jonan mengeluarkan
larangan operasi bagi kendaraan bermotor bukan angkutan umum yang berbasis aplikasi Online karena perusahaan-perusahaan tersebut tidak memenuhi ketentuan regulasi angkutan umum (Prihatin, 2016).
Larangan beroperasinya transportasi
berbasis online tertuang dalam Surat Pemberitahuan Nomor UM.3012/1/21/Phb/2015 Yang Diteken oleh Menteri Perhubungan
Ignatius Jonan Pada Tanggal 9 November 2015. Melalui surat tersebut,
Menhub melarang beroperasinya alat transportasi berupa ojek ataupun taksi yang menggunakan aplikasi online. Argumentasinya pun melihat karena tidak tercantumnya
angkutan jenis ojek sebagai jenis transportasi
umum yang diatur dalam undang-unda ojek dengan penumpang ojek, hal itu dikarenakan
ng. Aturan itu mengacu pada UU No. 22 Tahun 2009
perihal LLAJ; PP No. 74tahun 2014 tentang
Angkutan Jalan, dan Keputusan Menteri Perhubungan No. KM 35 Tahun 2003 tentang Penyelenggaraan Angkutan Orang Di Jalan Dengan Kendaraan Umum, serta adanya Keputusan Menteri Perhubungan No. KM 69 Tahun 1993 dengan isi Penyelenggaraan
Angkutan Barang (Widyanisa, 2017).
Niat Menhub Jonan dalam
menegakkan aturan ternyata mendapat banyak protes dan penolakkan dari masyarakat maupun dari presiden Jokowi. Setelah itu media sosial bergejolak, melihat hal tersebut terjadi,
Menhub memutuskan untuk mencabut larangan pada surat pemberitahuan tersebut. Apalagi Presiden Joko Widodo sampai ikut serta
mengurusi secara langsung dan menyatakan bahwa alat transportasi
yang berbasis online agar tidak
dilarang oleh pihak manapun dan siapapun. Karena transportasi online tidak memiliki payung hukum, di Indonesia sendiri banyak para pengusaha alat transportasi yang menolak dengan adanya transportasi publik berbasis online karena dianggap telah mengusik kenyaman, ketentraman, dan kesejahteraan para pengemudi taksi konvensinal dan juga
transportasi umum.��
Tak kalah dari
yang menolak akan adanya transportasi publik berbasis online, banyak juga masyarakat yang
sangat antusias dalam mendukung transportasi publik berbasis online dikarenakan masyarakat tersebut sangat dimudahkan dengan adanya transportasi
online yang hanya dapat dipesan melalui smartphone saja dan akan tiba
sesuai dengan lokasi yang ditentukan oleh sang pemesan, pembayaran dalam transportasi publik berbasis online ini sangat mudah bisa dengan menggunakan
gopay yang diisi melalui ATM maupun Mobile Banking
dan juga bisa pembayaran secara tunai. Masyarakat juga mengetahui estimasi jumlah biaya yang dikeluarkan untuk jarak yang ditempuh. Selain itu juga kehadiran gojek sangat membantu dalam bidang perekonomian masyarakat dan membuka lapangan pekerjaan yang luas untuk masyarakat
(Alsandi, 1999). Jadi dengan munculnya
transportasi publik berbasis online ini dapat menciptakan lapangan pekerjaan baru bagi masyarakat
Indonesia. Setiap kalangan bisa mendaftar untuk menjadi mitra
driver di PT. Gojek baik itu untuk perempuan
maupun laki-laki. Untuk aplikasi gojek transportasi publik berbasis online ini dapat di unduh
di PlayStore pada Android serta
AppStore untuk iOS.
Transportasi publik berbasis
online atau gojek menyediakan jasa dengan jumlah 18 layanan, yang diantaranya ada seperti Go-Send: Layanan transportasi pengiriman barang, Go-Ride: Layanan transportasi penumpang dengan menggunakan sepeda motor,
Go-Food: Layanan pemesanan
dan antar makanan, Go-Mart:
Layanan berbelanja, Go-BlueBird: Layanan transportasi dengan taksi reguler yang bekerja sama dengan
Pt. Blue Bird Group,� Go-Box, Go-Clean,
Go-Glam, Go-Massage, Go-Nearby, Go-Tix, Go-Car, Go-Auto, Go-Med, Go-Pulsa, Go-Shop, Go-Bills, Go-Pay, Go-Deals (Handayani, 2019). Pelayanan yang ditawarkan oleh transportasi online
gojek begitu banyak sehingga memudahkan masyarakat dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari maupun untuk mobilitas
masyarakat. Namun disisi lain dalam pelayanan gojek yang paling sering dipesan adalah antar-jemput dan pesan-antar makanan.
PT Gojek
Indonesia kini sudah memiliki Lebih dari 200 ribu pengemudi
(driver)� yang tersebar
di 15 kota dan nantinya akan terus bertambah,
beroperasi di sepuluh kota-kota besar, seperti Jakarta, Bandung, Bali, Surabaya, Makasar, Yogyakarta, Medan, Palembang, Semarang, Balikpapan,
Solo, Batam, Malang, Manado, Samarinda
dan telah menuai prestasi sebagai Juara 1 dalam kompetisi
bisnis Global Entrepreneurship Program Indonesia
(GEPI) di Bali (Yuliantari, 2017). PT. Gojek merupakan
salah satu perusahaan jasa transportasi di Indonesia
yang saat ini telah mengalami perkembangan menjadi layanan On demand Service berbasis
teknologi Mobile Plattform
online yang menyediakan berbagai
layanan mulai dari transportasi, logistik,� pembayaran, layanan antar makanan dan berbagai layanan On Demand lainnya (Weking & Ndala, 2018). On Demand Service adalah sebuah pelayanan yang didasarkan atas sesuai dengan pemintaan
dan pesanan dari pelanggan atau konsumen.
Dengan latar belakang
yang telah di paparkan di atas penulis mengambil
penelitian bagaimana
strategi PT. Gojek Indonesia dalam
mengembangkan transportasi publik berbasis online di
Indonesia. Salah satu cara
yang ditempuh oleh PT. Gojek
Indonesia dalam mengembangkan
transportasi publik berbasis online di Indonesia yaitu
dengan menyiptakan aplikasi sebagai pendukung dalam proses pemesanan yang tidak hanya melalui telfon
(call) dan SMS, selain itu
juga memperbaiki kualitas pelayanannya untuk memuaskan konsumen atau masyarakat.
Dengan demikian,� salah satu cara yang bisa digunakan oleh perusahaan untuk mengembangkan transportasi publik dengan sistem
online di Indonesia adalah dengan
memakai metode analisis SWOT. Analisis SWOT digunakan untuk mengindentifikasi berbagai
strategi PT. Gojek Indonesia dalam
mengembangkan trasnportasi
online di Indonesia, secara sistematis
agar dapat merumuskan
strategi suatu perusahaan. Analisis SWOT memiliki kepanjangan yaitu lingkungan internal� Strengths (kekuatan)
dan Weaknesses (kelemahan) serta
lingkungan eksternal Opportunities
(peluang) dan threats (ancaman)
yang dihadapi dunia bisnis.
Analisis SWOT membandingkan
antara Faktor Eksternal peluang (Opportunities)
dan ancaman (threats) dengan
Faktor Internal Kekuatan (Strengths)
dan Kelemahan (Weaknesses) (Rangkuti, 1998)
Metode Penelitian
Jenis penelitian ini
menggunakan yaitu penelitian kepustakaan (Library
Research) yaitu serangkaian
penelitian yang berkenaan dengan metode pengumpulan
data pustaka, atau penelitian yang obyek penelitiannya digali melalui dari beragam
informasi kepustakaan (buku, ensiklopedi, web, jurnal ilmiah, koran, majalah, berita, maupun dokumen) yang ada. Penelitian kepustakaan atau kajian literatur
(literature review, literature research), merupakan
penelitian yang mengkaji atau meninjau secara
kritis pengetahuan, gagasan, atau temuan
yang terdapat didalam literatur yang berorientasi pada akademik (academic-oriented literature). Focus penelitian kepustakaan adalah menemukan berbagai teori, hukum, dalil, prinsip,
atau gagasan yang mendukung untuk menganalisis dan memecahkan permasalah yang peneliti rumuskan. Sifat dari penelitian ini adalah analisis deskriptif, yakni penguraian secara teratur data yang diperoleh, kemudian diberikan pemahaman dan penjelasan agar dapat di pahami dengan baik oleh pembaca.
Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan
filosofis dan pedagogis. Pendekatan filosofis merupakan pendekatan yang dilakukan penalaran dan penyusunan suatu data secara sistematis berdasarkan sudut pandang tertentu. Sedangkan pendekatan pedagogis merupakan pendekatan untuk menjelaskan data secara lebih rinci dengan
menggunakan metode teori analisis SWOT yang terdiri dari Lingkungan
Internal, meliputi : Kekuatan (Strengths [S])
dan Kelemahan (Weaknesess
[W]) dan lingkungan eksternal,
meliputi; Peluang (Opportunities
[O]), dan Ancaman (Threats [T]) dalam proses pengembangan
strategi perusahaan PT. Gojek
Indonesia di Asia Tengggara.
Data yang digunakan
dalam penelitian ini adalah data sekunder. Data sekunder merupakan data yang diperoleh dari hasil yang telah dilakukan peneliti-penelitan terdahulu. Sumber data yang dimaksud berupa buku dan laporan ilmiah primer atau asli yang terdapat didalam artikel atau jurnal
(tercetak dan/atau no-cetak). Sedangkan pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode
dokumentasi. Metode dokumentasi yang dimaksud adalah metode pengumpulan
data dengan mencari data dari literatur yang terkait dengan apa yang dimaksudkan dalam rumusan masalah.
Analisis SWOT digunakan sebagai alat formulasi strategi dalam
mengembangkan suatu perusahaan bisnis dengan mengidentifikasi berbagai faktor
secara sistematis. Analisis SWOT mengkaji tentang lingkungan internal yang
terdiri dari: Kekuatan (Strengths [S]) dan Kelemahan (Weaknesess
[W]) , serta lingkungan eksternal yang terdiri: Peluang (Opportunities
[O]), dan Ancaman (Threats [T]) perusahaan secara keseluruhan. Proses
strategi pengembangan selalu berkaitan dengan cara, teknik, misi, dan tujuan
untuk mencapai perencanaan strategi dan kebijakan perusahaan. Dengan demikian
untuk mengetahuai strategi PT. Gojek dalam mengembangkan Transportasi publik
berbasis online di Indonesia dengan menggunakan analisis SWOT. Alat analisis
SWOT yang dipakai untuk menyusun faktor-faktor strategi pengembangan PT. Gojek
adalah Matriks SWOT.
A.
Lingkungan Internal
1.
Kekuatan (Strengths)�
a. Pelopor dalam transportasi publik berbasis online di
Indonesia.
b. Akses online 24 jam dimana pun dan kapanpun
c. Memudahkan masyarakat dalam mobilisasi baik jauh
maupun dekat
d. Pembayaran dapat dilakukan melalui gopay dan Tunai
e. Pengisian dapat dilakukan melalui drivernya dan juga
melalui ATM maupun mobile mbangking
f. Transportasi publik berbasis online yang praktis dan
efektif
g. Aplikasi dapat di unduh diberbagai smartphone
h. Tersebar diberbagai daerah di Indonesia
2.
Kelemahan (Weaknesses)
a. Harus menggunakan akun dalam proses pemesanan.
b. Pihak perusahaan memiliki ketergantungan yang sangat
tinggi terhadap pengemudi (driver).
c. Proses bisnis tidak dapat berjalan tanpa adanya
akses internet yang memadai.
d. Pada awal berdiri hanya bisa di akses melalui sms dan
telepon (call)
e. Kurang pahamnya pengemudi terhadap penggunaan
smartphome atau gadget.
B.
Lingkungan Eksternal
1.
Peluang (Opportunities)
a. Menciptakan lapangan pekerjaan
b. Dapat menambah perekonomian masyarakat.
c. Penghasilan yang didapat dalam menjadi driver transportasi
online cukup besar.
d. Peminat transportasi online lebih banyak dari pada
transportasi konvensional
e. Masyarakat mengetahui estimasi biaya yang harus
dikeluarkan pada saat perjalanan.
f. ���Mudah menggaet pihak-pihak
untuk melakukan relasi bisnis dengan perusahaan lainnya.
g. Akses pasar kepada generasi millennial terbuka lebar
2.
Ancaman (Threaths)
a. Pada awal berdiri di Indonesia mendapat penolakan
dari beberapa oknum.
b. Banyak pesaing dengan sejenis serupa.
c. Regulasi hukum belum matang pada saat itu dan bisa
berubah di kemudian hari.
d. Aksi demo yang dilakukan oleh transportasi
konvensional
e. Adanya driver yang nakal
f. ���Adanya beberapa ancaman dari
driver transportasi online
g. Beberapa masyarakat yang tidak paham akan penggunaan
aplikasi gojek pada transportasi online
Setelah melakukan analisis melalui SWOT untuk mengetahui faktor strategi
eksternal maupun internal PT. Gojek Indonesia. Langkah selanjutnya yaitu
implementasi pada bentuk Matriks SWOT untuk memperoleh strategi pengembangan
bagi keberlangsungan transpotasi publik berbasisi online di Indonesia. Seperti
Matriks SWOT tabel berikut :
Tabel. 1
Matriks SWOT PT. Gojek Indonesia
|
IFAS EFAS |
Strengths
(S) 1. Pelopor dalam transportasi publik berbasis online di Indonesia 2. Akses online 24 jam dimana pun dan kapanpun 3. Memudahkan masyarakat dalam mobilisasi baik jauh maupun dekat 4. Pembayaran dapat dilakukan melalui gopay dan Tunai 5. Pengisian dapat dilakukan melalui drivernya dan juga melalui ATM maupun
mobile m-bank king 6. Transportasi publik berbasis online yang praktis dan efektif 7. Aplikasi dapat di unduh diberbagai smartphone 8. Tersebar diberbagai daerah di Indonesia |
Weaknesses
(W) 1. Harus menggunakan akun dalam proses pemesanan 2. Pihak perusahaan memiliki ketergantungan yang sangat tinggi terhadap
pengemudi (driver). 3. Proses bisnis tidak dapat berjalan tanpa adanya akses internet yang
memadai. 4. Pada awal berdiri hanya bisa di akses melalui sms dan telepon (call). 5. Kurang pahamnya pengemudi terhadap penggunaan smartphome atau gadget. |
|
Opportunies �(O) 1. Menciptakan lapangan pekerjaan 2. Dapat menambah Opportunies �(O) 3. Menciptakan lapangan pekerjaan perekonomian masyarakat 4. Penghasilan yang didapat dalam menjadi driver transportasi online cukup
besar 5. Peminat transportasi online lebih banyak dari pada transportasi
konvensional. 6. Masyarakat mengetahui estimasi biaya yang harus dikeluarkan pada saat
perjalanan. 7. Mudah menggaet pihak-pihak untuk melakukan relasi bisnis dengan
perusahaan lainnya. 8. Akses pasar kepada generasi millennial terbuka lebar. 9. Melakukan Promosi transportasi publik berbasisi online untuk
meningkatkan peminatnya |
Strategi (SO) 1.
Melakukan promosi-promosi (S1, S2, O4, O7, O8). 2.
Memperbanyak pegawai driver transportasi online (ojek
online) (S8, O1, O6). 3.
Biaya transportasi murah dan efektif (S3, S4, S5, S6,
S7, O5) |
Strategi (WO) 1.
Meningkatkan koneksi internet pada server (W3, O4) 2.
Menciptakan aplikasi untuk menunjang transportasi
online (W1, W2, W4, W5, O2, O7). |
|
Treaths (T) 1. Pada awal berdiri di Indonesia mendapat penolakan dari beberapa oknum. 2. Banyak pesaing dengan sejenis serupa. 3. Regulasi hukum belum matang pada saat itu dan bisa berubah di kemudian
hari. 4. Aksi demo yang dilakukan oleh transportasi konvensional. 5. Adanya driver yang nakal . 6. Adanya beberapa ancaman dari driver transportasi online 7. Beberapa masyarakat yang tidak paham akan penggunaan aplikasi gojek
pada transportasi online |
Strategi (ST) 1.
Memperbanyak relasi untuk bekerja sama dengan angkutan
publik atau transportassi konvensional lainnya (S1, S2, S8, T4) 2.
Menjamin keselamatan penumpang dan pengemudi (S4, S5,
T5, T6, T7) 3.
Menetapkan aturan bagi pengemudi (S3, ,T6) |
Strategi (WT) 1.
Bekerja sama dengan badan hukum (W1, T3, T5, T6) 2.
Meningkatkan hubungan baik dengan pengemudi
transportasi konvensional (W2, W5, T1, T4, T5) |
Setalah melakukan analisis dan implementasi pada Matriks SWOT maka selanjutnya
yang dilakukan dengan mempertimbangkan kombinasi set faktor strategi yaitu
kekuatan dan kelamahan serta peluang dengan ancaman dengan itu dari empat set
alternatif tersebut strategi� yang
diambil oleh PT. Gojek Indonesia dalam mengembangakan transportasi publik
berbasis online sebagai berikut :
1. Strenghts-Oppurtunies (SO) merupakan strategi yang
dibuat berdasarkan jalam pikiran perusahaan, yaitu dengan memanfaatkan kekuatan
untuk merebut dan memanfaatkan peluang sebesar-besarnya.
a. Melakukan promosi � promosi� (S1, S2, O4, O7, O8)
PT. Gojek Indonesia merupakan pelopor pertama transportasi publik
berbasis online dengan kendaraan berroda 2 (dua) yang ada di Indonesia yang
menawarkan jasa pesan-antar dan antar-jemput. Masyarakat saat itu masih belum
ada yang mengetahui akan adanya transportasi online , oleh sebab itu untuk
memperkenalkan brandnya tersebut dengan melakukan promosi di berbagai pihak
baik itu melalui iklan dan mulut kemulut antar masyarakat.
b. Memperbanyak pegawai transportasi online (Ojek
Online) (S8, O1, O6)
Pada awal pendirian transportasi online ini masih sedikit yang menjadi
driver tersebut. Dengan hal itu PT. Gojek Indonesia membuka seluas-luasnya
pekerja yang ingin mendaftarkan diri menjadi pegawai driver dengan syarat si
driver memiliki Sim C, selain itu juga dengan banyak pegawai maka transportasi
berbasis online akan terus berkembang di Indonesia.
c. Biaya transportasi murah dan efektif (S3, S4, S5,
S6, S7, O5)
PT. Gojek Indonesia menawarkan biaya dalam jasa pelayanannya relatif
murah untuk semua kalangan baik itu pelajar, mahasiswa, karyawan maupun
masyarakat untuk menarik peminat konsumen. Selain murah dalam segi biaya,
transportasi publik berbasis online ini juga lebih efektif dari pada dengan
transportasi konvensional karena pemesan hanya tinggal menentukan lokasi
jemputan yang kemudian� driver datang
untuk mengangkut penumpang atau pemesan.
2. Strategi Weaknesses-Opportunies �(WO)
Strategi
ini diterapkan dengan berdasarkan pemanfaatan peluang yang ada dengan cara
menimalkan kelemahan yang ada.
a. Meningkatkan koneksi internat pada server (W3, O4)
Dalam meminimalisir terjadinya error pada jaringan pemesanan antara
pengemudi driver dengan perusahaan kemudian driver dengan konsumen, maka PT.
Gojek Indonesia meningkatkan koneksi jaringan untuk memperlancar komunikasi
antara satu sama lain sehingga tidak adanya terjadi bug pada saat komunikasi.
b. Menciptakan aplikasi untuk menunjang transportasi
online (W1, W2, W4, W5, O2, O7)
PT. Gojek Indonesia pada awal berdiri pemesanan hanya bisa dilakukan
melalui sms dan juga telepon (Call), selain itu etimasi biaya yang tidak
diketahui oleh pemesan atau konsumen, maka dengan hal tersebut PT. Gojek
Indonesia berkerja sama dengan anak bangsa untuk menciptakan aplikasi sebagai
penunjangan transportasi online untuk memudahkan konsumen dalam pemesanan dan
bertransaksi.
3. Strategi Strengths � Threats� (ST)
Strategi
ini digunakan dengan menggunakan kekuatan yang dimiliki perusahaan untuk
mengatasi ancaman yang ada disekitar.
a. Memperbanyak relasi untuk bekerja sama dengan
angkutan publik atau transportassi konvensional lainnya (S1, S2, S8, T4)
Dengan itu PT. Gojek Indonesia untuk mendapatkan dukungan dari berbagai
mengenai transportasi online karena sebelumnya kemunculan transportasi online
memicukan aksi demo yang dilakukan oleh transportasi konvensional, maka dengan
itu PT. Gojek harus melakukan relasi atau bekerja sama dengan transportasi
konvensional salah satunya dengan bekerja sama dengan taksi atau Bluebeard.
b. Menjamin keselamatan penumpang dan pengemudi (S4,
S5, T5, T6, T7)
PT. Gojek Indonesia untuk melindungi konsumen dari driver ojek online
atau transportasi online ini menerapkan sistem GPS untuk dapat melacak
keberadaan pengemudi driver, selain itu juga terdapat tombol darurat pada
aplikasi dan PT. Gojek kerja sama dengan jasaraharja dalam perihal asurasi jika
terjadi sesuai terhadap konsumen maupun driver ojek, maka demikian dapat
dipastikan konsumen yang menggunakan jasa transportasi online mendapat
pelayanan kenyamana pada saat menggunakan transportasi online atau ojek online.
c. Menetapkan aturan bagi pengemudi (S3, T6)
Untuk menetapkan aturan bagi pengemudi agar terhindar dari kejahatan yang
tidak di inginkan oleh konsumen, maka PT. Gojek Indonesia memberikan kesempatan
pada driver gojek dalam melakukan tiga (3) kali kesalahan yang tidak terlalu
berat seperti driver yang kurang ramah dan driver yang suka ngebut.� selebihnya dari itu atau kesalahan yang berat
seperti kriminal yang dilakukan driver, maka PT. Gojek akan memutuskan kontrak
kerja dengan driver dan menyerahkan permasalahan masalah ke polisi untuk
ditindaklanjuti.
4. Startegi Weaknesses � Threaths (WT)
Strategi
ini didasarkan pada kegiatan yang bersifat defensif dan berusaha meminimalkan
kelemahan yang ada serta menghindari ancaman.
a. Bekerja sama dengan badan hukum (W1, T3, T5, T6)
PT. Gojek Indonesia melakukan perlindungan hukum terhadap driver bukanlah
yang dimana perlindungan hukum bagi pekerja seperti halnya perjanjian kerja,
melainkan perlindungan sebagai pihak dalam sebuah perjanjian kemitraan dan driver
juga merasa kenyamanan dari supir-supir transportasi konvensional yang merasa
tersinggirkan dengan kemunculan transportasi online atau ojek online.
b. Meningkatkan hubungan baik dengan pengemudi
transportasi konvensional (W2, W5, T1, T4, T5)
Peminat gojek yang lebih banyak dari transportasi konvensional
mengakibatkan iri dalam proses pemilihan transportasi untuk menetralisir
keadaan itu PT. Gojek Indonesia menekankan kepada driver gojek untuk saling
bertegur sapa agar tidak adanya iri dalam hal apapun.
Kesimpulan
Kesimpulan
yang bisa ditarik dari penelitian ini adalah PT Gojek Indonesia yang bergerak
di bidang transportasi publik dengan sistem online didirikan oleh Nadiem
Makarim sebagai CEO pada tahun 2011 dengan sistem pertama kali dibuat melalui
telpon (call) dengan maksud menjadi alat transportasi publik yang dapat
memudahkan masyarakat dalam melakukan kegiatan sehari-hari. Dalam hal ini PT
Gojek Indonesia mengalami pengembangan organisasi yang menjadikan PT Gojek
Indonesia ini menjadi layanan service on demand berbasis sistem online yang
artinya adalah PT Gojek Indonesia hanya dapat diakses dengan menggunakan
aplikasi. Dalam mengembangkan organisasi nya, PT Gojek Indonesia menggunakan
metode analisis swot dengan matriks swot yang dimana analisis ini dilihat dari
berbagai perspektif. Pada matriks swot ini terdapat :
1.
SO yang artinya Strenghts� Oppurtunies merupakan strategi yang dibuat
berdasarkan jalam pikiran perusahaan, yaitu dengan memanfaatkan kekuatan untuk
merebut dan memanfaatkan peluang sebesar-besarnya. Cara yang dilakukan oleh PT.
Gojek Indonesia dalam mengembangkan transportasi publik berbasis online dengan;
a.
Melakukan promosi-promosi cara itu
dilakukan untuk memperkenalkan brandnya agar didiminati oleh masyarakat.
b.
Memperbanyak pegawai transportasi online
(Ojek Online) untuk dapat mengembangkan transportasi berbasis online karena
semakin banyak pegawai maka akan semakin meluas proses operasinya.
c.
Biaya transportasi murah dan efektif,
yang diterapkan oleh PT. Gojek hal itu dilakukan untuk menarik minat konsumen
dan efektif dari segi perjalanan karena pemesan dijemput sesuai lokasi.
2.
WO yang artinya Weaknesses Opportunities
yaitu Strategi ini diterapkan dengan berdasarkan pemanfaatan peluang yang ada
dengan cara menimalkan kelemahan yang ada
a. Meningkatkan koneksi
internat pada server, cara itu dilakukan untuk memperlancar komunikasi antara
konsumen dengan driver kemudian driver dengan perusahaan agar tidak terjadinya
erorr saat komunikasi dan pemesanan.
b. Menciptakan aplikasi untuk
menunjang transportasi online, agar dapat lebih mudah menghubungkan pemesan
dengan driver ojeknya.
3.
ST�
yang artinya Strength Threaths, PT Gojek Indonesia yang dimana strategi ini digunakan dengan
menggunakan kekuatan yang dimiliki perusahaan untuk mengatasi ancaman yang ada
disekitar.
a.
Memperbanyak relasi untuk bekerja sama
dengan angkutan publik atau transportassi konvensional lainnya, hal itu
dilakukan untuk memperoleh dukungan dari berbagai pihak untuk mengatasi aksi
demo yang dilakukan oleh transportasi konvesional, salah satu kerjasamanya itu
dengan taksi dan bluebeard
b.
Menjamin keselamatan penumpang dan
pengemudi, PT. Gojek Indonesia�
menerapkan GPS dan memasang tombol darurat pada aplikasi hal itu
dilakukan untuk keselamatan dan kenyamanan konsumen.
c.
Menetapkan aturan bagi pengemudi
agar terhindar dari
kejahatan yang tidak di inginkan oleh konsumen, maka PT. Gojek Indonesia
memberikan 3 (tiga) kali kesempatan dengan masalah ringan namun, jika masalah
berat, PT. Gojek Indonesia memutuskan kontrak dengan driver.
4.
WT�
yang artinya �Startegi�����
Weaknesses Threaths Strategi ini didasarkan pada kegiatan
yang bersifat defensif dan berusaha meminimalkan kelemahan yang ada serta
menghindari ancaman.
a.
Bekerja sama dengan badan hukum, cara
itu untuk memperoleh perlindungan hukum dari ketidaknyaman situasi yang ada
diluar seperti aksi demo yang dilakukan oleh supir-supir transportasu
konvensional. Selain itu perlindungan antara perjanjian kerja antara PT. Gojek
Indonesia dengan driver.�
b.
Meningkatkan hubungan baik dengan
pengemudi transportasi konvensional, hal itu dilakukan untuk menghindari iri
hati dalam persaingan transportasi publik di Indonesia
BIBLIOGRAFI
Alsandi, D.
(1999). Pro dan Kontra Gojek. www.kompasiana.com: https://www.kompasiana.com/donialsandi/5dd14a46d541df6a6426bac2/pro-dan-kontra-gojek
Azizah,
A., & Adawia, P. R. (2018). Analisis Perkembangan Industri Transportasi
Online di Era Inovasi Disruptif (Studi Kasus PT Gojek Indonesia). Cakrawala-Jurnal
Humaniora, 18(2), 149�156.
Handayani,
M. P. (2019). Gojek. www.tribunnewswiki.com:
https://www.tribunnewswiki.com/2019/07/22/gojek
Kristo,
F. Y. (2017). Awal mula transportasi online menjamur di Indonesia. Inet.
Detik. Com.
Pramyastiwi,
D. E. (2013). Perkembangan Kualitas Pelayanan Perkeretaapian Sebagai Angkutan
Publik Dalam Rangka Mewujudkan Transportasi Berkelanjutan (Studi pada PT Kereta
Api Indonesia Daerah Operasi 8 Surabaya). Jurnal Administrasi Publik, 1(3),
61�69.
Prihatin,
R. B. (2016). Dampak Sosial Transportasi Berbasis Online. Majalah Info
Singkat Kesejahteraan Sosial, 8(07).
Rangkuti,
F. (1998). Analisis SWOT teknik membedah kasus bisnis. Gramedia Pustaka
Utama.
Weking,
A. N., & Ndala, S. (2018). Analisis Implementasi Model Bisnis On Demand
Service Mobile Platform Terhadap Tingkat Kepuasan Pelanggan Gojek Di Indonesia.
Jurnal Informatika, 3(03).
Widyanisa,
A. (2017). Pro Kontra Transportasi Online. www.kaltim.tribunnews.com:
https://kaltim.tribunnews.com/2017/07/09/pro-kontra-transportasi-online
Yuliantari,
K. (2017). SWOT dalam Menentukan Strategi Pemasaran pada PT Gojek Indonesia. Widya
Cipta: Jurnal Sekretari Dan Manajemen, 1(1), 92�99.
|
Copyright holder
: Iman Abdurrasyid Husain, Paijatul Rohmah dan Tukiman (2020). |
|
First
publication right : This
article is licensed under: |