|
Jurnal
Syntax Transformation |
Vol. 2
No. 4, April 2021 |
|
p-ISSN :
2721-3854 e-ISSN : 2721-2769 |
Sosial
Sains |
POLITISASI ETNIS DAN PILKADA, STUDI PARTISIPASI
PEMILIH PEMULA PADA PEMILIHAN GUBERNUR MALUKU UTARA PERIODE 2019-2024
Saiful Ahmad, Aswir Faruk
Badjodah dan Mahmud Husen
Universitas Muhammadiyah
Maluku Utara, Indonesia���
Email: �[email protected], [email protected], dan
|
INFO ARTIKEL |
ABSTRACT |
|
Diterima 21 Februari 2021 Direvisi 2 Maret 2021 Disetujui 15 Maret 2021 |
This study aims to
determine the level of correlation of ethnicity issues among novice voters
and their participation rate in the 2019-2024 North Maluku Governor Election
Period. This study uses descriptive non-parametric methods with quantitative
approach. The data collection was conducted with survey techniques, and the
research location at the Campus of Muhammadiyah University of North Maluku
(UMMU) in Ternate City, with the analysis unit being students of semester II.
Data analysis used in this study uses two ways, namely descriptive and
inferential, inferential statistics using correlational analysis and influence
analysis or regression. The results of the correlation test can be concluded
that identity politics played by paslons through the issue of closeness /
ethnic similarity and kinship relationships exhaled during the campaign does
not affect the behavior of novice voters. This is because the perception of
ethnicity by respondents who view ethnicity as important when it comes to
political decisions but on the contrary ethnicity when it comes to social
activities becomes unimportant. ABSTRAK Studi ini bertujuan untuk
mengetahui tingkat korelasi isu etnisitas di kalangan pemilih pemula dan
tingkat partisipasinya pada Pemilihan Gubernur Maluku Utara Periode 2019-2024.
Penelitian ini menggunakan metode deskriptif non parametrik dengan pendekatan
kuantitatif. Pengumpulan data dilakukan dengan teknik survey, dan lokasi penelitian
di Kampus Universitas Muhammadiyah Maluku Utara (UMMU) di Kota Ternate,
dengan unit analisis adalah Mahasiswa/i semester II. Analisis data yang
digunakan dalam penelitian ini menggunakan dua cara, yaitu dengan deskriptif
dan inferensial, statistik inferensial menggunakan analisis korelasional dan
analisis pengaruh atau regresi. Hasil uji korelasi dapat disimpulkan bahwa
politik identitas yang dimainkan oleh paslon melalui isu kedekatan/ kesamaan etnis
serta hubungan kekerabatan yang dihembuskan saat berlangsungnya kampanye
tidak memengaruhi perilaku pemilih pemula. Hal ini disebabkan karena persepsi
terhadap etnis oleh responden yang memandang etnis menjadi penting ketika
berhubungan dengan keputusan politik namun sebaliknya etnisitas ketika berkaitan
dengan aktifitas sosial menjadi tidak penting. |
|
Keywords: Identity Politics; Ethnicity; Perception; Perilak;
Novice and Pilgub Voters Kata Kunci: ����������������������� Politik Identitas;
Etnisita; Persepsi; Perilak; Pemilih Pemula dan Pilgub |
Pendahuluan
Di era serba canggih saat ini, kita dituntut untuk berfikir
secara cepat dalam hal apapun, tidak terlepas dalam urusan politik. Politik merupakan sarana yang
paling elegan dalam meraih atau mendapatkan suatu kekuasaan. Kebijakan-kebijakan yang
ada dalam suatu negara merupakan produk politik yang digunakan oleh sekelompok orang, dalam hal
ini adalah pemerintah, untuk mempengaruhi atau merubah suatu tatanan kehidupan
masyarakat (Rahman,
2018).
Pemilu merupakan mekanisme utama dan prasyarat bagi demokrasi perwakilan.
Pemilu diselenggarakan untuk mewujudkan tujuan demokrasi, yaitu pemerintahan
dari, oleh dan untuk rakyat. Untuk mencapai tujuan tersebut, penyelenggaraan
pemilu harus mencerminkan nilai-nilai demokrasi (Jurdi,
2018).
Pemilihan�� umum��
(pemilu)�� adalah mekanisme�� memilih��
pemimpin-pemimpin yang� akan� menduduki�
jabatan� politik strategis� tertentu�
didalam lembaga-lembaga politik��
formal�� yakni,�� lembagaeksekutif dan�� lembaga legislatif baik ditingkat daerah
maupun di tingkat pusat (Darmawan,
2015).
Pemilu merupakan instrumen demokrasi yang utama dalam mengekpresikan
kehendak rakyat tentang pemerintahan. Menurut (Hasani, 2017) mengatakan
bahwa pemilu tidak hanya menjadi perwujudan dari sistem demokrasi langsung tetapi
juga menjadi jalan
untuk mewujudkan representative government.
Pemilihan Umum (Pemilu) sering disebut sebagai pesta
demokrasi yang dilakukan sebuah negara. Dalam sebuah negara yang
menganut paham
demokrasi, pemilu menjadi kunci terciptanya demokrasi (Zuhro,
2019).
Demokrasi
merupakan sistem politik yang memberikan ruang bagi keadilan dan persamaan bagi
semua warga negara. Sistem ini menjadi pilihan paling populer yang digunakan
negara-negara di dunia (Solihah
et al., 2018).
Demokrasi juga dapat diartikan�
sebagai bentuk pemerintahan yang dipegang� oleh rakyat atau rakyatlah yang
mempunyai� kedaulatan tertinggi (Nasution, 2016).
Menurut (Dahl Robert, 1982)� memaknai demokrasi sebagai tatanan politik
yang dapat diukur dengan dimensi tingkat kompetisi dan oposisi yang dimungkin
dalam tatanan politik dan tingkat partisipasi dari warga negara.
Sengitnya
rivalitas kontestasi calon di Pilkada DKI Jakarta membuat semua menoleh ke
Jakarta dan berpaling dari helatan serupa di 100 daerah lain begitu membekas di
memori kolektif
masyarakat Indonesia dengan mengikuti setiap perkembangan Pilkada DKI, yang
menjadi perhatian masyarakat Indonesia adalah bagaimana praktek politik identitas
dikemas menjadi alat mobilisasi dukungan dan suara publik Jakarta.
Pilkada DKI banyak
memberi pelajaran dalam bagaimana seharusnya berdemokrasi tanpa menciptakan
pembelahan bagi publik dengan kapitalisasi identitas. Bawaslu sebagai
penyelenggara ingin memastikan agar praktek kapitalisasi identitas di wilayah
politik tidak terjadi lagi dengan mengeluarkan indeks kerawanan pemilu (IKP).
Berdasarkan IKP, Bawaslu memetakan setidaknya terdapat 8 (delapan) Provinsi
sebagai penyelenggara pilkada serentak 2018, yang dianggap rawan dan
terindikasi terjadi politik identitas. Delapan (8) Provinsi tersebut adalah
Sumatera Utara, Sulawesi Selatan, Nusa Tenggara Barat, Kalimantan Barat, Kalimantan
Timur, Maluku, Maluku Utara, dan Papua.
Rivalitas
kontestasi yang ketat itu berkelindan dengan isu politik identitas yang
digunakan untuk menggerakkan mesin politik guna meraup sebanyak-banyaknya
suara. Salah-salah, politik identitas akan berkembang jadi populisme yang
mengandung fantasi masyarakat tunggal. Ini berbahaya bagi Maluku Utara yang
beragam etnis. Fantasi populisme ini tak hanya menciptakan polarisasi dan
menyulut konflik, tapi juga mengancam lawan politiknya sebagai musuh
masyarakat.
Semua berharap
bahwa penyelenggaraan
pemilu dalam diselenggerakan secara demokratis dengan partipasi yang
seluas-luasnya, akan tetapi diaras politik lokal, isu identitas etnis sering
dihembuskan oleh elit lokal dengan tujuan untuk merebut dan melanggengkan kekuasaan
politiknya. Tentang hal ini, Eindhoven dengan tegas menyatakan bahwa momentum
reformasi telah menghantarkan elit lokal mengonsolidasikan kekuatan identitas
(etnis) untuk menolak kepala daerah yang berasal dari non-etnisnya (Salim,
2016).
Perkembangan yang meningkat secara �jumlah dan terus berubah dari tiap pemilihan umum
menunjukkan bahwa pemilih pemula �sebagai
aset politik yang berharga, sentral dan strategis (Adriansyah
et al., 2015).
Pemilih pemula
merupakan pihak yang paling rentan terhadap isu politik identitas karena
mengingat dengan kondisi psikologi yang masih labil kejiwaannya sehingga sangat
mudah oleh objek-objek (termasuk objek-objek politik) di luar dirinya yang
berupa pengaruh positif maupun negatif. Artinya bahwa persepsi sangat dominan
memengaruhi prilaku politik pemilih pemula, persepsi adalah proses individu
dalam menyeleksi, mengorganisir dan menginterprestasikan stimulasi ke dalam
suatu gambaran yang berarti dan koheren dengan dunia sekitarnya (Adams et al., 1991) sementara itu
perilaku pemilih pemula merupakan tingkah laku seseorang dalam menentukan
pilihannya yang dianggap paling cocok atau paling disukai.
Berdasarkan hal
tersebut peneliti terdorong untuk meneliti pengaruh isu etnisitas pada kontestasi
politik lokal Maluku Utara di kalangan pemilih pemula dan melihat korelasi isu
etnisitas terhadap prilaku pemilih pemula dalam menentukan pilihan.
Sejarah panjang
kontestasi identitas yang mewarnai perebutan kekuasaan diwilayah Maluku Utara,
bila di runut akan ditemui bahwa kontestasi identitas etnis sudah jadi ratusan
tahun yang lalu, dimana 4 kesultanan diwilayah Maluku Utara berebut dominasi
dan hegemoni, masing-masing kesultanan mewakili etnis/suku yang ada di Maluku
Utara. Gayung pun bersambut
dengan dimekarkan Kab. Maluku Utara menjadi Propinsi Maluku Utara terpisah
dengan Propinsi Maluku, kontestasi identitas tidak lagi berada diranah kultural
tetapi mulai bermigrasi ke-ranah politik (perebutan kekuasaan struktural).
Tentunya, hal tersebut dapat dipelajari sejak terbentuknya Provinsi Maluku
Utara pada 1999, serta resistensi konflik dalam tiap pemilihan Gubernur Maluku
Utara. Resistensi konflik terfokus pada sentimen antar etnis yang tentunya
bermuara pada perebutan kursi kekuasaan di pemerintahan. Sebagaimana diketahui,� etnis yang dikatakan dominan dalam
pertarungan tersebut adalah etnis, Tidore, Makean, Ternate, Sanana serta Tobelo
dan Galela, yang memiliki kesiapan sumber daya manusia yang cukup dan selalu tampil
dalam kontestasi politik di Maluku Utara. Tanpa disadari Pilkada di Maluku
Utara telah melahirkan ekslusifitas etnis dan suku, kontestasi pada setiap momentum
politik setiap kandidat yang beratarung merupakan konfigurasi etnis/suku di
Maluku Utara.
Metode
Penelitian
Penelitian ini menggunakan metode deskriptif
non parametrik dengan pendekatan kuantitatif (Sugiyono, 2010). Pengumpulan data dilakukan dengan teknik survey, dan lokasi
penelitian di Kampus Universitas Muhammadiyah Maluku Utara (UMMU) di Kota
Ternate, dengan unit analisis adalah Mahasiswa/i semester II.
Analisis data yang digunakan
dalam penelitian ini menggunakan dua cara, yaitu dengan deskriptif dan inferensial,
statistik inferensial menggunakan analisis korelasional dan analisis pengaruh
atau regresi.
Hasil dan Pembahasan
A.
Etnisitas dan Perilaku Voting Behavior Pada Pemilih
Pemula
Dinamika wacana etnisitas menarik untuk
dicermati dalam narasi politik identitas, karena dalam dimensi sejarah wacana etnisitas
bukan sesuatu yang baru tetapi tercatat dalam lintasan sejarah Moloku Kieraha.
Diawali semenjak masa empat Kesultanan Islam berdiri sebagai pusat pemerintahan
negara dan bangsa menggantikan pemerintahan di bawah Momole dan Kolano,
realitas tersebut memberi gambaran bahwa demokrasi dan etnisitas berjalan
beriringan, ditandai dengan demokrasi dibangun diatas pilar tradisi (adat)
hingga saat ini tetap dijalankan dalam prosesi pemilihan dan pengangkatan
Sultan baru. Hal seperti ini tentunya dapat dipastikan bahwa proses
demokratisasi pada tataran praktik merupakan pengakuan terhadap eksistensi etnis
yang berada di jazirah Moloku Kieraha yang seluruhnya berjumlah identitas 28
etnis dan 29 bahasa daerah� di antaranya
etnis Tidore, etnis Ternate, Etnis Bacan, Etnis Makean, Etnis Moti, etnis
Sanana, etnis Jailolo, Tobelo, Sangir, Buli, Patani, Kayoa, Maba, Sawai, Weda,
Tobaru, Gane, Loloda, Kadai, Galela, Kayoa, Ange, Siboyo, Kao, Makean, dan
Sahu. Pada titik ini, proses demokrasi berbasis tradisi perlu dimaknai sebagai
kontestasi etnis dalam dimensi politik lokal�
di Maluku Utara.
1. Etnisitas
Menurut Perspektif Pemilih Pemula
Politik Identitas dalam kontestasi politik lokal Maluku Utara
bukan sesuatu yang baru ketika kita mengamati perilaku politik dalam konteks
raihan margin elektabiltas terkait dengan eksistensi etnis beserta kepentingan
elit masing-masing etnis. Praktek politik identitas di daerah mendapat momentum
tepat dengan diberlakukan� pemilihan
kepala daerah secara langsung, konsolidasi etnis menjadi keharusan untuk mengantar
setiap elit lokal yang ingin berkuasa. Tentunya, hal tersebut dapat dijumpai
semenjak terbentuknya Provinsi Maluku Utara setelah dimekarkan dari Provinsi
Maluku pada tahun 1999.� Turbulensi
konflik etnis dan resisitensi dari dalam etnis selalu mewarnai tiap gelaran
pemilihan Gubernur Maluku Utara. Konfigurasi konflik bermuara pada etnis dengan
populasi terbesar di maluku Utara yakni: etnis Tidore, Makean, Ternate, Sanana
dan Togale (Tobelo dan Galela) yang memiliki kesiapan SDM dalam berkontestasi
perebutan kekuasaan lokal di Maluku Utara.
Pada gelaran pemilihan Gubernur Maluku Utara periode
2019-2024, parktek politik identitas menyeruak ke permukaan dalam bentuk
identitas etnis dan kapitalisasi isu etnis dalam tubuh birokrasi pemerintah
provinsi Maluku Utara sebagai mesin untuk menggerakkan pemilih guna meningkat elektabilitas
setiap calon kepala daerah. Hal ini terkonfirmasi dengan disahkan 4 pasangan
calon (paslon) gubernur dan wakil gubernur Maluku Utara yang terdiri atas (Burhan Nurgiyantoro, 2012) sebagai representasi etnis Tidore-Togale, Ahmad Hidayat Mus-Rivai
Umar sebagai representasi dari etnis Sanana (Sula dan Taliabu)-Makean, Muhammad
Kasuba-Majid Husen sebagai representasi etnis Togale-Makean serta paslon Abdul
Gani Kasuba - M. Al Yasin Ali sebagai representasi etnis Togale-Saway
(Kab.Halteng).
Isu etnisitas merupakan suatu �jualan� dalan kontestasi
politik lokal, hal ini sejalan dengan pendapat Bordieau bahwa politik lokal
adalah etnisitas. Keberadaan isu etnisitas dalam setiap gelaran politik
bersifat laten dan berpotensi setiap saat dapat menyeruak ke permukaan sebagai
bargaining position sirkulasi pemimpin daerah dan sebagai kekuatan kekuatan
politik yang dominan. Fakta empiris menunjukkan, politik identitas merupakan
aktualisasi partisipasi politik yang terkonstruksi dari akarbudaya masyarakat
setempat, dan mengalamiproses internalisasi secara terus-menerus di dalam kebudayaan
masyarakatnya dalam suatu jalinan interaksi sosial.
Selaras dengan fakta empiris diatas,
hasil penilitian ini menunjukkan hal serupa dimana pada pemilih pemula yang
menjadi responden menyatakan bahwa isu etnisitas merupakan isu yang dimainkan
oleh setiap tim sukses masing-masing pasangan calon gubernur, hal ini terlihat
pada tabel dibawah ini.
Tabel 1
Isu Etnis dan Hubungan Kekerabatan dalam
Kampanye
|
|
Isu Etnis dlm Kampanye |
Isu kekerabatan dlm Kampanye |
||
|
Frequency |
Percent |
Frequency |
Percent |
|
|
Ada, semuanya |
56 |
43,1 |
10 |
7,7 |
|
Ada, sebagian besar |
73 |
56,2 |
113 |
86,9 |
|
Tidak Ada |
|
|
1 |
,8 |
|
Tidak Menjawab/ Tidak tahu |
1 |
0,8 |
6 |
4,6 |
Pemakaian unsur-unsur etnis begitu masif dan
gencar dilakukan oleh semua paslon beserta tim suksesnya pada pemilihan
gubernur saat ini, tidak lagi pada ruang senyap dan tertutup tetapi mulai
secara terang-terangan dilakukan. Pantauan penulis saat gelaran pilgub dalam
berbagai bentuk misalnya yang berlaku di etnis Makian �saatnya kanari kembali
berkuasa�, penggunanaan metafora kanari untuk menjelaskan representasi etnis
makian bukan tanpa alasan. Seperti yang kita ketahui bahwa pohon atau buah kanari
merupakan tumbuhan endemik dari pulau Makian. Ada juga jargon bagi etnis Tidore
adalah �Sudah saatnya Tidore berkuasa karena etnis-etnis besar lainnya sudah
berkuasa�
Berpijak pada identitas etnis� yang cenderung dinamis, identitas etnis selalu
dikontruksi dan dipartahankan secara refleksif berdasarkan perubahan kebutuhan
dan kepentingan sehingga dengan pergeseran perubahan kearah kepentingan
identitas etnis tersebut bisa dikatakan sebagai sesuatu yang bersifat politis.
Paslon dan tim sukses menyadari betul etnisitas dalam konteks politik lokal
cendrung beririsan antara based on identity dan based on interest.
Tidak mengherankan ketika identitas setiap paslon di kapitalisasi dan dijadikan
sebagai instrumen untuk meraih simpati publik atau alat memanipulasi dalam
menggalang dukungan politik. Hal tersebut sejalan dengan pendapatan (Haboddin, 2012) disebut elit lokal yang mengambilalih seluruh
bangunan institusi politik lokal. Politik etnisitas digunakan untuk
mempersoalkan antara �kami‟ dan mereka‟, �aku‟ dan
�kamu‟.
2.
Perilaku Pemilih Pemula
Perilaku pemilih (voting behavior) merupakan
tingkah laku seseorang dalam menentukan pilihannya yang dirasa paling disukai
atau paling cocok. Secara umum referensi mengenai pendekatan yang digunakan untuk
menggambarkan perilaku pemilih (voting behavior) dikategorikan kedalam tiga
mazhab besar yakni Mazhab Colombia, Mazhab Michigan dan Mazhab Rasionalitas.
Pemilih pemula Menurut lembaga survey
international seperti the Pew Research Center dan Gallup mendefenisikan pemilih
pemula adalah mereka yang telah berusia 17-21 tahun, telah memiliki hak suara
dan tercantum dalam daftar pemilih tetap (DPT) serta pertama kali mengikuti
pemilihan umum.
Pemilih Pemula adalah pemilih-pemilih yang baru
pertama kali akan memberikan suaranya dalam pemilu (Wardhani, 2018).
Hasil analisis data menunjukkan bahwa begitu
banyak alasan yang mendasari responden untuk memilih paslon saat pemilihan
gubernur. Alasan-alasan tersebut juga bisa membuat responden tidak akan
menggunakan hak pilihnya, karena begitu banyak pertimbangan yang akan
dipertimbangkan untuk memilih siapa yang akan menjadi pemimpin nantinya.
Preferensi politik yang dominan memengaruhi responden
dalam menentukan pilihan adalah karena alasan kedekatan/kesamaan etnis serta
karena alasan adanya hubungan kekerabatan dengan timses atau paslon. Bila
dieksplorasi lebih mendalam data penelitian memperlihatkan tidak ada perbedaan
preferensi politik antara mahasiswa yang berasal dari kluster eksakta dan
kluster non-eksakta, padahal ada adigium umum yang menyatakan bahwa mahasiswa
eksakta cendrung lebih rasional dalam menentukan pilihan, namun pada penelitian
ini adigium tersebut tidak berlaku. Hal ini tidak mengherankan karena persepsi
terhadap etnis begitu kuat melekat di back mind� responden. Etnis menjadi sesuatu yang
lebih penting ketika berkaitan dengan keputusan politik, sebaliknya etnis tidak
begitu memengaruhi aktifitas responden dalam menjalani aktifitas sosial.
Grafik 1
Dasar Pengambilan Keputusan menurut Cluster
Rumpun Ilmu
�Sumber: Data diolah oleh penulis
Hasil analisis data gambar 1 menunjukkan
etnisitas berpengaruh signifikan terhadap pengambilan keputusan responden. Responden
dari kluster eksakta menempatkan kedekatan dan kesamaan etnis sebesar 38,5 persen
serta hubungan kekerabatan sebanyak 26,2 persen menjadi pertimbangan utama dalam
menentukan keputusan politik. Untuk responden dari kluster non-eksakta sebanyak
53,8 persen menyatakan pertimbangan kesamaan/kedekatan etnis menentukan siapa
yang akan mereka pilih sebagai kepala daerah, sedangkan hanya 4,6 persen
menyatakan memilih paslon karena alasan program kerja seperti kesejahteraan
yang ditawarkan.
Bila dicermati lebih mendalam lagi terkait
sejauhmana etnis dapat memengaruhi pengambilan keputusan, dari hasil analisis
data ditemukan fakta 38,5 persen responden dari kluster eksakta dan 35,4 persen
responden dari kluster non eksakta mengungkapkan Etnis sangat memengaruhi mereka
dalam pengambilan keputusan dan sebaliknya 26,2 persen responden eksakta dan
30,8 persen responden non eksakta menyatakan etnis tidak begitu memengaruhi mereka
dalam pengambilan keputusan.

Grafik 2
Pengaruh Etnis Terhadap Pengambilan Keputusan Menurut Kluster Keilmuan
Sumber: Data diolah oleh penulis
3.
Uji Korelasi Isu Etnisitas dan Voting Behavior
Uji korelasi dilakukan untuk melihat ada tidaknya
hubungan antara dua variabel atau lebih serta seberapa erat tingkat hubungannya.
Salah satu yang sering digunakan yaitu uji korelasi Pearson. Dalam uji
korelasi, kita akan mencari besar koefisien korelasi (r) yang besarnya antara 0
sampai 1. Jika nilai r yang didapatkan positif, maka bisa dikatakan mempunyai
korelasi positif, dimana jika satu variabel meningkat maka variabel lainnya
juga akan mengikuti meningkat. Sebaliknya, jika nilai r negatif, maka
korelasinya juga akan negatif, dan jika ada satu variabel naik justru variabel
lainnya akan turun.
Taraf interval kepercayaan yang digunakan adalah
95% (taraf signifikansi α = 0,05) dimana H0 ditolak jika probabilitas r
(koefiesien korelasi) < 0,05. Hipotesisnya yaitu
H0-1��� : Tidak ada hubungan Persepsietnisitas dan
perilaku memilih
H1-1��� : �Ada
hubungan antara Persepsi etnisitas dan perilaku memilih.
H0-2��� : ����Tidak
ada hubungan Politik Identititas dan perilaku memilih
H1-2��� : ��Ada
hubungan antara Politik Identitas dan perilaku memilih.
Dari hasil pengolahan data menggunakan program
SPSS untuk menguji ada tidaknya hubungan antara variabel Persepsi terhadap
etnis (X1), Politik Identitas (X2) terbagi kedalam 2 variabel yakni Isu Etnis
dalam Kampanye (X21) dan Isu kekerabatan dalam Kampanye (X22) dan Perilaku Memilih
(Y) dapat dilihat dalam tabel berikut:
Tabel
2
Analisis korelasi Persepsi Terhadap etnis dan
politik Identitas dengan Perilaku Memilih
|
|
Persepsi thdp Etnis (X1) |
Etnis dan Pengambilan Keputusan X2 |
Isu Etnis dlm Kampanye (X3) |
Isu Kekerabatan dlm Kampanye (X4) |
Dasar menentukan pilihan (Y) |
|
|
Persepsi thdp Etnis
(X1) |
Pearson Correlation |
1 |
,025 |
-,099 |
-,013 |
-.397** |
|
Sig. (2-tailed) |
|
,782 |
,262 |
,885 |
,000 |
|
|
N |
130 |
130 |
130 |
130 |
130 |
|
|
Isu Etnis dlm
Kampanye (X21) |
Pearson Correlation |
-,099 |
,005 |
1 |
-,159 |
-,045 |
|
Sig. (2-tailed) |
,262 |
,959 |
|
,071 |
,608 |
|
|
N |
130 |
130 |
130 |
130 |
130 |
|
|
Isu Kekerabatan dlm
Kampanye (X22) |
Pearson Correlation |
-,013 |
-,087 |
-,159 |
1 |
,024 |
|
Sig. (2-tailed) |
,885 |
,324 |
,071 |
|
,788 |
|
|
N |
130 |
130 |
130 |
130 |
130 |
|
|
Dasar menentukan
pilihan (Y) |
Pearson Correlation |
-.397** |
-,120 |
-,045 |
,024 |
1 |
|
Sig. (2-tailed) |
,000 |
,174 |
,608 |
,788 |
|
|
|
N |
130 |
130 |
130 |
130 |
130 |
|
Sumber: Data diolah penulis tahun 2018.
Berdasarkan hasil tabel 2, maka diperoleh angka
koefisien korelasi (r) untuk masing-masing Variabel X1 dan Variabel X2123
1.� Koefisien korelasi X1 dan Y diperoleh angka
-0,397 dengan nilai signifikansi 0,000 < 0,05. Karena nilai signifikansinya
0,000 < 0,05 maka H0-1ditolak, sehingga dapat disimpulkan bahwa kedua
variabel tersebut signifikan. Sementara itu, karena nilai koefisien korelasi
(r) berkisar -0,397 berada pada range 0,397 � 0,70 maka dapat disimpulkan bahwa
hubungan antara skor persepsi terhadap etnis dan skor Dasar Menentukan Pilihan
adalah sedang . Adanya tanda positif (-) pada koefisien korelasi, maka berarti
hubungan ini tidak searah sehingga ada kecenderungan jika tingkat persepsi etnis
semakin menguat maka perilaku memilih pemilih pemula juga akan berpengaruh.
2.� Koefisien korelasi X21 dengan Y diperoleh
angka (r) -0,99 dan nilai Sig 0,262 atau > 0,05 sedangkan Koefisien korelasi
X22 dan Y diperoleh angka (r) -0,013 dengan nilai signifikansi 0,885< 0,05.
Karena nilai signifikansinya untuk variabel X21dan X22 < 0,05 maka H0-2
ditolak, sehingga dapat disimpulkan bahwa kedua variabel tidak signifikan
saling memengaruhi.
Dari hasil uji korelasi diatas dapat disimpulkan
bahwa politik identitas yang dimainkan oleh paslon melalui isu
kedekatan/kesamaan etnis serta hubungan kekerabatan yang dihembuskan saat
kampanye berlangsung tidak memengaruhi perilaku pemilih pemula karena persepsi
terhadap etnis oleh responden yang memandang etnis menjadi penting ketika
berhubungan dengan keputusan politik namun sebaliknya etnisitas ketika
berkaitan dengan aktifitas sosial menjadi tidak penting. Pada konteks ini
persepsi terhadap etnis secara signifikan memengaruhi perilaku pemilih pemula
meskipun tidak ada strategi politik identitas melalui isu kedekatan/kesamaan
etnis maupun adanya hubungan kekerabatan dengan paslon atau tim sukses paslon
yang dihembuskan dengan tujuan� meraih suara
pemilih.
4.
Analisis Diskriptif Hubungan Isu etnisitas dan
Prilaku Pemilih
Dari data yang terkumpul diatas, kita bisa
melihat bahwa Etnisitas dalam kontestasi politik lokal bagi pemilih pemula
memperlihatkan beberapa data menarik.
Pertama, Data tentang persepsi etnis bagi
responden menggambarkan dua realitas dimana disatu sisi etnis berpengaruh
terhadap pengambilan keputusan tetapi disisi lain etnis tidak begitu
berpengaruh dalam aktivitas responden, hal ini terlihat pada pada grafik dibawah
ini.
�
Grafik 3
Persepsi Terhadap Etnis menurut Cluster Keilmuan
Sumber:
Data diolah penulis
Data pada grafik menunjukkan bahwa persepsi etnis sangat dominan dalam
menentukan politik tidak terkecuali pilihan politik. Artinya bahwa etnis menjadi
preferensi politik yang mendominasi responden dalam perilaku memilih (voting
behavior). Melihat fenomena demikian, menurut penulis pengentalan identitas
(kesamaan etnis) yang berujuang pada politisasi etnisitas sangat mungking
terjadi atau tak bisa terhindarkan pada setiap gelaran politik lokal.
Politisasi etnisitas sebagai komoditas politik yang dimainkan oleh kandidat dan
tim sukses untuk memperoleh kekuasaan, pada titik ini etnisitas tidak hanya
sekedar menjadi sesuatu yang penting tetapi telah bertranformasi menjadi kekuatan
politik yang mumpuni dalam konteks pemilihan kepala daerah.�
Kedua, Etnisitas tidak lagi sekedar problem belonging belaka, saat ini
etnisitas bertransformasi menjadi komoditas politik dalam rejim elektabilitas
yang menempatkan simpati publik sebagai target utama dalam setiap momentum
politik lokal. Tema etnis dengan dalih mewakili kelompok tertentu menjadi
strategi ampuh unuk mendapat dukungan publik, Tim sukses seringkali melakukan
pengentalan identitas etnis selama pemilihan kepala daerah berlangsung. Jika
kita melihat pada data yang menunjukan pengakuan 99 persen responden dari
kluster eksakta dan 100 persen dari kluster non-eksakta yang mengatakan bahwa
isu etnis dan kekerabatan kian kerap dihembuskan tim sukses untuk dalam
kampanye.
Ketiga, Mayoritas perilaku Pemilih Pemula untuk mahasiswa semester II
Universitas Muhammadiyah Maluku Utara termasuk kategori pemilih yang menentukan
pilihannya berdasarkan pertimbangan sosiologis, pada kluster non eksakta
sebanyak 53,8 persen menjawab kedekatan/nkesamaan etnis dan 24,6 persen
mengungkapkan hubungan kekerabatan/ keluarga yang menjadi pertimbangan dalam
menentukan pilihan politik. Sebaliknya hanya 4,6 persen responden yang berasal
dari mahasiswa non eksakta mengakui program kerja memengaruhi pilihan politik
mereka. Sebesar 38,5 persen responden mahasiswa eksakta menjawab kedekatan/
kesamaan etnis memengaruhi pilihan politik mereka. Untuk lebih jelas dapat
dilihat pada grafik dibawah ini.
Grafik 4
Dasar Responden Dalam Menentukan Pilihan
Politik menurut Kluster Keilmuan
|
Cluster |
Dasar Menentukan Pilihan |
|||
|
Latar Bela kang Peke rjaan kandi dat |
Program Kerja (Kesejah teraan) |
Kedek atan /kesam aan �etnis |
Hubu ngan Keker abatan /Kelu arga |
|
|
Eksakta |
18,5% |
16,9% |
38,5% |
26,2% |
|
Non Eksakta |
16,9% |
4,6% |
53,8% |
24,6% |
Sumber:
Data diolah oleh penulis
Seperti yang diketahui bahwa perilaku memilih seseorang dipengaruhi oleh
faktor-faktor lingkungan seperti sosial ekonomi, afiliasi etnis, tradisi
keluarga, keanggotaan terhadap organisasi, usia, jenis kelamin, pekerjaan,
tempat tinggal, dan lain-lain. Namun pada batasan tertentu isu etnis tidak memengaruhi
perilaku pemilih pemula tetapi lebih pada sebagai penegasan dalam menentukan
pilihan.
Kesimpulan
Persepsi etnis menjadi preferensi politik yang dominan dalam perilaku memilih (voting behavior). Politisasi etnisitas sebagai komoditas politik kandidat dan tim sukses
untuk memperoleh kekuasaan, menjadi sesuatu yang penting dan telah bertransformasi menjadi kekuatan politik dalam pemilihan kepala daerah.
Etnis sebagai wakil dari kelompok tertentu menjadi strategi untuk mendapat dukungan publik. Dan,
faktor lingkungan seperti sosial ekonomi,
afiliasi etnis, tradisi keluarga. Juga keanggotaan terhadap organisasi, usia, jenis kelamin, pekerjaan maupun domisili memengaruhi perilaku seseorang untuk mementukan pilihan.
Pada batasan tertentu isu etnis tidak memengaruhi perilaku pemilih pemula
tetapi lebih pada sebagai penegasan dalam menentukan pilihan.
Artinya, persepsi
terhadap etnis oleh responden yang memandang etnis menjadi penting ketika berhubungan dengan keputusan politik namun
sebaliknya etnisitas ketika berkaitan dengan aktifitas sosial menjadi tidak penting.
Bibliografi
Adams, E.
K., Houchens, R., Wright, G. E., & Robbins, J. (1991). Predicting hospital
choice for rural Medicare beneficiaries: the role of severity of illness. Health
Services Research, 26(5), 583-612. Google Scholar
Adriansyah,
M. A., Fahlevi, M. A., Dyah, R., & Hasthina, A. (2015). Sikap Pemilih
Pemula Terhadap Calon Kepala Daerah Ditinjau Dari Karakteristik Sosial. Psikostudia:
Jurnal Psikologi, 4(1), 17�45. Google Scholar
Burhan
Nurgiyantoro,� dkk. (2012). Statistika
Terapan untuk Penelitian Sosial, Gadjah Mada University Press, 2012, hal. 20.
Google Scholar
Dahl
Robert, A. (1982). Dilemmas of pluralist democracy: autonomy vs. control.
New Haven and London: Yale University Press. Google Scholar
Darmawan,
I. (2015). Mengenal Ilmu Politik. Jakarta: PT Kompas Media Nusantara. Google Scholar
Haboddin,
M. (2012). Menguatnya politik identitas di ranah lokal. Jurnal Studi
Pemerintahan, 3(1) 116-134. Google Scholar
Hasani,
E. (2017). Basic Features of the Constitutional System in Kosovo. In Rule of
Law, Human Rights and Judicial Control of Power (pp. 149�176). Springer. Google Scholar
Jurdi,
F. (2018). Pengantar Hukum Pemilihan Umum. Kencana. Google Scholar
Nasution,
A. R. (2016). Urgensi Pendidikan Kewarganegaraan sebagai Pendidikan Karakter
Bangsa Indonesia melalui Demokrasi, HAM dan Masyarakat Madani. Jupiis:
Jurnal Pendidikan Ilmu-Ilmu Sosial, 8(2). 201-212. Google Scholar
Rahman,
A. (2018). Konsep Dasar Pendidikan Politik bagi Pemilih Pemula melalui
Pendidikan Kewarganegaraan. JUPIIS: Jurnal Pendidikan Ilmu-Ilmu Sosial, 10(1),
44�51. Google Scholar
Salim,
K. (2016). Politik Identitas di Maluku Utara. POLITIK, 11(2).1667-1678.
Google Scholar
Solihah,
R., Bainus, A., & Rosyidin, I. (2018). Pentingnya Pengawasan Partisipatif
dalam Mengawal Pemilihan Umum yang Berintegritas dan Demokratis. JWP (Jurnal
Wacana Politik), 3(1). 14-28. Google Scholar
Sugiyono.
(2010). Metode Penelitian Pendidikan : Pendekatan Kualitatif, Kuantitatif,
dan R & D. Alfabeta.
Wardhani,
P. S. N. (2018). Partisipasi Politik Pemilih Pemula dalam Pemilihan Umum. JUPIIS:
Jurnal Pendidikan Ilmu-Ilmu Sosial, 10(1), 57�62. Google Scholar
Zuhro,
R. S. (2019). Demokrasi dan pemilu Presiden 2019. Jurnal Penelitian Politik,
16(1), 69�81. Google Scholar
|
Saiful Ahmad, Aswir Faruk Badjodah dan Mahmud
Husen
(2021). |
|
First publication right : Jurnal Syntax Transformation This article is licensed under: |