Jurnal Syntax Transformation

Vol. 2 No. 5, Mei �2021

p-ISSN : 2721-3854 e-ISSN : 2721-2769

Sosial Sains

 

TINJAUAN KRITIS: KOMPLEKSITAS SOSIAL CAREGIVER DEMENSIA DALAM KELUARGA USIA LANJUT

 

Kreshna Manggala Putra dan Ida Ruwaida Noor

Universitas Indonesia (UI) Depok JakartaJawa Barat, Indonesia

Email: [email protected] dan [email protected]

 

INFO ARTIKEL

ABSTRACT

Diterima

21 Februari April 2021

Direvisi

2 Maret Mei 2021

Disetujui

15 Maret Mei 2021

 

This article aims to provide a critical review of the study of Struckmeyer and Roberts which focuses on examining the family dynamics of 2 (two) cases in the lives of 2 family couples who take the role of caregiver to care for People with Dementia in their household. Methods using qualitative literature study was conducted to see the strengths and limitations of this issue. His strength is to be able to explore the dynamics of the caregiver life of People with Dementia, especially related to the depiction of the dynamics of the interaction between husband and wife in families who experience the caregiving process in old age. Struckmeyer is able to address issues that is rarely get attention in other studies of dementia problems in general, namely, the special problems experienced by the caregiver itself. Meanwhile, Struckmeyer is limited in exploring the subjects family's social background and social environment. The conclusion of this article places Struckmeyer in less demonstrating the social characteristics of the family and the local environment due to help readers understand other supportive situations that shape the meaning of informants in living their lives as dementia caregivers.This article is to give a critical review of struckmeyer and Roberts' study entitled "Ours is the Strangest Situation, Ours is Different from Most Peoples": Couples' Caregiver Perspectives on the Complex Challenges of Dementia Parenting in End-of-Life Marriages. Read critically to the front side of the deficiency side as well as from the research which is both both the substance of the research and the methodology. From research from his research directed in the heart the dynamics of the life of odd caregivers in general. On the other hand, the shortcomings are lacking in the typical way of detail of the family social and social environment for the fatiguers to understand other supporting situations that form the use of informants in the lives of caregivers of people with Sengsensius (ODD). Meanwhile, this research can be especially useful for caregivers both from families and professionals, so it is increasingly under the guise of families, social workers, students, architects, NGOs, practitioners and governments who have great attention in health services in their communities.

 

 

ABSTRAK

Artikel ini bertujuan memberi tinjauan kritis (critical review) terhadap studi Struckmeyer dan Roberts yang berfokus mengkaji dinamika keluarga dari 2 (dua) kasus kehidupan 2 sepasang keluarga yang melangsungkan peran Caregiver untuk merawat ODD dalam rumah tangganya. Metode Kualitatif melalui studi literatur dilakukan untuk melihat kekuatan maupun keterbatasan dari isu iniKekuatannya  mampu menggali  dinamika kehidupan caregiver ODD, khususnya terkait penggambaran dinamika interaksi pasangan suami-istri dalam keluarga yang mengalami proses caregiving di masa tua. Struckmeyer mampu mengetengahkan persoalan yang jarang mendapatkan atensi dalam kajian masalah demensia lain pada umumnya, yakni persoalan khusus yang dialami oleh caregiver itu tersendiri. Sementara Struckmeyer terbatas dalam menggali latar belakang sosial keluarga maupun lingkungan sosialnya. Kesimpulan artikel ini menempatkan Struckmeyer kurang menyajikan gambaran karakteristik sosial keluarga maupun lingkungan setempat guna membantu pembaca memahami situasi pendukung lainnya yang membentuk pemaknaan informan-informannya dalam menjalani kehidupannya sebagai caregiver ODD.

 

 

Artikel ini bertujuan untuk memberi tinjauan kritis (critical review) terhadap studi yang dikemukakan Struckmeyer dan Roberts yang berjudul �Ours is the Strangest Situation, Ours is Different from Most Peoples�: Spousal Caregiver Perspectives on the Complex Challenges of Dementia Caregiving in Late-Life Marriage. Tinjauan kritis dipilih untuk melihat sisi kelebihan maupun kekurangan dari penelitian yang dilakukan baik secara substansi penelitian maupun metodologi. Kelebihan dari penelitian tersebut menunjukan keberhasilannya dalam mengangkat dinamika kehidupan caregiver ODD secara umum. Di sisi lain, kekurangannya relatif kurang menggambarkan dengan lebih detil karakteristik sosial keluarga maupun lingkungan sosial setempat untuk membantu pembaca memahami situasi pendukung lainnya yang membentuk pemaknaan informan-informannya dalam menjalani kehidupannya sebagai caregiver Orang Dengan Demensia (ODD). Adapun, Penelitian tersebut dapat bermanfaat secara khusus bagi kelompok caregiver baik dari keluarga maupun profesional, sehingga sangat direkomendasikan bagi keluarga, pekerja sosial, mahasiswa, akademisi, NGO, praktisi maupun pemerintah yang memiliki atensi besar dalam menanggulangi demensia di komunitasnya.

Keywords:

dementia; caregiver; �family, Social Support

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Kata Kunci:

Demensia, Caregiver, Keluarga., Dukungan Sosial

demensia; caregiver; keluarga



Pendahuluan

Perdebatan tentang bagaimana masyarakat atau individu dalam mengasuh lansia bukanlah suatu isu� baru. Dimana secara mendasar merujuk pada definisi Merrian-Webster Caregiver adalah orang yang memberikan perawatan langsung kepada anak-anak, orang tua, atau orang yang sedang sakit kronis. Berbagai disiplin ilmu telah menaruh atensi pada isu ini, termasuk ilmu sosial, antara lain: kajian-kajian� sosiologis yang fokus pada aspek sosial dalam menangani persoalan-persoalan lansia.

Terdapat Penelitian terdahulu yang relevan, pertama berkenaan dengan perilaku masyarakat terhadap isu kesehatan mental lansia, studi Kroska (et al., 2014) (Kroska et al., 2014) menarik untuk dilihat. Ia menemukan relevansi yang signifikan antara kesehatan mental lansia dengan tindakan masyarakat untuk menjaga jarak sosial (social distancing). Studinya menyoroti perilaku publik dalam menjaga jarak dengan pasien yang memiliki riwayat penyakit depresi dan skizofrenia. Literatur ini memperlihatkan bahwa keberadaan pasien dengan riwayat kejiwaan rentan diperlakukan kurang baik oleh publik.

Di sisi lain, Studi (Abu Bakar et al., 2014) Bakar (2014) cukup menarik dalam membahas persoalan demensia. Studi ini melihat persoalan demensia merupakan persoalan multidimensi. Terlepas sebagai persoalan klinis, Bakar mengekspos keberadaan caregiver sebagai elemen utama dalam penanggulangan demensia di Malaysia. Ia menemukan bahwa caregiver mengalami detrimental efek. Seperti beban finansial, emosi, fisik, dan sosial dalam upaya menanggulangi persoalan demensia. Terlebih beban yang sangat dirasakan bagi caregiver informal.

Salah satu studi sosial lain teraktual lainnya adalah studi yang dikemukakan Kristopher Struckmeyer (Struckmeyer, 2021)(Struckmeyer et al., 2021) seorang praktisi di dari Oklahoma State University, Amerika telah banyak mengembangkan kajian dan riset dalam ilmu Gerontology. Studi-studinya berfokus untuk membangun pemahaman dan interaksi antara lansia dengan lingkungan sosial� seperti kaitannya pada aspek layanan kesehatan, dukungan sosial, pelatihan pendidikan, serta pada peningkatan kapasitas legislasi masyarakat untuk menghadapi masalah kesehatan masyarakat. Selaras dengan konsep dukungan sosial Pinkerton & Canavan (2016) (Pinkerton et al., 2016) yang melihat bentuk pendampingan atau asistensi untuk seseorang yang membutuhkan.� Dalam hal ini, pendampingan tersebut dapat diperoleh melalui dukungan formal maupun informal, seperti dengan menggunakan jasa tenaga profesional, jasa panti sosial atau hanya dengan bantuan keluarga, keluarga besar, kerabat serta tetangga.

Dalam studinya ia memperlihatkan pendamping ODD selaku perempuan atau istri cenderung tidak bisa menerima atau kecewa dengan fakta untuk dapat menangani suami dengan demensia sepenuhnya. Terlebih, anak perempuan juga enggan menerima keberadaan ODD dengan tidak mengakuinya ke publik karena malu. Seiring dengan itu, penanganan ini dianggap beban juga didorong oleh faktor budaya patriarki yang menempatkan perempuan berperan dalam peran domestik termasuk terkait hal asuh-mengasuh untuk merawat lansia. Studinya ini menggambarkan dinamika interaksi pasangan suami-istri dalam keluarga yang mengalami proses caregiving di masa tua. Studi ini akan penulis kupas lebih lanjut pada artikel ini.

Hal baru yang menarik dikembangkan pada penelitian ini bermula pada terbatasnya penelitian-penelitian di atas yang mengulas secara spesifik tentang bagaimana penyakit demensia dapat berpengaruh besar pada kehidupan pasangan dalam usia pernikahan yang lebih lanjut. Penelitian ini mengulas kehidupan pasangan lanjut usia dalam menghadapi persoalan-persoalan dementia dan caregiving,

 

 

 

Perdebatan tentang bagaimana masyarakat atau individu dalam mengasuh lansia (caregiver) bukanlah sesuatu hal yang baru. Ragam studi telah menaruh atensi pada isu ini, termasuk dalam ilmu sosial turut berkembang kajian-kajian yang mengedepankan aspek sosial guna menangani persoalan-persoalan lansia.� Salah satu yang dikenal dalam studi-studi ini dikemukakan oleh Kristopher Struckmeyer (Struckmeyer, 2021) seorang praktisi di bidang caregiver dari Oklahoma State University, Amerika telah banyak mengembangkan kajian dan riset dalam ilmu Gerontology. Studi-studinya berfokus untuk membangun pemahaman dan interaksi antara lansia dan lingkungan mereka seperti pada aspek layanan kesehatan, dukungan sosial, pelatihan pendidikan, serta pada peningkatan kapasitas legislasi masyarakat untuk menghadapi masalah kesehatan masyarakat. Salah satu studi terkininya (Roberts & Struckmeyer, 2019) adalah �Ours is the Strangest Situation, Ours is Different from Most Peoples�: Spousal Caregiver Perspectives on the Complex Challenges of Dementia Caregiving in Late-Life Marriage yang menggambarkan dinamika interaksi pasangan suami-istri dalam keluarga yang mengalami proses caregiving di masa tua. Studi ini akan penulis kupas lebih lanjut pada artikel ini.

Hal menarik yang dikembangkan pada penelitiannya ini bermula pada terbatasnya penelitian-penelitian yang mengulas secara spesifik tentang bagaimana penyakit demensia dapat berpengaruh besar pada kehidupan pasangan dalam usia pernikahan yang lebih lanjut. Penelitiannya mengulas secara lebih dalam kehidupan pasangan usia lanjut dalam menghadapi persoalan-persoalan dementia. Oleh karenanya, sampai penelitiannya tersebut dihasilkan, artikel yang juga dikemukakan melalui tulisan ini� akan menampilkan isu yang berkenaan dengan isu kesehatan publik, caregiving, pengorbanan dan kesamaan serta perbedaan peran dalam pernikahan secara seksama untuk merespon gagasan dan temuan yang disampaikan melalui penelitian tersebut[Ai1] .

 

 

Metode Penelitian[Ai2] 

Metode Studi literatur dilakukan untuk melihat kekuatan maupun keterbatasan dari isu iniPendekatan penelitian yang digunakan oleh Struckmeyer dkk adalah pendekatan kualitatif yakni studi kasus (Creswell & Creswell, 2017) (Creswell, 2013) �dengan strategi wawancara mendalam (indepth interview) pada 2 (dua) perempuan yang berperan sebagai� caregiver dari suami yang mengalami Demensia atau dikenal dengan istilah Orang Dengan Demensia (ODD). Kedua perempuan tersebut adalah� Doris (69 tahun)� dan Ginger. (78 tahun).

Struckmeyer dkk melakukan penelitian� selama 6� (enam)� bulan. Fokus kajiannya menggali dan membandingkan dinamika keluarga dari 2 (dua) kasus, yakni para Istri sebagai caregiver dari suami-suaminya yang ODD.

Dengan demikian, artikel ini bertujuan untuk memberi tinjauan kritis (critical review) terhadap studip Struckmeyer dan Roberts (Roberts & Struckmeyer, 2019) yang berfokus mengkaji dinamika keluarga dari 2 (dua) kasus kehidupan 2 sepasang keluarga yang melangsungkan peran Caregiver untuk merawat ODD dalam rumah tangganya.  

-Ginger dan Jack

Struckmeyer mengemukakan bahwa Ginger adalah seorang wanita Kaukasian berusia 78 tahun yang tinggal di Midwestern. Dia menikah dengan Jack, yang merupakan suami keduanya. Ginger dan Jack sebelumnya telah berteman dekat selama bertahun-tahun. Ginger kehilangan suami pertamanya karena kanker yang diidap mantan suaminya selama 4 tahun. Seiring itu ia masih menjaga hubungan baik dengan Jack selama beberapa tahun terakhir, yang kemudian membuat mereka memutuskan untuk menikah pada tahun 2006. Dimana, dalam pernikahannya dengan Jack saat ia sudah didiagnosa sakit demensia pada usia 75 tahun. Saat ini usia pernikahannya sudah berlangsung selama 10 tahun. Ginger dan Jack sama-sama membawa anak dari hasil pernikahannya masing-masing dengan pasangan yang sebelumnya. Ginger memiliki putra dan putri dan dua cucu dan Jack memiliki seorang putri dewasa dan satu cucu

Pada suatu kondisi dalam dinamika hubungan mereka, Jack mengatakan kepada Ginger bahwa ia berhenti dari pekerjaannya sebagai sebagai pegawai kantor pos. Ginger menceritakan bahwa ini adalah momen transisi dalam pernikahan mereka. Dimana ia merasa seketika mendapatkan beban tanggung jawab baru yang berkali lipat dimana ia tersadarkan untuk wajib merawat suaminya yang ODD. Khususnya keharusannya dalam menyiapkan dana yang besar untuk biaya perawat demensia Jack dan keberlangsungan hidup mereka kedepannya. Dalam 1 tahun awal pernikahannya, Ginger menjadi sadar bahwa mimpi-mimpi yang dia miliki sebelumnya untuk hidup tenang dan damai tidak akan mampu terwujud dalam situasinya kini. Hal ini pada akhirnya membawa Ginger dalam situasi yang sangat stress, penuh konflik dan mendorong keraguannya tentang pernikahannya dengan Jack selama beberapa tahun ke depan

-Doris dan Frank

Struckmeyer mendeskripsikan Doris adalah seorang wanita Kaukasia berusia 69 tahun yang telah bercerai darinya suami pertamanya Frank selama 20 tahun. Frank diagnosis demensia pada tahun 2012. Sebaliknya, sempat terpisah selama 4 tahun setelah mereka bercerai, Doris dan Frank memutuskan untuk menikah lagi pada tahun 2016 dan memiliki dua orang dewasa putri dan satu cucu. Frank sekarang berusia 65 tahun.

Hal yang mendorong Doris untuk kembali menerima Jack, adalah karena dorongan perasaan dimana ia merasa penting untuk mendampingi Frank saat kondisi kesehatannya akibat demensia semakin memburuk. Sehingga kondisi dan situasi ini membuat Doris terpanggil lagi untuk mendampingi Jack di masa akhir hidupnya. Di samping itu, keputusannya untuk menikahi Frank kembali ini didorong oleh keyakinannya atas takdir yang menggiring pendiriannya untuk menerima kenyataan akan kondisi Frank yang sepenuhnya dapat dengan ikhlas menerima keadaan

 

Pendekatan penelitian yang digunakan oleh penulis di atas adalah pendekatan kualitatif yang digunakan untuk memahami dinamika kehidupan� pasangan usia lanjut� dalam menghadapi dementia. Metode yang digunakannya adalah studi kasus dengan strategi wawancara mendalam (indepth interview) yang berfokus pada dua (2) perempuan caregiver dari suami seorang Orang Dengan Demensia (ODD) yang diwawancara selama kurun waktu enam (6) bulan. Keduanya bernama Doris dan Ginger. Penelitian ini mencoba menelusuri beberapa aspek dari kehidupan kedua pasangan tersebut, yaitu aspek (1) dinamika keluarga, (2) keterisolasian, (3) dinamika keuangan keluarga, dan (4) penerimaannya terhadap pasangannya yang mengalami demensia.

 

Hasil dan Pembahasan

Dari aspek yang difokuskan Struckmeyer berkenaan dengan aspek dinamika keluarga, pasangan ODD. Temuan� Struckmeyer atas 2 (dua) pasangan yang menjadi subyek penelitiannya� menunjukkan adanya� perbedaan:� : pertama, Doris memilih kembali untuk merawat suami pertamanya yang ODD setelah� ia memutuskan untuk meninggalkan kehidupan dengan suami keduanya. ementara Ginger menikahi Jack suaminya berdasarkan harapannya untuk memulai kehidupan baru. Keduanya harus menerima kekecewaan, kemarahan dan rasa bersalah bersamaan terkait dengan realitas keadaan yang mereka hadapi sebagai caregiver, keduanya juga menemukan diri dalam persoalan keuangan. Dimana tekanan-tekanan tentang uang ini relatif selalu ada dibenak untuk perempuan.

Terlepas dari kesamaan dalam pengalaman Caregiving mereka, Ginger dan Doris memiliki serangkaian kebutuhan dan situasi yang berbeda. Doris mencoba untuk berdamai dengan situasi di tengah keberadaan anak-anaknya yang tidak memperdulikan kondisi dan kesulitan yang dialami oleh nya dan suaminya yang demensia. Ditambah anak-anaknya belum mampu untuk menerima keberadaan ayahnya menikah kembali dengan ibunya. Di sisi lain, dalam soal pengasuhan, Ginger mungkin memiliki hasil yang relatif lebih baik dari pernikahannya yang kedua. Akan tetapi, kekecewaan yang ia rasakan dalam pernikahannya tersebut sebagian besar adalah alasan atas rasa bersalahnya kepada Jack, menurutnya dengan kembalinya bersama Jack ia meyakini Jack adalah tempat yang tepat untuk melampiaskan perasaannya. Lalu secara reflektif dengan hidup bersama Jack menghadapi cobaan demi cobaan dalam rumah tangganya ia merasa justru menjadi lebih tangguh secara emosional dan fisik dalam perannya sebagai pengasuh caregiver Jack.

Jika ditelisik secara seksama, dapat dikatakan jurnal ini cukup komprehensif menggambarkan� dinamika hubungan pasangan usia lanjut dalam menghadapi persoalan demensia. Diawali dengan penulis menggambarkan analisa situasi, dimana penulis menjelaskan setting umum persoalan-persoalan demensia yang tengah berkembang. Penulis mampu mengetengahkan persoalan yang jarang mendapatkan atensi dalam masalah demensia pada umumnya, yakni persoalan yang dialami oleh caregiver. Sebagaimana (Connidis, 2010) mengatakan terdapat banyak faktor yang memberatkan caregiver dalam mengasuh lansia, sehingga kehidupannya caregiver menjadi tidak seimbang. Beberapa faktor penting di antaranya turut mampu penulis eksplorasi secara lebih mendalam dalam artikelnya seperti faktor-faktor yang telah disebutkan sebelumnya.

Dalam menelusuri faktor-faktor tersebut, penulis dengan tepat menggunakan pendekatan kualitatif melalui metode studi kasus untuk memahami semua dinamika persoalan yang terjadi terhadap informan-informan yang dituju. Strategi wawancara mendalam digunakan penulis dengan menerapkan interview protocol yang ketat. Secara etis juga penulis membangun kesepakatan (consent) dengan informan-informannya. Sebab menurut (Alzheimer, 2019) melakukan wawancara dalam penanganan ODD pada umumnya merupakan suatu hal yang khusus, sehingga membutuhkan� prosedur tertentu. Secara lebih jauh, penulis secara khusus juga mampu menyajikan hasil wawancaranya ke dalam tema-tema dalam penelitiannya. Selaras pada (Yin, 2013), kategorisasi hasil wawancara dalam studi kasus ia sebut sebagai proses coding dalam tahap pengolahan data yang nantinya bermanfaat untuk dapat dianalisa dan disajikan secara lebih lanjut.

Lebih lanjut, penelitian ini membuka wawasan publik dalam memahami dinamika persoalan pasangan usia lanjut dalam menangani demensia. Khususnya dari sisi peran caregiver yang dialami oleh istri seorang ODD. Melalui kehidupan keluarga Doris dan Ginger sebagaimana yang dideskripsikan sebelumnya, terdapat ragam pemaknaan persoalan demensia yang dihadapi oleh keduanya. Aspek penolakan (denial) dan penerimaan (acceptance) serta dialami sebagai proses yang tidak mudah dilalui oleh mereka dalam menghadapi suaminya yang ODD. Serupa dengan (Miron et al., 2019) dalam studinya menjelaskan fenomena fear incompetence yakni munculnya perasaan takut yang dialami oleh anggota keluarga atau masyarakat untuk berinteraksi dengan ODD dikarenakan terdapat perbedaan perilaku yang dialami ODD. Fenomena ini membatasi interaksi dan menimbulkan jarak sosial antar hubungan ODD dengan individu lainnya, dalam hal ini adalah anak sehingga membatasi dukungan sosial yang diberikan.� Melihat hal ini, penelitian ini serta membantu pembaca mendapatkan gambaran khusus bagi caregiver-caregiver lainnya yang juga mengalami hal serupa.�

Melihat lebih jauh, adapun tulisan penulis ini juga memiliki beberapa kekurangan. Pertama, penulis kurang menggambarkan secara lebih detail bentuk karakterteristik demografi keluarga dari tiap informannya. Misalnya, berapa jumlah anaknya, usia, agama, etnis dan jenis kelaminnya maupun kondisi sosial dari lingkungan tetangganya. Penulis dengan sederhana hanya mendeskripsikan dari salah satu informannya Doris yang hanya sebatas memiliki anak yang tidak mampu menerima (acceptance) terhadap kondisi ayahnya yang ODD. Tanpa dideskripsikan lebih lengkap, hal ini membuat pembaca sulit untuk menangkap situasi utuh yang mempengaruhi kondisi sosial keluarga dari tiap informannya.

Jika dibandingkan, seperti studi (Rote et al., 2019) dan (Khan et al., 2017) mengemukakan bahwa bentuk karakteristik keluarga berpengaruh besar dalam keberlangsungan hidup caregiver maupun ODD secara signifikan. Dalam studinya, keluarga dengan anggota keluarga yang lebih banyak relatif mampu memberikan berbagai dukungan kepada ODD dibandingkan dengan jumlah anggota keluarga yang lebih sedikit. Selaras dengan itu, studi (Ezeigbo, 2017) serta menunjukan aspek etnis turut menentukan nilai penghormatan terhadap lansia dalam memberikan bentuk dukungan-dukungan keluarga yang diberikan kepada ODD. Dalam studinya dikemukakan keberadaan etnis campuran� Mexico-Amerika, Korea-Amerika, Jepang-Kanada di amerika memiliki kecenderungan nilai penghormatan terhadap lansia yang begitu tinggi.

 

Kesimpulan

Dengan demikian, secara seksama studi penulis akan lebih komprehensif apabila dapat memenuhi beberapa aspek di atas, khususnya terkait bagaimana penulis menyajikan gambaran�������� karakteristik sosial keluarga maupun lingkungan setempat. Sebab, dengan dituangkannya penggambaran tersebut, pembaca maupun publik secara umum dapat memahami situasi pendukung lainnya yang membentuk pemaknaan informan-informannya dalam menjalani kehidupannya sebagai caregiver ODD.

Adapun, disaat bersamaan studi ini juga dapat dikatakan sebagai studi yang berhasil mengangkat dinamika kehidupan caregiver ODD secara umum. Penulis mampu untuk menyajikannya secara tertulis dengan menggunakan pendekatan kualitatif, dengan metode studi kasus, dimana penulis mampu untuk mengeksplorasi segala bentuk pemaknaan-pemaknaan informan secara lebih mendalam. Di tambah, studi yang penulis angkat ini merupakan studi yang jarang dikemukakan oleh peneliti lain pada umumnya yang mengulas sisi kehidupan dari kelompok caregiver. Dimana dalam persoalan sosial demensia, juga merupakan elemen penting yang harus mendapatkan atensi.

Akhir kata, dari studinya penulis dapat menilai bahwa tulisannya ini dapat bermanfaat secara khusus bagi kelompok caregiver baik dari keluarga maupun profesional dalam menanggulangi maupun menghadapi persoalan demensia dalam kehidupan sehari-hari. Studinya sangat direkomendasikan bagi keluarga, pekerja sosial, mahasiswa, akademisi, NGO, praktisi maupun pemerintah yang memiliki atensi besar dalam menanggulangi demensia di komunitasnya.

 

Bibliografi[Ai3] 

 

Alzheimer, Y. I. (2019). Alzheimers Indonesia. alzi.or.id. Retrieved Maret Kamis, 2021, from https://alzi.or.id/

Anca, M. M., Thompson, A. E., Bagley, A., Anderson, J., Melotik, E., & Rowley, S. (2019). Fear of Incompetence in Intergenerational Relationships with a Family Member with Dementia. Journal of Intergenerational Relationships, 17(4), 449�467. Google Scholar

Bakar, A. (2014). Projecting Social Support Needs of Informal Caregivers in Malaysia. Health and Social Care in the Community, 22((2)), :144�54. Google Scholar

Cresswell, J. (2013) Research design: Qualitative, quantitative and mixed methods approaches. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Google Scholar

.Definition of caregiver. (n.d.). caregiver. Retrieved Maret 29, 2021, from https://www.merriam-webster.com/dictionary/caregiver. Google Scholar

Ezeigbo, P. U. (2017). Staff And Family Perspectives Regarding The Feeling Of Long-Term Care Patients Expression Of Being Deserted. Capella University. Google Scholar

Ezeigbo, U. P. (2017). Taff And Family Perspectives Regarding The Feeling Of Long-Term Care Patients Expression Of Being Deserted. Capella University. Google Scholar

Khan, H. T., Hussein, S., & Deane, J. (2017). Nexus Between Demographic Change and Elderly Care Need in the Gulf Cooperation Council (GCC) Countries: Some Policy Implications. Ageing International, 42(4), 466�487. Google Scholar

Kroska, Amy, & Sarah K. (2014). Illness Labels and Social Distance. Society and Mental Health, 4((3)), :215�234. Google Scholar

Pinkerton, J., & Canavan, J. (2016). Understanding Family Support: Policy, Practice and Theory. Jessica Kingsley Publishers. Google Scholar

Rote, & Hinton, L. (2019). Characteristics and Consequences of Family Support in Latino Dementia Care. Journal of Cross-Cultural Gerontology, 34((4):), 337�354. Google Scholar

Rote, Sunshine, Angel, J., & Hinton, L. (2019). Characteristics and Consequences of Family Support in Latino Dementia Care. Characteristics and Consequences of Family Support in Latino Dementia Care, 34(4), 337�354. Google Scholar

Struckmeyer, K. (2021). Directory. education.okstate.edu. Retrieved Maret Rabu, 2021, from https://education.okstate.edu/departments-programs/hdfs/directory/kristopher-struckmeyer.html. Google Scholar

Struckmeyer, K. M. .., Emily, & Roberts. (2019). Ours Is the Strangest Situation, Ours Is Different from Most Peoples�: Spousal Caregiver Perspectives on the Complex Challenges of Dementia Caregiving in Late-Life Marriage.� Marriage and Family Review. Marriage and Family Review, 55(6), 584�600. Google Scholar

Yin, R. K. (2013). Studi Kasus, Desain & Metode. Rajawali Pers, Jakarta. Google Scholar

Alzheimer, Y. I. (2019). Alzheimers Indonesia. alzi.or.id. Retrieved Maret Kamis, 2021, from. https://alzi.or.id/

 

Connidis, I. A. (2010). Family ties and aging. Pine Forge Press, Los Angeles. Google Scholar

 

Ezeigbo, P. U. (2017). Staff and Family Perspectives Regarding the Feeling of Long-Term Care Patients Expression of Being Deserted. Capella University. Google Scholar

 

Khan, H. T. A., Hussein, S., & Deane, J. (2017). Nexus between demographic change and elderly care need in the Gulf Cooperation Council (GCC) Countries: some policy implications. Ageing International, 42(4), 466�487. Google Scholar

 

Miron, A. M., Thompson, A. E., Bagley, A., Anderson, J., Melotik, E., & Rowley, S. (2019). Fear of Incompetence in Intergenerational Relationships with a Family Member with Dementia. Journal of Intergenerational Relationships, 17(4), 449�467. Google Scholar

 

Roberts, E., & Struckmeyer, K. M. (2019). �Ours is the Strangest Situation, Ours is Different from Most Peoples�: Spousal Caregiver Perspectives on the Complex Challenges of Dementia Caregiving in Late-Life Marriage. Marriage & Family Review, 55(6), 584�600. Google Scholar

 

Rote, S., Angel, J., & Hinton, L. (2019). Characteristics and consequences of family support in Latino dementia care. Journal of Cross-Cultural Gerontology, 34(4), 337�354. Google Scholar

 

Struckmeyer, K. (2021). Directory. education.okstate.edu. Retrieved Maret Rabu, 2021. https://education.okstate.edu/departments-programs/hdfs/directory/kristopher-struckmeyer.html. Google Scholar

 

Yin, R. K. (2013). Studi Kasus, Desain & Metode. Rajawali Pers, Jakarta.1-9. Google Scholar

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


Copyright holder :

Putra Kreshna Manggala Putra dan Ida Ruwaida Noor (2021)

 

First publication right :

Journal Syntax Transformation

 

This article is licensed under:

Creative Commons License


 [Ai1] [Ai1]Tambahkan tujuan penelitian

 

 [Ai2]Cantumkan referensi metopen

 [Ai3] [Ai3]Sesuai dengan ketentuan yang telah dilakukan, maka referensi yang diambil harus berjumlah 15 dan tahun yang di ambil dari referensi 10 tahun ke belakang