Jurnal Syntax Transformation

Vol. 2 No. 5, Mei �2021

p-ISSN : 2721-3854 e-ISSN : 2721-2769

Sosial Sains

 

ANALISIS PENGARUH PRODUK DOMESTIK REGIONAL BRUTO, INDEKS PEMBANGUNAN MANUSIA, DAN TINGKAT PENGANGGURAN TERBUKA TERHADAP JUMLAH PENDUDUK MISKIN DI KABUPATEN GRESIK

 

Putri Indah Sari, Sri Muljaningsih dan Kiky Asmara

Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Veteran Jawa Timur, Indonesia��������

Email:� [email protected], �[email protected] dan [email protected]

 

INFO ARTIKEL

ABSTRACT

Diterima

21 April 2021

Direvisi

2 Mei 2021

Disetujui

15 Mei 2021

Poverty is a condition in which a person is unable to meet his daily needs because not all economic sectors can become the base sector, causing the income distribution to be low, and also due to the low quality of human life and the high unemployment rate. This study uses a research method with a quantitative approach. The data used in this study are secondary data and Time Series data from 2000-2019. The purpose of this study was to determine the effect of the Gross Regional Domestic Product, Human Development Index, and the Open Unemployment Rate on the Number of Poor People in Gresik Regency. The analysis technique in this research is using Multiple Linear Regression Analysis. The results in this study indicate that the Gross Regional Domestic Product Variables and Human Development Index have a negative and significant effect on the Number of Poor People, while the Open Unemployment Rate has a positive and significant effect on the Number of Poor People.

 

ABSTRAK

Kemiskinan adalah suatu keadaan dimana seseorang tidak mampu untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari yang disebabkan oleh tidak semua sektor ekonomi dapat menjadi sektor basis, sehingga menyebabkan distribusi pendapatan masih rendah, dan juga disebabkan oleh masih rendahnya kualitas hidup manusia dan tingkat pengangguran yang masih terbilang tinggi. Penelitian ini menggunakan metode penelitian dengan pendekatan kuantitatif. Data yang digunakan dalam penelitian ini merupakan data sekunder dan data Time Series dari tahun 2000-2019. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh dari Produk Domestik Regional Bruto, Indeks Pembangunan Manusia, dan Tingkat Pengangguran Terbuka terhadap Jumlah Penduduk Miskin di Kabupaten Gresik. Teknik analisis dalam penelitian ini menggunakan Analisis Regresi Linier Berganda. Hasil dalam penelitian ini menunjukkan bahwa Variabel Produk Domestik Regional Bruto dan Indeks Pembangunan Manusia berpengaruh negatif dan signifikan terhadap Jumlah Penduduk Miskin, sedangkan Tingkat Pengangguran Terbuka berpengaruh positif dan signifikan terhadap Jumlah Penduduk Miskin.

Keywords :

number of poor population; gross regional domestic product; human development index; open unemployment rate

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Kata Kunci:

jumlah penduduk miskin; produk domestik regional bruto; indeks pembagunan manusia, tingkat pengangguran terbuka



Pendahuluan

Kemiskinan adalah suatu keadaan dimana seseorang tidak mampu untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari, salah satu penyebabnya adalah karena tidak semua sektor ekonomi dapat berkembang atau menjadi sektor basis sehingga menyebabkan distribusi pendapatan masih rendah, selain itu persoalan kemiskinan juga disebabkan oleh masih rendahnya kualitas hidup manusia dan tingkat pengangguran yang masih terbilang tinggi. Menurut M.Nasir 2008 (Ayu, 2018), Permasalahn kemiskinan merupakan permasalahan yang kompleks dan multidemensi, sehingga untuk menyelesaikan masalah kemiskinan harus dilakukan dengan komprehensif yang mencakup berbagai aspek kehidupan masyarakat dan dilaksankan dengan terpadu.

Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) merupakan nilai bersih barang dan jasa akhir yang dihasilkan dari kegiatan-kegiatan ekonomi dalah suatu wilayah daerah dalam periode tertentu (Sigalingging, 2019). PDRB menggambarkan kemampuan suatu daerah dalam mengelola potensi sumber daya alam yang dimiliki, besaran dari PDRB yang dihasilkan dari masing-masing daerah bergantung pada potensi sumber daya alam dan faktor produksi yang dimiliki daerah tersebut. Total PDRB menunjukkan jumlah seluruh nilai tambah yang dihasilkan oleh penduduk dalam periode tertentu (Susanti, 2016). Menurut (Badan Pusat Statistik), PDRB dihitung berdasarkan atas dasar harga berlaku� dan atas dasar harga konstan. PDRB atas dasar harga berlaku menggambarkan nilai tambah barang dan jasa yang dihitung menggunakan harga pada tahun berjalan untuk mengetahui kemampuan sumber daya ekonomi, pergeseran, dan struktur ekonomi suatu daerah. Sedangkan PDRB atas dasar harga konstan menggambarkan nilai barang dan jasa yang dihitung menggunakan harga yang berlaku pada satu tahun tertentu sebagai tahun dasar untuk mengetahui pertumbuhan ekonomi secara riil dari tahun ke tahun atau pertumbuhan ekonomi yang tidak dipengaruhi oleh faktor harga.

Indeks Pembangunan Manusia (IPM) merupakan indikator strategis yang banyak digunakan untuk melihat upaya dan kinerja program pembangunan secara menyeluruh di suatu wilayah (Susanti, 2016). United Nations Development Programme (UNDP) sejak tahun 1990 menggunakan IPM untuk mengukur pencapaian pembangunan manusia suatu negara dan mempublikasikan dalam laporan tahunan Human Development Report (HDR) (Faqihudin, 2012). Menurut (Badan Pusat Statistik) , IPM mencakup tiga bidang pembangunan manusia yang dianggap sangat mendasar yaitu : (1) Bidang Kesehatan : Usia Hidup (logetivity), umur panjang dan kehidupan yang sehat dengan indikator angaka harapan hidup. (2) Bidang Pendidikan: Pengetahua (Knowledge), dengan indikator angka melek huruf dan kombinasi dari angka partisipasi sekolah untuk tingkat dasar, menengah dan tinggi. (3) Bidang Ekonomi: Standar Hidup Layak (Decent Living), dengan indikator PDRB per kapita dalam bentuk Purchasing Power Parity (PPP) atau keseimbangan kemampuan belanja.

Pengangguran selalu dikaitkan dengan angkatan kerja (labor force). Angkatan kerja adalah bagian dari penduduk : (1) berusia 15 s/d 65 tahun (2) mempunyai kemauan dan kemampuan untuk bekerja (3) serta sedang mencari pekerjaan (Murni, 2009). Semakin tinggi angka pengangguran akan menunjukkan bahwa penduduk dalam kondisi yang kurang baik karena tidak semua angkatan kerja telah memperoleh pekerjaan. Bagi angkatan kerja yang tidak memiliki pekerjaan tetap atau hanya kerja part time �akan berada dalam kelompok masyarakat miskin (dalam Widodo, 2018). Menurut (Badan Pusat Statistik), pengangguran dibagi menjadi dua klasifikasi yaitu: (1) Pengangguran Terbuka, yaitu penduduk yang telah masuk dalam angkatan kerja tetapi tidak memiliki pekerjaan dan sedang mencari pekerjaan, mempersiapkan usaha, serta sudah memiliki pekerjaan tetapi belum bekerja. (2) Pekerja tidak penuh, yaitu penduduk yang bekerja dibawah jam kerja nirmal (35 jam dalam seminggu).

Menurut Witjaksono 2009 (Kurniawan, 2013) berpendapat bahwa Pembangunan ekonomi sebagai proses pembangunan yang dilaksanakan oleh suatu daerah atau negara dalam rangka memakmurkan warga negara nya atau penduduk daerah setempat. Pembangunan ekonomi dapat dilihat dan diukur dengan cara membandingkan jumlah produksi barang dan jasa dengan tahun sebelumnya, terdapat beberapa hal yang perlu dimiliki dalam proses pembangunan ekonomi tersebut seperti Sumber Daya Manusia (SDM), Sumber Daya Alam (SDA), dan Teknologi.

Salah satu sasaran dari adanya pembangunan ekonomi adalah untuk menurunkan tingkat kemiskinan. Pembangunan ekonomi Indonesia cenderung berpusat di Pulau Jawa, tetapi pada kenyataannya masalah kemiskinan muncul di Pulau Jawa. Pulau Jawa masih menempati posisi sebagai pulau dengan Jumlah Penduduk Miskin terbanyak yaitu sebesar 12,56 juta jiwa dari 150,4 juta jiwa penduduk di tahun 2019 (Databoks, 2020). Dari data Publikasi Statistik yang dirilis BPS, sebaran Jumlah Penduduk Miskin yang terbanyak berada di Provinsi Jawa Timur, Jumlah Penduduk Miskin Provinsi Jawa Timur pada tahun 2017 sebesar 4,40 juta jiwa dengan presentase penduduk miskin 11,20%, pada tahun 2018 Jumlah Penduduk Miskin di Provinsi Jawa Timur sebesar 4,33 juta jiwa dengan presentase penduduk miskin 10,85% dan pada tahun 2019 Jumlah Penduduk Miskin Provinsi Jawa timur sebesar 4,29 juta jiwa dengan presentase penduduk miskin 10,20% (Badan Pusat Statistik Jawa Timur, 2020). Presentase Jumlah Penduduk Miskin Provinsi Jawa timur masih relatif tinggi, dimana dalam tiga tahun terakhir presentase nya masih diatas 10%, hal ini menunjukkan bahwa kemiskinan disetiap Kabupaten/Kota di Provinsi Jawa Timur juga masih relatif tinggi.

Kabupaten Gresik sebagai salah satu Kabupaten di Provinsi Jawa Timur yang dikenal dengan daerah industri dengan memiliki ratusan industri dari skala besar hingga home industry tentunya mampu membuka lapangan pekerjaan bagi warga di Kabupaten Gresik, sehingga dengan banyaknya lapangan pekerjaan diharapkan mampu menurunkan Jumlah Penduduk Miskin di Kabupaten Gresik, tetapi pada kenyataannya Jumlah Penduduk Miskin di Kabupaten Gresik masih tinggi. Tercatat dalam tiga tahun terakhir yaitu pada tahun 2017 Jumlah Penduduk Miskin di Kabupaten Gresik mencapai 164 ribu jiwa dengan presentase penduduk miskin 12,80%, pada tahun 2018 Jumlah Penduduk Miskin sebanyak 154 ribu jiwa dengan presentase penduduk miskin 11,89% dan pada tahun 2019 tercatat Jumlah Penduduk Miskin sebesar 148 ribu jiwa dengan presentase penduduk miskin 11,35% (Badan Pusat Statistik Kabupaten Gresik, 2020). Jika dilihat dari Jumlah Penduduk Miskinya, Kabupaten Gresik memang mengalami penurunan meskipun tidak signifikan dimana Jumlah Penduduk Miskin pada tahun 2017 ke 2018 menurun sebesar 0,06% dan pada tahun 2018 ke 2019 menurun sebesar 0,04%. Akan tetapi jika dibandingkan dengan presentase Jumlah Penduduk Miskin Provinsi maka Kabupaten Gresik tergolong memiliki kemiskinan yang masih relatif tinggi, dimana presentase penduduk miskin Kabupaten Gresik dalam tiga tahun terakhir masih diatas presentase provinsi. Belum berhasilnya usaha pemerintah dalam mengatasi masalah Kemiskinan menjadi salah satu penyebab Kabupaten Gresik masih tergolong memiliki kemikinan yang relatif tinggi dibandingkan dengan Kabupaten/Kota lain yang ada di Provinsi Jawa Timur.

Tujuan dari penelitian ini adalah : (1) Untuk mengetahui dan menganalisis apakah Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) berpengaruh terhadap Jumlah Penduduk Miskin di Kabupaten Gresik. (2) Untuk mengetahui dan menganalisis apakah Indeks Pembangunan Manusia (IPM) berpengaruh terhadap Jumlah Penduduk Miskin di Kabupaten Gresik. (3) Untuk mengetahui dan menganalisis apakah Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) berpengaruh terhadap Jumlah Penduduk Miskin di Kabupaten Gresik.

Penelitian terdahulu yang menjadi pendukung� dalam penelitian ini semua menggunakan data panel yang merupakan data gabungan dari data Cross Section dan Time Series dan menggunakan model Fixed Effects sebagai model terbaik yang terpilih dari dua model data panel lainya yaitu Common Effects dan Random Effects. Sedangkan penelitian ini menggunakan data Time Series yang merupakan data yang memiliki runtun waktu lebih dari satu tahun pada suatu objek. Data Time Series dipilih karena lebih mudah tanpa menggabungkan dua data yaitu data Cross Section dan Time Series dan tanpa harus menentukan model yang terbaik yang akan digunakan dalam menganalisis hasil penelitian.� Sehingga data dan metode yang digunakan dalam penelitian ini lebih mudah dan tepat dalam menjawab tujuan dari penelitian ini.

 

Metode Penelitian

Metode penelitian ini menggunakan metode pendekatan penelitian kuantitatif. Penelitian kuantitatif adalah suatu cara yang digunakan untuk menjawab masalah �penelitian yang berkaitan dengan data berupa angka dan program statistik (Wahid, murni 2017). Penelitian kuantitatif berawal dari suatu kerangka teori, gagasan para ahli, ataupun pemahaman peneliti yang kemudian dikembangkan menjadi suatu permasalahan dan pemecahan yang diajukan untuk mendapatkan pembenaran dalam bentuk dukungan data empiris di lapangan.

Penelitian ini dilakukan di Kabupaten Gresik, populasi dalam penelitian ini adalah Jumlah Penduduk Miskin di Kabupaten Gresik dan sampel yang digunakan adalah Jumlah Penduduk Miskin Kabupaten Gresik tahun 2000-2019. Jenis data yang digunakan adalah data sekunder yang merupakan data yang sudah tersedia yang dikumpulkan oleh pihak lain atau data yang bukan diusahakan sendiri pengumpulanya oleh peneliti. Data sekunder yang digunakan dalam penelitian ini adalah data Time Series dari tahun 2000-2019 yang dikumupulkan oleh peneliti melalui metode dokumentasi, peneliti mengumpulkan data dari data-data yang dipublikasikan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Gresik dalam berbagai tahun publikasi.

Penelitian ini menggunakan empat variabel, yang terdiri dari tiga variabel independen atau bebas yaitu Produk Domestik Regional Bruto (PDRB), Indeks Pembangunan Manusia (IPM) dan Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT). dan satu variabel dependen atau terikat yaitu Jumlah Penduduk Miskin. Keempat variabel tersebut di analisis menggunakan Analisis Regresi Linier berganda untuk mengetahui hubungan antar variabel sehingga dapat diketahui hipotesis yang diajukan tepat atau tidak. Menurut (Sugiyono, 2016) persamaan regresi linier berganda dirumuskan sebagai berikut :

Y = α + β1X1 + β2X2 + β3X3 + e

Keterangan :

Y �= Jumlah Penduduk Miskin

ɑ�� = Konstanta

X1 = Produk Domestik Regional Bruto (PDRB)

X2 = Indeks Pembangunan Manusia (IPM)

X3 = Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT)

β..3 = Koefisien Regresi

e = standart error (variabel penganggu)

Keempat variabel tersebut �harus bersifat BLUE (Best Linier Unbiased Estimator) dalam hal ini harus memenuhi Analisis Asumsi Klasik dengan beberapa uji antara lain yaitu : Uji Normalitas, Uji Multikolinieritas, Uji Heterokedastisitas dan Uji Autokerelasi. Metode pengujian hipotesis dilakukan dengan Uji Statistik F dan Uji Statistik t dan untuk mengukur kemampuan model regresi dalam menjelaskan variasi variabel terikat dalam penelitian ini menggunakan Analisis Koefisien Determinasi (R2).

 

Hasil dan Pembahasan

A.   Hasil Pengujian

Agar dapat diperoleh hasil estimasi yang BLUE (Best Linier Unbiased Estimator) maka estimasi tersebut harus memenuhi beberapa asumsi yang saling berkaitan. Apabila salah satu asumsi tersebur di langgar maka persamaan regresi yang diperoleh tidak lagi bersifat BLUE, sehingga pengambilan keputusan melalui uji F dan uji t menjadi bias. Dalam hal ini harus dihindarkan terjadinya kasus-kasus sebagai berikut :

Uji Normalitas digunakan untuk mendeteksi apakah dalam model regresi variabel-variabel nya berdistribusi normal atau tidak. Dalam hal ini uji normalitas data dilakukan dengan menggunakan pendekatan Kolmogorov Smirnov.

Tabel 1

Hasil Uji Normalitas

One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test

 

Unstandardized

Residual

 

N��������������������� ����������������������������������������20

df

Normal ������������Mean������������������� ,0000000

Parametersa,b� ��Std.�������������������� ,91766294

������������������������ Deviation����

 

Most Extreme� Absoute����������������������� ,179��

Differences����� Positive������������������������ ,110

������������������������ Negative��������������������� -,179

 

Kolmogorov Smirnov Z����������������������� ,800

 

Asymp. Sig. (2-tailed)�� ������������������������,544

 

Sumber : Olah data SPSS, 2020

Hasil Uji normalitas diatas menunjukkan bahwa data berdistribusi normal karena nilai dari Asymp. Sig. (2-tailed) 0,544 lebih besar dari 0,05.

Uji Multikolinieritas digunakan untuk mendeteksi apakah model regresi ditemukan adanya korelasi antar variabel bebas. Indikator model regresi yang baik adalah tidak adanya korelasi di antara variabel independen. Untuk menguji multikolinieritas digunakan dengan cara melihat nilai Variance Inflation Factor (VIF), suatu model regresi tidak terjadi multikolinieritas jika nilai VIF lebih kecil dari 10 dan nilai tolerance diatas 0,1.

Tabel 2

Hasil Uji Multikolinieritas

 

Model

Constant���������������������

Collinearity Statistic

Tolerance�������������� VIF

PDRB�

IPM

TPT

,407����������������������� 2,457

,492����������������������� 2,032

,695����������������������� 1,438

Sumber : Olah data SPSS, 2020

 

Berdasarkan tabel di atas menunjukkan bahwa tidak terjadi Multikolinieritas karena nilai dari VIF lebih kecil dari 10 dan nilai tolerance diatas 0,1.

Uji Heterokedastisitas digunakan untuk mendeteksi apakah dalam model regresi yang digunakan terjadi ketidaksamaan antar varians dari residual satu ke pengamatan lainya. Uji heterokedastisitas dalam penelitian ini� menggunakan metode Rank Spearman, dalam hal ini suatu model regresi tidak terjadi heterokedastisitas jika nilai signifikan lebih besar dari 0,05.

Tabel 3

Hasil Uji Heterokedastisitas�

�Variabel X

 

 

 

Variabel Y

Sig2-tailed (PDRB)

Sig2-tailed (IPM)

Sig2-tailed (TPT)

Jumlah Penduduk Miskin

0,531

0,431

0,980

Sumber : Olah data SPSS, 2020

 

Berdasarkan tabel di atas menunjukkan bahwa tidak terjadi Heterokedastisitas karena nilai signifikan lebih besar dari 0,05.

Uji Autokorelasi digunakan untuk mendeteksi ada atau tidaknya korelasi yang terjadi antara residual pada satu pengamatan dengan pengamatan lain pada model regresi. Uji autokorelasi dalam penelitian ini menggunakan Durbin Watson. Suatu model regresi tidak terjadi Autokorelasi jika nilai du < d < 4-du.

Tabel 4

Hasil Uji Autokorelasi

Variabel Bebas

3 (k=3)

N

��������������������������� 20

Durbin Watson� tabel

dL�������������� ��0,9976

�dU��������������� 1,6763

4-dU������������ 2,3237

4-dL������������� 3,0024

Durbin Watson test

�� �������������������2,224

Sumber : Olah data SPSS, 2020

 

�

Gambar 1

Kurva Statistik Durbin Watson

Sumber : Olah data SPSS, 2020

 

Berdasarkan tabel dan gambar diatas menunjukkan bahwa tidak terjadi Autokorelasi karena nilai du (1,6763) < d (2,224) < 4-du (2,3237).

 

Tabel 5

Hasil Uji Statistik F

Model

F hitung

Sig

F tabel

1

27,992

0,000

�3,24

Sumber : Olah data SPSS, 2020

 

Berdasarkan tabel di atas menunjukkan bahwa� nilai F hitung sebesar 27,992 dengan nilai signifikan 0,000 dan nilai F tabel untuk residual 16 dan regression 3 sebesar 3,24. Dari hasil tersebut terlihat bahwa F hitung lebih besar dari F tabel yaitu 27,992 > 3,24 maka Ho ditolak dan Ha diterima, artinya menerima dugaan bahwa variabel bebas (PDRB, IPM dan TPT) berpengaruh terhadap variabel terikat (Jumlah Penduduk Miskin). Dengan demikian PDRB, IPM, dan TPT berpengaruh secara simultan terhadap Jumlah Penduduk Miskin.

Tabel 6

Hasil Uji Statistik t

Unstandardized Coefficients������

Model

B

Std.

Error

t �t

hitung

Sig.

Constant

 

-194,48

159954,3

 

 

PDRB

-,001

,000

-5,787

0,000

IPM

-5642,50

2401,86

-2,349

0,032

TPT

7413,44

3136,76

2,363

0,031

Sumber : Olah data SPSS, 2020

 

Berdasarkan tabel diatas menunjukkan bahwa nilai t hitung variabel PDRB sebesar = -5,787 dan nilai t tabel = 2,093 dari hasil tersebut maka t hitung lebih besar dari t tabel. Artinya Ho ditolak dan Ha diterima, sehingga secara parsial variabel PDRB berpengaruh negatif terhadap Jumlah Penduduk Miskin, hal ini juga didukung dengan nilai signifikansi nya yaitu sebesar 0,000 lebih kecil dari 0,05. Nilai t hitung variabel IPM sebesar = -2,349 dan nilai t tabel = 2,093 dari hasil tersebut maka t hitung lebih besar dari t tabel. Artinya Ho ditolak dan Ha diterima, sehingga secara parsial variabel IPM berpengaruh negatif terhadap Jumlah Penduduk Miskin, hal ini juga didukung dengan nilai signifikansi nya yaitu sebesar 0,032 lebih kecil dari 0,05. Nilai t hitung variabel TPT sebesar = 2,363 dan nilai t tabel sebesar = 2,093 dari hasil tersebut maka t hitung lebih besar dari t tabel. Artinya Ho ditolak dan Ha diterima,sehingga secara parsial variabel TPT berpengaruh positif terhadap Jumlah Penduduk Miskin, hal ini juga didukung dengan nilai signifikansi nya yaitu 0,031 lebih kecil dari 0,05.

Dari tabel diatas juga dapat diperoleh persamaan regresi sebagai berikut :

Y = -194,48 -0,001X1 -5,642X2 +7,413X3

Nilai konstanta positif menunjukkan bahwa pengaruh positif variabel bebas (PDRB, IPM, dan TPT). Jika variabel bebas naik atau berpengaruh dalam satu satuan, maka variabel terikat (Jumlah Penduduk Miskin) akan naik atau terpenuhi.

Tabel 7

Hasil Koefisien Determinasi

Model

R Square

Adjusted R Square

�1

,840

,810

Sumber : Olah data SPSS, 2020

 

Berdasarkan tabel diatas menunjukkan bahwa nilai sebesar artinya 81% variabel bebas (PDRB, IPM, dan TPT) dapat menjelaskan variabel terikat (Jumlah Penduduk Miskin) dan sisanya yaitu sebesar 19% dijelaskan oleh Variabel lain.

 

B.   Pembahasan

Berdasarkan hasil pengujian diatas maka diperoleh pemahaman sebagai berikut :

1.    Pengaruh Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) terhadap Jumlah Penduduk Miskin di Kabupaten Gresik

Dari perhitungan uji t (parsial) pada model regresi, diperoleh nilai signifikan dari variabel Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) sebesar 0,000 < 0,05. Dan dari hasil perbandingan antara t hitung dengan t tabel menunjukkan bahwa nilai t hitung sebesar -5,787 dan nilai t tabel sebesar 2,093. Dari hasil nilai tersebut maka nilai t hitung -5,787 > nilai t tabel 2,093, sehingga dapat disimpulkan bahwa Ho ditolak dan Ha diterima, yang artinya Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) berpengaruh negatif dan signifikan terhadap Jumlah Penduduk Miskin di Kabupaten Gresik. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ketika nilai dari� Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) di Kabupaten Gresik meningkat maka dapat menurunkan Jumlah Penduduk Miskin yang ada di Kabupaten Gresik. Hasil penelitian ini didukung dan sejalan dengan penelitian (Alhudhori, 2017) yang menunjukkan bahwa Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) berpengaruh dan mempunyai hubungan negatif terhadap Jumlah Penduduk Miskin.

2.    Pengaruh Indeks Pembangunan Manusia (IPM) terhadap Jumlah Penduduk Miskin di Kabupaten Gresik

Dari perhitungan uji t (parsial) pada model regresi, diperoleh nilai signifikan dari variabel Indeks Pembangunan Manusia (IPM) sebesar 0,032 < 0,05. Dan dari hasil perbandingan antara t hitung dengan t tabel menunjukkan bahwa nilai t hitung sebesar -2,349 dan nilai t tabel sebesar 2,093. Dari hasil nilai tersebut maka t hitung -2,349 > nilai t tabel 2,093. Sehingga dapat disimpulkan bahwa Ho ditolak dan Ha diterima yang artinya Indeks Pembangunan Manusia (IPM) berpengaruh negatif dan signifikan� terhadap Jumlah Penduduk Miskin di Kabupaten Gresik. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ketika nilai dari Indeks Pembangunan Manusia di Kabupaten Gresik meningkat maka dapat menurunkan Jumlah Penduduk Miskin yang ada di Kabupaten Gresik, karena dengan kualitas Human Capital yang baik, maka kinerja ekonomi akan menjadi lebih baik dan dapat mengurangi pengangguran, meningkatkan tenaga kerja ahli dan meningkatkan upah yang tinggi sehingga dapat mengurangi jumlah penduduk miskin. Hasil penelitian ini didukung dan sejalan dengan penelitian (Ningrum, 2017) yang menunjukkan bahwa Indeks Pembangunan Manusia berpengaruh dan mempunyai hubungan negatif terhadap Jumlah Penduduk Miskin.

3.    Pengaruh Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) terhadap Jumlah Penduduk Miskin di Kabupaten Gresik

Dari hasil uji t (parsial) pada model regresi, diperoleh nilai signifikan dari variabel Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) 0,031 < 0,05. Dan dari hasil perbandingan antara nilai t hitung dan nilai t tabel menunjukkan bahwa nilai t hitung sebesar 2,363 dan nilai t tabel sebesar 2,093. Dari hasil tersebut maka nilai t hitung 2,363 > nilai t tabel 2,09. Sehingga dapat disimpulkan bahwa Ho ditolak dan Ha diterimayang artinya Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) berpengaruh positif dan signifikan terhadap Jumlah Penduduk Miskin di Kabupaten Gresik. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ketika nilai dari Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) di Kabupaten Gresik menurun maka Jumlah Penduduk Miskin yang ada di Kabupaten Gresik juga akan menurun. Hasil penelitian ini didukung dan sejalan dengan penelitian (Redha, 2018) yang menunjukkan bahwa Tingkat Pengangguran Terbuka berpengaruh dan mempunyai hubungan positif terhadap Jumlah Penduduk Miskin.

 

Kesimpulan

Berdasarkan hasil pengujian dengan menggunakan Analisis Regresi Linier Berganda untuk menguji pengaruh Produk Domestik Regional Bruto (PDRB), Indeks Pembangunan Manusia (IPM), dan Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) terhadap Jumlah Penduduk Miskin di Kabupaten Gresik, maka dapat diambil kesimpulan sebagai berikut : (1) Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) berpengaruh negatif dan signifikan terhadap Jumlah Penduduk Miskin di Kabupaten Gresik. (2) Indeks Pembangunan Manusia (IPM) berpengaruh negatif dan signifikan terhadap Jumlah Penduduk Miskin di Kabupaten Gresik. (3) Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) berpengaruh positif dan signifikan terhadap Jumlah Penduduk Miskin di Kabupaten Gresik.

 

Bibliografi

 

Alhudhori, M. (2017). Pengaruh Ipm, Pdrb Dan Jumlah Pengangguran Terhadap Penduduk Miskin Di Provinsi Jambi. Ekonomis: Journal of Economics and Business, 1(1), 113�124. Google Scholar

 

Ayu, D. S. (2018). Analisis Pengaruh Produk Domestik Regional Bruto, Tingkat Pengangguran Terbuka, IPM, Jumlah Penduduk dan Upah Minimum Terhadap Kemiskinan Di Provinsi Jawa Timur. 10(2), 1�15. Google Scholar

 

Badan Pusat Statistik. (2019). Metodologi PDRB. https://www.bps.go.id/subject/52/produk-domestik-regional-bruto--lapangan-usaha-.html#subjekViewTab2

 

Badan Pusat Statistik. (2020). Metodologi Indeks Pembangunan Manusia. https://www.bps.go.id/subject/26/indeks-pembangunan-manusia.html#subjekViewTab1

 

Badan Pusat Statistik. (2020). Metodologi Pengangguran Terbuka. https://www.bps.go.id/subject/6/tenaga-kerja.html#subjekViewTab1

 

Badan Pusat Statistik Jawa Timur. (2020). Jumlah Penduduk Miskin Provinsi Jawa Timur. https://www.bps.go.id/

 

Badan Pusat Statistik Kabupaten Gresik. (2020). Jumlah Penduduk Miskin Kabupaten Gresik. https://gresikkab.bps.go.id/subject/23/kemiskinan.html#subjekViewTab3

 

Databoks. (2020). Berapa Jumlah Penduduk di Pulau Jawa pada 2019? |Databoks. https://databoks.katadata.co.id/datapublish/2019/05/14/berapa-jumlah-penduduk-di-pulau-jawa-2019. Google Scholar

 

Faqihudin, M. (2012). Human Development Index ( HDI ) Salah Satu Indikator Yang Populer Untuk Mengukur Kinerja Pembangunan Manusia. http://id.wikipedia.org/wiki/Indeks_Pembangunan_Manusia. Google Scholar

 

Kurniawan, A. B. (2013). Analisis Pengaruh Pertumbuhan Ekonomi, Upah Minimum, dan Investasi Terhadap Jumlah Pengangguran di Kabupaten Gresik. In Jurnal Ilmiah Mahasiswa FEB (Vol. 2, Issue 2). https://jimfeb.ub.ac.id/index.php/jimfeb/article/view/1176. Google Scholar

 

Murni, A. (2009). Ekonomika Makro (A. Mifka (ed.)). PT Refika Aditama.

 

Ningrum, S. S. (2017). Analisis Pengaruh Tingkat Pengangguran Terbuka, Indeks Pembangunan Manusia, Dan Upah Minimum Terhadap Jumlah Penduduk Miskin Di Indonesia Tahun 2011-2015. Jurnal Ekonomi Pembangunan, 15(2), 184-192. Google Scholar

 

Redha, F. I. (2018). Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Terhadap Jumlah Penduduk Miskin Di Provinsi Kalimantan Selatan (2010-2015). Universitas Islam Indonesia. https://dspace.uii.ac.id/handle/123456789/5442.Google Scholar

 

Sigalingging, W. S. (2019). Analisis Pengaruh PDRB Per Kapita, Indeks Pembangunan Manusia dan Tingkat Pengangguran Terbuka Terhadap Jumlah� Penduduk Miskin� di Tujuh Kabupaten Kawasan Danau Toba. http://repository.uhn.ac.id/handle/123456789/2562. Google Scholar

 

Sugiyono. (2016). Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R&D. Alfabeta. Google Scholar

 

Susanti, S. (2016). Pengaruh Produk Domestik Regional Bruto, Pengangguran dan Indeks Pembangunan Manusia terhadap Kemiskinan di Jawa Barat dengan Menggunakan Analisis Data Panel. Jurnal Matematika Integratif, 9(1), 1..1-18. Google Scholar

 

Wahidmurni. (2017). Pemaparan Metode Penelitian Kuantitatif. Http://Repository.Uin-Malang.Ac.Id/1985/2/1985.Pdf, 6, 5�9.

Google Scholar

 

Widodo, S. (2018). Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Jumlah Penduduk Miskin Di Provinsi Bengkulu Tahun 2011-2015. Universitas Islam Indonesia. https://dspace.uii.ac.id/handle/123456789/7334.113-124. Google Scholar

 


Copyright holder:

Putri Indah Sari, Sri Muljaningsih dan Kiky Asmara (2021).

 

First publication right:

Journal Syntax Transformation

 

This article is licensed under:

Creative Commons License�