Jurnal Syntax Transformation

Vol. 2 No. 5, Mei 2021

p-ISSN : 2721-3854 e-ISSN : 2721-2769

Sosial Sains

 

SIMBOLISME, REALITAS, DAN PIKIRANDALAM SEMIOTIKA CHARLES W. MORRIS

 

Patrio Tandiangga

Universitas Sanata Dharma (USD) Yogyakarta, Indonesia���������

Email: [email protected]

 

INFO ARTIKEL

ABSTRACT

Diterima 20 April 2021

Direvisi 10 Mei 2021

Disetujui 19 Mei 2021

The purpose of this research is to discuss the problem of the nature of the mind, the place of mind in experience, and the relation of mind and experience to reality at large. Morris aims to show that thought and mind are not entities, nor even processes involving a physical substance distinguishable from the rest of reality, but are explicable as the functioning of parts of experience as symbol to an oganism of other parts of experience. Being then the symbolic portion of experience, the physical or mental can neither be sharply opposed to the rest of experience nor identified with the whole of experience. Since experience will be shown to be a portion of reality, it follows that mind and reality can never be utterly separated nor indiscriminately identified. A functional view of mind gives a new basis for the interpretation of philosophical problems.

 

ABSTRAK

Tujuan peneliti ini adalah untuk membahas masalah hakikat pikiran, tempat pikiran dalam pengalaman, dan hubungan pikiran dan pengalaman dengan kenyataan pada umumnya. Morris ingin menunjukkan bahwa pikiran bukanlah entitas, atau bahkan proses yang melibatkan substansi fisik yang dapat dibedakan dari realitas lainnya, tetapi dapat dijelaskan sebagai fungsi bagian-bagian pengalaman sebagai simbol bagi suatu organisme dari bagian pengalaman lainnya. Menjadi bagian simbolis dari pengalaman, fisik atau mental tidak dapat secara tajam bertentangan dengan sisa pengalaman atau diidentifikasikan dengan keseluruhan pengalaman, karena pengalaman akan ditunjukkan sebagai bagian dari kenyataan, maka pikiran dan realitas tidak pernah dapat dipisahkan sepenuhnya atau diidentifikasi tanpa pandang bulu. Pandangan fungsional pikiran memberikan dasar baru untuk interpretasi masalah filosofis. Dalam penelitian ini, penulis menggunakan metode penelitian kepustakaan. Penelitian ini sampai pada kesimpulan bahwapentingnya mempertimbangkan aneka dimensi simbol yang ada dalam setiap agama dan kebudayaan agar proses inkluturasi tidak jatuh pada komersialisasi.

Keywords :

Symbol; Reality; Mind; Semiotic

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Kata Kunci:

Simbol; Realitas; Pikiran; Semiotika



Pendahuluan

Simbol adalah perwakilan yang diberikan (representative given) - stimulus pengganti yang memantik gambar memori dari stimulus asli serta respons yang ditarik oleh stimulus asli. Stimulus pengganti (substitute stimuli) mungkin bekerja di seluruh dunia hewan (animal world). Sebagai stimulus pengganti, simbol memunculkan pikiran. Jadi simbol adalah pemberian yang mewakili dan mewakili beberapa stimulus lain yang pernah diberikan secara bersamaan. Perilaku dapat menjadi simbolis, tetapi simbol sama sekali tidak terbatas pada perilaku aktual. Gambar-gambar, bayangan, emosi, batu, dan organisme-organisme lain, semuanya dapat menjadi simbol. Meskipun tidak ada simbol tanpa manusia, namun simbol tidak harus berasal dari manusia.

Terkait semiotik, perlu diketahui mengenai Logika Simbol. Logika simbol didefinisikan sebagai studi tentang sifat dan fungsi sistem simbol secara umum, di mana sifat mengacu pada hubungan dan koneksi antara simbol sedangkan fungsi mengacu pada hubungan sistem simbol dengan dunia non-simbolik. Hal penting dari Logika Simbol adalah, pertama, logika formal atau logika konsistensi; yang kedua merupakan instrumentalisme atau logika kebenaran. Kedua kutub teori logis ini tidak bertentangan tetapi saling melengkapi. Logika sama dengan semiotika dan semiotika dapat diterapkan pada segala macam tanda. (Tinarbuko, 2008).

Berdasarkan pandangan semiotika, bila seluruh praktik sosial dapat dianggap sebagai fenomena bahasa, maka semuanya dapat juga dipandang sebagai tanda. Hal ini dimungkinkan karena luasnya pengertian tanda itu sendiri (Romdhoni, 2019).

Perbedaan dan pembaruan dalam penelitian ini dengan penelitian sebelumnya adalah, jika dalam penelitian sebelumnya hanya ditampilkan aplikasi konkret hubungan antara filsafat dan peradaban manusia, dalam penelitian ini dilakukan pengaplikasian pemikiran moris dalam budaya Toraja dantradisi Gereja Katolik.

Penelitian ini penting karena penulis ingin melihat bagaimana tanda-tanda atau simbol -simbol dalam Kebudayaan Toraja dan juga dalam tradisi Gereja Katolik dilihat secara lebih kritis agar pada akhirnya proses inkluturasi tidak jatuh pada komersialisasi.

 

Metode Penelitian

Dalam penelitian ini, penulis menggunakan metode penelitian kepustakaan, di mana penulis mengumpulkan informasi dan data dengan bantuan berbagai macam material berupa buku, hasil penelitian sebelumnya yang sejenis, artikel, catatan, serta berbagai literatur ilmiah yang berkaitan dengan tema yang dibahas oleh penulis. Penelitian ini dilakukan secara sistematis untuk mengumpulkan, mengelola, dan menyimpulkan data.

Penelitian ini menggunakan teori semiotika, khusunya teori semiotika yang diutarakan atau dicetuskan oleh Charles W. Morris. Semiotika adalah ilmu tentang tanda. Semiotika berbicara tentang suatu tanda, bagaimana penggunaan tanda itu, dan bagaimana cara tanda itu memberikan sesuatu kepada yang melihat tanda itu. Semiotika memecah-mecah kandungan teks menjadi bagian-bagian, dan menghubungkan mereka dengan wacana-wacana yang lebih luas.

Sebuah analisis semiotik menyediakan cara menghubungkan teks tertentu dengan system pesan dimana ia beroperasi. (Lantowa et al., 2017) Hal ini memberikan konteks intelektual pada isi: ia mengulas cara-cara beragam unsur teks bekerja sama dan berinteraksi dengan pengetahuan kultural untuk menghasilkan makna (Stokes, 2006).

Jika semiotika adalah sebuah bidang kajian, maka studi-studi semiotis dapat dijustifikasi lewat keberadaannya masing-masing: dengan demikian, adalah mungkin mendefinisikan semiotika secara induktif dengan menyimpulkan dari bidang kajian studi-studi tadi serangkaian kecenderungan utama dan sebuah model yang padu (Eco, 2009). Kajian semiotika membedakan dua jenis semiotika, yakni semiotika komunikasi dan semiotika signifikasi (Sobur, 2003).

 

Hasil dan Pembahasan

1.             The Thesis of Symbolism

Suatu analisis tentang �givenness� atau pengalaman - apa yang langsung �ada di sana� - menyingkapkan pemisahan pengalaman menjadi bagian-bagian simbolis dan non-simbolis. Dalam pengalaman, beberapa yang diberikan (given) tidak mengarah atau menunjuk pada diri mereka sendiri, yang diberikan yakni yang dipikirkan dan apa yang dipikirkan tentang yang diberikan dapat dalam semua kasus dipisahkan secara tajam, dan ini menggambarkan perbedaan fungsional antara bagian pengalaman non-simbolik dan simbolik. Kegagalan untuk membuat perbedaan ini adalah akar kesalahan dari idealisme dan rasionalisme. (Charles W, 1993)

Simbol adalah perwakilan yang diberikan (representative given) - stimulus pengganti yang memantik gambar memori dari stimulus asli serta respons yang ditarik oleh stimulus asli. Stimulus pengganti (substitute stimuli) mungkin bekerja di seluruh dunia hewan (animal world). Sebagai stimulus pengganti, simbol memunculkan pikiran. Jadi simbol adalah pemberian yang mewakili dan mewakili beberapa stimulus lain yang pernah diberikan secara bersamaan. Perilaku dapat menjadi simbolis, tetapi simbol sama sekali tidak terbatas pada perilaku aktual. Gambar-gambar, bayangan, emosi, batu, dan organisme-organisme lain, semuanya dapat menjadi simbol. Meskipun tidak ada simbol tanpa manusia, namun simbol tidak harus berasal dari manusia.

Dalam simbol gambar stimulus asli mengkonstitusi makna stimulus pengganti yang berfungsi secara simbolis. Arti suatu simbol adalah objek atau situasi yang dengannya ia merupakan stimulus pengganti dan yang diingatnya. Simbol adalah stimulus pengganti yang bermakna. (Charles W, 1993).

Charles morrois mengatakan bahwa bahasa adalah sebuah sistem sign dibedakan atas signal dan symbol. Akan tetapi semiotik bukan hanya berhubungan dengan isyarat bahasa melainkan juga berhubungan dengan isyarat-isyarat non bahasa dalam komunikasi antar manusia. (Parera, 2004)

Kita dapat membedakan adanya tiga tingkatan simbol: Pertama, tingkat simbol sederhana (simple symbol) yang mendahului perkembangan diri sosial, dan tidak memerlukan referensi ke makhluk lain. Ini contohnya cara seseorang bertopang dagu yang menggambarkan suasana hatinya yang mungkin hanya dia sendiri yang mengetahui maksud setiap cara yang lahir dari sikapnya. Hal ini juga menyangkut cara setiap orang duduk atau berdiri. Setiap orang punya cara masing-masing yang menurut Morris tidak harus disamakan dengan orang lain, karena itu adalah bagian dari �simple symbol�. Kedua adalah tingkat �language symbol�, mirip dengan �simple symbol� kecuali bahwa dua atau lebih organisme memiliki simbol yang sama. Dalam �language symbol� sudah ada kemiripan dengan pihak lain. Contoh language symbol adalah cara menyapa satu dengan yang lain. Ada kebudayaan yang menyapa dengan berjabat tangan, ada yang sekadar saling tunduk memberi hormat, namun ada juga yang berpelukan. Dalam language symbol, sudah ada kesamaan dengan yang lain sekaligus tidak menjadi sesuatu yang amat ketat, karena toh masih dimungkinkan adanya pilihan lain sesuai dengan preferensi masing-masing. Tingkat yang paling akhir adalah �internalized language symbol� yakni ketika pengembangan diri sosial telah memungkinkan internalisasi situasi objektif asli. Internalized language symbol memiliki semacam kaidah yang mengatur masyarakat bersangkutan untuk harus melakukan yang demikian. Contoh konkret dari internalized language symbol adalah bangunan rumah Tongkonan orang Toraja yang selalu mengarah ke Utara. Bagi mereka Utara adalah wilayah para dewa, sehingga rumah Tongkonan harus mengarah ke utara. Bahkan ketika seandainya tidak lagi paham makna utara, orang Toraja pasti akan secara spontan membangun tongkonan mengarah ke Utara. Hal itu terjadi karena adanya pengaruh sosial yang kuat berkaitan dengan simbol yang satu ini. Hal yang lain menyangkut penggunaan lilin paskah pada saat malam paskah. Lilin paskah tidak bisa diganti dengan obor, misalnya. Terlepas dari makna teologis yang dikandungnya, penggantian lilin paskah dengan obor, akan menimbulkan �skandal� di tengah umat yang terbiasa dengan simbol itu bahkan telah memiliki simbol itu.

Diskusi tentang simbol dan makna tidak dapat dipisahkan. Seperti yang digunakan di sini, hanya simbol yang dapat memiliki makna, meskipun setiap hal yang berkaitan memiliki signifikasi. Dengan demikian diusulkan untuk membatasi �makna� untuk signifikasi demi menghindari pelebaran arti. Di mana ada simbol, di situ ada makna; Di mana ada makna di situ ada simbol. Simbol adalah stimulus pengganti yang bermakna. Secara teoritis, apa pun yang terberikan (any given) dapat menjadi simbol bagi organisme lain yang terberikan asalkan keduanya dapat muncul secara bersamaan, dan bahwa organisme membuat respons terhadap salah satu yang diberikan dan mampu mengenang yang diberikan ini.

(Charles W, 1993) Bahasa adalah salah satu subjek besar dalam simbolisme. Bahasa hanya akan bermakna atau membuahkan hasil manakala organisme-organisme yang ada memiliki simbol-simbol umum yang kira-kira memiliki makna yang sama. Makna umum membutuhkan pengalaman yang serupa. Dalam hal ini, bahasa selalu berciri sosial. Ketika suatu simbol merupaka representasi dari �similar given� terhadap organisme-organisme yang berbeda, maka suatu organisme dapat �mengkomunikasikan� (diri) melalui penciptaan simbol yang terberikan terhadap organisme lain. Maka, simbol tidak harus berciri sosial, tetapi simbol-simbol bahasa harus berciri sosial menurut sifat dan asal usulnya.

Simbolisme juga mengikutsertakan �kesadaran� (consciousness). Dalam terminologi simbolisme, ada dua kemungkinan yang muncul dari istilah �kesadaran�. Kesadaran bisa sejajar dengan �yang terberikan� (givenness). Tetapi kesadaran juga bisa terbatas pada porsi representatif dari keterberian itu. Hanya dengan membuat pembedaan antara yang simbolik dan non-simbolik, kita bisa sampai pada pemahaman yang baik. Dalambagian ini, kita sedang berbicara mengenai kesadaran yang terbatas pada porsi representatif dari �yang terberikan� (givenness), sebagai yang sejajar dengan hal-hal yang sifatnya psikis atau mental. (Charles W, 1993) Givenness dalam dirinya sendiri adalah self suporting and needs nothing to sustain it.Maka ketika berbicara tentang kesadaran khususnya dalam hal behaviorisme, kita tidak bicara tentang kesadaran sebagai givenness, melainkan kesadaran sebagai symbolic portion of givenness yakni yang menyangkut kondisi psikis atau mental.

Kesimpulan yang dapat ditarik dari bagian ini adalah perbedaan dasariah dalam givenness ditemukan dalam pembedaan antarayang simbolik dengan yang non-simbolik. Hal ini menjadi semacam relasi fungsional dan bergantung pada kemungkinan given substitute stimuli dan kapasitas organisme-organisme tertentu mengingat stimuli masa lampau. Maka, aktivitas organis tidak hanya dibangkitkan oleh stimulus pengganti (substitute stimuli), tetapi juga menyangkut kapasitas memori di mana stimulus pengganti (substitute stimuli) bisa berubah menjadi simbol original stimulus (Charles W, 1993).Karena alasan inilah simbol dipahami sebagai �meaningful substitute stimulus.

2.             Dimensi Semiotik dan Pertimbangan Psikologis

Charles Morris membagi semiotik dalam tiga dimensi, yakni dimensi sintaksis, dimensi semantic, dan dimensi pragmatis. Ketiga dimensi ini saling berkaitan satu sama lain. Akan tetapi, dimensi-dimensi ini dapat dimaknai dalam tingkatan-tingkatan. Ada dimensi sintaksis, dimensi semantik, dan dimensi pragmatik

(Kris, 2011) Dimensi sintaksis berkaitan dengan relasi-relasi formal antara satu tanda dengan tanda yang lain sehingga pengertiannya kurang lebih seperti �tata bahasa�.Misalnya, dalam film, antara gambar dan kata-kata, pada dasarnya berasal dari sistem tanda yang berbeda, namun keduanya bekerjsama. Sintaksis mengorganisir tiga macam tanda yang dikelompokkan berdasarkan korelasi dengan objek. Korelasi ini bisa berupa tanda index yang menunjuk ke objek tunggal. Ada pula tanda-tanda yang memberi ciri yang dapat menunjuk suatu pluralitas hal dan dikombinasikan dengan tanda-tanda yang mengungkap atau membatasi penerapan. Korelasi ketiga ialah adanya tanda-tanda universal yang dapat menunjuk semua dan mempunyai hubungan dengan semua tanda.

Dimensi yang kedua adalah dimensi semantik. Dimensi ini mempelajari relasi di antara tanda dan objek yang diacunya atau makna tanda-tanda sebelum digunakan di dalam tuturan tertentu. Semantik Morris ini lebih mengarah pada suatu kajian yang oleh Saussure disebut sebagai asosiasi atau paradigama. (Kris, 2011) Morris membagi dua bentuk semantik, yakni semantik murni dan semantik deskriptif. Semantik murni memberikan istilah-istilah dan teori yang perlu untuk membicarakan tentang dimensi semantic dan semiosis. Sedangkan, semantik deskriptif mengatur unsur-unsur konkrit dimensi semantik.

(Kris, 2011) Selain dimensi sintaksis dan semantik, ada pula dimensi pragmatik. Dimensi ini mempelajari relasi antara tanda dan penggunaannya (interpretannya), khususnya yang berkaitan dengan tanda secara konkret dalam berbagai peristiwa serta efek dan dampaknya terhadap pengguna. Dimensi pragmatik ini berkaitan dengan nilai dan maksud dari tujuan sebuah tanda bagi pengguna. Dimensi pragmatik tanda biasanya digunakan juga untuk melihat dimensi penggunaan tanda. Hal ini bertujuan agar tanda tersebut dapat diintrepretasi oleh yang lainnya. (Charles W, 1939) Ada empat macam penggunaan tanda: informatif, valuatif, pendorong, dan sistematik. Penggunaan tanda dikatakan informatif bila tanda digunakan dengan tujuan memberikan informasi tentang sesuatu. Dikatakan valuatif bila tanda digunakan untuk membantu dalam pilihan seleksi objek tertentu. Dikatakan pendorong jika tanda yang ada menjadi pedorong ke serangkaian respons. Jika tanda bisa mengorganisasi perlilaku maka itu disebut sebagai tanda yang sistematik. Bila tujuan cara penggunaan tanda ini tercapai, maka tanda informatif akan bersifat meyakinkan, tanda valuatif akan efektif, tanda dorongan bersifat persuasive, dan tanda sistematik akan menjadi benar.

Dalam artikel Esthetics and The Theory of Signs, Morris menjelaskan tahapan tindakan manusia yang disebut sebagai pragmasemantik. Ada tiga tahapan tindakan manusia yakni perception, manipulation, dan consummation. Pada tahap perception manusia baru sadar akan adanya tanda. Tahap ini berdimensi designatif, artinya penafsiran yang ada langsung mengacu pada objek tertentu. Setelah melalu tahap perception, muncullah tahap manipulation yakni ketika manusia menginterpretasi tanda dan kemudian mengambil keputusan untuk melakukan respon tertentu terhadap tanda tersebut. Tahap tahap manipulation ini berdimensi preskriptif, artinya mengarahkan atau membujuk apa yang harus kita lakukan; bagaimana tanggapan langsung dengan cara spesifik. Pada tahap ketiga ada consummation. Tahap ini merupakan tahap di mana manusia telah mengambil tindakan tertentu berdasarkan tanda tersebut. Tahap ini berdimensi appraisive atau diasumsikan bahwa tanda tersebut menyoroti kualitas benda yang memungkinkan adanya evolusi.

Ketiga tahapan tersebut dapat dijelaskan dengan mengambil contoh anak SD yang sedang belajar perkalian. Guru meminta para murid untuk menghapalkan perkalian 1-10. Para murid tersebut terdorong untuk menghapalkannya (dimensi designative). Setelah mereka menghapalkannya, gurunya mengangguk-anggukkan kepada dan memuji mereka (dimensi prescriptive). Kemudian, gurunya menerangkan cara mendapatkan hasil perkalian antarbilangan. Setelah penjelasan tersebut, para murid semakin mamahaminya dan mau terus berlatih serta terlibat dalam kelas (dimensi appraisive).

Dimensi-dimensi dalam semiotika membawa Morris pada sebuah penyelidikan lebih lanjut mengenai psikologisme yang akan dia kaitkan dengan simbolisme. Psikologi diklaim sebagai ilmu pengamatan dan terbagi dalam tiga mazhab, yakni intopeksi, behaviorisme, dan fungsionalisme. Menurut (Stadler, 2015), analisis pendekatan melalui dimensi psikologi semestinya membantu dalam penafsiran dari berbagai sudut pandang. Pendekatan introspeksi berkaitan dengan proses mengamati dan mempelajari aspek-aspek non-tactual. Sementara itu, pendekatan fungsionalisme bertujuan menempatkan aspek-aspek non-tactual dalam suatu hubungan fungsional. (Charles W, 1939) Pendekatan behaviorisme lebih menunjukkan kepedulian terhadap organisme di luar dirinya, sehingga menolak aspek-aspek non-tactual yang ditampakkan melalui emosi atau gambar. Ketika behaviorisme menggunakan istilah-istilah seperti emosi atau citra, maka secara eksplisit pendekatan ini harus memberikan makna tactual terhadap istilah tersebut dalam gerakan atau perilaku aktual. Oleh karena itulah, pendekatan behaviorisme menggeneralisasi metode yang digunakan dalam mempelajari organisme selain dari pengamat menjadi metode universal untuk psikologi.

Pertimbangan psikologis ini memberikan kontribusi dalam teori simbolisme. Dalam pendekatan psikologi, khususnya pendekatan behaviorisme nampak adanya korelasi konstan dari tindakan organisme dengan perubahan yang terjadi di sekitarnya. Beberapa tindakan organisme mengikuti perubahan tersebut. Tindakan ini dapat dilihat dari respon atau tanggapan yang diberikan oleh organisme terhadap �rangasangan� yang bersifat alamiah dan bukan hasil dari pembelajaran. Tindakan inilah yang disebut sebagai naluri. Akan tetapi, organisme tidak selamanya memberikan respon terbuka terhadap rangsangan tersebut. Kadang kala, organisme tidak segera merespon secara terbuka tetapi justru melalui suara yang disebut sebagai rangsangan pengganti dan bahasa.

Teori simbolisme yang merupakan sumbangan dari pendekatan psikologi mendefinisikan rangsangan pengganti sebagai respon baru. Dalam hal ini, konsep simbol melibatkan pemulihan kembali stimulus asli dalam bentuk memori yang melibatkan aspek non-tactual. Proses ini berdampak pada pendekatan behavioris karena pendekatan tersebut tidak memadai ketika aspek non-tactual diterima sebagai data. Dari sudut pandang behaviorisme, aspek genetik dan fungsional simbolisme menjadi jelas. Proses mediasi yang mencirikan refleksi termanifestasi secara eksternal dalam reaksi yang tertunda, dan pada gilirannya akan muncul dalam perilaku berdasarkan situasi tertentu. Refleksi diungkapkan sebagai kegiatan pemecahan masalah yang dinilai sebagai output dari proses pembelajaran.

3.             The Logic of Symbolism

Terkait semiotik, perlu diketahui mengenai Logika Simbol. (Charles W, 1939) Logika simbol didefinisikan sebagai studi tentang sifat dan fungsi sistem simbol secara umum, di mana sifat mengacu pada hubungan dan koneksi antara simbol sedangkan fungsi mengacu pada hubungan sistem simbol dengan dunia non-simbolik. Hal penting dari Logika Simbol adalah, pertama, logika formal atau logika konsistensi; yang kedua merupakan instrumentalisme atau logika kebenaran. Kedua kutub teori logis ini tidak bertentangan tetapi saling melengkapi.

Logika Simbol ingin mengkritik Logika Aristotelian.Selama berabad-abad, logika Aristotelian dianggap menguras logika formal. Kehadiran logika simboldalam arti yang lebih sempit bisa dikatakan sebagai tawaran sistem simbolik selain dari yang berciri Aristotelian. Tetapi gerakan ini dapat diartikan dalam pengertian yang jauh lebih besar sebagai usaha untuk menawarkan studi tentang �jenis-jenis keteraturan�. Logika Aristotelian dan logika simbolik kemudian ditafsirkan sebagai tipe-tipe ordo tertentu. Semua ini termasuk dalam ranah yang kita sebut logika formal berurusan dengan hubungan antar simbol dalam sistem simbol. Istilah �logika simbolik� mencakup baik logika formal maupun instrumentalisme atau psikologisme.

Logika simbolik telah memerangi pretensi logika Aristotelian dan pada saat yang sama membersihkannya dan menjadikannya konsisten. Ini telah mencapai yang pertama dengan menetapkan logika alternatif yang konsisten sempurna, sehingga mematahkan argumen bahwa silogisme adalah kanon penalaran; telah mencapai yang terakhir dengan menemukan ketidakkonsistenan dalam sistem Aristotelian yang membatalkan klaim atas konsistensi formal. Dengan demikian, logika simbolik mempertajam pemisahan logika formal dari psikologi dengan cara yang menerangkan hubungan antara ranah simbolik dan non-simbolik.

Kontribusi besar dari logika simbolik adalah pemisahan tajam sistem simbol dari hubungan sistem ini ke ranah non-simbolik (yang mencakup sistem simbol atau simbol selain dari yang bersangkutan). Logika Aristotelian telah memprediksikan hubungan simbolik dengan non-simbolik hanya dengan mengasumsikan bahwa terdapat suatu relasi. Itu membingungkan konsistensi dan kebenaran. Ia mencoba mengendarai dua kuda sekaligus tanpa bisa mengendalikan keduanya secara terpisah. Tujuannya bagus tapi cara untuk mencapainya salah.

Namun demikian, pergerakan logika simbolik memiliki kepentingan yang tidak dapat dihilangkan dengan merujuk pada logika Aristotelian. Produksi sistem yang konsisten tetapi independen secara alami membangkitkan minat dalam perbandingan sistem tersebut dan dalam studi.

Status simbol dalam sistem simbol layak disebutkan. Simbol-simbol ini tidak memiliki makna khusus tetapi hanya makna umum: mereka berarti simbol lain. (Charles W, 1939) Mereka adalah simbol laten atau universal, dengan banyak makna, yang salah satunya dapat disediakan. Untuk alasan ini sistem simbol benar-benar merupakan sistem simbol dan bukan hanya seperangkat tanda. Simbol-simbol semacam itu bukan tidak berarti tetapi hanya makna umum, dan dapat diberikan berbagai makna konkret.

Penjelasan pertama tentang hubungan Aristotelian dan logika simbolik, sifat sistem simbol, dan hubungan matematika dengan logika formal; sedangkan yang kedua berkaitan dengan hubungan logika formal dengan proses penalaran aktual dan dengan masalah kebenaran dan kesalahan. Logika murni formal tidak mungkin pada hakikat makna, karena di sinilah hubungan dengan perilaku dan bagian-bagian pengalaman non-simbolis dibuat. Koneksi inilah yang mengubah logika dari urusan konsistensi menjadi masalah kebenaran dan kesalahan.

Kebenaran adalah konfirmasi dari prediksi atau ramalan pengalaman dengan terjadinya pengalaman yang diprediksi, atau, sehubungan dengan masa lalu, dengan bukti dari pengalaman yang diprediksi. Kepalsuan adalah tidak adanya pengalaman yang diprediksi secara simbolis.

Maka, boleh dikatakan bahwa logika formal telah menjadi studi tentang struktur sistem simbol, dan berkaitan dengan konsistensi dan bukan dengan kebenaran. Ini adalah studi paling umum dalam dunia simbolik, berurusan dengan simbol dari semua simbol lainnya. Perhatian semata-mata adalah hubungan antara simbol-simbol yang paling umum ini, dan bukan dengan hubungan mereka dengan hal lain.

Pernyataan teori logika yang dibahas di sini bertujuan untuk memandang logika dan matematika sebagai perkembangan yang sangat kompleks dari ranah simbolis, dan karenanya pada akhirnya sebagai perkembangan perilaku yang melibatkan keberadaan simbol. Dalam logika simbolik, logika formal dan logika instrumental saling melengkapi.

Kunci dari diskusi adalah perbedaan dan hubungan antara bagian pengalaman atau pemberian yang simbolis dan non-simbolik. Pengetahuan dan kebenaran disajikan sebagai jatuh dalam pengalaman dan timbul dari berfungsinya simbol-simbol dalam interaksi suatu organisme dan dunia pengalaman, dan bukan menjadi jurang antara dunia pengalamandan realitas transexperiential.

4.             Filosofi dan �KebudayaanManusia

Tulisan ini ditutup dengan aplikasi konkret hubungan antara filsafat dan peradaban manusia. (Charles W, 1939) Dalam hal ini pengaruh pemikiran filsafat mengenai tanda memberi pengaruh besar bagi manusia dalam membangun kebudayaannya. Secara khusus akan dibahas di sini mengenai nilai dan fakta serta pembahasan mengenai filsafat itu sendiri dalam hubungannya dengan nilai dan fakta bagi kebudayaan.

Dalam hal ini, nilai merupakan makna spesifik yang digunakan dalam psikologi fungsional. Meskipun demikian, nilai dalam arti tertentu dikacaukan dengan �makna� karena makna telah terbatas pada �significance�.Oleh karena pemaknaan ini berkaitan dengan fungsi psikologi, maka makna yang ditampilkan pun erat kaitannya dengan respon psikologis. Segala sesuatu yang disebut dengan respon yang cenderung mendekati stimulus dan menjaganya supaya tetap operatif bisa disebut dengan nilai positif. Dalam arti tertentu nilai positif adalah respon positif yang cenderung mempertahankan stimulus yang diberikan dan memiliki kecenderungan untuk mendekat pada stimulus. Sedangkan respon negatif memiliki kecenderungan menarik diri dari stimulus dan bahkan membuatnya tidak beroperasi. Respon positif maupun negatif dapat dihubungkan dengan proses pembelajaran dengan berbagai rangsangan seperti tindakan yang dapat membantu untuk memperoleh nilai.

Meskipun demikian, nilai harus dibedakan dengan penilaian. Ada nilai pada level non-simbolik, sementara penilaian selalu pada level simbolik. Penilaian adalah penerapan proses reflektif terhadap keseluruhan atau sebagian dari the givenness untuk tujuan menentukan nilai stimulus yang dimaksud. Nilai dalam bentuk simbolis adalah ingatan, harapan, dan cita-cita. Sebagai harapan dan cita-cita, nilai belum bergabung dengan realitas non-simbolik. Sebagai contoh nilai kehidupan kekal yang diperjuangkan dalam kebudayaan Toraja membuat masyarakat Toraja mengurbankan banyak kerbau. Kerbau dianggap sebagai hewan bernilai yang dapat menjadi kendaraan menuju ke puya (dunia akhirat). Sementara itu, penilaian berada pada level simbolik yakni penilaian terhadap kerbau yang merupakan simbol kendaraan. Ada kerbau yang mempunyai nilai tertinggi yakni Tedong Saleko (kerbau belang), yang menurut penilaian orang Toraja merupakan kendaraan terbaik.

Sementara itu, istilah �fakta� mengacu pada yang sebenarnya diberikan sebagai yang berbeda dari interpretasi simbolis dan sebagai yang berbeda dari nilai yang diberikan. Ilmu pengetahuan berurusan dengan rangkaian urutan faktual. Urutan faktual ini dialami dan diungkapkan oleh para ahli dan akhirnya berupaya mengendalikannyadengan bantuan simbol. Ilmu pengetahuan menyadari perbedaan antara fakta, interpretasi, dan nilai. Kebenaran yang berkaitan denganfakta adalah fungsi prediksi. Hukum sains adalah prediksi umum yang dimungkinkan oleh simbol. Atas dasar pandangan nilai ini, hubungan seni, etika, dan agama dengan nilai dikembangkan. Dalam konteks ini peranan ilmu pengetahuan dalam usaha mengungkapkan fakta menjadi penting. Fungsi prediksi yang dimunculkan dalam ilmu pengetahuan merupakan hasil dari fakta yang sudah ada sebelumnya.

Dalam agama-agama, fakta sering direpresentasikan sebagai kekuatan yang cenderung melestarikan nilai-nilai kelompok. Agama, seperti halnya moralitas, pada awalnya merupakan instrumen dalam pencapaian kekuatan dan solidaritas kelompok. Konsep para dewa atau Tuhan mencerminkan kehidupan orang-orang dan perjuangan mereka untuk penyesuaian yang dirasakan dibantu atau dihalangi oleh kekuatan luar. Agama-agama primitif tidak dibangun di atas perbedaan antara �yang material dan yang spiritual�, juga tidak pada keinginan untuk keabadian dan pahala di masa depan, tetapi pada tuntutan untuk hal-hal nyata dan kesuksesan duniawi di sini dan kini (hic et nunc).

Agama harus dipahami dalam hal proses penyesuaian kelompok atau individu ke alam semesta yang lebih luas. Melalui agama orang akam mengalami perjumpaan dengan realitas yang melampaui dirinya sendiri. Ketika kondisi yang mendukung agama membantu dalam membuat penyesuaian aktual atau ketika kondisi membuat agama yang mustahil membangun sebuah dunia ideal yang memungkinkan penyesuaian ideal. Pada tingkat moralitas adat terdapat manifestasi kecenderungan konservatif yang sama yang diamati dalam agama: kecenderungan untuk melambangkan penyesuaian dengan sesuatu yang lebih tua dan bahkan tidak selalu terbuka pada perubahan. Fakta bahwa sesuatu telah dilakukan terus-menerus dianggap sebagai bukti yang cukup bahwa hal itu harus dilakukan. Hukum benar dan salah (yang seringkali berbeda secara fundamental dari satu kelompok ke kelompok lain)seakan dirumuskan dalam tabel moral. Dalam hal ini agama mempunyai peran untuk mempertahankan tradisi yang dimiliki sebagai bagian dari identitas mereka. Hal ini banyak ditemukan dalam Gereja Katolik berkaitan dengan Tradisi dan Magisterium.

Filsafat adalah perpanjangan kompleks dari proses simbolik dan berkaitan dengan fakta dan nilai. Di satu sisi filosofi tidak dapat dipisahkan dari peradaban di sekitarnya namun di sisi lain tetap memperhatikan sisi parafilsuf secara individu. Filsafat sebagai salah satu pengembangan dari proses simbolik harus mencerminkan sifat peradaban yang menjadi bagiannya. Perjuangan antara otoritas dan pengalaman di dunia modern jelas terungkap dalam literatur filosofis. Filosofi adalah visi dalam suatu kebudayaan dan visi semacam itu sangat dibutuhkan oleh zaman sekarang. Dengan tetap setia pada pendasarannya, filosofi dalam kebudayaan berurusan dengan rangkaian pengalaman yang lebih luas ini dapat membantu keberhasilan pemikiran di masa depan. Hal itu dapat memurnikan dan mempertajam alat besar pikiran manusia. Filosofi berurusan dengan interpretasi simbolis fakta tetapi melakukan ini dengan mengacu pada nilai-nilai utama kehidupan. Melalui filosofi, manusia merefleksikan fakta-fakta simbolis yang mempunyai nilai yang lebih besar bagi kehidupan. Fakta-fakta simbolis yang ada dalam kebudayaan tradisional misalnya di Toraja mempunyai nilai yang lebih besar bagi kehidupan. Kerbau �Tekken Langi� (penyangga kahyangan), yang salah satu tanduknya mengarah ke bawah dan yang lain mengarah ke atas, di berbagai tempat mungkin dianggap sebagai kecacatan. Namun di Toraja kebau ini memiliki nilai simbolik yang sangat tinggi sebagai tanda perjanjian antara manusia dan �Yang Lain� bahwa barangsiapa menjalani hidupnya di bumi ini akan dijunjung hingga ke kahyangan. Namun barangsiapa menjalani hidupnya dengan kemunaikan akan dijatuhkan ke dalam jurang yang terdalam. Dalam Gereja, kita mengenal �tanda salib�. Pada taraf �simple symbol� ini bisa ditafsirkan sebagai kenangan akan salib Kristus di Golgota dua ribu tahun yang lalu. Namun dalam tahap �internalyzed language symbol� tanda salib bisa mengandung filosofi kehidupan bahwa secara vertikal, manusia perlu senantiasa menjalin hubungan yang harmonis dengan Tuhan, dan secara horizontal, manusia perlu menjalin harmoni dengan sesama dan semesta alam.

Sejalan dengan hal ini, seorang teolog dari Radboud University, Jean-Pierre Wils mengomentari adanya bahaya dalam inkulturasi dalam hal ini modernisasi yang bisa menghilangkan nilai-nilai intrinsik dalam dalam setiap agama dan kebudayaan. Banyak ritual, terutama yang berasal dari agama, dewasa ini menjadi sasaran modifikasi atau intervensi oleh partisipan mereka. Contoh sederhana dapat ditemukan dalam banyak upaya untuk membarui ritus Katolik setelah Vatikan II. Upaya ini sebagian besar gagal. Jelaslah bahwa ritual dapat bertahan dari intervensi dalam jalurnya hanya jika ini dipertahankan seminimal mungkin. Keseimbangan genting dan saling ketergantungan kompleks dari unsur-unsur yang membentuk ritual sangat sensitif dan rentan terhadap gangguan. Tidak hanya perubahan yang berlebihan, bahkan ketika dilakukan dengan niat terbaik, terbukti mematikan bagi ritual; efek serupa akan dihasilkan ketika ritual tidak lagi masuk akal, tidak lagi berarti bagi partisipan. Ritual mengental dan menjadi kerangka belaka manakala ia tidak lagi memiliki keterwakilan budaya. Dalam budaya kita sendiri, hilangnya keterwakilan ini telah mempengaruhi ritual keagamaan khususnya. Dalam banyak kasus ritul-ritual keagamaan dicekik oleh ketatnya kanon ritual. Karena seperti halnya ritual-ritual harus tahan terhadap intervensi, mereka juga harus memungkinkan modifikasi yang sesuai. (Charles W, 1939) Pada intinya, Wils ingin menekankan pentingnya mempertimbangkan aneka dimensi simbol yang ada dalam setiap agama dan kebudayaan agar proses inkluturasi tidak jatuh pada komersialisasi.

 

Kesimpulan

Pada akhirnya, tidak dapat disangkal bahwa sumbangan filsafat terhadap perkembangan kebudayaan manusia sangat besar. Nilai-nilai yang diperjuangkan manusia bisa saja berasal dari hasil pemikiran filsafat. Nilai-nilai itu memberikan pengaruh besar bagi pola tingkah laku manusia khususnya berkaitan dengan kebudayaan maupun dengan agama. Oleh karena itu, pemikiran filsafat mengenai fakta dan nilai bisa menjadi salah satu cara untuk memahami kebudayaan yang sedang berkembang di dalam kelompok masyarakat yang ada.

 

Bibliografi

 

Budiman, Kris 2011����� Semiotika Visual, Yogyakarta: Jalasutra. Google Scholar

 

Lantowa, J., Marahayu, N. M., & Khairussibyan, M. (2017). Semiotika: Teori, Metode, dan Penerapannya dalam Penelitian Sastra. Deepublish. Google Scholar

 

Parera, J. D. (2004). Teori semantik. Erlangga. Google Scholar

 

Romdhoni, A. (2019). Semiotik Metodologi Penelitian. Literatur Nusantara. Google Scholar

 

Stadler, F. (2015). An Overview of the Vienna Circle. The Vienna Circle, 367�396. Google Scholar

 

Stokes, J. (2006). How to do media and cultural studies: Panduan untuk melaksanakan penelitian dalam kajian media dan budaya. Bentang Pustaka. Google Scholar

 

Essen, George 2007����� �Can Yesterday Get Better?. The trouble with memory and the gift of the Eucharist. Systematic theological refections on the presence of the past�, in Hans Schilderman (ed), Discourse in Ritual Studies, Leiden: Brill. Google Scholar

 

Morris, Charles W 1939 �Esthetics and The Theory of Signs�, The Journal of United Science, Springer, Erkenntnis Vo. 8, No 1/3. Google Scholar

 

C.Morris 1946Signs, Language and Behavior, New York: George Braziller. Google Scholar

____1993������ Symbolism and Reality. A Study in the Nature of Mind, Amsterdam: John Benjamins Publishing Company. Google Scholar

 

Wils, Jean-Pierre 2007�From Ritual to Hermeneutics. An Exporation with Ethical Intent�, in Hans Schilderman (ed), Discourse in Ritual Studies, Leiden: Brill. Google Scholar

 

Sobur, A. 2003 ���������� Semiotika Komunikasi, Bandung : PT. Remaja Rosdakarya. Google Scholar

 

Danesi, M. 2010���������� Pengantar Memahami Semiotika Media, Yogyakarta: Jalansutra. Google Scholar

 

Eco, Umberto 2009 ����� Teori Semiotika: Signifikasi Komunikasi, Teori Kode, Serta Teori Produksi � Tanda, Yogyakarta: Kreasi Wacana. Google Scholar

 

Wibowo, 2011 Semiotika Komunikasi: Aplikasi Praktis bagi Penelitian dan Skripsi Komunikasi, Jakarta : Mitra Wacana Media. Google Scholar

 

Astuti, Santi Indra. 2006. �������� How To Do Media and Cultural Studies: Panduan untuk Melaksanakan Penelitian dalam Kajian Media dan Budaya, Yogyakarta: Benteng. Google Scholar

 

 

 


Copyright holder:

Patrio Tandiangga (2021).

 

First publication right:

Journal Syntax Transformation

 

This article is licensed under:

Creative Commons License