Jurnal Syntax Transformation

Vol. 2 No. 6, Juni 2021

p-ISSN : 2721-3854 e-ISSN : 2721-2769

Sosial Sains

 

PENERAPAN PEMBELAJARAN KOOPERATIF LEARNING MODEL� SNOWBALL THROWING UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SEJARAH PADA SISWA SMA

 

Lusia Rini Idriastuti

SMA Negeri 3 Magelang Jawa Tengah, Indonesia���������

Email: [email protected]

 

INFO ARTIKEL

ABSTRACT

Diterima

2 Juni 2021

Direvisi

13 Juni 2021

Disetujui

21 Juni 2021

 

This study aims to improve learning outcomes by using the Snowball Throwing model of History learning in class XII IPS 2 students at SMA Negeri 3 Magelang in the 2019/2020 academic year. This research is a Classroom Action Research (CAR). The essence of classroom action research to solve problems that occur in the classroom is the result of learning history under the KKM. This study uses 2 cycles which include planning, implementation, observation, and reflection activities. In this study, the data sources came from observations, document texts, questionnaires, photos, and learning outcomes tests. The validity of the data in this study uses triangulation, which consists of triangulation of data sources and methods, while the data analysis uses quantitative and descriptive quantitative analysis. The results of this study indicate that the application of the Snowball Throwing method which was developed with discussion models, oral question and answer can improve student learning outcomes. Completeness of student learning outcomes in pre-cycle is 34.48%, cycle I is 65.52%, cycle II is 82 ,75%. Student learning outcomes in the first cycle increased 31.03% from the pre-cycle. And in the second cycle increased 17.24% from the first cycle. The Snowball Throwing learning model was proven to be able to improve student learning outcomes.

 

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan hasil belajar ��dengan �menggunakan model Snowball Throwing pembelajaran Sejarah pada peserta didik kelas XII IPS 2� di SMA Negeri 3 Magelang tahun ajaran 2019/2020 Penelitian ini merupakan Classroom Action Research (CAR) atau Penelitian Tindakan Kelas. Esensi dari penelitian tindakan kelas untuk memcahkan permasalahan yang terjadi didalam kelas yaitu hasil belajar sejarah dibawah KKM. Penelitian ini menggunakan 2 siklus yang mencakup kegiatan perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi. Dalam penelitian ini sumber data berasal dari observasi, teks dokumen, angket, foto, dan tes hasil belajar. Validitas data dalam penelitian ini menggunakan trianggulasi, yang terdiri dari trianggulasi sumber data dan metode, sedangkan analisis datanya menggunakan analisis kuantitatif dan deskriptif kuantitatif. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penerapan metode Snowball Throwing yang dikembangkan dengan model-model diskusi,� tanya jawab lisan dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Ketuntasan hasil belajar siswa pra siklus 34,48 %, sikus I menjadi 65,52%, siklus II menjadi 82,75%. Hasil belajar siswa pada siklus I meningkat 31,03% dari pra siklus.dan pada siklus II meningkat 17,24% dari siklus I. Model pembelajaran Snowball Throwing terbukti mampu meningkatkan hasil belajar siswa.

Keywords:

Snowball Throwing method; learning outcomes

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Kata Kunci:

metode Snowball Throwing; hasil belajar



Pendahuluan

Pendidikan Nasional berakar pada kebudayaan bangsa Indonesia dan berdasarkan Pancasila dan Udang�undang Dasar 1945 mengamanatkan upaya untuk mencerdaskan kehidupan bangsa serta pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem pendidikan nasional yang diatur dengan Undang-Undang yaitu Undang-Undang Nomor 20 tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional (Depdiknas, 2003).

Berdasarkan� Undang �� undang� No.20� Tahun 2003 tentang sistem Pendidikan nasional yang berbunyi �Bahwa pendidikan adalah usaha sadar terencana untuk mewujudkan� suasana� belajar� dan� proses� pembelajaran agar siswa secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk���� memiliki���� kekuatan���� spiritual���� keagamaan, pengendalian�� diri,�� kepribadian,�� kecerdasan,�� akhlak mulia,� serta� keterampilan� yang� di� perlukan� dirinya, masyarakat,�� bangsa�� dan�� Negara�� Pendidikan� tidak semata� mata� berusaha� untuk� mencapai� hasil� belajar, akan� tetapi� bagaimana� memperoleh� hasil� atau� proses belajar yang terjadi pada siswa (Lampiran Peraturan Menteri Pendidikan Nasional No. 22 tahun 2006 tanggal 23 mei 2006, 2006). Pendidikan merupakan hal yang penting dalam kehidupan manusia. Manusia� mengalami� hidup dan berkembang� semua���� dengan��� adanya� pendidikan. Pendidikan�� sendiri�� dapat tercipta secara �langsung dengan� lingkungan sekitar salah satunya lingkungan sekolah, lingkungan� keluarga�� dan�� masyarakat,�� dan dengan� berkembangnya� manusia� melalui� pendidikan maka di harapkan anak mendapatkan pendidikan formal melalui� sekolah,� pendidikan� budi� pekerti� dan� tanggung jawab�� di�� lingkungan�� keluarga�� maupun�� masyarakat. Dengan adanya pendidikan di sekolah di harapkan pula anak �dapat� berkembang� menjadi� anak� yang� cerdas� dan memiliki� pengetahuan� dan� kreatifitas� untuk kehidupan selanjutnya,���� sehingga���� anak���� dapat���� bergaul���� dan bersosialisasi dengan anak seumurannya maupun dalam keluarga dan masyarakat. Suatu� proses� pendidikan� akan� terlaksana� jika adanya�� pendidik� dan�� juga�� peserta�� didik�� jika� tanpa adanya� kedua� hal� tersebut� maka� pendidikan� tidak� akan tercipta.�

Guru di dalam proses pembelajaran merupakan salah satu komponen yang memiliki peran yang sangat penting serta merupakan kunci pokok bagi keberhasilan peningkatan mutu pendidikan. Pada UU No. 19 tahun 2003 tentang guru dan dosen, guru merupakan pendidik profesional yang memiliki empat kompetensi dasar yaitu : kompetensi pedagogik, kepribadian, sosial, dan professional (Undang-Undang Sisdiknas, 2003). Kompetensi pedagogik menuntut guru agar dapat melaksanakan pembelajaran dengan baik. Proses pembelajaran dapat terlaksana dengan baik jika guru dapat merencanakan/ merancang pembelajaran dengan sistematis dan cermat yaitu dengan menggunakan modelmodel dan media pembelajaran yang tepat sehingga materi pembelajaran dapat dengan mudah dipahami oleh peserta didik. Oleh karena itu, meningkatkan kualitas penyelenggaraan proses pembelajaran, guru perlu memahami hal-hal yang mempengaruhi proses belajar siswa, baik yang menghambat maupun yang mendukung. Guru seharusnya mampu menerapkan model pembelajaran yang variatif dan menyenangkan sehingga dapat menarik minat dan antusias siswa dalam mengikuti proses pembelajaran sehingga dapat meningkatkan hasil belajar (Hamdayana dan Jumanta, 2014). Guru harus mampu memahami model atau strategi pembelajaran yang efektif yang sesuai dengan karakteristik peserta didik sehingga pembelajaran yang diajarkan dapat mendorong siswa aktif dan mampu meningkatkan mutu dan kualitas guru tersebut (Warsono, 2013).

Penggunaan metode pembelajaran yang tepat akan mempengaruhi hasil belajar, hasil belajar merupakan suatu puncak proses belajar (Faturrohman, 2015). Hasil belajar menunjukkan kemampuan yang dimiliki siswa setelah ia menerima pengalaman belajar dan mempunyai peranan penting dalam proses pembelajaran. Proses penilaian terhadap hasil belajar dapat memberikan informasi kepada guru tentang kemajuan siswa dalam upaya mencapai tujuan-tujuan belajar melalui kegiatan belajar.

Hasil belajar adalah pola-pola perbuatan, nilai-nilai, pengertian-pengertian, sikap-sikap, apresiasi dan keterampilan (Suprijono, 2013). Bloom merumuskan hasil belajar sebagai perubahan tingkah laku yang meliputi domain (ranah), yaitu ranah kognitif, ranah afektif dan ranah psikomotorik. Ranah kognitif merupakan ranah yang berhubungan dengan pengetahuan yang dimiliki siswa, sedangkan ranah afektif merupakan ranah yang berdasarkan kepada sikap-sikap yang dimiliki siswa yang menyangkut proses pembelajaran. Ranah psikomotorik berhubungan dengan kemampuan siswa melakukan gerakan, dalam hal ini adalah prosedur pembelajaran yang diterapkan oleh guru.

�� Seiring dengan perkembangan zaman, pendidikan saat ini bertujuan mempersiapkan peserta didik untuk menghadapi masa yang akan datang. Melalui proses pembelajaran, peserta didik dipersiapkan sedemikian rupa agar mampu menyelesaikan masalah-masalah yang dihadapi dalam kehidupannya. Guru sebagai fasilitator dalam proses pembelajaran disekolah dituntut untuk memberikan pengalaman kepada peserta didik.salah satu masalah yang dihadapi oleh dunia pendidikan di Indonesia adalah rendahnya tingkat keaktifan peserta didik pada proses pembelajaran, terlebih lagi pada mata pelajaran sejarah. Banyak faktor yang menyebabkan hal tersebut, salah satu diantaranya yaitu disebabkan karena proses pembelajaran yang dilakukan oleh guru tidak efektif, tidak menggunakan model-model pembelajaran, serta peserta didik menganggap bahwa pelajaran sejarah tidak penting. Dalam proses belajar disekolah tidak lagi hanya memahami teori-teori, tetapi harus melalui pengalaman yang nyata. Peserta didik dituntut aktif dalam proses pembelajaran, �mampu mengemukakan pendapatnya, serta mampu memecahkan masalah-masalah yang disajikan oleh guru dalam proses pembelajaran (Arikunto dan Suharsimi, 2012).

Strategi pembelajaran sangat diperlukan dalam menunjang terwujudnya seluruh kompetensi yang dimuat dalam Kurikulum 2013, salah satunya dengan penggunaan metode yang tepat� dalam suatu kegiatan pembelajaran. Di SMA N 3 Magelang sampai saat ini belum menggunakan metode pembelajaran Sejarah� yang optimal.� Keterbatasan penggunaan metode dan media pembelajaran Sejarah di sekolah ini merupakan salah satu penyebab kurang efektif dan� rendahnya kualitas proses pembelajaran. Aktivitas guru dalam mengajar monoton, peserta didik menjadi cepat bosan dalam mengikuti pelajaran Sejarah dan kurang peka terhadap masalah atau kejadian yang terjadi di sekitarnya, pada akhirnya hasil belajar menjadi rendah. Berdasarkan hasil ulangan tengah semester kelas XII IPS2 tahun pelajaran 2019/2020 peserta didik SMA Negeri 3 Magelang pada mata pelajaran Sejarah menunjukkan hasil yang kurang memuaskan. Rata- rata� masih� di bawah KKM yaitu 61,52 padahal KKM yang ditetapkan sebesar 75.

Upaya yang dapat dilakukan� guru untuk dapat memecahkan permasalahan� tersebut, dengan mengubah suasana belajar melalui model pembelajaran inovatif yang bervariatif yang mampu mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditargetkan dan mengoptimalkan peran aktif siswa dalam proses belajar mengajar, sehingga dapat memaksimalkan daya saing siswa melalui tim dalam kelas. Salah satu penggunaan metode pembelajaran pada siswa SMA yang cocok adalah� metode Snowball Throwing (Warsono, 2013).

Pembelajaran kooperatif adalah salah satu bentuk pembelajaran yang berdasarkan faham konstruktivitas. Pembelajaran kooperatif merupakan strategi belajar dengan sejumlah siswa sebagai anggota kelompok kecil yang tingkat kemampuannya berbeda (Erniwati, 2015).

Dalam menyelesaian tugas keterampilan,� setiap� siswa� anggota kelompok harus saling bekerja sama dan saling membantu untuk�� memahami�� materi pelajaran. Menurut� Nurhadi� dan Senduk, pembelajaran� kooperatif� adalah pembelajaran� yang� secara� sadar� menciptakan interaksi� yang� silih� asuh� sehingga� sumber� belajar� bagi siswa� bukan� hanya� guru� dan buku� ajar,� tetapi� juga� sesama� siswa (Sanjaya dan Wina, 2011).

Berdasarkan� beberapa� pengertian tersebut,� dapat� ditegaskan� bahwa� pembelajaran� kooperatif� adalah� sistem� pembelajaran yang berusaha memanfaatkan� teman� sejawat (siswa lain)� sebagai� sumber� belajar.

Pembelajaran kooperatif dipandang sebagai a powerful tool to motivate learning and has a positive effect on the class-room climate which leads to encourage greater achievement, to foster positive attitudes and higher self-esteem, to develop collaborative skills and to promote greater social support (sarana ampuh untuk memotivasi pembelajaran dan memberikan pengaruh positif terhadap iklim ruang kelas yang pada saatnya akan turut mendorong pencapaian yang lebih besar, meningkatkan sikap-sikap positif dan harga diri yang lebih dalam, mengembangkan skill-skill kolaboratif yang lebih baik, dan mendorong motivasi social yang lebih besar kepada orang lain yang membutuhkan (Huda, 2011).

Snowball Throwing adalah salah satu model pembelajaran kooperatif. Snowball Throwing menurut asal katanya �bola salju bergulir� diartikan sebagai pembelajaran dengan menggunakan bola pertanyaan dari kertas yang digulung bulat berbentuk seperti bola kemudian dilemparkan secara bergiliran diantara sesama siswa (Isjoni, 2013). Tipe snowball throwing memadukan pendekatan komunikatif, integratif, dan ketrampilan proses. Kegiatan melempar bola pertanyaan ini akan membuat kelompok menjadi dinamis karena kegiatan siswa tidak hanya berpikir, menulis, bertanya, atau berbicara, akan tetapi mereka juga melakukan aktifitas fisik yaitu menggulung kertas dan melemparkannya pada siswa lain. Dengan demikian, tiap anggota kelompok mempersiapkan diri karena pada gilirannya mereka harus menjawab pertanyaan dari temannya yang terdapat dalam bola kertas. Model Snowball Throwing digunakan untuk mengetahui sejauh mana pengetahuan dan kemampuan siswa dalam menguasai materi tersebut. Snowball Throwing melatih siswa untuk lebih tanggap menerima pesan dari orang lain dan menyampaikan pesan tersebut kepada teman dalam satu kelompok. Model pembelajaran Snowball Throwing sangat cocok untuk melatih kemampuan bertanya siswa, karena pada realitanya banyak siswa yang pasif atau tidak memiliki keberanian untuk bertanya apabila terdapat kesulitan dalam proses pembelajaran.

���� Langkah-langkah model pembelajaran Snowball Throwing adalah : Pertama, Guru menyampaikan materi; Kedua, Guru membentuk kelompok, dan memanggil masing-masing ketua kelompok untuk diberi penjelasan tentang materi; Ketiga, Masing-masing ketua kelompok kembali pada kelompoknya untuk menyampaikan materi yang telah dijelaskan oleh guru kepada teman-temannya; keempat, Masing-masing peserta didik diberi lembar kerja untuk menuliskan pertanyaan apa saja mengenai materi yang telah dijelaskan; Kelima, Lembar kerja tersebut kemudian dibulatkan dibentuk bola, kemudian dilempar pada kelompok lain (dari peserta didik satu ke peserta didik yang lain selama 3 menit) untuk dijawab oleh yang berhasil menangkap lemparan tersebut; Keenam, Peserta didik menjawab pertanyaan tersebut, jika benar mendapat poin; Ketujuh, Guru memberikan kesimpulan; Kedelapan, Guru mengevaluasi kegiatan tersebut dengan cara memberi komentar sekaligus memberikan penilaian mengenai jenis� pertanyaan, bobot pertanyaan dan rumusan kalimat yang dibuat oleh peserta didik. Kemudian memberi contoh susunan pertanyaan yang benar (Suprijono, 2013).

Jika kita kaji lebih mendalam beberapa factor yang mempengaruhi rendahnya perolehan nilai bahasan tersebut, antara lain:� (1) Kegiatan pembelajaran yang terlalu monoton oleh guru, sehingga siswa mengalami kejenuhan yang berdampak kurangnya motivasi� siswa dalam belajar, (2) Pemilihan serta penerapan metode pembelajaran yang kurang tepat oleh guru, (3) Adanya anggapan mata pelajaran Sejarah kurang penting dibandingkan dengan mata pelajaran Ujian nasional Ada beberapa upaya yang dapat dilakukan seorang guru untuk dapat memecahkan permasalahan� tersebut, salah satunya dengan mengubah suasana belajar melalui model pembelajaran inovatif yang bervariatif yang mampu mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditargetkan dan mengoptimalkan peran aktif siswa dalam proses belajar mengajar, sehingga dapat memaksimalkan daya saing siswa melalui tim dalam kelas. Dengan demikian pembelajaran berjalan tidak membosankan dan dapat memberikan pengalaman yang menyenangkan dalam bekerja sama dengan teman sebaya.

Di SMA N 3 Magelang sampai saat ini belum menggunakan metode pembelajaran Sejarah� yang optimal.� Keterbatasan penggunaan metode dan media pembelajaran Sejarah di sekolah ini merupakan salah satu penyebab kurang efektif dan� rendahnya kualitas proses pembelajaran. Aktivitas guru dalam mengajar monoton, peserta didik menjadi cepat bosan dalam mengikuti pelajaran Sejarah dan kurang peka terhadap masalah atau kejadian yang terjadi di sekitarnya, pada akhirnya hasil belajar menjadi rendah.

Penelitian Yang Relevan

Ellen Julian (2015) dengan judul �Penerapan model Pembelajaran model Snowball Throwing Untuk Meningkatkan Keaktifan dan Hasil Belajar� Siswa Pada Mata Pelajaran Teknik Dasar Otomotif� Kelas X di SMK N I Sedayu Bantul�Hasilnya bahwa ada peningkatan aktifitas dalam pembelajaran otomotif melalui penerapan model Snowball Throwing. Siswa lebih aktif dalam proses pembelajaran ditunjukkan meningkatnya hasil pembelajaran (Warsono, 2013).

Rizky� Sabanna (2018) Penerapan model Pembelajaran� Snowball Throwing Untuk Meningkatkan Motivasi dan hasil BelajarSiswa pada� materi Turunan di kelas XI SMA Negeri I Gandapura. Hasilnya bahwa penerapan model Snowball Throwing dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Hasil belajar antara lain peningkatan aktivitas siswa dan rata-rata nilai ulangan harian.

Untuk mengatasi rendahnya hasil belajar Sejarah� tersebut ditempuh dengan menggunakan metode pembelajaran Snowball Throwing yang diharapkan proses pembelajaran menjadi lebih menarik dan bermakna karena peserta didik ikut terlibat� aktif dalam� proses pembelajaran, hingga aktifitas dan hasil belajar bisa meningkat.

Manfaat��� Penelitian��� ini��� yaitu� ��:��� (1)Bagi siswa��� Untuk��� membuat��� siswa��� lebih��� bersemangan dalam���� mengikuti���� proses���� pembelajaran,���� karena siswa��� ikut��� serta��� berperan��� aktif.���� Siswa��� lebih termotivasi untuk belajar, sehingga akan meningkatkan��� hasil��� belajar��� siswa.��� (2)Bagi��� guru Dapat dijadikan bahan masukan dalam penggunakan��� model���� pembelajaran���� yang���� efektif sehingga guru mempunya alternatif untuk mengembangkan��� materi��� dan��� memudahkan��� siswa dalam��� memahami��� materi��� yang��� diberikan��� oleh guru, menjadikan guru lebih kreatif dalam menggunakan���� model���� pembelajaran���� yang���� tepat sehingga proses pembelajaran berjalan sesuai dengan��� tujuan��� pembelajaran��� yang��� akan��� dicapai

Bagi�� Sekolah�� Bermanfaat�� bagi� �sekolah�� untuk memperbaiki��� masalah -masalah��� atau��� kesulitan yang dihadapi siswa dalam upaya untuk meningkatkan kualitas pelaksanaan kegiatan pembelajaran��� yang���� aktif,�� ��afektif,���� kreatif,���� dan menyenangkan.�� (4)�� Bagi�� peneliti� �Sebagai�� sarana untuk��� menambah��� wawasan,�� �pengetahuan��� tentang model�� pembelajaran�� serta�� menambah�� pengalaman.

 

Metode Penelitian

Jenis penelitian termasuk penelitian deskriptif kuantitatif, berdasarkan hasil penelitian termasuk jenis Applied Research (Penelitian Terapan) (Dantes dan Nyoman, 2012). �Waktu penelitian Januari� sampai April 2020 bertempat SMA Negeri 3 Magelang. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam� penelitian� ini� adalah observasi� dan� penilaian (Arikunto, 2013) (Arikunto dan Suharsimi, 2012).

Pengambilan data dan menganalisis hasil data yang diperoleh, menarik kesimpulan dan menyusun laporan penelitian. Teknis analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisa deskriptif kuantitatif dan kualitatif.

Data yang dikumpulkan pada penelitian ini berupa dua jenis data yaitu: Data kualitatif� yaitu data aktifitas siswa selama diterapkannya pembelajaran dengan pendekatan ketrampilan proses Data kuantitatif yaitu hasil belajar yang diperoleh dari pemberian tes tertulis pada akhir siklus (Sugiyono, 2013).

Data hasil belajar diperoleh dengan menggunakan lembar tes tertulis yang berbentuk pilihan / uraian yang diambil tiap akhir siklus pembelajaran, presentse pencapaian hasil belajar siswa dengan rumus :

 

Data pengelolaan pembelajaran guru diambil dengan menggunakan lembar observasi pengelolaan pembelajaran. Adapun peresntase nilai pengelolaan pembelajaran guru diperoleh dengan menggunakan rumus

 

 

Hasil dan Pembahasan

A.     Hasil Penelitian

1.       Deskripsi Data Kondisi Awal

Proses pembelajaran Sejarah pada kondisi awal sebelum menggunakan model-model pembelajaran hanya menggunakan metode ceramah dan tanya jawab saja kurang menarik bagi peserta didik,� akibatnya peserta didik kurang bersemangat, kurang perhatian, kurang fokus, rame sendiri, yang diikuti dengan hasil belajarnya rendah. Dalam� pembelajaran Sejarah sangat diperlukan metode pembelajaran yang mengajak peserta didik aktif, sehingga diharapkan pelajaran Sejarah bisa menarik perhatian peserta didik. Seperti dalam gambar di bawah ini yang menggambarkan kondisi kelas XII IPS 2, ada beberapa peserta didik yang ngobrol dengan temannya, ada yang tiduran, ada pula yang asyik sendiri bahkan ada yang tiduran. Walaupun ada beberapa yang serius belajar. Pada umumnya mereka yang serius belajar itu nilai UH nya tidak begitu mengecewakan walaupun masih ada di bawah KKM, tetapi kurangnya tidak banyak masih bisa diperbaiki dalam UH yang berikutnya. Menurut penilaian saya terdapat hubungan antara semangat belajar dengan hasil belajar. Kondisi tersebut mendorong peneliti untuk mencoba menerapkan model pembelajaran Snowball Throwing yang bisa sedikit banyak menumbuhkan semangat belajar karena mengharuskan peserta didik aktif, bergerak meninggalkan tempat duduknya, gembira, berkomunikasi siap menjawab pertanyaan, yang diawali dengan kegiatan diskusi kelompok lebih dahulu dengan harapan adanya kenaikan pada hasil belajar peserta didik.

Hasil penelitian dalam laporan ini terdiri dari dua bagian yaitu pertama hasil/prestasi belajar yang diukur dari nilai pre tes dan post tes, kedua tingkat efektivitas pemanfaatan metode Snowball Throwing dan Dampaknya berdasarkan hasil angket yang diberikan kepada peserta didik. Aktifitas siswa sebelum pembelajaran dengan metode Snowball Throwing.

Tabel 1.

�Hasil Tiap Aspek pada Pra Siklus

No

Aspek Penelitian

Tindakan ke-1

1

Rata-rata aktifitas siswa yang mendukung mutu pembelajaran, seperti bertanya, membri tanggapan, menjawab, terlibat aktif dalam pembelajaran

57,57%

2

Nilai tertinggi

80

3

Nilai terendah

45

4

Nilai rata-rata kelas

60.30

5

Ketuntasan belajar

37.5%

 

Tabel 2

Hasil balajar Pra Siklus

No

Uraian

Prestasi

1

Nilai terendah

28

2

Nilai tertinggi

84

3

Nilai rerata

64,31

4

Rentang Nilai

56

5

Ketuntasan belajar

31 %

 

 

 

2.       Kegiatan Tindakan

1)      Perencenaan Pembelajaran

Sebelum memulai sesuatu, apapun itu harus ada perencanaan bahkan perencanaan bisa sangat menentukan berhasil tidaknya suatu tindakan atau pekerjaan, walaupun perencanaan bukan merupakan satu-satunya penentu keberhasilan.� Dalam Perencanaan disusun langkah-langkah, cara mencapai keberhasilannya, adapun dalam pembelajaran yang dimaksud perencanaan adalah menyusun Kalender Pendidikan, Rincian Pekan Efektif (RPE), Prota, Promes, SKL, Silabus, RPP, KKM, menyiapkan Jurnal KBM, Daftar Hadir, Daftar Nilai Pelaksanaan Pembelajaran.

Langkah-langkahnya sebagai berikut:

a)       Perencanaan Apersepsi

Kegiatan Pendahuluan (5 menit) Untuk mengawali kegiatan pembelajaran peneliti melakukan langkah-langkah sebagai berikut :

(1)    Guru membuka pembelajaran dengan doa bersama

(2)    Guru mengamati kondisi peserta didik dengan mengabsensi kehadirannya

(3)    Guru menyampaikan tujuan pembelajaran

(4)    Mengajukan beberapa pertanyaan mengenai orde baru

(5)    Guru memberi motivasi perlunya musyawarah

(6)    Apersepsi membuka pembelajaran dengan pertanyaan� Apa Reformasi� ?

b)      Perencanaan Kegiatan Inti Kegiatan Inti (80 menit) Eksplorasi Dalam kegiatan eksplorasi, guru:

(1)    Mendampingi peserta didik mencari materi dari buku sumber, perpustakaan , internet dengan disalah satu alamatnya: http://id.wikipedia.org/wiki/Sejarah_Indonesia 1959-1965.

(2)    Memberi kesempatan peserta didik untuk bertanya

Elaborasi

Dalam kegiatan elaborasi, guru:

(1)    Menyampaikan materi secara garis besar

(2)    Mendampingi peserta didik untuk penerapan model pembelajaran Snowball Throwing

Dengan langkah-langkah :

a.       Guru menyampaikan materi

b.       Guru membagi peserta didik dalam 5 kelompok, satu kelompok mempelajari/membahas satu sub bab :

Kelompok satu : mengenai Masa akhir Orde Baru,

Kelompok dua : mengenai Latar Belakang lahirnya Reformasi

Kelompok tiga : mengenai krisis politik, ekonomi, hukum dan kepercayaan.

Kelompok empat : mengenai kronologi Reformasi

Kelompok lima : mengenai Tuntutan dan agenda Reformasi

c.       Guru memanggil ketua kelompok untuk diberi penjelasan sesuai materi diskusi

d.       Ketua kelompok menjelaskan materi yang di dapat dari guru kepada anggota kelompoknya, jika ada yang tidak jelas ditanyakan kepada guru peneliti

e.       Setelah selesai, masing-masing peserta didik dibagikan lembar kerja untuk menuliskan pertanyaan, kemudian lembar kerja di bulatkan seperti bola-bola

f.        Lembar kerja yang telah dituliskan pertanyaan, dibulatkan seperti bola kemudian dengan aba-aba dari guru dilemparkan ke temannya

g.       Peserta didik yang telah berhasil nangkap bola, kemudian satu persatu membuka bola kertas yang berisi pertanyaan untuk dijawab, jika jawaban benar mendapat poin, jika salah mendapat hukuman menyanyikan lagu kebangsaan bersama-sama dengan semua peserta didik yang menjawab salah

h.       Demikian seterusnya diulang-ulang sampai 3 kali dengan harapan siswa akan menemukan 3 soal dalam simulasi tersebut

i.        Guru memberikan kesimpulan

j.        Guru mengevaluasi kegiatan tersebut dengan cara memberi komentar sekaligus memberikan penilaian mengenai jenis� pertanyaan, bobot pertanyaan dan rumusan kalimat yang dibuat oleh peserta didik. Kemudian memberi� contoh susunan kalimat tanya yang benar.

Konfirmasi

Dalam kegiatan konfirmasi, Peserta didik:

a.       Menyimpulkan tentang hal-hal yang diketahui

b.       Menjelaskan tentang hal-hal yang belum diketahui

Secara umum berdasarkan pengamatan guru sebagai guru Sejarah yang juga sebagai peneliti, bahwa dalam penelitian siklus I sudah berjalan lancar. Skenario pembelajaran dengan metode Snowball Throwing� yang sudah dipersiapkan peneliti. Dalam pelaksanaan penelitian tindakan kelas pada siklus I ini peserta didik sangat antusias, bersemangat, aktif dan semua berpartisipasi seperti tampak dalam gambar dibawah ini yang menunjukkan masing-masing ketua kelompok mendapat penjelasan dari peneliti untuk diteruskan pada anggota kelompoknya. Akan tetapi siswa masih merasa bingung scenario pembelajaran yang dibuat terlalu banyak, ini dibuktikan dengan banyaknya banyaknya siswa yang bertanya kepada guru tentang langkah-langkah selanjutnya, padahal sebelumnya guru sebagai peneliti sudah melakukan sosialisasi tentang metode yang digunakan dikelas. Ini dapat dimaklumi karena saat pembelajaran Sejarah sebelumnya hanya menggunakan metode ceramah, sedangkan pada saat penelitian siswa menggunakan metode baru yang banyak mencari sendiri materi di buku atau internet.

Peneliti menggunakan dua lembar observasi atau pengamatan, diantaranya lembar observasi angket tanggapan siswa dengan adanya penggunaan metode baru yaitu Snowball Throwing. angket harus diisi siswa dan dikumpulkan kembali saat akhir pelajaran. Angket ini dibuat untuk mengetahui seberapa jauh antusias atau motivasi� peserta didik terhadap mata pelajaran Sejarah. Guru sebagai peneliti juga menyiapkan lembar observasi untuk guru yaitu untuk menilai keberhasilan pelaksanaan pembelajaran di kelas untuk menilai keaktifan peserta didik dalam setiap langkah kegiatan motode pembelajaran Snowball Throwing.

������������������ Gambar 8

Siswa sedang melaksanakan model �pembelajaran Snowball Throwing

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


Dalam gambar tampak penerapan model pembelajaran Snowball Throwing,� peserta didik tampak bersemangat, ceria berusaha menangkap bola-bola pertanyaan, ada beberapa lemparan bola pertanyaan yang jatuh di lantai dan mereka berusaha untuk mencari menemukannya namun ada juga yang bisa menangkap bola-bola pertanyaan tersebut, sehingga kelas tampak sangat hidup penuh semangat gairah untuk segera tau pertanyaan. Mereka berlomba untuk secepatnya bisa menjawabnya, karena mendapatkan nilai. Kelas benar-benar hidup sehingga bisa menjadi suatu peristiwa yang sangat terkesan sehingga apa yang dia temukan pada saat itu sangat terkesan sulit untuk dilupakan. Anak yang menjawab betul mendapat point dan ada juga anak yang menjawab salah sehingga mendapat hukuman menyanyikan lagu wajib.

Dapat disimpulkan bahwa berdasarkan pengamatan dalam pelaksanaan siklus I dengan metode Snowball Throwing dapat meningkatkan aktivitas siswa. Setelah diadakan penelitian Tindakan Kelas diperoleh hasil sebagai berikut

Tabel 3.

Hasil Tiap Aspek Pada Siklus I

No

Aspek Penelitian

Tindakan ke-1

1

Rata-rata aktifitas siswa yang mendukung mutu pembelajaran, seperti bertanya, membri tanggapan, menjawab, terlibat aktif dalam pembelajaran

75,5%

2

Nilai tertinggi

85

3

Nilai terendah

50

4

Nilai rata-rata kelas

70.39%

5

Ketuntasan aktifitas belajar

67.5%

 

Tabel 4

Hasil Belajar Siklus 1

No

Uraian

Prestasi

1

Nilai terendah

30

2

Nilai tertinggi

85

3

Nilai rerata

66,28

4

Rentang Nilai

55

5

Ketuntasan belajar

66� %

Berdasarkan hasil observasi dan evaluasi selama pelaksanaan siklus I, ada beberapa hal penting yang perlu diperhatikan dan diperbaiki untuk rencana tindakan pada siklus berikutnya. Dalam kegiatan pembelajaran yang telah dilaksanakan, guru telah berusaha tampil dengan baik dan memenuhi seluruh aspek pembelajaran kooperatif tipe Snowball Throwing. Dari hasil observasi ada beberapa hal yang perlu diperbaiki dalam pengelolaan pembelajaran antara lain: guru kurang memotivasi siswa dalam belajar dan kurang membimbing seluruh kelompok dalam kegiatan kelompok sehingga tidak semua siswa terlibat dalam kegiatan kelompok . untuk mengatasi hal tersebut peneliti �memberi mengingatkan� agar dalam siklus berikutnya anak2 tampil dengan lebih baik. Guru sebagai peneliti� harus memberi bimbingan yang merata pada semua kelompok sehingga tidak ada kelompok yang merasa tidak diperhatikan dan semua siswa terlibat secara aktif dalam pembelajaran.

Pada proses pembelajaran ada hal yang perlu diperbaiki untuk rencana tindakan pada siklus berikutnya yaitu dalam kelompok kooperatif, tidak semua siswa aktif mengerjakan kegiatan dalam LKS, terutama pada pertemuan pertama. Ada satu atau diua siswa pada masing-masing kelompok yang kurang peduli terhadap kegiatan yang dikerjakan oleh teman yang lain. Untuk mengantisipasi agar hal ini tidak terulang pada siklus berikutnya maka bimbingan guru harus menyeluruh pada semua kelompok dan diharapkan terjadi pembagian tugas yang merata antar anggota kelompok.

Beberapa� siswa masih merasa bingung skenario pembelajaran yang dibuat terlalu banyak, ini dibuktikan dengan banyaknya� siswa yang bertanya kepada guru tentang langkah-langkah selanjutnya, padahal sebelumnya guru sebagai peneliti sudah melakukan sosialisasi tentang metode yang digunakan dikelas. Ini dapat dimaklumi karena saat pembelajaran Sejarah sebelumnya hanya menggunakan metode ceramah, sedangkan pada saat penelitian siswa menggunakan metode baru yang banyak mencari sendiri materi di buku atau internet.maka dilanjutkan pembelajaran menggunakan metode yang sama pada siklus II

Adapun langkah-langkah siklus II :

a.       Perencanaan (Planning)

Pembelajaran tindakan siklus II disusun berdasarkan hasil observasi dan refleksi yang dilakukan pada tindakan siklus I. Masalah yang berhasil diidentifikasi sebagai bahan acuan untuk menyusu Rencana Pelaksanaan Pembelajaran tindakan siklus II. Hasil refleksi dari siklus I di jadikan rencana untuk perbaikan pada pelaksanaan pembelajaran tindakan siklus II.

Pembelajaran pada siklus II dengan menerapkan pembelajaran kooperatif model Snowball Throwing pada materi Reformasi. Tujuan yang hendak dicapai siswa dapat membandingkan masing-masing pemerintahan selama masa Reformasi. Waktu pembelajaran untuk siklus II dilakukan selama 3 kali pertemuan termasuk tes.

b.       Pelaksanaan Tindakan

Pada siklus II� pembelajaran dilaksanakan sesuai dengan Rencana Persiapan Pembelajaran, yaitu melakukan pembelajaran Reformasi. Masih menggunakan metode Snowball Throwing

c.       Observasi

Secara umum berdasarkan pengamatan guru sebagai peneliti siklus II berjalan lebih baik dari siklus sebelumnya. Skenario pembelajaran dengan metode pembelajaran Snowball Throwing yang telah dipersiapkan peneliti sudah terlaksana semua. Permasalahan pada siklus I dimana siswa masih agak bingung dengan langkah-langkah pembelajaran, guru dan siswa yang kurang akrab, pembelajaran yang terlalu cepat,kelompok yang kurang kerjasama.

d.       Refleksi (Reflecting)

Pelaksanaan siklus II berjalan lebih baik daripada siklus sebelumnya, siklus ini berjalan lebih baik karena dimungkinkan beberapa siswa bisa menjawab setiap pertanyaan atau soal yang dituliskan dalam kertas. Siklus II berjalan lebih baik karena beberapa faktor selain perbaikan dari siklus sebelumnya. Faktor yang pertama berasal dari siswa sendiri, yaitu siswa mulai terbiasa� dan memahami metode pembelajaran yang digunakan peneliti atau guru. Hal ini ditambah dengan� guru melakukan sosialisasi sebelum pelaksanaan siklus selanjutnya. Siswa saat melaksanakan pembelajaran tanpa rasa kebingungan, dan guru tanpa memberikan pengarahan, siswa sudah paham langkah selanjutnya dalam proses pembelajaran. Faktor kedua berasal dari guru sendiri, guru dengan perbaikan siklus sebelumnya menjadi lebih paham karakteristik siswa, dan cara mengajar yang baik dengan metode Snowball Throwing.

����� Pada siklus II guru telah mampu mengelola pembelajaran dengan cukup baik dan siswa nampak sudah bisa beradaptasi dengan pembelajaran kooperatif. Guru telah mampu membangkitkan motivasi belajar siswa dan bimbingan guru merata pada semua siswa. Hanya sebagian kecil saja siswa yang terlihat pasif dalam kegiatan pembelajaran baik pada saat kerja kelompok maupun pada saat pelaksanaan.� Pengaturan waktu sudah sangat baik sehingga KBM berjalan ssuai skenario. Pada siklus II ini guru sudah mampu mengatasi segala hal yang menghambat kegiatan belajar� mengajar dengan mengadakan perbaikan-perbaikan beberapa aspek yang dirasa masih kurang. Secara keseluruhan kegiatan pembelajaran kooperatif berlangsung baik sehingga dapat dikatakan bahwa pengelolaan kegiatan pembelajaran berlangsung sangat efektif.

Tabel 5

Hasil Belajar Siklus II

No

Uraian

Prestasi

1

Nilai terendah

35

2

Nilai tertinggi

88

3

Nilai rerata

69,14

4

Rentang Nilai

45

5

Ketuntasan belajar

83%

 

Tabel 6

Hasil Tiap Aspek Siklus II

No

Aspek Penelitian

Tindakan ke-1

1

Rata-rata aktifitas siswa yang mendukung mutu pembelajaran, seperti bertanya, membri tanggapan, menjawab, terlibat aktif dalam pembelajaran

96,87

2

Nilai tertinggi

100

3

Nilai terendah

61

4

Nilai rata-rata kelas

87.28

5

Ketuntasan belajar

87.50%

 

Tabel 7

Hasil Aktifitas Pra siklus, Siklus I dan Siklus II

Aspek Penilaian

Pra siklus

SiklusI

Siklus 2

Rata-rata aktivitas siswa yang mendukung mutu pembelajaran, seperti bertanya, memberi tanggapan, menjawab, terlibat aktif dalam pembelajaran

57,57

75,5

96,87

 

Berdasarkan hasil penelitian yang ada dalam tabel tentang aktifitas dan hasil belajar siswa diperoleh data bahwa aktifitas siswa dalam mengikuti� kegiatan pembelajaran Sejarah mengalami kenaikan. Hal ini dapat dilihat dari hasil belajar siswa tiap aspek yang mengalami kenaikan� yang cukup signifikan. Jika pada siklus I ketuntasan siswa baru mencapai 57, 57%, merangkak naik menjadi 96,87%. Demikian juga dengan rata-rata hasil penilaian harian 66 dengan rata-rata nilai 66,28 merangkak naik menjadi 83 dengan rata-rata nilai� 69.14 pada siklus II.

 

 

B.      Pembahasan

Guru telah melakukan tindakan kelas 2 kali siklus, dari hasil pengamatan yang sudah dilakukan diperoleh kesimpulan terjadi peningkatan setiap siklus. Peningkatan dapat dilihat dari hasil pengamatan guru dan lembar pengamatan metode Snowball Throwing. Selain itu melalui tes yang diselenggarakan dari pelaksanaan sebelum tindakan (pra siklus), pada awal tindakan terjadi peningkatan dari setiap pelaksanaan siklus dan pada akhir tindakan (post test). Peningkatan hasil belajar siswa dapat dilihat dari persentase keberhasilan siswa setiap siklus, rata-rata nilai siswa post test setiap siklus dan daya serap.��

Berdasarkan fakta tersebut ada peningkatan mutu pembelajaran baik ditinjau dari pengelolaan pembelajaran, maupun penilaian sikap siswa terhadap model pembelajaran Snowball Throwing. Aktivitas maupun prestasi belajar siswa pada siklus I maupun siklus II dapat meningkatkan

 

Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan dapat disimpulkan bahwa : Pertama, Pelaksanaan pembelajaran materi Sejarah menggunakan metode Snowball Throwing yang dikombinsikan dengan berbagai tipe diskusi ternyata membuat siswa lebih senang dan hasil evaluasi belajar siswa setiap siklus mengalami peningkatan, hal ini nampak pada hasil belajar yang mengalami peningkatan pada setiap siklus; Kedua, Penggunaan model pembelajaran Snowball Throwing dapat meningkatkan hasil belajar peserta didik. Hal ini ditunjukkan dengan ketuntasan hasil belajar siswa pada pra siklus sebesar 34,48%, dan setelah tindakan terjadi peningkatan pada siklus I menjadi 65,51 %, berarti terjadi peningkatan sebesar 31,03%, kemudian pada siklus II meningkat 82,75% setelah tindakan terjadi peningkatan sebesar 17,24%; Ketiga, Aktifitas belajar siswa sebelum penelitian rata-rata 57,57% masuk pada kategori kurang aktif, kemudian setelah penelitian rata-rata mencapai 96,87 % masuk pada kategori sangat aktif; Keempat, Penggunaan model Pembelajaran Snowball Throwing dapat meningkatkan aktifitas pelajaran Sejarah siswa kelas XII IPS 2 untuk materi Reformasi; Kelima, Kendala-kendala yang dihadapi dalam pembelajaran materi Sejarah dengan metode� Snowball Throwing adalah waktu yang dibutuhkan lebih banyak.

 

BIBLIOGRAFI

 

Arikunto, S. (2013) Prosedur Penelitian. Jakarta: Rineka Cipta. Google Scholar

Arikunto dan Suharsimi (2012) Pelatihan Tindakan Kelas. Jakarta: PT. Bumi Aksara. Google Scholar

Dantes dan Nyoman (2012) Metode Penelitian. Yogyakarta: CV. Andi Offset. Google Scholar

Depdiknas (2003) Garis-Garis Besar Program Pengajaran Mata Pelajaran Sejarah. Jakarta: Depdikbud. Google Scholar

Erniwati (2015) ��Upaya Meningkatkan Aktivitas Belajar Sejarah Siswa Melalui Pembelajaran Kooperatif Tipe Snowball Throwing Di Kelas XI IPS 3 SMA Negeri 1 Pasaman,�� Jurnal Educatio, 1(1). doi: https://doi.org/10.29210/1201523. Google Scholar

Fathurrohman, M. (2015). Model-Model Pembelajaran Inovatif (Pertama; N. Hidayah, ed.). Jogjakarta: Ar-Ruzz Media. Google Scholar

Hamdayana dan Jumanta (2014) Model dan Metode Pembelajaran Kreatif. Jakarta: Ghalia Indonesia. Google Scholar

Huda, M. (2011) Cooperative Learning. Yogyakarta: Pustaka Pelajar Yogyakarta. Google Scholar

Isjoni (2013) Cooperative Learning Efektivitas Pembelajaran Kelompok. Bandung: Alfabeta. Google Scholar

Lampiran Peraturan Menteri Pendidikan Nasional No. 22 tahun 2006 tanggal 23 mei 2006 (2006). Google Scholar

Sanjaya dan Wina (2011) Strategi Pembelejaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan. Jakarta: Kencana. Google Scholar

Sugiyono (2013) Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D. Bandung: Alfabeta. Google Scholar

Suprijono, A. (2013) Cooperative Learning Teori dan Aplikasi Pakem. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Google Scholar

Undang-Undang Sisdiknas (2003). Jakarta: Sinar Grafika. Google Scholar

Warsono (2013) Pembelajaran Aktif Teori dan Asesmen. Bandung: PT. Remaja Rosdakary. Google Svholar


Copyright holder:

Lusia Rini Idriastuti (2021).

 

First publication right:

Jurnal Syntax Transformation

 

This article is licensed under:

Creative Commons License