Jurnal Syntax Transformation

Vol. 2 No. 6, Juni 2021

p-ISSN : 2721-3854 e-ISSN : 2721-2769

Sosial Sains

 

ANALISIS PENGARUH JUMLAH PENDUDUK, INDEKS PEMBANGUNAN MANUSIA DAN UPAH MINIMUM TERHADAP PENGANGGURAN DI KABUPATEN BANGKALAN

 

Indah Mei Pratiwi, Marseto, Sishadiyati

Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Veteran Jawa Timur, Indonesia��������

Email: [email protected], [email protected], [email protected]

 

INFO ARTIKEL

ABSTRACT

Diterima

2 Juni 2021

Direvisi

13 Juni 2021

Disetujui

20 Juni 2021

 

Unemployment is one of the problems that has not been resolved until now. Bangkalan Regency is part of the Province of East Java, which is on the western tip of Madura Island and still has a high unemployment rate. This study aims to determine the effect of Total Population, Human Development Index and Minimum Wage on Unemployment in Bangkalan Regency 2005-2019. This study uses secondary data from 2015-2019 with multiple linear regression analysis using the SPSS program. By knowing this situation, it is hoped that the regional government of Bankala Regency will be able to open new jobs to reduce the existing unemployment rate. Based on the results of this study, it shows that the Total Population and Human Development Index variables show a negative direction and have a significant effect on the unemployment variable. Meanwhile, the Minimum Wage variable shows a positive direction and has a significant effect. Together, the three independent variables have an effect on the unemployment variable in Bangkalan Regency in 2005-2019.

 

ABSTRAK

Pengangguran adalah salah satu masalah yang masih belum bisa terselesaikan sampai saat ini. Kabupaten Bangkalan adalah bagian dari Provinsi Jawa Timur yang berada di ujung barat Pulau Madura dan masih memiliki angka pengangguran yang tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh Jumlah Penduduk, Indeks Pembangunan Manusia dan Upah Minimum terhadap Pengangguran di Kabupaten Bangkalan Tahun 2005-2019. Penelitian ini menggunakan data sekunder dari tahun 2015-2019 dengan metode analisis regresi linier berganda menggunakan program SPSS. Dengan mengetahui keadaan tersebut maka diharapkan pemerintah daerah Kabupaten Bankala mampu membuka lapangan pekerjaan baru untuk mengurangi angka pengangguran yang ada. Berdasarkan hasil penelitian ini menunjukkan bahwa variabel Jumlah Penduduk dan Indeks Pembangunan Manusia menunjukkan arah negatif dan berpengaruh signifikan terhadap variabel Pengangguran. Sedangkan variabel Upah Minimum menunjukkan arah positif dan berpengaruh signifikan. Secara bersama-sama ketiga variabel independen berpengaruh terhadap variabel Pengangguran di Kabupaten Bangkalan tahun 2005-2019.

Keywords:

populatio; human development index; minimum wage; unemployment

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Kata Kunci:

jumlah penduduk; indeks pembangunan manusia; upah minimum; pengangguran



Pendahuluan

Kabupaten Bangkalan adalah bagian dari Provinsi Jawa Timur yang berada di ujung barat Pulau Madura. Melalui Undang-undang Nomor 12 Tahun 1950 dan selanjutnya diubah dengan Undang-undang Nomor 2 Tahun 1965, Bangkalan didirikan menjadi sebuah kabupaten. Kabupaten Bangkalan secara administratif terdiri dari 18 (delapan belas) kecamatan, 273 desa dan 8 kelurahan.

Pembangunan ekonomi adalah sebuah usaha untuk meningkatkan taraf hidup di suatu daerah dapat diukur melalui tinggi rendahnya pendapatan riil perkapita. Salah satu indikator yang menunjukkan keberhasilan pembangunan ekonomi di suatu daerah adalah dapat dilihat dari persentase dari tingkat pengangguran. Distribusi pendapatan dan tingkat kesejahteraan masyarakat di suatu daerah dapat dilihat melalui tingkat penganggurannya. Pengangguran di suatu daerah dapat terjadi disebabkan oleh tingginya permintaan tenaga kerja yang mencari pekerjaan namun tidak diimbangi dengan penyerapan tenaga kerja. Hal ini disebabkan karena rendahnya pertumbuhan penciptaan lapangan kerja.

Tingkat Pengangguran Terbuka di Kabupaten Bangkalan pada tahun 2015-2019 cenderung mengalami kenaikan setiap tahunnya. Pada tahun 2015 sampai 2016, Tingkat Pengangguran Terbuka di Kabupaten Bangkalan sebesar 5 persen. Pada tahun 2017 Tingkat Pengangguran Terbuka di Kabupaten Bangkalan mengalami sedikit penurunan menjadi sebesar 4,48. Namun pada tahun 2018 ke tahun 2019 mengalami peningkatan yang signifikan yakni 5,25 persen menjadi 5,84 persen. Sehingga diperlukan suatu kebijakan dari pemerintah daerah untuk menekan angka pengangguran yang terjadi setiap tahunnya.

Peningkatan jumlah pengangguran di Kabupaten Bangkalan dapat dipengaruhi oleh banyak faktor. Salah satu faktor yang dapat mempengaruhi jumlah pengangguran adalah jumlah penduduk. Jumlah penduduk di Kabupaten Bangkalan pada tahun 2015-2019 terus mengalami peningkatan. Pertumbuhan jumlah penduduk yang terjadi tiap tahunnya akan mempengaruhi pula jumlah angkatan kerja. Jumlah penduduk pada tahun 2015-2019 mengalami pertumbuhan setiap tahunnya. Pada tahun 2015 Jumlah Penduduk Kabupaten Bangkalan sebanyak 954.305 jiwa merupakan angka jumlah penduduk terendah, dan pada tahun 2019 Jumlah Penduduk di Kabupaten sebanyak 986.672 jiwa merupakan angka jumlah penduduk tertinggi. Hal ini menunjukkan bahwa angka Jumlah Penduduk di Kabupaten Bangkalan terus mengalami peningkatan dari tahun ke tahun.

Salah satu Tolak ukur bagi suatu daerah untuk melihat seberapa tinggi tingkat pembangunan manusia adalah melihat Indeks pembangunan manusia. The United Nations Development Programme (UNDP) merumuskan pembangunan manusia sebagai pilihan untuk manusia dalam meningkatkan kesempatan mereka dalam memperoleh pendidikan, kesehatan, dan penghasilan serta pekerjaan.

Indeks Pembangunan Manusia di Kabupaten Bangkalan pada tahun 2015-2019 mengalami peningkatan. Pada tahun 2015 Indeks Pembangunan Manusia di Kabupaten Bangkalan sebesar 61,49 mengalami peningkatan setiap tahunnya sehingga pada tahun 2019 angka Indeks Pembangunan Manusia sebesar 63,79. Hal ini menunjukkan bahwa persentase Indeks Pembangunan Manusia selama lima tahun terakhir cenderung menunjukkan perkembangan yang cukup baik.

Faktor lain yang dapat mempengaruhi peningkatan jumlah pengangguran adalah Upah Minimum. Upah Minimum Kota/Kabupaten yang ditetapkan oleh Pemerintah Provinsi Jawa Timur. Upah Minimum Kabupaten terus mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Upah Minimum Kabupaten Bangkalan tahun 2015-2019 terus mengalami peningkatan setiap tahunnya. Dalam menentukan nilai upah minimum yang akan diterima oleh para pekerja, tentunya menjadi masalah tersendiri bagi pemerintah. Apabila nilai upah minimum yang ditetapkan oleh pemerintah mengalami kenaikan, maka akan meningkatkan penawaran tenaga kerja. Namun permintaan terhadap tenaga kerja tersebut menurun karena pengusaha tidak mampu memberikan upah yang tinggi sehingga akan mengurangi jumlah tenaga kerja yang digunakan (Saadah & Ardyan, 2016).

Pemerintah Indonesia setiap tahunnya mengeluarkan kebijakan untuk menaikkan upah minimum. Kebijakan ini tentu menguntungkan bagi para buruh karena mampu meningkatkan kesejahteraan hidupnya. Namun jika dilihat dari sisi pengusaha, mereka akan merasa keberatan dengan kebijakan kenaikan upah minimum yang ditetapkan oleh pemerintah. Oleh karena itu, dengan kenaikan upah minimum pengusaha akan mengurangi jumlah tenaga kerja yang digunakan sehingga untuk memaksimalkan laba, pengusaha akan meminimumkan penggunaan tenaga kerjanya. Hal ini tentu mendorong meningkatnya jumlah pengangguran.

Berdasarkan uraian di atas, maka penulis tertarik melakukan penelitian dengan judul �Analisis Pengaruh Jumlah Penduduk, Indeks Pembangunan.

Landasan Teori

Pengangguran

Menurut Mankiw (2007:154) mengatakan bahwa pengangguran adalah suatu masalah makro ekonomi yang mempengaruhi manusia secara langsung dan merupakan masalah yang paling berat yang akan menyebabkan penurunan standar kehidupan dan tekanan psikologis (PERTIWI et al., 2016)

Pengertian pengangguran secara teknis yakni semua orang dalam referensi pada jangka waktu tertentu, semua yang meliputi usia angkatan kerja yang tidak bekerja, dalam arti mendapatkan upah atau bekerja secara mandiri, lalu berusaha mencari pekerjaan yang berarti memiliki kegiatan secara aktif dalam usahanya memperoleh pekerjaan. (Saadah & Ardyan, 2016).

Jumlah Penduduk

Dalam Undang-Undang No. 23 Tahun 2006 dijelaskan definisi penduduk adalah Warga Negara Indonesia dan Orang Asing yang bertempat tinggal di Indonesia. Sedangkan menurut BPS disebutkan bahwa penduduk adalah semua orang yang berdomisili di wilayah geografis Republik Indonesia selama enam bulan atau lebih tetapi dengan tujuan untuk menetap. Sehingga definisi dari jumlah penduduk adalah banyaknya orang yang menduduki suatu wilayah atau daerah dalam jangka waktu tertentu.

Indeks Pembangunan Manusia

Indeks Pembangunan Manusia dapat mengukur sebuah pencapaian pembangunan manusia di sebuah daerah berdasarkan komponen-komponen dasar kualitas hidup. Penghitungan Indeks Pembangunan Manusia didasarkan data yang menggambarkan keempat komponen yaitu angka harapan hidup yang mewakili bidang kesehatan, angka melek huruf dan rata-rata lama sekolah yang mengukur capaian di bidang pendidikan, dan kemampuan daya beli masyarakat terhadap sejumlah kebutuhan pokok yang dilihat dari rata-rata besarnya pengeluaran perkapita sebagai pendekatan pendapatan yang mewakili capaian pembangunan untuk hidup yang layak (Istiyani & Priyono, n.d.)

Upah Minimum

Upah minimum adalah suatu penerimaan bulanan terendah (minimum) sebagai imbalan dari pengusaha yang diberikan kepada pekerja untuk suatu pekerjaan atau jasa yang telah atau dilakukan dalam bentuk uang yang ditetapkan atas dasar suatu persetujuan atau peraturan perundang-undangan sertadibayarkan atas dasar suatu perjanjian kerja antara pengusaha dengan pekerja termasuk tunjangan, baik pekerja itu sendiri maupun untuk keluarganya. Sebagaimana yang telah diatur dalam PP No. 8/1981 upah minimum dapat ditetapkan secara minimum regional, sektoral regional maupun subsektoral, meskipun saat ini baru upah minimum. regional yang dimiliki oleh setiap daerah. Pemerintah Indonesia setiap tahunnyamengeluarkan kebijakan untuk menaikkan upah minimum. Kebijakan ini menguntungkan bagi para buruh karena mampu meningkatkan kesejahteraan hidupnya. Dengan demikian buruh diharapkan juga mampu bekerja lebih giat lagi karena mereka telahmendapatkan gaji yang layak sesuai dengan standar kebutuhan pekerja (Rahmah & Murgianto, 2016).

 

Metode Penelitian

Ruang lingkup dalam penelitian ini bersifat kuantitatif berfokus pada Kabupaten Bangkalan. Pendekatan kuantitatif pada dasarnya menekankan data-data numerikal (angka) dalam menganalisisnya dan diolah dengan metode statistika. Dengan metode kuantitatif akan diperoleh signifikasi perbedaan kelompok atau signifikasi hubungan antar variabel yang diteliti.

Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh Jumlah Penduduk, Indeks Pembangunan Manusia dan Upah Minimum yang merupakan faktor-faktor yang mempengaruhi Pengangguran� di Kabupaten Bangkalan.Penelitian ini dilakukan dengan ruang lingkup wilayah Kabupaten Bangkalan dengan periode penelitian dari tahun 2005-2019. Data yang digunakan dalam penelitian ini merupakan data sekunder yang diperoleh dari BPS dan instansi terkait lainnya. Data yang digunakan berupa Jumlah Penduduk, Indeks Pembangunan Manusia, Upah Minimum dan Pengangguran Kabupaten Bangkalan dan menggunakan analisis regresi linier berganda dengan metode kuadrat terkecil biasa (Ordinary Least Square / OLS).

Sehingga dapat menghasilkan model regresi sebagai berikut : Pengangguran = β0 + β1 Jml Penduduk + β2 IPM + β3 Upah Minimum + e.

 

Hasil dan Pembahasan

A.     PEMBAHASAN

1.       Hasil Uji Asumsi Klasik (Uji BLUE)

Model regresi yang dihasilkan dari metode kuadrat terkecil biasa (Ordinary Least Square / OLS) adalah model regresi yang menghasilkan estimator linear tidak bias yang terbaik (Best Linear Unbias Estimator / BLUE).

a.       Uji Autokorelasi

Pengujian autokorelasi dalam penelitian ini menggunakan uji Durbin Watson (DW test). Dari hasil analisis untuk uji autokorelasi pada penelitian ini diperoleh nilai DW test sebesar 1,035. Dalam model regresiini jumlah variabel bebas (k) adalah 3 dan banyaknya data (n) adalah 15 sehingga diperoleh nilai DW tabel adalah sebesar dL = 0,814 dan dU = 1,7501.

Variabel

Tolerance

Ketentuan

VIF

Ketentuan

Keterangan

Jumlah Penduduk

0,380

≥ 0,10

6,407

≤10

Tidak Terjadi Multikolonieritas

Indeks

Pembangunan Manusia

0,620

≥ 0,10

1,612

≤10

Tidak Terjadi Multikolonieritas

Upah Minimum

0,30

≥ 0,10

7,834

≤10

Tidak Terjadi Multikolonieritas

Nilai DW test berada diantara nilai dL sampai dU maka data yang digunakan dalam penelitian ini berada pada daerah keragu-raguan atau belum ada kesimpulan yang pasti mengenai ada atau tidaknya gejala autokorelasi dari data tersebut. Sehingga dilanjutkan dengan run test.

Tabel 4.1

Uji Runs Test

 

Unstandardized Residual

Test Valuea

06143

Cases < Test Value

7

Cases >= Test Value

8

Total Cases

15

Number of Runs

5

Z

-1.597

Asymp. Sig. (2- tailed)

110

Sumber: Output SPSS

 

Berdasarkan hasil uji run test di atas, diketahui nilai Asymp. Sig. (2- tailed) sebesar 0,110 lebih besar > dari 0,05 , maka dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat gejala atau masalah autokorelasi sehingga dapat digunakan untuk melakukan pengujian selanjutnya.

b.       Uji Multikolinieritas

Untuk melihat apakah ada hubungan linier yang sempurna atau hubungan yang pasti terjadi pada beberapa atau semua variabel independen yang digunakan dalam model regresi maka dilakukan uji multikolinieritas.

 

 

 

 

 

 

Tabel 4.2

Uji Multikolinieritas

Sumber: Output SPSS

Tabel diatas menunjukkan hasil yang diperoleh setelah dilakukan pengujian analisis regresi linier berganda diketahui bahwa dari ketiga variabel independen (Jumlah penduduk, Indeks Pembangunan Manusia dan Upah Minimum) dalam pengujian nilai Pengangguran di Kabupaten Bangkalan, dimana nilai VIF lebih kecil dari 10 sehingga dalam model regresi ini tidak terjadi multikolinieritas

c.       Uji Heterokedastisitas

Uji heteroskesdasitas bertujuan mengetahuiuatu kondisi dimana erroe term tidak memiliki suatu varians yang konstan untuk sama dengan observasi disebut dengan heteroskedastisitas.

Tabel 4.3

Uji Heterokedastisitas� ����

Variabel Y

Sig 2- tailed

(X1)

Sig 2- tailed

(X2)

Sig 2- tailed

(X3)

Ketentuan

Keterangnan

Pengangguran

0,732

0,443

0,732

≥ 0,05

Terbebas dari Heterokedastisitas

Sumber: Output SPSS

 

Berdasarkan tabel di atas, diperoleh tingkat signifikansi koefisien korelasi Rank Spearman untuk variabel dependen pengangguran, keseluruhan residualnya lebih besar dari 0,05 (tidak signifikan) Hal tersebut menunjukkan bahwa antara nilai residual dengan variabel yang menjelaskan tidak mempunyai korelasi yang berarti. Sehingga dapat disimpulkan persamaan yang digunakanterbebas dari heterokedastisitas.

Setelah diperoleh hasil dari Uji Asumsi Klasik yang telah dilakukan diatas dapat disimpulkan bahwa dalam model regresi yang digunakan dalam penelitian ini tidak terjadi pelanggaran asumsi klasik, maka dapat dilakukan analisis selanjutnya dengan metode yang telah dijelaskan pada bab sebelumnya.

B.      PENGUJIAN HIPOTESIS

Berdasarkan hasil perhitungan pengolahan data dengan bantuan komputer program IBM SPSS versi 16 maka diperoleh persamaan regresi linier berganda sebagai berikut : TPT = 275,683 + 0,000 PDD - 0,713 IPM + 0,000002119 UPH Berdasarkan persamaan dapat diuraikan sebagai berikut : β0 : Nilai konstanta sebesar 275,683, Menunjukkan apabila Jumlah Penduduk (X1),Indeks Pembangunan Manusia (X2) dan Upah Minimum () dianggap konstan maka Pengangguran (Y) akan naik sebesar 275,683 persen.

β1 ��: Koefisien regresi X1 (β1) : Y= 0,000 Menunjukkan bahwa Jumlah Penduduk (X1) berpengaruh positif, dapat diartikan apabila pertumbuhan ekonomi mengalami peningkatan sebesar 1 persen maka indeks pembangunan manusia (Y) mengalami peningkatan sebesar 0,000 persen. Dengan asumsi X2 dan X3 Konstan.

β2 ��: Koefisien regresi X2 (β2) : Y= - 0,713 Menunjukkan bahwa Indeks Pembangunan Manusia (X2) berpengaruh negatif, dapat diartikan apabila pengangguran mengalami peningkatan sebesar 1 persen maka Pengangguran(Y) mengalami penurunan sebesar 0,285 persen. Dengan asumsi X1 dan X3 Konstan.

β3 ��: Koefisien regresi X3 (β3) : Y= 0,000002119 Menunjukkan bahwa Upah Minimum (X3) berpengaruh positif, dapat diartikan apabila Upah Minimum mengalami peningkatan sebesar 1 persen maka Pengangguran (Y) mengalami peningkatan sebesar 0,000002119 persen. Dengan asumsi X1 dan X2 Konstan.

1.       Uji Koefisien Determinasi (R2)

Koefisien Determinasi (R2) untuk mengukur seberapa jauh kemampuan model dalam menerangkan variasi variabel dependen. Nilai yang mendekati 1 berarti variabel-variabel independen memberikan hampir semua informasi yang dibutuhkan untuk memprediksi variabel dependen (Ghozali, 2018). Nilai koefisien determinasi dapat dilihat pada tabel dibawah ini:

���������������������� Tabel 4.4

��������� Uji Koefisien Determinasi

Model

R

R Square

Adjusted R Square

Std. Error of the Estimate

1

,879a

,772

,710

1,78780

Sumber: Output SPSS

Koefisien determinasi sebesar 0,772 artinya 77,2% dari seluruh pengamatan menunjukkan variabel bebas Jumlah Penduduk (X1), Indeks Pembangunan Manusia (X2) dan Upah Minimum (X3) mampu menjelaskan variasi variabel dependen yaitu Pengangguran (Y), sisanya 22,8% dipengaruhi faktor lain diluar model.

2.       Uji F

Untuk menunjukkan apakah semua variabel independen yang digunakan dalam model regresi mempunyai pengaruh secara bersama-sama terhadap variabel dependen atau tidak maka dilakukan Uji F. Pengujian ini menjelaskan apakah model yang diestimasi layak digunakan untuk menjelaskan pengaruh variabel-variabel independen terhadap variabel dependen.

Tabel 4.5

Uji F Simultan (ANOVA)

Model

Sun of square

Df

Mean square

F

Sig

Regression

119,219

3

39,740

12,433

.001

Sumber: Output SPSS

Hasil yang diperoleh dari tabel ANOVA diperoleh nilai Fhitung sebesar 12,433 dengan tingkat signifikasi sebesar 0,001b dengan taraf signifikasi 5% atau (α = 0,05) maka nilai sig 0,001< 0,005. Sedangkan nilai Ftabel dengan degree of freedom (df1) adalah 3 (jumlah variabel bebas/k) dan df2 11 (n-k- 1) diperoleh nilai Ftabel sebesar 3,59. Dari hasil tersebut diketahui bahwa nilai Fhitung 12,433 ≥ Ftabel 3,59 sehingga H0 ditolak dan Hi diterima.

3.       Uji T

Untuk menunjukkan seberapa jauh pengaruh satu variabel independen secara individual dalam menerangkan variabel dependen maka dilakukan uji T. Hali ini dimaksudkan untuk menguji apakah parameter (koefisien regresi dan konstanta) yang diduga untuk mengestimasi model regresi sudah merupakan parameter yang tepat atau belum. Hasil dari uji T dalam penelitian ini dijelaskan sebagai berikut.

Tabel 4.6

Uji T Parsial

Variabel

T Hitung

T Tabel

Sig

Jumlah Penduduk (X1)

-4,553

2,2

0,001

Indeks Pembangunan Manusia (X2)

-2,339

2,2

0,039

Kemiskinan (X3)

3,678

2,2

0,004

Sumber: Output SPSS

 

Berdasarkan hasil output pada Tabel 4.5 Uji T parsial dapat dijelaskan apakah adanya pengaruh signifikan pada setiap variabel terlihat pada penjelasan berikut ini :

a.       Variabel Jumlah Penduduk

Berdasarkan perhitungan secara parsial diperoleh nilai t hitung sebesar -4,553sedangkan nilai sig (α/2= 0,025) dengan degree of freedom (df)11(n-k-1) diperoleh nilai T tabel sebesar 2,2. Dari hasil tersebut diketahui bahwa nilai T hitung 4,553≥T tabel 2,2 maka H0 ditolak dan Hi diterima, dengan nilai signifikansi 0,001 ≤ 0,05.

Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh� (Lindiarta, 2014) yang menjelaskan bahwa jumlah penduduk berpengaruh negatif dan signifikan terhadap pengangguran. Dimana dalam penelitian tersebut variabel jumlah penduduk memiliki ikatan yang kuat terhadap variabel pengangguran. Sehingga� mengindikasikan bahwa pertumbuhan jumlah penduduk di setiap tahun sejalan dengan jumlah pengangguran. Malthus berpendapat tentang �natural law� atau hukum alamiyah yang mempengaruhi jumlah penduduk juga mendukung tentang penelitian ini, bahwa pertumbuhan jumlah penduduk akan bertambah lebih cepat dibandingkan dengan jumlah bahan makanan. Akibatnya pada suatu saat akan terjadi perbedaan yang besar antara jumlah penduduk dengan kebutuhan hidup.

b.       Variabel Indeks Pembangunan Manusia

Berdasarkan perhitungan secara parsial diperoleh nilai T hitung sebesar -2,339sedangkan nilai sig (α/2= 0,025) dengan degree of freedom (df)11(n-k-1) diperoleh nilai T tabel sebesar 2,2. Dari hasil tersebut diketahui bahwa nilai T hitung 2,339 ≥T tabel 2,2 maka H0 ditolak dan Hi diterima, dengan nilai signifikansi 0,039 < 0,05.

Hasil penelitian ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh (Putra, 2016) bahwa dengan adanya pengaruh yang negatif dan signifikan menggambarkan bahwa apabila terjadi kenaikan Indeks Pembangunan Manusia maka akan terjadi penurunan pada tingkat pengangguran. Dengan demikian, tingginya angka Indeks Pembangunan Manusia akan mempengaruhi tenaga kerja tersebut dalam memperoleh pekerjaan. Apabila nilai Indeks Pembangunan Manusia tersebut tinggi maka tenaga kerja tersebut mudah untuk memperoleh pekerjaan. Namun apabila nilai Indeks Pembangunan Manusia tersebut rendah maka tenaga kerja akan sulit memperoleh pekerjaan sehingga akan memicu pertambahan jumlah pengangguran (Sholikah, 2020)

c.       Variabel Upah Minimum

Berdasarkan perhitungan secara parsial diperoleh nilai T hitung sebesar 3,678 sedangkan nilai sig (α/2= 0,025) dengan degree of freedom (df)11(n-k-1) diperoleh nilai T tabel sebesar 2,2. Dari hasil tersebut diketahui bahwa nilai t hitung 3,678 ≥ T tabel 2,2 maka H0 ditolak dan Hi diterima, dengan nilai signifikansi 0,004 < 0,05.

Hasil penelitian ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh (Putra, 2016) yang menjelaskan bahwa variabel Upah Minimum berpengaruh positif dan signifikan terhadap pengangguran. Adanya pengaruh positif dan signifikan menggambarkan apabila terjadi kenaikan upah minimum yang ditetapkan oleh pemerintah, maka akan terjadi kenaikan pada tingkat pengangguran di Kabupaten Bangkalan.

Berdasarkan hasil pengolahan data diatas dapat diketahui secara bersama-sama variabel independen Jumlah Penduduk, Indeks Pembangunan. Manusia dan Upah Minimum berpengaruh simultan dan nyata terhadap variabel dependen Pengangguran di Kabupaten Bangkalan selama kurun waktu 2005-2019. Adapun hasil dari uji yang telah dilakukan secara parsial dalam penelitian ini, semua variabel independen yang digunakan yakni variabel Jumlah Penduduk, Indeks Pembangunan Manusia dan Upah Minimum terhadap variabel dependen Pengangguran, semua variabel independen berpengaruh signifikan terhadap variabel dependen

 

Kesimpulan

Kabupaten Bangkalan merupakan salah satu wilayah di Pulau Madura yang memiliki jumlah penduduk yang tinggi. Jumlah penduduk yang dimiliki Kabupaten Bangkalan meningkat setiap tahunnya. Variabel jumlah penduduk tinggi mengakibatkan variabel pengangguran akan menurun. Hal ini terjadi karena pada kasus pengangguran yang terjadi di Kabupaten Bangkalan banyak penduduk usia kerja yang sudah bekerja di rumah, seperti menggarap sawah, berternak atau membantu usaha warung orang tua dianggap masih menganggur. Sehingga untuk meminimalisir penduduk yang masih menganggur diperlukan Pemerintah Daerah Bangkalan harus mengubah paradigma masyarakat.

Indeks Pembangunan Manusia memiliki pengaruh yang negatif dan signifikan terhadap tingkat di Kabupaten Bangkalan. Indeks Pembangunan Manusia dapat mencakup tingkat pendidikan, tingkat kesehatan adalah hal yang perlu di perhatikan oleh Pemerintah Daerah karena indeks pembangunan manusia dapat menggambarkan keadaan daerah tersebut termasuk dapat mengetahui tingkat pengangguran di daerah tersebut.

Kenaikan upah minimum di setiap tahunnya akan meningkatkan jumlah pengangguran di Kabupaten Bangkalan. Permintaan tenaga kerja akan lebih besar dibandingkan dengan penawaran tenaga kerja yang dibeikan oleh pengusaha. Hal ini dikarenakan para pengusaha tidak mampu untuk memberikan upa minimum yang ditetapkan oleh pemeintah, sehingga untuk mewujudkan efisiensi dalam proses produksi para pengusaha akan mengurangi�� jumlah�� tenaga�� kerja����������� yang digunakan. Hal ini akan menyebabkan tingginya angka pengangguran yang ada.

 

BIBLIOGRAFI

Anggraheni, Y. (2016). Pengaruh Pertumbuhan Ekonomi, Pengangguran Dan Kemiskinan Terhadap Indeks Pembangunan Manusia Di Jawa Tengah Tahun 2010-2013. Jurnal Ekonomi. Google Scholar

Ghozali, I. (2018). Aplikasi Analisis Multivariate Dengan Program IBM SPSS 25.Edisi 9. Semarang: Undip. Google Scholar

Hartanto, T. B., & Masjkuri, S. U. (2017). Analisis Pengaruh Jumlah Penduduk, Pendidikan, Upah Minimum Dan Produk Domestik Regional Bruto (Pdrb) Terhadap Jumlah Pengangguran Di Kabupaten Dan Kotaprovinsi Jawa Timur Tahun 2010-2014. Jurnal Ilmu Ekonomi Terapan, 2(1), 21�30. �Google Scholar

Kembar, A. (2010). Analisis Pengaruh Tingkat Pendidikan, Pertumbuhan Ekonomi, Dan Upah Terhadap Pengangguran Terdidik Di Sumatera Barat. Ekonomi Pembangunan, 1�8. Google Scholar

Kuntiarti, D. D. (2018). Pengaruh Inflasi, Jumlah Penduduk Dan Kenaikan Upah Minimum Terhadap Pengangguran Terbuka Di Provinsi Banten Tahun 2010- 2015 Dita Dewi Kuntiarti. Pendidikan Dan Ekonomi, 7(1), 1�9. Google Scholar

Lindiarta, A. (2014). Analisis Pengaruh Tingkat Upah Minimum, Inflasi , Dan Jumlah Penduduk Terhadap Pengangguran Di Kota Malang (1996-2013). Jurnal Ilmiah Mahasiswa FEB Universitas Brawijaya. Google Scholar

Nurcholis, M. (2014). Analisis Pengaruh Pertumbuhan Ekonomi, Upah Minimum Dan Indeks Pembangunan Manusia Terhadap Tingkat Pengangguran Di Provinsi Jawa Timur Tahun 2008-2014. Jurnal Ekonomi Pembangunan, 12(1), 48. Google Scholar

Putra, D. A. (2016). Analisis Pengaruh Produk Domestik Regional Bruto, Upah Minimum Kota-Kabupaten, Dan Indeks Pembangunan Manusia Terhadap Tingkat Pengangguran Kabupaten/Kota Di Jawa Timur Tahun 2010-2014. Jurnal Ilmiah Mahasiswa FEB Universitas Brawijaya, 5(1). Google Scholar

Maulidina, M. A. (2018). Pengaruh Upah Minimum Terhadap Penyerapan Tenaga Kerja Berpendidikan Rendah di Jawa Timur. Universitas Brawijaya. Google Scholar

Putro, A. S., & Setiawan, A. H. (2013). Analisis pengaruh produk domestik regional bruto, tingkat upah minimum kota, tingkat inflasi dan beban/tanggungan penduduk terhadap pengangguran terbuka di Kota Magelang periode tahun 1990�2010. Diponegoro Journal of Economics, 12�25. Google Scholar

Rahmah, D. E., & Murgianto. (2016). Pengaruh Pdrb Dan Upah Minimum Terhadap Tingkat Pengangguran Di Kota Surabaya Tahun 2010-2014 Dinni. Jurnal Ekonomi & Bisnis, 1(2), 229�244. Google Scholar

Sa�adah, N. W., & Ardyan, P. S. (2016). Analisis Pengaruh Upah Minimum Pekerja Dan Jumlah Penduduk Miskin Terhadap Tingkat Pengangguran Di Surabaya. Ekonomi Dan Bisnis, 1(2), 129�146. Google Scholar

PERTIWI, P., Madjid, T. A., & Effendi, A. (2016). ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PENGANGGURAN TERBUKA DI PROVINSI SUMATERA SELATAN. Sriwijaya University. Google Scholar

Istiyani, N., & Priyono, T. H. (n.d.). HUBUNGAN ANTARA PENDAPATAN PERKAPITA DAN INDEKS PEMBANGUNAN MANUSIADI JAWA TIMUR 2009-2013. Google Scholar

Sholikah, I. A. (2020). PENGARUH JUMLAH PENDUDUK, BELANJA DAERAH, KEMISKINAN, ANGKATAN KERJA, PENGANGGURAN, INDEKS PEMBANGUNAN MANUSIA, DAN ANGKA HARAPAN HIDUP TERHADAP PERTUMBUHAN EKONOMI KABUPATEN/KOTA DI PROVINSI JAWA TIMUR TAHUN 2014-2018. Google Scholar

 

 


Copyright holder:

Indah Mei Pratiwi, Marseto, Sishadiyati (2021).

 

First publication right:

Jurnal Syntax Transformation

 

This article is licensed under:

Creative Commons License