|
Jurnal
Syntax Transformation |
Vol. 2
No. 6, Juni 2021 |
|
p-ISSN :
2721-3854 e-ISSN : 2721-2769 |
Sosial
Sains |
ANALISIS PENGARUH JUMLAH PENDUDUK, INDEKS PEMBANGUNAN
MANUSIA DAN UPAH MINIMUM TERHADAP PENGANGGURAN DI KABUPATEN BANGKALAN
Indah Mei Pratiwi,
Marseto, Sishadiyati
Universitas Pembangunan
Nasional (UPN) Veteran Jawa Timur, Indonesia��������
Email: [email protected],
[email protected], [email protected]
|
INFO ARTIKEL |
ABSTRACT |
|
Diterima 2 Juni 2021 Direvisi 13 Juni 2021 Disetujui 20 Juni 2021 |
Unemployment is one of the
problems that has not been resolved until now. Bangkalan
Regency is part of the Province of East Java, which is on the western tip of
Madura Island and still has a high unemployment rate. This study aims to
determine the effect of Total Population, Human Development Index and Minimum
Wage on Unemployment in Bangkalan Regency
2005-2019. This study uses secondary data from 2015-2019 with multiple linear
regression analysis using the SPSS program. By knowing this situation, it is
hoped that the regional government of Bankala
Regency will be able to open new jobs to reduce the existing unemployment
rate. Based on the results of this study, it shows that the Total Population
and Human Development Index variables show a negative direction and have a
significant effect on the unemployment variable. Meanwhile, the Minimum Wage
variable shows a positive direction and has a significant effect. Together,
the three independent variables have an effect on the unemployment variable
in Bangkalan Regency in 2005-2019. ABSTRAK Pengangguran adalah salah satu masalah yang masih belum bisa terselesaikan
sampai saat ini. Kabupaten Bangkalan adalah bagian dari Provinsi
Jawa Timur yang berada di
ujung barat Pulau Madura
dan masih memiliki angka pengangguran yang tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh Jumlah Penduduk, Indeks Pembangunan Manusia dan Upah Minimum terhadap Pengangguran di Kabupaten Bangkalan Tahun 2005-2019. Penelitian ini menggunakan data sekunder dari tahun 2015-2019 dengan metode analisis regresi linier berganda menggunakan program SPSS. Dengan
mengetahui keadaan tersebut maka diharapkan pemerintah daerah Kabupaten Bankala mampu membuka lapangan pekerjaan baru untuk mengurangi angka pengangguran yang ada. Berdasarkan hasil penelitian ini menunjukkan bahwa variabel Jumlah Penduduk dan Indeks Pembangunan Manusia menunjukkan arah negatif dan berpengaruh signifikan terhadap variabel Pengangguran. Sedangkan variabel Upah Minimum menunjukkan arah positif dan berpengaruh signifikan. Secara bersama-sama ketiga variabel independen berpengaruh terhadap variabel Pengangguran di Kabupaten Bangkalan tahun 2005-2019. |
|
Keywords: populatio; human
development index; minimum wage; unemployment Kata Kunci: jumlah penduduk; indeks pembangunan
manusia; upah minimum; pengangguran |
Pendahuluan
Kabupaten
Bangkalan adalah bagian dari Provinsi
Jawa Timur yang berada di ujung barat Pulau Madura. Melalui Undang-undang Nomor 12 Tahun 1950 dan selanjutnya diubah dengan Undang-undang Nomor 2 Tahun 1965, Bangkalan didirikan menjadi sebuah kabupaten. Kabupaten Bangkalan secara administratif terdiri dari 18 (delapan belas) kecamatan, 273 desa dan 8 kelurahan.
Pembangunan ekonomi adalah sebuah usaha
untuk meningkatkan taraf hidup di suatu daerah dapat
diukur melalui tinggi rendahnya pendapatan riil perkapita. Salah satu indikator yang menunjukkan keberhasilan pembangunan ekonomi di suatu daerah adalah dapat
dilihat dari persentase dari tingkat pengangguran. Distribusi pendapatan dan tingkat kesejahteraan masyarakat di suatu daerah dapat dilihat
melalui tingkat penganggurannya. Pengangguran di suatu daerah dapat
terjadi disebabkan oleh tingginya permintaan tenaga kerja yang mencari pekerjaan namun tidak diimbangi
dengan penyerapan tenaga kerja. Hal ini disebabkan karena rendahnya pertumbuhan penciptaan lapangan kerja.
Tingkat Pengangguran
Terbuka di Kabupaten Bangkalan
pada tahun 2015-2019 cenderung
mengalami kenaikan setiap tahunnya. Pada tahun 2015 sampai 2016, Tingkat Pengangguran Terbuka di Kabupaten
Bangkalan sebesar 5 persen. Pada tahun 2017 Tingkat Pengangguran Terbuka di Kabupaten
Bangkalan mengalami sedikit penurunan menjadi sebesar 4,48. Namun pada tahun 2018 ke tahun 2019 mengalami
peningkatan yang signifikan
yakni 5,25 persen menjadi 5,84 persen. Sehingga diperlukan suatu kebijakan dari pemerintah daerah untuk menekan
angka pengangguran yang terjadi setiap tahunnya.
Peningkatan
jumlah pengangguran di Kabupaten Bangkalan dapat dipengaruhi oleh banyak faktor. Salah satu faktor yang dapat mempengaruhi jumlah pengangguran adalah jumlah penduduk.
Jumlah penduduk di Kabupaten Bangkalan pada tahun 2015-2019 terus mengalami peningkatan. Pertumbuhan jumlah penduduk yang terjadi tiap tahunnya akan
mempengaruhi pula jumlah angkatan kerja. Jumlah penduduk pada tahun 2015-2019 mengalami pertumbuhan setiap tahunnya. Pada tahun 2015 Jumlah Penduduk Kabupaten Bangkalan sebanyak 954.305 jiwa merupakan angka jumlah penduduk terendah, dan pada tahun 2019 Jumlah Penduduk di Kabupaten sebanyak 986.672 jiwa merupakan angka jumlah penduduk
tertinggi. Hal ini menunjukkan bahwa angka Jumlah Penduduk
di Kabupaten Bangkalan terus mengalami peningkatan dari tahun ke tahun.
Salah satu Tolak ukur bagi
suatu daerah untuk melihat seberapa
tinggi tingkat pembangunan manusia adalah melihat Indeks pembangunan manusia. The United
Nations Development Programme (UNDP) merumuskan
pembangunan manusia sebagai pilihan untuk manusia dalam
meningkatkan kesempatan mereka dalam memperoleh
pendidikan, kesehatan, dan penghasilan serta pekerjaan.
Indeks
Pembangunan Manusia di Kabupaten
Bangkalan pada tahun
2015-2019 mengalami peningkatan.
Pada tahun 2015 Indeks
Pembangunan Manusia di Kabupaten
Bangkalan sebesar 61,49 mengalami peningkatan setiap tahunnya sehingga pada tahun 2019 angka Indeks Pembangunan Manusia sebesar 63,79. Hal ini menunjukkan bahwa persentase Indeks Pembangunan Manusia selama lima tahun terakhir cenderung menunjukkan perkembangan yang cukup baik.
Faktor
lain yang dapat mempengaruhi
peningkatan jumlah pengangguran adalah Upah Minimum. Upah Minimum Kota/Kabupaten yang ditetapkan oleh Pemerintah Provinsi Jawa Timur. Upah Minimum Kabupaten terus mengalami peningkatan dari tahun ke
tahun. Upah Minimum Kabupaten Bangkalan tahun 2015-2019 terus mengalami peningkatan setiap tahunnya. Dalam menentukan nilai upah minimum yang akan diterima oleh para pekerja, tentunya menjadi masalah tersendiri bagi pemerintah. Apabila nilai upah minimum yang ditetapkan oleh pemerintah mengalami kenaikan, maka akan meningkatkan
penawaran tenaga kerja. Namun permintaan
terhadap tenaga kerja tersebut menurun karena pengusaha tidak mampu memberikan upah yang tinggi sehingga akan mengurangi
jumlah tenaga kerja yang digunakan (Saadah & Ardyan, 2016).
Pemerintah
Indonesia setiap tahunnya mengeluarkan kebijakan untuk menaikkan upah minimum. Kebijakan ini tentu menguntungkan
bagi para buruh karena mampu meningkatkan
kesejahteraan hidupnya. Namun jika dilihat
dari sisi pengusaha, mereka akan merasa keberatan
dengan kebijakan kenaikan upah minimum yang ditetapkan oleh pemerintah. Oleh karena itu, dengan
kenaikan upah minimum pengusaha akan mengurangi jumlah tenaga kerja yang digunakan sehingga untuk memaksimalkan laba, pengusaha akan meminimumkan penggunaan tenaga kerjanya. Hal ini tentu mendorong meningkatnya jumlah pengangguran.
Berdasarkan
uraian di atas, maka penulis tertarik
melakukan penelitian dengan judul �Analisis
Pengaruh Jumlah Penduduk, Indeks Pembangunan.
Landasan Teori
Pengangguran
Menurut Mankiw
(2007:154) mengatakan bahwa
pengangguran adalah suatu masalah makro
ekonomi yang mempengaruhi manusia secara langsung dan merupakan masalah yang paling berat yang akan menyebabkan penurunan standar kehidupan dan tekanan psikologis (PERTIWI et al., 2016)
Pengertian pengangguran secara teknis yakni semua
orang dalam referensi pada jangka waktu tertentu,
semua yang meliputi usia angkatan kerja
yang tidak bekerja, dalam arti mendapatkan upah atau bekerja
secara mandiri, lalu berusaha mencari
pekerjaan yang berarti memiliki kegiatan secara aktif dalam
usahanya memperoleh pekerjaan. (Saadah & Ardyan, 2016).
Jumlah Penduduk
Dalam Undang-Undang
No. 23 Tahun 2006 dijelaskan
definisi penduduk adalah Warga Negara Indonesia dan
Orang Asing yang bertempat tinggal di Indonesia. Sedangkan menurut BPS disebutkan bahwa penduduk adalah semua orang yang berdomisili di wilayah geografis Republik Indonesia selama enam bulan atau
lebih tetapi dengan tujuan untuk
menetap. Sehingga definisi dari jumlah
penduduk adalah banyaknya orang yang menduduki suatu wilayah atau daerah dalam jangka
waktu tertentu.
Indeks Pembangunan Manusia
Indeks
Pembangunan Manusia dapat mengukur sebuah pencapaian pembangunan manusia di sebuah daerah berdasarkan komponen-komponen dasar kualitas hidup. Penghitungan Indeks Pembangunan Manusia didasarkan data yang menggambarkan keempat komponen yaitu angka harapan hidup
yang mewakili bidang kesehatan, angka melek huruf dan rata-rata lama sekolah yang mengukur capaian di bidang pendidikan, dan kemampuan daya beli masyarakat
terhadap sejumlah kebutuhan pokok yang dilihat dari rata-rata besarnya pengeluaran perkapita sebagai pendekatan pendapatan yang mewakili capaian pembangunan untuk hidup yang layak (Istiyani & Priyono, n.d.)
Upah Minimum
Upah
minimum adalah suatu penerimaan bulanan terendah (minimum) sebagai imbalan dari pengusaha
yang diberikan kepada pekerja untuk suatu
pekerjaan atau jasa yang telah atau dilakukan dalam bentuk uang yang ditetapkan atas dasar suatu persetujuan
atau peraturan perundang-undangan sertadibayarkan
atas dasar suatu perjanjian kerja antara pengusaha
dengan pekerja termasuk tunjangan, baik pekerja itu
sendiri maupun untuk keluarganya. Sebagaimana yang telah diatur dalam PP No. 8/1981 upah minimum dapat ditetapkan secara minimum
regional, sektoral regional maupun
subsektoral, meskipun saat ini baru
upah minimum. regional yang dimiliki
oleh setiap daerah. Pemerintah Indonesia setiap tahunnyamengeluarkan kebijakan untuk menaikkan upah minimum. Kebijakan ini menguntungkan bagi para buruh karena mampu meningkatkan
kesejahteraan hidupnya. Dengan demikian buruh diharapkan juga mampu bekerja lebih
giat lagi karena mereka telahmendapatkan
gaji yang layak sesuai dengan standar
kebutuhan pekerja (Rahmah & Murgianto, 2016).
Metode Penelitian
Ruang lingkup dalam
penelitian ini bersifat kuantitatif berfokus pada Kabupaten Bangkalan. Pendekatan kuantitatif pada dasarnya menekankan data-data numerikal (angka) dalam menganalisisnya
dan diolah dengan metode statistika. Dengan metode kuantitatif
akan diperoleh signifikasi perbedaan kelompok atau signifikasi
hubungan antar variabel yang diteliti.
Penelitian ini dilakukan
untuk mengetahui pengaruh Jumlah Penduduk, Indeks Pembangunan Manusia dan Upah Minimum yang merupakan faktor-faktor yang mempengaruhi Pengangguran� di Kabupaten Bangkalan.Penelitian ini dilakukan
dengan ruang lingkup wilayah Kabupaten Bangkalan dengan periode penelitian dari tahun 2005-2019. Data yang digunakan dalam penelitian ini merupakan data sekunder yang diperoleh dari BPS dan instansi terkait lainnya. Data yang digunakan berupa Jumlah Penduduk,
Indeks Pembangunan Manusia,
Upah Minimum dan Pengangguran
Kabupaten Bangkalan dan menggunakan analisis regresi linier berganda dengan metode kuadrat
terkecil biasa (Ordinary Least Square / OLS).
Sehingga dapat menghasilkan model regresi sebagai berikut :
Pengangguran = β0 + β1 Jml
Penduduk + β2 IPM + β3 Upah
Minimum + e.
Hasil dan Pembahasan
A. PEMBAHASAN
1.
Hasil Uji Asumsi
Klasik (Uji BLUE)
Model regresi yang dihasilkan dari metode kuadrat
terkecil biasa (Ordinary
Least Square / OLS) adalah model regresi yang menghasilkan
estimator linear tidak bias yang terbaik
(Best Linear Unbias Estimator / BLUE).
a.
Uji Autokorelasi
Pengujian autokorelasi dalam penelitian ini menggunakan uji Durbin
Watson (DW test). Dari hasil analisis
untuk uji autokorelasi pada
penelitian ini diperoleh nilai DW test sebesar 1,035. Dalam model regresiini jumlah variabel bebas (k) adalah 3 dan banyaknya data (n) adalah 15 sehingga diperoleh nilai DW tabel adalah sebesar
dL = 0,814 dan dU = 1,7501.
|
Variabel |
Tolerance |
Ketentuan |
VIF |
Ketentuan |
Keterangan |
|
Jumlah Penduduk |
0,380 |
≥ 0,10 |
6,407 |
≤10 |
Tidak Terjadi Multikolonieritas |
|
Indeks Pembangunan Manusia |
0,620 |
≥ 0,10 |
1,612 |
≤10 |
Tidak Terjadi Multikolonieritas |
|
Upah Minimum |
0,30 |
≥ 0,10 |
7,834 |
≤10 |
Tidak Terjadi Multikolonieritas |
Nilai DW test berada diantara
nilai dL sampai dU maka data yang digunakan dalam penelitian ini berada pada daerah keragu-raguan atau belum ada kesimpulan
yang pasti mengenai ada atau tidaknya
gejala autokorelasi dari data tersebut. Sehingga dilanjutkan dengan run test.
Tabel 4.1
Uji Runs Test
|
|
Unstandardized
Residual |
|
Test
Valuea |
06143 |
|
Cases
< Test Value |
7 |
|
Cases
>= Test Value |
8 |
|
Total
Cases |
15 |
|
Number
of Runs |
5 |
|
Z |
-1.597 |
|
Asymp. Sig. (2- tailed) |
110 |
Sumber: Output SPSS
Berdasarkan hasil uji run test
di atas, diketahui nilai Asymp. Sig. (2- tailed) sebesar 0,110 lebih besar > dari 0,05 , maka dapat
disimpulkan bahwa tidak terdapat gejala atau masalah
autokorelasi sehingga dapat digunakan untuk melakukan pengujian selanjutnya.
b.
Uji Multikolinieritas
Untuk melihat apakah ada hubungan linier yang sempurna atau hubungan
yang pasti terjadi pada beberapa atau semua
variabel independen yang digunakan dalam model regresi maka dilakukan
uji multikolinieritas.
Tabel 4.2
Uji Multikolinieritas
Sumber: Output SPSS
Tabel diatas menunjukkan
hasil yang diperoleh setelah dilakukan pengujian analisis regresi linier berganda diketahui bahwa dari ketiga variabel
independen (Jumlah penduduk, Indeks Pembangunan Manusia dan Upah Minimum) dalam pengujian nilai Pengangguran di Kabupaten Bangkalan, dimana nilai VIF lebih kecil dari
10 sehingga dalam model regresi ini tidak
terjadi multikolinieritas
c.
Uji Heterokedastisitas
Uji heteroskesdasitas bertujuan mengetahuiuatu kondisi dimana erroe term tidak memiliki suatu varians yang konstan untuk sama
dengan observasi disebut dengan heteroskedastisitas.
Tabel 4.3
Uji Heterokedastisitas� ����
|
Variabel Y |
Sig 2- tailed (X1) |
Sig 2- tailed (X2) |
Sig 2- tailed (X3) |
Ketentuan |
Keterangnan |
|
Pengangguran |
0,732 |
0,443 |
0,732 |
≥ 0,05 |
Terbebas dari
Heterokedastisitas |
Sumber: Output
SPSS
Berdasarkan tabel di atas, diperoleh tingkat signifikansi koefisien korelasi Rank
Spearman untuk variabel
dependen pengangguran, keseluruhan residualnya lebih besar dari
0,05 (tidak signifikan) Hal
tersebut menunjukkan bahwa antara nilai
residual dengan variabel
yang menjelaskan tidak mempunyai korelasi yang berarti. Sehingga dapat disimpulkan persamaan yang digunakanterbebas dari heterokedastisitas.
Setelah diperoleh hasil dari Uji Asumsi Klasik yang telah dilakukan diatas dapat disimpulkan bahwa dalam model regresi yang digunakan dalam penelitian ini tidak terjadi
pelanggaran asumsi klasik, maka dapat
dilakukan analisis selanjutnya dengan metode yang telah dijelaskan pada bab sebelumnya.
B. PENGUJIAN HIPOTESIS
Berdasarkan hasil perhitungan pengolahan data dengan bantuan komputer program IBM SPSS versi
16 maka diperoleh persamaan regresi linier berganda sebagai berikut :
TPT = 275,683 + 0,000 PDD - 0,713 IPM + 0,000002119 UPH Berdasarkan
persamaan dapat diuraikan sebagai berikut : β0 : Nilai konstanta
sebesar 275,683, Menunjukkan
apabila Jumlah Penduduk (X1),Indeks Pembangunan Manusia (X2) dan Upah Minimum (Xɜ) dianggap konstan maka Pengangguran
(Y) akan naik sebesar
275,683 persen.
β1 ��: Koefisien regresi X1 (β1) :
Y= 0,000 Menunjukkan bahwa Jumlah Penduduk (X1) berpengaruh positif, dapat diartikan apabila pertumbuhan ekonomi mengalami peningkatan sebesar 1 persen maka indeks
pembangunan manusia (Y) mengalami peningkatan sebesar 0,000 persen. Dengan asumsi X2 dan X3 Konstan.
β2 ��: Koefisien regresi X2 (β2) :
Y= - 0,713 Menunjukkan bahwa
Indeks Pembangunan Manusia
(X2) berpengaruh negatif, dapat diartikan apabila pengangguran mengalami peningkatan sebesar 1 persen maka Pengangguran(Y) mengalami penurunan sebesar 0,285 persen. Dengan asumsi X1 dan X3 Konstan.
β3 ��: Koefisien regresi X3 (β3) :
Y= 0,000002119 Menunjukkan bahwa
Upah Minimum (X3) berpengaruh
positif, dapat diartikan apabila Upah Minimum mengalami peningkatan sebesar 1 persen maka Pengangguran
(Y) mengalami peningkatan sebesar 0,000002119 persen. Dengan asumsi X1 dan X2 Konstan.
1.
Uji Koefisien Determinasi (R2)
Koefisien Determinasi (R2) untuk mengukur seberapa jauh kemampuan
model dalam menerangkan variasi variabel dependen. Nilai yang mendekati 1 berarti variabel-variabel independen memberikan hampir semua informasi
yang dibutuhkan untuk memprediksi variabel dependen (Ghozali, 2018).
Nilai koefisien determinasi
dapat dilihat pada tabel dibawah ini:
���������������������� Tabel 4.4
��������� Uji Koefisien
Determinasi
|
Model |
R |
R Square |
Adjusted R Square |
Std. Error of the Estimate |
|
1 |
,879a |
,772 |
,710 |
1,78780 |
Sumber: Output SPSS
Koefisien determinasi sebesar 0,772 artinya 77,2% dari seluruh pengamatan
menunjukkan variabel bebas Jumlah Penduduk
(X1), Indeks Pembangunan Manusia
(X2) dan Upah Minimum (X3) mampu
menjelaskan variasi variabel dependen yaitu Pengangguran (Y), sisanya 22,8% dipengaruhi faktor lain diluar model.
2.
Uji F
Untuk menunjukkan apakah
semua variabel independen yang digunakan dalam model regresi mempunyai pengaruh secara bersama-sama terhadap variabel dependen atau tidak
maka dilakukan Uji F. Pengujian ini menjelaskan
apakah model yang diestimasi
layak digunakan untuk menjelaskan pengaruh variabel-variabel independen terhadap variabel dependen.
Tabel 4.5
Uji F Simultan
(ANOVA)
|
Model |
Sun of square |
Df |
Mean square |
F |
Sig |
|
Regression |
119,219 |
3 |
39,740 |
12,433 |
.001 |
Sumber: Output SPSS
Hasil yang diperoleh dari tabel ANOVA diperoleh nilai Fhitung sebesar
12,433 dengan tingkat signifikasi sebesar 0,001b dengan taraf signifikasi
5% atau (α = 0,05) maka
nilai sig 0,001< 0,005. Sedangkan
nilai Ftabel dengan degree of freedom (df1) adalah
3 (jumlah variabel bebas/k) dan df2 11 (n-k- 1) diperoleh
nilai Ftabel sebesar 3,59. Dari hasil tersebut diketahui bahwa nilai Fhitung
12,433 ≥ Ftabel 3,59 sehingga
H0 ditolak dan Hi diterima.
3.
Uji T
Untuk menunjukkan seberapa
jauh pengaruh satu variabel independen
secara individual dalam menerangkan variabel dependen maka dilakukan
uji T. Hali ini dimaksudkan
untuk menguji apakah parameter (koefisien regresi dan konstanta) yang diduga untuk mengestimasi
model regresi sudah merupakan parameter yang tepat atau belum. Hasil dari uji T dalam penelitian ini dijelaskan sebagai berikut.
Tabel 4.6
Uji T Parsial
|
Variabel |
T Hitung |
T Tabel |
Sig |
|
Jumlah Penduduk (X1) |
-4,553 |
2,2 |
0,001 |
|
Indeks Pembangunan Manusia (X2) |
-2,339 |
2,2 |
0,039 |
|
Kemiskinan
(X3) |
3,678 |
2,2 |
0,004 |
Sumber: Output SPSS
Berdasarkan hasil output pada Tabel 4.5 Uji T parsial dapat dijelaskan apakah adanya pengaruh
signifikan pada setiap variabel terlihat pada penjelasan berikut ini :
a.
Variabel Jumlah Penduduk
Berdasarkan perhitungan secara parsial diperoleh nilai t hitung sebesar -4,553sedangkan nilai sig (α/2= 0,025) dengan
degree of freedom (df)11(n-k-1) diperoleh nilai T tabel sebesar
2,2. Dari hasil tersebut diketahui bahwa nilai T hitung 4,553≥T tabel 2,2 maka H0 ditolak dan Hi diterima, dengan nilai signifikansi
0,001 ≤ 0,05.
Hasil
penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan
oleh� (Lindiarta, 2014)
yang menjelaskan bahwa jumlah penduduk berpengaruh negatif dan signifikan terhadap pengangguran. Dimana dalam penelitian tersebut variabel jumlah penduduk memiliki ikatan yang kuat terhadap variabel pengangguran. Sehingga� mengindikasikan
bahwa pertumbuhan jumlah penduduk di setiap tahun sejalan
dengan jumlah pengangguran. Malthus berpendapat
tentang �natural law� atau hukum alamiyah yang mempengaruhi jumlah penduduk juga mendukung tentang penelitian ini, bahwa pertumbuhan
jumlah penduduk akan bertambah lebih cepat dibandingkan
dengan jumlah bahan makanan. Akibatnya pada suatu saat akan terjadi
perbedaan yang besar antara jumlah penduduk
dengan kebutuhan hidup.
b.
Variabel Indeks Pembangunan Manusia
Berdasarkan perhitungan secara parsial diperoleh nilai T hitung sebesar -2,339sedangkan nilai sig (α/2= 0,025) dengan
degree of freedom (df)11(n-k-1) diperoleh nilai T tabel sebesar
2,2. Dari hasil tersebut diketahui bahwa nilai T hitung 2,339 ≥T tabel 2,2 maka H0 ditolak dan Hi diterima, dengan nilai signifikansi
0,039 < 0,05.
Hasil
penelitian ini sesuai dengan penelitian
yang dilakukan oleh (Putra, 2016) bahwa dengan adanya
pengaruh yang negatif dan signifikan menggambarkan bahwa apabila terjadi
kenaikan Indeks Pembangunan
Manusia maka akan terjadi penurunan
pada tingkat pengangguran. Dengan demikian, tingginya angka Indeks Pembangunan Manusia akan mempengaruhi tenaga kerja tersebut
dalam memperoleh pekerjaan. Apabila nilai Indeks Pembangunan Manusia tersebut tinggi maka tenaga
kerja tersebut mudah untuk memperoleh
pekerjaan. Namun apabila nilai Indeks
Pembangunan Manusia tersebut
rendah maka tenaga kerja akan
sulit memperoleh pekerjaan sehingga akan memicu pertambahan jumlah
pengangguran (Sholikah, 2020)
c.
Variabel Upah Minimum
Berdasarkan perhitungan secara parsial diperoleh nilai T hitung sebesar 3,678 sedangkan nilai sig (α/2=
0,025) dengan degree of freedom (df)11(n-k-1) diperoleh nilai T tabel sebesar 2,2. Dari hasil tersebut diketahui bahwa nilai t hitung 3,678 ≥ T tabel 2,2 maka H0 ditolak dan Hi diterima, dengan nilai signifikansi
0,004 < 0,05.
Hasil
penelitian ini sesuai dengan penelitian
yang dilakukan oleh (Putra, 2016) yang menjelaskan bahwa variabel Upah Minimum berpengaruh positif dan signifikan terhadap pengangguran. Adanya pengaruh positif dan signifikan menggambarkan apabila terjadi kenaikan upah minimum yang ditetapkan oleh pemerintah, maka akan terjadi
kenaikan pada tingkat pengangguran di Kabupaten Bangkalan.
Berdasarkan hasil pengolahan data diatas dapat diketahui secara bersama-sama variabel independen Jumlah Penduduk, Indeks Pembangunan. Manusia dan Upah Minimum berpengaruh simultan dan nyata terhadap variabel dependen Pengangguran di Kabupaten Bangkalan selama kurun waktu 2005-2019. Adapun hasil dari uji yang telah dilakukan secara parsial dalam penelitian ini, semua variabel
independen yang digunakan yakni variabel Jumlah Penduduk, Indeks Pembangunan Manusia dan Upah Minimum terhadap variabel dependen Pengangguran, semua variabel independen berpengaruh signifikan terhadap variabel dependen
Kesimpulan
Kabupaten Bangkalan
merupakan salah satu
wilayah di Pulau Madura yang memiliki
jumlah penduduk yang tinggi. Jumlah penduduk yang dimiliki Kabupaten Bangkalan meningkat setiap tahunnya. Variabel jumlah penduduk tinggi mengakibatkan variabel pengangguran akan menurun. Hal ini terjadi karena
pada kasus pengangguran
yang terjadi di Kabupaten Bangkalan banyak penduduk usia kerja
yang sudah bekerja di rumah, seperti menggarap sawah, berternak atau membantu usaha
warung orang tua dianggap masih menganggur. Sehingga untuk meminimalisir penduduk yang masih menganggur diperlukan Pemerintah Daerah Bangkalan harus mengubah paradigma masyarakat.
Indeks Pembangunan Manusia
memiliki pengaruh yang negatif dan signifikan terhadap tingkat di Kabupaten Bangkalan. Indeks Pembangunan Manusia dapat mencakup tingkat pendidikan, tingkat kesehatan adalah hal yang perlu di perhatikan oleh Pemerintah Daerah karena indeks pembangunan manusia dapat menggambarkan
keadaan daerah tersebut termasuk dapat mengetahui tingkat pengangguran di daerah tersebut.
Kenaikan upah
minimum di setiap tahunnya akan meningkatkan jumlah pengangguran di Kabupaten Bangkalan. Permintaan tenaga kerja akan lebih
besar dibandingkan dengan penawaran tenaga kerja yang dibeikan oleh pengusaha. Hal ini dikarenakan para pengusaha tidak mampu untuk memberikan
upa minimum yang ditetapkan
oleh pemeintah, sehingga untuk mewujudkan efisiensi dalam proses produksi para pengusaha akan mengurangi�� jumlah�� tenaga�� kerja����������� yang digunakan.
Hal ini akan menyebabkan tingginya angka pengangguran yang ada.
Anggraheni, Y. (2016). Pengaruh
Pertumbuhan Ekonomi, Pengangguran Dan Kemiskinan Terhadap Indeks Pembangunan
Manusia Di Jawa Tengah Tahun 2010-2013. Jurnal Ekonomi. Google Scholar
Ghozali, I. (2018). Aplikasi
Analisis Multivariate Dengan Program IBM SPSS 25.Edisi 9. Semarang: Undip. Google Scholar
Hartanto, T. B., & Masjkuri,
S. U. (2017). Analisis Pengaruh Jumlah Penduduk, Pendidikan, Upah Minimum Dan
Produk Domestik Regional Bruto (Pdrb) Terhadap Jumlah Pengangguran Di Kabupaten
Dan Kotaprovinsi Jawa Timur Tahun 2010-2014. Jurnal Ilmu Ekonomi Terapan, 2(1),
21�30. �Google Scholar
Kembar, A. (2010). Analisis
Pengaruh Tingkat Pendidikan, Pertumbuhan Ekonomi, Dan Upah Terhadap Pengangguran
Terdidik Di Sumatera Barat. Ekonomi Pembangunan, 1�8. Google Scholar
Kuntiarti, D. D. (2018). Pengaruh
Inflasi, Jumlah Penduduk Dan Kenaikan Upah Minimum Terhadap Pengangguran
Terbuka Di Provinsi Banten Tahun 2010- 2015 Dita Dewi Kuntiarti. Pendidikan Dan
Ekonomi, 7(1), 1�9. Google Scholar
Lindiarta, A. (2014). Analisis
Pengaruh Tingkat Upah Minimum, Inflasi , Dan Jumlah Penduduk Terhadap
Pengangguran Di Kota Malang (1996-2013). Jurnal Ilmiah Mahasiswa FEB
Universitas Brawijaya. Google Scholar
Nurcholis, M. (2014). Analisis
Pengaruh Pertumbuhan Ekonomi, Upah Minimum Dan Indeks Pembangunan Manusia Terhadap Tingkat
Pengangguran Di Provinsi Jawa Timur Tahun 2008-2014. Jurnal Ekonomi
Pembangunan, 12(1), 48. Google Scholar
Putra, D. A. (2016). Analisis
Pengaruh Produk Domestik Regional Bruto, Upah Minimum Kota-Kabupaten, Dan
Indeks Pembangunan Manusia Terhadap Tingkat Pengangguran Kabupaten/Kota Di Jawa
Timur Tahun 2010-2014. Jurnal Ilmiah Mahasiswa FEB Universitas Brawijaya, 5(1). Google Scholar
Maulidina, M. A. (2018). Pengaruh Upah Minimum Terhadap Penyerapan Tenaga Kerja Berpendidikan Rendah di Jawa Timur. Universitas Brawijaya.
Google Scholar
Putro, A. S., & Setiawan, A.
H. (2013). Analisis pengaruh produk domestik regional bruto, tingkat upah
minimum kota, tingkat inflasi dan beban/tanggungan penduduk terhadap
pengangguran terbuka di Kota Magelang periode tahun 1990�2010. Diponegoro
Journal of Economics, 12�25. Google Scholar
Rahmah, D. E., & Murgianto.
(2016). Pengaruh Pdrb Dan Upah Minimum Terhadap Tingkat Pengangguran Di Kota
Surabaya Tahun 2010-2014 Dinni. Jurnal Ekonomi & Bisnis, 1(2), 229�244. Google Scholar
Sa�adah, N. W., & Ardyan, P.
S. (2016). Analisis Pengaruh Upah Minimum Pekerja Dan Jumlah Penduduk Miskin Terhadap
Tingkat Pengangguran Di Surabaya. Ekonomi Dan Bisnis, 1(2), 129�146. Google Scholar
PERTIWI, P., Madjid, T. A.,
& Effendi, A. (2016). ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PENGANGGURAN
TERBUKA DI PROVINSI SUMATERA SELATAN. Sriwijaya
University. Google Scholar
Istiyani, N., & Priyono, T. H.
(n.d.). HUBUNGAN ANTARA PENDAPATAN PERKAPITA DAN INDEKS PEMBANGUNAN MANUSIADI
JAWA TIMUR 2009-2013. Google Scholar
Sholikah, I. A. (2020). PENGARUH JUMLAH PENDUDUK, BELANJA
DAERAH, KEMISKINAN, ANGKATAN KERJA, PENGANGGURAN, INDEKS PEMBANGUNAN MANUSIA,
DAN ANGKA HARAPAN HIDUP TERHADAP PERTUMBUHAN EKONOMI KABUPATEN/KOTA DI PROVINSI
JAWA TIMUR TAHUN 2014-2018. Google Scholar
|
Indah Mei Pratiwi, Marseto, Sishadiyati (2021). |
|
First publication right: This article is licensed under: |