Jurnal Syntax Transformation

Vol. 2 No. 6, Juni 2021

p-ISSN : 2721-3854 e-ISSN : 2721-2769

Sosial Sains

 

PEMBINAAN MANAJEMEN PESERTA DIDIK DALAM PERSPEKTIF PENDIDIKAN ISLAM

 

Maya Elok Kharisma, Fadillah Hadid, M. Alvin Faiz, Akram Fadhlurrahman

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Jawa Timur, Indonesia������

Email: [email protected], [email protected], [email protected], [email protected] �

�

INFO ARTIKEL

ABSTRACT

Diterima

3 Juni 2021

Direvisi

11 Juni 2021

Disetujui

20 Juni 2021

 

The purpose of this study is to discuss the development of student management in the perspective of Islamic education. The analytical methodology used in this study is a qualitative analysis based on an observational model to find out what school development is from the perspective of Islamic education. The results of this study indicate that Islamic education management consists of three words expressed by Rahendra Maya, namely the terms management, education and Islam. Revealed Islam includes the Qur'an and the Sunnah of the Prophet, and cultural Islam includes the expression of the companions of the Prophet, the understanding of the ulama, the understanding of the scholars and Muslim culture. Therefore, the discussion of Islamic education management always involves revelation and Islamic culture plus the rules of education management in general. The management of Islamic educational institutions is a realistic basis for formulating the principles of Islamic education management.

 

ABSTRAK

Tujuan penelitian ini adalah untuk membahas tentang pembinaan manajemen peserta didik dalam perspektif pendidikan islam. Metodologi analisis yang digunakan penelitian ini adalah analisis kualitatif berdasarkan model pengamatan untuk mengetahui apasajakah pembinaan sekolah dalam pandang pendidikan isalm. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Manajemen pendidikan Islam terdiri dari tiga kata yang diungkapkan Rahendra Maya, yaitu istilah manajemen, pendidikan dan Islam. Islam wahyu meliputi Al-Qur'an dan Sunnah Nabi, dan Islam budaya mencakup ekspresi para sahabat Nabi, pemahaman ulama, pemahaman ulama dan budaya Muslim. Oleh karena itu, pembahasan manajemen pendidikan Islam selalu melibatkan wahyu dan budaya Islam ditambah aturan-aturan manajemen pendidikan secara umum. Pengelolaan lembaga pendidikan Islam merupakan dasar yang realistis untuk merumuskan prinsip-prinsip manajemen pendidikan Islam.

Keywords:

management; education; students

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Kata Kunci:

manajemen; pendidikan; peserta didik



Pendahuluan

Allah swt tidak menciptakan alam semesta tanpa alasan, termasuk penciptaan alam semesta dan manusia, hanya didasarkan pada tujuan yang agung dan suci, yaitu menyembah esensi yang paling suci dengan menaati-Nya. Saat itu, Allah memaku seluruh umat manusia untuk menyatukannya, yaitu menjadikan Allah satu-satunya Rabb (Tuhan) yang berhak disembah. Sebagaimana dalam firman-Nya dalam Q.S. Al-A�raf Ayat 172:

وَإِذْ أَخَذَ رَبُّكَ مِنْ بَنِي آدَمَ مِنْ ظُهُورِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَأَشْهَدَهُمْ عَلَىٰ أَنْفُسِهِمْ أَلَسْتُ بِرَبِّكُمْ ۖ قَالُوا بَلَىٰ ۛ شَهِدْنَا ۛ أَنْ تَقُولُوا يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِنَّا كُنَّا عَنْ هَٰذَا غَافِلِينَ

Artinya: Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): "Bukankah Aku ini Tuhanmu?" Mereka menjawab: "Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi". (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: "Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)". Q.S Al-A�raf 172 (Zaelani & Al-ghazal, 2017)

Kemudian setelah tertanam tauhid, manusia terus memeliharanya sejak lahir dan masih berpotensi disebut fitrah. sebagaiman yang telah di sampaikan oleh Nabi Muhammad S.A.W. yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari, Nabi S.A.W. bersabda:

�مَا مِنْ مَوْلُودٍ إِلاَّ يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ ، فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ ، كَمَا تُنْتَجُ الْبَهِيمَةُ بَهِيمَةً جَمْعَاءَ هَلْ تُحِسُّونَ فِيهَا مِنْ جَدْعَاءَ

Artinya: Sesungguhnya Abu Hurairah ra meriwayatkan hadits, Rasulullah Saw bersabda, �Tidaklah anak yang lahir itu melainkan dilahirkan dalam keadaan fithrah. Maka kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi atau Nashrani atau Majusi. (Pransiska, 2017)

Menjaga keutuhan, menjaga format aslinya, dan tidak cenderung menyimpang dari pengaruh luarnya, baik itu keluarga Yahudi, Nasrani, dan penyihirnya sendiri, atau lingkungannya yang tidak baik, ini akan mempengaruhi sifat si hamba.

Bahwa penelitian terdahulu penelitian membahas manajemen peserta didik dalam perspektif pendidikan Islam secara spesifik. Akan tetapi didalam penelitain ini dijelaskan secara umum saja.

Oleh karena itu, manajemen tarbiyah (pendidikan) yang perilu dirancang, mengatur, melaksanakan dan mengendalikan manusia agar sebagai siswa dapat menjaga kebebasannya dan menjalankan tuas utamanya sebagai khalifah fi al-ardh menjaga keseimbangan dan kelangsungan kehidupan di Bumi, agar tidak rusak oleh tangan-tangan kotor yang rusak berupa agama atau bahkan kehilangan kuadratnya dan moral. (Zairotun, 2019)

Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui pembinaan manajemen peserta didik dalam perspektif Pendidikan Islam. Manfaat dalam penelitian yaitu agar para pembaca dapat mengetahui bahwa pembinaan manajemen peserta didik juga ada dalam sisi Pendidikan Islam.

 

Metode Penelitian

Analisis yang dilakukan dalam penelitian ini adalah analisis kualitatif berdasarkan metode analisis kausal yang efektif dengan menguji hubungan konseptual antar variabel.

Sebagai pengamat yang berpartisipasi, penulis mengamati dan mengevaluasi berbagai fenomena yang terjadi pada objek penelitian, kemudian membahas fenomena tersebut menurut logika penulis, kemudian menggunakan kerangka teori dalam literatur atau hasil penelitian yang berkaitan dengan topik utama penelitian ini. Penelitian (Herlinda et al., n.d.).

Teknik pengumpulan data, dalam hal ini pemulis akan identifikasi wacana dari buku-buku, makalah atau artikel, junal, net (net), ataupun informasi lainnya yang berhubungan degan judul penuisan untuk mencari hal-hal atau variabel yang berupa catatan, transkip, buku, surat kabar, majalah dan sebagainya yang berkaitan tentang Pembinaan Manajemen Peserta Didik dalam perspektif pendidikan islam. maka dilakukan langkah sebagai berikut:

1.       Mengumpulkan facts-statistics yang ada baik melalui buku-buku, dokumen, majalah dan net (internet).

2.       Menganalisa statistics-data tersbeut sehingga peneliti bisa menyimpulkan tentang masalah yang dikaji. (Prof. Dr. Ir. Raihan, 2019).

 

Hasil dan Pembahasan

A.     Hasil Penelitian

1.       Analisis Data

Pada penelitian ini setelah dilakukan pengumpulan data, maka data tadi dianalisi buat mendapatkan kesimpulan, bentuk teknik dalam teknik analisis data menjadi berikut:

a.       Analisis deskriptif,

Metode analisis deskriptif yaitu usaha buat mengumpulkan serta menyusun suatu data, kemudian dilakukan analisis terhadap data tersebut.

Analisis deskriptif yakni data yang dikumpulkan adalah berupa istilah-kata, gambar serta bukan angka-angka.

Hal ini ditimbulkan karena adanya penerapan metode kualitatif. selain itu, seluruh yang dikumpulkan berkemungkinan menjadi kunci terhadap apa yg telah diteliti.

Menggunakan demikian laporan penelitian akan berisi kutipan-kutipan data serta pengolahan data buat memberi ilustrasi penyajian laporan tadi.

b.       Analisis Isi

Analisis yg digunakan dalam penelitian ini adalah analisis. dimana data naratif acapkali dan� hanya dianalisis menurutnya isinya, dan� karena itu analisis macam ini jua disebut analisis isi. (Andi et al., n.d.).

B.      Pembahasan

1.       Pengertian Manajemen Dalam Islam

Pembahasan terkait manajemen dalam bentuk penelitian dan penelitian ini telah menarik perhatian luas dari para pakar manajemen, ilmu politik dan sosial dari seluruh tanah air pada abad ke-14 dan dekade pertama abad ke-15 (M), yang bertepatan dengan abad ke-20 (M). Internasional. Kantor administrasi dan politik menyaksikan semua ini.

Yang terpenting dalam penelitian ini adalah negara-negara industri dari Amerika Serikat, Eropa dan beberapa negara Arab. Berikut penjelasannya:

Secara etimologi manajemen merupakan terjemahan langsung dari kata management yang berarti manajemen, manajemen atau kepemimpinan. Manajemen berakar pada kata kerja (verba) manajemen, yaitu mengelola, mengatur, melaksanakan atau mengelola.

Rahendra Maya (Maya & Sarifudin, 2019) mngungkapkan bahwa istilah manajemen berarti pengelolaan, pengaturan, penggerak, pengendalian, pengolahan, pengelolaan, organisasi, operasi, pelaksanaan dan kepemimpinan.

Selain itu, Rahendra Maya mengungkapkan dengan mengutip Imam Machali dan Ara Hidayat bahwa manajemen berasal dari bahasa Latin, mano yang berarti tangan, dan manus berarti bekerja berkali-kali dengan menggunakan tangan, ditambah imbuhan setuju yang berarti melakukan sesuatu.

Jadi itu adalah seorang manajer, yang berarti melakukan sesuatu berkali-kali. Kali. Manajemen luas dan luas adalah proses pengaturan dan penggunaan sumber daya organisasi melalui kerjasama anggota untuk mencapai tujuan organisasi secara efektif dan efisien. Artinya manajemen adalah perilaku para anggota dalam suatu organisasi untuk mencapai tujuannya

2.       Manajemen Pendidikan Islam

Manajemen pendidikan Islam terdiri dari tiga kata yang diungkapkan oleh Rahendra Maya, yaitu manajemen terminologi, pendidikan dan Islam. Dalam sistem manajemen pendidikan Islam, sebagaimana dikutip Miftah Wangsadanureja M.H. Ganjal, lingkungan harus dirancang sesuai dengan karakteristik pendidikan Islam itu sendiri. Dalam literatur pendidikan, lingkungan biasanya disamakan dengan lembaga atau lembaga pendidikan.

Meskipun Al-Qur'an tidak menjelaskan secara jelas penelitian ini, ada beberapa indikasi betapa pentingnya memilih lingkungan pendidikan.

Oleh karena itu, lingkungan pendidikan mendapat perhatian yang besar. Manajemen pendidikan adalah berbagai cara untuk mengawasi, membimbing, mengajar dan mengatur urusan kehidupan mereka dengan sukses dan seefektif mungkin.

Sementara itu, manajemen pendidikan Islam adalah proses pengelolaan lembaga pendidikan Islam secara Islami dengan menangani sumber belajar dan hal-hal lain yang terkait untuk mencapai tujuan pendidikan Islam secara efektif dan efisien.

Jadi manajemen pendidikan Islam, misalnya, seperti dikutip Rahendra Maya Ramayulis, adalah proses menggunakan semua sumber daya yang ada (Muslim, lembaga pendidikan atau lainnya) dari perangkat keras dan perangkat lunak.

Pemanfaatan ini dicapai melalui kerjasama yang efektif, efisien, dan bermanfaat dengan orang lain untuk mencapai kebahagiaan dan kemakmuran dalam kehidupan ini dan masa depan. (Muwahid & Soim, 2013)

3.       Paradigma Manajemen Pendidikan Islam

Dalam konteks ini, sumber primer kedua syariat Islam yaitu sabda Rasulullah S.A.W.secara� ekplisit� mengajarkan� ummatnya� dasar� atau� prinsip� manajemen� yang� sistematik, dikemas� dalam� sajian� yang� tegas,� lugas,dan� sangat� mudah� untuk� difahami� atau� dicerna siapapun. Nabi S.A.W. bersabda diriwayatkan oleh Al-Bukhari dari Abdullah bin Umarra.

Artinya : Setiap� kalian� pengasuh� dan� setiap� kalian� bertanggung� jawab� atas� asuhannya, seorang� pemimpin� pengasuh� atas� rakyatnya,� seorang� lelaki� (suami)� pengasuh keluarganya dan dia bertanggung jawab atas asuhannya, seorang istri pengasuh di� rumah� suaminya� dan� bertanggung� jawab� atas� asuhannya,� seorang� pembantu pengasuh atas harta milik majikannya dan bertanggung jawab atas asuhannya.

Adapun prinsip dalam Pendidikan agama islam dalam hal membentuk manejemen Pendidikan dan proses dalam membedakan manejemen non islam.

a.       Prinsip Aqidah,

Aqidah dalam islam yaitu terkait dengan dimensi� ghaibah yang tidak mungkin orang lain menjangkaunya melainkan wahyu ilahi dengan beraqidah kita dapat melakukan hal-hal yang positif dan melakukan hak dan keawajiban� kita sebagai umat muslim menjalankan ibadah dan amal sholeh� Akidah bagi seorang muslim merupakan ilmu yang paling urgen, karena dibangun diatasnya seluruh konsep serta dasar-dasar Islam.

Jika kita amati bahwa semua teori, pedoman, atau praktik manajemen pendidikan tidak lepas dari peran akidah sebagai landasannya, sekalipun ia adalah pakar manajemen yang mengaku menampik akidah dan falsafah tertentu, seperti sekularis. Seseorang yang hidup dalam lingkungan materialisme atau kapitalisme dan berinteraksi dengan ideologi ini, sebenarnya ia memegang panji materialisme dan kapitalisme sebagai fondasinya, karena itu adalah gambaran ideologis yang biasanya dapat menjadi pencelupan (pewarnaan) sosial.

Semakin kuat keyakinan seseorang, semakin kuat pula muraqabatullahnya (perasaan dikendalikan oleh Allah), dan salah satu fungsi manajemen adalah pengendalian. dia selalu memperlakukan dirinya sendiri Bertanggung jawab atas pekerjaan.

b.       Prinsip Kemanusiaan

Pada hakekatnya peran pendidikan adalah untuk melatih manusia, mengubah atau memperbaiki tingkah laku manusia sesuai dengan tuntutan agama, masyarakat dan peradaban.

Hal ini tidak akan tercapai dengan benar, tetapi untuk memiliki pemahaman yang mendalam tentang hakikat manusia, penerimaan, persiapan, tujuan, metode dan bimbingan. Dan pengetahuan tentang fitrah manusia adalah inti dari pendidikan.

Jika dianalogikan, pendidik itu seperti pengemudi, dan fitrah manusia (siswa) seperti mobilnya, seperti halnya pengemudi memperlakukan esensi mobilnya, maka dia akan dapat Mengontrol dan mengendarainya.

Selain itu pula (manusia sebagi objek pendidikan), Allah S.W.T. telah memuliakan manusia atas makhluknya yang lain sehingga pantaslah manusia mendapatkan pengawalan dari-Nya sediemikian ketatnya, Allah S.W.T. berfirman di dalam Surat Al-Isra� Ayat 70:

Artinya: Dan sungguh, Kami telah memuliakan anak cucu Adam, dan Kami angkut mereka di darat dan di laut, dan Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka di atas banyak makhluk yang Kami ciptakan dengan kelebihan yang sempurna.

c.       Prinsip Nilai Akhlak

Nilai-nilai moral menggambarkan buah dari pohon Islam. Jika pohon itu disiram dengan iman yang murni, pohon itu akan memiliki daun dan menghasilkan buah segar, dan orang dapat bersembunyi di bawah pohon dan memetik buahnya.

Sebaliknya jika pohon tersebut tidak disirami atau disiram dengan air kotor, maka pohon tersebut akan mengering dan ditinggalkan manusia karena tidak ada manfaatnya.

Oleh karena itu, keyakinan berperan dalam mengatur dan menentukan nilai-nilai moral, dan juga mengarahkan tujuan ke arah yang benar sesuai harapan.

Berdasarkan nilai keyakinan ini, manajemen pendidikan memiliki beberapa hubungan dasar:

1)    Manajemen pendidikan adalah suatu bentuk ibadah jika pelakunya meniatkannya.

2)    Manajemen pendidikan merupakan penjabaran dari tujuan maqāshid al-Syar'ah. Yaitu, hifdz al-dn (pemeliharaan agama), hifdz al-nafs (pemelihara jiwa), hifdz al-nasl (memelihara keturunan), hifdz al-māl (menjaga harta), dan hifdz al-'aql (menjaga akal).

3)      Manajemen pendidikan adalah sarana untuk mencapai tujuan yang luhur pada tingkat sosial dan organisasi, bukan tujuan utama.

4)      Mengutamakan keadilan dalam segala aspek, karena keadilan merupakan tulang punggung keberhasilan pengelolaan pendidikan.

5)      Wajib menaati pemimpin dan bekerja sama dengannya, selama tidak dalam kemaksiata

Mengutamakan musyawarah dan menjadikannya nilai luhur dalam organisasi. (Solong et al., 2020)

4.       Karakteristik Manajemen Pendidikan Islam

Hakikatnya di setiap kehidupan kita terdapat unsur-unsur manajemen, terutama Jika kita menyadari berbagai fungsi menjadi seseorang hamba Allah buat menemukan kebahagiaan, keselamatan menggunakan memfungsikan segala sesuatu.

Hal ini tentunya menuntut adanya segala perencanaan, tindak tanduk kita hendaklah diubah sesuaikan menggunakan jalur-jalur dan garis yang sudah diberikan panduan guna mencapai hasil yg diharapkan. Waktu ini dapat dikatakan bahwa tidak terdapat satu kerjasama manusia buat mencapai satu tujuan yg tidak memakai manajemen.

Manajemen pendidikan Islam menjadi salah� satu bagian berasal manajemen memiliki objek bahasan yg cukup kompleks. banyak sekali objek bahasan tadi dapat dijadikan bahan yang lalu diintegrasikan untuk mewujudkan manajemen pendidikan yang berciri khas Islam. kata Islam dapat dimaknai sebagai Islam wahyu dan� islam budaya. Islam wahyu mencakup Al-Quran dan hadits-hadits Nabi, dan� Islam budaya mencakup ungkapan sahabat Nabi, pemahaman ulama, pemahaman cendekiawan Muslim dan� budaya umat Islam.

Kata Islam yang menjadi identitas manajemen pendidikan ini dimaksudkan bisa mencakup makna keduanya, yakni makna Islam wahyu serta islam budaya. Oleh karena itu, pembahasan manajemen pendidikan Islam senantiasa melibatkan wahyu dan budaya kaum Muslim ditambah kaidah-kaidah manajemen pendidikan secara awam.

a.       Manajemen pendidikan Islam menggunakan demikian harus senantiasa mempunyai karakter yang mempertimbangkan hal-hal sebagai berikut: Teks-teks wahyu, baik al-Quran dan Hadits menjadi pengendali bangunan rumusan kaidah-kaidah teoritis manajemen pendidikan Islam.

b.       Aqwal (perkataan-perkataan) para sahabat Nabi, ulama, cendekiawan muslim menjadi pijakan logis-argumentatif pada mengungkapkan kaidah-kaidah teoritis manajemen pendidikan islam secara rasional.

c.       Manajemen lembaga pendidikan Islam menjadi pijakan realitas dalam mendasari perumusan kaidah-kaidah teoritis manajemen pendidikan islam.

d.       Kultur komunitas (pimpinan serta pegawai) pada forum pendidikan Islam sebagai pijakan empiris dalam merumuskan kemungkinan strategi yg khas dalam mengelola lembaga pendidikan Islam.

e.       Ketentuan kaidah-kaidah manajemen pendidikan menjadi pijakan teoritis dalam mengelola forum pendidikan Islam.

Secara detail, kaidah-kaidah manajemen pendidikan Islam yang dirumuskan haruslah: dipayungi oleh wahyu (al-Quran serta Hadits) sang pemikiran rasional, didasarkan� di data-data empirik, dipertimbangkan melalui budaya, serta didukung oleh teori-teori yang teruji validitasnya.

Dapatlah dipahami bahwa manajemen pendidikan Islam haruslah senantiasa berdasarkan di al-Quran serta Hadits way of life nya ummat Islam dan� diperkaya dengan pemikiran akal yang sudah melalui proses validasi. (Siti & Jannah, n.d.)

Adapun karakteristik manajemen pendidikan Islam pada tataran konsepnya mengacu pada ciri pendidikan Islam itu sendiri yaitu;

Al-Rabbaniyah Yaitu berasal asal wahyu rabbani yang muthlak kebenarannya, tidak sinkron dengan yang lainnya mampu berubah kapan saja sesuai menggunakan keinginan atau hawa nafsunya. Inilah yg mengikat seorang muslim, sebagai akibatnya dia akan mengiuti arahan syari�at serta menta�atinya serta menyerahkan seluruh hidupnya dengan mengharapkan ridho Allah S.W.T

Al-Syumūl wa al-takāmul, (komprehensif dan terpadu) ialah ialah sistemati, sinkron menggunakan fitrah insan, fleksibel baik ruang maupun ketika, yg meliputi kebutuhan rohani serta jasmani, dan bahkan dunia serta akhirat. Sedangkan yg dimaksud konprehensif di sini adalah tidak memisahkan kepercayaan menggunakan kehidupan (tidak sekuler).

Al-Tawāzun Yakni seimbang antara kebutuhan duniawi serta ukhrawai, tak ekstrim serta pula tidak menyepelekan, atau dalam kata lain ialah wasathiyah.

Al-Tsabat wa al-murunah (konsisten akan tetapi tidak kaku). Al-Wāqi�iyah (realistis). (Taubah, n.d.)

5.       Tujuan Manajemen Pendidikan Islam

Manajemen pendidikan adalah manajemen yang diterapkan pada pengembangan pendidikan, dalam arti seni dan ilmu untuk mengelola sumber daya pendidikan Islam untuk mencapai tujuan pendidikan Islam secara efektif dan efisien. Efisien.

Bisa juga diartikan sebagai proses perencanaan, pengorganisasian, dan komando Dan mengendalikan sumber daya pendidikan Islam agar efektif dan efisien mencapai tujuan pendidikan Islam. Manajemen pendidikan pada hakekatnya lebih luas diterapkan pada semua kegiatan pendidikan, dan manajemen pendidikan lebih khusus mengarah pada penerapan manajemen pada pengembangan pendidikan Islam.

Bagaimana memanfaatkan dan mengelola sumber daya pendidikan Islam secara efektif dan efisien untuk mencapai tujuan pembangunan, kemajuan dan kualitas proses dan hasil pendidikan Islam itu sendiri. Tentu saja, pemimpin dan pemimpin Islam atau Islam harus melekat pada manajemen pendidikan Islam jika berkarakter Islam atau nilai-nilainya.

Pada menjalankan setiap aktivitas tentunya diperlukan suatu usaha yang efisien serta ekonomis karena alasan tersebut begitu dipegang teguh pada setiap sistem organisasi. dengan istilah lain tingkat pemborosan atau penyalahgunaan sangatlah bertolak belakang dengan prinsip-prinsip organisasi.

Dengan mengetahui identitasnya serta jua kebutuhan tentang manajemen tentu akan bisa menentukan apa tujuan manajemen itu sendiri. Mengingat manajemen sebenarnya adalah alat dari suatu organisasi, maka adanya alat tadi tentunya memiliki tujuan

Menurut Marwan Syaban (SYABAN, 2019), tujuan manajemen pendidikan Islam artinya agar segenap sumber, peralatan ataupun sarana yang terdapat dalam suatu organisasi tersebut bisa digerakkan sedemikian rupa sehingga bisa menghindarkan sampai tingkat seminimal mungkin segenap pemborosan waktu, energi, materil, serta uang guna mencapai tujuan organisasi yang sudah ditetapkan terlebih dahulu.

Tujuan Manajemen Pendidikan Islam artinya menggunakan serta mengelola seumber daya pendidikan Islam secara efektif serta efisien buat mencapai tujuan, pengembangan, kemajuan serta kualitas proses serta yang akan terjadi pendidikan Islam itu sendiri.

Berasal pengertian diatas maka bisa disimpulkan bahawa tujuan manajemen pendidikan Islam ialah bahwa segala hal serta proses-proses yg berlangsung dapat benar-benar dikelola menggunakan baik sebagai akibatnya proses pendidikan dapat sahih-benar terwujud sesuai ajaran Islam dan. Upaya pencapaian tujuan pendidikan Islam dapat lebih mudah terwujud. (SYABAN, 2019)

Tujuannya adalah sebagai berikut:

a.       Membangun pribadi yang setia yang dapat mengemban risalah (misi) baik dalam kehidupan, membentuk generasi yang beriman, dan membina umat Islam yang bersatu.

b.       Melindungi umat manusia dari penghujatan dan kehancuran.

c.       Membangun Kauniyah, cara berpikir, merenungkan, dan mendalami kitab suci, serta memupuk persaudaraan kepada Allah untuk mencapai tujuan kerabian secara konsisten.

d.       Tetap termotivasi oleh keyakinan, bakat, dan kemampuan.

e.       Menangani kesalahan dan berbagai masalah.

f.        Belajar mandiri, mengatur diri sendiri dengan serius, dan

g.       Memecahkan masalah dengan percaya diri.

Dari menetapkan tujuan dan perencanaan, diakhiri dengan umpan balik dan evaluasi. Cakupan siswa lebih luas, tidak hanya anak-anak, tetapi juga orang dewasa (A. Fatoni, n.d.).

 

6.       Pengertian Peserta Didik

Siswa adalah sumber daya primer dan� terpenting dalam proses pendidikan formal. Tidak ada siswa, tidak ada guru. Peserta didik bisa belajar tanpa guru kebalikannya, pengajar tidak bisa mengajar tanpa peserta didik. karena itu, kehadiran peserta didik menjadi keniscayaan dalam proses pendidikan formal atau pendidik yg dilembagakan serta menuntut interaksi antara pendidik serta peserta didik. (Jahari, 2018)

Peserta didik, dari ketentuan umum�� Undang-Undang RI tentang Sistem Pendidikan Nasional adalah anggota masyarakat yang berusaha berbagi dirinya melalui proses pendidikan di jalur, jenjang, dan� jenis pendidikan tertentu. Seperti Taman Kanak-kanak, menurut ketentuan pasal 1 Peraturan Pemerintah RI nomor� 27 Tahun 1990, diklaim menggunakan murid. Sedangkan Pendidikan Dasar dan� Menengah, dari ketentuan pasal 1 peraturan pemerintah RI nomor� 28 serta nomor� 29 tahun 1990 diklaim dengan peserta didik. Sedangkan di Perguruan Tinggi, dari Ketentuan Peraturan Pemerintah RI nomor� 30 tahun 1990 dengan sebutan Mahasiswa.

Siswa dalam pemaknaan regulasi kependidikan adalah anggota warga yg berusaha menyebarkan potensi diri melalui proses pembelajaran yg tersedia pada jalur, jenjang, serta jenis pendidikan eksklusif. Sebutan � siswa� tersebut, diberikan pada:

a.     Siswa pada jenjang pendidikan dasar dengan satuan pendidikan yang meliputi Sekolah Dasar, MI atau bentuk lain yang sederajat serta pendidikan dasar lanjutan yang berbentuk Sekolah Menengah Pertama serta Mts, atau bentuk lain yg sederajat.

b.    Peserta didik pada jenjang pendidikan menengah, menggunakan satuan pendidikan yang mencakup SMA, SMK, MA serta ibu atau bentuk lain yg sederajat. pada jenjang pendidikan tinggi peserta didik dianggap menggunakan �mahasiswa�. Meskipun demikian, saat dikaitkan dengan hak buat menerima layanan pendidikan agama, maka seluruh siswa di pendidikan tinggi, di jlur pendidikan formal serta non formal dianggap menggunakan �siswa�. (Annas, 2017)

7.       Pengertian Manajemen Peserta Didik

Manajemen peserta didik adalah penataan dan pengaturan kegiatan yang berkaitan dengan siswa, mulai dari pendaftaran pertama sampai mereka lulus dari sekolah. Secara etimologis, kata manajemen berasal dari bahasa Inggris yaitu management. Akar kata ini adalah manage atau managiare yang artinya: melatih kuda untuk melangkah.

Sedangkan secara terminologis, istilah manajemen dapat dijelaskan sebagai berikut:

a.     Serangkaian kegiatan untuk merencanakan, melaksanakan dan memantau sumber daya organisasi untuk mencapai tujuan secara efektif dan efisien.

b.    Kemampuan atau kecakapan untuk memperoleh hasil guna mencapai suatu tujuan.

c.     Kegiatan memajukan sekelompok orang dalam organisasi untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.

d.    Untuk mencapai tujuan tertentu dengan menggunakan/meminjam tangan orang lain.

e.     Mempromosikan atau melayani dan mendorong orang lain dalam organisasi untuk bekerja dengan cara terbaik untuk mencapai tujuan bersama secara efektif dan efisien.

Menurut James Stoner, yang dikutip oleh Kadarman, manajemen adalah �proses perencanaan, pengorganisasian, memimpin, dan mengendalikan upaya anggota suatu organisasi, dan penggunaan semua sumber daya organisasi untuk mencapai tujuan organisasi�. proses. Letakkan".

George R. Terry mendefinisikan manajemen sebagai proses unik dalam Efendy, yang meliputi perencanaan, pengorganisasian, pengaktifan, dan pemantauan tindakan untuk menentukan dan mencapai melalui penggunaan sumber daya manusia dan sumber lainnya.

Andrew F. Sikula, mengemukakan bahwa �manajemen biasanya dikaitkan dengan kegiatan perencanaan, pengorganisasian, pengendalian, pengaturan, bimbingan, motivasi, komunikasi dan pengambilan keputusan dari setiap organisasi dalam rangka mengkoordinasikan berbagai sumber daya yang dimiliki oleh perusahaan sehingga akan dihasilkan suatu produk atau jasa secara efisien�.

Manajemen sebagai pengendalian dan penggunaan sumber daya organisasi untuk mencapai tujuan tertentu. manajemen adalah kemampuan atau kecakapan untuk memperoleh hasil guna mencapai tujuan melalui kegiatan orang lain. Oleh karena itu, dapat pula dikatakan bahwa manajemen adalah pelaksana utama dari administrasi.

Manajemen juga sering diartikan sebagai ilmu, keterampilan, dan profesionalisme. Dikatakan sebagai ilmu karena manajemen dianggap sebagai bidang pengetahuan, dan secara sistematis berusaha mencari tahu mengapa dan bagaimana orang bekerja sama.

Dikatakan bahwa ini adalah tip, karena manajemen adalah cara mengatur orang lain untuk menjalankan tugasnya. Dan dianggap sebagai profesi karena manajemen didasarkan pada keahlian khusus dan diwajibkan oleh kode etik. Dari beberapa definisi di atas, ada dua macam pekerjaan yang tersirat dalam manajemen, yaitu:

a)       Pekerjaan manajemen, yaitu pekerjaan yang berkaitan dengan pengaturan, pengelolaan, dan pengendalian.

b)      Pekerjaan teknis atau pekerjaan bisnis, yaitu pekerjaan yang berhubungan langsung dengan pencapaian tujuan suatu organisasi atau organisasi.

Dalam praktiknya, pekerjaan manajemen mengacu pada pekerjaan yang dilakukan oleh orang lain untuk menyelesaikan proses; dan pekerjaan teknis adalah pekerjaan yang menyelesaikan proses secara manual. Di lain pihak dapat dikatakan bahwa pekerjaan manajemen adalah pekerjaan pimpinan atau atasan, sedangkan pekerjaan teknis atau pekerjaan operasional adalah pekerjaan karyawan atau bawahan.

Oleh karena itu, manajemen adalah proses pengelolaan sumber daya organisasi untuk mencapai tujuan organisasi melalui kerjasama yang baik antara satu orang dengan orang lain. Kegiatan pengelolaan tidak dapat dipisahkan dari kegiatan merencana, mengorganisasi, memimpin, dan mengendalikan organisasi dengan segala aspeknya.

Fungsi manajemen merupakan elemen dasar yang selalu ada dalam proses manajemen. Fungsi-fungsi tersebut menjadi acuan bagi manajer untuk melakukan kegiatan manajemen. satu jenis. Perencanaan Perencanaan adalah fungsi pertama dan utama yang harus dilakukan oleh seorang manajer.

Perencanaan adalah proses menetapkan tujuan organisasi dan menentukan strategi, metode, dan standar yang diperlukan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.

Fungsi perencanaan memberikan pedoman bagi manajer untuk menetapkan tujuan yang ingin dicapai. Tanpa tujuan yang jelas, suatu lembaga atau organisasi tidak akan mendapatkan hasil yang jelas. Selain itu, jika tidak ada perencanaan, akan sulit bagi manajer untuk melakukan proses evaluasi.

Seperti kata pepatah, "sebuah rencana gagal adalah kegagalan rencana", yaitu, kegagalan membuat rencana adalah kegagalan rencana. Kegiatan perencanaan meliputi:

 

 

a.       Menetapkan tujuan;

b.       Memilih tindakan untuk mencapai tujuan tersebut;

c.       Melakukan aktifitas sesuai dengan perencanaan yang telah dibuat;

d.       Melakukan perencanaan ulang. (Hardiyanto, n.d.)

8.       Pembinaan Peserta Didik

Pengembangan siswa merupakan bagian yang sangat penting dalam penyelenggaraan pendidikan. Tujuan kegiatan pembinaan peserta didik adalah agar peserta didik dapat tumbuh dan berkembang menjadi manusia Indonesia seutuhnya sesuai dengan tujuan pendidikan nasional.

Dari kedua perspektif tersebut dapat disimpulkan bahwa pembinaan adalah suatu proses, metode, dan perilaku yang melatih peserta didik untuk tumbuh dan berkembang sesuai dengan tujuan nasional. Dalam Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia (Permendiknas) Nomor 39 Tahun 2008 tentang Pembinaan Kesiswaan, Bab 1, Pasal 3 ayat 2, menjelaskan bahwa materi pembinaan kesiswaan meliputi:

a.       Keimanan dan ketaqwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa

b.       Budi pekerti luhur atau akhlak mulia

c.       Kepribadian unggul, wawasan kebangsaan, dan bela Negara

d.       Prestasi akademik, seni, dan/atau olahraga sesuai bakat dan minat

e.       Demokrasi, hak asasi manusia, pendidikan politik, lingkungan hidup, kepekaan dan toleransi sosial dalam konteks masyarakat plural

f.        Kreativitas, keterampilan, dan kewirausahaan

g.       Kualitas jasmani, kesehatan, dan gizi berbasis sumber gizi yang terdiverifikasi

h.       Sastra dan budaya

i.        Teknologi informasi dan komunikasi.

j.        Komunikasi dalam bahasa Inggris.(Listiyani, 2011)

9.       Ruang Lingkup Manajemen Peserta Didik dalam Pendidikan Islam

Ruang lingkup manajemen peserta didik mencakup:

a.       Perencanaan peserta didik

b.       Penerimaan peserta didik

c.       Pengelompokan siswa

d.       Kehadiran siswa

e.       Pembinaan disiplin peserta didik

f.        Kenaikan kelas serta penjurusan

g.       Perpindahan peserta didik

h.       Kelulusan dan� alumni

i.        Kegiatan ekstra kurikuler

j.        Tata laksana manajemen siswa.

k.       Peranan ketua sekolah dalam manajemen siswa

l.        Mengatur layanan peserta didik. (Jahari et al., 2019)

 

Kesimpulan

Pembahasan terkait manajemen dalam bentuk penelitian dan penelitian ini telah menarik perhatian luas dari para pakar manajemen, ilmu politik dan sosial dari seluruh tanah air pada abad ke-14 dan dekade pertama abad ke-15, yang bertepatan dengan abad ke-20.

Manajemen pendidikan Islam terdiri dari tiga kata yang diungkapkan oleh Rahendra Maya, yaitu manajemen terminologi, pendidikan dan Islam. Islam wahyu mencakup Al-Quran dan hadits-hadits Nabi, dan Islam budaya mencakup ungkapan sahabat Nabi, pemahaman ulama, pemahaman cendekiawan Muslim dan budaya umat Islam.

Oleh karena itu, pembahasan manajemen pendidikan Islam senantiasa melibatkan wahyu dan budaya kaum Muslim ditambah kaidah-kaidah manajemen pendidikan secara awam. Manajemen lembaga pendidikan Islam menjadi pijakan realitas dalam mendasari perumusan kaidah-kaidah teoritis manajemen pendidikan islam.

Kemampuan atau kecakapan untuk memperoleh hasil guna mencapai suatu tujuan, Kegiatan memajukan sekelompok orang dalam organisasi untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan Untuk mencapai tujuan tertentu dengan menggunakan atau meminjam tangan orang lain Mempromosikan atau melayani dan mendorong orang lain dalam organisasi untuk bekerja dengan cara terbaik untuk mencapai tujuan bersama secara efektif dan efisien.

Menurut James Stoner, yang dikutip oleh Kadarman, manajemen adalah "proses perencanaan, pengorganisasian, memimpin, dan mengendalikan upaya anggota suatu organisasi, dan penggunaan semua sumber daya organisasi untuk mencapai tujuan organisasi".

George R. Terry mendefinisikan manajemen sebagai proses unik dalam Efendy, yang meliputi perencanaan, pengorganisasian, pengaktifan, dan pemantauan tindakan untuk menentukan dan mencapai melalui penggunaan sumber daya manusia dan sumber lainnya.

 

BIBLIOGRAFI

 

A. Fatoni. (n.d.). Konsep Manajemen Pendidikan Islam Perspektif Al-Qur�an. 100�120. Google Scholar

 

Annas, A. N. (2017). Manajemen Peserta Didik Berbasis Kecerdasan. 5(April), 132�142. Google Scholar

 

Hardiyanto. (n.d.). Manajemen Peserta Didik. Google Scholar

 

Herlinda, S., Said, M., Gofar, N., Pratama, F., Sulastri, Inderawati, R., Putri, R. I. I., & Nurhayati. (n.d.). Metodologi Penelitian (Bekal teori dan petunjuk praktis bagi mahasiswa dan peneliti dalam perancangan penelitian, serta penulisan artikel ilmiah dengan benar sesuai kaidah ilmiah). Lembaga Penelitian Universitas Sriwijaya, 255. Google Scholar

 

Jahari, J. (2018). Manajemen Peserta Didik. 3(2), 170�180. Google Scholar

 

Jahari, J., Khoiruddin, H., & Nurjanah, H. (2019). Manajemen Peserta Didik. In Jurnal Isema : Islamic Educational Management (Vol. 3, Issue 2). Google Scholar

 

Listiyani, K. N. K. (2011). Manajemen pembinaan peserta didik di smp negeri 3 ceper kabupaten klaten. 1�172. Google Scholar

 

Maya, R., & Sarifudin, S. (2019). Implementasi Manajemen Pemasaran Jasa Pendidikan Dalam Meningkatkan Kepuasan Pelanggan Di Madrasah Aliyah Terpadu (Mat) Darul Fallah Bogor. Islamic Management: Jurnal Manajemen Pendidikan Islam, 2(02), 133. Google Scholar

 

Muwahid, S., & Soim. (2013). Manajemen Pendidikan Islam, Strategi Dasar Menuju Peningkatan Mutu Pendidikan Islam. Jurnal Intelektualita, 1, 101. Google Scholar

 

Pransiska, T. (2017). Konsepsi Fitrah Manusia Dalam Perspektif Islam Dan Implikasinya Dalam Pendidikan Islam Kontemporer. Jurnal Ilmiah Didaktika, 17(1), 1. Google Scholar

�

Prof. Dr. Ir. Raihan, M. S. (2019). Metodologi Penelitian. Journal of Chemical Information and Modeling, 53(9), 1689�1699. Google Scholar

 

Hidayah, H., Vriyatna, M., & Mak�ris, A. (2021). Teori Manajemen Pendidikan Islam. Jurnal Mumtaz, 1(1), 44�52. Google Scholar

 

Siti, O., & Jannah, R. (n.d.). Karakteristik Dan Spektrum Manajemen. 122�131. Google Scholar

 

Solong, N. P., Munirah, M., & Arif, M. (2020). Effective School Management At Man Insan Cendekia Gorontalo. Lentera Pendidikan : Jurnal Ilmu Tarbiyah Dan Keguruan, 23(1), 22. Google Scholar

 

SYABAN, M. (2019). Konsep Dasar Manajemen Pendidikan Islam. Al-Wardah, 12(2), 131. Google Scholar

 

Taubah, M. (n.d.). Pendidikan Anak Dalam Keluarga Perspektif Islam Mufatihatut Taubah (Dosen STAIN Kudus Prodi PAI). 109�136. Google Scholar

 

Zaelani, F., & Al-ghazal, S. (2017). Implikasi dari Q . S Al- A � raf Ayat : 172 tentang Konsep Fitrah Ketauhidan terhadap Pelaksanaan Pendidikan Islam. Proseding Pendidikan Agama Islam, Vol 3, No, 134�139. Google Scholar

 

Zairotun, S. (2019). Motivasi Kerja Di Lembaga Pendidikan Islam (Taman Kanak-Kanak Islam Terpadu Mutiara Insani Delanggu). Islamic Management: Jurnal Manajemen Pendidikan Islam, 2(02), 119. �Google Scholar

 


Copyright holder :

Maya Elok Kharisma, Fadillah Hadid, M. Alvin Faiz, Akram Fadhlurrahman (2021).

 

First publication right :

Jurnal Syntax Transformation

 

This article is licensed under:

Creative Commons License