Jurnal Syntax Transformation

Vol. 2 No. 6, Juni 2021

p-ISSN : 2721-3854 e-ISSN : 2721-2769

Sosial Sains

 

ANALISIS HUBUNGAN KETERAMPILAN BERPIKIR KRITIS DENGAN KECENDERUNGAN BERPIKIR KRITIS MAHASISWA CALON GURU SEKOLAH DASAR

 

Hasnawati, Baiq Niswatul Khair, Itsna Oktavianti

Universitas Mataram Nusa Tenggara Barat, Indonesia���

Email: [email protected], [email protected], [email protected]

 

INFO ARTIKEL

ABSTRACT

Diterima

10 Mei 2021

Direvisi

20 Mei 2021

Disetujui

30 Mei 2021

 

Critical thinking competence is one of the demands of education in this century, so analyzing the extent to which the critical thinking abilities of candidate teachers is important for LPTKs as a reference for providing appropriate programs for the birth of teachers who have good critical thinking skills. This study aims to analyze the relationship between Critical Thinking Skills and Critical Thinking Dispositions of elementary school teacher candidate. The method used in this research is quantitative and qualitative methods. The sample was 91 people who were selected by purposive sampling and were students of the Mataram University Elementary School Teacher Education Study Program. Data on critical thinking dispositions were obtained through the CCTDI questionnaire and data on critical thinking skills were obtained through multiple choice three tier tests. The results of data analysis obtained 42.86% level of critical thinking skills of prospective elementary school teacher candidate in the high category and 57.14% in the medium category. Meanwhile, critical thinking dispositions is 5.49% in the strong category and 94.51% in the positive category. The results of the correlation test between the two obtained an r value of 0.290 which indicates that there is a significant positive relationship between the critical thinking skills and critical tahinking dispositions. Based on these results, it can be concluded� that teacher candidate who have high critical thinking dispositions can also have high critical thinking skills and vice versa.

 

ABSTRAK

Kompetensi berpikir secara kritis merupakan salah satu tuntutan pendidikan abad ini, sehingga menganalisis sejauh mana kemampuan berpikir kritis para calon guru menjadi penting bagi LPTK sebagai acuan untuk memberikan program-program yang sesuai demi terlahirnya guru-guru yang memiliki kemampuan berpikir kritis yang baik. Penelitian ini bertujuan bertujuan menganalisis hubungan antar Keterampilan Berpikir Kritis� dengan Kecenderungan Berpikir Kritis mahasiswa calon guru. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu metode kuantitatif dan kulaitatif. Sampel berjumlah 91 orang yang dipilih secara purposive sampling dan merupakan mahasiswa Program studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar Universitas Mataram. Data kecenderungan berpikir kritis diperoleh melalui kuesioner CCTDI dan data keterampilan berpikir kritis diperoleh melalui tes multiple choice three tier. Hasil analisis data diperoleh 42,86 % tingkat keterampilan berpikir kritis mahasiswa calon guru Sekolah Dasar pada kategori tinggi dan 57,14 % pada kategori sedang. Sementara untuk kecenderungan berpikir kritis 5,49 % pada kategori kuat dan 94,51 % pada kategori positif. Adapun hasil uji korelasi antar keduanya diperoleh nilai r sebesar 0,290 yang menunjukkan bahwa terdapat hubungan positif yang signifikan antara kecenderungan berpikir kritis dengan kecenderungan berpikir kritis. Berdasarkan hasil ini disimpulkan bahwa mahasiswa calon Guru yang memiliki kecenderungan berpikir kritis tinggi juga dapat keterampilan berpikir kritis tinggi dan sebaliknya.

Keywords:

critical thinking dispositions; critical thinking skill; elementary school teacher candidate

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Kata Kunci:

kecenderungan berpikir kritis; keterampilan berpikir kritis; mahasiswa calon guru



Pendahuluan

Berpikir kritis merupakan salah satu keterampilan yang diperlukan untuk sukses dalam setiap tahap kehidupan.� Keterampilan� berpikir kritis yang baik tidak terbentuk secara simultan namun perlu diasah dan dikembangkan melalui pendidikan (Biber et al., 2013). Keterampilan berpikir kritis merupakan salah satu keterampilan� yang menjadi prioritas utama untuk� harus dicapai dalam pendidikan. Keterampilan Berpikir kritis dan kecenderungan� untuk berpikir� secara kritis menjadi tantangan dan pembahsan hangat diantara para pendidik masa kini. Berbagai program dan model pembelajaran yang dikembangkan untuk melatih hal tersebut� (Kong, 2001).

Berpikir kritis terdiri dari tiga komponen utama: (a) Kecenderungan untuk berpikir kritis (b) pengalaman belajar dan (c) keterampilan berpikir kritis (Sendag et al., 2015). Pertama yaitu kecenderungan berpikir kritis merupakan sikap kearah berpikir kritis (Norris, 1989). Kedua� seperti yang diungkapkan oleh (Willingham, 2008), yaitu mempunyai pengetahuan yang cukup merupakan suatu yang esensial bagi seseorang� untuk berpikir secara kritis, dan pengalaman awal belajar� dapat mengarahkan pengetahuan melalui aktivitas. Oleh karena itu, penglaman awal belajar sangat penting dalam proses pemecahan masalah, pengambilan keputusan dan evaluasi dalam berpikir kritis. Ketiga, keterampilan berpikir kritis mengarah kepada kemampuan berpikir kritis yang tinggi (Sendag et al., 2015).��

(P. A. Facione, 2011) memamparkan bahwa� berpikir kritis adalah suatu pendekatan dengan masalah, pertanyaan, dan persoalan terbaru. Berpikir kritis terdiri dari dua jenis yakni keterampilan kognitif berpikir kritis dan kecenderungan berpikir kritis. Keterampilan kognitif berpikir kritis merupakan aspek-aspek intelektual dalam berpikir kritis, sedangkan kecenderungan berpikir kritis merupakan kecende-rungan berpikir kritis seseorang tentang sesuatu atau cara pandang seseorang terhadap masalah yang ada. Kedua komponen itu saling mempengaruhi satu dengan lain. Adapun� menurut �(Ennis, 2011) Berpikir kritis merupakan berpikir yang masuk akal dan reflektif, berpikir difokuskan untuk memutuskan apa yang dipercaya atau lakulakan.

Indikator keterampilan berpikir kritis menurut (P. Facione, 1990) dalam The APA Delphi Report yaitu sebagai berikut : Interpretasi (kemampuan untuk memahami dan mengungkapkan makna atau signifikansi variasi yang luas dari berbagai� pengalaman), analisis (kemampuan mengidentifikasi hubungan dari beberapa hal), evaluasi (kemampuan untuk menguji kebenaran pernyataan), inferensi (kemampuan untuk mengidentifikasi dan memilih elemen yang dibutuhkan untuk menyusun kesimpulan yang logis), menjelaskan (kemampuan menyatakan hasil pemikiran, menjelaskan alasan berdasarkan pertimbangan dan bukti), Pengaturan diri (kesadaran seseorang untuk memantau aktivitas kognitif sendiri).

Kecenderungan berpikir kritis dideskripsikan sebagai semangat kekritisan atau kecenderungan untuk berpikir kritis yang memiliki karakteristik keingin-tahuan mendalam, ketajaman pemikiran, ketekunan mengembangkan akal, kebutuhan atas informasi yang dapat dipercaya� (P. A. Facione, 2011). Ennis dalam (Fisher, 2009) mendefinisikan kecenderungan berpikir kritis sebagai sebuah kecen-derungan sikap dalam melakukan suatu tindakan ketika menghadapi persoalan dalam kondisi tertentu.�

(Sumarmo et al., 2012) kecenderungan berpikir kritis meliputi: a) bertanya secara jelas dan beralasan, b) berusaha memahami dengan baik, c) menggunakan sumber yang terpercaya, d) mempertimbangkan situasi secara menyeluruh, e) berusaha tetap focus pada inti permasalahan, f). melahirkan berbagai alternative solusi, g) bersikap dan berpikiran terbuka, h) berani mengambil posisi, i) memiliki respon yang cepat, j) berpandangan bahwa sesuatu adalah bagian dari keseluruhan yang kompleks, k) tidak menyia-nyiakan cara berpikir kritis orang lain, dan l) berusaha memahami perasaan orang lain.

Kecenderungan berpikir� kritis adalah suatu kecenderungan pada suatu pola perilaku intelektual. (P. Facione, 1990) mengelompokkan disposisi berpikir kritis menjadi tujuh indikator, yaitu: Pencarian kebenaran (kebiasaan selalu menginginkan pema-haman terbaik tentang situasi tertentu, disertai alasan dan bukti yang terkait ),� Berpikir terbuka (kecenderungan untuk membiarkan orang lain menyuarakan pandangannya), analisis (kecenderungan untuk berhati-hati terhadap apa yang terjadi berikutnya), Sistematis (kecenderungan atau kebiasaan kerja keras untuk menyelesaikan masalah dengan disiplin, tertib), Percaya diri dalam berpikir kritis ( kecenderungan untuk mempercayai penggunaan akal dan berpikir reflektif untuk memecahkan masalah),� Keingintahuan (kecenderungan untuk ingin tahu segala sesuatu, bahkan pada hal yang secara jelas tidak berguna saat ini), memiliki kematangan berpikir dalam memandang suatu masalah.

Berdasarkan uraian di atas, penting untuk mengkaji dan meneliti lebih dalam bagaimana hubungan antara kecenderungan berpikir kritis dengan keterampilan berpikir kritis. Lebih khusus pada subjek penelitian yaitu para pendidik maupun calon pendidik, karena hasil penelitian yang ada banyak menjadikan subjek penelitian yaitu mahasiswa �jurusan kesehatan. Jadi, tujuan penelitian ini yaitu untuk menganalisis hubungan keterampilan berpikir kritis (KtBK) dan kecenderungan berpikir kritis (KcBK)� Mahasiswa Calon Guru Sekolah Dasar.

 

Metode Penelitian

Penelitian ini termasuk penelitian Ex Post Facto. Variable yang diukur yaitu keterampilan berpikir kritis (KtBK) dan kecenderungan berpikir kritis (KcBK). Subjek penelitian ini yaitu mahasiswa Program studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar� yang berjumlah 91 orang yang dipilih secara purposive sampling.

Data kecenderungan berpikir kritis diperoleh melalui tes pilihan ganda beralasan yang berjumlah 10 soal dengan konten materi Ilmu Pengetahuan Alam Sekolah Dasar. Setiap satu butir soal memiliki skor maksimum 10 sehingga skor maksimal yang diperoleh jika menjawab dengan benar yaitu 100. Berdasarkan perolehan skor tersebut digunakan unutk menggolongkan tingkat keterampilan berpikir (KtBK) subjek penelitian sesuai dengan kriteria dalam Tabel 1

Tabel 1

Kriteria KtBK

Skor

Karakteristik KtBK

≥ 66,67

Tinggi

33,34-66,66

Sedang

≤33,33

Rendah

Sementara data tingkat kecenderungan berpikir kritis diperoleh melalui kuesioner kecenderungan berpikir kritis. Kuesioner tersebut mengandung 75 pernyataan�pernyataan yang mewakili 7� indikator kecenderungan berpikir kritis menurut Facione (2009) serta dilengkapi dengan pilihan jawaban yang meggunakan skala likert 1 sampai 6, mulai dari sangat setuju hingga sangat tidak setuju.

Setiap indikator mempunyai skor rata-rata minimal 10 dan maksimal 60, sehingga total skor untuk ketujuh indikator minimal 70 dan maksima 420. Skor yang diperoleh menunjukkan tingkat kecenderungan berpikir kritis yang dimiliki oleh subjek peneliti dan dijadikan dasar untuk mengelompokkan subjek peneliti kedalam beberapa kelompok sesuai tingkat kecenderungan berpikir kritisnya dengan criteria seperti dalam Tabel 2.

Tabel 2

Kriteria KcBK

Tiap Indikator

Skor� Total

Karakterkitik KcBK

≥50

≥ 349

Kuat

40-49

280-348

Positif

31-39

211-279

Ambivalen

≤ 30

≤ 210

Negatif

Data tingkat kriteria kecenderungan dan keterampilan berpikir kritis dianalisis menggunakan analisis presentase dan untuk melihat ada tidaknya hubungan antar keduanya dianalisis menggunkan uji korelasi.

Analisis Presentase

𝑃 =� ���� �(Cahyadi, n.d.)

Keterangan:

𝑃��� �= Persentase tingkat Keterampilan�� /kecenderungan

𝑋��� = Frekuensi pada masing-masing katagori

𝑋1�� = frekuensi total

Sementara Uji Korelasi menggunakan SPSS

 

Hasil dan Pembahasan

Data keterampilan berpikir kritis mahasiswa yang diperoleh melalui tes pilihan ganda tiga tingkat yang terdiri dari 10 butir soal dengan konten materi IPA Sekolah Dasar diperoleh rata-rata skor yanitu 66,67, masuk pada kriteria tingkat keterampilan berpikir kritis sedang. Sementara data kecenderungan berpikir kritis diperoleh rata-rata skor yaitu 321,78, masuk pada katagori tingkat kecenderungan berpikir kritis positif. Adapun distribusi tingkat kecenderungan berpikir kritis mahasiswa calon guru sekolah dasar yaitu dapat dilihat pada Grafik� 1.

Dari grafik terlihat bahwa terdapat 5,49 mahasiswa calon guru memiliki kecenderungan berpikir kritis pada tingkat kuat dan 94,51 pada tingkat positif, sementara tidak ada yang berada pada tingkat ambivalen dan negataif. Hal ini memperlihatkan bahwa kecenderungan berpikir kritis mahasiswa calon guru sekolah dasar yang menjadi subjek penelitian ini secara umum memiliki tingkat kecenderungan yang bagus. Kondisi ini memberi dampak positif terhadap perkembangan kemampuan-kemampuan akademik lainnya yang jika mereka difasilitasi dengan pembelajaran yang tepat untuk mengembangkan potensi-potensi akademik tersebut. Sejalan dengan Hasil penelitian (Safitri et al., 2020) yang mengungkapkan bahwa terdapat hubungan postifi antara kecenderungan berpikir� kritis dengan hasil belajar peserta didik. Sementara data distribusi pesentase tingkat keterampilan beripikir mahasiswa calon guru sekolah dasar dapat dilihat pada Grafik 2.

Tingkat keterampilan berpikir kritis pada penelitian ini di kategorikan kedalam tiga tingkatan yaitu tinggi, sedang dan rendah. Hasil analisis data memperlihatkan bahwa terdapat 42,86 % mahasiswa memiliki tingkat keterampilan berpikir kritis pada kategori tinggi dan 57,14 % pada kategori sedang, serta tidak ada yang berada pada kategori rendah. Hal ini senada dengan tingkat kecenderungan yang dimiliki mahasiswa, tidak ada yang berada pada kategori ambivalen dan negative yang mengindikasikan baik kecenderungan maupun keterampilan berpikir kritis mahasiswa sama-sama baik, dan berpeluang untuk terus diasah dan� dikembangkan.

Adapun hasil uji korelasi di peroleh koefisien korelasi sebesar 0,390 yang berarti terdapat hubungan yang positif antara kecenderungan berpikir kritis dengan keterampilan berpikir kritis.

 

 

 

 

Tabel 2 Hasil Uji Korelasi

Correlations

 

Kecenderungan

Keterampilan

Kecenderungan

Pearson Correlation

1

.290**

Sig. (2-tailed)

 

.005

N

91

91

Keterampilan

Pearson Correlation

.290**

1

Sig. (2-tailed)

.005

 

N

91

91

N

91

91

 

Mahasiswa yang memiliki tingkat kecenderungan berpikir kritis tinggi yaitu kategori kuat dan positif tentu berpeluang untuk memiliki tingkat keterampilan berpikir kritis yang tinggi pula. Dimana indikator�indicator kecendernungan berpikir kritis seperti keingintahuan, pencarian kebenaran, Berpikir terbuka, analisis Sistematis,� Percaya diri dalam berpikir kritis dan Kematangan dalam berpikir, jika dikelola dan asah dengan baik maka membantu mahasiswa untuk dapat memiliki keterampilan berpikir kritis yang tinggi.

�Beberapa penelitian telah dilakukan dan menunjukkan hasil bahwa terdapat hubungan yang positif dan signifikan antara kecenderungan berpikir kritis dengan keterampilan� berpikir kritis yaitu oleh (Giancarlo & Facione, 2001) pada 193 siswa sekolah menengah (r = .41), Colucciello (1997) pada 328 mahasiswa (r = .32), dan Facione and Facione (1997) yang mengukur kecenderungan berpikir kritis di awal masa perkuliahan dan mengukur keterampilan� berpikir kritis di akhir masa perkuliahan program (r = .23, p < .001).

 

Kesimpulan

Berdasarkan hasil dan pembahasan yang telah diuraikan dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan yang positif antara kecenderungan berpikir kritis dengan keterampilan berpikir kritis mahasiswa. Mahasiswa yang memiliki tingkat kecenderungan berpikir kritis tinggi berpeluang memiliki tingkat keterampilan berpikir kritis tinggi.

 

BIBLIOGRAFI

 

Biber, A. C., Tuna, A., & Incikabi, L. (2013). An investigation of critical thinking dispositions of mathematics teacher candidates. Educational Research, 4(2), 109�117. Google Scholar

 

Cahyadi, S. (n.d.). DAFTAR PUSTAKA. Arikunto, S.(2009). Dasar-dasar Evaluasi Pembelajaran. Yogyakarta: Rineka Cipta. Google Scholar

 

Ennis, R. (2011). Critical thinking: Reflection and perspective Part II. Inquiry: Critical Thinking across the Disciplines, 26(2), 5�19. Google Scholar

 

Facione, P. (1990). Critical thinking: A statement of expert consensus for purposes of educational assessment and instruction (The Delphi Report).

 

Facione, P. A. (2011). Critical thinking: What it is and why it counts. Insight Assessment, 2007(1), 1�23. Google Scholar

 

Fisher, A. (2009). Berpikir kritis sebuah pengantar. Jakarta: Erlangga, 4. Google Scholar

 

Giancarlo, C. A., & Facione, P. A. (2001). A look across four years at the disposition toward critical thinking among undergraduate students. The Journal of General Education, 29�55. Google Scholar

Kong, S. L. (2001). Critical thinking dispositions of pre-service teachers in Singapore: A preliminary investigation. Google Scholar

 

Norris, S. P. (1989). Can we test validly for critical thinking? Educational Researcher, 18(9), 21�26. Google Scholar

 

Safitri, R. M., Andayani, Y., & Jamaluddin, J. (2020). Korelasi Kecenderungan Berpikir Kritis dengan Hasil Belajar IPA Peserta Didik SMP Negeri Se-Lombok Barat. Jurnal Pijar Mipa, 15(3), 219�222. Google Scholar

 

Sendag, S., Erol, O., Sezgin, S., & Dulkadir, N. (2015). Preservice teachers� critical thinking dispositions and web 2.0 competencies. Contemporary Educational Technology, 6(3), 172�187. Google Scholar

 

Sumarmo, U., Hidayat, W., Zukarnaen, R., Hamidah, M., & Sariningsih, R. (2012). Kemampuan dan disposisi berpikir logis, kritis, dan kreatif matematik (Eksperimen terhadap siswa SMA menggunakan pembelajaran berbasis masalah dan strategi think-talk-write). Jurnal Pengajaran MIPA, 17(1), 17�33. Google Scholar

 

Willingham, D. T. (2008). Critical thinking: Why is it so hard to teach? Arts Education Policy Review, 109(4), 21�32. Google Scholar

 

 

 

 


Copyright holder :

Hasnawati, Baiq Niswatul Khair, Itsna Oktavianti (2021).

 

First publication right :

Journal Syntax Transformation

 

This article is licensed under:

Creative Commons License