|
Jurnal
Syntax Transformation |
Vol. 2
No. 6, Juni 2021 |
|
p-ISSN :
2721-3854 e-ISSN : 2721-2769 |
Sosial
Sains |
PROBLEMATIK PENDIDIKAN BAHASA INDONESIA KAJIAN
PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA PADA SEKOLAH DASAR
Muhammad Zuhdy
Hamzah, Muhamad Alfi Khoiruman
UIN Maulana Malik Ibrahim
Malang Jawa Timur, Indonesia
Akademi Kelautan Banyuwangi Jawa Timur, Indonesia
Email: [email protected], [email protected]
|
INFO ARTIKEL |
ABSTRACT |
|
Diterima 1 Juni 2021 Direvisi 10 Juni 2021 Disetujui 21 Juni 2021 |
Learning is a permanent
change in student behavior through experience,
observation, and language, which is actively related to knowledge, attitudes
and skills. This study aims to describe the problems of Indonesian language
education, especially the study of how students learn the language in
learning Indonesian. The approach used in this research is descriptive
qualitative. Primary data was obtained through an interview study of teachers
and students' guardians. Observations were made to see students' problems in
learning Indonesian. The results of the study indicate that in language
learning in schools, especially elementary schools, teachers evaluate and
understand that students before entering school have learned language
(language acquisition) through their living environment. Students will be
more confident in learning a language if students are given the opportunity
to improve their own work. Language learning provides opportunities for
students to choose language activities. Furthermore, educators are more
careful and selective in their role as professional educators (understanding
aspects of language knowledge, level of language knowledge, and the important
role of language skills. For other researchers, the results of this study can
provide benchmarks for answers to problems in accordance with the formulation
problems; as a motivation for other researchers to be more active in
contributing the results of scientific work in the development of language. ABSTRAK Belajar adalah perubahan dalam perilaku siswa yang tetap melalui pengalaman, observasi dan bahasa, yang secara aktif terkait terkait dengan pengetahuan, sikap dan keterampilan. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan masalah pendidikan bahasa Indonesia, terutama studi tentang bagaimana siswa belajar bahasa dalam belajar bahasa Indonesia. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif
kualitatif. Data primer diperoleh
melalui studi wawancara tentang guru dan wali siswa. Pengamatan
dilakukan untuk melihat masalah siswa dalam pembelajaran
Indonesia. Hasil penelitian menunjukkan
bahwa pembelajaran bahasa di sekolah, khususnya sekolah dasar, guru melakukan evaluasi dan pemahaman bahwa siswa sebelum
memasuki sekolah telah belajar bahasa (pemerolehan bahasa) melalui lingkungan hidup mereka. Siswa akan lebih percaya
diri dalam belajar bahasa jika siswa diberi
kesempatan untuk meningkatkan pekerjaan mereka sendiri. Pembelajaran bahasa memberikan peluang bagi siswa untuk
memilih kegiatan bahasa. Selanjutnya pendidik lebih berhati-hati dan selektif dalam berperan sebagai pendidik profesional (memahami aspek-aspek pengetahuan bahasa, tingkat pengetahuan bahasa, dan peran penting kemampuan bahasa. Metode penelitian ini didesain penelitian yang digunakan dalam penelitian ini berfokus pada penelitian kualitatif. Bagi peneliti lain, hasil penelitian
ini dapat memberikan tolok ukur atas jawaban
dari masalah yang sesuai dengan perumusan masalah; sebagai motivasi bagi peneliti lain untuk semakin aktif menyumbangkan hasil karya ilmiah
dalam perkembangan bahasa. |
|
Keywords: problematic; language learning Kata Kunci: problematik; pembelajaran bahasa |
Pendahuluan
Pendidikan adalah fenomena dan bisnis manusia yang diselenggarakan di mana pun manusia
ada dan berada. Pendidikan memainkan peran penting dalam pengembangan
individu dan kemanusiaan secara keseluruhan dan dalam bisnis menumbuhkan
manusia baik sebagai individu maupun sebagai masyarakat. Pendidikan adalah
proses seseorang dalam mengembangkan kemampuan, sikap dan bentuk perilaku yang dihadapi dengan pengaruh lingkungan yang dipilih dan dikendalikan (terutama dari sekolah). Alat komunikasi bahasa apapun, alat komunikasi
berperan dalam proses belajar berbahasa (bahasa) baik formal maupun non-formal.
Pertanyaan
pertama untuk belajar dan pengembangan pendidikan Bahasa Indonesia adalah
tentang siapa, dimana dan mengapa? Belajar dan pengembangan Bahasa
Indonesia terkait dengan interferensi bahasa yang digunakan oleh komunitas pengguna dalam ruang lingkup dan ruang tertentu. Komunitas pengguna bahasa bukan orang Indonesia sebagai ibu mereka
atau bahasa pertama mereka akan lebih kontributor
terhadap Perbendaharaan
Indonesia. Interferensi bahasa
sering muncul ketika peserta didik mulai belajar
menulis kalimat sederhana. Belajar sering dilakukan tanpa strategi pembelajaran tertentu, meskipun proses internalisasi anak tetap berbeda. Lingkungan belajar bahasa Indonesia adalah faktor penting yang merupakan masalah bagi Bahasa Indonesia.
�Situasi lingkungan belajar lingkungan penting bagi siswa yang belajar bahasa dalam bisnis yang dikelola untuk mempelajari bahasa baru. Pengetahuan yang diperoleh melalui lingkungan ini direalisasikan. Di sisi lain, lamanya waktu dalam
belajar secara langsung sangat mempengaruhi kualitas penguasaan siswa (belajar studi siswa)
untuk Bahasa Indonesia yang mereka
pelajari. Perkembangan manusia sebagai makhluk individu, makhluk sosial dan makhluk agama ada tiga hal yang secara
aktif berinteraksi satu sama lain, keadaan dasar siswa
memiliki, lingkungan (di
mana pendidikan adalah elemen yang paling penting) dan partisipasi siswa di proses interaksi dan bahasa sebagai alat komunikasi.
Siswa perlu memiliki wawasan teoretis ke dalam
keterampilan bahasa dan bahasa. Namun, untuk siswa sekolah
dasar yang berkaitan dengan itu diajarkan
dengan cara yang terintegrasi melalui kegiatan pembelajaran bahasa yang sesuai dengan konteks yang bermakna. Tidak perlu menyajikan teori yang diberikan secara khusus. Jadi, keberhasilan pembelajaran tidak terletak pada seberapa banyak materi atau informasi
yang disampaikan oleh guru kepada
siswa dengan Alas tidak semua hal
yang diberikan dan dipelajari
oleh guru. Oleh karena itu,
tugas pendidik dalam pembelajaran bahasa adalah untuk
melakukan berbagai upaya sehingga siswa termotivasi dan aktif terlibat dalam pembelajaran. Melakukan penelitian, harapan bahwa peneliti
akan mendapatkan berbagai informasi dan data yang mendukung solusi untuk masalah yang terjadi dalam belajar
bahasa Indonesia, terutama
di sekolah dasar.
Metode Penelitian
Desain penelitian yang digunakan dalam penelitian ini berfokus pada penelitian kualitatif. Penelitian ini menggunakan desain cross
sectional. Dengan cara ini peneliti tidak
mengikuti subjek untuk waktu yang lama dalam periode tertentu,
tetapi mengamati pada tahap tertentu dari proses materi pelajaran materi. Data penelitian ini didasarkan pada pidato guru dan siswa melalui wawancara.
Dalam penelitian ini para peneliti berlaku sebagai instrumen utama. Sebab, data dalam penelitian ini adalah perilaku manusia yang hanya dapat dipahami melalui interaksi antara para peneliti dan subyek dan faktor-faktor yang berperan dalam kegiatan komunikasi subjek. Sementara instrumen tambahan yang digunakan adalah pedoman untuk pengamatan
dan alat observasi, yaitu perekam elektronik
atau ponsel dan alat perekaman lapangan. Teknik pengumpulan data
yang digunakan adalah teknik observasi. Teknik observasi dilakukan dengan partisipasi dan non-partisipasi. Berbagai penelitian data pendukung dianalisis berdasarkan teknik analisis diskursif dengan tujuan menjelaskan fenomena bahasa secara mendalam dengan memanfaatkan tingkat bahasa tertentu yang merupakan target penelitian. Studi lebih lanjut tentang
validitas temuan dilakukan dengan triangulasi data.
Hasil dan Pembahasan
Menurut materi dasar pendidikan
program akta mengajar IV, ruang lingkup pendidikan
terbagi atas: (1) Ruang Lingkup Pendidikan Keluarga; (2)
Ruang lingkup Pendidikan Formal meliputi
(a) Taman Kanak-Kanak, (b) Sekolah Dasar, (c) Sekolah Menengah Pertama, (d) Sekolah Menengah Atas dan (e) Perguruan
Tinggi; (3) Ruang lingkup Pendidikan Informal (Luar Sekolah) dan (4) Ruang Lingkup Pendidikan Pendidik
Formal (Buku IIA, 1985).
�Berdasarkan penelitian ini, para peneliti meninjau masalah yang lebih spesifik pada batas-batas ruang lingkup sub kompetensi pendidikan formal dalam masalah Pendidikan Bahasa Indonesia di sekolah
dasar lebih mengkhususkan diri dalam masalah bagaimana
siswa belajar Bahasa
Indonesia dalam pendidikan lingkungan hidup.
Sebelum menilai masalah yang sering muncul terhadap
pembelajaran bahasa
Indonesia di lingkungan sekolah
dasar, para peneliti menghadapi beberapa hal umum yang dapat
berpengaruh pada proses Pendidikan Bahasa Indonesia dalam lingkungan pendidikan formal. Beberapa di antaranya adalah dalam hal penggunaannya,
membahas memiliki berbagai bentuk dari (1) aspek pengguna, proses pendidikan Bahasa
Indonesia dipengaruhi oleh (a) dari
pembicara yang melahirkan dialek geografis, berbagai ilmiah, Sastra, Jurnalisme, (b) Media yang menaikkan
situasi bahasa verbal dan tertulis dan (c) yang meningkatkan
mentah dan tidak standar.
Hasil penelitian dicatat bahwa masalah
pengajaran bahasa melibatkan banyak aspek, keduanya terkait dengan pengajaran secara langsung dan tidak langsung. Masalah beberapa dari aspek-aspek
ini (dialek geografis dari asal mula mahasiswa,
lingkungan bicara, pidato mitra, sikap
bahasa, akuisisi bahasa, perkembangan psikologis siswa dan metode pengajaran bahasa) memerlukan perhatian sejati dari semua guru Indonesia karena guru sering tidak melakukannya Menyadari pentingnya linguistik non-aspek yang berpengaruh pada pengajaran Indonesia.
Perkembangan siswa dengan lingkungan yang berpengaruh untuk memberikan konstruksi yang kuat dari pembelajaran
Bahasa Indonesia sebagai bahasa
kedua.
Jadi, terkait dengan proses belajar bahasa di sekolah, guru perlu memahami bahwa sebelum memasuki
sekolah, siswa telah belajar bahasa
melalui komunitas mereka. Mereka belajar bahasa (mendengarkan, berbicara, bahkan membaca dan menulis) bukan demi bahasa itu sendiri,
tetapi karena didorong oleh kebutuhan mereka untuk memahami
dan memahami. Anak-anak belajar melalui pengamatan, interaksi langsung dan langsung dalam situasi nyata
dengan keluarga, teman sebaya, komunitas,
media dan lingkungan mereka.
Dengan strategi pembelajaran,
mereka melakukannya dengan cepat menguasai
kemampuan untuk berbicara seperti orang dewasa.
Belajar seperti proses membangun gedung. Anak-anak terus-menerus membangun makna baru (pengetahuan,
sikap dan keterampilan) berdasarkan apa yang telah mereka kuasai
sebelumnya. Bahasa pembelajaran,
anak-anak atau siswa (sebagai pengguna bahasa) adalah orang-orang yang membangun,
maknanya adalah apa yang mereka bangun dan apa yang mereka miliki atau
menguasai bahan bangunan atau bangunan
yang akan mereka gunakan untuk membangun
bahasa yang akan mereka pelajari. Belajar dikatakan sebagai proses penambahan sebagian demi bagian informasi baru tentang apa yang telah mereka kenal
dan kuasai sebelumnya.
Proses pembelajaran terjadi
ketika siswa dapat menghubungkan apa yang telah mereka ketahui dengan apa yang mereka temukan melalui pengalaman belajar yang mereka lewati. Pengalaman belajar terjadi melalui interaksi yang bermakna antara siswa dan mahasiswa, guru, materi pembelajaran dan lingkungan belajar mereka.
Melihat porsi ini, asumsi
dapat diambil bahwa siswa belajar
ketika didukung oleh orang
lain (dalam hal ini guru), yang memiliki pengetahuan tentang sesuatu yang tidak mereka ketahui dalam kegiatan pembelajaran yang sulit sehingga mereka terbantu untuk dapat belajar secara
mandiri. Kenyataan bahwa kegiatan Bahasa Indonesia melibatkan lebih dari satu jenis
kegiatan bahasa (mendengarkan, berbicara, membaca dan menulis) dan pembelajaran bahasa harus dilakukan secara terintegrasi, baik antara bahasa
dalam bahasa (bahasa, literatur dan keterampilan bahasa) bahkan berinteraksi dengan mata pelajaran
lainnya. Dari uraian implikasi dari masalah yang merupakan tantangan bagi guru atas implikasi sikap dan keadaan anak atau siswa
dalam pembelajaran Bahasa
Indonesia yang terkait dengan
penampilan siswa dan keterampilan bahasa dengan adanya pembelajaran.
Ada beberapa tantangan
bagi guru berdasarkan sikap dan perilaku siswa dalam pembelajaran
dalam pembelajaran. Penulis mencoba menggaris bawahi beberapa tantangan yang paling tidak dapat memberikan
referensi bagi guru dari berbagai tantangan
untuk sikap dan perilaku siswa dalam belajar Bahasa Indonesia. Tantangannya adalah sebagai berikut: (1) Siswa belajar berdasarkan
apa yang telah dipahami atau dikendalikan
sebelumnya; (2) Pembelajaran
dilakukan secara aktif oleh siswa melalui kegiatan belajar atau pengalaman
melalui pembelajaran; (3) Siswa membutuhkan kelompok sosial yang melahirkan dialek sosial,Sikap bahasa yang melahirkan pejabat dan tidak resmi atau
setiap hari dan (4) dalam hal penggunaannya
dilihat dari bidang sudut (5). yang melahirkan orang lain berinteraksi
dengan orang lain serta dukungan guru dan teman-teman; (6)
siswa dengan keterampilan bahasa oral (mendengarkan dan berbicara) kurang efektif cenderung kurang mampu berbicara (membaca dan menulis); dan (7) ada hubungan yang kuat untuk keterampilan
bahasa yang dimiliki oleh siswa dengan kemampuan
akademik sebelumnya.
Selaras dengan masalah-masalah ini, paradigma atau sarana pembelajaran
bahasa di sekolah dasar berdasarkan tantangan yang terurai dalam 5 (lima) masalah yang dialami oleh siswa dalam pembelajaran sehingga siswa dapat belajar secara
mandiri, dapat diterjemahkan dengan solusi untuk guru sebagai berikut: (1) Siswa belajar berdasarkan
apa yang telah dipahami atau dikuasai
sebelumnya. Berdasarkan sikap dan perilaku yang dialami oleh siswa jika siswa mendapatkan
situasi seperti itu (a) Guru harus mencari pembelajaran dari apa yang telah
diketahui siswa, (b) Guru harus pandai dalam
memilih substansi yang akan dipelajari oleh siswa itu tidak
terlalu mudah atau terlalu sulit.
Berarti guru perlu memahami pengetahuan, sikap atau keterampilan
yang telah dimiliki oleh siswa yang terkait dengan sesuatu untuk dipelajari; (2) Pembelajaran dilakukan secara aktif oleh siswa melalui kegiatan
atau pengalaman belajar yang mereka lewati dalam pembelajaran.
(3) Studi siswa perlu berinteraksi dengan orang lain dan dukungan
guru dan teman-teman. Mengacu
pada kebutuhan siswa- siswa ini, guru perlu merancang kegiatan pembelajaran tidak hanya dalam
bentuk klasik atau individu, tetapi dapat melalui
bentuk grup. Tindakan lain
yang berinovasi guru dengan
melibatkan sumber belajar kompeten lainnya yang mendukung proses pembelajaran, seperti observasi orang tua atau masyarakat sekitar yang memiliki keterampilan atau profesi tertentu dengan teknik wawancara
sehingga mereka mendapatkan pengalaman langsung yang memunculkan keterampilan yang mereka miliki. (4) siswa dengan keterampilan bahasa oral (mendengarkan dan berbicara) kurang efektif cenderung kurang mampu berbicara
(membaca dan menulis); (5)
Ada hubungan yang kuat untuk keterampilan bahasa yang dimiliki oleh siswa dengan kemampuan
akademik sebelumnya
Kesimpulan
Sehubungan dengan
bahasa belajar di sekolah, khususnya sekolah dasar, guru perlu memahami bahwa sebelum memasuki
sekolah, siswa telah belajar bahasa-bahasa
melalui komunitas mereka. Mereka belajar bahasa (mendengarkan, berbicara, membaca dan menulis) membuka sake bahasa itu sendiri, tetapi
karena didorong oleh kebutuhan untuk memahami dan memahami. Anak-anak belajar melalui
pengamatan, eksperimen dan interaksi langsung dalam situasi nyata
dengan keluarga, teman sebaya, komunitas,
media dan lingkungannya.
Dengan strategi pembelajaran
yang dia lakukan, anak-anak dengan sangat cepat menguasai
kemampuan untuk berbicara, melalui kegiatan pendidikan di lingkungan formal (sekolah), kemampuan bahasa akan diasah sesuai
dengan kemampuan yang dimiliki oleh siswa yang merupakan tantangan guru dalam upaya bantu
anak-anak belajar Bahasa
Indonesia untuk menjadi mandiri. Diharapkan melalui beberapa tantangan ini, dalam belajar Bahasa Indonesia,
guru dapat memilih dan menerapkan strategi pembelajaran bahasa Indonesia di sekolah dasar dengan evaluasi
pembelajaran bahasa yang tepat.
Busri, H. (2013). Kajian
Linguistik Pengantar Memahami Hakikat Bahasa. Malang. Google
Scholar
Dardjowidjojo, S. (2003).
Psikolinguistik: Pengantar pemahaman bahasa manusia. Yayasan Pustaka Obor
Indonesia. Google
Scholar
Iskandarwassid, dkk. 2013.
Strategi Pembelajaran Bahasa. Bandung: PT Remaja Rosdakarya Materi Dasar
Pendidikan Program Akta Mengajar V. 1985. Dasar Ilmu Pendidikan. Universitas Terbuka. Google Scholar
�Mulyasa, E. 2010. Menjadi Guru Profesional
Menciptakan Pembelajaran Kreatif dan Menyenangkan. Bandung: PT Remaja
RosdaKarya. Google
Scholar
Mulyati, Yetty, dkk. 20011.
Pendidikan Bahasa Indonesia di SD. Jakarta:Universitas Terbuka. Redaksi Sinar
Grafika. 2009. Undang-Undang Guru dan Dosen. Jakarta: Sinar Grafika. Trianto. Google
Scholar
2011. Model-Model Pembelajaran
Inovatif Berorientasi Konstruktivistik. Konsep Landasan Teoritis Praktis dan
Implementasinya. Jakarta: Prestasi Pustaka. TW, Solchan, dkk. 2011. Pendidikan
Bahasa Indonesia di SD. Jakarta: Universitas Terbuka. Google
Scholar
|
Muhammad Zuhdy Hamzah,
Muhamad Alfi Khoiruman
(2021). |
|
First publication right : This article is licensed under: |