|
Jurnal
Syntax Transformation |
Vol. 2
No. 7, Juli 2021 |
|
p-ISSN :
2721-3854 e-ISSN : 2721-2769 |
Sosial
Sains |
MANAJEMEN MUTU TERPADU DALAM PENDIDIKAN ISLAM
Ayu Annisa,
Pinkan Gyfend
Universitas Muhammadiyah
Malang (UMM) Jawa Timur, Indonesia������
Email : [email protected], [email protected]
|
INFO ARTIKEL |
ABSTRAK |
|
Diterima 10 Juli 2021 Direvisi 20 Juli 2021 Disetujui 23 Juli 2021 |
Prinsip manajemen adalah pengawasan keseluruhan dari semua anggota
lembaga pendidikan dari kegiatan Organisasi. Penerapan Total Quality
Management (TQM) berarti bahwa semua anggota sekolah bertanggung jawab
atas kualitas pendidikan, sehingga semua pihak yang terlibat dalam proses
akademik di lembaga pendidikan Islam, mulai dari komite sekolah / madrasah,
kepala sekolah / madrasah, kepala administrasi, guru, siswa dengan karyawan
harus benar-benar memahami sifat dan tujuan pendidikan ini. Dengan kata lain,
setiap individu yang terlibat harus memahami apa tujuan pendidikan itu. Tanpa
pemahaman menyeluruh tentang individu yang terlibat, tidak mungkin untuk
menerapkan TQM. Sistem manajemen ini sangat meminimalkan proses birokrasi.
Sistem birokrasi institusi pendidikan Islam akan menghambat potensi
pengembangan institusi itu sendiri. Oleh karena itu penelitian ini bertujuan
untuk Menjelaskan
pengertian Manajemen Mutu Terpadu, Menjelaskan Unsur-Unsur Manajemen Mutu
Terpadu dalam Pendidikan Islam dan Menjelaskan Prinsip, Model dan Keuntungan
Manajemen Mutu Terpadu. Metode penelitian ini menggunakan pendekatan secara kualitatif, dimana metode yang terdapat pada penelitian ini adalah metode
pengumpulan pustaka (library
research). Penerapan TQM dalam
bidang pendidikan dilakukan oleh orang yang ahli
pada bidangnya dengan upaya lebih dari
pihak pimpinan pendidikan agar mutu pendidikan benar-benar terjamin. Dalam mencapai hasil tersebut, implementasi TQM di dalam organisasi pendidikan Islam perlu dilakukan dengan sebenarnya tidak dengan setengah hati. Implementasi TQM di organisasi Pendidikan khususnya
di lembaga pendidikan Islam
memang tidak mudah. ABSTRACT The principle of management is the overall supervision of all members
of the educational institution of the activities of the Organization. The
application of Total Quality Management (TQM) means that all school members
are responsible for the quality of education, so that all parties involved in
the academic process in Islamic educational institutions, ranging from
school/madrasah committees, principals/madrasahs, heads of administration,
teachers, students with employees must fully understand the nature and
purpose of this education. In other words, every individual involved must understand what the purpose of education
is. Without a thorough understanding of the individuals involved, it is
impossible to implement TQM. This management system greatly minimizes
bureaucratic processes. The bureaucratic system of Islamic educational institutions
will hinder the potential development of the institution itself. Therefore,
this study aims to explain the meaning of Integrated Quality Management,
Explain the Elements of Integrated Quality Management in Islamic Education
and Explain the Principles, Models and Benefits of Integrated Quality
Management. This research method uses a qualitative approach, where the
method contained in this study is a library research method. The application
of TQM in the field of education is carried out by people who are experts in
their fields with more efforts from the education leadership so that the
quality of education is truly guaranteed. In achieving these results, the
implementation of TQM in Islamic education organizations needs to be carried
out actually not half-heartedly. The implementation of TQM in educational
organizations, especially in Islamic educational institutions, is indeed not
easy. |
|
Kata Kunci: manajemen mutu
terpadu Keywords: integrated quality management |
Pendahuluan
Pendidikan adalah salah satu bentuk perwujudan kebudayaan manusia yang dinamis dan sarat dengan perkembangan. Oleh karena itu, perubahan
atau perkembangan pendidikan adalah hal yang memang seharusnya terjadi sejalan dengan perubahan budaya kehidupan. Perubahan dalam arti perbaikan pendidikan pada semua tingkat perlu terus
menerus dilakukan sebagai antisipasi kepentingan masa depan.
Pendidikan yang mampu mendukung
pembangunan di masa depan adalah pendidikan yang mampu mengembangkan potensi peserta didik, sehingga yang bersangkutan mampu menghadapi dan memecahkan problema kehidupan yang dihadapinya. Pendidikan harus menyentuh potensi nurani maupun potensi
kompetensi peserta didik (Windryani & Afriansyah, 2019).
Konsep pendidikan tersebut terasa semakin penting ketika seseorang harus memasuki kehidupan di masyarakat dan dunia
kerja, karena yang bersangkutan harus mampu menerapkan apa yang dipelajari di sekolah untuk menghadapi
problem yang dihadapi dalam
kehidupan sehari-hari saat ini maupun
yang akan datang.
Menurut
Syah dalam (Joon et al., 2009)
dikatakan bahwa pendidikan berasal dari kata dasar �didik� yang mempunyai arti memelihara dan memberi latihan. Kedua hal tersebut memerlukan
adanya ajaran, tuntunan, dan pimpinan tentang kecerdasan pikiran. Pengertian pendidikan adalah proses pengubahan sikap dan perilaku seseorang atau sekelompok orang dalam usaha mendewasakan
manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan. Dengan melihat definisi tersebut, sebagian orang mengartikan bahwa pendidikan adalah pengajaran karena pendidikan pada umumnya membutuhkan pengajaran dan setiap orang berkewajiban mendidik. Secara sempit mengajar adalah kegiatan secara formal menyampaikan materi pelajaran sehingga peserta didik menguasai materi ajar.
Secara
fungsional, pendidikan pada
dasarnya ditujukan untuk menyiapkan manusia menghadapi masa depan agar hidup lebih sejahtera, baik sebagai individu
maupun secara kolektif sebagai warga masyarakat, bangsa maupun antar
bangsa. Bagi pemeluk agama, masa depan mencakup kehidupan di dunia dan pandangan tentang kehidupan hari kemudian yang bahagia. Namun saat ini
dunia pendidikan kita belum sepenuhnya dapat memenuhi harapan masyarakat. Fenomena itu ditandai
dari rendahnya mutu lulusan, penyelesaian
masalah pendidikan yang tidak sampai tuntas,
atau cenderung tambal sulam, bahkan
lebih berorientasi proyek. Akibatnya, seringkali hasil pendidikan mengecewakan masyarakat. Mereka terus mempertanyakan relevansi pendidikan dengan kebutuhan masyarakat dalam dinamika kehidupan ekonomi, politik, sosial, dan budaya. Kualitas lulusan pendidikan kurang sesuai dengan kebutuhan
pasar tenaga kerja dan pembangunan, baik industri, perbankan, telekomunikasi, maupun pasar tenaga kerja sektor
lainnya yang cenderung menggugat eksistensi sekolah. Bahkan Sumber Daya Manusia
(SDM) yang disiapkan melalui
pendidikan sebagai generasi penerus belum sepenuhnya memuaskan bila dilihat dari segi
akhlak, moral, dan jati diri bangsa dalam
kemajemukan budaya bangsa.
Hal tersebut
masih sangat kontradiktif dengan Undang-Undang Republik Indonesia nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan
Nasional (SISDIKNAS) bab II pasal
3 disebutkan bahwa
Pendidikan Nasional berfungsi mengembangkan
kemampuan dan membentuk watak serta peradaban
bangsa dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak
mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga Negara yang demokratis serta bertanggungjawab. Pada bab III pasal 4 ayat 6 disebutkan bahwa prinsip penyelenggaraan pendidikan adalah dengan memberdayakan semua komponen masyarakat melalui peran serta dalam
penyelenggaraan dan pengendalian
mutu layanan pendidikan. Semakin berkembangnya dunia, pendidikan menuntut setiap lembaga pendidikan berbenah diri untuk
meningkatkan mutunya. Peningkatan mutu merupakan syarat mutlak yang harus dipenuhi oleh setiap lembaga pendidikan agar tetap eksis di dunia pendidikan. Upaya dalam peningkatan mutu pendidikan merupakan usaha yang harus dilakukan secara terus menerus
untuk tercapainya pendidikan yang berkualitas, pendidikan yang berkualitas juga merupakan kunci dari mutu pendidikan
(Fadhli, 2016).
Mutu pendidikan merupakan kesesuaian antara kebutuhan pihak-pihak yang berkepentingan (stakeholder)
dengan layanan yang diberikan oleh pengelola pendidikan. Kerangka filosofi pendidikan dalam pengembangan lembaga pendidikan bermutu adalah kesesuaian input, proses dan hasil
sekolah dengan kebutuhan para stakeholder dan kebutuhan
peserta didik.
Masalah
mutu pendidikan di
Indonesia menjadi salah satu
isu sentral dalam pendidikan, terutama berkaitan dengan rendahnya mutu pendidikan pada setiap jenjang dan satuan pendidikan (Rif�ah, 2014).
Rendahnya mutu pendidikan ini sebenarnya merupakan diskusi yang telah lama ada. Namun hingga
saat ini permasalahan mutu pendidikan tidak juga kunjung selesai. Pendidikan yang berkualitas merupakan harapan dan tuntutan seluruh stakeholder pendidikan. Menyadari hal tersebut,
pemerintah telah melakukan berbagai upaya untuk meningkatkan
mutu pendidikan nasional.
Menciptakan
sebuah lembaga pendidikan yang bermutu sebagaimana yang diharapkan banyak orang atau masyarakat bukan hanya menjadi tanggung
jawab sekolah/ madrasah, tetapi merupakan tanggung jawab dari semua pihak
termasuk di dalamnya orang tua dan dunia usaha sebagai customer internal dan eksternal
dari sebuah lembaga pendidikan. (Poerwanegara, 2002)
menyampaikan ada enam unsur dasar
yang memengaruhi suatu produk yaitu: Manusia,
Metode, Mesin, Bahan, Ukuran, dan Evaluasi Berkelanjutan. Untuk itu perlu
mengantisipasi keadaan ini dengan memperkuat
kemampuan bersaing diberbagai bidang dengan pengembangan Sumber Daya Manusia
(Nst, 2018).
Sayangnya SDM kita saat ini memprihatinkan.
Upaya peningkatan SDM, peranan pendidikan sangat signifikan. Oleh karena itu, sangat
penting bagi pembangunan nasional untuk memfokuskan peningkatan mutu pendidikan. Pendidikan yang bermutu
akan diperoleh pada sekolah yang bermutu, dan sekolah yang bermutu akan menghasilkan SDM yang bermutu pula. TQM (Total Quality Management) dan Total
Quality Management in Education (TQME) telah dan akan diterapkan di lembaga-lembaga pendidikan. Prinsip manajemen ini adalah pengawasan
menyeluruh dari seluruh anggota lembaga pendidikan terhadap kegiatan Organisasi (Yusuf et al., 2021).
Penerapan TQM berarti semua warga sekolah
bertanggung jawab atas kualitas pendidikan.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hasil akhir dari manajemen
mutu terpadu dalam pendidikan Islam.
Metode Penelitian
Penelitian dengan judul
�Manajemen Mutu Terpadu dalam Pendidikan Islam� ini menggunakan jenis penelitian kualitatif kepustakaan (library
research) dengan metode
deskriptif analisis. Metode deskriptif analisis yaitu penulis menjelaskan dan memaparkan mengenai topik yang dibahas. Teknik pengumpulan data yang digunakanyaitu
kajian literatur yang berasal dari sumber
atau referensi yang digunakan dalam penulisan jurnal ini.
Hasil dan Pembahasan
1.
Manajemen Mutu Terpadu
Manajemen berasal
dari kata �to manage� yang artinya mengatur. Pengaturan dilakukan melalui proses dan diatur berdasarkan urutan dari fungsi-fungsi manajemen itu, jadi manajemen itu merupakan suatu
proses untuk mewujudkan tujuan yang diinginkan (Hasibuan et al., 2018).
Manajemen Mutu Terpadu (Total Quality Management) dalam konteks pendidikan
merupakan sebuah filosofi metodologi tentang perbaikan secara terus menerus,
yang dapat memberikan seperangkat alat praktis kepada setiap institusi pendidikan dalam memenuhi kebutuhan, keinginan, dan harapan pelanggan, saat ini maupun masa yang akan datang (Sallis, 2014).
Sedangkan (Ilyas, 2019),
menyampaikan bahwa TQM merupakan suatu sistem manajemen yang mengangkat kualitas sebagai strategi usaha yang berorientasi pada kepuasan pelanggan dengan melibatkan seluruh anggota organisasi.
Total
Quality Management merupakan suatu pendekatan dalam menjalankan usaha yang mencoba untuk memaksimalkan daya saing organisasi
melalui perbaikan terus menerus atas
produk, jasa, manusia, tenaga kerja, proses, dan lingkungan (Indriyenni, 2017).
Manajemen Mutu Terpadu atau Total
Quality Management (TQM) menurut Tjiptono dan Diana dalam (Usman & Oyefolahan, 2014)
adalah suatu pendekatan dalam usaha memaksimalkan daya saing melalui
perbaikan secara terus menerus atas
jasa, manusia, produk dan lingkungan. Sedangkan menurut Burnham manajemen mutu terpadu yaitu: semua fungsi dari
organisasi sekolah ke dalam falsafah
holistis yang dibangun berdasarkan konsep mutu, kerja tim,
produktivitas dan prestasi derta kepuasan pelanggan (Syukri et al., 2019).
Menurut (Basir & Ro�ifah, 2015)
TQM adalah sistem manajemen yang menjunjung tinggi efisiensi. Sistem manajemen ini sangat meminimalkan
proses birokrasi. Sistem sekolah yang birokratis akan menghambat potensi perkembangan sekolah itu sendiri.
Selain kebebasan berpendapat juga harus ada kebebasan informasi.
Harus ada informasi yang jelas mengenai arah organisasi sekolah, baik secara
internal organisasi maupun secara nasional. Secara internal, manajemen harus menyediakan informasi seluas- luasnya bagi warga
sekolah. Termasuk dalam hal arah
organisasi adalah program-program,
serta kondisi finansial (Nst, 2018).
Menurut (Nasution, 2005)
Manajemen Mutu Terpadu adalah manejemen fungsional dengan pendekatan yang secara terus menerus
difokuskan pada peningkatan
kualitas, agar produknya sesuai dengan standar
kualitas dari masyarakat yang dilayani dalam pelaksanaan tugas pelayanan umum (public service) dan pembangunan masyarakat (community
development) (Putri & Afriansyah, 2019).
2.
Unsur-unsur Manajemen Mutu Terpadu
Pendidikan Dalam penerapannya
dalam bidang pendidikan, ada sepuluh unsur utama
TQM, yaitu:
a.
Fokus pada Pelanggan Dalam TQM, baik pelanggan internal maupun pelanggan eksternal merupakan driver. Pelanggan eksternal menentukan kualitas produk atau jasa
yang disampaikan kepada mereka, sedangkan pelanggan internal berperan besar dalam menentukan
kualitas tenaga kerja, proses dan lingkungan yang
berhubungan dengan produk dan jasa.
b.
Obsesi Terhadap Kualitas Dalam organisasi yang menerapkan TQM, pelanggan
internal dan eksternal menentukan
kualitas. Dengan kualitas yang ditetapkan tersebut, organisasi harus terobsesi untuk memenuhi atau melebihi apa
yang ditentukan mereka.
c.
Pendekatan ilmiah Pendekatan ilmiah sangat diperlukan
dalam penerapan TQM, terutama untuk mendesain pekerjaan dan dalam proses pengambil keputusan dan pemecahan masalah yang berkaitan dengan pekerjaan yang didesain tersebut. Dengan demikian, data diperlukan dan dipergunakan dalam menyusun patok duga (benchmark), meminta prestasi dan melaksanakan perbaikan.
d.
Komitmen Jangka Panjang TQM merupakan suatu paradigma baru dalam manajemen
sekolah, untuk itu dibutuhkan budaya mutu dalam
sekolah. oleh karena itu, komitmen jangka
panjang sangat penting guna mengadakan
perubahan budaya agar penerapan TQM dapat berjalan dengan sukses.
e.
Kerja Sama Tim Dalam TQM, kerja sama tim, kemitraan
dan hubungan dijalin dan dibina dengan seluruh
stakeholder pendidikan.
f.
Perbaikan Sistem Secara Berkesinambungan,
hal ini karena
sistem yang diperbaiki secara terus menerus
akan meningkatkan kualitas dan mutu.
g.
Pendidikan dan Pelatihan
Pendidikan dan pelatihan merupakan
faktor fundamental. Setiap sumber daya manusia
didorong untuk terus belajar untuk
dapat meningkatkan keterampilan, kompetensi dan keahlian profesionalnya.
h.
Kebebasan yang Terkendali Dalam TQM, keterlibatan dan pemberdayaan seluruh sumber daya manusia dalam
pengambilan keputusan dan pemecahan masalah merupakan unsur yang sangat penting, dengan demikian keterlibatan dan kebebasan berpartisipasi merupakan unsur dalam TQM.
i.
Kesatuan Tujuan Supaya TQM dapat diterapkan dengan baik, maka
instansi pendidikan harus memiliki kesatuan tujuan yang diarahkan pada tujuan yang sama.
j.
Adanya Keterlibatan dan Pemberdayaan.
3.
Prinsip, Model dan Keuntungan Manajemen Mutu Terpadu
Pada dasarnya TQM dalam dunia pendidikan menurut franklin P. Schargel sebagaimana dikutip oleh Syafarudin dikatakan bahwa Total
qulity management education is process wich involves focusing on meeting and exceeding customer
expectations, continous improvement, sharing
responsibilities with employess, and reducing scraf and rework. Artinya
bahwa mutu terpadu pendidikan dipahami sebagai suatu proses yang melibatkan pemusatan pada pencapaian kepuasan harapan pelanggan pendidikan, perbaikan terus menerus, pembagian tanggung jawab, dengan para pegawai, dan pengurangan pekerjaan tersisa dan pengerjaan kembali. Dengan mengkombinasikan prinsip-prinsip tentang mutu oleh para ahli dengan pengalaman
praktek telah dicapai pengembangan suatu model sederhana akan tetapi sangat
efektif untuk mengimplementasikan manajemen mutu terpadu di sekolah. Model tersebut terdiri dari komponen-komponen
berikut:
Tujuan ��: Perbaikan terus menerus, artinya mutu selalu
diperbaiki dan disesuaikan dengan perubahan yang menyangkut kebutuhan dan keinginan pelanggan.
Prinsip������� : Fokus pada pelanggan, perbaikan proses dan keterlibatan
total.
Elemen����� : Kepemimpinan, pendidikan dan pelatihan, struktur pendukung, komunikasi, ganjaran dan pengakuan serta pengukuran.
Model di atas dibentuk berdasarkan
tiga prinsip mutu terpadu yaitu:
a.
Fokus pada pelanggan Prinsip mutu, yaitu memenuhi
kepuasan pelanggan (customer
satisfaction). Dalam manajemen mutu terpadu, pelanggan
dibedakan menjadi dua, yaitu: Pelanggan
internal (di dalam organisasi
sekolah) dan Pelanggan eksternal (di luar organisasi sekolah). Organisasi dikatakan bermutu apabila kebutuhan pelanggan bisa dipenuhi dengan
baik. Dalam arti bahwa pelanggan internal, misalnya guru, selalu mendapat pelayanan yang memuaskan dari petugas TU, Kepala Sekolah selalu puas terhadap hasil
kerja guru dan guru selalu menanggapi keinginan siswa.begitu pula pada pelanggan eksternal misalnya masyarakat sekitar.
b.
Perbaikan proses Konsep perbaikan terus menerus dibentuk
berdasarkan pada premisi suatu seri (urutan)
langkah-langkah kegiatan
yang berkaitan dengan menghasilkan output. Perhatian secara terus menerus
bagi setiap langkah dalam proses kerja sangat penting
untuk mengurangi keragaman dari output dan memperbaiki keandalan. Tujuan pertama perbaikan secara terus menerus adalah
proses yang handal, dalam
arti bahwa dapat diproduksi yang diinginkan setiap saat tanpa
variasi yang diminimumkan. Apabila keragaman telah dibuat minimum dan hasilnya belum dapat diterima maka tujuan kedua
dari perbaikan proses ialah merancang kembali proses tersebut untuk memproduksi output yang lebih dapat memenuhi
kebutuhan pelanggan, agar pelanggan baik yang internal maupun yang eksternal menjadi puas.
c.
Keterlibatan total Pendekatan ini dimulai dengan kepemimpinan manajemen senior
yang aktif dalam hal ini kepala
sekolah dan mencakup usaha yang memanfaatkan bakat semua warga
sekolah untuk mencapai suatu keunggulan kompetitif (competitive
advantage) di dunia pendidikan. Warga
sekolah wewenang/kuasa untuk memperbaiki
output melalui kerjasama dalam struktur kerja baru yang luwes (fleksibel) untuk memecahkan persoalan, memperbaiki proses dan
memuaskan.
4.
Implementasi Total Quality Management dalam
pendidikan
Implementasi TQM pada sistem pendidikan sudah dijalankan tetapi belum optimal. Tujuan utama TQM dalam pendidikan adalah meningkatkan mutu pendidikan secara berkelanjutan, terus-menerus, dan terpadu. Pencapaian tujuan dapat diwujudkan menggunakan prinsip-prinsip pemfokusan pada pengguna, peningkatan kualitas pada proses,
dan pelibatan semua komponen pendidikan. Sudah banyak ditemui
di bidang pendidikan banyak instansi seperti sekolah-sekolah yang menerapkan TQM ini untuk menunjang mutu pendidikan di sekolah tersebut. Dengan penerapan Total
Quality Management yang baik sekolah tersebut bisa dengan muda
mencapai mutu yang ingin dicapai.
Kesimpulan
Manajemen mutu
terpadu (TQM) adalah suatu sistem manajemen
kualitas yang berfokus pada
pelanggan dengan meningkatkan semua level karyawan dalam melakukan peningkatan atau perbaikan yang berkesinambungan yaitu secara terus menerus.
Penerapan TQM dalam bidang pendidikan dilakukan oleh orang yang ahli
pada bidangnya dengan upaya lebih dari
pihak pimpinan pendidikan agar mutu pendidikan benar-benar terjamin. Baik dari segi kualitas
maupun dari segi kuantitasnya. Penerapan manajemen mutu terpadu pada bidang pendidikan dapat menjadi langkah
yang bagus untuk sekolah dalam membangun
pemikiran positif masyarakat terhadap sekolah tersebut. Dalam mencapai hasil tersebut, implementasi TQM di dalam organisasi pendidikan Islam perlu dilakukan dengan sebenarnya tidak dengan setengah
hati. Dengan memanfaatkan semua entitas kualitas yang ada dalam organisasi
maka pendidikan kita tidak akan
jalan di tempat seperti saat ini.
Implementasi TQM di organisasi
Pendidikan khususnya di lembaga
pendidikan Islam memang tidak mudah.Adanya
hambatan dalam budaya kerja, unjuk
kerja dari guru dan karyawan sangat mempengaruhi. Tidak perlu dipungkiri bahwa budaya kerja,
unjuk kerja dan disiplin pegawai negeri sipil di negara kita ini sangat rendah.Ini
sangat mempengaruhi efektivitas implementasi TQM.
Pada intinya, implementasi
TQM di organisasi pendidikan
khususnya sekolah masih akan terasa
berat. Diperlukan adanya kesungguhan dari warga sekolah
secara bersama, sadar, dan berkeinginan yang kuat untuk maju.
BIBLIOGRAFI
Basir,
U. P. M., & Ro�ifah, A. (2015). Adolescents Java Dialectict in Surabaya
Bilingual Images and Optional Language Model in Java Community. International
Journal of Humanities and Social Science, 5(4), 9. Google Scholar
Fadhli,
M. (2016). Manajemen Peningkatan Mutu Pendidikan. ITQAN: Jurnal Ilmu-Ilmu
Kependidikan, 7(1), 103�113. Google Scholar
Hasibuan,
A. A., Syah, D., & Marzuki, M. (2018). Manajemen Pendidikan Karakter di
SMA. Tarbawi: Jurnal Keilmuan Manajemen Pendidikan, 4(02),
191�212. Google Scholar
Ilyas,
Y. (2019). Strategi Implementation Of Total Quality Management In Education
Institutions. Journal Of Educational Experts (JEE), 2(1), 11�14. Google Scholar
Indriyenni,
I. (2017). Total Quality Management in Islamic Education Institution. Ta�dib,
20(1), 51�61. Google Scholar
Joon,
V., Chandra, A., & Bhattacharya, M. (2009). Household energy consumption
pattern and socio-cultural dimensions associated with it: A case study of rural
Haryana, India. Biomass and Bioenergy, 33(11), 1509�1512. Google Scholar
Nasution,
M. N. (2005). Manajemen mutu terpadu. Bogor: Ghalia Indonesia. Google Scholar
Nst,
M. H. (2018). Manajemen Mutu Terpadu Dalam Pendidikan Islam. Al-Muaddib:
Jurnal Ilmu-Ilmu Sosial Dan Keislaman, 3(1). Google Scholar
Poerwanegara,
S. (2002). Filosofi Baru Tentang Manajemen Mutu Terpadu, Cet. I; Jakarta: PT. Bumi
Aksara. Google Scholar
Putri,
S. D., & Afriansyah, H. (2019). Meningkatkan Mutu Pendidikan Di Era
Otonomi Pendidikan. INA-Rxiv. Google Scholar
Rif�ah,
R. (2014). Pemetaan Mutu Pendidikan Sekolah Dasar Negeri Se Kecamatan Muara
Komam Kabupaten Paser. STIE Indonesia Banjarmasin. Google Scholar
Sallis,
E. (2014). Total quality management in education. Routledge. Google Scholar
Syukri,
M., Arianto, A., Annisa, A., & Aziza, S. (2019). Implementasi Manajemen
Mutu Terpadu Di Sekolah Tinggi Tekhnologi Sinar Husni Medan. Sabilarrasyad:
Jurnal Pendidikan Dan Ilmu Kependidikan, 4(2), 69�83. Google Scholar
Usman,
S. H., & Oyefolahan, O. (2014). Determinants of knowledge sharing using web
technologies among students in higher education. Journal of Knowledge
Management, Economics and Information Technology, 4(2), 1�22. Google Scholar
Windryani,
F., & Afriansyah, H. (2019). Implementasi Manajemen Mutu Terpadu Dalam
Meningkatkan Kualitas Pendidikan. Google Scholar
Yusuf,
E., Indra, H., & Sa�diyah, M. (2021). Implementation of Integrated Quality
Strategic Management of Islamic Perspective Education. International Journal
of Nusantara Islam, 9(1), 197�205. Google Scholar
|
Copyright holder : Ayu Annisa, Pinkan Gyfend (2021). |
|
First publication right
: This article is licensed under: |