|
Jurnal
Syntax Transformation |
Vol. 2
No. 7, Juli 2021 |
|
p-ISSN :
2721-3854 e-ISSN : 2721-2769 |
Sosial
Sains |
DAMPAK PERILAKU MALADAPTIF BAGI ANAK YANG DIJADIKAN
PENGEMIS OLEH ORANG TUA SEBAGAI BENTUK EKSPLOITASI DI MAKAM KH. SYEKH ASNAWI
CARINGIN
Ati Sumiyati, Sholih, Alfiandy Warih Handoyo
Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (UNTIRTA) Banten,
Indonesia�������
Email
: [email protected], [email protected], [email protected]
|
INFO ARTIKEL |
ABSTRAK |
|
Diterima 10 Juni 2021 Direvisi 20 Juni 2021 Disetujui 30 Juni 2021 |
Eksploitasi umumnya dilakukan di kota-kota besar. Hal ini tidak terkecuali terjadi pula di kawasan wisata ziarah makam KH. Syekh Asnawi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran eksploitasi yang di lakukan oleh orang tua untuk menjadikan anak sebagai pengemis di kawasan wisata makam KH. Syekh Asnawi dengan melihat dari sudut pandang
perilaku maladaptif yang diakibatkan sebagai dampak dari adanya
eksploitasi, mengetahui faktor penyebab anak di eksploitasi oleh orang tua, dan mengetahui upaya layanan yang dapat di berikan untuk mereduksi perilaku maladaptif dari korban eksploitasi anak untuk dijadikan
pengemis di kawasan wisata ziarah makam KH. Syekh Asnawi. Pendekatan kualitatif dengan menggunakan metode studi kasus dilakukan
kepada 5 informan, dimana terdiri dari 3 orang pengemis anak, 1 orang dari salah satu orang tua informan pengemis anak, dan 1 orang pengelola kawasan wisata ziarah makam KH. Syekh Asnawi. Pengumpulan data diperoleh melalui observasi dan melalui wawancara secara langsung. Uji keabsahan data menggunakan reduksi data, display
data, dan penarikan kesimpulan.
Hasil penelitian menunjukan
bahwa dari 3 informan pengemis anak, 2 diantaranya merupakan korban eksploitasi anak untuk dijadikan
pengemis oleh orang tua
dan memiliki tendensi berdampak pada perilaku maladaptif yang di tunjukkan
oleh anak, faktor anak dieksploitasi oleh orang tua sebagai pengemis
yaitu faktor ekonomi yang rendah, pengawasan orang tua yang rendah, dan tidak adanya penegakan hukum yang berlaku. Eksploitasi anak memunculkan adanya perilaku maladaptif pada anak, maka dari
itu pemberian konseling dengan menggunakan teknik Rational Emotive Behaviour
Therapy (REBT) harus di berikan
dengan tujuan dapat mereduksi perilaku maladaptif pada anak korban eksploitasi orang tua. ABSTRACT Exploitation is
generally carried out in big cities.�
This is no exception also happened in the pilgrimage tourism area of
KH's tomb.� Sheikh Asnawi.� This study
aims to determine the description of exploitation carried out by parents to
make children as beggars in the tourist area of
KH's grave.�
Sheikh Asnawi by looking at the maladaptive
behavior caused by exploitation, knowing the factors that cause children to
be exploited by their parents, and knowing the service efforts that can be
provided to reduce maladaptive behavior from victims of child exploitation to
become beggars in pilgrimage tourism areas.�
KH's grave.� Sheikh Asnawi.� A
qualitative approach using the case study method was carried out to 5
informants, consisting of 3 child beggars, 1 person from one of the child
beggar informants' parents, and 1 manager of the KH tomb pilgrimage tourism
area.� Sheikh Asnawi.� Data collection was obtained through
observation and through direct interviews.�
Test the validity of the data using data reduction, data display, and
drawing conclusions.� The results
showed that of the 3 child beggar informants, 2 of them were victims of child
exploitation to be used as beggars by their parents and had a tendency to
have an impact on maladaptive behavior shown by children, the child factor
was exploited by parents as beggars, namely low economic factors, supervision� low
parenthood, and the absence of applicable law enforcement.� Exploitation of children leads to
maladaptive behavior in children, therefore counseling using the Rational
Emotive Behavior Therapy (REBT) technique should be given with the aim of
reducing maladaptive behavior in children who are victims of parental
exploitation. |
|
Kata Kunci: pengemis anak;
eksploitasi anak;
perilaku maladaptif; rational emotive behaviour therapy (REBT) Keywords: child begging; child exploitation; maladaptive behavior; rational
emotive behavior therapy (REBT) |
|
|
|
|
Pendahuluan
Kemiskinan
ialah permasalahan yang harus diatasi dan dikendalikan, kerena satu diantara penyebab
tindak negatif yang terjadi di masyarakat dimana keadaan tidak bisa memenuhi
kebutuhan dasar seperti pangan, kesehatan dan pendidikan. Kemiskinan dapat disebabkan oleh kelangkaan alat pemenuh kebutuhan
dasar, ataupun sulitnya akses terhadap pendidikan dan pekerjaan dalam penelitian (Akbarian, 2015).
Sesuai dengan penelitian sebelumnya pada (Ferezagia, 2018)
menyebutkan menurut Badan
Pusat Statistik memaknai kemiskinan selaku ketidak mampuan individu guna mencukupi
keperluan dasar minimun guna hidup
layak lebih jauh dinamai kemiskinan
ialah suatu keadaan yang ada dibawah garis nilai standar kebutuhan minimal, baik untuk makanan
serta non makanan yang dinamai garis kemiskinan (proverty line)
ataupun dinamai pula batas kemiskinan (poverty treshold).
Untuk
memenuhi kebutuhan dasar inilah beberapa
orang menggunakan cara untuk bisa melangsungkan
hidupnya dengan memenuhi kebutuhan dasar. Cara yang digunakan beragam, seperti disebutkan dalam penelitian (Supraptiningsih,
2012)
bahwa sosial serta ekonomi sebuah
wilayah pastinya jadi faktor yang dominan bagaimana rakyatnya bertindak dan cara mereka menuntaskan persoalan yang dihadapi di Kecamatan Labuan tepatnya di Desa Caringin masyarakat
memanfaatkan objek wisata ziarah makam
Syekh KH. Asnawi untuk bisa memenuhi
kebutuhan dasar minimal untuk bertahan hidup.
Objek
Pariwisata inilah yang mendorong penjelasan dari Utama dalam penelitian (Fachri, 2018)
kesadaran pembangunan kepariwisataan tiada memfokuskan pertimbangan unsur sosial yang matang hendak membawa
malapetaka untuk rakyat, utamanya dilokasi pariwisata. Kepariwisataan ialah sebuah aktivitas yang secara langsung menyentuh serta mengaitkan rakyat setempat hingga membawa beragam efek pada rakyat setempat. Misalnya, mampu ditinjau dari jabaran Pitana
yakni efek Pariwisata pada rakyat kerapkali ditinjau dari korelasi antara
rakyat bersama wisatawan mengakibatkan berlangsungnya proses komoditisasi
serta komersialisasi dari keramahtamahan warga lokal.
Bentuk
dari komoditas dan komersialisasi yang terjadi di komplek wisata makam Syekh KH. Asnawi sesuai dengan
hasil observasi dilapangan yaitu berupa banyaknya pedagang yang menawarkan berbagai macam dagangannya diantaranya pedagang minuman, snack dan berbagai aksesoris dan oleh-oleh lainnya serta ada
juga orang yang menawarkan jasa
untuk menjadi juru do�a. Namun,
dibalik itu semua terdapat masyarakat yang memanfaatkan komplek wisata tersebut untuk melakukan kegiatan mengemis. Pengemis di kawasan wisata ziarah makam KH. Syekh. Asnawi Caringin
merupakan penyumbang terbesar atas banyak
nya kasus pengemis di Kecamatan Labuan. Terlebih selaras bersama capaian wawancara yang dilaksanakan bersama pengelola tempat penelitian bahwa peneliti menemukan data yaitu sebanyak 47 orang pengemis yang terdiri dari orang dengan mempunyai cacat fisik, orang dewasa yang mempunyai lapak sendiri untuk
meminta sedekah dari pengunjung, maupun anak-anak yang setiap hari Sabtu
sampai Minggu atau hari Libur
yang mempunyai kegiatan untuk menjadi pengemis
atau menadah ke pengunjung makam.
Perihal
ini sudah mengakibatkan fenomena pengemis anak di Kecamatan Labuan kian marak, Budi Rajab dalam menjabarkan masalah pengemis ada sebab
masih banyak rakyat Indonesia yang hidup dalam kemiskinan (Supriyadi, 2016).
Masyarakat yang jadi pengemis
sebab efek budaya malas. Rakyat umumnya ingin hidup lebih
baik namun lewat kerja yang minimal. Berdasar Permensos No. 08 Tahun 2012 tentang Pedoman Pendataan dan Pengelolaan Data Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial dan Potensi dan Sumber Kesejahteraan Sosial, yang dimaknai selaku �pengemis� ialah individu yang memperoleh pendapatan dengan meminta-minta di muka umum lewat
beragam cara serta alasan guna
mencitakan belas kasihan dari individu
lainnya (Mentri Sosial, 2012).
Dilihat
dari pengamatan peneliti dengan sumber wawancara yang dilaksanakan bersama pihak pengelola, anak yang melakukan kegiatan mengemis merupakan anak dari orang tuanya yang juga mempunyai kegiatan disekitaran kawasan makam Syekh KH. Asnawi Caringin. Dengan melihat potensi atas banyaknya
pengunjung dari kawasan wisata ini dengan rata-rata setiap Minggu nya
berkisar antara 2000 orang dari luar daerah
merupakan pengunjung yang memenuhi kawasan wisata ziarah maka
orang tua dari anak-anak tersebut menjadikan anak-anaknya untuk melakukan kegiatan yang dapat mendatangkan uang. Dalam hal ini kasus
eksploitasi terhadap anak pun juga meningkat. Dalam penelitian (Yuniarti, 2012)
menyebutkan masalah eksploitasi anak selaku pengemis ialah wujud persoalan
sosial yang berlangsung dirakyat. Eksploitasi yang dijalani anak untuk
dijadikan pengemis hendak berefek buruk untuk perkembangan
anak baik mental, sosial ataupun fisiknya. Anak yang mengemis tak mendapat serta
merasakan perhatian serta kasih sayang
dari keluarganya. Pengemis anak akan
menghabiskan waktu sehari-harinya di tempat yang dijadikan guna bekerja. Pekerjaan yang akan membuat anak-anak
pengemis ini dapat melakukan berbagai macam penyimpangan perilaku yang didasari oleh dampak dari pekerjaannya.
Eksploitasi
pada pengemis anak yang dilaksanakan oleh orangtua hampir besar dilaksanakan
sebab faktor ekonomi yang pas-pasan hingga orangtua terpaksa menyuruh atau membiarkan anaknya mengemis. Hal itu sesuai dengan
hasil observasi yang dilakukan kepada anak-anak yang mengemis di wisata ziarah makam
Syekh KH. Asnawi Caringin. Dimana, karena faktor ekonomi yang membuat anak-anak itu melakukan pekerjaanya
sebagai pengemis dan mengharap belas kasihan para pengunjung yang berziarah. Biasanya, anak-anak tersebut akan mendatangi pengunjung untuk menadah tangan dan mengharap untuk diberi uang.
Eksploitasi
yang diterima oleh pengemis
anak ini akan memunculkan kecenderungan perilaku dari pengemis anak.
Beberapa kecenderungan inipun merupakan bentuk manifestasi yang akan menciptakan suatu aktivitas yang bisa meliputi aktivitas
fisik, mental, sosial, dan ekonomi. Selaras bersama studi yang dilaksanakan oleh (Martawijaya, 2016)
tentang aktivitas yang disebutkan berkonotasi kepada aktivitas yang menyimpang.
Aktivitas
menyimpang ini dilakukan oleh pengemis anak di kawasan makam Syekh KH. Asnawi dengan keadaan
sadar. Dimana bentuk perilakunya berupa mengejek sesama teman, merundung dan juga melakukan pemalakan kepada sesama pengemis
anak lain. Dikarenakan tidak adanya pengawasan
dari orang tua untuk mengontrol perilaku anak maka
pengemis anak ini merasa bahwa
sudah mampu atas dirinya sendiri
dan berhak untuk melakukan tindakan apapun tanpa perduli
bahwa itu akan menyakiti temannya.
Anak ialah
aset yang amat berharga guna keluarga
serta rakyat umumnya. Lingkungan serta dukungan sosial-masyarakat yang baik, hendak membuat anak selaku sebuah
generasi yang baik. Tetapi tak seluruh
anak mempunyai peluang guna tumbuh
serta berkembang secara lebih baik
dihidupnya. Banyak dari mereka yang menjalani persoalan sosial yang serius, baik psiokologis,
fisiologis, ekonomis serta lainnya. Beragam permasalahan yang ada itu, ialah
sebuah yang tak diinginkannya. Keadaan eksternal di luar dirinya yang paling banyak jadi penyebabnya. Baik dari lingkungan
yang paling kecil yakni keluarga, ataupun lingkungan yang luas yakni rakyatnya, bahkan negara dalam studi (Kumala et al., 2017).
Berkembangnya
persoalan sosial anak, ialah rantai
dari persoalan sosial lainnya, yang kebanyakan ialah persoalan sosial dari orang dewasa ataupun orang tua. Maka persoalan sosial anak ialah
dampak domino dari permasalahan rakyat yang lebih luas. Persoalan
sosial anak hendak berdampak pada buruknya keadaan kehidupan bermasyarakat, berbangsa serta bernegara. Anak bermasalah sosial lazimnya pula dinamai dengan istilah anak rawan,
tingkat kerawanan anak mampu dimengerti
selaku keadaan, kondisi serta tekanan
kultur ataupun struktur
yang mengakibatkan mereka belum ataupun tak
terpenuhi hak-haknya serta kerapkali diselewengkan hak-haknya, mengakibatkan mereka jadi inferior, rentan serta termarginalkan. Mereka yang rentan serta marginal, kehidupannya kerap jadi korban keadaan sosial, tereksploitasi serta menerima diskriminasi dan perlakuan salah oleh lingkungannya
(Kusmanto, 2013).
Dari kekhawatiran
atas dampak perilaku maldaptif bagi anak yang di jadikan pengemis oleh orang tua sebagai bentuk
eksploitasi di makam Syekh KH. Asnawi Caringin inilah, peneliti akhirnya ingin mengetahui lebih jauh gambaran
dari anak yang dieksploitasi untuk dijadikan pengemis dan upaya bimbingan konseling untuk mereduksi perilaku maladaptif sebagai akibat dari kegiatan
yang diterima oleh anak sebagai korban eksploitasi inilah maka peneliti
mengambil tema ini untuk dijadikan
study dalam penelitian yang
akan dilakukan serta dapat mengaitkan
permasalahan ini dalam perspektif bimbingan dan konseling sebagai landasan keilmuannya.
Metode Penelitian
Jenis penelitian yang peneliti gunakan adalah penelitian studi kasus. Yin (Pongtiku et al., 2016) berpendapat
bahwa penelitian studi kasus cocok
dilakukan untuk penelitian yang mengacu pada pertanyaan �how� atau �why� pada permasalahan yang terjadi dalam kehidupan masyarakat. Jadi, penelitian studi kasus merupakan
penelitian yang digunakan untuk mengungkap suatu masalah atau
topik yang terjadi di kehidupan nyata pada saat ini, dengan
berfokus pada jawaban �bagaimana� dan �mengapa�. Studi kasus dalam
penelitian ini dilaksanakan untuk menjawab mengapa individu yang menjadi subyek penelitian dapat melakukan eksploitasi terhadap anak dan menjadikan anak sebagai pengemis
di makam KH. Syekh Asnawi Caringin. Selain itu dapat
membantu pemerintah setempat untuk menindak lanjuti para pelaku eksploitasi anak ditempat tersebut.
Proses itu dapat ditemukan setelah dilakukakan penggalian data secara mendalam terhadap subyek berkaitan dengan motif dan faktor yang mempengaruhinya.
Populasi yang menjadi objek
penelitian ini yaitu pengemis anak di kawasan wisata ziarah makam
KH. Syekh Asnawi Caringin dengan sample penelitian 3 orang pengemis anak. Analisis data yang digunakan yaitu reduksi data, sajian data dan penarikan kesimpulan.
Hasil dan Pembahasan
A.
Hasil
Penelitian
1.
Deskripsi objek penelitian
Lokasi penelitian
ini dilakukan di kawasan wisata ziarah makam KH. Syekh Asnawi Caringin.
Tempat ini beralamat di Jl. Makam Syech Asnawi, Caringin,
Labuan Kabupatn Pandeglang,
Banten. 42264. Makam KH. Syekh
Asnawi ramai dikunjungi oleh berbagai kalangan dari pelosok
yang hampir setiap hari. Dengan hanya
membayar parkir ketika di tempat dengan nominal Rp. 10.000/mobil, maka penziarah sudah bisa memasuki
kawasan makam tanpa ada biaya
HTM/orang jelas saja membuat makam ini
banyak di kunjungi dan tidak mengenal momentum saja. Namun, ketika
sudah memasuki rute makam, para penziarah akan disuguhkan dengan kotak-kotak amal dan orang-orang
yang meminta shodaqoh namun tanpa
di paksa untuk memberi. Lokasi makam pun dekat dengan pantai
yang akan membuat para wisatawan dapat menikmati keindahan alam di sekitaran kawasan tersebut.
2.
Deskripsi temuan penelitian
Pada dasarnya
anak dengan usia di bawah 15 tahun tidak seharusnya
melakukan kegiatan untuk mencari uang. Namun, pada kenyataanya di kawasan wisata ziarah makam KH. Syekh Asnawi Caringin
ini masih banyak anak-anak yang melakukan kegiatan untuk mencari uang, dengan berbagai faktor yang menjadi alasan bagi anak-anak
itu untuk berkeliaran mencari uang di sekitaran kawasan tersebut. Karena mengingat tugas dan kewajiban seorang anak pada masa ini adalah untuk
belajar bukan berkewajiban mencari uang. Dari pandangan peneliti terkait hak dan kewajiban bagi anak ini akhirnya
peneliti merasa bahwa fenomena anak yang mencari uang di sekitaran kawasan wisata makam KH. Syekh Asnawi Caringin
ini perlu adanya perhatian, terlebih dengan kegiatan yang dilakukan anak terkait mencari
uang ini akan menimbulkan berbagai macam permasalahan pribadi dan sosial anak, diantaranya akan berdampak pada perilaku maladaptif dari anak yang menjadi fokus utama
untuk dilakukan penanganan. Berdasarkan wawancara yang dilakukan peneliti pada pengelola kawasan wisata tersebut dibenarkan adanya tentang keberadaan pengemis anak yang di eksploitasi berikut paparannya. �uhmmm.. itu neng
nyari uangnya yaa ada yang jualan
plastik, ada yang baramaen tapi kalo
anak-anak mah banyaknya baramaen tea mah neng. Kalo
dagang plastik kan harus punya modal dulu anaknya jadinya
itu pada baramaen eh itu minta-minta. Suka nya mah
pada gerombolan itu minta-minta nya atau ikut sama
orang tua nya yang jagain kotak sodaqoh
itu neng pas di pintu masuk penjarahannya
pada bawa sair kan neng juga pernah
didatengin yaa sama mereka tapinya
alhamdulillahnya gaada laporan yang aneh-aneh sii maksudnya gapada
jail merekanya yaitu paling
datengin buat baramaen doang ganyuri gitutuh neng�
Dari hasil observasi yang sudah dilakukan peneliti, didapat bahwa dua dari
informan memiliki kecenderungan berperilaku maladaptif. Perilaku yang di tunjukan oleh informan I dan III yaitu bentuk dari
penyesuaian diri yang negatif. Reaksi yang ditunjukkan oleh informan I yaitu adanya indikator
dari reaksi menyerang dan reaksi bertahan yang membuat anak selalu mencari
alasan untuk membenarkan dirinya atas tindakannya, anak selalu memutar
balikan fakta, anak selalu membenarkan
diri sendiri, dan anak senang mengganggu
orang lain. Disamping itu, informan I pun menunjukkan bahwa ia tidak
terbiasa untuk berinteraksi dengan orang baru.
Kecenderungan perilaku maladaptif pun ditunjukkan oleh informan III, dimana dilihat dari hasil
observasi indikator dari bentuk penyesuaian
diri secara negatif lebih mendominasi
daripada penyesuaian diri secara positif.
Informan III selalu melakukan bentuk dari reaksi bertahan
yaitu dengan cenderung impulsif dalam bertindak, anak selalu memutar
balikan fakta, selalu membenarkan diri sendiri, terlihat
ingin berkuasa atas teman-temannya, menggertak dengan ucapan maupun perbuatan.
Berbanding terbalik dengan informan II yang lebih menunjukkan kepada bentuk penyesuaian
diri secara positif, dimana informan II selalu bersikap realistik dan objektif serta tidak menujukkan tendensi ke arah
penyesuaian diri yang negatif.
Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa DN menunjukkan perilaku maladaptif akibat dari korban eksploitasi anak yang dilakukan oleh orang tua nya, didasari
dengan hasil observasi dan wawancara. Untuk itu berdasarkan
teori yang ada, pendekatan yang sesuai untuk informan III ini adalah pendekatan
REBT (Rational Emotive Behaviour Therapy) dimana merupakan suatu pendekatan cognitive-behaviour yang berfokus kepada keterlibatan dari perasaan, tingkah laku, dan pemikiran. Pendekatan ini dapat digunakan
untuk merubah pola pikir dan tingkah laku informan
agar bisa menjadi individu dengan penyesuain diri positif.
B.
Pembahasan
1.
Deskripsi Eksploitasi Anak Yang Dilakukan
Orang Tua di Kawasan Wisata
Ziarah Makam KH.Syekh Asnawi
Kawasan wisata merupakan kawasan yang sangat mempengaruhi perekonomian dari masyarakatnya. Tak terlepas dari
kawasan wisata ziarah makam KH. Syekh Asnawi dimana
pendapatan masyarakat dipengaruhi oleh kegiatan komersialisasi yang terjadi di kawasan tersebut. Bentuk dari komersialisasi
di kawasan ini adalah dengan adanya
pedagang yang menjual berbagai macam makanan, barang oleh-oleh dan masih banyak lainnya.
Tak terlepas dari kegiatan masyarakat
yang memilih untuk menjadi penunggu kotak shodaqoh dimana tidak memerlukan
modal untuk berjualan.
Dari hasil temuan bahwa
di kawasan wisata makam KH. Syekh Asnawi bukan hanya
didapati terkait banyaknya masyarakat dewasa yang mencari nafkah dikawasan tersebut dengan cara berjualan, menjadi juru doa
dan tukang parkir. Tapi, ada satu
hal yang menarik dikawasan ini adalah
adanya pengemis anak yang berusia kurang dari 15 tahun. Kegiatan yang dilakukan anak-anak ini untuk mengemis
ternyata diketahui oleh pihak pengelola. Pihak pengelola menyebutkan bahwa anak yang melakukan kegiatan mengemis dikawasan ini atas
dasar kebutuhan yang tidak bisa dipenuhi
oleh orang tua dank arena orang tua
pun yang melakukan kegiatan
dikawasan ini untuk berjualan.
Eksploitasi yang dilakukan kepada para informan yang dieksploitasi disini merupakan bentuk eksploitasi fisik, dimana anak digunakan
tenaganya untuk bekerja. Pengemis anak melakukan kegiatan mengemis nya pada hari Sabtu
dan Minggu atau hari-hari libur nasional, karena pada hari-hari tersebut jumlah pengunjung banyak sehingga para pengemis anak ini
bisa mendapatkan uang yang banyak juga. Hasil atau pendapatan yang diperoleh dari kegiatan mengemis
diberikan kepada orang tua dari masing-masing informan dengan jumlah tidak menentu
setiap minggu nya.
Faktor dari orang tua melakukan eksplotasi
terhadap anak ini didasari pada berbagai latar belakang. Menurut Badan Perlindungan Perempuan dan Anak dalam
(Lismaida & Jempa,
2017), sebagai berikut:
a.
Faktor lemahnya pengawasan orang tua
Orang tua senantiasa membiarkan anak untuk melakukan kegiatan mengemis, karena tidak adanya
pengawasan dari orang tua bahkan terkadang
orang tua tidak tahu hal-hal yang sedang dilakukan anaknya sendiri.
b.
Faktor ekonomi
Faktor ekonomi jadi faktor yang paling utama mengakibatkan seorang anak jadi
pengemis. Ketidakmampuan ekonomi di keluarga mengakibatkan sebagian dari mereka bahkan
tak sempat guna mengenyam bangku pendidikan. Orang tua yang mempunyai kewajiban guna menjaga, melindungi serta memelihara anaknya tak jarang
membiarkan ataupun bahkan mendorong anaknya turun dijalanan
guna mengemis demi guna mencukupi keperluan keluarga mereka.
c.
Faktor Kurangnya Kepekaan Dan Kepedulian Dari Masyarakat Dan Pemerintah
Rakyat kadang acuh tak
acuh pada kejadian yang seperti ini, bahkan
tidak sedikit dari rakyat kita
memandang sinis anak yang jadi pengemis, hingga lalu anak-anak itu merasa dikucilkan
di kehidupan sosial serta lingkungan sekelilingnya yang menjadikan anak itu kian
sukar guna keluar dari keadaan
sulit itu. Padahal guna memusnahkan
peristiwa dimana anak dipekerjakan selaku pengemis perlu perhatian khusus dari masyarakat
kita pula setidaknya perihal pengawasan serta pemberian pengetahuan akan buruknya pekerjaaan yang mereka alami serta
efek yang dimunculkan guna diri mereka
serta lingkungan sekitar.
d.
Faktor Lemahnya Penegakan Hukum
Perihal ini anak dijadikan
pengemis tak terlepas dari lemahnya
penegakan hukum bagi pihak yang mempekerjakan anak itu serta perlindungan
hukum pada anak itu sendiri, di Negara kita ada UUNomor
23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak maupun yang mampu dikenai pada pelaku atau oknum
yang sengaja mengorganisir anak dijalan guna
mengemis.
Dari hasil
wawancara yang dilakukan di
lapangan pada informan dapat disimpulkan bahwa faktor yang mengakibatkan eksploitasi yang dialami oleh informan I dan II adalah faktor ekonomi
yang lebih mendominasi.
Karena ketidak mampuan
orang tua dalam memenuhi kebutuhan hidup keluarganya membuat orang tua menyuruh anak untuk
melakukan kegiatan mengemis sehingga bisa menghasilkan uang untuk memenuhi kebutuhannya. Selain itu faktor lemahnya
pengawasan dari orang tua yang menyebabkan orang tua tidak tahu
akan kegiatan yang dilakukan oleh anak.
Informan I memiliki latar belakang ekonomi yang kurang, di lihat dari pekerjaan orang tua yang tidak tetap dan dengan pendapatan kurang dari Rp. 500.000 per bulan membuat orang tua kesusahn dalam memenuhi kebutuhan sang anak. Ditambah fakta bahwa rumah
yang ditinggali oleh informan
I adalah rumah kontrak yang harus dibayar per tiap bulannya. Hal ini yang mendominasi alasan bahwa anak harus
turut serta dalam mencari uang.
Pada informan
II tidak ditemukan adanya eksploitasi, dimana informan II hanya dengan sukarela
dan dengan senang hati melakukan pekerjaanya untuk mengemis. Orang tua informan II pun tidak memperbolehkan jika informan II melakukan kegiatan mengemisnya dan akan memarahi jika
hal tersebut diketahui oleh orang tua informan II.
Berbeda dengan informan III yang merupakan anak dari korban eksploitasi dari latar belakang
keluarga yang bercerai, membuat informan III hanya tinggal bersama
ibunya. Dengan pekerjaan ibu yang tidak menentu membuat
informan III cenderung untuk membantu dalam perekenomian keluarganya. Dengan mengemis, informan III mampu memberikan uang setiap minggunya untuk digunakan dalam keseharianya.
Dari hasil temuan tersebut
dapat dikatakan bahwa penyebab atau faktor anak
di eksploitasi oleh orang tua
untuk dijadikan pengemis adalah karena ekonomi yang rendah. Pendapatan orang tua yang tidak menentu menyebabkan kebutuhan anak tidak.
Eksploitasi yang diterima anak tetu akan
berefek ke kondisi baik fisik
maupun psikologisnya. Tentu pula berkaitan dengan perilaku yang ditunjukannya. Dalam hal ini anak
korban eksploitasi oleh orang tua
cenderung memiliki penyelarasan diri yang negative.
Dimana indikator dari penyesuaian diri secara negatif yang diparkan oleh (Pratama, 2019) terdapat tiga bentuk
reaksi dalam penyesuaian yang salah yaitu:
1)
Reaksi bertahan. Yakni orang berupaya menjaga dirinya, ia selalu
menunjukkan bahwa dirinya tidak mengalami
kegagalan. Wujud khusus reaksi ini
adalah a) rasionalisasi, yakni bertahan bersama mencari-cari alasan guna membenarkan
aksinya. b) represi, yakni berupaya guna memfokuskan pengalamannya yang dirasa kurang enak kea lam bawah sadar. c) proyeksi, yakni bersama memutar balikan fakta.
2)
Reaksi menyerang. Terdapat 11 point yang
merupakan indikator dari reaksi ini
yaitu:
a)
Kerap membenarkan diri sendiri
b)
Ingin berkuasa ditiap keadaan
c)
Berperilaku suka mengganggu individu lainnya
d)
Menggertak lewat ucapan ataupun
tindakan
e)
Memperlihatkan sikap permusuhan secara terbuka
f)
Memperlihatkan sikap menyerang serta merusak
g)
Keras kepala ditindakannya
h)
Bertindak balas dendami
i)
Memperkosa individu lainnya
j)
Beraksi serampangan
k)
Marah secara sadis
3)
Reaksi melarikan diri. Respon ini individu
yang memiliki penyelarasan diri yang salah hendak melarikan diri dari keadaan yang memunculkan kegagalan, responnya terlihat ditindakan yakni: berfantasi yakni memuaskan kemauan yang tak tergapai diwujud
angan (seolah telah tergapai), banyak tidur, minum
minuman keras, bunuh diri, jadi
pecandu ganja, narkotika serta regresi yakni
kembali ke perilaku yang semodel bersama tingkat perkembangan yang lebih awal (misalnya orang dewasa yang berperilaku serta berwatak layaknya anak kecil)
(Anissa & Handayani,
2012)
Dapat ditarik kesimpulan
bahwa perilaku maladaptif yang ditunjukkan oleh informan I dan II merupakan wujud dari dampak
eksploitasi yang dialami
oleh mereka, berbeda dengan informan II yang tidak menunjukkan indikasi untuk berperilaku maladaptif karena pada dasarnya informan II tidak mengalami kondisi eksploitasi yang dilakukan oleh
orang tua nya.
2.
Upaya Layanan Bimbingan dan Konseling Untuk Mereduksi Perilaku Maladaptif Anak Korban Eksploitasi
Orang Tua
Permasalahan perilaku
maladaptif yang dilakukan
oleh para informan dirasa harus segera ditangani
dan dibantu agar tidak terjadi penyesuaian yang salah
dan tidak mengganggu tumbuh kembang psikologis. Bentuk dari perilaku maladaptif
yang ditunjukkan oleh informan
I dan III dapat membuat ketidaknyamanan dalam pertemanan, membuat orang lain risih untuk mendekat,
dan dapat menjadikan adanya permusuhan. Perilaku ini jika
dibiarkan akan menyebabkan lebih banyak dampak atas
bahaya nya. Untuk itu diperlukan
solusi penanganan yang tepat dari ahli
yang bisa mereduksi perilaku maladaptif dari anak korban eksploitasi.
Pengertian konseling
sendiri didefinisikan oleh Prayitno & Amti (Basri, 2017) bahwa konseling yakni� pertemuan empat mata antara konselor
dan konseling yang bermuatan
upaya yang unik serta manusiawi, yang dilaksanakan disituasi ketrampilan serta yang dibasiskan berdasar norma yang berlaku. Selain itu konseling
juga diberikan dengan berbabagai pendekatan yang disesuikan bersama kondisi serta permasalahan
konseli.� Berdasar peneliti sendiri, pendekatan yang dirasa pas guna dipakai dalam proses konseling permasalahan perilaku maladaptif yang dilakukan oleh anak korban eksploitasi pada kedua informan dalam penelitian ini adalah Rational Emotive Behaviour
Therapy (REBT). Adapun penjelasan terhadap
pendekatan Rational Emotive Behaviour
Therapy (REBT) ini sebagai berikut :� Rational
Emotive Behaviour Therapy (REBT) merupakan
pendekatan behavior kognitif
yang memfokuskan terhadap keterkaitan perasaan serta prilaku dan pikiran (Ilham & Farid, 2019).
Pengertian konseling
rational emotive behaviour menurut
(Habsy, 2018) adalah konseling yang menekankan pada aspek humanistik, pendekatan berorientasi tindakan dan pertumbuhan emosional, REBT menekankan beberapa hal yaitu (1) kemampuan
individu untuk menciptakan emosi mereka; (2) kemampuan untuk mengubah dan mengatasi masa lalu dengan memfokuskan pada saat ini; dan (3) kekuasaan untuk memilih dan melaksanakan alternatif memuaskan dengan pola saat
ini. REB adalah pendekatan komprehensif untuk psikologis, tidak hanya menekankan
aspek emosional dan perilaku dari gangguan
manusia, tetapi menekankan komponen kognitif.
Dalam konseling
rational emotive behavior, ada tiga
teknik yang harus dilakukan dalam teknik konseling ini menurut (Hartati & Rahman,
2018) yaitu:
a.
Teknik kognitif. Teknik kognitif ini terdiri
dari berbagai hal sebagai berikut:
1)
Disputing
irrational believes, dimana konselor mendispute keyakinan irasional konseli dan juga mengajarkan kepada konseli bagaimana mendispute kayakinan irasionalnya secara mandiri.
2)
Doing
cognitive homework, dalam teknik ini konselor
meminta konseli untuk menyusun daftar permasalahan yang dialami, kemudian mencari keyakinan yang absolut (keseluruhan) dari keyakinan irasionalnya, lalu mendisputenya. Tugas ini biasanya
diberikan konselor saat konseli di rumah.
3)
Mengubah pola bahasa dari
konseli, dimana konseli dianjurkan untuk mengubah pola bahasa yang mencerminkan ketidak berdayaan dan mengancam dirinya menjadi pola bahasa yang membantu mereka berpikir dan berperilaku lebih baik.
4)
Metode psiko-edukasi, teknik ini memperkenalkan kepada konseli berbagai bahan pendidikan yang berguna unruk mengenali karakteristik masalah konseli dan bagaimana cara menanganinya.
b.
Teknik emotif. Teknik emotif terdiri dari beberapa hal
sebagai berikut:
1)
Rational
emotif imagery, merupakan
bentuk latihan mental yang dilakukan secara intens yang berguna untuk membentuk pola emosi yang baru, biasanya digunakan pada masalah
interpersonal konseli.
2)
Humor, teknik ini memiliki manfaat
secara kognitif dan emosional bagi konseli. Humor ini digunakan saat konseli memiliki pikiran yang berlebihan sehingga berdampak kepada situasi yang sulit dihadapi konseli.
3)
Beramainperan, melalui permainan ini konseli dilatih
untuk mengeluarkan perasaan mereka pada situasi tertentu.
4)
Shame attacking, atau melawan rasa malu. Pada teknik ini konseli
diajarkan untuk melawan rasa malu saat terjadi situasi
yang tidak menyenangkan bagi konseli. Dengan
latihan ini konseli diharapkan mampu untuk lebih
menerima dirinya dan bertanggung jawab setelah mereka melawan rasa malu.
5)
Penggunaan kekuatan dan semangat, ini merupakan bantuan
yang diberikan agar konseli
dapat keluar dari kognitif dan emosi yang salah dengan cara membangun kepercayaan diri dari konseling.
c.
Teknik behavioral. Terdiri
dari beberapa hal yaitu:
1)
Tugas-tugas yang menantang sifat penuntut, dalam teknik ini konseli
diminta untuk mengulang-ulang tugas yang diberikan oleh konselor. Tugas yang dimaksud berfokus pada perilaku, misalkan konseli memiliki ketakutan berada di tengah-tengah keramaian, maka konseli diminta untuk sering berada
dikeramaian secaraberulang-ulang,
sehingga ketakutan yang dipikirkan konseli disadari bahwa itu hanya imajinasinya.
2)
Latihan ketrampilan, dalam teknik ini
lebih menekankan pelatihan berulang-ulang pada ketrampilan yang harus dikuasai oleh konseli untuk mengatasi permasalahannya. Misalkan seorang mahasiswa yang takut presentasi, maka dia belajar
ketrampilan berbicara di depan umum.
3)
Shame
attacking, berbeda dengan shame
attacking pada teknik emotif,
pada teknik behavioral, shame attacking menekankan kepada keberanian konseli untuk melakukan tindakan yang dianggapnya memalukan berulang kali, sehingga konseli menyadari bahwa perilaku atau tindakan
tersebut bukanlah sebuah masalah.
4)
Menggunakan reward dan penalti, digunakan oleh konselor untuk mendorong konseli saat mengerjakan tugas rumah (homework assignment)
serta jika konseli melakukan kemajuan dalam sesi konseling.
Tahap-tahap konseling
rational emotive behaviour menurut
(Hapsari, 2017) tergolong jadi 3 tahapan yakni:
a.
Tahap awal
Tahap ini konseli diminta menceritakan dan memfokuskan masalah apa yang dihadapi. Masalah mana yang paling mengganggu
konseli. Dalam tahap ini konseli
juga diajak untuk membuat prioritas masalah mana yang menjadi pangkal masalah.
b.
Tahap pertengahan
Setelah diketahui fokus permasalahan, kemudian konselor dan konseli berusaha untuk mengidentifikasi apa yang menjadi keyakinan irasional konseli. Konselor secara aktif menggunakan berbagai macam teknik kognitif, emotif, perilaku untuk mengubah keyakinan irasional konseli.
c.
Tahap akhir
Pada tahap ini konselor
memiliki fokus membantu konseli untuk dapat membantu
dirinya sendiri saat terjadi masalah.
Keberhasilan konselor diukkur saat konseli
mampu membantu dirinya sendiri saat terjadi masalah
dengan teknik-teknik yang sudah diajarkan konselor
Berdasar penjabaran
serta pembahasan mengenai pendekatan konseling yang dapat diimplementasikan di informan
yang berperilaku maladaptif
dari korban eksploitasi anak oleh orang tua, pada alkhirnya berbagai banyuan ataupun pelayanan bimbingan serta konseling mampu diusahakan guna membantu mereka,
namun kesuksesan itu pastinya tergantung
terhadap kemauan tiap informan. Bila kemauan sangat
kuat, maka hendak amat membantu
kesuksesan poses penyelenggaraan
konseling ataupun pemberian bantuan pelayanan lain yang dapat dilaksanakan konselor atau guru bimbingan dan konseling.
Selain dengan
proses konseling yang dilaksanakan
oleh ahli, permasalahan perilaku maladaptif yang ditunjukkan oleh anak korban eksploitasi oleh orang tua ini harus mendapat
perhatian lebih dari masyarakat sekitar, karena dengan adanya perhatian
khusus maka permasalahan seperti yang dialami oleh para informan dapat diminimalisir. Informan yang menunjukkan perilaku maladaptif dirasa butuh untuk
dikendalikan perilakunya dengan cara memberikan
peran yang positif dari masyarakat.
Kesimpulan
Berdasarkan data hasil
pembahasan yang diperoleh peneliti di lapangan, melalui pengumpulan data dan analisis data yang dilakukan dapat ditarik kesimpulan
sebagai berikut: 1. Eksploitasi anak untuk dijadikan pengemis yang dilakukan oleh
orang tua di kawasan wisata ziarah makam
KH. Syekh Asnawi memang benar adanya.
Pihak pengelola pun memberikan pernyataan yang serupa dengan temuan
peneliti saat di lapangan, serta orang tua pun membenarkan kegiatan tersebut. Kegiatan mengemis yang dilakukan oleh informan dilakukan saat hari Sabtu-Minggu dan hari-hari libur nasional. Faktor yang menjadi penyebab dari adanya eksploitasi
yang dilakukan oleh orang tua
kepada anaknya yaitu karena faktor
ekonomi yang rendah sehingga orang tua tidak bisa meemnuhi
kebutuhan keluarganya, dua dari informan
yang menjadi subjek penelitian disini tinggal di rumah kontrak yang haruas dibayarkan setiap bulannya, pendidikan orang tua yang rendah menyebabkan orang tua tidak mempunyai pekerjaan tetap sehingga penghasilan yang didapat pun tidak menentu, lemahnya pengawasan dari orang tua dan tidak adanya
larangan bagi para informan untuk mengemis di kawasan wisata tersebut menjadikan informan bisa secara bebas
untuk melakukan kegiatan mengemis. Perilaku maladaptif yang ditunjukan oleh informan korban eksploitasi oleh orang tua dapat dirasakan sebagai bentuk dampak dari eksploitasi
tersebut. Dimana informan merasa kekurangan atas perhatian dari orang tua sehingga informan menunjukkan perilaku yang dapat menarik perhatian
teman-temannya; 2. Upaya layanan bimbingan dan konseling untuk mereduksi perilaku maladaptif yang ditimbulkan dari pengaruh eksploitasi
anak oleh orang tua yaitu dengan memberikan
konseling dengan pendekatan Rational Emotive Behaviour
Therapy (REBT). Disertakan dengan
pemberian perhatian khusus bagi informan
yang dilakukan oleh masyarakat
setempat agar informan merasa bahwa dirinya
diperhatikan.
Akbarian,
A. (2015). Program Pemberdayaan Gelandangan dan Pengemis Melalui Pendidikan
Kecakapan Hidup di Panti Sosial Bina Karya Yogyakarta. Jurnal Elektronik
Mahasiswa Pend. Luar Sekolah-S1, 4(2). Google Scholar
Anissa,
N., & Handayani, A. (2012). Hubungan antara konsep diri dan kematangan
emosi dengan penyesuaian diri istri yang tinggal bersama keluarga suami. Jurnal
Psikologi: PITUTUR, 1(1), 53�64. Google Scholar
Basri,
B. (2017). Bimbingan Konseling Dan Kesuksesan Belajar. Tarbawiyah: Jurnal
Ilmiah Pendidikan, 11(01), 34�52. Google Scholar
Fachri,
S. (2018). Objek Wisata Religi: Potensi dan Dampak Sosial-Ekonomi bagi
Masyarakat Lokal (Studi Kasus Pada Makam Syekh Mansyur Cikadueun, Pandeglang). Syiar
Iqtishadi: Journal of Islamic Economics, Finance and Banking, 2(1),
25�44. Google Scholar
Ferezagia,
D. V. (2018). Analisis Tingkat Kemiskinan di Indonesia. Jurnal Sosial Humaniora
Terapan, 1(1). Google Scholar
Habsy,
B. A. (2018). Konseling rasional emotif perilaku: Sebuah tinjauan filosofis. Indonesian
Journal of Educational Counseling, 2(1), 13�30. Google Scholar
Hapsari,
Y. E. (2017). Pengembangan Panduan Konseling Kelompok Rational Emotive
Behavioral (REB) Untuk Meningkatkan Keterampilan Bekerjasama Peserta Didik SMK.
Google Scholar
Hartati,
S., & Rahman, I. K. (2018). Konsep Pendekatan Rational Emotive Behavior
Therapy (Rebt) Berbasis Islam Untuk Membangun Perilaku Etis Siswa. Genta
Mulia: Jurnal Ilmiah Pendidikan, 8(2). Google Scholar
Ilham,
L., & Farid, A. (2019). Teori Klasik Dan Kontemporer: Dari Rational Emotive
Behavioral Therapy (REBT) Hingga Cognitive Restructuring (CR). MISYKAT:
Jurnal Ilmu-Ilmu Al-Quran, Hadist, Syari�ah Dan Tarbiyah, 4(2),
151�166. Google Scholar
Kumala,
M., Nurlaili, I. R., & Dewi, N. K. (2017). Urgensi peran konselor dalam
mengatasi masalah-masalah sosial anak. Prosiding Seminar Nasional Bimbingan
Dan Konseling, 1(1), 159�169. Google Scholar
Kusmanto,
T. Y. (2013). Mereka yang Tercerabut dari Masa Depannya: Analisis Sosiologis
Problem Sosial Anak di Indonesia. Sawwa: Jurnal Studi Gender, 8(2),
225�244. Google Scholar
Lismaida,
L., & Jempa, I. K. (2017). Tindak Pidana Melakukan Eksploitasi Anak Secara
Ekonomi Sebagai Pengemis (Suatu Penelitian di Kota Banda Aceh). Jurnal
Ilmiah Mahasiswa Bidang Hukum Pidana, 1(1), 73�84. Google Scholar
Martawijaya,
M. A. (2016). Model pembelajaran berbasis kearifan lokal: untuk meningkatkan
karakter dan ketuntasan belajar. CV. MASAGENA. Google Scholar
Mentri
Sosial, R. I. (2012). Pedoman pendataan dan pengolahan data penyandang masalah
kesejahteraan sosial dan potensi dan sumber kesejahteraan sosial. Peraturan
Menteri Sosial Repu-Blik Indonesia. Google Scholar
Pongtiku,
A., Robby Kayame, S. K. M., Rerey, V. H., SKM, M. P. H., Tedjo Soeprapto, M.
M., & Resubun, Y. (2016). Metode Penelitian Kualitat If Saja.
Nulisbuku. com. Google Scholar
Pratama,
M. Y. (2019). Dampak Media Online terhadap Perilaku Maladaptif Mahasiswa
(Studi Deskriptif Analisis Mahasiswa Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN
Ar-Raniry Banda Aceh). UIN Ar-Raniry Banda Aceh. Google Scholar
Supraptiningsih,
U. (2012). Problematika Implementasi Sertifikasi Tanah Wakaf Pada Masyarakat. NUANSA:
Jurnal Penelitian Ilmu Sosial Dan Keagamaan Islam, 9(1). Google Scholar
Supriyadi,
A. (2016). Profesi Mengemis Dalam Sudut Pandang Hukum Islam (Studi Kasus di
Kotatip Purwokerto). IAIN Purwokerto. Google Scholar
Yuniarti,
N. (2012). Eksploitasi Anak Jalanan Sebagai Pengamen dan Pengemis di Terminal
Tidar oleh Keluarga. KOMUNITAS: International Journal of Indonesian Society
and Culture, 4(2). Google Scholar
|
Ati Sumiyati, Sholih, Alfiandy Warih Handoyo (2021). |
|
First publication right : This article is licensed under: |