Jurnal Syntax Transformation

Vol. 2 No. 7, Juli 2021

p-ISSN : 2721-3854 e-ISSN : 2721-2769

Sosial Sains

 

PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN STUDENT TEAMS ACHIEVEMENT DIVISION (STAD) UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR� LIMIT BAGI SISWA KELAS XI MIPA.1 SMAN 3 MAGELANG

 

Yustinus Sumpana

SMA Negeri 3 Kota Magelang, Jawa Tengah, Indonesia

Email : [email protected]

 

INFO ARTIKEL

ABSTRAK

Diterima

10 Juli 2021

Direvisi

20 Juli 2021

Disetujui

23 Juli 2021

 

Tujuan Penelitian ini adalah mendiskripsikan peningkatan hasil belajar melaui Penerapan Model Pembelajaran Student Teams Achievement Division (STAD) pada materi Limit bagi� Siswa Kelas XI MIPA.1 SMAN 3 Magelang,� Subyek penelitian adalah kelas XI MIPA 1 SMA Negeri 3 Magelang, dengan jumlah siswa sebanyak 30 dengan rincian� 14 laki laki� dan 16 perempuan. Penelitian ini menggunakan pendekatan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dengan 2 siklus, penelitian ini dilakukan sebagai upaya mengatasi rendahnya hasil belajar. Obyek penelitian pada penelitian Tindakan kelas ini adalah berbagai kegiatan yang terjadi di dalam kelas selama berlangsungnya proses pembelajaran..� Teknik pengumpulan data dilakukan dengan observasi, wawancara, tes dan dokumentasi. Sedangkan analisis data yang digunakan adalah analisis deskriptif� kualitatif dan kuantitatif. Hasil penelitian ini menunjukkan. penerapan metode Pembelajaran Student Teams Achievement Division (STAD) pada pembelajaran Limit dapat meningkatkan hasil belajar siswa, Hasil angket motivasi motivasi siswa sebelum tindakan (Pra siklus) dengan skor 46,11 dengan kategori kurang meningkat menjadi 60,56 dengan kategori cukup pada siklus I dan meningkat menjadi 84,44 dengan kategori baik pada siklus II. Hasil belajar sebelum tindakan rerata nilai 68,75 dengan ketuntasan belajar 43,44 % menjadi 77,83 dengan ketuntasan belajar 66,67 % pada siklus I dan menjadi 85,28� dengan ketuntasan� 80 % pada siklus II. Peningkatan ketuntasan belajar tersebut adalah Siklus I meningkat 23,23 % dari Pra siklus sedangkan, siklus II meningkat� 13,33 % dari siklus I. Dengan demikian peningkatan hasil belajar siswa melalui penerapan model pembelajaran Student Teams Achievement Division (STAD dapat dibuktikan kebenarannya.

 

ABSTRACT

The purpose of this study is to describe the improvement of learning outcomes through the application of the Student Teams Achievement Division (STAD) Learning Model on the Limit material for students of class XI MIPA.1 SMAN 3 Magelang, the subject of the research is class XI MIPA 1 SMA Negeri 3 Magelang, with a total of 30 students. with details of 14 men and 16 women. This study uses a Classroom Action Research (CAR) approach with 2 cycles, this research was conducted as an effort to overcome the low learning outcomes. The object of research in this classroom action research are various activities that occur in the classroom during the learning process. Data collection techniques were carried out by observation, interviews, tests and documentation. While the data analysis used was descriptive qualitative and quantitative analysis. The results of this study show . the application of the Student Teams Achievement Division (STAD) learning method in Limit learning can improve student learning outcomes. The results of the student motivation questionnaire before the action (Pre-cycle) with a score of 46.11 with a less category increased to 60.56 with a sufficient category in the first cycle and increased to 84.44 with good category in cycle II. Learning outcomes before the action mean the value of 68.75 with 43.44% completeness learning to 77.83 with 66.67% learning completeness in the first cycle and becomes 85.28 with 80% completeness in the second cycle. The increase in learning mastery is Cycle I increased by 23.23% from Pre-cycle, while Cycle II increased 13.33% from Cycle I. Thus, the improvement of student learning outcomes through the application of the Student Teams Achievement Division (STAD) learning model can be proven true.

Kata Kunci:

Model pembelajaran STAD; Limit; Hasil Belajar

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Keywords:

STAD learning model; Limit; Learning Outcomes


 


Pendahuluan

Di era teknologi dan informasi, matematika merupakan salah satu mata pelajaran yang penting dalam meningkatkan kemampuan intelektual siswa. Dengan belajar matematika, maka siswa dapat berpikir kritis dan memiliki kemampuan mengaplikasikan konsep dasar matematika pada pelajaran lain pada matematika itu sendiri dan dapat menerapkan konsep matematika tersebut dalam menyelesaikan persoalan kehidupan sehari-hari. Sesuai tujuan pendidikan salah satu tujuan pembelajaran matematika di SMA yang tercantum dalam lampiran 3 Permendiknas nomor 22 tahun 2006 adalah agar peserta didik memiliki kemampuan memecahkan masalah yang meliputi kemampuan memahami masalah, merancang model matematika, menyelesaikan model dan menafsirkan solusi yang diperoleh.

Dalam Permendikbud No. 103 Tahun 2014 tentang Pembelajaran pada Pendidikan Dasar dan Menengah, disebutkan bahwa pembelajaran merupakan proses interaksi antar peserta didik dan antara peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar (Nomor, 2014). Sedangkan pada permendikbud nomor 22 Tahun 2016 pembelajaran merupakan kegiatan yang dilakukan oleh pendidik dan peserta didik untuk mencapai kompetensi yang diharapkan (Chairunnisa et al., 2020). Berdasarkan dua Permendikbud tersebut, maka pembelajaran dapat diartikan sebagai proses terjadinya interaksi siswa dengan guru, siswa dengan siswa, dan siswa dengan sumber belajar untuk mencapai kompetensi yang diharapkan. Lingkungan belajar yang diharapkan adalah berbasis aktivitas berdasarkan karakteristik interaktif dan inspiratif, menyenangkan, menantang, dan memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif, kontekstual dan kolaboratif, �memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian peserta didik, dan �sesuai dengan bakat, minat, kemampuan, serta perkembangan fisik serta psikologis peserta didik.

Sistem pembelajaran matematika adalah spiral dimana pembelajaran konsep atau topik selalu mengaitkan dengan konsep atau topik sebelumnya artinya materi yang terdahulu merupakan dasar untuk mempelajari materi selanjutnya. Hal ini menuntut siswa untuk menguasai� materi prasyarat sebelum mempelajari suatu materi tertentu. Limit merupakan salah satu materi� matematika yang baru diperoleh di SMA dan merupakan materi dasar yang digunakan untuk mempelajari materi selanjut seperti turunan dan integral. Dari silabus kurikulum 2013 kelas XI, kompetensi dasar limit adalah� menjelaskan limit fungsi aljabar (fungsi polinom dan fungsi rasional) secara intuitif dan sifat-sifatnya, serta menentukan eksistensinya. Sedangkan tujuan pembelajaran limit adalah, Menjelaskan pengertian limit fungsi aljabar secara intuitif, Menggunakan teorema limit untuk menyelesaikan bentuk tak tentu dengan menggunakan� pedoman operasi aljabar yang� benar� dengan tepat dan sistematis.

Materi limit merupakan salah satu materi matematika yang sulit, hal ini dikarenakan untuk mempelajari limit diperlukan menguasai banyak pengetahuan prasyarat.

Berdasarkan, hasil pengamatan� terhadap proses pembelajaran matematika siswa kelas XI-MIPA.� SMA Negeri 3 Magelang ditemukan data bahwa sebagian besar siswa memiliki motivasi dan hasil belajar yang rendah. Khususnya dalam menguasai materi limit, pada saat mempelajari materi limit sebagian besar siswa� menjadi malas dan bahkan semangat belajarnya berkurang,� Jika hal ini berlangsung terus menerus akan munculnya berbagai dampak yang kurang baik terhadap siswa diantaranya motivasi dan keaktifan� siswa untuk belajar matematika berkurang, yang akhirnya berdampak pada rendahnya hasil belajar.

Rendahnya hasil belajar matematika dapat ditunjukkan dari data hasil ulangan harian siswa kelas XI.MIPA.1 pada kompetensi dasar Induksi Matematika� dengan�� KKM 75 diperoleh rata-rata 67,56 yang tuntas� baru 12 siswa dari 30 siswa satu atau 40,00 % sehingga�� masih� banyak siswa yang belum tuntas.

Munculnya permasalahan dalam pembelajaran limit dipengaruhi oleh faktor dari dalam maupun dari luar siswa. Faktor yang mempengaruhi dari dalam diri siswa antara lain: motivasi, intelegensi, kreativitas, dan gaya belajar siswa. Sedangkan faktor dari luar diri siswa adalah model yang digunakan guru dalam menyampaikan materi kurang tepat. Guru masih menggunakan metode/model pembelajaran� konvensional, guru hanya mentransfer pengetahuan kepada murid secara satu arah, siswa belajar hanya dengan mendengarkan dan mencatat pelajaran, siswa tidak memahami konsep karena siswa hanya menghafal rumus sehingga tidak ada kebermaknaan dalam mempelajari materi tersebut.

Berdasarkan pengalaman peneliti selama mengajar materi Limit tahun sebelumnya� peneliti mengidentifikasi� masalah penyebab� hasil belajar limit rendah adalah sebagai berikut, masih banyak siswa yang kurang memiliki minat, perhatian, keaktifan dan motivasi dalam pembelajaran limit, masih banyak guru yang belum menerapkan model pembelajaran yang sesuai dengan materi dan karakteristik siswa, materi pembelajaran yang terlalu banyak dan tidak sesuai dengan alokasi�� waktu yang ditentukan dan masih banyak guru yang berorientasi pada hasil belajar tanpa memperhatikan proses pembelajaranu ntuk mengatasi permasalahan diatas dibutuhkan solusi suatu inovasi metode pembelajaran yang tepat untuk memecahkan persoalan yang selama ini terjadi, Menurut (Illahi, 2012) berpendapat selama ini metode pembelajaran yang diterapkan di sekolah lebih banyak berpusat pada guru, dalam pelaksanaannya guru menyajikan fakta-fakta dan menjelaskan konsep� yang menjadi bahan pelajaran sementara peserta didik hanya berkesempatan menyimak , menghafal dan memahami apa yang dijelaskan olehnya. Pada hal untuk mengembangan kualitas pendidikan diperlukan situasi demokratis pembelajaran yang mengarah kreativitas anak didik untuk menumbuhkan potensi yang mereka miliki. Inovasi pembelajaran yang dimaksud adalah metode pembelajaran yang egaliter dan menunjukkan pembelajaran yang demokratis bagi keleluasan anak didik , guna mengekspresikan gagasan yang berkaitan efektivitas pembelajaran. Salah satu upaya untuk memperbaiki proses pembelajaran limit dalam meningkatkan hasil belajar siswa, adalah dengan menggunakan pembelajaran� kooperatif model Student Teams Achievement Divisions (STAD) untuk itu peneliti melaksanakan penelitian dengan judul Penerapan Model Pembelajaran Student Teams Achievement Division (STAD) Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Limit Bagi Siswa Kelas XI MIPA.1 SMAN 3 Magelang.

Mengingat keterbatasan kemampuan dan waktu yang dimiliki peneliti� sejumlah masalah tersebut tidak semua akan dibahas dalam penelitian ini. Peneliti hanya membatasi pada masalah peningkatan motivasi, hasil belajar limit dan penerapan model pembelajaran Student Teams Achievement Divisions (STAD).

Adapun perumusan masalah pada penelitian ini adalah berapa besar penerapan model pembelajaran Student Teams Achievement Divisions (STAD).dapat meningkatkan hasil belajar Limit siswa kelas XI.MIPA.1 SMA Negeri 3 Magelang.

Sedangkan� tujuan� yang ingin dicapai pada penelitian ini adalah untuk mengukur seberapa besar penerapan model pembelajaran Student Teams Achievement Divisions (STAD dapat meningkatkan hasil belajar Limit siswa kelas XI.IPA 1 SMA Negeri 3 Magelang.

Keberhasilan kegiatan pembelajaran sangat dipengaruhi oleh motivasi yang diberikan guru kepada siswa-siswanya. pada waktu kegiatan pembelajaran di kelas.sedang berlangsung. Menurut (Wisman, 2020) motivasi adalah salah satu faktor yang mempengaruhi keefektifan kegiatan belajar siswa, motivasilah yang mendorong siswa melakukan kegiatan belajar. Menurut (Huda, 2017) motivasi merupakan dorongan , hasrat keinginan dan tenaga penggerak lainya yang berasal dari dalam dirinya untuk melakukan sesuatu . motif itu memberi tujuan dan arah tingkah laku kita. (Baselman & Mappa, 2011) berpendapat motivasi adalah keadaan yang berasal dari dalam diri seseorang yang mendorong untuk� bertindak melakukan suatu kegiatan dalam mencapai tujuan. Dalam psikologi motivasi diartikan sebagai suatu kekuatan� yang terdapat dalam diri manusia� yang dapat mempengaruhi tingkah lakunya untuk melakukan kegiatan. Berdasarkan beberapa definisi motivasi di atas dapat disimpulkan bahwa motivasi adalah dorongan pada diri seseorang untuk bertindak atau melakukan sesuatu pekerjaan baik yang timbul diri orang itu sendiri maupun dari luar yang berkaitan erat dengan tujuan dan cita-cita yang hendak�� dicapai.� Motivasi belajar merupakan suatu keadaan yang ada dalam diri individu yang mendorong siswa untuk belajar dan melakukan aktivitas-aktivitas� tertentu� untuk� mendapatkan� hasil� belajar secara maksimal. Menurut (Wisman, 2020) dari sumbernya motivasi dibedakan menjadi dua yaitu motivasi intrinsik dan motivasi� ekstrinsik. Motivasi intrinsik adalah semua faktor yang berasal dari dalam individu dan memberikan dorongan untuk melakukan sesuatu. Dalam kegiatan pembelajaran motivasi intrinsik mempunyai pengaruh yang lebih efektif karena motivasi intrinsik relatif lebih lama dan tidak tergantung pada motivasi dari luar. Dari definisi ini, jelas betapa pentingnya fungsi motivasi dalam pembelajaran karena dengan adanya motivasi dalam pembelajaran siswa tidak hanya akan belajar dengan giat tapi juga akan menikmatinya. Dengan demikian secara tidak langsung motivasi akan membantu guru mempermudah dalam menyelenggarakan proses pembelajaran. Dalam kaitanya dengan belajar, motivasi merupakan daya penggerak untuk melakukan kegiatan belajar. Motivasi adalah salah satu faktor yang mempengaruhi efektivitas� kegiatan belajar siswa , motivasilah yang mendorong kegiatan belajar siswa. Individu yang memiliki motivasi yang tinggi dalam belajarnya akan berusaha melaksanakan kegiatan belajar tersebut dengan senang hati dan selalu bergairah untuk terus belajar sehingga proses belajar akan berlangsung lebih efektif dan efisien.�

Menurut (GINTING, 2020) Belajar adalah usaha atau suatu kegiatan yang dilakukan secara sadar� supaya mengetahui atau dapat melakukan sesuatu. Hasil kegiatan belajar adalah perubahan diri dari tidak tahu� menjadi tau , dari tidak melakukan sesuatu menjadi menjadi mampu melakukan sesuatu. Belajar adalah proses manusia untuk mencapai berbagai macam kompetensi, pengetahuan, keterampilan dan sikap. Belajar merupakan aktivitas yang dilakukan seseorang untuk mendapatkan perubahan dalam dirinya melalui� pelatihan dan pengalaman. Dalam proses pendidikan di sekolah, kegiatan belajar merupakan kegiatan paling pokok untuk mencapai tujuan pendidikan. Berhasil atau tidaknya pencapaian tujuan pendidikan, banyak bergantung pada proses belajar yang dilakukan oleh siswa atau peserta didik. (Simbolon, 2014) berpendapat belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan oleh seseorang untuk memperoleh sesuatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungan.�

(Idola & Sano, 2017) mengemukakan bahwa, belajar merupakan suatu perubahan dalam tingkah laku, belajar merupakan suatu perubahan yang terjadi melalui latihan atau pengalaman, untuk dapat disebut belajar, maka perubahan itu relatif, tingkah laku yang mengalami perubahan. Belajar sebagai kegiatan penting yang harus dilakukan� setiap� orang� secara� maksimal� untuk� mendapat� dan memperoleh sesuatu. Dari beberapa pendapat diatas dapat disimpulkan belajar adalah seseorang yang mengalami perubahan tingkah laku secara sadar untuk menjadi terarah, bersifat kontinu (tidak bersifat sementara) dan bersifat positif. Dalam Lampiran Permendikbud nomor 59 tahun 2014, disebutkan pembelajaran matematika SMA memiliki tujuan sebagai berikut, dapat memahami konsep matematika, yaitu menjelaskan keterkaitan antar� konsep� dan� menggunakan� konsep� maupun� algoritma,� secara luwes, akurat, efisien, dan tepat, dalam pemecahan masalah, menggunakan pola sebagai dugaan dalam penyelesaian masalah, dan mampu membuat generalisasi berdasarkan fenomena atau data, menggunakan penalaran pada sifat, melakukan manipulasi matematika baik dalam penyederhanaan, maupun menganalisa komponen yang ada dalam pemecahan masalah, mengomunikasikan gagasan, penalaran serta mampu menyusun bukti matematika� dengan� menggunakan� kalimat� lengkap,� simbol,� tabel, diagram, atau media lain untuk memperjelas keadaan atau masalah, memiliki sikap menghargai kegunaan matematika dalam kehidupan, yaitu memiliki rasa ingin tahu, perhatian, dan minat dalam mempelajari matematika, sikap ulet dan percaya diri dalam pemecahan masalah. Memiliki� sikap� dan� perilaku� yang� sesuai� dengan� nilai nilai� dalam matematika dan pembelajarannya, seperti taat asas, konsisten, menjunjung� tinggi kesepakatan,� toleran,� menghargai pendapat� orang lain, santun, demokrasi, ulet, tangguh, kreatif, menghargai kesemestaan (konteks, lingkungan), tanggung jawab, adil, jujur, teliti, dan cermat, melakukan kegiatan motorik menggunakan pengetahuan matematika dan menggunakan� alat� peraga� sederhana� maupun� hasil� teknologi� untuk melakukan kegiatan-kegiatan matematik. (Akuba et al., 2020) Berdasarkan deskripsi mengenai tujuan pembelajaran matematika, dapat disimpulkan bahwa tujuan pembelajaran matematika SMA adalah agar siswa mampu, memahami konsep matematika, memecahkan masalah, menggunakan penalaran matematis, mengkomunikasikan masalah secara sistematis dan memiliki sikap dan perilaku yang sesuai dengan nilai dalam matematika.

Salah satu tugas pokok seorang guru adalah mengevaluasi taraf keberhasilan rencana dan pelaksanaan kegiatan belajar mengajar. Untuk melihat sejauh mana taraf keberhasilan pembelajaran didik secara tepat dan dapat dipercaya, kita memerlukan informasi yang didukung oleh data obyektif dan memadai tentang indikator-indikator perubahan perilaku dan pribadi peserta didik. Hal tersebut dapat dirumuskan dalam hasil belajar siswa. Menurut (Suparji & UPY, 2015) Penilaian merupakan rangkaian kegiatan untuk memperoleh , menganalisis , menafsirkan data tentang� proses dan hasil belajar siswa� yang dilakukan secara sistematis� dan berkesinambungan, sehingga menjadi informasi� yang bermakna dalam mengambil keputusan. Penilaian adalah bagian dari kegiatan pembelajaran yang dilakukan untuk mengetahui pencapaian kompetensi peserta didik� yang meliputi� pengetahuan,� keterampilan dan sikap. Dimyati dan Mudjiono (2002:3) berpendapat �Hasil belajar adalah hasil� dari� suatu� interaksi� tindak� belajar� dan� mengajar�.� Hasil belajar adalah kebulatan pola tingkah laku. Tingkah laku itu mengandung pengetahuan, pemahaman, keterampilan, sikap dan sebagainya. Tabrani Rusyan (1994:78) menjelaskan pola tingkah laku dapat diukur dari penampilan (behavioral performance), penampilan ini dapat berupa kemampuan menjelaskan, menyebutkan dan melakukan sesuatu kegiatan atau perbuatan.� Hal ini, siswa yang merubah pola tingkah laku dan mampu menjelaskan, menyebutkan dan melakukan dalam menghadapi permasalahan, siswa ini sudah mendapat hasil belajarnya yang dilakukan selama kegiatan disekolah maupun di masyarakat. Keberhasilan hasil belajar� oleh� seseorang� dilihat� dari perilakunya,� baik� perilaku� dalam bentuk bentuk penguasaan pengetahuan, keterampilan berpikir maupun keterampilan motorik. Di sekolah, hasil belajar dapat dilihat dari penguasaan materi selama interaksi belajar mengajar yang dilakukan siswa.Hasil belajar dapat dikatakan hasil yang diperoleh siswa, dari interaksi belajar mengajar yang akan mengakibatkan perubahan pola tingkah�� laku�� peserta�� didik, yang�� diukur�� dari�� bentuk�� perubahan pengetahuan, sikap dan keterampilan.. Dari beberapa pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa� hasil belajar merupakan hasil dari pencapaian usaha seseorang dalam melakukan perubahan pola tingkah laku seseorang kearah yang positif yang didapat�� dari�� pengalamanya�� sedangkan�� hasil�� belajar�� siswa�� dapat ditunjukan dengan angka-angka.

Menurut (Uno & Mohamad, 2011) Model pembelajaran kooperatif adalah sekumpulan strategi mengajar yang digunakan guru agar saling membantu dalam mempelajari sesuatu. Model pembelajaran kooperatif dapat digunakan untuk mengajarkan materi yang komplek dan dapat membantu guru dalam mencapai tujuan pembelajaran� yang berdimensi sosial dan hubungan antar manusia� misalnya membuat siswa menghargai perbedaan dan keberagaman. Model pembelajaran kooperatif juga dapat memotivasi seluruh siswa untuk belajar dan membantu saling belajar, berdiskusi berdebat dan menggeluti ide, konsep, dan keterampilan , memanfaatkan energi sosial siswa,� saling mengambil tanggung jawab� dan belajar menghargai satu sama lainnya. (Suprijono, 2016) berpendapat� Karakteristik pembelajaran kooperatif ditandai oleh, peserta didik bekerja dalam kelompok untuk mencapai tujuan pembelajaran, kelompok heterogen dan sistem reward berorientasi pada individu maupun kelompok. Sedangkan manfaat utama dari pembelajaran kooperatif adalah , peserta didik meningkatkan harga diri yang pada gilirannya memotivasi peserta didik� berpartisipasi dalam proses pembelajaran dari pengertian itu dapat ditegaskan pembelajaran kooperatif adalah strategi belajar yang melibatkan partisipasi siswa� dalam satu kelompok kecil� untuk saling berinteraksi dalam strategi ini siswa belajar bekerja sama dengan anggota lainnya, siswa mempunyai dua tanggung jawab , yaitu belajar untuk dirinya sendiri dan membantu sesama anggota kelompok untuk belajar demi untuk keberhasilan.

Model Pembelajaran Student Team Achievement Divisions (STAD) adalah model pembelajaran yang dikembangkan oleh Slavin dengan menekankan adanya aktivitas dan interaksi diantara para siswa untuk saling memberi motivasi dan saling membantu dalam menguasai materi pembelajaran guna mencapai prestasi yang maksimal.

Student Team Achievement Divisions (STAD) adalah salah satu tipe pembelajaran kooperatif yang paling sederhana. Dikatakan demikian karena kegiatan yang dilakukan� masih dekat dengan pembelajaran konvensional� Menurut (Uno & Mohamad, 2011) STAD terdiri dari lima komponen utama yaitu presentasi kelas, kerja tim, kuis , skor perbaikan� individu dan penghargaan tim. Tipe STAD dalam kelompok menggunakan kelompok-kelompok kecil, siswa ditempatkan dalam tim belajar beranggotakan empat sampai lima orang yang merupakan campuran menurut tingkat kinerjanya, jenis kelamin dan suku. Guru menyajikan pelajaran kemudian siswa bekerja dalam tim untuk memastikan bahwa seluruh anggota tim telah menguasai pelajaran tersebut. Akhirnya seluruh siswa dikenai kuis tentang materi itu dengan catatan, saat kuis mereka tidak boleh saling membantu.

(Sunata et al., 2020) menyebutkan gagasan utama di belakang STAD adalah memacu siswa agar saling mendorong dan membantu satu sama lain untuk menguasai keterampilan yang diajarkan oleh guru . Jika mereka ingin kelompoknya memperoleh hadiah maka mereka harus saling membantu teman kelompok mereka dalam mempelajari pelajaran.mereka harus mendorong teman sekelompok untuk melakukan yang terbaik , memperlihatkan norma norma� bahwa belajar itu penting , berharga dan menyenangkan Para siswa diberi waktu untuk bekerja sama setelah pelajaran diberikan guru , tetapi tidak saling� membantu ketika menjalani kuis.

(K. Lestari, 2018) menyebutkan Strategi pembelajaran STAD adalah, siswa dibagi menjadi kelompok beranggota 4 orang yang beragam kemampuan, jenis kelamin, dan suku bangsa, guru memberikan� pelajaran, siswa di dalam kelompok memastikan bahwa semua anggota kelompok bisa menguasai materi pelajaran tersebut, semua siswa menjalani kuis perseorangan tentang materi tersebut, mereka tidak dapat membantu satu sama lain, nilai hasil kuis siswa diperbandingkan dengan nilai rata-rata mereka sendiri sebelumnya, nilai itu diberi hadiah berdasarkan pada seberapa tinggi peningkatan yang bisa mereka capai atau seberapa tinggi nilai itu melampaui nilai mereka sebelumnya, nilai nilai dijumlahkan untuk mendapatkan nilai kelompok dan kelompok yang bisa mencapai nilai tertentu bisa mendapatkan sertifikat atau hadiah hadiah lainnya.

Sedangkan langkah-langkah model pembelajaran Student Team Achievement Division (STAD) menurut (Aqib, 2013) adalah, membentuk kelompok yang anggotanya sebanyak 4 orang secara heterogen (campuran menurut prestasi, jenis kelamin, suku dan lain lain), guru Menyajikan Pelajaran, guru Memberi tugas kepada kelompok untuk dikerjakan oleh anggota kelompok. Anggota tahu menjelaskan pada anggota lainya sampai semua anggota dalam kelompok mengert, guru memberi Kuis / pertanyaan kepada seluruh siswa, pada saat menjawab kuis tidak boleh saling membantu, memberi evaluasi, kesimpulan

Dari beberapa pendapat dapat ditegaskan langkah-langkah pembelajaran Kooperatif Model Student Team Achievement Division (STAD) adalah, guru menyampaikan tujuan pelajaran yang ingin dicapai pada pembelajaran tersebut dan memotivasi siswa untuk belajar, pembagian kelompok siswa dibagi dalam beberapa kelompok terdiri dari 4-5 siswa� yang memprioritaskan keberagaman kelas dalam prestasi akademik, gender, ras atau etnik, presentasi dari guru, guru menyampaikan materi pelajaran dengan terlebih dulu menjelaskan tujuan pelajaran yang ingin dicapai pada pertemuan tersebut , serta pentingnya pokok bahasan tersebut dipelajari, guru memotivasi siswa agar dapat belajar dengan aktif dan kreatif, dalam proses pembelajaran guru dibantu oleh media , demonstrasi, pertanyaan atau masalah� nyata yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Dijelaskan juga tentang keterampilan dan kemampuan yang diharapkan dikuasai oleh siswa, tugas dan pekerjaan yang harus dilakukan, dan cara-cara mengerjakannya, kegiatan belajar dalam tim, siswa belajar dalam kelompok yang telah dibentuk, guru menyiapkan lembar kerja sebagai pedoman bagi kerja kelompok. Sehingga semua anggota menguasai dan masing masing memberikan kontribusinya. Selama tim bekerja guru melakukan pengamatan, memberikan bimbingan, dorongan dan bantuan jika diperlukan, kerja tim ini merupakan ciri penting STAD, kuis/ Evaluasi, guru melakukan evaluasi hasil belajar melalui kuis� tentang materi yang dipelajari dan juga melakukan penilaian terhadap presentasi hasil kerja masing masing� kelompok, siswa diberi kuis individual dan tidak dibenarkan bekerja sama. Ini dilakukan agar siswa secara individu� bertanggung jawab kepada dirinya sendiri� dalam memahami bahan ajar tersebut. Guru menetapkan batas penguasaan untuk setiap soal sesuai dengan tingkat kesulitannya, penghargaan prestasi tim, setelah pelaksanaan kuis guru memeriksa hasil pekerjaan siswa, selanjutnya memberi� penghargaan atas keberhasilan kelompok.

Kelebihan dan kekurangan metode STAD, Suatu strategi pembelajaran mempunyai keunggulan dan kekurangan menurut (Afandi et al., 2013). Pembelajaran kooperatif tipe STAD mempunyai beberapa keunggulan menurut (Laa et al., 2017) keunggulan tersebut yaitu,� menekankan pada adanya aktivitas dan interaksi antara siswa untuk saling memotivasi dan saling membantu dalam menguasai materi pelajaran guna mencapai prestasi yang maksimal dalam kegiatan kelompok, setiap siswa memiliki kesempatan yang sama untuk memberikan sumbangan skor maksimal bagi kelompoknya berdasarkan skor tes yang diperolehnya berdasarkan skor perkembangan individu.

Kekurangan yaitu menurut (Afandi et al., 2013) adalah harus adanya pengaturan tempat duduk yang baik dalam kelompok, hal ini dilakukan untuk menunjang keberhasilan pembelajaran kooperatif apabila tidak ada pengaturan tempat duduk dapat menimbulkan kekacauan yang menyebabkan gagalnya

Kelebihan Model Pembelajaran STAD. kelebihan model pembelajaran kooperatif metode STAD untuk jangka pendek menurut (Nikmah et al., 2016) sebagai berikut, model pembelajaran kooperatif membantu siswa mempelajari isi materi pelajaran yang sedang dibahas, adanya anggota kelompok lain yang menghindari kemungkinan siswa mendapat nilai rendah, karena dalam tes lisan siswa dibantu oleh anggota kelompoknya, pembelajaran kooperatif menjadikan siswa mampu belajar berdebat, belajar mendengarkan pendapat orang lain, dan mencatat hal-hal yang bermanfaat untuk kepentingan bersama-sama, pembelajaran kooperatif menghasilkan pencapaian belajar siswa yang tinggi menambah harga diri siswa dan memperbaiki hubungan dengan teman sebaya dan hadiah atau penghargaan yang diberikan akan memberikan dorongan bagi siswa untuk mencapai hasil yang lebih tinggi.

Penelitian Tindakan Kelas yang dilakukan oleh (Norkhamid, 2017) dengan Judul Peningkatan Hasil Belajar Matematika Materi Limit Fungsi Melalui Model Course Review Horray Bagi Peserta Didik XI IPA 4 SMA N 1 Mayong (e- Aksioma Vol. 8, No. 2, November 2017� e-ISSN 2579-7646) Hasil penelitian ini adalah melalui model pembelajaran Course Review Horray dapat meningkatkan hasil belajar matematika pada materi limit fungsi bagi peserta didik kelas XI IPA 4 SMA Negeri 1 Mayong semester genap tahun pelajaran 2015/2016 dan terjadi peningkatan hasil belajar matematika sebesar 17,65% yaitu pada siklus I yang tuntas 70,59 % peserta didik menjadi 88,24% pada siklus II setelah menerapkan model pembelajaran Course Review Horray. pada materi limit fungsi�� bagi peserta didik kelas XI IPA 4 SMA.Relevansi Penelitian : Penelitian ini sama-sama materi limit SMA kelas XI perbedaanya adalah metode pembelajaran yang diterapkan.

Penelitian Tindakan Kelas yang dilakukan oleh (W. Lestari et al., 2018) dengan Judul : Implementasi Pendekatan Saintifik Setting Kooperatif Tipe STAD Terhadap Motivasi Belajar dan Prestasi Belajar Matematika (2018) Hasil penelitiannya menyatakan, melalui kegiatan pembelajaran tersebut mengaktifkan siswa (student centered) yang selanjutnya berdampak positif pada motivasi belajar matematika. Mempunyai motivasi belajar membuat siswa memiliki semangat tinggi dalam mengikuti proses pembelajaran sehingga memudahkan siswa untuk memahami pelajaran. Hal ini dibuktikan dengan peningkatan kemampuan kognitif yakni prestasi belajar pada siswa kelas VIIC SMP Negeri 2 Gamping. Relevansi Penelitian : Penelitian ini sama-sama PTK model pembelajarn� pembelajaran kooperatif� STAD

 

Metode Penelitian

Penelitian ini merupakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) karena berupaya meningkatkan mutu proses dan hasil pembelajaran limit. Adapun langkah langkah penelitan adalah: penetapan masalah penelitian, perencanaan tindakan perbaikan, pelaksanaan tindakan perbaikan ovservasi dan intepretasi, analisis dan dan refleksi.� Penelitian tindakan kelas diartikan sebagai suatu penelitian yang dilakukan secara sistematis, reflektif terhadap berbagai tindakan yang dilakukan oleh guru mulai dari perencanaan sampai dengan penilaian terhadap tindakan nyata di dalam kelas yang berupa kegiatan belajar mengajar untuk memperbaiki kondisi pembelajaran yang dilakukan (Basuki Wibawa, 2003: 9). Dalam penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan dalam dua siklus yang� masing-masing� siklus terdiri dari empat tahap, yaitu: perencanaan (planning), pelaksanaan tindakan, (acting), pengamatan (observating), dan� refleksi (reflecting).

Subyek penelitian adalah kelas XI MIPA 1 SMA Negeri Magelang, dengan jumlah siswa sebanyak 30 dengan rincian� 14 laki laki� dan 16 perempuan. Kelas ini dipilih sebagai subyek penelitian karena: (a) motivasi belajar matematika rendah, hal ini dapat ditunjukan dari pengamatan peneliti terlihat bahwa pada waktu proses pembelajaran masih banyak siswa yang mengobrol sendiri, mengantuk, tidak memperhatikan guru pada waktu guru memberikan informasi pembelajaran. Demikian juga (b) hasil belajar matematika rendah hal ini dapat ditunjukkan dari dari hasil ulangan Induksi matematika diperoleh rata rata 68.75 dengan KKM 75 yang tuntas baru 40.00 % siswa.

Penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan di SMA Negeri 3 Magelang, kota Magelang Jawa Tengah. Sedangkan waktu penelitian dilaksanakan pada semester genap tahun pelajaran 2019/2020 mulai dari bulan Januari� 2020 sampai dengan bulan bulan Maret� 2020.

 

Hasil dan Pembahasan

A.     Hasil Penelitian

1.   Diskripsi Awal

Sebelum melaksanakan proses penelitian, terlebih dahulu peneliti melakukan observasi untuk mengetahui kondisi awal kemampuan siswa kelas X.MIPA-1 dalam pembelajaran limit.

Berdasarkan nilai ulangan harian pada materi Induksi Matematika dapat diketahui bahwa siswa kelas XI.MIPA-1� SMAN 3 Magelang� memiliki motivasi belajar dan hasil belajar yang rendah. Masih banyak siswa yang memperoleh nilai dibawah KKM dan keaktifan mereka dalam mengikuti pembelajaran matematika di kelas masih rendah. Sebagian�� besar siswa malas karena sering mengalami kesulitan mempelajari matematika. Prestasi belajar matematika rendah dibanding mata pelajaran lain dan motivasi belajar siswa juga rendah. Rendahnya motivasi dan hasil belajar siswa makin nampak� ketika� mereka� mulai� mempelajari� materi limit, kegiatan pembelajaran selama ini menurut persepsi siswa masih bersifat monoton sehingga kurang menyenangkan. Metode-metode pembelajaran yang digunakan masih berpusat pada guru dan kegiatannya hanya sebatas memperhatikan�� penjelasan�� guru,�� mencatat dan latihan�� soal.�� Kegiatan�� ini cenderung membuat siswa menjadi bosan terhadap pelajaran matematika khususnya limit sehingga banyak siswa yang kurang memahami materi yang disampaikan.

Berdasarkan fenomena tersebut diperoleh gambaran bahwa kurangnya variasi metode yang digunakan dalam pembelajaran diprediksi menjadi salah satu sumber kesulitan bagi siswa. Berdasarkan alasan inilah perlu upaya untuk mengatasinya melalui penerapan� model pembelajaran Student Teams Achievement Division (STAD) pada siswa kelas XI MIPA 1. Metode ini diharapkan dapat meningkatkan motivasi dan hasil belajar limit.

Angket motivasi siswa terhadap pembelajaran Limit ini disampaikan kepada siswa sebelum penelitian tindakan kelas dimulai.� Hal ini dilakukan untuk mendapatkan informasi tentang motivasi siswa terhadap pembelajaran limit yang sudah berlangsung sebelum dilaksanakannya tindakan. Kemudian diberikan lagi kepada siswa setelah selesai penelitian tindakan kelas, angket ini digunakan untuk mengetahui�� apakah�� penelitian�� tindakan�� kelas�� yang�� dilakukan�� mempunyai pengaruh terhadap motivasi siswa dalam pembelajaran limit.

Hasil angket motivasi dan hasil belajar sebelum tindakan adalah sebagai berikut:

 

Tabel 1

Tabel Motivasi Siswa

No

Skore

Pra Siklus

1

Nilai Rataan

46.11

2

Predikat

Kurang

3

Nilai Terendah

16.66

4

Nilai Tertinggi

83.33

 

Tabel 2

Tabel Hasil Belajar

No.

Nilai

Pra Siklus

1

Nilai Rataan

68.75

2

Nilai Terendah

37.50

3

Nilai Tertinggi

87.50

4

Ketuntasan Belajar

43.33 %

a.       Kegiatan tindakan :

1)   Siklus 1

Pada kegiatan pembelajaran siklus 1 dilaksanakan langkah langkah:

a)   Perenacanaan (Planning)

Pada tahap ini peneliti menyiapkan perangkat pembelajaran antara lain silabus, RPP, media ,instrumen penilaian , lembar pengamatan dan angket motivasi belajar siswa.

b)   Pelaksanaan (Acting)

Pada tahap ini peneliti menerapkan rencana tindakan dalam pembelajaran limit dengan model pembelajaran Student Teams Achievement Division (STAD) pada siswa kelas XI MIPA 1, kemudian ditindaklanjuti dengan evaluasi pembelajaran� materi limit mendekati nilai tertentu, urutan pelaksanaan� tindakan� dalam� penelitian� ini� adalah� sebagai berikut :

(1)    Guru membuka� pelajaran� dengan� memberi� salam� dan� presensi siswa.

(2)    Guru menginformasikan materi, tujuan pembelajaran dan metode� yang akan digunakan.���

(3)    Guru membagi siswa menjadi 7 kelompok terdiri dari 4-5 siswa secara heterogen

(4)    Guru menyajikan pelajaran tentang limit� mendekati nilai tertentu.

(5)    Guru memberi tugas LKS materi limit fungsi alajabar kepada kelompok untuk dikerjakan oleh anggota kelompok� dan� anggota sudah mengerti menjelaskan pada anggota lainya sampai semua anggota dalam �kelompok mengerti.

(6)    Guru memberi kuis / pertanyaan kepada seluruh siswa , pada saat menjawab kuis tidak boleh saling membantu.

(7)    Memberi evaluasi. dan kesimpulan

c)   Observasi

Pada tahap ini peneliti bersama observer melakukan kegiatan pengamatan terhadap proses pembelajaran. Hasil pengamatan dicatat dan dirangkum� sebagai� dasar� acuan� pelaksanaan� tahap� selanjutnya. Berdasarkan pengamatan terhadap pelaksanaan siklus I dapat dilaporkan hal-hal sebagai berikut:

(1)    Pada saat apersepsi, masih banyak siswa yang kurang memperhatikan.

(2)    Pada waktu guru menerangkan materi, hanya beberapa siswa saja yang mau bertanya.

(3)    Pada waktu kegiatan� diskusi� masih belum berjalan dengan baik masih banyak siswa yang pasif.

(4)    Guru dalam menerangkan materi masih terlau cepat, sehingga sulit dipahami

����� siswa

Melalui pengamatan peneliti pelaksanaan siklus I secara umum proses pembelajaran dengan metode Student Teams Achievement Division (STAD sudah berjalan sesuai dengan yang direncanakan. Sebagian besar siswa antusias untuk mengikutinya hal ini terjadi karena metode ini baru� pertama kali siswa dapatkan.

Dari gambar 1 terlihat para siswa aktif� mengikuti kegiatan kelompok tampak sebagian besar siswa berpartisipasi aktif dan antusias dalam mengikuti diskusi maupun mengerjakan tugas secara individual / tugas kelompok yang diberikan melalui LKS materi Limit mendekati nilai tertentu. Dari gambar 2 dapat dilihat seorang siswa yang telah paham materi dengan semangat membimbing temannya yang belum paham� karena ia tahu bahwa keberhasilan keberhasilan yang harus didapat tidak hanya keberhasilan individu tetapi juga keberhasilan kelompok.

 

 

 

 

 

 

 

 

 


������������� �����Gambar 1

����� ������������

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 2

Dari pengamatan pembelajaran siklus I ini didapat masih ada beberapa kekurangan yang datang baik dari guru maupun dari siswa. Hal ini dapat dilihat dari beberapa siswa masih pasif dalam kegiatan pembelajaran. Guru terlalu cepat menyampaikan materi sehingga siswa sulit untuk memahaminya. Pemahaman siswa akan tugas yang diberikan oleh guru masih rendah, ini terjadi karena guru memberikan tugas soal dalam waktu yang singkat. Pembimbingan guru belum merata pada setiap kelompok Disamping itu interaksi siswa dan guru juga masih kurang, mengakibatkan siswa kurang� berani� mengungkapkan� pendapatnya.�

 

Tabel 3

Tabel Motivasi Siswa

No

Skore

Siklus I

1

Nilai Rataan

60.55

2

Predikat

Cukup

3

Nilai Terendah

40.00

4

Nilai Tertinggi

73.33

���������� ����������

Tabel 4

Tabel Hasil Belajar

No.

Nilai

Siklus I

1

Nilai Rataan

77.53

2

Nilai Terendah

�56.00

3

Nilai Tertinggi

100.00

4

Ketuntasan Belajar

66.67 %

Setelah melaksanakan tindakan dan observasi pada siklus pertama, peneliti melakukan diskusi dengan observer untuk mendapatkan saran dan masukan guna mengadakan refleksi. Dalam proses kegiatan pembelajaran yang dilaksanakan, guru telah berusaha tampil dengan baik sesuai dengan skenario model pembelajaran Student Teams Achievement Division (STAD) Berdasarkan hasil pengamatan dan diskusi, dapat disampaikan refleksi sebagai berikut: 1).Pembimbingan� dalam� kegiatan� diskusi� telah� dilakukan� oleh� guru, tetapi dalam pelaksanaannya masih belum merata 2) Guru� dalam� menyampaikan� materi� sudah� bagus� sesuai� dengan skenario pembelajaran, tetapi dalam penyampaian materi guru terlalu cepat sehingga siswa kurang bisa menerima dengan jelas.

Dari hasil observasi dan refleksi pada siklus I,� dapat dikatakan bahwa penerapan model pembelajaran Student Teams Achievement Division (STAD) belum mencapai tingkat ketuntasan belajar secara klasikal.� Oleh� karena� itu� perlu� dilakukan� tindakan� untuk� siklus� kedua, dengan beberapa catatan� sebagai berikut:

1.     Guru harus lebih menekankan pentingnya siswa untuk mengetahui dan memahami tujuan pembelajaran yang disampaikan.

2.     Guru dalam menjelaskan materi diupayakan dapat membangkitkan semangat siswa untuk bertanya.

3.     Guru� harus lebih intensif dan merata� dalam pembimbingan diskusi kelompok

4.     Guru hendaknya lebih bisa berinteraksi dengan siswa-siswanya dengan cara melakukan pendekatan kepada siswa yang mengalami kesulitan dalam mengerjakan tugas.

5.     Guru dalam menyampaikan materi jangan terlalu cepat sehingga siswa dapat memahami dengan jelas.

2)   Siklus 2

Berdasarkan hasil refleksi pada Siklus 1 dapat disimpulkan bahwa kedua indikator penelitian belum tercapai, terbukti (a) motivasi belajar siswa pada pembelajaran limit sebesar 60,55 predikat cukup� dan (b) ketuntasan� belajar siswa pada pembelajaran limit sebesar 66,67 Oleh karena itu peneliti melaksanakan Siklus 2 dengan langkah-langkah sebagai berikut:

a)       Perenacanaan (Planning) Perencanaan pada siklus II ini disusun berdasarkan refleksi siklus I. Berdasarkan hasil refleksi pada siklus I, ternyata hasil penelitian belum sesuai dengan tujuan penelitian dan masih ada kekurangan-kekurangan pada proses pembelajaran. Untuk memperbaiki berbagai kekurangan dan kelemahan� yang� ditemukan� pada� siklus� I,� maka� kegiatan� selanjutnya adalah melaksanakan pembelajaran pada siklus II.Kegiatan pada siklus kedua merupakan kegiatan yang sama dengan kegiatan sebelumnya untuk mengulang kembali tindakan yang sudah ada sebagai tambahan perbaikan dari tindakan terdahulu. Dalam perencanaan ini peneliti menentukan langkah-langkah yang akan dilakukan sebagai solusi untuk mengatasi dari kekurangan tersebut. Selanjutnya peneliti akan melaksanakan tindakan untuk siklus yang kedua dalam 3 kali pertemuan. Pertemuan pertama dan kedua digunakan untuk menyampaikan materi limit mendekati tak hingga menggunakan metode model pembelajaran Student Teams Achievement Division (STAD, sedangkan pertemuan ketiga untuk melakukan evaluasi.

b)      Pelaksanaan (Acting)

Pada tahap ini peneliti menerapkan rencana tindakan dalam pembelajaran limit mendekati tak hingga dengan model pembelajaran Student Teams Achievement Division (STAD) pada siswa kelas XI MIPA 1, kemudian ditindak lanjuti dengan evaluasi pembelajaran� materi limit dan angket motivasi.

c)       Observasi(Observing)

Berdasarkan pengamatan guru sebagai peneliti siklus II berjalan lebih baik dari siklus sebelumnya. Semua Skenario pembelajaran STAD dapat dilaksanakan dengan baik, semua kekurangan yang ditemukan pada siklus I sudah diperbaiki pada siklus II dengan demikian pelaksanaan tindakan siklus II telah berjalan sesuai dengan rencana yang ditentukan

d)      Refleksi(Reflecting)

Siklus II dapat dilaksanakan sesuai rencana yang ditetapkan berdasar hasil refleksi siklus I. Dari observasi pelaksanaan siklus II lebih baik dari pelaksanaan siklus I, Hal ini disebabkan karena persiapan guru lebih baik, sedangkan siswa telah memahami model pembelajaran STAD mulai terbiasa

Pada siklus II guru telah mampu mengelola pembelajaran dengan baik dan siswa nampak sudah bisa beradaptasi dengan pembelajaran kooperatif. model STAD. Guru telah mampu membangkitkan motivasi belajar siswa dan bimbingan guru merata pada semua siswa. Pengaturan waktu sudah sangat baik sehingga KBM berjalan sesuai skenario. Pada siklus II ini guru sudah mampu mengatasi segala permasalahan yang hal yang menghambat kegiatan belajar mengajar dengan mengadakan perbaikan perbaikan beberapa aspek yang dirasa masih kurang. Secara keseluruhan kegiatan pembelajaran kooperatif model STAD� telah berlangsung baik efektif dan efisien.

Tabel 5

Tabel Motivasi Siswa

No

Skore

Siklus II

1

Nilai Rataan

84.44

2

Predikat

Baik

3

Nilai Terendah

63.33

4

Nilai Tertinggi

100.00

�������

Tabel 6

Tabel Hasil Belajar

No

Skore

Siklus II

1

Nilai Rataan

84.44

2

Predikat

Baik

3

Nilai Terendah

63.33

4

Nilai Tertinggi

100.00

 

B.      Pembahasan

Sebelum penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan, peneliti mengadakan observasi terlebih dahulu yaitu dengan memberikan angket, untuk mengetahui�� motivasi�� siswa�� terhadap�� pembelajaran Limit sebelum dilakukan tindakan. Selain itu dilakukan juga pengamatan terhadap aktivitas belajar Limit sebelum dilakukan tindakan. Penelitian ini dilakukan dalam dua siklus, setiap siklusnya dilaksanakan dalam empat tahap, yaitu, perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi dan refleksi.

Dalam dua siklus tersebut peneliti menggunakan Model Pembelajaran Student Teams Achievement Division (STAD) materi Limit. Setiap siklus terdiri dari tiga pertemuan, dua pertemuan untuk penyampaian materi sedangkan pertemuan ketiga untuk menyampaikan evaluasi. Setelah melaksanakan tindakan pada setiap siklus,� maka� data-data yang diperoleh sebagaimana telah dideskripsikan dalam hasil penelitian, dianalisis dalam distribusi frekuensi sebagai berikut:

Tabel 7

Hasil Angket Motivasi

Data Motivasi

Keadaan

Awal

Siklus I

Siklus II

Skore

Predikat

Skore

Predikat

Skore

Predikat

Rata-rata

46.11

Kurang

60,56

Cukup

80,44

Baik

Kenaikan

 

 

14,45 %

 

19,88� %

 

��������

Tabel 8

Prosentase Hasil Belajar Limit

Nilai

Keadaan

Awal

Siklus I

Siklus II

Jumlah

%

Jumlah

%

Jumlah

%

�< 75

17

56,77

�10

33,33

�6

20,00

�≥ 75

13

43,33

�20

66,77

�24

80,00

Rata-rata

68,77

77,53

85,26

 

Dari tabel I-8 dapat diketahui kondisi awal hasil belajar Limit sebelum diberikan tindakan, dapat kita lihat bahwa secara klasikal nilai rata-rata hasil belajar siswa 68,77 belum mencapai standar ketuntasan minimal yang ditentukan yaitu 75. Demikian pula secara individual masih banyak siswa yang hasil belajarnya masih dibawah standar ketuntasan belajar minimal yaitu sebanyak 17 siswa, sehingga prosentase ketuntasan baru 43,33 %. Hal itu menunjukkan bahwa proses belajar mengajar yang dilaksanakan oleh guru belum mencapai hasil yang optimal. Penyebabnya bisa berasal dari guru maupun siswa, dari guru mungkin karena pemilihan metode yang kurang tepat untuk membangkitkan semangat belajar siswa, yang menyebabkan prestasi belajar siswa rendah. Sedangkan dari siswa yaitu rendahnya motivasi belajar, dan kurang aktifnya siswa dalam pembelajaran. Salah satu solusi untuk mengatasi kekurangan pada pembelajaran ini dengan menerapkan Model Pembelajaran Student Teams Achievement Division (STAD),� diharapkan dapat meningkatkan motivasi belajar siswa, juga dapat memudahkan siswa dalam memahami� materi� Limit sehingga dapat� meningkatkan� hasil�� belajar siswa.

Dari tabel I-8 dapat dilihat hasil tindakan dari tiap siklus. Pada siklus I jumlah anak yang mendapat nilai < 75 sebanyak 10 anak, sedangkan yang mendapat nilai ≥ 75 sebanyak 20 anak. Sehingga 33,33 % masih mendapatkan�� nilai�� dibawah�� standar�� ketuntasan�� minimal, sedangkan�� yang mencapai ketuntasan belajar baru 66,67 %, dan nilai rata-rata kelas 77,53. Jika dibandingkan dengan hasil belajar pada kondisi awal, pada siklus I ini telah menunjukkan peningkatan. Namun masih belum memenuhi indikator kinerja yang ditentukan pada penelitian ini. . Meskipun nilai rata-rata kelas sudah diatas standar ketuntasan minimal, namun secara individual jumlah siswa yang hasil belajarnya mencapai standar ketuntasan minimal masih kurang dari 75 % dari jumlah seluruh siswa. Sehingga belum mencapai indikator kinerja yang ditentukan pada penelitian ini, maka masih perlu dilanjutkan siklus II yang didasarkan pada hasil observasi dan refleksi pada siklus I. Dari hasil pengamatan terhadap pembelajaran pada siklus I masih terdapat kekurangan dan kelebihan. Kekurangan dan kelebihan itu datang baik dari guru maupun dari siswa. Hal ini dapat dilihat dari sebagian siswa yang masih pasif dalam kegiatan pembelajaran. Guru terlalu cepat menyampaikan materi sehingga siswa sulit untuk memahaminya. Pemahaman siswa akan tugas yang diberikan oleh guru masih rendah, ini terjadi karena guru memberikan soal dan waktu untuk mengerjakan tidak seimbang. Waktu yang sempit cenderung membuat siswa mengerjakan tugas kurang cermat, yang penting selesai. Disamping itu interaksi siswa dan guru juga kurang, mengakibatkan siswa kurang berani mengungkapkan� pendapatnya.� Dari kekurangan yang ada pada siklus I tersebut, maka guru (peneliti) dan observer menyusun rencana pembelajaran siklus II untuk mengatasinya.� Dari table I-8 pada siklus II terlihat banyaknya siswa yang mendapat nilai ≥ 75 sebanyak 24 siswa atau 80,00 % dengan rata-rata kelas sebesar 85,26. Hal ini menunjukkan bahwa hasil belajar pada siklus II ini mengalami peningkatan yang cukup signifikan dibandingkan hasil belajar siswa pada kondisi awal sebelum dilakukan tindakan maupun hasil belajar siswa pada siklus sebelumnya. Selain itu hasil belajar siswa yang dicapai pada siklus II sudah memenuhi indikator kinerja yang telah ditentukan pada penelitian ini.

Demikian dapat disimpulkan bahwa tindakan guru melaksanakan pembelajaran Limit menggunakan metode Pembelajaran Student Teams Achievement Division (STAD) dapat meningkatkan� hasil� belajar� siswa� yang� ditunjukkan� dengan� peningkatan� nilai siswa setiap siklus. Disamping itu pembelajaran Limit menggunakan metode Pembelajaran Student Teams Achievement Division (STAD juga dapat meningkatkan motivasi belajar siswa, hal ini dapat dilihat dalam tabel I-7 yang menunjukkan perbandingan kondisi awal Siklus 1 dengan skor 60,56 dengan predikat cukup menjadi skor 84,44 dengan predikat baik pada kondisi akhir siklus 2. dengan demikian ada peningkatan� motivasi belajar siswa sebesar 39,4 %. Berdasarkan� hasil� tersebut,� maka� tindakan� yang� dirumuskan� yaitu:menggunakan� metode Pembelajaran Student Teams Achievement Division (STAD)�� dapat� meningkatkan motivasi dan hasil belajar Limit pada siswa SMA Negeri 3 Magelang Tahun Pelajaran 2019/2020 �� dapat� dibuktikan kebenarannya.

 

Kesimpulan

Berdasarkan analisis data dari hasil penelitian tindakan kelas ini dapat disimpulkan bahwa: (1) Penggunaan metode pembelajaran Student Teams Achievement Division (STAD dapat meningkatkan motivasi belajar siswa pada materi limit. Hal ini terlihat dari temuan di kelas, baik yang ditunjukkan dalam proses kegiatan belajar mengajar maupun hasil angket motivasi siswa. Dari segi proses kegiatan belajar ditunjukkan ole siswa merasa percaya diri dan lebih berani mengemukakan pendapat dan jawaban setelah proses pembelajaran menggunakan metode Student Teams Achievement Division (STAD), siswa lebih mudah memahami konsep-konsep dan materi yang diberikan guru, siswa terlihat memperhatikan pelajaran yang diberikan oleh guru dan terlihat aktif dalam mengikuti kegiatan belajar mengajar. Sedangkan hasil angket motivasi terlihat adanya peningkatan yang cukup signifikan antara motivasi belajar siswa pada kondisi awal dengan motivasi belajar siswa pada kondisi akhir. Hal ini dapat dilihat dari data motivasi siswa sebelum tindakan (pra siklus) dengan skor 46,11 dengan kategori kurang meningkat menjadi 60,56 dengan kategori cukup pada siklus I dan meningkat menjadi 84,44 dengan kategori baik pada siklus II. (2) Penggunaan metode metode Pembelajaran Student Teams Achievement Division (STAD) dapat meningkatkan hasil belajar siswa pada materi limit. Hal ini dapat dilihat dari sebelum tindakan rerata nilai 68,75 dengan ketuntasan belajar 43,44 % menjadi 77,83 dengan ketuntasan belajar 66,67 % pada siklus I dan� menjadi 85,28� dengan ketuntasan� 80 % pada siklus II. Peningkatan ketuntasan belajar tersebut adalah Siklus I meningkat 23,23 % dari pra siklus sedangkan, siklus II meningkat� 13,33 % dari siklus I.

 

BIBLIOGRAFI

 

Afandi, M., Chamalah, E., Wardani, O. P., & Gunarto, H. (2013). Model dan metode pembelajaran. Semarang: Unissula. Google Scholar

 

Akuba, S. F., Purnamasari, D., & Firdaus, R. (2020). Pengaruh Kemampuan Penalaran, Efikasi Diri dan Kemampuan Memecahkan Masalah Terhadap Penguasaan Konsep Matematika. JNPM (Jurnal Nasional Pendidikan Matematika), 4(1), 44�60. Google Scholar

 

Aqib, Z. (2013). Model-model, media, dan strategi pembelajaran kontekstual (inovatif). Bandung: Yrama Widya. Google Scholar

 

Baselman, A., & Mappa, S. (2011). Teori belajar orang dewasa. PT Remaja Rosdakarya. Google Scholar

 

Chairunnisa, D., Afriatin, T. S., & Firmansyah, M. I. (2020). Implementasi Permendikbud No. 22 Tahun 2016 Tentang Standar Proses Dalam Pembelajaran Pai Di Smp Inovatif Al-Ibda�. Taklim: Jurnal Pendidikan Agama Islam, 18(1), 53�64. Google Scholar

 

GINTING, S. C. (2020). Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Dengan Menggunakan Model Teams Games Tournament (Tgt) Pada Mata Pelajaran Matematika Di Kelas Iv Sd Negeri 040462 Tangkulen Tp 2019/2020. Universitas Quality. Google Scholar

 

Huda, M. (2017). Kompetensi kepribadian guru dan motivasi belajar siswa. Jurnal Penelitian, 11(2), 237�266. Google Scholar

 

Idola, S., & Sano, A. (2017). Hubungan Antara Persepsi Siswa Tentang Keadaan Lingkungan Fisik Sekolah Dengan Motivasi Belajar. Jurnal EDUCATIO: Jurnal Pendidikan Indonesia, 2(2), 30�34.� Google Scholar

 

Illahi, M. T. (2012). Pembelajaran discovery strategy & mental vocational skill. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Google Scholar

 

Laa, N., Winata, H., & Meilani, R. I. (2017). Pengaruh model pembelajaran kooperatif tipe student teams achievement division terhadap minat belajar siswa. Jurnal Pendidikan Manajemen Perkantoran (JPManper), 2(2), 251�260. Google Scholar

 

 

Lestari, K. (2018). Peningkatan Hasil Belajar Matematika Materi Bangun Datar Melalui Metode Student Teams Achievement Division (Stad) Dan Media Pop-Up Book Pada Siswa Kelas Iii Mi Negeri 9 Boyolali Tahun Pelajaran 2017/2018. IAIN Salatiga. Google Scholar

 

Lestari, W., Pratama, L. D., & Jailani, J. (2018). Implementasi Pendekatan Saintifik Setting Kooperatif Tipe STAD Terhadap Motivasi Belajar Dan Prestasi Belajar Matematika. AKSIOMA: Jurnal Matematika Dan Pendidikan Matematika, 9(1), 29�36. Google Scholar

 

Nikmah, E. H., Fatchan, A., & Wirahayu, Y. A. (2016). Model pembelajaran student teams achievement divisions (stad), keaktifan dan hasil belajar siswa. Jurnal Pendidikan Geografi, 3(3), 1�17. Google Scholar

 

Nomor, P. (2014). Permendikbud Nomor 103 Tahun 2014 tentang Pembelajaran pada Pendidikan Dasar dan Pendidikan Menengah. Jakarta: Kemendikbud. Google Scholar

 

Norkhamid, N. (2017). Peningkatan Hasil Belajar Matematika Materi Limit Fungsi Melalui Model Course Review Horray Bagi Peserta Didik XI IPA 4 SMA N 1 Mayong. AKSIOMA: Jurnal Matematika Dan Pendidikan Matematika, 8(2), 19�32. Google Scholar

 

Simbolon, N. (2014). Faktor-faktor yang mempengaruhi minat belajar peserta didik. Elementary School Journal Pgsd Fip Unimed, 1(2). Google Scholar

 

Sunata, Y., Hakim, R., Fahrudin, F., & Mayar, F. (2020). Penggunaan Strategi Group Resume Untuk Meningkatkan Keterampilan Bertanya Dan Hasil Belajar Siswa Di Sekolah Dasar. Jurnal Basicedu, 4(1), 44�50. Google Scholar

 

Suparji, S. E., & UPY, P. (2015). Implementasi Model Pembelajaran Kooperatif Stad Untuk Meningkatkan Motivasi Dan Hasil Belajar Siswa. Google Scholar

 

Suprijono, A. (2016). Model-model pembelajaran emansipatoris. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Google Scholar

 

Uno, H. B., & Mohamad, N. (2011). Belajar dengan pendekatan PAILKEM. Jakarta: Bumi Aksara. Google Scholar

 

Wisman, Y. (2020). Teori Belajar Kognitif Dan Implementasi Dalam Proses Pembelajaran. Jurnal Ilmiah Kanderang Tingang, 11(1), 209�215. Google Scholar

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


Copyright holder :

Yustinus Sumpana (2021)

 

First publication right :

Jurnal Syntax Transformation

 

This article is licensed under: