Jurnal Syntax Transformation

Vol. 1 No. 3 Mei 2020

p-ISSN : 2721-3854 e-ISSN : 2721-2769

Sosial Sains


 

PENINGKATAN MOTIVASI BELAJAR SISWA PADA TEMA PERKEMBANGAN POLITIK MELALUI PENDEKATAN SAINTIFIK PADA SISWA KELAS IX MTSN 3CIREBON

 

Satari

Guru MTsN 3 Cirebon

Email: [email protected]

 

INFO ARTIKEL

ABSTRAK

Diterima

22 April 2020

Diterima dalam bentuk revisi

15 Mei 2020

Diterima dalam bentuk revisi

20 Mei 2020

Berdasarkan hasil pretest pada siswa kelas IX tentang perkembangan politik,pemahaman siswa masih kurang karena disebabkan oleh minimnya kepedulian dan ketertarikan siswa tentang politik. Oleh karena itu membangun konstruksi pengetahuan siswa tentang perkembangan politik penting untuk dilakukan. Adapun pendekatan yang akan diimplementasikan adalah model pembelajaran saintifik. Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan rancangan tindakan yang dikembangkan oleh Kemmis dan Mc Taggart. Pada penelitian tindakan kelas ada tahap-tahap yang harus dilakukan yang disebut siklus. Siklus dalam penelitian ini terdiri dari perencanaan (planning), tindakan (acting), pengamatan (observing), refleksi (reflecting). Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada siklus I masih terdapat kekurangan yakni motivasi belum sesuai dengan harapan sedangkan pada siklus II sebagai perbaikan dari siklus I sudah terdapat perbaikan/peningkatan aspek motivasi yang awalnya masih kurang. Hasil perhitungan dengan mengkomparasikan antara siklus I dan II diketahui nilai p value sebesar 0,000 di mana < 0,05. Karena < 0,05 maka perbedaan bermakna secara statistik atau signifikan pada probabilitas 0,05.

Kata kunci:

motivasi belajar,pembelajaran saintifik


Pendahuluan

Pentingnya pendidikan politik bagi pemuda ialah untuk membangun minat dan kesadaran politik mereka. Hal ini agar pemuda mampu berperan aktif terhadap perpolitikan bangsa dan menjadi pengawas kebijakan politik pemerintah. Pendidikan politik bagi remaja akan sangat berguna untuk mempersiapkan mental dan pemikiran mereka yang nantinya akan melahirkan para pemimpin dengan pemikiran yang matang. Dalam keadaan politik saat ini, peran dan partisipasi remaja memang diperlukan agar terjadi regenerasi politik. Regenerasi yang diharapkan bukan hanya pembaharuan secara fisik dan usia tetapi pada pandangan dan ide-ide yang baru. Kaum muda diharapkan menghasilkan gagasan�gagasan baru serta berani dan mampu membawa bangsa ini keluar dari permasalahan politik yang sedang dihadapi.  Terlebih lagi akan menjadi nilai lebih apabila adanya semangat dan pembawaan nilai-nilai moral yang baik dari generasi muda akan mampu membawa bangsa ini kepada arah perubahan yang lebih baik.

Salah satu tempat bagi remaja untuk mendapatkan pengetahuan mengenai politik adalah di sekolah. Sekolah memainkan peran sebagai agen sosialisasi politik melalui kurikulum pengajaran formal dan beraneka ragam kegiatan sekolah. Sekolah melalui kurikulumnya memberikan pandangan-pandangan yang kongkrit tentang lembaga-lembaga politik dan hubungan-hubungan politik. Sekolah juga dapat memegang peran penting dalam pembentukan sikap terhadap aturan permainan politik yang tak tertulis. Peranan sekolah dalam mewariskan nilai-nilai politik tidak hanya terjadi melalui kurikulum sekolah.

Memasukkan pembahasan politik ke dalam kurikulum pengajaran di sekolah merupakan langkah konkrit dalam memberikan pemahaman politik kepada pemuda. Dalam pembelajaran IPS merupakan mata pelajaran yang paling tepat untuk memasukkan pembahasan mengenai politik. Sesuai dengan rancangan kurikulum 2013 yang lebih menekankan pada pendidikan karakter, maka pantaslah jika pemberian pendidikan politik dimasukkan ke dalam kurikulum yang fokus pada pembentukan warganegara yang cerdas, trampil dan berkarakter sesuai amanat Pancasila dan UUD 1945. Pengembangan peran warganegara baik di bidang politik, hukum, ekonomi dan sosial-budaya merupakan substansi hubungan negara dan warga negara.

Pendidikan politik formal disekolah memiliki tujuan membina dan mengembangkan pemuda sebagai warga negara yang baik, yakni menjadi warga negara berpartisipasi serta bertanggungjawab dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Pemuda perlu mendapat pemahaman tentang makna politik yang sesungguhnya, bukan politik praktis yang di praktekkan oleh politisi saat ini. Pemahaman dan pola pikir pemuda terhadap politik harus diluruskan, bahwa politik itu untuk memenuhi kebutuhan rakyat bukan untuk mencari kekuasaan dengan mengorbankan kepentingan umum.

Pemuda tidak boleh ketinggalan dengan informasi dalam dunia politik. Karena arus perkembangan politik sangat berpengaruh terhadap keadaan dan perkembangan negara, sehingga remaja mampu mengawal arah perkembangan politik tersebut. Sebagai generasi penerus bangsa dan calon pemimpin masa depan, remaja diharapkan mampu  memberikan peranannya terhadap politik yang merupakan bagian dari demokrasi yang bertujuan memakmurkan rakyat. Dengan partisipasi secara professional dan bertanggungjawab oleh remaja, diharapkan nantinya akan memberi ide-ide baru yang membawa bangsa pada perubahan yang lebih baik.

Berdasarkan hasil pretest pada siswa kelas IX MTsN 3 Cirebon tentang perkembangan politik, pemahaman siswa masih kurang karena disebabkan oleh minimnya kepedulian dan ketertarikan siswa tentang politik. Oleh karena itu membangun konstruksi pengetahuan siswa tentang perkembangan politik penting untuk dilakukan. Adapun pendekatan yang akan diimplementasikan adalah model pembelajaran saintifik.

Pendekatan saintifik adalah suatu proses pembelajaran yang dirancang supaya peserta didik secara aktif mengkonstruk konsep, hukum, atau prinsip melalui kegiatan mengamati, merumuskan masalah, mengajukan/merumuskan hipotesis, mengumpulkan data dengan berbagai teknik, menganalisis data, menarik kesimpulan, dan mengkomunikasikan (M. Hosnan, 2014:34). Pendekatan saintifik dimaksukan untuk memberikan pemahaman kepada peserta didik dalam mengenal, memahami berbagai materi menggunakan pendekatan ilmiah. Penerapan pendekatan saintifik dalam pembelajaran melibatkan keterampilan proses seperti mengamati, mengklasifikasi, mengukur, meramalkan, menjelaskan, dan menyimpulkan. Pendekatan saintifik memiliki karakteristik berpusat pada peserta didik, melibatkan keterampilan proses sains dalam mengkonstruk konsep; hukum; atau prinsip, melibatkan proses kognitif yang potensial merangsang perkembangan intelek (keterampilan berpikir), serta dapat mengembangkan karakter peserta didik.

Tujuan pendekatan saintifik dalam pembelajaran antara lain untuk meningkatkan kemampuan berpikir peserta didik, membentuk kemampuan dalam menyelesaikan masalah secara sistematik, menciptakan kondisi pembelajaran supaya peserta didik merasa bahwa belajar merupakan suatu kebutuhan, melatih peserta didik dalam mengemukakan ide-ide, meningkatkan hasil belajar peserta didik, dan mengembangkan karakter peserta didik. Pelaksanaan pendekatan saintifik dalam pembelajaran memiliki prinsip antara lain berpusat pada peserta didik, membentuk students self concept, terhindar dari verbalisme (mengurangi banyaknya guru dalam berbicara), memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mengasimilasi dan mengakomodasi konsep; prinsip; atau hukum, mendorong peningkatan kemampuan berpikir peserta didik, meningkatkan motivasi belajar peserta didik dan motivasi guru untuk mengajar, memberi kesempatan kepada peserta didik untuk berlatih kemampuan berkomunikasi, serta adanya proses validasi konsep; hukum; dan prinsip yang telah dikonstruk oleh peserta didik dalam struktur kognitifnya (M. Hosnan, 2014: 34-37).

Langkah-langkah pendekatan saintifik dalam proses pembelajaran meliputi mengamati (observing), menanya (questioning), mencoba (experimenting), mengolah data atau informasi dilanjutkan dengan menganalisis; menalar (associating); dan menyimpulkan, menyajikan data atau informasi (mengomunikasikan), dan menciptakan serta membentuk jaringan (networking). Langkah-langkah tersebut dapat diringkas menjadi 5 langkah, yaitu mengamati, menanya, mencoba, mengolah data, dan mengomunikasikan.

Kegiatan pembelajaran dengan pendekatan saintifik menurut�� Hosnan dapat disajikan sebagai berikut:

 

Berdasarkan uraian yang telah dijelaskan, maka langkah pendekatan saintifik yang digunakan dalam penelitian ini yaitu mengamati (proses pengumpulan data dengan pengamatan langsung pada objek secara sistematis), menanya (pengajuan pertanyaan mengenai objek pengamatan untuk hal-hal yang belum dipahami maupun untuk menambah informasi dari objek pengamatan), mengumpulkan data (pengumpulan data/informasi dari kegiatan mengamati dan menanya), mengasosiasi (mengkaji lebih luas dan lebih dalam informasi yang telah diperoleh serta mengidentifikasi hubungannya dengan apa yang ada dalam kehidupan sehari-hari), dan mengomunikasikan (penyampaian hasil diskusi kelompok mengenai materi yang sedang dipelajari untuk mengetahui kebenaran dari hasil diskusi/mendapatkan konfirmasi dari guru).

Motivasi berasal dari kata �motif� yang berarti daya upaya atau daya penggerak dari dalam yang mendorong seseorang untuk melakukan sesuatu, sehingga motivasi dapat diartikan sebagai daya upaya atau daya penggerak yang telah aktif (Sardiman A.M., 1996: 73). Pengertian motivasi juga disampaikan oleh beberapa ahli, yaitu Mc. Donald dalam Oemar Hamalik (2011: 158) yang menyebutkan bahwa motivasi merupakan suatu perubahan energi dari dalam diri seseorang yang ditandai dengan timbulnya perasaan dan reaksi untuk mencapai tujuan. Arends (2013:147) juga mengungkapkan hal yang sama yaitu motivasi adalah proses yang merangsang perilaku atau membangkitkan kita untuk mengambil tindakan. Pendapat lain dikemukakan oleh Thomas M. Risk dalam Ahmad Rohani HM dan Abu Ahmadi (1995:10) yang menyebutkan motivasi adalah suatu usaha sadar guru untuk menimbulkan motif-motif pada diri peserta didik yang menunjang kegiatan dalam rangka mencapai tujuan belajar. Sedangkan S. Nasution dalam Ahmad Rohani HM dan Abu Ahmadi (1995: 11), menyebutkan motivasi adalah upaya yang dilakukan untuk menciptakan kondisi sedemikian rupa sehingga peserta didik mau melakukan apa yang dapat mereka lakukan. Motivasi tidak instan, namun diperoleh dan dibentuk oleh lingkungan. Perkembangan motivasi merupakan salah satu landasan esensial yang mampu mendorong manusia untuk berkembang, tumbuh, dan maju mencapai sesuatu (Conny Semiawan, 2008: 79). Arends (2013: 148) mengklasifikasikan motivasi menjadi dua jenis, yaitu motivasi intrinsik dan motivasi ekstrinsik. Motivasi intrinsik merupakan motivasi yang timbul dari dalam diri seseorang, atau dorongan melakukan sesuatu karena minat atau keinginan atau semata-mata karena kesenangan akan pengalaman. Contoh motivasi instrinsik yaitu peserta didik yang mengerjakan PR ataupun tugas karena hal tersebut menyenangkan dan melakukannya setiap hari. Motivasi ekstrinsik merupakan faktor luar atau lingkungan yang mempengaruhi seseorang dalam bertindak. Contoh motivasi ekstrinsik dalam proses pembelajaran yaitu hadiah, pujian, nilai, hukuman, dan lain-lain. Motivasi intrinsik diharapkan dapat timbul selama proses pembelajaran supaya tujuan-tujuannya dapat tercapai, namun motivasi ini tidak mudah dan tidak selalu muncul. Berdasarkan hal tersebut, maka perlu diberikan motivasi ekstrinsik untuk memunculkan motivasi intrinsik peserta didik selama proses pembelajaran. Melalui pemberian motivasi ekstrinsik tersebut diharapkan secara perlahan-lahan dapat menumbuhkan kesadaran pada peserta didik untuk belajar (Oemar Hamalik, 2011:163). Jamal Ma�mur Asmani (2011: 69-70) juga menyatakan bahwa motivasi belajar peserta didik akan meningkat karena pendekatan pembelajaran yang digunakan oleh guru dipusatkan kepada peserta didik (student center approach). Guru tidak hanya memberikan pengetahuan kepada peserta didik, namun juga menghidupkan semangat, membuat lingkungan yang nyaman, dan bersikap positif kepada peserta didik.

 

Metode Penelitian

Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas (action research classroom). Menurut Kasihani Kasbolah (1998: 14) Penelitian Tindakan Kelas adalah penelitian tindakan dalam bidang pendidikan yang dilaksanakan dalam kawasan kelas dengan tujuan untuk memperbaiki dan atau meningkatkan kualitas pendidikan.Menurut Suharsimi Arikunto (2006: 96) Penelitian tindakan kelas adalah penelitian yang dilakukan guru kelas atau di sekolah tempat ia mengajar dengan penekanan pada penyempurnaan atau peningkatan proses dan praktik pembelajaran. Lokasi yang digunakan untuk penelitian ini adalah MTsN 3 Kabupaten Cirebon. Madrasah tersebut dipilih sebagai lokasi penelitian karena berdasarkan pengamatan peneliti ditemukan permasalahan dalam pembelajaran IPS yaitu terkait dengan motivasi belajar. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan September, semester ganjil, tahun pelajaran 2017/2018 terhadap siswa kelas IX MTsN 3 Cirebon.

Subjek yang diteliti adalah siswa kelas IX MTsN 3 Cirebon yang berjumlah 36 siswa. Objek penelitian ini adalah meningkatkan motivasi belajar siswa melalui pendekatan saintifik.

Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan rancangan tindakan yang dikembangkan oleh Kemmis dan Mc Taggart. Pada penelitian tindakan kelas ada tahap-tahap yang harus dilakukan yang disebut siklus. Siklus dalam penelitian ini terdiri dari perencanaan (planning), tindakan (acting), pengamatan (observing), refleksi (reflecting), dan perencanaan kembali. Berikut model visualisasi bagan yang disusun oleh Kemmis dan Taggart.

Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan observasi dan dokumentasi. Observasi merupakan suatu proses yang dilakukan dengan pengamatan terhadap objek. Menurut Sugiyono (2009 : 203) mengemukakan bahwa teknik pengumpulan data dengan observasi digunakan bila penelitian berkenaan dengan perilaku manusia, proses kerja, gejala-gejala alam dan bila responden yang diamati tidak terlalu besar. Observasi yang digunakan adalah obervasi terstruktur. Terstruktrur maksudnya observasi ini telah dirancang secara sistematis, tentang apa yang akan diamati, kapan, dan dimana tempatnya. Observasi pada penelitian ini dilakukan dengan pengamatan terhadap aktivitas pembelajaran di kelas.

Dokumentasi yang digunakan dalam penelitian ini berupa foto-foto yang menunjukkan gambaran mengenai kegiatan guru dan siswa dalam melaksanakan proses pembelajaran. Dokumentasi ini bertujuan untuk memperkuat data yang diperoleh dalam proses pembelajaran. Instrumen dalam penelitian yaitu lembar observasi dan dokumentasi.

Teknik analisis data pada penelitian ini menggunakan teknik analisis data secara kualitatif dan kuantitatif. Observasi menggunakan analisis data kualitatif. Sedangkan analisis data kuantitatif pada penelitian ini digunakan untuk mengukur tingkat motivasi belajar siswa. Data diukur menggunakan SPSS 16.

 

Hasil Dan Pembahasan

1.       Siklus I

Perencanaan dalam siklus I merupakan hasil diskusi dengan teman sejawat. Dalam perencanaan ini peneliti menyusun RPP sesuai dengan rencana yakni menggunakan pendekatan saintifik yang orientasinya adalah peningkatan motivasi belajar siswa. Adapun RPP terlampir dalam penelitian ini. Pelaksanaan siklus I pada hari Sabtu, tanggal 2 dan 9 September 2017, jam 08.20-9.40, tempat kelas IX MTsN 3 Cirebon. Pelaksanaan secara natural tetapi mengacu pada RPP yang telah disusun. Pelaksanaan terbagi menjadi tiga yakni pendahuluan, inti, dan penutup. Pada kegiatan pendahuluan dimulai dengan salam pembuka, berdoa, apersepsi, dan memotivasi siswa dalam belajar. Kegiatan inti dilakukan dengan pendekatan saintifik dan penutup berisi penguatan atas materi dan rencana tindak lanjut.

Dalam observasi kolaborator mencatat sesuatu yang Dalam pelaksanaan pembelajaran ada kolaborator riset yang peneliti beri tugas melakukan checklist terhadap motivasi siswa dengan instrumen yang telah terstruktur. Disamping itu kolaborator riset juga peneliti mengobservasi bagaimana peneliti menjalankan skenario sesuai rancangan pembelajaran yang telah disusun.

Untuk melakukan refleksi terlebih dahulu peneliti mencermati hasil tabulasi hasil checklist yang disusun oleh kolaborator. Hasilnya adalah sebagai berikut:

Tabel 1

Data Motivasi Belajar Siswa

Dari tabel di atas diketahui skor terendah pada aspek motivasi yang kurang dan tanggung jawab siswa masih kurang. Secara Grafik motivasi siswa dapat digambarkan sebagai berikut:

Grafik 1. Motivasi Siswa pada Siklus I

 

2.       Siklus II

Perencanaan dalam siklus II merupakan hasil diskusi dengan teman sejawat. Perencanaan pada siklus II berdasar perbaikan pada siklus I, dengan kata lain perencanaan siklus II untuk perbaikan siklus I. Dalam perencanaan ini peneliti menyusun RPP sesuai dengan rencana yakni menggunakan pendekatan saintifik yang orientasinya adalah peningkatan motivasi belajar siswa. Adapun RPP terlampir dalam penelitian ini. Pelaksanaan siklus II pada hari Sabtu, tanggal 16 dan 23 September 2017, jam 08.20-9.40, tempat kelas IX MTsN 3 Cirebon. Pelaksanaan secara natural tetapi mengacu pada RPP yang telah disusun. Pelaksanaan terbagi menjadi tiga yakni pendahuluan, inti, dan penutup. Pada kegiatan pendahuluan dimulai dengan salam pembuka, berdoa, apersepsi, dan memotivasi siswa dalam belajar. Kegiatan inti dilakukan dengan pendekatan saintifik dan penutup berisi penguatan atas materi dan rencana tindak lanjut.

Dalam observasi kolaborator mencatat sesuatu yang Dalam pelaksanaan pembelajaran ada kolaborator riset yang peneliti beri tugas melakukan checklist terhadap motivasi siswa dengan instrumen yang telah terstruktur. Untuk melakukan refleksi terlebih dahulu peneliti mencermati hasil tabulasi hasil checklist yang disusun oleh kolaborator. Hasilnya adalah sebagai berikut:

 

 

 

 

 

 

 

Tabel 2

Data Motivasi Belajar Siswa Siklus II

 

Dari tabel di atas diketahui skorpada aspek motivasidan tanggung jawab siswa meningkat. Secara Grafik motivasi siswa dapat digambarkan sebagai berikut:

Berdasarkan data siklus I dan II maka dapat disusun perbandingan antarasebagai berikut:

Siklus I nilai terendah 10 sedangkan siklus II pada angka 12. Adapun nilai maksimal pada siklus I sebesar 21 sedangkan siklus II sebesar 23. Adapun uji normalitas data kedua siklius disajikan sebagai berikut:

Tabel di atas menunjukkan bahwa kedua data berdistribusi normal. Adapun untuk mengetahui adanya perbedaan dapat dicermati sebagaimana tabel di bawah ini:

Dari tabel di atas dapat diketahui bahwa sig (2 tailed)<0,05. Data ini dapat dimaknai nilai p value sebesar 0,000 di mana < 0,05. Karena < 0,05 maka perbedaan bermakna secara statistik atau signifikan pada probabilitas 0,05.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada kenaikan motivasi belajar antara siklus I dan siklus II. Dalam kacamata teori Motivasi hasil tersebut memiliki relevansi dengan kegiatan yang mengakibatkan, menyalurkan, dan memelihara perilaku siswa dalam belajar. Akibat dari adanya interaksi antara peneliti dan siswa serta situasi belajar.Meningkatnya motivasi jugamerupakan suatu proses yang menghasilkan suatu intensitas arah dan ketekunan siswadalam usaha untuk mencapai suatu tujuan yakni pemahaman tentang tema perkembangan politik.

 

Kesimpulan

Berdasarkan tindakan dari setiap siklus penelitian disusun kesimpulan bahwa dalam proses pembelajaran dalam rangka meningkatkan motivasi belajar siswa dengan pendekatan saintifik pada tema perkembangan politik dilaksanakandalam dua siklus tindakan. Pelaksanaan siklus I pada hari Sabtu, tanggal 2 September 2017 dan pelaksanaan siklus II pada hari Sabtu, tanggal 9 September 2017. Proses dilaksanakan secara kolaboratif dengan melibatkan kolaborator guru serumpun. Pada siklus I masih terdapat kekurangan yakni motivasi belum sesuai dengan harapan sedangkan pada siklus II sebagai perbaikan dari siklus I sudah terdapat perbaikan/peningkatan aspek motivasi yang awalnya masih kurang. Hasil perhitungan dengan mengkomparasikan antara siklus I dan II diketahui nilai p value sebesar 0,000 di mana < 0,05. Karena < 0,05 maka perbedaan bermakna secara statistik atau signifikan pada probabilitas 0,05.

 

BIBLIOGRAFI

 

Ahmad Ruhani dan Abu Ahmadi, 1995. Psikologi pendidikan dengan Pendekatan Baru. Bandung: Rosda

 

Arends, 2013. Belajar Untuk Mengajar. Jakarta Selatan: Salemba

 

Arikunto, Suharsimi. 2006. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta: Rineka Cipta.

 

Conny Semiawan, 2008. Belajar dan Pembelajaran Prasekolah dan Sekolah Dasar. Jakarta: Index.

 

Jamal Makmur Asmani, 2011.Perencanaan Pembelajaran. Bandung: wacana Prima

 

Kasbolah, E.S. Kasihani. 1998. Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Departemen Pendidikan dan Kebudayaan : Malang.

 

M. Hosnan, 2014. Pendekatan Saintifik dan Kontekstual dalam Pembelajaran Abad 21. Bogor: Ghalia Indonesia.

 

Oemar Hamalik, 2011. Kurikulum dan Pembelajaran. Jakarta: Bumi Aksara

 

Sardiman, 1996. Interaksi dan Motivasi Belajar mengajar. Jakarta: PT Raja grafindo Persada

 

Sugiyono, 2007. Metode Penelitian. Bandung Alfa Beta


 

 

Copyright holder :

Samsudin(2020).

First publication right :

Jurnal Syntax Transformation

This article is licensed under: