|
Jurnal Syntax Transformation |
Vol. 2 No. 8, Agustus 2021 |
|
p-ISSN : 2721-3854 e-ISSN : 2721-2769 |
Sosial Sains |
PENGARUH BUDAYA
ORGANISASI DAN LOKUS PENGENDALIAN INTERNAL TERHADAP KREATIVITAS PEGAWAI PT
SURVEYOR INDONESIA (PERSERO) DI JAKARTA
Muhammad Taufik Hadi Saputra, Abdul Rohman, Titik Untari
Universitas Budi Luhur Jakarta. Indonesia��������
Email: [email protected], [email protected],
[email protected],
|
INFO ARTIKEL |
ABSTRAK |
|
Diterima 10 Juli 2021 Direvisi 16 Agustus 2021 Disetujui 20 Agustus 2021 |
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh Budaya Organisasi dan Lokus Pengendalian terhadap reativitas C karyawan PT
Surveyor Indonesia (Persero) di Jakarta. Metode penelitian yang digunakan adalah metode survei dengan beberapa teknik regresi linier. Populasi tersebut terdiri dari karyawan tetap PT Surveyor Indonesia (Persero) di Jakarta yang berjumlah 437 orang. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah Simple Random
Side dengan rumus Slovin, margin of error 0,1 atau
10%. Pertama, hasil analisis untuk tes parsial (tes t) pada variabel Budaya Organisasi diperoleh hitungan t 2,736> ttabel� (1,990) dengan
nilai probabilitas 0,000,
yang berarti bahwa itu lebih kecil
dari 0,05, sehingga Ho ditolak dan Ha diterima, yang berarti bahwa Budaya Organisasi memiliki efek positif. Kedua, hasil analisis untuk tes parsial
(tes t) pada lokus variabel kontrol diperoleh tcount 4.819> ttable� (1.990) dengan
nilai probabilitas 0,008,
yang berarti kurang dari 0,05, sehingga Ho ditolak dan Ha diterima, yang berarti bahwa lokus kontrol memiliki efek positif. Ketiga, hasil analisis untuk tes simultan
(F test) yang diperoleh Fcount>
Ftabel, yaitu14.868> 3.112 dan nilai signifikansi 0,000
<0,05. Koefisien penentu
atau kontribusi X1 dan X2
ke Y� adalah R
Square = 0,364. Yang berarti bahwa
36,4% dari variasi kreativitas (Y) dapat dijelaskan oleh Budaya Organisasi dan Lokus Pengendalian. Sedangkan 63,6% sisanya dijelaskan oleh variabel lain yang tidak digunakan sebagai bahan dalam penelitian
ini. Untuk menguji hipotesis ini, Ho ditolak dan Ha diterima, yang berarti bahwa koefisien regresi signifikan atau dapat dikatakan
bahwa secara bersamaan ada efek signifikan dari Budaya Organisasi
dan Lokus Kontrol pada Kreativitas. Dapat disimpulkan bahwa kreativitas karyawan PT
Surveyor Indonesia (Persero) di Jakarta dipengaruhi
secara positif dan signifikan oleh budaya organisasi dan lokus pengendalian baik sebagian maupun bersamaan. Oleh karena itu, untuk meningkatkan
kreativitas karyawan PT
Surveyor Indonesia (Persero) di Jakarta, dapat dilakukan dengan meningkatkan budaya organisasi dan lokus pengendalian. ABSTRACT This research aims to analyze
the influence of Organizational Culture and Control Locus on the reativity of
C employees of PT Surveyor Indonesia (Persero) in Jakarta. The research
method used is a survey method with several linear regression techniques. The
population consists of permanent employees of PT Surveyor Indonesia (Persero)
in Jakarta which amounted to 437 people. The sampling technique used is
Simple Random Side with Slovin formula, margin of error of 0.1 or 10%. First,
the analysis results for the partial test (test t) on the Organizational
Culture variable obtained a count of t 2,736> ttabel (1,990) with a
probability value of 0.000, meaning that it was smaller than 0.05, so Ho was
rejected and Ha was accepted, meaning that organizational culture had a
positive effect. Second, the analysis results for partial tests (t tests) on
the locus of control variables obtained tcount 4,819> ttable (1,990) with
a probability value of 0.008, which means less than 0.05, so Ho is rejected
and Ha is accepted, meaning that the control locus has a positive effect.
Third, the results of the analysis for the simultaneous test obtained by
Fcount> Ftabel, which is 14,868> 3,112 and the significance value of
0.000 <0.05. The determining coefficient or contribution of X1 and X2 to Y
is R Square = 0.364. Which means that 36.4% of the variation in creativity
(Y) can be explained by organizational culture and locus control. The
remaining 63.6% was explained by other variables not used as ingredients in
the study. To test this hypothesis, Ho was rejected and Ha accepted, meaning
that the regression coefficient is significant or it can be said that
simultaneously there are significant effects of Organizational Culture and
Locus Control on Creativity. It can be concluded that the creativity of
employees of PT Surveyor Indonesia (Persero) in Jakarta is positively and
significantly influenced by organizational culture and locus control both
partially and simultaneously. Therefore, to increase the creativity of
employees of PT Surveyor Indonesia (Persero) in Jakarta, it can be done by
improving organizational culture and locus control. |
|
Kata Kunci: budaya
organisasi, lokus kontrol, kreativitas Keywords: organizational culture,
locus of control, creativity |
Pendahuluan
Dalam menghadapi era disruptif saat ini, perusahaan perlu memperhatikan hal-hal yang dapat mempengaruhi kinerja perusahaan (Djarmmesta et al., n.d.).
Hal ini perlu dilakukan agar perusahaan tetap dapat berproduksi
dan bahkan meningkatkan produksinya sehingga mampu mewujudkan tujuan perusahaan. Menurut Emerson, sebagaimana dikutip (Saleha & Satrianegara, 2009), setidaknya ada 5 (lima) faktor produksi utama yang dibutuhkan oleh suatu perusahaan agar dapat beroperasi secara maksimal, yang dikenal dalam istilah
bahasa Inggris 5M, yaitu: man (manusia), machines
(mesin), money (uang), methods (metode/prosedur), dan materials
(bahan baku). Dari kelima faktor tersebut,
faktor manusia menjadi paling strategis. Keberadaan sumber daya manusia (SDM) yang kompeten memegang peran yang lebih strategis dibandingkan dengan faktor lain dalam mewujudkan tujuan perusahaan. SDM yang kompeten menjadi modal yang penting yang harus dimiliki oleh suatu perusahaan, sedangkan manajemen yang efektif dan efisien menjadi kunci keberhasilan perusahaan tersebut.
Selain itu, pada era disrupsi saat ini
juga ditandai dengan semakin bebasnya SDM dunia memasuki negara lain dengan menawarkan keahliannya (Priansa, 2014). Bila hal ini
terus terjadi tanpa ada upaya
yang bersungguh-sungguh untuk
menanggulanginya, niscaya bangsa-bangsa yang sedang berkembang akan tertinggal tanpa memiliki peluang untuk maju atau
bersaing dengan bangsa yang lebih dahulu maju. Oleh karena itu, perusahaan
harus mampu mengelola dan mengembangkan SDM
yang ada secara optimal.
Perusahaan yang menyadari pentingnya
peran SDM bagi kelangsungan hidup dan kemajuan perusahaan akan memberikan perhatian pada faktor kreativitas pegawai (Mangkunegara, 2005). Hal ini diperlukan untuk mendorong inovasi-inovasi baru yang diciptakan pegawai secara berkelanjutan (Sisca et al., 2021).
Masalah kreativitas juga terjadi pada pegawai PT Surveyor
Indonesia (Persero) di Jakarta.� Persero ini menjadi salah satu dari sedikit
perusahaan penyedia jasa survey, konsultansi, inspeksi, dan verifikasi di Tanah
Air. Pada tahun 2018, Persero ini
bergerak untuk mentransformasi perusahaan. Ini sejalan dengan
roadmap Kementerian BUMN bahwa potensi
perusahaan sejenis atau sebagai perusahaan
assurance ini sangat besar, baik di Indonesia maupun di dunia internasional (Abeng, 2015).
Saat ini, Persero ini telah memiliki
empat sektor core business,
yaitu jasa survey, konsultansi, inspeksi, dan verifikasi, namun terus melakukan perubahan. Persero ini terus melakukan diversifikasi produk, market, dan
how to business-nya. Dalam kaitan dengan SDM, Persero ini membagi pegawai
menjadi 2 (dua) kelompok, yakni pegawai tetap dan pegawai berdasarkan perjanjian kerja waktu tertentu (PKWT) yang berstatus kontrak. Pegawai tetap Persero ini hanya sekitar
437 orang, sedangkan PKWT sekitar
2.400 orang. Pegawai PKWT mengalami
perputaran agak cepat karena kebanyakan
tenaga lapangan. Untuk di lapangan, pegawai harus mempunyai
brevet. PKWT diperlakukan sama
dengan pegawai tetap. Banyak sekali pegawai PKWT di lapangan yang mempunyai brevet yang direkrut
oleh pemberi kerja, ketika mereka turun
ke lapangan. Hal inilah yang menimbulkan masalah dalam budaya
organisasi. Persero ini harus mencari fresh graduate, mendidik pegawai baru lagi hingga
memiliki kompetensi yang diperlukan. Rata-rata turnover pegawai
20%. Oleh karena itu,
Persero ini juga tidak mengangkat pegawai PKWT menjadi pegawai tetap karena tingkat
kepastian revenue ke depan masih 50:50 Menurut penelitian (Ali Taha et al., 2016)
bahwa pengembangan budaya organisasi yang merangsang dan meningkatkan kreativitas dan inovasi menjadi keharusan bagi organisasi guna mewujudkan keunggulan kompetitif. Artinya, kreativitas dan inovasi berkaitan salah satunya dengan budaya organisasi.
Budaya organisasi
merupakan pola-pola asumsi yang dimiliki bersama tentang bagaimana pekerjaan pegawai diselesaikan dalam sebuah organisasi.(Sutrisno, 2019)
Adanya budaya organisasi yang baik terhadap pegawai diharapkan dapat meningkatkan perilaku yang menjunjung tinggi rasa hormat dan sopan santun pegawai dalam lingkungan kerjanya dan pada akhirnya dapat meningkatkan kinerjanya. Adanya pembentukan budaya organisasi yang baik, juga menjadikan pegawai dapat melaksanakan pekerjaan dengan baik.
Fenomena masalah pegawai
dan pegawai bermasalah merupakan hal yang rutin terjadi di Persero ini. Pegawai bermasalah
dapat diindikasikan antara lain sebagai sifat atau perilaku
kerja yang malas, kurang kreatif, emosional, kedisiplinan tidak terkendali, kerap bolos kerja, dan egoistis dalam bekerjasama. Ciri bekerja dan kinerja pegawai sangat marjinal, asal-asalan, dan kurang toleran dengan lingkungan. Perilaku tersebut lebih berkaitan dengan faktor internal bukan eksternal. Faktor internal pegawai meliputi faktor-faktor pendidikan, usia, pengalaman kerja, sikap, dan keterampilan. Selain itu adalah faktor
lokus pengendalian internal
(internal locus of control), yaitu kendali individu atas pekerjaan mereka dan kepercayaan mereka terhadap keberhasilan diri. Lokus pengendalian
internal ini mencirikan seseorang yang memiliki keyakinan bahwa ia bertanggung jawab atas perilaku
kerjanya di organisasi.
Hasil penelitian (Asgari & Vakili, 2012)
menunjukkan bahwa pegawai yang memiliki lokus pengendalian internal berpengaruh lebih tinggi terhadap kreativitas daripada pegawai yang memiliki lokus pengendalian eksternal.� Oleh karena itu, pegawai
Persero
ini selalu didorong agar memiliki lokus pengendalian internal, yaitu keyakinan bahwa keberhasilan dalam melaksanakan
tugas berkat kompetensi yang dimiliki. Hal ini justru menimbulkan
masalah baru karena tidak semua
pegawai memiliki persepsi yang sama mengenai tanggung jawab mereka di perusahaan. Selain itu, fokus Persero ini lebih
mengembangkan kreativitas pegawai. Hal ini beralasan karena Persero ini merupakan perusahaan
jasa, yang menjual pemikiran dan kompetensi SDM, sehingga fokus utama adalah mengembangkan
personel yang ada. Dengan perkataan lain, fokus pembinaan
pegawai adalah kreativitas. Permasalahan kreativitas pegawai juga dihadapi oleh Persero ini. Tidak semua pegawai
kreatif, beberapa pegawai kurang berani menyatakan dan mempertahankan pendapat, mudah berputus asa, tidak memiliki
inisiatif, tidak menyukai pengalaman baru, tidak mempunyai
daya cipta, tidak mempunyai minat yang luas, dan kurang percaya diri.
Berbagai permasalahan lain juga dihadapi pegawai Persero ini. Adanya persepsi
pegawai tentang lemahnya manajemen kontrol, kurangnya pelatihan dan pengembangan, tidak adilnya manajemen
kompensasi dan karir, rendahnya mutu hubungan horisontal dan vertikal juga mendorong terjadinya perilaku negatif dari pegawai.
Dengan demikian, baik masalah pegawai
dan pegawai bermasalah menimbulkan beban Persero ini dan ongkos yang mahal. Pada akhirnya dikhawatirkan berdampak pada keuntungan Persero
ini menjadi menurun. Persero ini harus menanggung beban kalau produktivitas
menurun akibat kreativitas pegawai yang rendah. Akibatnya, Persero ini harus mengurangi
program produksinya karena banyak pegawai yang tidak kreatif. Hal inilah yang menarik untuk dikaji lebih
lanjut tentang pengaruh budaya organisasi dan lokus pengendalian terhadap kreativitas pegawai� PT Surveyor
Indonesia (Persero) di Jakarta.
Penelitian sebelumnya dilakukan
oleh (Nugraha et al., 2018)
dengan hasil penelitian menunjukan adanya pengaruh locus of control,
budaya organisasi dan stres kerja terhadap
kinerja pegawai secara signifikan. Locus of
control, budaya organisasi
dan stres kerja memberikan pengaruh terhadap kinerja sebesar 51,4%, pengaruh variabel yang dominan adalah locus of control sebesar
28,0%, sedangkan budaya organisasi sebesar 10,2 dan stres kerja sebesar
13,2%.
Metode
Penelitian
Metode penelitian
yang digunakan adalah metode survei dengan
teknik regresi linear berganda. Penelitian ini dilakukan untuk
mengetahui pengaruh Budaya Organisasi dan Lokus Pengendalian terhadap Kreativitas pegawai PT Surveyor Indonesia (Persero) di Jakarta. Populasi terdiri dari pegawai tetap
PT Surveyor Indonesia (Persero) di Jakarta yang berjumlah
437 orang. Teknik pengambilan
sampel yang digunakan adalah Simple Random Samping dengan Rumus Slovin
margin kesalahan 0,1 atau
10% diperoleh jumlah sampel sebanyak 81,37 yang dibulatkan menjadi 82 orang pegawai. Pengumpulan data menggunakan instrumen berbentuk kuesioner. Sebelum kuesioner disebarkan, terlebih dahulu dilakukan uji validitas dan reliabilitas. Hasilnya menunjukkan bahwa ketiga instrumen
(Kreativitas, Budaya Organisasi dan Lokus Pengendalian) telah memenuhi uji validitas dan reliabilitas. Analisis data dilakukan secara deskriptif dan inferensial. Analisis inferensial menggunakan teknik analisis Regresi Linier Berganda yang didahului dengan Uji Asumsi Klasik berupa Uji Normalitas Data, Uji Linieritas,� Uji Multikolinieritas, Uji Heterokedastisitas,
dan Uji Autokorelasi. Selanjutnya
Pengujian Hipotesis terdiri atas Uji Koefisien Determinasi (R2), Uji Signifikansi Simultan (Uji F), dan
Uji Signifikansi Parsial
(Uji t).
Hasil dan Pembahasan
A. Hasil Penelitian
1.
Uji normalitas
bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi, variabel pengganggu atau residual memiliki distribusi normal. Uji statistik
yang dapat digunakan untuk menguji normalitas
adalah dengan uji statistik non-parametrik Kolmogorov-
Smirnov (K-S).
Tabel 1
|
One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test |
||
|
|
Unstandardized Residual |
|
|
N |
82 |
|
|
Normal Parametersa,b |
Mean |
,0000000 |
|
Std. Deviation |
4,86967823 |
|
|
Most Extreme Differences |
Absolute |
,099 |
|
Positive |
,096 |
|
|
Negative |
-,099 |
|
|
Test Statistic |
,099 |
|
|
Asymp. Sig. (2-tailed) |
,200c,d |
|
|
a. Test distribution is Normal. |
||
|
b. Calculated from data. |
||
|
c. Lilliefors Significance
Correction. |
||
|
d. This is a lower bound of the
true significance. |
||
Apabila
nilai signifikasi dari pengujian Kolmogorov-
Smirnov lebih besar dari 0,05 berarti menunjukkan Asymp. Sig. (2-tailed) 0,200 lebih besar dari
0,05. Dengan demikian, dapat disimpulkan data terdistribusi normal.
2.
Uji Linearitas digunakan untuk mengetahui hubungan antara variabel Budaya Organisasi dan variabel Lokus Pengendalian� terhadap
variabel Kreativitas linear
atau tidak. Dengan bantuan IBM SPSS 25.0, berikut adalah tabel hasil uji linearitas. �Variabel Budaya Organisasi terhadap variabel Kreativitas adanya hubungan yang linear, yaitu dengan nilai signifikansi
pada baris Deviation form linearity
0,831 > 0,05. Dapat disimpulkan
bahwa variabel Budaya Organisasi terhadap variabel Kreativitas memiliki hubungan yang linear. variabel Lokus Pengendalian �terhadap
variabel Kreativitas menunjukkan adanya hubungan yang linear, yaitu dengan nilai signifikansi
pada baris Deviation form linearity
0,660 > 0,05. Sehingga dapat
disimpulkan bahwa variabel Lokus Pengendalian �terhadap Kreativitas memiliki hubungan yang linear
3.
Uji multikolinieritas bertujuan untuk menguji apakah
model regresi ditemukan adanya korelasi antar variabel bebas (independen). Model regresi yang baik seharusnya tidak terjadi korelasi diantara variabel independen. Jika variabel independen saling berkorelasi, maka variabel- variabel ini tidak otogonal.
Variabel otogonal adalah variabel independen yang nilai korelasi antarsesama variabel independen sama dengan nol. Dengan bantuan IBM SPSS 25.0,. Hasilnya bahwa nilai Tolerance dari variabel Budaya
Organisasi dan Lokus Pengendalian� sebesar
0,974 > 0,10 dan nilai VIF adalah
1,027 < 10. Dapat disimpulkan
bahwa seluruh variabel independen tidak berkolerasi antarvariabel independen satu dengan independen
lainnya.
4.
Uji heterokedastisitas bertujuan menguji apakah dalam model regresi terjadi ketidaksamaan variance dari residual satu pengamatan ke pengamatan
yang lain. Jika variance dari residual satu pengamatan ke pengamatan lain tetap, maka disebut
homoskesdastisitas dan jika
berbedaa disebut heterokedastisitas. Model regresi
yang baik adalah yang homoskedastisitas atau tidak terjadi heteroskedastisitas.
Untuk mengetahui ada tidaknya heteroskesdastisitas
ialah dengan melakukan uji Glejser. Melalui bantuan IBM SPSS 25, hasilnya bahwa signifikasi
Tabel 5
Hasil Uji Heteroskedastisitas (Uji Glejser)
|
Coefficientsa |
||||||
|
Model |
Unstandardized
Coefficients |
Standardized
Coefficients |
t |
Sig. |
||
|
B |
Std.
Error |
Beta |
||||
|
1 |
(Constant) |
-0,674 |
9,237 |
|
-0,073 |
0,942 |
|
Budaya Organisasi |
0,038 |
0,075 |
0,071 |
0,504 |
0,616 |
|
|
Lokus Pengendalian
|
0,012 |
0,092 |
0,019 |
0,135 |
0,893 |
|
|
a.
Dependent Variable: Kreativitas |
||||||
Dari variabel Budaya
Organisasi adalah 0,616
> 0,05 dan variabel Lokus
Pengendalian� adalah
0,893 > 0,05. Dengan demikian
dapat disimpulkan bahwa heteroskedastisitas tidak terjadi terhadap
data penulisan, sehingga memenuhi persyaratan dalam analisis regresi.
5.
Uji autokorelasi bertujuan menguji apakah dalam model regresi linear ada kolerasi antara
kesalahan pengganggu pada periode t dengan kesalahan pengganggu pada periode t-1 (sebelumnya). Jika terjadi korelasi, maka dinamakan ada problem autokorelasi. Autokorelasi muncul karena observasi yang berurutan sepanjang waktu berkaitan satu sama lainnya.
Model regresi yang baik adalah regresi yang bebas dari autokorelasi.
Tabel di bawah ini menunjukkan hasil uji autokorelasi.
Tabel 6
Hasil Uji Autokorelasi
(Run Test)
|
Runs Test |
|
|
|
Unstandardized Residual |
|
Test Valuea |
-,11336 |
|
Cases < Test
Value |
40 |
|
Cases >= Test
Value |
42 |
|
Total Cases |
82 |
|
Number of Runs |
49 |
|
Z |
,139 |
|
Asymp. Sig.
(2-tailed) |
,890 |
|
a. Median |
|
B. Pebahasan
1.
Pengaruh budaya organisasi terhadap kreativitas pegawai� PT Surveyor
Indonesia (Persero) di Jakarta
Hasil analisis
untuk uji parsial (uji t)
pada variabel Budaya Organisasi diperoleh nilai thitung sebesar
2,736 > ttabel�� (1,990) dengan
nilai probabilitas sebesar 0,000 berarti lebih kecil dari
0,05 maka Ho ditolak dan Ha
diterima, yang artinya Budaya Organisasi berpengaruh positif dan signifikan terhadap Kreativitas. Hal ini mendukung pendapat� Ślusarczyk dan
Herbuś, sebagaimana dikutip (Ali Taha et al., 2016)
Lingkungan dan budaya organisasi (sosial) secara signifikan mempengaruhi kreativitas, lebih tepatnya perilaku kreatif individu dan tim. Hal ini menunjukkan bahwa pengembangan organisasi secara langsung tergantung pada persiapan profesional dan kompetensi tim staf. Demikian pula hasil penelitian (Riansyah, Rifky dan Sya�roni, 2018) menunjukkan bahwa secara parsial
faktor lingkungan, pimpinan, budaya organisasi, struktur organisasi dan kemampuan perusahaan paling dominan berpengaruh terhadap kreatifitas. Dengan demikian, salah satu variabel yang berpengaruh terhadap kreativitas adalah budaya organisasi.
Budaya organisasi
merupakan suatu karakteristik yang ada pada sebuah organisasi dan menjadi pedoman organisasi tersebut sehingga membedakannya dengan organisasi lainnya. Dengan perkataan lain, budaya organisasi merupakan norma perilaku dan nilai-nilai yang dipahami dan diterima oleh semua anggota organisasi
dan digunakan sebagai dasar dalam aturan
perilaku dalam organisasi tersebut. Hal ini berpengaruh terhadap kreativitas anggota organisasi.
Dengan demikian,
dapat dinyatakan bahwa budaya organisasi
berpengaruh positif dan signifikan terhadap kreativitas pegawai PT Surveyor
Indonesia (Persero) di Jakarta.
2.
Pengaruh lokus pengendalian internal terhadap kreativitas pegawai� PT Surveyor
Indonesia (Persero) di Jakarta
Hasil analisis
untuk uji parsial (uji t)
pada variabel Lokus Pengendalian diperoleh nilai thitung sebesar
4,819 > ttabel (1,990) dengan
nilai probabilitas sebesar 0,008 berarti lebih kecil dari
0,05 maka Ho ditolak dan Ha
diterima, yang artinya Lokus Pengendalian� berpengaruh
positif dan signifikan terhadap Kreativitas. Hal ini mendukung pendapat
(Mihaela et al., 2013)
bahwa karakteristik kepribadian lain yang mempengaruhi
pembentukan dan pengembangan
kompetensi profesional, secara implisit dari yang didaktik adalah lokus pengendalian.
Pada tingkat sikap dianggap bahwa lokus pengendalian berkorelasi positif dengan sikap kreatif
- orang kreatif memiliki lokus pengendalian internal.
Demikian pula menurut
(Kinicki & Kreitner, 2012)
bahwa individu yang memiliki kecenderungan lokus pengendalian internal adalah individu yang memiliki keyakinan untuk dapat mengendalikan
segala peristiwa dan konsekuensi yang memberikan dampak pada hidup mereka. Individu yang memiliki lokus pengendalian intenal didefinisikan lebih banyak menyandarkan harapannya pada diri sendiri dan didefinisikan juga lebih menyukai keahlian-keahlian bukan hanya sesuatu yang menguntungkan. Hasil yang dicapai
lokus pengendalian internal
dianggap berasal dari aktivitas dirinya. Hal inilah yang memungkinkan seseorang memiliki kreativitas.
Dengan demikian
dapat dinyatakan bahwa lokus pengendalian
internal berpengaruh positif
dan signifikan terhadap kreativitas pegawai PT Surveyor
Indonesia (Persero) di Jakarta.
3.
Pengaruh organisasi dan lokus pengendalian internal secara bersama-sama terhadap kreativitas pegawai� PT Surveyor
Indonesia (Persero) di Jakarta
Hasil analisis untuk
uji simultan� (uji F) diperoleh Fhitung > Ftabel, yaitu 14,868 > 3,112
dan nilai signifikansi
0,000 < 0,05. Koefisien Determinan
atau kontribusi X1 dan X2 terhadap Y adalah R Square =
0,364. Yang berarti bahwa
36,4% variasi Kreativitas
(Y) dapat dijelaskan oleh Budaya Organisasi (X1) dan Lokus Pengendalian� (X2). Sedangkan sisanya 63.6% dijelaskan oleh variabel lain
yang tidak dijadikan bahan dalam penelitian
ini. Untuk pengujian hipotesis ini Ho ditolak dan Ha diterima yang artinya koefisien regresi signifikan atau dapat dikatakan bahwa secara simultan
terdapat pengaruh signifikan Budaya Organisasi dan Lokus Pengendalian�� terhadap Kreativitas. Hal ini mendukung pendapat
(Munandar et al., 2004)
bahwa faktor-faktor yang dapat mempengaruhi kreativitas adalah: (1) faktor internal (individu), yaitu faktor yang berasal dari dalam
diri seseorang; dan (2) faktor eksternal (lingkungan), yaitu lingkungan kebudayaan yang mengandung keamanan dan kebebasan psikologis.
Faktor internal termasuk lokus pengendalian internal. Seseorang
yang memiliki lokus pengendalian internal akan memandang dunia sebagai sesuatu yang dapat diramalkan, dan perilaku individu turut berperan di dalamnya. Individu dengan lokus pengendalian internal melihat peristiwa dalam kehidupan mereka sebagai hasil dari tindakan
mereka sendiri, dan atribut khusus internal mereka menentukan apa yang akan terjadi
dalam setiap situasi. Orang-orang semacam ini memiliki rasa percaya diri yang lebih tinggi dan mereka mencari situasi dimana mereka dapat menggunakan
pengetahuan dan ketekunan mereka untuk membuat
acara di masa depan mengalami
kemajuan, orang-orang seperti
itu akan melewati jalur kesuksesan lebih cepat dan menghargai imbalan internal lebih banyak, seperti perasaan sukses. Faktor eksternal termasuk budaya organisasi. Semua organsasi mempunyai budaya yang tidak tertulis yang mendefinisikan standar-standar perilaku yang dapat diterima dengan baik maupun
tidak untuk para pegawai. Demikian pula, hasil penelitian (Ngoc et al., 2017)
bahwa faktor kompleksitas pekerjaan, hubungan lokus pengendalian internal dengan kreativitas, hubungan lingkungan kerja dalam bentuk budaya
organisasi dengan kreativitas. Variabel lokus pengendalian internal� memiliki
dampak paling kuat terhadap kreativitas pegawai diikuti budaya organisasi. Dengan demikian, dapat dinyatakan bahwa budaya organisasi
dan lokus pengendalian secara bersama-sama berpengaruh positif dan signifikan terhadap kreativitas pegawai PT Surveyor
Indonesia (Persero) di Jakarta.
Kesimpulan
Budaya
organisasi berpengaruh positif dan signifikan terhadap kreativitas pegawai PT Surveyor Indonesia (Persero) di Jakarta. Lokus pengendalian internal berpengaruh positif dan signifikan terhadap kreativitas pegawai PT Surveyor
Indonesia (Persero) di Jakarta. Budaya organisasi dan lokus pengendalian secara bersama-sama berpengaruh positif dan signifikan terhadap kreativitas pegawai PT Surveyor Indonesia (Persero) di Jakarta.
Dengan
dapat ditarik simpulan bahwa kreativitas pegawai PT Surveyor
Indonesia (Persero) di Jakarta dipengaruhi secara positif dan signifikan oleh budaya organisasi dan lokus pengendalian baik secara parsial maupun simultan. Oleh karena itu, untuk
meningkatkan kreativitas pegawai PT Surveyor Indonesia (Persero) di Jakarta dapat dilakukan dengan meningjkatkan budaya organisasi dan lokus pengendalian.
BIBLIOGRAFI
Abeng, T. (2015). BUMR Badan Usaha Milik Rakyat. Elex
Media Komputindo.Google Scholar
Ali Taha, V., Sirkova, M., & Ferencova, M. (2016). The
impact of organizational culture on creativity and innovation. Polish
Journal of Management Studies, 14. Google Scholar
Asgari, M. H., & Vakili, M. (2012). The Relationship
between locus of control, creativity and performance of the educational
department employees in the west of Mazandaran. International Research
Journal of Applied and Basic Sciences, 3(17), 255�256. Google Scholar
Djarmmesta, B. S., Mayasari, I., & Budiarto, A. C.
(n.d.). Kepemimpinan Dalam Mendukung Inovasi Untuk Keberlanjutan Organisasi
Pada Era Disruptif: Studi Kasus PT Pupuk Kalimantan Timur. Google Scholar
Kinicki, A., & Kreitner, R. (2012). Organizational
behavior: Key concepts, skills & best practices (Vol. 1221).
McGraw-Hill Irwin New York, NY. Google Scholar
Mangkunegara, A. A. A. P. (2005). Evaluasi kinerja SDM.
Tiga Serangkai. Google Scholar
Mihaela, P. L., Magdalena, S. M., & Loredana, T. S.
(2013). A study on the relation between locus of control and creative attitudes
in the structure of didactic competence. Procedia-Social and Behavioral
Sciences, 84, 1381�1385. Google Scholar
Munandar, J. M., Udin, F., & Amelia, M. (2004). Analisis
faktor yang mempengaruhi preferensi konsumen produk air minum dalam kemasan di
Bogor. Jurnal Teknologi Industri Pertanian, 13(3). Google Scholar
Ngoc, L. T. N., Park, D., Lee, Y., & Lee, Y.-C. (2017).
Systematic review and meta-analysis of human skin diseases due to particulate
matter. International Journal of Environmental Research and Public Health,
14(12), 1458. Google Scholar
Nugraha, R., Priadana, H. M. S., & Indah, D. Y. (2018). Pengaruh
Locus Of Control, Budaya Organisasi Dan Stres Kerja Terhadap Kinerja Pegawai Di
Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Provinsi Jawa Barat.
Perpustakaan FEB-UNPAS Bandung. Google Scholar
Priansa, D. J. (2014). Perencanaan & Pemgembangan SDM. Google Scholar
Riansyah, Rifky dan Sya�roni, D. A. W. (2018). No Title. Faktor-Faktor
Yang Mempengaruhi Kreatifitas Dan Inovasi Serta Implikasinya Terhadap Kinerja
Karyawan Pada Konsultan Perencanaan Dan Pengawasan Arsitektur Di Kota Serang,
Provinsi Banten. Google
Scholar
Saleha, S., & Satrianegara, M. F. (2009). Buku ajar organisasi
dan manajemen pelayanan kesehatan serta kebidanan. Google Scholar
Sisca, S., Simarmata, H. M. P., Grace, E., Purba, B., Dewi,
I. K., Silalahi, M., Fajrillah, F., Sudarso, A., & Sudarmanto, E. (2021). Manajemen
Inovasi. Yayasan Kita Menulis. Google Scholar
Sutrisno, H. E. (2019). Budaya organisasi. Prenada
Media. Google Scholar
|
Copyright holder
: Muh. Taufik Hadi Saputra, Abdul Rohman, Titik Untari (2021). |
|
First
publication right : This
article is licensed under: |