Jurnal Syntax Transformation

Vol. 2 No. 8, Agustus 2021

p-ISSN : 2721-3854 e-ISSN : 2721-2769

Sosial Sains

 

PENGARUH KECERDASAN EMOSIONAL TERHADAP PRESTASI BELAJAR PADA MATA PELAJARAN ILMU PENGETAHUAN SOSIAL

 

Nurhasanah

Universitas Universitas Pancasakti Bekasi, Jawa Barat. Indonesia����������

Email: [email protected]

 

INFO ARTIKEL

ABSTRAK

Diterima

10 Juli 2021

Direvisi

16 Agustus 2021

Disetujui

19 Agustus 2021

 

Pendemi corona virus disease bukan hanya berdampak pada dunia kesehatan dan ekonomi, tetapi juga dirasakan oleh dunia pendidikan. Kegiatan pembelajaran tatap muka di sekolah resmi dihentikan sementara diganti dengan School from home (SFH). Hal ini berdampak terhadap kecerdasan emosional peserta didik selama pembelajaran dirumah (Shool From Home). Penelitian ini di mempunyai fungsi untuk mengetahui apakah terdapat Kecerdasan Emosional pada prestasi Belajar siswa kelas 8 ( Delapan) pada mata pembelajaran Ilmu pengetahuan social SMPN 17 Bekasi. Metode penelitian yang di gunakan pada penelitian ini adalah deskripsif regresi yaitu suatu model pemecahan yang mencari pengaruh antara variable atau lebih. Dengan karakteristik variable nya yaitu variable independen dan variable dipenden. Pemecahan masalah dalam penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif yang menggunakan uji statistic dengan langkah � langkah pengumpulan data, klasifikasi, analisis serta pengelolaan data dan mebuat kesimpulan tersebut. Emotional Intelligence (EQ) begitu penting dalam dunia pendidikan saat ini, sebab berpegaruh pada pencapaian dan kemajuan prestasi belajar siswa. Kecerdasan emosioanl yaitu kemampuan seseorang untuk mengatur kehidupan emosinya dengan intelegensi (to manage our emotional life with intelligence) menjaga keselarasan emosi dan mengungkapkan (the appropriateness of emotion and its pression) melalui keterampilan kesadaran jiwa, motivasi jiwa, empati, dan keterampilan social. Berdasarkan hasil penelitian dengan menggunakan SPSS (Statistika Product Servese Solution) di ketahui bahwa persamaan regresi linier bergandanya adalah : Y = 59,474 + 0,325 X, sehingga dapat disumpulkan bahwa Hipotesis (Ha) diterima, buktinya adalah ada pengaruh dari kecerdasan emosional pada prestasi belajar. Dari persamaan regresi tersebut bisa di artikan yaitu dengan regresi 59,474 prestasi belajar siswa ( Y) di pengaruhi oleh peningkatan kecerdasan emosional (X) sebesar 0, 325.

 

ABSTRACT

The corona virus disease pandemic has not only had an impact on the world of health and the economy, but also the world of education. Face-to-face learning activities in schools have been temporarily suspended and replaced with School from home (SFH). This has an impact on the emotional intelligence of students during learning at home (Shool From Home). This research has a function to determine whether there is Emotional Intelligence in the learning achievement of 8th graders (Eighth) in social science subjects at SMPN 17 Bekasi. The research method used in this study is descriptive regression, which is a solution model that seeks the influence of one or more variables. With its variable characteristics, namely the independent variable and the dependent variable. Problem solving in this study uses a quantitative approach that uses statistical tests with the steps of data collection, classification, analysis and data management and making these conclusions. Emotional Intelligence (EQ) is so important in the world of education today, because it affects the achievement and progress of student achievement. Emotional intelligence is a person's ability to manage his emotional life with intelligence (to manage our emotional life with intelligence) maintain emotional harmony and express (the appropriateness of emotion and its pression) through mental awareness skills, mental motivation, empathy, and social skills. Based on the results of research using SPSS (Statistical Product Service Solution) it is known that the multiple linear regression equation is: Y = 59.474 + 0.325 X, so it can be concluded that the hypothesis (Ha) is accepted, the evidence is that there is an influence of emotional intelligence on learning achievement. From the regression equation, it can be interpreted that the regression of 59.474 student achievement (Y) is influenced by an increase in emotional intelligence (X) of 0.325.

Kata Kunci:

kecerdasan emosional dan� prestasi belajar.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Keywords:

emotional intelligence and learning achievements.


 


Pendahuluan

Pendidikan merupakan usaha memperoleh ilmu pengetahuan dan wawasan yang di lakukan oleh seseorang untuk mencapai cita- cita di masa yang akan datang. Setiap orang harus memperoleh pendidikan seperti yang di terangkan dalam Undang- undang Dasar 1945 pasal 31 di jelaskan bahwa tiap tiap warga negara berhak mendapatkan pendidikan. Manfaat penelitian ini sebagai bahan referensi yang dapat digunakan untuk memperoleh gambaran mengenai pengaruh kecerdasan emosional terhadap prestasi belajar, hasil penelitian ini juga diharapkan dapat dijadikan masukan bagi peserta didik untuk meningkatkan kecerdasan emosionalnya, hasil penelitian ini dapat memberikan informasi tambahan bagi guru mengenai masalah prestasi belajar di sekolah serta diharapkan sebagai tambahan wawasan pengamalan dan pengetahuan dalam mempraktikkan ilmu dan teori tentang pendidikan serta sebagai tambahan pengetahuan untuk bekal terjun ke masyarakat.

Pendidikan sangat berpengaruh dari kegiatan belajar dimana merupakan suatu proses yang dilaksanakan orang untuk menuju suatu keinginan. Proses pembelajaran disekolah, setiap anak tentu mengharapkan bisa memcapai prestasi yang bagus, baik dan memuaskan sesuai dengan proses yang telah di laksanakan. Prestasi belajar adalah hasil belajar yang di gapai setelah melalui perjalanan kegiatan belajar mengajar, perjalanan pembelajaran di inginkan bias meningkatkan prestasi belajar.

Kegiatan Belajar adalah suatu kondisi yang dengan disengaja diadakan oleh guru yang berfungsi untuk menggapai apa yang diharapkan (Ramadhani et al., 2020). Situasi belajar mengajar secara aktif dan melaksanakan perjalanan yang menumbuhkan dan mendorong peserta didik melakukan wawasan pengetahuan yang baru. Belajar merupakan suatu perjalanan usaha yang dilaksanakan orang�orang untuk memperoleh perubahan tingkah laku yang baik, dan baru secara keseluruhan, sebagai bukti pengamalannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungan sekitarnya.

Belajar sangat penting bagi para siswa untuk meningkatkan wawasannya, supaya peningkatan belajar belum tercapai dan maksimal karena suatu kondisi emosi para siswa juga sangat mempengaruhi serta kondisi pemahaman siswa yang mengikuti era perkembangan kurikukulum Pendidikan (Suciati, 2016). Suatu cara dala mengembangkan kualitas system pendidikan adalah dengan mempromosikan dan pengembangan IPTEK (Ilmu pengetahuan dan teknologi) sejak dini dalam pendidikan formal sebab anak didik merupakan sumber daya manusia di masa yang akan datang (NURCHOLIS, n.d.). Indonesia dalam memajukan pendidikan dapat dilihat dari berbagai macam, diantaranya adalah dengan mengembangkan kurikulum-kurikulum yang sudah ada. Tahun 2006� merupakan berlakunya kurikulum 2006 atau yang biasa di sebut dengan KTSP,� selanjutnya pada tahun 2013 menteri pendidikan mencetuskan kembali kurikulum 2013 atau K13. Pergantian kurikulum yang terjadi dalam system pendidikan merupakan bukti bahwa lembaga pendidikan tidak berhenti dalam pengembangan system pendidikan. Proses belajar dalam system pendidikan, guru harus mempunyai peran penting di bidang pendidikan, dalam proses pembelajaran guru menjadi suri tauladan generasi- generasi penerus bangsa, selsain itu juga guru memiliki peranan yang sangat penting di lingkungan sekolah adalah guru sebagai fasilitator, motivator, pemacu, perekayasa pembelajaran, sebagai orang tua dan sebagai inspirasi motivasi terhadap peserta didik, sehingga akan terjadi sebuah proses belajar dan mengajar yang kondusif.

Keberhasilan proses belajar dan mengajar dipengaruhi salah satunya IQ (Intelligence Quotient) dan EQ (Emotional Intelligence). Kecerdasan emosional merupakan kemampuan seseorang dalam menata kehidupan emosinya dengan Intelegensi (To manage our emotional life with intelligence), menjaga keselarasan menjaga kesetabilan emosi dan pengungkapannya (The appropriateness of emotional and is expression) kecerdasan emosional adalah kemampuan untuk memotivasi diri sendiri dan bertahan menghadapi stres, mengendalikan dorongan dan tidak melebih-lebihkan kebahagian mengatur suasana hati, dan menjaga supaya beban prustasi tidak melumpuhkan kemampuan untuk berfikir, berempati serta mempengaruhi sikap pada peserta didik (Uno, 2006)

Pendidikan kecerdasan emosional dapat meringankan peserta didik dalam menumbuhkan sikap antara lain adalah : a) disiplin, jujur dan tulus pada diri sendiri, menumbuhkan kekuatan dan kesadaran diri, mendengarkan suara hati, bertanggung jawab, hormat terhadap sesame. b). memantapkan jiwa, terus maju, tekun, dan menumbuhkan isnpirasi secara kesinambungan. c) menumbuhkan watak dan kewibawaan, meningkatkan potensi, dan mengintegrasikan tujuan belajar kedalam tujuan kehidupannya. d). memanfaatkan peluang dan menciptakan masa depan yang lebih baik (Widhianningrum, 2017). Jenis kecerdasan emosi untuk menguatkan sikap diri sendiri dan sesamanya atau istilah kecerdasan emosioanl El (Emotional Intelligence) (Mayer et al., 2004) mengatakan bahwa kecerdasan emosional� sebagai himpunan bagian kecerdasan social yang melibatkan kemampuan memantau perasaan emosi baik dari diri sendiri maupun pada orang lain, memilah- milah semuanya, dan menggunakan informasi ini untuk mengajarkan fikiran dan perbuatan. Hal ini berarti bahwasannya kecerdasan emosional adalah kemampuan peserta didik untuk dapat mengenal emosi jiwa, mengendalkan emosi jiwa, memotivasi jiwa, memahami emosi orang lain dan kemampuan untuk membimbing hubungan baik dengan orang lain. Sebagai penunjang hasil belajar anak didik, maka pengetahuan persoalan kecerdasan emosional sangat penting di miliki oleh setiap guru agar dapat mengembangkan kecerdasan emosional anak didik.

Para siswa yang memiliki kecerdasan emosional yang stabil bisa mengendalikan dirinya dengan baik dalam mengikuti perjalanan pembelajaran dan mempunyai kesadaran yang cukup baik untuk belajar. Hal tersebut yang bisa menjadikan salah satu penyebab peserta didik dalam hal memdapatkan prestasi belajar dengan baik dalam hal akademik maupun bukan akademik (SOBIRIN, 2020) EQ adalah kunci kesuksesan belajar siswa, pendidikan di sekolah bukan hanya perlu pengembangan rationalintellignece adalah model pemahaman pada umumnya di pahami siswa saja, bahkan juga perlu mengembangkan emotional intelligence siswa yang outnya berpengaruh pada nilai prestasi belajar siswa yang dapat kita lihat dari hasil Ujian tengeh semester siswa. Hasil belajar merupakan� kemapuan yang di dapat oleh peserta didik melalui kegiatan belajar, dalam kegiatan pembelajaran yang terarah, terinci, terprogram dan terkontrol yang di sebut� kegiatan pembelajaran, manfaat dan tujuan belajar adalah dapat mencapai tujuan � tujuan pembelajaran. Di antaranya nilai belajar salah satunya, pola pola perbuatan, sikap, pengertian, apresiasi dan keterampilan. Banyak factor yang mempengaruhi hasil belajar salah satunya adalah kebiasaan belajar seseorang dan kecerdasan emosional hingga memungkinkan factor tersebut mempunyai hubungan dengan hasil belajar (Pratiwi, 2017)

Pendidikan adalah bagian yang tidak bisa di pisahkan dari kehidupan manusia dan pendidikan juga merupakan kunci dalam kesuksesan pembangunan. Masalah yang paling sering di temukan dalam setiap menginovasi system pendidikan nasional merupakan tingkat kualitas dan kuantitasnya. Masalah ini sulit di tangani secara simultan karena dalam upaya meningkatkan kualitas, masalah kuantitas sering kali terabaikan dan sebaliknya. Karena seperti itulah pendidikan tidak pernah berhasil dimanapun termasuk di negara maju sekalipun .

Kejadian tawuran, perkelahian, antar kelompok, antar pelajar antar agama, yang sering terjadi di negeri ini menimbulkan bahwa masih kurang adanya perhatian terhadap kecerdasan emosional selama ini. Konflik yang timbul menggambarkan bahwa masing � masing kelompok sama sama kurang cerdas secara emosional. Konsep kecerdasan emosioanal memang masih relative baru, oleh Karena itu belum dikenal sebagimana kita mengenal hebatnya kecerdasan intelektual, juga belum banyak di kembangkan oleh dunia pendidikan. Sehingga konsep- konsep dan praktik pendidikan yang berlangsung masih cenderung mengutamakan kecerdasan intelektual.

Secara garis besar kecerdasan emosional berperan lebih penting daripada kecerdasan intelektual. Semakin banyak kalangan pendidikan mempercayai bahwa peserta didik yang menerima pendidikan akademi semata� tetapi kurang pendidikan kecerdasan emosioanal jadi kemungkinan kurang mampu menghadapi� tantangan masa depan, baik sebagai individu ataupun sebagai anggota masyarakat. Kecerdasan emosional adalah kunci pertama dalam meraih kebahagian. Pengawasan pendidikan terhadap persoalan pengembangan kecerdasan emosional memang melalui proses belajar di harapkan dapat di capai tujuan pendidikan. Di rasa masih belum mampu, sehingga pendidikan perlu bebenah guna meningkatanya. Kemudian hal nya dengan mainstream masyarakat perlu dirubah bahwasanya cerdas tidak cukup hanya cerdas Intelektual namun juga cerdas secara emosional.

Pendidikan kecerdasan emosional seharusnya di laksanakan pada semua jalur pendidikan baik pendidikan formal, non formal, maupun informal, masing- masing dengan strategi dan implementasi yang sebenarnya. Walaupun prestasi akademik sangat penting ada hal hal lain yang lebih penting dalam kehidupan kita. Seselarasan emosional tidak hanya berkontribusi dengan prestasi akademik, tetapi pada kesehatan fisik yang lebih baik, keluarga bahagia dan pengalaman kerja yang memuaskan dalam kehidupan kita.

Kegiatan belajar adalah kegiatan yang paling utama dalam keseluruhan perjalanan pendidikan. Hal tersebut mempunyai makna bahwa berhasill tidaknya pencapaian tujuan pendidikan tujuan pendidikan banyak tergantung pada perjalanan belajar yang di alami peserta didik secara aktif dalam kegiatan belajar baik fisik, mental ataupun emosional . pada umumnya masyarakat memponis bahwa IQ merupakan kecerdasan yang di anggap paling utama karena selalu menjadi tolak ukur kecerdasan seseorang ketika memasuki dunia pendidikan ataupun dunia kerja, bahkan hal tersebut menggambarkan bahwa kecerdasan emosional juga mempunyai pengaruh terhadap kesuksesan dan prestasi seseorang. Berdasarkan latar belakang ini,mak penelitian ingin mengukur lebih jauh pengaruh kecerdasan emosional terhadap prestasi belajar ilmu pengetahuan social kelas VIII (delapan) SMPN 17 Bekasi . Maksud tujuan penelitian tersebut adalah untuk mengetahui dan menjabarkan tentang : (1) kecerdasan emosional siswa (2) prestasi belajar ilmu pengetahuan social siswa, dan (3) pengaruh kecerdasan emosional terhadap prestasi belajar IPS.

Berdasarkan hasil dari latar belakang masalah di atas, maka penulis sangat tertarik untuk meneliti mengeinai � Pengaruh Kecerdasan terhadap prestasi belajar siswa kelas VIII pada mata pelajaran IPS SMPN 17 Bekasi.

 

Metode penelitian

Metode yang di pergunakan pada penelitian ini merupakan deskripsif regresi, adalah suatu model pemecahan masalah yang mencari pengaruh antara variable yaitu variable independen (variable yang mempengaruhi) dan variable dipenden (variable yang di pengaruhi ). Dan pemecahan masalah dalam penelitian tersebut mengenakan pendekatan kuantitatif yang menggunakan uji statistic dengan langkah pengumpulan data, klasifikasi, analisis serta pengelohan data, dan menyimpulkan yang di akhiri dengan pembuatan laporan hasil penelitian . dalam penelitian tersebut, penulis memakai dua variable adalah X dan Y

Adapun variabelnya yaitu

X

 

Y

 
 

 

 


Gambar 1

Variabel X dan Y

Keterangan :

X : Kecerdasan Emosional

Y : Prestasi Belajar Ilmu Pengetahuan Sosial

 

Rumus yang di gunakan untuk mengetahui jumlah sampel dari suatu populasi yaitu rumus Taro Yamene, adalah� �����������

Keterangan :

n : besar sampel

N : besar populasi

D : nilai presisi atau batas toleransi kesalahan pengambilan sampel (0,05 )

Berdasarkan data jumlah siswa kelas VIII SMPN Bekasi di ketahui bahwa total populasi dalam penelitian tersebut yaitu 120 peserta didik. Maka dengan demikian berdasarkan rumus di atas maka dapat di gambarkan bahwa jumlah sampel dalam penelitian ini adalah :

n =

n = 92,3

n = 92 Peserta Didik

Untuk menentukan jumlah sample pada setiap kelas, dapat menggunakan cara proportional random sampling, dengan menggunakan rumus

Ni = ( Ni : N) x n

Keterangan :

ni : Jumlah sampel perkelas

Ni : Jumlah siswa dalam kelas tersebut

n ��: sample

N ��: besaran populasi

 

Hasil dan pembahasan

1.    Hasil penelitian

Prestasi belajar mata pelajaran IPS di pengaruhi oleh kecerdasan emosional siswa, hal tersebut dapat di lihat dari perhitungan anava sederhana� di dapat nilai p � value lebih kecil dari 0,05 dengan demikian Ho di tolak, regresi Y atau X merupakan signifikan atau kecerdasan emosional berpengaruh terhadap prestasi belajar IPS, dengan kesamaan Y = 59,474 + 0,35 X, demikian hipotesis penelitian di dukung oleh data empiris.

2.       Pembahasan

Hasil dari pengujian hipotesa penelitian, menggambarkan bahwa hipotesis kerja penelitian ini dapat di terima. Adapun pengaruh kecerdasan emosional terhadap Prestasi belajar Ilmu pengetahuan social.

Menurut (Yaumi, 2017) Kecerdasan emosional merupakan kemampuan seseorang untuk mengatur kehidupan emosinya dengan intelegence ( to manage our emotional life with intelligence ) ; menjaga kesetabilan emosi dan mengungkapkan (the appropriateness of emotion and its epression) melalui keterampilan kesadaran diri, motivasi diri, empati dan keterampilan social, adapun individu memiliki kecerdasan emosional yang tiggi, dan mempunyai kemampuan menyesuaikan diri dalam segala bentuk kondisi. Menurut sudjana dalam (Yulianingsih & Sobandi, 2017)�� �����prestasi belajar merupakan� suatu penyebab dari proses belajar dengan menggunakan alat pengukuran, yaitu berpa tes yang di susun secara tertara, terencana, baik tes tulisan, tes lisan ataupun tes perbuatan. Berdasarkan Urain ini, kesimpulannya bahwa emosi merupakan suatu perasaan (afek) yang mendorong individu untuk merespon atau bertingkah laku terhadap stimulus, baik yang berasal dari dalam ataupun dari luar dirinya, berdasarkan urain di atas dapat di simpulkan bahwa emosi adalah suatu perasaan yang mendukung individu untuk merespon atau bertingkah laku terhadap stimulus, baik yang berasal dari dirinya ataupun berasal dari orang lain dan akan mempengaruhi proses fisiologis pada diri seseorang tersebut.

Keterampilan EQ juga bukan sekedar lawan keterampilan IQ atau keterampilan kognitif, bahkan keduanya berinteraksi secara dinamis, baik pada tingkatan konseptual ataupun di dunia nyata (HM, 2016). Selain itu juga, EQ tidak seperti di pengaruhi oleh factor keturunan. Keterampilan IQ atau keterampilan kognitif yang tinggi tidak dapat menjamin siswa untuk selalu berprestasi baik, seperti yang di jelaskan sebelumnya bahwa peserta didik yang mempunyai tingkat kecerdasan rasional yang tinggi memperoleh nilai rata- rata atau bahkan di bawah rata- rata yang sangat bermakna adalah sebuah kegagalan dalam belajar. Hal ini bisa terjadi karena kecenderungan peserta didik yang hanya menggunakan kecerdasan rasional dan tidak memberdayakan kecerdasan emosionalnya sehingga memungkinkan peserta didik mendapatkan banyak hambatan (Mashar, 2015) sering terjadi contohnya stress, bosan atau jenuh hal tersebut dapat menyebabkan pada menurunnya minat dan motivasi untuk belajar. Gangguan emosional dapat menyebabkan kehidupan mental, para siswa yang cerdas, marah atau depresi yang akan mengakibatkan kesulitan belajar (Hafni, 2005). Orang orang yang terjebak dalam situasi ini juga menemui kesukaran menyerap informasi dengan efesien atau efektif .

Kecerdasan emosional yang tidak di jaga dengan baik akan mempengaruhi tingkat perkembangan emosional dalam jiwa siswa (Mangkunegara & Puspitasari, 2015). Emosional yang tidak dapat di control dengan baik menimbulkan efek tidak baik pada daya fikir siswa yang demikian akan berpengaruh juga pada kecerdasan rasional (kognitif) peserta didik. Efek bekelanjutan tersebut akan menimbulkan pada prestasi belajar siswa yang mengalami penurunan. Kecerdasan emosional yang di maksud oleh peneliti merupakan kemampuan individu untuk mengenali perasaannya sehingga bisa mengatur dirinya sendiri dan menimbulkan motivasi dalam dirinya untuk menumbuhkan prestasi belajar siswa. Sementara di lingkungan social ia mampu berempati dan membimbing hubungan baik terhadap orang lain.

Berdasarkan hasil penelitian bahwasannya, Prestasi belajar mata pelajaran ilmu pengetahuan social peserta didik di pengaruhi oleh kecerdasan siswa, hal tersebut bisa di lihat dari perhitungan anava sederhana di dapat nilai P-value lebih kecil dari 0,05 dengan kemudian Ho ditolak, regresi Y atau X merupakan signifikan atau kecerdasan emosional berpengaruh terhadap prestasi belajar IPS, dengan persamaan Y = 59,474 + 0,325 X, sehingga dapat di Tarik dari kesimpulan bahwa hipotesis ( Ha) di terima, terbukti bahwa ada pengeruh dari kecerdasan emosional terhadap prestasi belajar. Dari persamaan regresi ini dapat di simpulkan bahwa dengan regresi 59,474 prestasi belajar siswa ( Y) di pengaruhi oleh peningkatan kecerdasan emosioanl ( X) sebesar 0,325

 

Kesimpulan

Setelah penelitian data di peroleh dengan menggunakan instrument ukur yang disusun oleh peneliti, maka dilakukan analisi data secara kuantitif, hal tersebut dilaksanakan untuk menjawab masalah melalui pengujian terhadap hipotesis penelitian. Hasil dari pengujian hipotesis, maka dapat ditarik Prestasi belajar mata pelajaran IPS peserta didik di pengaruhi oleh kecerdasan emosional siswa, hal tersebut dapat di lihat dari perhitungan anava sederhana didapat nilai p-value lebih kecil dari 0,05 dengan demikian Ho di tolak, regresi Y atau X merupakan signifikan atau kecerdasan emosional mempengaruhi prestasi belajar ilmu pengetahuan social, dengan persamaan Y + 59,474 + 0,325 X, demikian hipotesis penelitian di dukung oleh data empiris.

 

BIBLIOGRAFI

 

Hafni, M. (2005). Studi Tentang Hubungan Antara Kemampuan Mengendalikan Emosi Dasar Negatif Dengan Prestasi Belajar.Google Scholar

 

HM, E. M. (2016). Mengelola kecerdasan emosi. Tadrib, 2(2), 198�213. Google Scholar

 

Kusrini, K., Supriyadi, S., Bahri, S., Palittin, I. D., Rahayu, M., Silubun, H. A., & Loupatty, M. (2018). Efektivitas model pembelajaran discovery learning berbantuan media powerpoint untuk meningkatkan hasil belajar siswa. Musamus Journal of Science Education, 1(1), 27�32. Google Scholar

 

Mangkunegara, A. A. A. P., & Puspitasari, M. (2015). Kecerdasan emosi guru, stres kerja, dan kinerja guru SMA. Jurnal Kependidikan: Penelitian Inovasi Pembelajaran, 45(2). Google Scholar

 

Mashar, R. (2015). Emosi anak usia dini dan strategi pengembangannya. Kencana. Google Scholar

 

Mayer, J. D., Salovey, P., & Caruso, D. R. (2004). AUTHORS�RESPONSES:" A further consideration of the issues of emotional intelligence". Psychological Inquiry, 15(3), 249�255. Google Scholar

 

NURCHOLIS, M. (n.d.). Bukti Penugasan Ujian Mahasiswa S3 Fakulytas Pertanian dan Geografi UGM, serta Mahasiswa UNSOED. Google Scholar

 

Pratiwi, N. K. (2017). Pengaruh tingkat pendidikan, perhatian orang tua, dan minat belajar siswa terhadap prestasi belajar bahasa indonesia siswa smk kesehatan di kota tangerang. Pujangga, 1(2), 31. Google Scholar

 

Ramadhani, R., Masrul, M., Nofriansyah, D., Abi Hamid, M., Sudarsana, I. K., Sahri, S., Simarmata, J., Safitri, M., & Suhelayanti, S. (2020). Belajar dan Pembelajaran: Konsep dan Pengembangan. Yayasan Kita Menulis. Google Scholar

 

Sobirin, U. A. (2020). Analisis Kecerdasan Emosional Terhadap Prestasi Belajar Siswa Kelas Iv Sd Negeri Jatimalang Kecamatan Arjosari Tahun Pelajaran 2019/2020. STKIP PGRI Pacitan. Google Scholar

 

Suciati, W. (2016). Kiat Sukses Melalui Kecerdasan Emosional dan Kemandirian Belajar. Rasibook. Google Scholar

 

Uno, H. B. (2006). Orientasi baru dalam psikologi penbelajaran. Google Scholar

 

Widhianningrum, P. (2017). The Influence of Intellectual Intelligence, Emotional Intelligence and Spiritual Intelligence on Understanding Magnitude of Behavioral Accounting. Journal of Accounting and Business Education, 1(2), 191�207. Google Scholar

 

Yaumi, M. (2017). Prinsip-prinsip desain pembelajaran: Disesuaikan dengan kurikulum 2013 edisi Kedua. Kencana. Google Scholar

Yulianingsih, L. T., & Sobandi, A. (2017). Kinerja mengajar guru sebagai faktor determinan prestasi belajar siswa. Jurnal Pendidikan Manajemen Perkantoran, 2(2), 49. Google Scholar

 

 

 


Copyright holder :

Nurhasanah (2021).

 

First publication right :

Jurnal Syntax Transformation

 

This article is licensed under: