Jurnal Syntax Transformation

 

Vol. 2 No. 8, Agustus 2021

p-ISSN: 2721-3854 e-ISSN: 2721-2769

Sosial Sains

 

PENGARUH PENGGUNAAN SOSIAL MEDIA TERHADAP KECERDASAN EMOSIONAL DIKALANGAN REMAJA

Samiah Fitri Lestari, Irvia Eriza

Universitas Panca Sakti Bekasi Jawa Barat, Indonesia���

Email: [email protected], [email protected]

 

INFO ARTIKEL

ABSTRAK

Diterima

10 Juli 2021

Direvisi

18 Agustus 2021

Disetujui

20 Agustus� 2021

 

Pengaruh merupakan suatu daya tarik yang dihasilkan benda atau manusia yang dapat merubah kepribadian seseorang. Pengaruh dalam penelitian ini adalah daya atau kekuatan yang dihasilkan oleh media sosial terhadap kecerdasan emosional dikalangan remaja smpn 28 bekasi yang diharapkan mampu menciptakan remaja yang memiliki sifat dan karakter serta bermoral dan membawa perubahan kearah yang lebih maju. Media sosial adalah sebuah media online, dengan para penggunanya bisa dengan mudah berpartisipasi, berbagi, dan menciptakan isi meliputi blog, jejaring sosial, wiki, forum dan dunia virtual. Blog, jejaring sosial dan facebook. merupakan bentuk media sosial yang paling umum digunakan oleh masyarakat di seluruh dunia. Media sosial adalah sebuah wadah yang mampu menciptakan berbagai bentuk komunikasi dan pemberian berbagai macam informasi bagi semua kalangan masyarakat. Media sosial yang dimaksud dalam penelitian ini adalah situs jejaring sosial microblog yaitu aplikasi yang mengizinkan user untuk dapat terhubung dengan cara membuat� informasi pribadi sehingga dapat terhubung dengan orang lain. Informasi pribadi itu bisa seperti foto-foto contohnya, facebook, Instagram, path, twitter, whatsapp, dll

 

ABSTRACT

Influence is an attraction produced by objects or humans that can change a person's personality. The influence in this study is the power or strength generated by social media on emotional intelligence among teenagers at SMPN 28 Bekasi which is expected to be able to create teenagers who have character and character and are moral and bring change in a more advanced direction. Social media is an online medium, with its users being able to easily participate, share, and create content including blogs, social networks, wikis, forums and virtual worlds. Blogs, social networks and facebook. It is the most common form of social media used by people around the world. Social media is a forum that is able to create various forms of communication and provide various kinds of information for all circles of society. The social media referred to in this study is a microblog social networking site, which is an application that allows users to be able to connect by creating personal information so that they can connect with others. other people. Personal information can be such as photos, for example, facebook, instagram, path, twitter, whatsapp, etc.

Kata Kunci:

Media Sosial, Kecerdasan Emosional, Kalangan Remaja

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Keywords:

Social media, Emotional Intelligence, teenagers


Pendahuluan

Indonesia merupakan Negara yang berkembang salah satunya ditandai dari perkembangan teknologi (Lalo, 2018). Perkembangan teknologi di Indonesia ditunjukan dengan meningkatnya pengguna internet di Indonesia. Menurut data Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII). Jumlah pengguna internet Indonesia tahun 2020 sebanyak 196,7 juta jiwa, jumlah ini meningkat 23,5 juta atau 8,9 % dibandingkan pada 2018 lalu. Jumlah pengguna internet paling banyak berasal dari provinsi jawa barat yakni 35,1 juta orang (Viva.com), n.d.). Media sosial adalah hasil dari globalisasi yang mendunia, yang tidak dapat dihindari dampak bagi semua kalangan manusia termasuk remaja.

Fenomena yang terus terjadi seperti meningkatnya degradasi moral dikalangan remaja merupakan dampak dan pengaruh penggunaan �media sosial (Setyoningsih, 2018). Akibatnya kalangan terpelajar yang kurang berkarakter dan bermoral. Remaja pada dasarnya memiliki sifat mudah terpengaruh, suka meniru, ingin dianggap super, paling hebat, tanpa memikirkan resiko dari langkah yang dilakukan dan bahkan menjurus pada suatu perbuatan yang melanggar norma agama dan hukum misal ketika melihat unggahan foto atau video di instagram yang menunjukkan eksistensi, kemewahan, gaya hidup dan sebagainya (Indriani, 2019).

�SMPN 28 Bekasi merupakan tempat yang menjadi penelitian yang selama ini telah penulis amati, letaknya yang berada ditengah-tengah kota Bekasi membuat lokasi ini menjadi pusat pergaulan remaja dengan fasilitas yang serba ada memudahkan remaja dalam memenuhi kebutuhan gaya hidup dan eksistensi, selain dari itu tersedianya faktor pendukung, seperti reverensi yang menunjang serta lokasi penelitian yang mudah dijangkau oleh penulis. Walau dimasa pandemi saat ini ada beberapa bagian penelitian dilakukan secara daring ataupun online.

Kemajuan teknologi di bidang informasi pada abad ke 21 ini semakin berkembang pesat (Wijaya et al., 2016). Perkembangan teknologi informasi merupakan hasil dari semakin berkembangnya pengetahuan manusia yang dapat memberikan perubahan pada pola kehidupan manusia. Perkembangan teknologi di era globalisasi telah memberikan banyak manfaat di berbagai aspek dalam kehidupan masyarakat (Nurrizka, 2016). Penggunaan teknologi informasi oleh manusia dalam membantu menyelesaikan pekerjaan merupakan hal yang menjadi keharusan dalam kehidupan. Berbagai hal dapat dilakukan dengan mudah dengan adanya akses internet (Marpaung, 2018).

Di Indonesia kegiatan bersosial media sebenarnya sudah ada sejak lama, hanya saja demam sosial media mulai terasa ketika situs pertemanan yang bernama friendster mulai naik daun. Banyak orang yang mulai merasa sangat penting untuk menampilkan sosok dirinya untuk dikenal orang lain. Facebook, twitter, whatsapp dan situs jejaring sosial yang lainnya saat ini merupakan aplikasi teknologi yang sedang digemari kalangan remaja dan juga anak-anak.(Ningrum, 2020)

Dengan situs jejaring ini kita dapat memperluas pertemanan baik secara kekerabatan maupun dengan masyarakat luas, bukan hanya dalam ruang lingkup lingkungan tempat tinggal saja tetapi dari berbagai macam kalangan, lingkungan maupun status sosial. Hal tersebut menjadi suatu keharusan bagi remaja untuk memilikinya.

Generasi bangsa sekarang terletak pada anak yang kemudian tumbuh menjadi pribadi pemimpin. Yang mampu memimpin dirinya adalah faktor yang paling utama. Hal yang harus diperhatikan adalah pendidikan karakter yang harus ditanamkan sejak dini. Pendidikan di dalam keluarga yang menjadi dasar pondasi dan karakter dalam berperilaku dan bersikap dalam bermasyarakat (Chusna, 2017). Akan tetapi dengan adanya perkembangan teknologi jejaring sosial menjadikan sebuah tantangan dalam sebuah pendidikan karakter si anak-anak dan remaja (Puspitasari et al., 2020). Banyak orang tua yang memberikan keluasan sebebas-bebasnya terhadap anaknya dengan membelikan gadget sejak usia dini (Sultonurohmah, 2017). Mereka beralasan tindakan tersebut akan lebih aman dan mudah dalam pengawasan aktifitas buah hati. Tapi mereka belum memikirkan bagaimana pengaruh media internet maupun jejaring sosial lainnya terhadap perkembangan yang muncul dari kebiasaan memainkan gadget tersebut.

Dampak positif dari jejaring sosial diantaranya sebagai sarana untuk mempromosikan iklan yang belakangan ini disebut dengan jual beli online. Ada juga yang membuat group maupun komunitas untuk bertukar informasi dan juga memperluas pertemanan. Selain itu juga jejaring sosial juga dapat mempertemukan tali silaturahmi yang sudah lama tidak bertemu atau sempat putus (Mukhlason & Aljawiy, 2012) �Dampak negatif jejaring sosial bagi remaja dan anak-anak adalah dengan situs jejaring sosial mereka akan merasa kecanduan dan tidak mengenal batasan waktu karna mereka harus update terhadap situs jejaring sosial yang mereka miliki (Putri et al., 2016).

Belakangan ini marak sekali kasus kasus yang mencakup kalangan anak-anak maupun remaja seperti adanya penculikan, penganiayaan,bahkan yang lebih parahnya lagi pemerkosaan pada anak-anak� dan remaja yang seharusnya mereka dilindungi dan menjadi suatu penerus bagi bagi agama dan bangsa Indonesia itu sendiri. Banyak sekali kasus kasus yang memang hampir 90% dari anak- anak maupun remaja yang menirukan maupun memperagakan segala macam yang memang ada di dalam sosial media tersebut (Khairuni, 2016) sehingga membuat anak-anak maupun remaja yang tidak memahami menjadi terjerumus akan pergaulan bebas yang hanya ikut ikutan saja. Dampak negatif situs jejaring sosial juga nampak dalam perubahan sikap terhadap anak-anak maupun remaja tersebut kecanduan jejaringan sosial, diantaranya mereka menjadi malas karna terlalu asyik dengan jejaring sosial mereka. Mereka juga lupa akan kewajiban mereka sebagai pelajar. Selain itu juga mereka akan bersikap egois tidak peduli dengan lingkungan sekitar karena waktu yang mereka miliki dihabiskan oleh internet

 

Metode Penelitian

Penelitian ini menggunakan metode pendekatan fenomenologi. Tujuannya untuk memahami tindakan sosial (yang berorientasi pada perilaku orang atau orang lain pada masa lalu, sekarang dan akan datang) melalaui penafsiran. Dengan kata lain, mendasarkan tindakan sosial pada pengalaman, makna dan kesadaran. Dimana, manusia dituntut untuk saling memahami satu sama lain, dan bertindak dalam kenyataan yang sama. Sehingga, ada penerimaan timbal balik, pemahaman atas dasar pengalaman bersama, dan tipikasi atas dunia bersama, jadi hasil penelitian ini bukanlah berupa sebuah angka-angka melainkan hasil dari pengukuran, akan tetapi berupa informasi.

Menurut (Creswell, 2010) penelitian kualitatif merupakan metode-metode untuk mengeksplorasi dan memahami makna yang oleh sejumlah individu atau sekelompok orang dianggap berasal dari masalah sosial atau kemanusiaan. Proses penelitian kualitatif ini melibatkan upaya-upaya penting, seperti mengajukan pertanyaan, pertanyaan dan prosedur-prosedur, mengumpulkan data yang spesifik dari partisipan, dan menganalisis data secara� induktif mulai dari tema-tema yang khusus ketema-tema umum, dan menafsirkan makna data. Berdasarkan asumsi dan pendapat diatas, peneliti menggunakan metode penelitian kualitatif karena lebih cocok untuk menggali informasi dan membahas permasalahan ataupun hal-hal yang berkaitan dengan penggunaan penggunaan media social dan gadget.

Populasi pada penelitian ini penelitian kuantitatif korelasional dengan dua variable, yaitu satu variable bebas dan satu variable terikat,tujuan dari penelitian korelasional adalah untuk melakukan deteksi terhadap variasi-variasi suatu variable yang berkaitan dengan variasi-variasi satu variable lain berdasarkan koefesien korelasi , variable bebas dalam penelitian ini adalah kecerdasan emosional dan variable terikat adalah media sosial. Populasi pada penelitian ini adalah siswa kelas 7,8 dan 9 SMPN 28 Bekasi berjumlah 850 siswa yang berusia 13-15 tahun dan memiliki dua minimal media sosial yang digunakan untuk keperluan pribadi maupun pembelajaran daring. subjek penelitian diacak dan dipilih dengan teknik cluster random sampling sehingga mendapatkan 300 siswa sebagai subjek penelitian dan 216 sebagai subjek uji coba alat ukur. Metode pengumpulan data pada penelitian ini menggunakan metode skala psikologi yang terbagi menjadi dua skala , yaitu skala kecerdasan emosional dengan total 31 aitem dan koefisien reliabilitas 0,889, sedangkan skala inteni bermedia sosial dengan total 22 aitem valid dan koefisiensi reliabilitas 0,895. Analsis data pada penelitian ini menggunakan analisis regresi linier sederhana yang terdiri atas beberapa tahap uji asumsi (uji normalitasdan uji linearitas) dan uji hipotesis

Hasil dan Pembahasan

Tabel 1
�Hasil Uji Normalitas

Variabel

Kolmogorov-Smirnov

P

Kecerdasan Emosional

1,324

0,060 (p>0,05)

bermedia Sosial

1,240

0,092 (p>0,05)

 

 

 

Uji normalitas variable kecerdasan emosional menunjukkan nilai Kolmogorov-Smirnov sebesar 1,324 dengan signifikansi 0,060 yang lebih besar dari 0,05. Hal ini berarti bahwa variabel kecerdasan emosional memiliki data yang berdistribusi normal.� Uji normalitas variabel intensi bermedia sosial menunjukkan nilai Kolmogorov-Smirnov sebesar 1,240 dengan signifikansi 0,092 yang lebih besar dari 0,05. Hal ini berarti bahwa variabel bermedia sosial memiliki data yang berdistribusi normal.

 

Tabel 2
Hasil Uji Linearitas

Nilai F

Signifikansi

P

26,697

0,000

P<0.001(Linier)

 

Hasil uji linearitas menunjukkan nulai F sebesar 26,697 dengan signifikansi sebesar 0,000 yang lebih kecil dari 0.001. Hal ini berarti bahwa hubungan antara kedua variabel adalah linier.

Tabel 3
Hasil Uji Hipotesis 1

Kecerdasan Emosional Bermedia Sosial

Pearson

Correlatin

Kecerdasan Emosial

1.000

-0,287

Bermedia Sosial

-0,287

1,000

Sig.

(1tailed)

Kecerdasan Emosioal

 

0,000

Bermedia Sosial

0,000

.

 

N

Kecerdasan Emosional

300

300

Bermedia Sosial

300

300

 

Dengan signifikansi 0,000 yang lebih kecil dari 0,001. Hal ini berarti bahwa ada hubungan dengan negatif antara variabel kecerdasan emosional dengan intensi bermedia sosial pada siswa SMPN 28 Bekasi. Hubungan negatif berarti semakin tinggi kecerdasan emosional maka semakin rendah intensi bermedia sosial, sebaliknya semakin rendah kecerdasan emosional maka semakin tinggi intensi bermedia sosial.

 

 

 

 

Tabel 4
Hasil Uji Hipotesis
2

Model T

Unstandardized

Coeffisents

Standardized Coeffisients

 

B

Std. Error

Beta

 

 

 

(Constant)

68,877

4,737

 

0,287

14,539

.000

Kecerdasan Emosional

-0,295

0,057

-5,167

.000

 

Tabel 5
Hasil Uji Hipotesis
3

R

R Square

Adjusted R Square

Std. Error of the Estimate

0.287

0.082

0.079

7.920

 

Persamaan garis regresi linier berdasarkan tabel, yaitu Y= 68,877� 0,295 X. Hal ini berarti bahwa variabel intensi bermedia sosial mengalami perubahan secara berbanding terbalik sebesar 0,295 untuk setiap unit perubahan dari variable bermedia sosial. Hasil R Square menunjukkan 0,082. Hal ini beraarti bahwa variabel kecerdasan emosional memberikan sumbangan efektif sebesar 8,2% kepada variabel bermedia sosial.

Koefisien korelasi menunjukkan -0,287 dengan signifikansi 0,000 yang lebih kecil dari 0,001. Hal ini berarti bahwa ada hubungan dengan negatif antara variabel kecerdasan emosional dengan intensi bermedia sosial pada siswa SMPN 28 Bekasi. Hubungan negatif berarti semakin tinggi kecerdasan emosional maka semakin rendah intensi bermedia sosial, sebaliknya semakin rendah kecerdasan emosional maka semakin tinggi intensi bermedia sosial.

Tabel 6

Deskripsi Skor Bermedia Sosial

Sangat rendah

Rendah

Tinggi

Sangat tinggi

N= 66 22%

N= 202

67,33%

N= 32 10,67%

N= 0

0%

 

 

 

 

 

Tabel 7

Deskripsi Skor Kecerdasan Emosional

Sangat rendah

Rendah

Tinggi

Sangat tinggi

N= 0

0%

N= 84

24%

N= 212

70,76%

N= 4

1,3%

 

Tabel 6 menunjukkan bahwa 67,33% atau 202 subjek penelitian berada pada kategori rendah, sedangkan tabel 7 menunjukkan bahwa 70,67% atau 212 subjek penelitian� berada pada kategori tinggi. Hasil tersebut menunjukkan bahwa saat penelitian berlangsung, mayoritas subjek penelitian memiliki kecerdasan emosional tinggi dan bermedia sosial rendah. Penelitian yang dilakukan oleh (Beranuy et al., 2009) menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara penggunaan internet dan ponsel yang maladaptif berhubungan dengan tekanan psikologis serta hubungan persepsi kecerdasan emosional. Penggunaan internet yang bermasalah menunjukkan kurangnya harga diri, kesepian, depresi, kecemasan dan gangguan tidur. Begitu pula sebaliknya, individu yang memiliki kecerdasan emosional baik akan meminimalisir penggunaan internet yang bermasalah. Didukung pada penelitian yang dilakukan oleh (Hua et al., 2015) menunjukkan bahwa kecerdasan emosional memberikan pengaruh pada kinerja akademik. Kecerdasan emosional yang tinggi berhubungan dengan kinerja akademik yang lebih baik. Oleh sebab itu, siswa yang memiliki kecerdasan emosional tinggi, cenderung fokus pada kinerja akademik dibandingkan bermedia sosial. Hal tersebut yang memungkinkan subjek penelitian memiliki kecerdasan emosional yang tinggi dan intensi bermedia sosialnya rendah karena siswa cenderung berfokus pada akademik. penelitian ini adalah penggunaan indeks daya beda aitem yang digunakan adalah 0.25 dengan jumlah variabel yang gugur hampir 50%. Penggunaan konsep intensi bermedia sosial yang digunakan belum detail, karena yang dimaksud peneliti disini adalah bermedia sosial negatif, yang ditunjukkan dengan aktivitas mem-posting konten yang bersifat privasi. Penyusunan alat ukur bermedia sosial akan lebih efektif bila didasarkan pada aspek atau elemen atau unsur, bukan faktor yang memengaruhi atau determinan.

 

Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian, dapat ditarik kesimpulan bahwa terdapat hubungan negatif antara kecerdasan emosional dengan bermedia sosial pada siswa SMPN 28 Bekasi. Kesimpulan tersebut berarti bahwa semakin tinggi kecerdasan emosional yang dimiliki maka semakin rendah bermedia sosialnya. Demikian pula sebaliknya, semakin rendah kecerdasan emosional yang dimiliki maka semakin tinggi bermedia sosialnya. Kecerdasan emosional memberikan sumbangan efektif sebesar 8,2% terhadap bermedia sosial dan sisanya sebesar 91,8% ditentukan oleh faktor-faktor lain yang tidak diungkapkan dalam penelitian ini.

 

BIBLIOGRAFI

Beranuy, M., Oberst, U., Carbonell, X., & Chamarro, A. (2009). Problematic Internet and mobile phone use and clinical symptoms in college students: The role of emotional intelligence. Computers in Human Behavior, 25(5), 1182�1187. Google Scholar

 

Chusna, P. A. (2017). Pengaruh media gadget pada perkembangan karakter anak. Dinamika Penelitian: Media Komunikasi Penelitian Sosial Keagamaan, 17(2), 315�330. Google Scholar

 

Creswell, J. W. (2010). Mapping the developing landscape of mixed methods research. SAGE Handbook of Mixed Methods in Social & Behavioral Research, 2, 45�68. Google Scholar

 

Hua, H., He, Y., Qiu, Y., Li, Y., Song, B., Gao, P., Song, X., Guo, D., Liu, X., & Liang, Y. (2015). Copper‐catalyzed difunctionalization of activated alkynes by radical oxidation�tandem cyclization/dearomatization to synthesize 3‐trifluoromethyl spiro [4.5] trienones. Chemistry�A European Journal, 21(4), 1468�1473. Google Scholar

 

Indriani, E. (2019). Modernisasi Dan Degradasi Moral Remaja (Studi di Desa Jati Mulyo Kec. Jati Agung, Kab. Lampung Selatan). UIN Raden Intan Lampung. Google Scholar

 

Khairuni, N. (2016). Dampak positif dan negatif sosial media terhadap pendidikan akhlak anak (studi kasus di smp negeri 2 kelas viii banda aceh). JURNAL EDUKASI: Jurnal Bimbingan Konseling, 2(1), 91�106. Google Scholar

 

Lalo, K. (2018). Menciptakan generasi milenial berkarakter dengan Pendidikan karakter guna menyongsong era globalisasi. Jurnal Ilmu Kepolisian, 12(2), 8. Google Scholar

 

Marpaung, J. (2018). Pengaruh Penggunaan Gadget dalam Kehidupan. KOPASTA: Journal of the Counseling Guidance Study Program, 5(2). Google Scholar

 

Mukhlason, A., & Aljawiy, A. Y. (2012). Jejaring Sosial dan Dampak Bagi Penggunanya. Teknologi: Jurnal Ilmiah Sistem Informasi, 1(1). Google Scholar

 

Ningrum, D. R. A. (2020). pengaruh penggunaan media sosial instagram terhadap kecerdasan emosional dan interaksi sosial mahasiswa pendidikan guru madrasah ibtidaiyah semester iv iain ponorogo tahun akademik 2019/2020. IAIN Ponorogo. Google Scholar

 

Nurrizka, A. F. (2016). Peran Media Sosial di Era Globalisasi pada Remaja di Surakarta (suatu Kajian Teoritis dan Praktis terhadap Remaja dalam Perspektif Perubahan Sosial). Jurnal Analisa Sosiologi, 5(1). Google Scholar

 

Puspitasari, C., Prayudi, P., & Rochayanti, C. (2020). Pengembangan Model Komunikasi Dalam Pengelolaan Obyek WisatA. Paradigma: Jurnal Masalah Sosial, Politik, Dan Kebijakan, 24(1), 512�521. Google Scholar

 

Putri, W. S. R., Nurwati, N., & Budiarti, M. (2016). Pengaruh media sosial terhadap perilaku remaja. Prosiding Penelitian Dan Pengabdian Kepada Masyarakat, 3(1). Google Scholar

 

Setyoningsih, Y. D. (2018). Tantangan Konselor di era milenial dalam mencegah degradasi moral remaja. Prosiding Seminar Nasional Bimbingan Dan Konseling, 2(1), 134�145. Google Scholar

 

Sultonurohmah, N. (2017). Strategi penanaman nilai karakter jujur dan disiplin siswa. Al-Ibtida, 5(2), 1�21. Google Scholar

 

Viva.com), L. U. (. (n.d.). Internet Jadi Kebutuhan Utama Ketika Pandemi. https://id.berita.yahoo.com/internet-jadi-kebutuhan-utama-ketika-105202813.html

 

Wijaya, E. Y., Sudjimat, D. A., Nyoto, A., & Malang, U. N. (2016). Transformasi pendidikan abad 21 sebagai tuntutan pengembangan sumber daya manusia di era global. Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Matematika, 1(26), 263�278.Google Scholar

 

 

 

 


Copyright holder :

Samiah Fitri Lestari, Irvia Eriza (2021)

 

First publication right :

Jurnal Syntax Transformation

 

This article is licensed under: