Jurnal Syntax Transformation

Vol. 2 No. 9, September 2021

p-ISSN : 2721-3854 e-ISSN : 2721-2769

Sosial Sains

 

PENGARUH PENERAPAN PROGRAM K3 TERHADAP PERILAKU PEKERJA DENGAN SARANA & FASILITAS SEBAGAI VARIABEL INTERVENING

 

I Nyoman Dana

Universitas Sahid Jakarta, Indonesia�����

Email: [email protected]

 

INFO ARTIKEL

ABSTRAK

Diterima

5 September 2021

Direvisi

13 September 2021

Disetujui

15 September 2021

 

Masih tingginya angka kecelakaan kerja ditempat kerja, fakta masih lemahnya atensi terhadap bernilainya aspek K3 pada segala zona pekerjaan. Sebagian riset membuktikan bahwa terdapat buruh yang tidak mengerti kalau ia tidak terampil serta memiliki kebiasaan berperilaku tidak aman, terdapat buruh yang tahu bagaimana pekerjaan itu dilaksanakan dengan nyaman serta aman, namun tidak didukung oleh sarana kerja yang mencukupi, serta terdapat sebagain buruh yang meerasa dirinya terampil, namun butuh arahan serta tutorial dari yang lebih mengerti. Untuk itu, butuh diteliti serta diuji mengenai pengaruh pelaksanaan program K3 terhadap sikap pekerja di area kerja dilihat dari sebagian aspek. Tidak hanya itu, memanfaatkan fasilitas & sarana selaku variabel intervening buat menganalisis pengaruh fasilitas & sarana terhadap perilaku pekerja. Metode pengambilan sampel memakai Probability Sampling dengan tata cara Sampling Stratifikasi. Analisis data dengan tata cara PLS-SEM digunakan untuk memaparkan pengaruh pelaksanaan program K3 terhadap perilaku pekerja dengan fasilitas serta sarana selaku variabel intervening. Kesimpulan hasil penelitian ini adalah bahwa aspek pembinaan & pelatihan, safety promotion serta fasilitas & sarana berpengaruh signifikan terhadap perilaku pekerja. Serta aspek inspeksi & audit serta safety promotion berpengaruh signifikan juga terhadap fasilitas & sarana. Sedangkan aspek yang lain seperti kebijakan & komitmen K3 dan safety comitte tidak signifikan pengaruhnya terhadap perilaku pekerja maupun terhadap sarana & fasiltas kerja.

 

ABSTRACT

The high number of work accidents in the workplace, the fact that there is still weak attention to the value of OHS aspects in all work zones. Some research shows that there are workers who do not understand that they are unskilled and have a habit of unsafe behavior, there are workers who know how the work is carried out comfortably and safely, but are not supported by adequate work facilities, and there are some workers who feel that they are skilled. , but need direction and tutorials from those who understand better. For this reason, it is necessary to research and examine the effect of the implementation of the OHS program on the attitudes of workers in the work area viewed from several aspects. In addition, utilizing facilities and facilities as intervening variables to analyze the effect of facilities and facilities on worker behavior. The sampling method used Probability Sampling with Stratification Sampling procedure. Data analysis with the PLS-SEM procedure was used to describe the effect of the implementation of the OHS program on the behavior of workers with facilities and facilities as intervening variables. The conclusion of this research is that aspects of coaching & training, safety promotion and facilities & facilities have a significant effect on worker behavior. As well as aspects of inspection & audit as well as safety promotion also have a significant effect on facilities & facilities. Meanwhile, other aspects such as K3 policies & commitments and safety committees have no significant effect on worker behavior or on work facilities and facilities.

Kata Kunci:

Program K3, perilaku pekerja, sarana & fasilitas.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Keywords:

K3 program, worker behavior, facilities & facilities


 


Pendahuluan

Pekerjaan pembangunan merupakan perpaduan dari berbagai disiplin ilmu, baik menurut perspektif khusus perbaikan maupun menurut perspektif non-spesialisasi dan kemudian menggabungkan sumber daya manusia (Dwiyanti & Irlianti, 2014). Dalam pekerjaan pembangunan, selalu diidentikkan dengan pelaksanaan pembangunan yang mengisi hanya sebagai penghuni koordinator pekerjaan pembangunan itu sendiri. Dimana pelaksanaan kegiatan pembangunan ini harus sesuai kebutuhan mengenai desain, menyangkut keselamatan dan kesehatan kerja (K3)�, asuransi kerja, dan selanjutnya lingkungan lokal yang bermaksud untuk menjamin pengakuan dari pelaksanaan pekerjaan pembangunan yang disengaja (Noviandini et al., 2017). Terkait dengan kemampuan terhadap kemungkinan bahaya kerja dalam pelaksanaan kegiatan pembangunan, maka program K3 pada kegiatan pembangunan kini telah sebagai keperluan yang esensial. �Program K3 tidak dapat beroperasi seperti halnya yang diharapkan tanpa campur tangan dari pengurus sebagai suatu kerja yang diatur untuk mengawasinya �(system management)�, yang sering disebut dengan sistem manajemen keselamatan dan Kesehatan kerja (SMK3) (Rinawati et al., 2017) .� �Pengembangan program K3 bukan suatu hal yang benar-benar baru, sebelumnya sejumlah aturan yang berkaitan dengan K3 yang telah terbit semenjak tahun 1970, seperti Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1970� tentang keselamatan kerja, dan beberapa waktu kemudian pihak otoritas terkait juga menerbitkan aturan Peraturan Menteri No. 9 Tahun 2008 berkenaan SMK3 (Fassa & Rostiyanti, 2020). Minimnya prinsip-prinsip kesejahteraan kerja dan naiknya kasus kecelakaan kerja di Indonesia menjadi penyebab masih rendahnya nilai perspektif K3 di semua zona kerja di Indonesia.

Sebagai gambaran, informasi angka kecelakaan kerja di seluruh zona lapangan kerja Tahun 2017 di Indonesia tercatat 123.000 permasalahan kecelakaan kerja, dimana ada 3000 orang wafat, seperti tabel dibawah ini yang menampilkan informasi statistik kecelakaan kerja di Indonesia periode tahun 2001- 2017. (Suyono & Nawawinetu, 2013)

 

Grafik 1 Statistik Kecelakaan Kerja di Indonesia dari Tahun 2001-2017

Sumber: BPJSTK dlm safety magazine periode Desember 2018

 

Menurut (Budiarti, 2019) bahwa penyebab terbesar terhadap masalah kecelakaan kerja, berasal dari kecerobohan manusia dalam bekerja adalah 88%, kemudian 10% dari akibat dari kualitas propety/asset dll dan 2 % dari faktor lain (Mohd Adzim Khalili et al., 2013). Akibat dari penilaian kecelakaan kerja yang sejauh ini dapat disimpulkan bahwa beberapa bagian dari penyebab musibah kerja, baik yang telah menimpa korban nyawa maupun luka, diakibatkan oleh tidak sepenuhnya sesuai dengan pedoman K3 yang berlaku saat ini, lemahnya manajemen pelaksanaan K3, belum memadai baik dari segi kualitas maupun pelaksanaannya. Besarnya aksesibilitas Alat Pertahanan Diri (APD), serta tidak adanya disiplin tenaga kerja dalam mengikuti aturan K3, termasuk penggunaan APD di tempat kerja. Perihal ini selaras dengan hasil penelitian dari sebagian peneliti antara lain (Prihatiningsih & Sugiyanto, 2010) dalam penelitiannya menunjukkan bahwa masih banyak buruh pembangunan, terutama di proyek non pemerintah yang beraktivitas tanpa helm dan sabuk pengaman, mengingat hasil pertemuan dengan kepala proyek keselamatan dan kesehatan proyek, untuk pemugaran bangunan olahraga Amongrogo yang mulai dilaksanakan pada 14 Desember 2008, dari 100 tenaga hanya 7% yang perlu mengambil bagian dalam upaya untuk lebih mengembangkan keselamatan kerja. Hal ini memperlihatkan bahwa konsistensi angkatan kerja pada usaha tersebut masih minim. Peneliti �(Muliari & Setiawan, 2010) dalam penelitian mereka menunjukkan bahwa peningkatan konsistensi dengan pelaksanaan program yang direncanakan oleh manajemen perusahaan dapat dipengaruhi oleh beberapa perspektif, antara lain pandangan individu tentang sangsi yang akan diperoleh dan perlu kesadaran untuk tingkat pemahaman dari orang-orang pada umumnya tentang pentingnya melaksanakan program yang direncanakan oleh perusahaan. Sedangkan (Martiwi et al., 2017) dalam penelitiannya menampilkan kalau APD yang banyak tidak digunakan merupakan safety helmet (56, 5%) serta safety belt (56, 5%), sementara itu safety helmet ialah APD yang harus digunakan oleh pekerja konstruksi serta safety belt ialah APD yang harus digunakan pada pekerja di ketinggian (1,8m). (Syekura & Febriyanto, 2021) pemeriksaan mereka menunjukkan bahwa sebagian besar buruh pembangunan di perusahaan tersebut tidak konsisten dalam menggunakan APD (unsafe action) yang diperlukan dengan tingkat 54%. Buruh memiliki lebih sedikit informasi yang diidentifikasi dengan alat pengaman diri dengan level 87%. Ketidakpatuhan buruh dengan hal di atas akan mendorong timbulnya kecelakaan kerja.

Dari hasil kesimpulan sebagian riset diatas membuktikan kalau terdapat ketidaktahuan pekerja bahwa mereka tidak punya keahlian serta memiliki kebiasaan berperilaku tidak aman di tempat kerja (unsafe action), terdapat pekerja yang tahu melaksanakan aktivitas kerjanya dengan nyaman serta aman, namun tidak didukung oleh sarana kerja yang mencukupi (unsafe condition), serta terdapat pula pekerja yang mendapati dirinya berpengalaman, namun butuh masukan serta tutorial dari orang lain. Secara universal ada kesenjangan antara program K3 dengan sikap pekerja di area kerja (Agiviana & Djastuti, 2015).

Tujuan riset ini secara universal yaitu untuk mengetahui serta menganalisa pengaruh pelaksanaan program Keselamatan serta Kesehatan Kerja terhadap perilaku pekerja dengan fasilitas & sarana selaku variabel intervening. Diharapkan penelitian ini memberikan manfaat bagi dunia kerja khususnya dunia konstruksi dalam menerapkan budaya K3 dilokasi kerja sehingga kasus kecelakaan kerja dapat dicegah serta bagi dunia akademis untuk pengembangan ilmu pengetahuan khususnya dalam bidang K3.

Riset terdahulu sebagai dasar pijakan dalam rangka penulisan riset ini dapat memberikan gambaran hasil yang sudah diteliti oleh periset terdahulu sekaligus sebagai perbandingan serta cerminan yang bisa menunjang aktivitas riset selanjutnya. �Pada riset sebelumnya, (Handoko, 2015) mempelajari tentang Analisis pengaruh Keselamatan serta Kesehatan Kerja (K3) pada pekerja bangunan Gedung Penataan Ruang Kementrian Pekerjaan Umum.�� Variabel riset yang digunakan merupakan pemahaman, pengawasan dan kepatuhan keselamatan serta kesehatan kerja dengan tata cara analisa data yang digunakan dengan prosedur regresi serta analisa swot. �Tidak hanya itu, peneliti (Sambira, 2015) menganalisis tentang �pengaruh pengetahuan K3 terhadap perilaku pekerja konstruksi pada proyek jalur tol Nusa Dua- Ngurah Rai Benua Bali.� Variabel riset yang digunakan definisi serta inisiasi, sistem manajemen, perlengkapan pelindung diri, fasilitas serta prasarana, resiko dan perilaku pekerja konstruksi dengan tata cara analisa data yang digunakan dengan prosedur regresi. Penelitian terdahulu tersebut berbeda dengan penelitian yang dilakukan penulis saat ini baik dalam hal variabel yang digunakan maupun metode analisa datanya. �Penulis menggunakan elemen program K3 sebagai variabel independent dan perilaku pekrja sebagai variabel dependen serta mengunakan sarana & fasilitas kerja sebagai variabel intervening (variabel antara) serta mengunakan metode analisa data SEM dengan program SmartPLS.

 

Metode Penelitian

Jenis penelitian kuantitatif dipakai dalam riset ini, yang diperiksa dalam penelitian kuantitatif yang dikenal sebagai istilah variabel. Penelitian kuantitatif deduktif, yang juga berarti kesimpulannya terletak pada bagian �awal. Kesimpulan pada awal penelitian kuantitatif bersifat sementara dan prediksi, atau biasanya dituangkan dalam hipotesis.

Metode yang digunakan dalam penelitian ini untuk menghimpun informasi adalah pertama dengan metode kuesioner, yaitu data primer dikumpulkan dengan metode diseminasi kuesioner di mana informan akan memilih jawaban sesuai kondisi yang dirasakan, yang kemudian akan dibuat dalam penilaian tabulasi responden .

Kedua dengan metode dokumentasi yaitu data sekunder dikumpulkan dengan metode dokumentasi, yaitu mencari dan mengumpulkan data tentang hal-hal dalam bentuk data tentang jumlah pekerja yang terlibat, rencana program K3, pertemuan kotak alat pada proyek apartemen Bandung Teknoplex, media cetak terkait dengan proyek apartemen Teknoplex Living Bandung, sejumlah literatur terkait dengan penelitian ini.

Semua variabel yang digunakan dalam pengujian ini diukur atau diuji dengan menggunakan skala Likert. Untuk situasi ini peneliti mengharapkan skala Likert menghasilkan estimasi variabel pada skala interval (Suharsaputra, 2012) menjelaskan bahwa skala interval adalah skala estimasi yang jarak satu tingkat �ke tingkat berikutnya adalah sama.

Pemeriksaan ini menggunakan prosedur pengujian Probability Sampling, yang merupakan metode pemeriksaan di mana setiap individu dari masyarakat punya peluang sama untuk dipilih sebagai sample. Secara keseluruhan, semua individu dari populasi tidak memiliki kemungkinan nol. Metode ini termasuk secara acak keterwakilannya dari suatu populasi. Dari Teknik probability sampling ini digunakan Sampling Stratifikasi (Stratified Sampling), yang merupakan metode pemeriksaan melalui populasi yang terpisah menjadi kelompok strata dan kemudian mengambil tes dari setiap kelompok berdasarkan aturan kreteria yang ditentukan.

Teknik analisa informasi yang digunakan dalam pemeriksaan ini dengan PLS-SEM. Model dalam analisis PLS-SEM terdiri dari dua model di antara model struktural dan model pengukuran (model measuremenet). Tujuan dari model pengukuran luar (outer model) adalah untuk menilai variabel indikator yang sangat berkorelasi dan menggantikan satu sama lain sehingga evaluasi dapat didasarkan pada validitas dan reliabilitas. Pengujian model luar (outer model) untuk menjelaskan indikator yang valid dan andal untuk model pengukuran harus memenuhi beberapa kondisi berikut :

 


Tabel 1

Ringkasan Rule of Thumbs Evaluasi Outer Model

Validitas/realibilitas

parameter

Rule of thumbs

Validitas konfergen

Loading factor

>0,7 utk konfirmatory reserch

AVE (avarege variance extreacted)

>0,5 utk konfirmatory reserch

Validitas diskriminan

Croas loading

>0,7 utk konfirmatory reserch

Fornell-larcker

Akar kuadran AVE.korelasi antar konstruk laten

Reliabiltas

Cronbach�s Alpha

>0,7 utk konfirmatory reserch

Composite reliability

>0,7 utk konfirmatory reserch

Sumber : (Ghazali & Latan, 2015)

 


Model struktural juga dapat disebut model inner di mana model ini menunjukkan hubungan antara variabel laten. Tujuan dalam uji struktural atau model inner dibuat untuk memprediksi hubungan kausalitas antara variabel laten. Dalam uji struktural atau inner model dilakukan dengan mengevaluasi dengan r-square (R2) untuk hubungan variabel terikat dan uji stone- Geisser Q (Q2) untuk relevansi prediktif. Uji dalam model structural digunakan untuk menjelaskan hubungan kausalitas antara variabel laten, harus memenuhi beberapa kondisi berikut.

 


Tabel 2

Ringkasan Rule of Thumbs Evaluasi Inner Model

Kriteria

Rule of Thumbs

R-Square

Chin

0,67 kuat

0,33 moderat

0,19 lemah

Q2 predictive relevance

>0 model punya predictive relevance

≤ 0

Sumber : (Ghazali & Latan, 2015)

 


Dalam metode PLS-SEM, uji hipotesis dilakukan dengan uji-t. Tes-T akan menilai apakah ada perbedaan dari dua kelompok satu sama lain secara statistik menggunakan rata-rata dan keanekaragaman. Nilai-t dalam program SmartPls diperoleh dari proses boothstrapping. Uji hipotesis ini digunakan untuk menjelaskan pengaruh antara variabel laten, harus memenuhi beberapa kondisi berikut :

 


 

 

 

 

Tabel 3

Ringkasan Rule of Thumbs Uji Hipotesis

Kriteria

Rule of Thumbs

Signifikasi (2-tailed)

Signifikasi level = 5%

t-tabel = 1.96

bila :

t-statistik > t-tabel= signifikan

t-statistik < t-tabel= tidak signifikan

 

Sumber : (Ghazali & Latan, 2015)

 


Hasil dan Pembahasan

Langkah pertama dalam analisis SmartPls adalah model pengukuran dilakukan untuk menegaskan bahwa model pengukuran yang dipakai layak untuk digunakan sebagai pengukuran (valid dan andal) melalui pemeriksaan validitas konvergen, validitas diskrimian dan construct reliability and validity. Untuk mendapatkan hasil yang valid, pengujian konvergensi dilakukan dengan validitas terlebih dahulu dengan menggunakan program SmartPls 3.2.9 sebanyak beberapa iterasi (perhitungan) untuk menghilangkan nilai loading factor di bawah 0,7 (sesuai dengan persyaratan rule of tumbs). Setelah menghitung perhitungan algoritma pertama yang diperoleh 6 (enam) indikator di bawah nilai pemuatan faktor 0,7, yaitu X1.4, X4.4, X5.2. X5.4, X6.4 dan Y4 harus dihilangkan karena nilai loading factor di bawah 0,7.

 

Tabel 1

Pemeriksaan Convergen Validity

Sumber: Data diolah dari output SmartPLS 3.2.9

 

Langkah selanjutnya adalah memeriksa model untuk mendapatkan indikator yang benar-benar valid dan andal dengan melakukan validitas diskriminan dan membangun keandalan dan pemeriksaan validitas. Nilai diskriman validitas yang kami periksa adalah 3 nilai, yaitu kriteria fornell-laker, crossloading dan heterotrait-monotrait ratio. Nilai kriteria fornell-laker adalah nilai yang secara diagonal dan dibandingkan dengan nilai korelasi dari kontruk di bawah ini. Nilai ini harus diagonal terhadap nilai korelasi dari konstruk. Ternyata nilai yang diperoleh semuanya di atas nilai konstruk. Pemeriksaan selanjutnya adalah crossloading. Pemeriksaan crossloading ini untuk memeriksa indikator milik variabel tertentu dengan melihat nilai tertinggi. Untuk memudahkan melihat crossloading, kami menjalankan outer loading hanya dengan menampilkan nilai crossloading tertinggi.

 

 

Gambar 2

Pemeriksaan Discriminat Validity

Sumber: Data diolah dari output SmartPLS 3.2.9

 

Pemeriksaan selanjutnya adalah membangun keandalan dan validitas. Uji reliabilitas ini diwakili oleh 3 nilai yaitu Cronbach Alpha, rho_A dan composite reliability. Nilai rule of tumbs� di atas 0,7. Pemeriksaan menunjukkan bahwa plot cronbach Alpha, rho_A dan composite reliability ke semua variabel berada di atas nilai rule of tumbs, ini berarti bahwa semua variabel sepenuhnya dapat diandalkan. Hasil pemeriksaan nilai AVE juga melebihi aturan rule of tumbs di atas 0,5. Bahwa semua variabel berada di atas nilai rule of tumbs, ini berarti bahwa semua variabel benar-benar valid.

Gambar 3

Pemeriksaan Construct Reliability and Validity

Sumber: Data diolah dari output SmartPLS 3.2.9

 

Langkah selanjutnya yang dilakukan pada analisis SmartPls adalah uji inner model yang dilakukan untuk memperkirakan hubungan kausalitas antara variabel laten melalui pemeriksaan R-Square (R2) atau koefisien penentuan uji Square Q Geisser (Q2) untuk predictive relevance adalah 1). Hasil R-Square (R2) yang diperoleh adalah Nilai R-Square 0,276 dalam variabel perilaku pekerja menunjukkan bahwa model tersebut termasuk "lemah" (nilai dalam kisaran 0,19-0,33). Variabel perilaku pekerja dapat dijelaskan oleh variabel kebijakan & komitmen K3, pembinaan & pelatihan K3, Komite Keselamatan, Promosi Keselamatan dan Inspeksi K3 & Audit sebanyak 27,6%, sebaliknya 72,4% dijelaskan oleh factor lain atau elemen lain yang tidak digunakan dalam penelitian ini. 2). Nilai R-Square 0,887 di sarana & fasilitas kerja menunjukkan bahwa model tersebut termasuk "baik" (nilai di atas 0,67). Variabel� sarana & fasilitas dapat dijelaskan oleh variabel kebijakan & komitmen K3, pembinaan & pelatihan K3, Komite Keselamatan, Promosi Keselamatan dan Inspeksi K3 & Audit sebanyak 88,7%, sebaliknya� 11,3% dijelaskan oleh factor lain atau elemen lain.

Selain melihat pengaruh antara masing-masing variabel tidak aktif dan harga R2 saat ini, kita juga dapat melihat seberapa baik model dalam pengujian ini dengan mengetahui pentingnya perkiraan Q-kuadrat atau Q2 dengan menghitung "blindfolding" melalui program SmartPls. Dari hasil output dari proses "blindfolding" diperoleh nilai Q2 perilaku pekerja 0,159, dan sarana & fasilitas 0,559 > 0 menunjukkan model memiliki predictive relevance.

Tabel 4

Hasil Pemeriksaan Uji Inner Model

Sumber: Data diolah dari output SmartPLS 3.2.9.

 

Nilai root square residual (SRMR) standar (SRMR) untuk perkiraan model diperoleh nilai 0,103. Nilai yang disarankan sesuai dengan aturan baku lebih kecil dari 0,08, dapat dinyatakan bahwa model yang kami buat adalah marjinal fit. Ukuran indeks Root Means Square rms Theta adalah ukuran kesesuaian ini hanya berguna untuk menilai model yang murni reflektif, karena residual model eksternal untuk model pengukuran formatif tidak bermakna. Nilai RMS Theta menilai sejauh mana model residu erkorelasi. Ukurannya harus dekat dengan nol untuk menunjukkan kesesuaian model yang baik, karena ini menyiratkan bahwa korelasi antara model luar sangat kecil (dekat dengan nol).

Uji hipotesis dilakukan oleh uji-t dari program SmartPls yang diperoleh dari proses boothstrapping. Untuk menentukan pengaruh signifikan atau tidak signifikan, harus mengikuti nilai rule of tumbs uji hipotesis seperti Tabel 6 di atas. Dari hasil jalur koefisien, ada 5 hipotesis yang terbukti dan 6 hipotesis tidak terbukti dengan analisa sebagai berikut :

Gambar 5 Hasil Uji Hipotesis (Bootstrapping)

Sumber: Data diolah dari output SmartPLS 3.2.9.

 

Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa variabel kebijakan & komitmen K3 mempunyai koefisien parameter sebesar 0.079, T-statistik sebesar 1.110 dan p-value sebesar 0.267 terhadap perilaku pekerja. �Ini menunjukan kebijakan & komitmen K3 tidak signifikan berpengaruh terhadap perilaku pekerja. �Dan terdapat hubungan searah (korelasi positif) antara kebijakan & komitmen K3 terhadap perilaku pekerja akan budaya K3 ditempat kerja.

Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa variabel kebijakan & komitmen K3 mempunyai koefisien parameter sebesar 0.037, T-statistik sebesar 1.151 dan p-value sebesar 0.250 terhadap sarana & fasilitas K3.� Ini menunjukan kebijakan & komitmen K3 tidak signifikan berpengaruh terhadap sarana & fasilitas K3. Dan terdapat hubungan searah (korelasi positif) antara kebijakan & komitmen K3 terhadap sarana & fasilitas K3 ditempat kerja.

Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa variabel pembinaan & pelatihan K3 mempunyai koefisien parameter sebesar 0.383, T-statistik sebesar 2.547 dan p-value sebesar 0.011 terhadap perilaku pekerja. �Ini menunjukan pembinaan & pelatihan K3 berpengaruh signifikan terhadap perilaku pekerja. Dan terdapat hubungan searah (korelasi positif) antara pembinaan & pelatihan K3 terhadap perilaku pekerja akan budaya K3 ditempat kerja.

Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa variabel pembinaan & pelatihan K3 mempunyai koefisien parameter sebesar 0.032, T-statistik sebesar 0.661 dan p-value sebesar 0.509 terhadap sarana & fasilitas K3.� Ini menunjukan pembinaan & pelatihan K3 tidak signifikan berpengaruh terhadap sarana & fasilitas K3. Dan terdapat hubungan searah (korelasi positif) antara pembinaan & pelatihan K3 terhadap sarana & fasilitas K3 ditempat kerja.

Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa variabel safety committe mempunyai koefisien parameter sebesar 0.200, T-statistik sebesar 0.901 dan p-value sebesar 0.368 terhadap perilaku pekerja. �Ini menunjukan safety committe tidak signifikan berpengaruh terhadap perilaku pekerja. Dan terdapat hubungan searah (korelasi positif) antara safety committee terhadap perilaku pekerja akan budaya K3 ditempat kerja.

Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa variabel safety committe mempunyai koefisien parameter sebesar 0.059, T-statistik sebesar 0.732 dan p-value sebesar 0.464 terhadap sarana & fasilitas K3.� Ini menunjukan safety committee tidak signifikan berpengaruh terhadap sarana & fasilitas K3. Dan terdapat hubungan searah (korelasi positif) antara safety committee terhadap sarana & fasilitas K3 ditempat kerja.

Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa variabel safety promotion mempunyai koefisien parameter sebesar -0.729, T-statistik sebesar 3.082 dan p-value sebesar 0.002 terhadap perilaku pekerja. �Ini menunjukan safety promotion berpengaruh signifikan terhadap perilaku pekerja. Dan terdapat hubungan tidak searah (korelasi negatif) antara safety promotion terhadap perilaku pekerja akan budaya K3 ditempat kerja.

Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa variabel safety promotion mempunyai koefisien parameter sebesar 0.834, T-statistik sebesar 12.115 dan p-value sebesar 0.000 terhadap sarana & fasilitas K3.� Ini menunjukan safety promotion berpengaruh signifikan terhadap sarana & fasilitas K3. Dan terdapat hubungan searah (korelasi positif) antara safety promotion terhadap sarana & fasilitas K3 ditempat kerja.

Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa variabel inspeksi & audit K3 mempunyai koefisien parameter sebesar 0.011, T-statistik sebesar 0.121 dan p-value sebesar 0.904 terhadap perilaku pekerja. �Ini menunjukan inspeksi & audit k3 tidak signifikan berpengaruh terhadap perilaku pekerja. Dan terdapat hubungan searah (korelasi positif) antara inspeksi & audit K3 terhadap perilaku pekerja akan budaya K3 ditempat kerja.

Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa variabel inspeksi & audit K3 mempunyai koefisien parameter sebesar 0.070, T-statistik sebesar 2.152 dan p-value sebesar 0.032 terhadap sarana & fasilitas K3.� Ini menunjukan inspeksi & audit K3 berpengaruh signifikan terhadap sarana & fasilitas K3. Dan terdapat hubungan searah (korelasi positif) antara inspeksi & audit K3 terhadap sarana & fasilitas K3 ditempat kerja.

Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa variabel sarana & fasilitas K3 mempunyai koefisien parameter sebesar 0.586, T-statistik sebesar 2.138 dan p-value sebesar 0.033 terhadap sarana & fasilitas K3.� Ini menunjukan sarana & fasilitas K3 berpengaruh signifikan terhadap perilaku pekerja. Dan terdapat hubungan searah (korelasi positif) antara sarana & fasilitas K3 terhadap perilaku pekerja akan budaya K3 ditempat kerja.

 

Kesimpulan

Melihat pada hasil olah data dan pembahasan diatas, dapat disimpulkan kebijakan & komitmen K3, safety committee, inspeksi & audit K3 tidak signifikan berpengaruh terhadap perilaku pekerja. Artinya variabel tersebut diatas tidak memiliki pengaruh langsung terhadap perubahan perilaku pekerja akan budaya K3 ditempat kerja. Pembinaan & pelatihan K3, safety promotion, sarana & fasilitas K3 berpengaruh signifikan terhadap perilaku pekerja. Artinya variabel tersebut diatas memiliki pengaruh langsung terhadap perubahan perilaku pekerja akan budaya K3 ditempat kerja.

Kebijakan & komitmen K3, pembinaan & pelatihan K3, safety committee tidak signifikan berpengaruh terhadap sarana & fasilitas K3. Artinya variabel tersebut diatas tidak memiliki pengaruh langsung terhadap ketersediaan sarana & fasilitas K3 di tempat kerja.

Safety promotion, inspeksi & audit K3 berpengaruh signifikan terhadap sarana & fasilitas K3. Artinya variabel tersebut diatas memiliki pengaruh langsung terhadap ketersediaan sarana & fasilitas K3 di tempat kerja.

Nilai R-square sebesar 0,276 pada variabel perilaku pekerja dapat dijelaskan oleh variabel kebijakan & komitmen K3, pembinaan & pelatihan K3, safety committee, safety promotion dan inspeksi & audit K3 sebanyak 27,6%, sebaliknya 72,4% dijelaskan oleh elemen lain diluar yang sedang diteliti saat ini.

Nilai R-square sebesar 0,887 pada variabel sarana & fasilitas k3 dapat dijelaskan oleh variabel komitmen K3, pembinaan & pelatihan K3, safety committee, safety promotion dan inspeksi & audit K3 sebanyak 88,7%, sebaliknya 11,3% dijelaskan oleh elemen lain.

 

Bibliografi

 

Agiviana, A. P., & Djastuti, I. (2015). Analisis pengaruh persepsi, sikap, pengetahuan dan tempat kerja terhadap perilaku keselamatan karyawan. Diponegoro Journal of Management, 21�29.Google Scholar

Budiarti, A. (2019). Hubungan Pengetahuan, Pengawasan, Dan Sosialisasi Program K3 Dengan Kecelakaan Kerja Pada Pekerja Konstruksi Di Pt. Tatamulia Nusantara Indah Proyek Southgate Apartment Tanjung Barat Tahun 2019. Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jakarta. .Google Scholar

Dwiyanti, E., & Irlianti, A. (2014). Analisis perilaku aman tenaga kerja menggunakan model perilaku ABC (Antecedent Behavior Consequence). Indonesian Journal of Occupational Safety and Health, 3(1), 3812. .Google Scholar

Fassa, F., & Rostiyanti, S. (2020). Pengaruh Pelatihan K3 Terhadap Perilaku Tenaga Kerja Konstruksi Dalam Bekerja Secara Aman Di Proyek. Architecture Innovation, 4(1), 1�14. .Google Scholar

Ghazali, I., & Latan, H. (2015). Partial Least Squares; Konsep, Tekhnik dan Aplikasi Menggunakan Program Smart PLS 3.0. Semarang: Badan Penerbit Undip. .Google Scholar

Handoko, D. (2015). Analisis Pengaruh Keselamatan Dan Kesehatan Kerja (K3) Pada Pekerja Bangunan Gedung Penataan Ruang Kementerian Pekerjaan Umum. Institut Teknologi Sepuluh Nopember. .Google Scholar

Martiwi, R., Koesyanto, H., & Pawenang, E. T. (2017). Faktor Risiko Kecelakaan Kerja pada Pembangunan Gedung. HIGEIA (Journal of Public Health Research and Development), 1(4), 61�71. .Google Scholar

Mohd Adzim Khalili, R., Azlina Binti, M., Norhayati, A., & Tajul Zahili, M. (2013). Screening of seven types Terengganu herbs for their potential antibacterial activity against selected food microorganisms. Borneo Science, 9�23. .Google Scholar

Muliari, N. K., & Setiawan, P. E. (2010). Pengaruh persepsi tentang sanksi perpajakan dan kesadaran wajib pajak pada kepatuhan wajib pajak orang pribadi di Kantor Pelayanan Pajak Pratama Denpasar Timur. Jurnal Akuntansi Dan Bisnis, 2. .Google Scholar

Noviandini, S., Ekawati, E., & Kurniawan, B. (2017). Analisis Komitmen Pimpinan terhadap Penerapan Sistem Manajemen K3 (Smk3) di PT Krakatau Steel (Persero) tbk. Jurnal Kesehatan Masyarakat (Undip), 3(3), 639�650. .Google Scholar

Prihatiningsih, P., & Sugiyanto, S. (2010). Pengaruh Iklim Keselamatan Dan Pengalaman Personal Terhadap Kepatuhan Pada Peraturan Keselamatan Pekerja Konstruksi. Jurnal Psikologi UGM, 37(1), 129264. .Google Scholar

Rinawati, S., Maharani, R. A., & Wijayanti, R. (2017). Occupational Safety And Health Inspection Program Achievement Of Safety Culture In Noodles Industry PT ABC Semarang. Journal of Industrial Hygiene and Occupational Health, 2(1), 75�96. .Google Scholar

Sambira. (2015). pengaruh pengetahuan K3 terhadap perilaku pekerja konstruksi pada proyek jalur tol Nusa Dua- Ngurah Rai Benua Bali.�.

Suharsaputra, U. (2012). Metode penelitian kuantitatif, kualitatif, dan tindakan. Bandung: Refika Aditama. .Google Scholar

Suyono, K. Z., & Nawawinetu, E. D. (2013). Hubungan antara Faktor Pembentuk Budaya Keselamatan Kerja dengan Safety Behavior Di Pt. Dokdan Perkapalan Surabaya Unit Hull Construction. The Indonesian Journal of Occupational Safety and Health, 2(1), 67�74. .Google Scholar

Syekura, A. S., & Febriyanto, K. (2021). Hubungan Tingkat Pendidikan Dengan Kepatuhan Penggunaan APD PAda Pekerja Di Galangan Kapal Samarinda. Borneo Student Research (BSR), 2(3), 2002�2008. .Google Scholar.


Copyright holder :

I Nyoman Dana (2021).

 

First publication right :

Jurnal Syntax Transformation

 

This article is licensed under: