Jurnal Syntax Transformation

Vol. 2 No. 10, Oktober 2021

p-ISSN : 2721-3854 e-ISSN : 2721-2769

Sosial Sains

 

KONTRIBUSI PERADABAN ISLAM PADA DUNIA

 

Ghajali Rahman

Fakultas Tarbiyah Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Palangka Raya, Kalimantan Tengah, Indonesia    

Email: ghajalirahman@gmail.com

 

INFO ARTIKEL

ABSTRAK

Diterima

3 Oktober 2021

Direvisi

14 Oktober 2021

Disetujui

20 Oktober 2021

Artikel ini membahas mengenai sumbangan peradaban Islam di berbagai bidang keilmuan untuk kemajuan dunia mulai dari zaman Nabi Muhammad SAW sampai runtuhnya kekhalifahan Abbasiyah pada tahun 1258 M. Kemajuan Islam didasarkan pada ajaran agama Islam itu sendiri yang mengajarkan tentang pentingnya ilmu pengetahuan dan kemuliaan bagi para penuntuti lmu sehingga memunculkan semangat bagi  kaum muslimin untuk mempelajari dan mengembangkan ilmu pengetahuan baik itu ilmu agama ataupun ilmu umum. Kemajuan peradaban Islam juga didukung oleh para pemimpin Islam saat itu untuk memajukan ilmu pengetahuan, sehingga ilmu pengetahuan berkembang pesat diberbagai bidang disiplin ilmu dan memberikan manfaat yang dapat dirasakan hingga hari ini. Tak dapat dipungkiri bahwa kemajuan ilmu pengetahuan saat ini terdapat kontribusi dari peradaban Islam yang gemilang. Oleh sebab itu, penting kiranya menunjukkan klaim atas kontribusi peradaban Islam zaman dulu melalui inovasi kajian ilmuwan muslim era sekarang yang mengintegrasikan Al-Qur’an dan sains teknologi.

 

ABSTRACT

This article discusses the contribution of Islamic civilization in various fields of science to the progress of the world from the time of the Prophet Muhammad (peace be upon him) until the collapse of the Abbasid caliphate in 1258 AD. The progress of Islam is based on the teachings of Islam itself which teaches about the importance of science and glory for lmu claimants so as to give rise to the spirit for Muslims to study and develop science be it religious science or general science. The progress of Islamic civilization was also supported by Islamic leaders at that time to advance science, so that science developed rapidly in various fields of discipline and provide benefits that can be felt to this day. It cannot be denied that the progress of science today has the contribution of a glorious Islamic civilization. Therefore, it is important to show a claim to the contribution of ancient Islamic civilization through the innovation of studies by Muslim scientists today that integrates the Qur'an and science and technology.

Kata Kunci:

Kontribusi, Peradaban Islam, Ilmu Pengetahuan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Keywords:

Contribution, Islamic Civilization, Science


 


Pendahuluan

Jika mengulik lebih jauh terkait dengan sejarah dunia yang terjadi pada sekitar abad ke 6 M hingga 12 M akan didapati masa-masa kegelapan, namun peradaban Islam dan muncul dan berkembang menjadi peradaban gemilang yang dimulai dari satu kota Madinah di Timur Tengah hingga menyebar ke Afrika Utara dan Andalusia Spanyol dan juga menyebar ke Asia Tengah, Asia Selatan bahkan sampai ke Nusantara (Lapidus, 2012).

Berbagai kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi saat ini tidak lepas dari pengaruh peradaban Islam pada Abad pertengahan. Hitungan Algoritma yang terdapat pada computer saat ini adalah sumbangsih salah satu cendikiawan muslim yang bernama Al Khawarijmi yang menemukan rumus Aljabar hingga menjadi Algoritma. Dibidang kesehatan terdapat Ibnu Sina yang karya dipelajari oleh para mahasiswa di Eropa hingga munculnya masa Renaisans (Hasan, 2020).  Di bidang ilmu penerbangan jauh sebelum bangsa Eropa mengenal pesawat, Ibnu Firnas Al Andalusi telah lebih dulu mempelajari dan melakukan uji coba penebangan dan masih banyak lagi para cendekiawan Muslim yang menghasilkan karya yang manfaatnya masih terasa hingga sekarang.

   Kemajuan peradaban Islam bukan hanya pada bidang ilmu umum namun juga pada ilmu agama Islam itu sendiri, pada masa keemasan Islam lahirnya ilmu-ilmu seperti ilmu tafsir, Hadits, Fiqih, Tasawuf dan lain-lain dan dimasa itu pula lahir para ulama-ulama yang karya-karya mereka masih menjadi rujukan bagi kaum muslimin hingga saat ini (Hanifah, 2018).

Namun kini, peradaban-peradaban keilmuan yang dulu didominasi oleh ilmuwan-ilmuwan muslim kala itu perlahan memudar eksistensinya. Sebab kesalahan yang dibuat oleh umat Islam itu sendiri yang merasa cukup dan enggan untuk melakukan pengembangan lebih jauh terkait keilmuan-keilmuan yang dimiliki. Akibatnya, justru dari pihak Baratlah yang kemudian menerjemahkan berbagai buku temuan ilmuwan muslim yang kemudian diklaim sebagai hasil temuan mereka (Husaini, 2013).

Oleh sebab itu, diperlukan upaya-upaya yang semestinya digalakkan oleh umat Islam saat ini untuk kembali memunculkan eksistensi peradaban Islam yang dulu cemerlang. Umat Islam harus menunjukkan kepada Barat tentang kemajuan-kemajuan peradaban yang kini mulai direka ulang sebagaimana dulu perjuangan yang dilakukan oleh ilmuan-ilmuan muslim.

Kajian serupa juga telah dilakukan pada penelitian terdahulu oleh yang menjelaskan tentang pengaruh peradaban Islam terhadap dunia Barat yang begitu mencengangkan. Sebab ternyata Islam banyak memberi sumbangsih pemikiran dan pengetahuan yang kala itu dipelajari oleh Barat kemudian dijadikan dasar dalam pengembangan peradaban mereka menjadi peradaban yang baik . Oleh sebab itu, penting bagi setiap muslim untuk tetap menjaga dan mempertahankan peradaban-peradaban yang masih ada sebagai peninggalan peradaban Islam yang berjaya kala itu.

Namun terdapat perbedaan antara penelitian sebelumnya dengan penelitian ini. Jika penelitian terdahulu hanya menyajikan tentang kontribusi atau pengaruh peradaban Islam terhadap dunia Barat, maka dalam penelitian ini akan lebih jauh mengulas tentang bagaimana membangun kembali wajah peradaban Islam yang dulu gemilang kepada dunia di era sekarang. Sehingga kajian dalam penelitian ini sangat penting untuk diangkat.

Oleh sebab itu, tulisan ini bertujuan mengkaji beberapa hal sebagai fokus pembahasan. Pertama, mendeskripsikan tentang konstribusi peradaban Islam terhadap dunia. Kedua, mendeskripsikan tentang langkah dalam membangun kembali wajah peradaban Islam yang maju di hadapan dunia.

 

Metode Penelitian

Penulis memilih menggunakan metode studi kepustakaa (P. & Cahyaningrum, 2019). Penelitian ini menekankan kepada studi terhadap literatur-literatur yang sesuai dengan objek kajian penelitian. Berkenaan dengan artikel ini, penulis menggali data tentang dan kaitannya dengan kontribusi peradaban islam serta informasi yang terkait.

 

Hasil dan Pembahasan

Islam sebagai agama yang sempurna mengajarkan akan pentingnya ilmu dan mulianya kedudukan bagi orang yang berilmu. Al-Qur’an sebagai kitab suci dan sumber hukum pertama dalam islam mengajarkaan tentang ilmu bahkan pada kalimat pertama pada ayat yang pertama disampaikan oleh malaikat Jibril kepada Nabi Muhammad SAW yaitu surat al-‘Alaq dengan diawali kata perintah iqra yang berarti (bacalah) (A. Rosmiaty Azis, 2019). Sebagaimana firman Allah:

ٱقۡرَأۡ بِٱسۡمِ رَبِّكَ ٱلَّذِي خَلَقَ 

Terjemah: Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan”. (QS Al-Alaq : 1)

Periode keemasan Islam (Abad 6-13 M), dimulai bahkan sejak zaman Nabi Muhammad SAW hal itu ditandai dengan dibuatnya Piagam Madinah yang mempersatukan seluruh masyarakat Madinah tanpa memandang latar belakang suku dan agamanya. Kurang dari 100 tahun sejak berdirinya pemerintahan islam di madinah, pengaruh kekuatan islam telah sampai ke berbagai penjuru dunia, dari daratan Cina sampai ke samudra Atlantik, dari benua Eropa, Afrika bahkan sampai ke Nusantara (Khashogi, 2012).

Pada saat yang sama dunia Kristen di Eropa malah mengalami zaman kegelapan, namum ada juga yang menyebutkan periode ini dengan lebih halus sebagai periode pertengahan. Masa keemasan  Islam ditandai dengan banyaknya para ilmuwan muslim yang ahli di berbagai bidang masing-masing, berbagai madrasah-madrasah yang didirikan serta banyak buku-buku ilmiah diterbitkan dan ditulis (Asy’ari, 2018).

Diantara tokoh-tokoh ilmuan muslim yang terkenal seperti, Ibnu Sina ahli kedokteran dikenal sebagai Avicena di kalangan barat dikenal sebagai bapak kedokteran. Ibnu Rusyd dikenal dalam bidang Geografi dengan karyanya sebuah globe replika gambaran bola dunia.  Alfarabi sang ahli matematika dan astronomi serta filsafat. Alkhawarijmi ahli dalam matematika, Al-kindi ahli filsafat, Ibnu Khaldun ahli sosiologi, ekonomi dan politik, Ibnu Batutah sang penjelajah muslim (Parlaungan et al., 2021).

   Umat islam bukan hanya berjasa pada ilmu dunia saja namun juga berkembangnya ilmu agama islam dengan tokoh-tokoh dan para ulama seperti Al-Ghazali salah satu ulama Islam yang terkenal ahli dalam bidang filsafat dan tasawwuf, Junaid Al Baghdadi ahli ilmu tasawwuf. Dalam ilmu fiqih ada empat ulama fiqih yang terkenal seperti imam Malik, imam Hanafi, imam Hambali dan imam Syafi’i. Dalam ilmu hadits terdapat Al Bukhari, Muslim, Ibnu Majah, An Nasa’i, Al Baihaqi, At Tirmidzi, Ibnu Daud. Dalam bidang tafsir dikenal Al Qurtubi, Ibnu Katsir dan lain-lain (Nafi’i & Imtihanah, 2020).

   Jika kita memahami sejarah maka akan kita dapati bahwa hanya agama Islam yang bisa menjadi suatu peradaban gemilang, kita mungkin tidak pernah mendengar peradaban hindu, peradaban kristen, peradaban katolik, dan peradaban-peradaban agama lain. Hal ini membuktikan agama islam bukan hanya mengajarkan umatnya untuk mendapatkan kebahagiaan hidup di akhirat namun juga mendapatkan kesuksesan hidup di dunia dengan adanya peradaban islam. Mungkin akan muncul suatu pertanyaan kenapa peradaban umat islam disebut peradaban islam bukan peradaban Arab. Jawabannya adalah bahwa semangat untuk meraih peradaban gemilang itu bersumber dari ajaran islam itu sendiri, baik dari Al-Qur’an maupun Hadits, sehingga peradaban islam bukan hanya berkembang wilayah Arab namun juga berkembang di semua negeri kaum muslimin, sehngga hal tersebut yang membuat para ahli sejarah menyebut peradaban itu dengan sebutan peradaban islam (Saufi & Fadillah, 2015).

Berdasarkan beberapa data yang terkait kotribusi peradaban Islam di atas, menurut penulis ada dua hal yang menjadikan peradaban Islam menjadi peradaban gemilang. Pertama ajaran agama islam itu sendiri yang mengajarkan untuk giat menuntut ilmu dan juga kemuliaan bagi mereka yang ahli pada suatu bidang tertentu. Yang kedua adalah dukungan dari pemerintahan islam saat itu yang mendukung kegiatan-kegiatan keilmuan. Hal itu dapat dilihat dari dukungan para khalifah dalam mendirikan Baitul Hikmah yang menjadi pusat perkembangan ilmu pengetahuan.

   Peradaban Islam mulai mengalami kemunduran setelah terjadinya serangkaian perang salib yang terjadi di wilayah islam sehingga melemahkan islam baik dari segi politik dan ekonomi sehingga berpengaruh pada menurunnya kegiatan-kegiatan keilmuan. Hal itu lebih diperburuk lagi dengan runtuhnya kekhalifahan Abbasiyah dengan jatuhnya kota Baghdad oleh para pasukan Mongol.

   Dalam ilmu hadis terdapat nama-nama seperti Al Bukhari, Muslim, Ibnu Majah, An Nasai, Al-Baihaqi, At-Tirmidzi, Abu Dawud. Dalam ilmu Fiqih terkenal empat imam besar yaitu Imam Malik, Imam Hambali, Imam Hanafi dan Imam Syafi'i. Keempat ulama besar tersebut lahir dimasa peradaban keemasan Islam, karya-karya dan fatwa-fatwa mereka tetap menjadi rujukan bagi kaum muslimin hingga saat ini. Dalam bidang ilmu Tasawuf dikenal Hasan Al-Basri, Rabiah Adawiyah, Junaid Al-Baghdadi, AbdulQodir Al-Jailani serta Imam Al-Ghazali. Salah satu karya imam Al-Ghazali yang terkenal dikalangan kaum muslimin adalah kitab Ihya Ulumuddin, selain ahli dalam ilmu tasawuf Al-Ghazali juga terkenal ahli dalam bidang filsafat (Aizid, 2018).  Dalam bidang Aqidah lahir berbagai macam aliran ilmu Kalam seperti Qadariah, Mutazilah, Asy'ariyah, Maturidiah, Khawarij, dan Syiah. Dalam ilmu tafsir terkenal tafsir dari Al-Qurtubi, Ibnu Katsir.

Dalam buku sumbangan peradaban Islam pada dunia karya Raghib Sirjani disebutkan bahwa Islam risalah langit merupakan dasar bagi tegaknya Peradaban Islam yang berupa persatuan dan kemanusiaan, Tauhid, Universal, Akhlak dan Moderat (As-Sirjani, 2011).  Dalam peradaban Islam ilmu umum telah mencapai kedudukan yang sangat hebat. Sehingga menjadi pelopor di dunia dengan menguasai berbagai disiplin ilmu dan menjadi kiblat bagi orang-orang Eropa dalam menuntut ilmu (Huzain, 2018).  Ilmu kedokteran dalam Islam bukan hanya menyembuhkan penyakit, namun lebih dari itu terdapat pula berbagai eksperimen dan latihan praktik kedokteran, meringankan dan memberikan obat-obatan serta menjauhkan manusia dari pola hidup buruk sesuai anjuran kedokteran.

   Beberapa ilmuwan muslim yang ahli dalam bidang kedokteran yaitu Abu Wasim Az-Zahrawi (403 H) merupakan orang pertama menjelaskan teori pembedahan dengan membuat alat-alat bedah dan suntik. Ibnu Sina (428 H) yaitu orang yang pertama kali menemukan ilmu tentang parasit dan berbagai macam penyakit yang ada hingga sekarang. Ali bin Isa Al-Mahal (430 H) merupakan seorang dokter jenius dan terkenal sebagai spesialis mata dan pengobatannya. Abu Yusuf Al-Kindi (256 H) adalah seorang muslim yang menemukan ilmu tentang mata dan medan ilmu alamiah. Ibnu Haitsam menjadi orang pertama  yang menggunakan kamar hitam yang ditetapkan sebagai sarana dasar ilmu Fotografi dan Optik (Fauzi & Eropa, n.d.).

   Dalam ilmu Fisika ilmuan muslim yang terkenal yaitu Abu Raihan Al-Biruni yang menjadi orang pertama yang menetap berbagai berat benda dalam berbagai bentuk dan macam. Al-Khazani dialah pencipta inovasi terkait materi gerakan (dinamika) dan ilmu Hedrostetika. Al-Hamdani menjadi orang pertama yang menjelaskan hakikat dalam ilmu fisika terkait teori gravitasi (Sudewi & Nugraha, 2018).

   Dalam bidang geografi ilmu muslim banyak memahami ilmu ini karena banyak dari ayat-ayat Al-Qur'an yang menjelaskan tentang hal ini. Mereka lalu kemudian mulai memikirkan dan melakukan eksperimen untuk memahami geografi. Dari sekian banyak ahli geografi terdapat nama Ibnu Khardzabah yang berpendapat bahwa bumi itu berputar sebagaimana perputaran bola. Abu Ali Al-Marakisyi (660 H) adalah orang pertama yang meletakkan garis-garis panjang dan lebar diatas peta bola bumi (Globe). Al-Idris adalah seorang muslim yang menggambarkan peta dunia yang meliputi Asia Eropa dan Afrika serta samudra Atlantik dan Hindia (Syaikhu, 2019).

Melihat berbagai kontribusi besar yang diberikan peradaban Islam terhadap dunia di atas, maka penting kiranya di era sekarang menampilkan kembali wajah peradaban Islam yang berjaya kepada dunia. Ada banyak langkah sejatinya yang dapat diberikan untuk mewujudkan hal tersebut.

Salah satunya melalui integrasi kajian-kajian Al-Qur’an dengan sains dan teknilogi. Upaya ini dinilai penting untuk membuktikan kepada ilmuwan-ilmuwan Barat terkait dengan penemuan-penemuan mereka yang sejatinya telah lebih dulu ditemukan oleh ilmuwan muslim. Maka untuk membuktikan hal tersebut, ilmuwan muslim saat ini semestinya lebih menekankan kepada upaya mengelaborasi ayat-ayat Al-Qur’an yang kemudian dihubungkan dengan sains modern dan teknologi. Temuan tersebut nantinya akan menggambarkan bahwa Al-Qur’an justru lebih dulu menemukan teori-teori yang selama ini dikemukakan oleh ilmuwan Barat. Selain itu, ilmuwan muslim saat ini juga dapat mengutip buku-buku peninggalan ilmuwan muslim zaman dulu untuk membangkitkan kembali penemuan-penemuan tersebut oleh tokoh-tokoh muslim kala itu.

Upaya ini dinilai strategis untuk merebut kembali kejayaan ilmuwan muslim yang saat ini mulai tertinggal dan banyak didominasi oleh Barat. Akibatnya, kejayaan Islam yang sebenarnya dipelajari oleh Barat menjadi dilupakan dan seakan-akan Baratlah sebagai pusat peradaban dunia yang utama (Syaikhu, 2019). Langkah ini sebagai bentuk klaim ulang terhadap penemuan Islam zaman dulu dan bahkan akan dikembangkan untuk peradaban yang akan datang (Nafis, 2020).

Maka kajian-kajian yang bersifat integrasi lebih tepat dikembagkan pada lembaga-lembaga pendidikan seperti univeristas. Hal ini bertujuan untuk membangun kembali semangat intelktual muslim dalam menyaingi peradaban Barat. Terlebih dikenalkan pada generasi muda agar mereka lebih bangga dan bersyukur terhadap identitas peradaban sendiri yang begitu luar biasa (Hamdi & Musthofa, 2020).

 

Kesimpulan

Sejak berkembangnya Islam di kota Madinah kaum muslimin kemudian memperluas pengaruhnya dari Timur Tengah ke Afrika Utara sampai ke Andalusia Spanyol, dari Asia Tengah sampai ke Asia Selatan dan Nusantara. Peradaban islam telah menjadi peradaban gemilang yang bersumber dari kitab suci Al-Qur’an serta dukungan dari para pemimpin islam saat itu. Kemajuan ilmu pengetahuan di masa keemasan islam bukan hanya pada ilmu agama islam saja namun juga maju dalam berbgai disiplin ilmu umum seperti Astronomi, Fisika, Geografi, Matematika, Biologi, Kedokteran dan lain-lain. Peradaban islam memiliki pengaruh yang besar pada Renaisans di Eropa dan juga kemajuan ilmu pengetahuan hingga hari ini.

Namun kini, penting ada upaya yang dilakukan untuk menunjukkan kembali wajah peradaban Islam sesungguhnya yang sempat berjaya pada zaman dulu. Salah satu langkah yang ditempuh pada zaman sekarang adalah dengan integrasi kajian Al-Qur’an (keagamaan) dengan sains dan teknologi dengan tujuan mengklaim kembali penemuan-penemuan imuwan muslim yang kini diambil oleh Barat sebagai penemuan mereka.

 

Bibliografi

 

A. Rosmiaty Azis. (2019). Ilmu Pendidikan Islam. Sibuku.Google Scholar

 

Aizid, R. (2018). Sejarah Terlengkap Peradaban Dunia. NOKTAH. Google Scholar

 

As-Sirjani, R. (2011). Sumbangan Peradaban Islam pada Dunia. Pustaka Al Kautsar. Google Scholar

 

Asy’ari, H. (2018). Renaisans Eropa dan Transmisi Keilmuan Islam ke Eropa. Jurnal Sejarah Peradaban Islam, 2(1), 1–14. http://dx.doi.org/10.30829/j.v2i1.1792 Google Scholar

 

Fauzi, R., & Eropa, R. (n.d.). Pengaruhnya terhadap Perkembangan Pemikiran Islam, 07 September 2012. Google Scholar

 

Hamdi, S., & Musthofa, K. (2020). Menghadirkan Generasi Syakir Untuk Membangun Semangat Patriotisme Di Era Milenial. Madinah: Jurnal Studi Islam, 7(2), 88–100. Google Scholar

 

Hanifah, U. (2018). Islamisasi Ilmu Pengetahuan Kontemporer (Konsep Integrasi Keilmuan di Universitas-Universitas Islam Indonesia. TADRIS: Jurnal Pendidikan Islam, 13(2), 273–294. https://doi.org/10.19105/tjpi.v13i2.1972 Google Scholar

 

Hasan, H. I. (2020). Sejarah dan Kebudayaan Islam. Google Scholar

 

Husaini, A. (Ed.). (2013). Filsafat Ilmu: Perspektif Barat dan Islam. Gema Insani. Google Scholar

 

Huzain, M. (2018a). Pengaruh Peradaban Islam Terhadap Dunia Barat. TASAMUH: Jurnal Studi Islam, 10(2), 355–377. https://doi.org/10.47945/tasamuh.v10i2.77 Google Scholar

 

Huzain, M. (2018b). Pengaruh Peradaban Islam Terhadap Dunia Barat. Tasamuh: Jurnal Studi Islam, 10(2), 355–377. Google Scholar

 

Khashogi, L. R. (2012). Konsep Ummah dalam Piagam Madinah. IN RIGHT: Jurnal Agama Dan Hak Azazi Manusia, 1(2), 93–116. Google Scholar

 

Lapidus, I. M. (2012). Islamic Societies to The Nineteenth Century a Global History. Cambridge University Press. Google Scholar

 

Nafi’i, W., & Imtihanah, A. H. (2020). Studi Pemikiran Peradaban Islam; Menelusuri Jejak Kejayaan Islam di Era Abbasiyah. Wasathiya: Jurnal Studi Agama, 8(1), 57–78. Google Scholar

 

Nafis, A. W. (2020). Islam, Peradaban Masa Depan. Jurnal Al-Hikmah, 18(2), 1–20.https://doi.org/10.35719/alhikmah.v18i2.29 Google Scholar

 

P., I. M. I., & Cahyaningrum, I. (2019). Cara Mudah Memahami Metodologi Penelitian. Deepublish Publisher. Google Scholar

 

Parlaungan, Daulay, H. P., & Dahlan, Z. (2021). Pemikiran Ibnu Sina dalam Bidang Filsafat. Jurnal Bilqolam Pendidikan Islam, 2(1), 79–93. https://doi.org/10.51672/jbpi.v2i1.51 Google Scholar

 

Saufi, A., & Fadillah, H. (2015). Sejarah Peradaban Islam. Deepublish. Google Scholar

 

Sudewi, S., & Nugraha, S. M. (2018). Sejarah Farmasi Islam dan Hasil Karya Tokoh-Tokohnya. Aqlam: Journal of Islam and Plurality, 2(1), 57–72. http://dx.doi.org/10.30984/ajip.v2i1.511 Google Scholar

 

Syaikhu, A. (2019). Intelektual Islam dan Kontribusianya atas Kemajuan Dunia Barat. FALASIFA : Jurnal Studi Keislaman, 10(2), 91–101. https://doi.org/10.36835/falasifa.v10i2.198 Google Scholar


Copyright holder :

Ghajali Rahman (2021).

 

First publication right :

Jurnal Syntax Transformation

 

This article is licensed under: