|
Jurnal
Syntax Transformation |
Vol. 2
No. 10, Oktober 2021 |
|
p-ISSN :
2721-3854 e-ISSN : 2721-2769 |
Sosial
Sains |
KONTRIBUSI PERADABAN ISLAM PADA DUNIA
Ghajali Rahman
Fakultas Tarbiyah
Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Palangka Raya, Kalimantan Tengah, Indonesia����
Email: [email protected]
|
INFO ARTIKEL |
ABSTRAK |
|
Diterima
3 Oktober 2021 Direvisi 14 Oktober
2021 Disetujui 20 Oktober
2021 |
Artikel ini membahas
mengenai sumbangan peradaban Islam di berbagai bidang keilmuan untuk kemajuan dunia mulai dari zaman Nabi Muhammad
SAW sampai runtuhnya kekhalifahan Abbasiyah pada tahun 1258 M. Kemajuan Islam didasarkan pada ajaran agama
Islam itu sendiri yang mengajarkan tentang pentingnya ilmu pengetahuan dan kemuliaan bagi para penuntuti lmu sehingga memunculkan semangat bagi� kaum muslimin untuk mempelajari dan mengembangkan ilmu pengetahuan baik itu ilmu
agama ataupun ilmu umum. Kemajuan peradaban Islam juga didukung
oleh para pemimpin Islam saat
itu untuk memajukan ilmu pengetahuan, sehingga ilmu pengetahuan berkembang pesat diberbagai bidang disiplin ilmu dan memberikan manfaat yang dapat dirasakan hingga hari ini.
Tak dapat dipungkiri bahwa kemajuan ilmu pengetahuan saat ini terdapat kontribusi dari peradaban Islam yang gemilang. Oleh sebab itu, penting kiranya menunjukkan klaim atas kontribusi
peradaban Islam zaman dulu melalui inovasi kajian ilmuwan muslim era sekarang
yang mengintegrasikan Al-Qur�an dan sains teknologi. ABSTRACT This article
discusses the contribution of Islamic civilization in various fields of
science to the progress of the world from the time of the Prophet Muhammad
(peace be upon him) until the collapse of the Abbasid caliphate in 1258 AD.
The progress of Islam is based on the teachings of Islam itself which teaches
about the importance of science and glory for lmu
claimants so as to give rise to the spirit for Muslims to study and develop
science be it religious science or general science. The progress of Islamic
civilization was also supported by Islamic leaders at that time to advance
science, so that science developed rapidly in various fields of discipline
and provide benefits that can be felt to this day. It cannot be denied that
the progress of science today has the contribution of a glorious Islamic
civilization. Therefore, it
is important to show a claim to the contribution of ancient Islamic
civilization through the innovation of studies by Muslim scientists today
that integrates the Qur'an and science and technology. |
|
Kata Kunci: Kontribusi, Peradaban Islam, Ilmu Pengetahuan. Keywords: Contribution, Islamic Civilization, Science |
Pendahuluan
Jika mengulik lebih jauh
terkait dengan sejarah dunia yang terjadi pada sekitar abad ke 6 M hingga 12 M akan
didapati masa-masa kegelapan, namun peradaban Islam dan muncul dan berkembang
menjadi peradaban gemilang yang dimulai dari satu kota Madinah di Timur Tengah
hingga menyebar ke Afrika Utara dan Andalusia Spanyol dan juga menyebar ke Asia
Tengah, Asia Selatan bahkan sampai ke Nusantara (Lapidus, 2012).
Berbagai kemajuan ilmu pengetahuan
dan teknologi saat ini tidak lepas
dari pengaruh peradaban Islam pada Abad pertengahan.
Hitungan Algoritma yang terdapat pada computer saat ini adalah sumbangsih
salah satu cendikiawan muslim yang bernama Al Khawarijmi yang menemukan rumus Aljabar hingga
menjadi Algoritma. Dibidang kesehatan terdapat Ibnu Sina
yang karya dipelajari oleh
para mahasiswa di Eropa hingga munculnya masa Renaisans (Hasan, 2020). �Di bidang ilmu penerbangan jauh sebelum bangsa
Eropa mengenal pesawat, Ibnu Firnas
Al Andalusi telah lebih dulu mempelajari
dan melakukan uji coba penebangan dan masih banyak lagi para cendekiawan Muslim yang menghasilkan
karya yang manfaatnya masih terasa hingga
sekarang.
�� Kemajuan peradaban Islam bukan hanya pada bidang ilmu umum namun
juga pada ilmu agama Islam itu
sendiri, pada masa keemasan
Islam lahirnya ilmu-ilmu seperti ilmu tafsir, Hadits, Fiqih, Tasawuf dan lain-lain dan dimasa itu pula lahir para ulama-ulama
yang karya-karya mereka masih menjadi rujukan
bagi kaum muslimin hingga saat ini (Hanifah, 2018).
Namun
kini, peradaban-peradaban keilmuan yang dulu didominasi oleh ilmuwan-ilmuwan
muslim kala itu perlahan memudar eksistensinya. Sebab kesalahan yang dibuat
oleh umat Islam itu sendiri yang merasa cukup dan enggan untuk melakukan pengembangan
lebih jauh terkait keilmuan-keilmuan yang dimiliki. Akibatnya, justru dari
pihak Baratlah yang kemudian menerjemahkan berbagai buku temuan ilmuwan muslim
yang kemudian diklaim sebagai hasil temuan mereka (Husaini, 2013).
Oleh
sebab itu, diperlukan upaya-upaya yang semestinya digalakkan oleh umat Islam
saat ini untuk kembali memunculkan eksistensi peradaban Islam yang dulu
cemerlang. Umat Islam harus menunjukkan kepada Barat tentang kemajuan-kemajuan
peradaban yang kini mulai direka ulang sebagaimana dulu perjuangan yang
dilakukan oleh ilmuan-ilmuan muslim.
Kajian
serupa juga telah dilakukan pada penelitian terdahulu oleh yang menjelaskan
tentang pengaruh peradaban Islam terhadap dunia Barat yang begitu
mencengangkan. Sebab ternyata Islam banyak memberi sumbangsih pemikiran dan
pengetahuan yang kala itu dipelajari oleh Barat kemudian dijadikan dasar dalam
pengembangan peradaban mereka menjadi peradaban yang baik . Oleh sebab itu, penting bagi setiap
muslim untuk tetap menjaga dan mempertahankan peradaban-peradaban yang masih
ada sebagai peninggalan peradaban Islam yang berjaya kala itu.
Namun
terdapat perbedaan antara penelitian sebelumnya dengan penelitian ini. Jika
penelitian terdahulu hanya menyajikan tentang kontribusi atau pengaruh
peradaban Islam terhadap dunia Barat, maka dalam penelitian ini akan lebih jauh
mengulas tentang bagaimana membangun kembali wajah peradaban Islam yang dulu
gemilang kepada dunia di era sekarang. Sehingga kajian dalam penelitian ini
sangat penting untuk diangkat.
Oleh
sebab itu, tulisan ini bertujuan mengkaji beberapa hal sebagai fokus
pembahasan. Pertama, mendeskripsikan tentang konstribusi peradaban Islam
terhadap dunia. Kedua, mendeskripsikan tentang langkah dalam membangun
kembali wajah peradaban Islam yang maju di hadapan dunia.
Metode Penelitian
Penulis memilih menggunakan
metode studi kepustakaa (P. & Cahyaningrum, 2019). Penelitian ini
menekankan kepada studi terhadap literatur-literatur yang sesuai dengan objek kajian
penelitian. Berkenaan dengan artikel ini, penulis menggali
data tentang dan kaitannya dengan kontribusi peradaban islam serta informasi yang terkait.
Hasil
dan Pembahasan
Islam sebagai agama yang sempurna
mengajarkan akan pentingnya ilmu dan mulianya kedudukan bagi orang yang berilmu.
Al-Qur�an sebagai kitab suci
dan sumber hukum pertama dalam islam
mengajarkaan tentang ilmu bahkan pada kalimat pertama pada ayat yang pertama disampaikan oleh malaikat Jibril kepada Nabi Muhammad SAW yaitu surat al-�Alaq dengan diawali kata perintah iqra yang berarti (bacalah) (A.
Rosmiaty Azis, 2019). Sebagaimana
firman Allah:
ٱقۡرَأۡ
بِٱسۡمِ
رَبِّكَ
ٱلَّذِي
خَلَقَ�
Terjemah: �Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan�. (QS Al-Alaq : 1)
Periode keemasan Islam (Abad 6-13 M), dimulai
bahkan sejak zaman Nabi
Muhammad SAW hal itu ditandai dengan dibuatnya Piagam Madinah yang mempersatukan seluruh masyarakat Madinah tanpa memandang latar belakang suku dan agamanya. Kurang dari 100 tahun sejak berdirinya
pemerintahan islam di madinah, pengaruh kekuatan islam telah sampai ke
berbagai penjuru dunia, dari daratan Cina
sampai ke samudra Atlantik, dari benua Eropa,
Afrika bahkan sampai ke Nusantara (Khashogi,
2012).
Pada saat yang sama
dunia Kristen di Eropa malah
mengalami zaman kegelapan, namum ada juga yang menyebutkan periode ini dengan lebih
halus sebagai periode pertengahan. Masa keemasan� Islam ditandai dengan banyaknya para ilmuwan muslim yang ahli di berbagai bidang masing-masing, berbagai madrasah-madrasah yang didirikan
serta banyak buku-buku ilmiah diterbitkan dan ditulis (Asy�ari,
2018).
Diantara tokoh-tokoh ilmuan muslim yang terkenal seperti, Ibnu Sina
ahli kedokteran dikenal sebagai
Avicena di kalangan barat dikenal sebagai bapak kedokteran. Ibnu Rusyd dikenal
dalam bidang Geografi dengan karyanya sebuah globe replika gambaran bola dunia.� Alfarabi sang ahli matematika dan astronomi serta filsafat. Alkhawarijmi ahli dalam matematika,
Al-kindi ahli filsafat, Ibnu Khaldun ahli sosiologi, ekonomi dan politik, Ibnu Batutah sang penjelajah muslim (Parlaungan et al., 2021).
�� Umat islam bukan hanya
berjasa pada ilmu dunia saja namun juga berkembangnya ilmu agama islam dengan tokoh-tokoh
dan para ulama seperti Al-Ghazali
salah satu
ulama Islam yang terkenal
ahli dalam bidang filsafat dan tasawwuf, Junaid Al Baghdadi ahli
ilmu tasawwuf. Dalam ilmu fiqih
ada empat ulama fiqih yang terkenal seperti imam Malik, imam Hanafi, imam Hambali
dan imam Syafi�i. Dalam ilmu hadits terdapat
Al Bukhari, Muslim, Ibnu Majah,
An Nasa�i, Al Baihaqi, At Tirmidzi, Ibnu Daud. Dalam bidang tafsir dikenal Al Qurtubi, Ibnu Katsir dan lain-lain (Nafi�i
& Imtihanah, 2020).
�� Jika kita
memahami sejarah maka akan kita
dapati bahwa hanya agama Islam
yang bisa menjadi suatu peradaban gemilang, kita mungkin tidak pernah
mendengar peradaban hindu, peradaban kristen, peradaban katolik, dan peradaban-peradaban
agama lain. Hal ini membuktikan
agama islam bukan hanya mengajarkan umatnya untuk mendapatkan
kebahagiaan hidup di akhirat namun juga mendapatkan kesuksesan hidup di dunia dengan adanya peradaban islam. Mungkin akan muncul suatu
pertanyaan kenapa peradaban umat islam disebut peradaban
islam bukan peradaban Arab. Jawabannya adalah bahwa semangat
untuk meraih peradaban gemilang itu bersumber dari
ajaran islam itu sendiri, baik
dari Al-Qur�an maupun Hadits, sehingga peradaban islam bukan hanya berkembang
wilayah Arab namun juga berkembang
di semua negeri kaum muslimin, sehngga hal tersebut yang membuat para ahli sejarah menyebut peradaban itu dengan
sebutan peradaban islam (Saufi & Fadillah, 2015).
Berdasarkan beberapa data yang terkait kotribusi
peradaban Islam di atas, menurut
penulis ada dua hal yang menjadikan
peradaban Islam
menjadi peradaban gemilang. Pertama ajaran agama islam itu sendiri yang mengajarkan untuk giat menuntut ilmu
dan juga kemuliaan bagi mereka yang ahli pada suatu bidang tertentu.
Yang kedua adalah dukungan dari pemerintahan
islam saat itu yang mendukung kegiatan-kegiatan keilmuan. Hal itu dapat dilihat
dari dukungan para khalifah
dalam mendirikan Baitul
Hikmah yang menjadi pusat perkembangan ilmu pengetahuan.
�� Peradaban
Islam mulai
mengalami kemunduran setelah terjadinya serangkaian perang salib yang terjadi di wilayah islam sehingga melemahkan islam baik dari segi
politik dan ekonomi sehingga berpengaruh pada menurunnya kegiatan-kegiatan keilmuan. Hal itu lebih diperburuk lagi dengan runtuhnya
kekhalifahan Abbasiyah dengan jatuhnya kota Baghdad oleh para pasukan
Mongol.
�� Dalam ilmu hadis terdapat
nama-nama seperti Al
Bukhari, Muslim, Ibnu Majah,
An Nasai, Al-Baihaqi, At-Tirmidzi, Abu Dawud. Dalam ilmu Fiqih terkenal
empat imam besar yaitu Imam Malik, Imam Hambali,
Imam Hanafi dan Imam Syafi'i. Keempat
ulama besar tersebut lahir dimasa peradaban
keemasan Islam, karya-karya
dan fatwa-fatwa mereka tetap
menjadi rujukan bagi kaum muslimin
hingga saat ini. Dalam bidang
ilmu Tasawuf dikenal Hasan Al-Basri, Rabiah Adawiyah, Junaid
Al-Baghdadi, AbdulQodir Al-Jailani
serta Imam Al-Ghazali. Salah satu
karya imam Al-Ghazali yang terkenal
dikalangan kaum muslimin adalah kitab Ihya Ulumuddin, selain ahli dalam
ilmu tasawuf Al-Ghazali
juga terkenal ahli dalam bidang filsafat
(Aizid, 2018).� Dalam bidang Aqidah lahir
berbagai macam aliran ilmu Kalam seperti Qadariah, Mutazilah, Asy'ariyah, Maturidiah, Khawarij, dan Syiah. Dalam ilmu
tafsir terkenal tafsir dari
Al-Qurtubi, Ibnu Katsir.
Dalam buku sumbangan peradaban Islam pada dunia karya
Raghib Sirjani disebutkan bahwa Islam risalah langit merupakan dasar bagi tegaknya
Peradaban Islam yang berupa
persatuan dan kemanusiaan,
Tauhid, Universal, Akhlak dan Moderat
(As-Sirjani, 2011).� Dalam peradaban Islam ilmu umum telah mencapai
kedudukan yang sangat hebat.
Sehingga menjadi pelopor di dunia dengan menguasai berbagai disiplin ilmu dan menjadi kiblat bagi orang-orang Eropa dalam menuntut ilmu (Huzain, 2018).� Ilmu kedokteran dalam Islam bukan hanya menyembuhkan
penyakit, namun lebih dari itu
terdapat pula berbagai eksperimen dan latihan praktik kedokteran, meringankan dan memberikan obat-obatan serta menjauhkan manusia dari pola hidup
buruk sesuai anjuran kedokteran.
�� Beberapa
ilmuwan muslim yang ahli dalam bidang
kedokteran yaitu Abu Wasim Az-Zahrawi (403 H)
merupakan orang pertama menjelaskan teori pembedahan dengan membuat alat-alat bedah dan suntik. Ibnu Sina (428 H) yaitu
orang yang pertama kali menemukan
ilmu tentang parasit dan berbagai macam penyakit yang ada hingga sekarang.
Ali bin Isa Al-Mahal (430 H)
merupakan seorang dokter jenius dan terkenal sebagai spesialis mata dan pengobatannya. Abu Yusuf Al-Kindi
(256 H) adalah seorang muslim yang menemukan ilmu tentang mata
dan medan ilmu alamiah. Ibnu Haitsam
menjadi orang pertama� yang menggunakan kamar hitam yang ditetapkan sebagai sarana dasar ilmu
Fotografi dan Optik (Fauzi & Eropa, n.d.).
�� Dalam ilmu Fisika ilmuan muslim yang terkenal yaitu Abu Raihan Al-Biruni yang menjadi orang pertama yang menetap berbagai berat benda dalam berbagai
bentuk dan macam. Al-Khazani dialah pencipta inovasi terkait materi gerakan (dinamika) dan ilmu Hedrostetika. Al-Hamdani menjadi orang pertama yang menjelaskan hakikat dalam ilmu fisika
terkait teori gravitasi (Sudewi
& Nugraha, 2018).
�� Dalam bidang geografi ilmu muslim banyak
memahami ilmu ini karena banyak
dari ayat-ayat Al-Qur'an
yang menjelaskan tentang hal ini. Mereka
lalu kemudian mulai memikirkan dan melakukan eksperimen untuk memahami geografi. Dari sekian banyak ahli geografi
terdapat nama Ibnu Khardzabah yang berpendapat bahwa bumi itu berputar
sebagaimana perputaran
bola. Abu Ali Al-Marakisyi (660 H) adalah
orang pertama yang meletakkan
garis-garis panjang dan lebar
diatas peta bola bumi
(Globe). Al-Idris adalah seorang
muslim yang menggambarkan
peta dunia yang meliputi Asia Eropa
dan Afrika serta samudra Atlantik dan Hindia (Syaikhu, 2019).
Melihat berbagai kontribusi besar yang diberikan
peradaban Islam terhadap dunia di atas, maka penting kiranya di era sekarang
menampilkan kembali wajah peradaban Islam yang berjaya kepada dunia. Ada banyak
langkah sejatinya yang dapat diberikan untuk mewujudkan hal tersebut.
Salah satunya melalui integrasi
kajian-kajian Al-Qur�an dengan sains dan teknilogi. Upaya ini dinilai penting
untuk membuktikan kepada ilmuwan-ilmuwan Barat terkait dengan penemuan-penemuan
mereka yang sejatinya telah lebih dulu ditemukan oleh ilmuwan muslim. Maka untuk
membuktikan hal tersebut, ilmuwan muslim saat ini semestinya lebih menekankan
kepada upaya mengelaborasi ayat-ayat Al-Qur�an yang kemudian dihubungkan dengan
sains modern dan teknologi. Temuan tersebut nantinya akan menggambarkan bahwa
Al-Qur�an justru lebih dulu menemukan teori-teori yang selama ini dikemukakan
oleh ilmuwan Barat. Selain itu, ilmuwan muslim saat ini juga dapat mengutip
buku-buku peninggalan ilmuwan muslim zaman dulu untuk membangkitkan kembali
penemuan-penemuan tersebut oleh tokoh-tokoh muslim kala itu.
Upaya ini dinilai strategis untuk merebut kembali
kejayaan ilmuwan muslim yang saat ini mulai tertinggal dan banyak didominasi
oleh Barat. Akibatnya, kejayaan Islam yang sebenarnya dipelajari oleh Barat
menjadi dilupakan dan seakan-akan Baratlah sebagai pusat peradaban dunia yang
utama (Syaikhu, 2019).
Langkah ini sebagai bentuk klaim ulang terhadap penemuan Islam zaman dulu dan
bahkan akan dikembangkan untuk peradaban yang akan datang (Nafis,
2020).
Maka kajian-kajian yang bersifat integrasi lebih
tepat dikembagkan pada lembaga-lembaga pendidikan seperti univeristas. Hal ini
bertujuan untuk membangun kembali semangat intelktual muslim dalam menyaingi
peradaban Barat. Terlebih dikenalkan pada generasi muda agar mereka lebih
bangga dan bersyukur terhadap identitas peradaban sendiri yang begitu luar
biasa (Hamdi
& Musthofa, 2020).
Kesimpulan
Sejak berkembangnya Islam
di kota Madinah kaum muslimin kemudian memperluas pengaruhnya dari Timur Tengah ke Afrika Utara
sampai ke Andalusia Spanyol, dari Asia Tengah sampai ke Asia Selatan dan
Nusantara. Peradaban islam telah menjadi peradaban
gemilang yang bersumber dari kitab suci Al-Qur�an serta dukungan dari para pemimpin islam saat itu.
Kemajuan ilmu pengetahuan di masa keemasan islam bukan hanya
pada ilmu agama islam saja namun juga maju dalam berbgai
disiplin ilmu umum seperti Astronomi,
Fisika, Geografi, Matematika, Biologi, Kedokteran dan lain-lain. Peradaban
islam memiliki pengaruh yang besar pada Renaisans di Eropa dan juga kemajuan ilmu pengetahuan
hingga hari ini.
Namun kini, penting ada upaya yang dilakukan
untuk menunjukkan kembali wajah peradaban Islam sesungguhnya yang sempat berjaya
pada zaman dulu. Salah satu langkah yang ditempuh pada zaman sekarang adalah
dengan integrasi kajian Al-Qur�an (keagamaan) dengan sains dan teknologi dengan
tujuan mengklaim kembali penemuan-penemuan imuwan muslim yang kini diambil oleh
Barat sebagai penemuan mereka.
Bibliografi
A. Rosmiaty
Azis. (2019). Ilmu
Pendidikan Islam. Sibuku.Google Scholar
Aizid, R. (2018). Sejarah
Terlengkap Peradaban Dunia.
NOKTAH. Google Scholar
As-Sirjani, R. (2011). Sumbangan
Peradaban Islam pada Dunia. Pustaka Al Kautsar. Google Scholar
Asy�ari, H. (2018). Renaisans Eropa dan Transmisi Keilmuan Islam ke Eropa. Jurnal
Sejarah Peradaban Islam, 2(1), 1�14.
http://dx.doi.org/10.30829/j.v2i1.1792 Google Scholar
Fauzi, R., & Eropa, R. (n.d.). Pengaruhnya
terhadap Perkembangan Pemikiran Islam, 07 September 2012. Google Scholar
Hamdi, S., & Musthofa, K. (2020). Menghadirkan
Generasi Syakir Untuk Membangun Semangat Patriotisme Di Era Milenial. Madinah: Jurnal Studi Islam, 7(2), 88�100. Google Scholar
Hanifah, U. (2018). Islamisasi Ilmu Pengetahuan Kontemporer (Konsep Integrasi Keilmuan di
Universitas-Universitas Islam Indonesia. TADRIS: Jurnal
Pendidikan Islam, 13(2), 273�294. https://doi.org/10.19105/tjpi.v13i2.1972
Google Scholar
Hasan, H. I. (2020).
Sejarah dan Kebudayaan Islam. Google Scholar
Husaini, A. (Ed.).
(2013). Filsafat Ilmu:
Perspektif Barat dan Islam. Gema
Insani. Google Scholar
Huzain, M. (2018a). Pengaruh Peradaban Islam Terhadap Dunia Barat. TASAMUH: Jurnal
Studi Islam, 10(2), 355�377.
https://doi.org/10.47945/tasamuh.v10i2.77 Google Scholar
Huzain, M. (2018b). Pengaruh Peradaban Islam Terhadap Dunia Barat. Tasamuh:
Jurnal Studi Islam, 10(2),
355�377. Google Scholar
Khashogi, L. R. (2012). Konsep Ummah dalam Piagam Madinah. IN RIGHT: Jurnal
Agama Dan Hak Azazi Manusia, 1(2), 93�116. Google Scholar
Lapidus, I. M.
(2012). Islamic Societies to The Nineteenth Century a Global History.
Cambridge University Press. Google Scholar
Nafi�i, W., & Imtihanah, A. H. (2020). Studi Pemikiran Peradaban Islam; Menelusuri Jejak Kejayaan Islam di Era Abbasiyah. Wasathiya: Jurnal Studi Agama, 8(1), 57�78. Google Scholar
Nafis, A. W. (2020).
Islam, Peradaban Masa Depan.
Jurnal Al-Hikmah, 18(2), 1�20.https://doi.org/10.35719/alhikmah.v18i2.29 Google Scholar
P., I. M. I.,
& Cahyaningrum, I. (2019). Cara Mudah Memahami Metodologi Penelitian. Deepublish Publisher. Google Scholar
Parlaungan, Daulay, H. P., & Dahlan, Z. (2021). Pemikiran
Ibnu Sina dalam Bidang Filsafat.
Jurnal Bilqolam
Pendidikan Islam, 2(1), 79�93. https://doi.org/10.51672/jbpi.v2i1.51 Google Scholar
Saufi, A., & Fadillah, H. (2015). Sejarah Peradaban
Islam. Deepublish. Google Scholar
Sudewi, S., & Nugraha, S. M. (2018). Sejarah Farmasi
Islam dan Hasil Karya Tokoh-Tokohnya.
Aqlam: Journal of Islam and Plurality, 2(1),
57�72. http://dx.doi.org/10.30984/ajip.v2i1.511 Google Scholar
Syaikhu, A. (2019). Intelektual Islam dan Kontribusianya
atas Kemajuan Dunia Barat. FALASIFA : Jurnal Studi Keislaman, 10(2),
91�101. https://doi.org/10.36835/falasifa.v10i2.198 Google Scholar
|
Copyright holder : Ghajali Rahman (2021). |
|
First publication right
: This article is licensed under: |