Jurnal Syntax Transformation

Vol. 2 No. 10, Oktober 2021

p-ISSN : 2721-3854 e-ISSN : 2721-2769

Sosial Sains

 

PENGARUH KOMPETENSI, INDEPEDENSI, DAN PROFESIONALISME AUDITOR INTERNAL DALAM MENCEGAH KECURANGAN (FRAUD)

 

Johan Erwin Panjaitan, Fitriana, Didin Saepudin

Program Studi Akuntansi Audit, Sangga Buana YPKP Bandung, Jawa barat, Indonesia

Email: johanerwin2604@yahoo.co.id, fitriana.ypkp@usbypkp.ac.id, didin.saepudin@usbypkp.ac.id

 

INFO ARTIKEL

ABSTRAK

Diterima

28 September 2021

Direvisi

14 Oktober 2021

Disetujui

21 Oktober 2021

Berita mengenai indikasi penyimpangan kecurangan pada suatu perusahaan yang dilakukan oleh karyawan atau pegawainya membuat sadar bahwa kita harus melakukan sesuatu untuk membenahi keadaan yang kurang tertib tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk  mengetahui pengaruh kompetensi, independensi  dan  profesionalisme auditor internal dalam mencegah terjadinya  kecurangan.  Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah  Theory Agency.  Populasi dalam penelitian ini adalah auditor internal PT ARI. Penelitian ini menggunakan teknik sampling  non probability sampling  dengan  sampel jenuh. Sampel diambil dari seluruh anggota populasi yaitu sebanyak 31 auditor. Pengumpulan data dilakukan dengan  metode kuesioner.Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis regresi linier berganda.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa kompetensi auditor internal, independensi auditor internal dan profesionalisme auditor internal berpengaruh positif dalam mencegah kecurangan di PT ARI Bandung.

 

ABSTRACT

News about indications of fraud irregularities in a company committed by employees or employees makes us realize that we have to do something to fix the disorderly situation. This research aims to find out the influence of competence, independence and professionalism of internal auditors in preventing fraud.  The theory used in this study is the Theory Agency.  The population in this study was the internal auditor of PT ARI. This study used non probability sampling techniques with saturated samples. Samples were taken from all members of the population of 31 auditors. Data collection is done by questionnaire method. The data analysis technique used is multiple linear regression analysis.  The results showed that the competence of internal auditors, the independence of internal auditors and the professionalism of internal auditors had a positive effect in preventing fraud at PT ARI Bandung.

Kata Kunci:

kompetensi, independensi, profesionalisme, kecurangan auditor internal.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Keywords:

competence, independence, professionalism, cheating internal auditor


 


Pendahuluan

Berita mengenai indikasi penyimpangan kecurangan pada suatu perusahaan yang dilakukan oleh karyawan atau pegawainya membuat sadar bahwa kita harus melakukan sesuatu untuk membenahi keadaan yang kurang tertib tersebut. Seperti yang terjadi pada PT ARI. Dalam organisasi perusahaan, PT ARI sudah memiliki departemen internal audit, namun tetap masih ada kecurangan yang belum dapat ditemukan oleh auditor pada saat pemeriksaan audit sedang berlangsung. Dan ada juga temuan kecurangan yang terjadi sudah melalui pemeriksaan oleh audit internal. Setelah melakukan audit, internal audit tentu akan memberikan rekomendasi tindakan pencegahan yang telah didiskusikan dengan auditee. Contoh dari tindakan yang dilakukan dalam kasus kecurangan adalah pemberian sanksi terhadap pelaku kecurangan sehingga memberikan efek jera dan peringatan terhadap karyawan yang hendak melakukan kecurangan.. Walaupun saat ini sorotan utama sering terjadi pada manajemen puncak perusahaan, namun sebenarnya penyimpangan perilaku tersebut bisa juga terjadi diberbagai lapisan kerja organisasi. 

Permasalahan kecurangan dapat terjadi dimana saja.  Tidak dapat dijamin bahwa suatu organisasi atau perusahaan dapat terbebas dari kemungkinan terjadinya kecurangan.  Kecurangan dapat membawa akibat kerugian financial, rusaknya reputasi, permasalahan hukum, hingga bangkrutnya perusahaan (Koroy, 2008). Kecurangan berkaitan dengan ketidakjujuran manusia.  Kecurangan atau menggambarkan setiap upaya penipuan yang disengaja, yang dimaksudkan untuk mengambil harta, hak orang atau pihak lain. Kecurangan dapat diartikan sebagai salah penyajian yang disadari terhadap suatu kebenaran atau penyembunyian fakta material untuk mempengaruhi orang lain melakukan perbuatan atau tindakan yang merugikannya, biasanya merupakan kesalahan, namun dalam  beberapa kasus khusunya yang dilakukan secara disengaja mungkin merupakan suatu kejahatan.

Kecurangan bukan saja berakibat berkurangnya aset organisasi tetapi dapat juga mengurangi reputasi (Karyono, 2013). Melihat fenomena fraud yang tak kunjung menurun, dengan jenis modus fraud yang semakin pintar dan canggih, rasanya sudah saatnya bagi perusahaan untuk menerapkan sistem antisipasi fraud yang semakin dimutakhirkan (Fitrawansyah & Syahnifah, 2018). Tindakan fraud dapat dikurangi melalui langkah-langkah pencegahan atau penangkalan, pendeteksian, dan investigasi (Karyono, 2013)

Deteksi fraud adalah suatu tindakan untuk mengetahui bahwa fraud terjadi, siapa korbannya, dan apa penyebabnya (Karyono, 2013). Dalam mencegah dan mendeteksi serta menangani fraud sebenarnya ada beberapa pihak yang terkait yaitu akuntan (baik sebagai auditor internal, auditor eksternal, atau auditor forensik) dan manajemen perusahaan (Fitrawansyah & Syahnifah, 2018)

Menurut (Widilestariningtyas & Akbar, 2014) menyataan bahwa “Not Everyone Is Honest”, apabila semua orang jujur maka perusahaan tidak perlu waspada dengan adanya tindakan fraud. Lingkungan kerja yang memiliki integritas yang rendah, pengawasan yang lemah dan tekanan yang tinggi dapat memicu orang untuk melakukan tindakan fraud. Tindakan fraud bisa dicegah dengan cara mengembangan sikap saling terbuka, membudayakan kejujuran dan meminimalisir kesempatan atau celah yang bisa menyebabkan adanya tindakan fraud.

Pencegahan kecurangan merupakan aktivitas memerangi kecurangan dengan biaya yang murah. Pencegahan kecurangan bisa dianalogikan dengan penyakit, yaitu lebih baik dicegah daripada mengobati. Jika menunggu terjadinya kecurangan baru ditangani itu artinya sudah ada kerugian yang terjadi dan telah dinikmati oleh pihak tertentu, bandingkan bila kita berhasil mencegahnya tentu kerugian belum semuanya beralih ke pelaku kecurangan (Fitrawansyah & Syahnifah, 2018) Pencegahan fraud di sektor publik dilakukan dengan mengeluarkan berbagai peraturan perundang-undangan yang menetapkan berbagai sanksi yang diharapkan dapat menangkal atau setidak-tidaknya dapat mengurangi tindakan kecurangan (Karyono, 2013)

Membuktikan kecurangan (fraud) dibutuhkan pelaksanaan yang efektif melalui prosedur audit. (PRADNYAWATI, 2019) menyimpulkan bahwa prosedur audit dimulai dengan tahap penelaahan informasi awal, perencanaan pemeriksaan investigatif, pelaksanaan pemeriksaan investigatif, pelaporan dan tindak lanjut. Adapun tahapan prosedur audit yang harus dilakukan yaitu prosedur analitik, menginpeksi, mengkonfirmasi, mengajukan pertanyaan, menghitung, menelusuri, mencocokkan ke dokumen, mengamati ulang, serta teknik audit dengan bantuan Komputer.

Mencegah terjadinya kecurangan sepertinya bukan hal yang mudah. Seperti yang terjadi pada PT ARI. Dalam organisasi perusahaan, PT ARI sudah memiliki departemen internal audit, namun tetap masih ada kecurangan yang belum dapat ditemukan oleh auditor pada saat pemeriksaan audit sedang berlangsung. Dan ada juga temuan kecurangan yang terjadi sudah melalui pemeriksaan oleh audit internal. Setelah melakukan audit, internal audit tentu akan memberikan rekomendasi tindakan pencegahan yang telah didiskusikan dengan auditee (Wardhani & ARIFIN, 2014). Contoh dari tindakan yang dilakukan dalam kasus kecurangan adalah pemberian sanksi terhadap pelaku kecurangan sehingga memberikan efek jera dan peringatan terhadap karyawan yang hendak melakukan kecurangan.

Audit Internal adalah suatu fungsi penilaian yang dikembangkan secara bebas yang dilakukan oleh orang yang profesional yang memiliki pemahamanyang mendalam mengenai sistem dan kegiatan operasional organisasi, menjamin kegiatan operasional organisasi telah berjalan efektif dan efisien serta memastikan bahwa sasaran dan tujuan organisasi telah tercapai (Susilawati, 2014).

Auditor internal yang profesional harus memiliki independensi untuk memenuhi kewajiban profesionalnya; memberikan opini yang objektif, tidak bias, dan tidak dibatasi; dan melaporkan masalah apa adanya, bukan melaporkan sesuai keinginan eksekutif atau lembaga (Sawyer et al., 2006). Seluruh sumber daya manusia yang dimiliki PT ARI memiliki disiplin ilmu. Sumber daya manausia yang ada di departemen internal audit saat ini secara indepdensi belum dapat dikatakan maksimal karena masih dibatasi ruang lingkup dalam pemeriksaan oleh manajemen. Kompetensi mengenai audit internal seharusnya sudah pernah dipelajari oleh seluruh auditor ketika menjalani pendidikan akademik. Namun ada beberapa sumber daya manusia yang bukan berlatar belakang pendidikan akuntansi dan ekonomi. Dengan strata pendidikan yang berbeda-beda maka kompetensi yang dimiliki secara akademik setiap individu akan berbeda.

Dengan kondisi kecurangan yang terjadi di beberapa cabang PT ARI, maka pihak manajemen mengambil tindakan atas karyawan yang melakukan kecurangan tersebut dengan meminta untuk bertanggung jawab dengan cara mengganti nomimal yang sudah dirugikan serta diberhentikan karyawan tersebut dari pekerjaannya.Peran audit internal PT ARI adalah lebih mengutamakan kepada stock opname inventory daripada menganalisa data untuk mencari adanya kesalahan ataupun kekeliruan yang terjadi dalam operasional berlangsung.

Setiap auditor internal harus tetap mempertahankan kompetensi, indepedensi serta profesionalisme agar  dapat mencegah serta dapat mendeteksi segala bentuk kecurangan yang terjadi (Fahmi & Syahputra, 2019). Kurangnya pengetahuan dan pengertian seorang auditor internal mengenai indikasi akan terjadinya tindak kecurangan sering terjadi dan prosedur yang efektif untuk mendeteksi kecurangan sudah sering dibuat sulit oleh auditor- auditor dalam melakukan tugas- tugasnya (Meilasari & Justinia Castellani, 2018). Oleh karena itu, seorang auditor internal harus mempunyai keahlian dalam mencegah kecurangan sebagai eksistensi dan pengetahuan mengenai gejala pasti, dan harus mampu mendeteksi segala bentuk kecurangan yang terjadi, pengertian akan masalah dan sikap kompetensi, independensi serta profesionalisme untuk menyelesaikan semua permasalahan yang terjadi.

Berdasarkan latar belakang masalah diatas, peneliti tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul “Pengaruh Kompetensi, Indepedensi, dan Profesionalisme Auditor Internal Dalam Mencegah Kecurangan (Fraud)”. Penelitian ini mengambil sampel auditor internal perusahaan retail di kota Bandung dengan judul “Pengaruh Kompetensi, Indepedensi, Dan Profesionalisme Auditor Internal Dalam Mencegah Kecurangan (Fraud) Di Perusahaan Retail Pt AriMaksud penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran seberapa besar pengaruh kompetensi, indepedensi dan profesionalisme audit internal dalam mencegah kecurangan (fraud) di perusahaan retail PT ARI.

 

Metode Penelitian

Metode penelitian yang digunakan adalah metode statistik deskriptif dan verifikatif (Rasyad, 2003). Dan  alat analisis yang digunakan adalah analisis regresi linier  berganda (Multiple Regression Analysis). Analisis ini dimaksudkan untuk mengungkapkan pengaruh antara beberapa variabel bebas dengan variabel terikat. Adapun jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data kualitatif yang berupa nilai atau skor atas jawaban yang diberikan oleh responden terhadap pertanyaan-pertanyaan yang terdapat dalam kuesioner.

 

Hasil dan Pembahasan

A.   Hasil Penelitian

1      Uji Validitas


 

Tabel 1

Hasil Uji Validitas Variabel Kompetensi Auditor Internal (X1)

Variabel

Indikator Pernyataan

r Hitung

r Tabel

Ket

Kompetnsi Auditor Internal (X1)

X1.1

0.829

0.361

Valid

X1.2

0.737

0.361

Valid

X1.3

0.667

0.361

Valid

X1.4

0.597

0.361

Valid

X1.5

0.404

0.361

Valid

X1.6

0.753

0.361

Valid

X1.7

0.622

0.361

Valid

X1.8

0.598

0.361

Valid

X1.9

0.713

0.361

Valid

Sumber : Hasil Pengolahan Data Primer, 2020

 


Hasil uji validitas pada angket penelitian ini harus membandingkan antara angka korelasi item dengan total korelasi yang diperoleh dengan angka r butir > r tabel (Ghozali, 2013:45). Dikarenakan angka korelasi yang diperoleh dari pertanyaan pada indikator X1.1 – X1.9 pada variabel Kompetensi Auditor Internal (X1) tersebut berada di atas angka 0,361 maka pertanyaan-pertanyaan tersebut diputuskan signifikan dan memiliki validitas yang baik.

 


 

 

 

Tabel 2

Hasil Uji Validitas Variabel Independensi Auditor Internal (X2)

Variabel

Indikator Pernyataan

r Hitung

r Tabel

Ket

Independensi Auditor Internal (X2)

X2.1

0.625

0.361

Valid

X2.2

0.705

0.361

Valid

X2.3

0.711

0.361

Valid

X2.4

0.731

0.361

Valid

X2.5

0.526

0.361

Valid

X2.6

0.624

0.361

Valid

Sumber : Hasil Pengolahan Data Primer, 2020

 


Hasil uji validitas pada angket penelitian ini membandingkan antara angka korelasi item dengan total korelasi yang diperoleh dengan angka r butir > r tabel (Ghozali, 2018). Dikarenakan angka korelasi yang diperoleh dari pertanyaan indikator X2.1 – X2.9 pada Variabel Independensi Auditor Internal berada di atas angka 0,361 maka diputuskan signifikan dan memiliki validitas yang baik.

 


Tabel 3

Hasil Uji Validitas Variabel Profesionalisme Auditor Internal (X3)

Variabel

Indikator Pernyataan

r Hitung

r Tabel

Ket

Profesionalisme Auditor Internal (X3)

X3.1

0.623

0.361

Valid

X3.2

0.657

0.361

Valid

X3.3

0.829

0.361

Valid

X3.4

0.521

0.361

Valid

X3.5

0.642

0.361

Valid

X3.6

0.808

0.361

Valid

X3.7

0.709

0.361

Valid

X3.8

0.434

0.361

Valid

X3.9

0.695

0.361

Valid

X3.10

0.477

0.361

Valid

X3.11

0.571

0.361

Valid

Sumber : Hasil Pengolahan Data Primer, 2020

 


Hasil uji validitas pada angket penelitian ini harus membandingkan antara angka korelasi item dengan total korelasi yang diperoleh dengan angka r butir > r tabel (Ghozali, 2018; Lötvall et al., 2014). Dikarenakan angka korelasi yang diperoleh dari pertanyaan pada indikator X3.1 – X3.11 padaVariabel Profesionalisme Auditor Internal (X3) tersebut berada di atas angka 0,361 maka pertanyaan-pertanyaan tersebut diputuskan signifikan dan memiliki validitas yang baik.

 


 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tabel 4

Hasil Uji Validitas Variabel Mencegah Kecurangan (Y)

Variabel

Indikator Pernyataan

r Hitung

r Tabel

Ket

Mencegah Kecurangan (Y)

Y1

0.731

0.361

Valid

Y2

0.456

0.361

Valid

Y3

0.586

0.361

Valid

Y4

0.707

0.361

Valid

Y5

0.650

0.361

Valid

Y6

0.797

0.361

Valid

Y7

0.440

0.361

Valid

Y8

0.722

0.361

Valid

Y9

0.591

0.361

Valid

Y10

0.698

0.361

Valid

Y11

0.578

0.361

Valid

Sumber : Hasil Pengolahan Data Primer, 2020

 


Hasil uji validitas pada angket penelitian ini harus membandingkan antara angka korelasi item dengan total korelasi yang diperoleh dengan angka r butir > r tabel (Ghozali, 2018). Dikarenakan angka korelasi yang diperoleh dari pertanyaan pada indikator Y1 – Y11 pada Variabel Mencegah Kecurangan (Y) tersebut berada di atas angka 0,361 maka pertanyaan-pertanyaan tersebut diputuskan signifikan dan memiliki validitas yang baik.

2      Uji Reliabilitas


 

Tabel 5

Hasil Uji Reliabilitas Variabel Kompetensi Auditor Internal (X1)

Variabel

Nilai Cronbach Alpha

Keputusan

Kompetensi Auditor Internal (X1)

0,837

Reliabilitas Baik

Sumber : Hasil Pengolahan Data Primer, 2020

 


Uji reliabilitas pada penelitian ini, menggunakan metode Cronbach Alpha. Dimana menurut (Soedibjo, 2013) reliabilitas yang kurang dari 0,60 menunjukkan bahwa instrument dianggap kurang baik, apabila > 0,7 maka instrumen dikategorikan layak dan apabila instrument memiliki nilai > 0,8 maka instrument tersebut dikatakan baik.

Berdasarkan perhitungan uji reliabilitas yang telah penulis lakukan. Diperoleh bahwa pada variabel Kompetensi Auditor Internal (X1) memiliki nilai cronbach alpha di atas 0,8 yaitu sebesar 0,837 ini berarti instrument memiliki hasil yang reliabel baik, sehingga instrument atau angket ini termasuk kepada instrumen reliabel dan konsisten.

 


Tabel 5

Hasil Uji Reliabilitas Variabel Independensi Auditor Internal (X2)

Variabel

Nilai Cronbach Alpha

Keputusan

Independensi Auditor Internal (X2)

0,727

Reliabilitas Layak

Sumber : Hasil Pengolahan Data Primer, 2020

 


Uji reliabilitas pada penelitian ini, menggunakan metode Cronbach Alpha. Reliabilitas yang kurang dari 0,60 menunjukkan bahwa instrument dianggap kurang baik, apabila > 0,7 maka instrumen dikategorikan layak dan apabila instrument memiliki nilai > 0,8 maka instrument tersebut dikatakan baik.

Berdasarkan perhitungan uji reliabilitas yang telah penulis lakukan. Diperoleh bahwa pada variabel Independensi Auditor Internal (X2) memiliki nilai cronbach alpha di atas 0,7 yaitu sebesar 0,727 ini berarti instrument memiliki hasil yang reliabellayak, sehingga instrument atau angket ini termasuk kepada instrumen reliabel dan konsisten.

 


Tabel 6

Hasil Uji Reliabilitas Variabel Profesionalisme Auditor Internal (X3)

Variabel

Nilai Cronbach Alpha

Keputusan

Profesionalisme Auditor Internal (X3)

0,840

Reliabilitas Baik

Sumber : Hasil Pengolahan Data Primer, 2020

 


 

Uji reliabilitas pada penelitian ini, menggunakan metode Cronbach Alpha. Reliabilitas yang kurang dari 0,60 menunjukkan bahwa instrument dianggap kurang baik, apabila > 0,7 maka instrumen dikategorikan layak dan apabila instrument memiliki nilai > 0,8 maka instrument tersebut dikatakan baik.

       Berdasarkan perhitungan uji reliabilitas yang telah penulis lakukan. Diperoleh bahwa pada variabel Profesionalisme Auditor Internal (X3) memiliki nilai cronbach alpha di atas 0,8 yaitu sebesar 0,840 ini berarti instrument memiliki hasil yang reliabel baik, sehingga instrument atau angket ini termasuk kepada instrumen reliabel dan konsisten.

 


Tabel 7

Hasil Uji Reliabilitas Variabel Mencegah Kecurangan (Y)

Variabel

Nilai Cronbach Alpha

Keputusan

Independensi Auditor Internal (X2)

0,850

Reliabilitas Baik

Sumber : Hasil Pengolahan Data Primer, 2020

 


Uji reliabilitas pada penelitian ini, menggunakan metode Cronbach Alpha. Reliabilitas yang kurang dari 0,60 menunjukkan bahwa instrument dianggap kurang baik, apabila > 0,7 maka instrumen dikategorikan layak dan apabila instrument memiliki nilai > 0,8 maka instrument tersebut dikatakan baik.

Berdasarkan perhitungan uji reliabilitas yang telah penulis lakukan. Diperoleh bahwa pada variabel Mencegah Kecurangan (Y) memiliki nilai cronbach alpha di atas 0,8 yaitu sebesar 0,850 ini berarti instrument memiliki hasil yang reliabel layak, sehingga instrument atau angket ini termasuk kepada instrumen reliabel dan konsisten.

 

3      Uji Asumsi Klasik Regresi

 


 

 

 

 

 

 

 

 

Tabel 8

Hasil Uji Normalitas

One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test

 

Unstandardized Residual

N

31

Normal Parametersa,b

Mean

,0000000

Std. Deviation

,20734351

Most Extreme Differences

 

Absolute

,087

Positive

,075

Negative

-,087

Test Statistic

,087

Asymp. Sig. (2-tailed)

,200c,d

a. Test distribution is Normal.

b. Calculated from data.

c. Lilliefors Significance Correction.

d. This is a lower bound of the true significance.

Sumber :Olah data SPSS, 2020

 


Data dikatakan normal apabila nilai asymp.sig berada di atas 0,05. Hasil uji normalitas menunjukkan bahwa data berdistribusi normal karena memiliki nilai asymp.sig sebesar 0,087 dan nilai ini berada di atas 0,05.

 


Tabel 9

Hasil Uji Multikolinieritas

Coefficientsa

Model

Collinearity Statistics

Tolerance

VIF

1

Kompetensi

0,773

1,293

Independensi

0,659

1,518

Profesionalisme

0,834

1,199

a. Dependent Variable: Fraud

Sumber : Olah data SPSS, 2020

 


Gejala multikolinieritas ditandai dengan angka tolerance yang kurang dari 0,1 dan angka VIF di atas 10. Hasil uji multikolinieritas menunjukkan bahwa tidak ada masalah multikolinieritas karena nilai tolerance berada di atas 0,1 dan nilai VIF berada di bawah 10.

 

Gambar 1 Hasil Uji Heteroskedastisitas

Sumber : Olah data SPSS, 2020

 

Uji heteroskedastisitas yang digunakan dalam penelitian ini yaitu dengan uji scatterplot. Jika titik-titik berada di atas dan di bawah garis nol maka dikatakan tidak memiliki masalah heteroskedastisitas. Hasil menunjukkan bahwa titik-titik berada di atas dan di bawah garis nol sehingga model regresi tidak memiliki masalah heteroskedastisitas.

Semua uji asumsi regresi telah terpenuhi, maka analisis regresi dapat dilanjutkan dengan tujuan untuk mencari apakah Kompetensi Auditor Internal, Independensi Auditor Internaldan Profesionalisme Auditor Internalberpengaruh terhadap Mencegah Kecurangan

4. Analisis Regresi Berganda


Tabel 10

Analisis Regresi Berganda

Coefficientsa

Model

Unstandardized Coefficients

Standardized Coefficients

t

Sig.

Correlations

B

Std. Error

Beta

Zero-order

1

(Constant)

-0,189

0,258

 

-0,733

0,470

 

Kompetensi

0,478

0,086

0,492

5,587

0,000

0,725

Independensi

0,433

0,092

0,450

4,715

0,000

0,783

Profesionalisme

0,253

0,081

0,266

3,137

0,004

0,486

a. Dependent Variable: Fraud

 


Berdasarkan hasil perhitungan pada tabel di atas, diperoleh bentuk persamaan regresi linier berganda sebagai berikut :

Y = -0,189 + 0,478X1+0,433X2+ 0,253 X3+ e

Nilai koefisien regresi pada variabel-variabel bebasnya menggambarkan apabila diperkirakan variabel bebasnya naik sebesar satu unit dan nilai variabel bebas lainnya diperkirakan konstan atau sama dengan nol, maka nilai variabel terikat diperkirakan bisa naik atau bisa turun sesuai dengan tanda koefisien regresi variabel bebasnya.

Tanda koefisien regresi variabel bebas menunjukkan arah hubungan dari variabel yang bersangkutan dengan Pencegahan Kecurangan. Koefisien regresi untuk variabel bebas X1 bernilai positif, menunjukkan adanya hubungan yang searah antara Kompetensi Auditor Internal (X1) dengan Pencegahan Kecurangan (Y). Koefisien regresi variabel X1 sebesar 0,478 mengandung arti untuk setiap kenaikan Kompetensi Auditor Internal (X1) sebesar satu satuan akan menyebabkan meningkatnya Pencegahan Kecurangan (Y) sebesar 0,478 satuan. 

Koefisien regresi untuk variabel bebas X2 bernilai positif, menunjukkan adanya hubungan yang searah antara Independensi Auditor Internal (X2) dengan Pencegahan Kecurangan (Y). Koefisien regresi variabel X2 sebesar 0,433 mengandung arti untuk setiap kenaikan Independensi Auditor Internal (X2) sebesar satu satuan akan menyebabkan meningkatnya pencegahan Kecurangan (Y) sebesar 0,433 satuan.

Koefisien regresi untuk variabel bebas X3 bernilai positif, menunjukkan adanya hubungan yang searah antara Profesionalisme Auditor Internal(X3) dengan Pencegahan Kecurangan (Y). Koefisien regresi variabel X3 sebesar 0,253 mengandung arti untuk setiap kenaikan Profesionalisme Auditor Internal (X3) sebesar satu satuan akan menyebabkan meningkatnya pencegahan Kecurangan (Y) sebesar 0,253 satuan.

 


Tabel 11

Pengaruh Kompetensi (X1), Indepedensi (X2) dan Profesionalisme Auditor Internal (X3) dalam Pencegahan Kecurangan (Y)

Coefficientsa

Model

Unstandardized Coefficients

Standardized Coefficients

t

Sig.

Correlations

B

Std. Error

Beta

Zero-order

1

(Constant)

-0,189

0,258

 

-0,733

0,470

 

Kompetensi

0,478

0,086

0,492

5,587

0,000

0,725

Independensi

0,433

0,092

0,450

4,715

0,000

0,783

Profesionalisme

0,253

0,081

0,266

3,137

0,004

0,486

a. Dependent Variable: Fraud

Sumber : Hasil Olah Data SPSS, 2020

 


Tabel 12

 Uji Hipotesis Simultan

ANOVAa

Model

Sum of Squares

Df

Mean Square

F

Sig.

1

Regression

6,678

3

2,226

46,601

0,000b

Residual

1,290

27

0,048

 

 

Total

7,968

30

 

 

 

a. Dependent Variable: Fraud

b. Predictors: (Constant), Profesionalisme, Kompetensi , Independensi

Sumber : Hasil Olah Data SPSS, 2020

 


Dengan nilai  = 5%;  df1=k=3;  df2=n-k-1=31-3-1= 27 diperoleh nilai F tabel sebesar 2,947. Berdasarkan hasil perhitungan Fhitung diperoleh sebesar 46,601 dengan nilai Ftabel sebesar 2,947. Kriteria pengujiannya adalah, “tolak Ho jika Fhitung> Ftabel”. Karena dari hasil pengujian diperoleh nilai Fhitung = 46,601> Ftabel = 3,238, maka pada α = 5% diputuskan untuk menolak H04 sehingga Ha4 diterima. Jadi berdasarkan hasil pengujian dapat disimpulkan bahwa Kompetensi Auditor Internal dan Independensi Auditor Internal dan profesionalisme Auditor Internal berpengaruh signifikan terhadap Pencegahan Kecurangan.

 

 


Tabel 13

Koefisien Determinasi

Model Summaryb

Model

R

R Square

Adjusted R Square

Std. Error of the Estimate

1

0,915a

0,838

0,820

0,21856

a. Predictors: (Constant), Profesionalisme, Kompetensi , Independensi

b. Dependent Variable: Fraud

Sumber : Hasil Pengolahan Data SPSS, 2020

 


Berdasarkan tabel 13 dapat diketahui bahwa nilai koefisien korelasi (R) adalah sebesar 0,915 kemudian nilai koefisien determinasi (R2) diperoleh nilai sebesar 0,838. Artinya ada pengaruh antara Kompetensi, Independesi dan Profesionalisme Auditor Internal Internal terhadap Pencegahan Kecurangan PT ARI sebesar 83,8% sedangkan sisanya 16,2% dipengaruhi oleh variabel-variabel lain yang tidak peneliti libatkan dalam penelitian ini.  Kontribusi dari masing-masing variabel adalah sebagai berikut:

 


Tabel 14

Kontribusi Per Variabel

Variabel

Beta

Zero Order

Kontribusi

Kompetensi Auditor

Internal (X1)

0,492

0,725

35,7%

Independensi Auditor

Internalonal (X2)

0,450

0,783

35,2%

Profesionalisme Auditor

 Internalonal (X3)

0,266

0,486

12,9%

Total (R2)

83,8%

 


 

B.   Pembahasan

Berdasarkan hipotesis yang diajukan oleh peneliti, maka peneliti akan mengidentifikasi setiap hasil yang telah didapatkan dari uji regresi linier berganda dan pembahasan dari setiap uji hipotesis pada penelitian ini adalah sebagai berikut:

1.    Pengaruh Kompetensi Auditor Internal dalam Mencegah Kecurangan

Berdasarkan hasil uji regresi antara Komptensi Audit Internal dalam mencegah kecurangan di PT ARI menunjukkan adanya pengaruh secara positif dan signifikan sebesar 0,0478 dalam mencegah kecurangan. Hal ini dapat dikatakan bahwa kualifikasi kompetensi yang dimiliki oleh auditor internal akan dapat mempermudah auditor internal dalam mencegah kecurangan di perusahaan PT ARI. (Elder, 2011) mengemukakan bahwa kompetensi sebagai keharusan bagi auditor untuk memiliki pendidikan formal di bidang auditing dan akuntansi, pengalaman praktik yang memadai bagi pekerjaan yang sedang dilakukan, serta mengikut pendidikan profesional yang berkelanjutan.

Kemudian dari uji parsial yaitu antara Kompetensi Auditor Internal dalam mencegah kecurangan di perusahaan PT ARI yang dapat dikatakan berpengaruh secara signifikan (nyata) dalam mencegah kecurangan.

Hasil penelitian ini sesuai dengan hasil penelitian oleh (Windasari & Juliarsa, 2016) yang menunjukkan bahwa Kompetensi auditor internal berpengaruh positif terhadap pencegahan kecurangan.

2.    Pengaruh Indepedensi Auditor Internal dalam Mencegah Kecurangan

Berdasarkan hasil uji regresi antara Indepedensi Audit Internal dengan mencegah kecurangan di PT ARI menunjukkan adanya pengaruh secara positif dan signifikan sebesar 0,0443 dalam mencegah kecurangan. Hal ini dapat dikatakan bahwa kualifikasi indepedensi yang dimiliki oleh auditor internal akan dapat mempermudah auditor internal dalam mencegah kecurangan di perusahaan PT ARI. Mautz dan Sharaf dalam (Landarica, 2020) menyatakan bahwa Independensi mencerminkan sikap tidak memihak serta tidak dibawah pengaruh tekanan atau pihak tertentu dalam mengambil tindakan dan keputusan.

Kemudian dari uji parsial yaitu antara Indepedensi Auditor Internal dalam mencegah kecurangan di perusahaan PT ARI yang dapat dikatakan berpengaruh secara signifikan (nyata) dalam mencegah kecurangan.

Hasil penelitian ini sesuai dengan hasil penelitian oleh (Windasari & Juliarsa, 2016) yang menunjukkan Indepedensi auditor internal berpengaruh positif terhadap pencegahan kecurangan.

Hasil penelitian ini juga sesuai dengan hasil penelitian oleh (Wulandari, 2018) yang menunjukkan bahwa Indepedensi auditor internal sangat berpengaruh terhadapa pencegahan kecurangan.

3.    Pengaruh Profesionalisme Auditor Internal dalam Mencegah Kecurangan

Berdasarkan hasil uji regresi antara Profesionalisme Audit Internal dengan mencegah kecurangan di PT ARI menunjukkan adanya pengaruh secara positif dan signifikan sebesar 0,0253 dalam mencegah kecurangan. Hal ini dapat dikatakan bahwa kualifikasi profesionalisme yang dimiliki oleh auditor internal akan dapat mempermudah auditor internal dalam mencegah kecurangan di perusahaan PT ARI. (Sudarmanto, 2020) mengemukakan bahwa dalam upaya mencegah dan mendeteksi terjadinya fraud membutuhkan kinerja dan tindakan profesional dari auditor internal karena tidak mungkin fraud bisa dicegah dan dideteksi jika auditor internal tidak menjalankan peranan dan tanggung jawabnya secara professional.

Kemudian dari uji parsial yaitu antara Profesionalisme Auditor Internal dalam mencegah kecurangan di perusahaan PT ARI yang dapat dikatakan berpengaruh secara signifikan (nyata) dalam mencegah kecurangan.

Hasil penelitian ini sesuai dengan hasil penelitian oleh (Windasari & Juliarsa, 2016) yang menunjukkan bahwa Profesionalisme auditor internal berpengaruh positif terhadap pencegahan kecurangan.

Hasil penelitian ini juga sesuai dengan hasil penelitian oleh (Wulandari, 2018) yang menunjukkan bahwa Profesionalisme auditor internal sangat berpengaruh terhadapa pencegahan kecurangan.

4.    Pengaruh Kompetensi, Indepedensi dan Profesionalisme Auditor Internal dalam Mencegah Kecurangan

Hasil dari beberapa penelitian sebelumnya mengenai pengaruh kompetensi, indepedensi dan profesionalisme auditor internal dalam mencegah kecurangan masih sangat bervariasi. Dalam beberapa penelitian dibuktikan bahwa kompetensi, indepedensi dan profesionalisme auditor internal berpengaruh dalam mencegah kecurangan, namun ada juga hasil penelitian yang menunjukkan antara kompetensi, independensi dan profesionalisme auditor internal tidak semua diantaranya itu berpengaruh dalam mencegah kecurangan. (Mussa et al., 2020) menyatakan bahwa pencegahan kecurangan (fraud) merupakan tanggung jawab dari manjemen perusahaan. Auditor internal bertanggung jawab untuk memeriksa dan mengevaluasi kecukupan dan efektivitas langkah-langkah tindakannya yang telah diambil oleh manajemen untuk memenuhi kewajiban tersebut.

Hasil uji regresi linier berganda menghasilkan nilai sig 0,470 < 0,05 sehingga secara simultan kompetensi, indepedensi dan profesionalisme auditor internal berpengaruh dalam mencegah kecurangan di PT ARI.

Hasil penelitian ini pun sejalan dengan hasil penelitian dari (Windasari & Juliarsa, 2016) yang menunjukkan bahwa Kompetensi, Indepedensi dan Profesionalisme Auditor Internal memiliki pengaruh dalam mencegah kecurangan di PT ARI.

 

Kesimpulan

Berdasarkan hasil pembahasan mengenai Pengaruh Kompetensi, Indepedensi dan Profesionalisme Auditor Internal dalam Mencegah Kecurangan di Perusahaan PT ARI, maka peneliti menarik beberapa kesimpulan yakni, kompetensi auditor internal memiliki pengaruh positif dan signifikan dalam mencegah kecurangan, namun terdapat nilai kompetensi yang masih rendah yaitu pengetahuan tentang teori organisasi dan pengetahuan tentang sektor publik. Hal ini berarti ketika ada peningkatan kompetensi auditor internal, maka akan meningkatkan pencegahan kecurangan di PT ARI.

Indepedensi auditor internal memiliki pengaruh positif dan signifikan dalam mencegah kecurangan, namun terdapat nilai indepedensi yang masih rendah yaitu dalam melaksanakan pemeriksaan, auditor internal bebas memilih kebijakan perusahaan atau manajerial yang akan diperiksa. Hal ini berarti ketika ada peningkatan indepedensi auditor internal, maka akan meningkatkan pencegahan kecurangan di PT ARI.

Profesionalisme auditor internal memiliki pengaruh positif dan signifikan dalam mencegah kecurangan, namun terdapat nilai profesionalisme yang masih rendah yaitu pengambilan keputusan disesuaikan dengan kondisi dan keadaan yang dihadapi. Hal ini berarti ketika ada peningkatan profesionalisme auditor internal, maka akan meningkatkan pencegahan kecurangan di PT ARI.

Secara simultan kompetensi, indepedensi dan profesionalisme auditor internal berpengaruh dalam mencegah kecurangan di PT ARI Bandung. Artinya ada pengaruh antara kompetensi, indepedensi dan profesionalisme auditor internal dalam pencegahan kecurangan di PT ARI sebesar 83,8 %.

Kesimpulan dari penelitian ini yaitu bahwa auditor internal PT ARI sudah cukup baik dalam memiliki kompetensi, indepedensi dan profesionalisme sehingga dapat melakukan pencegahan kecurangan yang terjadi di Perusahaan retai PT ARI.

 

Bibliografi

 

Elder, R. J. (2011). Jasa Audit dan Assurance: Pendekatan Terpadu (Adaptasi Indonesia).Google Scholar

Fahmi, M., & Syahputra, M. R. (2019). Peranan Audit Internal Dalam Pencegahan (Fraud). Liabilities (Jurnal Pendidikan Akuntansi), 2(1), 24–36. Google Scholar

Fitrawansyah, F., & Syahnifah, M. (2018). Pengaruh Independensi Auditor Terhadap Integritas Laporan Keuangan (Studi Empiris pada Perusahaan Manufaktur yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia Periode 2013-2015)”. Akuntabilitas, 11(2), 245–256. Google Scholar

Ghozali, I. (2018). Aplikasi analisis multivariate dengan program IBM SPSS 25. Google Scholar

Karyono, A. K. (2013). Forensic Fraud. Yogyakarta: Penerbit Andi. Google Scholar

Koroy, T. R. (2008). Pendeteksian Kecurangan (Fraud) Laporan Keuangan oleh Auditor Eksternal. Jurnal Akuntansi Dan Keuangan, 10(1), 22–23. Google Scholar

Landarica, B. A. (2020). Pengaruh Independensi, Moral Reasoning dan Skeptisisme Profesional Auditor Terhadap Kualitas Audit. Coopetition: Jurnal Ilmiah Manajemen, 11(1), 33–44. Google Scholar

Lötvall, J., Hill, A. F., Hochberg, F., Buzás, E. I., Di Vizio, D., Gardiner, C., Gho, Y. S., Kurochkin, I. V, Mathivanan, S., & Quesenberry, P. (2014). Minimal experimental requirements for definition of extracellular vesicles and their functions: a position statement from the International Society for Extracellular Vesicles. Taylor & Francis. Google Scholar

Meilasari, A. D., & Justinia Castellani, S. E. (2018). Pengaruh Skeptisisme Profesional Dan Independensi Auditor Terhadap Upaya Pendeteksian Kecurangan (Survey pada Kantor Akuntan Publik di Kota Bandung). Perpustakaan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Unpas Bandung. Google Scholar

Mussa, N. V., Persulessy, G., & Hiariej, N. (2020). Pencegahan Kecurangan (Fraud) Pada PerusahanUmum. Kupna Jurnal: Kumpulan Artikel Akuntansi, 1(1), 41–50. Google Scholar

Pradnyawati, N. I. P. (2019). Pengaruh Kemampuan Auditor Investigatif Dan Pengalaman Auditor Investigatif Terhadap Efektivitas Pelaksanaan Prosedur Audit Dalam Pembuktian Kecurangan (Studi Pada Perwakilan Bpkp Provinsi Bali). Google Scholar

Rasyad, R. (2003). * Metode Statistik Deskriptif Utk Umum. Grasindo. Google Scholar

Sawyer, B. L., Dittenhofer, M., & Scheiner, J. (2006). Sawyer’s internal audit. Audit Internal Sawyer. Jakarta: Salemba Empat. Google Scholar

Soedibjo, B. S. (2013). Pengantar Metodologi Penelitian. Bandung: STIE-STMIK Pasim. Google Scholar

Sudarmanto, E. (2020). Manajemen Risiko: Deteksi Dini Upaya Pencegahan Fraud. Jurnal Ilmu Manajemen, 9(2), 107–121. Google Scholar

Susilawati, S. (2014). Pengaruh profesionalisme dan independensi auditor internal terhadap kualitas audit: studi pada inspektorat Propinsi jawa barat. Etikonomi, 13(2). Google Scholar

Wardhani, F. N., & ARIFIN, A. (2014). Pengaruh Komponen Keahlian Auditor dalam Mendeteksi Kecurangan (Studi Empiris pada Eksternal Auditor di Semarang). Fakultas Ekonomika dan Bisnis. Google Scholar

Widilestariningtyas, O., & Akbar, R. T. (2014). Pengaruh Audit Internal Terhadap Risiko Fraud (Survei Pada Pt. Bri Di Wilayah Bandung). Jurnal Riset Akuntansi, 6(1). Google Scholar

Windasari, M. Y., & Juliarsa, G. (2016). Pengaruh Kompetensi, Independensi, dan Profesionalisme Auditor Internal dalam Mencegah Kecurangan pada BPR di Kabupaten Badung. E-Jurnal Akuntansi Universitas Udayana, 17(12), 1924–1952. Google Scholar

Wulandari, D. N. (2018). Pengaruh pengendalian internal, kesadaran anti-fraud, integritas, independensi, dan profesionalisme terhadap pencegahan kecurangan. SKRIPSI-2018. Google Scholar


Copyright holder :

Johan Erwin Panjaitan, Fitriana, Didin Saepudin (2021).

 

First publication right :

Jurnal Syntax Transformation

 

This article is licensed under: