|
Jurnal
Syntax Transformation |
vol. 1
No. 4, Juni 2020 |
|
p-ISSN :
2721-3854 e-ISSN : 2721-2769 |
Sosial
Sains |
PERBEDAAN ANTARA AQUATIC EXERCISE DENGAN MCKENZIE EXERCISE DALAM MENURUNKAN
DISABILITAS PADA PENDERITA DISCOGENIC LOW
BACK PAIN
Budi
Susanto
Universitas Udayana
Email: [email protected]
|
INFO
ARTIKEL |
ABSTRAK |
|
Diterima 2 Juni
2020 Diterima dalam bentuk revisi 15 Juni 2020 Diterima dalam bentuk revisi 20 Juni 2020 |
Sakit pinggang atau LBP termasuk salah satu penyakit muskuloskeletal yang paling banyak.
Penyakit ini menyebabkan disabilitas dan kerugian materi maupun biopsikososial. Penanganan LBP yang paling efektif
masih menjadi pembahasan para praktisi kesehatan dan ilmuwan antara Aquatic
Exercise atau McKenzie Exercise. Tujuan penelitian ini adalah untuk membuktikan manakah yang lebih baik antara
Aquatic Exercise dan McKenzie Exercise dalam
menurunkan disabilitas
pada penderita Discogenic
Low Back Pain. Penelitian ini
menggunakan metode Eksperimental murni dengan randomized
pre-test and post-test design, yang dilaksanakan
di Klinik Fisioterapi RS Borromeus Bandung dan RS Bedah
Melinda Bandung dari 2 Maret
2015 sampai 2 Mei 2015. Sampel
penelitian berjumlah 19
orang yang dibagi dalam 2
kelompok yaitu Kelompok Perlakuan I dengan Aquatic
Exercise 9 orang dan Kelompok Perlakuan II dengan� McKenzie Exercise
10 orang. Alat ukur yang digunakan
adalah Oswestry Disability
Index Hasil pengujian hipotesis
menggunakan Paired
t-test dan Independent t-test.
Hasil uji hipotesis menunjukkan
beda rerata kelompok I adalah 25,9248 �
3,98214, dengan nilai p =
0,001 dan beda rerata kelompok II adalah 16,912 �
4,0873, dengan nilai p =
0,001. Kedua kelompok secara signifikan dapat menurunkan disabilitas dengan nilai p < 0,05. Dan beda rerata antara ke dua kelompok
adalah 8,57193 � 3,66789, dengan
nilai p = 0,032, sehingga
di antara ke dua kelompok ada perbedaan yang signifikan dengan nilai p < 0,05. Kesimpulannya
adalah Aquatic
Exercise dan McKenzie Exercise secara signifikan dapat menurunkan disabilitas pada penderita Discogenic Low Back Pain. Ternyata Aquatic
Exercise lebih baik daripada McKenzie
Exercise dalam menurunkan
disabilitas pada penderita
Discogenic Low Back Pain secara signifikan. Saran peneliti adalah Aquatic Exercise bisa
digunakan sebagai pilihan utama dalam penanganan Discogenic Low Back Pain. Agar bisa dilakukan penelitian multi senter dengan jumlah sampel yang lebih banyak dan waktu yang lebih lama. |
|
Kata kunci: Discogenic Low Back Pain,
Aquatic Exercise, McKenzie Exercise, Oswestry. |
Pendahuluan
LBP adalah perasaan nyeri yang dirasakan pada daerah punggung bawah, dapat merupakan
nyeri lokal maupun nyeri yang menjalar sampai ke tungkai atau
keduanya. Nyeri ini terasa di antara sudut iga terbawah
belakang sampai lipat pantat bawah
yaitu di daerah lumbal atau lumbo-sakral, dan sering disertai dengan penjalaran nyeri ke arah tungkai
dan kaki pada sisi yang sama.
Nyeri merupakan perasaan tidak nyaman yang timbul
oleh suatu
hal, yang pada penerapannya
hanya subjek penderita
nyerilah yang dapat menjelaskan asal
muasal dan/atau tempat dimana
rasa nyeri itu timbul. Secara umum nyeri merupaan perasaan tidak
nyaman yang umumnya memiliki kaitan
dengan kerusakan
jaringan tubuh atau faktor
lain. untuk mengkaji dan mengidentifikasi nyeri klien, maka digunakan skala nyeri.
Salah satu skala nyeri diantaranya menggunkan Numeric Rating Scale (NRS)(Subandi, 2017).
LBP bukan hanya menimbulkan masalah medis tetapi juga akan menimbulkan masalah biopsikososial dan ekonomi yang serius, yang mengganggu aktivitas sehari-hari pasien dan menurunkan kualitas hidupnya bahkan bisa membuat kecacatan
yang permanen (Zhang,
Guo, Guo, & Wu, 2009). Menurut
laporan dari US National Center for Health Statistic,
di Amerika Serikat pengeluaran
untuk biaya pengobatan LBP ini sangat besar yaitu
lebih dari 100 milliar dolar setiap
tahun, belum kerugian tidak langsung akibat berkurangnya produktifitas (Peng,
2013).
Prevalensi LBP cukup besar, 75-93% manusia dewasa sudah pernah
mengalami LBP semasa hidupnya, dan paling banyak pada usia 45-64 tahun sebanyak 90% dan diatas 84 tahun sebanyak93% (Andersson,
1999). Dari semua
pasien yang menderita LBP,
paling tidak ada 39 - 45%
di antaranya akibat dari gangguan pada diskusnya atau biasa disebut Discogenic Low Back Pain selanjutnya disingkat DLBP (D
Bliss, 2015).�
Discogenic Low Back Pain (DLBP), adalah tanda atau
gejala yang diakibatkan
oleh degenerasi diskus intervertebralis bagian lumbal, atau gambaran
klinis yang terjadi akibat adanya perubahan
proses degenerasi pada diskus
intervertebralis lumbal� bagian dalam anulus fibrosus (Peng,
2013). Kerusakan
diskus bagian dalam akibat adanya
perubahan-perubahan proses degenerasi
sering dikaitkan dengan proses penuaan, kesalahan dalam beraktivitas atau trauma.
Nyeri dapat disebabkan
adanya iritasi jaringan lunak yang sensitive akibat kerusakan diskus intervertebralis, tanpa adanya penekanan
saraf. Sumber nyeri berasal dari
sepertiga bagian luar anulus fibrosus, tetapi kadang meluas sampai
ligamen longitudinal posterior, duramater
atau dural sleeve yang mendapat persarafan dari nervus sinuvertebralis,
yang mengandung banyak nosiseptor. Hal inilah yang menimbulkan nyeri atau ketidakmampuan dalam aktivitas tertentu terutama bila posisi fleksi
pinggang. Tampak dari luar diskus
masih terlihat utuh, tetapi diskus
itu sendiri terjadi kerusakan di bagian dalamnya akibat adanya robekan
dari sisi dalam annulus fibrosus (d�application
au Qu�bec, n.d.).
Nyeri akibat DLBP secara
spesifik terasa di bagian tengah punggung
bawah, terutama apabila ada tekanan
aksial pada tulang belakang. Kadang kala nyeri menjalar sampai ke paha
sesuai distribusi segmennya tetapi berbeda dengan area dermatomnya. Nyeri discogenic
merupakan gejala-gejala nyeri yang menjalar dari satu atau
lebih segment lumbal-sakral
sesuai area segmentasinya tanpa defisit neurologis
(d�application
au Qu�bec, n.d.). Nyeri ikutan dapat berasal
dari otot yang spasme sebagai reaksi pertahanan, guarding spasm, yang menimbulkan
asidosis atau iskemik lokal dan diikuti visciouse circle rangkaian nyeri-spasme-nyeri. Akibat lanjut dari
nyeri ini dapat menimbulkan perubahan postur vertebra lumbal yang datar atau deviasi, yang keduanya menimbulkan dorongan nukleus ke satu sisi
hingga menimbulkan nyeri lanjutan. Dampak dari iritasi
bila fleksi, nyeri, dan gangguan postur tersebut dapat menimbulkan disabilitas (Lubenow
& Rathmel, 2005).
Penatalaksanaan untuk DLBP
sangat beragam, tetapi prinsip dasar dan tujuan utama dari penangan
ini adalah untuk mengurangi nyeri akibat kerusakan
diskus, mengurangi pembebanan pada diskus dan memperbaiki postur tulang belakang(Joshua,
2010). Semua
guidelines dan penelitian
menyarankan terapi latihan sebagai salah satu metode untuk
menangani DLBP. Bentuk terapi latihan untuk� penanganan
DLBP yang efektif masih menjadi pembahasan dikalangan profesional dan akademisi.
Aquatic exercise mempunyai
banyak keuntungan yang mana
pada kondisi tertentu tidak mungkin didapat
bila dilakukan di darat. Pada patologi diskus diuntungkan dengan kurangnya beban intradiskal, rasa nyaman, dan stabilitas vertebra saat latihan dalam
air. Latihan yang dilakukan dapat
didesain untuk mobilisasi diskus ke anterior dan memberbaiki satabilitas dan feksibilitas punggung. Efek-efek biologis dan fisiologis latihan di dalam air diakibatkan dari sifat air itu sendiri,
yaitu; densitas dan gravitasi, tekanan hidrostatik, buoyancy,
viskositas, dan termodinamik
(Joshua,
2010). Dengan
adanya pengaruh sifat-sifat air maka pelatihan yang dilakukan di dalam air akan memberikan efek mengurangi nyeri, spasme otot dan dekompresi langsung pada diskus serta akan
memberikan efek dekompresi dan stabilitas akibat terlatihnya otot-otot perut dan punggung terutama core stability. Dengan
berkurangnya nyeri dan pembebanan pada diskus maka aktivitas yang dilakukanakan menjadi lebih baik (Kisner
& Colby, 2012).
Latihan metode McKenzie adalah
sebuah latihan yang spesifik untuk tulang belakang yang dikembangkan oleh Robin McKenzie, seorang
fisioterapis yang berasal dari New Zealand pada tahun
1950-an. Kemudian pada tahun
1981 ia mengenalkan sebuah konsep yang dikenal dengan Mechanical
Diagnosis and Treatment (MDT), yaitu sebuah sistem yang menitikberatkan pada Assesment,
Diagnosis, and Treatment for spine and extremity (Lehmann
& Romano, 2006). Klasifikasi
metode McKenzie adalah; sindroma postural, sindroma disfungsi, dan sindroma derangemen (Abady,
Rosedale, Overend, Chesworth, & Rotondi, 2014). McKenzie Exercise didisain untuk koreksi postur
lebih lordosis untuk menghambat pergeseran nucleus ke dorsal, gerakan ekstensi dipilih untuk mobilisasi diskus ke anterior. Apabila latihan dilakukan secara teratur dan benar dalam waktu yang relatif lama akan meningkatkan kekuatan dan daya tahan otot
sebagai stabilisasi aktif, sehingga tubuh akan lebih
tahan terhadap perubahan gerakan dan pembebanan statis atau dinamis (Brown,
Brandel, Preese, & Sato, 2006).
Dampak dari DLBP ini diukur dengan
Oswestry Disability Index (ODI) yang sudah dimodifikasi dalam Bahasa Indonesia.
Rumusan masalah
penelitian ini yaitu :
1) Apakah Aquatic
Exercise dapat menurunkan
disabilitas pada penderita discogenic low back pain? 2) Apakah McKenzie Exercise dapat
menurunkan disabilitas pada
penderita discogenic
low back pain? 3)
Apakah ada perbedaan antara Aquatic
Exercise dengan McKenzie Exercise dalam menurunkan disabilitas pada penderita Discogenic Low Back Pain?
Tujuan penelitian ini adalah : 1) Membuktikan Aquatic Exercise dalam menurunkan disabilitas pada penderita discogenic
low back pain. 2)
Membuktikan McKenzie Exercise dalam menurunkan disabilitas pada penderita discogenic low back pain. 3) Membuktikan �perbedaan antara
Aquatic Exercise dengan McKenzie Exercise dalam
menurunkan disabilitas pada
penderita Discogenic
Low Back Pain.
Metode Penelitian
��������� Penelitian ini
adalah studi eksperimental dengan rancangan Randomized
Pre and Post test Design. Jumlah
sampel 19 orang dibagi menjadi 2 kelompok. Kelompok I sejumlah 9 orang mendapat Perlakuan Aquatic Exercise dan Kelompok
II 10 orang dengan Perlakuan
McKenzie Exercise, kemudian tiap kelompok
diobservasi.
Hasil dan Pembahasan
A.
Hasil Penelitian
1.
Karakteristik Subjek Penelitian
Tabel
1
Karakteristik Sampel
|
Karakteristik sampel |
Kelompok perlakuan I Aquatic
Exercise (n=9) |
Kelompok Perlakuan II McKenzie Exercise
(n=10) |
|
Rerata � SB |
Rerata � SB |
|
|
Umur (thn) TB (cm) BB (kg) IMT (kg/m2)
|
62,11 � 7,39 156,33 � 6,16 67,67 � 6,8 27,43 � 1,44 |
61 � 12,16 161,5 � 7,15 69,3 � 4,12 26,26 � 1,32 |
Tabel 1 menunjukkan bahwa karakteristik umur, tinggi badan, berat badan, dan Indeks Masa Tubuh relatif hampir
sama dan tidak ada perbedaan yang begitu berarti pada ke dua kelompok.
Jumlah sampel total adalah 19 orang yang terbagi menjadi dua kelompok
secara acak, yaitu Kelompok Perlakuan I Aquatic
Exercise dengan 9 sampel
dan Kelompok Perlakuan II McKenzie Exercise dengan
10 sampel. Pada Kelompok Perlakuan I sampel semula adalah 10 orang, tetapi terdapat satu sampel yang tidak bisa melanjutkan
terapi setelah terapi ke tiga
dan dinyatakan drop
out dari penelitian.
Umur subjek pada Kelompok Perlakuan I reratanya adalah 62,11 tahun dengan rentang
antara 50-71 tahun, sedangkan pada Kelompok Perlakuan II mempunyai rerata 62,66 tahun dengan rentang antara 40-75 tahun.
Indek Masa Tubuh ke dua kelompok
di atas normal, hal ini terlihat dari
IMT meraka rerata 27,43
kg/m2 dengan rentang
24,76-29,29 kg/m2 untuk Kelompok Perlakuan I dan untuk Kelompok Perlakuan II mempunyai rerata 26,26 kg/m2 dengan
rentang 24,33-28,76 kg/m2.
Tabel 2 memperlihatkan gambaran karakteristik jenis kelamin sampel,
di mana jumlah sampel perempuan lebih banyak dibandingkan laki-laki pada ke dua kelompok. Pada Kelompok Perlakuan I jumlah perempuan 6 orang (66,7%)
dan laki-laki 3 orang (33,3%), sedangkan
pada Kelompok Perlakuan II jumlah sampel perempuan
6 orang (60%) dan laki-laki 4 orang (40%). Total sampel perempuan berjumlah 12 orang (63,16%) dan laki-laki
berjumlah 7 orang (36,84%).
Tabel 2
Jenis Kelamin
Subjek
|
Sampel |
Kelompok Perlakuan I Aquatic Exercise |
Kelompok Perlakuan II McKenzie Exercise |
Total |
|||
|
n |
% |
N |
% |
n |
% |
|
|
Laki-laki Perempuan |
3 6 |
33,3 66,7 |
4 6 |
40 60 |
7 12 |
36,84 63,16 |
|
Jumlah |
9 |
100 |
10 |
100 |
19 |
100 |
2.
Deskripsi Pengukuran Disabilitas
Analisis Deskriptif Pengukuran ODI Sebelum dan Sesudah Perlakuan Kedua Kelompok
|
Skor ODI |
Kelompok Perlakuan I Aquatic Exercise |
Kelompok Perlakuan II McKenzie Exercise |
|
Rerata � SB |
Rerata � SB |
|
|
Sebelum Sesudah Selisih |
55,95 �
4,6 30,02 �
7,51 25,92 �
3,98 |
55,51 �
5,57 38,59 �
8,38 16,91 �
4,09 |
Tabel 3 memperlihatkan pada Kelompok Perlakuan I skor Oswestry Disability Index (ODI) sebelum ada perlakuan
Aquatic Exercise rerata
55,95 dengan simpangan baku 4,6, dan setelah ada perlakuan Aquatic Exercise rerata
30,02 dengan simpangan baku 7,51, jadi selisih antara sebelum dan sesudah perlakuan adalah 25,92 dengan simpangan baku 3,98. Sedangkan pada Kelompok Perlakuan II skor ODI sebelum ada perlakuan McKenzie Exercise rerata 55,51 dengan simpangan baku 5,57, dan setelah ada perlakuan
McKenzie Exercise rerata 38,59 dengan
simpangan baku 8,38, jadi selisih antara
sebelum dan sesudah perlakuan adalah 16,91 dengan simpangan baku 4,09.
3.
Uji Normalitas
dan Homogenitas
Uji normalitas dan uji homogenitas
data skor ODI ke dua kelompok sebelum
dan sesudah perlakuan dilakukan sebelum kita melakukan uji statistik lebih lanjut. Pada penelitian ini uji normalitas yang digunakan adalah uji Shapiro Wilk karena
jumlah sampel kurang dari 30 dan uji homogenitas yang digunakan adalah uji Levene�s Test, seperti yang tampak pada tabel 4.
Tabel 4
Uji Normalitas dan Uji Homogenitas
|
Skor ODI |
Uji Normalitas (Shapiro
Wilk) |
Uji Homogenitas (Lavene�s Test) |
|
|
Kelompok Perlakuan I Aquatic Exercise |
Kelompok Perlakuan II McKenzie Exercise |
||
|
Sebelum Sesudah Selisih |
0,72 0,55 0,28 |
0,26 0,45 0,54 |
0,73 |
Tabel 4 menunjukkan uji normalitas dengan Shapiro Wilk pada Kelompok
I sebelum ada perlakuan Aquatic
Exercise nilai p = 0,72 lebih
besar dari 0,05 (p >
0,05) yang berarti data berdistribusi
normal. Uji Shapiro Wilk Kelompok II sebelum ada perlakuan
McKenzie Exercise nilai
p = 0,26 lebih besar dari 0,05 (p > 0,05). Uji Shapiro Wilk sesudah perlakuan
pada Kelompok Perlakuan I nilai p = 0,55 dan pada Kelompok Perlakuan II nilai p = 0,45, ke duanya kurang
dari 0,005 (p > 0,05). Hasil tersebut
menunjukkan bahwa data tersebut berdistribusi normal.
Hasil uji Shapiro Wilk selisih sebelum dan sesudah perlakuan pada ke dua kelompok
nilai p lebih besar dari 0,05 (p > 0,05), berarti data tersebut juga berdistribusi normal.
Uji homogenitas dengan
Levene�s Test sebelum perlakuan nilai p = 0,73, nilai ini lebih
besar dari 0,05 (p >
0,05) yang berarti data ini
adalah homogen.
4.
Uji Beda Sebelum dan Sesudah Perlakuan Dua Kelompok
Uji beda ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan rerata skor ODI pada kasus Discogenic Low
Back Pain (DLBP) sebelum dan sesudah
perlakuan pada Kelompok I
dan Kelompok II. Karena distribusi
data normal dan homogen maka
untuk mengetahui perbedaan skor ODI sebelum dan sesudah perlakuan digunakan uji beda Paired t-test
seperti pada tabel 5.
Tabel
5
Uji Beda sebelum
dan sesudah perlakuan (Paired t-test)
|
Skor ODI |
Sebelum |
Sesudah |
Beda |
Nilai p |
|
Rerata � SB |
Rerata � SB |
Rerata � SB |
||
|
Kelompok I Kelompok II |
55,95 � 4,6 55,51 � 5,57 |
30,02 � 7,51 38,59 � 8,38 |
25,92 � 3,98 16,91 � 4,09 |
0,00 0,00 |
Tabel 5 memperlihatkan perbedaan rerata skor ODI antara sebelum dan sesudah perlakuan Aquatic
Exercise pada Kelompok I dengan
beda rerata 25,92 dengan simpangan baku 3,98 dan nilai p = 0,001 (p
< 005), berarti Ho ditolak
dan Ha diterima. Hasilnya adalah Aquatic
Exercise secara signifikan
dapat menurunkan disabilitas pada penderita Discogenic Low Back Pain.
Perbedaan rerata skor ODI antara sebelum dan sesudah perlakuan Aquatic
Exercise pada Kelompok II dengan
beda rerata 16,91 dengan simpangan baku 4,09 dan nilai p = 0,001 (p <
005) berarti Ho ditolak dan
Ha diterima. Hasilnya adalah McKenzie
Exercise secara signifikan
dapat menurunkan disabilitas pada penderita Discogenic Low Back Pain.
5.
Uji Beda Sesudah Perlakuan
Karena distribusi data ke dua kelompok
normal dan homogen maka untuk mengetahui perbedaan skor ODI sesudah perlakuan antara Kelompok Perlakuan I Aquatic
Exercise dengan Kelompok
Perlakuan II McKenzie
Exercise digunakan uji beda
Independent t-test. Data dapat dilihat pada tabel 6.
Tabel 6
Uji Beda skor ODI sesudah Perlakuan Aquatic Exercise dan McKenzie Exercise (Independent t-test)
|
ODI |
Sesudah� Perlakuan I |
Sesudah� Perlakuan II |
Beda |
Nilai p |
|
Rerata � SB |
Rerata � SB |
Rerata � SB |
||
|
Skor |
30,02 � 7,51 |
38,59 � 8,38 |
8,57 � 3,67 |
0,032 |
Tabel 6 memperlihatkan perbedaan rerata skor ODI sesudah perlakuan antara Kelompok Perlakuan I Aquatic Exercise dengan
Kelompok Perlakuan II McKenzie Exercise dengan
beda rerata 8,57 dengan simpangan baku 3,67 dan nilai p = 0,032 (p
< 005) Ho ditolak dan Ha diterima.
Hasilnya adalah ada perbedaan yang signifikan antara Aquatic Exercise dan McKenzie Exercise dalam
menurunkan Disabilitas pada
penderita Discogenic
Low Back Pain. Jadi Aquatic Exercise lebih
baik daripada McKenzie Exercise dalam
menurunkan Disabilitas pada
penderita Discogenic
Low Back Pain.
B.
Pembahasan
1.
Karakteristik Subjek Penelitian
Jumlah subjek pada penelitian ini sebanyak 19 orang yang menderita Discogenic Low Back Pain yang memenuhi kriteria inklusi. Subjek secara acak dibagi
menjadi dua kelompok, yaitu Kelompok Perlakuan I adalah kelompok yang mendapatkan perlakun dengan Aquatic
Exercise dan Kelompok Perlakuan
II adalah kelompok yang mendapatkan perlakuan dengan McKenzie
Exercise. Kelompok Perlakuan
I mempunyai subjek 9 orang terdiri dari 6 perempuan dan 3 laki-laki. Kelompok Perlakuan II mempunyai subjek 10 0rang yang terdiri dari 6 orang permpuan dan 4 orang laki-laki.�
Usia penderita yang menjadi subjek penelitian ini berkisar antara 40 � 75 tahun dengan rerata
62,11 � 7,39. Kondisi ini hampir sama dengan
dengan yang dilaporkan oleh
Peng, 2013; Kalleward et al., 2010; Zhang et al.,
2009; Haldemen et al., 2002; Anderson 1999, yang mengatakan
bahwa penderita discogenic LBP seringnya
menyerang orang dewasa tua. Usia dilaporkan
berhubungan erat dengan proses degenerasi diskus intervertebralis yang merupakan salah satu faktor internal penyebab terjadinya discogenic
LBP (Zhang
et al., 2009), (Peng,
2013), (Kallewaard
et al., 2010), (Bernard,
Kirkaldy-Willis, & Haldeman, 2002).
Jumlah subjek wanita
yang pada penelitian ini sebanyak 12 orang (63,16%) dan pria
sebanyak 7 orang (36,84%). Keadaan
seperti ini hampir sama dengan
penelitian-penelitian sebelumnya
yang mengemukakan bahwa wanita lebih banyak
mdenderita discogenic
LBP dibandingkan dengan laki-laki (Zhang
et al., 2009), (Andersson,
1999), (Kallewaard
et al., 2010), (Bernard
et al., 2002). Wanita lebih rentan terkena
discogenic LBP dikarenakan
banyak faktor antara lain wanita lebih cepat mengalami
degenerasi termasuk degenerasi diskus intervertebralis dibandingkan laki-laki terutama setelah mereka mengalami menopause (Banton,
CMPT, & Bending, 2012). Di samping itu
wanita cenderung mempunyai postur yang kurang baik akibat
kebiasaannya memakai sepatu berhak tinggi,
aktivitas keseharian rumah tangga, menggendong
anak, dan aktivitas lainnya 15. Wanita juga pernah
mengalami hamil dan melahirkan kadang kala lebih dari satu
kali yang akan beresiko terjadi perubahan postur tubuh dan kelemahan otot-otot dasar panggul (core stability), kondisi
demikian akan terjadi peningkatan penekanan di diskus intervertebralis (Baines
& Murphy, 2010).
Faktor kegemukan memang berpengaruh pada kejadian discogenic LBP, hal ini relevan dengan
penelitian ini. Sampel yang menjadi penelitian ini mempunyai rerata IMT = 26,81 Simpang Baku 1,47 dengan rentang antara 24,33 � 29,29.
Pada penelitian ini hanya ada 2 subjek
yang mempunyai nilai IMT
normal, selebihnya nilai
IMT mereka di atas 24,9.
Hasil ini memperlihatkan bahwa kegemukan bisa menjadi faktot
pemicu terjadinya discogenic LBP. Menurut
penelitian Maestretti et al, Kalleward
et al, dan McKenzie, kegemukan akan menyebabkan peningkatan beban di dalam diskus intervertebralis (Kallewaard
et al., 2010) (Abady et
al., 2014) (Maestretti
et al., 2011). Di samping
itu kegemukan juga mengidentifikasikan kalau masa lemaknya lebih banyak, kekuatan otot tubuhnya cenderung
turun termasuk otot-otot trunk terutama otot-otot core stability,
dan postur tubuh cenderung berubah juga (Abady
et al., 2014).
2.
Penurunan Disabilitas dengan
Aquatic Exercise pada DLBP
Berdasarkan uji paired t-test pada penelitian ini dilaporkan bahwa beda rerata
sebelum dan sesudah dilakukan tindakan Aquatic Exercise 25,92 dengan simpang baku 3,98 dan nilai p < 0,05, berarti Ho ditolak dan Ha diterima. Jadi hasil penelitian ini adalah Aquatic
Exercise secara signifikan
dapat menurunkan disabilitas pada penderita Discogenic Low Back Pain. Kondisi penurunan disabilitas ini akibat dari program latihan dan sifat air itu sendiri.
Hasil ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan Invield et al, pada 33 pasien
ibu hamil yang menderita sakit pinggang di Australia Selatan menyatakan
bahwa aquatic
physiotherapy secara signifikan
bisa mengurangi nyeri dihitung dengan Numerical
Rating Scale (NRS). Sjorgen et al, yang meneliti 60 pasien dengan 30 pasien dilakukan aquatic exercise dan 30 pasien lagi dilakukan
latihan di darat, didapatkan hasil ke dua perlakuan
tersebut secara bermakna dapat meningkatkan kemampuan fungsionalnya 18. Robert & Freeman dalam penelitiannya, mereka meneliti manfaat Hidroterapi pada beberapa kasus LBP dengan jumlah subjek
8 orang dengan kasus Intervertebral Disc Disease, hasilnya ada perbaikan
yang sangat signifikan (Roberts
& Freeman, 1995).
Hasil penurunan disabilitas
ini karena Aquatic exercise mempunyai
banyak keuntungan yang mana
pada kondisi tertentu tidak mungkin didapat
bila latihan dilakukan di darat. Pada kondisi patologi diskus, saat pasien
masuk dalam kolam diuntungkan dengan kurangnya beban intradiskal, rasa nyaman, peningkatan sirkulasi darah pada diskus, dan memudahkan pergerakan sekaligus meningkatkan stabilitas vertebra saat latihan dalam
air. Latihan yang dilakukan berfungsi
untuk mobilisasi diskus ke anterior, meningkatkan sirkulasi dalam diskus intervertebralis,
meningkatkan kekuatan otot-otot trunk terutama core stability dan memperbaiki
stabilitas punggung secara bertahap tanpa ada beban
yang berarti di diskus intervertebralis. Efek-efek biologis dan fisiologis latihan di dalam air juga diakibatkan dari sifat air, yaitu; densitas dan gravitasi, tekanan hidrostatik, buoyancy, viskositas,
dan termodinamik (Kisner
& Colby, 2012). Semua
manfaat tersebut di atas mengakibatkan nyeri berkurang, meningkatkan kekuatan otot-otot trunk
dan memperbaiki postur, sehingga mengurangi disabilitas. Dengan demikian akan meningkatkan
kualitas hidup manusia itu sendiri.
3.
Penurunan Disabilitas dengan
McKenzie Exercise pada DLBP
Berdasarkan uji paired t-test pada penelitian ini dilaporkan bahwa beda rerata
sebelum dan sesudah dilakukan tindakan McKenzie Exercise 16,91 dengan simpang baku 4,09 dan nilai p = 0,001 (p
< 005), berarti Ho ditolak
dan Ha diterima. Jadi hasil
penelitian ini adalah McKenzie
Exercise secara signifikan
dapat menurunkan disabilitas pada penderita Discogenic Low Back Pain. Kondisi penurunan disabilitas ini karena konsep Mechanical Diagnosis and Treatment (MDT)
yang memobilisasi diskus intervertebralis lumbal ke anterior.
Hasil ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan Machado et
al, dalam penelitian
meta analisisnya mengungkapkan
bahwa pemberian McKenzie Exercise lebih
efektif dibandingkan dengan, latihan pasif, massage, kompres es, strengthening exercise, dan education booklet (Machado,
De Souza, Ferreira, & Ferreira, 2006). Tilaro, juga mengungkapkan
bahwa pemberian McKenzie Exercise bisa
mengurangi tekanan diskus intervertebralis diukur dengan diskogram (Shealy
& Borgmeyer, n.d.).
Hasil penurunan tersebut
bisa terjadi karena proses sentralisasi diskus intervertebralis dengan metode McKenzie Exercise. Pada posisi ekstensi yang dipertahankan dalam 6 -10 detik akan diperoleh
peregangan pada jaringan lunak bagian anterior yaitu ligament anterior sehingga akan mengembalikan posisi spine pada posisi ekstensi/lordosis. Hal ini merupakan suatu counter posisi
yang menimbulkan dorongan diskus ke anterior. Pada otot yang spasme akan terjadi pelemasan
(relaksasi) oleh peregangan
yang intermiten dan kontinyu
terhadap otot antagonis. Pelemasan ini terjadi karena
adanya peregangan yang akan merangsang golgi tendon sehingga terjadi reflek relaksasi otot yang bersangkutan. Peregangan intermiten akan memperbaiki mikro sirkulasi oleh mekanisme pumping action sehingga
mengurangi iritasi pada saraf afferen yang menimbulkan reflek peningkatan tonus otot. Selanjutnya terjadi penekanan diskus ke sisi anterior, sehingga akan didapat
gaya tangensial yang mendorong nukleus ke ventral. Akibat adanya gerak dinamis
ekstensi yang dilakukan berulang dapat meningkatkan cairan diskus dan korpus yang kemudian akan menurunkan
viskositas nucleus pulposus dan dapat
mengurangi iritasi terhadap jaringan sekitarnya (Abady
et al., 2014). Kondisi
seperti ini membuat nyeri berkurang
dan postur menjadi lebih baik, sehingga
aktifitas fungsional dapat lebih ditingkatkan.
4.
Beda antara
Aquatic Exercise dan McKenzie Exercise dalam menurunkan Disabilitas pada DLBP
Hasil analisis penelitian
dengan Independent
t-test menunjukkan perbedaan
rerata skor ODI sesudah perlakuan antara Kelompok Perlakuan I Aquatic
Exercise dengan Kelompok
Perlakuan II McKenzie
Exercise beda rerata
8,57 dengan simpangan baku 3,67 dan nilai p = 0,032 (p
< 005), berarti Ho ditolak
dan Ha diterima. Hasilnya adalah ada perbedaan
yang bermakna antara Aquatic Exercise dan McKenzie Exercise dalam
menurunkan Disabilitas pada
penderita Discogenic
Low Back Pain. Berarti Aquatic Exercise lebih baik daripada McKenzie Exercise dalam
menurunkan disabilitas pada
penderita Discogenic
Low Back Pain.
Hasil penelitian ini mungkin agak berbeda
dengan beberapa pendapat para peneliti lain. Sjorgen et al, yang meneliti
60 pasien LBP dengan 30 pasien dilakukan aquatic exercise dan 30 pasien lagi dilakukan
latihan di darat, didapatkan hasil ke dua perlakuan
tersebut secara bermakna dapat meningkatkan kemampuan fungsionalnya, tetapi jika keduanya dibandingkan
tidak ada perbedaan yang bermakna (Ramos-Casals
et al., 2008). Dalam
penelitian ini tidak dijelaskan LBP yang diskogenik atau bukan, dan latihannya tidak spesifik metode McKenzie
Exercise. Yozbatiran et al, meneliti 30 pasien
LBP kronis dengan 15 pasien Aquatic Exercise dan 15 pasien
Land-Based Exercise, hasilnya ke
dua perlakuan tersebut secara bermakna dapat menurunkan nyeri (VAS), tetapi jika ke
duanya dibandingkan tidak ada perbedaan
yang bermakna (Ratu,
2018).
Adanya perbedaa hasil ini kemungkinan
karena belum ada penelitian yang benar-benar membandingkan
variable-variabel yang sama
persis. Jadi peneliti belum menemukan hasil penelitian yang membandingkan antara Aquatic Exercise dengan
McKenzie Exercise dan diukur dengan Oswestry Disability Index. Selain itu jenis latihan
Aquatic Exercise dan Base Land Exercise berbeda
dengan yang dilakukan dalam penelitian ini. Usia sampel
yang tidak seragam kemungkinan bisa menjadi perbedaan hasil pada penelitian ini. Usia sampel
pada penelitian Sjorgen et al, 20 � 80 tahun,
dan Yozbatiran et
al, 18 � 40 thn (Ramos-Casals
et al., 2008) (Yozbatiran,
Yildirim, & Parlak, 2004).
Hasil penelitian lain yang mendukung
penelitian ini antara lain, Mohannand et al, yang meneliti
30 pasien LBP kronis dengan 15 pasien Aquatic Exercise dan 15 pasien Land Based
Exercise. Hasilnya kedua
perlakuan tersebut secara bermakna dapat mengurangi nyeri, meningkatkan fleksibilitas dan kemampuan fungsionalnya. Jika ke duanya dibandingkan kelompok Aquatic
Exercise lebih baik secara signifikan dengan tiga parameter yaitu nyeri, fleksibilitas
dan fungsional (diukur dengan VAS, Scobber Test, McGilln Pain Questionnaire, dan Barthel Index) (Ratu,
2018). Dalam
penelitian ini juga tidak dijelaskan LBP akibat discogenic atau bukan, dan jenis latihannya berbeda.
Hasil penelitian ini mengungkapkan bahwa Aquatic Exercise lebih
baik daripada McKenzie Exercise dalam
menurunkan Disabilitas pada
penderita Discogenic
Low Back Pain. Menurut peneliti
hal ini bisa
terjadi karena manfaat langsung dari sifat mekanis
dan fisis dari air tersebut serta karena manfaat dari program pelatihan Aquatic Exercie
itu sendiri. Semua manfaat tersebut
di atas mengakibatkan nyeri dan spasme berkurang, kekuatan otot-otot trunk meningkat, sirkulasi lokal meningkat, stabilitas dan fleksibilitas trunk meningkat dan
memperbaiki postur, sehingga akan mengurangi
disabilitas. Dengan demikian akan meningkatkan
kualitas hidup manusia itu sendiri.
Apabila dibandingkan,
semua manfaat McKenzie Exercise bisa
didapat di Aquatic
Exercise, sedangkan manfaat
Aquatic Exercise tidak
semuanya bisa didapat pada McKenzie
Exercise. Pada McKenzie Exercise tidak didapatkan penguatan otot-otot trunk sebaik Aquatic
Exercise dan tidak didapat
efek dekompresi dan pengurangan nyeri langsung pada diskus intervertebralis.
Kelemahan pada penelitian
ini adalah waktu yang kurang lama dan jumlah sampel yang kurang banyak. Kalau waktu penelitian
lebih lama kemungkinan besar akan didapatkan
hasil yang lebih baik. Sedangkan dengan jumlah sampel
yang banyak akan lebih menguatkan lagi keterwakilan populasinya. Peneliti belum menemukan hasil penelitian sebelumnya yang membadingkan subjek dengan variabel
dan prosedur yang sama dengan penelitian ini. Peneliti agak
kesulitan dalam mengontrol variable-variabel pengganggu, misalnya pola aktifitas setiap individu dan jenis kegiatan sehari-hari setiap subjek.
Kesimpulan
��������� Berdasarkan uraian dan pembahasan di atas, maka peneitian
ini dapat disimpulkan sebagai berikut :
1. Aquatic Exercise dapat menurunkan
disabilitas pada penderita discogenic low back pain.
2. McKenzie Exercise dapat menurunkan
disabilitas pada penderita discogenic low back pain.
3. Aquatic exercise lebih baik daripada
McKenzie Exercise dalam
menurunkan disabilitas pada
penderita discogenic
low back pain.
BIBLIOGRAFI
Abady,
A. H., Rosedale, R., Overend, T. J., Chesworth, B. M., & Rotondi, M. A.
(2014). Inter-examiner reliability of diplomats in the mechanical diagnosis and
therapy system in assessing patients with shoulder pain. Journal of Manual
& Manipulative Therapy, 22(4), 199�205.
Andersson,
G. B. J. (1999). Epidemiological features of chronic low-back pain. The
Lancet, 354(9178), 581�585.
Baines,
S., & Murphy, S. (2010). Aquatic Exercise for Pregnancy. Keswick: M
& K Publishing.
Banton,
R. A., CMPT, A. T. C., & Bending, L. (2012). Biomechanics of the spine. Journal
of The Spinal Research Foundation FALL, 7(2), 12.
Bernard,
T. N., Kirkaldy-Willis, W. H., & Haldeman, S. D. (2002). An Atlas of
Back Pain (Encyclopedia of Visual Medicine Series). Parthenon Publishing Group.
Brown,
P., Brandel, J.-P., Preese, M., & Sato, T. (2006). Iatrogenic Creutzfeldt�Jakob
disease: the waning of an era. Neurology, 67(3), 389�393.
d�application
au Qu�bec, P. (n.d.). Filetest respiratoire � l�ur�e marqu�e au 13C pour la
d�tection de Helicobacter pylori.
D
Bliss, J. (2015). Incidence of Adjacent segment degeneration following
single level fusion and single level discectomy and single level
instrumentation fusion: A Comparative study. Christian Medical College,
Vellore.
Joshua,
D. A. (2010). Effectiveness of Symptom Guided Therapeutic Approach in Treating
Discogenic Pain with Radiculopathy Using a Combination of Directional
Preference Exercises, Mobilisation and Neural Mobility Exercises�A Case Report.
Proceedings of Singapore Healthcare, 19(3), 263�270.
Kallewaard,
J. W., Terheggen, M. A. M. B., Groen, G. J., Sluijter, M. E., Derby, R.,
Kapural, L., � Van Kleef, M. (2010). 15. Discogenic low back pain. Pain
Practice, 10(6), 560�579.
Kisner,
C., & Colby, L. A. (2012). Therapeutic Exercise: Foundation and
techniques 6 th edition, FA Davis Company. USA.
Lehmann,
E. L., & Romano, J. P. (2006). Testing statistical hypotheses.
Springer Science & Business Media.
Lubenow,
T. R., & Rathmel, J. P. (2005). Let�s take a rational approach to technical
training in pain medicine. ASA Newsletter, 69(8), 6�8.
Machado,
L. A. C., De Souza, M. V. S., Ferreira, P. H., & Ferreira, M. L. (2006).
The McKenzie method for low back pain: a systematic review of the literature
with a meta-analysis approach. Spine, 31(9), E254�E262.
Maestretti,
G., Reischl, N., Jacobi, M., Wahl, P., Otten, P., Bihl, T., & Balagu�, F.
(2011). Treatment of discogenic low back pain by total disc arthroplasty using
the Prodisc prosthesis: analysis of a prospective cohort study with five-year clinical
follow-up. The Open Spine Journal, 3(1).
Peng,
B.-G. (2013). Pathophysiology, diagnosis, and treatment of discogenic low back
pain. World Journal of Orthopedics, 4(2), 42.
Ramos-Casals,
M., Solans, R., Rosas, J., Camps, M. T., Gil, A., del Pino-Montes, J., � Beltr�n,
J. (2008). Primary Sj�gren syndrome in Spain: clinical and immunologic
expression in 1010 patients. Medicine, 87(4), 210�219.
Ratu,
J. M. (2018). Ergo-Physiology Decreases Work Postur Risk and LBP in Red Land
Workers in Bosen Village, North Mollo Sub-District, South Central Timor
District. Logic: Jurnal Rancang Bangun Dan Teknologi, 18(3), 92�97.
Roberts,
J., & Freeman, J. (1995). Hydrotherapy management of low back pain: a quality
improvement project. Australian Journal of Physiotherapy, 41(3),
205�208.
Shealy,
C. N., & Borgmeyer, V. (n.d.). DECOMPRESSION RESEARCH.
Subandi,
E. (2017). Pengaruh Mobilisasi Dini Terhadap Tingkat Nyeri Pada Pasien Post
Operasi Sectio Caesarea Di Ruang Melati Rsud Gunung Jati Kota Cirebon Tahun
2017. Syntax Literate; Jurnal Ilmiah Indonesia, 2(5), 58�74.
Yozbatiran,
N., Yildirim, Y., & Parlak, B. (2004). Effects of fitness and aquafitness
exercises on physical fitness in patients with chronic low back pain. The
Pain Clinic, 16(1), 35�42.
Zhang,
Y., Guo, T., Guo, X., & Wu, S. (2009). Clinical diagnosis for discogenic
low back pain. International Journal of Biological Sciences, 5(7),
647.