Jurnal Syntax Transformation

Vol. 2 No. 10, Oktober 2021

p-ISSN : 2721-3854 e-ISSN : 2721-2769

Sosial Sains

 

KARAKTERISTIK SISTEM INFORMASI AKUNTANSI MANAJEMEN TERHADAP KINERJA ORGANISASI DENGAN DESENTRALISASI SEBAGAI VARIABEL MODERATING

 

Meksa Alberian, Bonang Pamungkas Purbananda

Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Cenderawasih Jayapura, Indonesia      

Email: alberianmeksa1981@gmail.com, boopamungkas@gmail.com

 

INFO ARTIKEL

ABSTRAK

Diterima

22 September 2021

Direvisi

14 Oktober 2021

Disetujui

20 Oktober 2021

Sistem  Informasi  Akuntansi  Manajemen  (SIAM)  adalah suatu  sistem informasi yang bertujuan untuk meningkatkan kinerja. Rumah sakit merupakan salah satu instansi yang bergerak dibidang kesehatan, dan secara khusus memberikan pelayanan publik bagi masyarakat yang kondisinya sakit. Penelitian ini bertujuan untuk melihat Karakteristik Sistem Informasi Akuntansi berupa Broadscope, Aggregation, Integration dan Timeliness memengaruhi kinerja organisasi dengan desentralisasi sebagai variabel moderasi. Populasi penelitian ini adalah seluruh pimpinan dan staf-staf yang bekerja di Rumah Sakit swasta dan pemerintah kota jayapura. Teknik pengambilan sampel yang digunakan dengan menggunakan  purposive sampling, sehingga menghasilkan 55 sampel. Teknik analisis data yang digunakan untuk menguji Hipotesis dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan warpPLS 6.0 dan analisis SEM Equation. Hasil penelitian menunjukkan bahwa, broadscope dan aggregation berpengaruh positif terhadap kinerja organisasi, namun integration dan timeliness tidak berpengaruh positif terhadap kinerja organisasi. Untuk variabel desentralisasi (moderating), desentralisasi tidak memoderasi karakteristik broadscope, aggregation dan timelines. Namun desentralisasi memoderasi negatif terhadap karakteristik integration.

 

ABSTRACT

Management Accounting Information System (MAIS) is organization improvement information system. Hospital are one health care system, and specially provide public service to sick communities. This research aims to see the Characteristics of Accounting Information Systems in the form of Broadscope, Aggregation, Integration and Timeliness affect organizational performance by decentralization as a moderation variable. The population of this study is all leaders and staff who work in private hospitals and jayapura city government. The sampling technique which used was purposive sampling, the resulting in 55 samples. The data analysis technique used to tet hypotheses in the study was by using the warpPLS6.0 and SEM Equation analysis.The results showed that broadscope and aggregation had a positive effect on organizational performance, but integration and timeliness had no positive effect on organizational performance. For decentralized variables (moderating), decentralization does not moderate the characteristics of broadscopes, aggregation and timelines. But decentralization moderates negatively to the characteristics of integration

Kata Kunci:

broadscope, aggregation, integration, timeliness, Desentralisasi, Kinerja Organisasi

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Keywords:

Humanitarian Conflict, East Timor, Dili Court


 


Pendahuluan

Rumah Sakit merupakan salah satu instansi yang bergerak dibidang kesehatan, dan secara khusus memberikan pelayanan publik bagi masyarakat yang kondisinya sakit. Pada era berkembang saat ini tingkat kebutuhan akan Informasi memang sangatlah diperlukan, terlebih bagi suatu instansi seperti rumah sakit. Dalam struktur instansi  ini tidak hanya terdapat dokter, perawat atau tenaga ahli kesehatan lainnya, namun juga terdapat para manajer atau kepala bidang yang bertugas untuk memastikan keberlangsungan proses yang terjadi didalam rumah sakit. Keberlangsungan suatu rumah sakit juga dipengaruhi oleh suatu keputusan yang diambil oleh para manajemen, sehingga keputusan yang akan diambil haruslah merupakan keputusan yang baik bagi setiap departemen/unit dalam rumah sakit. Untuk dapat memilih keputusan yang baik, harus didasari oleh informasi yang baik pula (Chenhall and Morris 1986). Hal inilah yang mendasari suatu Rumah Sakit memerlukan SIAM (sistem informasi akuntansi manajemen) untuk menentukan keberlangsungan atau umur instansi tersebut.

Terdapat beberapa Rumah Sakit daerah di Jayapura yang tidak memberikan pelayanan baik perawatan maupun obat-obatan dan juga dalam segi keterbatasan ruang. Padahal Rumah Sakit Umum Daerah cenderung mendapatkan dana dari APBD (Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah). Masalah utama yang dihadapi saat ini mungkin karena perencanaan dan pengeluaran anggaran yang kurang dikoordinasikan, sehingga hal ini bisa saja dipengaruhi oleh delegasi dari manajemen puncak ke manajemen tingkat bawah yang kurang memadai (Bromwich 1990). Sehingga berimbas pada kinerja yang kurang baik. Kinerja manajemen yang kurang baik dapat mengakibatkan perubahan struktur manajemen yang pengaruhnya cukup besar dalam suatu instansi. Dalam hal ini, mungkin saja karakteristik dari SIAM dapat pula memengaruhi kinerja manajemen agar lebih baik (Anita 2017). Keunggulan persaingan yang terjadi saat ini dapat diciptakan oleh organisasi dan instansi melalui tingkat sebuah kinerja organisasi. Dalam hal ini, kinerja organisasi adalah tolak ukur dari tercapai atau tidaknya tujuan dari organisasi yang telah ditetapkan. Terkadang para manajemen suatu instansi tidak memperhatikan  tujuan organisasi secara maksimal, hal inilah yang menyebabkan instansi atau organisasi tersebut mengalami penurunan dalam hal kinerja. Untuk itu, diperlukan Sistem Informasi Akuntansi Manajemen (SIAM) untuk mengantisipasi menurunnya kinerja tersebut. Salah satu yang diperlukan adalah terciptanya suatu sistem informasi yang terarah dengan baik sehingga kinerja organisasi dapat terus stabil atau bahkan meningkat (FAISAL 2007). Sistem Informasi Akuntansi Manajemen (SIAM) dapat membantu manajemen dalam pengendalian aktivitas sehingga diharapkan dapat membantu perusahaan dalam pencapaian tujuan (Faisal, 2006).

Desentralisasi secara umum ditunjukan dengan tingkat pengambilan keputusan yang terjadi dalam organisasi. Dengan desentralisasi, manajemen puncak dapat mendelegasikan wewenang serta tanggung jawab kepada manajer yang lebih rendah dengan kekuasaan tertentu (Syam and Maryasih, 2006). Kinerja organisasi atau kinerja instansi merupakan ukuran tingkatan prestasi yang dapat dicapai dan mencerminkan keberhasilan manajer atau direktur. Kinerja merupakan hasil yang dicapai dari perilaku anggota organisasi (Gibson, 2002) jadi kinerja organisasi merupakan hasil yang sangat diharapkan dalam sebuah organisasi dari perilaku orang-orang didalamnya.

(Nainggolan 2015) meneliti tentang pengaruh karakteristik Sistem Informasi Akuntansi Manajemen terhadap organisasi dengan tingkat desentralisasi sebagai variabel moderating. Hasil penelitian pada PDAM Tirtanadi Provinsi Sumatera Utara ditemukan bahwa karakteristik broadscope, aggregation, integration, timeliness berpengaruh terhadap kinerja organisasi. Namun secara parsial desentralisasi tidak memoderasi hubungan antar broadscope, aggregation, integration, dan timeliness, namun secara simultan desentralisasi memoderasi pengaruh karakteristik broadscope, aggregation, integration, timeliness terhadap kinerja organisasi. (Sulistiyanto 2005) meneliti tentang pengaruh karakteristik Sistem Informasi Akuntansi Manajemen terhadap Kinerja Manajerial dengan desentralisasi sebagai variabel moderating. Hasilnya yakni  karakteristik broadscope, timeliness dan integration  menunjukkan  adanya  pengaruh positif antara  Sistem  Akuntansi Manajemen dan Kinerja Manajerial dengan desentralisasi sebagai  variabel moderating. Sedangkan untuk karakteristik aggregation terbukti tidak ada pengaruh positif dari tingginya tingkat desentralisasi terhadap informasi agregasi. (Ratnawati and Setyaningsih 2011) meneliti tentang krakteristik sistem informasi akuntansi manajemen dan desentralisasi serta pengaruhnya terhadap kinerja organisasi. penelitian ini berbentuk kuesioner yang disebarkan pada manajer ataukepala bagian yang berada dirumah sakit kudus. Hasil penelitian menemukan bahwa karakteristik SIAM yang meliputi broadscope, aggregation, integration, dan timeliness berpengaruh terhadap kinerja organisasi, akan tetapi desentralisasi tidak memoderasi pengaruh antara karakteristik sistem informasi akuntansi manajemen terhadap kinerja organisasi.

Berdasarkan penelitian terdahulu dan fenomena khususnya di kota Jayapura, maka peneliti tertarik untuk meneliti mengenai Karakteristik Sistem Informasi Akuntansi Manajemen terhadap Kinerja Organisasi dengan desentralisasi sebagai variabel moderating”, dimana Rumah Sakit menjadi objek dalam penelitian ini. Adapun perbedaan dengan penelitian sebelumnya adalah pada tahun, lokasi penelitian, serta populasi dan sampel yang digunakan utuk penelitian.

Tujuan dari penelitian ini diantaranya: (1) menguji secara empiris pengaruh penerapan broadscope terhadap kinerja organisasi, (2) menguji secara empiris pengaruh penerapan aggregation terhadap kinerja organisasi, (3) menguji secara empiris pengaruh penerapan integration terhadap kinerja organisasi, (4) menguji secara empiris pengaruh penerapan timeliness terhadap kinerja organisasi, (5) menguji secara empiris apakah desentralisasi sebagai variabel moderating mempengaruhi penerapan karakteristik broadscope terhadap kinerja, (6) menguji secara empiris apakah desentralisasi sebagai variabel moderating mempengaruhi penerapan karakteristik aggregation terhadap kinerja, (7) menguji secara empiris apakah desentralisasi sebagai variabel moderating mempengaruhi penerapan karakteristik integration terhadap kinerja, serta (8) menguji secara empiris apakah desentralisasi sebagai variabel moderating mempengaruhi penerapan karakteristik timeliness terhadap kinerja (Chia 1995).

Secara teoritis penelitian ini diharapkan dapat memberikan pengetahuan mengenai karakteristik Sistem Informasi Akuntansi Manajemen dan desentralisasi serta pengaruhnya terhadap kinerja organisasi. Secara praktis penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan bagi para praktisi dalam mempertimbangkan desain sistem informasi akuntansi manajemen, struktur organisasi sesuai dengan kondisi lingkungan rumah sakit yang berbeda, serta diharapkan hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai bahan masukan bagi pengambilan keputusan manajemen  yang terkait dengan sistem informasi akuntansi manajemen, tingkat desentralisasi dan kinerja organisasi.

 

 

Metode Penelitian

Penelitian ini menggunakan penelitian asosiatif, dengan metode kuantitatif, yang menggunakan angka-angka dan dengan perhitungan statistik. Penelitian kuantitatif dapat diartikan sebagai metode penelitian yang digunakan untuk meneliti populasi atau sampel tertentu, teknik pengambilan sampel pada umumnya dilakukan secara random, pengumpulan data menggunakan instrumen penelitian, analisis data bersifat kuantitatif atau statistik dengan tujuan untuk menguji hipotesis yang telah ditetapkan (Indriantoro and Supomo 2002)   

Penelitian ini dilakukan di seluruh Rumah Sakit yang berada di kota Jayapura. Ruang lingkup penelitian ini memusatkan pada pembahasan mengenai pengaruh karakteristik broadscope, aggregation, integration dan timeliness terhadap kinerja dan dimoderasi oleh desentralisasi pada lokasi penelitian yang dilakukan dengan menyebarkan kuesioner.  Waktu penelitian ini akan dilaksanakan pada akhir bulan atau diakhir tahun 2018 antara bulan desember sampai januari.

Alat Analisis data dalam penelitian ini menggunakan pendekatan Structural Equation Model (SEM) dengan metode Partial Least Square (PLS) dengan menggunakan software WarpPLS 6.0.  PLS – SEM digunakan untuk menguji secara simultan hubungan antar konstruk laten dalam hubungan linear ataupun nonlinear dengan banyak indikator baik berbentuk reflektif, formatif dan MIMIC. Berbeda dengan analisis multivariate biasa, PLS lebih powerful karena dapat digunakan untuk membangun model penelitian dengan banyak variabel dan indikator (Khoi 2021)

 

Hasil dan Pembahasan

A.   Hasil Penelitian

Hasil dari studi lapangan yang dilakukan pada Rumah Sakit swasta dan pemerintah Kota Jayapura dengan menyebarkan keusioner secara langsung pada 5 Rumah sakit  yang ada di Kota Jayapura. Lima variabel pokok yang ada dalam penelitian ini yaitu, broadscope, aggregtion, integration, timeliness, dan kinerja organisasi. Dari 60 kuesioner yang telah disebar ternyata kuesioner yang tidak kembali berjumlah 3 (5%) dan kuesioner yang kembali berjumlah 57, dan kuesioner yang layak diolah adalah 55 (51,7 %). kuesioner yang tidak kembali dikarenakan, tidak semua pegawai di Rumah Sakit Kota Jayapura tidak bersedia mengisi kuesioner yang dibagikan dan ada juga beberapa pegawai yang sedang berpergian untuk perjalanan dinas keluar kota.

1.    Uji Convergen Validity

Pengujian ini bertujuan untuk mengetahui apakah instrumen yang digunakan valid dan reliabel sebab kebenaran data yang diolah sangat menentukan hasil penelitian.

2.    Uji Discriminant Validity

Uji Discriminant validity dilakukan untuk mengetahui korelasi antara tiap indikator dengan semua variabel laten yang ada. Seluruh indikator dinyatakan vali d jika nilai korelasi cross loading seluruh indikator dalam membentuk variabel laten, lebih besar dibandingkan dengan korelasi terhadap variabel laten lainnya.

3.    Average Variance Extracted (AVE)

Uji Average Variance Extracted (AVE) dilakukan untuk mengetahui nilai yang menunjukkan besarnya varian indikator yang dikandung oleh variabel. Nilai AVE seluruh variabel dinyatakan valid apabila nilai AVE berkisar diatas 0,5.


Tabel 1

Composite Reability

Variabel

X1

X2

X3

X4

M

Y

X1

0,733

0,265

0,503

0.46

0.17

0.351

X2

0,265

0,874

0,688

0.408

0.19

0.503

X3

0,503

0,688

0,709

0.732

0.03

0.579

X4

0,465

0,408

0,732

0.777

0.24

0.467

M

-0.17

0,190

0,035

0.241

0.84

0.362

Y

0,351

0,503

0,579

0.467

0.36

0.766

 


Uji composite reability dilakukan untuk mengetahui nilai yang menunjukkan sejauh mana suatu alat ukur dapat dipercaya untuk digunakan. Seluruh variabel dinyatakan reliable apabila loadingnya diatas 0,70.

1.    Evaluasi inner model

Evaluasi inner model dilakukan dengan uji wrap pls,proceed to step 5, perform SEM analysis yang menghasilkan R-square (R2), Q- square, path coeffisients, laten variable correlations. Hasil evaluasi inner model dijelaskan sebagai berikut:

a.     Koefisien Determinasi R – Square

R-Square berfungsi untuk melihat nilai signifikan dari variabel laten.

 


Tabel 2

R-Square

variabel

R-Square

Kinerja organisasi

0,482

Broadscope

0,094

Aggregation

0,159

Integratio

0,067

Timeliness

0.025

Desentralisasi

0,137

 


b.    Q- Square

Suatu model dianggap mempunyai nilai predictive yang relevan jika nilai Q-Square lebih besar dari 0 (>0). Nilai predictive – relevance diperoleh dengan rumus sebagai berikut.

Kinerja Organisasi

Q2 = 1 – (1-R12)

Q2 = 1 – (1 - 0,4822)

Q2 = 1 – (1- 0,233)

Q2 = 1 – (0.767)

Q2 = 0, 233

Hasil perhitungan Q–Square pada penelitian adalah 0,233. Hal ini berarti model penelitian ini layak untuk menjelaskan variabel endogen yaitu Kinerja Organisasi sebesar 0,233 atau 23,3%. Menurut pendapat Scheper et al. (2005) menjelaskan bahawa effect size dari R2 dan Q2 dapat dikelompokkan dalam kategori nilai 0,02 kecil; nilai 0,13 sedang; nilai 0,23 besar. Hasil pengujian ini menunjukkan effect size besar.

 

B.   Pembahasan

1      Broadscope berpengaruh Terhadap Kinerja organisasi

Hasil pengujian hipotesis pertama menunjukkan bahwa broadscope secara langsung berpengaruh signifikan terhadap kinerja organisasi. Hasil penelitian menunjukkan besar nilainya koefisien jalur 0,215 lebih besar dari 0,1. Dan p-value sebesar 0,045 lebih kecil dari 0,05. Hal ini membuktikan bahwa semakin tinggi nilai broadscope maka kinerja organisasi semakin meningkat. Broadscope memiliki kemampuan yang unik dalam hal ini walaupun sangat luas tetapi akurat, lengkap mengenai aspek ekonomi maupun non-ekonomi serta berguna untuk meningkatkan kinerja organisasi.

Penelitian ini mendapatkan hasil bahwa broadscope memengaruhi kinerja ke arah yang lebih baik. Seperti halnya di RS Abepura dimana broadscope yang berupa ketersediaan informasi non eksternal seperti data pasien, sangat membantu dalam meningkatkan layanan kinerja. Sehingga semakin lengkap data pasien, keputusan yang diambil juga akan baik sesuai dengan realitas yang terjadi. Begitu juga dengan tersedianya informasi tentang pengembangan rumah sakit dimasa yang akan datang. Rencana ini dibuat agar mereka lebih siap untuk mempersiapkan hal-hal apa saja yang berkaitan dengan perkembangan rumah sakit dimasa yang akan datang. Tidak hanya itu, perkembangan teknologi juga mempengaruhi broadscope ke arah yang lebih baik. Hal ini ditandai dengan adanya smartphone, informasi tentang dunia luar dapat di akses dan dipahami dengan mudah dan cepat

2.    Aggregation berpengaruh Terhadap kinerja organisasi

Hasil pengujian hipotesis kedua menunjukan bahwa aggregation secara langsung berpengaruh signifikan terhadap kinerja organisasi. Hasil penelitian menunjukkan besar nilainya koefisien jalur 0,291 lebih besar dari 0,1. Dan p-value sebesar 0,01 lebih kecil dari 0,05. Hal ini membuktikan bahwa semakin tinggi nilai aggregation maka kinerja organisasi semakin meningkat. Salah satu contoh bahwa Aggregation berpengaruh terhadap kinerja organisasi ke arah yang lebih baik yaitu dengan menyajikan data operasional. Dimana rata-rata RS Abepura menyajikan laporan operasionalnya secara berkala dengan ringkas namun jelas.

Salah satu bentuk laporan yang mereka buat yaitu data pasien. Dimana data pasien ini dapat digunakan untuk melihat rata-rata penyakit yang diderita para pasien. Sehingga hal ini dapat menjadi acuan ketersediaan pasokan obat untuk mengobati pasien dengan penyakit tertentu. Hal ini dimaksudkan agar tidak adanya kekurangan obat, sehingga kegiatan operasional rumah sakit dapat terus berjalan dan menjadikan kinerja rumah sakit tersebut terlihat baik.

3.    Integration berpengaruh Terhadap kinerja organisasi

Hasil pengujian hipotesis ketiga menunjukkan bahwa integration berpengaruh positif terhadap kinerja organisasi, tetapi tidak signifikan. Hasil penelitian menunjukkan besar nilainya koefisien jalur 0,115 lebih besar 0,1. Dan p-value sebesar 0,188 lebih besar dari 0,05. Hasil penelitian ini membuktikan bahwa tingginya integration berpengaruh terhadap kinerja organisasi namun tingkat signifikan lebih dari 0,05 maka hipotesis ini di tolak atau tidak berpengaruh. Integration memengaruhi kinerja organisasi, seperti halnya yang terdapat di RS Bhayangkara dan RS Angkatan laut yang dimana rumah sakit tersebut bergerak dibawah Naungan Kesatuan.

Informasi saling terhubung antar bagiannya tentu akan berpengaruh besar untuk sebuah kinerja Rumah Sakit. Informasi yang terhubung ini berguna untuk pengambilan keputusan dan melakukan analisa terhadap kemungkinan yang terjadi dalam kegiatan operasional. Akan tetapi yang berhak mengambil keputusan yaitu pimpinan tertinggi dan dikoordinasikan ke pimpinan pusat.

4.    Timeliness berpengaruh terhadap kinerja organisasi

Hasil pengujian hipotesis keempat menunjukkan bahwa timeliness tidak berpengaruh terhadap kinerja organisasi dan tidak signifikan. Hasil penelitian menunjukkan besar nilainya koefisien jalur 0,052 lebih kecil dari 0,1 dan nilai p-value 0,348 lebih besar dari 0,05. Hasil penelitian ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh (Anita 2017) yang menyatakan bahwa sistem informasi akuntansi manajemen yang bersifat timeliness tidak berpengaruh signifikan terhadap kinerja organisasi. Hasil ini sejalan dengan penelitian (Putri and Aris 2017) yang menunjukan bahwa hal ini disebabkan salah satunya  manajer tidak memprioritaskan ketepatan waktu dalam penyajian informasi.

Bagi manajer informasi yang tepat waktu belum tentu sesuai dengan apa yang diharapkan. Informasi yang baik yang sesuai dengan apa yang diharapkan tidak harus sesuai ada tepat waktu. Akan tetapi, manajer juga tidak bisa mentolerir karyawan yang tidak bisa bekerja dengan baik dalam menyajikan pelaporan informasi. Seperti halnya di RS dok 2, informasi disajikan secara berkala dan cepat. Namun terkadang informasi tersebut sebenarnya belum dibutuhkan dalam jangka waktu dekat. Misalnya laporan tentang penyusutan peralatan medik. Pihak RS dapat menyajikan laporan tersebut secara cepat, namun hal tersebut bukan merupakan informasi yang berguna dalam jangka waktu dekat dan tidak bisa dijadikan tolak ukur untuk menyatakan apakah kinerja Rumah Sakit tersebut baik atau tidak. Karena faktor utama yang menentukan kinerja adalah profesionalisme tenaga ahlinya, bukan pada alatnya.

5.    Desentralisasi memoderasi broadscope

Hasil pengujian hipotesis kelima menunjukan bahwa desentralisasi tidak berpengaruh terhadap kinerja organisasi dan tidak signifikan. Hasil penelitian menunjukkan besar nilainya koefisien jalur -0.042 yang berada dalam rentang -0,1 sampai 0,1 Dan p-value sebesar 0,376 lebih besar dari 0,05 artinya bahwa desentralisasi tidak mempengaruhi hubungan antara broadscope dengan kinerja organisasi. Hasil dari penelitian ini juga menyatakan bahwa tinggi atau rendahnya tingkat desentralisasi pada rumah sakit tidak ada pengaruhnya dengan karakteristik broadscope terhadap kinerja organisasi.

Pendelegasian wewenang yang terdapat di Rumah Sakit memang memungkinkan para pemimpin dapat mengambil keputusan untuk masa mendatang, akan tetapi hal tersebut tidak dapat dijadikan patokan atau dijadikan ukuran bahwa setiap suatu keputusan yang diambil dapat menjadi suatu keputusan yang baik untuk seluruh unit bagian, karena mungkin lingkup keputusan tersebut hanya untuk bagian yang terkait.

6.    Desentralisasi memoderasi aggregation

Hasil pengujian hipotesis keenam menunjukan bahwa desentralisasi tidak berpengaruh terhadap kinerja organisasi dan tidak signifikan. Hasil penelitian menunjukkan besar nilainya koefisien jalur -0.047 lebih besar dari -0,1. Dan p-value sebesar 0,363 lebih besar dari 0,05 artinya bahwa desentralisasi tidak memoderasi hubungan antara aggregation dengan kinerja organisasi. Penelitian ini sejalan dengan penelitian (Sulistiyanto 2005a) yang menyatakan bahwa aggregation diperoleh belum menunjukkan berpengaruh terhadap kinerja manajerial untuk variabel desentralisasi sebagai variabel moderasi moderating.

Semakin tinggi desentralisasi maka aggregation tidak berpengaruh terhadap kinerja organisasi atau desentralisasi yang berlebihan membuat aggregation tidak berpengaruh untuk meningkatkan kinerja secara signifikan. Suatu unit tertentu dirumah sakit perlu mengambil keputusan secara tepat waktu dan sistematis seperti halnya membuat laporan akhir tahun, namun informasi pendukungnya dibatasi oleh otoritas atasan yang dimana fungsinya untuk meningkatkan kinerja, alhasil laporan tersebut sama sekali tidak mempengaruhi kinerja mereka.

7.    Desentralisasi memoderasi Integration

Hasil pengujian hipotesis ketujuh menunjukan bahwa desentralisasi berpengaruh negatif terhadap kinerja organisasi dan signifikan. Hasil penelitian menunjukkan besar nilainya koefisien jalur -0.306 lebih kecil dari -0,1. Dan p-value sebesar 0,007 lebih kecil dari 0,05 artinya bahwa desentralisasi memperlemah hubungan antara integration dengan kinerja organisasi. Penelitian ini sejalan dengan penelitian (Solechan and Setiawati 2009) tidak adanya pengaruh yang signifikan ini mengindikasikan bahwa baik buruknya sistem desentralisasi yang diterapkan pada suatu perusahaan, tidak berpengaruh pada kinerja manajerial perusahaan.

8.    Desentralisasi memoderasi Timeliness

Hasil pengujian hipotesis kedelapan menunjukan bahwa desentralisasi tidak berpengaruh terhadap kinerja organisasi dan tidak signifikan. Hasil penelitian menunjukkan besar nilainya koefisien jalur 0,073 lebih besar dari -0,1. Dan nilai p-value sebesar 0,29 lebih besar dari 0,05 artinya bahwa desentralisasi tidak memoderasi hubungan antara timeliness dengan kinerja organisasi. Penelitian ini sejalan dengan (Irawati and Ardianshah 2018) yang menyebutkan bahwa sistem  informasi akuntansi manajemen terhadap kinerja manajerial  dengan desentralisasi sebagai variabel moderating, dapat diketahui bahwa interaksi variabel karakteristik sistem informasi akuntansi manajemen dan desentralisasi  tidak berpengaruh secara signifikan terhadap kinerja  manajerial

 

Kesimpulan

Broadscope berpengaruh terhadap kinerja. Hasil ini menunjukkan dengan adanya pengaruh langsung ke kinerja organisasi, hal ini tentu saja berdampak pada suatu kinerja organisasi mereka, semakin berkembangya informasi, membuat para pengambil keputusan mengambil suatu keputusan yang tepat. Sehingga kinerja menjadi semakin baik.

 

Bibliografi

 

Anita, Lella. 2017. “Pengaruh Ketidakpastian Lingkungan Terhadap Kinerja Manajerial Dengan Sistem Informasi Akuntansi Manajemen Sebagai Variabel Pemediasi.” Google Scholar

Bromwich, Michael. 1990. “The Case for Strategic Management Accounting: The Role of Accounting Information for Strategy in Competitive Markets.” Accounting, Organizations and Society 15(1–2):27–46.Google Scholar

Chenhall, Robert H., and Deigan Morris. 1986. “The Impact of Structure, Environment, and Interdependence on the Perceived Usefulness of Management Accounting Systems.” Accounting Review 16–35. Google Scholar

Chia, Yew Ming. 1995. “Decentralization, Management Accounting System (MAS) Information Characteristics and Their Interaction Effects on Managerial Performance: A Singapore Study.” Journal of Business Finance & Accounting 22(6):811–30. Google Scholar

Faisal. 2006. “Analisis Pengaruh Intensitas Persaingan Dan Variabel Kontekstual Terhadap Penggunaan Informasi Sistem Akuntansi Manajemen Dan Kinerja Unit Bisnis Dengan Pendekatan Partial Least Square.” Benchmarking 23–26. Google Scholar

Faisal, Faisal. 2007. “Analisis Pengaruh Intensitas Persaingan Dan Variabel Kontekstual Terhadap Penggunaan Informasi Sistem Akuntansi Manajemen Dan Kinerja Unit Bisnis Dengan Pendekatan Partial Least Squre.” The Indonesian Journal of Accounting Research 10(2). Google Scholar

Gibson, James L. 2002. Organizations. Behavior, Structure, Procces. 14th ed. edited by paul Ducham. New York: McGraw-Hill, a business unit of The McGraw-Hill Companies, Inc. Google Scholar

Indriantoro, Nur, and Bambang Supomo. 2002. “Metodologi Penelitian Bisnis Untuk Akuntansi Dan Manajemen.” Google Scholar

Irawati, Anik, and Rico Ardianshah. 2018. “Pengaruh Karakteristik Sistem Informasi Akuntansi Manajemen Terhadap Kinerja Manajerial Dengan Desentralisasi Sebagai Variabel Moderating.” Jurnal Akuntansi Dan Keuangan 9(1):20. Google Scholar

Khoi, Bui Huy. 2021. “Factors Influencing on University Reputation: Model Selection by AIC.” Pp. 177–88 in Data Science for Financial Econometrics. Springer. Google Scholar

Nainggolan, Edisah Putra. 2015. “Pengaruh Karakteristik Sistem Informasi Akuntansi Manajemen Terhadap Kinerja Organisasi Dengan Tingkat Desentralisasi Sebagai Variabel Moderating.” Jurnal Riset Akuntansi Dan Bisnis 15(1):100–112. Google Scholar

Putri, Maya Sundari Cahyono, and M. Abdul Aris. 2017. “Pengaruh Sistem Akuntansi Manajemen, Sistem Pengendalian Manajemen, Dan Desentralisasi Terhadap Kinerja Manajerial (Studi Empiris Pada Bank Perkreditan Rakyat Se-Eks Karesidenan Surakarta).” Google Scholar

Ratnawati, Juli, and Dewi Setyaningsih. 2011. “Karakteristik Sistem Informasi Akuntansi Manajemen Dan Desentralisasi Serta Pengaruhnya Terhadap Kinerja Organisasi.” Seminar Nasional Ilmu Ekonomi Terapan 21–32. Google Scholar

Solechan, Achmad, and Ira Setiawati. 2009. “Pengaruh Karakteristik Sistem Akuntansi Manajemen Dan Desentralisasi Sebagai Variabel Moderating Terhadap Kinerja Manajerial (Studi Empiris Perusahaan Manufaktur Di Kabupaten Semarang).” Fokus Ekonomi: Jurnal Ilmiah Ekonomi 4(1). Google Scholar

Sulistiyanto, Albertus Eka. 2005a. “Pengaruh Karakteristik Informasi Sistem Akuntansi Manajemen Terhadap Kinerja Manajerial Dengan Desentralisasi Sebagai Variabel Moderating.” Google Scholar

Sulistiyanto, Albertus Eka. 2005b. “Pengaruh Karakteristik Informasi Sistem Manajerial Dengan Desentralisasi Sebagai.” Google Scholar

Syam, Fazli, and Lilis Maryasih. 2006. “Sistem Akuntansi Manajemen, Persepsi Ketidakpastian Lingkungan, Desentralisasi, Dan Kinerja Organisasi (Studi Empiris Pada Perusahaan Manufaktur Di Provinsi NAD).” Simposium Nasional Akuntansi 9 Padang. Google Scholar


Copyright holder :

Meksa Alberian Bonang Pamungkas Purbananda (2021).

 

First publication right :

Jurnal Syntax Transformation

 

This article is licensed under: