|
Jurnal
Syntax Transformation |
Vol. 2
No. 10, Oktober 2021 |
|
p-ISSN :
2721-3854 e-ISSN : 2721-2769 |
Sosial Sains |
KARAKTERISTIK SISTEM INFORMASI AKUNTANSI MANAJEMEN TERHADAP KINERJA
ORGANISASI DENGAN DESENTRALISASI SEBAGAI VARIABEL MODERATING
Meksa Alberian,
Bonang Pamungkas Purbananda
Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Cenderawasih Jayapura, Indonesia������
Email: [email protected],
[email protected]
|
INFO ARTIKEL |
ABSTRAK |
|
Diterima
22 September 2021 Direvisi 14
Oktober 2021 Disetujui 20 Oktober 2021 |
Sistem� Informasi� Akuntansi� Manajemen�
(SIAM)� adalah
suatu� sistem informasi yang bertujuan untuk meningkatkan kinerja. Rumah sakit merupakan
salah satu instansi yang bergerak dibidang kesehatan, dan secara khusus memberikan pelayanan publik bagi masyarakat yang kondisinya sakit. Penelitian ini
bertujuan untuk melihat Karakteristik Sistem Informasi Akuntansi berupa Broadscope, Aggregation, Integration dan Timeliness memengaruhi
kinerja organisasi dengan desentralisasi sebagai variabel moderasi. Populasi penelitian ini adalah seluruh pimpinan dan staf-staf yang bekerja di Rumah Sakit swasta dan pemerintah kota jayapura. Teknik
pengambilan sampel yang digunakan dengan menggunakan� purposive sampling, sehingga
menghasilkan 55 sampel. Teknik analisis data yang digunakan untuk menguji Hipotesis dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan warpPLS 6.0 dan analisis SEM Equation. Hasil penelitian
menunjukkan bahwa, broadscope dan aggregation berpengaruh
positif terhadap kinerja organisasi, namun integration
dan timeliness tidak
berpengaruh positif terhadap kinerja organisasi. Untuk variabel desentralisasi (moderating), desentralisasi
tidak memoderasi karakteristik broadscope, aggregation
dan timelines. Namun
desentralisasi memoderasi
negatif terhadap karakteristik integration.
ABSTRACT Management Accounting Information System (MAIS) is organization
improvement information system. Hospital are
one health care system, and specially provide public service to sick
communities. This research aims to see the Characteristics of Accounting Information
Systems in the form of Broadscope, Aggregation,
Integration and Timeliness affect organizational performance by decentralization
as a moderation variable. The population of this study is all leaders and
staff who work in private hospitals and jayapura
city government. The sampling technique which used was
purposive sampling, the resulting in 55 samples. The data analysis technique
used to tet hypotheses in the study was
by using the warpPLS6.0 and SEM Equation analysis.The results showed that broadscope and aggregation had a positive effect on
organizational performance, but integration and timeliness had no positive effect
on organizational performance. For decentralized variables (moderating),
decentralization does not moderate the characteristics of broadscopes,
aggregation and timelines. But decentralization moderates negatively to the
characteristics of integration |
|
Kata Kunci: broadscope, aggregation,
integration, timeliness, Desentralisasi, Kinerja Organisasi Keywords: Humanitarian
Conflict, East Timor, Dili Court |
Pendahuluan
Rumah Sakit merupakan salah satu instansi yang bergerak
dibidang kesehatan, dan secara khusus memberikan pelayanan publik bagi
masyarakat yang kondisinya sakit. Pada era berkembang saat ini tingkat
kebutuhan akan Informasi memang sangatlah diperlukan, terlebih
bagi suatu instansi seperti rumah sakit. Dalam struktur instansi� ini tidak hanya terdapat dokter, perawat atau
tenaga ahli kesehatan lainnya, namun juga terdapat para manajer atau kepala
bidang yang bertugas untuk memastikan keberlangsungan proses yang terjadi
didalam rumah sakit. Keberlangsungan suatu rumah sakit juga dipengaruhi oleh
suatu keputusan yang diambil oleh para manajemen, sehingga keputusan yang akan
diambil haruslah merupakan keputusan yang baik bagi setiap departemen/unit
dalam rumah sakit. Untuk dapat memilih keputusan yang baik, harus didasari oleh
informasi yang baik pula (Chenhall and Morris 1986). Hal inilah
yang mendasari suatu Rumah Sakit memerlukan
SIAM (sistem informasi akuntansi manajemen) untuk menentukan keberlangsungan atau umur instansi tersebut.
Terdapat
beberapa Rumah Sakit daerah di Jayapura yang tidak memberikan
pelayanan baik perawatan maupun obat-obatan dan juga dalam segi keterbatasan
ruang. Padahal Rumah Sakit Umum Daerah
cenderung mendapatkan dana dari APBD (Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah).
Masalah utama yang dihadapi saat ini mungkin karena perencanaan dan pengeluaran
anggaran yang kurang dikoordinasikan, sehingga hal ini bisa saja dipengaruhi
oleh delegasi dari manajemen puncak ke manajemen tingkat bawah yang kurang
memadai (Bromwich 1990).
Sehingga berimbas pada kinerja yang kurang baik. Kinerja manajemen yang kurang
baik dapat mengakibatkan perubahan struktur manajemen yang pengaruhnya cukup
besar dalam suatu instansi. Dalam hal ini, mungkin saja karakteristik dari SIAM
dapat pula memengaruhi kinerja manajemen agar lebih baik (Anita 2017). Keunggulan
persaingan yang terjadi saat ini dapat diciptakan oleh organisasi dan instansi
melalui tingkat sebuah kinerja organisasi. Dalam hal ini, kinerja organisasi
adalah tolak ukur dari tercapai atau tidaknya tujuan dari organisasi yang telah
ditetapkan. Terkadang para manajemen suatu instansi tidak memperhatikan� tujuan organisasi secara maksimal, hal inilah
yang menyebabkan instansi atau organisasi tersebut mengalami penurunan dalam
hal kinerja. Untuk itu, diperlukan Sistem Informasi Akuntansi Manajemen (SIAM) untuk mengantisipasi menurunnya kinerja tersebut. Salah
satu yang diperlukan adalah terciptanya suatu sistem informasi yang terarah
dengan baik sehingga kinerja organisasi dapat terus stabil atau bahkan
meningkat (FAISAL 2007). Sistem Informasi Akuntansi
Manajemen (SIAM) dapat membantu manajemen dalam pengendalian aktivitas sehingga diharapkan dapat membantu perusahaan dalam pencapaian tujuan (Faisal, 2006).
Desentralisasi secara
umum ditunjukan dengan tingkat pengambilan keputusan yang terjadi dalam organisasi.
Dengan desentralisasi, manajemen puncak dapat mendelegasikan wewenang serta tanggung jawab kepada manajer yang lebih rendah dengan
kekuasaan tertentu (Syam and Maryasih, 2006).
Kinerja organisasi atau kinerja instansi merupakan ukuran tingkatan prestasi yang dapat dicapai dan mencerminkan keberhasilan manajer atau direktur.
Kinerja merupakan hasil
yang dicapai dari perilaku anggota organisasi (Gibson, 2002)
jadi kinerja organisasi merupakan hasil yang sangat diharapkan dalam sebuah organisasi
dari perilaku orang-orang didalamnya.
(Nainggolan 2015)
meneliti tentang pengaruh karakteristik Sistem Informasi Akuntansi Manajemen terhadap organisasi dengan tingkat desentralisasi sebagai variabel moderating. Hasil penelitian
pada PDAM Tirtanadi Provinsi
Sumatera Utara ditemukan bahwa
karakteristik broadscope,
aggregation, integration, timeliness berpengaruh terhadap kinerja organisasi. Namun secara parsial desentralisasi tidak memoderasi hubungan antar broadscope,
aggregation, integration, dan timeliness, namun secara simultan desentralisasi memoderasi pengaruh karakteristik broadscope, aggregation, integration, timeliness terhadap kinerja organisasi. (Sulistiyanto 2005)
meneliti tentang pengaruh karakteristik Sistem Informasi Akuntansi Manajemen terhadap Kinerja Manajerial dengan desentralisasi sebagai variabel moderating. Hasilnya yakni� karakteristik
broadscope, timeliness dan integration� menunjukkan� adanya� pengaruh positif antara� Sistem� Akuntansi Manajemen dan Kinerja Manajerial dengan desentralisasi sebagai� variabel moderating. Sedangkan untuk karakteristik aggregation terbukti
tidak ada pengaruh positif dari tingginya tingkat desentralisasi terhadap informasi agregasi. (Ratnawati and Setyaningsih 2011)
meneliti tentang krakteristik sistem informasi akuntansi manajemen dan desentralisasi serta pengaruhnya terhadap kinerja organisasi. penelitian ini berbentuk kuesioner
yang disebarkan pada manajer
ataukepala bagian yang berada dirumah sakit kudus. Hasil penelitian menemukan bahwa karakteristik SIAM yang meliputi broadscope, aggregation, integration, dan timeliness
berpengaruh terhadap kinerja organisasi, akan tetapi desentralisasi
tidak memoderasi pengaruh antara karakteristik sistem informasi akuntansi manajemen terhadap kinerja organisasi.
Berdasarkan
penelitian terdahulu dan fenomena
khususnya di kota Jayapura, maka peneliti tertarik untuk meneliti mengenai �Karakteristik Sistem Informasi Akuntansi Manajemen
terhadap Kinerja Organisasi dengan desentralisasi sebagai variabel
moderating�, dimana Rumah Sakit menjadi
objek dalam penelitian ini. Adapun perbedaan
dengan penelitian sebelumnya adalah pada tahun, lokasi penelitian,
serta populasi dan sampel yang digunakan utuk penelitian.
Tujuan
dari penelitian ini diantaranya: (1) menguji secara
empiris pengaruh penerapan broadscope terhadap kinerja organisasi, (2) menguji secara empiris
pengaruh penerapan aggregation terhadap
kinerja organisasi, (3) menguji secara empiris
pengaruh penerapan integration terhadap
kinerja organisasi, (4) menguji secara empiris
pengaruh penerapan timeliness terhadap
kinerja organisasi, (5) menguji secara empiris
apakah desentralisasi sebagai variabel moderating mempengaruhi penerapan karakteristik broadscope terhadap kinerja, (6) menguji secara empiris apakah desentralisasi sebagai variabel moderating mempengaruhi penerapan karakteristik aggregation
terhadap kinerja, (7) menguji secara empiris apakah desentralisasi sebagai variabel moderating mempengaruhi penerapan karakteristik integration terhadap
kinerja, serta (8) menguji secara empiris apakah desentralisasi sebagai variabel moderating mempengaruhi penerapan karakteristik timeliness terhadap
kinerja (Chia 1995).
Secara teoritis
penelitian ini diharapkan dapat memberikan pengetahuan mengenai karakteristik Sistem Informasi Akuntansi Manajemen dan desentralisasi serta pengaruhnya terhadap kinerja organisasi. Secara praktis penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan bagi
para praktisi dalam mempertimbangkan desain sistem informasi akuntansi manajemen, struktur organisasi sesuai dengan kondisi
lingkungan rumah sakit yang berbeda, serta diharapkan hasil
penelitian ini dapat dijadikan sebagai bahan masukan
bagi pengambilan keputusan manajemen� yang terkait dengan sistem informasi akuntansi manajemen, tingkat desentralisasi dan kinerja organisasi.
Metode Penelitian
Penelitian ini menggunakan penelitian asosiatif, dengan metode kuantitatif, yang menggunakan angka-angka dan dengan perhitungan statistik. Penelitian kuantitatif dapat diartikan sebagai metode penelitian yang digunakan untuk meneliti populasi atau sampel tertentu,
teknik pengambilan sampel pada umumnya dilakukan secara random, pengumpulan data menggunakan instrumen penelitian, analisis data bersifat kuantitatif atau statistik dengan tujuan untuk menguji
hipotesis yang telah ditetapkan (Indriantoro and Supomo 2002)���
Penelitian ini dilakukan di seluruh Rumah Sakit
yang berada di kota
Jayapura. Ruang lingkup penelitian
ini memusatkan pada pembahasan mengenai pengaruh karakteristik broadscope, aggregation, integration dan timeliness terhadap kinerja dan dimoderasi oleh desentralisasi
pada lokasi penelitian yang
dilakukan dengan menyebarkan kuesioner. �Waktu penelitian ini akan dilaksanakan
pada akhir bulan atau diakhir tahun
2018 antara bulan desember sampai januari.
Alat Analisis data dalam penelitian ini menggunakan pendekatan Structural Equation Model (SEM) dengan metode Partial Least Square (PLS) dengan menggunakan software WarpPLS 6.0.� PLS �
SEM digunakan untuk menguji secara simultan hubungan antar konstruk laten dalam hubungan linear ataupun nonlinear dengan banyak indikator baik berbentuk reflektif, formatif dan MIMIC. Berbeda dengan analisis multivariate
biasa, PLS lebih powerful karena dapat digunakan
untuk membangun model penelitian dengan banyak variabel dan indikator (Khoi 2021)
Hasil
dan Pembahasan
A. Hasil
Penelitian
Hasil dari studi lapangan yang dilakukan pada Rumah Sakit swasta dan pemerintah Kota Jayapura dengan menyebarkan keusioner secara langsung pada 5 Rumah sakit� yang ada di Kota Jayapura. Lima variabel
pokok yang ada dalam penelitian ini yaitu, broadscope, aggregtion, integration, timeliness,
dan kinerja organisasi.
Dari 60 kuesioner yang telah
disebar ternyata kuesioner yang tidak kembali berjumlah 3 (5%) dan kuesioner yang kembali berjumlah 57, dan kuesioner yang layak diolah adalah
55 (51,7 %). kuesioner yang tidak
kembali dikarenakan, tidak semua pegawai
di Rumah Sakit Kota
Jayapura tidak bersedia mengisi kuesioner yang dibagikan dan ada juga beberapa pegawai yang sedang berpergian untuk perjalanan dinas keluar kota.
1.
Uji Convergen Validity
Pengujian
ini bertujuan untuk mengetahui apakah instrumen yang digunakan valid dan reliabel sebab kebenaran data yang diolah sangat menentukan hasil penelitian.
2.
Uji Discriminant Validity
Uji Discriminant
validity dilakukan untuk
mengetahui korelasi antara tiap indikator
dengan semua variabel laten yang ada. Seluruh indikator dinyatakan vali d jika nilai korelasi cross loading seluruh
indikator dalam membentuk variabel laten, lebih besar dibandingkan
dengan korelasi terhadap variabel laten lainnya.
3. Average Variance Extracted
(AVE)
Uji Average
Variance Extracted (AVE) dilakukan untuk mengetahui nilai yang menunjukkan besarnya varian indikator yang dikandung oleh variabel. Nilai AVE seluruh variabel dinyatakan valid apabila nilai AVE berkisar diatas 0,5.
Tabel 1
Composite Reability
|
Variabel |
X1 |
X2 |
X3 |
X4
|
M |
Y |
|
X1 |
0,733 |
0,265 |
0,503 |
0.46 |
0.17 |
0.351 |
|
X2 |
0,265 |
0,874 |
0,688 |
0.408 |
0.19 |
0.503 |
|
X3 |
0,503 |
0,688 |
0,709 |
0.732 |
0.03 |
0.579 |
|
X4 |
0,465 |
0,408 |
0,732 |
0.777 |
0.24 |
0.467 |
|
M |
-0.17 |
0,190 |
0,035 |
0.241 |
0.84 |
0.362 |
|
Y |
0,351 |
0,503 |
0,579 |
0.467 |
0.36 |
0.766 |
Uji composite
reability dilakukan untuk mengetahui nilai yang menunjukkan sejauh mana suatu alat ukur dapat
dipercaya untuk digunakan. Seluruh variabel dinyatakan reliable apabila loadingnya diatas 0,70.
1. Evaluasi inner
model
Evaluasi
inner model dilakukan dengan
uji wrap pls,proceed to step
5, perform SEM analysis yang menghasilkan R-square
(R2), Q- square, path coeffisients,
laten variable correlations. Hasil evaluasi inner model dijelaskan sebagai berikut:
a. Koefisien Determinasi R � Square
R-Square berfungsi untuk melihat nilai
signifikan dari variabel laten.
Tabel 2
R-Square
|
variabel |
R-Square |
|
Kinerja
organisasi |
0,482 |
|
Broadscope |
0,094 |
|
Aggregation |
0,159 |
|
Integratio |
0,067 |
|
Timeliness |
0.025 |
|
Desentralisasi |
0,137 |
b. Q-
Square
Suatu
model dianggap mempunyai nilai predictive
yang relevan jika nilai Q-Square lebih besar dari 0 (>0). Nilai predictive � relevance diperoleh dengan rumus sebagai berikut.
Kinerja Organisasi
Q2 = 1 � (1-R12)
Q2 = 1 � (1 - 0,4822)
Q2 = 1 � (1- 0,233)
Q2 = 1 � (0.767)
Q2 = 0, 233
Hasil perhitungan Q�Square pada penelitian adalah 0,233. Hal ini berarti model penelitian ini layak untuk menjelaskan
variabel endogen yaitu
Kinerja Organisasi sebesar
0,233 atau 23,3%. Menurut pendapat Scheper et al. (2005) menjelaskan
bahawa effect size dari R2
dan Q2 dapat dikelompokkan dalam kategori nilai 0,02 kecil; nilai 0,13 sedang; nilai 0,23 besar. Hasil pengujian ini menunjukkan
effect size besar.
B.
Pembahasan
1 Broadscope
berpengaruh Terhadap Kinerja
organisasi
Hasil pengujian hipotesis pertama menunjukkan bahwa broadscope secara langsung berpengaruh signifikan terhadap kinerja organisasi. Hasil penelitian menunjukkan besar nilainya koefisien jalur 0,215 lebih besar dari 0,1. Dan p-value sebesar 0,045 lebih kecil dari 0,05. Hal ini membuktikan bahwa semakin tinggi
nilai broadscope maka kinerja organisasi semakin meningkat. Broadscope memiliki kemampuan yang unik dalam hal
ini walaupun sangat luas tetapi akurat,
lengkap mengenai aspek ekonomi maupun
non-ekonomi serta berguna untuk meningkatkan
kinerja organisasi.
Penelitian
ini mendapatkan hasil bahwa broadscope
memengaruhi kinerja ke arah yang lebih
baik. Seperti halnya di RS Abepura dimana broadscope yang berupa ketersediaan informasi non eksternal seperti data pasien, sangat membantu dalam meningkatkan layanan kinerja. Sehingga semakin lengkap data pasien, keputusan yang diambil juga akan baik sesuai
dengan realitas yang terjadi. Begitu juga dengan tersedianya informasi tentang pengembangan rumah sakit dimasa yang akan datang. Rencana
ini dibuat agar mereka lebih siap
untuk mempersiapkan hal-hal apa saja
yang berkaitan dengan perkembangan rumah sakit dimasa yang akan datang. Tidak
hanya itu, perkembangan teknologi juga mempengaruhi broadscope ke arah yang lebih
baik. Hal ini ditandai dengan adanya smartphone, informasi tentang dunia luar dapat di akses dan dipahami dengan mudah dan cepat
2. Aggregation berpengaruh Terhadap kinerja organisasi
Hasil pengujian hipotesis kedua menunjukan bahwa aggregation secara langsung berpengaruh signifikan terhadap kinerja organisasi. Hasil penelitian menunjukkan besar nilainya koefisien jalur 0,291 lebih besar dari 0,1. Dan p-value sebesar 0,01 lebih kecil dari 0,05. Hal ini membuktikan bahwa semakin tinggi
nilai aggregation maka kinerja organisasi semakin meningkat. Salah satu contoh bahwa
Aggregation berpengaruh
terhadap kinerja organisasi ke arah
yang lebih baik yaitu dengan menyajikan
data operasional. Dimana rata-rata RS Abepura menyajikan laporan operasionalnya secara berkala dengan ringkas namun jelas.
Salah satu bentuk laporan yang mereka buat yaitu
data pasien. Dimana data pasien
ini dapat digunakan untuk melihat rata-rata penyakit yang diderita para pasien. Sehingga hal ini
dapat menjadi acuan ketersediaan pasokan obat untuk
mengobati pasien dengan penyakit tertentu. Hal ini dimaksudkan agar tidak adanya kekurangan obat, sehingga kegiatan operasional rumah sakit dapat
terus berjalan dan menjadikan kinerja rumah sakit tersebut
terlihat baik.
3. Integration
berpengaruh Terhadap kinerja organisasi
Hasil pengujian hipotesis ketiga menunjukkan bahwa integration berpengaruh positif terhadap kinerja organisasi, tetapi tidak signifikan. Hasil penelitian menunjukkan besar nilainya koefisien jalur 0,115 lebih besar 0,1. Dan p-value sebesar 0,188 lebih besar dari 0,05. Hasil penelitian ini membuktikan bahwa tingginya integration
berpengaruh terhadap kinerja organisasi namun tingkat signifikan
lebih dari 0,05 maka hipotesis ini di tolak atau
tidak berpengaruh. Integration memengaruhi
kinerja organisasi, seperti halnya yang terdapat di RS Bhayangkara dan RS
Angkatan laut yang dimana rumah sakit tersebut
bergerak dibawah Naungan Kesatuan.
Informasi
saling terhubung antar bagiannya tentu akan berpengaruh
besar untuk sebuah kinerja Rumah Sakit. Informasi
yang terhubung ini berguna untuk pengambilan
keputusan dan melakukan analisa terhadap kemungkinan yang terjadi dalam kegiatan operasional. Akan tetapi yang berhak mengambil keputusan yaitu pimpinan tertinggi dan dikoordinasikan ke pimpinan pusat.
4. Timeliness
berpengaruh terhadap kinerja organisasi
Hasil pengujian hipotesis keempat menunjukkan bahwa timeliness tidak
berpengaruh terhadap kinerja organisasi dan tidak signifikan. Hasil penelitian menunjukkan besar nilainya koefisien jalur 0,052 lebih kecil dari
0,1 dan nilai p-value 0,348 lebih
besar dari 0,05. Hasil penelitian ini sesuai dengan penelitian
yang dilakukan oleh (Anita 2017) yang menyatakan
bahwa sistem informasi akuntansi manajemen yang bersifat timeliness tidak
berpengaruh signifikan terhadap kinerja organisasi. Hasil ini sejalan dengan penelitian (Putri and Aris 2017)
yang menunjukan bahwa hal ini disebabkan
salah satunya� manajer tidak memprioritaskan
ketepatan waktu dalam penyajian informasi.
Bagi
manajer informasi yang tepat waktu belum
tentu sesuai dengan apa yang diharapkan. Informasi yang baik yang sesuai dengan apa yang diharapkan tidak harus sesuai ada
tepat waktu. Akan tetapi, manajer juga tidak bisa mentolerir
karyawan yang tidak bisa bekerja dengan
baik dalam menyajikan pelaporan informasi. Seperti halnya di RS dok 2, informasi disajikan secara berkala dan cepat. Namun terkadang
informasi tersebut sebenarnya belum dibutuhkan dalam jangka waktu dekat.
Misalnya laporan tentang penyusutan peralatan medik. Pihak RS dapat menyajikan laporan tersebut secara cepat, namun hal
tersebut bukan merupakan informasi yang berguna dalam jangka
waktu dekat dan tidak bisa dijadikan
tolak ukur untuk menyatakan apakah kinerja Rumah Sakit tersebut
baik atau tidak. Karena faktor utama yang menentukan kinerja adalah profesionalisme tenaga ahlinya, bukan pada alatnya.
5. Desentralisasi memoderasi broadscope
Hasil pengujian hipotesis kelima menunjukan bahwa desentralisasi tidak berpengaruh terhadap kinerja organisasi dan tidak signifikan. Hasil penelitian menunjukkan besar nilainya koefisien jalur -0.042 yang berada dalam rentang
-0,1 sampai 0,1 Dan p-value sebesar
0,376 lebih besar dari 0,05 artinya bahwa desentralisasi tidak mempengaruhi hubungan antara broadscope dengan kinerja organisasi. Hasil dari penelitian ini juga menyatakan bahwa tinggi atau
rendahnya tingkat desentralisasi pada rumah sakit tidak ada
pengaruhnya dengan karakteristik broadscope terhadap kinerja organisasi.
Pendelegasian
wewenang yang terdapat di Rumah Sakit memang
memungkinkan para pemimpin dapat mengambil keputusan untuk masa mendatang, akan tetapi hal tersebut
tidak dapat dijadikan patokan atau dijadikan ukuran bahwa setiap
suatu keputusan yang diambil dapat menjadi
suatu keputusan yang baik untuk seluruh
unit bagian, karena mungkin lingkup keputusan tersebut hanya untuk bagian
yang terkait.
6. Desentralisasi memoderasi aggregation
Hasil pengujian hipotesis keenam menunjukan bahwa desentralisasi tidak berpengaruh terhadap kinerja organisasi dan tidak signifikan. Hasil penelitian menunjukkan besar nilainya koefisien jalur -0.047 lebih besar dari
-0,1. Dan p-value sebesar 0,363 lebih
besar dari 0,05 artinya bahwa desentralisasi
tidak memoderasi hubungan antara aggregation dengan kinerja organisasi. Penelitian ini sejalan dengan
penelitian (Sulistiyanto 2005a)
yang menyatakan bahwa aggregation diperoleh
belum menunjukkan berpengaruh terhadap kinerja manajerial untuk variabel desentralisasi sebagai variabel moderasi moderating.
Semakin
tinggi desentralisasi maka aggregation tidak berpengaruh terhadap kinerja organisasi atau desentralisasi yang berlebihan membuat aggregation
tidak berpengaruh untuk meningkatkan kinerja secara signifikan. Suatu unit tertentu dirumah sakit perlu mengambil
keputusan secara tepat waktu dan sistematis seperti halnya membuat laporan akhir tahun,
namun informasi pendukungnya dibatasi oleh otoritas atasan yang dimana fungsinya untuk meningkatkan kinerja, alhasil laporan tersebut sama sekali tidak
mempengaruhi kinerja mereka.
7.
Desentralisasi
memoderasi Integration
Hasil pengujian hipotesis ketujuh menunjukan bahwa desentralisasi berpengaruh negatif terhadap kinerja organisasi dan signifikan. Hasil penelitian menunjukkan besar nilainya koefisien jalur -0.306 lebih kecil dari -0,1. Dan p-value sebesar 0,007 lebih kecil dari 0,05 artinya bahwa desentralisasi
memperlemah hubungan antara integration dengan kinerja organisasi. Penelitian ini sejalan dengan penelitian (Solechan and Setiawati 2009)
tidak adanya pengaruh yang signifikan ini mengindikasikan bahwa baik buruknya
sistem desentralisasi yang diterapkan pada suatu perusahaan, tidak berpengaruh pada kinerja manajerial perusahaan.
8. Desentralisasi memoderasi Timeliness
Hasil pengujian hipotesis kedelapan menunjukan bahwa desentralisasi tidak berpengaruh terhadap kinerja organisasi dan tidak signifikan. Hasil penelitian menunjukkan besar nilainya koefisien jalur 0,073 lebih besar dari
-0,1. Dan nilai p-value sebesar
0,29 lebih besar dari 0,05 artinya bahwa desentralisasi tidak memoderasi hubungan antara timeliness dengan
kinerja organisasi. Penelitian ini sejalan dengan (Irawati and Ardianshah 2018)
yang menyebutkan bahwa sistem� informasi akuntansi manajemen terhadap kinerja manajerial� dengan desentralisasi sebagai variabel moderating, dapat diketahui bahwa interaksi variabel karakteristik sistem informasi akuntansi manajemen dan desentralisasi� tidak berpengaruh secara signifikan terhadap kinerja� manajerial
Kesimpulan
Broadscope
berpengaruh terhadap kinerja. Hasil ini menunjukkan dengan adanya pengaruh langsung ke kinerja
organisasi, hal ini tentu saja
berdampak pada suatu kinerja organisasi mereka, semakin berkembangya informasi, membuat para pengambil keputusan mengambil suatu keputusan yang tepat. Sehingga kinerja menjadi semakin baik.
Bibliografi
Anita,
Lella. 2017. �Pengaruh Ketidakpastian Lingkungan Terhadap Kinerja Manajerial
Dengan Sistem Informasi Akuntansi Manajemen Sebagai Variabel Pemediasi.� Google Scholar
Bromwich,
Michael. 1990. �The Case for Strategic Management Accounting: The Role of
Accounting Information for Strategy in Competitive Markets.� Accounting,
Organizations and Society 15(1�2):27�46.Google Scholar
Chenhall,
Robert H., and Deigan Morris. 1986. �The Impact of Structure, Environment, and
Interdependence on the Perceived Usefulness of Management Accounting Systems.� Accounting
Review 16�35. Google Scholar
Chia, Yew
Ming. 1995. �Decentralization, Management Accounting System (MAS) Information
Characteristics and Their Interaction Effects on Managerial Performance: A
Singapore Study.� Journal of Business Finance & Accounting 22(6):811�30. Google Scholar
Faisal.
2006. �Analisis Pengaruh Intensitas Persaingan Dan Variabel Kontekstual
Terhadap Penggunaan Informasi Sistem Akuntansi Manajemen Dan Kinerja Unit
Bisnis Dengan Pendekatan Partial Least Square.� Benchmarking 23�26. Google Scholar
Faisal,
Faisal. 2007. �Analisis Pengaruh Intensitas Persaingan Dan Variabel Kontekstual
Terhadap Penggunaan Informasi Sistem Akuntansi Manajemen Dan Kinerja Unit Bisnis
Dengan Pendekatan Partial Least Squre.� The Indonesian Journal of Accounting
Research 10(2). Google Scholar
Gibson,
James L. 2002. Organizations. Behavior, Structure, Procces. 14th ed.
edited by paul Ducham. New York: McGraw-Hill, a business unit of The
McGraw-Hill Companies, Inc. Google Scholar
Indriantoro,
Nur, and Bambang Supomo. 2002. �Metodologi Penelitian Bisnis Untuk Akuntansi
Dan Manajemen.� Google Scholar
Irawati,
Anik, and Rico Ardianshah. 2018. �Pengaruh Karakteristik Sistem Informasi
Akuntansi Manajemen Terhadap Kinerja Manajerial Dengan Desentralisasi Sebagai
Variabel Moderating.� Jurnal Akuntansi Dan Keuangan 9(1):20. Google Scholar
Khoi, Bui
Huy. 2021. �Factors Influencing on University Reputation: Model Selection by
AIC.� Pp. 177�88 in Data Science for Financial Econometrics. Springer. Google Scholar
Nainggolan,
Edisah Putra. 2015. �Pengaruh Karakteristik Sistem Informasi Akuntansi
Manajemen Terhadap Kinerja Organisasi Dengan Tingkat Desentralisasi Sebagai
Variabel Moderating.� Jurnal Riset Akuntansi Dan Bisnis 15(1):100�112. Google Scholar
Putri, Maya
Sundari Cahyono, and M. Abdul Aris. 2017. �Pengaruh Sistem Akuntansi Manajemen,
Sistem Pengendalian Manajemen, Dan Desentralisasi Terhadap Kinerja Manajerial
(Studi Empiris Pada Bank Perkreditan Rakyat Se-Eks Karesidenan Surakarta).� Google Scholar
Ratnawati,
Juli, and Dewi Setyaningsih. 2011. �Karakteristik Sistem Informasi Akuntansi
Manajemen Dan Desentralisasi Serta Pengaruhnya Terhadap Kinerja Organisasi.� Seminar
Nasional Ilmu Ekonomi Terapan 21�32. Google Scholar
Solechan,
Achmad, and Ira Setiawati. 2009. �Pengaruh Karakteristik Sistem Akuntansi
Manajemen Dan Desentralisasi Sebagai Variabel Moderating Terhadap Kinerja
Manajerial (Studi Empiris Perusahaan Manufaktur Di Kabupaten Semarang).� Fokus
Ekonomi: Jurnal Ilmiah Ekonomi 4(1). Google Scholar
Sulistiyanto,
Albertus Eka. 2005a. �Pengaruh Karakteristik Informasi Sistem Akuntansi
Manajemen Terhadap Kinerja Manajerial Dengan Desentralisasi Sebagai Variabel
Moderating.� Google Scholar
Sulistiyanto,
Albertus Eka. 2005b. �Pengaruh Karakteristik Informasi Sistem Manajerial Dengan
Desentralisasi Sebagai.� Google Scholar
Syam,
Fazli, and Lilis Maryasih. 2006. �Sistem Akuntansi Manajemen, Persepsi
Ketidakpastian Lingkungan, Desentralisasi, Dan Kinerja Organisasi (Studi
Empiris Pada Perusahaan Manufaktur Di Provinsi NAD).� Simposium Nasional
Akuntansi 9 Padang. Google Scholar
|
Copyright holder : Meksa Alberian Bonang Pamungkas Purbananda (2021). |
|
First publication right
: This article is licensed under: |