Jurnal Syntax Transformation

Vol. 2 No. 10, Oktober 2021

p-ISSN : 2721-3854 e-ISSN : 2721-2769

Sosial Sains

 

PENINGKATAN KREATIVITAS ANAK DENGAN PEMANFAATAN BARANG BEKAS DALAM PEMBELAJARAN ONLINE

 

Nurhikmah, Lia Kurniawaty

Fakultas Pendidikan Universitas Pancasakti Bekasi, Jawa Barat, Indonesia��������

Email: [email protected], [email protected]

 

INFO ARTIKEL

ABSTRAK

Diterima

20 September 2021

Direvisi

12 Oktober 2021

Disetujui

21 Oktober 2021

Penelitian ini dilakukan karena rendahnya kemampuan kreativitas anak pada saat pembelajaran online dikarenakan pembelajaran terpaku pada lembar kerja dan penugasan. Membuat anak cepat bosan karena pembelajaran sangat monoton dankurang memanfaatkan media yang bervariatif pada saat pembelajaran online. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan kreativitas anak dengan pemanfaatan barang bekas dalam pembelajaran online. Penelitian ini menggunakan penelitian tindakan kelas model Kemmis & Mc Taggart.Subjek penelitian anak usia 5-6 Tahun sebanyak 15 siswa terdiri dari 6 Laki-laki dan 9 Perempuan di PAUD Al-Furqon Desa Curug Gunungsindur-Bogor. Berdasarkan hasil yang diperoleh sebelum pra sikluskreativitas anak usia dini dalam pemanfaatan barang bekas dalam pembelajaran online 80% anak belum berkembang kreativitasnya. Kemudian setelah melakukan penelitian tindakan kelas di siklus ke Imenunjukan adanya peningkatan 40% anak berkembang sesuai harapan tingkat kreativitasnya, dan pada siklus ke II terjadi peningkatan yang sangat memuaskan yaitu 80% anak berkembang sesuai harapan. Kesimpulan dari penelitian ini bahwa peningkatan kreativitas anak dapat meningkat dengan memanfaatkan barang bekas sebagai media belajar yang dapat membuat anak meningkat kreativitasnya.

 

ABSTRACT

The Dili Court is the venue for processing international criminal cases regarding the humanitarian conflict in the tragedy of Timor Leste or East Timor in 1999, which was initiated by the issue of the Indonesian state border with the territory of East Timor which became the main trigger of political aggregates and military aggression which involved many of the indigenous people of East Timor. who are victims. In this study, the author will discuss the analysis of international criminal law related to the humanitarian conflict in East Timor by the Dili court. In his research, the author discusses the history of the establishment of the Dili Court, legal analysis related to the international criminal settlement scheme by the Dili court, as well as the difficulties and obstacles faced by the Dili court to process serious crimes in 1999. Based on the research, the author concludes that law enforcement in serious crimes In Dili, it is considered very difficult to enforce because of the inequality of exclusive authority from both parties, on the one hand, the existence of East Timor which is still politically and economically dependent on the Indonesian state, resulting in this criminal lawsuit to a dead end. On the other hand, the granting of authority is misused for personal interests, which in a militant scheme, the Indonesian military may have been used as an instrument by certain elite figures which resulted in violent upheaval and massacres could occur.

Kata Kunci:

Kreativitas, Barang Bekas, Anak Usia Dini.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Keywords:

Creativity, SecondHand, Early Childhood


 


Pendahuluan

Anak adalah individu yang memiliki banyak potensi yang masih harus dikembangkan. Anak memiliki karakteristik yang khas dan tidak sama dengan orang dewasa (Peraturan Menteri Pendidikan Nasional, 2009). Menurut UU RI No.20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, yang menyatakan bahwa : pendidikan di lakukan dengan memberikan keteladanan, membangun kemauan, dan mengembangkan kreativitas peserta didik pada masa pembelajaran. Oleh karena itu anak-anak dalam masa pembelajaran di arahkan untuk bisa berekspresi sesuai dengan tumbuh kembangnya.

Pendidikan Anak Usia Dini sangat dipengaruhi oleh para pendidiknya. Akan tetapi terkadang para pendidik kurang memahami tentang pentingnya bagaimana menggali kreatifitas anak sejak usia dini. Kreatifitas seorang anak tidak akan berkembang jikalau lingkungan tidak mendukung, (Kartini & Sujarwo, 2014) Oleh karena itu lingkungan pendidikan dalam hal ini lembaga/sekolah memegang perannan yang sangat penting dalam pengembangan kreatifitas anak didiknya.

Dampak luar biasa daripandemi covid-19 yang belum selesai hingga saat ini yaitu belum dibukanya kembali sekolah tatap muka terkhusus untuk jenjang Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) (DI MASA, 2020). Dari Dampak tersebut membuat guru dan anak didiknyaharus belajar dari rumah (BDR) dengan menggunakan media online sebagai alat pendukung proses kegiatan belajar mengajar di masa pandemi covid-19. Tujuannya adalah untuk mencegah penyebaran virus covid-19.Sejak dikeluarkan surat edaran oleh Kemdikbud No 4 Tahun 2020 berkaitan dengan pelaksanaan pendidikan dalam masa darurat Covid-19. Ada tiga hal kebijakan pembelajaran yang dilaksanakan secara daring. Pertama, pembelajaran daring/jarak jauh untuk memberi pengalaman belajar yang bermakna, tanpa terbebani tuntutan menuntaskan seluruh capaian kurikulum untuk kenaikan kelas maupun kelulusan. Kedua, dapat difokuskan pada pendidikan kecakapan hidup, antara lain mengenai pandemi Covid-19. Ketiga, aktivitas dan tugas pembelajaran dapat bervariasi antar siswa, sesuai minat dan kondisi masing-masing, termasuk mempertimbangkan kesenjangan akses/fasilitas belajar di rumah (Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, 2020)

Dari peraturan yang dikeluarkan tersebut, guru berupaya untuk memaksimalkan pembelajaran kepada anak usia dini dengan berbagai cara (Miranda, 2016). Tujuannyauntuk mengembangkan kemampuan anak secara optimal, serta menyiapkan agar memasuki pendidikan yang lebih lanjut. Sebagaimana di jelaskandalam Undang-undang Nomor 137 Tahun 2014 tentang sistem Pendidikan Nasional Bab 1, butir 10 menyatakan bahwa �Pendidikan anak usia dini adalah suatu upaya pembinaan yang ditunjukkan kepada anak sejak lahir sampai dengan usia 6 Tahun yang dilakukkan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut.

Oleh karena itu dalam mengembangkan kemampuan anak secara optimal (Priyanto, 2014), para pendidik mengembangkan anak didiknya dengan berbagai kegiatan yang dapat menstimulasi kemampuan anak didiknya. Salah satunya adalah kegiatan pembelajaran yang dapat meningkatkan kemampuan kreativitasnya. Karena pada hakikatnyaproses belajar untuk mengembangkan aktivitas dan kreativitas peserta didik, melalui berbagai interaksi dan pengalaman belajar. Kreativitas anak dapat berkembang sesuai dengan karakteristiknya.

Kreativitas merupakan tindakan seorang yang sadar mendapatkan sesuatu perspektif baru dan sebagai hasilnya membawa sesuatu yang baru (Sitepu, 2019). Menurut (Fadlillah, 2016) menyatakan begitu pentingnya suatu basis pendidikan dan latihan yang dapat menciptakan kreativitas. Mereka menyebutkan dengan proses pembelajaran bagaimana berpikir (learn how to think), pembelajaran bagaimana belajar (learn how to learn), dan pembelajaran menciptakan sesuatu (learn how to create) (Yuni, 2020)

Selain itu juga, Kreativitas dapat membuat anak memperoleh kesenangan melalui menciptakan sesuatu yang baru. kreativitas merupakan suatu kemampuan yang dimiliki oleh seseorang dalam menciptakan suatu karya yang di dapatkan dari berbagai macam ide (Debeturu & Wijayaningsih, 2019)

Kreativitas anak usia dini tidak bisa dilepaskan dari faktor bermain. Kehidupan bermain adalah kehidupan anak-anak dan melalui bermain maka memberikan kesempatan kepada anak untuk mengekspresikan dorongan-dorongan kreatifnya. Kegiatan yang diberikan pada anak ini dapat membuat anak berpikir kreatif dan belajaruntuk memecahkan masalahnya.

Pengembangan potensi pada anak dapat dilakukan melalui pemberian stimulus yang tepat. Pemberian stimulus bagi anak usia dini berbeda dengan pemberian bagi orang dewasa. Hal tersebut dikarenakan anak usia dini bukan merupakan bentuk mini dari orang dewasa, anak usia dini sangat aktif, dinamis, antusias, dan hampir selalu ingin tahu terhadap apa yang dilihat dan didengarnya (Hartati, 2005).

Kegiatan kreativitas pada anak usia dini harus dikemas dengan menarik, agar anak tidak cepat bosan dengan pembelajaran yang disajikan (Kusmiadi et al., 2008). Untuk itu para pendidik di masa pandemi ini mengemas pembelajaran online dengan semenarik mungkin, danmemanfaatkan barang bekas yang ada di lingkungan yang masih bisa di gunakan untuk dijadikan media pembelajaran yang bervariatif.

Bahan bekas merupakan benda- benda sisa yang terdapat di sekitar lingkungan anak yang tidak digunakan lagi (Anwar, 2018). Bahan bekasbisadijadikansebuahmediauntukmencapaitujuan prosespembelajaran,karena dengan adanyamediaanakbisamengembangkansemua potensi yang ada pada diri anak. Kemudian diubah menjadi benda yang bisa digunakan untuk sebuah media agar dapat mengembangkan kreativitas anak. Ini dilakukan agar pada saat pembelajaran online anaktidak cepat bosan dan dapat dengan mudah mengetahui, serta dapat mencari barang bekas untuk dijadikanmedia untuk menunjang kemampuan kreativitasnya.

Berdasarkan observasiyang peneliti lakukandi PAUD Al-Furqon, pada saat pembelajaran online,anak masih menggunakan lembar kerja dan penugasan. Selain itu, dalam pembelajaran anak juga tidak menggunakan media yang bervariasi sehingga kegiatan belajar mengajar menjadi monoton dan kemampuan kreativitas anak kurang berkembang secara optimal.

Untuk mengatasi permasalahan tersebut diperlukan pembelajaran yang menarik, serta mampu meningkatkan kreativitas anak. Maka dari itu peneliti bekerjasama dengan guru serta orang tua membuat suatu inovasi pembelajaran yang mampu meningkatkan kreativitas anak dengan barang bekas sebagai salah satu alternatif untuk menciptakan pembelajaran yang menarik dan menyenangkan untuk anak usia dini di masa pandemi saat ini. Dari latar belakang masalah diatas, peneliti tertarik untuk melakukan sebuah penelitian yang berjudul �Peningkatan kreativitas anak dengan pemanfaatan barang bekas di PAUD Al-Furqon Desa Curug Kecamatan-Gunungsindur-Kabupaten Bogor �

Yang dilakukanoleh pengamat disaat ini berbeda dengan penelitian awal, walaupun memakai judul yang sama, yang membuat penelitian ini berbeda ialah dari subjek serta objek penelitian yang berbeda, tidak hanya itu perbandingan penelitian kali ini dalam pembelajarannya lewat online class pada waktu pandemi covid 19 ini, yang mana guru melaksanakan tatap muka tetapi dibantu dengan memakai media komunikasi, serta penelitian yang terdahulu menggunakan kelas serta belajar secara tatap muka antara guru serta siswa didalam kelas

Dengan menggunakan bahan bekasselaku media bahan pendidikan, menjadikan pendidikan lebih kreatif serta menarik, sehingga anak bisa tingkatkan keahlian kreativitasnya dari bahan bekas tersebut (Rohani, 2017). Dalam penelitian ini, peneliti membatas permasalahan penelitian ini hanya kepada peningkatkan kreativitas anak dengan menggunakan bahan bekas dalam pendidikan online di PAUD Al- Furqon. Ada pula perumusan permasalahan pada penelitian ini merupakan bagaimana Kenaikan kreativitas anak dengan menggunakan bahan bekasa dalam pendidikan online di PAUD Al- Furqon?Dalam penelitian ini, peneliti membatasi masalah penelitian ini hanya kepadapeningkatkan kreativitas anak dengan memanfaatkan barang bekas dalam pembelajaran online di PAUD Al-Furqon.

Adapun perumusan masalah pada penelitian ini adalah Bagaimana Peningkatan kreativitas anak dengan memanfaatkan barang bekas dalam pembelajaran online di PAUD Al-Furqon?

Tujuan dari penelitian ini adalah Untuk mengetahui Peningkatan kreativitas anak dengan memanfaatkan barang bekas dalam pembelajaran online di PAUD Al-Furqon.

 

 

Metode Penelitian

Penelitian ini menggunakan penelitian tindakan kelas (PTK) dalam hal ini peneliti melakukannya dengan online class (Susilana, 2002). Dengan menggunakan model Kemis dan MCTaggart. Tahapan penelitian tindakan menurut Kemmis dan Taggart dalam Arikunto mencakup: (a) Perencanaan (planning), (b) tindakan (acting), (c) observasi (observing), (d) refleksi (reflecting). Kemudian berlanjut dengan perencanaan ulang (replanning), tindakan, observasi dan refleksi untuk siklus berikutnya, begitu seterusnya sehingga membentuk suatu spiral. Sifat penelitian yang digunakandalam penelitian iniadalah kolaboratif dimana peneliti dibantu oleh kolaborator dalam mencari data dan fakta sesuai dengan judul pada penelitian ini.

Penelitian dilakukan di PAUD Al-Furqon Desa Curug Kecamatan Gunungsindur Bogor melalui pembelajaran online di masa pandemi. Dengan subjek penelitian siswa kelas B Sebanyak 15 Anak terdiri dari 6 laki-laki dan 9 perempuan.Penelitian ini di mulai dari Bulan Januari-Maret 2021 di semester kedua.

Adapun kisi-kisi instrumen Peningkatan Kreativitas Anak Dengan Pemanfaatan Barang Bekas Dalam Pembelajaran Online Di Paud Al-furqon Desa Curug Kecamatan Gunungsindur sebagai berikut: a) Dapat mencetuskangagasan dan penyelesaian masalah. b) Menciptakan ide-ide atau hasil karya baru. c) Mengembangkan dan memperkaya gagasan. d) Memiliki rasa ingin tahu yang tinggi. e) Dapat bereksplorasi dari tugas yang diberikan.

Instrumen ini menggunakan expert judgement, judgement pada ahli bidang kreativitas yang benar-benar paham tentang indikator yang hendak diamati. Setelah data diperoleh, maka selanjutnya data tersebut dianalisis dengan teknik deskriptif kualitatif. Adapun tingkat keberhasilan pada penelitian ini adalahdari 75%.

 

Hasil dan Pembahasan

A.   Hasil Penelitian

PAUD Al-Furqon didirikan pada tahun 2010 yang berlokasi di Perumahan Griya Cendikia BPPTBlok L RT 006 RW 006 di Desa Curug Kecamatan Gunungsindur Kabupaten Bogor 16340. Berdiri karena permintaan masyarkat yang merasa membutuhkan sebuah lembaga pendidikan yang di khususkan untuk anak usia dini yang tujuannya agar anak usia dini dapat mengetahui dunia pendidikan, dan mengetahui tentang sekolah, agar ketika memasuki pendidikan dasar anak usia dini tersebut dapat siap dari 6 aspek perkembangannya untuk mengikuti pendidikan yang lebih lanjut. PAUD Al-Furqon menerapkan model pembelajaran sentra. Dimana model pembelajaran sentra ini diterapkan agar pembelajaran berpusat pada peserta didik, sehingga dalam pembelajaran anak dapat memiliki pengalamanbermakna. Adapun sentra yang ada padaPAUD Al-Furqon diantaranya ada sentra imtak, sentra persiapan, sentra main peran dan sentra bahan alam/seni.

Berdasarkan observasi awal yang peneliti lakukan di PAUD Al-Furqon pada kegiatan online class di masa pandemiditemukannya masalah pada siswa. Diantaranya siswa belum berkembang kreativitasnya dikarenakan dalam pembelajaran dari rumah siswa hanya diberikan lembar kerja dan penugasan. Selain itu, kurangnya media pembelajaran yang bervariatif pada saat pembelajaran membuat siswa merasa jenuh dan cepat bosan pada saat pemelajaran.

Dari permasalahan tersebut, peneliti melakukan sebuah penelitian tindakan kelas melalui online classdi masa pandemi, denganmelakukan peningkatan kreativitas anak dengan pemanfaatan barang bekas dalam pembelajaran online tujuannya agar kemampuan kreativitas anak bisa berkembang secara optimal di masa pandemi ini. Adapun yang menjadi subjek penelitian ini anak kelompok BPAUD Al-Furqon sebanyak 15 anak terdiri dari 6 anak laki-laki dan 9 anak perempuan. Dari hasil penelitian yang peningkatan kreativitas anak dengan pemanfaatan barang bekas dalam pembelajaran online di PAUD Al-Furqon Desa Curug Kecamatan Gunungsindur-Kabupaten Bogor, dari pra siklus, siklus I dan siklus II mengalami peningkatan yang signifikan. Berikut ini adalahtable hasil penelitian :


 

Tabel 1

Rekapitulasi Perbandingan Prasiklus, Siklus I dan Siklus II

No

Kategori

Prasiklus

Siklus I

Siklus II

F

P(%)

F

P(%)

F

P(%)

1

BB

12

80%

3

20%

0

0%

2

MB

3

20%

6

40%

3

20%

3

BSH

0

0%

6

40%

12

80%

4

BSB

0

0%

0

0%

0

0%

Ket : F = Frekuensi

P = Persentase

 


Hasil pra siklus pada penelitian ini memperoleh data anak yang belum berkembang kemampuan kreativitasnya mencapai 80%. Hal ini membuat peneliti terketuk untuk melakukan penelitiantindakan kelas (PTK) untuk meningkatkan kreativitas anak usia dini.

Peneliti melakukan dua siklus pada penelitian ini,dimana dalam setiap siklus terdiri dari 4 kali pertemuan. Untuk siklus pertama dari hasil yang diperoleh, anak mengalami peningkatan dari pra siklus ke siklus I mencapai 40% anak berkembang sesuai harapan dari kemampuan kreativitasnya. Karena dari siklus I belum mencapai target yang ditentukan, maka dari itu peneliti melakukan tindakan kembali di siklus ke II. Kemudian dari hasil tindakan di siklus II, anakmengalami peningkatan yang signifikan percaya dirinyamencapai 80%.

B.   Pembahasan

Pembelajaran PAUD Al-Furqon di masa pandemi dalam�� interaksinya dibagi menjadi dua yaitu pembelajaran sinkronus dan pembelajaran asinkronus. Pembelajaran sinkronus adalah pembelajaran dimana guru dan anak melakukan pembelajaransecara bersamaan waktunya dengan media komunikasi langsung, seperti vidio call dan lain-lain. Dalam melakukan Vidio Callguru melakukan pijakan awal kepada anak seperti mengabsen, menanyakan kabar, doa bersama, memberi semangat, bernyanyi bersama.

Setelah itu guru menjelaskan kegiatan main dengan menggunakan media yang telah dirancang oleh guru. Selain itu, guru juga memberikan tutorial vidio. Serta menjelaskan materi atau tema pembelajaran yang tujuannya untuk memudahkan siswa/i dalam mengerjakan tugas-tugasnya.

Sedangkan asinkronus adalah pembelajaran dilakukan tidak dalam satu waktu yang bersamaan antara guru dan anak didiknya. Seperti halnya siswa diberikan tugas oleh guru berupa kegiatan gerak dan lagu, dimanasiswa mempelajari serta mengerjakan tugas dengan mengirim tugasnya melalui media baik berupa dokumen hasil karya ataupun vidio yang dibuat untuk di berikan kepada guru.

Rencana Tindakan pada siklus I dan siklus II yang peneliti lakukanmemiliki kesamaan dimana dalam melakukan kegiatan peneliti membuat perencanaan dengan memberikan surat permohonan penelitian kepada sekolah terkait, kemudian mencari data atau informasi tentang judul yang berkaitan dengan penelitian ini. kemudianmenentukan tanggal dan waktu pada setiap pertemuan. Dalam hal ini peneliti membuat empat kali pertemuan untuk siklus 1 danempat kalipertemuan untuk siklus II pada bulan januari sampai dengan bulan maret di semester genap dengan waktu pembelajaran 08.00-09.30.

Kreativitas anak dari siklus ke siklus mengalami peningkatan, Oleh karena itu peneliti menyiapkan administrasi pengajaran yang disusun dengan baik. Seperti penentuan tema dan kegiatan kreativitas dengan memanfaatkan barang bekas yang masih bisa digunakan dan mudah ditemukan di setiap pertemuan, dan melakukan penilaian sesuai dengan kisi-kisi instrumen yang telah dibuat.

Dalam kegiatantindakan dan observasi (pengamatan ) dilakukan secara bersamaan. Pada saat online classpeneliti menyapa anak melalui Vidio Call kemudian membuka pelajaran dengan berdo�a, kemudian anak diminta untuk melaksanakan sholat duha serta menghafal surah pendek, kemudian dilanjutkan dengan mengabsen anak serta memberi motivasi serta semangat kepada anak melalui tepuk dan bernyanyi.

Pada kegiatan inti, peneliti menjelaskan kepada siswa tentang kegiatan yang akan dilaksanakan hari itu sesuai dengan tema dan kegiatan kreativitas dan pemanfaatan barang bekas yang masih dapat di gunakan untuk dijadikan sebuah karya yang di hasilkan dari imajinasi anak.

Kreativitas dapat tumbuh dari dalam diri setiap orang jika merangsangnya dengan baik. Kreativitas adalah kemampuan untuk menghasilkan atau menciptakan sesuatu yang baru (Baron dalam Triantoro, 2005:15). Pemanfaatan barang bekas untuk media pembelajaran dapat dibuat sendiri dengan olahan yang mudah dicari tanpa harusmembeli. Penggunaan barang bekas tersebut dapat membantu mengurangi pencemaran ekosistem pada tanah. Dalam proses pembuatan media pembelajaran dapat mengasah dan mengembangkan motorik kasar dan motorik halus pada anak sehingga anak dapat membangun daya kreativitas dan mengasah kemampuan berpikir pada anak.

Peran seorang guru dan orang tua serta pihak yang ada dilingkungan anak usia dini sangat penting dalam mengembangkan kreativitas anak usia dini. Adapun faktor-faktor pendukung kreativitas anak usia dini adalah: a) Stimulasi dari orang tua. b) Orang tua menyediakan fasilitas untuk anak melakukan kreativitas. c) Dampingi anak dalam melakukan kegiatan kreativitas. Faktor penghambat kreativitas anak usia dini adalah: a) Tidak ada dorongan bereksplorasi. b) Orang tua kurang menstimulus dalam kreativitas untuk anak. c) Orang tua tidak menyediakan fasilitas untuk anak melakukan kreativitas. d) Menyediakan alat permainan edukatif atau bahan-bahan sederhana untuk membuat alat permainan edukatif contoh seperti mebuat papan pintar dari kulit kerang (Renawati & Ruyadi, 2021)

 

Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan dapat disimpulkan bahwa melalui memanfaatan barang bekas sebagai media pembelajaran di masa pandemi covid-19. Anakmampu memiliki kemauan dan dorongan untuk menciptakankarya dengan memanfaatkan barang bekas sebagai media yang bervariatif untuk pembelajaran. Peningkatan kreativitas anak dapat ditunjukkan dari persentase rata-rata dari setiap observasi dan pengamatan yang peneliti lakukan. Berdasarkan hasil yangdiperoleh sebelum pra siklus kreativitas anak usia dini 80% anak belum berkembang kreativitasnya. Kemudian setelah melakukan penelitian tindakan kelas di siklus ke Imenunjukan adanya peningkatan 40% anak berkembang sesuai harapan tingkat kreativitasnya, dan pada siklus ke II terjadi peningkatan yang sangat memuaskan yaitu 80% anak berkembang sesuai harapan. Oleh karena itu, memanfaatkan barang bekas dalam pembelajaran di masa pandemidapat memberikan peningkatan kreativitas yang cukup nyata bagi anak usia dini.

 

Bibliografi

 

Anwar, K. (2018). Pemanfaatan Barang Bekas Sebagai Alat Peraga Optik Sederhana Dalam Peningkatan Motivasi Dan Hasil Belajar Ipa Fisika. Google Scholar

Debeturu, B., & Wijayaningsih, E. L. (2019). Meningkatkan Kreativitas Anak Usia 5-6 Tahun melalui Media Magic Puffer Ball. Jurnal Obsesi: Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini, 3(1), 233�240. Google Scholar

Di Masa, P. (2020). Penyusunan Video. Bunga Rampai Strategi, Proses, Evaluasi, Dan Model Pembelajaran Pendidikan Jasmani, Olahraga, Dan Kesehatan (Pjok) Pada Era Pandemi Covid-19, 57. Google Scholar

Fadlillah, M. (2016). Edutainment Pendidikan Anak Usia Dini: Menciptakan Pembelajaran Menarik, Kreatif dan Menyenangkan. Prenada media. Google Scholar

Hartati, S. (2005). Perkembangan belajar pada anak usia dini. Jakarta: Depdiknas. Google Scholar

Kartini, K., & Sujarwo, S. (2014). Penggunaan media pembelajaran plastisin untuk meningkatkan kreativitas anak usia. JPPM (Jurnal Pendidikan Dan Pemberdayaan Masyarakat), 1(2), 199�208. Google Scholar

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. (2020). Kesehatan Warga Sekolah Menjadi Prioritas Dalam Menentukan Sistem Pembelajaran. https://www.kemdikbud.go.id/main/blog/2020/06/kesehatan-warga-sekolah-menjadi-prioritas-dalam-menentukan-sistem-pembelajaran

Kusmiadi, A., Sriwahyuningsih, S., & Nurfalah, Y. (2008). Strategi Pembelajaran PAUD melalui Metode Dongeng Bagi Pendidik PAUD. Jurnal Ilmiah Visi, 3(2), 198�203. Google Scholar

Miranda, D. (2016). Upaya Guru Dalam Mengembangkan Kreativitas Anak Usia Dini di Kota Pontianak. Jurnal Pembelajaran Prospektif, 1(1), 60�67. Google Scholar

Peraturan Menteri Pendidikan Nasional. (2009). Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 58 Tahun 2009 Tentang Standar Pendidikan Anak Usia Dini. In Salinan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 58 Tahun 2009. https://simpuh.kemenag.go.id/regulasi/permendiknas_58_09.pdf

Priyanto, A. (2014). pengembangan kreativitas pada anak usia dini melalui Aktivitas bermain. Jurnal Ilmiah Guru Caraka Olah Pikir Edukatif, 2. Google Scholar

Rohani, R. (2017). Meningkatkan Kreativitas Anak Usia Dini Melalui Media Bahan Bekas. JURNAL RAUDHAH, 5(2). Google Scholar

Sitepu, A. S. M. B. R. (2019). Pengembangan Kreativitas Siswa. Guepedia. Google Scholar

Susilana, R. (2002). Penelitian tindakan kelas. Google Scholar

Yuni, K. (2020). Pengembangan Seni Musik Anak Usia Dini Melalui Kegiatan Drum Band Dan Angklung Di Tk Nakita Insan Mulia Purwokerto. Iain Purwokerto. Google Scholar


Copyright holder :

Nurhikmah, Lia Kurniawaty (2021).

 

First publication right :

Jurnal Syntax Transformation

 

This article is licensed under: