|
Jurnal
Syntax Transformation |
Vol. 2
No. 10, Oktober 2021 |
|
p-ISSN :
2721-3854 e-ISSN : 2721-2769 |
Sosial Sains |
PENINGKATAN KREATIVITAS ANAK DENGAN PEMANFAATAN BARANG BEKAS DALAM
PEMBELAJARAN ONLINE
Nurhikmah, Lia Kurniawaty
Fakultas Pendidikan Universitas
Pancasakti Bekasi,
Jawa Barat, �Indonesia��������
Email: [email protected], �[email protected]
|
INFO ARTIKEL |
ABSTRAK |
|
Diterima
20 September 2021 Direvisi 12 Oktober �2021 Disetujui 21 Oktober
2021 |
Penelitian ini dilakukan
karena rendahnya kemampuan kreativitas anak pada saat pembelajaran online dikarenakan
pembelajaran terpaku pada
lembar kerja dan penugasan. Membuat anak cepat bosan
karena pembelajaran
sangat monoton dan� kurang memanfaatkan media yang bervariatif
pada saat pembelajaran
online. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan kreativitas anak dengan pemanfaatan
barang bekas dalam pembelajaran online. Penelitian ini menggunakan penelitian tindakan kelas model Kemmis & Mc Taggart.�
Subjek penelitian anak usia 5-6 Tahun sebanyak 15 siswa terdiri dari 6 Laki-laki dan 9
Perempuan di PAUD Al-Furqon Desa
Curug Gunungsindur-Bogor.
Berdasarkan hasil yang �diperoleh
sebelum pra siklus� kreativitas anak usia dini dalam
pemanfaatan barang bekas dalam pembelajaran
online 80% anak belum berkembang kreativitasnya. Kemudian setelah melakukan penelitian tindakan kelas di siklus ke I� menunjukan
adanya peningkatan 40% anak berkembang sesuai harapan tingkat kreativitasnya, dan
pada siklus ke II terjadi peningkatan yang sangat
memuaskan yaitu 80% anak berkembang sesuai harapan. Kesimpulan dari penelitian ini bahwa peningkatan
kreativitas anak dapat meningkat dengan memanfaatkan barang bekas sebagai media belajar yang dapat membuat anak meningkat kreativitasnya. ABSTRACT The Dili Court
is the venue for processing international criminal cases regarding the
humanitarian conflict in the tragedy of Timor Leste
or East Timor in 1999, which was initiated by the issue of the Indonesian
state border with the territory of East Timor which became the main trigger
of political aggregates and military aggression which involved many of the indigenous
people of East Timor. who are victims. In this
study, the author will discuss the analysis of international criminal law
related to the humanitarian conflict in East Timor by the Dili court. In his
research, the author discusses the history of the establishment of the Dili
Court, legal analysis related to the international criminal settlement scheme
by the Dili court, as well as the difficulties and obstacles faced by the
Dili court to process serious crimes in 1999. Based on the research, the author
concludes that law enforcement in serious crimes In Dili, it is considered
very difficult to enforce because of the inequality of exclusive authority
from both parties, on the one hand, the existence of East Timor which is
still politically and economically dependent on the Indonesian state, resulting
in this criminal lawsuit to a dead end. On the other hand, the granting of
authority is misused for personal interests, which in a militant scheme, the
Indonesian military may have been used as an instrument by certain elite
figures which resulted in violent upheaval and massacres could occur. |
|
Kata Kunci: Kreativitas, Barang Bekas, Anak Usia Dini. Keywords: Creativity,
SecondHand, Early Childhood |
Pendahuluan
Anak adalah individu yang
memiliki banyak potensi yang masih harus dikembangkan. Anak memiliki karakteristik
yang khas dan tidak sama dengan orang dewasa (Peraturan Menteri Pendidikan Nasional,
2009). Menurut UU RI No.20 tahun 2003
tentang Sistem Pendidikan Nasional, yang menyatakan bahwa : pendidikan di
lakukan dengan memberikan keteladanan, membangun kemauan, dan mengembangkan
kreativitas peserta didik pada masa pembelajaran. Oleh karena itu anak-anak dalam masa pembelajaran di
arahkan untuk bisa berekspresi sesuai dengan tumbuh kembangnya.
Pendidikan Anak Usia Dini
sangat dipengaruhi oleh para pendidiknya. Akan tetapi terkadang para pendidik
kurang memahami tentang pentingnya bagaimana menggali kreatifitas anak sejak usia dini. Kreatifitas
seorang anak tidak akan berkembang jikalau lingkungan tidak mendukung, (Kartini & Sujarwo, 2014) Oleh karena
itu lingkungan pendidikan dalam hal ini lembaga/sekolah memegang perannan yang sangat
penting dalam pengembangan kreatifitas anak didiknya.
Dampak luar biasa dari� pandemi covid-19 yang belum selesai hingga
saat ini yaitu belum dibukanya kembali sekolah tatap muka terkhusus untuk
jenjang Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) (DI MASA, 2020). Dari Dampak tersebut membuat guru dan anak
didiknya� harus belajar dari rumah (BDR)
dengan menggunakan media online sebagai alat pendukung proses kegiatan belajar
mengajar di masa pandemi covid-19. Tujuannya adalah untuk mencegah penyebaran virus
covid-19.� Sejak dikeluarkan surat edaran
oleh Kemdikbud No 4 Tahun 2020 berkaitan dengan pelaksanaan pendidikan dalam
masa darurat Covid-19. Ada tiga hal kebijakan pembelajaran yang dilaksanakan
secara daring. Pertama, pembelajaran daring/jarak jauh untuk memberi pengalaman
belajar yang bermakna, tanpa terbebani tuntutan menuntaskan seluruh capaian
kurikulum untuk kenaikan kelas maupun kelulusan. Kedua, dapat difokuskan pada
pendidikan kecakapan hidup, antara lain mengenai pandemi Covid-19. Ketiga, aktivitas
dan tugas pembelajaran dapat bervariasi antar siswa, sesuai minat dan kondisi
masing-masing, termasuk mempertimbangkan kesenjangan akses/fasilitas belajar di
rumah (Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, 2020)
Dari peraturan yang dikeluarkan
tersebut, guru berupaya untuk memaksimalkan pembelajaran kepada anak usia dini
dengan berbagai cara (Miranda, 2016). Tujuannya�
untuk mengembangkan kemampuan anak secara optimal, serta menyiapkan agar
memasuki pendidikan yang lebih lanjut. Sebagaimana di jelaskan� dalam Undang-undang Nomor 137 Tahun 2014
tentang sistem Pendidikan Nasional Bab 1, butir 10 menyatakan bahwa �Pendidikan
anak usia dini adalah suatu upaya pembinaan yang ditunjukkan kepada anak sejak
lahir sampai dengan usia 6 Tahun yang dilakukkan melalui pemberian rangsangan pendidikan
untuk membantu pertumbuhan agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki
pendidikan lebih lanjut.
Oleh karena itu dalam
mengembangkan kemampuan anak secara optimal (Priyanto, 2014), para pendidik mengembangkan anak didiknya dengan
berbagai kegiatan yang dapat menstimulasi kemampuan anak didiknya. Salah
satunya adalah kegiatan pembelajaran yang dapat meningkatkan kemampuan
kreativitasnya. Karena pada hakikatnya� proses
belajar untuk mengembangkan aktivitas dan kreativitas peserta didik, melalui
berbagai interaksi dan pengalaman belajar. Kreativitas anak dapat berkembang
sesuai dengan karakteristiknya.
Kreativitas merupakan tindakan
seorang yang sadar mendapatkan sesuatu perspektif baru dan sebagai hasilnya
membawa sesuatu yang baru (Sitepu, 2019). Menurut (Fadlillah, 2016) menyatakan
begitu pentingnya suatu basis pendidikan dan latihan yang dapat menciptakan
kreativitas. Mereka menyebutkan dengan proses pembelajaran bagaimana berpikir (learn
how to think), pembelajaran bagaimana belajar (learn how to learn),
dan pembelajaran menciptakan sesuatu (learn how to create) (Yuni, 2020)
Selain itu juga, Kreativitas
dapat membuat anak memperoleh kesenangan melalui menciptakan sesuatu yang baru.
kreativitas merupakan suatu kemampuan yang dimiliki oleh seseorang dalam
menciptakan suatu karya yang di dapatkan dari berbagai macam ide (Debeturu & Wijayaningsih, 2019)
Kreativitas anak usia dini tidak
bisa dilepaskan dari faktor bermain. Kehidupan bermain adalah kehidupan
anak-anak dan melalui bermain maka memberikan kesempatan kepada anak untuk
mengekspresikan dorongan-dorongan kreatifnya. Kegiatan yang diberikan pada anak
ini dapat membuat anak berpikir kreatif dan belajar� untuk memecahkan masalahnya.
Pengembangan potensi pada anak
dapat dilakukan melalui pemberian stimulus yang tepat. Pemberian stimulus bagi
anak usia dini berbeda dengan pemberian bagi orang dewasa. Hal tersebut
dikarenakan anak usia dini bukan merupakan bentuk mini dari orang dewasa, anak
usia dini sangat aktif, dinamis, antusias, dan hampir selalu ingin tahu
terhadap apa yang dilihat dan didengarnya (Hartati, 2005).
Kegiatan kreativitas pada anak
usia dini harus dikemas dengan menarik, agar anak tidak cepat bosan dengan pembelajaran
yang disajikan (Kusmiadi et al., 2008). Untuk itu para pendidik di masa pandemi ini
mengemas pembelajaran online dengan semenarik mungkin, dan� memanfaatkan barang bekas yang ada di
lingkungan yang masih bisa di gunakan untuk dijadikan media pembelajaran yang bervariatif.
Bahan bekas merupakan benda-
benda sisa yang terdapat di sekitar lingkungan anak yang tidak digunakan lagi (Anwar, 2018). Bahan bekas� bisa�
dijadikan� sebuah� media�
untuk� mencapai� tujuan proses�
pembelajaran,� karena dengan
adanya� media� anak�
bisa� mengembangkan� semua potensi yang ada pada diri anak. Kemudian diubah
menjadi benda yang bisa digunakan untuk sebuah media agar dapat mengembangkan
kreativitas anak. Ini dilakukan agar pada saat pembelajaran online anak� tidak cepat bosan dan dapat dengan mudah
mengetahui, serta dapat mencari barang bekas untuk dijadikan� media untuk menunjang kemampuan
kreativitasnya.
Berdasarkan observasi� yang peneliti lakukan� di PAUD Al-Furqon, pada saat pembelajaran
online,� anak masih menggunakan lembar
kerja dan penugasan. Selain itu, dalam pembelajaran anak juga tidak menggunakan
media yang bervariasi sehingga kegiatan belajar mengajar menjadi monoton dan
kemampuan kreativitas anak kurang berkembang secara optimal.
Untuk mengatasi permasalahan
tersebut diperlukan pembelajaran yang menarik, serta mampu meningkatkan kreativitas
anak. Maka dari itu peneliti bekerjasama dengan guru serta orang tua membuat
suatu inovasi pembelajaran yang mampu meningkatkan kreativitas anak dengan
barang bekas sebagai salah satu alternatif untuk menciptakan pembelajaran yang
menarik dan menyenangkan untuk anak usia dini di masa pandemi saat ini. Dari
latar belakang masalah diatas, peneliti tertarik untuk melakukan sebuah
penelitian yang berjudul �Peningkatan kreativitas anak dengan pemanfaatan
barang bekas di PAUD Al-Furqon Desa Curug Kecamatan-Gunungsindur-Kabupaten
Bogor �
Yang dilakukan� oleh pengamat disaat ini berbeda
dengan penelitian awal, walaupun memakai judul yang sama, yang membuat penelitian ini berbeda ialah dari
subjek serta objek penelitian yang berbeda, tidak hanya itu perbandingan
penelitian kali ini dalam pembelajarannya lewat online class pada waktu pandemi covid 19 ini, yang mana
guru melaksanakan tatap muka tetapi dibantu
dengan memakai media komunikasi, serta penelitian yang terdahulu menggunakan kelas serta belajar secara
tatap muka antara guru serta siswa didalam kelas
Dengan
menggunakan bahan bekas� selaku media bahan pendidikan, menjadikan pendidikan lebih kreatif serta menarik,
sehingga anak bisa tingkatkan keahlian kreativitasnya dari bahan bekas
tersebut (Rohani, 2017). Dalam penelitian ini, peneliti membatas
permasalahan penelitian ini hanya kepada
peningkatkan kreativitas anak dengan menggunakan
bahan bekas dalam pendidikan online di PAUD
Al- Furqon. Ada pula perumusan
permasalahan pada penelitian
ini merupakan bagaimana Kenaikan kreativitas anak dengan menggunakan bahan bekasa dalam
pendidikan online di PAUD Al- Furqon?Dalam penelitian ini, peneliti membatasi masalah penelitian ini hanya
kepada� peningkatkan kreativitas anak
dengan memanfaatkan barang bekas dalam pembelajaran online di PAUD Al-Furqon.
Adapun perumusan masalah pada
penelitian ini adalah Bagaimana Peningkatan kreativitas anak dengan
memanfaatkan barang bekas dalam pembelajaran online di PAUD Al-Furqon?
Tujuan dari penelitian ini
adalah Untuk mengetahui Peningkatan kreativitas anak dengan memanfaatkan barang
bekas dalam pembelajaran online di PAUD Al-Furqon.
Metode Penelitian
Penelitian ini
menggunakan penelitian tindakan kelas (PTK) dalam hal ini peneliti melakukannya
dengan online class (Susilana, 2002). Dengan menggunakan
model Kemis dan MC� Taggart. Tahapan
penelitian tindakan menurut Kemmis dan Taggart dalam Arikunto mencakup: (a)
Perencanaan (planning), (b) tindakan (acting), (c) observasi (observing), (d)
refleksi (reflecting). Kemudian berlanjut dengan perencanaan ulang (replanning),
tindakan, observasi dan refleksi untuk siklus berikutnya, begitu seterusnya
sehingga membentuk suatu spiral. Sifat penelitian yang digunakan� dalam penelitian ini� adalah kolaboratif dimana peneliti dibantu
oleh kolaborator dalam mencari data dan fakta sesuai dengan judul pada
penelitian ini.
Penelitian
dilakukan di PAUD Al-Furqon Desa Curug Kecamatan Gunungsindur Bogor melalui
pembelajaran online di masa pandemi. Dengan subjek penelitian siswa kelas B
Sebanyak 15 Anak terdiri dari 6 laki-laki dan 9 perempuan.� Penelitian ini di mulai dari Bulan Januari-Maret
2021 di semester kedua.
Adapun
kisi-kisi instrumen Peningkatan Kreativitas Anak Dengan Pemanfaatan Barang
Bekas Dalam Pembelajaran Online Di Paud Al-furqon Desa Curug Kecamatan
Gunungsindur sebagai berikut: a) Dapat mencetuskan� gagasan dan penyelesaian masalah. b)
Menciptakan ide-ide atau hasil karya baru. c) Mengembangkan dan memperkaya
gagasan. d) Memiliki rasa ingin tahu yang tinggi. e) Dapat bereksplorasi dari
tugas yang diberikan.
Instrumen
ini menggunakan expert judgement, judgement pada ahli bidang kreativitas yang
benar-benar paham tentang indikator yang hendak diamati. Setelah data
diperoleh, maka selanjutnya data tersebut dianalisis dengan teknik deskriptif kualitatif.
Adapun tingkat keberhasilan pada penelitian ini adalah� dari 75%.
Hasil
dan Pembahasan
A.
Hasil Penelitian
PAUD Al-Furqon didirikan pada tahun 2010 yang berlokasi di Perumahan Griya Cendikia BPPT� Blok L RT 006 RW 006 di Desa Curug Kecamatan
Gunungsindur Kabupaten
Bogor 16340. Berdiri karena
permintaan masyarkat yang merasa membutuhkan sebuah lembaga pendidikan yang di khususkan untuk anak usia
dini yang tujuannya agar anak usia dini
dapat mengetahui dunia pendidikan, dan mengetahui tentang sekolah, agar ketika memasuki pendidikan dasar anak usia dini
tersebut dapat siap dari 6 aspek
perkembangannya untuk mengikuti pendidikan yang lebih lanjut. PAUD Al-Furqon menerapkan model pembelajaran sentra. Dimana model
pembelajaran sentra ini diterapkan agar pembelajaran berpusat pada peserta didik, sehingga dalam pembelajaran anak dapat memiliki pengalaman� bermakna.
Adapun sentra yang ada pada� PAUD Al-Furqon diantaranya ada sentra imtak,
sentra persiapan, sentra main peran dan sentra bahan alam/seni.
Berdasarkan
observasi awal yang peneliti lakukan di PAUD Al-Furqon pada kegiatan online class
di masa pandemi� ditemukannya
masalah pada siswa. Diantaranya siswa belum berkembang kreativitasnya dikarenakan dalam pembelajaran dari rumah siswa
hanya diberikan lembar kerja dan penugasan. Selain itu, kurangnya media pembelajaran yang bervariatif
pada saat pembelajaran membuat siswa merasa
jenuh dan cepat bosan pada saat pemelajaran.
Dari permasalahan tersebut, peneliti melakukan sebuah penelitian tindakan kelas melalui online class� di masa pandemi, dengan� melakukan peningkatan kreativitas anak dengan pemanfaatan
barang bekas dalam pembelajaran online tujuannya agar kemampuan kreativitas anak bisa berkembang secara optimal di masa pandemi ini. Adapun yang menjadi subjek penelitian ini anak kelompok
B� PAUD Al-Furqon sebanyak 15 anak terdiri dari
6 anak laki-laki dan 9 anak perempuan. Dari hasil penelitian yang peningkatan kreativitas anak dengan pemanfaatan
barang bekas dalam pembelajaran online di PAUD
Al-Furqon Desa Curug Kecamatan Gunungsindur-Kabupaten Bogor, dari
pra siklus, siklus I dan siklus II mengalami peningkatan yang signifikan. Berikut ini adalah� table hasil penelitian :
Tabel 1
Rekapitulasi Perbandingan Prasiklus,
Siklus I dan Siklus II
|
No |
Kategori |
Prasiklus |
Siklus I |
Siklus II |
|||
|
F |
P(%) |
F |
P(%) |
F |
P(%) |
||
|
1 |
BB |
12 |
80% |
3 |
20% |
0 |
0% |
|
2 |
MB |
3 |
20% |
6 |
40% |
3 |
20% |
|
3 |
BSH |
0 |
0% |
6 |
40% |
12 |
80% |
|
4 |
BSB |
0 |
0% |
0 |
0% |
0 |
0% |
Ket :
F = Frekuensi
P
= Persentase
Hasil pra siklus pada penelitian ini memperoleh data anak yang belum berkembang kemampuan kreativitasnya mencapai 80%. Hal ini membuat peneliti
terketuk untuk melakukan penelitian� tindakan
kelas (PTK) untuk meningkatkan kreativitas anak usia dini.
Peneliti
melakukan dua siklus pada penelitian ini,� dimana dalam setiap siklus
terdiri dari 4 kali pertemuan. Untuk siklus pertama dari hasil yang diperoleh, anak mengalami peningkatan dari pra siklus
ke siklus I mencapai 40% anak berkembang sesuai harapan dari kemampuan
kreativitasnya. Karena dari
siklus I belum mencapai target yang ditentukan, maka dari itu
peneliti melakukan tindakan kembali di siklus ke II. Kemudian
dari hasil tindakan di siklus II, anak� mengalami peningkatan yang signifikan percaya dirinya� mencapai 80%.
B.
Pembahasan
Pembelajaran
PAUD Al-Furqon di masa pandemi
dalam�� interaksinya dibagi menjadi dua yaitu
pembelajaran sinkronus dan pembelajaran asinkronus. Pembelajaran sinkronus adalah pembelajaran dimana guru dan anak melakukan pembelajaran� secara
bersamaan waktunya dengan media komunikasi langsung, seperti vidio call dan lain-lain. Dalam melakukan Vidio Call� guru melakukan pijakan awal kepada anak
seperti mengabsen, menanyakan kabar, doa bersama, memberi
semangat, bernyanyi bersama.
Setelah itu guru menjelaskan kegiatan main dengan menggunakan media yang telah dirancang oleh guru. Selain itu, guru juga memberikan tutorial vidio. Serta menjelaskan materi atau tema pembelajaran
yang tujuannya untuk memudahkan siswa/i dalam mengerjakan
tugas-tugasnya.
Sedangkan
asinkronus adalah pembelajaran dilakukan tidak dalam satu
waktu yang bersamaan antara guru dan anak didiknya. Seperti halnya siswa diberikan
tugas oleh guru berupa kegiatan gerak dan lagu, dimana� siswa
mempelajari serta mengerjakan tugas dengan mengirim tugasnya melalui media baik berupa dokumen
hasil karya ataupun vidio yang dibuat untuk di berikan kepada guru.
Rencana
Tindakan pada siklus I dan siklus
II yang peneliti lakukan� memiliki kesamaan dimana dalam melakukan kegiatan peneliti membuat perencanaan dengan memberikan surat permohonan penelitian kepada sekolah terkait, kemudian mencari data atau informasi tentang judul yang berkaitan dengan penelitian ini. kemudian� menentukan tanggal dan waktu pada setiap pertemuan. Dalam hal ini
peneliti membuat empat kali pertemuan untuk siklus 1 dan� empat
kali� pertemuan
untuk siklus II pada bulan januari sampai
dengan bulan maret di semester genap dengan waktu pembelajaran
08.00-09.30.
Kreativitas
anak dari siklus ke siklus
mengalami peningkatan, Oleh
karena itu peneliti menyiapkan administrasi pengajaran yang disusun dengan baik. Seperti penentuan
tema dan kegiatan kreativitas dengan memanfaatkan barang bekas yang masih bisa digunakan dan mudah ditemukan di setiap pertemuan, dan melakukan penilaian sesuai dengan kisi-kisi
instrumen yang telah dibuat.
Dalam
kegiatan� tindakan dan
observasi (pengamatan ) dilakukan secara bersamaan. Pada saat online class� peneliti
menyapa anak melalui Vidio Call kemudian membuka pelajaran dengan berdo�a, kemudian anak diminta untuk
melaksanakan sholat duha serta menghafal
surah pendek, kemudian dilanjutkan dengan mengabsen anak serta memberi motivasi
serta semangat kepada anak melalui
tepuk dan bernyanyi.
Pada kegiatan inti, peneliti menjelaskan kepada siswa tentang
kegiatan yang akan dilaksanakan hari itu sesuai dengan
tema dan kegiatan kreativitas dan pemanfaatan barang bekas yang masih dapat di gunakan untuk dijadikan
sebuah karya yang di hasilkan dari imajinasi
anak.
Kreativitas dapat tumbuh dari
dalam diri setiap orang jika merangsangnya dengan baik. Kreativitas adalah kemampuan untuk menghasilkan atau menciptakan sesuatu yang baru (Baron dalam Triantoro, 2005:15). Pemanfaatan barang bekas untuk media pembelajaran dapat dibuat sendiri dengan olahan yang mudah dicari tanpa
harus� membeli. Penggunaan barang bekas tersebut dapat membantu mengurangi pencemaran ekosistem pada tanah. Dalam proses pembuatan media pembelajaran dapat mengasah dan mengembangkan motorik kasar dan motorik halus pada anak sehingga anak
dapat membangun daya kreativitas dan mengasah kemampuan berpikir pada anak.
Peran seorang guru
dan orang tua serta pihak yang ada dilingkungan anak usia dini sangat penting dalam mengembangkan
kreativitas anak usia dini. Adapun faktor-faktor pendukung kreativitas anak usia dini adalah:
a) Stimulasi dari orang tua. b) Orang tua menyediakan fasilitas untuk anak melakukan
kreativitas. c) Dampingi anak dalam melakukan
kegiatan kreativitas. Faktor penghambat kreativitas anak usia dini adalah:
a) Tidak ada dorongan bereksplorasi. b) Orang tua kurang menstimulus
dalam kreativitas untuk anak. c) Orang tua tidak menyediakan
fasilitas untuk anak melakukan kreativitas. d) Menyediakan alat permainan edukatif atau bahan-bahan
sederhana untuk membuat alat permainan
edukatif contoh seperti mebuat papan pintar dari
kulit kerang (Renawati & Ruyadi, 2021)
Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan dapat disimpulkan bahwa melalui memanfaatan barang bekas sebagai
media pembelajaran di masa pandemi
covid-19. Anak� mampu memiliki kemauan dan dorongan untuk menciptakan� karya dengan memanfaatkan barang bekas sebagai
media yang bervariatif untuk
pembelajaran. Peningkatan kreativitas anak dapat ditunjukkan dari persentase rata-rata dari setiap observasi
dan pengamatan yang peneliti
lakukan. Berdasarkan hasil yang� diperoleh sebelum pra siklus
kreativitas anak usia dini 80% anak
belum berkembang kreativitasnya. Kemudian setelah melakukan penelitian tindakan kelas di siklus ke I�
menunjukan adanya
peningkatan 40% anak berkembang sesuai harapan tingkat kreativitasnya, dan pada siklus ke II terjadi peningkatan
yang sangat memuaskan yaitu
80% anak berkembang sesuai harapan. Oleh karena itu, memanfaatkan
barang bekas dalam pembelajaran di masa pandemi� dapat memberikan peningkatan kreativitas yang cukup nyata bagi anak
usia dini.
Bibliografi
Anwar, K.
(2018). Pemanfaatan Barang Bekas Sebagai Alat Peraga Optik Sederhana
Dalam Peningkatan Motivasi Dan Hasil Belajar Ipa Fisika. Google Scholar
Debeturu,
B., & Wijayaningsih, E. L. (2019). Meningkatkan Kreativitas Anak Usia 5-6
Tahun melalui Media Magic Puffer Ball. Jurnal Obsesi: Jurnal Pendidikan Anak
Usia Dini, 3(1), 233�240. Google Scholar
Di Masa, P.
(2020). Penyusunan Video. Bunga Rampai Strategi, Proses, Evaluasi, Dan Model
Pembelajaran Pendidikan Jasmani, Olahraga, Dan Kesehatan (Pjok) Pada Era
Pandemi Covid-19, 57. Google Scholar
Fadlillah,
M. (2016). Edutainment Pendidikan Anak Usia Dini: Menciptakan Pembelajaran
Menarik, Kreatif dan Menyenangkan. Prenada media. Google Scholar
Hartati, S.
(2005). Perkembangan belajar pada anak usia dini. Jakarta: Depdiknas. Google Scholar
Kartini,
K., & Sujarwo, S. (2014). Penggunaan media pembelajaran plastisin untuk
meningkatkan kreativitas anak usia. JPPM (Jurnal Pendidikan Dan Pemberdayaan
Masyarakat), 1(2), 199�208. Google Scholar
Kementerian
Pendidikan dan Kebudayaan. (2020). Kesehatan Warga Sekolah Menjadi Prioritas
Dalam Menentukan Sistem Pembelajaran.
https://www.kemdikbud.go.id/main/blog/2020/06/kesehatan-warga-sekolah-menjadi-prioritas-dalam-menentukan-sistem-pembelajaran
Kusmiadi,
A., Sriwahyuningsih, S., & Nurfalah, Y. (2008). Strategi Pembelajaran PAUD
melalui Metode Dongeng Bagi Pendidik PAUD. Jurnal Ilmiah Visi, 3(2),
198�203. Google Scholar
Miranda, D.
(2016). Upaya Guru Dalam Mengembangkan Kreativitas Anak Usia Dini di Kota Pontianak.
Jurnal Pembelajaran Prospektif, 1(1), 60�67. Google Scholar
Peraturan
Menteri Pendidikan Nasional. (2009). Peraturan Menteri Pendidikan Nasional
Republik Indonesia Nomor 58 Tahun 2009 Tentang Standar Pendidikan Anak Usia
Dini. In Salinan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia
Nomor 58 Tahun 2009. https://simpuh.kemenag.go.id/regulasi/permendiknas_58_09.pdf
Priyanto,
A. (2014). pengembangan kreativitas pada anak usia dini melalui Aktivitas
bermain. Jurnal Ilmiah Guru Caraka Olah Pikir Edukatif, 2. Google Scholar
Rohani, R.
(2017). Meningkatkan Kreativitas Anak Usia Dini Melalui Media Bahan Bekas. JURNAL
RAUDHAH, 5(2). Google Scholar
Sitepu, A.
S. M. B. R. (2019). Pengembangan Kreativitas Siswa. Guepedia. Google Scholar
Susilana,
R. (2002). Penelitian tindakan kelas. Google Scholar
Yuni, K.
(2020). Pengembangan Seni Musik Anak Usia Dini Melalui Kegiatan Drum Band
Dan Angklung Di Tk Nakita Insan Mulia Purwokerto. Iain Purwokerto. Google Scholar
|
Copyright holder : Nurhikmah, Lia Kurniawaty (2021). |
|
First publication right
: This article is licensed under: |