|
Vol. 2 No. 11, November 2021 |
|
|
p-ISSN : 2721-3854 e-ISSN : 2721-2769 |
Sosial Sains |
PENGARUH KUALITAS PRODUK, HARGA DAN PROMOSI TERHADAP KEPUTUSAN PEMBELIAN
DENGAN BRAND IMAGE SEBAGAI VARIABLE MODERATING �
Wellyn Sinta Maria Purba, Syahfirin Abdullah, Edison Cholia
Sembiring
Fakultas Manajemen Universitas Sahid, Jakarta, Indonesia��������
Email: [email protected],
[email protected], [email protected]
|
INFO ARTIKEL |
ABSTRAK |
|
Diterima
25 Oktober
2021 Direvisi 2 November 2021 Disetujui |
Perkembangan industri yang bergerak dalam personal care
saat ini semakin meningkat pesat. Hal ini bisa kita lihat
dari tingkat permintaan terhadap perawatan kencantikan semakin meningkat. Produk anti-aging, salah satunya
Pond�s Age Miracle� merupakan salah satu produk yang dicari oleh khususnya wanita dimana produk ini merupakan salah satu produk anti- aging nomor satu di Indonesia dimana selalu melakukan inovasi terhadap produknya. Tujuan dari penelitian
ini yaitu untuk melakukan uji analisis pengaruh faktor seperti kualitas produk, harga, dan promosi terhadap keputusan pembelian dengan brand image
sebagai variable moderating� pada produk
Pond�s Age Miracle. Penelitian ini
diperoleh melalui pengisian kuesioner dengan sample berjumlah 12 responden dengan kriteria purposive sampling, dan kemudian
dilakukan uji untuk mengukur persepsi konsumen melalui model SEM dengan PLS. Hasil uji dari penelitian ini menunjukkan bahwa adanya keputusan pembelian dipengaruhi secara signifikan oleh faktor kualitas produk dan harga namun tidak dengan
promosi. Selain itu, hasilnya juga menunjukkan bahwa brand image mampu memoderasi pengaruh kualitas produk, harga, dan promosi terhadap keputusan pembelian produk Pond�s Age Miracle. ABSTRACT The development of
industries engaged in personal care is increasing rapidly. This is how we see
from the level of demand for dating treatment is increasing. Anti-aging
products, one of which is Pond's Age Miracle is one of the products sought by
especially women where this product is one of the number one anti-aging
products in Indonesia where it always innovates its products. The purpose of
this study was to test the influence of factors such as product quality,
price, and promotion of purchase decisions with brand image as variable
moderating in Pond's Age Miracle products. This study was obtained through
filling out questionnaires with a sample of 12o respondents with purposive
sampling criteria, and then tested to measure consumer perception through the
SEM model with PLS. Test results from this study showed that purchasing decisions
were significantly influenced by product quality and price factors but not by
promotion. In addition, the results also showed that brand image was able to
moderate the influence of product quality, price, and promotion on Pond's Age
Miracle product purchase decisions. |
|
Kata Kunci: Kualitas Produk; Harga; Promosi; Brand
Image; Keputusan Pembelian. Keywords: Product Quality; Price; Promotion; Brand Image; Purchase Decision |
Pendahuluan
Perkembangan industri yang bergerak
dalam personal care saat ini semakin pesat
(Tiyanto, 2013).
Ini dapat kita ketahui dari
semakin banyaknya berbagai macam kebutuhan dari masyarakat. Bisnis personal care adalah salah satu sektor yang paling bergairah dan berpotensial akan bertumbuh secara terus menerus (Savitri, 2019).
Berdasarkan (McDaniel Jr & Gates, 2018)
bisa kita lihat penjualan perawatan diri (beauty and
personal care) sebesar 55,8 triliun
rupiah di tahun 2015, kemudian
meningkat menjadi 61,49 triliun rupiah di tahun 2016 dan meningkat lagi menjadi 67,309 triliun
rupiah� di tahun
2017 (Perindustrian, 2020).
Menurut (McDaniel Jr & Gates, 2018)
mencatat penjualan produk personal care di Indonesia meningkat
80,5% sejak tahun 2012 atau rata rata pertumbuhannya adalah 12,5% per tahun.
Menurut Deputy Vice President Hi-Tech Property, Markplusinc
Consumer Sector� Yosanova Savitry dalam Kompas edisi 2018, industri kecantikan Indonesia akan semakin aktif
dalam waktu dekat. Sektor kecantikan
di Indonesia diperkirakan bisa
tumbuh dua digit atau hingga 16 persen dibandingkan negara-negara
lainnya (Shaputra, 2013).
Untuk lebih mengembangkan sektor kosmetik di Indonesia, pemerintah
berupaya untuk memastikan bahwa kapasitas produksi kosmetik terus tumbuh (Tritanti, 2014).
Social Bella Chief Executive Officer (CEO)�
John Marco Rasjid memprediksi
pasar Kecantikan dan Perawatan
Diri Tanah Air akan mencapai $6,03 juta pada 2019 dan
tumbuh menjadi $8,46 juta pada 2022 (Perindustrian, 2020).
�
Berdasarkan Euromonitor �(McDaniel Jr & Gates, 2018)
di Indonesia, sudah banyak sekali perusahaan global yang menggarap bisnis dimana salah satunya adalah Unilever, P&G, dan Loreal Group. Unilever Indonesia� menguasai pasar sekitar
27%, dan P&G menguasai pasar 9.4% dan Loreal
Group menguasai pasar sekitar
6%. Bahkan kini ketiganya sudah memiliki fasilitas produksi dan kantor pusat di Indonesia (McDaniel Jr & Gates, 2018)
Setiap perusahaan yang bergerak di industry Personal Care ini
tentunya memiliki keunggulan masing -masing produk baik untuk perawatan
wajah dan badan (Adiwijaya, 2013).
Yang menarik perhatian penulis adalah produk Pond�s Age Miracle yang merupakan
salah satu produk kecantikan untuk menghambat penuaan dini ataupun disebut
anti aging.
Tentunya hal ini memberikan dampak yang besar bagi banyak
bidang bisnis, salah satunya salon kecantikan. Permintaan produk dekoratif seperti lipstik, eye shadow,� dan bedak
pun menurun drastis. Menurut Kilala Tilaar dalam Majalah
Femina (Desiyusman Mendrofa, 2020)
CEO Martha Tilaar Group mengatakan
bahwa secara global, penjualan produk kecantikan dan personal care mengalami
penurunan sekitar 30% selama pandemi COVID-19. Terutama produk-produk yang bersifat dekoratif seperti lipstik dan bedak mengalami penurunan. Namun berbeda dengan permintaan perawatan tubuh dan kecantikan. Berdasarkan studi yang dilakukan (Syahrinnisa, 2019)
Inventure dalam Majalah Femina, 58,3% responden menjawab lebih rajin melakukan
perawatan kecantikan di rumah. Kilala Tilaar
juga menyatakan bahwa wanita cenderung memiliki banyak waktu untuk melakukan
perawatan diri di rumah dikarenakan adanya kebijakan work from home. Permintaan produk perawatan tubuh seperti lulur, skincare, dan
masker wajah mengalami kenaikan karena merawat diri sendiri
di rumah menjadi kebiasaan baru bagi para wanita, terutama wanita pekerja (Desiyusman Mendrofa, 2020)
Penelitian ini akan dilakukan secara online dengan menggunakan google form. Penelitian
dilakukan pada bulan Juli - Agustus 2021 terhadap konsumen yang menggunakan produk Pond�s Age Miracle� di Wisma 77,
Jakarta Barat.
Produk Pond�s Age Miracle merupakan produk anti aging terlaris di Indonesia. Berikut adalah table top brand awards dengan
indeks kategori anti-aging periode 2017 � 2021.
Tabel 1
TBA Index Kategori Anti Aging Periode 2017- 2021
|
Merek |
2017 |
2018 |
2019 |
2020 |
2021 |
TOP |
|
Pond's
|
45.6% |
40.5% |
44.7% |
35.4% |
33.6% |
TOP |
|
Olay
Total Effect |
15.7% |
14.4% |
12.5% |
11.1% |
14.5% |
TOP |
|
Garnier
|
13.4% |
13.9% |
26.3% |
27.6% |
23.0% |
TOP |
|
Wardah |
6.1% |
9.1% |
2.7% |
2.5% |
- |
|
|
L'oreal |
3.5% |
2.9% |
8.1% |
9.1% |
14.4% |
|
Sumber : Top Brand Award, 2021
Berdasarkan penelitian
yang dilakukan oleh (Situmorang et al., 2017)
tentang� pengaruh brand image , CSR , dan kualitas
produk terhadap keputusan pembelian dengan Harga sebagai variable
moderating, menunjukkan bahwa
Brand-image, corporate-social responsibility-(CSR), dan kualitas
produk secara simultan berpengaruh signifikan terhadap keputusan pembelian. Kondisi ini membuktikan
bahwa semakin baik Brand-image, corporate-social responsibility-(CSR),
dan kualitas-produk dapat meningkatkan keputusan pembelian. Selain itu harga dapat
memoderasi pengaruh Brand-image,
corporate-social responsibility-(CSR), dan kualitas produk terhadap keputusan pembelian (AMALYAH, 2021). Kondisi ini membuktikan
bahwa harga mampu memperkuat maupun memperlemah pengaruh variabel Brand-image, corporate-social
responsibility-(CSR), dan kualitas produk terhadap keputusan pembelian.� Selain itu, berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh (Permana, 2017)
tentang pengaruh promosi terhadap keputusan pembelian, menunjukkan promosi berpengaruh positif signifikan terhadap keputusan pembelian.
Metode Penelitian
Pada penelitian ini, peneliti menggunakan
teknik analisis data dengan Structural Equation Modeling atau
sering disebut SEM (Haryono & Wardoyo, 2012). SEM ini mampu
menguji banyak variable secara bersamaan. Dengan Teknik analisis data SEM ini, penulis akan
melakukan uji validitas dan
reliabilitas, menguji
model� hubungan
antarvariabel, dan manfaat
model untuk prediksi (Sholihin & Ratmono, 2021). Peneliti menggunakan
SEM berbasis variable dengan
pendekatan Partial Least Square dan Software yang digunakan adalah PLS versi 3.2.8. Menurut (Ghazali & Latan, 2015) menyatakan kalau
model PLS tersebut adalah metode analisi yang baik dan kuat karena
tidak berdasar pada banyak asumsi.
Penelitian ini dilakukan
secara online dengan menggunakan google form. Penelitian
dilakukan pada bulan Juli - Agustus 2021 terhadap konsumen yang menggunakan produk Pond�s Age Miracle� di Wisma 77,
Jakarta Barat. Populasi pada penelitian
ini yaitu wanita berusia lebih dari 25 tahun
dan bekerja di Gedung Wisma 77, yang telah membeli maupun
menggunakan produk Pond�s
Age Miracle sebagai perawatan
kulit wajah rutin.
Metode pengumpulan data pada penelitian ini yaitu:
1
Kuesioner, dimana teknik
pengumpulan datanya dilakukan dengan memberikan pertanyaan dan pernyataan secara tertulis terhadap responden.
2
Studi-Dokumentasi, dimana pengumpulan
datanya dengan melakukan pengumpulan dan mempelajari dokumen maupun jurnal terkait.
3
Observasi, dilakukan dengan
mengamati ada tidaknya pengaruh kualitas produk, harga, promosi, lterhadap keputusan pembelian Produk Pond�s Age
Miracle dengan brand-image sebagai
variabel moderatingnya.
Hasil
dan Pembahasan
1. Karakateristik Responden
Kuesioner
ini di isi oleh 155 responden, namun hanya 120 yang valid. Hal ini karena adanya responden
pria ,
adanya responden wanita belum pernah
membeli dan menggunakan rangkaian produk Pond�s Age
Miracle. Berikut di bawah ini adalah tabel
komposisi berdasarkan usia dan pengeluaran kebutuhan pembelian produk perawatan diri oleh responen.
Tabel 2
Komposisi Usia Responden
|
Kategori Usia |
Jumlah responden |
Persentase |
|
>41 Tahun |
8 |
7% |
|
36-40 Tahun |
35 |
29% |
|
31-35 Tahun |
43 |
36% |
|
25-30 Tahun |
34 |
28% |
|
Total |
120 |
100% |
Tabel 3
Komposisi Pengeluaran Perbulan
Belanja Produk Perawatan Diri
|
Komposisi Pengeluaran Perbulan Belanja Produk Perawatan Diri |
Jumlah responden |
Persentase |
|
Rp.100.000-Rp.300.000 |
19 |
16% |
|
Rp.300.000-Rp.500.000 |
39 |
33% |
|
Rp.500.000- Rp.1.000.000. |
55 |
46% |
|
> Rp.1.000.000. |
7 |
28% |
|
Total |
120 |
100% |
2. Uji Validitas
Indikator
dikatakan valid bila memiliki faktor loading > 0,7.
Apabila nilai tersebut lebih besar dari 0,7 maka instrument tersebut dapat dikatakan valid dan dapat menjelaskan adanya hubungan antara indikator dengan variabel� laten dalam
model hipotesa. ��

Gambar 1
Uji Validitas
Berdasarkan
model penelitian yang sudah
dianalisa dengan menggunakan smart PLS, dapat dikatakan semua indikator dapat diikut-sertakan dalam proses analisa selanjutnya dan tidak ada yang dihapus.
3. Validitas Konvergen
Validitas
konvergen dilakukan untuk mengetahui apakah indikator suatu konstruk berkorelasi tinggi dan hal ini diukur
dengan nilai AVE (Average
Variance Extracted) > 0,5. Hasil perhitungan nilai AVE dengan menggunakan Smart PLS tertera pada
tabel 4 hasil tersebut menginformasikan bahwa semua indikator
memiliki nilai AVE >
0,5, maka semua indikator berkorelasi tinggi.
Tabel 4
Average
Variance Extracted
|
Average Variance Extracted
(AVE) |
|
|
Kualitas produk |
0.781 |
|
Harga |
0.804 |
|
Promosi |
0.794 |
|
Keputusan pembelian |
0.793 |
|
Brand image |
0.778 |
Sumber : Data diolah
4. Validitas Diskriminan
Uji ini dilakukan dengan mengevaluasi nilai cross loading
dan Fornell Larcker dari masing-masing-konstruk untuk memastikan bahwa korelasi konstruk dengan variabel pengukuran terkait lebih besar
daripada konstruk lainnya. Nilai atau Value
Cross-Loading untuk variabel
terkait yang diharapkan
>0,7 dan nilai pada variabel
terkait harus lebih besar dibandingkan
dengan indikator variabel lainnya.
Tabel 5
Validitas Diskriminan
Fornell Larcker
|
|
Kualitas produk |
Kualitas produk |
Kualitas produk |
Kualitas produk |
Kualitas produk |
|
Kualitas produk |
0.884 |
|
|
|
|
|
Harga |
0.869 |
0.897 |
|
|
|
|
Promosi |
0.809 |
0.761 |
0.861 |
|
|
|
Keputusan pembelian |
0.842 |
0.835 |
0.878 |
0.891 |
|
|
Brand image |
0.820 |
0.786 |
0.808 |
0.814 |
0.882 |
Sumber : Data diolah
5. Uji Reliabilitas
Dalam
pengujian internal consistency reliability, suatu indikator dikatakan reliable mengukur konstruk latennya bila nilai Cronbach Alpha dan nilai composite reliabilitynya
> 0.7.
Tabel 6
Hail
Uji Realibility
|
|
Cronbach Alpha |
Composite Realibility |
|
Kualitas produk |
0.860 |
0.915 |
|
Harga |
0.877 |
0.925 |
|
Promosi |
0.826 |
0.896 |
|
Keputusan pembelian |
0.868 |
0.920 |
|
Brand image |
0.855 |
0.913 |
Sumber : Data diolah
Pada tabel 6 terlihat bahwa semua nilai Cronbach�s Alpha dan nilai composite reliabilitynya
> 0.7, maka dikatakan semua variabel pada penelitian ini reliabel.
6. Analisa Inner
Model
Analisa Inner Model menggunakan
2 pengujian yaitu
Coefficient of determination (R2) dan Cross Validated Redundancy (Q2). Coefficient
of Determination (R2) merupakan cara
untuk menilai seberapa besar konstruk endogen dapat dijelaskan oleh konstruk eksogennya. Semakin tinggi nilai R2 maka semakin baik
model penelitian yang diajukan
dan nilainya diharapkan antara 0 dan 1. Kriteria nilai R2 0,67 adalah kuat, 0,33 adalah moderat dan 0,19 adalah lemah.
Tabel 7
Tabel R Square
|
Variabel |
R Square |
R Square Adjused |
|
Brand Image - Z |
0.903 |
0.901 |
|
Keputusan Pembelian - Y |
0,931 |
0,928 |
Sumber : Data diolah
Hasil pengujian
Coefficient of Determination (R2) yang dilakukan dengan smart PLS dapat dilihat pada tabel 4.6. Nilai R2
brand image yang dipengaruhi oleh kualitas
produk, harga dan promosi adalah sebesar 0.903 dan nilai R2 keputusan pembelian yang dipengaruhi oleh kualitas produk, harga,� promosi
dan brand image adalah 0.931. Oleh karena itu, dapat
disimpulkan bahwa model
endogen dalam penelitian ini adalah kuat
dijelaskan oleh model eksogennya.
Goodness of Fit Model diukur dengan
menggunakan Q-Square yang diperoleh
dari R-Square variable laten endogen dan digunakan untuk menilai kekuatan prediksi model.
Q2 = 1 � (1-R12)
(1- R22)
Q2 adalah koefisien determinasi total pada analisis jalur
R12 , R22 adalah R-Square variable
endogen dalam model persamaan
Besaran Q2 memiliki rentang
0<Q2<1 , dimana semakin mendekati 1 berarti model semakin baik. Dalam model ini, diperoleh :
Q2 = 1 �
(1-0.903) (1- 0.931) = 0.99
Berdasarkan hasil perhitungan
Q2, nilai mendekati 1 yang berarti model ini baik, mempunyai daya prediksi yang baik dan sebesar 99% dapat menjelaskan pengaruh tiap variable terhadap konstruk. Sedangkan sisa sebear 1% dijelaskan oleh factor-
factor lainnya diluar penelitian ini.
7. Pengujian Hipotesis
Uji Hipotesis dapat dilakukan dengan analisa P value dan path coefficients. Selain
untuk uji hipotesis, analisa path coefficients antar konstruk dilakukan juga untuk melihat signifikansi
dan kekuatan hubungan antar variabel konstruk. Diharapkan nilai path coefficients antara -1
dan +1. Semakin mendekati
-1 mengindikasikan hubungan
negative dan semakin mendekati
+1 mengindikasikan hubungan
positif. Pengujian hipotesis dilakukan dengan P value. Bila P value <
0,05 maka artinya cukup bukti untuk
menolak H0 dan suatu variabel signifikan berpengaruh positif. Pengujian hipotesis juga dilakukan dengan perbandingan antara nilai statistik T hitung dengan nilai
statistik t tabel (1,96). Bila T hitung > T tabel, maka suatu
variable signifikasi berpengaruh
positif.
Tabel 6
Path Coeficient
|
|
Original sample |
Sample Mean |
Standar diviation |
T statistic |
P value |
|
Kualitas produk -> Keputusan pembelian
|
0.552 |
0.544 |
0.091 |
6.086 |
0.000 |
|
Kualitas produk -> Brand Image |
0.461 |
0.461 |
0.906 |
4.823 |
0.000 |
|
Harga-> Keputusan pembelian |
0.335 |
0.332 |
0.060 |
5.595 |
0.000 |
|
Harga -> Brand Image |
0.176 |
0.170 |
0.085 |
2.083 |
0.038 |
|
Promosi ->
Keputusan pembelian |
-0.152 |
-0147 |
0.080 |
1.894 |
0.059 |
|
Promosi -> Brand
Image |
0.344 |
0.350 |
0.102 |
3.363 |
0.001 |
|
Brand image-> Keputusan
pembelian |
0.252 |
0.257 |
0.091 |
2.754 |
0.006 |
Sumber
: Data diolah

Gambar� 2
Inner Model, Path
Koefisien & PValue
Kesimpulan
Dari hasil analisis penelitian yang dilakukan, maka dapat disimpulkan
bahwa Variabel kualitas produk berpengaruh positif dan signifikanl terhadap keputusan pembelian produk Pond�s Age Miracle. Ini berarti semakin baik kualitas produk,
maka keputusan pembelian konsumen juga akan semakin meningkat.
Dalam hal ini kualitas produk
seperti desain produk, efektivitas produk dan pernyataan produk halal dan BPOM, sangat berdampak
pada keputusan pembelian konsumen. Dengan demikian disimpulkan bahwa hipotesis pertama yang menyatakan dugaan adanya pengaruh
yang signifikan antara kualitas produk terhadap keputusan pembelian, diterima.
Variabel harga berpengaruh positif dan signifikan terhadap keputusan pembelian produk Pond�s Age
Miracle. Ini berarti semakin terjangkau dan ekonomis harga suatu produk, maka
keputusan pembelian konsumen juga akan semakin meningkat. Dalam hal ini
harga seperti harga sesuai dengan
kualitas produk, harga yang terjangkau dan harga yang ekonomis sangat berdampak pada keputusan pembelian konsumen. Dengan demikian disimpulkan hipotesis kedua yang menyatakanodugaan adanya pengaruh yang signifikan antara harga terhadap keputusan pembelian, diterima.
Variabel promosi tidak berpengaruh
terhadap keputusan pembelian produk Pond�s Age
Miracle.
Brand image berhasil dalam
memoderasi hubungan pengaruh kualitas produk terhadap�� keputusan� pembelian.
Dengan demikian disimpulkan bahwa hipotesis kedelapan yang menyatakan dugaan adanya pengaruh yang signifikan antara kualitas produk terhadap keputusan pembelian dengan brand image sebagai variabel moderasi, diterima.
Brand image berhasil dalam
memoderasi hubungan pengaruh harga terhadap keputusan pembelian. Dengan demikian disimpulkan bahwa hipotesis kesembilan yang menyatakan dugaan adanya pengaruh
yang signifikan antara harga terhadap keputusan pembelian dengan brand image sebagai variabel moderasi, diterima.
Brand image berhasil dalam
memoderasi hubungan pengaruh promosi terhadap keputusan pembelian. Dengan demikian disimpulkan bahwa hipotesis kesepuluh yang menyatakan dugaan adanya pengaruh
yang signifikan antara promosi terhadap keputusan pembelian dengan brand image sebagai variabel moderasi, diterima.
Bibliografi
Adiwijaya,
M. (2013). 8 jurus jitu mengelola bisnis ritel ala Indonesia. Elex Media
Komputindo.Google Scholar
Amalyah, C.
(2021). Pengaruh Corporate Social Responsibility Terhadap Keputusan
Pembelian Konsumen Dengan Corporate Image Dan Brand Image Sebagai Variabel
Intervening. Google Scholar
Desiyusman
Mendrofa. (2020, November). Produk Perawatan Tubuh dan Kecantikan Diminati
Selama Pandemi. Femina.
Ghazali,
I., & Latan, H. (2015). Partial Least Squares; Konsep, Tekhnik dan Aplikasi
Menggunakan Program Smart PLS 3.0. Semarang: Badan Penerbit Undip. Google Scholar
Haryono,
S., & Wardoyo, P. (2012). Structural equation modeling. Bekasi: PT
Intermedia Personalia Utama. Google Scholar
McDaniel
Jr, C., & Gates, R. (2018). Marketing research. John Wiley &
Sons. Google Scholar
Perindustrian,
K. (2020). Perubahan Gaya Hidup Dorong Industri Kosmetik. Google Scholar
Permana, D.
I. (2017). Pengaruh Promosi Terhadap Keputusan Pembelian Produk Lantai Kayu dan
Pintu PT. Piji Di Jawa Timur. Jurnal Manajemen Dan Start-Up Bisnis, 2(1),
117�123. Google Scholar
Savitri, A.
(2019). Bonus Demografi 2030: Menjawab Tantangan serta Peluang Edukasi 4.0
dan Revolusi Bisnis 4.0. Penerbit Genesis. Google Scholar
Shaputra,
R. K. (2013). Penerapan Green Marketing pada Bisnis Produk Kosmetik. Jurnal
Jibeka, 7(3), 47�53. Google Scholar
Sholihin,
M., & Ratmono, D. (2021). Analisis SEM-PLS dengan WarpPLS 7.0 untuk
Hubungan Nonlinier dalam Penelitian Sosial dan Bisnis. Penerbit Andi. Google Scholar
Situmorang,
I. L., Jushermi, J., & Marhadi, M. (2017). Pengaruh Kualitas Produk dan
Iklan terhadap Citra Merek dan Keputusan Pembelian Produk Kecantikan Merek Pond�s
pada Remaja di Kota Pekanbaru. Riau University. Google Scholar
Syahrinnisa,
G. W. (2019). Pengaruh Event Terhadap Citra Merek Majalah Femina. Jurnal
Manajemen Dan Organisasi, 10(3), 207�217. Google Scholar
Tiyanto, T.
R. (2013). Analisis deskriptif strategi bersaing pada perusahaan kosmetik. Agora,
1(1), 179�188. Google Scholar
Tritanti,
A. (2014). Peluang, tantangan dan strategi sumber daya manusia bidang
kecantikan menjelang Masyarakat Ekonomi Asean (MEA). Prosiding Pendidikan
Teknik Boga Busana, 9(1). Google Scholar
|
Copyright holder : Wellyn Sinta Maria Purba ,
Syahfirin Abdullah, Edison Cholia
Sembiring (2021). |
|
|
First publication right
: This article is licensed under: |
|