|
Jurnal
Syntax Transformation |
Vol. 1
No. 4 Juni 2020 |
|
p-ISSN :
2721-3854 e-ISSN : 2721-2769 |
Sosial
Sains |
SELEKSI
JASA KONSULTAN PERENCANA MENGGUNAKAN METODE TOPSIS
Warkianto Widjaja
Universitas Kebangsaan Republik Indonesia (UKRI)
Email:� [email protected]
|
INFO ARTIKEL |
ABSTRAK |
|
Diterima 2 Juni
2020 Diterima dalam bentuk revisi 15 Juni 2020 Diterima dalam bentuk revisi 20 Juni 2020 |
Dalam menentukan konsultan perencana, banyak sekali kriteria�kriteria
yang harus dimiliki oleh perusahaan pemberi tugas sebagai syarat dalam
menentukan pemenang lelang pekerjaan perencanaan. Masing�masing perusahaan
pasti memiliki kriteria�kriteria untuk menentukan peserta yang terpilih
sebagai pemenang lelang pekerjaan perencanaan tersebut.� Pelaksanaan lelang pekerjaan perencanaan
dilakukan oleh beberapa perusahaan untuk menentukan konsultan perencana yang
paling kompeten sehingga didapat proses dan hasil desain yang bermutu baik
dari segi biaya, mutu dan waktu. Untuk membantu penentuan dalam menetapkan
perusahaan yang layak melaksananakan pekerjaan perencanaan maka dibutuhkan
sebuah sistem pendukung keputusan.
Pada penelitian ini diangkat suatu kasus
yaitu mencari alternatif terbaik bedasarkan kriteria�kriteria yang telah
ditentukan menggunakan metode Topsis. Penelitian� dilakukan�
dengan� mencari� nilai�
bobot� untuk� setiap�
kriteria,� kemudian� dilakukan proses perankingan yang akan
menentukan alternatif yang optimal, yaitu konsultan perencana terbaik. |
|
Kata kunci: MADM, Topsis, konsultan
perencana, nilai bobot, lelang |
Pendahuluan
Perusahaan berkewajiban menjamin proses lelang yang bermutu dan tidak berpihak terhadap setiap pesertanya dan setiap peserta lelang berhak untuk
mendapatkan penilaian yang adil. Rata-rata� perusahaan� yang� menjadi� sampel� tidak� terindikasi� melakukan kecurangan�� laporan�� keuangan. Proses lelang yang bermutu memberikan pengaruh yang besar pada proses perencanaan diantaranya adalah hasil perencanaan yang baik. Namun terkadang
kegiatan pekerjaan perencanaan tidak berjalan dengan efektif, dimana hal ini disebabkan oleh data identifikasi pelaksan pekerjaan perencanaan yang kurang akurat (Widjaja, 2019). �Hasil perencanaan pengembangan yang baik pada suatu perusahaan menunjukan seberapa berhasilnya suatu perusahaan mendapatkan hasil perencanaan yang sesuai dengan tujuannya. Dalam �rangka�� meningkatkan arah��� pengembangan yang sesuai dengan studi rencana
induk atau master plan, maka perusahaan melaksanakan berbagai kegiatan seperti kegiatan lelang pekerjaan dan perencanaan rekayasa yang lebih terinci dan bermutu. Namun terkadang kegiatan pekerjaan perencanaan tidak berjalan dengan efektif, dimana hal ini disebabkan oleh tidak tepatnya pemilihan konsultan perencana yang disebabkan oleh
data identifikasi pelaksana
pekerjaan perencanaan yang kurang akurat. Seringkali ditemukan terjadi kesalahan dalam menentukan kelayakan penerima pekerjaan perencanaan tersebut. Masalah seperti ketidaktepatan sasaran penentuan konsultan perencana tentunya harus segera diatasi dan dicari solusinya agar tidak terulang lagi pada paket-paket kegiatan perencanaan rekayasa yang lebih terinci di masa yang datang.
Seringkali proses seleksi konsultan perencana lebih banyak ditujukan
pada aspek administratif karena lebih mudah
dinilai, padahal sebenarnya banyak aspek yang lebih menentukan dalam menentukan konsultan yang kompeten diantaranya peran yang lebih menekankan pada pemantau. Melihat hal ini tentunya pihak yang menyelenggarakan lelang pekerjaan perencanaan membutuhkan informasi mengenai keadaan perusahaan peserta lelang baik dari
aspek administratif maupun aspek teknis,
sehingga mereka dapat mengetahui jika dilihat dari
sisi pengalaman perusahaan. Setiap perusahaan� membutuhkan� penggunaan� teknologi� yang� tepat� sasaran� dan perencanaan sistem informasi yang matang, menyeluruh dan total aksi di segala bagian kerja, didukung
dengan sumber daya manusia yang mampu mengaplikasikan teknologi tersebut secara kontinuitas (Soipah, 2017). Kompetensi tenaga
ahli, metodologi pelaksanaan perencanaan dan kemampuan inovasi merupakan hal-hal yang harus diprioritaskan untuk diberikan penilaian.
Melihat permasalahan tersebut
maka perlu adanya suatu sistem
yang dapat menentukan konsultan perencana yang terbaik. Dimana informasi yang dihasilkan dapat membantu pihak pengambil keputusan dalam hal ini perusahaan
pelaksana lelang dalam mengambil atau menentukan konsultan perencana. Perkembangan teknologi dan informasi, khususnya� yang� terjadi� di� Indonesia� terjadi� sangat� dinamis.� Perkembangan� tersebut tentu saja berdampak
pada segala bidang (Furqoni et al., 2020), suatu sistem
berjalan dengan baik atau mencapai
tujuannya jika didukung atau diterapkan
suatu metode. Dalam penentuan konsultan perencana ini, digunakan beberapa indikator atau kriteria yang dianggap mampu mempengaruhi penentuan hasil perencanaan yang bermutu. Melihat hal ini metode TOPSIS (Technique
for Order Preference by Similarity to Ideal Solution) memiliki
beberapa kelebihan, diantaranya konsepnya yang sederhana dan mudah dipahami, komputasinya efisien, dan memiliki kemampuan untuk mengukur kinerja relatif dari alternatif-alternatif
keputusan dalam bentuk matematis yang sederhana.
Metode Topsis biasanya
diterapkan pada suatu sistem pengambilan keputusan atau yang biasanya digunakan dalam pemecahan masalah yang melibatkan banyak alternatif pilihan sehingga dapat membantu pengguna dalam mengambil keputusan dengan cepat dan tepat. Metode Topsis
dianggap efektif diterapkan pada penentuan konsultan perencana ini karena sebelum dilakukan proses peringkat setiap alternatif yang ada, terlebih dahulu
nilai setiap alternatif dilakukan normalisasi. Nilai-nilai setiap alternatif tersebut diperoleh dari pemenuhan setiap kriteria perencana yang kompeten. Tingkat kompetensi diurutkan dari nilai alternatif
yang tertinggi. Semakin rendah nilai alternatif
semakin rendah pula tingkat kompetensinya.
Metode Penelitian
Tahap-tahap yang digunakan dalam penelitian ini ada 6 tahap yaitu
penentuan kriteria, pengumpulan data, analisis data, pengolahan data dan perhitungan, analisis hasil, kesimpulan dan saran.
Menurut (Sugiyono, 2017), teknik pengumpulan
data merupakan cara-cara
yang dilakukan untuk memperoleh data dan keterangan-keterangan
yang diperlukan dalam penelitian.
��������� Alternatif yang digunakan
dalam penelitian ini merupakan 4 (empat) perusahaan konsultan tipe besar berbadan hukum berbentuk Perusahaan Terbatas (PT). Adapun alternatif tersebut sebagai berikut:
Tabel 1 Alternatif Perusahaan
|
Alternatif |
Kondisi Perusahaan Peserta |
|
A1 |
Berpengalaman, tenaga ahli sedang sibuk, konsep desain sangat baik. |
|
A2 |
Berpengalaman, tenaga ahli sedang sibuk, konsep desain kurang lengkap. |
|
A3 |
Berpengalaman, tenaga ahli tersedia, konsep desain cukup lengkap. |
|
A4 |
Kurang berpengalaman, tenaga ahli kurang, konsep desain tidak |
Selain alternatif,
yang diperlukan dalam
perhitungan
metode ini adalah bobot kriteria.
Berdasarkan
tabel
2, maka bobot preferensi adalah sebagai berikut:W = (0.06, 0.16,
0.02, 0.14, 0.02, 0.60).
Data mengenai kompetensi peserta lelang didapat dari dokumen
lelang dan bahan paparan yang disampaikan kepada panitia lelang. Mengacu pada data
dokumen lelang dan paparan yang telah diterima, maka
rating kecocokan dari setiap alternatif pada setiap kriteria ditentukan
sebagai berikut:
Tabel
2
Nilai
Alternatif
untuk
Setiap Kriteria
_files/image002.gif)
��������� Mengacu pada tabel 4, untuk C1 sampai nilai C6 nilai
terbesar adalah terbaik maka diasumsikan
sebagai
kriteria
keuntungan
(benefit). Sehingga untuk melakukan
normalisasi C1
sampai dengan C6 dilakukan normalisasi
menggunakan
persamaan yang menggunakan nilai
maksimum.
Setelah matriks keputusan
dibuat, maka selanjutnya
dilakukan
normalisasi terhadap matriks
tersebut. Normalisasi terhadap matriks
dilakukan dengan bantuan program Microsoft
Excel. Jika diurutkan
berdasarkan nilai tertinggi ke terendah
maka urutannya sebagai berikut:
��������
Tabel 3 Peringkat Nilai
Peserta
|
Peserta |
Nilai Preferensi V |
|
A1 |
0.48767 |
|
A2 |
0.19526 |
|
A3 |
0.96478 |
|
A4 |
0,17917 |
Mengacu pada tabel 3 di atas, dapat dilihat urutan nilai tertinggi sampai terendah untuk semua peserta lelang. Berdasarkan peringkat nilai tersebut di atas, para pengambil keputusan atau dalam hal ini pihak panitia lelang dapat mengambil keputusan perusahaan mana yang menjadi pemenangnya. Dalam hal ini peserta lelang yang menjadi pemenang adalah peserta A3.
Kesimpulan
Penelitian ini dilakukan dengan tujuan agar dapat mengetahui kriteria dan nilai bobot dari
setiap kriteria dalam menentukan pemenang peserta lelang terbuka bidang rekayasa. Hasil dari penelitian ini adalah informasi mengenai peringkat nilai dari semua
peserta lelang sehingga diharapkan hasil dari penelitian
ini dapat dijadikan acuan perusahaan dalam menentukan pemenang lelang. Perusahaan peserta lelang dengan tingkat kompetensi terbaik yaitu perusahaan konsultan A3, kiranya dapat diprioritaskan untuk dijadikan pemenang lelang tersebut. Selanjutnya dipanggil untuk dilakukan negosiasi dari segi biaya
penawaran. Selain itu, informasi yang dihasilkan dari sistem yang dibangun pada penelitian ini diharapkan dapat membantu mempermudah pihak panitia lelang dalam menyajikan laporan mengenai peringkat dan pemenang lelang tersebut.
Saran yang diberikan untuk penelitian selanjutnya adalah diharapkan pada penelitian selanjutnya dapat dilakukan perhitungan peringkat peserta lelang dengan menggunakan
metode yang lain, sehingga hasil analisis tersebut dapat menjadi pembanding dan pegangan untuk panitia lelang dalam menentukan pemenang lelang.
Bibliografi
Furqoni,
F., Budi, D. S., & Supriyanto, E. (2020). Manajemen Risiko dalam Proses Relokasi
Datacenter & Disaster Recovery Center. Syntax Idea; Jurnal Ilmiah
Indonesia, 2(1), 43�47.
Soipah,
S. (2017). Perencanaan Arsitektur Sistem Informasi Koperasi Menggunakan
Metodologi Togaf. Syntax Literate; Jurnal Ilmiah Indonesia, 2(11),
127�139.
Sugiyono.
(2017). 2017 Metode Peneletian Kualitatif. (S. Y. Suryandari, Penyunt.)
Bandung, jawa Barat: Alfabeta.
Widjaja,W.
(2019). Pemilihan Jasa Konsultan Perencana Menggunakan Metode Weighted �Product. Syntax Idea; Jurnal Ilmiah
Indonesia, 1(7), 125-136.