|
Vol. 2 No. 11, November 2021 |
|
|
p-ISSN : 2721-3854 e-ISSN : 2721-2769 |
Sosial Sains |
POLA GENANGAN AIR (BANJIR) DAS SEKANAK-LAMBIDARO
Raden Muhammad Edwar, Achmad Syarifudin
Pascasarjana Magister Teknik Universitas Bina Darma,
Palembang, Indonesia
Email: [email protected], [email protected]
|
INFO ARTIKEL |
ABSTRAK |
|
Diterima
10 Agustus
2021 September 2021 Direvisi 14 November 2021 Disetujui 18 November 2021 |
Banjir merupakan permasalahan yang umum yang terjadi di sebagian wilayah
Indonesia. Sungai Musi dan sembilan belas sistem drainase yang ada dikota Palembang yang melayani unit
cathment area yang berbeda
menjadi penyumbang bencana banjir tiap tahunnya. Pengaruh debit maksimum terhadap tingkat kerawanan banjir adalah pada faktor lanjutan dari hasil penggunaan lahan dan (1) curah hujan disamping (2) pasang surut yang biasa terjadi secara periodik pada sungai Musi. Pada
kecepatan air yang tinggi,
berlangsung cepat dan jumlah air sedikit, mengakibatkan tingginya debit
air yang mengalir sehingga
alirannya sangat deras
dan berdampak destruktif.� Paradigma lama pembangunan saluran drainase atau subdas adalah mengalirkan limpasan air ke saluran/badan air terdekat agar lebih cepat mencapai hilir. Paradigma tersebut sudah tidak sesuai lagi dengan kondisi
saat ini dimana debit air yang mengalir tersebut harus ditahan lebih lama dengan cara diresapkan
ke dalam tanah melalui daerah resapan air seperti sumur resapan, kolam retensi, waduk dan sebagainya sehingga air tidak segera mencapai hilir guna menjaga persediaan air tanah. Sistem drainase Kota Palembang mengikuti pola sistem drainase alam, karena sistem drainase merupakan main drain dari zona drainase yang ada, sedangkan pembagian wilayah pembebanan drainase disesuaikan dengan arah aliran drainase
yang ada (ESP-USAID, 2009). Drainase
atau subdas Musi pada beberapa kawasan di Kota
Palembang yang merupakan kawasan
resapan air yang berubah fungsi menjadi kawasan permukiman dan dengan sistem drainase yang tidak terawat, penyempitan saluran, pendangkalan dan penumpukan sampah pada drainase serta genangan akibat daya tampung drainase primer terlampaui sehingga pada beberapa waktu belakangan sering terjadi genangan dan banjir pada saat hujan turun
dan pasang periodik. ABSTRACT Flood is a
common problem that occurs in parts of Indonesia. The Musi River and nineteen
drainage systems in the city of Palembang that serve different cathment area units contribute to flood disasters each
year. The effect of maximum discharge on the level of flood vulnerability is
the continuation factor of land use results and (1) rainfall in addition to
(2) tides that usually occur periodically on the Musi river. At high water
velocities, it is fast and the amount of water is small, resulting in a high
flow of water so that the flow is very heavy and has a destructive impact.
The old paradigm for the construction of drainage channels or subdas was to channel water runoff to the nearest canal /
water body so that it canreach the downstream
faster. This paradigm is no longer suitable with current conditions where the
flow of flowing water must be held longer by being infiltrated into the
ground through water catchment areas such as infiltration wells, retention
ponds, reservoirs and so on so that water does not immediately reach the
downstream to maintain water supplies. The drainage system of Palembang City
follows the natural drainage system pattern, because the drainage system is
the main drain of the existing drainage zone, while the distribution of the
drainage loading area is adjusted to the direction of the existing drainage
flow (ESP-USAID, 2009). Drainage or Musi subdas in
several areas in Palembang City which are water catchment areas that have
changed their function into residential areas and with untreated drainage
systems, narrowing of channels, silting and accumulation of garbage in
drainage and puddles due to the capacity of primary drainage being exceeded
so that at some time lately there has been frequent inundation and flooding
during periodic rains and tides. |
|
Kata Kunci: DAS; Sungai Musi; Banjir. Keywords: Watershed, Musi River, Flood. |
Pendahuluan
Kota Palembang dari topografinya, termasuk dataran rendah dengan ketinggian
antara 12�30 m di atas permukaan laut, dialiri oleh sungai Musi yang membelah kota disamping
sembilan belas sistem drainase yang
masing-masing melayani unit cathment
area yang berbeda, sehingga� Kota Palembang rawan
terhadap genangan atau banjir (Fairizi, 2015)
dalam (Hamdani et al., 2014).
Dari sembilan
belas sistem drainase tersebut salah satunya adalah sistem drainase DAS Sekanak - Lambidaro yang melayani cathment area cukup luas. Pada sistem drainase Sub DAS� ini, pada lokasi-lokasi tertentu timbul genangan yang diakibatkan oleh hasil limpasan yang berasal dari curah hujan
yang tinggi atau limpasan air dari sungai Musi karena debit banjir tidak mampu
dialirkan oleh sungai karena pengaruh pasang surut ataupun debit air yang lebih besar daripada
kapasitas pengaliran yang ada, ditambah lagi
debit air Sungai Musi yang� masuk ke sungai
Sekanak - Lambidaro akan menyebabkan air dari daerah sekitar
sungai akan sulit mengalir dan akan menimbulkan genangan. Faktor lain yang cukup berpengaruh yaitu tingkat penyerapan
air oleh tanah dan rawa-rawa
di wilayah DAS Sekanak - Lambidaro
yang cukup rendah (Narulita, 2016).
Melalui studi dan kajian literasi yang dilakukan, pemetaan daerah genangan dapat dilakukan menggunakan aplikasi geopasial berbasis GIS dengan sumber data yang sudah diolah menggunakan program
HEC-RAS dan HEC-GeoRAS seperti
yang pernah dilakukan
oleh� (Almoradie, 2015),
Inundation Modelling and Flood Mapping Using HEC-RAS
and HEC-GeoRAS, Teaching Material on Flood Risk
Management, UNESCO-IHE-DELF (ISTIARTO, 2015),
namun pemodelan yang dilakukan dapat dijadikan data spasial yang bisa dikombinasikan dengan data topography yang ada menurut (Cahyono, 2014).
Pemodelan Spasial Untuk Pembuatan Peta Rawan Banjir dan Peta Tingkat Risiko Banjir Bengawan Solo di Kota
Surakarta. Jurnal Geografi
Indonesia. Vol. 29. No. 1. Hal � 60-72. Fakultas Geografi. UGM, Yogyakarta .
Berdasarkan kondisi diatas, maka diperlukannya data-data yang
akurat dan terbaru. Data-data
ini didapat dari penelitian langsung di lapangan dan data literatur lainnya (Seniarwan et al., 2013).
Dalam hal ini diperlukannya peralatan yang baik guna mendapatkan hasil yang akurat. Keakuratan data sangat penting karena data-data yang didapat akan digunakan kedalam HEC-RAS dan HEC-GeoRAS
yang akan dikonvert ke program berbasis GIS, yang akan menganalisis dan menjadi pedoman untuk menyelesaikan masalah yang ada (Santosa et al., 2015).
�Lokasi Penelitian DAS Sekanak � Lambidaro terletak diKota Palembang provinsi
Sumatera Selatan.
Metode Penelitian
Penelitian dilakukan menggunakan
metode parametrik dengan data curah hujan dan data hidrologi terkait pasang surut yang terjadi pada existing DAS Sekanak
� Lambidaro (Amalia, 2017).Studi parametrik
dilakukan dengan pemodelan menggunkan HEC-RAS dan
HEC-GeoRAS yang akan dikonvert keprogram informasi spasial berbasis GIS (ArcGIS) open source (Brunner, 1995).
Untuk� pemodelan yang akan digunakan
dalam penelitian ini bersumber pada data topography
DAS Sekanak - Lambidaro dalam bentuk DTM (digital terrain
model) dalam format TIN (triangulated irregular
network) atau Grid. Data DTM berupa
gambar yang terlihat pada peta permukaan tanah menerus dari
hulu ke hilir,
mencakup dasar alur sungai dan dasar permukaan bantaran DAS Sekanak - Lambidaro yang akan dimodelkan seperti flow chart
yang dikutip dari� HEC-GeoRAS User�s
Manual, USACE, 2011 berikut ini
(Susetyo & Syetiawan, 2016).

Flow chard pemodelan
Tahapan Penelitian ini
dimulai dari pemilihan topik kemudian melakukan studi pustaka dilanjutkan
dengan studi parametrik dengan melakukan pengumpulan data dan pemodelan hingga akhirnya sampai pada hasil akhir penyelesaian
penelitian dalam bentuk hasil penelitian
dan kesimpulan akhir penelitian (Nurita, 2017).
Hasil
dan Pembahasan
A.
Topografi
��������������������� Gambar 2
�Topografi Subdas Kota Palembang
Topografi
Kota Palembang dengan kondisi
yang relatif datar, mempunyai� ketinggian lahan rata-rata +8.0 mdpl. Akibat kondisi wilayah yang relatif datar ini,
pada lokasi-lokasi tetentu seringkali mengalami genangan air (banjir) yanga diakibatkan oleh aliran air hujan/run off yang tidak mampu ditampung
saluran atau sub drainase kota yang berjumlah 21 sub sistem drainase (Febriana, 2008).
Dari 21 sub sistem drainase
tersebut terdapat 2 sub sistem drainase yang sangat berpengaruh dalam pengendalian kawasan banjir kota Palembang, yaitu sub sistem drainase Sekanak yang memiliki luasan total 1.062,1 ha
yang terdiri atas 42 subdas dan sub sistem Lambidaro yang memiliki luasan total 6.430,7 ha yang terdiri
atas 34 subdas .���������������
Sub Sistem
Sekanak memiliki luasan total 1.062,1 ha yang terdiri
atas 42 subdas. Permasalahan sampah yang kerap mewarnai kota juga terjadi di sungai ini, dimana
sampah mengurangi kapasitas sungai dan menghambat laju aliran air. Jaringan pipa PDAM
yang tidak teratur semakin menyebabkan keruwetan jaringan drainase di Sub Sistem Sekanak, karena peranannya dalam menyangkutkan sampah semakin menghambat aliran air, dan kemungkinan terjadi genangan pun semakin besar (Harmani & Soemantoro, 2015).� Daerah di sekitar
Sub Sistem Sekanak adalah daerah pemukiman
yang padat, pasar, dan pusat
pemerintahan. Di dalam Sub Sistem Sekanak terdapat kolam retensi Siti Khodijah, Kambang Iwak Besak
dan Kambang Iwak Kecik. Kolam-kolam retensi tersebut telah mengalami penurunan daya tampung, yang diakibatkan karena pendangkalan oleh pengendapan sedimen. Outlet dan inlet
dari kolam retensi tersebut terlalu kecil, sehingga seringkali menghambat aliran menuju Kolam Retensi sehingga sering mengakibatkan terjadinya genangan air (banjir) dibebera titik lokasi, diantaranya Jalan
Angkatan 45 dengan ketinggian
genangan air sekitar 50 cm dengan lama genangan sekitar 3 jam (Oktariansyah & Siahaan, 2014).

���� �������������������������������������
� ��������������������� ���Gambar 3
Lokasi
Genangan Air Jalan� Angkatan 45
Lokasi lain yang mengalami genangan adalah di Bagian Hilir Kolam Retensi Siti Khodijah, dengan ketinggian genangan sekitar 50 cm dengan lama genangan sekitar 12 jam.

Lokasi
Genangan Air sekitar RSI
Siti Khodijah
Lokasi
genangan yang terjadi di dalam Sub Sistem Lambidaro terjadi di Sekitar Muara
Sungai. Genangan yang terjadi dimungkinkan akibat debit sungai yang besar,
sehingga segmen Sungai Lambidaro pada bagian muara meluap. Genanangan yang
terjadi setinggi sekitar 50 cm dengan lama genangan sekitar 4 jam.

Gambar 5
Lokasi Genangan Air
sekitar Muara Sungai Lambidaro
�����
Selain di Sekitar Muara Sungai Lambidaro, segmen
lain yang mengalami limpasan adalah lokasi permukiman penduduk yang ada di
Sekitar Jalan Tanjung Barangan. Limpasan yang terjdi disebabkan oleh kapasitas
sungai yang menurun akibat pendangkalan. Tinggi genangan di lokasi ini sekitar
30 cm dengan lama genangan sekitar 4 jam.

Lokasi Genangan
Air sekitar Jalan Tanjung Barangan
B. Curah
Hujan
Data curah
hujan yang digunakan dalam penelitian ini berasal dari
BMKG Stasiun Klimatologi
Palembang 15 tahun terakhir.
( periode 2004-2018)

Gambar
7
Grafik Curah Hujan Bulanan peride Tahun 2004-2018
C. Analisa
Curah Hujan
Analisa curah hujan yang digunakan adalah data curah hujan harian maksimum
15 tahun terakhir yang sudah diurutkan dari data terendah ke data tertinggi, seperti terlihat pada table 1 berikut ini� :
�
Tabel 1 Data curah Hujan periode Tahun
2004-2018
|
Tahun |
Stasiun pengamatan Kenten |
|
|
Curah hujan
maksimum |
|
|
|
2017 |
55,2 |
|
|
2011 |
57,0 |
|
|
2018 |
82,0 |
|
|
2009 |
83,5 |
|
|
2007 |
85,0 |
|
|
2014 |
85,0 |
|
|
2008 |
89,0 |
|
|
2005 |
95,0 |
|
|
2016 |
104,0 |
|
|
2004 |
105,5 |
|
|
2006 |
114,5 |
|
|
2012 |
115,0 |
|
|
2013 |
134,0 |
|
|
2015 |
138,0 |
|
|
2010 |
151,0 |
|
D. Analisa
Intensitas Curah Hujan Rencana
Data analisa Intensitas curah hujan rencana merupakan
data intesitas curah hujan yang berhubungan dengan frekuensi hujan itu sendiri,
biasanya ditampilkan dalam bentuk grafik
atau kurva yang berisikan data periode ulang
5,10,25,50,100
tahun seperti terlihat pada table 2 berikut ini :
Tabel 2
Data Hasil Perhitungan
Intensitas curah Hujan Rencana periode
Ulang 5-100 Tahun
|
T |
X (mm) |
I |
|
5 |
125,984 |
257,1480 |
|
10 |
145,140 |
296,2446 |
|
25 |
169,341 |
345,6414 |
|
50 |
187,294 |
382,2866 |
|
100 |
205,118 |
418,6661 |

Gambar 8
Kurva IDF periode
ulang 5-100 Tahun
E. Histogram
Intensitas Curah Hujan Rencana
Histogram intensitas curah hujan rencana
dalam penelitian ini menggunakan pendekatan meteorologic models dengan
metode ABM (Alternati Block
Method), untuk membuat
Histogram (hyetograph) intensitas curah
hujan rencana dari kurva IDF dengan periode ulang 5, 10, 25, 50 dan 100 tahun
dengan hasil sebagai berikut� :

Gambar 9
Kurva ABM periode ulang 5 Tahun
Gambar 10
Kurva ABM periode ulang 10 Tahun
Gambar 11
Kurva
ABM periode ulang 25 Tahun
Gambar 12
Kurva
ABM periode ulang 50 Tahun

��������������������������������������
Gambar 13
Kurva
ABM periode ulang 100 Tahun
F.
Profil Genangan Muka Air Banjir
Visualisasi
genangan air (banjir) Das Sekanak-Lambidaro dapat dilihat dari hasil
simulasi profil muka air banjir disepanjang aliran sungai, sehingga dapat diketahui lokasi-lokasi yang berpotensi terjadinya genangan air (banjir) sesuai dengan periode ulang yang dihitung selama 5, 10, 25,50 dan 100 tahun,
seperti terlihat pada gambar dibawah ini� :
1.
Sungai Sekanak
Profil Muka Air Normal Sungai Sekanak.

Gambar 15
Profil muka air banjir
periode ulang 5 th� Sungai Sekanak
�
�� ��Gambar 16
Profil muka air banjir
periode ulang 10 th� Sungai Sekanak

Gambar 17
�Profil muka air banjir periode ulang 25 th� Sungai Sekanak

Gambar 18
Profil muka air banjir
periode ulang 50 th� Sungai Sekanak

Gambar 19
�
Profil muka air banjir periode ulang 100 th� Sungai Sekanak
2. Sungai
Lambidaro

�Hasil
Pemodelan HEC-RAS ver. 5.0.1. Profil �Muka Air Normal
Sungai Lambidaro

Gambar 21
Hasil
Pemodelan HEC-RAS ver. 5.0.1. Profil
Muka Air Banjir Periode Ulang 5 Tahun Sungai Lambidaro

Gambar 22
Hasil
Pemodelan HEC-RAS ver. 5.0.1. Profil
Muka Air Banjir Periode Ulang 10 Tahun Sungai Lambidaro

Gambar 23
Hasil Pemodelan
HEC-RAS ver. 5.0.1. Profil Muka
Air Banjir Periode Ulang 25 Tahun Sungai Lambidaro

Gambar 24
Hasil Pemodelan
HEC-RAS ver. 5.0.1. Profil Muka
Air Banjir Periode Ulang 50 Tahun Sungai Lambidaro

Gambar 25
Hasil Pemodelan
HEC-RAS ver. 5.0.1. Profil Muka
Air Banjir Periode Ulang 25 Tahun Sungai Lambidaro
3. Pembuatan Peta Pola Genangan Air
Pembuatan
peta pola genangan air (banjir) pada
lokasi penelitian ini, dapat dilihat
pada gambar �berikut
ini :
Gambar 26
Hasil pemodelan pada ArcMAP ver. 10.22
Peta Kota Palembang

Gambar 27
Hasil pemodelan
pada ArcMAP ver. 10.22 Peta Pola Genangan
Air (banjir) Kota Palembang Periode
ulang 5 Tahun

Hasil
pemodelan pada
ArcMAP ver. 10.22
Peta Pola Genangan Air (banjir) Kota
Palembang Periode ulang 10 Tahun

Gambar 29
Hasil pemodelan
pada ArcMAP ver. 10.22
Peta Pola Genangan
Air (banjir) Kota Palembang Periode
ulang 25 Tahun

Gambar 30
Hasil pemodelan
pada ArcMAP ver. 10.22
Peta Pola Genangan
Air (banjir) Kota Palembang Periode
ulang 50 Tahun

Gambar 31
Hasil pemodelan pada
ArcMAP ver. 10.22
Peta Pola Genangan Air (banjir) Kota
Palembang Periode ulang 100
Tahun
Kesimpulan
Dari hasil pembahasan
diatas, dapat disimulkan beberaphal sebagai berikut Terdapat pola genangan
pada titik sekitar Jalan
Angkatan 45 dengan ketinggian
genangan air sekitar 50 cm dengan lama genangan sekitar 3 jam. Lokasi lain yang mengalami
genangan adalah di Bagian Hilir Kolam Retensi Siti Khodijah, dengan ketinggian genangan sekitar 50 cm dengan lama genangan sekitar 12 jam.
Lokasi lain yang megalami genangan
adalah sekitar Jalan
Soekarno � Hatta, dengan ketinggian
genangan sekitar 30 cm dengan lama genangan sekitar 3 jam.
Lokasi genangan yang terjadi
di Sekitar Muara Sungai Lambidaro� dengan tinggi genangan sekitar 50 cm dan lama genangan sekitar 4 jam.
Segmen lain yang mengalami genangan adalah lokasi permukiman
penduduk yang ada di Sekitar Jalan Tanjung Barangan dengan tinggi genangan sekitar 30 cm dan lama genangan sekitar 4 jam.
Pada periode ulang 5,
10, 25 50, 100 tahun kapasitas
DAS Sekanak- Lambidaro tidak mampu lagi
menampung air (elevasi muka air berada diatas bantaran sungai.
Hasil simulasi terhadap
profil muka air banjir menunjukan bahwa semakin besar
periode ulang debit bajir rencana, maka semakin tinggi.
Bibliografi
Almoradie, A.
D. (2015). Inundation Modelling And Flood Mapping Using HEC-RAS And HEC-Georas,
Teaching Material On Flood Risk Management. UNESCO -IHE-
DELFT.
Amalia,
D. (2017). Aplikasi Software FLO-2D Untuk Pembuatan Peta Genangan DAS Guring,
Banjarmasin. Institut Teknologi Sepuluh Nopember. Google Scholar
Brunner,
G. W. (1995). HEC-RAS River Analysis System. Hydraulic Reference Manual. Version
1.0. Hydrologic Engineering Center Davis CA. Google Scholar
Cahyono,
T. (2014). Pemodelan Spasial Untuk Pembuatan Peta Bahaya Banjir Dan Peta
Tingkat Risiko Banjir Bengawan Solo Di Kota Surakarta. Universitas Gadjah Mada. Google Scholar
Fairizi,
D. (2015). Analisis Dan Evaluasi Saluran Drainase Pada Kawasan Perumnas Talang
Kelapa Di Subdas Lambidaro Kota Palembang. Jurnal Teknik Sipil Dan
Lingkungan, 3(1), 755�765. Google Scholar
Febriana,
E. (2008). Kinerja Pengendalian Pemanfaatan Lahan Rawa Di Kota Palembang.
Universitas Diponegoro. Google Scholar
Hamdani,
H., Permana, S., & Susetyaningsih, A. (2014). Analisa Daerah Rawan Banjir
Menggunakan Aplikasi Sistem Informasi Geografis (Studi Kasus Pulau Bangka). Jurnal
Konstruksi, 12(1). Google Scholar
Harmani,
E., & Soemantoro, M. (2015). Kolam Retensi Sebagai Alternatif Pengendali
Banjir. Jurnal Teknik Sipil Unitomo, 1(1). Google Scholar
Istiarto.
(2015). Genangan Banjir (HEC-�‐GEORAS). Google Scholar
Narulita,
I. (2016). Distribusi Spasial Dan Temporal Curah Hujan Di Das Cerucuk, Pulau
Belitung. Jurnal Riset Dan Pertambangan, 26(2), 141�154. Google Scholar
Nurita,
R. (2017). Perencanaan Drainase Daerah Aliran Sungai Guring, Kota
Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Institut Teknologi Sepuluh Nopember. Google Scholar
Oktariansyah,
P., & Siahaan, P. (2014). Perencanaan Saluran Dan Kolam Retensi Daerah
Kedamaian Kecamatan Kalidoni Palembang Provinsi Sumatera Selatan. Politeknik
Negeri Sriwijaya. Google Scholar
Santosa,
W. W., Suprayogi, A., & Sudarsono, B. (2015). Kajian Pemetaan Tingkat
Kerawanan Banjir Dengan Menggunakan Sistem Informasi Geografis (Studi Kasus: DAS
Beringin, Kota Semarang). Jurnal Geodesi Undip, 4(2), 185�190. Google Scholar
Seniarwan,
S., Baskoro, D. P. T., & Gandasasmita, K. (2013). Model Spasial Genangan
Banjir: Studi Kasus Wilayah Sungai Mangottong, Kabupaten Sinjai, Provinsi
Sulawesi Selatan. Majalah Ilmiah Globe, 15(1). Google Scholar
Susetyo,
D. B., & Syetiawan, A. (2016). Perbandingan Metode Interpolasi Terhadap Hasil
Pembentukan Digital Terrain Model (DTM). Seminar Nasional 3rd CGISE Dan FIT
ISI 2016. Google Scholar
|
Copyright holder : Raden Muhammad Edwar, Achmad Syarifudin (2021). |
|
|
First publication right
: This article is licensed under: |
|