Jurnal Syntax Transformation

Vol. 2 No. 12, Desember 2021

p-ISSN : 2721-3854 e-ISSN : 2721-2769

Sosial Sains

 

PENERAPAN SIKAP KERJA SEIRI, SEITON, SEISO, SEIKETSU, SHITSUKE (5S) MELALUI PELATIHAN GEMBA KAIZEN

�������������������������������������������������������������������������������������������������

Ardiyansyah Jasman

Universitas Airlangga Surabaya, Jawa Timur, Indonesia

Email : [email protected]

 

INFO ARTIKEL

ABSTRAK

Diterima

11 November 2021

Direvisi

3 Desember 2021

Disetujui

20 Desember 202

Penerapan budaya kerja merupakan salah satu indikator keberhasilan dan kesuksesan sebuah perusahaan dalam mencapai tujuannya. Gemba kaizen merupakan budaya kerja masyarakat Jepang yang digunakan untuk melakukan perbaikan dan peningkatan secara terus menerus atau berkesinambungan di sebuah tempat kerja (Fitri, 2016) Tujuan penelitian ini untuk mengetahui perbedaan sikap kerja (5S) sebelum dan sesudah diberikan pelatihan Gemba Kaizen. Penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dengan pendekatan eksperimen disimpulkan bahwa terdapat perbedaan sikap kerja 5S pada subjek antara sebelum (pretest) dan setelah (posttest) diberikan pelatihan Gemba Kaizen. Hal ini dilihat berdasarkan hasil signifikansi menunjukkan p-value sebesar 0, 002, dimana jika p-value kurang dari 0,05 maka hipotesis dinyatakan diterima. Artinya dengan memberikan Pelatihan Gemba Kaizen penerapan sikap kerja 5S dapat terbentuk atau tampak pada subjek tertentu.

 

ABSTRACT

The application ofwork is one of the indicators of success and successof a company inachieving its goals. Gemba kaizen is a Japanese working culture that is used to make continuous or continuous improvements and improvements in a workplace (Fitri, 2016) The purpose of this study is to find out the difference in work attitudes (5S) before and after being given Gemba Kaizen training. This study is a quantitative study with an experimental approach concluded that there is a difference in 5S work attitudes in subjects between before (pretest) and after (posttest) given Gemba Kaizen training. This is seen based on the results of significance showing a p-value of 0.002, where if the p-value is less than 0.05 then the hypothesis is declared acceptable. This means that by providing Gemba Kaizen Training the application of 5S work attitudes can be formed or appeared on a particular subject.

Kata Kunci:

Penerapan 5S, budaya kerja, pelatihan Gemba Kaizen.

 

 

 

 

 

 

 

Keyword:

Implementation of 5S, work culture, Gemba Kaizen training.


 


Pendahuluan

Penerapan budaya kerja merupakan salah satu indikator keberhasilan dan kesuksesan sebuah perusahaan dalam mencapai tujuannya. Budaya kerja yang kuat mencerminkan perilaku organisasi sebagaimana disimpulkan oleh (Umam, 2018) bahwa perilaku organisasi memberikan arah dan petunjuk bagi pencapaian tujuan organisasi yang lebih baik. Kuatnya penerapan budaya kerja dapat membantu perusahaan bertahan lebih lama dalam menghadapi tantangan dan persaingan bisnis, sebab budaya kerja mencerminkan identitas perusahaan yang mempengaruhi citra, image dan kepercayaan perusahaan terhadap pihak eksternal dalam mengembangkan bisnis (investor, costumer, supplier).

Menurut Sylvina Savitri dalam (Adjat Daradjat, 2018) perusahaan yang sukses adalah perusahaan yang memiliki budaya kerja yang kuat. Budaya kuat berarti nilai-nilai inti perusahaan betul-betul menjadi ideologi yang dipatuhi dan dijalankan dalam kehidupan sehari-hari di tempat kerja. Comparably mencatat terdapat 50 perusahaan di dunia yang memiliki budaya kerja terbaik sepanjang tahun 2018. Salah satunya adalah Google yang menerapkan budaya kerja santai tapi produktif dengan tidak memaksakan diri pekerjanya melainkan lebih diarahkan untuk menikmati hidup sambil bekerja. Meskipun demikian, sukses dan berhasilnya perusahaan tidak serta merta harus meniru budaya kerja yang diterapkan di Google. Setiap perusahaan memiliki karekteristik budaya kerja yang berbeda-beda, sebab terciptanya budaya kerja tidak terlepas dari penerapan budaya organisasi (corporate culture) itu sendiri.

Gemba kaizen merupakan budaya kerja masyarakat Jepang yang digunakan untuk melakukan perbaikan dan peningkatan secara terus menerus atau berkesinambungan di sebuah tempat kerja (Fitri et al., 2020). Gemba berarti tempat yang sebenarnya (real place) atau dalam arti sempit berarti tempat dimana suatu produk dibuat (Imai, 1986), sedangkan Kaizen terdiri dari dua kata dalam Bahasa Jepang �Kai� artinya perubahan dan �Zen� artinya baik. Masaaki Imai dalam (Imai, 1986) menjelaskan bahwa orang Jepang menggunakan istilah gemba di dalam percakapan sehari-hari untuk menyatakan tempat terjadinya sesuatu kejadian atau dengan kata lain semua tempat orang bekerja adalah gemba, sedangkan kaizen adalah perbaikan yang dilakukan terus menerus (continuous improvement) yang meliputi semua orang, termasuk manajer maupun pekerja (Imai, 2012).

(Imai, 2012) menyebutkan tiga aturan dasar penerapan gemba kaizen yaitu penataan (5S), penghapusan pemborosan (muda) dan standarisasi. Penataan (5S) merupakan unsur esensial bagi manajemen yang baik. Melalui 5S, pekerja mempelajari dan mempraktekkan disiplin diri. Pekerja tanpa disiplin diri tidak mungkin menghasilkan produk atau jasa layanan yang berkualitas bagi konsumen. Osada (2017) menyebut 5S sebagai sebuah sikap kerja yang terdiri dari Seiri, Seiton, Seiso, Seiketsu dan Shitsuke. Di Indonesia dikenal dengan istilah 5R yaitu Ringkas, Rapi, Resik, Rawat, Rajin. Versi bahasa Inggris menjadi Sort, Stabilize, Shine, Standardize, Sustain dan ditambahkan dengan Saftey atau dalam bahasa Indonesia menjadi Sisih, Susun, Sapu, Standar, Sinambung dan Selamat sehingga implementasinya menjadi 6S.

Toyota Ways dalam (Rahman, 2018) menjelaskan secara singkat terkait sikap kerja 5S yang ditunjukkan dalam tabel di bawah ini

 

 


Tabel 1

Penjelasan Terkait Sikap Kerja 5S


 

Sikap Kerja 5S

Penjelasan

Seiri

Kegiatan menyingkirkan barang-barang yang tidak diperlukan sehingga segala barang yang ada di lokasi kerja hanya barang yang benar-benar dibutuhkan dalam aktivitas kerja.

Seiton

Kegiatan meletakkan segala sesuatu harus sesuai posisi yang ditetapkan sehingga siap digunakan pada saat diperlukan.

Seiso

Kegiatan membersihkan peralatan dan daerah kerja sehingga segala peralatan kerja tetap terjaga dalam kondisi yang baik.

Seiketsu

Kegiatan menjaga kebersihan pribadi sekaligus mematuhi ketiga tahap sebelumnya.

Shitsuke

Kegiatan pemeliharaan kedisiplinan pribadi masing-masing pekerja dalam menjalankan seluruh tahap 5S.


Sumber : Toyota Ways dalam (Rahman, 2018)


PT. Duta Pangan Nusantara adalah perusahaan industri manufaktur yang merupakan gemba dalam praktek kaizen. Perusahaan ini bergerak di bidang pembuatan makanan ringan ekstrudat yang beralamat di Jalan Semeru II No 15 Bambe, Driyorejo Kabupaten Gresik, Jawa Timur. Jumlah pekerja kurang lebih 150 orang yang secara struktur organisasi terbagi dalam delapan bagian, yaitu kantor, satpam, produksi, packing, gudang, bengkel, R&D, dan Quality Control.

�Hasil observasi pada tanggal 18-28 Februari 2020 menunjukkan bahwa dari 8 (delapan) area kerja di PT. Duta Pangan Nusantara, bengkel menjadi area yang signifikan terlihat tidak menerapkan prinsip gemba kaizen khususnya terkait penataan (5S) atau sikap kerja 5S. Pada saat dilakukan observasi seluruh area sedang melaksanakan aktivitas kerja normal sekitar pukul 09.00-11.30. Metode observasi yang digunakan adalah field setting, yaitu observasi dilapangan atau di tempat yang sesungguhnya dengan jenis observasi time sampling, yaitu mengamati dan mencatat apa saja yang dilakukan individu dalam waktu tertentu (Wardhani & Harjito, 2020).


 

 

Tabel 2

Penerapan Sikap Kerja 5S Di PT. Duta Pangan Nusantara

 

Seiri-Pemilahan

Seiton-Penataan

Seiso-Pembersihan

Seiketsu-Pemantapan

Shitsuke-Pembiasaan

1

2

3

4

5

1

2

3

4

5

1

2

3

4

5

1

2

3

4

5

1

2

3

4

5

A1

 

 

 

x

 

 

 

 

x

 

 

 

 

x

 

 

 

x

 

 

 

 

x

 

 

A2

 

 

 

x

 

 

 

 

x

 

 

 

 

x

 

 

 

x

 

 

 

 

x

 

 

A3

x

 

 

 

 

 

x

 

 

 

 

x

 

 

 

x

 

 

 

 

x

 

 

 

 

A4

 

x

 

 

 

 

 

x

 

 

 

 

x

 

 

 

 

x

 

 

 

 

x

 

 

A5

 

x

 

 

 

 

x

 

 

 

 

x

 

 

 

 

x

 

 

 

 

x

 

 

 

A6

 

 

 

x

 

 

 

 

 

x

 

 

 

x

 

 

 

x

 

 

 

 

 

x

 

A7

 

 

x

 

 

 

 

x

 

 

 

 

x

 

 

 

 

x

 

 

 

 

x

 

 

A8

 

 

x

 

 

 

x

 

 

 

 

 

x

 

 

 

 

x

 

 

 

 

x

 

 

 

Ket : A1= Area Produksi, A2= Area Pengemasan, A3= Area Bengkel, A4= Kantor Utama, A5= Pos Keamanan, A6=Gudang, A7= Laboratorium/QC, A8 = Formula/R&D.

Sumber : Hasil Observasi Area Kerja


Di area bengkel banyak barang rongsokan yang ditumpuk begitu saja dan tidak dibuang atau disingkirkan. Peralatan kerja tergeletak berantakan, tidak tertata rapi karena peralatan yang selesai digunakan tidak dikembalikan di tempatnya semula sehingga ruangan kerja terkesan sesak dan sempit. Selain itu, kondisinya kotor karena tidak adanya jadwal dan aktifitas pembersihan yang dilakukan oleh para teknisi.

Kondisi area kerja di bengkel sangat tidak efisien, potensi terjadi pemborosan waktu dan tenaga, mengganggu kenyamanan bahkan dapat memicu terjadinya kecelakaan kerja. Bahkan hasil wawancara tertulis (written interview) yang dilakukan kepada para teknisi mengakui bahwa di area bengkel sering mengalami kehilangan peralatan dan terkadang sulitnya menemukan peralatan-peralatan yang segera dibutuhkan sehingga hal tersebut menghambat penyelesaian pekerjaannya.

Beberapa hasil penelitian menyimpulkan bahwa masalah-masalah yang terjadi di area bengkel dapat diretas dan dipecahkan dengan menerapkan sikap kerja 5S. Seperti yang digambarkan pada tabel di bawah ini :


Tabel 3

Hasil-hasil Penelitian Terkait Penerapan Sikap Kerja 5S.

No

Penelitian

Hasil Penelitian

1

Konsep Kaizen Untuk Meningkatkan Kualitas Secara Terus Menerus Pada Industri Sarung Tangan Kesehatan (Puspita, 2014)

Dengan analisa 5-S (Seiri-Seiton-Seiso-Seiketsu-Shitsuke) dapat dilakukan perbaikan tempat kerja dan kondisi kerja.

2

Strategi Peningkatan Daya Saing Usaha Kecil dan Menengah (UKM) Berbasis Kaizen (Meliala et al., 2016)

Konsep Kaizen (Gerakan 5S) digunakan untuk memperbaiki kondisi di tempat kerja.

3

Penerapan Kaizen Dalam Meningkatkan Efisiensi dan Kualitas Produk Pada Bagian Banbury PT. Bridgestone Tire Indonesia (Fatkhurrohman & Subawa, 2016).

Konsep gerakan 5S digunakan untuk meningkatkan efisiensi dan kualitas produk.

4

Analisa Program Keselamatan dan Kesehatan Kerja di Bagian Produksi Dengan 5S Dalam Konsep Kaizen Sebagai Upaya Pencegahan Kecelakaan Kerja Di PT.XYZ (Ginting et al., 2014)

Berdasarkan penelitian sebelumnya Program 5S dapat mencegah kecelakaan kerja, namun dalam penerapannnya di PT. XYZ para pekerja tidak konsisten menerapkan sebagaimana mestinya.

5

Implementasi Konsep Budaya 5R (Ringkas, Rapi, Resik, Rawat dan Rajin) Sebagai Upaya Meningkatkan Kinerja Perusahaan Dari Sisi Non Keuangan (Nusannas, 2016)

Kaizen 5R dapat dilakukan seiring dengan peningkatan kedisiplinan lingkungan sekitar tempat pekerjaan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


Merujuk kepada hasil-hasil penelitian tersebut, penulis berpendapat kondisi yang terjadi di PT. Duta Pangan Nusantara disebabkan karena para teknisi tidak memiliki pengetahuan, keterampilan dan sikap terkait gemba kaizen dalam hal penataan (5S). Pendapat ini didukung dari hasil kuisioner yang disebar kepada para teknisi di area bengkel.


 

Tabel 4

Pengetahuan, Keterampilan & Sikap Subjek Terkait 5S.

No

Indikator

Hasil Survei

Jumlah Responden

Ya

Tidak

1

Apakah pernah mendengar atau membaca istilah Gemba Kaizen?

-

x

12 Orang

2

Apakah pernah mendengar atau membaca istilah Sikap Kerja 5S?

-

x

12 Orang

3

Apakah pernah mendapat pelatihan Gemba Kaizen?

-

x

12 Orang

4

Apakah tahu bagaimana menerapkan sikap kerja 5S?

-

x

12 Orang

5

Apakah sudah pernah menerapkan Sikap Kerja 5S?

-

x

12 Orang

 

 

 

 

 

Sumber : Hasil Survei Pada Subjek


 


Akibat pengetahuan yang tidak dimiliki oleh para subjek menjadikan penerapan sikap kerja 5S tidak terlihat di area bengkel. Oleh karena itu, penulis berkeyakinan dengan diberikannya intervensi berupa pelatihan terkait gemba kaizen para teknisi di bengkel PT. Duta Pangan Nusantara dapat memiliki pengetahuan, keterampilan dan sikap �dalam menerapkan 5S sehingga diharapkan mampu bekerja lebih efektif, efisien, nyaman dan aman.

Berdasarkan latar belakang masalah tersebut, penulis tertarik dan begitu antusias mengadakan penelitian dengan judul �Penerapan Sikap Kerja Seiri, Seiton, Seiso, Seiketsu, Shitsuke (5S) melalui Pelatihan Gemba Kaizen�

 

Metode Penelitian

Penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dengan pendekatan eksperimen. (Sugiyono, 2017) menjelaskan bahwa penelitian kuantitatif memiliki banyak penamaan atau penyebutan.

Teknik pengumpulan data Skala psikologi yang digunakan dalam penelitian ini adalah skala sikap kerja 5S yang akan digunakan sebagai alat ukur pretest dan posttest.

Teknik pengumpulan data dimana pewawancara dalam mengumpulkan data mengajukan suatu pertanyaan kepada yang diwawancarai (Unaradjan, 2019). (Gunawan, 2016) menerangkan bahwa wawancara adalah kegiatan tanya jawab lisan antara dua orang atau lebih secara langsung. Observasi yang dilakukan dalam penelitian ini merupakan upaya untuk mendapatkan data awal terkait situasi dan kondisi di lokasi penelitian.

Analisis data merupakan kegiatan mengelompokkan data setelah seluruh responden atau sumber data lain terkumpul berdasarkan variabel dan jenis responden, mentabulasi data berdasarkan variabel dari seluruh responden, menyajikan data tiap variabel yang diteliti, melakukan perhitungan untuk menjawab rumusan masalah dan melakukan perhitungan untuk menguji hipotesis yang telah diujikan (Sugiyono, 2017).

Data skala sikap kerja 5S yang telah diperoleh dari pretest dan posttest kemudian dilakukan teknik analisa data statistik non parametrik dengan Uji Wilcoxon menggunakan Software SPSS 23.0 for Windows.

 

Hasil Penelitian dan Pembahasan

A.   Hasil Penelitian

1.    Uji Validitas Instrumen penelitian

 

Tabel 5

Blue Print Komponen dalam Penyusunan Skala Sikap 5S

 

 

Penjelasan

Seiri

Kegiatan menyingkirkan barang-barang yang tidak diperlukan sehingga segala barang yang ada di lokasi kerja hanya barang yang benar-benar dibutuhkan dalam aktivitas kerja.

Seiton

Kegiatan meletakkan segala sesuatu harus sesuai posisi yang ditetapkan sehingga siap digunakan pada saat diperlukan.

Seiso

Kegiatan membersihkan peralatan dan daerah kerja sehingga segala peralatan kerja tetap terjaga dalam kondisi yang baik.

Seiketsu

Kegiatan menjaga kebersihan pribadi sekaligus mematuhi ketiga tahap sebelumnya.

Shitsuke

Kegiatan pemeliharaan kedisiplinan pribadi masing-masing pekerja dalam menjalankan seluruh tahap 5S.

Uji validitas dan reliabilitas instrumen penelitian dilakukan dengan cara menyusun item pernyataan berjumlah 40 item yang terdiri dari 20 item favourable dan 20 item unfavourable. Setiap komponen berjumlah 8 item yang terdiri dari 4 item favourable dan 4 item unfavourable dan diberi bobot masing-masing 20 %.


Tabel 6

Blue Print Distribusi Item Skala Sikap 5S

NO

KOMPONEN

No. Item Favourable

No. Item Unfavourable

Jumlah

Item

Bobot (%)

1

Sikap Kerja Seiri (Pemilahan)

2, 6, 20, 27

11, 17, 31, 35

8

20

2

Sikap Kerja Seiton (Penataan)

5, 13, 23, 34

10, 22, 37, 39

8

20

3

Sikap Kerja Seiso (Pembersihan)

1,16, 26, 36

9, 14, 24, 29

8

20

4

Sikap Kerja Seiketsu (Pemantapan)

3, 7, 32, 38

8, 18, 21, 25

8

20

5

Sikap Kerja Shitsuke (Pembiasaan)

4, 15, 30, 33

12, 19, 28, 40

8

20

 


Skala yang telah disusun disebar di beberapa perusahaan manufaktur sesuai dengan ciri dan karakteristik yang akan dijadikan lokasi penelitian. Dari 100 skala yang disebar hanya ada 46 skala yang diisi oleh responden secara menyeluruh. Data ini kemudian diolah menggunakan aplikasi SPSS untuk menguji validitas instrumen penelitian. Teknik pengujian yang digunakan adalah korelasi Bivariate Pearson (Produk Moment Pearson), yaitu mengkorelasikan masing-masing skor item dengan skor total. Jika r hitung ≥ r tabel (uji 2 sisi dengan sig. 0,05) maka instrumen atau item-item pertanyaan berkorelasi signifikan terhadap skor total (dinyatakan valid).

Hasil perhitungan menggunakan aplikasi SPSS menunjukkan dari 40 item terdapat 3 item yang gugur. Berikut tabel hasil uji validitas item-item variabel


 

Tabel 7

Uji Validasi

Komponen

No.

Item

Item

r hitung

r tabel

Ket.

F

UF

 

x.1

 

 

399

291

Valid

 

x.2

 

 

274

291

Gugur

 

x.3

 

 

388

291

Valid

 

x.4

 

 

415

291

Valid

 

x.5

 

 

620

291

Valid

 

x.6

 

 

424

291

Valid

 

x.7

 

 

542

291

Valid

 

x.8

 

 

562

291

Valid

 

x.9

 

 

538

291

Valid

 

x.10

 

 

582

291

Valid

 

x.11

 

 

645

291

Valid

 

x.12

 

 

486

291

Valid

 

x.13

 

 

214

291

Gugur

 

x.14

 

 

417

291

Valid

 

x.15

 

 

502

291

Valid

 

x.16

 

 

399

291

Valid

 

x.17

 

 

782

291

Valid

 

x.18

 

 

447

291

Valid

 

x.19

 

 

543

291

Valid

 

x.20

 

 

302

291

Valid

 

x.21

 

 

474

291

Valid

 

x.22

 

 

735

291

Valid

 

x.23

 

 

435

291

Valid

 

x.24

 

 

683

291

Valid

 

x.25

 

 

604

291

Valid

 

x.26

 

 

317

291

Valid

 

x.27

 

 

430

291

Valid

 

x.28

 

 

583

291

Valid

 

x.29

 

 

667

291

Valid

 

x.30

 

 

367

291

Valid

 

x.31

 

 

495

291

Valid

 

x.32

 

 

526

291

Valid

 

x.33

 

 

598

291

Valid

 

x.34

 

 

475

291

Valid

 

x.35

 

 

377

291

Valid

 

x.36

 

 

253

291

Gugur

 

x.37

 

 

406

291

Valid

 

x.38

 

 

610

291

Valid

 

x.39

 

 

662

291

Valid

 

x.40

 

 

682

291

Valid

 

 

 

 

 

 

 



Hasil pengujian validitas pada tabel di atas menjelaskan bahwa item nomor 2, 13 dan 36 dinyatakan gugur karena r hitung lebih kecil dari r tabel. (Sugiyono, 2013) menyatakan syarat minimum untuk dianggap suatu butir instrumen valid adalah nilai indeks validitasnya positif dan besarnya 0,3 keatas. Oleh karena itu, semua pernyataan yang memiliki tingkat kolerasi dibawah 0,3 harus diperbaiki karena dinggap tidak valid.

Prestest dilakukan sebelum diberikan perlakuan kepada subjek berupa pelatihan Gemba Kaizen. Pretest yang diberikan berupa skala sikap 5S yang telah dinyatakan valid dan reliabel pada 12 orang subjek penelitian

Hasil pretest menunjukkan nilai rata-rata (mean) yaitu 57.50 dengan standar deviasi sebesar 5.266, sedangkan hasil posttest memiliki nilai rata-rata (mean) yaitu 72.92 dengan standar deviasi yaitu 3.029.

 

Tabel 8

Analisis Deskriptif

Descriptive Statistics

 

N

Mean

Std. Deviation

Min

Max

Pretest

12

57.50

5.266

51

70

Posttest

12

72.92

3.029

66

78

 

Dari data tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan setelah dilakukannya perlakuan dilihat dari nilai rata-rata yang ditunjukkan pada pretest dan posttest yang mengalami peningkatan.

Pengujian data dilakukan dengan cara uji Wilcoxon menggunakan bantuan software SPSS 23.0 for Windows. Adapun hasilnya sebagaimana dalam tabel di bawah ini:

Tabel 9
Analisis Deskriptif

Ranks

 

N

Mean Rank

Sum Of Ranks

POSTTEST - PRETEST

Negative Ranks

0a

.00

.00

Positive Ranks

12b

6.50

78.00

Ties

0c

 

 

Total

12

 

 

A. POSTTEST < PRETEST

B. POSTTEST > PRETEST

C. POSTTEST = PRETEST

 

Hipotesis diterima apabila T hitung Lebih Besar dari T Tabel. Sebaliknya Hipotesis dikatakan ditolak apabila T hitung lebih kecil atau sama dari T Tabel.

Tabel 10

Test Statisticsa

 

Posttest - Pretest

Z

-3.061b

Asymptotic Significance (2-Tailed)

.002

A. Wilcoxon Signed Ranks Test

B. Based On Negative Ranks

 

Hasil signifikansi menunjukkan p-value sebesar 0, 002 (>0,05) maka dengan demikian hipotesis dinyatakan diterima. Dari hasil tersebut maka dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan sikap kerja 5S pada subjek antara sebelum (pretest) dan setelah (posttest) diberikan pelatihan Gemba Kaizen.

B.   Pembahasan

Menurut (Gaol & Jimmy, 2014) �menjelaskan bahwa organisasi merupakan perkumpulan antara dua orang atau lebih yang bekerja sama dan mempunyai ikatan untuk mencapai suatu tujuan bersama. PT. Duta Pangan Nusantara merupakan sebuah organisasi yang memiliki tujuan memperoleh profit dari kegiatan industri makanan ringan. Salah satu faktor yang menentukan tercapainya tujuan organisasi yaitu dengan penerapan budaya kerja. Di Jepang terdapat budaya kerja yang dikenal dengan istilah �Gemba Kaizen� di dalamnya menerapkan prinsip 5S yaitu Seiri, Seiton, Seiso, Seiketsu, Shitsuke.

Menurut (Imai, 2012) menjelaskan 3 (tiga) aturan dasar penerapan kaizen di tempat kerja, yaitu, penataan (5S), penghapusan muda (pemborosan), dan standardisasi. Sedangkan menurut Musman (2019) penerapan kaizen terdiri dari konsep 3M (Muda, Mura, Muri), Gerakan 5S (Seiri, Seiton, Seiso, Seiketsu, Shitsuke), Konsep PDCA dan Konsep 5W1H.� Dari dua pendapat di atas, maka disimpulkan bahwa budaya kerja gemba kaizen mengandung unsur 5S. 5S menurut (Simu, 2017) merupakan sebuah sikap kerja yang telah dijabarkan dalam bukunya berjudul Sikap Kerja 5S: Seiri-Pemilihan, Seiton-Penataan, Seiso-Pembersihan, Seiketsu-Pemantapan, Shitsuke-Pembiasaan.

Hasil observasi di PT. Duta Pangan Nusantara sebelum dilakukannya penelitian menunjukkan area bengkel tidak menerapkan sikap kerja 5S sehingga menimbulkan sebuah masalah di area tersebut, seperti banyaknya barang rongsokan yang ditumpuk begitu saja dan tidak dibuang atau disingkirkan. Peralatan kerja tergeletak berantakan, tidak tertata rapi karena peralatan yang setelah digunakan tidak dikembalikan di tempatnya semula sehingga ruangan kerja terkesan sesak dan sempit. Selain itu, kondisinya kotor karena tidak adanya jadwal dan aktifitas pembersihan yang dilakukan oleh para teknisi. Apabila kondisi tersebut dibiarkan akan berpotensi terjadi pemborosan waktu dan tenaga (kerja tidak efektif dan efisien), mengganggu kenyamanan area kerja bahkan dapat memicu terjadinya kecelakaan kerja. Oleh karena itu, subjek dalam penelitian ini diberikan intervensi berupa pelatihan gemba kaizen agar memiliki pengetahuan, keterampilan dan sikap dalam menerapkan 5S

Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui apakah ada perbedaan sikap kerja (5S) sebelum dan setelah diberikan pelatihan Gemba Kaizen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan sikap kerja 5S setelah diberikan pelatihan gemba kaizen. Hal ini dilihat berdasarkan hasil signifikansi menunjukkan p-value sebesar 0, 002, dimana jika p-value kurang dari 0,05 maka hipotesis dinyatakan diterima. Dengan demikian dapat disimpulkan pelatihan gemba kaizen dapat digunakan untuk meningkatkan sikap kerja 5S. Penelitian ini sesuai dengan penelitian-penelitian sebelumnya yang menerapkan konsep kaizen (gerakan 5S) dapat memperbaiki kondisi di tempat kerja.

 

Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dipaparkan pada Bab IV maka dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan sikap kerja 5S pada subjek antara sebelum (pretest) dan setelah (posttest) diberikan pelatihan Gemba Kaizen. Hal ini dilihat berdasarkan hasil signifikansi menunjukkan p-value sebesar 0, 002, dimana jika p-value kurang dari 0,05 maka hipotesis dinyatakan diterima. Artinya dengan memberikan Pelatihan Gemba Kaizen penerapan sikap kerja 5S dapat terbentuk atau tampak pada subjek tertentu.

 

Bibliografi

 

Adjat Daradjat, A. (2018). Hubungan Industrial Pendekatan Komprehensif-Inter Disiplin Teori�Kebijakan-Praktik. Alfabeta Bandung.Google Scholar

Fatkhurrohman, A., & Subawa, S. (2016). Penerapan kaizen dalam meningkatkan efisiensi dan kualitas produk pada bagian banbury PT Bridgestone Tire Indonesia. Jurnal Administrasi Kantor, 4(1), 14�31. Google Scholar

Fitri, D., Ratnasari, S. L., & Zulkifli, Z. (2020). Pengaruh Manajemen Perubahan, Kepemimpinan Transformasional, Struktur Organisasi, Budaya Organisasi, Dan Disiplin Kerja Terhadap Kinerja Karyawan Pkm Group Batam. Prosiding Seminar Nasional Universitas Islam Syekh Yusuf, 1(1), 314�320. Google Scholar

Gaol, J. L., & Jimmy, L. (2014). A to Z Human Capital (Manajemen Sumber Daya Manusia) Konsep, Teori, dan Pengembangan dalam Konteks Organisasi Publik dan Bisnis. Jakarta: PT Gramedia Widiasarana Indonesia. Google Scholar

Ginting, P., Matondang, R., & Buchari, B. (2014). Analisis Program Keselamatan dan Kesehatan Kerja di Bagian Produksi dengan 5s dalam Konsep Kaizen sebagai Upaya Pencegahan Kecelakaan Kerja di Pt. xyz. Jurnal Teknik Industri USU, 3(5), 219537. Google Scholar

Gunawan, I. (2016). Metode Penelitian Kuantitatif. Retrieved June, 7, 2017. Google Scholar

Imai, M. (1986). Kaizen (Vol. 201). Random House Business Division New York. Google Scholar

Imai, M. (2012). Gemba Kaizen: A Commonsense Approach to a Continuous Improvement Strategy second edition. Google Scholar

Meliala, A. S., Matondang, N., & Sari, R. M. (2016). Strategi peningkatan daya saing usaha kecil dan menengah (UKM) berbasis Kaizen. Jurnal Optimasi Sistem Industri, 13(2), 641�664. Google Scholar

Nusannas, I. S. (2016). Implementasi Konsep Budaya 5R (Ringkas, Rapi, Resik, Rawat Dan Rajin) Sebagai Upaya Meningkatkan Kinerja Perusahaan Dari Sisi Non Keuangan. Eqien: Jurnal Ekonomi Dan Bisnis, 3(2), 93�106. Google Scholar

Puspita, R. (2014). Konsep Kaizen Untuk Meningkatan Kualitas Secara Terus Menerus Pada Industri Sarung Tangan Kesehatan. Industrial Engineering Journal, 3(1). Google Scholar

Rahman, R. A. (2018). Identifikasi Faktor Kritis dalam Perancangan Model Integrasi Product Service System Pada Bisnis Rental Mobil. Institut Teknologi Sepuluh Nopember. Google Scholar

Simu, C. (2017). Rancangan 5S Pada Ruang Service dan Gudang Zcomp Di Surabaya. CALYPTRA, 6(1), 1151�1158. Google Scholar

Sugiyono. (2017). MetodePenelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R&D. Bandung: PT Alfabet. In Sugiyono. (2017). MetodePenelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R&D. Bandung: PT Alfabet. Google Scholar

Sugiyono, D. (2013). Metode penelitian pendidikan pendekatan kuantitatif, kualitatif dan R&D. Google Scholar

Umam, A. C. (2018). Pengaruh Kepemimpinan, Lingkungan Kerja Dan Etika Kerja Islam Terhadap Kinerja Karyawan Kspps Yaummi Maziyah Assa�adah Pati. Iain Kudus. Google Scholar

Unaradjan, D. D. (2019). Metode penelitian kuantitatif. Penerbit Unika Atma Jaya Jakarta. Google Scholar

Wardhani, T. E., & Harjito, A. (2020). Peran Assesment Dalam Promosi Jabatan Karyawan Pada Perusahaan Pt. Sempana Pratama. Jurnal Mitra Manajemen, 11(2) Google Scholar.


Copyright holder :

Ardiyansyah Jasman (2021).

 

First publication right :

Jurnal Syntax Transformation

 

This article is licensed under: